Dasar Persekutuan Dengan Allah Dan Dasar Mendapatkan Penerangan
— Takhta Kasih Karunia dan Kerub —
Pembacaan Alkitab: Keluaran 25:10-22
Keluaran 25:22 mengatakan, “Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.” (“Tutup pendamaian” lebih tepat diterjemahkan sebagai “takhta kasih karunia”).
Di sini dengan jelas disinggung dua perkara, yang pertama adalah persekutuan, yang kedua ialah penerangan. “Di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau”, ini adalah masalah persekutuan. “Dari antara dua kerub yang di atas tabut itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel”, ini adalah masalah penerangan.
Dalam Perjanjian Lama, perkara yang paling diperhatikan Allah adalah Kemah Pertemuan-Nya, yang kemudian menjadi Bait Suci. Karena Allah mempunyai satu pengharapan yang besar, satu tujuan yang besar, yaitu akan tinggal bersama umat-Nya. Apa yang dikehendaki Allah adalah Dia dapat mendirikan kemah-Nya di tengah-tengah manusia. Dengan kata lain, perkara yang paling besar dalam rencana kekal Allah adalah Allah bisa tinggal di tengah-tengah manusia. Allah senang kalau di antara manusia dengan Allah, ada satu titik pertemuan. Sebab itu, Tuhan Yesus yang adalah Firman berinkarnasi menjadi manusia (tubuh daging), penuh dengan kasih karunia dan kebenaran, mendirikan kemah di tengah-tengah kita. (Yoh. 1:14, “diam di antara kita” terjemahan lainnya adalah “mendirikan kemah di tengah-tengah kita”). Tujuan-Nya adalah untuk tinggal di tengah-tengah kita. Imanuel menyatakan Allah tinggal di tengah-tengah manusia. Tetapi kalau hanya Tuhan Yesus sendiri, itu hanya seorang diri saja, dan ini kurang memuaskan hati Allah. Allah menghendaki melalui Roh-Nya, membangun kita supaya kita menjadi tempat kediaman-Nya di dalam Roh Kudus (Ef. 2:22).
Pusat Kemah Pertemuan dan Bait Suci adalah Tabut Perjanjian. Bila Tabut Perjanjian meninggalkan Kemah Pertemuan, Kemah Pertemuan menjadi satu barang yang ditinggalkan. Bila Tabut Perjanjian tertawan oleh musuh, tidak berada di dalam Kemah suci, Kemah Suci tidak lagi menjadi tempat tinggal Allah. Allah di atas Tabut Perjanjian tinggal bersama manusia, manusia harus bersandarkan Tabut Perjanjian baru bisa bersekutu dengan Allah. Di sini kita bukan ingin menguraikan bagaimana keseluruhan Tabut Perjanjian itu, karena itu adalah masalah yang terlalu besar; kita hanya ingin menjamah satu barang, yaitu di atas Tabut Perjanjian ada tutup pendamaian atau takhta kasih karunia; di atas tutup pendamaian ini, ada dua kerub yang dibuat dari emas murni tempaan. Di atas tutup pendamaian dan di antara dua kerub itu Allah akan bertemu dengan Musa dan berbicara dengan Musa. Kita tampak bahwa Allah bersekutu dengan manusia adalah di atas takhta kasih karunia dan di antara kedua kerub. Allah berbicara dengan manusia, manusia mendapatkan terang, juga di antara dua kerub yang berada di atas tutup pendamaian.
PERSEKUTUAN
Tutup pendamaian (takhta kasih karunia) adalah tempat Allah memberikan kasih karunia. Setiap tahun pada tanggal 10 bulan yang ketujuh adalah hari raya pendamaian. Darah kurban penebusan dosa harus dipercikkan ke atas takhta kasih karunia (Im. 16:14-15). Dengan kata lain, takhta kasih karunia merupakan tempat dosa ditebus. Semua kasih karunia Allah diberikan kepada manusia setelah ada penebusan dosa. Kalau manusia tidak mendapatkan penebusan dosa di depan Allah, maka selamanya manusia tidak bisa mendapatkan belas kasih-Nya. Di atas takhta kasih karunia yang terbuat dari emas murni, harus dipercikkan darah kurban penebusan dosa, barulah Allah bisa memberikan kasih karunia-Nya kepada manusia. Manusia selalu menganggap Allah mempunyai kuasa memberi kasih karunia, kapan saja Allah mau memberi, pasti bisa memberi; kapan Allah ingin membelaskasihani, bisa membelaskasihani. Memang, tujuan Allah adalah ingin memberikan kasih karunia, sebab itu Allah mendirikan takhta kasih karunia; tetapi kita harus tahu, kalau tidak ada hari penebusan yang diadakan setahun sekali, yang pada hari itu Imam Besar membawa darah masuk untuk dipercikkan ke atas takhta kasih karunia, dosa siapa pun tidak bisa diampuni.
Di kedua ujung takhta kasih karunia ada kerub. Kemuliaan Allah ada di atas kerub (Yeh. 9:3, Ibr. 9:5). Di atas takhta kasih karunia, Anda bertemu dengan belas kasih Allah. Di tengah-tengah kedua kerub, Anda tampak kemuliaan Allah. Dengan kata lain, pemberian kasih karunia Allah harus sepadan dengan kemuliaan-Nya. Allah tidak bisa hanya ada takhta kasih karunia, tetapi tidak ada kerub. Allah tidak bisa hanya di atas takhta kasih karunia memberikan kasih karunia dengan tidak melalui kerub. Di atas takhta kasih karunia, Allah boleh dengan kasih karunia memperlakukan kita. Allah senang memberikan kasih karunia kepada kita, tetapi Allah tidak bisa hanya berdasarkan takhta kasih karunia memperlakukan kita, Allah masih perlu berdasarkan kerub memperlakukan kita. Tetapi, karena semua orang dunia sudah berbuat dosa dan merugikan kemuliaan Allah, maka manusia tidak sepadan dengan kemuliaan Allah. Sebab itu, Allah akan menurut kemuliaan-Nya memperlakukan kita. Hasilnya, tidak ada satu pun di antara kita yang bisa mendapatkan kasih karunia Allah, kita hanya bisa menjadi orang terkutuk, tidak bisa menjadi orang yang mendapatkan belaskasihan. Sebab itu, harus ada darah penebusan dosa yang dipercikkan di atas takhta kasih karunia, barulah Allah dapat di dalam kemuliaan-Nya, dan juga di atas takhta kasih karunia memperlakukan kita.
Ini memperlihatkan kepada kita suatu perkara, yaitu persekutuan kita dengan Allah semuanya berdasarkan kesepadanan kita dengan kemuliaan Allah. Kesepadanan ini kita dapatkan dari darah. Karena ada darah, maka Allah bisa memberikan kasih karunia tanpa merugikan kemuliaan-Nya. Anak-anak Allah harus ingat, siapa yang datang ke hadapan Allah, tidak boleh merugikan kemuliaan Allah. Kalau Anda datang ke hadapan Allah, dan yang Anda bawa masuk merugikan kemuliaan Allah, Anda tidak akan bisa bersekutu dengan Allah, Anda tidak akan bisa berdiri di hadapan Allah. Semua orang yang mempunyai masalah dengan Allah, merugikan kemuliaan Allah, karena dasar persekutuan tergantung pada kemuliaan-Nya. Banyak saudara saudari sering berkata bahwa dasar persekutuan tergantung pada darah, tetapi kita harus ingat, dasar persekutuan tergantung pada darah, karena dasar persekutuan tergantung pada kemuliaan Allah. Kalau tidak ada kemuliaan Allah, tidak ada tuntutan darah. Ketika bersekutu di hadapan Allah kita memerlukan darah, ini dikarenakan Allah adalah Allah yang mulia.
Roma 3, di satu pihak memberi tahu kita bahwa manusia berdosa merugikan kemuliaan Allah, di pihak lain memperlihatkan kepada kita bahwa darah Yesus membuat kita dibenarkan. Allah adalah Allah yang mulia. Sebab itu, setiap orang yang datang kepada Allah harus ingat, bisa atau tidaknya Anda bersekutu dengan Allah, itu tergantung pada bagaimana sikap Anda terhadap kemuliaan Allah. Segala sesuatu yang tidak membuat Allah mendapatkan kemuliaan adalah dosa. Segala sesuatu yang merugikan kemuliaan Allah adalah dosa. Dosa menyebabkan kita tidak bisa bersekutu dengan Allah. Kita tidak perlu khusus berbuat dosa baru bisa kehilangan persekutuan dengan Allah, kita tidak perlu melakukan perkara dosa yang sangat besar baru kehilangan persekutuan dengan Allah; sering kali asal kita tidak secara positif memuliakan Allah maka persekutuan kita dengan Allah akan menderita kerugian. Kita harus ingat, dasar persekutuan dengan Allah tergantung pada kemuliaan Allah. Kita juga harus memperhatikan bahwa persekutuan manusia dengan Allah adalah berdasarkan kemuliaan, juga berdasarkan darah. Kemuliaan Allah menuntut adanya darah. Kalau kita tidak merugikan kemuliaan Allah, kita tidak memerlukan darah. Kita perlu darah, karena kita telah merugikan kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah adalah dasar persekutuan. Adanya darah adalah untuk menutupi kerugian kemuliaan Allah.
Sebab itu, kita harus mengetahui bahwa persekutuan akan terhalang karena ada dosa, namun hal dosa ini masih di aspek negatif, dosa masih belum menjamah masalah yang sesungguhnya. Masalah sesungguhnya adalah masalah kemuliaan Allah. Bila kita tidak memenuhi kemuliaan Allah, (atau boleh dikatakan kurang dari kemuliaan Allah, tidak mencukupi standar kemuliaan Allah), merugikan kemuliaan Allah, maka persekutuan kita ada masalah. Syukur kepada Allah, hari ini di atas takhta kasih karunia ada darah salib. Bersandarkan darah ini kita bisa menengadah kepada kemuliaan Allah, bisa hidup di dalam kemuliaan Allah. Syukur kepada Allah, penebusan-Nya menaruh kita ke suatu posisi supaya kita dengan muka yang tidak berselubung dapat melihat kemuliaan Allah, inilah yang disebut persekutuan. Persekutuan bukan hanya meluangkan waktu setengah jam atau satu jam, untuk membaca Alkitab, berdoa; persekutuan adalah aku berdasarkan darah melihat kemuliaan Allah, kemudian hidup dan semua tingkah lakuku adalah untuk kemuliaan Allah.
PENERANGAN
Sekarang kita lihat firman Allah, penerangan Allah, dengan kata lain wahyu Allah. Allah berbicara dengan Musa dari antara dua kerub yang ada di atas takhta kasih karunia. Dalam perkara persekutuan, yang Allah perhatikan adalah di atas dasar takhta kasih karunia, bersekutu dengan Musa, bertemu dengan Musa; tetapi Allah juga tidak menyuruh kita melupakan kerub, tidak menyuruh kita melupakan kemuliaan Allah. Ketika Allah menerangi, Allah berbicara di antara kedua kerub, yang Allah perhatikan adalah kemuliaan-Nya. Kalau manusia dapat di depan takhta kasih karunia bersekutu dengan Allah, maka manusia dapat dari tengah-tengah kerub mendengarkan firman Allah; bersamaan dengan ini, Allah juga tidak menyuruh kita melupakan takhta kasih karunia.
Allah dari antara dua kerub berbicara dengan Musa, Allah dengan kemuliaan-Nya memimpin anak-anak-Nya. Tempat kemuliaan Allah berada adalah tempat pimpinan Allah berada. Pimpinan Allah pada siang hari adalah tiang awan, pada malam hari adalah tiang api. Dalam tiang awan, yang manusia tampak adalah kemuliaan Allah; dalam tiang api, yang manusia tampak juga adalah kemuliaan Allah. Di mana kemuliaan Allah berada, di situ pula pimpinan Allah berada.
Allah bicara, Allah memimpin adalah berdasarkan kemuliaan-Nya. Di atas diri pribadi kita, ketika Allah bicara, saat itu kita tahu bahwa dalam perkara tersebut Allah telah dimuliakan. Kalau kita bisa dalam satu perkara tampak kemuliaan Allah, kita bisa mengetahui “sudah ada pimpinan”. Di atas diri banyak anak Allah, pimpinan dan kemuliaan telah menjadi dua perkara. Sebenarnya kemuliaan di depan Allah dan pimpinan-Nya terhadap kita adalah satu perkara, bukan dua perkara. Di mana Anda dapat menemukan kemuliaan Allah, di sanalah Anda mendapatkan satu pimpinan untuk satu perkara. Bila Anda di suatu tempat bisa tampak kemuliaan Allah, ketahuilah bahwa tempat itu adalah tempat tinggal Anda yang sepatutnya.
Allah berbicara dari tengah-tengah kerub, siapa yang tampak kemuliaan Allah, dia sudah mendengar firman Allah. Kita tidak perlu setelah tampak kemuliaan Allah, kemudian masih harus menunggu Allah berbicara. Bila kita di dalam hayat tampak kemuliaan Allah, penampakan itu menyebabkan kita mengerti lebih dalam daripada yang biasa kita ketahui. Bila Anda sungguh-sungguh tampak kemuliaan Allah, Anda pasti mengetahui, Anda pasti mengerti.
Apa yang benar, apa yang tidak benar; jalan mana yang tepat, jalan mana yang tidak tepat; apa yang mempunyai nilai rohani, apa yang tidak mempunyai nilai rohani, dapat dilihat dari apakah kemuliaan Allah ada di dalamnya atau tidak. Ada perkara mungkin sangat kecil, di pandangan manusia tidak terlalu bernilai, tetapi ketika Anda menjamahnya, Anda mengetahui bahwa Anda sedang menjamah kemuliaan Allah. Bila Anda telah menjamah kemuliaan Allah, Anda akan mengetahui bahwa Anda telah mendapatkan pimpinan Allah, tidak perlu lagi menunggu pimpinan-Nya. Ada pekerjaan, ketika Anda melakukannya, Anda merasakan nilainya sangat rendah, Anda merasakan tidak benar. Ada pekerjaan ketika Anda melakukannya, Anda tampak dapat bercahaya, dapat bersinar, Anda merasakan ada nilainya, Anda merasakan itu benar. Masalahnya tidak tergantung pada besar kecilnya perkara atau pekerjaan itu, melainkan tergantung pada apakah di dalamnya ada kemuliaan Allah atau tidak. Kalau tidak ada kemuliaan Allah, tidak bernilai. Kalau ada kemuliaan Allah, sangatlah bernilai.
Ketika Musa keluar memberitakan firman Allah, di depan Allah dia mempunyai ministri firman, dengan firman dia melayani umat Allah. Allah berbicara kepada Musa, supaya Musa menyampaikan apa yang Dia pesankan kepada bani Israel adalah dari antara kedua kerub. Sebab itu, ketika Musa berbicara untuk Allah, ia menjamah kemuliaan Allah. Demikian pula kalau kita telah menjamah kemuliaan Allah, telah tampak kemuliaan Allah, kita pun mempunyai kata-kata untuk disampaikan. Adakalanya, Anda merasa diri Anda telah berbicara dengan baik, berbicara dengan lancar, tetapi Anda merasakan sesuatu yang sangat dangkal, sangat ringan. Anda segera tampak di sini tidak ada kesaksian firman, di sini tidak ada ministri firman. Setiap hal kalau berasal dari Allah, Anda akan segera tampak bahwa itu keluar dari tengah-tengah kerub, dan Anda tahu di sini ada kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah bukan hanya merupakan sesuatu yang objektif, tetapi juga merupakan sesuatu yang bisa kita ketahui.
Sering kali dalam kehidupan sehari-hari, ketika Anda menjamah kemuliaan Allah, Anda tampak di sini ada sesuatu yang dapat memuliakan Allah, dan kemuliaan inilah yang memimpin Anda. Sering kali dalam pekerjaan Anda, Anda menjamah kemuliaan Allah, Anda tampak ada kemuliaan di atas pekerjaan itu, lalu Anda berkata, kemuliaan Allah memimpin Anda. Ketika Anda dengan firman melayani gereja, Anda menjamah kemuliaan Allah, Anda mengetahui inilah firman Allah. Setiap kali Anda mendapatkan wahyu Allah, Anda menjamah kemuliaan Allah. Ketika Anda mendengar Allah berfirman dari antara kedua kerub, saat itu tidak saja ada firman, juga ada kemuliaan. Bila hanya ada firman tanpa ada kemuliaan Allah, Anda mengetahui ini hanya doktrin. Bila ada firman dan juga ada kemuliaan, Anda mengetahui ini adalah wahyu. Ada satu hal yang sangat ajaib, kapan saja kita tampak kemuliaan Allah, meskipun mulut tidak dapat mengutarakannya, tetapi di dalam kita mengetahuinya. Kalau ada orang bertanya kepada kita, bagaimana kita tampak, mungkin kita tidak bisa mengucapkannya, tetapi hasilnya ada di atas diri kita. Pernyataan kemuliaan yang paling besar menyebabkan kita rebah di tanah. Ketika kita rebah, kita tidak mengetahui apa-apa, selain mengetahui, bahwa kita telah menjamah Allah.
Menjamah kemuliaan Allah, inilah dasar persekutuan dengan Allah dan juga dasar mendapatkan penerangan Allah. Kalau tidak ada ini, semuanya hanya merupakan doktrin, semuanya hanya merupakan imajinasi. Semoga Allah merahmati kita, sehingga kita sehari demi sehari benar-benar dapat menjamah kemuliaan Allah dan karena ini hidup di bumi.