← Daftar isi Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub · bab 8/12

BAB 8

Ishak Perjanjian Baru

-- Warisan yang Allah Sediakan di dalam Kristus --

Pembacaan Alkitab:

Galatia 3:26-29; 4:6-7,28,31; 5:1; Yohanes 15:4a; Roma 6:5-7,11; Efesus 2:4-6;

Galatia 2:19b-20; Filipi 1:21a; I Korintus 1:30

Kita semua tahu, manusia diselamatkan karena kasih karunia, bukan karena hukum Taurat. Tetapi ini bukan berarti kasih karunia hanya menyangkut keselamatan saja. Di satu pihak, surat Roma mengatakan, orang dosa diselamatkan berdasarkan kasih karunia; di pihak lain, surat Galatia mengatakan, setelah seseorang diselamatkan dengan kasih karunia, ia tidak bisa berhenti sampai di sana saja, dia harus bersandar kasih karunia terus maju. Surat Roma mengatakan, permulaan orang Kristen berdasarkan kasih karunia; surat Galatia mengatak:an, orang Kristen maju berdasarkan kasih karunia. Galatia 3:3 mengatakan, "Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?" Sebab itu orang Kristen bukan hanya permulaannya berdasarkan kasih karunia, seterusnyapun tetap berdasarkan kasih karunia.

Untuk beroleh selamat, seseorang tidak perlu melakukan sesuatu dengan kekuatannya sendiri, cukup menengadah kepada kasih karunia Allah. Kemudian untuk maju terus, juga tidak perlu melakukan sesuatu dengan kekuatan sendiri, hanya perlu menengadah kepada kasih karunia Allah. Inilah ciri-ciri Ishak. Ciri-ciri Ishak adalah terus dalam kasih karunia; tidak hanya permulaannya adalah kasih karunia, bahkan kelanjutannyapun masih tetap kasih karunia, terus menerima. Ishak dalam Perjanjian Baru adalah Kristus. Dia adalah Anak tunggal Allah, bagi kita menjadi Ishak, supaya kita yang berada di dalamNya, bisa menikmati warisan Allah.

DUA ASPEK KASIH KARUNIA

Alkitab memperlihatkan kepada kita, bahwa warisan yang Allah berikan kepada kita dalam Kristus beraspek dua. Pertama adalah: kita di dalam Kristus. Kedua adalah: Kristus di dalam kita. Dengan kata lain, Allah menyatukan kita dengan Kristus menjadi satu hal yang beraspek dua. Pertama, kita di dalam Kristus; dan kedua, Kristus di dalam kita. Urutan kedua kesatuan ini tidak boleh tertukar. Terlebih dulu kita di dalam Kristus, kemudian Kristus di dalam kita. Sebab itu firman Tuhan mengatakan, "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu", "Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam Dia" (Yohanes 15:4-5).

Kita di dalam Kristus mengacu kepada fakta Kristus; Kristus di dalam kita mengacu kepada hidup (hayat) Kristus. Dengan kata lain, di dalam Kristus, adalah menjamah pekerjaan Kristus; Kristus di dalam kita, adalah menjamah hidup Kristus. Kita di dalam Kristus, maka semua fakta miIik Kristus menjadi milik kita; Kristus di dalam kita, maka semua kekuatan Kristus menjadilah milik kita. Kita di dalam Kristus, maka semua yang telah dilakukan Kristus menjadi milik kita; Kristus di dalam kita, maka semua yang dapat Kristus lakukan menjadi milik kita. Kita di dalam Kristus, membuat kita mendapatkan segala sesuatu yang telah Kristus genapkan; Kristus di dalam kita, membuat kita mendapatkan segala hakiki diri Kristus pada hari ini. Kita di dalam Kristus, membuat segala pekerjaan yang telah dirampungkan Kristus pada masa lalu, menjadi milik kita; Kristus di dalam kita, membuat segala sesuatu milik Kristus pada hari ini, dan segala yang bisa dikerjakan Kristus pada hari ini, menjadi milik kita.

Kita harus tahu, semua yang Allah persiapkan di dalam Kristus adalah warisan untuk kita. Kalau kita ingin tahu berapa banyak warisan yang Allah berikan kepada kita, kalau kita ingin tahu berapa banyak warisan yang bisa kita nikmati, kita harus nampak bahwa di satu pihak, kita di dalam Kristus, dan di pihak lain, Kristus di dalam kita. Setiap orang yang ingin mengenal Tuhan harus dari dua aspek ini mengenal Dia. Kalau Anda hanya tahu, bahwa Anda di dalam Kristus, tetapi tidak tahu Kristus di dalam Anda, maka Anda sangatlah lemah, sangat sia-sia, semuanya hanya bersifat idealistis, Anda akan gagal dan gagal lagi. Kalau Anda hanya tahu Kristus di dalam Anda, tetapi tidak tahu Anda di dalam Kristus, maka Anda sangatlah sengsara; Anda ingin melakukan, tetapi tidak ada sarana untuk melakukannya, bagaimanapun Anda melakukan tetap tidak bisa sempuma. Kita harus tahu, warisan yang Allah berikan dalam Kristus kepada kita memiliki dua aspek: yang satu kita di dalam Kristus, dan yang lain Kristus di dalam kita. Marilah kita baik-baik di depan Allah menikmati kedua aspek warisan ini. Segala masalah yang bersangkutan dengan hidup dan ibadah, segala masalah yang bersangkutan dengan kekudusan dan keadilan, segala masalah masa kini dan masa yang akan datang, semua tercakup di dalam "kita di dalam Kristus" dan "Kristus di dalam kita". Kasih karunia yang beraspek dua ini adalah untuk dinikmati oleh orang Kristen. Kalau kita menikmati dua aspek kasih karunia ini, kita tidak perlu membuang tenaga sendiri. Kedua aspek kasih karunia ini akan menolong kita terlepas dari pekerjaan diri sendiri, akan memperlihatkan kepada kita, bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, tidak ada satupun yang berasal dari diri kita sendiri.

Asalnya kita adalah orang dosa, kalau kita mau maju, kita harus mempunyai permulaan yang baru, harus mempunyai kedudukan yang baru. Kita terjerumus ke dalam kubangan lumpur. Kalau kita mau berjalan berdasarkan diri kita sendiri, ke sana ke mari, masih tetap di dalam kubangan lumpur. Allah harus menarik kita keluar dari dalam Iumpur itu, menaruh kaki kita di atas batu karang, barulah kita bisa mempunyai satu kedudukan yang baru. Setelah mempunyai satu kedudukan yang baru, setelah menempati satu kedudukan yang baru, kita baru bisa melangkah maju. Kita perlu terlepas dari dosa, kita perlu keluar dari kubangan lumpur, untuk berdiri pada kedudukan yang baru. Apakah kedudukan yang baru ini? Kedudukan yang baru ini adalah kedudukan di hadapan Allah. Bagaimana kita bisa keluar dari kubangan lumpur dan berdiri pada kedudukan yang baru? Bagaimana kita baru bisa datang ke hadapan Allah? Kita mempunyai hidup (hayat) Adam, kita tidak baik; bukan karena kita melakukan sesuatu yang tidak baik, baru kita menjadi tidak baik, melainkan karena sejak dilahirkan kita sudah tidak baik. Perbuatan kita tidak benar, karena begitu Iahir kita sudah mempunyai satu hidup yang tidak benar. Ketika kita baru menjadi orang Kristen, kita hanya melihat perbuatan kita tidak baik, pekerjaan yang kita lakukan tidak baik. Setelah kita melalui sejangka waktu, setelah salib bekerja di atas diri kita, Allah menanggulangi kita sampai suatu tahap, memperlihatkan kepada kita, bukan hanya perbuatan kita yang tidak benar, bahkan manusia kita ini yang tidak benar; bukan hanya kelakuan kita yang tidak benar, bahkan di dalam kita ada satu hidup Adam yang bermasalah. Hidup (hayat) kitalah yang tidak benar, sebab itu perbuatan kita tidak benar. Inilah yang dikatakan oleh surat Roma. Tiga pasal yang pertama dalam surat Roma memperlihatkan kepada kita, bahwa perbuatan kita tidak benar. Pasal 5-8 memperlihatkan kepada kita, bahwa manusia kita yang tidak benar. Manusia kita tidak benar, lalu bagaimana? Firman Tuhan berkata, kita harus mati. Tuntutan Allah ialah "dosa" manusia harus dicuci, "orang" yang berdosa harus mati. "Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa" (Roma 6:7). Sebab itu, untuk membereskan "orang" kita yang berdosa ini, jalannya hanya melalui mati. Tidak hanya demikian, selain mati kita masih ada satu keperluan yang baru, yaitu perlu hidup (hayat) yang baru. Kalau kita mati, habislah sudah. Jika kita di hadapan Allah ingin memiliki satu permulaan yang baru, kita harus mempunyai hidup yang baru. Sebab itu, kita tidak hanya harus mati, tetapi juga harus bangkit dari kematian. Namun kita tidak bisa berhenti sampai di sini saja. Hanya mempunyai kebangkitan masih kurang, hanya mempunyai satu hidup yang baru juga masih kurang; kita perlu mendapatkan satu kedudukan yang baru. Sebab itu Allah menaruh kita di sorga, satu kedudukan yang baru, supaya kita terlepas dari kedudukan yang lama, supaya kita bisa hidup di depan Allah. Sejak hari ini kita mempunyai satu kedudukan yang baru, yang putus hubungan dengan kedudukan yang lama. Ringkasnya, kita sebagai manusia berdosa memiliki tiga keperluan besar, yaitu mati, bangkit, naik ke sorga. Setelah mati, bangkit dari kematian, dan naik ke sorga, baru bisa menyelesaikan segala sesuatu kita di dalam Adam, baru bisa mempunyai satu permulaan yang baru.

Kita di dalam Kristus

Di sini segera timbul satu pertanyaan, yaitu bagaimana kita bisa mati? Bagaimana kita bisa bangkit dari kematian? Bagaimana kita bisa naik ke sorga? Ini adalah satu pertanyaan yang besar. Ini juga satu kesulitan yang besar. Kita tidak bisa mati, kita tidak bisa bangkit dari kematian, kita juga tidak berdaya naik ke sorga. Tetapi puji syukur kepada Allah, Allah memiliki satu cara penyelesaian, yaitu Allah menyatukan kita di dalam Kristus. Puji syukur kepada Allah, "Oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus" (I Korintus 1:30). Allahlah yang menyatukan kita di dalam Kristus Yesus. Kita harus ingat ayat ini, "Oleh Dia (Allah) kamu berada dalam Kristus Yesus." Artinya, kita bisa di dalam Kristus adalah dikerjakan oleh Allah; Allah yang menaruh kita, orang-orang yang percaya kepadaNya, di dalam Kristus Yesus. Allah menaruh kita di dalam Kristus Yesus, sehingga pengalaman Kristus Yesus menjadi pengalaman kita. Sama seperti kita menyisipkan satu foto ke dalam satu buku. Kalau ada orang membakar buku dengan sendirinya foto yang terselip juga akan terbakar. Demikian juga Allah menaruh kita dalam Kristus. Ketika Kristus mati, kita juga mati; Kristus bangkit dari kematian, kita juga bangkit dari kematian; Kristus naik ke sorga, kita juga naik ke sorga. Mati bersama, bangkit dari kematian bersama, naik ke sorga juga bersama Tuhan, bukan kita yang melakukan, melainkan Allah yang merampungkan di dalam Kristus. Allah membawa Kristus ke atas salib, Allah membawa Kristus bangkit, membawa Dia ke sorga. Puji syukur kepada Allah, karena Allah telah menaruh kita ke dalam Kristus, sehingga kita berbagian dalam pengalaman Kristus. Dia mati, kita pun mati, Dia bangkit, kita pun bangkit, Dia naik ke sorga, kita juga naik ke sorga. Sebab itu, jika Anda melihat diri Anda di luar Kristus, Anda akan melihat diri Anda tidak mati, tidak bangkit dan tidak naik ke sorga. Kalau Anda melihat diri Anda di dalam Kristus, Anda akan berkata, "Haleluya! Aku sudah mati, aku sudah bangkit, aku sudah naik ke sorga!" Kalau Anda di dalam Kristus melihat diri sendiri, percaya apa yang dikatakan oleh Allah dalam I Korintus 1:30, Anda pasti berkata, "Puji syukur kepada Allah! Aku tidak hanya mati, aku juga bangkit dan naik ke sorga." Karena kita dalam Kristus, pengalaman Kristus adalah pengalaman kita. Inilah bagian pertama warisan yang Allah berikan kepada kita dalam Kristus.

Dulu ada seorang saudara bersaksi, "Delapan tahun yang lalu, aku mempunyai pengalaman ini: Saat itu aku tahu doktrin salib, juga bisa memberitakan doktrin salib. Kalau dikatakan aku sama sekali tidak tahu doktrin itu, aku akan menyangkalnya. Kalau dikatakan aku sedikitpun tidak mempunyai pengalaman, aku tidak akan mengakuinya. Tetapi di depan Allah aku nampak, bahwa diriku berkekurangan, aku mempunyai kelemahan, banyak barang di atas diriku yang tidak dapat kuakui telah melalui penanggulangan/pemberesan, aku tidak mempunyai keyakinan berkata, bahwa aku sudah mall. Secara doktrin, aku tahu apa yang disebut kebangkitan, aku juga tahu apa yang disebut naik ke sorga, tetapi dalam pengalaman, aku tidak tahu. Sebab itu empat bulan aku terus menuntut di hadapan Allah, mohon Allah memperlihatkan kepadaku apa yang disebut mati bersama Kristus; bagaimanapun aku mohon Allah membawaku masuk dalam tahap mati bersama Kristus; bagaimanapun aku ingin mati bersama Kristus. Selama empat bulan itu, Allah memberiku sedikit terang, supaya aku mendapatkan satu perkara -- Firman Allah tidak pernah sekalipun menyuruh aku tersalib. Firman Allah selalu berkata, bahwa kamu "sudah" disalib. Tetapi aku tidak bisa percaya. Kalau aku melihat diriku, nampaklah aku tidak mirip orang yang telah disalibkan. Selain aku tidak jujur, baru aku bisa berkata, bahwa aku sudah tersalib. Kalau aku jujur sedikit saja, aku tidak bisa mengatakan sudah tersalib. Aku memakai empat bulan lamanya, di depan Allah tekun membaca firmanNya, mohon dengan tuntas mendapatkan penyelesaian kesulitan ini. Pada suatu pagi, ketika aku berdoa, tiba-tiba aku nampak, bahwa aku ada di dalam Kristus, aku bersatu dengan Kristus, aku dengan Kristus adalah satu. Lalu aku nampak, bagaimana mungkin Kristus mati tetapi aku tidak mati. Dalam setengah menit, atau satu menit terjadilah hal itu. Lalu aku bertanya, "Apakah Kristus sudah mati?" Aku hanya bisa mengakui, bahwa Kristus sudah mati. Kecuali aku gila, baru aku bisa mengakui bahwa Kristus tidak mati. Selanjutnya satu pertanyaan lagi, "Bagaimana dengan aku?" Aku segera melompat seraya berkata, "Haleluya, aku juga sudah mati!" Aku segera melihat Kristus sudah mati, aku juga mall. Persoalanku sudah beres! Aku dengan Tuhan bersatu. Apa yang Allah kerjakan di atas diriNya, juga Allah kerjakan di atas diriku. Dia mati, aku juga mati; Dia bangkit, aku juga bangkit; Dia naik ke sorga, aku juga naik ke sorga. Sejak hari itu sampai sekarang, aku tidak bisa mendongkel hal itu. Karen hal itu adalah warisanku." Saudara saudari, apa yang dikatakan saudara ini adalah warisan yang Allah berikan kepada kita di dalam Kristus. Warisan inilah yang harus kita terima.

Kita di dalam Kristus merupakan satu warisan, hanya perlu kita terima, hanya perlu kita nikmati; kita tidak perlu berbuat sesuatu untuk mendapatkannya. Tetapi banyak orang Kristen yang kasihan, mereka tidak nampak ini adalah warisan, ini adalah menerima, ini adalah menikmati. Karena itu, mereka menekan/membatasi dirinya dengan kuat, mencari berbagai cara, membuang banyak tenaga, tetapi akhirnya tetap masih tidak bisa mati, masih tidak bisa merampungkan persoalan itu. Sebenarnya diri Anda yang sama sekali tidak berdaya itu, manusia lama Anda itu, manusia lama yang bertahun-tahun ingin Anda lepaskan tetapi tidak bisa terlepas itu, telah jauh-jauh hari Allah paku di kayu salib! Karena kita di dalam Kristus Yesus, kita sudah tersalib, mati bersama Kristus. Sekarang persoalannya di sini, Anda sendiri yang mencapai pengalaman itu, atau Allah di dalam Kristus yang memberikan kepada Anda? Di sinilah kesulitan banyak orang Kristen. Mereka mengira tersalib di kayu salib adalah pengalaman yang harus mereka capai sendiri. Tetapi berdasarkan firman Tuhan, tidak ada perkara itu. Sesungguhnya, Allah di dalam Kristus telah merampungkannya, sebab itu kita hanya perlu menerima, cukuplah.

Tentu, ini juga tergantung pada visi. Ada orang mendengar doktrin tentang tersalib bersama Kristus hanya sebagai satu doktrin, hanya mengerti doktrin ini, mengerti pengajaran ini; itu tidak berguna. Kita harus mendapatkan wahyu, nampak kita di dalam Kristus, baru menikmati fakta tersalib bersama Kristus ini.

Apa yang Allah kerjakan, dikerjakanNya di atas diri Kristus. Karena Anda di dalam Kristus, semua yang di atas diri Kristus juga dikerjakan di atas diri Anda. Kita semakin lama semakin nampak betapa berharganya I Korintus 1:30, – "Oleh Dia (Allah) kamu berada dalam Kristus." Haleluya! Allah menaruh kita ke dalam Kristus. Syukur kepada Allah! Dia tidak hanya memberikan Kristus kepada kita, Dia tidak hanya memberikan kekuatan Kristus kepada kita, Dia juga memberikan pengalaman Kristus kepada kita. Kita tidak hanya berbagian dalam sifat Allah, berbagian dalam sifat Anak Allah, juga berbagian dalam pengalaman Anak Allah. Tentu, ini mengacu kepada pengalaman Dia mati, bangkit dan naik ke sorga. Kita tidak berbagian dalam pengalamanNya sebelum Dia mati. Saat itu biji gandum masih sebiji saja, tetapi setelah biji gandum itu mati, segala milikNya adalah milik kita.

Kristus di dalam Kita

Masalahnya tidak berhenti sampai di sini. Kita di dalam Kristus, adalah menyelesaikan sejarah kita yang lalu, dan membawa kita ke hari ini. Masih ada sebagian warisan yang juga Allah berikan kepada kita dalam Kristus, yaitu "Kristus di dalam kita." Kristus di dalam kita untuk apa? Kristus di dalam kita adalah untuk hari ini, terus sampai pada masa yang akan datang. Kristus di dalam kita adalah untuk hari ini menjadi hidup (hayat) kita.

Sering ada pertanyaan, yaitu bagaimana aku bisa menang? Bagaimana aku bisa menjadi orang yang benar? Bagaimana aku bisa menjadi orang yang kudus? Di sini ada satu perkara yang harus khusus kita perhatikan, yaitu Allah tidak memberikan Kristus kepada kita sebagai teladan. Allah juga tidak memberikan Kristus kepada kita sebagai kekuatan, Allah memberikan Kristus kepada kita adalah untuk ini: "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Galatia 2:19b-20).

Adalah Cara Bukan Tujuan

Banyak orang salah paham, menganggap Allah memberikan Galatia 2:19b-20 sebagai tujuan kita. Mengharapkan kita jadi orang Kristen lima tahun, sepuluh tahun, sampai satu hari, kita bisa berkata, "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan aku lagi yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Mereka mengira ini adalah satu tujuan yang paling tinggi, yang harus dicapai. Banyak orang berpikir, Kalau aku terus menuntut, menuntut sampai suatu hari mencapai tingkat itu, alangkah baiknya." Tetapi kita harus ingat, Galatia 2:19b-20, tidak membicarakan Allah menyuruh kita mencapai tujuan itu. Yang Allah katakan adalah cara Allah, adalah yang sudah dirampungkan oleh Allah. Allah akan memperlihatkan kepada kita, apakah hidup (hayat) orang Kristen itu? Bagaimana orang Kristen harus menampilkan hidupNya untuk memuaskan hatiNya. Syukur kepada Allah! Kita di dalam Kristus sudah mati tersalib, tidak perlu kita menuntut hidup bersama Dia, melainkan Kristus menjadi hidup (hayat) kita, hidup bagi kita. Kalau kita ingin menampilkan hidup (hayat) Kristus, agar memuaskan Allah, caranya adalah, "namun aku hidup tetapi bukan aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."

Adalah Satu Hukum

Paulus berkata, "Karena bagiku hidup adalah Kristus" (Filipi 1:21). lni bukan berarti Paulus menjadi orang Kristen bertahun-tahun baru mencapai tingkat itu dan mengatakan, "Karena bagiku hidup adalah Kristus." Maksud Paulus ialah, "Inilah jalanku." Apa yang disebut hidup orang Kristen? Hidup orang Kristen adalah Kristus. Apa yang disebut Kristus tinggal di dalam diri kita? Kristus tinggal di dalam diri kita berarti Kristus menjadi hidup kita, menggantikan kita hidup. Bukan kita sendiri hidup bersandar kekuatan Tuhan, melainkan Tuhan di dalam kita menggantikan kita hidup. Ini adalah satu warisan yang dapat kita nikmati. Allah memberikan Kristus kepada kita sebagai hidup (hayat). Kehidupan orang Kristen tidak memerlukan kekuatan sendiri, karena kehidupan orang Kristen adalah satu hukum. Allah memberikan Kristus kepada kita sebagai hidup (hayat) kita. Ini adalah satu hukum. Dengan sendirinya tidak perlu kita melakukan sesuatu. Hukum kehidupan (hayat) Roh Kudus ada di dalam kita (Roma 8:2). Bukan kita sendiri bertekad akan berbuat bagaimana, melainkan satu hukum, dengan sendirinya demikian. Kita harus tahu ini adalah satu hukum kehidupan. Kalau bukan satu hukum, kita harus mengeluarkan banyak tenaga, harus berusaha; kalau satu hukum, kita tidak perlu mengeluarkan tenaga, tidak perlu berusaha. Misalnya, di tangan Anda ada satu barang. Begitu Anda melepaskan barang itu, ia pasti jatuh ke tanah, karena ada hukum gravitasi. Hukum dengan sendirinya bisa menyatakan suatu pemyataan, ia ada bukan karena mengeluarkan tenaga. Syukur kepada Allah! Hidup orang Kristen adalah satu hukum, kita tidak perlu memegang erat-erat. Syukur kepada Allah, hukum itu dengan sendirinya menjadi tuan. Allah menaruh Kristus di dalam diri kita, memberikan Dia kepada kita untuk menjadi warisan, Dialah yang dengan sendirinya melakukan. Asal kita seperti Ishak menerirna, sudahlah cukup.

Adalah Satu Orang

Sekarang kita kembali membaca I Korintus 1:30, "Oleh Dia kamu berada dalam Kristus." Ini adalah bagian atas dari ayat ini, membicarakan kita ada di dalam Kristus Yesus. Bagian bawah ayat ini mengatakan, "yang oleh Allah telah menjadi hikrnat bagi kita. la membenarkan dan menguduskan dan menebus kita." ("Yang sudah menjadi bagi kita adalah hikmat dari Allah, yaitu kebenaran dan kesucian, dan penebusan"; terjemahan lama). Allah membuat Tuhan Yesus menjadi kebenaran kita, Allah membuat Kristus menjadi kekudusan kita, Allah membuat Kristus menjadi penebusan kita. Kebenaran asalnya adalah satu barang, tetapi kebenaran yang Allah berikan kepada kita bukan satu barang, melainkan satu Orang, yaitu Tuhan Yesus sendiri di dalam kita menjadi kebenaran kita; Dialah kebenaran kita. Kekudusan asalnya adalah satu keadaan, tetapi kekudusan yang Allah berikan kepada kita bukan satu keadaan, melainkan satu Orang, yaitu Tuhan Yesus sendiri di dalam kita menjadi kekudusan kita; Dialah kekudusan kita. Penebusan asalnya adalah satu pengharapan kita, tetapi penebusan yang Allah berikan kepada kita bukan satu pengharapan, melainkan satu Orang, yaitu Kristus di dalam kita menjadi pengharapan kita yang mulia.

Adalah Kristus Sendiri

Sebab itu penghidupan orang Kristen setiap hari adalah menikmati Kristus, menerima Kristus. Di satu pihak, Anda berdiri dalam Kristus, Anda nampak semua yang dirampungkan Kristus adalah milik Anda. Di pihak yang lain, ketika Anda sehari lewat sehari hidup di bumi, Anda nampak Kristus menjadi "barang" yang Anda perlukan. Kristus adalah "barang" itu. Kekudusan kita adalah Kristus sendiri, kebenaran kita adalah Kristus sendiri. Kesabaran kita adalah Kristus sendiri, kerendahan hati kita adalah Kristus sendiri, kelemah-lembutan kita adalah Kristus sendiri, kebajikan kita adalah Kristus sendiri. Bukan karena kita sendiri yang bersukacita lalu itu disebut sukacita, melainkan apa yang dinyatakan Kristus yang tinggal di dalam kita, itulah sukacita. Bukan kita di depan orang berpura-pura lemah-lembut, lalu itu disebut lemah-lembut, melainkan Kristus tinggal di dalam kita, yang Ia tampilkan, itulah lemah lembut. Sukacita kita, lemah lembut kita, . . . semuanya adalah Kristus sendiri. Inilah yang dinyatakan oleh Kristus.

Di sinilah keistimewaan kekristenan: di dalam kita ada satu hidup (hayat), hidup ini adalah Kristus sendiri. Tidak perlu kita mengeluarkan tenaga, hidup ini dengan sendirinya terwujud/temyata; ada lemah-lembut, ada kebaikan, ada rendah hati, ada kesabaran. Kristus di dalam kita menjadi kelemah-lembutan kita, menjadi kebaikan kita, menjadi rendah hati kita, menjadi kesabaran kita. Kita mengira lemah lembut adalah semacam kebajikan kita, kebaikan adalah semacam kebajikan kita, kerendah-hatian adalah semacam kebajikan kita, kesabaran adalah semacam kebajikan kita, tetapi firman Allah memperlihatkan kepada kita, semuanya itu adalah Kristus sendiri. Allah menaruh Putra-Nya ke dalam kita, supaya di dalam segala situasi, dengan sendirinya yang terwujud adalah Kristus sendiri. Ketika kita menjumpai cobaan yang menyuruh kita gelisah, yang terwujud dari hidup ini adalah kesabaran; menjumpai pencobaan, supaya Anda sombong, yang terwujud dari hidup ini adalah rendah hati; menjumpai pencobaan supaya Anda keras, yang terwujud dari hidup ini adalah lemah-lembut; menjumpai urusan yang mendorong Anda tercemar kenajisan, yang terwujud dari hidup ini adalah kekudusan. Kristus dari dalam kita mewujudkan kekudusan, Kristus dari dalam kita mewujudkan kesabaran, Kristus dari dalam kita mewujudkan rendah hati, Kristus dari dalam kita mewujudkan lemah-lembut, Kristus dari dalam kita mewujudkan sukacita. Kristuslah yang menjadi kesabaran kita, Kristuslah yang menjadi rendah hati kita, Kristuslah yang menjadi lemah-lembut kita, Kristuslah yang menjadi kekudusan kita. Bukan kita yang melakukan, melainkan Kristus yang hidup. Bukan kita rendah hati bersandarkan Tuhan, melainkan Kristus adalah rendah hati kita; bukan bersandar Tuhan kita kudus, melainkan Kristuslah kekudusan kita, bukan kita hidup untuk mencapai tujuan Allah, melainkan Kristus dengan spontan terwujud untuk mencapai tujuan Allah. Tuhan di dalam kita mewujudkan Dia sendiri, dengan spontan kita demikian. Ini barulah Kekristenan.

ALLAH ISHAK DAN ALLAH YAKUB

Kita perlu mengenal Allah Abraham. Kalau kita ingin menempuh jalan yang di depan, kita harus menyerahkan diri sendiri kepada Allah Yang Mahakuasa, agar Dia pada waktu yang tepat memberi kita wahyu, sehingga kita mengenal Dia adalah Bapa, sehingga kita nampak yang berasal dari diri kita sendiri tidak dapat memuaskan hati-Nya. Semuanya harus berasal dari Allah, karena Allah adalah Bapa. Kita juga harus mengenal Allah Ishak. Kita harus nampak semuanya adalah Kristus yang melakukan; dulu Dia yang melakukan, kelak masih tetap Dia yang melakukan. FaktaNya adalah milik kita, hayatNya adalah milik kita, pengalamanNya adalah milik kita, kekuatanNya adalah milik kita. Pada satu aspek, kita di dalam Kristus, pada aspek lain, Kristus di dalam kita. Pekerjaan kedua aspek ini tidak perlu kita sendiri yang melakukan. Perlu pada suatu hari Allah membuka mata kita, supaya kita nampak semuanya berasal dari Kristus. Semua yang berasal dari Allah, dirampungkan oleh Kristus. Sumbemya adalah Allah, yang bekerja adalah Kristus.

Setelah kita mengenal Allah Ishak, perlu mengenal Allah Yakub. Apakah perbedaan makna rohani antara Allah Ishak dengan Yakub? Kita boleh berkata demikian, Allah Ishak membahas bagaimana Allah membagikan AnakNya kepada kita; Allah Yakub membahas bagaimana Allah melalui Roh Kudus menanggulangi/membereskan kita. Allah Ishak memperlihatkan kepada kita karunia Allah; Allah Yakub memperlihatkan kepada kita penggenapan/penghakiman Allah. Allah Ishak membuat kita berani bersaksi, "Allah memperlihatkan kepadaku terang yang ban', supaya aku mengenal Kristus adalah hidupku, aku telah menang;" Allah Yakub membuat kita dengan gentar berkata, "Allah memimpin aku mengenal diriku sendiri, supaya aku selamanya tidak berani berkata, aku bisa diandalkan, tidak berani berkata, aku berguna" Allah Ishak membuat kita dengan berani mengatakan, "Dosa telah kuinjak di bawah telapak kakiku"; Allah Yakub membuat kita dengan gemetar berkata, "Dalam situasi apa saja dan kapan saja aku berkemungkinan gagal." Allah Ishak memperlihatkan Kristus kepada kita; Allah Yakub menyingkapkan diri kita untuk diperlihatkan kepada kita. Mengenal Allah lshak membuat kita mempunyai keyakinan, karena semuanya dilakukan oleh Kristus, bukan kita yang melakukan; mengenal Allah Yakub, membuat kita mengenal diri sendiri, sehingga kita tidak berani memegahkan diri. Kalau kita dengan teliti membaca Alkitab, kita dapat melihat perbedaan dua macam pengenalan ini.

Boleh dikatakan, Allah Yakub merampungkan pekerjaan Allah Ishak. Allah Yakub bekerja dalam kita, supaya kita ada kedudukan untuk Allah Ishak, ada kedudukan untuk Kristus, supaya Kristus di atas diri kita semakin lama mendapatkan makin banyak kedudukan. Inilah yang membuat kita menjadi "dalam kelemahan dan sangat takut dan gentar" (I Korintus 2:3). Kehidupan kita seperti suatu kontradiksi. Di satu pihak, kita di dalam Kristus sangat yakin; di pihak lain, kita sendiri tidak ada keyakinan. Di satu pihak, kita berani bersaksi, berani berkata; di pihak lain, kita tidak berani berkata apa-apa. Kita di depanNya betul-betul seperti debu. Kalau tidak ada darah Kristus, kita tidak bisa berjumpa dengan Allah. Setelah kita mengenal Allah Ishak, kita masih perlu mengenal Allah Yakub; gabungan kedua pengalaman ini adalah penghidupan orang Kristen.