MENANGGULANGI HATI NURANI
Sekarang kita sampai pada pengalaman hayat yang keenam, yaitu menanggulangi hati nurani. Setelah kita mempersembahkan diri kita, kita tidak hanya perlu menanggulangi dosa dan dunia, kita juga perlu menanggulangi hati nurani kita. Perbuatan dosa dan dunia boleh dikatakan adalah perkara luaran, tetapi hati nurani adalah sesuatu di dalam kita. Karena itu, menanggulangi dosa dan dunia adalah menanggulangi secara luaran hngkungan kita, sedangkan menanggulangi hati nurani kita adalah menanggulangi bagian pusat diri kita. Kita pernah berkata bahwa menanggulangi dosa itu ibarat menghapus noda kotor dari pakaian kita; menanggulangi dunia seperti menghapus gambar cetak berwarna-warni dari pakaian; dan menanggulangi hati nurani dapat diibaratkan dengan menghilangkan semua bakteri dari pakaian itu secara menyeluruh, sehingga pakaian itu benar-benar bersih. Sebab itu, menanggulangi hati nurani juga merupakan hal yang sangat penting dalam pertumbuhan hayat kristiani kita. Kita harus mengetahui dan mengalami hal ini secara menyeluruh.
I. PENGENALAN TERHADAP
PENANGGULANGAN HATI NURANI
1. Asal-usul Hati Nurani
Pertama-tama, mari kita melihat asal-usul hati nurani manusia. Kapankah hati nurani ada untuk kali pertama, dan bagaimanakah terjadinya? Walaupun kita tidak menemukan catatan yang pasti mengenai hal ini di dalam Alkitab, tetapi menurut seluruh kebenaran Alkitab dan juga menurut pengalaman kita, hati nurani diciptakan di dalam manusia ketika Allah menciptakan manusia. Dengan kata lain, organ hati nurani ada bersamaan dengan saat manusia diciptakan. Tetapi organ ini tidak berfungsi sampai manusia makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, barulah fungsi hati nurani ternyata.
Menurut catatan Alkitab, sebelum kejatuhan, manusia masih berada dalam keadaan sebermula, seperti bayi yang baru lahir. Pada saat itu, ia tidak merasa malu akan ketelanjangannya. Ini membuktikan bahwa di dalam diri manusia tidak ada konsepsi baik dan jahat, benar dan salah; ini berarti tidak ada perasaan atau fungsi hati nurani. Setelah manusia jatuh karena makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, ia merasa malu akan ketelanjangannya. Perasaan malu ini disebabkan fungsi hati nurani yang mulai aktif, sehingga menghasilkan perasaan tertentu. Karena itu, perasaan hati nurani, yaitu fungsi hati nurani, dinyatakan setelah kejatuhan,
Meskipun sebelum kejatuhan fungsi hati nurani tidak dinyatakan, namun hati nurani itu sendiri sudah ada. Karena hati nurani adalah organ di dalam diri manusia, ia pasti diciptakan ketika manusia diciptakan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa sebelum kejatuhan, tidak ada organ yang disebut hati nurani, baru setelah kejatuhan, Allah menciptakan hati nurani untuk manusia. Konsepsi seperti itu tidak masuk akal. Logisnya, hati nurani itu pasti sudah diciptakan oleh Allah sejak semula, dan fungsinya pasti telah diaktifkan dan dinyatakan setelah kejatuhan. Kita dapat membandingkan hal ini dengan seorang bayi yang dilahirkan dengan memiliki organ otak, tetapi fungsi otak itu haru terwujud melalui pendidikan. Semakin banyak pendidikan yang diterima, fungsi otaknya semakin dinyatakan. Demikian juga, organ hati nurani sudah ada ketika manusia diciptakan, tetapi karena ia tidak memiliki masalah yang berkenaan dengan perihal baik dan jahat, hati nuraninya tidak perlu berfungsi. Setelah kejatuhan manusia, konsepsi mengenai baik dan jahat masuk ke dalam manusia, dan pada saat itulah fungsi hati nuraninya baru dinyatakan. Sejak itu, hati nurani mulai memikul tanggung jawab untuk menolak yang jahat dan menerima yang baik. Inilah asal usul hati nurani.
2. Tempat dan Fungsi Hati Nurani
Tempat hati nurani adalah di dalam roh manusia. Roh manusia mempunyai tiga bagian : persekutuan (komunikasi), intuisi (perasaan langsung), dan hati nurani (suara hati). Walaupun hal ini tidak secara jelas dinyatakan dalam Alkitab, kita dapat membuktikan fakta ini melalui pengalaman kita. Di dalam roh kita ada satu bagian yang disebut persekutuan, fungsinya adalah untuk bersekutu dengan Allah. Bagian lain, intuisi, berperan dalam merasakan Allah dan mengetahui kehendak-Nya secara langsung. Yang terakhir ialah hati nurani, membuat kita dapat membedakan mana yang benar dan salah, baik dan jahat.
Ada perkembangan yang progresif di dalam mewahyukan ketiga fungsi roh manusia. Sebelum kejatuhan, fungsi hati nurani belum dinyatakan. Karenanya, saat itu hanya ada dua fungsi di dalam roh manusia, persekutuan dan intuisi. Setelah kejatuhan, ketika manusia menyembunyikan dirinya dari hadirat Allah (Kej. 3:8), persekutuannya dengan Allah terganggu dan intuisinya menjadi tumpul, tetapi hati nuraninya mulai berfungsi. Hati nuraninya yang baru saja diaktifkan membuat dia mampu untuk merasakan dan membedakan mana yang benar dan salah, baik dan jahat, dalam setiap, tahapan hidupnya. Setelah kejatuhan, walaupun persekutuan dan intuisi roh menjadi lemah dan tidak peka, hati nurani langsung diaktifkan. Sayangnya, ketika manusia jatuh lebih dalam di dalam dosa, perasaan hati nurani bahkan dikesampingkan. Pada saat itu, hati nurani manusia bagaikan hangus oleh besi panas (1 Tim. 4:2), bahkan waktu ia menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran, ia tidak memiliki perasaan sama sekah (Ef. 4:19). Dengan demikian, fungsi rohnya benar-benar telah hilang.
Ketika kita diselamatkan dan dilahirkan kembali, Roh Kudus masuk ke dalam kita dan menghidupkan roh kita, memberi kita roh yang baru (Yeh. 36:26). Pada saat itu, ketiga fungsi roh kita dipulihkan. Kita dapat dengan bebas bersekutu dengan Allah, mengetahui kehendak-Nya secara langsung, dan dengan tajam membedakan manakah yang benar dan salah. Karena itu, hari ini, fungsi roh tidak sama lagi dengan fungsinya setelah kejatuhan, dan keadaannya juga tidak sama dengan keadaannya sebelum kejatuhan. Sekarang, ketiga fungsi itu ada bersamaan; selain itu, semuanya kuat dan peka.
Kita dapat membagi fungsi hati nurani ke dalam tiga aspek. Pertama, hati nurani adalah organ yang membuat kita mampu membedakan benar dan salah, baik dan jahat. Kedua, hati nurani membuat kita dapat mengetahui apa yang dibenarkan Allah, dan apa yang dihukum Allah (Rm. 2:15), apa yang diperkenan Allah dan apa yang dibenci-Nya. Jadi, dari sudut pandang ini, hati nurani benar-benar membuat kita dapat mengenal kehendak Allah. Ketiga, hati nurani mewakili Allah memerintah kita. Seperti suatu negara yang mengatur rakyatnya melalui angkatan kepolisian, demikian juga Allah memerintah kita melalui hati nurani. Alam semesta ini tidak akan ada jika ia tidak dikendalikan oleh hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh Allah. Siapa pun yang melanggar hukum-hukum dan prinsip-prinsip ini akan dihukum dan dihakimi dengan setimpal. Allah juga telah menetapkan sejumlah prinsip dan hukum di dalam pemerintahannya atas manusia; prinsip-prinsip dan hukum-hukum ini dilaksanakan sepenuhnya oleh hati nurani. Allah menetapkan hati nurani di dalam manusia yang jatuh agar dapat mengatur manusia menurut prinsip-prinsip dan hukum-hukum ini. Jika seseorang bertindak melawan atau ingin melawan prinsip-prinsip dan hukum-hukum Allah ini, dengan segera hati nuraninya menghakimi dia dan menahannya agar tidak tersesat lebih jauh dan jatuh ke dalam perusakan. Peraturan hati nurani tidak hanya untuk mempertahankan keberadaan seseorang, tetapi juga untuk mempersatukan semua hubungan manusia di alam semesta ini. Karena itu, fungsi utama hati nurani adalah mengatur manusia. Sebenarnya, tujuan hati nurani yang membuat manusia dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah dan mengetahui apa yang dibenarkan Allah dan apa yang dihakimi-Nya juga mewakili Allah di dalam pemerintahannya atas manusia.
3. Hubungan Hati Nurani dengan Bagian-bagian Batin
a. Atas Kedudukan
Hati nurani adalah bagian dari roh, maka ia berhubungan erat dengan intuisi dan persekutuan. Oleh karena jiwa menyelubungi roh, hati nurani juga berhubungan erat dengan bagian-bagian jiwa, yaitu pikiran, emosi, dan tekad. Selain itu, karena hati nurani adalah bagian dari hati, ia juga berkaitan erat dengan hati. Jadi, secara kedudukan, hati nurani erat hubungannya dengan semua bagian batin kita - yaitu roh, jiwa, dan hati.
b. Atas Fungsi
Karena kedudukan hati nurani berhubungan erat dengan bagian-bagian batin; maka dengan sendirinya fungsi hati nurani pun demikian, hati nurani dan bagian-bagian batin saling mempengaruhi satu sama lain.
Pertama, mari kita membicarakan bagaimana intuisi mempengaruhi fungsi hati nurani. Ketika seseorang mempunyai intuisi yang lincah dan peka di dalam rohnya, hati nuraninya juga peka dan halus. Marilah kita mengambil sebuah ruangan yang sangat gelap sebagai contoh. Jika ruangan yang di sebelahnya memiliki cahaya yang terang memancar, sedikitnya ia akan menyinari ruangan yang gelap itu. Demikian juga, karena intuisi itu berdekatan dengan hati nurani, fungsinya sangat mempengaruhi fungsi hati nurani.
Demikian juga dengan persekutuan. Ketika persekutuan seseorang dengan Allah itu bebas, tanpa halangan, fungsi hati nuraninya juga peka dan tepat. Semakin dalam persekutuannya dengan Allah, di dalamnya semakin lincah dan terang, dan hati nuraninya menjadi semakin tajam dan akurat.
Ketiga bagian jiwa juga sangat mempengaruhi fungsi hati nurani dengan jelas. Pikiran yang jernih dan tembus, emosi yang kaya dan seimbang, dan tekad yang kuat dan luwes, akan sangat mempengaruhi fungsi hati nurani. Misalnya, pengetahuan dan pengenalan seseorang terhadap sesuatu sangat mempengaruhi perasaan hati nurani. Beberapa orang dilahirkan dengan pikiran yang tumpul, jalan pikirannya tidak lurus; akibatnya, hati nuraninya juga menjadi kabur dan lambat. Ini menunjukkan bagaimana pikiran mempengaruhi hati nurani. Demikian juga, emosi dan tekad juga akan mempengaruhi hati nurani. Karena itu, untuk memperoleh hati nurani yang berfungsi secara normal, pikiran, emosi, dan tekad kita harus dipimpin kepada jalur yang tepat.
Fungsi hati nurani juga berada di bawah pengaruh hati. Kalau seorang memiliki pikiran yang benar, hati yang baik, dan tekad yang luwes, hati nuraninya akan terang dan peka. Bila ia melukai orang lain walaupun sepele, ia akan merasa tidak enak. Sebaliknya, jlka seseorang memiliki pikiran yang bengkok, hati yang kejam, dan tekad yang keras, hati nuraninya akan gelap dan tumpul. Sekalipun ia telah menusuk perasaan orang lain, ia masih tidak merasakannya.
Pengaruh atas fungsi ini agak halus dan lem but. Kita harus merasakannya dan memahaminya dalam pengalaman yang riil.
4. Hubungan Hati Nurani dengan Pemerintahan
(Pengaturan)
Ada pelajar-pelajar Alkitab yang membagi Alkitab menjadi tujuh zaman : zaman tanpa dosa, zaman hati nurani, zaman pemerintahan manusia, zaman janji, zaman hukum, zaman anugerah, dan zaman kerajaan. Ketiga zaman yang di depan dikategorikan menurut prinsip pemerintahan. Dalam zaman.tanpa dosa kita nampak prinsip pengaturan Allah; dalam zaman hati nurani, kita nampak prinsip pemerintahan diri sendiri; dan dalam zaman pemerintahan manusia, kita nampak prinsip pengaturan manusia. Dari ketiga macam pemerintahan, yang berada di bawah pemerintahan diri sendiri adalah yang berhubungan dengan hati nurani.
Sebelum kejatuhan manusia, tidak ada sekatan dosa antara Allah dan manusia. Inilah yang disebut sebagai zaman tanpa dosa. Pada masa ini manusia diperintah langsung oleh Allah. Ia tinggal di hadapan Allah dan bertanggung jawab kepada Allah. Sayangnya, manusia gagal di bawah pengaturan Allah dan berdosa di dalam dan di luar; maka Allah yang kudus dan benar harus meninggalkan manusia. Sebagai akibatnya, sejak saat pengusiran Adam dari Taman Eden sampai kepada saat Nuh keluar dari bahtera, Allah menetapkan hati nurani di dalam diri manusia untuk mewakili diri-Nya sendiri dalam pemerintahan-Nya atas manusia. Inilah yang disebut zaman hati nurani. Pada masa ini manusia diperintah oleh hati nuraninya sendiri dan bertanggung jawab kepada hati nuraninya sendiri. Sayangnya, di bawah pemerintahan diri sendiri ini, manusia sekah lagi gagal. Manusia mengabaikan teguran dan pengendahan hati nurani, dengan timbulnya pembunuhan dan perzinaan, yang berkelanjutan kepada kerusakan total dan kejahatan penuh. Allah menghukum zaman ini dengan air bah.
Setelah air bah, Allah berkata kepada Nuh, "Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia" (Kej. 9:6). Karena manusia bukan hanya tidak taat kepada pengaturan Allah, tetapi juga tidak taat kepada pemerintahan diri sendiri, maka Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk mewakili diri-Nya sendiri dalam pemerintahan-Nya atas manusia. Karena itu, tak lama sesudah itu, ada permulaan bangsa-bangsa; kemuthan di antara umat manusia muncul kuasa pemerintahan politik, kekuasaan masyarakat, dan kontrol dalam keluarga. Sebagai contoh, dalam negara ada presiden dan pejabat pemerintah; di pabrik ada pengawas; dan di dalam keluarga ada orang tua dan kakak-kakak, dan lain sebagainya. Ini merupakan kuasa yang didirikan oleh Allah untuk mewakili diri-Nya dalam memerintah manusia. Inilah sebabnya Roma 13:1 mengatakan, "Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya." Inilah zaman pemerintahan manusia, di mana manusia diperintah oleh manusia dan bertanggung jawab kepada manusia.
Dari sudut pandang pemerintahan, kejatuhan manusia adalah kejatuhan dari pemerintahan Allah kepada pemerintahan diri sendiri, dan dari pemerintahan diri sendiri kepada pemerintahan manusia. Semakin banyak seseorang diperintah Allah, ia menjadi semakin mulia, tetapi semakin banyak seseorang diperintah oleh manusia, ia menjadi semakin tidak berharga. Hari ini, kondisi manusia adalah penolakan yang menyeluruh terhadap pengaturan Allah. Ada kemungkinan minoritas orang yang ada di bawah pemerintahan diri sendiri dikontrol oleh hati nurani mereka; tetapi, pengaruh hati nurani mereka sangat lemah. Mayoritasnya, hidup di bawah pemerintahan manusia dan tidak pernah mematuhinya jika mereka tidak diatur oleh manusia. Tetapi masih banyak yang gagal dalam zaman pemerintahan manusia ini. Mereka tidak hanya tidak patuh, tetapi juga berusaha untuk melarikan diri dan bahkan mengguhngkan kekuasaan manusia. Hari ini apa yang ada di depan mata kita adalah kondisi yang penuh pemberontakan dan tidak teratur. Jadi, manusia telah gagal total, tidak peduli di bawah pemerintahan Allah, pemerintahan diri sendiri, atau pemerintahan manusia.
Karena manusia telah jatuh dari pemerintahan Allah ke pemerintahan manusia, maka ketika menyelamatkan manusia, Allah harus memuhhkan manusia dari pemerintahan manusia kepada pemerintahan Allah, sehingga manusia dapat sekali lagi hidup di hadapan Allah dengan polos murni, langsung berada di bawah pemerintahan-Nya. Tetapi, pemulihan semacam ini tidak dapat dirampungkan dalam waktu sekejap. Sebagaimana kejatuhan manusia adalah jatuh dari pemerintahan Allah kepada pemerintahan manusia (melewati tahap pemerintahan diri sendiri), maka dalam rencana pemulihan Allah manusia harus menelusuri langkahnya dari pemerintahan manusia kepada pemerintahan Allah, juga melewati tahap pemerintahan diri sendiri). Karena pemerintahan diri sendiri adalah tahap antara pemerintahan manusia dan pemerintahan Allah, maka ketika seseorang beroleh selamat, pertama ia harus dipindahkan dari pemerintahan manusia untuk kembah ke pemerintahan diri sendiri.
Mereka semua yang hidup di bawah pemerintahan manusia adalah hidup di hadapan manusia. Mereka tidak berani melakukan banyak hal karena takut kepada manusia. Kapan kala mereka tidak berada di bawah pengawasan manusia, mereka segera melakukan apa saja yang mereka senangi. Tetapi, mereka yang berada di bawah pemerintahan diri sendiri tidak demikian. Mereka hidup oleh perasaan hati nurani mereka sendiri, dikendalikan oleh hati nurani mereka sendiri, tidak perlu diatur oleh orang lain. Mereka dikendalikan dalam semua tutur kata dan tingkah laku mereka, bukan karena mereka takut kepada seseorang, tetapi karena pengendahan hati nurani mereka. Mereka bebas untuk melakukan sesuatu hanya ketika hati nurani mereka setuju. Secara luaran, mereka berada di bawah pemerintahan manusia dan taat kepada pemerintahan manusia, tetapi secara riil, pemerintahan ini tidak diperlukan, karena hati nurani mereka sudah cukup untuk menguasai dan mengendalikan mereka.
Sangat disayangkan, keadaan banyak orang Kristen hari ini tidak demikian. Tingkah laku mereka masih memerlukan pemerintahan manusia. Pelajar harus dikendalikan oleh guru-guru mereka, anak-anak oleh orang tua mereka, dan para pekerja oleh pengawas mereka. Sering kali mereka hanya mempedulikan orang-orang yang secara luaran ada di sekitar mereka, tetapi tidak mempedulikan hati nurani yang di dalam. Ini cukup membuktikan bahwa mereka masih hidup di dalam kondisi yang jatuh yaitu diperintah oleh manusia. Karena itu, kita harus dengan serius dan tegas menanggulangi hati nurani, agar kita dapat diselamatkan dari kondisi yang jatuh dari pemerintahan manusia kepada pemerintahan hati nurani. Demikian, atas segala hal kita dapat hidup dan bertingkah laku menurut perasaan hati nurani kita.
Tetapi, tujuan akhir dari penanggulangan hati nurani bukan sekadar mengembalikan kita kepada pemerintahan diri sendiri. Jika kita hanya tinggal di dalam perasaan hati nurani, kita masih berada di situasi setengah jatuh dan masih belum mencapai kehendak Allah. Karena itu, menanggulangi hati nurani bukan hanya untuk membuat manusia kembali dari pemerintahan manusia kepada pemerintahan diri sendiri, dari wajah manusia kepada hati nurani, lebih jauh lagi adalah agar manusia melewati pemerintahan diri sendiri dan mencapai pemerintahan Allah, melewati hati nurani dan hidup di dalam hadirat Allah. Menanggulangi hati nurani sehingga kita dibawa kembah ke hati nurani masih merupakan tujuan yang negatif, tujuan yang positif adalah kita dipulihkan kepada diri Allah sendiri. Karena itu, tujuan akhir dari menanggulangi hati nurani adalah untuk membawa kita kembah kepada pemerintahan Allah.
Pemerintahan diri sendiri dan pemerintahan Allah sangat berbeda. Pemerintahan diri sendiri berarti manusia hidup berdasarkan perasaan hati nuraninya, bertanggung jawab kepada hati nuraninya; sementara pemerintahan Allah berarti manusia hidup berdasarkan intuisi roh, bertanggung jawab kepada intuisi, juga berarti bertanggung jawab kepada Allah. Kita tahu bahwa Allah melalui Roh Kudus hidup di dalam roh kita. Karena itu, kita dapat berkata bahwa intuisi di dalam roh kita adalah perasaan Allah. Karenanya, ketika kita hidup berdasarkan intuisi dan dikendalikan oleh intuisi, kita hidup di hadirat Allah dan diatur oleh-Nya. Hati nurani hanya memiliki perasaan benar dan salah. Ia menghakimi semua yang salah dan jahat dan membenarkan semua yang benar dan baik. Tetapi intuisi berada di atas benar dan salah, baik dan jahat. Ia berada di atas salah juga berada di atas benar; ia berada di atas jahat dan juga di atas baik. Ia menghakimi semua yang salah dan yang jahat, tetapi tidak selalu menyetujui semua yang benar dan baili. Ia hanya menerima semua yang berasal dari Allah, dari Roh, dan dari hayat.
Sebagai contoh, berbohong dihakimi oleh hati nurani sementara kebenaran disetujui. Jika kita hidup berdasarkan hati nurani, semuanya baik selama kita tidak berbohong, selama kita mengatakan yang sebenarnya. Tetapi, jika kita hidup berdasarkan intuisi, berjalan menurut perasaan Allah, maka kita tidak hanya tidak dapat mengatakan kebohongan, tetapi juga tidak dapat selalu mengatakan yang sebenarnya. Kita harus bertanya : Apakah kata-kata ini berasal dari Allah atau dari diri kita sendiri? Allah tidak ingin kita berbohong, Allah juga tidak ingin kita mengatakan yang sebenarnya. Yang Allah inginkan adalah kita mengatakan firman-Nya, kata-kata yang berasal dariNya, dari Roh, dan dari hayat. Oleh karena itu, ketika seorang saudara melayani, apakah ia membicarakan kebenaran atau tidak akan ditentukan oleh hati nurani. Tetapi apakah yang harus diberitakan-Nya, judul apa yang harus dipilih, apa yang Allah ingin dia bicarakan - hal-hal ini tidak berada dalam batas benar dan salah, baik dan jahat. Perasaan hati nurani tidak dapat melakukan apa-apa mengenai hal ini. Hanya melalui intuisi, seseorang dapat menjamah pikiran Allah dan dipimpin oleh Allah untuk membicarakan firman-Nya. Perbedaan-perbedaan antara hati nurani dan intuisi ini juga merupakan perbedaan-perbedaan antara pemerintahan diri sendiri dan pemerintahan Allah.
Hari ini terlalu sedikit manusia yang hidup sepenuhnya di bawah pemerintahan Allah! Banyak saudara saudari hidup dalam kondisi yang merupakan kombinasi dari tiga macam pemerintahan ini. Sebagian besar dari keberadaan mereka ada di bawah pemerintahan manusia; mereka masih perlu diperintah oleh manusia. Sebagian lain dari keberadaan mereka ada di bawah pemerintahan diri sendirl, pemerintahan hati nurani. Tetapi hanya sebagian kecil dari keberadaan mereka yang ada di bawah pemerintahan Allah sehingga mereka dikendalikan oleh Allah secara langsung. Ini adalah kondisi yang sangat tidak normal. Karena itu, perlu menanggulangi hati nurani lebih menyeluruh sehingga pada segi negatif, kita dapat diselamatkan dari pemerintahan manusia dan pada segi positif, kita masuk ke dalam pemerintahan Allah untuk berada di bawah pengendalianNya secara langsung.
5. Perasaan Hati Nurani
a. Asal Usul Perasaan Hati Nurani
Sepanjang zaman, kaum saleh yang memiliki penuntutan dalam hayat mengakui bahwa hati nurani adalah jendela roh kita sama seperti mata adalah jendela tubuh kita. Jendela itu sendiri tidak memiliki terang; semua terang ditransmisi dari sumber yang lain. Demikian juga hati nurani. Walaupun kita tidak berani berkata bahwa hati nurani itu sendiri tidak memiliki perasaan sama sekali, kita dapat berkata bahwa sebagian besar dari perasaannya datang dari bagian yang berdekatan dengannya. Seluruhnya ada tujuh bagian yang berdekatan : pikiran, emosi, tekad, intuisi, persekutuan, hayat Allah, dan Roh Allah. Ketujuh bagian yang berdekatan ini memiliki perasaan. Ketika perasaan mereka menembus ke hati nurani, perasaan mereka menjadi perasaan hati nurani. Inilah asal usul perasaan hati nurani.
b. Bermacam-macam Perasaan Hati Nurani
Perasaan hati nurani kawn saleh terdiri dari banyak aspek. Seseorang yang memiliki hati nurani yang peka akan memiliki perasaan hati nurani dalam segala hal. Perasaan-perasaan hati nurani ini dapat dibagi menjadi tiga kategori : Pertama adalah perasaan terhadap dosa. Dalam bab mengenai menanggulangi dosa kita telah mengatakan bahwa dasar menqnggulangi dosa adalah perasaan batiniah. Perasaan batiniah ini adalah perasaan hati nurani. Jika kita berdosa di hadapan Allah atau di hadapan manusia, hati nurani akan dengan segera memiliki perasaan menghakimi. Ini adalah kategori pertama dari perasaan hati nurani.
Kategori kedua adalah perasaan terhadap dunia. Dalam bab mengenai menanggulangi dunia kita telah mengatakan bahwa dasar untuk menanggulangi dunia juga adalah perasaan batiniah. Perasaan batiniah ini tetap adalah perasaan hati nurani. Jika kita mengasihi hal-hal lain atau dipenuhi oleh sesuatu di luar Allah, hati nurani juga akan memberi kita perasaan dihakimi. Inilah kategori kedua dari perasaan hati nurani.
Di samping kedua kategori perasaan hati nurani ini, ada kategori ketiga : yaitu perasaan tidak damai terhadap hal-hal selain dosa dan dunia. Ada hal-hal tertentu yang bukan dosa juga bukan dunia, tetapi hal-hal itu menyebabkan hati nurani kita kehilangan perasaan damai. Jika kita tidak menanggulangi hal-hal itu, kita tidak dapat melewatkannya. Sebagai contoh, keteledoran dan ketidaktepatan di dalam kehidupan kita sehari-hari bukanlah dosa atau dunia, tetapi hati nurani kita terganggu oleh hal-hal itu. Jika seseorang menyerakkan pakaian dan benda-benda lain, meninggalkan ruangan dalam keadaan yang tidak teratur, hati nuraninya akan menegur dia. Jika karakter kita memiliki kekurangan atau keanehan tertentu, jika tingkah laku kita terhadap yang lain tidak sesuai sebagai orang Kristen, atau jika di hadapan Allah kita memiliki sikap tertentu yang tidak diinginkan atau tidak sesuai, walaupun hal itu bukanlah dosa dan tidak duniawi, hati nurani kita akan terganggu. Semua perasaan tidak damai ini termasuk dalam kategori ketiga dari perasaan hati nurani.
Di antara ketiga kategori perasaan hati nurani, dua yang pertama mengenai dosa dan dunia ada di permukaan, sementara yang ketiga itu lebih dalam. Dalam tahap pertama sewaktu menanggulangi hati nurani, kebanyakan perasaan batiniah mengarah kepada dosa dan dunia. Setelah ia menanggulangi semua hal ini, kategori perasaan yang ketiga akan ternyata. Semakin keras dan menyeluruh kita menanggulangi masalah hati nurani, semakin meningkat perasaan kategori ketiga ini. Penekanan kita dalam menanggulangi hati nurani adalah menanggulangi perasaan kategori ketiga ini.
Karena hati nurani seorang Kristen meneakup ketiga kategori perasaan ini, hati nuraninya lebih kaya dan peka daripada orang yang belum percaya. Orang yang belum percaya tidak memiliki perasaan terhadap dunia, juga tidak memiliki perasaan kategori ketiga. Ia hanya memiliki perasaan terhadap dosa, perasaan benar dan salah, baik dan jahat; lagi pula perasaan ini agak tumpul. Boleh dikata bahwa perasaan di dalam hati nurani orang yang belum percaya paling banyak hanya sepertiga dari yang ada di dalam hati nurani orang Kristen. Perasaan di dalam hati nurani orang Kristen itu sangat kaya karena hati orang Kristen adalah hati yang baru, hati yang telah dilunakkan dan diperbaharui oleh Allah; rohnya adalah roh yang baru, roh yang telah dihidupkan dan diperbarui oleh Allah;
pikirannya, emosinya, dan tekadnya juga telah diperbarui; dan dia juga memiliki hayat Allah dan Roh Allah. Semuanya ini limpah dalam perasaan dan dapat mempengaruhi hati nurani orang Kristen itu. Karena itulah perasaan hati nurani orang Kristen memang limpah!
6. Pelanggaran dan Penghakiman Hati Nurani
Tiga kategori perasaan hati nurani adalah akibat dari pelanggaran kita - entah kita melanggar Allah atau berdosa terhadap manusia dalam hasrat, motivasi, perkataan, dan tindakan. Sebab itu, semua perasaan itu dapat dikatakan sebagai perasaan pelanggaran. Semakin peka hati nurani seseorang, semakin orang itu hidup dalam hadirat Allah, semakin mudah baginya untuk memiliki perasaan pelanggaran. Setiap kali ia melanggar baik Allah maupun manusia, segera ada perasaan pelanggaran di dalam hati nuraninya. Karena itu, melalui kuat atau lemahnya perasaan pelanggaran ini, kita dapat mengetahui tingkat kepekaan hati nurani seseorang dan seberapa jauh ia telah diterangi oleh Allah.
Tetapi, ditinjau dari perasaan pelanggaran itu sendiri, hal itu merupakan perusakan yang serius terhadap kondisi rohani kita. Begitu hati nurani seseorang memiliki perasaan pelanggaran, persekutuannya dengan Allah segera terhambat dan akibatnya seluruh kondisi rohaninya menurun. Karena itu, setiap kali seorang Kristen memiliki perasaan pelanggaran dalam hati nuraninya, ia harus segera datang ke hadapan Allah untuk mengakui dosanya menurut perasaan itu dan memohon pembersihan darah adi-Nya. Kadang-kadang juga perlu pergi ke hadapan manusia dan menanggulangi permasalahannya. Demikian, perasaan pelanggaran akan lenyap, dan hati nurani akan bebas dari pelanggaran. Karena itu, menanggulangi hati nurani di satu pihak adalah untuk membuat hati nurani kita menjadi peka dan limpah dalam perasaan; di pihak lain adalah untuk membuat hati nurani kita merasa aman, damai sejahtera, dan terhindar dari pelanggaran. Jadi, hasil menanggulangi hati nurani di satu pihak adalah untuk membawa kita kepada terang Allah sehingga kita semakin diterangi; di pihak lain, di bawah terang yang sedemikian, kita akan lebih membuang hal-hal yang di luar Allah, yang tidak disetujui Allah, dan tidak diterima Allah, sehingga kita dapat mengalami pembasuhan yang semakin dalam.
Sekarang kita singgung tentang penghakiman hati nurani. Penghakiman timbul dari perasaan pelanggaran dalam hati nurani. Ketika hati nurani kita merasa bahwa kita telah melakukan pelanggaran, ia segera menghakimi. Karena itu, keduanya ini sebenarnya adalah satu, sukar untuk dibedakan. Beberapa orang mendefinisikan penghakiman hati nurani sebagai pendakwaan (penuduhan) hati nurani. Ini adalah dua aspek dari satu hal. Sebagai contoh, hakim di dalam pengadilan menghakimi, sementara jaksa mendakwa. Demikian juga, ketika hati nurani kita merasa bahwa kita telah berbuat salah, di satu pihak ia akan mewakili manusia untuk mendakwa kita, dan di pihak lain mewakili Allah untuk menghakimi kita. Perasaan pelanggaran di dalam hati nurani menyebabkan roh kita menjadi tertekan dan tak berdaya dalam hal rohani, karena perasaan pelanggaran membawa serta dakwaan dan penghakiman hati nurani. Karena itu, jika kita ingin diselamatkan dari dakwaan dan penghakiman hati nurani, tidak ada jalan lain kecuali menanggulangi perasaan pelanggaran dengan sebaik-baiknya. Bila perasaan pelanggaran dalam hati nurani kita sudah hilang, dakwaan dan penghakiman hati nurani dengan sendirinya akan hilang.
7. Kepekaan dan Kelemahan Hati Nurani,
Tuduhan dan Serangan Iblis
Kepekaan hati nurani merupakan hasil dari penanggulangan yang serius dan tuntas. Jika tidak ada penanggulangan hati nurani, perasaan hati nurani pasti akan menjadi lambat dan tumpul. Ketika hati nurani melewati penanggulangan yang hebat, perasaannya akan menjadi sensitif, bahkan sangat peka. Karena itu, kepekaan hati nurani adalah fenomena yang baik, membuktikan bahwa hati nurani telah ditanggulangi dengan eukup baik. Jika hati nurani kita belum pernah ditanggulangi sampai menjadi peka, penanggulangan itu belum cukup tuntas.
Ada orang yang menanggulangi hati nuraninya demikian tuntas sehingga mereka merasa terdakwa jika pembicaraan atau tindakan mereka sedikit tidak benar. Mereka peka bukan hanya setelah mereka melakukan kesalahan, bahkan ketika mereka hampir melakukan kesalahan. lebih jauh lagi, tingkat sensitivitas hati nuraninya dapat berkembang sampai tingkat kepekaan yang sedemikian rupa sehingga mereka merasa bersalah atas setiap tindakan dan perkataan mereka; kalaupun mereka tidak melakukan sesuatu atau berbicara, mereka juga merasa bersalah. Pada saat demikian, seluruh keberadaan mereka tampaknya benar-benar membingungkan. Tetapi, ketika seseorang melewati tingkat sensitivitas yang sedemikian dan kemudian keluar dari hal itu, ia mencapai kepekaan hati nurani; ia telah mempelajari pelajaran menanggulangi hati nurani dengan cukup baik; perasaan dalam hati nuraninya akan selalu peka dan normal. Karena itu, kepekaan hati nurani adalah fenomena yang diperlukan.
Tetapi, ketika hati nurani seseorang ditanggulangi sampai menjadi peka, ia mungkin berkembang mencapal tahap terlalu peka dan karenanya menjadi hati nurani yang lemah. Kelemahan yang disebabkan karena terlalu peka ini adalah hasil dari menanggulangi hati nurani terlalu berlebihan. Seorang Kristen yang baru beroleh selamat atau yang tidak menuntut tidak akan memiliki kelemahan hati nurani. Hanya mereka yang dengan serius mencari Tuhan dan menanggulangi hati nurani mereka dengan keras, tetapi masih belum matang dan lemah dalam hayat, yang akan mempunyai kelemahan ini. Orang seperti ini, setelah didapatkan Tuhan, karena menanggulangi hati nurani mereka dengan tuntas, membuang semua kegelapan dan kekeliruannya, maka hati nurani mereka seperti gelas yang bersih dan transparan. Pada saat demikian, hati nurani mereka telah cukup ditanggulangi; tidak perlu penanggulangan yang lebih lanjut. Tetapi karena mereka masih muda dan tidak berpengalaman dalam hal-hal rohani, mereka sering kali menanggulangi secara berlebihan, akibatnya menghasilkan hati nurani yang terlalu peka, yang menyebabkan kelemahan hati nurani. Seperti kulit tubuh kita, pada beberapa tempat kebal dan mati rasa, sementara bagian lain lembut dan peka. Kulit baru yang terbentuk pada suatu luka itu lembut dan sangat peka, akan merasakan sakit meskipun dijamah dengan halus. Kita dapat mengatakan inilah kondisi kulit yang lemah. Demikian juga, jika hati nurani ditanggulangi secara berlebihan sehingga menjadi terlalu peka, ia menghasilkan perasaan pelanggaran dalam segala hal. Dalam banyak perkara, seseorang menghukum dirinya sendiri bahkan sebelum Allah menghukum dia; ia kehilangan kedamaiannya bahkan sebelum Allah menolak semuanya. Penghakiman dan ketidakdamaian semacam ini dapat terus berkelanjutan bahkan setelah ia menanggulangi permasalahannya, menyebabkan penderitaan dan kemalangan yang sebenarnya tidak perlu ada. Kondisi hati nurani yang lemah ini adalah hasil dari terlalu pekanya hati nurani.
Kondisi hati nurani yang lemah memiliki beberapa keadaan sebagai berikut : Setelah seseorang menanggulangi hati nurani menurut perasaan pelanggaran, hati nuraninya tetap merasa dihakimi dan didakwa. Misalnya, Anda telah bersalah terhadap seorang saudara, ketika Anda bersekutu dengan Allah, Anda beroleh terang dan sadar akan kesalahan itu; karenanya Anda mengakui dosa Anda kepada Allah dan kepada saudara tersebut. Setelah Anda menanggulanginya, jika hati nurani Anda kuat dan normal, seharusnya Anda merasa damai masalah itu berlalu. Tetapi, jika masalah itu tetap ada di dalam Anda dan Anda terus merasa tidak damai dan terhukum, itu merupakan tanda hati nurani yang lemah.
Keadaan lain berhubungan dengan dosa-dosa tertentu yang tidak perlu ditanggulangi, tetapi hati nurani tetap menuntut untuk menanggulanginya. Misalnya, dalam hati Anda merasa kesal terhadap seorang saudara dan Anda merasa ini salah. Yang perlu Anda lakukan hanyalah mengakuinya di hadapan Tuhan dan membiarkannya berlalu. Ini merupakan masalah pribadi dalam hati di hadapan Tuhan; tidak ternyatakan dalam kata-kata dan perbuatan sehingga melibatkan pihak lain. Tetapi, jika setelah Anda mengakui masalah ini di hadapan Allah, masalah ini tetap mengganggu Anda sehingga Anda masih merasa perlu untuk pergi ke saudara itu dan meminta maaf, demikian ini sudah keterlaluan. Jika setelah Anda mengaku dosa kepada saudara itu, dalam batin Anda tetap merasa tidak damai dan merasa perlu untuk mengaku dosa kepadanya sekah lagi (karena Anda merasa di satu hal Anda telah berkata terlalu banyak dan di hal lain terlalu sedikit), tetapi Anda takut bahwa kedatangan Anda sekali lagi kepadanya akan membuat ia merasa direpotkan; karena itu hati Anda merasa bingung dan kehilangan semua kedamaian; ini adalah keadaan hati nurani yang lebih lemah lagi.
Keadaan lain lagi adalah hati nurani merasa ada perasaan pelanggaran, namun tidak juga menemukan jalan yang tepat untuk menanggulanginya, atau selalu merasa kurang memadai dalam menanggulanginya. Sebagai contoh, seorang saudara mungkin telah mencuri seribu dolar sepuluh tahun yang lalu. Sekarang, setelah ia beroleh selamat, ia ingin menanggulanginya; namun ia merasa sulit untuk memutuskan jumlah yang harus dikembalikan. Menurut prinsip Perjanjian Lama (Im. 6:5) ia harus menambahkan seperlima dari jumlah asalnya, tetapi ia merasa ini tidak cukup. Karena tidak ada prinsip yang diberikan dalam Perjanjian Baru, ia beralasan bahwa ia harus mengembalikan jumlah itu dengan bunga. Tetapi ada pertanyaan yang muncul mengenai jumlah bunga. Apakah ia harus membayar dengan bunga bank atau bunga institusi lain? Bunga tahunan, bulanan, atau mingguan? Tidak peduli bagaimana ia menghitung, hatinya tetap tidak damai. Ini menunjukkan kelemahan hati nurani yang lain.
Hati nurani yang peka itu halus dan normal, tetapi hati nurani yang lemah, terlalu peka, itu tidak normal. Pertama, membuat orang mengalami banyak sengsara dan penderitaan yang tidak perlu. Kedua, membuat orang merasakan ketidakdamaian secara terus-menerus, yang memberikan dasar bagi Iblis untuk menuduh dan menyerang. Sebab itu, hati nurani yang lemah bukanlah tanda yang baik. Tetapi hati nurani yang lemah adalah hasil yang harus ada dari penanggulangan hati nurani yang tuntas pada awalnya. Satu hati nurani yang peka, yang dihasilkan dari penanggulangan hati nurani secara tuntas, sering bisa berubah menjadi hati nurani yang lemah. Dalam menanggulangi hati nurani, jika kita belum menanggulanginya sampai hati nurani menjadi peka, penanggulangan itu kurang tuntas dan kita belum mempelajari pelajaran ini dengan baik. Namun, ketika hati nurani kita telah ditanggulangi hingga menjadi peka, ia bisa menjadi terlampau peka dan lemah. Karena itu, ketika kita mengikuti Tuhan dan menanggulangi hati nurani kita dengan ketat, kita harus berusaha dengan segala cara untuk menghindari kondisi lemah ini. Ketika hati nurani kita menjadi peka, kita harus melatib. tekad kita untuk menahannya di tempatnya, tidak membiarkannya melewati batas terlalu jauh dan menjadi lemah dan tidak merasa damai. Dengan cara ini kita tidak akan menderita kerugian.
Kita telah mengatakan bahwa hati nurani yang lemah memberikan dasar kepada Iblis untuk menuduh dan menyerang. Apakah tuduhan Iblis? Tuduhan Iblis berbeda dengan dakwaan hati nurani. Dakwaan atau penghakiman hati nurani selalu berdasarkan fakta yang pasti, apakah itu dosa, dunia, atau masalah lain. Dakwaan itu muncul dari kenyataan bahwa kita telah berdosa entah kepada Allah atau manusia. Tetapi tuduhan Iblis tidak demikian. Tuduhan Iblis tidak memiliki dasarnya, melainkan hanya sekadar gerakan tanpa sebab untuk menipu kita, agar hati nurani kita selalu merasa gagal dan kehilangan damai sejahtera. Kadang-kadang Iblis memakai fakta yang sudah lampau untuk menuduh kita. Ia mengingatkan kita kembali akan hal-hal tertentu yang telah kita tanggulangi lalu, dan menyebabkan kita kehilangan damai sejahtera. Karena itu, semua tuduhan Iblis itu palsu. Ia menuduh kita dengan mengambil kesempatan dari hati nurani yang lemah supaya kita jatuh ke dalam penderitaan yang tidak perlu, sehingga kondisi rohani kita kehilangan keseimbangannya, sehingga kita tidak dapat menuntut pertumbuhan hayat, dan karena itu kita menderita kerugian besar.
Ketika seseorang berada di bawah tuduhan Iblis, jika ia tidak mengenali tipu muslihat Iblis, tetapi terus menerima tuduhan yang tak perlu itu, menganggapnya sebagai suara hati nurani, maka hati nuraninya akan menjadi lebih lemah dan tuduhan Iblis akan semakin hebat. Selanjutnya, tuduhan Iblis ini menjadi serangan terhadapnya. Sekah manusia jatuh ke dalam serangan dalam hati nurani semacam ini, rob, jiwa, dan tubuhnya akan sangat menderita. Dalam kasus-kasus yang lebih gawat, ia dapat kehilangan akal sehatnya, menjadi gila, dan bahkan mati.
Di depan kita pernah menyinggung tentang seorang saudara yang tidak menggunakan sapu tangannya saat ia berkeringat sewaktu berkhotbah. Itu dikarenakan ia berlebihan dalam menanggulangi hati nuraninya, sehingga hati nuraninya menjadi lemah dan membuka jalan bagi tuduhan dan serangan Iblis. Ia diserang sampai kepada tingkat yang sedemikian sehingga ia tidak dapat tidur di ranjang, tetapi di lantai; jika tidak, ia tidak damai. Maka, tubuhnya mengalami penderitaan yang sangat besar, dan ia mati pada usia muda.
Ada seorang saudari tua, ketika ia. menanggulangi dunia, juga mengalami serangan Iblis. Bahkan ketika ia memakan makanan yang paling tidak layak pun, Iblis masih mengatakan kepadanya bahwa ia terlalu memperhatikan tubuh dagingnya. Ia tidak mau tidur di ranjangnya, tetapi di atas lantai; jika tidak, ia tidak damai. Tak lama sesudah itu, dia. meninggal. Ini adalah kasus-kasus serius yang mengungkapkan seriusnya serangan Iblis.
Darah Tuhan adalah senjata kita satu-satunya untuk menang terhadap tuduhan dan serangan Iblis. Wahyu 12:10-11 mengatakan kepada kita bahwa Iblis menuduh kita siang dan malam di hadapan Allah, tetapi kita dapat mengalahkannya dengan darah Domba. Satu Yohanes 1:7, 9 mengatakan kepada kita bahwa jika kita mengaku dosa kita, Allah akan mengampuni segala dosa kita, dan darah Tuhan akan membasuh kita dari segala kejahatan. Jika kita telah menanggulangi sesuai dengan perasaan pelanggaran di dalam hati nurani kita di hadapan Tuhan, kita harus bersembunyi di bawah darah melalui iman. Hanya dengan demikian kita dapat menghindar dari semua tuduhan dan serangan Iblis.
8. Kebocoran Hati Nurani
Kebocoran hati nurani juga semacam perasaan pelanggaran dalam hati nurani. Kondisi ini juga sangat merusak keadaan rohani orang Kristen.
Dalam keadaan normal, perasaan hati nurani adalah didasarkan pada terang Roh Kudus, dan terang Roh Kudus didasarkan pada ukuran (tingkatan) hayat kita. Sejauh mana kita telah bertumbuh dalam hayat, sejauh itulah terang Roh Kudus. Sejauh mana terang Roh Kudus didapatkan, sejauh itu pula perasaan hati nurani kita. Jadi, perasaan hati nurani kita adalah sesuai dengan ukuran hayat kita. Apa pun yang Roh Kudus inginkan dari kita melalui hati nurani kita, pasti dapat dipenuhi dengan tepat oleh suplai kekuatan hayat kita. Asal kita bersedia untuk taat, kita akan memiliki kekuatan untuk menanggulangi. Perasaan hati nurani semacam ini tidak akan menyebabkan kebocoran dalam hati nurani.
Tetapi, kadang-kadang keadaannya menjadi tidak normal: hati nurani menghasilkan suatu perasaan yang tidak dapat dipenuhi secara memadai oleh ukuran hayat. Perasaan semacam itu bukan berasal dari terang Roh Kudus. Terang Roh Kudus selalu didasarkan pada pertumbuhan hayat. Karena perasaan semacam itu tidak dapat dipenuhi secara memadai oleh pertumbuhan hayat, maka hal itu pasti berasal dari pengetahuan yang sebelum waktunya (prematur). Ini seperti anak yang berumur 10 tahun yang mengetahui perkara untuk orang yang berumur 20 tahun dan menerima semua persyaratan untuk orang yang berumur 20 tahun, tetapi karena hayatnya tidak memadai, ia tidak memiliki kekuatan untuk memenuhi persyaratan itu. Sama halnya seorang yang memiliki perasaan yang prematur dalam hati nuraninya. Di satu pihak, ia merasa bahwa ia tidak seharusnya melakukan hal-hal tertentu, karena jika ia melakukannya, hati nuraninya akan merasa terhakimi dan tidak damai. Di pihak lain, ia tidak cukup kuat untuk menanggulangi, maka ia masih tetap melakukannya. Ini menyebabkan hati nuraninya memiliki satu perasaan pelanggaran atau bersalah yang tidak dapat diperbaiki. Keadaan ini kita sebut kebocoran hati nurani.
Misalnya, seorang saudara yang baru beroleh selamat memiliki kebiasaan buruk. Karena terang di dalamnya tidak kuat, hati nuraninya tidak menghakiminya. Ia dapat berdoa, menghadiri sidang, dan memiliki persekutuan dengan Tuhan - semua dengan damai sejahtera dan sukacita. Suatu hari, seorang saudara mengatakan kepadanya bahwa kebiasaan buruknya itu tidak disenangi Tuhan dan ia harus menyingkirkannya dengan segera. Ia menjawab, "Ketika aku berdoa, aku tidak merasa bahwa Tuhan tidak
senang." Untuk membuktikan permasalahannya, saudara itu menjelaskan kepadanya semua kebenaran alkitabiah mengenai masalah itu. Akhirnya, orang yang baru bertobat itu diyakinkan dan memaksa dirinya untuk mematuhi kebenaran-kebenaran ini agar ia dapat menyingkirkan kebiasaan buruk itu. Hasilnya adalah kegagalan, karena pertumbuhan hayatnya tidak memadai dan tidak ada suplai yang cukup dari kekuatan hayat. Oleh karena itu ia tetap tinggal di dalam kebiasaan buruknya. Pada saat ini, hati nuraninya akan menghukum dia dengan hebat, sehingga ia merasa dirinya sangat bersalah. Tadinya, dia masih dapat berdoa, mempersembahkan dirinya, dan menghadiri sidang, tetapi sekarang ia berkata kepada dirinya sendiri, "Dapatkah orang seperti aku berdoa, mempersembahkan diri, dan menghadiri sidang-sidang?" Jadi, hati nuraninya mempunyai kebocoran yang sangat besar. Kebocoran itu sangat serius sehingga ia tidak dapat lagi berdoa, bersaksi, dan menghadiri sidang. Akhirnya, seluruh kehidupan kristianinya menderita kerugian besar.
Karena itu, kebocoran hati nurani adalah masalah yang sangat serius dan berbahaya. Satu Timotius 1:19 mengatakan kepada kita bahwa kebocoran di dalam hati nurani kita itu seperti perahu bocor yang dipastikan untuk tenggelam dalam air. Hati nurani orang Kristen akan kandas begitu ia bocor. Sebagaimana iman dan kasih sangat penting untuk orang Kristen itu sendiri, keduanya juga sama pentingnya dalam hubungan kita dengan Allah dan pada tingkat tertentu terhadap orang lain. Hidup yang orang Kristen tempuh di hadapan Allah haruslah hidup iman dan kasih. Tetapi begitu hati nuraninya bocor, iman dan kasih akan bocor habis, lenyap, dan kehidupan rohani kristianinya akan menderita kerugian yang sangat besar. Seperti bola lampu yang retak tidak memiliki terang, demikian juga hati nurani yang bocor menyebabkan roh orang Kristen menjadi kempes dan semua hal rohani di dalamnya akan kering (layu).
Karena masalah kebocoran hati nurani adalah masalah yang sangat serius, maka kita harus berjuang untuk menghindarinya dalam penempuan kita menuntut pertumbuhan hayat. Cara menghindarinya adalah tidak menerima semua perasaan yang datang dari pengetahuan yang prematur, atau tidak merespon semua permintaan/tuntutan yang melebihi suplai hayat kita. Ini berlaku baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Kita tidak seharusnya memberikan pengetahuan yang tinggi kepada orang lain yang menyebabkan perasaan yang prematur, atau menunjukkan masalah di dalam diri orang lain tanpa mempertimbangkan apakah orang itu cukup memiliki kekuatan untuk menanggulanginya. Jika tidak, hati nurani orang lain akan rusak, menyebabkan kebocoran. Kita seharusnya hanya membantu orang secara positif dalam aspek hayat sehingga mereka dapat bertumbuh dalam hayat. Seiring dengan waktu, perasaan hati nurani mereka akan secara spontan meningkat, dan penanggulangan mereka juga akan meningkat.
Jika kita telah memiliki perasaan yang berasal dari pengetahuan yang prematur, kita perlu darah Tuhan untuk menutupi kita. Kita dapat berkata kepada Tuhan, "Tuhan, aku tahu kalau aku perlu menanggulangi masalah ini, tetapi aku tidak dapat mengatasinya; itu tidak sepadan dengan kekuatan hayatku. Mohon Engkau menutupiku dengan darahMu, dan jangan biarkan Iblis menyerang aku." Jika kita bersandar pada darah dengan cara demikian, walaupun kita lemah di satu pihak, kita tetap dapat mempunyai persekutuan dengan Tuhan di plhak lain, dan kehidupan rohani kita tidak akan menderita kerusakan.
Ketika kita demikian bersembunyi di bawah darah, kita masih harus memiliki satu sikap, yaitu menengadah kepada Tuhan untuk suplai anugerah-Nya. Ketika suplai anugerah-Nya tercurah di atas diri kita dan memberikan kita kekuatan yang diperlukan, pada saat itu kita harus menanggulangi masalah yang perlu ditanggulangi itu dengan segera. Suplai anugerah Allah ini di satu pihak mengacu kepada suplai hayat batiniah, dan di pihak lain meliputi pengaturan hngkungan luaran. Sebagai contoh, dalam menanggulangi pelanggaran (hutang) dalam keuangan, di satu pihak kita harus menengadah kepada Tuhan untuk bekerja di dalam kita, membuat kita memiliki perasaan batiniah yang tepat. Di pihak lain, kita juga perlu menengadah kepada Tuhan untuk menyediakan dalam lingkungan itu sejumlah uang yang cukup sehingga kita dapat menanggulangi masalah itu menurut perasaan batiniah. Suplai luaran ini juga semacam suplai ilahi yang membuat kita mampu menanggulangi masalah yang dimaksud.
9. Perasaan Hati Nurani dan Tingkatan Hayat
Di depan, kita telah menyinggung bahwa perasaan hati nurani berhubungan erat dengan hayat. Sekarang, kita akan melihat hubungan ini dengan keadaan kita sebelum dan sesudah beroleh selamat. Sebelum kita beroleh selamat, maut dan kegelapan ada di dalam kita, dan hati nurani kita hanya memiliki sedikit perasaan. Setelah kita beroleh selamat, Roh Allah membawa hayat Allah tinggal di dalam kita, dan roh kita dihidupkan. Pada saat yang sama, bagian-bagian dalam di batin kita diperbarui, fungsi hati nurani dipulihkan, dan perasaan hati nurani dihidupkan. Karena itu, perasaan hati nurani orang Kristen berasal dari hayat rohaninya.
Setelah kita beroleh selamat, perasaan hati nurani bertambah mengikuti pertumbuhan hayat. Sampai sejauh mana hayat kita bertumbuh, sejauh itu pula perasaan hati nurani kita bertambah. Semakin kita meningkat dalam pertumbuhan hayat, semakin kaya dan semakin tajam perasaan hati nurani kita. Karena itu, jika kita menginginkan perasaan yang lebih tajam dan lebih kaya, kita tidak bisa tidak memiliki penuntutan dalam hayat yang lebih lanjut. Jika hayat kita berlimpah, perasaan hati nurani kita akan diperkuat. Di samping itu, jika kita menanggulangi semua masalah menurut perasaan hati nurani, maka pertumbuhan hayat akan meningkat. Pertumbuhan hayat mempengaruhi perasaan hati nurani, dan perasaan hati nurani membantu pertumbuhan hayat. Keduanya ini dalam hubungan sebab akibat membuat kita, maju ke depan dalam. jalan hayat.
10. Perasaan Hati Nurani dan Penerangan Roh Kudus
Perasaan hati nurani juga berhubungan dengan penerangan Roh Kudus. Perasaan ini memang berasal dari hayat rohani dan berdasarkan tingkatan hayat, namun juga. melewati Roh Kudus dan melalui Roh Kudus. Kita tidak pernah bisa memisahkan hayat dan Roh Kudus, karena hayat Allah di dalam Roh Allah; karena itu, kita tidak dapat memisahkan tingkatan hayat dari penerangan Roh Kudus. Semakin banyak Roh Kudus menerangi di dalam kita, semakin tinggi tingkatan hayat kita; semakin tinggi tingkatan hayat yang kita miliki, semakin kuat terang Roh Kudus. Keduanya ini juga bertindak timbal balik sebagai hubungan sebab akibat dan saling mempengaruhi satu sama lain dan selalu ada dalam proporsi yang sama.
Karena perasaan hati nurani didasarkan pada tingkatan hayat, dan tingkatan hayat tidak dapat dipisahkan dari penerangan Roh Kudus, maka perasaan hati nurani secara alamiah dipengaruhi oleh penerangan Roh Kudus. Ketika hayat di dalam kita bertambah, terang Roh Kudus akan semakin besar dan perasaan hati nurani akan semakin kuat. Sama halnya seorang guru yang memberikan tugas berdasarkan tingkatan murid-muridnya. Biasanya, tingkatan seorang murid itu menurut usianya, yang akhirnya mempengaruhi pengajaran guru itu. Roh Kudus di dalam kita adalah guru kita yang terbaik. Tingkatan hayat yang kita miliki ialah usia rohani kita. Apa pun perasaan yang kita rasakan dalam hati nurani kita adalah pelajaran yang Roh Kudus terangi di dalam kita. Perasaan hati nurani berbeda di dalam masing-masing orang karena kita semua memiliki tingkatan hayat yang berbeda-beda. Jadi, terang Roh Kudus di dalam. setiap orang juga berbeda-beda.
Sebaliknya, perasaan hati nurani juga dapat menguatkan terang Roh Kudus. Jika kita menanggulangi satu masalah menurut perasaan hati nurani, Roh Kudus dengan sendirinya akan mendapatkan lebih banyak dasar dan memberi kita terang lebih banyak; karena itu, penerangan Roh Kudus dan perasaan hati nurani saling mempengaruhi satu sama lain baik sebagai sebab maupun akibat.
11. Perasaan Hati Nurani dan Pengetahuan Rohani
Dasar kuat lainnya untuk perasaan hati nurani adalah pengetahuan rohani. Pengetahuan rohani di sini bukan mengacu kepada pengertian dan pemahaman mental mengenai kebenaran-kebenaran Alkitab atau hal-hal rohani, tetapi mengacu kepada pengenalan dan pemahaman terhadap Allah dan hal-hal mengenai Allah melalui wahyu dan terang Roh Kudus. Pengetahuan semacam ini adalah milik hayat dan juga di dalam Roh Kudus. Jika suatu pengetahuan tidak berasal dari hayat atau bukan dari Roh Kudus, itu bukanlah pengetahuan rohani. Pengetahuan rohani yang sesungguhnya harus berasal dari hayat dan Roh Kudus. kepada kita.
Karena pengetahuan itu berasal dari hayat, maka sejauh mana pencapaian tingkatan hayat kita, sejauh itulah pencapaian pengetahuan rohani kita. Jika suatu pengetahuan tertentu mendahului pertumbuhan hayat kita, pengetahuan itu pasti milik otak, prematur, bukan pengetahuan rohani yang sejati, juga tidak dapat memberikan kepada kita suplai hayat dan tidak berfaedah bagi kita. Tetapi, jika pertumbuhan hayat kita meningkat secara memadai dan dari pertumbuhan ini dihasilkan suatu pengetahuan, inilah pengetahuan rohani yang tepat dan normal. Ini dapat menyuplai kita dengan hayat dan berfaedah bagi kita. kondisi lain, yaitu ia tidak hanya memahami masalah itu
Mengapa pengetahuan rohani seimbang dengan tingkatan hayat? Karena pengetahuan rohani yang sejati berasal dari penerangan Roh Kudus, dan penerangan ini seimbang dengan pertumbuhan hayat. Jika tidak ada terang selama kita mendengarkan berita-berita, membaca Alkitab, membaca buku-buku, dan mendengarkan kesaksian orang lain, kita hanya menumpuk banyak pengetahuan, tetapi ini bukanlah pengetahuan rohani yang sejati. Dari sini kita dapat melihat hubungan yang mutlak dari pengetahuan "Tuhan, ampuni aku, dan selamatkan aku dari gaun yang
rohani yang sejati, pertumbuhan hayat, dan penerangan Roh Kudus.
Jika demikian, apakah pengetahuan rohani yang sejati yang dihasilkan dari penerangan Roh Kudus? Pertama, ini adalah perasaan yang berasal dari dalam roh kita, bagian terdalam dari diri kita, di mana kita merasakan dari wahyu batiniah apa yang perlu ditanggulangi. Kedua, perasaan ini membawa penyataan diri Allah, menyebabkan kita merasakan bahwa Allah dalam kehadiran-Nya berbicara kepada kita.
Misalnya, seorang saudari bersaksi bahwa selama berdoa ia diterangi Tuhan untuk tidak lagi memakai gaun-gaun yang modis. Saudari yang lain yang mendengar kesaksiannya, berkata dalam hatinya, "Jika ia tidak dapat mengenakan gaun bergaya demikian, bagaimana aku dapat mengenakan gaunku, yang lebih modis daripada dia?" Ingatlah bahwa konsepsi saudari kedua ini mengenai gaun modis adalah sekadar hasil dari pengetahuan otak dengan rangsangan emosi; bukan pengetahuan rohani hasil dari penerangan Roh Kudus. Tetapi ia mungkin juga memiliki kondisi lain, yaitu ia tidak hanya memahami masalah itu dengan otaknya, tetapi terjamah di dalam oleh kesaksian itu. Ia merasakan telunjuk Tuhan menuding gaunnya yang modis itu dan memberinya perasaan bahwa ia tidak dapat memakai gaun itu lagi. Inilah penerangan Roh Kudus yang bersinar di atas dirinya. Dalam situasi sebelumnya, ia hanya dapat menganggukkan kepala dan setuju, tetapi ia tidak dapat berlutut dan berdoa. Dalam situasi kemudian, bahkan sebelum ia sampai ke rumah, ia telah berdoa, "Tuhan, ampuni aku, dan selamatkan aku dari gaun yang modis ini." Dalam hal ini, Allah melalui kesaksian itu bukan hanya menggerakkan dirinya, tetapi juga berbicara dan menyatakan diri-Nya kepadanya. Karena itu, ia tahu dengan pasti bahwa ia tidak dapat lagi mengenakan gaunnya yang modis. Inilah pengetahuan rohani yang sejati, pengetahuan yang berasal dari penerangan Roh Kudus.
Setiap kali Allah memberi kita pengetahuan rohani, Ia ingin kita mendapatkan terang yang memancar dari wajahNya dan merasakan wahyu Roh Kudus. Terang dan wahyu ini menegur kita dalam hal-hal tertentu, membuat kita merendahkan diri kita di hadapan Allah, menyebabkan kita mencari pengampunan dan keselamatan-Nya, juga suplaian-Nya dan kekuatan hayat untuk menanggulangi apa pun yang telah ditegur.
Misalnya, terhadap pemberitaan firman yang disampaikan dalam gereja. Karena tingkatan pertumbuhan hayat yang berbeda-beda di antara saudara dan saudari, maka penerangan Roh Kudus juga berbeda-beda. Karena itu, pengetahuan rohani yang didapatkan oleh masing-masing orang juga berbeda. Tingkatan hayat yang lebih tinggi memberikan lebih banyak dasar kepada, Roh Kudus untuk menerangi. Akibatnya, pengetahuan rohani yang didapatkan juga lebih besar dan lebih dalam. Terhadap mereka yang tingkatan rohaninya lebih rendah, terang wahyu Roh Kudus itu lebih dangkal, walaupun mereka menghadiri sidang yang sama dan mendengar berita yang sama; hasilnya, pengetahuan rohani yang mereka terima juga lebih sedikit dan dangkal. Oleh karena itu, ketiga hal ini - pengetahuan rohani, tingkatan hayat, dan penerangan Roh Kudus - saling berkaitan dan berbaur bersama.
Pengetahuan rohani yang sejati berasal dari pertumbuhan hayat kita dan penerangan Roh Kudus. Pengetahuan ini tidak hanya mencakup pemahaman pikiran, tetapi lebih lagi, adalah perasaan dalam roh. Setelah perasaan dalam roh ini menembus hati nurani kita, dan kita merasakannya, perasaan dalam roh ini menjadilah perasaan dalam hati nurani. Karena itu, pengetahuan rohani adalah satu dasar yang paling hebat dari perasaan hati nurani. Boleh dikatakan, tanpa pengetahuan rohani, tidak ada perasaan hati nurani. Hampir semua perasaan normal dalam hati nurani berasal dari pengetahuan rohani yang sejati.
12. Perasaan Hati Nurani dan Suplai Anugerah
Karena perasaan hati nurani yang normal berasal dari hayat, Roh Kudus, dan pengetahuan rohani, ia pasti membawa suplai anugerah (kasih karunia) besertanya. Inilah ciri khas Perjanjian Baru yang mulia. Hukum Perjanjian Lama yang diberikan kepada manusia hanya berisi permintaan, tanpa suplai. Hukum Perjanjian Baru diberikan kepada manusia tidak hanya berisi tuntutan, tetapi juga suplai. Tuntutan hukum hayat dipenuhi oleh dirinya sendiri sebagai suplai. Karena itu, setiap kali hati nurani kita mewahyukan tuntutan hukum hayat, memberi kita perasaan normal untuk menanggulangi masalah tertentu, yang kita perlukan hanyalah menundukkan kepala, menyembah, dan mengenal bahwa perasaan tuntutan Allah ini adalah pengumuman pendahuluan dari suplai anugerah.
Walaupun tuntutan perasaan hati nurani membawa suplai anugerah besertanya, tetapi jika kita ingin merealisasikan suplai ini, kita harus memenuhi satu persyaratan : kita harus menjawab tuntutan ini dalam iman. Suplai anugerah Allah selalu tergantung kepada kepercayaan dan ketaatan kita. Jika kita percaya dan taat, suplai anugerah Allah mengikuti. Jika tidak, suplai tidak akan ada. Allah selalu ingin kita pertama-tama taat oleh iman dalam menjawab semua tuntutan-Nya. Kemudian Ia akan menyuplai kita dengan anugerah-Nya. Karena itu, jawaban kita terhadap tuntutan Allah adalah penerapan kita untuk anugerah Allah.
Misalnya, kita meminta seseorang untuk mengirimkan telegram. Menurut prinsip bisnis dunia, pertama kita memberinya sejumlah uang (biaya), kemudian menyuruhnya melaksanakan. Tetapi menurut prinsip rohani, mula-mula ia harus taat dan melaksanakan sesuai perintah, kemudian uang akan mengikutinya. Jika seseorang takut melaksanakan karena tidak ada uang, maka uangnya pasti tidak akan tersedia. Tetapi jika ada orang mau melaksanakan dalam iman, saat ia harus membayar, uang itu pasti datang. Banyak fakta sejarah dalam Alkitab menyatakan prinsip ini. Ketika Allah membawa bani Israel melalui Sungai Yordan, air sungai tidak terbelah sebelum mereka menginjakkan kaki ke dalam sungai. Ketika kaki mereka masuk ke dalam air dengan iman, pada saat itu air sungai terbelah. Suplai anugerah selalu didapatkan oleh iman dan dialami dalam iman. Karena itu, setiap orang yang belajar menanggulangi hati nurani, perlu belajar menerima suplai anugerah Allah dalam iman. Setiap kali perasaan hati nurani menuntut, kita harus menyadari bahwa inilah suplai Allah untuk kita. Jika kita menjawab tuntutan ini dalam iman, suplai Allah pasti akan datang. Kewajiban kita adalah menjawab; kewajiban Allah adalah menyuplai.
Kita harus mengucap syukur kepada Tuhan bahwa bahkan kepercayaan dan ketaatan kita juga pemberian Allah; itu tidak memerlukan perjuangan dan pergumulan kita. Secara normal, ketika perasaan hati nurani seimbang dengan tingkatan hayat, secara spontan kita memiliki iman dan taat. Jika satu perasaan hati nurani melampaui kepercayaan kita terhadap suplai anugerah Allah dan kemampuan kita untuk menaati, itu adalah perasaan yang prematur dan membuktikan bahwa tingkatan hayat kita belum mencapai tahap ini. Dalam kasus ini kita harus bersembunyi di bawah darah dan menunggu hayat kita sampai tingkat itu. Kemudian, secara spontan kita akan memiliki iman yang cukup untuk menerapkan anugerah Allah dan menaati perasaan hati nurani.
Kesimpulannya, untuk memenuhi tuntutan perasaan hati nurani, kita sungguh memerlukan suplai anugerah Allah. Suplai ini kita terima berdasarkan iman. Ketika kita memenuhi tuntutan yang ada dalam perasaan hati nurani kita dalam iman, dengan segera anugerah Allah datang untuk menyuplai kita. Di satu pihak, ia memberi kita kekuatan untuk menanggulangi dan memperoleh pembasuhan; di lain pihak, suplai hayat anugerah ini tersusun ke dalam kita, menghasilkan pertumbuhan hayat.
II. PELAKSANAAN MENANGGULANGI
HATI NURANI
Kedua belas butir di atas menyinggung tentang aspek pengenalan menanggulangi hati nurani; sekarang kita bahas aspek pelaksanaan menanggulangi hati nurani.
1. Dasar Alkitab
1. Satu Timotius 1:19, "Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka." Hati nurani yang murni yang disebutkan oleh rasul berarti hati nurani yang menanggulangi semua pelanggaran untuk mempertahankan kondisi yang tak bersalah. Jilia seseorang mengizinkan beberapa pelanggaran berada dalam hati nuraninya, imannya akan kandas, dan lambat laun kekayaan rohaninya akan bocor; dirinya sendiri juga akan jatuh dari hadapan Tuhan.
2. Satu Timotius 1:5, ". . . kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas." Untuk memiliki kasih yang diperlukan dalam kehidupan orang Kristen, kita perlu untuk memiliki hati nurani yang murni, karena kasih ini keluar dari hati nurani yang murni.
3. Kisah Para Rasul 24:16,"Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia."
4. Kisah Para Rasul 23:1, " . . sampai hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah."
Rasul dua kah bersaksi mengenai hati nuraninya yang tanpa pelanggaran. Ini mewahyukan satu alasan mengapa ia memiliki kekuatan dan keberanian yang sedemikian dalam pekerjaan Tuhan; yaitu, ia secara terus-menerus menanggulangi hati nuraninya, menjaganya dari perasaan tertuduh.
2. Sasaran Penanggulangan Hati Nurani
Sebenarnya, bukan hati nurani itu sendiri, melainkan perasaan hati nurani yang merupakan sasaran penanggulangan kita. Selain perasaan yang prematur, perasaan yang terlalu peka, dan perasaan dari tuduhan serta serangan Iblis, semua perasaan hati nurani yang normal adalah sasaran penanggulangan hati nurani kita.
Efesus 4:19 memberi tahu kita bahwa perasaan orang dosa telah tumpul. Dalam bahasa aslinya "telah kehilangan semua perasaan". Perasaan yang ditekankan di sini adalah perasaan hati nurani. Sebelum seseorang beroleh selamat, ia tenggelam dalam dosa; hidup dan tingkah lakunya tidak mempedulikan perasaan hati nuraninya, membunuh perasaan hati nuraninya, mengesampingkan perasaan hati nuraninya, bertindak dengan mengabaikan hati nurani. Karena itu, di tengah-tengah orang kafir, seseorang yang bermoral mungkin menghormati perasaan dalam hati nuraninya, tetapi orang yang jahat tidak memperhatikan atau bahkan tidak memiliki perasaan hati nurani. Sama halnya dengan orang yang beroleh selamat. Semakin rohani orang itu, perasaan hati nuraninya semakin peka. Di pihak lain, jika ia jarang berdoa dan jarang bersekutu dengan Tuhan, perasaan hati nuraninya tidak akan peka.
Dalam konteks Efesus 4, rasul mengatakan bagaimana kita menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, dan untuk hidup menurut anugerah yang olehnya kita dipanggil. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa kehidupan rohani yang normal dari orang Kristen sangat berhubungan dengan perasaan hati nurani. Di masa lampau, di dalam manusia lama, kita mengesampingkan perasaan hati nurani; sekarang, klta telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, kita harus hidup dengan memberikan perhatian penuh kepada perasaan hati nurani dan mempunyai penanggulangan menurut perasaanperasaan ini. Jadi, sasaran dari penanggulangan hati nurani adalah menanggulangi perasaan hati nurani.
3. Dasar Penanggulangan Hati Nurani
Dasar penanggulangan hati nurani juga adalah perasaan hati nurani. Semua perasaan normal dalam hati nurani kita, jika sepadan dengan tingkatan hayat dan berasal dari penerangan Roh Kudus, adalah dasar penanggulangan hati nurani.
Sebelumnya kita telah menyebutkan bahwa ada tiga kategori perasaan hati nurani - yaitu, perasaan terhadap dosa, perasaan terhadap dunia, dan semua perasaan tidak damai yang lain. Menanggulangi dosa adalah menanggulangi perasaan yang ada dalam hati nurani kita terhadap dosa; menanggulangi dunia adalah menanggulangi perasaan hati nurani kita terhadap dunia; dan menanggulangi hati nurani adalah ditekankan pada menanggulangi hal-hal selain dari dosa dan dunia, kita harus menanggulangi perasaan tidak damai dalam hati nurani kita. Menurut sasaran penanggulangan, ketiga kategori ini berbeda. Tetapi ditinjau dari dasarnya, semuanya adalah perasaan hati nurani.
Mengapa dalam bab sebelumnya kita membahas masalah menanggulangi dosa dan menanggulangi dunia tidak berdasar pada perasaan hati nurani, melainkan berdasar pada perasaan hayat di dalam? Karena perasaan hati nurani itu sebenarnya adalah perasaan hayat di dalam. Walaupun perasaan hayat ini berasal dari hayat Allah dan Roh Kudus, namun melalui hati nuranilah kita merasakannya. Sebab itu, walaupun ini adalah perasaan hayat, ini juga adalah perasaan hati nurani.
4. Batas Penanggulangan Hati Nurani
Batas penanggulangan hati nurani juga sama dengan batas penanggulangan dosa dan dunia, yaltu "hayat dan damai sejahtera". Kita harus menanggulangi sampai sedemikian rupa sehingga kita tidak hanya merasakan "damai sejahtera" di dalam, tetapi juga merasakan "hayat." Ini berarti, tidak hanya merasakan nyaman dan mantap, aman, tetapi juga merasa dikuatkan, diterangi, dan dipuaskan. Jika tidak, berarti penanggulangan kita kurang tuntas.
Akan tetapi, dalam pengalaman, perasaan "hayat dan damai sejahtera" semacam ini tidak selalu dapat dipertahankan tanpa perubahan. Sebaliknya, setelah beberapa waktu, kita mungkin merasa kosong kembah dan bingung, tidak tenteram, dan tidak mantap, sepertinya perasaan hayat dan damai sejahtera itu kembali hilang. Ada dua penyebab untuk keadaan ini. Pertama adalah keteledoran dan kegagalan kita, yang menyebabkan kita menjadi tercemar lagi dan dikuasai oleh hal-hal yang tidak diperkenan Allah. Kedua adalah karena begitu kita menaati perasaan hayat, kita mendapatkan suplai hayat, maka hayat kita bertumbuh, sorotan terang Roh Kudus bertambah, dan permintaan hayat Allah yang di dalam kita juga makin tinggi. Kedua keadaan ini dapat menyebabkan kita tidak merasakan hayat maupun damai sejahtera.
Mula-mula, perasaan semacam ini adalah perasaan yang membuat kita samar-samar merasa kekurangan hayat, membuat kita tidak lagi merasa "hidup". Setiap kali kita merasa kekurangan hayat, kita harus tahu bahwa Allah memiliki pelajaran lebih lanjut di dalam batin kita untuk kita pelajari, ada perkara lagi yang harus kita tanggulangi. Pada saat ini, jika kita masuk lebih dalam ke hadapanNya, menengadah kepada sorotan terang wajah-Nya, Allah akan maju selangkah lagi dan menunjukkan kepada kita perkara apa yang perlu ditanggulangi. Ketika terang atas perkara itu menjadi jelas, perasaan kita yang samar-samar mengenai kekurangan hayat menjadilah perasaan yang pasti yang merasa tidak damai. Perasaan tidak damai ini adalah perasaan hati nurani. Saat ini, kita harus menanggulangi sesuai dengan perasaan ini sampai kita kembali memulihkan keadaan hayst dan damai sejahtera dalam batin. Siklus penanggulangan yang berulang demikian akan membersihkan kita sekali demi sekali dan membawa kita maju dalam jalan hayat.
5. Standar Penanggulangan Hati Nurani
Dalam menanggulangi hati nurani, di aspek positif, kita perlu menanggulangi hingga kita memiliki hayat dan damai sejahtera, tetapi di aspek negatif, kita juga perlu memperhatikan standar penanggulangan. Secara unium, perasaan kekurangan hayat dan damai sejahtera di dalam harus ditanggulangi sampai kita mendapatlian hayat dan damai sejahtera, tetapi ini tidak berarti bahwa semua perasaan kekurangan hayat dan damai sejahtera membutuhkan penanggulangan. Kita hanya perlu bertanya kepada diri sendiri apakah perasaan ini sesuai dengan standar penanggulangan. Jika sesuai, kita harus menanggulanginya, jika tidak, tidak perlu menanggulanginya. Karena itu, standar penanggulangan adalah tolok ukur yang penting ketika kita melaksanakan penanggulangan.
Ketika seorang Kristen terjamah oleh kasih Tuhan dan memutuskan untuk mengikuti Tuhan, ia rela untuk ditanggulangi secara tuntas oleh Tuhan, bahkan tidak memperhatikan mukanya, tidak takut membayar harga apa pun. Namun pada saat ini, Iblis sering datang untuk mencuri kesempatan, dengan memberinya banyak perasaan palsu agar ia menanggulangi secara berlebihan; membuatnya tertipu dan karenanya menderita kerugian rohani. Karena itu, di sini kita perlu mengenal standar penanggulangan dan mengukur semua perasaan kekurangan hayat dan damai sejahtera itu dengan cermat; yang harus ditanggulangi, tanggulangilah, yang tidak perlu ditanggulangi, abaikan. Demikian, kita akan terhindar dari banyak kesalahan dan bahaya. Jadi, boleh dikatakan bahwa standar penanggulangan merupakan satu perlindungan, satu penangkal ketika kita melaksanakan penanggulangan.
Kita pernah mengatakan bahwa standar penanggulangan dosa adalah kebenaran. Asal ada yang tidak benar, harus segera ditanggulangi; jika tidak ada yang tidak benar, tidak perlu ditanggulangi. Sedangkan standard menanggulangi dunia adalah masalah keberadaan untuk hidup dan masalah diperbudak atau diduduki. Semua yang berlebihan untuk keberadaan kita atau semua yang menduduki kita harus ditanggulangi; selain itu, tidak perlu ditanggulangi. Lalu, apa standar penanggulangan hati nurani? Standar penanggulangan hati nurani adalah memiliki arti (makna). Menanggulangi hati nurani berstandarkan memiliki arti. Maksudnya, ketika hati nurani kita merasa tidak damai terhadap sesuatu hal dan menghendaki kita menanggulanginya, kita masih harus bertanya : Apakah ketidakdamaian ini memiliki arti atau tidak? Kalau menanggulangi menurut perasaan tidak damai ini, dapatkah membina diri sendiri? Dapatkah membantu orang lain? Dapatkah Allah dimuliakan?" Jika memiliki arti, kita harus menerimanya dan menanggulanginya; jika tidak, kita harus menolaknya dan tidak perlu menanggulanginya.
Misalnya, seorang saudara, setelah membaca sebuah buku lalu melemparkannya dengan sembarangan. Segera dalam batinnya merasa tidak damai, sepertinya hati nurani menegurnya : bolehkah kamu demikian sembarangan bertindak, tidakkah kamu harus dengan baik-baik menaruhnya. Kemudian saudara ini berbalik, mengambil dan meletakkan buku itu dengan baik-baik; demikian dalam batinnya terasa ada damai. Perasaan tidak damai ini jelas sekali memiliki arti, mengajar dia agar tidak menjadi orang yang sembarangan. Akan tetapi, jika saudara ini terus menanggulangi hati nurani, sedemikian rupa sehingga merasa tidak damai jika duduk di kursi, namun merasa damai jika duduk di lantal; merasa tidak damai jika membawa Alkitab di tangan, namun merasa damai jika memikul Alkitab di bahu; maka perasaan tidak damai semacam ini sama sekali tidak memiliki arti. Semakin ia menanggulangi perasaan-perasaan yang tidak berarti ini, perasaan-perasaan semacam ini akan bertambah banyak. Akibatnya, ini akan mengundang serangan Iblis, mendatangkan banyak penderitaan yang tidak perlu.
Di satu pihak, kita harus menanggulangi hati nurani dengan tegas menurut tuntutan hayat dan damai sejahtera di dalam. Di pihak lain, kita juga harus memegang standar memiliki arti ini. Demikian, kita akan memiliki keseimbangan dan mendatangkan faedah. Di satu pihak menyebabkan kita memiliki pertumbuhan hayat, di pihak lain tidak memberi kesempatan kepada musuh untuk menyerang.
Kata-kata Akhir
Dalam tahap kedua kehidupan rohani ini, secara berurutan kita telah membahas tiga pelajaran penanggulangan : menanggulangi dosa, menanggulangi dunia, dan menanggulangi hati nurani. Dalam pengalaman tahap permulaan penuntutan orang Kristen terhadap Tuhan, semua perkara yang harus ditanggulangi boleh dikata sudah tercakup dalam ketiga pelajaran ini. Setelah seorang Kristen menanggulangi dosa, pembenaran yang ia terima dari Allah akan diperhidupkan melalui dirinya dan juga diekspresikan di hadapan manusia. Setelah ia menanggulangi dunia, ia mengalami pengudusan dalam Kristus, terpisah dari dunia, dan benar-benar menjadi milik Allah. Akhirnya, setelah ia menanggulangi hati nurani, perasaan dalam batinnya menjadi peka dan kaya, dan fungsi rohnya menjadi kuat dan nyata. Pada saat ini, semua yang ada di luar dirinya yang tidak berkenan kepada Allah atau tidak sesuai dengan Allah telah terhapus bersih, dan hayat di dalamnya dinyatakan. Demikian ia mulai berpaling dari luar ke dalam, belajar mengikuti Tuhan secara batiniah menempuh jalan hayat.
Sesungguhnya, setelah seorang Kristen bangun untuk menuntut Tuhan dan mempersembahkan diri kepada Tuhan, ada sejangka waktu yang panjang di mana penekanan pekerjaan Tuhan atas dirinya tercakup dalam ketiga macam penanggulangan ini. Semakin ia menerima penanggulangan ini, semakin diberkati keadaan rohaninya di hadapan Allah, dan semakin cepat ia bertumbuh dalam hayat. Karena itu, jika kita ingin mengetahui keadaan kita di hadapan Tuhan, atau keadaan pertumbuhan rohani kita, kita tidak bisa tidak memeriksa dan bertanya bagaimana pengalaman kita ditanggulangi oleh Tuhan dalam aspek-aspek ini. Banyak saudara saudari yang pertumbuhan hayatnya sangat lambat. Setiap hari mereka menyatakan dirinya tidak mampu, setiap hari meminta belas kasihan Tuhan, tetapi setelah tiga tahun, lima tahun, tingkatan hayat mereka masih saja berhenti di tempat semula. Juga ada banyak saudara saudari yang keadaannya mati dan tanpa perasaan di hadapan Tuhan; atas diri mereka tidak terlihat operasi atau pekerjaan Roh Kudus, juga tidak terlihat mereka memiliki aktivitas di dalam Roh Kudus. Penyebab utama kesemuanya ini adalah mereka belum mempelajari pelajaran penanggulangan ini dengan baik.
Kita sering berkata perlu taat. Namun, coba tanya, ada berapa banyak ketaatan kita di depan Tuhan yang bukan penanggulangan? Selain penanggulangan, apa lagi yang membutuhkan ketaatan kita? Jika penanggulangan tidak serius, bagaimana ketaatan bisa serius? Meskipun kita tidak berani mengatakan bahwa seratus persen dari semua ketaatan adalah perkara penanggulangan, tetapi kita dapat mengatakan bahwa di dalam seratus tuntutan mengenai ketaatan, sembilan puluhnya berada dalam kategori penanggulangan. Maka, sebagian besar ketaatan orang Kristen adalah perkara penanggulangan.
Kesulitan kita hari ini adalah kita tidak taat dalam hal penanggulangan. Bukan kita sama sekali tidak menanggulangi, tetapi kita tidak menanggulangi dengan tuntas, tidak menanggulangi dengan serius; entah kita menanggulangi asal saja atau kita menunda-nunda penanggulangan itu. Semua keadaan ini membuat bobot ketaatan kita menjadi eangat kurang, dan kita bertindak berlawanan dengan hukum hayat, berlawanan dengan pengajaran pengurapan minyak, dan melanggar Allah. Akibatnya, hati nurani kita menjadi tumpul dan tidak peka; roh kita menjadi kempes dan tenggelam. Walaupun kita mendengarkan berita khotbah, membaca buku-buku rohani dan Alkitab, kita menerima sedikit sekah terang. Kita tidak berbuah dalam pekerjaan kita, dan seluruh kondisi kerohanian kita layu dan lemah.
Tidak hanya secara individu demikian, bahkan seluruh sidang juga demikian. Hari ini banyak sidang gereja yang keadaannya lemah, miskin, dan tenggelam. Ini dikarenakan setiap orang sangat kurang dalam penanggulangan. Jika setiap orang dalam kehidupan sehari-hari menanggulangi dengan tegas dan tuntas, keadaan sidang mereka pasti sangat berubah dan sangat hidup.
Kita sering meminta Tuhan untuk bekerja, juga berkata kepada Tuhan bahwa kalau Tuhan tidak bekerja, kita tidak berdaya. Akan tetapi masalahnya bukan Dia tidak bekerja, melainkan kita tidak mengizinkan Dia bekerja. Pekerjaan Tuhan adalah memberi perasaan batiniah kepada kita. Jika kita mengizinkan Tuhan bekerja, otomatis kita akan memiliki penanggulangan menurut perasaan batiniah ini. Boleh dikata bahwa setiap langkah dari pekerjaan Tuhan adalah menjamah kesulitan kita dan menuntut kita untuk menanggulanginya. Begitu Tuhan bekerja, kita harus segera menanggulangi. Jadi, mengizinkan Tuhan bekerja adalah mengizinkan Dia menanggulangi kita. Jika kita menanggulangi setiap perasaan dengan tuntas, Tuhan akan dapat bekerja di dalam kita sekali demi sekali; demikian, seluruh diri kita menjadi hidup. Kita akan menjadi seperti dinamit dalam pekerjaan Tuhan, meledakkan pekerjaan Tuhan keluar dari dalam diri kita.
Kita harus menengadah kepada Tuhan untuk memimpin kita mengalami pelajaran-pelajaran ini. Semakin kita mengabaikan penanggulangan, perasaan batiniah akan menjadi semakin tak acuh bahwa diri kita tertinggal dalam kegelapan. Namun semakin kita mau menanggulangi, perasaan batiniah kita akan semakin mendorong kita untuk menanggulangi secara tuntas, sampai kita menanggulangi semua perasaan kita di hadapan Tuhan. Tetapi, sekahpun sampai pada butir ini, kita tidak dapat mengatakan bahwa kita telah lulus dari penanggulangan. Penanggulangan orang Kristen tidak pernah lulus, tidak pernah tamat. Setiap hari kita masih harus hidup dalam penanggulangan. Setiap kah kita menemukan kesalahan atau hal-hal yang belum ditanggulangi di masa lampau, kita harus segera menanggulanginya. Dengan demikian kita akan dapat maju semakin jauh di dalam Tuhan.