Perhentian adalah Kekuatan
“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, ‘Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.’ Tetapi Tuhan menjawabnya, ‘Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.’”
Lukas 10:38-42
“Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, YangMahakudus, Allah Israel: ‘Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.’”
Yesaya 30:15
“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Filipi 4:7
“Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”
Matius 11:29
HANYA SATU SAJA YANG PERLU
Pada suatu hari, ketika Tuhan kita berjalan masuk sebuah desa, seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Saudari ini sangat mengasihi Tuhan Yesus. Dia mengira bahwa ia harus berbuat sesuatu dengan sebaik-baiknya bagi Tuhan untuk menyenangkan hati Tuhan. Lalu ia mulai melakukan ini, melakukan itu, menyiapkan ini, menyiapkan itu. Tetapi setelah menangani banyak pekerjaan, hatinya menjadi kacau, tidak saja demikian, ia malahan merasa ada banyak hal yang mengkhawatirkan dan menggelisahkan. Kekhawatiran itu membuat dia resah.
Marta, sama seperti orang-orang lainnya, dirinya sendiri tidak benar, namun menyalahkan orang lain. Dia datang ke hadapan Tuhan dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawab, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.”
Oh, Tuhan berkata hanya satu saja yang perlu! Marta telah melakukan banyak hal, tetapi Tuhan berkata bahwa hanya satu saja yang perlu, tidak banyak. Anda merencanakan ini, merencanakan itu, melakukan ini, melakukan itu, seolah-olah telah bekerja begitu banyak. Tetapi hanya satu saja yang perlu! Yang perlu tidak banyak, hanya satu.
Saudara saudari, sebenarnya apakah keperluan yang hanya satu ini? Keperluan yang hanya satu ini ialah Kristus yang telah dipilih oleh Maria. Bagaimana kita dapat memperoleh keperluan yang hanya satu ini? Caranya ialah dengan tenang-diam di hadapan Tuhan, seperti apa yang telah dilakukan Maria.
Setiap orang Kristen harus bekerja. Alkitab menampakkan kepada kita, jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tes. 3:10), sebab itu kita harus bekerja. Tetapi ketika kita bekerja, di dalam kita sering tidak ada perhentian, malahan seakan-akan kita telah melupakan Tuhan. Sepanjang hari sibuk, tidak dapat dengan baik-baik berdoa di hadapan Tuhan, tidak dapat dengan baik-baik membaca firman Allah. Jerih payah kita, pelayanan rohani kita, membantu saudara ini, membantu saudari itu, memang motivasi pekerjaan kita semua untuk Tuhan, tetapi akhirnya, hati kita menjadi kacau, dalam kita penuh kekhawatiran dan keresahan. Di sinilah kesulitannya, yaitu banyak hal yang dapat membuat kita lupa akan Tuhan, membuat kita kendur. Dengarlah Tuhan berkata, hanya satu saja yang perlu! Hal ini adalah “berhenti” di hadapan Tuhan, dipuaskan oleh diri Tuhan.
DAMAI DAN TENANG DI DALAM BATIN
Bagaimana kita dapat hidup dengan penuh ketenangan dan kemantapan? Marilah kita melihat jawaban Tuhan. Tuhan tidak berkata, “Jangan bekerja.” Tuhan juga tidak berkata, “Seseorang harus bekerja selama setengah hari dan setengah hari lainnya tekun untuk masalah rohani.” Tuhan tidak berkata, “Marta, hal-hal yang kau lakukan salah.” Marta boleh melakukan banyak hal, tetapi Tuhan mengingatkan Marta, sekali-kali jangan membiarkan hal-hal itu masuk ke dalam dirinya sehingga menimbulkan kekhawatiran dan keresahan. Tuhan tidak berkata bahwa Marta telah bekerja terlalu banyak, tetapi Tuhan berkata bahwa yang dipikirkan Marta terlalu banyak. Tuhan Yesus tidak berkata bahwa ia telah menangani terlalu banyak hal, tetapi Tuhan berkata, kekhawatirannya terlalu banyak. Boleh saja ada banyak hal mulai dari pagi hari sampai malam hari, tetapi jangan sampai Anda sepanjang hari dikhawatirkan dan diresahkan olehnya.
Banyak orang, walaupun di luar tidak menghadapi banyak hal, tetapi di dalam menjadi sangat sibuk karenanya. Ada orang yang ingin melakukan suatu hal pada lima hari kemudian, sudah sibuk selama lima malam, sehingga tidur tidak nyenyak karena terus memikirkannya, mengkhawatirkannya. Ada juga orang yang ingin menemui seseorang pada keesokan harinya yang hanya selama satu jam, tetapi ketika hendak tidur, memikirkannya selama empat jam. Inilah yang disebut berpikir terlalu banyak. Tuhan tidak berkata, jangan bekerja; tetapi Tuhan berkata, walaupun Anda tetap bekerja, janganlah khawatir dan resah hati. Tuhan tidak berkata, Anda telah bekerja terlalu banyak; tetapi Tuhan berkata, janganlah khawatir dan resah hati.
Saudara saudari, demikianlah seharusnya kehidupan orang Kristen. Kita harus rajin bekerja, jangan malas. Di luar rajin bekerja adalah seharusnya, di luar sibuk tidak mengapa, tetapi di dalam harus tenang, di dalam hanya ada satu hal — Kristus. Inilah yang diperlihatkan Tuhan Yesus kepada kita. Di sini Tuhan minta satu hal kepada kita, yaitu supaya kita dalam keadaan apa pun tidak sampai terjamah oleh keadaan itu. Tubuh boleh giat bekerja, melakukan banyak perkara, tetapi di dalam hanya ada satu hal, di dalam sedikit pun tidak kendur. Di luar boleh sibuk, tetapi di dalam senantiasa bersekutu dengan Tuhan.
Terima kasih kepada Tuhan, di sini tidak hanya ada Marta, tetapi juga ada Maria. Maria telah memilih bagian terbaik, yaitu bersekutu dengan Tuhan. Tuhan menghendaki Marta belajar seperti saudaranya dalam hal ketenangan yang di dalam, bukan dalam hal mengurus pekerjaan di luar. Di luar, kita boleh menjadi Marta, tetapi jangan di dalam. Di luar boleh menjadi Marta, tetapi di dalam harus belajar menjadi seperti Maria yaitu mutlak bersatu dengan Tuhan. Walaupun di luar sibuk, tetapi di dalam tetap bersekutu dengan Tuhan dalam ketenangan. Inilah pengalaman yang paling berharga.
Misalnya, Saudara Lawrence, sepanjang hari ia harus menyiapkan makanan untuk banyak orang. Seandainya kita dalam kedudukan Saudara Lawrence, kita tentu akan begitu sibuk sehingga mungkin kehilangan persekutuan dengan Allah. Tetapi persekutuan batiniah antara Saudara Lawrence dengan Allah sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan yang di luar. Oh, dia sungguh seorang yang mengenal bagaimana diam bersama Allah. Di luar dia selalu sibuk, tetapi di dalam dia senantiasa duduk di bawah kaki Tuhan. Di luar mungkin banyak sekali hal yang harus dikerjakan, tetapi di dalam sedikit pun tidak terganggu oleh hal-hal di luar tersebut.
Ini sungguh suatu kehidupan yang sangat berharga. Kita masing-masing dapat memiliki kehidupan semacam ini. Kehidupan demikian bukan terjadi di atas tubuh daging kita, kehidupan demikian bukan di dalam perasaan kita; kehidupan demikian ada di dalam batin kita yang terdalam. Di dalam batin kita tetap bersekutu dengan Tuhan, senantiasa hidup di hadapan Tuhan; ada suatu kehidupan yang tenang dan mantap. Kita harus ingat, Allah tidak menghendaki kita malas dan tidak mau bekerja. Tuhan mau supaya setelah Ia tinggal di dalam kita, kita dapat menahan semua kesibukan luaran itu. Mulai pagi hari sampai malam hari Anda selalu sibuk, tetapi meskipun demikian, tidak ada seorang pun yang dapat menyingkirkan kedamaian di dalam Anda. Tidak ada satu hal pun yang dapat menghilangkan perhentian di dalam Anda. Sibuk di luar, tetapi tenang di dalam.
Saudara saudari, jangan membiarkan hal yang di luar menjamah kalian. Kalian harus menolak terjamah oleh hal-hal di luar itu. Berapa pun banyaknya hal yang di luar, jangan membiarkannya masuk ke dalam diri Anda. Di dalam diri Anda seharusnya hanya ada satu Orang, yaitu Kristus; di dalam kalian hanya ada satu hal, yaitu berdekatan dengan Tuhan. Kalau ada benda-benda lain masuk ke dalam kalian, maka damai di dalam Anda pun akan hilang.
SENANTIASA HIDUP DALAM RUANG MAHA KUDUS
Tabernakel Allah dalam Perjanjian Lama terbagi atas pelataran luar, ruang kudus dan ruang maha kudus. Di dalam ruang maha kudus ada sebuah tabut, yaitu tempat kediaman Allah. Di dalam ruang kudus ada roti tak beragi, kaki dian emas, dan mezbah pembakaran ukupan. Di pelataran luar ada mezbah kurban bakaran dan bejana pembasuhan. Di antara ruang kudus dan ruang maha kudus terdapat sebuah tirai pemisah; di antara pelataran luar dengan ruang kudus terdapat sebuah pintu; di antara dunia luar dengan pelataran luar terdapat satu tirai pintu gerbang. Pelataran luar hanya boleh dimasuki oleh orang-orang Lewi dan para imam; ruang kudus hanya boleh dimasuki oleh para imam, dan ruang maha kudus hanya Imam Besar saja yang boleh memasukinya, setahun sekali dengan membawa darah.
Dalam Perjanjian Baru, Allah melalui hamba-Nya memberi tahu kita bahwa kita adalah Bait Allah (1 Kor. 3:16). Kehidupan kristiani kita sepertilah Tabernakel Allah, seperti keadaan Bait Allah.
Keadaan di pelataran luar sangat sibuk; di luar lagi, ada puluhan ribu orang Israel, entah ada berapa banyak barang persembahan yang mereka bawa; juga ada banyak sekali orang-orang Lewi yang khusus menyembelih kambing domba. Dalam sehari entah berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melakukan semua itu. Walaupun sepanjang hari di pelataran luar banyak orang, tetapi di ruang maha kudus tidak ada seorang pun. Tirai pintu gerbang boleh sering dilewati dan orang banyak boleh keluar masuk, tetapi tirai di dalam ruang maha kudus tetap tergantung di sana, sedikit pun tidak bergerak, seorang pun tidak boleh masuk. Di pelataran luar boleh gaduh, tetapi di ruang maha kudus sedikit pun tidak terpengaruh, sangat tenang. Inilah kehidupan orang Kristen.
Di luar Anda boleh berhubungan dengan ratusan, ribuan orang, tetapi Anda tetap dapat menjadi orang yang paling tenang, sedikit pun tidak terganggu olehnya. Di luar mungkin sangat sibuk, tetapi di dalam roh sedikit pun tidak terganggu. Di luar mungkin sibuk, tetapi di dalam tetap bersekutu dengan Tuhan, sedikit pun tidak kacau. Inilah yang disebut mendapat perhentian di dalam roh.
Kita, orang-orang Kristen, seharusnya hidup dalam suasana doa yang berkesinambungan. Bukan berdoa sepuluh menit atau setengah jam, itu baru berdoa. Bukan juga pagi-pagi bangun berdoa, kemudian ketika bekerja tidak berdoa lagi. Karena kita mau hidup di hadapan Tuhan, maka meskipun di luar sibuk bekerja, di dalam tetap mempunyai persekutuan dengan Tuhan. Memang kita perlu mempunyai doa pada waktu-waktu tertentu, membaca Alkitab pada waktuwaktu tertentu; tetapi selain waktu-waktu tersebut, hayat di dalam kita haruslah tetap bersekutu dengan Tuhan.
Kita harus ingat bahwa kekuatan kehidupan kita mutlak tergantung pada persekutuan antara hayat terdalam kita dengan Tuhan. Bagian terdalam itu, tidaklah terganggu oleh pengaruh-pengaruh dari luar, sedikit pun tidak terpengaruh oleh hal-hal di luar. Jika di dalam Anda tenang, hal-hal di luar tentu dapat dikendalikan dari dalam. Walaupun di dalam Ruang Maha kudus tidak ada kaki dian, mezbah pembakaran ukupan, dan roti sajian, tetapi ruang Maha kudus mengatur seluruh pergerakan di dalam Tabernakel. Karena itu, kalau Anda mempunyai satu kehidupan yang tenang di dalam ruang Maha kudus, perkara-perkara luar tidak akan dapat menjamah Anda, lingkungan tidak dapat mengusik Anda. Kalau Anda hidup di dalam ruang Maha kudus, Anda akan tampak bahwa Allah telah menjenuhi semuanya ini. Di sini persekutuan Anda dengan Allah berlangsung terus, tidak dapat diputuskan oleh perkara luar apa pun.
KEKUATAN DARI PERHENTIAN DAN KETENANGAN
Saudara saudari, satu kegagalan kita dalam kehidupan ini ialah begitu kita sibuk, segera di dalam kita timbul perasaan kacau. Bahkan sering terjadi, walaupun di luar belum begitu sibuk, di dalam sudah bingung sekali. Karena di dalam kacau, maka tidak ada kekuatan untuk menanggulangi perkara-perkara di luar. Kita harus tahu, perhentian adalah kekuatan hidup kita; tenang dan mantap adalah kekuatan kehidupan kita. Firman Allah mengatakan, “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yes. 30:15). Tidak ada orang yang mudah terangsang dapat mempunyai kekuatan di hadapan Allah; tidak ada orang yang resah dan gelisah dapat mempunyai kekuatan di hadapan Allah. Kita harus ingat bahwa kekuatan kita tergantung pada ketenangan dan kemantapan di dalam kita.
Setiap angin puyuh pasti ada intinya. Meskipun lingkaran luar angin puyuh berputar begitu cepat, tetapi pada titik intinya sangatlah tenang. Kehidupan inti yang tenang ini adalah kekuatan kita. Hal di luar sepertilah angin puyuh yang bertiup kacau, tetapi di dalam kita harus sangat tenang. “Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Jangan sekali-kali karena hal di luar bertambah banyak, pikiran Anda menjadi kacau, sehingga Anda kehilangan ketenangan. Kalau demikian Anda tidak akan berdaya mengendalikan situasi Anda.
Perhatikanlah lautan, biarpun pada permukaannya terjadi perubahan yang dahsyat: ombak besar bergulung-gulung, angin topan bertiup kencang, tetapi di dasarnya tetap tenang, benar-benar tenang. Ada orang yang khusus menyelidiki keadaan tanaman di dasar laut. Keadaan tanaman ini membuktikan bahwa sudah berapa tahun lamanya dasar laut ini tidak pernah berubah.
Kehidupan kristiani kita haruslah mempunyai ketenangan di dalam. Kita tidak dapat mengharapkan agar di luar tidak sibuk, tetapi kita dapat mengharapkan agar dalam kesibukan tersebut di dalam kita tenang mutlak. Perkara yang kita tangani boleh lebih banyak lagi, tetapi di dalam kita tetap tenang. Ketenangan yang ingin kita dapatkan adalah ketenangan di dalam. Kalau tenang, Anda tidak akan gagal. Bagaimanapun keadaan di luar, Anda harus tetap hidup di dalam Tuhan, seolah-olah tidak ada perkara apa pun. Kita harus tampak bahwa Tuhan di dalam kita ingin supaya kita menempuh satu kehidupan yang tenang.
Tuhan tidak pernah terpengaruh oleh hal-hal di luar. Pada suatu hari, orang-orang dalam rumah ibadah menganiaya Dia, akan melemparkan Dia dari sebuah tebing gunung. Jika kita yang mengalami kejadian ini, tentu kita akan segera melarikan diri. Tetapi Alkitab mengatakan, Tuhan Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Orang-orang itu ingin mencelakakan Dia, tetapi Dia sedikit pun tidak terpengaruh, “Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi” (Luk. 4:28-30). Ketika terjadi angin topan Tuhan kita sedang tidur. Murid-murid berteriak, “Kita binasa.” Mengapa mereka berteriak sedemikian rupa? Karena di dalam mereka tidak ada perhentian. Tetapi Tuhan kita tidak terpengaruh olehnya (Mat. 8:23-25). Ketika orang-orang bersenjata lengkap ingin menangkap-Nya, Tuhan malah keluar dan bertanya kepada mereka, “Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka, “Yesus dari Nazaret.” Kata Tuhan Yesus, “Akulah Dia.” Begitu mereka mendengar perkataan ini, mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Orang-orang yang mau menangkap malah dikejutkan sampai jatuh ke tanah oleh orang yang mau ditangkap (Yoh. 18:2-6). Oh, Tuhan yang patut dipuji sampai selama-lamanya ini tidak pernah terpengaruh oleh perkara-perkara di luar, Dia hanya hidup berdasarkan yang di dalam.
PERCAYA DAN BERSANDAR
Bagaimana kita dapat memperoleh perhentian yang dalam? Ayat-ayat Alkitab di bawah ini memberi tahu kita dua syarat:
Syarat pertama terdapat dalam Filipi 4:6-7, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Syarat untuk mendapatkan perhentian adalah pertama, nyatakan segala perkara Anda, segala keinginan Anda kepada Allah. Pekerjaan Anda, keperluan Anda, segala kesulitan yang Anda temui, boleh Anda beritahukan kepada Tuhan. Anda dapat berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku menyerahkan semuanya ini ke dalam tangan-Mu.” Begitu Anda menemui masalah, Anda dapat melalui doa, permohonan, dan ucapan syukur memberi tahu kepada Tuhan segala keinginan Anda. Begitu ada masalah, hendaklah segera Anda serahkan kepada Allah. Dan begitu Anda menyerahkannya kepada Allah, damai sejahtera Allah akan segera menaungi Anda. Kapan kala Anda berserah kepada Allah, saat itu juga kedamaian datang. Dengan demikian kita dapat sepanjang hari tidak terpengaruh oleh keadaan di luar. Meskipun ada kesulitan yang sangat besar, meskipun ada banyak masalah, pasti ada kedamaian Allah yang senantiasa melindungi hati Anda.
Masih ada syarat kedua, yaitu dalam Matius 11:29, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”
Syarat pertama adalah iman, syarat kedua adalah taat. Allah mengizinkan banyak perkara menimpa diri Anda, kalau Anda menolak apa-apa yang Allah kehendaki supaya Anda dapatkan, kalau Anda tidak menerima kehendak Allah, kalau Anda masih mempunyai keinginan-keinginan lain, di dalam Anda pasti tidak mempunyai perhentian. Kita harus tahu bahwa perhentian dihasilkan dari adanya persembahan. Ketika kesulitan datang, kalau Anda dapat belajar seperti Tuhan, dapat menanggung gandar Tuhan, walaupun Anda tidak dapat berbuat menurut keinginan Anda sehingga menderita, tetapi Anda pasti mendapatkan perhentian. Jika Anda berkata pada Tuhan, “Tuhan, apa pun yang Engkau kehendaki supaya aku lakukan, aku mau melakukannya.” Anda pasti memiliki perhentian. Sebaliknya kalau Anda menolak, Anda memilih jalan sendiri, memilih kehidupan Anda sendiri, mempunyai pengharapan sendiri, Anda akan kehilangan perhentian. Semua ketidakpuasan kita, harapan kita, hanya akan membuat kita kehilangan perhentian. Kalau Anda berkata pada Tuhan, “Tuhan, segala yang Kauberikan kepadaku adalah baik, aku mau berjalan pada jalan-Mu, aku mau kehendak-Mu, aku mau mengesampingkan harapanku,” maka perhentian akan memenuhi Anda.
Semoga Tuhan memberkati kita, sehingga kita percaya bahwa Tuhan sanggup menanggung segala beban berat dan kesulitan kita, juga membuat kita mau taat kepada semua kehendak Allah atas diri kita, dan mau melakukan semua permintaan Allah atas diri kita. Kita dapat menjawab, “Aku mau melakukannya”.
Oh, semoga Tuhan membuat kita tampak bahwa perhentian hanya dapat diperoleh karena kita percaya kepada-Nya, taat kepada-Nya. Kalau masih ada hati yang tidak percaya, perhentian tidak akan datang. Kalau Anda sendiri masih ingin mendapatkan sesuatu, perhentian tidak akan datang. Tetapi jika Anda percaya kepada Allah, taat kepada Allah, walaupun di luar terjadi perkara yang bagaimanapun, semuanya tidak akan dapat mengganggu hati Anda. Di dalam Anda senantiasa bersekutu dengan Tuhan, ini membuat Anda sanggup menanggung segala perkara dari luar. Kiranya kita semua tampak perhentian adalah kekuatan.