MENANGGULANGI DUNIA
Menanggulangi dunia sangat penting dalam pengalaman awal kehidupan kristiani kita; karena itu, kita harus mempelajarinya dengan seksama. Pertama, berdasarkan terang Alkitab, kita harus membahas perbedaan antara dosa dan dunia, bagaimana dunia terbentuk, definisinya, dan proses perkembangannya, bagaimana Allah menyelamatkan kita dari dunia. Pengenalan yang tepat terhadap kebenaran-kebenaran ini akan membuat kita dapat memiliki pengalaman yang tepat dalam menanggulangi dunia.
I. MENGENAL DUNIA
A. Perbedaan antara Dosa dan Dunia
Segera setelah kita mempersembahkan diri, hal pertama yang harus ditanggulangi adalah dosa, setelah itu dunia. Karena keduanya mencemari hidup kita dan dibenci oleh Allah, maka dosa dan dunia perlu ditanggulangi dan dibersihkan. Tetapi, pencemaran yang ditimbulkan oleh kedua hal ini berbeda. Pencemaran dosa itu liar, kasar, dan jelek, sedangkan pencemaran dunia itu berbudaya dan halus, sering dianggap baik oleh orang. Pencemaran dosa itu cipratan lumpur atau tinta hitam pada baju putih. Tetapi pencemaran dunia ibarat motif gambar berwarna-warni yang tercetak pada baju putih. Dalam pandangan manusia, baju dengan noda-noda hitam itu kotor dan jelek, sedangkan baju dengan cetakan yang berwarna-warni tidak kotor, malah agak menarik. Tetapi dalam pandangan Allah, keduanya jelek. Ia tidak mengingini baju yang ternoda maupun yang berwarna-warni, tetapi baju yang putih bersih. Ada noda kotor berarti tidak putih bersih, lebih-lebih pola yang berwarna-warni pasti tidak putih bersih. Kelihatannya dunia lebih baik daripada dosa, tetapi jika dikaitkan dengan kemurnian, keduanya mencemarkan dan perlu ditanggulangi.
Selain itu, kerusakan yang disebabkan oleh dosa dan dunia di atas diri manusia sangat berbeda : dosa mencemari manusia, sedangkan dunia tidak hanya mencemari, tetapi juga menduduki manusia. Karena itu, boleh dikatakan bahwa dosa mencemari manusia, sedang dunia menduduki manusia. Atas diri manusia, pendudukan oleh dunia itu jauh lebih serius daripada pencemaran oleh dosa. Jika Iblis hanya menggunakan dosa untuk mencemari manusia, ia hanya dapat merusak manusia, tetapi jika ia menggunakan dunia untuk menguasai manusia, ia akan mendapatkan manusia bagi dirinya sendiri. Sebagai contoh, seorang anak yang berada di bawah pengawasan orang tuanya mungkin jujur dan murni. Meskipun seseorang dapat mencemari dan merusak sifatnya yang murni dengan mengajarinya berbohong, mencuri, dan melakukan banyak hal yang jahat, ia tetap berada di bawah pengawasan orang tuanya dan tetap menjadi milik orang tuanya. Tetapi, kalau orang yang melakukan perbuatan jahat itu maju selangkah lagi dengan memberi anak itu baju yang indah, ia dapat menipu dan mendapatkan anak itu, membuatnya meninggalkan orang tuanya sehingga tersesat. Demikian juga, Iblis merusak manusia dengan menggunakan dosa, tetapi ia mendapatkan manusia melalui memperalat dunia, sehingga menyebabkan manusia pergi dari hadirat Allah dan tersesat.
Kitab Kejadian menunjukkan perbedaan-perbedaan ini dengan jelas. Meskipun Adam telah dirusak oleh dosa, ia masih belum meninggalkan hadirat Allah. Sampai Kejadian 4, ketika manusia menciptakan peradaban dan membentuk sistem dunia, ia tidak hanya dirusak tetapi juga diduduki dan didapatkan Iblis melalui dunia. Akibatnya, manusia bukan lagi milik Allah.
Walaupun Abraham berulang kali gagal dalam hal mengakui istrinya sebagai saudaranya, itu adalah dosa yang hanya mencemarinya, tetapi tidak mendudukinya. Ia tetap dapat menjadi seorang yang melayani Tuhan dan berdoa untuk orang lain di tanah kafir (lihat Kejadian 12 dan 20). Tetapi Demas, kawan sekerja Paulus, kehilangan daya gunanya di hadapan Allah karena ia mencintai dunia masa kini dan diduduki olehnya (2 Tim. 4:10). Hal ini membuktikan bahwa terhadap manusia, perusakan dunia lebih hebat daripada dosa.
Umumnya, orang hanya merasakan perusakan oleh dosa, bukan perusakan oleh dunia, karena dosa berlawanan dengan moralitas, sedangkan dunia tidak berlawanan dengan moralitas tetapi dengan diri Allah sendiri. Manusia tidak mempunyai konsepsi Allah; ia hanya memiliki konsep moral di dalam dirinya. Itulah sebabnya, ia memiliki sedikit pengetahuan mengenai dosa yang berlawanan dengan morahtas, dan sadar akan pencemarannya. Tetapi terhadap dunia yang berlawanan dengan Allah, ia tidak memiliki pengenalan, dan juga tidak sadar jika telah diduduki olehnya. Sebagai contoh, seorang pemabuk, terumbar, mengikuti nafsunya sendiri, tidak takut kepada Allah, tidak mempedulikan manusia; orang-orang akan menghakiminya, memandangnya sebagai orang yang tidak bermoral. Tetapi jika seseorang setiap hari disibukkan dengan puisi, deklamasi, dan mendalami sastra, sama sekali tidak memikirkan hal-hal tentang Allah dan tidak bersedia untuk didapatkan oleh-Nya, orangorang malah akan memujinya tanpa memiliki perasaan bahwa ia telah dikuasai oleh sastra. Ini dikarenakan fakta bahwa manusia tidak mengenal Allah dan juga tidak memiliki konsepsi Allah, sehingga mengabaikan pendudukan (penjajahan) Iblis atas manusia melalui dunia.
Ruang lingkup dosa berbeda dengan ruang lingkup dunia. Lingkup dunia jauh lebih luas daripada lingkup dosa. Dosa hanya mengacu kepada hal-hal yang tidak bermoral dan yang berlawanan dengan hukum Allah, sedangkan dunia meliputi semua manusia, perkara, dan benda di luar Allah. Kita tidak dapat mengatakan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah dosa, tetapi kita dapat mengatakan bahwa segala sesuatu selain Allah dapat menjadi dunia. Di dalam banyak perkara dunia, dosa hanya merupakan satu bagian kecil. Dunia meliputi dosa, tetapi dosa tidak meliputi dunia. Dosa mungkin bukan dunia, tetapi di dalam dunia pasti ada dosa.
Seseorang dapat berbuat dosa tetapi belum tentu diduduki oleh dunia. Tetapi, setiap orang yang diduduki oleh dunia, pasti dicemari oleh dosa. Sebagai contoh, Adam berdosa dan jatuh ke dalam dosa, tetapi ia tidak jatuh ke dalam dunia. Karena itu, ia hanyalah seorang yang dirusak oleh dosa tetapi tidak diduduki oleh dunia. Dunia dimulai dari Kain. Lamekh, salah seorang keturunan Kain, adalah seorang berpoligami sekaligus pembunuh. Ia adalah orang yang diduduki oleh dunia dan juga berdosa.
Demikian juga, ketika Abraham tinggal di kemah di Kanaan, ia tidak jatuh ke dalam dunia. Karena itu, ia tidak perlu berbuat dosa. Tetapi begitu ia turun ke Mesir, jatuh ke dalam dunia, ia perlu berbohong dan berbuat dosa. Ini juga membuktikan bahwa dosa tidak selalu adalah dunia, tetapi dunia pasti mencakup dosa. Begitu kita jatuh ke dalam dunia, kita tidak dapat menghindari perbuatan dosa.
Ketika kita melihat perbedaan antara dosa dan dunia, kita akan tahu bahwa ruang lingkup perusakan dunia itu lebih luas, akibat perusakkannya lebih serius, dan penentangannya terhadap Allah juga lebih hebat daripada penentangan dosa. Karena dunia langsung bertentangan dengan Allah, ia telah menjadi musuh Allah. Dosa bertentangan dengan hukum Allah dan prosedur-Nya, yaitu kebenaranNya, sedangkan dunia bertentangan dengan Allah sendiri dan sifat ilahi-Nya, yaitu kekudusan-Nya. Dosa menentang hukum Allah, sedangkan dunia menentang Allah sendiri. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak. 4:4). Jika seseorang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu (1 Yoh. 2:15). Ketika memanggil orang untuk mengikuti-Nya, Tuhan menekankan fakta bahwa orang harus meninggalkan rumah, tanah, saudara laki-laki, saudara perempuan, orang tua, istri, anak, dan lain sebagainya (Mat. 10:37; 19:29; Mrk. 10:29; Luk. 18:29). Hal-hal ini menyusun. kehidupan manusia dan merupakan berbagai istilah dari dunia. Kalau seseorang ingin mengikuti Tuhan, ia harus meninggalkan hal-hal duniawi, karena perkara-perkara itu bisa menduduki manusia.
Dosa itu primitif, dangkal, dan merupakan langkah awal dari kejatuhan. Dunia itu modern, dalam, dan merupakan langkah akhir dari kejatuhan. Banyak orang hanya menekankan kemenangan atas doss, tetapi Alkitab lebih menekankan kemenangan atas dunia (1 Yoh. 5:4). Kita lebih perlu menang atas dunia. Jika kita ingin bertumbuh dalam hayat dan didapatkan oleh Tuhan, kita harus berusaha untuk menanggulangi dunia yang memperbudak kita.
B. Terbentuknya Dunia
Karena dunia menentang Allah dan memiliki pengaruh yang begitu merusak diri manusia, kita harus melihat asal mulanya dan proses perkembangannya. Dunia tidak ada ketika manusia diciptakan, tetapi berkembang secara bertahap setelah kejatuhan manusia. Pada saat penciptaan manusia, hanya ada alam semesta, surga serta bumi dan segala isinya, tidak ada dunia. Dunia terbentuk setelah kejatuhan manusia, yaitu ketika manusia merdeka dari Allah dan kehilangan pemeliharaan Allah. Karena itu, menyinggung tentang terbentuknya dunia, pertama-tama kita harus mempertimbangkan keperluan sehari-hari manusia demi kelangsungan hidupnya.
Empat keperluan pokok bagi kelangsungan hidup manusia adalah sandang, pangan, papan, dan transportasi. Tetapi Alkitab membagi kebutuhan manusia ke dalam tiga kelompok utama : suplaian, perlindungan, dan hiburan. Demi kelangsungan hidupnya, manusia tidak hanya memerlukan bermacam-macam suplaian, seperti sandang, pangan dan lain-lain, tetapi juga alat-alat bela diri untuk melindungi dirinya dari bahaya, juga berbagai hiburan untuk kesenangannya. Karena itu, seluruh keperluan hidup manusia tercakup dalam ketiga kelompok besar ini.
Sebelum manusia jatuh, Allah bertanggung jawab untuk menyediakan ketiga macam keperluan ini. Pertama, sebelum manusia diciptakan, Allah telah menyediakan segala macam suplaian untuk memenuhi semua kebutuhan hidup manusia. Ketika Adam berada di Taman Eden, berbagai macam buah-buahan dan sayur-sayuran, air, udara, sinar matahari, dan tempat berteduh telah disediakan.
Kedua, perlindungan atau pertahanan pada mulanya juga merupakan tanggung jawab Allah. Hari ini, manusia memerlukan perlindungan diri dan pertahanan diri, tetapi pada mulanya, Allah adalah pertahanan dan perlindungannya. Ketika manusia berada di bawah pemehharaan Allah, ia dapat terhindar dari segala macam serangan atau bahaya.
Ketiga, hiburan juga merupakan tanggung jawab Allah. Ada orang menganggap bahwa hiburan itu dosa, tetapi konsepsi semacam ini salah. Manusia hidup tidak bisa tanpa hiburan atau kesenangan, dan hiburan adalah untuk mendapatkan kesenangan. Kejadian 2:9 mengatakan, "Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya." Semua pohon di Taman Eden tidak hanya menghasilkan buah untuk dimakan, tetapi juga menarik dan menyejukkan mata, membuat orang senang. Allah tidak hanya menyiapkan lingkungan yang menyenangkan ini, pada saat yang sama, diri-Nya sendiri adalah sukacita manusia. Jika manusia memiliki Allah sebagai kenikmatannya, maka sukacita manusia akan penuh.
Pada mulanya, ketiga kebutuhan besar ini - suplaian, perlindungan, dan kesenangan - direncanakan dan disiapkan oleh Allah, sama seperti kebutuhan anak-anak hari ini yang telah direncanakan dan disiapkan oleh orang tua mereka. Seperti juga pemeliharaan, perlindungan, dan kesenangan seorang istri seluruhnya terletak pada suaminya. Dengan kata lain, suaminya adalah hidup dan segala sesuatunya. Demikian juga, Adam di Taman Eden tidak perlu khawatir, tidak perlu membuat rencana, tidak perlu menyiapkan apa-apa bagi dirinya sendiri, karena Allah bertanggung jawab atas segala sesuatunya. Karena Allah bertanggung jawab atas seluruh kebutuhan manusia, maka boleh dikatakan bahwa Allah adalah hayatnya dan segalanya.
Sayang sekali, manusia jatuh karena berbuat dosa dan diusir dari Taman Eden! Hubungannya dengan Allah menjadi tidak normal. Tetapi Allah menyiapkan jubah kulit untuk penebusan manusia, memungkinkan manusia tetap tinggal di hadirat-Nya. Karena itu, manusia belum kehilangan Allah. Tetapi, pada masa hidup Kain, manusia jatuh lebih dalam lagi. Kain berkata kepada Allah, "Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu"(Kej. 4:14). "Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN" (ay. 16). Dengan demikian manusia sepenuhnya pergi dari hadirat Allah, dan kehilangan Allah.
Ketika manusia kehilangan Allah, dengan sendirinya manusia kehilangan suplaian, perlindungan, dan sukacita Allah. Pada saat manusia kehilangan pemeliharaan Allah dalam kehidupannya, pertama-tama akan merasa takut; takut kekurangan suplaian, pertahanan, dan kegembiraan. Dengan kata lain, ia takut terhadap kemiskinan, bahaya, dan kebosanan dalam hidup. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan bertahan hidup, manusia menggunakan kekuatannya sendiri dan memikirkan cara-cara untuk menyediakan suplaian, perlindungan dan hiburan. Sejak saat itu manusia menciptakan peradaban yang tidak mengenal Allah.
Kejadian 4 dengan jelas mewahyukan hal ini kepada kita. Setelah Kain iatuh dan kehilangan Allah, dari keturunannya muncul orang-orang yang dapat menciptakan barang-barang untuk memenuhi ketiga kebutuhan utama dari hidup manusia. Mereka adalah ketiga anak Lamekh. Yabal adalah bapa dari orang yang diam di dalam kemah dan memelihara ternak. Kemah dan ternak adalah untuk suplai hidup manusia dan karenanya termasuk kelompok suplaian. Anak yang lain, Yubal, adalah bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling. Memainkan kecapi dan suling adalah untuk kesenangan; jadi termasuk kelompok hiburan. Anak ketiga, Tubal-Kain, bapa semua tukang tembaga dan tukang besi. Alat-alat tembaga dan besi ini dibentuk demi kepentingan pertahanan, jadi mengacu kepada kelompok perlindungan. Karena ketiga penemuan penting ini berasal dari zaman itu, umat manusia merasa tidak perlu Allah. Manusia telah menemukan jawaban atas kebutuhan suplaian, perlindungan, dan hiburan. Inilah peradaban yang dihasilkan setelah umat manusia kehilangan Allah - kehidupan tanpa Allah yang diciptakan oleh manusia.
Begitu manusia menempuh kehidupan tanpa Allah, Iblis segera menyamar dan memperalat hal-hal ini sebagai sarana untuk menduduki manusia. Ia menyebabkan manusia menggunakan segenap kemampuannya untuk mencari makanan dan pakaian bagi perawatan dirinya, menciptakan peralatan-peralatan untuk menjaga diri, dan merancang berbagai macam hiburan untuk menghibur dirinya. Ketika manusia mendapatkan semuanya ini, manusia cenderung untuk menikmatinya semaksimal mungkin dan benar- benar tenggelam di dalamnya. Seluruh hidup manusia benar-benar diduduki oleh hal-hal ini, sehingga manusia sama sekali tidak mempedulikan Allah dan kehendak-Nya. Inilah langkah pertama terbentuknya dunia.
Pada mulanya, berbagai bentuk pekerjaan yang berkaitan dengan kehidupan manusia sepertinya agak berantakan dan tidak sistematis. Kemudian, Iblis menyusunnya menjadi dunia yang lebih nyata dan sistematis, dengan demikian menduduki umat manusia dengan lebih hebat dan sistematis. Misalnya, perihal makan. Manusia membutuhkan makanan demi kelangsungan hidupnya, tetapi ketika ia mulai asyik berjerih lelah untuk mendapatkan penghasilan yang cukup demi memenuhi kebutuhannya sendiri, ia telah diduduki. Selain itu, Iblis telah mensistematisasi perihal makan melalui metode persiapan, susunan menu, dan berbagai kenikmatan rasa. Pengaturan meja dan tempat duduk juga melibatkan tatanan dan etika tertentu. Setiap kali seseorang mau makan, ia terikat dengan peraturan-peraturan makan itu. Perkara-perkara lain seperti pakaian, perumahan, pernikahan, penguburan, pekerjaan, dan hiburan telah diorganisir oleh Iblis ke dalam berbagai ragam tata cara, susunan, dan sistem. Perlahan-lahan, manusia menjadi semakin terikat dan sepenuhnya diduduki oleh sistem-sistem itu sehingga tidak dapat terlepas.
Karena itu, pembentukan dunia mempunyai lima tahap. Pertama, manusia kehilangan Allah. Kedua, manusia menjadi takut dan cemas akan kebutuhan-kebutuhannya. Ketiga, manusia menciptakan kehidupan tanpa Allah. Keempat, Iblis menyamar dan memperalat kebutuhan-kebutuhan manusia. Kelima, Iblis menyusun suplai manusia demi kepentingannya ke dalam suatu sistem. Setelah kehma langkah ini, terbentuklah dunia.
C. Derinisi Dunia
Setelah mempelajari bagaimana dunia terbentuk, mudah bagi kita untuk mendefinisikan dunia. Sebenarnya, manusia adalah milik Allah, hidup oleh Allah, dan sepenuhnya bersandar kepada Allah. Sekarang, Iblis telah mensistematisasi dunia untuk menggantikan Allah dalam hal menyediakan kebutuhan manusia. Manusia telah meninggalkan Allah, bersandar kepada dunia dan diduduki dunia. Karena itu, dunia terdiri dari segala sesuatu yang menggantikan Allah dan segala sesuatu yang menduduki manusia. Ketika orang-orang, kegiatan-kegiatan, atau benda-benda - entah baik atau buruk, indah atau jelek - memperbudak manusia, perkara-perkara itu merupakan bagian dari dunia. Segala sesuatu yang menyebabkan manusia tidak mempedulikan Allah, terlepas dari hadirat-Nya, atau merdeka terhadap-Nya adalah dunia.
Istilah Yunani untuk "dunia" adalah "cosmos", yang berarti "sistem" atau "organisasi". Iblis tidak saja memperalat kebutuhan hidup manusia, seperti manusia, perkara, dan benda untuk memenuhi pikiran manusia, bahkan lebih jauh lagi ia mengorganisir perkara-perkara itu menjadi berbagal sistem yang masing-masing berdiri sendiri untuk memperkuat cengkeramannya atas manusia. Hari ini, dunia sama seperti sebuah universitas yang di dalamnya ada berbagai macam fakultas atau departemen, seperti makan, minum, pakaian, pernikahan, kematian, sastra, musik, keuangan, ketenaran, ..., dan lain-lain; masih banyak yang tidak dapat kita sebutlian. Hasil. akhirnya adalah universitas dunia, yang menguasai manusia dengan banyak departemen. Satu demi satu, departemen- departemen ini memperbudak dan menduduki manusla, membuat manusia meninggalkan dan melupakan Allah sepenuhnya serta berjalan seturut arus dunia. Manusia yakin bahwa ia sedang menghadapi dan menikmati semua itu, tanpa menyadari tipu muslihat Iblis, ia telah jatuh ke dalam tangan si jahat serta dikendalikan dan ditipu olehnya. Karena itu, dunia mengacu kepada rencana, sistem, dan organisasi si musuh untuk merampas tempat Allah di dalam manusia hingga akhirnya mendapatkan manusia sepenuhnya.
Mengenai definisi dunia, Alkitab memberi beberapa keterangan : Pertama, perbedaan antara "dunia" dengan "apa yang ada di dalam dunia". Satu Yohanes 2:15-17 menyinggung tentang kedua hal ini. Ayat 15 mengatakan, "Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu." Ini memperlihatkan kepada kita bahwa dunia berlawanan dengan Allah. Dalam bahasa aslinya (Yunani), ayat 17 mengatakan, "Semua yang ada di dalam dunia ... sedang lenyap, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." Di sini, semua yang ada di dalam dunia berlawanan dengan kehendak Allah. Dalam ayat 16, semua yang ada di dalam dunia ini dibagi menjadi tiga kelompok : keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Kesimpulannya, semua yang bukan dari Bapa, semua yang berasal dari selain Allah, dan semua yang datang dari dunia, adalah barang- barang milik dunia dan berlawanan dengan kehendak Allah.
Kedua, perbedaan antara dunia dengan zaman. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia (zaman) ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna" (Rm. 12:2). Istilah "dunia" di sini dalam bahasa Yunaninya bukan cosmos, tetapi aton, yang ditujukan kepada zaman. (Alkitab bahasa Indonesia menerjemahan kedua kata ini menjadi "dunia").
Apakah dunia, dan apakah zaman? Kumpulan dari semua manusia, perkara, dan benda di luar Allah disebut "dunia"; sedang bagian dari dunia yang berhubungan dengan kita saat ini adalah "zaman". Bagian dunia yang berhubungan dengan Kain adalah zaman Kain; bagian dunia yang berhubungan dengan Abraham adalah zaman Babel. Bagian dunia yang berhubungan dengan kita hari ini disebut zaman abad kedua puluh (abad kedua puluh satu. Red). Dunia adalah seluruh organisasi yang digunakan Iblis untuk menduduki manusia, sedangkan zaman adalah bagian dari organisasi ini. Ada banyak zaman di dalam dunia yang terorganisir ini. Karena itu, Rasul Paulus dalam Efesus 2:2 menyebutkan "jalan (zaman) dunia ini". Dunia mengacu kepada dunia secara keseluruhan, sedangkan zaman mengacu kepada sebagian dari dunia. Manusia hanya bisa bersentuhan dengan zaman, tidak bisa bersentuhan dengan dunia secara keseluruhan. Biasanya kita berkata bahwa dunia menduduki kita. Dalain kenyataannya, hanya bagian dari zaman yang menduduki kita, bukan seluruh dunia, dan bahkan di dalam zaman ini, kita hanya bersentuhan dengan satu bagian kecil darinya melalui memiliki istri, beberapa anak, sebuah rumah, rekening bank, dan lain-lain. Hal-hal itu menyusun dunia praktis yang mengikat dan menduduki kita. Dengan kata lain, zaman boleh dikatakan adalah apa yang ada di dalam dunia, yang telah disebutkan di depan.
Istilah bahasa Yunani untuk zaman adalah aion, yang berarti modern. Jadi, zaman berarti modern, mode, masa, dunia yang terpampang di hadapan kita hari ini, juga adalah apa yang ada di dalam dunia. Dalam Roma 12:2, zaman, bukan dunia, adalah lawan kehendak Allah. Ini sesuai dengan 1 Yohanes 2:17.
Melalui hal ini kita melihat hubungan antara dunia, zaman, dan apa yang ada di dalam dunia. Kita tidak dapat berhubungan dengan dunia sepenuhnya, tetapi hanya sebagian darinya, yang disebut zaman atau apa yang ada di dalam dunia. Demikian juga hubungan antara Allah dan kehendak-Nya. Karena Allah begitu besar, kita tidak dapat berhubungan dengan Dia sepenuhnya, tetapi hanya sebagian dari-Nya. Bagian yang berhubungan dengan kita disebut kehendak Allah. Setiap kali kita berhubungan dengan Allah, kita hanya berhubungan dengan bagian yang berasal dariNya, yang kita sebut kehendak Allah. Jadi, kita melihat bahwa dunia berlawanan dengan Allah, dan zaman atau apa yang ada di dalam dunia berlawanan dengan kehendak Allah.
Istilah mengasihi dunia itu terlalu luas, tetapi mengasihi apa yang ada di dalam dunia adalah istilah yang lebih konkret. Demikian juga, patuh kepada Allah itu terlalu luas, tetapi patuh pada kehendak Allah lebih konkret.
D. Perkembangan Dunia
Kita telah melihat bahwa dunia terbentuk setelah Kain jatuh dan meninggalkan Allah. Pada saat itu, ia menetap di tanah Nod dan membangun sebuah kota bernama Henokh. Inilah kota pertama yang dibangun oleh manusia; ini juga permulaan peradaban dan kehidupan buatan manusia yang tanpa Allah. Dalam Alkitab, kota buatan manusia adalah pusat dan lambang dari kehidupan tanpa Allah yang dibuat oleh manusia. Karena itu, kota melambangkan dunia. Di seluruh Alkitab, kota-kota tanpa Allah ini menyingkapkan perkembangan dunia dalam semua generasi.
Dunia yang digambarkan dalam Alkitab terdiri atas dua tahapan utama, atau dapat dikatakan dua dunia. Dunin pertama dimulai dari Kota Henokh yang dibangun okh Kain : dunia kedua dimulai dari Kota Babel setelah air bah. Dunia pertama, dimulai dari Kain, berkembang dan berangsur-angsur menjadi makmur, mencapai puncaknya pada zaman Nuh. Pada saat itu, umat manusia sudah benar-benar jatuh ke dalam dunia, dan kerusakan yang ada tidak bisa diperbaiki lagi. Kejadian 6:11-12 mengatakan, "Adapun bumi itu telah rusak dihadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi." Secara kedudukan, umat manusia sudah benar-benar tenggelam ke dalam dunia; keadaannya benar-benar rusak, penuh dosa, dan sangat jahat. Keadaan ini mendatangkan penghakiman Allah. Air bah bukan hanya menghakimi dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia, tetapi juga mengakhiri dunia yang penuh dosa. Hanya delapan orang anggota keluarga Nuh yang selamat, sedangkan sisa dari dunia pertama dibinasakan oleh air bah.
Setelah air bah, sekali lagi umat manusia secara bertahap jatuh ke dalam dunia. Dalam Kejadian 11, umat manusia secara serentak mulai memberontak melawan Allah serta mengabaikan Allah dan nama-Nya. Mereka menetapkan nama bagi diri sendiri, membangun Menara dan Kota Babel. Inilah kota kedua yang dibangun manusia. Kota ini lebih-lebih merupakan pernyataan manusia bahwa mereka memperhatikan diri sendiri, bersandar kepada diri sendiri, dan bukan kepada Allah. Kota itu juga mewakili kehidupan tanpa Allah yang diciptakan oleh manusia. Karena itu, Kota Babel adalah permulaan dunia kedua.
Dunia kedua ini, dimulai dari Kota Babel, terus berkembang menjadi tiga cabang dan menjadi tiga kota yang berbeda seperti yang tercatat dalam Alkitab: Kota Babel, Mesir, dan Sodom. Dunia pertama adalah campur aduk, mencakup semuanya, tetapi dunia kedua dengan jelas terbagi menjadi tiga cabang, masing-masing mewakili satu aspek dunia.
Cabang pertama diwakili oleh Kota Babel. Kota ini dipenuhi oleh berhala-berhala dan ilah-ilah. (Menurut beberapa catatan, Kota dan Menara Babel penuh dengan namanama berhala.) Karena itu, kota ini mewakili aspek dunia yang menyembah berhala.
Babel ada di tanah Ur-Kasdim, tempat asal Abraham (Kej. 11:27-28). Dulu Abraham dan nenek moyangnya adalah penyembah berhala (Yos. 24:2). Walaupun Allah mengeluarkan Abraham dari tanah asalnya dan dari berhalaberhalanya, tetapi kemudian keturunannya tertawan dan dipaksa kembali ke tanah itu dan menyembah berhala (lihat Dan. 3). Babel selalu merusak penyembahan manusia kepada Allah. Orang-orang Babel itulah yang menghancurkan bait Allah dan membawa perkakas-perkakasnya ke Babel sebagai jarahan. Mereka menempatkannya di dalam kuil berhala mereka (2 Raj. 25:8-9, 13-15; 2 Taw. 36:7, 10, 18-19). Ini membuktikan bahwa Babel dalam Alkitab adalah dunia berhala.
Cabang kedua diwakili oleh kota Mesir. Mesir, tanah yang kaya, dialiri oleh sungai Nil dan menghasilkan makanan yang berlimpah-limpah (Kej. 42:1-2) dengan bermacam-macam rasa (Bil. 1L5). Karena itu, Mesir mewakili aspek-aspek kehidupan dan kenikmatan dunia. Alkitab mencatat beberapa peristiwa mengenai anak-anak Allah yang turun ke Mesir untuk menyelesaikan masalah kebutuhan hidup mereka (Kej. 12:10; 42:3; 45:9-11, 18). Selain itu, begitu umat Israel turun ke Mesir untuk menyelesaikan masalah kebutuhan hidup mereka, mereka lalu jatuh di bawah kuasa orang Mesir, dipaksa untuk bekerja keras, dan menjadi budak (Kel. 1:11-14). Karena itu, Mesir juga mewakili aspek kerja keras dan perbudakan di bawah kekuasaan dunia. Kesimpulannya, Mesir mewakili dunia kehidupan, kekuasaan, kerja keras, dan perbudakan.
Cabang ketiga diwakill oleh Kota Sodom. Setiap kali Sodom disebutkan di dalam Alkitab, selalu mengacu kepada dosa-dosanya (Kej. 13:13; 18:20; 19:13). Karena itu, Sodom mewakili aspek dunia yang penuh dosa, atau dunia dosa.
Ketiga kota ini mewakili ketiga aspek yang berbeda dari dunia kedua. Ketiga kota itu mengelilingi Tanah Kanaan, kedudukan yang benar dari umat pilihan Allah, dan menjadi jebakan untuk menjerumuskan orang-orang Israel. Begitu mereka tidak hati-hati dan termakan godaan, mereka akan jatuh ke dalam dunia Sodom yang penuh dosa dan menjadi tercemar oleh kenajisannya. Inilah kisah Lot yang turun ke Sodom. Atau, ketika mereka tidak tahan uji karena kelemahan mereka, mereka turun ke Mesir dan harus mempekerjakan diri mereka untuk mempertahankan hidup. Mereka menjadi budak-budak kebutuhan hidup dan dikendalikan oleh dunia. Inilah kisah Abraham dan umat Israel ketika mereka turun ke Mesir. Walaupun sepertinya mustahil bagi mereka untuk kembali ke Babel dan menyembah berhala, tetapi ketika mereka sangat lemah, mereka tertawan dan dibawa kembali ke Kota Babel, dunia penyembahan berhala, untuk menyembah si jahat. Ini terjadi selama kemerosotan Israel.
Ketiga aspek dunia ini adalah musuh-musuh Allah, menghancurkan orang-orang yang telah didapatkan Allah untuk diri-Nya sendiri. Orang-orang Israel adalah orang-orang yang telah dipisahkan dari antara umat manusia untuk dimiliki dan dipakai oleh-Nya. Tetapi mereka tidak pernah terlepas dari perusakan ketiga aspek dunia ini. Entah mereka turun ke dunia Mesir untuk mencari makan dan minum (Yes. 30:14; 31:1), atau mereka menjadi seperti orang-orang Sodom (Yes. 1:9; 3:9; Yeh. 16:46, 49; Why. 11:8), atau bahkan, mereka tertawan ke dalam dunia Babel yang menyembah berhala dan mengabaikan penyembahan dan pelayanan kepada Allah (2 Taw. 36:14-20). Hari ini, ketiga dunit ini dengan cara yang sama juga merusak gereja yang dipilih Tuhan dan dipanggil untuk diri-Nya. Lihatlah gereja hari ini! Tidakkah bersandar pada kuasa dunia Mesir? Tidakkah memiliki dosa Sodom yang duniawi? Bukankah ia lebih-lebih telah tertawan dan dibawa ke dalam dunia penyembahan berhala Babel sehingga dipenuhi oleh berhala-berhala dunia?
Ketiga kota ini, yang mewakili berbagai aspek yang berbeda dari dunia kedua, akan berkembang terus sampai ketiganya menjadi Babel besar yang disebutkan dalam. Wahyu 17 dan 18. Kota itu - pusat dan perwakilan dunia pada saat itu - akan menggunakan segenap kekuatannya untuk memperhebat perlawanannya terhadap Allah dan mencelakai anak-anak Allah. Ia akan menjadi puncak perkembangan dari dunia kedua, dan juga kesimpulan akhir dunia kedua. Ia akan dihakimi dan dihancurkan dengan api pada kedatangan Tuhan untuk kali kedua. Penghukuman api dan penghukuman air bah mempunyai persamaan yang jelas. Penghukuman air bah mengakhiri dunia pertama, dan penghukuman api akan mengakhiri dunia kedua. ltulah sebabnya Tuhan membandingkan hari-hari pada zaman Nuh dengan hari-hari menjelang kedatangan-Nya (Mat. 24:37-39). Penghancuran Babel besar akan membawa dunia pada kesudahannya.
Dari proses perkembangan kedua dunia ini kita dapat nampak bahwa Iblis selalu menggunakan dunia untuk menduduki manusia dan mendapatkan manusia untuk menghancurkan dan menggagalkan tujuan Allah atas diri manusia. Pertama, Iblis merusak Adam dengan dosa dan secara bertahap menggunakan dunia untuk menduduki keturunannya. Sampai pada zaman Nuh, semua keturunan Adam tenggelam dalam dunia. Iblis telah berhasil menyelesaikan langkah pertamanya dalam menduduki manusia. Tetapi Allah menghakimi dan menghancurkan dunia itu dengan air bah. Setelah keturunan Nuh bertambah banyak, Iblis membangkitkan pemberontakan besar melawan Allah, sehingga generasi itu mendirikan Menara Babel. Akibatnya, manusia lebih tenggelam lagi dalam dunia dan sekah lagi didapatkan oleh Iblis.
Karena Iblis demikian mendapatkan keturunan Adam, maka Allah tidak dapat menggenapkan tujuan-Nya atas mereka. Allah tidak memiliki alternatif lain kecuali meninggalkan ras ciptaan ini melalui memilih Abraham. Keturunan Abraham, yang bertambah banyak seperti bintang di langit dan pasir di tepi pantai, menjadi ras pihhan Allah untuk menggenapkan tujuan-Nya yang tertunda oleh ras ciptaan di Babel. Tetapi Iblis terus bekerja tak henti-hentinya dengan menggunakan dunia untuk menipu dan menduduki umat pilihan Allah, agar Allah tidak dapat menggenapkan tujuan-Nya.
Perjanjian Lama menunjukkan bahwa berkali-kali kejatuhan umat terpanggil semuanya jatuh ke dalam dunia yang dipakai Iblis untuk menduduki manusia. Misalnya, setelah Abraham dipimpin Allah ke Kanaan, ia kembali jatuh ke Mesir. Setelah itu, bangsa Israel, karena tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka, jatuh di bawah kuasa Mesir. Kemudian, kerajaan Israel sepenuhnya jatuh ke dalam dunia berhala dan menjadi tawanan di Babel. Akhirnya, umat pilihan Allah bersatu dengan Babel besar, yang mewakili aeluruh komponen dunia (Why. 17 dan 18). Babel besar itu merupakan kejatuhan umat pilihan Allah yang terakhir, saat itu mereka akan dirusak dan diduduki Iblis sampai puncaknya.
Alkitab membagi sejarah umat manusia ke dalam dua bagian : dari Kejadian 1 sampai 11:26 dan dari Kejadian 11:27 campai akhir kitab Wahyu. Bagian pertama dimulai dengan penciptaan manusia dan diakhiri dengan pembinasaan dunia pertama oleh air bah. Sasaran bagian ini adalah ras ciptaan deri Adam. Bagian kedua dimulai dengan pemanggilan Abraham dan akan diakhiri dengan pembinasaan dunia kedua oleh api. Sasaran bagian ini adalah ras Abraham yang dipilih. Walaupun setelah Abraham dipanggil masih ada sejarah ras ciptaan, tetapi tidak tercatat sebagai sasaran utama Alkitab. Dalam kedua bagian ini, ciri pekerjann Iblis ialah menggunakan dunia untuk menduduki manusia. Di bagian pertama, Iblis menggunakan dunia pertama untuk menduduki ras ciptaan; kemudian Iblis menggunakan dunia kedua untuk menduduki ras pilihan. Dunia kedua ini matang sepenuhnya ketika muncul Kota Mesir, karena di sanalah Iblis menduduki seluruh ras pilihan, umat Israel.
Pendek kata, Iblis menggunakan dua dunia untuk menduduki dua ras, yang mendatangkan dua penghukuman Allah. Penghukuman pertama adalah dengan air dan mengakhiri dunia pertama. Penghukuman kedua adalah dengan api dan akan mengakhiri dunia kedua. Karena itu, dapat dikatakan bahwa seluruh Alkitab dibagi menjadi dua bagian : pertama dari penciptaan manusia sampai pembinasaan dunia pertama, dan kedua dari pemanggilan umat pilihan sampai pembinasaan dunia kedua. Ini adalah garis perkembangan dunia seperti yang tercatat dalam Alkitab.
Dalam proses perkembangan dunia, meskipun sebagian besar orang yang dipersiapkan Allah untuk diri-Nya telah diduduki Iblis, tetapi tetap masih ada sejumlah kecil pemenang yang tidak diduduki oleh dunia, mereka berdiri pada tumpuan Allah yang terpisah dari dunia, senantiasa menempuh kehidupan kemah dan mezbah, mereka mengemban kesaksian langsung melawan kota itu, yang adalah simbol dan pusat dunia. Alkitab tidak hanya mempunyai garis kota, yang menggambarkan perkembangan dunia, tetapi juga garis kemah, yang menunjukkan kesaksian para pemenang melawan dunia. Ini adalah garis penting lain dalam Alkitab, terbentang sejajar dengan garis perkembangan dunia.
Pada dunia pertama, Nuh adalah manusia pertama yang menempuh hidup dalam kemah, berlawanan langsung dengan kota, kehidupan dunia. Ketika Allah menghakimi dunia pertama, Ia menyelamatkan Nuh. Setelah ia meninggalkan bahtera, ia membangun mezbah untuk Allah (Kej. 8:20) dan hidup dalam kemah, tidak di dalam kota. Kemah ini dapat dianggap berlawanan dengan Kota Henokh yang dibangun Kain. Pemenang pertama yang diselamatkan dari dunia ini hidup di dalam kemah sebagai kesaksian yang berlawanan dengan kota, simbol dunia. Karena itu, ia dapat mempunyai mezbah untuk menyembah dan melayani Allah.
Dalam dunia kedua ada banyak orang yang telah hidup dalam kemah dan memperhidupkan kesaksian yang menentang dunia. Abraham adalah orang yang paling menonjol di antara mereka. Ia dipanggil keluar dari dunia, dari Kota Babel ke tanah Kanaan (Kej. 12). Di sana, ia mendirikan kemah; kemah ini boleh dikatakan berlawanan dengan Kota Babel. Kemah ini bukan hanya bukti kemenangannya, tetapi juga kesaksian melawan dunia pada masa itu. Karena ia menolak untuk hidup di kota duniawi yang menduduki manusia dan memilih untuk menempuh hidup bagi Allah di dalam kemah, maka ia memiliki mezbah untuk menyembah dan melayani Allah. Kemahnya berdiri berhadapan dengan Kota Babel, dan mezbahnya berdiri berhadapan dengan Menara Babel.
Kapan kala seorang pemenang gagal, kesaksian kemah dan mezbah juga lenyap. Ketika Abraham menjadi lemah, ia turun ke Mesir. Begitu ia tiba di Mesir, baik kemah maupun mezbahnya tidak ada lagi, maka kesaksiannya melawan dunia dan pelayanannya terhadap Allah juga tidak ada. Ketika ia pergi meninggalkan Mesir dan kembali ke Kanaan, kemah dan mezbahnya dipulihkan, demikian juga kesaksian dan pelayanannya dipulihkan.
Lot, yang pergi ke Kanaan bersama Abraham juga tinggal di kemah bersamanya. Namun setelah itu, ia meninggalkan Abraham, berangsur-angsur memindahkan kemahnya ke Sodom. Akhirnya, ia tinggal di Sodom dan kehilangan kemah serta kesaksiannya.
Setelah itu, semua orang Israel jatuh ke dalam dunia Mesir. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah membuat batu bata dan membangun kota-kota (Kel. 1:11-14). Akibatnya, mereka kehilangan kesaksian dan pelayanan mereka. Setelah mereka keluar dari Mesir dan tiba di padang gurun, mereka menempuh hidup berkemah dan pelayanan mezbah. Selain itu, Allah tinggal bersama mereka di dalam kemah, tabernakel, sebagai kesaksian yang berlawanan dengan Kota Mesir.
Ketika umat Israel memasuki Kanaan, Yerusalem menjadi pusat kediaman mereka. Yerusalem merupakan miniatur kemah abadi Allah, Yerusalem Baru. Yerusalem selalu berlawanan dengan Babel, dan Babel selalu bertentangan dengan Yerusalem. Ketika orang-orang Israel gagal total, Babel menghancurkan Yerusalem (2 Taw. 36:6-7, 18-19). Tetapi setelah itu, ketika ada beberapa pemenang di antara orang-orang Israel, mereka mengarahkan muka mereka ke Yerusalem (Dan. 6:11) dan memulihkan Yerusalem (Neh. 2).
Pada akhir Perjanjian Baru, Babel besar akan dihancurkan (Why. 18:2), dan sebaliknya Yerusalem Baru akan turun dari surga (Why. 21:2-3). Yerusalem Baru ini juga disebut "Tabernakel Allah", atau kemah Allah. Jadi, sampai akhirnya kita tetap melihat kemah, simbol para pemenang, sebagai kesaksian melawan kota, yang mewakili dunia.
Catatan-catatan Alkitab ini mengungkapkan makna rohani dari kemah yang berlawanan dengan kota. Kota adalah lambang dan pusat semua kehidupan buatan manusia, karena itu kota mewakili dunia. Kemah, didirikan di padang gurun, yaitu di luar dunia, mewakili kehidupan musafir di luar dunia. Mereka yang hidup di dalam kemah menandakan bahwa mereka tidak lagi tenggelam di dalam dunia, melainkan, mereka menempuh kehidupan mengembara di luar dunia. Ketika manusia gagal dan kehilangan Allah, ia jatuh ke dalam dunia; ketika manusia diselamatkan oleh Allah, ia akan meninggalkan dunia dan hidup di dalam kemah sebagai orang asing dan pengembara, hanya melayani Allah.
Alkitab menunjukkan bahwa mezbah selalu menyertai kemah. Jika ada kemah, akan ada mezbah. Jika tidak ada kemah, tidak ada mezbah. Setelah Nuh meninggalkan bahtera, ia mendirikan kemah dan membangun mezbah. Ketika Abraham pergi ke Kanaan, ia juga mendirikan kemah dan membangun mezbah. Tetapi selama pengembaraannya di Mesir, ia kehilangan kemah, dan akibatnya mezbahnya pun tiada. Demikian juga, selama bangsa Israel diperbudak di Mesir, mereka tidak memiliki mezbah, tetapi ketika mereka meninggalkan Mesir dan pergi ke padang gurun, mereka hidup di dalam kemah dan kembali mendirikan mezbah. Ketika di sana ada mezbah, maka ada juga persembahan diri, pelayanan, dan penyembahan, karena mezbah adalah tempat manusia mempersembahkan dirinya dan juga sarana untuk melayani dan menyembah Allah. Ini adalah hasil yang wajar dari kehidupan manusia di dalam kemah. Kapan kala manusia jatuh ke dalam dunia, segera kehilangan persembahan diri, pelayanan, dan penyembahannya.
Kehidupan kemah bukan hanya kedudukan di mana manusia melayani Allah, tetapi juga tempat di mana Allah bertemu dengan manusia. Prinsip ini terlihat jelas dalam kehidupan.Abraham dan Lot. Allah menampakkan diri kepada Abraham pada saat ia duduk di muka pintu kemah. Hal ini mempersaksikan kedudukannya yang menang atas dunia, memungkinkan ia mendapatkan penampakan Allah (Kej. 18). Tetapi, Allah tidak menampakkan diri-Nya kepada Lot (Kej. 19); melainkan dua orang malaikat dikirim ke Sodom. Mereka menemukan Lot duduk di pintu gerbang, yang membuktikan bahwa ia telah jatuh ke dalam dunia. Walaupun malaikat-malaikat itu datang untuk menyelamatkannya, tetapi Allah tidak menampakkan diri-Nya kepadanya. Begitu manusia iatuh ke dalam dunia, ia didapatkan oleh Iblis dan tidak dapat lagi melihat terang wajah Allah.
Karena dunia demikian menduduki umat Allah dan merusak tujuan Allah atas diri mereka, maka ketika Allah menyelamatkan manusia, ia menyelamatkan manusia dari dua perkara : dari dosa dan dari dunia. Keselamatan dari dosa hanya menyelamatkan manusia dari keadaan yang jatuh, sedangkan keselamatan dari dunia menyelamatkan manusia dari kedudukan yang jatuh. Ketika mengabarkan Injil, kita banyak menekankan keselamatan dari dosa, tetapi kita jarang membicarakan keselamatan dari dunia. Ini tidaklah cukup.
Dalam Perjanjian Lama, keselamatan Allah diperlihatkan melalui dua lambang penting : bahtera Nuh dan keluar dari Mesir. Setiap lambang menunjukkan baik aspek pembebasan dari dosa maupun pembebasan dari dunia. Kedelapan anggota keluarga Nuh diselamatkan oleh bahtera dan air. Bahtera menyelamatkan mereka dari penghakiman Allah yaitu air bah; air menyelamatkan mereka dari dunia yang rusak. Demikian juga, bangsa Israel diselamatkan melalui Paskah dan Laut Merah. Paskah mengacu kepada keselamatan mereka dari penghakiman Allah yaitu kematian anak sulung; Laut Merah mengacu kepada keselamatan mereka dari kekuasaan pemerintahan dunia.
Demikian juga, keselamatan sempurna yang kita nikmati hari ini memiliki dua aspek - iman dan baptisan. Melalui iman, kita diselamatkan dari dosa oleh darah. Melalui baptisan, kita diselamatkan dari dunia oleh air. Keluarga Nuh diselamatkan dari air bah yang membinasakan dunia, hal itu berarti diselamatkan dari dunia yang jatuh. Bangsa Israel diselamatkan dari air Laut Merah yang menenggelamkan tentara Mesir, hal itu berarti mereka diselamatkan dari dunia Mesir yang menguasai mereka. Baptisan dilambangkan dengan dua peristiwa melewati air kematian ini (1 Ptr. 3:20-21; 1 Kor. 10:1-2). Baptisan selam menyelamatkan kita dari dunia. Karena itu, ketika seseorang percaya dan dibaptis, ia telah melalui air bah dan Laut Merah. Keluarnya dia dari air mengacu kepada pemisahannya dari dunia dan kedudukan barunya yang berkaitan dengan kehidupan kemah dan mezbah. Kita yang telah dipilih dan diselamatkan seharusnya terus-menerus menempuh kehidupan kemah sebagai kesaksian bahwa kita telah dibebaskan dan dipisahkan dari dunia. Dengan demikian kita akan dibebaskan dari penjajahan dunia dan menjadi orang yang hidup sepenuhnya untuk Allah melalui mezbah.
II. MENANGGULANGI DUNIA
Mari kita melihat perkara menanggulangi dunia.
A. Dasar Alkitab
1. Yakobus 4:4, "Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi, siapa saja yang hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya mnusuh Allah."
2. Roma 12:2, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah : Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna.
3. Satu Yohanes 2:15-17, "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keingannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya."
B. Sasaran Penanggulangan Dunia
Dalam kehidupan sehari-hari kita, dunia terdiri dari manusia, perkara, dan benda yang menduduki tempat Allah di dalam diri kita. Karena itu, manusia, perkara, dan benda yang menggantikan kedudukan Allah dalam kehidupan kita adalah sasaran penanggulangan kita.
Bagaimana kita tahu bahwa manusia, perkara, dan benda tertentu menduduki kita? Apa standar pengukuran kita? Mula-mula, kita perlu melihat apakah manusia, perkara, dan benda ini melebihi kebutuhan hidup kita. Kita dapat mengatakan bahwa segala sesuatu yang berlebihan akan mengambil alih kedudukan Allah dan menduduki kita; jadi, hal ini perlu ditanggulangi. Kita tahu bahwa kelangsungan hidup kita tergantung kepada manusia, perkara, dan benda tertentu, seperti orang tua, suami, istri, keluarga, sandang, pangan, papan, transportasi, pekerjaan, dan lain-lain. Ini adalah hal-hal yang diperlukan demi kelangsungan hidup kita. Di pihak lain, kelangsungan hidup manusia adalah untuk Allah; karena ltu, semua manusia, perkara, dan benda yang perlu bagi kelangsungan hidup manusia juga untuk Allah, ini bukanlah dunia. Tetapi jika manusia, perkara, dan benda ini melebihi kebutuhan sehari-hari kita, maka hal-hal ini menjadi dunia kita. Sebagai contoh : pakaian sebagai kebutuhan pokok itu tidak duniawi, tetapi jika seseorang menaruh perhatian berlebihan kepada pakalan serta hiasan-hiasannya, atau memboroskan uang untuk mengikuti mode hari ini, ia telah melampaui lingkup kebutuhan sehari-harinya. Akibatnya, kelebihan-kelebihan itu telah menjadi dunianya. Contoh lain : kacamata untuk membantu penglihatan yang kurang baik itu tidak duniawi. Tetapi beberapa orang memakai kacamata agar modis; hal itu bukanlah kebutuhan mereka, tetapi dunia yang mereka kasihi.
Apakah standar yang mengatur kebutuhan sehari-hari kita berkenaan dengan manusia, perkara, dan benda? Dalam Alkitab, tidak ada keseragaman atau standar khusus yang mengatur masalah ini. Allah telah mengatur kita untuk dilahirkan dalam keluarga yang berbeda, untuk menerima pendidikan yang berbeda, untuk memiliki profesi yang berbeda, dan untuk berhubungan dengan lingkungan sosial yang berbeda. Dengan demikian, Allah mengizinkan kita memiliki konsepsi atau standar yang berbeda sesuai dengan kehidupan kita. Karena itu, kebutuhan hidup setiap orang itu berbeda.
Contohnya, seseorang mungkin tinggal di kota dan yang lain di desa. Keduanya mungkin telah beroleh selamat dan mempunyai Kristus sebagai hayat mereka, tetapi karena masing-masing dilahirkan dalam keluarga yang berbeda, pekerjaan dan lingkungan mereka berbeda. Karena itu, standar hidup mereka berbeda. Saudara yang tinggal di kota mengenakan jas, hal ini tidak berlebihan; tetapi bagi yang tinggal di desa, mengenakan jas yang sama akan berlebihan. Di mata saudara yang adalah pedagang di kota, jas itu mungkin sopan dan sederhana, tetapi jas yang sama akan sangat mewah bagi petani Kristen yang tinggal di desa.
Demikian juga, seorang manajer dan pegawai kebersihan suatu perusahaan, atau seorang profesor dan tukang kebun suatu perguruan tinggi, semuanya mungkin beroleh selamat dan mengasihi Tuhan, tetapi konsepsi mengenai kebutuhan hidup mereka tidaklah sama. Karena fakta kehidupan dan lingkungan mereka berbeda, maka opini dan perasaan mereka juga berbeda. Itulah sebabnya Alkitab tidak memberikan standar seragam atau standar tetap untuk kebutuhan kaum beriman. Walaupun 1 Timotius 2:9 melarang mengenakan pakaian yang mahal-mahal, itu adalah masalah prinsip, bukan peraturan yang rinci dan kaku. Barang mahal atau tidak itu tergantung pada lingkungan orang yang bersangkutan.
Berbagai standar hidup ini merupakan kedaulatan Tuhan. Dalam gereja, Allah tidak menuntut agar orang-orang dari golongan yang berbeda bertingkah laku sama. Beberapa waktu yang lalu, di Shantung, Diina, ada sekelompok orang Kristen menjadi ekstrem karena mereka kekurangan terang ini. Mereka mulai bersidang dan menetapkan peraturan tertentu. Mereka mengatakan bahwa tidak seorang pun boleh menghadiri sidang dengan memakai sepatu kulit, sernua harus mengenakan sepatu yang terbuat dari kain. Selain itu, yang pria diharuskan mencukur rambutnya dan yang wanita harus mengenakan rok; bila tidak, mereka tidak diizinkan menghadiri sidang. Kita tahu bahwa berbuat begitu bukanlah apa yang Allah inginkan dari anak-anak-Nya; itu ekstrem.
Karena itu, standar kebutuhan hidup kita harus ditentukan oleh diri kita sendiri melalui doa dan mencari kehendak Allah. Kita tidak dapat mengukur standar kita menurut orang lain atau menuntut orang lain untuk menyetujui pandangan dan perasaan kita. Selain itu, penanggulangan kita di hadapan Allah juga harus sesuai dengan standar hidup kita sehari-hari di hadapan Allah. Kita tidak boleh berlebihan atau kurang. Ada orang menanggulangi kebutuhan hidup mereka, hal-hal yang tidak menduduki mereka, seakan-akan hal-hal itu duniawi, tindakan demikian itu ekstrem. Di bagian utara China saya pernah bertemu dengan seorang pengkhotbah, ia cukup pintar, juga mengasihi Tuhan, sering bersaksi bagi-Nya. Tetapi, ia menanggulangi dunia secara ekstrem. Sebagai contoh, ia berkeringat selama berkotbah tetapi menolak untuk menggunakan sapu tangan, menganggap hal itu adalah dari dunia. Sebaliknya, ia menggunakan lengan bajunya untuk menghapus keringat.itu dari dahinya. Ia tidur di lantai karena ia tidak memiliki kedamaian tidur di atas ranjang. Pada saat bangun pagi, ia pergi ke tepi pantai untuk membasuh dirinya, karena ia tidak memiliki kedamalan untuk membasuh diri di dalam rumah. Penanggulangan seperti itu benar-benar ekstrem. Karena ia tidak makan dan tidur dengan cukup, tubuhnya melemah dan ia mati muda pada umur lima puluhan! Ini sungguh disayangkan.
Kita harus menyadari bahwa Allah tetap menghendaki kita untuk hidup seperti orang normal di bumi. Itulah sebabnya kita memiliki beberapa kebutuhan hidup tertentu. Ketika Adam berada di Taman Eden, Allah memberikan kepadanya pohon-pohon yang menyejukkan mata. Melalui hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa keindahan dan kesenangan diperlukan bagi kehidupan manusia. Jika penampilan kita jorok dan rumah kita tidak rapi, itu membuktikan bahwa kita tidak rohani. Pertanyaannya adalah apakah halhal itu menduduki Anda? Jika hal-hal itu menduduki tempat di dalam Anda dan menguasai Anda sehingga Anda tidak dapat melepaskannya, tidak diragukan lagi itulah dunia Anda, dan Anda harus menanggulanginya.
Walaupun semua hal yang berlebihan itu menyusun dunia, tidak berarti bahwa semua kebutuhan pokok kita tidak dapat menjadi dunia. Jika kebutuhan hidup tertentu sangat mengikat dan menghalangi kita melakukan kehendak Allah atau didapatkan seluruhnya oleh Allah, maka kita diduduki oleh kebutuhan itu. Kebutuhan itu menjadi dunia dan perlu ditanggulangi. Contohnya, makanan dan pakaian, keduanya diperlukan bagi kehidupan kita, tetapi jika hal-hal itu menduduki kita dan menggantikan Allah, hal-hal itu menjadi dunia, perlu ditanggulangi.
Sebenarnya, ketika seorang beriman menuntut Tuhan, ia jarang diduduki dan dijerat oleh hal-hal yang melebihi kebutuhan hidupnya seharl-hari. Sebaliknya, dia biasanya diduduki dan dijerat oleh hal-hal yang dibutuhkan untuk hidup. Karena itu, di bumi, ketika Tuhan memanggil orangorang untuk mengikuti Dia, Ia tidak menyuruh mereka meninggalkan hal-hal yang berlebihan, tetapi menekankan bahwa mereka harus meninggalkan keterlibatan-keterlibatan dalam kehidupan sehari-harinya, seperti orang tua, istri, anak-anak, tanah, rumah, dan lain-lain. Jika kebutuhan-kebutuhan ini menguasai manusia, maka kebutuhan-kebutuhan itu mengambil tempat Tuhan di dalam diri manusia. Tentu saja Tuhan Yesus tidak menyuruh kita untuk meninggalkan tanggung jawab kita, tetapi Ia menginginkan kita untuk terlepas dari keterlibatan manusia, perkara, dan benda. Itulah sebabnya, dalam Surat-surat Kiriman, sekali lagi Tuhan mengajar kita melalui rasul-rasul bahwa kita harus menghormati orang tua kita, memperlakukan istri kita dengan pantas, dan memperhatikan kerabat kita, dan lain-lain.
Tidak diragukan lagi, penelianan dalain penanggulangan dunia adalah menanggulangi manusia, perkara, dan benda yang menduduki kita. Selama hal-hal ini menduduki kita, entah kebutuhan pokok atau hal-hal yang berlebihan, semuanya tetap menyusun dunia dan harus menjadi sasaran penanggulangan kita. Kebutuhan sehari-hari kita mungkin menduduki kita mungkin juga tidak, tetapi semua yang berlebihan pasti menduduki kita.
Kesimpulannya, sasaran penanggulangan kita terhadap dunia bukanlah manusia, perkara, dan benda tertentu. Apa yang harus kita lakukan adalah meyakinkan apakah halhal itu menduduki kita dan mengambil tempat Allah di dalam kita. Ada kemungkinan kebutuhan-kebutuhan tertentu yang berkenaan dengan manusia, perkara, dan benda tertentu dapat menduduki seseorang tetapi tidak menduduki yang lain. Karena itu, dari sudut pandang manusia, sukar untuk menentukan apa yang dunia dan apa yang bukan. Tidak ada batasan dan standar yang pasti.
Sekarang, kita melihat dari pandangan Allah apakah sasaran penanggulangan terhadap dunia. Dari sudut pandang ilahi, ada peraturan pengukuran tertentu mengenai dunia. Peraturan ini adalah diri Allah sendiri. Sebagaimana kita mengukur dosa dengan hukum Allah, kita mengukur dunia dengan diri Allah. Standar penanggulangan dunia berdasar pada Allah. Jika Allah tidak hadir, kita tidak dapat merasakan apakah dunia itu. Allah dan dunia berlawanan selama-lamanya. Di mana ada dunia, di sana tidak ada Allah; di mana ada Allah, di sana tidak ada dunia.
Karena itu, dengan mengambil Allah sebagai standar, kita dapat mendefinisikan dunia adalah semua manusia, perkara, dan benda yang tidak cocok dengan Allah, yang menggantikan Allah di dalam kita, yang menghalangi kehendak Allah dilaksanakan melalui kita, atau yang mencegah pengendalian penuh Allah atas diri kita. Semua manusia, perkara, dan benda yang menduduki kita digolongkan sebagai "tidak kudus". Karena itu, menanggulangi dunia adalah menanggulangi hal-hal yang "tidak kudus".
"Tidak kudus" adalah lawan dari "kudus". Kudus berarti dipisahkan dan dibedakan dari yang lain. Di seluruh alam semesta, hanya diri Allah sendiri yang terpisah dan berbeda dengan yang lain; karena itu, hanya Dia yang kudus. Demikian juga, kalau seorang manusia, atau suatu perkara, atau suatu benda dipisahkan untuk Allah dan kepada Allah, Alkitab juga menyebutnya kudus, dipisahkan kepada kekudusan. Sebagai contoh, dalam Matius 23:17 dan 19, Tuhan Yesus menunjukkan kepada klta bahwa emas, jika digunakan untuk bait dan persembahan, ketika diletakkan di atas mezbah, menjadi kudus. Semua emas di dunia ini adalah untuk kepentingan manusia dan bersifat umum; tetapi, jika satu bagian diplsahkan dan diletakkan di bait demi kepentingan Allah, ia dikuduskan. Sekali lagi, jika seekor lembu atau domba ada di antara kawanan, mereka adalah untuk kepentingan manusia dan bersifat umum. Tetapi ketika dipilih dan diletakkan di atas mezbah, mereka menjadi kurban persembahan untuk Allah, dipisahkan agar menjadi kudus. Ini mutlak merupakan perkara apakah mereka dipisahkan dan menjadi milik Allah. Sebelum mereka dipisahkan, mereka umum; setelah mereka dipisahkan, mereka menjadi kudus. Singkatnya, kekudusan berarti semua yang berkenaan dengan Allah, semua yang berasal dari Allah, semua yang diseralikan kepada Allah, dan untuk Allah! Semua yang lain tidak kudus, umum. Sasaran-sasaran yang tidak kudus ini harus ditanggulangi saat kita melakukan penanggulangan terhadap dunia.
Sebenarnya, apakah yang berkenaan dengan Allah? Apakah yang merupakan milik Allah, kepada Allah, dan untuk Allah? Diri Allah sendiri dan semua yang ada di dalam, Dia adalah milik-Nya. Ketika Allah dan semua yang ada di dalam Dia masuk ke dalam, kita, kita langsung menjadi mihk-Nya, dan menjadikan semua milik kita menjadi milik-Nya secara tidak langsung.
Walaupun istri dan anak-anak seorang beriman belum beroleh selamat, mereka dikuduskan, karena mereka secara langsung adalah miliknya dan secara tak langsung adalah milik Allah (1 Kor. 7:14). Sang suami adalah milik Allah secara langsung, tetapi istri dan anaknya yang belum beroleh selamat adalah milik Allah secara tidak langsung karena hubungan mereka dengan sang suami. Jika tidak demikian, maka suami Kristen, ketika menanggulangi hal-hal yang tidak kudus dari dunia harus menanggulangi keluarganya yang belum beroleh selamat - ini tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab.
Apakah maksudnya (diserahkan) kepada Allah? Ruang lingkup (diserahkan) kepada Allah lebih kecil daripada ruang lingkup milik Allah. Sebagai contoh, rumah saya adalah milik saya, tetapi rumah itu belum tentu (diserahkan) kepada saya untuk berada di bawah pengaturan saya. Demikian juga, bagi kita yang telah beroleh selamat, semua yang kita punya adalah milik Allah tetapi belum tentu kepada Allah. Sampai kita mempersembahkan diri kepada Allah baru semua itu akan kepada Allah.
Apakah artinya untuk Allah? Sekah lagi, ruang lingkup ini lebih kecil daripada ruang lingkup kepada Allah. "Untuk Allah" berarti untuk digunakan oleh Allah. Kita yang kepada Allah belum tentu digunakan sepenuhnya oleh Allah. Mungkin, kita adalah milik Allah seratus persen, tetapi hanya empat puluh persen kepada Allah, dan hanya lima persen benar-benar digunakan oleh Allah. Ketika kita mencapal tingkat digunakan oleh Allah sepenuhnya, maka pada saat itu kita benar-benar menjadi kudus.
Dari pembahasan di atas kita tahu bahwa semua yang berkenaan dengan Allah, semua yang adalah milik Allah, sernua yang kepada Allah, dan sernua yang untuk Allah adalah kudus. Semua yang lainnya, tidak kudus. Semua yang tidak kudus adalah sasaran penanggulangan terhadap dunia. Standar untuk mengukur mana yang dunia adalah diri Allah sendiri. Semua yang tidak cocok dan tidak sesuai dengan Allah dan semua yang tidak sesuai dengan ukuran Allah adalah duniawi dan tidak kudus. Karena itu, semua manusia, perkara, dan benda yang berkaitan dengan diri kita, lingkungan kita, keluarga kita, pekerjaan kita, dan karir kita harus diuji di hadapan Allah dengan mengikuti standar berikut : Apakah hal ini berkaitan dengan Allah, apakah ini milik Allah, apakah ini kepada Allah, dan apakah ini bagi Allah? Apa pun yang tidak sesuai dengan Allah dan tidak sesuai dengan ukuran Allah, harus ditanggulangi. Sebagai contoh, walaupun istri dan anak-anak yang belum beroleh selamat secara tidak langsung telah dikuduskan kepada Allah melalui saudara yang beriman, ia harus dengan segera membawa mereka kepada keselamatan. Setelah mereka beroleh selamat, ia harus membantu mereka mempersembahkan diri kepada Allah sehingga mereka dapat kepada Allah dan digunakan oleh Allah. Ini juga termasuk di dalam penanggulangan hal-hal yang tidak kudus.
Kesimpulannya, sasaran penanggulangan kita terhadap dunia mencakup semua hal yang tidak berkenaan dengan Allah, bukan milik Allah, bukan kepada Allah, dan bukan bagi Allah. Itu mencakup semua hal yang merampas kedudukan Allah di dalam kita, baik manusla, perkara, dan benda yang berlebihan. Semua yang tidak kudus dan duniawi perlu ditanggulangi.
C. Dasar Penanggulangan Dunia
Dasar menanggulangi dunia sama dengan dasar menanggulangi dosa, yaitu berdasar pada perasaan hayat yang didapatkan melalui persekutuan dengan Allah. Allah tidak pernah menyuruh seseorang untuk memisahkan dirinya endiri sementara waktu dari semua yang tidak kudus dan dari semua hal yang menduduki dirinya. Allah ingin manuia menanggulangi hal-hal yang ia rasakan tidak kudus dan menduduki. Praktisnya, mungkin ada seratus hal yang tidak kudus di dalam, kita, tetapi yang kita sadari saat bersekutu dengan Tuhan hanya sepuluh perkara. Karena itu, Allah menganggap kita bertanggung jawab hanya atas sepuluh perkara ini. Untuk sementara waktu, kita tidak bertanggung jawab atas sembilan puluh perkara lainnya. Sampai kita telah mencapai tingkat persekutuan dalam hayat yang lebih tinggi, baru kita merasakan perkara-perkara yang sisa itu dan menanggulanginya.
Karena itu, dasar menanggulangi dunia sama dengan menanggulangi dosa. Kita harus menaruh perhatian kepada tiga prinsip, berikut :
1. Kita harus menanggulangi dunia berdasar pada perasaan batin yang didapat dalam. persekutuan. Penanggulangan tidak boleh melampaui perasaan batin kita.
2. Kita harus secara bertahap memperluas wilayah persekutuan kita, supaya perasaan batin kita menyentuh semua aspek kehidupan kita. Dengan demikian kita akan menanggulangi dunia di segala aspek.
3. Kita harus secara bertahap memperdalam persekutuan kita supaya perasaan batin kita terhadap dunia diperdalam; sehingga kita dapat menanggulangi lebih tuntas.
Di samping ketiga prinsip ini, ada dua faktor yang cangat mempengaruhi perasaan batin kita terhadap dunia : kasih kita terhadap Tuhan dan pertumbuhan rohani kita dolam hayat. Kita telah mengatakan bahwa Allah adalah standar penanggulangan kita terhadap dunia. Jika kita menjauhi Allah, kita tidak akan merasakan keduniawian kita. Tetapi begitu kita mendekati Allah, kita akan menemukan banyak perkara duniawi pada diri kita. Hanya orang yang mengasihi Allah yang ingin datang mendekati Allah. Karena itu, jika kita ingin menanggulangi dunia, pertama-tama kita harus mengasihi Allah. Semakin kita mengasihi Allah, kita semakin peka terhadap dunia, dan dunia semakin banyak disingkapkan di dalam kita. Begitu hal itu disingkapkan, harus segera dibuang. Penyingkapan adalah penerangan. Ketika kasih kita terhadap Allah menyebabkan kita bertemu dengan Allah, yang adalah terang, ia menerangi dan menyingkapkan dunia. Kapan kala terang ini muncul, ia menyinari dunia di dalam kita. Karena itu, dalam menanggulangi dunia, tidak ada hukum, tetapi Allah itulah standar dan ukuran kita. Sejauh mana kita menanggulangi dunia tergantung pada sejauh mana kasih kita terhadap Allah.
Perasaan batin kita terhadap dunia juga tergantung pada pertumbuhan rohani kita. Semakin kita maju dalam hayat rohani dan pengetahuan akan Allah, kita akan semakin dalam mengenal dunia. Pengetahuan akan dunia ini adalah perasaan batin yang kita miliki terhadap dunia dan menjadi dasar penanggulangan kita terhadap dunia. Tingkat pertumbuhan roham kita selalu seimbang dengan tingkat penanggulangan kita terhadap dunia. Hayat orang yang baru beroleh selamat itu belum matang, dan pengenalannya terhadap Allah terbatas. Akibatnya, perasaan batinnya terhadap dunia dan penanggulangannya terhadap dunia masih dangkal. Sebaliknya, seorang yang hayatnya matang dan pengetahuannya terhadap Allah meningkat, memiliki perasaan yang lebih dalam terhadap dunia. Karenanya, penanggulangannya terhadap dunia lebih serius. Langit itu sangat luas dan tinggi. Tetapi, seberapa luas dan tingginya langit itu bagi kita tergantung pada penglihatan kita. Jika penglihatan kita sesempit lubang sumur, maka langit yang kita lihat tidak akan lebih lebar daripada lubang sumur. Demikian juga, di dalam kita ada banyak dunia, tetapi ukuran penanggulangan kita terhadap dunia tergantung pada perasaan batin kita terhadap dunia, tergantung pada pengenalan kita terhadap Allah, dan tergantung pada tingkat pertumbuhan rohani kita. Meskipun penanggulangan dunia akan menyebabkan kita bertumbuh secara rohani, tetapi jika kita ingin menanggulanginya sampai tuntas sehingga Allah dapat memiliki tempat yang penuh di dalam kita, kita harus meminta Dia untuk menarik (memikat) kita sehingga kita lebih mengasihi Dia dan lebih menuntut pertumbuhan rohani kita, sehingga kita. dapat menjadi lebih matang di dalam hayat.
D. Batas Penanggulangan Dunia
Batas penanggulangan kita terhadap dunia. adalah "hidup dari damai sejahtera" (Rm. 8:6). Setiap kali kita menanggulangi dunia yang kita sadari, kita menanggulanginya sampai kita mempunyai damai sejahtera dan hayat di dalam kita. Karena penanggulangan ini berdasar pada peramman hayat yang kita peroleh melalui persekutuan, maka penanggulangan-penanggulangan itu adalah pengalaman hayat. Menanggulangi dunia menyebabkan kita mengalami hayat dlan merasakan kesegaran, terang, kepuasan, kekuatan, sukacita, dan damai sejahtera hayat. Dengan kata lain, kita harus menanggulangi dunia sampai kita memiliki hayat dan damai sejahtera.
E. Pelaksanaan Menanggulangi Dunia
Jika kita ingin menanggulangi dunia, kita harus menaruh perhatian pada satu hal - yaitu menutup pikiran kita terhadap dunia.
Ketika kita mulai belajar pelajaran ini, dosa dan dunia sering muncul dalam pikiran kita : yaitu kita sering mempunyal pikiran untuk berdosa atau untuk mengasihi dunia. Pada saat seperti ini, kewajiban kita adalah menutup pikiran kita dan menolak pikiran-pikiran semacam itu.
Tentu saja, sangat sukar untuk menutup pikiran kita terhadap pikiran dosa, karena dosa tinggal di dalam kita. Sebelum kita terangkat, kita tidak akan terlepas dari masalah ini. Karena itu, bahkan orang Kristen yang matang dan kawakan juga tetap dicobai oleh pikiran dosa.
Masalah dunia adalah sesuatu yang bersifat luaran. Alkitab mengatakan bahwa dosa tinggal di dalam kita, tetapi Alkitab tidak pernah menyebutkan bahwa dunia tinggal di dalam kita. Karena dunia bersifat luaran, maka mudah untuk menutup pikiran terhadap dunia. Ketika membicarakan penanggulangan dunia, 1 Yohanes 2 membicarakan kepada kaum saleh muda. Jadi, masalah ini tidak memerlukan banyak pengalaman; hal ini dapat dan harus dilaksanakan ketika kita mulai mengikuti Tuhan. Sebaliknya, jika seorang beriman terus-menerus diganggu oleh dunia dan tidak dapat menutup pikiran-pikiran duniawi, itu membuktikan bahwa ia masih muda dan kecil.
Kesimpulannya, ketika kita berjerih lelah untuk menanggulangi dunia, kita harus bertekad dan bergumul untuk menutup semua pikiran mengenai dunia. Kita tidak hanya harus menutup pintu, tetapi juga harus memberinya palang dan bahkan membuat pintu itu menjadi tembok. Dengan demikian, kita dapat menyelesaikan masalah dunia secara tuntas. Untuk hal ini, kita tidak perlu menunggu sampai Tuhan menarik kita dengan kasih-Nya atau sampai anugerah-Nya menunjang kita. Kita juga harus berinisiatif menanggulangi masalah ini. Jika demikian, pikiran-pikiran duniawi tidak akan mengusik lagi.