Daftar isi Dua Belas Bakul (3) · bab 3/12

Kehidupan Mezbah dan Kemah

“Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.’ Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.”

Kejadian 12:7-8

“Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN . . . Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN.”

Kejadian 13:3-4, 18

Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan mezbah dan kemah. Mezbah ditujukan kepada Allah dan kemah ditujukan kepada dunia. Allah menghendaki agar anak-anak-Nya mempunyai mezbah di hadirat-Nya dan juga mempunyai kemah di bumi. Ada mezbah, pastilah tinggal di kemah; ada kemah, pastilah tetap datang ke mezbah. Mustahil mempunyai mezbah tanpa kemah, mustahil pula mempunyai kemah tanpa mezbah. Mezbah dan kemah saling berkaitan, mereka tidak dapat dipisahkan oleh siapa pun.

KEHIDUPAN MEZBAH

Kejadian 12:7 mengatakan, “Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.’ Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.” Di sini kita melihat bahwa “mezbah” didirikan atas dasar penampakan Allah. Kalau tidak ada penampakan Allah, maka mezbah tidak akan ada. Siapa pun tidak akan dapat mempersembahkan diri kepada Allah, kalau ia tidak mendapatkan penampakan Allah. Hanya apabila Allah menampakkan diri kepada manusia, maka manusia dapat membawa segalanya ke atas mezbah untuk dipersembahkan kepada Allah.

Konsikrasi (persembahan) tidak berasal dari anjuran manusia, bukan pula karena dorongan manusia, melainkan berasal dari Allah. Jika Allah tidak menampakkan diri, maka tidak ada seorang pun yang dapat dengan inisiatif sendiri membawa segalanya ke atas mezbah; tidak ada seorang pun yang dapat dengan inisiatif sendiri mempersembahkan diri kepada Allah. Seandainya manusia hendak mempersembahkan dirinya kepada Allah, sebenarnya berdasarkan diri sendiri, manusia tidak memiliki apa pun yang dapat dipersembahkan kepada Allah. Seperti ada orang mengatakan, “Aku ingin mempersembahkan hatiku kepada Tuhan, namun hatiku tidak mau memenuhinya.” Manusia tidak dapat datang kepada Allah. Tetapi jika pada suatu hari manusia bertemu dengan Allah, maka pertemuan itu secara otomatis akan menghasilkan tindakan persembahan. Asal Anda bertemu dengan Allah, asal Anda melihat Allah — walaupun hanya sekejap, — maka Anda bukan lagi milik Anda sendiri. Allah tidak bisa tidak mendapatkan sesuatu dari penampakan diri-Nya kepada manusia! Begitu seseorang bertemu dengan Allah, ia pasti tidak dapat hidup untuk diri sendiri lagi.

Kita harus tahu bahwa kekuatan untuk berkonsikrasi kepada Allah berasal dari penampakan diri Allah. Orang-orang yang sering membicarakan konsikrasi belum tentu merupakan orang-orang yang berkonsikrasi. Orang yang mengajarkan konsikrasi belum tentu adalah orang yang berkonsikrasi. Orang yang telah mengerti doktrin konsikrasi juga belum tentu telah mempersembahkan diri. Hanya orang yang telah melihat Allah adalah orang yang benar-benar dapat berkonsikrasi. Allah menampakkan diri kepada Abraham, dan reaksi langsungnya adalah Abraham membangun sebuah mezbah bagi Allah. Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Paulus pada jalan menuju Damsyik, dan segera Paulus bertanya, “Tuhan, apa yang harus kuperbuat?” (Kis. 22:10). Titik peralihan dalam hayat rohani kita tidak berasal dari keputusan atau niat kita untuk berbuat sesuatu bagi Allah, melainkan dikarenakan kita melihat Allah. Hasil dari perjumpaan Anda dengan Allah ialah adanya satu perubahan radikal yang membuat Anda tidak lagi meneruskan jalan Anda yang dulu. Ketika Allah tertampak olehku, aku segera bertenaga untuk mengesampingkan diri sendiri; ketika Allah tertampak olehku, maka aku tidak dapat tidak menyangkal diri sendiri. Penampakan Allah membuat Anda tidak dapat hidup lagi. Dalam penampakan Allah terkandung kekuatan yang tidak terduga dan tidak terbatas besarnya yang akan membuat seluruh jalan hidup Anda berubah. Kekuatan hidup bagi Allah dari umat kristiani tergantung pada penampakan Allah! O, bukan karena aku bertekad melayani Allah maka aku dapat melayani Allah; bukan karena aku ingin membangun mezbah, segera aku dapat membangun mezbah; semuanya harus ada penampakan Allah.

Ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham, Dia berfirman, “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Penampakan diri Allah memberi kita satu warisan yang baru. Penampakan diri Allah memperlihatkan kepada kita, hari ini apa yang Roh Kudus berikan di dalam kita adalah jaminan warisan kita kelak; bagian yang kita dapatkan hari ini di dalam Roh Kudus akan kita dapatkan secara sempurna kelak. Tatkala rencana Allah genap, kita akan dengan sempurna menerima warisan kita.

Allah menampakkan diri kepada Abraham dan Abraham mendirikan sebuah mezbah. Mezbah ini bukan untuk mempersembahkan kurban penebus dosa, melainkan mezbah untuk mempersembahkan kurban bakaran. Kurban penebus dosa adalah untuk pengampunan dosa diri sendiri; kurban bakaran adalah mempersembahkan diri sendiri kepada Allah. Mezbah ini bukan ditujukan kepada bagaimana Tuhan mati bagi kita, melainkan bagaimana kita mempersembahkan diri sendiri kepada Allah. Mezbah ini adalah mezbah seperti yang disebutkan dalam Roma 12:1, “Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati.” Kemurahan Allahlah yang menyediakan Tuhan Yesus mati bagi kita; kemurahan Allahlah yang menyediakan salib, tempat kita mati bersama Kristus; kemurahan Allahlah yang menyediakan salib yang menanggulangi Iblis; kemurahan Allahlah yang menyediakan hayat-Nya tinggal di dalam kita; dan kemurahan Allahlah yang akan membawa kita ke dalam kemuliaan. Karena kemurahan Allah yang begitu ragam dan tidak terduga inilah, maka kita perlu mempersembahkan diri sebagai kurban yang hidup kepada-Nya.

Ada satu hal yang sangat bermakna dalam persembahan kurban bakaran, yaitu jika kemampuan Anda besar, Anda boleh mempersembahkan seekor lembu; kalau tidak mampu mempersembahkan seekor lembu, Anda boleh mempersembahkan seekor kambing; kalau tidak mampu lagi, boleh mempersembahkan seekor burung tekukur atau merpati (Im. 1:3, 10, 14). Tetapi, apa pun juga yang dipersembahkan, baik itu lembu, kambing, burung tekukur, atau merpati, haruslah dipersembahkan dengan utuh. Anda tidak bisa mempersembahkan sepotong daging sapi atau sepotong daging kambing. Yang dikehendaki Allah adalah persembahan yang utuh, bukan persembahan yang separuh atau sebagian. Allah tidak menghendaki persembahan yang tidak sempurna.

Apa maksud kurban bakaran diletakkan di atas mezbah? Supaya ia dibakar sampai habis. Orang selalu mengira bahwa mempersembahkan diri kepada Allah adalah untuk melakukan ini atau mengerjakan itu bagi Allah; namun apa yang Allah inginkan bukan pekerjaan kita, melainkan diri kita dibakar habis. Allah tidak menginginkan seekor lembu atau seekor kambing, melainkan lembu atau kambing itu diletakkan di atas mezbah dan dibakar habis. Mezbah bukan berarti bekerja bagi Allah, melainkan hidup oleh Allah. Mezbah bukan berarti sibuk ini dan repot itu, melainkan hidup oleh Allah. Segala aktivitas dan pekerjaan tidak dapat menggantikan mezbah. Aku mutlak hidup oleh Allah, itulah kehidupan mezbah. Kurban persembahan dalam Perjanjian Baru adalah “mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup”, seperti yang tercantum dalam Roma 12; bukan seperti yang terdapat dalam Perjanjian Lama yang sekali dibakar sudah habis. Setiap hari kita dibakar di atas mezbah, namun tetap hidup; tetap hidup, namun juga tetap dibakar sehingga tak tersisa bagi diri sendiri. Inilah kurban persembahan dalam Perjanjian Baru.

Begitu Allah menampakkan diri kepada Abraham, Abraham segera mempersembahkan diri kepada-Nya. Jika Anda berjumpa dengan Allah, Anda pasti juga akan mutlak mempersembahkan diri. Mustahil orang yang telah melihat Allah bisa dengan dingin duduk di sana. Reaksi dari perjumpaan dengan Allah adalah mezbah; setelah mengetahui karunia Allah, pasti disusul dengan mempersembahkan diri; setelah melihat kemurahan Allah, Anda pasti menjadi satu persembahan yang hidup; setelah menerima sorotan terang Tuhan, Anda pasti akan berkata, “Tuhan, apa yang harus kuperbuat?”

Abraham belum mendengar banyak doktrin tentang konsikrasi, ia juga tidak didorong oleh orang lain untuk mempersembahkan diri; tetapi begitu Abraham melihat Allah, ia segera mendirikan sebuah mezbah bagi Allah. O, saudara saudari perkara mempersembahkan diri adalah sesuatu yang spontan. Jika Allah menampakkan diri kepada seseorang, siapa pun dia, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali hidup bagi-Nya. Ini terjadi pada diri Abraham dan juga pada diri setiap orang yang telah berjumpa dengan Allah selama 2000 tahun sejarah gereja.

KEHIDUPAN KEMAH

Hasil dari mezbah adalah membawa masuk kemah. Kejadian 12:8 mengatakan, “Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya di Betel.” Sejak saat itu, Abraham tinggal di rumah Allah — Betel; dan sejak hari itu ia memasang kemah. Ini bukan berarti Abraham tidak memiliki kemah sebelum ia dipanggil keluar, melainkan Allah tidak menyinggungnya. Sampai Abraham memiliki mezbah, barulah Firman Allah mewahyukan tentang kemah.

Apakah kemah itu? Kemah adalah sesuatu yang bisa berpindah-pindah, ia tidak menetap. Melalui mezbah Allah akan menanggulangi diri kita; dan melalui kemah Allah akan menanggulangi semua milik kita. Abraham memiliki mezbah, dan ia telah mempersembahkan semuanya kepada Allah. Lalu, apakah sejak saat itu Abraham tidak memiliki lagi bahkan sepotong pakaian pun? Tidak! Abraham masih memiliki ternak, domba, dan barang-barang lainnya; namun dia telah menjadi seorang penghuni kemah. Dengan kata lain, apa yang tersisa dari mezbah hanya dapat disimpan di dalam kemah. Di sini ada satu prinsip, yaitu segala sesuatu Anda harus diletakkan di atas mezbah, barang-barang selebihnya memang boleh Anda pakai, tetapi barang-barang itu bukanlah barang-barang Anda, melainkan barang-barang yang diletakkan di dalam kemah. Kita harus ingat, tanpa melalui mezbah, kemah tidak mungkin ada; namun barang yang diletakkan di atas mezbah belum tentu semua dibakar habis. Banyak barang, begitu diletakkan di atas mezbah segera terbakar habis; banyak barang, begitu dipersembahkan kepada Allah segera diambil oleh Allah, tidak disisakan untuk Anda. Tetapi ada juga barang yang setelah diletakkan di atas mezbah, Allah menyisakan sebagian untuk Anda pakai. Barang-barang yang tersisa yang ditinggalkan untuk Anda pakai, hanya dapat Anda simpan di dalam kemah.

Kehidupan Abraham adalah satu kehidupan mezbah. Pada suatu hari, bahkan putra tunggalnya pun dipersembahkan di atas mezbah. Tetapi apa yang Allah perbuat? Ia tidak “mengambil” Ishak. Ya, apa yang Anda persembahkan di atas mezbah, benar-benar diterima oleh Allah; Dia tidak dapat membiarkan Anda hidup untuk diri sendiri, Allah tidak dapat membiarkan Anda hidup menurut kesenangan diri sendiri, Allah tidak dapat membiarkan Anda hidup bersandarkan kekuatan diri sendiri. Mezbah menuntut segala sesuatu Anda. Namun apa yang Anda taruh di atas mezbah itu belum tentu semuanya dibakar habis oleh Allah. Banyak barang, seperti Ishak, meskipun telah Anda taruh di atas mezbah, Allah kembali memberikan itu kepada Anda. Tetapi barang-barang yang sekarang ada di dalam tangan Anda itu, tidak lagi menjadi milik Anda, Anda hanya dapat meletakkannya di dalam kemah.

Ada orang yang bertanya, “Jika aku mempersembahkan segala sesuatu kepada Allah, apakah aku harus menjual segala milikku dan menyerahkan seluruh uangku? Jika aku mempersembahkan diri kepada Allah, lalu berapa jumlah perabot yang boleh kumiliki di rumah dan berapa banyak pakaian yang boleh ada dalam lemari untuk kupakai?” Banyak orang yang merasa sulit dengan pertanyaan semacam ini. Kita harus ingat bahwa kita mempunyai dua macam kehidupan; satu kehidupan di hadapan Allah, dan lainnya kehidupan di dalam dunia. Di hadapan Allah, segala sesuatu kita harus benar-benar diletakkan di atas mezbah; tetapi untuk hidup di atas dunia, kita masih memerlukan banyak benda materi. Untuk hidup di dunia, kita masih perlu sandang, pangan, dan papan. Kita patut mempersembahkan segala sesuatu kita kepada Allah dan hanya hidup bagi-Nya; tetapi jika Allah mengatakan bahwa sesuatu itu boleh tetap tinggal, maka kita pun menyisakannya. Namun demikian, kita harus menerapkan prinsip kemah untuk perkara-perkara yang disisakan-Nya itu, sebab benda-benda itu dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan kita di bumi ini. Kalau aku tidak memerlukannya, aku boleh mengesampingkannya. Aku boleh memakai barang-barang itu, tetapi aku tidak terjamah olehnya. Barang-barang itu boleh ada di tanganku, juga boleh tidak ada; boleh ditambahkan, juga boleh dikurangi. Inilah kehidupan kemah.

Sebab itu, kita harus belajar satu pelajaran: kita tidak dapat menggunakan apa pun yang belum diletakkan di atas mezbah; apa yang telah diletakkan di atas mezbah, tidak dapat dengan kemauan diri sendiri menariknya kembali; dan apa yang dikembalikan Allah kepada kita, harus kita perlakukan menurut prinsip kemah.

MEZBAH YANG KEDUA

Kejadian 12:8 mengatakan, “Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah Barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.” Inilah mezbah Abraham yang kedua. Mezbah telah mengantar kepada kemah dan kini kemah mengantar kembali kepada mezbah. Setelah ada mezbah, semua barang bukan lagi milik Anda; barang yang tersisa setelah melalui mezbah, haruslah ditaruh di dalam kemah. Tidak lagi ada benda yang patut mencengkeram Anda, hati nurani Anda di hadapan Allah penuh damai sejahtera, dan Anda dapat dengan penuh keberanian berkata kepada Allah, “Padaku tidak ada satu pun yang tidak kuserahkan kepada-Mu.” Jika demikian, kemah kembali akan membawa Anda ke mezbah. Tetapi jika barang-barang Anda telah berakar, dan Anda tidak bisa lagi memindahkannya, tidak dapat melepaskannya, itu berarti Anda telah tercengkeram olehnya, Anda tidak akan dapat memiliki mezbah yang kedua.

Ketika Anda mempersembahkan di atas mezbah, seharusnyalah Anda telah menyerahkan segalanya kepada Allah. Allah memang akan menyisakan beberapa untuk Anda pakai, tetapi Anda tidak bisa memilih apa-apa yang akan ditaruh di dalam kemah, memilih apa-apa yang setelah diletakkan di atas mezbah akan kembali lagi kepada Anda. Segala sesuatu Anda hanya dapat diletakkan di atas mezbah. Kemudian apa yang ditinggalkan Allah haruslah Anda taruh di dalam kemah. Setiap benda yang akan ditaruh di dalam kemah, harus terlebih dulu melalui bertanya kepada Allah; jika Allah mengizinkan, barulah boleh. Tidak ada satu benda pun yang atasnya Anda boleh menentukan tinggal atau tidak. Pula, benda-benda yang ada di dalam kemah, setiap saat harus bisa kembali ke mezbah. Kapan Allah berfirman, “Benda ini tidak perlu Anda pertahankan.” Anda dapat dengan segera menyingkirkannya. Kalau Anda menggenggam erat benda itu dan berkata, “Ini kepunyaanku,” maka Anda telah kekurangan sebuah hati mezbah, kekurangan sebuah hati yang mempersembahkan. Jika demikian, Anda tidak akan memiliki mezbah yang kedua. Dan Anda tidak dapat berkata, “Ya, Allah, aku hidup adalah untuk-Mu.”

Allah menghendaki kita meletakkan segalanya di atas mezbah, kemudian kita dapat menaruh apa yang ditinggalkan-Nya untuk kita di dalam kemah. Setelah tindakan ini barulah ada mezbah kedua. Yang paling mustika adalah mezbah kedua. Karena suatu dorongan atau rangsangan, kita mudah sekali bergairah dan mempersembahkan diri. Tetapi setelah lewat tiga tahun, lima tahun, karena di dunia ini kita telah mendapatkan banyak, maka kita tidak bisa kembali ke mezbah. Kalau kehidupan kita tetap adalah kehidupan kemah, kalau kita bisa memiliki mezbah kedua, betapa mustikanya ini! O, benda material bukan masalah, masalahnya adalah bagaimana dengan persembahan Anda itu.

PEMULIHAN MEZBAH DAN KEMAH

Abraham juga pernah gagal. Dia meninggalkan mezbah dan kemah untuk turun ke Mesir. Tetapi kemudian dia memulihkan kembali. Bagaimana dia memulihkan itu? Kejadian 13:3-4 memberi tahu kepada kita, “Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abraham memanggil nama TUHAN.”

Pemulihan adalah kembali kepada mezbah dan kemah. Hari ini, apakah Anda gagal? Apakah Anda jatuh? Adakah yang telah berubah dan tawar? Adakah yang turun ke Mesir, memiliki selera sendiri, memiliki harapan sendiri, memiliki kedambaan sendiri, memiliki tuntutan sendiri? Jika ada yang mencari jalan pemulihan, kembalilah kepada mezbah dan kemah. Firman Allah memperlihatkan kepada kita bahwa pemulihan Abraham adalah kembali lagi kepada kedudukan mezbah dan kemah yang semula. Jadi pemulihan adalah kembali kepada kemah, kembali kepada mezbah.

Apa yang terjadi setelah pemulihan Abraham? Kejadian 13:18 mencatat, “Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN.” Hebron berarti persekutuan; di sanalah terdapat persekutuan yang kekal, persekutuan yang terus menerus. Setelah Abraham tinggal di Hebron, ia mendirikan lagi sebuah mezbah di sana bagi Allah. Ingatlah, kalau kita mau memiliki persekutuan dengan Allah, kita tidak boleh meninggalkan mezbah.

Kiranya Allah memberi karunia kepada kita, agar di hadapan-Nya kita melihat betapa pentingnya persembahan itu, sehingga kita memperhidupkan satu kehidupan mezbah dan kemah.