Kelanjutan Kitab Kisah Para Rasul
“Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.”
Kisah Para Rasul 28:30-31
“Katanya, ‘Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia, dan ke Laodikia.’ Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki pelita dari emas . . . Inilah rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki pelita emas itu: Ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki pelita itu ialah ketujuh jemaat.”
Wahyu 1:11-12, 20
Seluruh Alkitab terdiri atas 66 kitab. Banyak kitab di dalam ke 66 kitab ini, ketika Anda membaca sampai akhir kitab tersebut, Anda bisa mengatakan kitab ini sudah selesai. Kitab Kejadian terdiri dari 50 pasal, ketika Anda membaca sampai pasal terakhir, dengan sendirinya Anda akan merasakan kitab ini sudah selesai. Injil Matius ada 28 pasal, ketika Anda membaca sampai pasal ke 28, Anda dengan sendirinya merasakan kitab ini sudah selesai. Roma 16 juga, kalau Anda membaca sampai pasal ini, Anda akan merasakan sudah selesai. Anda membaca kitab Wahyu 22, Anda juga merasakan sudah selesai.
Tetapi di dalam Alkitab, ada satu kitab, terhadapnya kitab ini Anda tidak bisa mengatakan sudah selesai. Terhadap seluruh enam puluh lima kitab lainnya, Anda boleh mengatakan sudah selesai, tetapi ada satu kitab, Anda tidak bisa mengatakan sudah selesai. Kitab ini adalah kitab Kisah Para Rasul. Ketika Anda membaca sampai Kisah Para Rasul 28, Anda akan merasa heran, mengapa kitab ini berhenti di sini. Ketika Anda membaca sampai Kisah Para Rasul 28, Anda akan merasakan bahwa kitab ini belum selesai, kitab ini belum ada penutupnya. Kisah Para Rasul adalah satu kitab yang “tidak ada penutupnya”. Karena Kisah Para Rasul masih akan berkelanjutan. Rasul-rasul pada abad pertama kisahnya mungkin sudah selesai, tetapi kisah semua rasul belum selesai. Sampai hari ini, kita masih melihat kisahnya para rasul. Kisah Para Rasul belum selesai.
Tuhan berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Ini memberi tahu kita, sejak Iblis memberontak, sejak manusia jatuh, Allah terus bekerja sampai hari ini. Tuhan juga bekerja! Lalu, apakah Kisah Para Rasul? Kisah Para Rasul bukan mencatat pekerjaan Paulus, juga bukan mencatat pekerjaan Petrus atau pekerjaan Yohanes. Kisah Para Rasul mencatat “pekerjaan Allah”. Siapa dapat mengatakan bahwa Allah tidak bekerja lagi setelah Kisah Para Rasul pasal 28? Siapa bisa mengatakan bahwa pekerjaan Allah telah berhenti sampai dengan Kisah Para Rasul pasal 28?
Kisah Para Rasul tidak ada penutupnya. Setelah pasal 28, masih banyak bejana Allah yang melakukan pekerjaan Allah. Pekerjaan Allah sedang berkelanjutan, tidak berhenti di sana. Bukan setelah Paulus bekerja di Roma 2 tahun, kemudian tidak ada kelanjutannya lagi. Katakan saja riwayat hidup Paulus, setelah dia tinggal di Roma, kemudian mati martir, hal-hal itu tidak tercatat dalam Kisah Para Rasul. Petrus, Paulus dan Yohanes, tiga orang yang paling penting, kesudahan mereka tidak dimasukkan ke dalamnya. Kalau demikian, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Kisah Para Rasul sudah selesai?
Kesaksian Allah tidak bisa habis ditulis. Kalaupun ada pasal 29 masih akan demikian, ada pasal 30 juga tidak bisa selesai, terus sampai pasal 100 pun juga tidak akan selesai. Kalau mau ditulis, maka akan terus ada perkara baru yang bisa dimasukkan. Sebab itu, setelah menulis sampai pasal 28 tidak diteruskan lagi. Meskipun perkara-perkara setelah pasal 28 tidak ditulis lagi, namun pekerjaan Allah terus berkelanjutan. Pekerjaan pada abad pertama belum mencapai puncak. Allah selama 4000 tahun mempunyai satu pekerjaan. Kalau sampai Kisah Para Rasul 28 sudah mencapai puncaknya, berarti sekarang kita sedang berada di kaki gunung. Kita sudah mundur. Tetapi tidaklah demikian. Tuhan berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Kita jangan mengira bahwa pekerjaan Allah pada masa Paulus telah mencapai puncaknya; kita juga jangan mengira bahwa pekerjaan Allah sampai pada zaman Martin Luther sudah mencapai puncaknya. Tidak! Abad pertama bukan kesudahan pekerjaan Allah, abad ke 16 juga bukan kesudahan pekerjaan Allah, sampai abad yang lalu juga bukan kesudahan pekerjaan Allah. Allah masih akan terus maju. Pekerjaan Allah juga akan terus maju, sampai kerajaan, sampai langit bumi baru; Allah tetap maju, tidak berhenti di sana. Kalau kita mengetahui ini dan juga percaya ini, kita akan memuji syukur kepada Allah.
Orang sering mempunyai satu kesalahan, yaitu menganggap zaman ia berada adalah zaman gereja yang paling tidak benar. Pada zaman Martin Luther, ada orang berpikir demikian; pada zaman John Wesley, juga ada orang berpikir demikian. Tetapi kita berkata, zaman Martin Luther itu baik sekali, zaman John Wesley juga baik sekali. Saat ini kita mengatakan zaman mereka itu baik, tetapi lewat 50 tahun lagi orang akan berkata, zaman kita itu baik. Kita takut kalau manusia yang berhenti, tetapi Allah tidak bisa berhenti. Setiap tahun Dia tahu apa yang harus Dia kerjakan; setiap tahun Dia tahu harus bekerja sampai di mana; setiap tahun Dia melakukan apa yang akan Dia lakukan. Setiap hari, Allah terus maju, Allah tak henti-hentinya terus maju. Haleluya! Allah tak pernah berhenti!
Ketika Allah maju, selalu ada bejana-Nya. Dalam Kisah Para Rasul, Allah mempunyai bejana. Dalam zaman Martin Luther, Allah juga mempunyai bejana. Pada zaman John Wesley, Allah juga mempunyai bejana. Setiap kali ada kebangunan rohani, Allah selalu mempunyai bejana. Hari ini, di manakah bejana Allah? Tidak salah, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang”, tetapi siapa yang meneruskan bekerja sama dengan Allah? Siapa yang dapat berkata, “Aku juga bekerja”? Inilah pertanyaan yang penting.
Saudara saudari, kalau Allah memberi kita sedikit terang, sehingga kita tampak sedikit fakta Allah, kita harus mengakui bahwa hari ini, bejana yang diinginkan Allah adalah bejana yang Dia tentukan sejak semula, yaitu gereja. Dengan kata lain, hari ini bejana yang dituntut oleh Allah bukan bejana perorangan melainkan bejana korporat. Kalau hari ini bejana yang diinginkan Allah adalah bejana yang korporat, maka kita harus tampak, kalau anak-anak Allah tidak dibawa oleh Allah ke suatu tahap yang tampak apa itu Tubuh Kristus, apa itu hayat Tubuh; di tangan Allah, mereka tidak akan ada gunanya, tidak bisa mencapai tujuan Allah.
Kitab Wahyu 1 mengatakan bahwa gereja adalah kaki pelita emas. Gereja bukan saja emas; Allah bahkan mengatakan, gereja adalah kaki pelita emas. Kalau gereja hanya emas, maka ia tidak bisa memuaskan hati Allah. Mengapa Allah berkata bahwa gereja adalah kaki pelita emas? Karena kaki pelita bercahaya, untuk penerangan. Allah mau kalau gereja menjadi bejana yang bercahaya, bejana yang bersaksi. Pada mulanya Allah menetapkan gereja sebagai kaki pelita. Bukan seseorang pribadi, melainkan gereja. Gereja di hadapan Allah adalah kaki pelita. Terbuat dari emas saja masih kurang, berasal dari Allah juga masih kurang; haruslah bercahaya bagi Allah, bersaksi bagi Allah, itu baru kaki pelita emas.
Jadi, keberadaan gereja adalah demi kesaksian Allah. Kalau bukan dari emas, itu bukan gereja; kalau bukan kaki pelita, juga bukan gereja. Kalau di dalamnya tidak ada hayat, itu bukan gereja; kalau di dalamnya tidak ada kesaksian, juga bukan gereja. Gereja wajib tampak, apa yang ingin dikerjakan Allah pada zaman ini, apa yang ingin didapatkan Allah pada zaman ini. Gereja wajib tampak apa kesaksian Allah di atas bumi. Inilah baru bisa dikatakan kaki pelita emas.
Dengan sederhana, sekali lagi kita katakan, pekerjaan Allah akan terus maju, Allah tetap ingin mendapatkan bejana. Bejana itu harus serupa dengan yang semula, bukan perorangan melainkan korporat, gereja.
Mungkin ada orang akan bertanya, “Apakah artinya bahwa di dalam gereja ada pemenang?” Tidak salah, gereja perlu ada pemenang-pemenang, tetapi kesaksian para pemenang juga untuk korporat, bukan untuk perorangan. Para pemenang bukan berarti hayat mereka lain daripada yang lain, atau menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain, lalu mengesampingkan orang lain. Pemenang bekerja untuk seluruh gereja; pekerjaan memang ia yang melakukan, tetapi faedahnya adalah untuk seluruh gereja. Pemenang bukan melulu untuk pribadi, pemenang justru berdiri di atas kedudukan gereja dan membawa gereja ke tahap yang sempurna. Sebab itu, kemenangan pemenang juga merupakan kemenangan korporat.
Bejana yang dikehendaki Allah adalah bejana yang korporat. Sebab itu, kita wajib belajar memperhidupkan hayat Tubuh. Kalau mau memperhidupkan hayat Tubuh, harus terlebih dulu menolak hayat alamiah, harus benar-benar ditanggulangi di hadapan Allah, benar-benar dihakimi, harus belajar taat, belajar bersekutu, sehingga kita berkesempatan menjadi bejana Allah.