MENAATI PENGAJARAN PENGURAPAN MINYAK
Pelajaran ketujuh mengenai pengalaman hayat adalah menaati pengajaran pengurapan minyak. Ada beberapa cara untuk mengungkapkan pelajaran ini, seperti berjalan menuruti Roh, tinggal di dalam Tuhan, hidup dalam persekutuan dengan Allah, berjalan bersama Allah, dan hidup dalam hadirat-Nya. Tetapi, yang paling tepat adalah menaati pengajaran pengurapan minyak. Jika kita mengerti ungkapan ini, yang lain juga akan menjadi jelas.
Walaupun menaati pengajaran pengurapan minyak adalah satu pengalaman dalam tahap kedua kehidupan rohani kita, tetapi ini adalah pengalaman yang sangat penting dan inti dari kehidupan rohani kita. Tak peduli penanggulangan macam apa yang kita alami dalam segi negatif atau berapa banyak peihbangunan yang ada dalam segi positif, kita tidak dapat terpisah dari pelajaran ini. Pelajaran ini membuat pengalaman hayat dari tahap pertama dan kedua muncul secara spontan dan menjadi semakin dalam dan menyeluruh. Pada saat yang sama, pelajaran ini dapat membawa kita ke arah pengalaman yang lebih dalam di tahap ketiga dan keempat. Karena itu, ketaatan kita pada pengajaran pengurapan minyak adalah rahasia pertumbuhan hayat kita. Jilia kita ingin mengikuti Tuhan dalam jalan hayat, kita harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang jelas akan pelajaran ini.
I. DASAR ALKITAB
Satu Yohanes 2:27 mengatakan, "Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu - dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta - dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaktiya kamu tetap tinggal di dalam Dia."
II. MENGENAL PENGURAPAN MINYAK
Dalam pengajaran pengurapan minyak, ada dua bagian penting, yaitu aspek pengurapan dan aspek pengajaran. Kita akan melihat kedua aspek ini dengan teliti. Pertama, kita akan melihat aspek pengurapan.
1. Makna Pengurapan Minyak
Apakah arti pengurapan minyak? Kita dapat mengerti hal ini dari istilah itu sendiri dan dari asal mulanya dalam Alkitab.
Pertama-tama, marilah kita melihat arti istilah ini. Pengurapan dalam 1 Yohanes 2:27 dalam bahasa aslinya bukanlah kata benda, tetapi kata kerja yang berkaitan dengan semacam pergerakan. Ini bukanlah satu urapan yang ada dalam kondisi berhenti, tidak aktif, dan tidak bergerak, melainkan adalah satu urapan dalam keadaan bergerak dan aktif, melibatkan gerakan pengurapan.
Lalu, pengurapan ini mengacu pada apa? Secara sederhana, ini adalah pergerakan Roh Kudus di dalam kita. Seluruh Alkitab, pengurapan melambangkan Roh Kudus. Ketika manusia menerima pengurapan minyak dari Allah, secara rohaniah itu melambangkan bahwa manusia menerima Roh Kudus dari Allah. Ketika Tuhan Yesus menerima Roh Kudus pada saat Ia dibaptis, Ia berkata dengan jelas bahwa "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku" (Luk. 4:18). Jadi, pengurapan yang kita terima dari Tuhan tidak diragukan lagi menunjuk kepada Roh Kudus yang kita telah terima dari-Nya. Roh Kudus ini tidak diam saja di dalam kita, tetapi selalu alitif dan bergerak. Gerakan ini memberi kita perasaan batiniah yang sangat halus dan menyejukkan. Inilah sebabnya pergerakan Roh Kudus ini disebut Alkitab sebagai "pengurapan minyak".
Sekarang marilah kita melihat pengurapan menurut asal usulnya di dalam Alkitab. Walaupun istilah "pengurapan" pertama kali disebutkan dalam 1 Yohanes, tetapi, masalah pengurapan telah ada dalam Perjanjian Lama ketika bangsa Israel mendirikan tabernakel (kemah pertemuan). Ketika mereka mendirikan tabernakel di padang belantara, Allah memerintahkan bahwa mereka harus mengurapkan minyak urapan yang kudus ke atas tabernakel dan semua peralatan di dalamnya. Semua imam yang melayani dan juga imam besar harus diurapi dengan minyak urapan. Sekali orang-orang dan peralatan itu diurapi, mereka dipisahkan dan dikuduskan kepada Allah (Kel. 29:7, 21; 40:9-16; Im. 8:10-12, 30). Setelah itu, para raja dan nabi juga diurapi Allah untuk pelayanan-Nya (1 Sam. 10:1; 16:12-13; 1 Raj 1:39; 19:16; 2 Raj 9:1-6; 11:12). Jadi, pengurapan telah terjadi sangat awal dalam Alkitab.
Tujuan Allah mengurapi manusia dan benda-benda adalah supaya yang diurapi itu dapat "dikuduskan". Apakah artinya dikuduskan? Pada masa lampau kita memahami bahwa dikuduskan berarti dipisahkannya orang yang telah diurapi dari yang umum, dipisahkan untuk menjadi milik Allah. Tetapi, ini adalah pemahaman yang dangkal, karena hanya mengacu kepada posisi saja. Jika kita memiliki pengertian yang lebih dalam, kita akan nampak bahwa dikuduskan tidak hanya mengubah posisi, tetapi juga sifat yang diurapi itu. Karena minyak urapan melambangkan Roh Kudus, juga melambangkan Allah Tritunggal. Setiap kali minyak urapan ini diurapkan, di sana ada diri Allah sendiri. Siapa saja yang menerima urapan minyak ini, atas dirinya unsur Allah akan bertambah. Ketika Musa mengurapi kemah, mezbah, dan imam- imam, kemah itu menjadi kemah Allah, mezbah itu menjadi mezbah Allah, dan imam-imam itu menjadi imam-imam Allah. Karena pengurapan minyak urapan, Allah Sang Pencipta berbaur dan bersatu dengan manusia dan benda-benda ciptaan. Inilah sebabnya setelah kemah itu didirikan dan diurapi dengan minyak urapan, kemuliaan Allah memenuhi kemah itu (Kel. 40:2, 9, 34-35). Walaupun pada masa itu ada banyak kemah di antara orang Israel, namun hanya kemah ini yang memiliki kemuhaan dan kehadiran Allah. Ini karena hanya kemah ini yang di atasnya minyak urapan itu dicurahkan, telah memiliki unsur Allah, dan telah dikuduskan.
Kesimpulannya, pengurapan berarti Allah Tritunggal, melalui pergerakan Roh Kudus di dalam kita, mengurapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Semakin banyak urapan ini mengurapi kita, unsur Allah akan semakin bertambah di dalam kita, membawa perbauran dan persatuan yang semakin besar dan semakin dalam antara diri-Nya sendiri dengan kita. Jadi, tujuan pengurapan adalah agar kita dapat berbaur dan bersatu dengan Allah.
2. Hubungan antara Pengurapan Minyak
dan Tujuan Keselamatan
Pengurapan minyak dantujuan keselamatan Allah sangat berhubungan. Tujuan utama keselamatan Allah adalah untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia, berbaur menjadi satu dengan manusia. Demikian juga, fungsi pengurapan adalah untuk mengurapkan Allah ke dalam kita, sehingga kita dapat berbaur dengan Allah sebagai satu kesatuan. Karena itu, sesungguhnya, tujuan keselamatan Allah akan dicapai melalui pengurapan. Jika tidak ada pengurapan, tujuan keselamatan Allah tidak akan dapat tercapai. Karena itu, pengurapan adalah faktor yang penting dalam seluruh keselamatan Allah.
Agar kita lebih jelas memahami hubungan pengurapan dan tujuan keselamatan Allah, sekarang kita akan mempelajari tiga langkah pekerjaan Allah dalam melaksanakan tujuan ini.
Langkah pertama-Nya adalah Firman menjadi daging. Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1), dan daging adalah manusia. Jadi, Firman menjadi daging, berarti Allah menjadi manusia, Allah membaurkan diri-Nya dengan manusia (Yoh. 1:14). Yesus dari Nazaret, yang adalah Firman menjadi daging, adalah produk master dan pertama dalam alam semesta ini mengenai Allah berbaur dengan manusia, dan juga merupakan penggenapan pertama atas tujuan penyelamatan Allah. Ketika Ia dilahirkan di bumi, Allah mendapatkan satu contoh dan model atas perbauran diri-Nya dengan manusia di alam semesta ini. Sejak saat itu, Allah ingin membaurkan diri-Nya sendiri dengan jutaan manusia menurut dan melalui Yesus Kristus.
Langkah kedua untuk mencapai tujuan keselamatan Allah adalah kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Kematian Tuhan membebaskan diri-Nya dari daging, dan kebangkitan-Nya membawa Tuhan masuk ke dalam Roh Kudus. Karena itu, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus memungkinkan-Nya untuk memiliki bentuk lain, yaitu, Roh Kudus. Sebelum inkarnasi, dalam kekekalan, Ia adalah Bapa. Ketika la berinkarnasi di bumi Ian hidup di antara manusia, Ia adalah Putra (Anak). Setelah Ia melewati kematian dan kebangkitan, naik ke surga, turun lagi ke dunia dan masuk ke dalam. manusia, Ia adalah Roh. Sebagaimana Bapa mengekspresikan diri-Nya dalam Putra melalui inkarnasi, demikian juga Putra mengekspresikan diri-Nya sebagai Roh melalui kematian dan kebangkitan. Bapa datang kepada manusia sebagai Putra, dan Putra masuk ke dalam manusia sebagai Roh. Inilah Allah Tritunggal yang membaurkan diri-Nya dengan manusia melalui penyelamatan-Nya.
Langkah ketiga Allah untuk mencapai tujuan keselamatan-Nya adalah masuknya Roh Kudus ke dalam manusia. Roh Kudus masuk ke dalam manusia, berarti Putra masuk ke dalam manusia, dan Bapa juga masuk ke dalam manusia. Karena itu, Roh Kudus masuk ke dalam manusia sama dengan Allah Tritunggal masuk ke dalam manusia. Alkitab sedikitnya memberi dua referensi mengenai hal ini: Roma 8:9-11 menyebutkan bahwa Roh yang tinggal di dalam kita adalah Roh Allah, Roh Kristus, dan Kristus itu sendiri. Ketika kita menjajarkan pernyataan-pernyataan ini, kita nampak bahwa Roh Allah ada di dalam kita berarti Kristus dan juga Allah ada di dalam kita. Referensi yang lain adalah 1 Yohanes 4:13, "Demikianlah kita ketahui bahwa ... Dia di dalam kita, karena Ia telah mengaruniakan Roh-Nya kepada kita." Ini juga membuktikan bahwa Roh Kudus ada di dalam kita berarti Allah ada di dalam kita.
Ketika Allah Tritunggal masuk ke dalam kita di dalam Roh Kudus, Ia berbaur dengan kita. Sejak itu, tujuan penyelamatan-Nya - perbauran Allah dan manusia - tergenapkan di dalam kita dengan riil.
Namun, pekerjaan Allah untuk membaurkan diri-Nya sendiri dengan manusia bukanlah proses instan. Sejak kita dilahirkan kembali dan Roh Kudus masuk ke dalam kita, perbauran ini telah berlangsung secara terus-menerus. Sepanjang hidup orang Kristen, semua pekerjaan Roh Kudus di atas dirinya adalah untuk menggenapkan pekerjaan perbauran Allah dengan manusia.
Tentu saja, ada aspek lain dari pekerjaan Roh Kudus, yaitu pendisiplinan-Nya di luar. Pendisiplinan di luar ini adalah pekerjaan-Nya di segi negatif, sementara perbauran di dalam kita adalah pekerjaan-Nya di segi positif. Pendisiplinan di luar adalah untuk meremukkan kita, sedangkan perbauran di dalam adalah untuk mengurapkan Allah ke atas diri kita, sehingga Allah dapat bertambah di dalam kita. Pendisiplinan di luar adalah agar unsur kita dapat berkurang, dan perbauran di dalam adalah agar unsur Allah dapat bertambah. Karena itu, pendisiplinan di luar oleh Roh Kudus adalah pekerjaan pelengkap, sedangkan perbauran-Nya di dalam adalah pekerjaan utama, secara langsung mencapai tujuan keselamatan.
Bagaimana Roh Kudus melaksanakan perbauran ini ke dalam kita? Ia melakukannya dengan mengurapi kita sebagai minyak urapan. Kita telah mengatakan bahwa pergerakan Roh Kudus berarti pengurapan. Setelah Roh Kudus masuk ke dalam kita, Ia bukannya diam tidak bergerak, melainkan selalu beroperasi, selalu bergerak. Operasi dan pergerakan ini adalah semacam pengurapan, untuk mengurapkan lebih banyak lagi unsur Allah ke dalam kita. Karena itu, semakin banyak Roh Kudus mengurapi kita, Allah semakin dapat berbaur dengan kita, dan semakin dapat menggenapkan tujuan keselamatan-Nya di atas diri kita.
Cara Roh Kudus mengurapkan unsur Allah ke dalam diri kita. dapat diibaratkan dengan cara kita mengecat suatu ruangan. Misalnya, jika kita ingin mengecat dinding dan perabotan dengan warna emas, kita menggunakan cat emas. Dengan mengoleskan cat itu ke dinding atau perabot, makan-unsur kuning emas itu akan tergarap ke atas dinding atau perabot itu dan membuatnya berwarna emas. Jika kita mengecat ruangan itu terus-menerus, ia akan berbaur dengan cat emas itu, dan seluruh ruangan akan mendapatkan warna emas.
Demikian juga Roh Kudus mengurapi kita untuk membaurkan Allah dengan kita. Diri Allah adalah pengecat dan juga cat itu sendiri. Kita seperti perabot. Allah senang berbaur dengan kita sehingga kita dapat dipenuhi oleh unsur-Nya. Karena itu, dalam Roh Kudus Ia bertindak sebagai minyak urapan untuk mengurapi kita terus-menerus. Ilustrasi ini ada kekurangannya, karena ketika cat itu dioleskan ke perabot, masing-masing masih memiliki identitasnya sendiri - cat itu tetap cat, dan perabot itu tetap perabot. Namun, ketika Roh Kudus tergarap ke dalam kita sebagai urapan, ada reaksi majemuk yang menyebabkan keduanya untuk berbaur menjadi satu. Hasilnya adalah kita. tidak dapat mengatakan bagian mana yang adalah Roh Kudus atau bagian mana adalah diri kita. Semakin lama perbauran ini berlangsung, semakin banyak unsur Allah tertambah di dalam diri kita.
Banyak saudara saudari hanya mengerti aspek pengajaran dari pengajaran pengurapan. Mereka berpikir bahwa tujuan pengurapan adalah untuk mengajar kita agar mengerti apa yang Allah inginkan kita perbuat atau tidak perbuat. Jika kita mematuhi pengajaran itu, kita merasa damai di dalam; jika kita. tidak mematuhi, kita tidak damai di dalam. Tetapi, pengertian semacam ini tidak cukup. Misalnya, ketika Musa mencurahkan minyak urapan ke atas kemah dan peralatannya, apakah pada saat itu ia menghendaki mereka tahu apa yang harus dilakukan atau apa yang tidak boleh dilakukan? Tentu saja tidak. Tujuannya bukan agar mereka mengetahui apa yang harus dilakukan atau apa yang tidak boleh dilakukan, apalagi merasa damai setelah melakukan sesuatu. Tujuan mengurapkan minyak urapan adalah agar unsur minyak itu terurap ke atas diri mereka, dan mereka sepenuhnya dikuduskan menjadi milik Allah. Jadi, pengalaman pengurapan dalam kehidupan rohani kita lebih ditekankan pada urapan itu sendiri daripada pengajarannya. Tujuan utama dari pengurapan adalah mengurapkan Allah ke dalam diri kita. Pengajaran yang datang bersamanya itu adalah yang sekunder.
Bahkan dalam 1 Yohanes 2:27, di mana pengajaran pengurapan disebutkan, tidak ada penekanan terhadap perasaan damai atau tidak damai, melainkan ditekankan pada: "Sebagaimatta Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia". Di sini, tinggal di dalam Tuhan adalah berbaur dengan Tuhan dan bersatu dengan Dia. Sebab itu, penekanan Alkitab juga pada masalah perbauran. Semoga atas hal ini kita dapat mengubah konsepsi kita yang lampau.
3. Hubungan antara Pengurapan
dan Persekutuan Hayat
Ada hubungan yang sangat erat di antara pengurapan dan persekutuan hayat. Dalam buku "Pengenalan Hayat", kita pernah mengatakan bahwa persekutuan hayat adalah aliran hayat, aliran bersama dari Allah dan semua orang yang memiliki hayat-Nya. Sedangkan pengurapan di sini juga adalah perbauran Allah dengan semua orang milikNya. Aliran hayat adalah untuk mengalirkan Allah ke dalam kita, sedanglian pengurapan adalah untuk mengurapkan Allah ke dalam kita. Kedua hal ini adalah dua aspek dari satu hal; mereka sangat erat berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Mengapa pengurapan dan persekutuan hayat adalah dua aspek dari satu hal yang sama? Kita tahu bahwa Allah adalah hayat, Allah juga adalah Roh. Mengenai Allah adalah hayat, Ia terus-menerus mengalir di dalam kita - inilah pereekutuan hayat. Mengenai Allah adalah Roh, Ia terus-menerus bergerak di dalam kita - inilah pengurapan. Tetapi, hayat dan Roh tidak dapat dipisahkan, karena Roh mencakup hayat, dan hayat ada di dalam Roh. Hayat adalah isi Roh, dan Roh adalah realitas hayat. Keduanya adalah Roh hayat (Rm. 8:2), adalah dua di dalam satu, dan tidak dapat dipisahkan. Karena itu, persekutuan hayat dan pengurapan juga tidak dapat dipisahkan, merupakan dua upek dari satu hal.
Untuk alasan ini, kita dapat melihat dalam seluruh Alkitab, pengurapan disebutkan dalam 1 Yohanes, kitab yang secara khusus membicarakan mengenai persekutuan hayat. Jika kita ingin mengenal persekutuan hayat, pertama kita harus mengenal pengurapan. Orang sering membicarakan persekutuan hayat dan juga pengurapan yang disebutkan dalam 1 Yohanes, tetapi hanya sedikit yang menghubungkan kedua hal ini menjadi satu. Bahkan lebih sedikit lagi yang telah menemukan alasan pengurapan itu disebutkan dalam Kitab Yohanes mengenai persekutuan hayat. Kini kita nampak alasannya ialah baik persekutuan hayat dan pengurapan adalah dua aspek yang tidak dapat dipisahkan dari satu hal. Sebagaimana hayat ada di dalam Roh Kudus, demikian juga persekutuan hayat adalah pergerakan Roh Kudus sebagai pengurapan. Sebagaimana orang yang pertama kah mendapatkan hayat Allah, harus terlebih dulu mendapatkan Roh Kudus, demikian juga jika seseorang ingin mendapatkan persekutuan hayat, terlebih dulu ia harus mendapatkan operasi Rob Kudus, yaitu pengurapan. Hanya ketika kita telah menjamah pengurapan, baru kita dapat mengalami persekutuan dalam hayat secara riil. Karena itu, ketika 1 Yohanes menyinggung persekutuan hayat, masalah pengurapan tidak dapat dielakkan. Pengurapan ini adalah untuk persekutuan hayat.
Kita juga dapat menemukan bukti dalam lambang Perjanjian Lama bahwa pengurapan adalah untuk persekutuan hayat. Pada masa Perjanjian Lama, ada tiga kelompok orang yang perlu diurapi: imam, raja, dan nabi. Dari ketiga kelompok ini, raja diutus Allah kepada manusia untuk memerintah bagi-Nya; nabi diutus Allah kepada manusia untuk berbicara bagi-Nya. Sedangkan imam, datang dari manusia untuk masuk ke hadirat Allah guna bersekutu dengan Allah. Mereka sangat perlu diurapi. Setiap imam harus diurapi. Pengurapan itu perlu agar dapat masuk ke hadirat Allah, bersekutu dengan Allah, dan untuk berbaur dengan Allah. Dengan kata lain, seorang manusia pertamatama harus diurapi sebelum masuk ke hadirat Allah untuk bersekutu. Inilah sebabnya mengapa masalah diurapi sangat bermakna dalam hubungannya dengan para imam. Ini membuktikan kepada kita bahwa tujuan pengurapan adalah untuk mengurapi manusia kepada Allah, dengan demikian membuat ia dapat bersekutu dengan Allah dan menjadi satu dengan Allah. Untuk memiliki persekutuan hayat, tidak bisa kekurangan pengurapan.
Agar kita lebih jelas akan hubungan antara pengurapan dan persekutuan hayat, kita akan menurut terang Alkitab membicarakan lebih lanjut mengenai kedudukan pengurapan dalam 1 Yohanes. Kita tahu bahwa dalam Perjanjian Baru, Rasul Yohanes menulis satu kitab Injil dan tiga Surat Kiriman, semuanya membicarakan hubungan timbal balik antara Allah dan manusia. Tetapi, ada perbedaan besar antara Injilnya dan Surat-surat Kirimannya. Injilnya membicarakan Allah datang kepada manusia, sementara Suratsurat Kirimannya membicarakan manusia datang kepada Allah. Injilnya mengatakan bahwa pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu adalah Allah. Suatu hari, Firman itu menjadi daging untuk hidup di antara manusia, dan inilah Tuhan Yesus. Ketika manusia melihat Dia, mereka melihat Bapa, karena Dia dan Bapa adalah satu (Yoh. 14:9; 10:30). Ia adalah Allah datang kepada manusia. Surat-surat Kirimannya mewahyukan bahwa Allah yang demikian dinyatakan, yang datang ke tengah-tengah kita, dan masuk ke dalam kita, adalah hayat yang kekal. Sekali hayat ini diberitakan kepada kita dan diterima oleh kita, ia membawa kita kembali kepada persekutuan dengan Bapa dan Anak-Nya, Yesus Kristus (1 Yoh. 1:2-3). Inilah manusia datang kepada Allah.
Ketika Allah datang kepada manusia, Ia membawa serta anugerah dan kebenaran : "Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah (kasih karunia) dan kebenaran" (Yoh. 1:14), dan "anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus" (ayat 17). Ketika kita menerima anugerah dan melihat kebenaran, kita kembali kepada Allah dan menemukan kasih dan terang. Karena itu, 1 Yohanes mengatakan, "Allah adalah kasih" (4:8, 16) dan "Allah adalah terang" (1:5).Anugerah datang dari kasih, dan kebenaran datang dari terang. Yang tersembunyi pada Allah adalah kasih, dan ketika kasih ini muncul dari Allah mencapai kita, itulah anugerah. Demikian juga, yang tersembunyi pada Allah adalah terang, dan ketika terang ini datang dari Allah kepada kita, itulah kebenaran. Karena itu, ketika Allah datang kepada manusia, Ia membawa anugerah dan kebenaran, dan ketika kita pergi kepada Allah, kita menjamah kasih dan terang. Ketika Allah datang kepada manusia, Ia membawa serta anugerah-Nya; ketika kita menerima anugerah ini dan kembali kepadaNya, kita menemui kasih-Nya. Demikian juga, ketika Allah datang kepada manusia, Ia membawa kebenaran-Nya; ketika kita melihat kebenaran-Nya dan kembali kepada-Nya, kita bertemu dengan terang-Nya.
Cerita mengenai Allah datang kepada kita untuk memberikan anugerah dan kebenaran dan kembalinya kita kepada-Nya untuk menemukan kasih dan terang ini adalah cerita mengenai persekutuan hayat dan fungsi pengurapan. Minyak urapan mengurapkan Allah ke dalam kita dan kemudian mengurapkan kita ke dalam Allah. Dengan kata lain, minyak urapan mengurapkan anugerah Allah ke dalam kita dan kemudian mengurapkan kita ke dalam kasih Allah; minyak urapan juga mengurapkan kebenaran Allah ke dalam kita dan kemudian mengurapkan kita ke dalam terang Allah. Kedatangan sebagai anugerah dan kepergian sebagai kasih, kedatangan sebagai kebenaran dan kepergian sebagai terang, sedemikian ini menyebabkan kita berada di dalam anugerah Allah juga di dalam kasih-Nya, di dalam kebenaran Allah juga dalam terang-Nya. Jadi, kita lebih dalam lagi bersatu dan berbaur dengan Allah.
Karena itu, pengurapan dan persekutuan hayat tidak dapat dipisahkan. Jika pekerjaan pengurapan di dalam kita dangkal, persekutuan kita dengan Tuhan akan dangkal; jika pekerjaan pengurapan di dalam kita dalam, maka persekutuan kita juga akan dalam. Jika pengurapan di dalam kita terputus-putus, maka persekutuan kita dengan Tuhan juga akan terputus-putus. Jadi, pengurapan itu sangat penting untuk persekutuan hayat.
4. Hubungan antara Pengurapan Minyak
dan Pembubuhan Darah
Hubungan yang sangat erat juga ada di antara pengurapan minyak dan pembubuhan darah. Tujuan pengurapan adalah untuk mengurapkan unsur Allah ke dalam kita, sehingga kita dapat bersekutu dengan Allah dan berbaur serta bersatu dengan Allah. Akan tetapi, banyak perkara atas diri kita yang tidak cocok dengan Allah, banyak keadaan kehidupan kita tidak sesuai dengan kebenaran Allah, tidak sesuai dengan kekudusan Allah, dan tidak sesuai dengan kemuliaan Allah; Perkara-perkara itu membuat Allah tidak mungkin berbaur dan bersatu dengan kita. Itulah sebabnya di sini perlu terlebih dulu ada pembubuhan darah. Pembubuhan darah adalah untuk mencuci bersih seluruh perkara yang tidak cocok dengan Allah, dan untuk menghilangkan semua keadaan yang tidak sesuai dengan Dia. Terlebih dulu kita memiliki pembubuhan dan pembasuhan darah, kemudian baru minyak urapan kudus Allah mengurapi kita dengan unsur Allah sendiri. Karena itu, di mana akan diurapi minyak, di sana harus terlebih dulu dibubuhi darah. Darah adalah dasar pengurapan.
Hubungan antara pengurapan dan pembubuhan darah juga terlihat jelas dalam Perjanjian Lama. Ketika seorang imam hendak membubuhkan minyak urapan kepada seorang kusta pada saat pentahirannya, harus terlebih dulu dibubuhkan darah. Bahkan ada minyak urapan yang ditaruh "di atas darah", atau "di tempat darah" (Im. 14:14-18, 25-29). Merupakan dosa besar terhadap Allah jika membubuhkan minyak urapan sebelum membubuhkan darah. Karena minyak urapan melambangkan Roh Kudus yang datang untuk membaurkan Allah dengan manusia, ia tidak boleh dibubuhkan kepada orang yang belum dibersihkan oleh darah. Terlebih dulu perlu membubuhkan darah untuk membersihkan semua kekotoran dan semua hal yang tidak sesuai dengan Allah, baru kemudian minyak urapan, yang menandakan Allah berbaur dengan manusia, dapat dibubuhkan.
Sampai Perjanjian Baru, prinsip ini tetap tidak berubah. Kita telah berkata bahwa karena 1 Yohanes membicarakan persekutuan hayat, maka ia juga membicarakan pengurapan. Tetapi tidak hanya itu saja, ia juga menyebutkan pembasuhan darah. Bahkan, terlebih dulu ia menyebutkan mengenai darah dalam pasal 1, kemudian baru pengurapan dalam pasal 2. Ini juga menunjukkan bahwa untuk memiliki persekutuan hayat, kita tidak hanya perlu pengurapan minyak urapan, tetapi juga pembasuhan darah. Dan, pembasuhan darah datang sebelum pengurapan minyak. Terlebih dulu diperlukan pembasuhan darah untuk menghapus semua yang tidak seharusnya ada, kemudian baru bisa ada pengurapan minyak yang membawa masuk persekutuan hayat Allah. Karena itu, jika kita ingin mengalami pengurapan minyak, pertama kita harus mengalami pembasuhan darah. Semakin kita menerima pembasuhan darah, semakin mengizinkan darah membersihkan dan membasuh, semakin banyak kita akan mengalami pengurapan minyak, merasakan kehadiran yang hidup dari Allah, memiliki operasi Allah dalam batin, demikianlah kita memiliki persekutuan dengan Allah. Karena itu, pengurapan minyak dan pembasuhan darah juga tidak dapat dipisahkan.
III. MENGENAL PENGAJARAN
PENGURAPAN MINYAK
Satu Yohanes 2:27 mengatakan, "Pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu." Dalam pengajaran pengurapan minyak, tidak hanya ada aspek pengajaran, tetapi juga ada aspek pengurapan; tidak hanya ada pengajaran Roh Kudus, tetapi juga ada pergerakan (operasi) Roh Kudus. Pengajaran ini bukan berasal dari minyak urapan (Roh Kudus), melainkan berasal dari pengurapan minyak urapan (pergerakan Roh Kudus).
1. Hubungan antara Pengajaran Pengurapan Minyak
dan Pengurapan Minyak
Pengajaran pengurapan minyak berasal dari pengurapan minyak dan merupakan hasil yang terjadi secara alami karena kita diurapi. Ketika minyak urapan diurapkan ke dalam kita, di satu pihak, mengurapkan unsur Allah kepada kita; di pihak lain, mewahyukan maksud Allah kepada kita. Kita telah mengatakan bahwa minyak urapan itu adalah Roh Kudus dan juga diri Allah sendiri. Ketika minyak urapan itu mengurapi kita, ia mengurapi kita dengan unsur Allah. Tetapi, karena pengurapan ini adalah pergerakan Roh Kudus, ia pasti menyebabkan di dalam kita timbul perasaan. Begitu kita memiliki perasaan pengurapan dalam batin kita, maka di dalam perasaan ini, pikiran kita akan mengerti sedikit maksud Allah, kita akan tahu apa yang diperkenan atau tidak diperkenan-Nya, dan apa yang Ia inginkan atau tidak. Pemahaman atau pengenalan ini adalah pengajaran yang kita dapatkan dari pengurapan. Karena itu, pengajaran pengurapan memiliki dua aspek : pertama, melalui pengurapan kita mendapatkan diri Allah sendiri lebih banyak, lebih banyak mendapatkan unsur Allah; kedua, melalui pengajaran kita menjamah maksud Allah, dan hidup di dalam Allah.
Dari kedua aspek ini, mendapatkan diri Allah adalah yang primer, dan menjamah maksud Allah adalah yang sekunder. Lagi pula, mendapatkan diri Allah selalu datang terlebih dulu, baru kemudian memahami maksud-Nya. Setiap kali kita mengalami pengurapan di dalam kita, pertama kita mendapatkan diri Allah sendiri, mendapatkan unsur Allah lebih banyak, kemudian baru menghasilkan suatu hasil - membuat kita merasakan apa yang Allah ingin untuk kita kerjakan. Mustahil kita bisa mengenal kehendak-Nya tanpa mendapatkan diri-Nya sendiri.
Ini sama seperti ilustrasi pengecatan. Ketika kita mengecat suatu perabot, baik cat maupun warnanya dioleskan. Penekanan kita adalah untuk mengoleskan cat itu, tetapi sekali kita mengoleskan cat itu, otomatis muncul. Karena itu, pertama-tama adalah catnya dan kemudian warnanya. Lagi pula, mengecat adalah tujuan utamanya, mendapatkan warna itu sekunder. Demikian juga, ketika Roh Kudus mengurapi kita, tujuan utamanya adalah untuk "mengecatkan" Allah ke dalam kita. Sekali Allah dicatlian ke dalam kita, secara spontan kita akan mengenal pikiranNya. Karena itu, pengajaran pengurapan minyak adalah fungsi sekunder dari pengurapan minyak.
Pengajaran pengurapan minyak mencakup tiga hal : minyak urapan, pengurapan, dan pengajaran. Minyak urapan adalah Roh Kudus, pengurapan adalah pergerakan Roh Kudus, dan pengajaran adalah pemahaman pikiran kita terhadap pergerakan ini. Pengertian kita yang dahulu mengenai pengajaran pengurapan adalah hanya untuk menemukan pengaiaran itu sendiri. Dengan kata lain, kita membatasi pengajaran Roh Kudus pada apa yang harus kita lakukan atau tidak; jika kita taat, kita akan merasa damai; jika kita tidak taat, kita tidak akan merasa damai. Dalam pengajaran ini, Roh Kudus tetap Roh Kudus dan kita tetap kita, keduanya tidak memiliki hubungan atau perbauran apa pun. Pengenalan semacam ini tidak cukup dan tidak sesuai dengan prinsip Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah mewahyukan kehendak-Nya kepada manusia terpisah dari diri-Nya sendiri. Dalam wahyu yang sedemikian Allah dan kehendak-Nya terpisah; manusia bisa hanya mengenal kehendak Allah, tanpa mendapatkan diri Allah sendiri. Tetapi dalam wahyu Perjanjian Baru, Allah dan kehendak-Nya tidak terpisahkan. Dalam Perjanjian Baru, Allah mewahyukan kehendak- Nya kepada manusia dalam diri-Nya sendiri; untuk mengenal kehendak Allah, manusia harus terlebih dulu memiliki diri Allah sendiri. Jadi, di sini bukan hanya sekadar masalah pengetahuan kita, tetapi juga masalah perbauran Roh Kudus dengan kita. Jika Roh Kudus hanya memberi kita pengajaran-Nya, kita dapat menaati atau tidak menaati. Jika kita menaatinya, kita mendapat pengajaran-Nya; jika tidak, kita tidak mendapatkannya. Tetapi jika Roh Kudus sebagai minyak urapan mengurapi kita untuk mengajar kita, ketaatan - kita tidak penting untuk-Nya. Ia telah mengurapi kita dengan sesuatu entah kita menaati pengurapan-Nya atau tidak. Jika kita taat, Ia telah mengurapi kita; jika kita tidak taat, Ia tetap telah mengurapi kita. Kita mungkin tidak menaati pengajaran pengurapan, tetapi kita tidak bisa menghilangkan pengurapan itu.
Misalnya, Allah mungkin menyuruh seseorang untuk melepaskan pekerjaannya guna melayani Dia dalam iman. Secara luaran, ini kelihatannya Allah memberinya satu inspirasi, satu wahyu, satu pimpinan, atau satu pengajaran; tetapi, sesungguhnya, ini merupakan hasil dari pengurapan yang telah mengurapinya entah sekah atau beberapa kali. Ia mungkin tidak menaati pengajaran pengurapan ini dan tetap melanjutkan pekerjaannya. Di luar sepertinya tidak ada perubahan apa pun, tetapi selera batiniahnya terhadap pekerjaannya telah berbeda. Begitu dalam batinnya sekah diurapi oleh urapan minyak, pengurapan ini tidak bisa dihapusnya, pengurapan ini tetap tinggal di dalamnya dan beroperasi.
Kehidupan rohani, tindakan, atau pekerjaan orang Kristen yang sesungguhnya harus merupakan hasil dari pengurapan sedemikian, pengurapan ini tidak hanya memberikan pengajaran kepada kita, lebih-lebih menambahkan satu unsur yang hidup ke dalam kita. Kita mungkin tidak menaati pengajaran itu, tetapi unsur itu akan tetap ada di dalam kita dan terus aktif, membuat kita tidak bisa lewat jika kita tidak taat. Misalnya, tadinya, seorang saudara mungkin senang nonton film. Setelah beroleh selamat, minyak urapan mengurapi dia, membuatnya tahu bahwa seharusnya ia tidak lagi pergi menonton. Namun, ia mungkin pergi lagi, tetapi setelah ia duduk di dalam gedung bioskop, ada sesuatu di dalam dirinya yang terus mengganggunya, membuatnya tidak tenang duduk di sana. Beberapa waktu kemudian, ia ingin pergi nonton lagi. Ketika ia sedang berjalan menuju ke gedung bioskop, sesuatu di dalam dirinya mengganggu dia lagi, mencegahnya untuk pergi. Selang beberapa waktu lagi, bahkan ketika ia berpikir untuk nonton lagi, sesuatu di dalam dirinya segera mengganggunya, membuat dia tidak bisa lagi meneruskan pemikiran semacam itu. Jadi, pengajaran pengurapan tidak hanya sekadar menunjukkan kepada kita apa yang harus dilakukan atau apa yang tidak seharusnya dilakukan, tetapi pada waktu yang bersamaan juga mengurapkan unsur Allah ke dalam kita, berdaya guna di dalam kita, membuat kita mampu menaati pengajaran tersebut.
Pada masa lampau, terhadap pengajaran pengurapan, kita sangat menekankan masalah ketaatan. Ya, sering kali, ketaatan bisa mendatangkan lebih banyak pengurapan, dan sering kali, ketidaktaatan menyebabkan pengurapan terhenti dan persekutuan hayat terputus; karena itu, ketaatan berhubungan erat dengan pengajaran pengurapan. Tetapi, agak berlebihan kalau berkata, "Jika seseorang tidak taat, ia tidak akan mempunyai pengurapan dan persekutuan hayat, dan jika ia tetap tidak mau taat, maka persekutuannya tidak akan bisa dipulihkan." Tidak salah, pengurapan bisa terhenti karena ketidaktaatan kita, tetapi sering kali ia tetap mengurapi kita walaupun kita tidak taat. Bahkan sekalipun kita tetap tidak taat, ia masih mengurapi kita dengan tak putus- putusnya, sampai kita taat. Sesungguhnya, kita adalah orang yang sangat tidak taat. Jika kita bisa menaati pengajaran pengurapan dua puluh kali dari setiap seratus kali, kita akan menjadi orang Kristen yang paling baik. Tetapi pengurapan tidak berhenti karena ketidaktaatan kita. Dalam pengalaman kita, sering kali pengurapan tidak mempedulikan apakah kita taat atau tidak, apakah kita setuju atau tidak; kita setuju, ia mengurapi, kita tidak setuju, ia juga mengurapi. Diurapi sedemikian, akhirnya kita berbeda dari sebelumnya.
Saudara saudari, inilah anugerah, inilah keistimewaan pekerjaan Allah di dalam kita dalam Perjanjian Baru. Jika kita benar-benar mengenal hal ini, kita tidak akan cemas untuk diri kita sendiri atau khawatir bagi orang lain. Ketika kita membimbing orang lain, jika hanya sekadar dorongan, cara, atau daya tarik di luar, itu tidak ada gunanya. Hari ini mungkin seseorang terbantu oleh kita, tetapi besok mungkin ia merosot lagi. Hanya pengurapan yang hidup dari Allah yang diurapkan di dalam manusia yang bisa benar-benar mendapatkan manusia. Begitu seseorang berada di bawah pengurapan yang hidup itu sejangka waktu, ia tidak dapat tidak menaati Tuhan, tidak dapat tidak mengikuti Tuhan. Karena itu, ketika kita memimpin orang kepada Tuhan, kita harus memimpin mereka menjamah pengurapan yang hidup ini.
Kesimpulannya, di sini kita membahas tentang pengajaran pengurapan minyak, penekanan kita adalah pada masalah pengurapan. Sekadar pengajaran di luar itu tidak bernilai. Hanya pengajaran yang dihasilkan dari pengurapan di dalam, baru bernilai. Ketika kita menaati Tuhan, kita tidak sekadar menaati pengajaran di luar, tetapi kita menaati pengurapan di dalam. Demikianlah baru hamilnya ada nilai rohaninya.
2. Pengajaran Pengurapan Minyak
dan Pemahaman Pikiran
Walaupun pengajaran pengurapan (minyak) dihasilkan dari pengurapan (minyak); tetapi keduanya menempati tempat yang berbeda dalam batiniah kita. Pengurapan ada di dalam roh kita, sedangkan pengajaran pengurapan ada dalam pikiran kita. Mengapa pengurapan ada dalam roh kita? Karena Roh Kudus diam di dalam roh kita; maka, pengurapan yang datang dari pergerakan Roh Kudus pasti di dalam roh kita. Ketika Roh Kudus bergerak di dalam roh kita, roh kita akan merasakannya, dan perasaan ini adalah perasaan pengurapan. Pada saat ini, jika pikiran kita telah terdidik, kita akan mampu menerjemahkan perasaan dari roh kita ini, dan memahami maksudnya, demikianlah kita mendapatkan pengajaran pengurapan minyak. Karena itu, pengajaran pengurapan ada di dalam pikiran kita dan sepenuhnya merupakan masalah pemahaman pikiran kita.
Pekerjaan Roh Kudus di dalam kita, entah itu berupa penerangan, pendirisan, pewahyuan, atau pimpinan, semua ada karena pengurapan-Nya di dalam roh kita. Karena itu, ruang lingkup pengurapan itu sangat luas dan mencakup hampir semua pekerjaan Roh Kudus di dalam kita. Tetapi, pengajaran pengurapan hanya mencakup bagian yang dapat dipahami oleh pikiran kita; karena itu, ruang lingkupnya jauh lebih kecil. Sering kali pengurapan dapat mencapai tujuannya tanpa melewati pikiran dan pemahaman otak kita. Misalnya, selama bersekutu dengan Tuhan, kita mendapatkan suplai hayat, dan roh kita didiris, disegarkan, diterangi, dan dikuatkan. Selanjutnya, ketika kita menjamah hukum hayat, kita dapat hidup dan berperilaku menurut sifat Allah. Pengalaman- pengalaman ini benar-benar murni dari pengurapan, dan tidak berhubungan dengan pengajaran. Tetapi, juga sering kali, pengurapan harus melewati pikiran kita dan kita pahami sebelum ia dapat menyatakan fungsinya. Contohnya, roh kita mungkin diterangi, mendapatkan wahyu, mengenal kebenaran Allah, mengerti kehendak-Nya dalam pekerjaan dan aktivitas kita, dan menerima pimpinan Roh Kudus; jika hal-hal ini tetap tinggal sebagai pengurapan atau perasaan dalam roh, kita tidak akan dapat mengerti maksudnya. Harus melalui pemahaman pikiran dan menjadi pengajaran pengurapan, baru kita dapat mengerti maksudnya.
Pengajaran pengurapan adalah penerjemahan dan pemahaman pikiran terhadap pengurapan di dalam roh. Karena itu, jika kita ingin mengikuti pengajaran pengurapan, kita tidak hanya harus memiliki perasaan yang jernih dan peka dalam roh kita, tetapi juga harus memiliki pikiran yang terlatih dan rohani. Koordinasi di aspek pikiran ini meliputi pembaruan pikiran, pelatihan pemahaman terhadap hal-hal rohani, kumpulan pengetahuan rohani, dan sebagainya. Semua ini memerlukan kita lebih banyak mengasihi Tuhan, menuntut pengalaman rohani, hidup dalam persekutuan, mempelajari Alkitab, membaca bukubuku rohani, dan mendengarkan berita-berita. Melalui halhal ini, pikiran kita akan menerima penggugahan rohani dan diperkaya dalam pengetahuan, sehingga kita mampu memahami maksud pengurapan dalam roh kita; demikian kitn mendapatkan pengajaran pengurapan.
Pentingnya pikiran kita mengerti perasaan pengurapan dapat digambarkan dengan kasus seseorang pergi nonton film. Seseorang yang baru beroleh selamat, sebelumnya tidak memiliki pengajaran tentang nonton film, pikirannya tidak memiliki pengenalan terhadap sifat perkara ini. Ketika ia pergi nonton, ia hanya merasa bahwa batin tertekan, tidak nyaman, clan tidak wajar; ia tidak memahami bahwa itu dikarenakan Roh yang kudus di dalam dia melarangnya, dan bahwa pengurapan mengajar dia agar tidak pergi nonton. Ini karena otak dan pikirannya belum pernah dibangunkan, belum pernah digugah, maka ia tidak mengerti pergerakan Roh Kudus mengenai masalah ini. Dalam hal ini, ia hanya mendapatkan pengurapan tetapi tidak mendapatkan pengajaran pengurapan.
Setelah itu, pikirannya menerima pengajaran mengenai film, dan ia tahu bahwa atas perkara nonton film terdapat banyak unsur yang tidak ibadah. Ada tiga alasan untuk hal ini. Pertama, kebanyakan film itu kotor, menggambarkan, mewakili, dan mengisahkan berbagai kejahatan dan perzinaan zaman ini. Orang yang sering pergi ke bioskop, tidak ada seorang pun yang tidak dicemari atau dirusak olehnya. Bagaimana orang Kristen boleh mengambil bagian dalam hal ini? Kedua, beberapa film memang tidak kotor, ia menyajikan sejumlah pengetahuan, seperti film-film pendidikan, film-film perang, dan film-film petualangan. Tetapi, suasana bioskop bukan merupakan tempat yang tepat bagi orang kudus. Sebagian besar dari orang-orang yang ada di bioskop tidak ibadah dalam pakaian, tingkah laku, sikap, dan percakapan mereka. Jika kita pergi ke bioskop dan bersentuhan dengan atmosfir yang sedemikian, itu akan melukai roh ibadah kita. Ketiga, adakalanya suatu film itu tidak kotor, lingkungannya mungkin juga terhitung baik, tetapi setelah Anda menonton film itu, apakah itu membawa Anda lebih dekat kepada Tuhan, atau membuat Anda jauh dari Tuhan? Kita sangat yakin bahwa seorang manusia rohani seperti Paulus pun, kalau ia nonton film-film yang "baik" itu sekali seminggu, selama dua atau tiga bulan, ia akan menjadi orang Kristen yang kendur.
Dari ketiga butir di atas kita nampak bahwa tidak peduli suatu film itu baik atau buruk, sifat, atmosfir, dan lingkungan bioskop tidak sesuai untuk selera orang Kristen. Ketika seorang saudara yang telah memiliki pengetahuan ini, pergi lagi ke bioskop, dan ia mengalami pengurapan yang menyebabkannya merasa tidak nyaman dan tidak tenteram, pikirannya segera paliam, bahwa inilah Roh Kudus yang melarangnya untuk nonton film. Pada saat ini, tidak hanya rohnya mengalami pengurapan, pikirannya juga telah memahami pengajaran pengurapan.
3. Kaitan dan Perbedaan Pengajaran Pengurapan
dan Perasaan Hati Nurani
Ada hubungan yang mutlak antara pengajaran pengurapan dan perasaan hati nurani. Kita telah mengatakan bahwa perasaan hati nurani yang normal berasal dari Roh Kudus, yang ada di dalam roh kita, dan melewati pikiran kita untuk menerangi kita. Penerangan ini juga semacam pengurapan dari Roh Kudus sebagai minyak urapan. Karena itu, baik perasaan hati nurani dan pengajaran pengurapan, keduanya berasal dari perasaan pengurapan. Pengurapan, setelah melewati intuisi roh dan dimengerti oleh pikirain, menjadilah pengajaran pengurapan. Tetapi, pengurapan, aetelah melewati hati nurani dan dimengerti oleh pikiran, menjadi perasaan hati nurani; inilah keterkaitan mereka.
Tetapi ada beberapa perbedaan antara pengajaran pengurapan dan perasaan hati nurani. Pertama, hati nurani adalah organ untuk membedakan benar dan salah. Peraaaan hati nurani yang datang melalui pengurapan dan dirasakan secara langsung di dalam roh kita, berhubungan dalam lingkup diri Allah sendiri. Ia melampaui benar dan salah dan langsung menjamah kehendak Allah sendiri. Jika kita hanya memperhatikan perasaan hati nurani saja, kita hanya dapat menjadi orang Kristen yang tidak bersalah. Kita harus melampaui hal ini untuk hidup dalam pengajaran pengurapan, baru kita dapat menjamah kehendak hati Allah dan hidup di dalam Allah.
Kedua, tujuan utama pengajaran pengurapan adalah agar kita dapat menjamah Allah, mendapatkan Allah, dan memahami maksud Allah; ditekankan pada pimpinan atau larangan yang positif. Sedangkan perasaan hati nurani murni hanya perasaan pelanggaran (bersalah), ditekankan pada penghakiman dan penanggulangan yang negatif. Allah selalu memberikan kita pengajaran pengurapan terlebih dulu, bukan perasaan hati nurani. Jika kita menaati pengajaran pengurapan, kita tidak akan memiliki perasaan hati nurani. Tetapi, begitu kita tidak taat kepada pengajaran pengurapan, segera hati nurani mempersalahkan kita, sehingga kita memiliki perasaan pelanggaran. Ini dapat disamakan dengan departemen eksekutif dan yudikatif suatu negara. Ketika departemen eksekutif bekerja dengan lancar, departemen yudikatif tidak perlu mengambil tindakan. Tetapi, kapan bagian eksekutif kehilangan fungsinya atau menyeleweng dari garis yang seharusnya, bagian yudikatif akan menggunakan kekuatan penghakimannya. Demikian juga dengan hubungan antara pengajaran pengurapan dan perasaan hati nurani. Pengajaran pengurapan selalu merupakan gerakan positif, sementara perasaan hati nurani selalu merupakan tuduhan negatif. Dengan kata lain, Roh Kudus sebagai minyak urapan pertama-tama mengurapi intuisi roh kita untuk menuntun atau melarang kita. Jika kita tidak taat, ia melanjutkan mengurapi hati nurani kita untuk menghasilkan perasaan dalam hati nurani. Karena itu, jika kita ingin mempertahankan keadaan rohani yang normal, kita harus selalu hidup dalam pengajaran pengurapan, tanpa harus menunggu perasaan hati nurani untuk memperbaiki dan menuduh kita.
4. Sifat Pengaiaran Pengurapan Minyak
Sekarang mari kita melihat sifat dan ciri khusus pengajaran pengurapan :
Pertama, pengajaran pengurapan adalah suatu perasaan bukan kata-kata yang jelas. Walaupun pengajaran pengurapan harus melalui pemahaman pikiran kita, tetapi apa yang kita pahami bukanlah kalimat atau kata-kata yang diucapkan. Sifatnya tetap perasaan di dalam roh. Paling jauh ia mungkin seperti perkataan, namun juga seperti peresaan; tidak mungkin menjadi kalimat atau ucapan yang jelas. Ini sepertilah suatu warna tertentu, ia bukan perkataan, melainkan suatu pernyataan (penampilan), yang segera diketahui begitu dilihat. Demikian juga, ketika kita hidup di hadirat Tuhan dan memiliki persekutuan dengan-Nya, Roh Kudus sebagai minyak urapan mengurapi di dalam kita, menyatakan sesuatu dalam perasaan kita. Jika pikiran kita telah terdidik dan memiliki pengetahuan itu, kita akan dapat memahami arti pernyataan ini dan mendapatkan pengajarannya. Tetapi, ini hanyalah pemahaman dalam arti, bukan pengajaran yang harfiah. Walaupun adakalanya Roh Kudus mewahyukan firman dari Alkitab kepada kita, Ia tidak memberi kita huruf-huruf yang tercetak, melainkan membuat kita menjamah prinsip Alkitab. Karena jika berupa kata-kata yang tercetak, seluruh Alkitab tidak akan cukup kita gunakan. Misalnya, untuk membeli sebuah kacamata, seseorang bertanya kepada Tuhan. Aka ia mencari satu kahmat yang tegas sebagai jawaban dari Tuhan, itu tidak mungkin, karena kacamata tidak disebutkan di Alkitab. Karena itu, Tuhan hanya dapat memberikan perasaan dan pengetahuan tertentu berdasarkan satu prinsip kepadanya. Sesungguhnya, prinsip itu lebih berharga daripada huruf-huruf. Semakin matang seorang kudus dan semakin dalam ia mengalami pengurapan, semakin bebas la dari huruf-huruf Alkitab, dan semakin banyak ia menaruh perhatian kepada perasaan di dalam roh mengenai prinsip Alkitab.
Banyak orang yang mempelajari pelajaran pengajaran pengurapan ingin menuntut kata-kata yang pasti, mengharapkan mendapatkan pengajaran yang jelas. Penuntutan semacam ini sangat mudah menipu dan berbahaya. Misalnya, seseorang mungkin menuntut pimpinan Tuhan mengenai pernikahan dan berdoa untuk jawaban yang pasti, entah itu "ya" atau "tidak". Penuntutan semacam ini sangat berbahaya dan menyebabkan orang mudah salah; bahkan boleh dikatakan ini adalah kesalahan. Karena Tuhan membuat kita mengenal kehendak-Nya bukan dengan banyak kata, melainkan dengan perasaan. Ketika kita berdoa dan menyerahkan masalahnya kepada Tuhan, jika di dalam terasa nyaman, wajar, persekutuan dengan Tuhan juga terasa manis, saat ini kita tahu bahwa Tuhan setuju dengan masalah itu. Tetapi, jika setiap kali kita berdoa mengenai masalah ini di dalam terasa tidak tembus, atau setiap kali kita berpikir mengenainya kita merasa tidak nyaman, ini memberi tahu kita bahwa Tuhan tidak setuju. Karena itu, pengajaran pengurapan adalah perasaan, bukan kata-kata jelas.
Kedua, pengajaran pengurapan ada di dalam, bukan di luar; subyektif, bukan obyektif. Ini adalah perasaan yang di dalam batin kita, bukan suara yang di luar kita. Karena itu, ia ada di dalam kita, bukan di luar kita; ia subyektif dan tidak obyektif. Memang, perasaan batiniah kita sering dipengaruhi oleh masalah-masalah di luar, tetapi pengaruh dari luar itu tetap memerlukan respon dari pengurapan di dalam. Hanya pengaruh luaran saja, tidak seharusnya diterima.
Karena pengajaran pengurapan itu sangat subyektif, maka sering kali perasaan yang datang dari pengajaran tampak sebagai perasaan kita sendiri. Menghadapi perasaan ini, kita sering ragu, apakah ini perasaan Roh Kudus atau perasaan kita sendiri. Sepertinya ini perasaan kita, bagaimana dapat dikatakan perasaan Roh Kudus? Ini karena perasaan tersebut berasal dari Roh Kudus yang ada di dalam kita, melewati kita, dan berbaur dengan kita, dan diberikan kepada kita. Karena itu, sukar untuk memisahkannya dari perasaan kita sendiri.
Tetapi, apakah perasaan ini benar-benar berasal dari Roh Kudus? Kita masih bisa membedakannya dari pengalaman kita. Misalnya, adakalanya persekutuan kita dengan Tuhan terputus, saat itu, sukar bagi kita untuk kembali memiliki perasaan seperti ini lagi. Tetapi ketika persekutuan kita dengan Tuhan terpulihkan, perasaan semacam ini, yang sepertinya adalah perasaan kita sendiri, muncul kembali. Ini membuktikan bahwa perasaan ini tidak berasal dari diri kita, tetapi dari Roh Kudus yang melalui kita.
Ketiga, pengajaran pengurapan itu spontan, tidak dipaksakan, juga bukan sesuatu yang dengan sengaja dicari-cari. Adakalanya timbul pada saat Anda bersekutu dengan Tuhan, atau mungkin ketika Anda bekerja, beristirahat, atau berjalan ch jalan, secara spontan ada perasaan atau pengajaran di dalam Anda, di batin Anda. Perasaan spontan dari kedalaman batin Anda hampir selalu berasal dari pengurapan. Aka kehidupan rohani kita normal, kita akan merasakan pengajaran pengurapan dengan cara yang sangat spontan; jika tidak, pasti ada masalah dengan kehidupan kita di hadapan Tuhan. Misalnya, hal membeli baju. Seharusnya ketika kita ingin membeli baju, di dalam secara spontan ada urapan yang mengurapi kita yang memberi kita perasaan apakah kita boleh membelinya atau tidak. Jika kita perlu berdoa selama tiga hari sebelum kita jelas mengenai membeli atau tidak, itu membuktikan keadaan rohani kita tidak normal. Bukan hanya hal-hal sepele dalam kehidupan kita sehari-hari, sekalipun menghadapi perkara yang penting atau khusus, prinsipnya tetap sama. Kita mungkin berdoa dan menunggu secara khusus untuk suatu jawaban, tetapi ketika Roh Kudus hendak memberi tahu kehendak Allah kepada kita, tetap dengan cara yang spontan dan alami. Karena itu, semakin spontan pengajaran pengurapan, itu semakin normal.
Keempat, pengajaran pengurapan itu konstan (terus-menerus), tidak secara kebetulan atau tiba-tiba. Walaupun pengajaran pengurapan ini sangat berharga, namun dapat kita peroleh secara terus-menerus. Bukannya dalam kehidupan kita sehari-hari Roh Kudus tidak memberi kita perasaan apa-apa, dan baru memberi kita perasaan ketika kita mencari Tuhan dalam menghadapi peristiwa-peristiwa penting. Dari pagi hingga malam, dalam seluruh aktivitas hidup kita, pengurapan terus-menerus memberi kita perasaan yang membuat kita mampu mengerti kehendak Allah dan hidup menurut pimpinan-Nya. Kita dapat merasakan pengajaran pengurapan ketika roh kita didiris; bahkan ketika kita merasa bahwa kita telah kehilangan hadirat Allah, kita tetap dapat merasakan pengajaran pengurapan, dan perasaan pada saat itu justru lebih tepat daripada ketika kita didiris. Walaupun saat itu kita tidak merasakan hadir Allah, namun begitu kita melakukan sesuatu, segera terasa Allah tidak mengizinkan; ada juga begitu kita melakukan sesuatu, terasa kita menjamah hadir Allah. Sepertinya ini kontradiksi, tetapi dalam pengalaman rohani, sungguh demikian. Ini karena sifat pengurapan ini adalah konstan. Jika seseorang hanya mendapatkan pengajaran pengurapan secara insidentil, itu pasti karena keadaan rohaninya yang tidak normal.
Karena pengajaran pengurapan itu konstan, maka kita pun harus secara konstan mengalaminya dan hidup di dalamnya. Ada orang yang tidak memperhatikan perasaan pengurapan dalam kehidupannya sehari-hari, ketika menemui masalah yang besar, baru berusaha mencarinya, ini sulit mendapatkan. Sekalipun dalam dirinya ada sedikit perasaan, itu tidak dapat diandalkan; itu boleh jadi adalah khayalannya sendiri, atau samaran si Iblis, karenanya, itu berbahaya. Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari, seorang saudara tidak mengikuti dan menaati Tuhan berdasarkan pengajaran pengurapan. Hingga suatu hari, karena ia hendak menikah, lalu ia mencari perasaan dari Roh Kudus, namun saat ini, ia sulit benar- benar memperoleh perasaan dari Roh Kudus. Karena perasaan pengurapan yang diberikan kepada kita adalah yang terus-menerus. Kita dapat merasakannya dalam perkara-perkara penting seperti pernikahan dan juga dalam perkara-perkara kehidupan sehari-hari. Jadi, jika seseorang hidup di dalam perasaan pengurapan, ia bagaikan kereta yang berjalan di atas dua rel. Selama ia tetap berjalan menurut rel, ia baik-baik saja. Kapan ia memiliki keinginan untuk menyimpang keluar dari rel, perasaan pengurapan secara otomatis akan melarangnya dan membatasi kita sehingga kita terjaga dalam kehendak Allah.
Inilah situasi para rasul dalam Roh Kudus ketika mereka menunaikan pekerjaan mereka. Dalam Kisah Para Rasul 16:6-7, ketika Paulus dan kelompoknya ingin tetap tinggal di Asia, Roh Kudus "melarang" mereka; ketika mereka mencoba untuk pergi ke Bitinia, Roh Yesus "tidak mengizinkan" mereka. Larangan dan pembatasan itu adalah cerita pengurapan, bagaikan dua lajur rel yang menjaga para rasul itu di dalam pimpinan Allah. Paulus tidak berdoa selama beberapa hari untuk mengetahui maksud Roh Kudus. Ketika mereka maju bekerja, Roh Kudus sebagai minyak urapan terus-menerus mengajar mereka, menentukan jalan yang harus mereka tempuh.
Inilah keadaan yang seharusnya ada pada kita, saat kita hidup di dalam pengajaran pengurapan. Jika kita sering merasakan bahwa tindakan kita sering dilarang dan dibatasi oleh Roh Kudus, ini membuktikan bahwa kita terus-menerus hidup di dalam perasaan pengurapan. Jika sehari-hari kita tidak merasakan perasaan ini, dan ketika menemui suatu masalah, baru merasa perlu mencari perasaan Roh Kudus, itu membuktikan bahwa kita tidak secara terus-menerus hidup di dalam pengajaran pengurapan. Karena itu, dalam keadaan yang normal, pengajaran pengurapan merupakan kejadian yang ada secara terus-menerus.
5. Hasil Pengajaran Pengurapan
Pengajaran pengurapan yang sejati selalu datang dari Roh Kudus. Karena itu, jika kita menaatinya dan hidup di dalamnya, ia pasti membuat hati kita lebih mengasihi Tulian, lebih dekat kepada-Nya, membuat roh kita lebih banyak bersekutu dengan Allah. Inilah hasil ketaatan kita kepada pengajaran pengurapan. Jika setelah kita menaati perasaan di dalam, dan hasilnya bukan membuat kita lebih mengasihi Tuhan, tidak membuat kita memiliki persekutuan yang lebih dalam dengan Allah, kita dapat memastikan bahwa perasaan ini adalah perasaan kita sendiri dan bukan pengajaran pengurapan. Jadi, kita dapat menggunakan hasil-hasilnya untuk mengukur dan menilai apakah peranan batiniah kita berasal dari pengajaran pengurapan mau tidak.
IV. KETAATAN KEPADA
PENGAJARAN PENGURAPAN
Mengenai pengajaran pengurapan, di aspek Roh Kudus, titik beratnya adalah pengurapan; di aspek kita, titik beratnya adalah ketaatan. Jika tidak ada ketaatan, sukar untuk mengalami pelajaran ini. Karena itu, kita juga perlu meliliat masalah ketaatan ini.
1. Menaati Pengajaran Pengurapan
dan Hidup Menurut Roh
Kita sering berbicara tentang kehidupan rohani seperti : berjalan (hidup) menurut roh, hidup dalam persekutuan, atau hidup di depan Allah. Seinua ini boleh dikatakan sebagai beberapa ekspresi yang berbeda untuk menyatakan ketaatan kepada pengajaran pengurapan. Marilah kita membahas setiap ekspresi dalam hubungannya dengan pengajaran pengurapan.
Kita telah melihat bahwa pengajaran pengurapan adalah perasaan yang dihasilkan oleh pergerakan Roh Kudus di dalam kita. Karena itu, jika kita menaati perasaan ini, kita berjalan (hidup) menurut roh. Jika kita ingin hidup menurut roh, kita perlu menaati dan hidup dalam pengaiaran pengurapan. Jika kita bisa menaati pengajaran pengurapan, maka kita juga bisa berjalan menurut roh. Jadi, ini merupakan dua pembicaraan yang berbeda untuk mengekspresikan hal yang sama.
Jika kita ingin memihki pengalaman berjalan menurut roh, kita perlu mengetahui apakah pengajaran pengurapan dan apakah perasaan yang berasal dari gerakan Roh Kudus di dalam kita. Kita harus mengenal perasaan ini, menjamah perasaan ini dan hidup olehnya. Hanya dalam perasaan inilah kita dapat berjalan menurut roh.
Dua puluh tahun yang lalu, saya mendengar orang-orang berbicara mengenai mengikuti Tuhan. Tetapi, apa yang harus dilakukan untuk mengikuti Tuhan? Bagaimana baru terhitung mengikuti Tuhan? Pada saat itu saya tidak mengerti, juga tidak menjamah realitasnya. Tetapi, syukur kepada Tuhan, sekarang saya tahu. Mengikuti Tuhan berarti mengikuti Roh itu, konkretnya, yaitu menaati pengajaran pengurapan. Kita tidak mengikuti Tuhan yang obyektif dan di luar diri kita, melainkan mengikuti Tuhan yang subyektif dan di dalam kita. Terang wajah-Nya dan manifestasi-Nya adalah pengurapan. Maksud hati-Nya yang diwahyukan-Nya dalam terang wajah-Nya adalah pengajaran pengurapan. Jika kita menaati pengajaran ini, kita menaati Tuhan. Aka kita mengikuti pengajaran ini, kita mengikuti Tuhan.
2. Menaati Pengajaran Pengurapan
dan Hidup dalam Persekutuan
Ketika kita membahas hubungan antara pengurapan dan persekutuan hayat, kita nampak bahwa keduanya merupakan dua aspek dari satu perkara dan tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana hayat itu ada di dalam Roh Kudus, demikian juga persekutuan hayat itu melalui pergerakan atau pengurapan Roh Kudus. Setiap pengurapan dari minyak urapan berarti mengurapkan Tuhan ke dalam kita dan juga mengurapkan kita ke dalam Tuhan; dengan demikian, ada aliran hayat di antara Tuhan dengan kita. Karena itu, begitu kita mendapatkan pengurapan, juga berarti memiliki persekutuan hayat.
Jika persekutuan kita dengan Tuhan dibatasi hanya pada waktu kita berdoa atau munajad pagi secara pribadi, itu sangat dangkal. Kita perlu hidup dalam persekutuan setiap saat dan berada dalam kontak yang akrab dengan Tuhan, bahkan pada saat kita pallng sibuk, tetap dapat hidup dalam persekutuan. Persekutuan sedemikian baru persekutuan yang mendalam. Untuk hidup dalam persekutuan, kita harus hidup dalam pengurapan dan selalu merasakan pengurapan. Hidup dalam pengurapan ini adalah menaati pengajaran pengurapan. Aka kita senantiasa menaati pengajaran pengurapan dan hidup dalam persekutuan, kita dapat senantiasa mengalami pengurapan dan hidup dalam persekutuan. Aka tidak, kita tidak dapat mengalami pengurapan, juga tidak dapat hidup dalam persekutuan.
Tidak sukar untuk mengalami pengurapan dan menaati pengajarannya, karena sifatnya yang terus-menerus dan alami. Alami berarti kita memiliki pengurapan itu secara otomatis tanpa memintanya, dan terus-menerus berarti ia selalu tersedia. Jika kita menaati pengajaran pengurapan, hasilnya adalah persekutuan yang terus-menerus dengan Tuhan secara alami; inilah hidup dalam persekutuan.
Di sini kita akan sekaligus menyinggung sedikit tentang jalan praktis untuk memasuki persekutuan :
Pertama, kita harus mengetahui bahwa perasaan pengurapan justru adalah pengajaran pengurapan. Jika kita ingin memasuki persekutuan hayat, atau dengan kata lain, ingin masuk ke dalam pengurapan, pertama-tama kita harus mengenal pengajaran yang berasal dari perasaan pengurapan yang bergerak di dalam kita.
Kedua, kita harus menghentikan aktivitas luaran. Seluruh diri kita. harus berhenti dari semua aktivitas dan pergerakan luaran untuk kembali ke dalam dan memberikan perhatian penuh kepada perasaan di dalam. Jika kita sibuk dengan aktivitas luaran, mustahil bagi kita untuk memperhatikan perasaan pengurapan di dalam. Butir yang di depan adalah untuk mengenal perasaan, sedangkan butir ini adalah untuk memperhatikan perasaan. Semua pekerjaan dan aktivitas orang Kristen yang bernilai rohani haruslah berasal dari gerakan atau pimpinan di dalam. Terlebih dulu harus ada gerakan dan pimpinan di dalam, kemudian baru bergerak dan bekerja menurutnya. Tetapi banyak orang Kristen sampai hari ini masih saja hidup dalam kegiatan luaran. Ketika mereka dibangunkan dan bergairah terhadap Tuhan, mereka membawa Alkitab dan pergi ke sana ke mari untuk memenuhi kebutuhan di luar. Mereka hanya nampak kebutuhan yang di luar, namun mengabaikan cerita yang di dalam. Mereka tidak hanya tidak mengenal perasaan yang ada di dalam mereka, juga tidak memperhatikan perasaan batiniah ini. Akibatnya, orang-orang semacam ini tidak memiliki jalan untuk masuk ke dalam persekutuan. Karena itu, jika kita ingin masuk ke dalam persekutuan, langkah kedua, kita harus berhenti dari semua aktivitas di luar.
Ketiga, berlatih memiliki waktu-waktu tertentu untuk bersekutu dengan Tuhan. Ketika kita baru mulai belajar bersekutu dengan Tuhan, setiap hari kita harus menyisihkan waktu-waktu tertentu untuk berlatih bersekutu dengan Tuhan. Dalam persekutuan ini, jangan membawa banyak hal untuk didoakan (bahkan doa-doa luaran itu perlu dihentikan), tetapi berdoalah menurut perasaan yang di dalam. Selama doa yang sedemikian, kebanyakan terlebih dulu kita merasakan dosa-dosa, pelanggaran-pelanggaran kita; kita. perlu menanggulanginya. Kemudian, kita merasa bahwa kita perlu berbalik kepada Tuhan dan mempersembahkan diri kita kepada-Nya. Setelah itu, secara spontan kita akan menengadah kepada anugerah Tuhan dan melalui suplai anugerah-Nya kita memasuki persekutuan yang lebih dalam. Akhirnya, timbul ucapan syukur, pujian, dan penyembahan. Jika kita berlatih bersekutu sedemikian setiap hari pada waktu-waktu tertentu, roh kita akan kuat dan hidup, lebih mudah menjamah Tuhan dan masuk ke dalam persekutuan.
Keempat, berlatih bersekutu dengan Tuhan setiap saat. Setelah kita memakai sejangka waktu untuk berlatih bersekutu dengan Tuhan pada waktu-waktu tertentu, kita harus berlatih bersekutu dengan Tuhan setiap saat. Persekutuan pada waktu-waktu tertentu terjadi pada waktu yang telah ditentukan dengan mengesampingkan semua alitivitas luaran, secara khusus berdoa dan menuntut Tuhan. Ini mudah memasukinya. Persekutuan setiap saat berlangsung sepanjang hari, entah pada saat bekerja atau beristirahat, sangat sibuk di luar atau dikuasai oleh banyak urusan bisnis; dalam batin tetap tidak meninggalkan Tuhan, mengalami pengurapan dalam. kehadiran-Nya secara terus-menerus dan alami. Pada taraf ini, kita sudah dapat hidup dalam persekutuan. Butir ini lebih tinggi dan lebih sukar, dan ini mungkin terjadi kalau kita terus-menerus berlatih.
3. Menaati Pengajaran Pengurapan
dan Hidup di Depan Allah
Menaati pengajaran pengurapan berarti berjalan menurut roh, hidup dalam persekutuan, dan hidup di depan Allah. Namun, berjalan menurut roh berhubungan dengan Roh Kudus, hidup dalam persekutuan berhubungan dengan Tuhan, dan hidup di depan Allah berhubungan dengan Allah. Karena itu, ketiganya ini boleh dikatakan sebagai hubungan pengaiaran pengurapan dengan Allah Tritunggal.
Di aspek Roh Kudus, Ia mengurapi dan bergerak di dalam. roh kita; karena itu, kita perlu berjalan menurut roh. Di aspek Tuhan, Ia hidup di dalam. kita dan menjadi hayat kita sehingga kita dapat memiliki aliran hayat; karena itu, kita perlu hidup dalam persekutuan denganNya. Di aspek Allah, Ia ada di dalam kita agar kita memiliki terang wajah-Nya sehingga kita dapat mengalami hadirNya; karena itu, kita perlu hidup di depan-Nya. Kita dapat memperoleh ketiga aspek ini dengan menaati pengajaran pengurapan.
Menurut kebenaran, Allah telah beserta dengan kita sejak kita diselamatkan. Penyertaan-Nya tidak pernah terpisah dari kita, dan kita tidak akan pernah kehilangan Dia. Penyertaan ini adalah Roh Kudus. Roh Kudus di dalam kita adalah penyertaan Allah. Karena itu, penyertaan ini bukanlah suatu kondisi atau suatu perkara, tetapi satu Pribadi. Pribadi ini adalah Roh Kudus; Dia ada di dalam kita berarti penyertaan Allah. Sejak kita diselamatkan, penyertaan ini tidak pernah hilang.
Tetapi, dalam pengalaman kita, kita tidak bisa selalu merasakan penyertaan ini. Adakalanya, sepertinya penyertaan ini terputus dan kita kehilangan terang wajah Allah. Adakalanya, penyertaan ini terpulihkan kembali, kembali kita merasakan terang wajah-Nya. Permasalahannya terletak pada pengurapan. Tanpa pengurapan, penyertaan Allah tidak dapat direalisasikan di dalam kita, dan kita tidak dapat merasakan terang wajah-Nya. Begitu pengurapan mengurapi, realitas penyertaan-Nya dan perasaan terang wajah-Nya mengikuti. Karena itu, melalui pengurapan kita dapat mengalami penyertaan Allah secara praktis.
Kita telah mengatakan bahwa pengurapan membuat kita tahu apa yang harus kita lakukan atau apa yang tidak seharusnya kita lakukan. Ini adalah fungsi yang sekunder. Tujuan utama kita mengalami pengurapan adalah agar kita menjamah diri Allah sendiri dan memiliki penyertaanNya. Misalnya, kita memberikan suatu berita. Ini bukan hanya masalah apakah kita boleh berbicara atau tidak, lebih-lebih apakah kita memiliki penyertaan Allah atau tidak ketika kita berbicara. Jika Allah tidak beserta, tidak peduli bagaimana baiknya kita berbicara, dalam batin kita terasa makin kosong, sampai pada akhir pemberitaan, roh kita benar-benar kosong, bahkan kita tidak dapat berdoa untuk sejangka waktu. Di pihak lain, jika ada penyertaan Allah, di dalam kita merasa didiris; semakin kita berbicara, semakin kita dipuaskan. Sama seperti Tuhan Yesus berbicara dengan peremptian Samaria, selesai berbicara, di dalam terasa puas (Yoh. 4:31-34). Pendirisan dan kepuasan yang sedemikian adalah hasil pengurapan. Karena itu, seorang pengkhotbah yang baik, karena dirinya sering menjamah pengurapan, maka ia tidak hanya dapat membuat orang lain menerima suplai dan terbina, juga bisa membuat unsur Allah dalam batinnya makin bertambah. Misalnya lagi, kita berencana untuk pergi ke suatu tempat. Kita tidak hanya perlu bertanya apakah kita boleh pergi atau tidak, tetapi juga apakah Allah beserta kita atau tidak? Adakah penyertaan Allah seperti bangsa Israel di padang gurun dengan tiang awan dan tiang api? Jika Allah tidak menyertai kita, walaupun kita melakukan hal yang terbaik, itu tidak ada nilai rohaninya. Karena itu, penyertaan Allah adalah perkara yang paling penting. Dan penyertaan ini tergantung pada pengurapan-Nya. Begitu kita mendapatkan pengurapan, kita merasakan terang wajah Allah dan mendapatkan penyertaan-Nya. Tanpa pengurapan, kita kehilangan terang wajah-Nya dan tidak bisa menjamah penyertaan-Nya.
Sayang, di masa lampau, karena pengenalan terhadap perkara ini kurang jelas, ada saudara saudari, walaupun telah mempelajari pelajaran mengenai pengurapan, perhatian mereka hanya tertuju kepada pergerakan atau pimpinan yang di luar, mereka mengabaikan pertambahan unsur Allah yang di dalam. Karena itu, unsur Allah di dalam mereka terbatas, dan setelah beberapa tahun, unsur Allah di dalam mereka tetap sama. Selama beberapa tahun tersebut mereka tidak melakukan perkara yang salah atau tidak senonoh; mereka takwa dan sepertinya hidup di depan Allah. Tetapi unsur Allah tidak bertambah di dalam mereka. Sebenarnya, ini berarti hayat rohani mereka tidak bertumbuh. Ini dikarenakan dalam pengalaman mereka atas perkara menaati pengajaran pengurapan, mereka hanya memperhatikan aspek pimpinan Allah namun mengabaikan aspek penyertaan Allah.
4. Hasil Ketaatan kepada Pengajaran Pengurapan
Karena pengurapan itu demikian penting untuk penyertaan Allah, maka kita harus menaati pengajaran pengurapan, agar kita dapat mengalami lebih banyak pengurapan. Demikian, baru kita dapat kapan dan di mana saja hidup di depan Allah, hidup dalam terang wajah-Nya, dan menjamah penyertaan-Nya setiap waktu. Pada saat ini kita dapat memasuki realitas kidung (no. 227) yang berbunyi :
Tirai terb'lah, ku masuk, mulianya tak terhingga!
Kini ku hidup di depan Sang Raja.
Ketika manusia melewati tirai daging dan hidup di depan Allah, ia memasuki ruang maha kudus dan hidup di dalam roh, memiliki persekutuan dengan Allah muka bertemu muka. Pada saat inilah pengalaman rohani kita mencapai puncaknya.
Kesimpulannya, kunci untuk semua kehidupan rohani adalah pengurapan. Kita harus senantiasa menjamah pengurapan dan menaati pengajarannya. Begitu kita hidup dalam pengajaran pengurapan, kita berjalan menurut roh, hidup dalam persekutuan Tuhan, dan hidup di depan Allah. Namun begitu kita kehilangan pengajaran pengurapan, kita tidak akan mendapatkan pimpinan Roh Kudus, persekutuan kita dengan Tuhan terhenti, dan terang wajah Allah hilang; akibatnya, kita tidak berdaya untuk hidup di depan-Nya. Karena itu, pengajaran pengurapan ini benar-benar merupakan inti semua pengalaman rohani dan juga merupakan bagian yang sangat ajaib dari keselamatan Allah. Semoga kita lebih banyak menaruh perhatian pada hal ini dan lebih banyak mengalaminya!