Benih Allah
“Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya, ‘Adalah seorang penabur keluar untuk menabur . . . Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan . . . Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, ‘Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya’ . . . Ia menjawab, ‘Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia.”
Matius 13:3, 19, 24, 37
“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”
Yohanes 12:24-26
PENABUR BENIH DAN BENIH
Dua perumpamaan pertama dari tujuh perumpamaan dalam Matius 13, yang pertama adalah perumpamaan tentang penabur benih; yang kedua adalah perumpamaan tentang benih yang baik dan benih yang jahat. Dalam perumpamaan yang pertama, Tuhan memberi tahu murid-murid bahwa benih yang ditabur oleh orang yang menabur benih adalah firman Allah, yaitu firman Kerajaan Surga. Dalam perumpamaan kedua, Tuhan memberi tahu murid-murid bahwa yang menabur benih yang baik itu adalah Anak Manusia; sedang benih yang baik itu adalah anak-anak Kerajaan. Dalam perumpamaan yang pertama benih yang ditabur adalah firman Kerajaan Surga yaitu firman Allah. Dalam perumpamaan yang kedua benih adalah anak-anak Kerajaan Surga, yaitu orang-orang yang dilahirkan oleh Allah. Ketika Tuhan menabur benih, bukan hanya menabur firman, tetapi juga menabur orang. Tuhan datang ke bumi, Ia tidak hanya memberitakan firman-Nya, Dia juga ingin mendapatkan sekelompok orang sebagai benih yang ditaburkan; yang Ia tanam adalah manusia.
Dalam Alkitab, di satu pihak menyebut firman yang keluar dari mulut Allah adalah firman Allah; di pihak lain juga menyebut Anak yang diutus oleh Allah adalah Firman Allah. Injil Yohanes 1:1 mengatakan, “Pada mulanya ada Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Firman ini telah menjadi manusia dan sudah tinggal di tengah-tengah kita, penuh dengan kasih karunia dan kebenaran. Kita tahu bahwa ini ditujukan kepada Tuhan Yesus. Jadi, kita tampak firman Allah yang dikatakan dalam Alkitab, ada kalanya mengacu kepada firman yang diucapkan oleh Allah, ada kalanya mengacu kepada Firman yang dilahirkan oleh Allah, yaitu Putra Allah. Dia adalah Firman, Dia adalah Firman yang hidup, Dia adalah Firman hayat, Anda mendengar Dia, berarti Anda mendengarkan Firman; Anda menjamah Dia, Anda menjamah Firman. Inilah yang diberi tahu oleh Yohanes 1:1 kepada kita.
Tuhan Yesus kita, Dia adalah Firman Allah juga Benih Allah. Injil Yohanes 12:24 mengatakan, “Sesunguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Ini mengacu kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah sebutir benih. Dari sebutir benih ini akan menghasilkan banyak butir. Satu Petrus 1:23 mengatakan, “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, melalui firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” Tuhan Yesus adalah firman juga benih.
Kita memuji Tuhan dan berkata, Dia bukan saja Firman Allah, Dia juga Benih. Allah kita mengutus Putra-Nya datang ke bumi, mengambil Dia sebagai benih yang ditaburkan di sini. Tuhan Yesus bukan datang untuk berkhotbah, Tuhan Yesus datang untuk menjadi firman. Tuhan bukan hanya sebagai pemberita firman, Tuhan sendiri adalah Firman itu; Tuhan bukan hanya sebagai penabur benih, Tuhan sendiri adalah Benih itu. Yang ditabur Allah bukan beberapa kata atau beberapa firman, yang ditaburkan Allah adalah satu orang. Tuhan Yesus adalah benih yang sejati.
TUHAN MENGHENDAKI ADANYA ORANG-ORANG YANG MENJADI BENIH
Misalnya, hari ini ada orang datang dari tempat yang jauh, mengundang kita memberitakan Injil; kita memang bergairah untuk Injil, kita mau pergi. Tetapi ketahuilah, tidak cukup hanya ada orang yang berkhotbah atau ada orang memberitakan Injil. Allah akan mengambil manusia Anda sebagai benih untuk ditaburkan. Apakah Anda tampak ini? Allah akan mengambil Anda untuk ditaburkan; Anda adalah benih yang ditaburkan. Memang benar Allah akan melalui firman-Nya sendiri bekerja di dalam manusia. Kita memberitakan sedikit firman kepada orang, yaitu menabur firman Allah ke dalam orang dengan harapan ada tuaian. Tetapi jika kita hanya tampak benih Allah adalah firman Allah, tanpa melihat bahwa benih Allah juga adalah manusia, kita belum bisa melakukan pekerjaan Allah. Kalau kita hanya memperhatikan khotbah yang kita beritakan, mengira asal dalam dasar kepercayaan tidak salah, asal penelaahan Alkitab itu murni, lalu kita bisa menabur. Anggapan demikian adalah salah.
Sering kali pekerjaan Allah dirugikan karena benih-benih yang di tangan kita tak lain hanyalah doktrin yang objektif. Dan doktrin ini tidak membuat manusia mempunyai perubahan yang subjektif, tidak membuat kita menjadi anak Kerajaan Surga. Sebab itu, di sini ada satu masalah yang sangat besar, yaitu orang macam apakah Anda?Benih Allah bukan saja firman, benih Allah juga manusia Anda. Benih yang baik bukan saja firman Kerajaan Surga, benih yang baik juga adalah satu orang. Benih yang baik adalah anak Kerajaan Surga.
Sekarang aku ingin bertanya, “Di tengah-tengah kita, ada berapa orang yang menjadi benih Allah?” Betapa kasihan, hampir semua benih yang ada pada kita adalah yang objektif, kita sangat kekurangan benih yang subjektif! Oh, saudarasaudari bisakah Anda menjadi benih Allah? Ini adalah persoalan yang besar! Tuhan tidak bermaksud mengutus sekelompok penginjil, Tuhan tidak bermaksud mengutus sekelompok orang pengajar Alkitab. Tuhan menghendaki adanya orang-orang yang menjadi benih. Tuhan menghendaki semua orang milik-Nya menjadi benih untuk ditanam. Karena itu, kita harus merenungkan, kalau Tuhan mengambil kita sebagai benih untuk ditabur, kelak akan menghasilkan buah apa? Apa yang ditabur oleh manusia, itu juga yang dituainya. Orang-orang yang kita bantu, sering kali serupa dengan diri kita. Dengan kata lain, apa yang kita tuai menyatakan apa yang kita tanam; apa yang kita tuai menyatakan apa adanya diri kita.
Sebab itu, kita jangan mengeluh, “Siapa yang mau mendengarkan khotbah yang kita beritakan!” Jangan juga merasa kesal dan berkata, “Telinga mereka begitu berat, tidak mau mendengarkan firman Allah yang murni; sebab itu, kami tidak berdaya.” Masalahnya di sini, diri kita sendiri adalah apa? Benih yang baik bukan saja firman Kerajaan Surga, benih yang baik juga anak Kerajaan Surga. Allah mengambil kita untuk ditanam, kita bisa menghasilkan apa? Tahukah kita, kalau khotbah yang kita beritakan itu menguraikan dunia lain yang jauh dari kita, atau menguraikan sesuatu fakta yang ada pada diri kita? Kita mencari sepotongan ayat Alkitab, lalu menguraikannya begini dan begitu, atau karena kita di hadapan Allah telah menjamah satu realitas rohani, sehingga mengambil sepotongan ayat Alkitab itu? Kita harus tahu, perbedaan ini sangatlah besar. Banyak perkataan hanya bersifat teori dan doktrin saja. Hanya perkataan orang yang mengenal Allah barulah benih. Bukannya dengan kepandaianku memikirkan berbagai macam perkara, memikirkan banyak doktrin, lalu aku mengambil doktrin itu untuk memberi tahu orang, melainkan aku di hadapan Allah mengetahui dan tampak hal itu, kemudian baru dengan perkataan itu aku menanam ke dalam manusia.
Memberitakan firman Allah sama sekali tidak tergantung pada mulut kita bisa mengutarakan atau tidak, melainkan tergantung pada berapa banyak kadar hayat yang tersusun di dalam kita. Kita memberitakan satu doktrin yang objektif atau kita sudah mempunyai pengalaman yang subjektif atas kata-kata itu? Banyak orang hanya bisa memberitakan doktrin yang objektif tetapi doktrin yang objektif tidak bisa menimbulkan apa-apa terhadap orang yang mendengarnya. Kalau Anda tidak saja mengucapkan firman Allah, bahkan diri Anda adalah firman itu, maka orang lain yang mendengar pasti mendapatkan bantuan. Karena firman Allah bukan hanya cukup dimengerti oleh otak saja. Kalau cukup dimengerti saja, maka orang yang pandai baru terhitung, orang yang bodoh tidak akan terhitung. Orang yang pandai akan menjadi orang Kristen yang baik, orang yang bodoh tidak bisa menjadi orang Kristen yang baik. Tetapi Allah bukan berdasarkan kepandaian dan kebodohan membedakan orang.
Firman Allah sampai di atas diri kita harus melalui pengujian. Sama seperti tukang keramik menggambar di atas keramik. Kalau keramiknya tidak melalui api, begitu dijamah sedikit saja, gambar itu pasti segera kabur/rusak; harus melalui api kemudian diambil lagi, baru gambar itu tidak bisa hilang, meskipun dicuci dengan air. Banyak doktrin di atas beberapa orang bisa dihapus. Tetapi Allah memberi rahmat, Allah bekerja, Allah membakar, Allah melalui situasi, melalui wahyu, membakar di atas diri kita, akhirnya melekat di atas diri kita. Allah sekali, sepuluh kali, dua puluh kali bahkan sampai ratusan kali terus bekerja, sampai satu hari firman yang melalui pembakaran itu, terbakar ke dalam kita; sampai suatu hari, diri Anda menjadi firman itu. Pengendalian Roh Kudus, wahyu Roh Kudus, membuat firman ini sekali terbakar, sepuluh kali bahkan ratusan kali terbakar di atas diri seseorang, sampai membuat orang itu menjadi firman itu. Ketika Anda melihat dia lagi, Anda tidak berkata bahwa dia adalah orang yang bisa memberitakan firman itu; Anda akan mengatakan bahwa manusianya sendiri adalah firman itu. Sampai saat inilah dia telah menjadi benih Allah. Dan Allah mampu memperluas firman-Nya. Kalau tidak demikian, hanya mengatakan firman itu melalui otak seorang kepada otak yang lain, maka gereja makin lama akan makin dangkal, makin lama makin tidak ada hayat, makin lama makin tidak ada realitas rohani. Sebab itu, masalahnya tergantung pada apakah kita bisa menjadi benih Allah atau tidak. Atas diri kita ada bagian apa yang bisa terhitung sebagai benih Allah? Kalau Allah mengambil Anda untuk ditanam, Anda akan menghasilkan apa? Apa yang ditanam, apa juga yang dituai; ini tidak ada pengecualian. Kalau buah kita hanya membuat orang mengerti sedikit doktrin, tidak menjamah hayat Tuhan, kita adalah orang yang sangat kasihan.
PENUAIAN HARUS MELALUI KEMATIAN
Tujuan Allah menabur benih adalah untuk menuai. Sekarang kita harus melihat bagaimana prinsip Allah menuai?
Yohanes 12:24 mengatakan, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati ia akan menghasilkan banyak buah.” Firman di sini mengacu kepada bagaimana Tuhan Yesus mati, bagaimana membagikan hayat kepada kita. Di sini kita tampak, jalan penuaian harus melalui kematian, harus melalui salib. Tujuan Allah menabur adalah menghasilkan buah. Tujuan Allah ialah ingin supaya sebiji gandum menghasilkan banyak butir. Allah bukan mengutus satu nabi atau banyak nabi untuk menjelaskan firman-Nya, Allah mengutus Anak-Nya, mengambil Anak-Nya sebagai sebutir biji gandum. Dia sebutir biji gandum, jatuh ke dalam tanah dan mati, lalu menghasilkan banyak butir. Bukan dengan khotbah yang jelas menghasilkan buah, bukan menghafalkan Alkitab dengan sangat baik baru menghasilkan buah, melainkan jatuh ke dalam tanah dan mati, lalu menghasilkan banyak butir. Inilah pekerjaan salib.
Salib adalah satu fakta, bukan satu doktrin. Benar-benar mengalami kematian, juga benar-benar menghasilkan buah; kalau tidak ada kematian, tidak ada buah; ada berapa banyak kematian baru ada berapa hayat; ada berapa pukulan baru mengalirkan berapa hayat.
Firman dalam ayat 24, sungguh-sungguh mengacu kepada Tuhan sendiri. Pada ayat 25, Tuhan segera menjelaskan bahwa yang Ia ucapkan itu adalah satu prinsip; tidak saja terhadap diri-Nya adalah prinsip, bahkan merupakan satu prinsip yang umum. “Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Perkataan ini ditujukan kepada semua manusia. Ayat 26, “Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada.” Di sini lebih jelas lagi, semua orang yang melayani Tuhan harus demikian. Sebutir biji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, bukan mengacu kepada penebusan dosa (dalam hal penebusan dosa, kita selamanya tidak ada bagian.), melainkan mengacu kepada menyingkirkan hayat ego. Prinsip ini adalah: setelah mati baru bisa mendapatkan hayat. Paulus berkata, “Maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu” (2 Kor. 4:12). Inilah prinsipnya.
Sebab itu, setelah kita menjadi benih itu belum cukup, masih harus dilihat bagaimana jalan kita menghasilkan buah. Jalan untuk menghasilkan buah tidak tergantung pada memberitakan, jalan untuk menghasilkan buah tidak tergantung pada berbicara, jalan untuk menghasilkan buah adalah “menanam”. Allah tidak mengutus Anak-Nya ke atas bumi untuk berkhotbah. Allah mengambil Anak-Nya sebagai benih dan ditanam di bumi. Hari ini, Allah juga akan mengambil kita sebagai benih untuk ditanam di sini atau di sana.
Sebutir biji gandum harus jatuh ke dalam tanah dan mati, baru bisa menghasilkan banyak butir. Sebutir biji gandum yang belum jatuh ke dalam tanah, kita dapat melihat pada lahirnya ada lapisan kulit biji. Lapisan kulit ini bisa menjaga agar benih itu tidak terluka, tetapi juga bisa menyebabkan benih itu tidak menghasilkan buah. Kalau kulit di luar tidak pecah, hayat di dalam tidak bisa keluar. Sampai sebutir biji gandum itu ditanam di dalam tanah, ada air, ada lumpur, terjadi reaksi kimia, tak lama kemudian kulit itu pecah, kulit itu membusuk, barulah hayat yang di dalam itu keluar. Tuhan adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke dalam tanah; biji gandum itu mati, lalu menghasilkan banyak butir. Dari kematian mendapatkan hayat, inilah yang terjadi pada diri Tuhan; demikian pula seharusnya pada diri kita. Dari kematian menghasilkan buah, inilah yang terjadi pada diri Tuhan, demikian pula seharusnya pada diri kita. Sebab itu, prinsip menghasilkan buah tidak tergantung pada berkhotbah, melainkan tergantung pada mati. Siapa yang jatuh ke dalam tanah dan mati, orang yang menyentuhnya akan mengetahui. Apakah Anda pernah mati? Dapat dilihat dari apakah kulit Anda masih ada atau tidak.
Oh, kita mempunyai banyak hal yang keras, tetapi semua itu adalah kekerasan alamiah; kita mempunyai banyak lemah lembut, tetapi itu juga yang alamiah. Tidak peduli yang keras atau yang lembut, semua itu adalah kulit, itulah yang menghalang-halangi hayat keluar, yang selalu menyebabkan orang tidak bisa menjamah hayat yang di dalam. Kalau salib bekerja di atas diri Anda, barulah kulit Anda itu tersingkir. Menjamah orang yang tidak pernah diremukkan adalah hal yang sangat sulit. Jika Anda berbicara dengan dia satu jam, Anda akan merasakan bahwa antara dia dengan Anda terdapat jarak yang jauh. Dia masih mempunyai kulit. Tetapi orang yang telah dipukul oleh Allah, orang yang telah ditekan dan terluka, orang yang telah diremukkan oleh Allah, alamiahnya itu, bagian jiwanya itu sudah hancur, sudah remuk. Jika Anda bersentuhan dengan dia Anda segera menjamah hayat.
Oh, orang yang jatuh ke dalam tanah dan mati, bisa menghasilkan buah! Di hadapan Allah, hanya orang yang telah melalui mati, baru memiliki buah. Orang yang tidak pernah melalui mati, tidak akan pernah memiliki buah. Mungkin saja ada ratusan, bahkan ribuan orang mengikuti Anda, tetapi di hadapan Allah, Anda sama sekali tidak ada buah. Prinsip berbuah adalah setelah mati, lalu menghasilkan banyak butir; kalau tidak mati tetap satu butir saja. Kalau satu butir benih tidak pernah mati, ia tidak akan pernah berbuah.
Semoga Allah membelaskasihani kita, supaya kita bisa menjadi benih Allah. Kita jatuh ke dalam tanah dan mati, kemudian melalui diri kita Allah mendapatkan banyak buah.