MENANGGULANGI DOSA
Setelah kita melihat perihal persembahan diri, sekarang kita akan melanjutkan melihat perihal penanggulangan. Penanggulangan. ini mengacu kepada taatnya kita kepada pimpinan Roh Kudus untuk menyingkirkan semua kesulitan yang menghalangi pertumbuhan hayat. Seberapa banyak kita ditanggulangi, sebanyak itulah hayat Allah bertumbuh di dalam kita. Seberapa banyak hayat Allah bertumbuh di dalam kita, sebanyak itulah penanggulangan yang mengiringinya. Keduanya tidak dapat dipisahkan; itu adalah dua aspek dari satu perkara. Karena itu, penanggulangan merupakan hal yang amat sangat penting dalam pengalaman hayat kita. Kita dapat mengatakan bahwa penanggulangan merupakan satu bagian utama dalam pengalaman hayat.
Mengapa kita menyinggung masalah penanggulangan segera setelah persembahan diri? Karena penanggulangan merupakan akibat yang wajar setelah mempersembahkan diri. Pada saat kita mempersembahkan diri kepada Allah agar Dia dapat memakai kita, Allah harus membasuh kita, menanggulangi kita, dan menyingkirkan semua masalah kita sehingga kita cocok untuk dipakai oleh-Nya. Misalnya, jika kita ingin memakai sebuah gelas, mula-mula kita menghendaki gelas itu dicuci. Setelah gelas itu benar-benar bersih, barulah kita bisa memakainya. Sebelum kita mempersembahkan diri, atau ketika kita meninggalkan kedudukan mempersembahkan diri, kita tidak begitu merasa bahwa kita perlu ditanggulangi. Namun, begitu kita mempersembahkan diri, atau ketika kita kembali kepada kedudukan mempersembahkan diri, dengan segera. kita menemukan bahwa di dalam kita terdapat banyak kesulitan yang menghalangi Allah untuk memakai kita. Karena itu, jika kita ingin mencapai tujuan persembahan diri kita, semua kesulitan itu perlu. ditanggulangi satu per satu. Setelah kita demikian membersihkan dan memurnikan diri, kita akan menjadi sebuah bejana untuk maksud yang mulia, dipandang layak untuk dipakai tuannya (2 Tim. 2:21). Karena itu, setelah kita mempersembahkan diri, kita harus segera menanggulangi diri kita.
Ketika kita baru beroleh selamat, dalam hal menyelesaikan perkara-perkara lampau, tentu saja ada banyak unsur yang harus ditanggulangi, tetapi penanggulangan-penanggulangan mi bersifat awal dan dangkal. Penanggulangan yang tuntas dan mendalam baru bisa ada setelah mempersembahkan diri. Telah kita katakan, dalam keadaan normal, begitu seseorang diselamatkan, ia akan melakukan penanggulangan dengan baik. Penanggulangan yang baik akan menghasilkan persembahan diri yang baik. Tetapi, setelah kita mempersembabkan diri, kita menemukan masih ada banyak perkara yang harus ditanggulangi, maka kita menanggulanginya dengan lebih tuntas. Jadi, persembahan diri yang baik menghasilkan penanggulangan yang baik. Semakin hebat suatu persembahan diri, penanggulangan pun semakin serlus; semakin serius suatu persembahan diri, penanggulangan pun semakin tuntas. Sampai kita ditanggulangi dengan tuntas hingga di dalam kita tidak ada lagi kesulitan-kesulitan, barulah kita bisa mutlak dipakai oleh Allah, dan tujuan persembahan diri akan sepenuhnya tercapai.
Di antara kesulitan-kesulitan atas diri kita yang perlu ditanggulangi, dosa adalah yang paling kasar, paling najis, dan paling mencolok. Karena itu, setelah mempersembahkan diri, hal pertama yang perlu ditanggulangi adalah dosa. Menanggulangi dosa adalah pelajaran pertama dalam pengalaman penanggulangan kita.
I. DASAR ALKITAB
Ayat-ayat Alkitab di bawah ini memberikan dasar Alkitab tentang penanggulangan dosa :
Matius 5:23-26 - "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadainu : Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutagmu sampai lunas." Di sini, "berdamai" mengacu kepada penanggulangan hubungan kita dengan orang lain.
Dua Korintus 7:1 - "Saudara-saudaraku yang terkasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah." Di sini, "menyucikan" juga mengacu kepada penanggulangan.
Satu Yohanes 1:9 - "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Di sini "mengaku" juga adalah penanggulangan.
Amsal 28:13, "Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangn." Di sini "mengakui dan meninggalkan" juga membicarakan penanggulangan.
Dari ayat-ayat Alkitab di atas, kita dapat melihat bagaimana seharusnya kita menanggulangi dosa : terhadap manusia, kita harus berdamai; terhadap Allah, kita harus mengakui; dan terhadap dosa, kita harus meninggalkan. Pemberesan terhadap dosa sedemikian inilah yang kita maksudkan dengan menanggulangi dosa.
II. SASARAN PENANGGULANGAN DOSA
Sasaran penanggulangan dosa adalah dosa itu sendiri. Dosa ada dua : sifat dosa yang ada di dalam dan perbuatan dosa yang ada di luar. Sifat dosa ada di dalam kita, berbentuk tunggal; perbuatan dosa ada di luar kita, berbentuk jamak. Bentuk tunggal dosa adalah hayat Iblis di dalam kita, dan kita tidak mempunyai cara untuk menanggulanginya - semakin kita menanggulanginya, ia semakin hidup. Penanggulangan dosa yang kita bicarakan di sini adalah khusus mengacu kepada penanggulangan kita terhadap dosa-dosa luaran yang kita lakukan, yakni dosa-dosa dalam perbuatan-perbuatan kita.
Apakah dosa dalam perbuatan kita? Satu Yohanes 5:17 mengatakan, "Semua kejahatan adalah dosa." Satu Yohanes 3:4 mengatakan, "Dosa ialah pelanggaran hukum Allah." Kedua ayat ini menunjukkan bahwa semua perbuatan kita yang jahat dan melanggar hukum Allah adalah dosa. Sangat sulit untuk membedakan kejahatan dengan pelanggaran hukum Allah. Semua pelanggaran hukum Allah adalah kejahatan, dan semua kejahatan adalah pelanggaran hukum Allah. Karena itu, semua perbuatan kejahatan dan pelanggaran hukum Allah adalah dosa-dosa dalam perbuatan, semua itu adalah sasaran penanggulangan kita.
Roma 2:14-15 mengatakan bahwa bangsa-bangsa kafir yang tidak memiliki hukum Taurat, meskipun mereka tidak memiliki hukum Taurat, namun di dalam diri mereka ada suara hati, inilah hati nurani - hati nurani ini adalah hukum Taurat mereka, - yang akan mempersaksikan apakah perbuatan mereka adalah dosa atau tidak. Semua perbuatan yang benar, yang sesuai dengan hukum akan dibenarkan oleh hati nurani; semua perbuatan yang tidak benar, yang tidak sesuai dengan hukum, akan dihakimi oleh hati nurani. Karena itu, semua perbuatan yang berlawanan dengan hati nurani kita adalah perbuatan dosa dan sasaran penanggulangan kita.
Sasaran penanggulangan dosa adalah perbuatan dosa di luar; namun perbuatan dosa di luar ini mempunyai dua aspek : catatan dosa dan fakta perbuatan dosa. Catatan dosa adalah berkas-berkas dosa di depan hukum Allah yang kita miliki akibat perbuatan-perbuatan jahat dan pelanggaran hukum Allah yang menyalahi hukum adil Allah. Kelak Allah akan mengadili kita menurut catatan ini. Fakta perbuatan dosa adalah perbuatan dosa yang menyusun catatan dosa. Perbuatan-perbuatan dosa kita selalu merugikan kemuliaan Allah, juga secara sengaja maupun tidak sengaja selalu menyakiti orang lain. Misalnya, kita mencuri, ini adalah perbuatan dosa. Dengan berbuat demikian, kita bukan hanya mempermalukan nama Allah, tetapi juga merugikan orang lain. Hal ini menimbulkan fakta perbuatan dosa. Pada saat yang sama, ditinjau dari pihak hukum Taurat Allah, kita telah melanggar hukum Allah, dan di depan hukum ini timbullah satu catatan dosa. Karena itu, setiap kali kita melakukan satu dosa, kita segera mempunyai fakta perbuatan dosa yang bukan hanya berdosa kepada Allah, tetapi sering kali juga berdosa kepada manusia. Pada saat yang sama, kita mempunyai catatan dosa di depan Allah.
Karena perbuatan dosa mempunyai dua aspek ini, maka sasaran penanggulangan dosa kita juga mempunyal dua aspek. Pertama adalah catatan dosa kita di depan Allah, yang lain adalah fakta perbuatan dosa kita. Di satu pihak, kita perlu menanggulangi catatan dosa kita di depan Allah, dan di pihak lain, kita perlu menanggulangi fakta perbuatan dosa kita.
III. DASAR PENANGGUILANGAN DOSA
Meskipun sasaran penanggulangan dosa kita meliputi semua dosa yang telah kita lakukan, tetapi, dalam pelaksanaannya, Allah tidak menghendaki kita menanggulangi semua dosa sekaligus, melainkan menanggulangi dosa-dosa yang kita raeakan atau sadari saat kita bersekutu dengan Dia. Bukan berarti kita harus sekaligus menanggulangi semua dosa yang telah kita lakukan, tetapi hanya yang kita sadari saat bersekutu dengan Allah, itulah yang kita tanggulangi. Karena itu, dasar penanggulangan dosa kita adalah perasaan atau kesadaran yang kita mihki saat bersekutu dengan Allah.
Kita membaca mengenai hal ini dalam Matius 5:23 dan 1 Yohanes 1:7. Matius 5:23 memberi tahu kita bahwa ketika kita mempersembahkan persembahan di atas mezbah dan kita teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudara kita terhadap kita, maka kita harus pergi berdamai dahulu dengannya. Mempersembahkan persembahan adalah untuk bersekutu dengan Allah. Karena itu, ini berarti ketika kita bersekutu dengan Allah dan teringat akan adanya persehsihan antara kita dengan orang lain, atau sebaliknya, kita harus segera berusaha menyelesaikan keadaan itu, agar persekutuan kita dengan Allah tidak terpengaruh atau terganggu. Satu Yohanes 1:7 menunjukkan bahwa jika kita mempunyai persekutuan dengan Allah, kita dapat nampak dosa-dosa kita dalam terang-Nya; lalu sesuai dengan apa yang kita nampak dalam terang-Nya, kita mengakuinya kepada Allah dan menanggulanginya di depan Allah untuk mendapatkan pengampunan dan pembasuhan Allah. Matius 5 membicarakan masalah kita dengan orang lain; 1 Yohanes 1 membicarakan masalah kita dengan Allah. Yang satu adalah diingatkan oleh mezbah, yang lain adalah nampak dalam terang. Keduanya mengacu kepada perasaan atau kesadaran kita ketika bersekutu dengan Allah. Berdasarkan kesadaran inilah kita menanggulangi di hadapan manusia dan Allah. Karena itu, dasar penanggulangan dosa adalah perasaan atau kesadaran kita saat bersekutu dengan Allah.
Penanggulangan kita terhadap dosa hanya berdasarkan pada perasaan kita saat bersekutu dengan Allah, bukan pada semua fakta dosa yang telah kita lakukan. Karena itu, ruang hngkup dasar penanggulangan lebih kecil daripada ruang lingkup sasaran penanggulangan. Misalnya, kita telah melakukan seratus kasus dosa, tetapi ketika kita datang kepada Allah dan bersekutu dengan Dia, kita hanya teringat, hanya nampak sepuluh dosa, kita harus menanggulangi kesepuluh dosa yang kita ingat itu. Jika kita hanya menyadari sepuluh persen, kita menanggulangi sepuluh persen; jika kita menyadari dua puluh persen, kita menanggulangi dua puluh persen. Dengan kata lain, kita hanya menanggulangi sejumlah dosa yang kita ingat. Banyaknya dosa yang kita sadari adalah dosa-dosa yang harus kita tanggulangi. Inilah prinsip "teringat" seperti yang tercantum dalam Matius 5, dan inilah prinsip kita dalam menanggulangi dosa. Kita dapat membiarkan dosa-dosa yang sementara ini tidak kita sadari, sampai suatu waktu, ketika kita bersekutu dengan Allah dan menyadarinya, baru kita menanggulanginya. Jadi, sesungguhnya dapat dikatakan bahwa menanggulangi dosa bukanlah peraturan hukum Taurat, melainkan tuntutan persekutuan.
Mengapa kita boleh membiarkan dosa-dosa yang sementara ini tidak kita sadari? Karena dosa-dosa yang tidak kita sadari itu tidak mempengaruhi persekutuan kita dengan Allah. Ketika seseorang melakukan suatu tindakan yang tidak benar; orang lain tahu akan kesalahannya itu, tetapi la sendiri mungkin tidak menyadarinya, karena itu hati nuraninya masih tidak tertuduh, ia masih dapat berdoa dan bersekutu dengan Tuhan, dan ia masih dapat melayani Allah serta bersaksi bagi Allah seperti biasanya; kehidupan dan pelayanan rohaninya tetap tidak terpengaruh. Tetapi, begitu ia menyadari dosa itu dan tidak membereskannya, ia segera memiliki hati nurani yang tertuduh; persekutuannya dengan Tuhan terhalang, kehidupan dan pelayanan rohaninya menjadi tidak normal. Menurut Matius 5, jika seseorang teringat akan sesuatu yang harus ditanggulangi tetapi mengabaikannya, persekutuannya dengan Allah segera terputus. Ia harus cepat-cepat menanggulanginya dengan tuntas; setelah itu, barulah ia dapat mempunyai persekutuan lagi dengan Allah. Satu Yohanes 1:7 mencantumkan fakta yang sama. Jika seseorang nampak dosanya dalam terang persekutuan dan tidak segera menanggulanginya, maka persekutuannya akan terhalang. Jadi, jika kita tidak nampak dosa-dosa yang telah kita lakukan, kita tidak perlu menanggulanginya. Tetapi, jika kita nampak, kita harus segera menanggulanginya; jika tidak, hati nurani kita akan menuduh kita, iman kita akan kandas, dan semua perkara roham akan bocor (1 Tim. 1:19).
Karena itu, ketika membantu orang lain menanggulangi dosa, kita tidak menyuruh mereka menanggulangi dosa-dosa yang tidak mereka sadari, tetapi hanya dosa-dosa yang telah mereka sadari. Ketika seseorang sadar akan dosanya namun mengabaikan atau tidak mau menanggulanginya, barulah kita dapat membantu dan memimpinnya untuk menanggulanginya.
Demikian pula halnya ketika kita memeriksa pengalaman kita dalam menanggulangi dosa. Kita tidak menanyakan berapa banyak dosa yang telah kita lakukan dan yang belum kita tanggulangi, melainkan berapa banyak dosa yang telah kita nampak namun belum kita tanggulangi. Kita dapat membiarkan dosa-dosa yang sementara ini tidak kita sadari, tetapi yang kita sadari harus kita tanggulangi dengan segera. Banyak saudara saudari yang hingga hari ini belum taat sepenuhnya terhadap perasaan yang mereka miliki pada saat bersekutu dengan Allah. Sebagai contoh, ada orang mungkin telah melakukan seratus perbuatan tidak benar dan pada saat bersekutu dengan Tuhan, ia nampak dua puluh di antaranya, tetapi yang benar-benar ia tanggulangi mungkin hanya lima. Karena itu, timbul satu masalah dalam persekutuannya dengan Tuhan, rohnya tidak bisa kuat, dan doanya tidak bisa hebas. Keadaannya di hadapan Tuhan mengalami kerugian yang besar.
Jadi, di sini kita nampak bahwa perasaan yang diperoleh melalui persekutuan, yang akan menjadi dasar penanggulangan dosa, tidaklah mutlak sama, tetapi berbeda-beda menurut tingkat kedalaman persekutuan yang dimiliki seseorang dengan Tuhan. Perbuatan tidak benar yang sama, di mata seseorang mungkin adalah dosa, sedangkan di mata orang lain, hal itu bukan dosa. Ini karena tingkat persekutuan orang yang satu lebih dalam daripada yang lain; maka perasaan yang diperolehnya melalui persekutuan lebih tajam daripada orang lain. Misalnya, perihal berbohong. Ada orang mungkin berbohong secara terang-terangan, dan semua orang mengetahui bahwa itu dosa. Orang lain lagi mungkin berbohong melalui menceritakan suatu fakta, dan orang awam tidak merasa bahwa itu dosa. Akan tetapi, bagi orang yang memiliki persekutuan yang dalam dengan Tuhan, tahu bahwa hal itu juga berbohong; ini pun harus ditanggulangi.
Misalnya lagi, Saudara A datang ke kamar Saudara B. Karena melihat saudara A datang, saudara B dengan cepat-cepat membereskan tempat tidurnya. Kemudian saudara B menanggulangi hal ini di depan saudara A dan berkata, "Saudara, ketika aku melihat Anda masuk ke kamarku, aku cepat-cepat membereskan tempat tidurku; ini adalah pura-pura." Dengan membereskan tempat tidurnya secara itu, ia merasa bahwa ia berpura-pura; karena itu ia telah berdosa dan segera menanggulanginya. Namun ada orang mungkin belum mencapai perasaan itu, malah menganggap tindakannya itu justru suatu tindakan sopan santun dan seharusnya. Ini dikarenakan perbedaan tingkat persekutuan, maka perasaan di dalam juga berbeda.
Sekalipun pada diri orang yang sama, perasaan persekutuannya pada waktu yang berbeda juga tidak sama, mengikuti tingkat dan kedalaman persekutuannya. Kalau seseorang mengatakan kepadanya mengenai dosa tertentu dua tahun yang lalu, ia mungkin tidak akan mengakuinya, tetapi persekutuannya selama dua tahun terakhir ini lebih mendalam, dan ia menjadi lebih peka. Ia tidak lagi menunggu orang lain menegur dia; di dalam dirinya ia tahu bahwa itu dosa, dan ia merasa bahwa itu perlu ditanggulangi.
Jadi, penanggulangan dosa adalah berdasar pada perasaan yang kita miliki pada saat kita bersekutu dengan Tuhan, dan perasaan yang kita miliki pada saat bersekutu dengan Tuhan adalah berdasar pada kedalaman persekutuan. Jika tingkat persekutuan kita dalam, perasaan kita akan banyak dan peka. Sebaliknya, jika tingkat persekutuan kita dangkal, perasaan kita akan sedikit dan tumpul. Sama seperti udara dalam suatu ruangan, yang sekilas terlihat cukup bersih dan bebas debu. Sebenarnya, cahayanya yang kurang terang. Penglihatan kita tidak cukup memadai, karena itu kita tidak nampak debunya. Namun, begitu cahaya matahari menyoroti ruangan itu, di bawah cahaya yang cukup terang, kita segera sadar bahwa banyak partikel debu di udara dalam ruangan tersebut. Demikian juga, atas diri kita terdapat banyak hal yang tidak benar dan tidak sesuai hukum; di antaranya ada dosa-dosa yang lebih kasar dan berat, yang dengan mudah dikenali, tetapi juga banyak dosa yang lebih halus dan yang kecil, yang tidak begitu mudah untuk disadari. Perlu menunggu sampal persekutuan kita dalam hayat diperdalam, baru kita bisa menyadarinya dan menanggulanginya. Karena itu, kita selamanya tidak boleh mengukur orang lain dengan tolok ukur perasaan kita sendiri, kita juga tidak boleh menerima perasaan orang lain sebagai tolok ukur untuk mengukur diri sendiri. Setiap orang harus belajar menanggulangi dosa hanya menurut perasaannya sendiri pada saat dia bersekutu dengan Tuhan.
Selain itu, kita harus jelas, sekalipun kita telah menanggulangi dosa-dosa yang kita sadari, hal itu tidak berarti bahwa seluruh dosa kita telah ditanggulangi, karena masih ada fakta-fakta dosa yang tidak kita sadari. Karena itu, jlka kita ingin dengan tuntas menanggulangi dosa kita, kita harus memperkuat persekutuan kita dengan Allah. Begitu persekutuan kita dengan Allah diperkuat, perasaan kita terhadap dosa akan makin peka, dan penanggulangan kita baru bisa lebih tuntas.
Bagaimana kita menguatkan persekutuan kita? Pertama, kita harus memperluas ruang lingkup persekutuan kita. Tingkat perasaan kita adalah tingkat persekutuan kita. Dalam persekutuan, kita membentangkan semua perkara di hadapan Tuhan. Demikian, kita akan memiliki perasaan atas setiap perkara itu, dan karenanya kita dapat menanggulangi perkara-perkara itu. Selain itu, ketika kita menanggulangi dosa yang kita sadari, persekutuan kita dengan sendirinya akan meningkat; begitu persekutuan meningkat, makin banyak lagi dosa yang akan tersingkap, dan kita akan meningkatkan penanggulangan kita. Semakin banyak kita menanggulangi dosa dan semakin meningkat persekutuan kita, maka wilayah perasaan kita menjadi semakin luas, dan penanggulangan kita pun semakin bertambah. Demikian, penanggulangan kita akan meliputi berbagai aspek.
Kedua, kita harus memperdalam tingkat persekutuan kita. Begitu ruang lingkup persekutuan kita meluas, kita bisa menanggulangi semua dosa. Namun penanggulangan ini mungkin masih belum cukup tuntas. Itulah sebabnya persekutuan kita dengan Tuhan perlu diperdalam. Begitu persekutuan diperdalam, maka perasaan kita juga akan diperdalam, sehingga kita akan merasa bahwa penanggulangan kita yang dahulu tidak cukup tuntas, dan kita perlu menanggulanginya lagi. Begitu menanggulangi, persekutuan akan lebih dalam lagi; begitu mengalami persekutuan yang lebih dalam, kita akan kembali melakukan penanggulangan. Dengan demikian bukan hanya semua dosa yang perlu ditanggulangi bisa kita tanggulangi, bahkan dosa-dosa itu ditanggulangi dengan tuntas.
IV. BATAS PENANGGULANGAN DOSA
Batas penanggulangan dosa sama seperti penanggulangan perkara-perkara lampau, yaitu "hidup (hayat) dan damai sejahtera". Ketika kita menanggulangi dosa, kita harus melakukannya sampai kita memiliki hayat dan damai sejahtera di dalam. Jika kita menanggulangi dosa mengikuti perasaan dalam batin kita, di dalam batin kita akan terasa puas, kuat, segar, lincah; juga akan ada sukacita, perhentian, lega, nyaman, dan aman. Roh kita akan menjadi kuat dan hidup, dan persekutuan kita dengan Tuhan akan menjadi bebas, tanpa halangan. Doa-doa kita akan bebas dan penuh kuasa, tutur kata kita akan lantang (mantap) dan penuh kekuatan. Semua ini adalah keadaan hayat dan damai sejahtera. Inilah batas penanggulangan dosa, juga hasil penanggulangan dosa. Apa yang kita katakan di depan mengenal menanggulangi dosa secara tuntas adalah kita menanggulangi dosa sampai tingkat hayat dan damai sejahtera sedemikian.
V. PELAKSANA.AN PENANGGULANGAN DOSA
Sebelumnya kita telah mengatakan bahwa ada dua aspek yang berkaitan dengan perkara menanggulangi dosa : pertama adalah catatan dosa kita di hadapan Allah; kedua adalah fakta perbuatan dosa. Karena itu, ketika kita melaksanakan penanggulangan dosa, harus mencakup kedua aspek ini. Pertama, catatan dosa harus dihapuskan, dan kedua, harus menanggulangi fakta perbuatan dosa.
Penghapusan catatan dosa kita di hadapan Allah adalah berdasarkan penebusan Tuhan di atas salib. Tuhan kita menanggung hukuman keadilan Allah bagi kita. Darah-Nya memuaskan tuntutan hukum Allah bagi kita, karena itu, semua catatan dosa kita di hadapan Allah telah dihapuskan. Tetapi, jika menghendaki fakta obyektif im menjadi pengalaman subyektif kita, kita masih perlu menerapkannya. Mengenal penerapan ini, kita akan membahasnya menjadi dua tahap : sebelum kita diselamatkan dan sesudah kita diselamatkan.
Kisah Para Rasul 10:43 mengatakan, "siapa saja yang percaya kepada-Nya, akan mendapat pengampunan dosa melalui nama-Nya." Ini adalah perkataan rasul Paulus ketika memberitakan Inji1 kepada orang-orang yang belum percaya. Ia memberi tahu mereka bahwa semua dosa yang mereka lakukan sebelum diselamatkan akan diampuni asal mereka mau percaya. Jadi, penghapusan catatan dosa kita sebelum kita diselamatkan tergantung pada percayanya kita, tergantung pada kita menerapkannya melalui percaya.
Satu Yohanes 1:9 mengatakan, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia (Allah) ... mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Kata-kata ini ditulis oleh rasul untuk mereka yang telah diselamatkan, memberi tahu kita bahwa terhadap semua dosa yang kita laktikan setelah kita beroleh selamat, begitu kita nampak dosa-dosa itu di bawah terang-Nya, kita harus mengakuinya di hadapan Allah; demikian kita akan diampuni dan dibasuh bersih. Karena itu, setelah kita diselamatkan, penghapusan catatan dosa kita tergantung pada pengakuan dosa kita. Di sini penerapannya ialah melalui pengakuan dosa. Jika kita tidak mengaku dosa, Allah tidak akan mengampuni, tidak akan membasuh. Pada saat kita mengaku dosa, kita mendapat pengampunan dan pembasuhan. Jika kita mengaku dosa saat kita masih di bumi, kita akan mendapat pengampunan saat masih di bumi. Jika kita tidak mengaku dosa saat kita masih di bumi, kita masih tetap harus mengaku dosa dalam Kerajaan yang akan datang, baru kemudian mendapatkan pengampunan. Pengampunan ini disebut pengampunan dalam Kerajaan. Pendek kata, semua dosa yang kita lakukan setelah kita beroleh selamat akan mendapatkan pengampunan karena kita mengakuinya. Pengakuan ini adalah penanggulangan kita di hadapan Allah.
Bagaimana seharusnya menanggulangi fakta perbuatan dosa? Jika bersalah kepada Allah, harus menanggulanginya di hadapan Allah dan memohon pengampunan-Nya. Jika bersalah kepada manusia, harus menanggulanginya di hadapan manusia melalui meminta maaf kepada manusia. Jika perbuatan dosa terhadap manusia hanya menyangkut perkara moral, hanya perlu mengakui kesalahan dan minta maaf di hadapan manusia; jika perbuatan dosa itu juga menyangkut kerugian keuangan dan keuntungan, maka masih harus membayar sejumlah kerugian itu, yakni melakukan ganti rugi. Tindakan minta maaf dan ganti rugi ini diterapkan bukan hanya terhadap dosa-dosa yang dilakukan setelah beroleh selamat, tetapi juga terhadap setiap dosa yang dilakukan sebelum beroleh selamat, menanggulanginya satu per satu di hadapan manusia menurut perasaan dalam batin. Penanggulangan dosa di hadapan manusia adalah bagian utama dari penanggulangan dosa, karena itu kita harus memperhatikan pelaksanaannya.
Ketika kita menanggulangi dosa di hadapan manusia, ada empat prinsip dasar yang harus kita ingat dan pegang.
Prinsip pertama adalah menyingkirkan semua ketidaknyamanan di antara orang lain dengan kita. Setiap perbuatan dosa kita, jika diketahui orang lain, entah itu mengakibatkan kerugian bagi orang lain atau tidak, pasti menimbulkan keadaan tidak nyaman di antara kita dengan orang lain. Sebagai contoh, tanpa alasan kita memaki seseorang. Di satu pihak, kita memiliki catatan dosa di hadapan Allah; di pihak lain, kita telah meninggalkan kesan buruk pada orang yang kita maki dan juga pada orang lain yang hadir saat itu. Dengan demikian, sulit bagi kita semua untuk hidup dengan rukun seperti sebelumnya. Karena itu, ketika kita menerima terang dan menyadari dosa ini, di satu pihak, Idta perlu mengakuinya di hadapan Allah dan memohon pengampunan-Nya, di pihak lain, kita perlu pergi ke orang-orang yang bersangkutan (orang yang telah kita maki dan orang lain yang hadir saat itu), meminta maaf dan menanggulangi apa yang telah kita katakan. Dengan melakukan ini, kesan buruk yang telah kita tinggalkan pada mereka akan tersingkirkan, dan kita dapat hidup bersama lagi seperti dulu. Jadi, prinsip pertama dalam menanggulangi dosa adalah menyingkirkan semua ketidaknyamanan antara orang lain dengan kita.
Karena itu, di bawah prinsip ini, penanggulangan ini juga meliputi pemberian maaf dan permintaan maaf kita. Entah kita memaafkan orang lain atau meminta maaf, tujuannya adalah untuk menyingkirkan semua kesan buruk dan ketidaknyamanan antara orang lain dengan kita, sehingga dalam alam semesta ini kita dapat hidup dengan damai dan harmonis bersama Allah dan manusia.
Prinsip kedua dalam menanggulangi dosa ialah memiliki hati nurani yang bersih, tanpa cela. Penyingkiran ketidaknyamanan berhubungan dengan manusia; memiliki hati nurani yang bersih, tanpa cela, berhubungan dengan diri sendiri. Setiap dosa yang telah kita lakukan tidak hanya membuat orang lain mencela kita, tetapi juga mendatangkan tuduhan di hati nurani kita. Hal ini tidak hanya menyebabkan orang lain mempunyai kesan buruk terhadap kita, tetapi juga akan menyebabkan hati nurani kita mempunyai perasaan bersalah. Karena itu, penanggulangan dosa kita tidak hanya untuk menyingkirkan kesan buruk yang timbul pada diri orang lain, tetapi juga untuk menyingkirkan perasaan bersalah dalam hati nurani kita, agar hati nurani kita menjadi bersih tanpa cela.
Prinsip ketiga dalam menanggulangi dosa ialah mempersaksikan keselamatan Allah. Setiap orang yang benarbenar telah menerima keselamatan Allah, karena sorotan terang hayat Allah, tentu memiliki perasaan yang peka terhadap dosa, sehingga Ia senantiasa menanggulanginya. Jika seseorang bersedia menanggung kerugian, tidak menghiraukan mukanya, dengan sukarela dan rendah hati menanggulangi dosa, ini merupakan kesaksian yang kuat bahwa keselamatan Allah telah menimpa dirinya. Jika ia menanggulangi dosa secara terus-menerus, hal ini lebih-lebih membuktikan bahwa anugerah (kasih karunia) Allah terus-menerus bekerja di dalam dirinya. Karena itu, setiap penanggulangan dosa yang sejati adalah hasil dari anugerah Allah yang bekerja di dalam dirinya dan merupakan kesaksian anugerah Allah yang kuat.
Prinsip keempat dalam menanggulangi dosa ialah mendatangkan faedah bagi orang lain. Setiap kali kita menanggulangi dosa, bukan hanya untuk menyingkirkan ketidaknyamanan di antara kita dengan orang lain, membuat hati nurani menjadi bersih tanpa cela, dan mempersaksikan keselamatan Allah, tetapi juga untuk mendatangkan faedah bagi orang lain. Ketika kita menanggulangi dosa, kita tidak boleh menyebabkan kerugian bagi orang lain atau menyulitkan orang lain. Hasil dari penanggulangan dosa kita adalah damai sejahtera dalam diri kita dan juga damai sejahtera dalam diri orang lain. Dengan demikian kita mendatangkan faedah bagi orang lain, rohani maupun materi, sehingga mereka terbina.
Keempat prinsip dalam menanggulangi dosa seperti yang kita bahas di atas adalah butir-butir yang harus kita perhatian saat melakukan penanggulangan. Tidak peduli dosa apa yang kita tanggulangi dan bagaimana kita menanggulanginya, kita harus selalu memperhatikan keempat prinsip ini dan bertanya : Apakah penanggulangan ini akan menyingkirkan ketidaknyamanan di antara kita dengan orang lain? Apakah ini membuat hati nurani kita menjadi bersih tanpa cela? Apakah ini membuat kita dapat mempersaksikan keselamatan Allah, memuliakan Allah? Dan apakah dapat mendatangkan faedah bagi orang lain? Jika jawabannya bisa memenuhi keempat prinsip di atas, kita boleh dengan berani melanjutkan penanggulangan. Tetapi, jika ada satu jawaban yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip di atas, kita harus berhatl-hati, jangan sampai musuh mengambil kesempatan atas penanggulangan kita dan memakainya untuk mendatangkan hasil yang berlawanan. Agar penanggulangan dosa kita dapat terlaksana dengan tepat dan benar sehingga Allah dimuliakan, kita mendapatkan anugerah, orang lain mendapatkan faedah, sekarang kita akan melihat beberapa butir teknis yang sesuai dengan keempat prinsip di atas.
Pertama, sasaran penanggulangan. Kita bersalah kepada siapa, kepada orang itulah kita menanggulanginya. Jika kita hanya berdosa kepada Allah, kita menanggulanginya hanya kepada Allah. Jika kita berdosa kepada Allah dan manusia, kita menanggulanginya kepada Allah dan juga kepada manusia. Berapa banyak orang yang kita salahi, kepada sebanyak orang itulah kita menanggulangi; tidak perlu menanggulangi dengan mereka yang tidak kita salahi. Mengenai prinsip penyingkiran ketidaknyamanan, kita harus datang kepada orang-orang yang telah kita salahi, yang memiliki kesan buruk terhadap kita, dan menanggulangi dosa agar ketidaknyamanan di antara mereka dengan kita dapat disingkirkan. Terhadap orang-orang yang tidak pernah kita salahi, hubungan kita dengan mereka sejak mula sudah harmonis, jika kepada mereka kita juga menanggulanginya, itu akan memberi mereka kesan buruk terhadap kita, dan dengan demikian melanggar prinsip pertama penanggulangan dosa.
Jika kita mengaku dosa kepada orang yang tidak pernah kita salahi atau kepada orang yang tidak tahu mengenai dosa kita, kita tidak saja memberi mereka kesan buruk mengenai diri kita, bahkan bisa memancing gosip yang dapat menimbulkan lebih banyak kerugian kepada orang-orang yang pernah kita salahi. Dulu, ada orang yang menanggulangi dosa tidak dengan hati-hati. la mengakui dosanya di muka umum, hal itu malah mengakibatkan orang yang telah disalahinya sangat dirugikan baik kepribadian maupun nama, sedemikian rupa sehingga suami dan istri bercerai, dan saudara-saudara saling membenci, terjadilah kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Karena itu, ketika kita menanggulangi dosa, kita harus mengambil ruang lingkup dosa sebagai ruang lingkup penanggulangan. Seberapa besar ruang lingkup perbuatan dosa, sebesar itulah ruang lingkup penanggulangan dosa; demikianlah baru bisa terjamah, mendatangkan damai sejahtera bagi diri sendiri dan tidak merugikan orang lain.
Kedua, lingkungan penanggulangan. Di dalam lingkungan apa berdosa, di dalam hngkungan itulah menanggulangi. Melakukan dosa secara terbuka, harus menanggulangi secara terbuka; melakukan dosa secara tersembunyi, harus menanggulangi secara tersembunyi. Dosa yang dilakukan secara pribadi tidak perlu ditanggulangi di depan umum. Dosa yang dilakukan di belakang orang (tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan), tidak perlu ditanggulangi di depan orang itu; cukup jika menanggulanginya secara diam-diam. Jika tidak, kita akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan dengan demikian melanggar prinsip penyingkiran ketidaknyamanan.
Sebagai contoh, andaikata ada orang yang tidak jujur perihal keuangan di sebuah perusahaan tanpa sepengetahuan pimpinannya. Orang ini tidak perlu mengumumkan kesalahannya di depan umum; cukuplah dia secara diam-diam mengembalikan kepada perusahaan menurut jumlah yang seharusnya. Misalnya lagi, kita membenci seseorang tanpa sepengetahuannya, kita hanya perlu bertobat di dalam hati, jangan pergi kepadanya. Jadi, dengan tidak menanggulangi dosa ini di hadapannya, la tidak akan mengetahul apa-apa dan tidak akan ada kesan buruk mengenai diri kita. Jika kita menanggulangi dosa ini di depannya, kita mungkin akan meninggalkan bekas yang tidak menyenangkan dalam. hatinya. Tetapi, jlka kita membenci seseorang dan ia mengetahuinya, kita harus datang kepadanya dan menanggulangi dosa itu sehingga sekatan antara kita dengan dia dapat disingkirkan.
Ketiga, tanggung jawab penanggulangan. Ketika kita menanggulangi dosa, kita harus hanya menanggulangi bagian kewajiban kita saja, tidak boleh melibatkan orang lain. Sebagai contoh, saya dan seorang lainnya bersama-sama melakukan suatu dosa. Ketika saya menanggulangi dosa itu, saya harus bijaksana, hanya menanggulangi bagian yang merupakan kewajiban saya saja, tidak boleh menyingkapkan apa yang telah dilakukan orang lain sehingga bisa menjerumuskan orang lain ke dalam kesulitan. Jika tidak, penanggulangan kita tidak akan sesuai dengan prinsip yang telah kita sebutkan, yaitu mendatangkan faedah bagi orang lain.
Keempat, memberi ganti rugi. Jika dosa yang kita lakukan menyangkut perkara-perkara materi atau keuntungan orang lain, kita harus memberikan ganti rugi. Ketika kita memberi ganti rugi, kita harus memberi sesuai dengan nilai semula dan menambah sedikit untuk menutup kerugiannya. Dalam Perjarijian Lama, dalam Imamat 5, disebutkan bahwa kita harus menambah seperlima. Dalam Perjanjian Baru, kita menemukan teladan dari Zakheus (Luk. 19) yang mengembalikan empat kali hpat kepada orang yang pernah ia peras. Hal ini bukanlah hukum atau peraturan, melainkan prinsip, teladan yang menunjukkan kepada kita bahwa setiap kali kita melakukan ganti rugi, kita harus menambahkan sedikit dari nilai yang sebenarnya. Mengenai jumlah yang harus kita tambahkan, kita mungkin dipimpin oleh perastian batin kita dan kemampuan keuangan kita pada saat itu. Tetapi, kalau kita sanggup menanggungnya, kita harus nampak bahwa ganti rugi adalah mengganti sepenuhnya kerugian orang yang bersangkutan, selain itu kita juga akan memiliki damai sejahtera batiniah.
Mungkin, jumlah hutang kita kepada orang lain di luar batas kemampuan kita. Dalam kasus ini, kita harus meminta maaf kepada orang itu dan memintanya mengizinkan kita untuk membayar ketika kita memiliki dana yang cukup atau mengangsur sampai hutang itu lunas.
Tentu saja, sasaran ganti rugi kita harus kepada pemiliknya. Jika pemiliknya telah meninggal, atau jika ia telah pergi ke suatu tempat yang tidak kita ketahui, atau jika tidak ada cara untuk berhubungan dengannya dan sepertinya tidak mungkin bagi kita untuk bertemu dengannya lagi, kita dapat membayar hutang kita kepada keluarganya yang terdekat. Jika kita tidak dapat menemukan keluarganya yang terdekat, kita harus memberikannya kepada Allah (Bil. 5:7-8). Segala sesuatu berasal dari Allah dan milik Allah. Allah adalah awal segala sesuatu dan akhir segala sesuatu. Karena itu, jika pemiliknya tidak ada, kita memberikannya kepada Allah.
Praktisnya, kita memberikannya kepada Allah berarti kita memberikan kepada wakil-Nya di bumi. Wakil Allah di bumi yang pertama adalah gereja. Karena itu, kita dapat meletakkan pembayaran hutang kita ke dalam kotak persembahan gereja. Wakil Allah yang kedua adalah orangorang miskin. Amsal 19:17 mengatakan, "Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah (miskin), memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu." Semua kebutuhan manusia di bumi ini disuplai oleh Allah; karena itu, ketika kita memberikan uang kepada orang miskin, hal ini sama dengan memberi kepada Allah. Jadi, jika tidak ada gereja di tempat kita tinggal dan tidak mudah untuk mengirimkan uang itu ke gereja di tempat lain, kita dapat memberikannya kepada orang yang miskin. Pendek kata, pemilik semula adalah orang pertama yang kepadanya kita memberi ganti rugi. Jika pemiliknya tidak ada, kita dapat memberikan ganti rugi itu kepada keluarganya yang terdekat. Jika tidak ada keluarganya, kita harus memberikannya kepada gereja. Jika tidak ada gereja, kita memberikannya kepada orang miskin.
Jika kita menemukan barang milik orang lain, prinsipnya pun sama. Jika kita mengetahui pemiliknya, kita harus mengembalikan kepadanya. Jika kita tidak tahu pemiliknya, kita harus memperlakukannya dengan cara yang tepat atau memberikannya kepada orang miskin.
Kesimpulannya, tujuan penanggulangan dosa adalah agar kita dapat memiliki hati nurani yang bersih, tanpa cela, dan juga agar tekad kita dapat ditaklukkan. Setiap kali Allah menerangi kita, kita harus bersedia menanggulangi dosa kita, apa pun bentuknya, tanpa mempedulikan muka kita ataupun menghitung kerugiannya. Kalau kita telah mencapai tingkat yang demikian, kita dapat mengatakan bahwa tujuan Allah menyuruh kita menanggulangi dosa telah tercapai. Jika pada saat itu, situasi tidak memungkinkan, atau jika kita tidak mungkin menanggungbeban keuangannya, atau tidak begitu bernilai jika kita menanggulangi masalah itu, kita tidak perlu terlalu ngotot terhadap diri sendiri atau terlalu terikat kepada hurufhuruf hukum. Tidak ada salahnya jika kita tidak menanggulanginya. Akan tetapi, pada awal kita melaksanakan penanggulangan dosa, lebih baik setuntas dan seserius mungkin. Bahkan jika kita melakukannya secara berlebihan dan setelahnya pulih ke keadaan kita yang semula, itu tetap baik. Melakukan secara berlebihan ini juga membantu membuat hati nurani kita bersih dan peka, membuat tekad kita takluk dan lunak.
VI. MENANGGULANGI DOSA DAN HAYAT
Setelah kita melihat setiap butir dari masalah penanggulangan dosa ini, kita tahu bahwa masalah penanggulangan dosa ini bukanlah peraturan hukum Taurat, melainkan tuntutan dan dorongan alami dari hayat Allah di dalam kita. Jika kita hidup dalam persekutuan dan menaati tuntutan perasaan hayat ini untuk menanggulangi dosa, maka kehidupan rohani dan pelayanan kita akan menjadi kuat dan bebas, kita akan sering menerima terang untuk mengenal perkara-perkara rohani, dan hayat Allah di dalam kita akan bebas dan mencapai pertumbuhannya dengan cepat. Sebaliknya, jika keadaan rohani kita tidak normal, tidak ada terang, perasaan batiniah lemah, kacau, dan tertekan, baik yang terjadi pada orang kudus pribadi ataupun gereja korporat, kebanyakan penyebabnya adalah kurangnya penanggifiangan dosa. Inilah ukuran yang sangat tepat.
Karena menanggulangi dosa erat hubungannya dengan hayat rohani kita, maka kita harus terus-menerus mengalami pelajaran ini. Meskipun pengalaman ini bukan yang dalam, tetapi tidak ada seorang pun yang begitu rohani sehingga dapat berkata bahwa dirinya tidak perlu menanggulangi dosa. Sukar untuk lulus dari pelajaran ini. Karena itu, kita tidak seharusnya hanya bertanya kepada diri sendiri, apakah kita pernah mengalami pengalaman ini, tetapi kita juga harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sekarang masih hidup di dalam pengalaman ini. Sebagaimana kita tidak hanya perlu mencuci muka, tetapi juga perlu mencuci muka setiap hari. Jika kita telah mencuci muka kita tiga tahun yang lalu dan setelah itu belum pernah mencucinya lagi, wajah kita tentu sangat menjijikkan! Demikian juga, kecuali setiap hari kita bisa tidak berbuat dosa, kita perlu setiap hari menanggulangi dosa.
Pernah seorang saleh muda yang datang bertanya kepada seorang hamba Allah mengenai bagaimana bertumbuh di dalam hayat rohaninya. Hamba Allah itu balik bertanya kepadanya, "Sudah berapa hari Anda tidak menanggulangi dosa?" Hal ini memang benar, jika kita ingin hayat rohani kita bertumbuh, kita harus menanggulangi dosa. Pada hari kita tidak menanggulangi dosa, pada hari itu hayat rohani kita tidak bertumbuh; setiap hari menanggulangi, setiap hari hayat rohani akan bertumbuh. Ini adalah prinsip yang pasti. Semoga Allah membelaskasihi kita sehingga kita dapat maju terus.