Daftar isi Dua Belas Bakul (3) · bab 1/12

Allah Memutus Perkataan Manusia

Pembacaan Alkitab :

Lukas 9:33-35; Matius 17:24-27; Kisah Para Rasul 10:44-48

Allah adalah Allah yang berbicara. Dalam Alkitab terdapat banyak perkataan yang dikatakan Allah secara langsung. Walaupun ada yang dikatakan oleh Allah secara tidak langsung, tetapi itu juga perkataan Allah, maka Alkitab menyebutnya Firman Allah. Allah tidak saja sebagai Allah yang paling pandai berbicara. Ia pun sebagai Allah yang pandai mendengarkan perkataan. Allah sering kali mendengarkan perkataan manusia.

Dalam Perjanjian Lama terdapat sejilid kitab, yaitu Kitab Ayub, yang paling banyak mencatat perkataan manusia. Dalam kitab yang terdiri dari 42 pasal itu, perkataan manusia lebih dari 30 pasal. Ayub dengan ketiga temannya berbicara seorang demi seorang. Bagaimana dengan Allah? Ia diam saja, tidak ikut berbicara. Ketika Ayub dengan ketiga temannya tak henti-hentinya berbicara, Elihu menjadi tidak sabar lagi. Ia adalah seorang yang mengenal Allah, tetapi oleh karena ketidak-sabarannya, ia akhirnya melibatkan diri untuk turut berbicara. Namun Allah tidak demikian. Setelah Elihu selesai berbicara, yaitu hingga pasal 38, barulah Allah mulai berbicara.

Kalau kita mendengar seseorang mengucapkan sepatah atau beberapa patah kata yang tidak benar, tentu kita segera menyuruhnya berdiam diri. Dengan perkataan lain, kita memutus perkataannya, karena kita tidak sudi mendengarkannya lagi. Tetapi Kitab Ayub memperlihatkan kepada kita bahwa Allah adalah Allah yang bisa mendengarkan perkataan; Ia dapat dengan sabar hati mendengarkan.

Walaupun dalam Perjanjian Baru tidak ada sejilid kitab yang mirip dengan Kitab Ayub, tetapi dalam kitab Perjanjian Baru ada satu orang yang senang bicara. Siapakah dia? Dia adalah Petrus. Petrus memang sangat pandai berbicara. Asal ada kesempatan, dia pasti berbicara. Akan tetapi, dalam Lukas 9, Matius 17, dan Kisah Para Rasul 10, kita melihat Petrus tiga kali berbicara, namun setiap kali diputus oleh Allah sebelum pembicaraannya selesai. Kali pertama, Allah Bapa yang memutus perkataannya; itu terjadi di atas gunung. Kali kedua, Tuhan Yesus yang memutus perkataannya; itu terjadi di dalam rumah. Dan yang kali ketiga, Roh Kudus yang memutus perkataannya; itu terjadi di antara orang kafir. Allah tidak membiarkan Petrus berbicara terus, Allah harus memutus perkataannya.

Pernah sekali, begitu dia mengucapkan beberapa patah kata, Allah segera memutus perkataannya; pernah sekali, ketika ia belum sempat mengucapkan perkataannya, Allah telah memutus perkataannya; dan sekali lagi, yaitu sesudah ia mengucapkan banyak perkataan, akhirnya juga diputus oleh Allah. Telah berbicara beberapa kata, diputus; belum sempat berbicara, diputus; telah berbicara cukup panjang, juga diputus. Jadi, tiga kali perkataannya diputus oleh Allah.

Jika kita membandingkan ketiga kasus ini dengan kasus yang tercantum dalam Kitab Ayub, kita akan merasa heran. Sebab dalam Kitab Ayub, Allah dapat mendengar perkataan manusia, dan Ia sudi membiarkan manusia menuturkan perkataan yang begitu panjang. Tetapi mengapa dalam Perjanjian Baru, Petrus berbicara tiga kali; setiap kali harus diputus oleh Allah? Mengapa Allah tidak membiarkan Petrus berbicara, dan mengapa Allah tidak membiarkannya berbicara sampai selesai? Tak lain karena perkataan-perkataan Petrus itu memang tidak sepatutnya diucapkan dan dilanjutkan, pun tidak bisa didengarkan. Sebab itu, harus dihentikan.

Ketiga perkataan Petrus itu sungguh tak dapat tidak diputus, sebab perkataannya itu besar sekali hubungannya dengan kekristenan. Kalau ketiga perkataannya itu dilanjutkan, kekristenan tidak akan ada. Kalau ketiga perkataannya itu diteruskan, kekristenan bisa digulingkan. Dengan memutus ketiga perkataan Petrus tersebut, Allah menunjukkan kepada kita bahwa kekristenan adalah sesuatu yang sangat istimewa. Kita harus melihat hal ini dengan pandangan Allah, bukan dengan pandangan manusia. Bila kita memandangnya dengan pandangan manusia, niscaya Allah akan datang memutus perkataan kita. Baiklah sekarang kita membahas ketiga perkataan Petrus tersebut, agar kita menjadi jelas sebab musabab Allah memutus perkataan Petrus.

DI ATAS GUNUNG PERUBAHAN

Peristiwa pertama terjadi di atas gunung perubahan. Di sana Tuhan mengekspresikan kehormatan dan kemuliaan diri-Nya sendiri, agar manusia melihat Dia adalah Kristus; Dialah Kristus yang mengenakan daging dan datang di antara manusia. Jadi, Yesus yang berasal dari Betlehem adalah “jelmaan” Kristus. Karena Dia mengenakan tubuh manusia, maka manusia tidak mengetahui bagaimana Ia sebagai Kristus. Ketika Ia di atas gunung perubahan, untuk sementara waktu Ia menanggalkan “jelmaan”-Nya, dan memperlihatkan kepada ketiga murid betapa Ia sebagai Kristus; yaitu memperlihatkan sejenak keadaan-Nya yang sebenarnya kepada mereka. Banyak yang mengenal Dia sebagai Yesus orang Nazaret, tetapi sedikit sekali yang mengenal Dia sebagai Kristus Putra Allah. Orang tidak tahu bagaimana sebenarnya Dia itu, sebab mata mereka belum tercelik. Jadi makna peristiwa di atas gunung perubahan tak lain, ialah Tuhan Yesus menanggalkan “jelmaan”-Nya, sehingga para murid beroleh wahyu baru dan mengenal siapa sebenarnya Dia.

Ketika itu, datanglah Musa dan Elia. Musa adalah pembawa hukum Taurat, sedang Elia adalah seorang nabi. Dapat dikatakan bahwa hukum Taurat dan nabi juga berada di atas gunung. Hukum Taurat dan nabi merupakan ciri khusus Perjanjian Lama, sedang ciri khusus Perjanjian Baru ialah Kristus. Hukum Taurat dan nabi merupakan bayang-bayang, yang akan berlalu; ketika wujud yang sejati datang, maka bayang-bayang itu akan sirna. Petrus melihat ada Musa dan nabi, yaitu ciri khusus Perjanjian Lama; pula ada Kristus, yaitu ciri khusus Perjanjian Baru. Karena itu Petrus berkata, “Guru, alangkah baiknya kita berada di tempat ini”. Ketika ia mengucapkan perkataan ini, Allah segera datang memutus perkataannya. Maksud Allah ialah hukum Taurat dan nabi tidak dapat dicampurbaurkan dengan Kristus. Firman Allah, “Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai zaman Yohanes; dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan” (Luk. 16:16). Ini menunjukkan kepada kita bahwa hukum Taurat dan nabi berkaitan dengan Kerajaan Allah, tetapi mereka tidak sejajar dengan Kerajaan Allah. Maksud Petrus: hukum Taurat, nabi-nabi, dan Kristus adalah sejajar; Allah memutus perkataannya, karena ia menyangka mereka sejajar. Hukum Taurat dan nabi tidaklah sejajar dengan Kristus, mereka hanya sekadar berhubungan. Setelah hukum Taurat dan nabi berakhir barulah Kristus dimulai, maka keduanya tidak dapat dipadukan dengan Kristus. Meskipun dalam Perjanjian Lama kedudukan Musa dan Elia sangat tinggi, namun mereka tidak dapat disejajarkan dengan Kristus.

Kata Petrus, “Biarlah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Maksud Petrus, memang Tuhan Yesus berada di tempat yang pertama, tetapi tempat yang kedua dan ketiga layak pula diberikan kepada hukum Taurat dan nabi. Namun menurut pandangan Allah yang di surga, itu tidak benar. Hukum Taurat dan nabi tidak ada kedudukan sedikit pun dalam kekristenan dan dalam Perjanjian Baru. Dalam kekristenan, dalam Perjanjian Baru, dalam gereja hanya ada Kristus, Tuhan saja. Maksud Petrus, satu kemah untuk Engkau (Kristus), satu kemah untuk Musa, dan satu kemah untuk Elia. Akan tetapi, suara dari surga berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia”.

Perkataan Allah di sini mengandung dua arti: Pertama, pada hari ini bukan waktunya kamu berbicara, melainkan kamu harus mendengarkan perkataan-Nya. Hari ini, bukan waktunya kamu mengatakan apa itu kekristenan, melainkan kamu harus mendengarkan. “Dengarkanlah Dia.” Allah seolah berkata, “Petrus, kamu jangan bicara, kamu tidak berkedudukan untuk berbicara, kamu harus mendengarkan saja. Kedua, kamu mengatakan, ada Kristus, ada Musa, ada Elia; tetapi Aku berkata, ’Dengarkanlah Dia.’ Bukan mendengarkan mereka, melainkan “Dia”. Petrus menyebut tiga persona itu, tetapi perkataan surga hanya menyebut satu Persona. Dalam zaman Perjanjian Baru, Allah tidak menginginkan hukum Taurat atau nabi, Ia hanya menginginkan Kristus.

Mengapa dalam zaman Perjanjian Baru Allah hanya ingin Kristus, tidak ingin hukum Taurat dan nabi? Apakah sebenarnya hukum Taurat dan nabi? Apakah pula Kristus? Baiklah sekarang kita tinjau masalah-masalah ini.

Apakah artinya hukum Taurat? Hukum Taurat ialah suatu peraturan yang memberi tahu kita mana yang ya, mana yang bukan, mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak patut dilakukan. Kalau seorang sudah mengetahui hukum Taurat, cukuplah ia menaatinya secara harfiah saja, tidak perlu mencari atau bertanya kepada Allah, tidak perlu datang ke hadapan Allah serta berkontak dengan-Nya. Pada masa Perjanjian Lama, orang tidak perlu menghampiri Allah dan berkontak dengan Allah. Asalkan seorang dapat mengamalkan hukum Taurat, yaitu melakukan apa yang seharusnya dilakukan, ia sudah layak menjadi seorang yang baik. Jadi ia tidak perlu menghampiri Allah, sudah dapat menjadi seorang yang benar.

Apakah artinya Perjanjian Baru? Perjanjian Baru justru mengesampingkan hukum Taurat dan membiarkan Kristus sendiri sebagai Tuhan. Sebagai Anak Allah, Ia telah beroleh kemuliaan, duduk di atas takhta di surga, pun telah berhuni dalam hati kita, menjadi Tuhan kita. Dalam 2 Petrus pasal 1, Petrus mengatakan bahwa ia pernah melihat kemuliaan Tuhan Yesus. Kejadian di atas gunung perubahan itu menyatakan betapa Allah telah mengaruniakan kehormatan dan kemuliaan kepada Tuhan Yesus. Sekarang soalnya: satu kemah, dua kemah, atau tiga kemah? Di atas takhta di surga hanya ada Kristus, tetapi apakah dalam hati kita juga hanya ada satu, yaitu Kristus? Ataukah masih ada Musa dan Elia juga? Allah hanya menginginkan kita menerima Kristus saja. Namun, sering kali dalam hati kita tidak saja ada Kristus, juga ada hukum Taurat dan nabi, yakni perkara-perkara lahiriah. Jika kita berkonsepsi demikian, pasti Allah akan memutusnya.

Hari ini, segala pimpinan atau petunjuk yang kita peroleh seharusnya berasal dari Kristus yang berhuni di batin kita, bukan dari peraturan atau hukum Taurat lahiriah yang mati. Kita tidak meremehkan Alkitab, tetapi mungkin saja kita menganggap Alkitab itu sebagai peraturan atau hukum Taurat. Hari ini, soalnya tidak terletak pada bagaimana perkataan-perkataan hukum Taurat yang harfiah, melainkan terletak pada perkataan Kristus yang berhuni di batin Anda. Di sinilah letak perbedaan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Kalau Perjanjian Lama mengharuskan orang memeriksa Alkitab dan memperhatikan apa yang tercantum dalam hukum Taurat; tetapi Perjanjian Baru tidak demikian. Dalam Perjanjian Baru selain Alkitab, harus pula mengetahui apa yang dikatakan Tuhan Yesus di batin Anda. Syukur kepada Allah, kekristenan tidak dibangun di atas pengetahuan manusia, melainkan di atas hal berhuninya Kristus di batin kita. Maka siapa pun juga, jika ia mau mendengarkan perkataan yang di batinnya, niscayalah ia akan menerima pimpinan Allah.

Ada orang pernah bertemu dengan seorang saudari tua yang berusia lebih dari 70 tahun. Saudari ini percaya Tuhan baru empat bulan lamanya, ia buta huruf, sama sekali tidak memiliki pengetahuan Alkitab, dan tak satu pun hukum Taurat yang dapat ia hafalkan. Akan tetapi ia memiliki pengetahuan dalam batin, sebab Kristus yang berhuni di batinnya itu dapat memberi pengetahuan kepadanya.

Manusia menyukai hukum Taurat, sebab dengan mengikuti hukum Taurat mereka tidak perlu berkontak dengan Kristus, melainkan cukup dengan memiliki aspek luar dan pengetahuan saja. Namun, dalam Perjanjian Baru, jika kita tidak senantiasa menunggu di depan pintu gerbang hikmat (Ams. 8:34, 1 Kor. 1:24) dan memandang wajah hikmat, kita tidak akan mengetahui dan tidak bisa berjalan. Maka dalam kekristenan tidak saja harus tahu bagaimana kata Alkitab, juga harus tahu bagaimana kata Kristus dalam batin Anda. Kita memiliki Kristus yang hidup di batin kita sebagai hayat dan sebagai standar moral kita. Apa yang diperkenan-Nya itulah yang benar, dan apa yang tidak diperkenan-Nya itulah yang tidak benar. Apa yang Ia katakan benar, itulah yang benar; apa yang Ia katakan tidak benar, itulah yang tidak benar. Namun ada banyak “Petrus”, yang mengira Kristus harus ditambahkan dengan hukum Taurat. Petrus mengira harus ada tiga kemah, dan satu di antaranya untuk Musa. Itulah sebabnya Allah datang memutus perkataannya. Maksud Allah ialah: Hari ini, yang penting adalah Kristus, bukan hukum Taurat.

Lalu apakah artinya nabi? Nabi adalah untuk menambal atau melengkapi kekurangan hukum Taurat. Hukum Taurat hanya menetapkan sesuatu yang mendasar, hukum Taurat tidak dapat menetapkan semua perkara. Hukum Taurat hanya dapat memberi tahu Anda, Anda boleh makan apa, tidak boleh makan apa. Seperti dalam Kitab Imamat 11, di situ tercantum mana yang halal, mana yang haram. Tetapi hukum Taurat tidak memberi tahu Anda, kalau Anda nanti malam pulang ke rumah, Anda harus makan apa. Oleh sebab itu, dalam Perjanjian Lama tidak saja ada hukum Taurat, juga ada nabi. Hukum Taurat ditujukan kepada prinsip tentang apa yang ya, dan yang bukan, sedangkan nabi ditujukan kepada rinciannya. Itulah perbedaan antara hukum Taurat dengan nabi. Hukum Taurat merupakan standar yang umum, sedang nabi merupakan penunjuk yang terperinci; yakni untuk menanggulangi masalah-masalah yang konkret dan personal. Nabi adalah oknum yang mewakili orang lain untuk mengetahui kehendak Allah.

Petrus merasa bahwa Musa dan Elia itu sangat penting, karena itu, ia tidak saja ingin membuat satu kemah untuk Musa, juga ingin membuat satu lagi untuk Elia. Petrus tidak saja memberi satu kedudukan bagi hukum Taurat, ia pun memberi satu kedudukan bagi nabi. Tetapi menurut pandangan Allah itu tidak benar. Karena dalam zaman Perjanjian Baru tidak boleh ada nabi ala Perjanjian Lama, maka Allah memutus perkataan Petrus. Apakah Perjanjian Baru? Perjanjian Baru mengatakan, “Seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN” (Yes. 11:9). “Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan!” (Ibr. 8:11). Dalam Perjanjian Baru tidak perlu ada nabi ala Perjanjian Lama.

Ada seorang saudara mohon didoakan oleh saudara lain, demikian katanya: “Semoga Allah memberi tahu Anda kehendak-Nya terhadap saya, dan kalau Anda sudah tahu, harap Anda beri tahu saya.” Permintaan yang demikian berarti, ia sama sekali menggulingkan Perjanjian Baru. Perjanjian Baru tidak saja mengesampingkan hukum Taurat, juga menyingkirkan nabi. Bukan manusia yang memberi tahu Anda mana yang ya, dan mana yang bukan, melainkan Tuhan yang di batin Anda yang memperlihatkan, mana yang ya, dan mana yang bukan.

Seperti pada suatu kali, Paulus bertekad untuk pergi ke Yerusalem, ia tidak mendengarkan perkataan beberapa orang lainnya (Kis. 21:12-14). Sebab Paulus sendiri tahu dari dalam batin akan kehendak Tuhan. Dalam memilih jalannya sendiri, setiap orang tidak dapat menuruti perkataan orang lain. Dalam gereja tidak ada nabi ala Perjanjian Lama; nabi telah berlalu, bahkan berlalu untuk selama-lamanya. Setiap orang harus menerima pimpinan Allah secara langsung dalam batinnya sendiri, tidak dapat memberikan tempat kepada hukum Taurat atau nabi sebagai pengganti Kristus. Kekristenan ialah Kristus itu sendiri yang hidup di batin kita, dan yang memberi tahu kita, mana yang ya, mana yang bukan. Kristus berhuni di batin kita, itulah kekristenan.

Kesalahan Petrus disebabkan adanya Musa dan Elia dan Kristus. Allah berkata bahwa di sini harus ada Kristus saja, Musa dan Elia harus pergi. Pada satu pihak Petrus mau Kristus, tetapi pada pihak lainnya, ia juga mau hukum Taurat dan nabi. Petrus tidak menolak Kristus, ia menerima bahkan mengutamakan Kristus, tetapi ia juga menginginkan hukum Taurat dan nabi. Saya khawatir masih banyak orang yang belum menyadari hal ini. Mereka serupa dengan Petrus, menghendaki tiga kemah; selain Kristus, masih menghendaki hukum Taurat dan nabi. Orang yang demikian perlu mendengarkan suara dari surga: “Inilah Anak-Ku, dengarkanlah Dia”. Hari ini kita hanya perlu mendengarkan Dia saja.

DI DALAM RUMAH

Tempat kedua adalah di dalam rumah. Ketika itu datanglah pemungut pajak kepada Petrus, katanya, “Apakah gurumu tidak membayar pajak dua dirham itu?” Jawab Petrus tanpa berpikir, “Memang membayar”. Petrus tidak menyangka, bahwa persoalannya bukan hanya Tuhan Yesus membayar atau tidak, bahkan Tuhan Yesus harus membayar atau tidak. (Kata “pajak” di sini, dalam bahasa aslinya adalah sebutan mata uang Yunani, sama dengan setengah syikal mata uang Yahudi. Dan “pajak” ini adalah uang pendamaian bagi nyawa) (Kel. 30:11-16, 2 Raj. 12:4, 1 Taw. 24:6, 9).

Di seluruh dunia, baik dulu maupun sekarang, jika Anda dapat menemukan satu orang di antara sekian banyak orang; orang ini bukan manusia biasa, melainkan juga Allah; itulah kepercayaan kita dan itulah kekristenan. Kita tidak saja percaya adanya Allah, bahkan percaya adanya wahyu Allah. Wahyu Allah yang terbesar ialah Firman menjadi manusia. Banyak orang percaya bahwa di surga ada satu Allah yang tak terjamah, banyak orang percaya kepada Allah yang ajaib dan misterius, yang tidak diketahui manusia. Seperti Allah orang Atena, yang disebut “Allah yang tidak dikenal” (Kis. 17:23). Itu sama sekali bukan kekristenan, bukan pula Perjanjian Baru.

Kita percaya adanya Allah, bahkan percaya bahwa Allah adalah Allah yang dapat diketahui dan dikenal; kita pun percaya bahwa Allah adalah Allah yang jelas. Ia bukan Allah yang aneh dan abstrak di surga, melainkan Allah yang dinyatakan dengan jelas di antara manusia. Bagaimana kita dapat mengenal Allah yang dapat dikenal ini? Itu disebabkan Allah telah menjelma menjadi manusia, barulah kita dapat mengenal Dia. Allah mengenakan manusia dan datang di antara manusia, itulah artinya Anak tunggal yang di pangkuan Bapa yang menyatakan Allah. Karena itu, di antara manusia yang tidak terhitung banyaknya di seluruh dunia ini, kita dapat menemukan satu orang yang dapat kita sebut sebagai Allah, pun dapat menemukan dan mengenal bahwa Yesus orang Nazaret itulah Anak Allah. Ia serupa dan secorak dengan kita, namun Ia juga tidak sama dengan kita, Ia adalah Anak Allah. Kekristenan justru dibangun di atas dasar ini.

Matius 16 memperlihatkan kepada kita bahwa Petrus mengakui Tuhan Yesus sebagai Anak Allah yang hidup, itu dikarenakan ia telah beroleh wahyu Allah. Yang diperhatikan Tuhan Yesus ialah: siapa Aku menurut kalian. Ia tidak menghiraukan orang menilai-Nya baik atau buruk, ia pun tidak menghiraukan kesan baik atau tidak terhadap-Nya. Ia hanya mementingkan satu perkara, yaitu siapakah Aku menurut kalian. Ada tidaknya kekristenan tergantung pada pengenalan Anda terhadap Yesus orang Nazaret ini. Jika masalah ini tidak dapat dipecahkan, kita tidak akan memiliki dasar sedikit pun. Kalau Tuhan Yesus hanya sebagai Elia atau Yeremia, atau salah seorang dari antara nabi-nabi, kekristenan tidak akan ada.

Tatkala Petrus mengakui Yesus adalah Anak Allah yang hidup, Tuhan segera mengatakan, “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku . . .” Di manakah gereja didirikan? Gereja didirikan di atas dasar: “Engkau adalah Anak Allah yang hidup”, yang diakui oleh Petrus itu. Tuhan berkata selanjutnya bahwa kuasa alam maut tidak akan mengalahkan gereja. Mengapa? Sebab gereja dibangun di atas batu karang ini, sebab gereja dibangun di atas “Engkau adalah Anak Allah yang hidup.” Hendaklah kita bertanya kepada diri sendiri, siapakah itu Yesus orang Nazaret? Di antara sekian banyak orang, kita tidak dapat berkata kepada Anda, “Engkau adalah Anak Allah”, kita pun tak dapat berkata kepada dia, “Engkau adalah Anak Allah yang hidup”. Tetapi, kita dapat berkata kepada Yesus orang Nazaret, “Engkau adalah Anak Allah yang hidup”. Kita merasa inilah sukacita terbesar dalam seumur hidup kita. Bila Yesus orang Nazaret hanya seorang manusia, maka kekristenan tidak ada. Seluruh masalahnya tergantung pada siapa sebenarnya Yesus orang Nazaret ini, Ia manusia atau Allah?

Ketika pemungut pajak bertanya kepada Petrus, berdasarkan diri sendiri Petrus menetapkan untuk menjawab, “Memang membayar”. Petrus menganggap Tuhan Yesus seperti orang biasa, ia telah lupa bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah. Maka begitu ia masuk ke dalam rumah, Tuhan tidak membiarkannya berbicara lagi. Kalau peristiwa di atas gunung perubahan menyangkut masalah isi kekristenan, maka di sini menyangkut masalah dasar kekristenan. Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang hidup, hal ini tidak dapat digulingkan.

Selain itu, andaikata Tuhan Yesus harus membayar pajak, hal itu seolah berkata bahwa Anak Allah juga perlu penebusan, seperti halnya dengan kita. Mengapa kita tidak memuja-musa Maria seperti yang dilakukan orang-orang Katolik? Sebab Maria sama dengan kita, ia pun perlu Juruselamat. Ketika ia hamil, ia berkata, “Rohku bergembira karena Allah Juruselamatku” (Luk. 1:47). Ia pun memerlukan seorang Juruselamat. Tetapi Tuhan Yesus tidak memerlukan Juruselamat, sebab Ia tidak berdosa. Tuhan Yesus paling rendah hati, namun Ia tidak karena merendahkan hati sedemikian rupa, sehingga mengaku diri-Nya berdosa. Seandainya Tuhan harus membayar pajak, itu berarti mengatakan bahwa Ia pun perlu penebusan dosa. Tetapi Tuhan Yesus sendiri tidak perlu penebusan. Yesus orang Nazaret adalah Anak Allah, Yesus orang Nazaret tidak berdosa. Ia tidak saja Anak Allah, bahkan Anak Allah yang kekasih. Anak Allah merupakan kedudukan-Nya, sedangkan Anak Allah yang kekasih merupakan moral-Nya. Oleh sebab itu, Tuhan Yesus tidak membiarkan Petrus berbicara terus. Tuhan Yesus itulah Mesias, Anak Allah yang hidup. Syukur kepada Allah, Ia tidak perlu membayar pajak.

Kita harus ingat bahwa dasar kekristenan tergantung pada siapakah Dia itu. Ada yang mengatakan, Dia adalah Elia, atau salah seorang dari antara nabi-nabi itu, tetapi siapakah Dia menurut Anda? Sebenarnya Ia itu manusia atau Allah? Ada seorang bertanya, “Aku harus berbuat apa baru bisa beroleh selamat?” Rasul menjawab, “Percayalah Tuhan Yesus”. Mata orang itu tidak tampak bahwa Dia adalah Juruselamat, karena itu, ia bertanya, aku harus berbuat apa? Padahal masalahnya bukan aku harus berbuat apa, melainkan Yesus itu siapa. Jika Allah menerangi Anda, Anda akan tampak bahwa Yesus orang Nazaret adalah yang diutus Allah ke dunia untuk mengekspresikan Allah; jika demikian, bereslah segala persoalannya. Ya, siapa saja yang percaya Dia adalah Allah, bereslah segala persoalannya. Asalkan mengakui Dia adalah Allah, persoalan apa pun akan beres.

Kemudian, Tuhan mengatakan lagi satu alasan yang lain. Sebab Tuhan khawatir kalau-kalau hal itu menjadi batu sandungan bagi mereka, maka Ia menyuruh Petrus mengail ikan, dan dari mulut ikan yang pertama terkail itu akan didapat uang empat dirham, untuk membayar pajak bagi Tuhan dan Petrus berdua. Tuhan Yesus ingin menerangkan bahwa pembayaran pajak itu bukan karena Ia sendiri orang asing, melainkan karena Ia tidak ingin menjadi batu sandungan bagi mereka. Walaupun Dia adalah Anak Allah, tetapi karena Dia tidak mau menjadi batu sandungan bagi orang, agar jangan orang-orang itu tidak terima, maka dibayarlah pajak itu. Di sini kita boleh menarik satu pelajaran: Anda sebenarnya berhak tidak melakukan sesuatu, tetapi Anda melakukannya; sebenarnya banyak perkara yang dapat melindungi hak pribadi Anda, tetapi Anda tidak melakukannya. Mengapa demikian? Sebab Anda khawatir akan menjadi batu sandungan bagi mereka. Berbuat demikian bukan karena takut disalahkan oleh mereka. Jika karena takut disalahkan, itu bukan prinsip yang baik; dan jika demikian, jalan kita akan menjadi terlampau lebar. Maka dalam hal ini bukan karena takut disalahkan, melainkan tidak mau menjadi batu sandungan bagi orang lain. Jadi, Tuhan membayar pajak sebenarnya adalah untuk orang lain, bukan untuk diri-Nya sendiri. Kita harus belajar melepaskan hak kita demi kebaikan orang lain.

DI RUMAH KORNELIUS

Tempat ketiga, ialah di rumah Kornelius. Petrus adalah seorang Kristen, ia pun seorang Yahudi. Orang Yahudi tidak bergaul dengan orang kafir. Sebelum Petrus tiba di Kaisarea, ia mempunyai prasangka terhadap orang kafir. Allah lalu memberinya satu visi, yaitu dari langit turun suatu benda yang berbentuk kain lebar yang di dalamnya terdapat berbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar, dan burung. Kemudian ada suara berkata kepada Petrus, “Bangunlah hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!” Dalam visi itu Tuhan menunjukkan kepada Petrus bahwa segala binatang yang ada di dalam kain itu bersih dan halal. Tuhan seolah berkata kepadanya, sebagai seorang Kristen di dalam Kristus, engkau tidak seharusnya membeda-bedakan orang Yahudi dengan orang kafir. Sebab Petrus menyangka bahwa hanya orang Yahudi yang dapat menerima kasih karunia Allah, sedangkan orang kafir seolah sukar menerima kasih karunia Allah. Oleh sebab itu Allah memperlihatkan kepadanya, tidak peduli orang Yahudi atau orang kafir, semuanya layak menerima kasih karunia Allah. Demikianlah Allah menyuruhnya pergi ke rumah Kornelius untuk memberitakan Injil kepada seisi keluarga Kornelius.

Tetapi saat itu dalam benaknya masih terdapat sebuah dinding penyekat yang sulit digusur. Sebagai orang Yahudi, ia selalu mengira memiliki hak istimewa, dan ia tidak percaya kalau orang kafir boleh menerima kasih karunia bersama orang Yahudi. Meskipun prinsip dan visinya telah ia tampak, mulutnya pun telah mengatakan betapa Allah tidak pilih kasih, namun dalam pelaksanaannya ia masih mengalami kesulitan. Oleh sebab itu, tatkala Petrus ingin melanjutkan pembicaraannya, Roh Kudus sudah mendahului turun ke atas orang-orang kafir itu, dan mereka semua berbicara dengan bahasa lidah. Jadi, di sini Allah memutus perkataan Petrus dengan bahasa lidah; dengan demikian barulah Petrus menyadari bahwa Roh Kudus juga diturunkan ke atas orang kafir seperti halnya ke atas orang Yahudi. Petrus lalu berkata, “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” (Kis. 10:47). Ya, Petrus tidak dapat mencegah mereka untuk menjadi orang Kristen.

Di atas telah kita lihat dua masalah: Di atas gunung perubahan, masalah isi kekristenan; di dalam rumah, masalah dasar kekristenan. Di sini kita tampak lagi masalah yang ketiga, masalah lingkungan atau ruang lingkup kekristenan. Mengenal Yesus orang Nazaret sebagai Anak Allah itulah dasar gereja. Dalam kekristenan hanya ada Kristus, tidak ada Musa maupun Elia. Untuk siapakah semuanya itu? Untuk seluruh manusia dalam dunia. Ada orang mempunyai konsepsi bahwa kemungkinan untuk menerima Injil tidak dimiliki semua orang. Jadi, ada orang yang bisa menerima, ada pula yang tidak bisa menerima; atau ada orang yang baru bisa menjadi orang Kristen setelah ia mengalami suatu perubahan. Tetapi syukur kepada Allah, Ia menunjukkan kepada kita, bahwa orang kafir tidak perlu berubah menjadi orang Yahudi dahulu baru dapat menjadi orang Kristen. Setiap orang kafir dapat segera menjadi orang Kristen, tidak perlu menjadi orang Yahudi dahulu. Syukur kepada Allah, kita masing-masing dapat datang ke hadirat Allah menurut apa adanya kita. Orang Yahudi tidak berbeda dengan orang kafir. Tidak perlu pula kita terlebih dulu berubah menjadi sedikit lebih baik atau lebih benar. Dengan keadaan yang demikian ini saja, kita sudah dapat datang ke hadapan Tuhan. Mulanya Petrus mengira hanya ada segolongan manusia — Yahudi, yang beroleh prioritas istimewa, dan ada segolongan manusia — kafir, yang dikesampingkan. Tetapi, dalam pandangan Allah, baik orang kafir maupun orang Yahudi, semua adalah manusia yang berdosa. Roma 3:23 mengatakan, “Semua orang telah berbuat dosa.” Kata “semua orang” itu mencakup orang Yahudi dan orang kafir. Syukur kepada Allah, baik orang Yahudi, maupun orang kafir semua dapat menerima keselamatan Allah.

Gereja dibangun di atas diri Kristus. Di dalam Kristus sama sekali tidak ada perbedaan antara Yahudi maupun kafir. Hari ini, bagaimana cara Anda datang kepada Allah? Bagaimana pula cara Anda beroleh selamat? Anda dapat datang ke hadapan Allah tak lain karena Anda telah mengambil bagian dalam hayat Tuhan Yesus. Dan melalui menerima hayat Tuhan Yesus, Anda dapat menjadi anak-anak Allah. Tidak peduli Anda orang kafir atau orang Yahudi, Anda dapat menjadi anak-anak Allah hanya oleh hayat Tuhan Yesus. Setiap orang di antara kita beroleh pembersihan dan penyucian oleh darah Tuhan Yesus, dan dapat datang ke hadirat Allah bersandar pada hayat Tuhan Yesus. Anda beroleh kasih karunia bukan karena Anda berstatus sebagai orang Yahudi, pun bukan karena Anda orang kafir, melainkan karena Kristus. Alangkah baiknya jika anak-anak Allah dapat menyadari bahwa kita telah disatukan di dalam Kristus. Anak-anak Allah hanya bisa bersatu di dalam Kristus. Jika tidak, apakah Anda menuruti saya, atau saya menuruti Anda? Dan siapakah yang benar? Anda atau saya? Jadi, bersandar pada usaha kita, mustahillah kita dapat bersatu. Namun syukur kepada Allah, Alkitab selamanya tidak pernah menganjuri orang Kristen harus bersatu, melainkan harus memelihara kesatuan itu. Di dalam Kristus kita adalah esa. Kata “adalah” ini harus kita sebut seribu bahkan sepuluh ribu kali. Di dalam Kristus kita adalah esa! Ya, di dalam Kristus kita sudah diesakan.

Kita sungguh bersyukur kepada Allah, Ia tiga kali memutus perkataan Petrus. Hal itu menunjukkan kepada kita bahwa dasar kekristenan adalah Kristus, Putra Allah; tanpa Dia kekristenan tidak mungkin ada. Kita bersyukur kepada Allah, karena isi kekristenan ialah Kristus sendiri sebagai wahyu dan pimpinan pribadi kita. Tanpa ini, juga tidak mungkin ada kekristenan. Kita bersyukur pula karena ruang lingkup kekristenan mencakup semua manusia yang terlahir kembali dan beroleh selamat. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita mempunyai pikiran perpecahan.