← Daftar isi Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub · bab 6/12

BAB 6

Abraham dan Anak

(3)

-- Abraham Mempersembahkan Ishak --

Pembacaan Alkitab:

Galatia 4:29-31; 5:1; lbrani 11:17-19; Yakobus 2:20-24; Kejadian 21:8-10; 22:1-5, 16-18

Setelah Abraham berdoa bagi perempuan-perempuan Abimelekh, dan ia mengenal Allah adalah Bapa, pada hari yang disebut oleh Allah, Sara melahirkan seorang anak laidlaki bagi Abraham. Abraham menamakan anak itu Ishak. Ketika Ishak lahir, Abraham berusia seratus tahun (Kejadian 21:5).

HARI MENGUSIR ISMAEL

Pada hari Ishak disapih, Allah melalui Sara mengucapkan kata, "Usirlah hamba perempuan itu serta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku, Ishak" (Kejadian 21:10). Ini bukan karena Sara iri. Galatia 4:30 memperlihatkan kepada kita, hal itu adalah kata-kata yang diucapkan Allah melalui mulut Sara. "Sebab anak hamba perempuan tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anak perempuan merdeka itu." lni berarti hanya satu yang bisa mencapai tujuan Allah, yaitu Ishak, bukan Ismael. Karena Ismael adalah yang pertama bukan yang kedua, maka ia mewakili Adam bukan mewakili Kristus. "Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah (milik daging). Kemudian barulah datang yang rohaniah" (I Korintus 15:46). Yang milik daging tidak bisa mewarisi warisan rohani, dan tidak bisa mencapai tujuan Allah. Yang kedua adalah Ishak, sebab itu Ishak mewakili yang rohani, bisa mewarisi warisan Allah, mempertahankan kesaksian Allah.

Sungguh ajaib, Ismael tidak diusir begitu dilahirkan, melainkan sampai hari Ishak disapih, baru diusir. Sebelum ada Ishak, tidak bisa mengusir Ismael. Ada saudara saudari, asalnya penuh dengan pekerjaan daging dan perbuatan daging, sampai suatu hari, ia tahu apa yang disebut daging, apa yang disebut nafsu, segera dia tidak berani berbuat apa-apa, semua pekerjaan dia hentikan. Hal ini karena dia belum memiliki Ishak. Begitu ia mengusir Ismael, ia tidak bisa bekerja apa-apa. Banyak orang Kristen bekerja berdasarkan maksudnya sendiri, bekerja berdasarkan kekuatan sendiri. Sampai suatu hari, begitu dia menghentikan pekerjaan daging, pekerjaan rohani juga tidak terlihat. Karena tadinya dia tidak memiliki yang rohani, hanya memiliki daging, maka begitu dia menghentikan yang milik daging, yang rohanipun tidak ada. Tetapi prinsip di sini mengatakan sampai hari Ishak disapih, yaitu Ishak menjadi kuat sebagai anak, Ishak telah mendapatkan kedudukan, Ismael baru diusir.

Apa yang disebut diusir? Galatia 5:1 mengatakan, "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." Makna ayat ini adalah Tuhan Yesus telah memerdekakan kita, Tuhan Yesus telah hidup di dalam kita, kehidupan yang telah kita terima adalah kehidupan yang merdeka. Kita adalah orang-orang yang telah mempunyai kemerdekaan, sebab itu kita jangan berkeinginan "melakukan" sesuatu untuk mencari perkenan Allah. Begitu Anda "melakukan", segera Anda menjadi Ismael. Bila Anda tidak "melakukan", Anda hidup di dalam kemerdekaan anak. Ketahuilah, kehidupan orang Kristen tergantung pada satu perkara ini, – Anda "melakukan" atau Anda tidak "melakukan".Begitu Anda berencana ingin "melakukan" sesuatu untuk mencari perkenan Allah, diri Anda datang, dosa dan maut juga datang; Anda segera jatuh ke dalam kedudukan Ismael, menjadi anak hamba perempuan. Anak perempuan merdeka tidak perlu bersandarkan diri sendiri "melakukan",karena di dalam kita ada satu kehidupan, dan kehidupan itu dengan sendirinya bisa melakukan. Kita "adalah" orang Kristen, kita bukan "melakukan/berbuat" menjadi orang Kristen. Kita "adalah" anak-anak Allah, bukan "melakukan/berbuat" menjadi anak-anak Allah. Kita adaiah hidup di dalam keberadaan fakta itu, bukan hidup di dalam melakukan agar menjadi fakta itu. Bila kita "melakukan menjadi", kita sudah "dikenakan kuk perhambaan", menjadi anak hamba perempuan. Kalau kita hidup dalam kedudukan Ishak, kehidupan itu dengan sendirinya terekspresi di atas diri kita.

Setelah Abraham mengusir Ismael, Abimelekh yang pernah menegur Abraham pun malah datang dan berkata kepadanya, "Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang kaulakukan" (Kejadian 21:22). Sekarang, akar kegagalan Abraham itu sudah dicabut semuanya. Allah melalui Ishak mutlak mengekspresikan pekerjaanNya.

UJIAN KETIGA MEMPERSEMBAHKAN ISHAK

Untuk perkara anak, Abraham sudah menerima dua kali ujian. Ujian yang pertama adalah melahirkan Ismael, ujian yang kedua berdoa bagi perempuan-perempuan keluarga Abimelekh. Sekarang Abraham menerima ujian yang ketiga. Ujian yang ketiga adalah ke gunung Moria mempersembahkan Ishak.

Sekarang Abraham sudah mencapai kedudukan yang seharusnya ia capai. Boleh dikatakan, ia sudah sampai di puncak yang paling tinggi. Setelah pasal 22, yang tercantum adalah catatan masa tuanya. Sebab itu perkara yang dicatat dalam pasal 22 adalah titik puncak tertinggi yang dicapai oleh Abraham. Boleh dikatakan puncak siang hari seumur hidupnya.

Kejadian 22:1-3 mencantumkan, "Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Dia berfrrrnan kepadanya: Abraham, lalu sahutnya: Ya, Tuhan. FirmanNya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pengilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Ku-katakan kepadamu." Permintaan ini berhubungan dengan penggenapan janji Allah. Ya, Ishak adalah anak tunggal Abraham yang sangat dikasihi Abraham. Bagi Abraham, mempersembahkan Ishak adalah harga yang terlalu besar. Tetapi hal ini bukanlah hal yang paling utama. Ibrani pasal 11 memperlihatkan kepada kita, yang tidak dicatat dalam Kejadian 22. Ibrani 11:18 mengatakan, ". . . keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Jadi, masalahnya sekarang bukan hanya mengorbankan seorang anak yang sangat dikasihi Abaraham, juga berhubungan dengan janji Allah, dengan tujuan Allah dan pekerjaan Allah. Anak yang Allah berikan kepada Abraham ini, bukan hanya diberikan kepada Abraham seorang, tetapi Allah juga ingin mencapai tujuanNya melalui anak ini. Kalau anak ini mati, apa yang akan terjadi? Inilah ujian yang diterima Abraham.

Sebab itu ujian terhadap Abraham, secara perorangan adalah satu masalah, sebagai bejana juga adalah masalah yang lain. Ibrani 11:18 menyiratkan kepada kita, ujian ini berhubungan dengan masalah bejana. Hal ini tidak bisa diterima oleh Abraham. Allah ingin memberi Abraham satu anak. Ia juga menyuruh mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran! Korban bakaran harus dibakar oleh api sampai habis. Semua janji Allah ada pada Ishak; kalau membakar Ishak, bukankah berarti membakar habis semua janji Allah? Tujuan Allah, pekerjaan Allah, semua tertumpuk pada diri Ishak; kalau Ishak dibakar, bukankah tujuan Allah dan pekerjaan Allah juga terbakar? Ismael dilahirkan berdasarkan daging. Kalau ia diusir, itu memang masuk akal dan benar. Tetapi Ishak dilahirkan berdasarkan janji Allah, mengapa dia harus dipersembahkan sebagai korban bakaran? Tadinya Abraham sudah merasa puas dengan Ismael, tetapi Allah berkata, "Tidak!" Allah sendiri berkali-kali berkata, "Sara akan melahirkan seorang anak." Abraham sebenarnya tidak memaksa meminta anak itu, tetapi Allah sendiri yang memberi kepadanya. Sekarang, Allah akan mengambil kembali anaknya, bukan mengambil dengan cara biasa, melainkan dengan membakamya. Ini perkara yang sangat mengherankan. Kalau Ishak tidak patut lahir, sejak dini Allah seharusnya tidak memberitahu Abraham; kalau Ishak patut lahir, seharusnya ditinggalkan kepada Abraham. Kalau tidak diberikan kepadanya, dari mulanya tidak usah menyuruh dia lahir; kalau diberikan kepadanya, tidak seharusnya menuntut dia mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran. Disuruh melahirkan, juga disuruh mempersembahkan, bagaimana ini? Ini tidak lain karena Allah ingin supaya Abraham mengenal lebih dalam bahwa Allah adalah Bapa!

Allah adalah Bapa

Abraham harus belajar pelajaran yang terakhir, pelajaran ini juga adalah pelajaran yang ia pelajari sejak mula. Kalau Allah ingin disebut sebagai Allah Abraham. Abraham harus mengenal Allah adalah Bapa. Memang tentang Ishak tidak ada masalah lagi, Ishak benar-benar pemberian Allah, benar-benar anak dari janji Allah. Tetapi masalahnya ialah hubungan apa yang terjadi antara Abraham dengan Ishak? Satu pelajaran yang paling dalam yang harus kita pelajari di depan Allah, adalah terhadap semua pemberian Allah kepada kita, kita tidak boleh mempunyai hubungan yang langsung. Allah tidak menghendaki kita dengan dia mempunyai hubungan yang langsung. Tidak hanya sesuatu yang kita dapatkan berdasarkan daging itu tidak benar, meskipun kita dapatkan berdasarkan janji, kalau kita dengan tangan daging memegang, mempertahankannya, itu juga tidak benar. Memang Ishak adalah pemberian Allah, tetapi masalahnya, bagaimana hubungan antara Abraham dengan Ishak.

Dalam hal Abraham melahirkan Ishak, ia sudah mengenal Allah adalah Bapa. Tetapi Abraham harus mengetahui satu hal lagi, yaitu sebelum Ishak lahir, Allah adalah Bapa; sekarang Ishak sudah lahir, apakah Allah masih sebagai Bapa? Banyak keadaan orang Kristen demikian: Sebelum Ishak lahir, mereka melihat Allah adalah Bapa; setelah Ishak lahir, mata mereka selalu melihat Ishak, tidak melihat Allah adalah Bapa lagi. Harapan mereka, mata mereka, maksud hati mereka, semua tertuju pada diri Ishak. Mereka berpikir, Ishak ini akan mencapai tujuan Allah, Ishak ini akan merampungkan janji Allah, Ishak ini akan mendatangkan umat Allah. Sebab itu, mereka harus menghargai Ishak, harus memperhatikan Ishak, harus merawat Ishak! Lalu, bagaimana dengan Allah? Sejak Ishak lahir, mereka mengesampingkan Allah. Sekarang semua perhatian tertuju kepada lshak, tidak lagi ada hubungan dengan Allah. Tetapi kita harus nampak, Allah adalah Bapa, Dia tidak membiarkan kita berhenti pada diri Ishak. Allah adalah Bapa, tidak bisa dibatasi oleh waktu. Sebelum ishak lahir, Allah adalah Bapa, setelah Ishak lahir, Allah tetap adalah Bapa. Janji Allah bisa sukses atau tidak bukan terletak pada diri Ishak, melainkan pada diri Allah.

Ishak adalah karunia yang diberikan oleh Allah. Ada satu bahaya yang paling besar bagi kita di hadapan Allah, yakni sebelum kita mendapatkan karunia, tangan kita kosong, kita bisa bersekutu dengan Allah, berhubungan dengan Allah. Tetapi setelah kita mendapatkan karunia, tangan kita penuh, tidak bisa lagi bersekutu dengan Allah, tidak bisa berhubungan dengan Allah. Ketika tangan kita kosong, kita dengan tangan kosong bersekutu dengan Allah; tetapi setelah tangan kita menerima karunia, kita lalu menjadi puas, kita tidak lagi bersekutu dengan Allah. Di sini Allah ingin memberi kita satu pelajaran, kita harus mengesampingkan karunia, kita harus mutlak tinggal di dalam Allah. Ketika daging manusia belum dibereskan dengan tuntas, manusia selalu tinggal di dalam karunia Allah, dan mengabaikan diri Allah sendiri. Hal ini tidak diperkenan oleh Allah.

Melahirkan Ishak adalah pengalaman Abraham. Boleh dikatakan, ini adalah pengalaman Abraham yang paling berharga. Tetapi Allah memberitahu kita, suatu pengalaman bukan untuk kita pakai seumur hidup. Ketahuilah, sumber kita adalah Allah, bukan pengalaman. Melahirkan Ishak adalah satu pengalaman, tetapi ini bukan Bapa; melahirkan Ishak adalah satu pengalaman, tetapi ini bukan sumber. Kesulitannya di sini: begitu kita mendapatkan satu pengalaman mengenai Kristus, kita segera memegang pengalaman ini, seharian terus menghargai pengalaman ini, tetapi lupa Allah adalah Bapa. Allah tidak membiarkan hal ini terus demikian. Allah harus memperlihatkan kepada kita, bahwa pengalaman kita boleh dikesampingkan, tetapi Allah tidak boleh dikesampingkan. Boleh ada Ishak, boleh juga tidak ada Ishak, tetapi kita tidak boleh satu menit bahkan satu detik pun terpisah dari Bapa.

Namun, ini belum menjamah intinya. Baik Ishak mewakili karunia atau mewakili satu pengalaman, ini hanya menjamah kehidupan daging kita saja. Di sini masih ada satu hal yang lebih penting, yaitu Ishak adalah mewakili kehendak Allah yang dikatakan kepada Abraham pada waktu itu. Kalau Ishak mati, bukankah kehendak yang Allah katakan kepadanya itu, tidak akan bisa tergenapi? Karena harus menghargai/memperhatikan kehendak Allah yang Allah katakan kepadanya, maka Abraham tidak bisa tidak dengan kekuatan yang ada memegang Ishak. Banyak orang Kristen keadaannya demikian. Tetapi kita bisa tahu, bahwa kita berhubungan dengan Allah, bukan berhubungan dengan perkara yang akan dikerjakan oleh Allah, bukan berhubungan dengan kehendak yang kali itu diucapkan oleh Allah. Di depan Allah kita akan dibawa ke satu tahap, tidak ada sedetikpun bagi ego kita. Allah akan menyelamatkan kita pada satu tahap, yaitu supaya yang kita kehendaki adalah diri Allah sendiri; bukan menghendaki pekerjaan yang Allah suruh kita lakukan. Sering kali kita dengan tangan daging mempertahankan pekerjaan yang Allah kehendaki kita lakukan, mengira karena Allah yang menyuruh kita melakukan perkara itu, maka bagaimanapun, kita harus dengan segala kekuatan merampungkan perkara itu. Tetapi Allah menghendaki kita belajar tidak mempertahankan maksud diri sendiri. Bila Allah menyuruh kita melakukan, kita melakukan, bila Allah tidak menghendaki kita melakukan, kitapun tidak melakukan.

Ishak juga mewakili pekerjaan rohani. Pada suatu kali, Allah memanggil kita, menyuruh Kita melakukan suatu pekerjaan rohani, tetapi hati kita benar-benar merasa tidak nyaman karena kita mau Ismael, kita mempunyai pekerjaan kita sendiri yang ingin kita lakukan. Sampai satu hari, Allah berbicara, berbicara, berbicara lagi sampai satu tahap, kita tidak bisa melarikan diri lagi, lalu kita berkata, "Baiklah, aku mau meletakkan pekerjaanku, untuk mengerjakan pekerjaan itu." Tetapi bahaya kedua menyusul, yaitu ketika kita melepaskan yang pertama, kita kembali memegang yang kedua. Sebelum ada Ishak, kita mau Ismael. Setelah ada Ishak, kita mempertahankan Ishak. Kita tidak berhubungan langsung dengan Allah, tetapi berhubungan langsung dengan pekerjaan. Kita ingin terus bekerja, dan tidak bisa tidak bekerja, tetapi kita telah menggantikan kedudukan Allah dengan pekerjaan. Untuk itulah Allah membiarkan pekerjaan ini mati. Mungkin Anda bisa berkata kepada Allah, "Bukankah Engkau menghendaki aku melakukan hal ini? Mengapa perkara ini bisa gagal sedemikian rupa?" Ketahuilah, Allah membiarkan Anda gagal, supaya Anda nampak, bahwa Anda tidak boleh berhubungan langsung dengan pekerjaan itu. Kalau Anda nampak hal ini, ego Anda akan keluar dari diri Anda.

Dulu kita melahirkan Ismael, bukan melahirkan Ishak, itu adalah daging. Sekarang kita dengan tangan diri sendiri memegang Ishak, ini juga daging, sama-sama dagingnya. Allah akan menguji Abraham supaya ia tahu, hari ini ia berhubungan langsung dengan Ishak atau berhubungan langsung dengan Allah. Inilah ujian yang Abraham terima di gunung Moria.

Hari ini kita harus bertanya kepada diri kita sendiri dengan pertanyaan yang sama: Allah memanggil kita, menyuruh kita bekerja, menyuruh kita melayani Dia; pada mulanya kita tidak mau, tetapi kemudian mau, kita lalu mengerjakan pekerjaan Allah. Sampai hari ini, apakah kita mengasihi pekerjaan itu? Apakah kita tidak bisa meletakkan pekerjaan itu? Apakah kita dengan tangan kita sendiri terus memegang erat pekerjaan itu? Kalau demikian, Allah akan membereskan kita. Allah akan membuat kita nampak, ldta boleh kehilangan Ishak, tetapi tidak boleh kehilangan Allah, karena hanya Allah adalah Bapa! Tetapi banyak orang Kristen hanya mengetahui pekerjaan rohani, tetapi tidak mau Allah. Kita harus mohon Allah memberkati kita, supaya kita nampak, bahwa kita tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan rohani, kita berhubungan langsung dengan Allah, karena Allah adalah Bapa kita

Allah adalah

Allah yang Membangkitkan Orang Mati

Kini Abraham sudah mencapai taraf kematangan. Ketika ia mendengar Allah menyuruhnya mempersembahkan Ishak, ia tidak merasa bahwa itu adalah perkara yang sulit. la berkata kepada hambanya, "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu" (Kejadian 22:5). la sama sekali tidak menyinggung kata "korban", karena dalam pandangannya, ini adalah beribadah kepada Allah. Selain Allah sendiri, bahkan pekerjaan yang paling penting yang diatur oleh Allah, tidak bisa terhitung berharga. Bila Allah menyuruhnya meletakkan, ia bisa meletakkan. Semuanya untuk Allah, sedikitpun ia tidak berselisih dengan Allah.

Ibrani 11:9 memperlihatkan kepada kita, ketika Abraham mempersembahkan Ishak, dia juga mengenal Allah adalah Allah yang membangkitkan orang mati. la menurut perintah Allah mempersembahkan Ishak, ia juga "Dari sana (kematian) ia seakan-akan telah menerimanya (anaknya) kembali." Memang kenyataannya ia tidak membunuh Ishak, Ishak tidak mati. Tetapi Ibrani 11:19 mengatakan, Abraham "dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali." la nampak Allah bukan hanya Allah Pencipta, juga Allah yang membangkitkan orang mati. la percaya, meskipun Ishak anaknya mati, Allah juga akan membangkitkannya. la mengenal Allah adalah Bapa, adalah permulaan segala sesuatu, Allah adalah yang menjadikan dengan firmanNya segala sesuatu yang tidak ada menjadi ada, adalah yang membangkitkan orang mati. la mengetahui Allah adalah Bapa, sebab itu ia percaya kepada Allah, ia menengadah kepada Allah. Kejadian pasal 15 mencatat, Abraham dibenarkan karena iman; di sini, karena perbuatan iman Abraham, Allah membenarkan dia lagi. Yakobus 2:21-23 menunjukkan hal ini. Sekarang, semua perkara Abraham berhubungan langsung dengan Allah, ia tidak langsung berhubungan dengan Ishak.

SUKSESNYA BEJANA ALLAH

Sebab itu kita harus belajar di hadapan Allah melihat hal ini: semua amanat yang kita terima, pekerjaan yang kita kerjakan, kehendak Allah yang telah kita ketahui, harus diletakkan. Yang alamiah jauh berbeda dengan yang bangkit dari kematian. Ketahuilah, terhadap segala yang alamiah, sering kali kita tidak mau meletakkan; namun segala sesuatu yang bangkit dari kematian, dijaga oleh Allah, bukan kita sendiri yang bisa memegang dengan tangan daging kita. Kita harus belajar sampai tahap ini: Allah menyuruh kita bekerja bagiNya, kita bersyukur kepada Allah; Allah tidak menyuruh kita bekerja bagiNya, kita tetap bersyukur kepada Allah. Kita bukan langsung berhubungan dengan pekerjaan Allah, tetapi kita langsung berhubungan dengan Allah sendiri. Segala sesuatu harus mati dan bangkit kembali. Apa artinya mati dan bangkit kembali? Yaitu segala sesuatu tidak bisa kita pegang. Yang tidak bisa kita pegang itulah kebangkitan. Yang alamiah, bisa kita pegang; yang dad kebangkitan, tidak bisa kita pegang. Kita harus nampak, segala milik kita berasal dari Allah, dan segala yang berasal dari Allah juga tidak bisa kita miliki untuk diri sendiri, harus diletakkan di tangan Allah. Allah memberikan Ishak kepada Abraham, tetapi Ishak bukanlah milik Abraham, melainkan milik Allah. Sampai tahap ini Abraham menjadi satu bejana yang sukses.

Setelah Abraham mencapai tahap ini, Allah berkata apa? Allah berkata, "Aku bersumpah demi diriKu sendiri --demikianlah firman TUHAN –: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firmanKu" (Kejadian 22:16-18). Tujuan yang terakhir dari Allah memanggil Abraham yang kita singgung di depan, sekarang sudah tercapai. Allah memanggil Abraham dengan tiga tujuan. Pertama, akan memberikan tanah Kanaan kepada Abraham dan keturunannya Kedua, supaya dia dan keturunannya menjadi umat Allah. Ketiga, oleh dia semua kaum di muka bumi akan mendapatkan berkat. Abraham telah menerima ujian untuk tanah Kanaan, juga telah menerima ujian untuk keturunan. Sekarang Abraham telah menjadi bejana Allah, sebab itu Allah bisa berkata, "Oleh keturunanmulah semua bangsa di muka bumi akan mendapat berkat." Sekarang tujuan Allah sudah tercapai.

Jadi, bejana Allah bukan tersusun dari karunia, minister (pelayan) Allah juga bukan tersusun dari karunia. Bejana Allah, minister Allah, adalah orang-orang telah melewati penanggulangan di depan Allah, dan mempunyai pengalaman yang cukup banyak. Dalam pelayanan kepada Allah, manusia sering mempunyai kesalahan yang sangat fatal, yaitu mengira bahwa dasar pekerja-pekerja Allah adalah dibangun di atas pengetahuan dan karunia, bahkan dibangun di atas kepandaian alamiah. Kalau ada orang yang alamiahnya agak lebih pandai, ingatannya agak lebih baik, lalu menganggap orang ini baik, menganggap dia mempunyai pengharapan, mempunyai fungsi rohani dalam hal melayani Allah. Orang sering mengira asal alamiahnya pandai, cekatan, ada peta lidah, lalu lebih banyak mendengar doktrin, lebih banyak membaca Alkitab, lebih banyak mendapatkan pengetahuan Alkitab, karunia rohani, dan peta lidah rohani, maka orang ini adalah orang atau bejana yang "layak dipakai oleh Tuhan." Tetapi di sini kita akan berterus terang, bejana pertama yang mendapat panggilan karunia Allah, bukan terbentuk secara demikian. Abraham adalah bejana pertama yang dipanggil oleh Allah untuk merampungkan rencana Allah yang kekal. Tetapi dia tidak terbentuk secara demikian. la dibawa oleh Allah dari satu jalan yang terus-menerus memperlihatkan kelemahan dirinya, ketidakmampuan dirinya, kekuatan dagingnya tidak diperkenan oleh Allah. Allah selangkah demi selangkah membereskan dia, membereskan dia sampai satu tahap, sehingga dia benar-benar mengenal Allah adalah Bapa; dan terakhir mempersembahkan Ishak. Sampai tahap ini, dia baru menjadi bejana Allah, Allah baru bisa berkata kepadanya, "Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapatkan berkat."

Memang, melayani Allah mempunyai beberapa tingkat keadaan, dan pada tingkat yang manapun kita bisa melayani Allah. Tetapi persoalan hari ini ialah dalam pelayanan tingkat apa baru kita bisa memuaskan hati Allah? Yang betul-betul bisa memuaskan hati Allah adalah pada pihak negatif mengenal salib, pada pihak positif mengenal Allah adalah Bapa. Kekurangan salah satu dari dua hal ini berarti kekurangan nilai rohani. Semoga Allah memberkati kita, sehingga kita nampak, segala sesuatu yang Allah kerjakan di atas diri Abraham bertujuan untuk menyatakan Dia adalah Bapa, Dia adalah permulaan dari segala sesuatu. Karena Abraham mengenal Allah adalah Bapa, maka dalam seluruh Alkitab hanya Abraham yang disebut bapa. Orang yang mengenal Allah adalah Bapa, baru bisa menjadi bapa. Anda di depan Allah mengenal Dia sebagai Bapa, maka Anda akan menjadi suatu bejana. Allah yang Anda kenal menentukan Anda menjadi bejana apa. Semoga Allah menyelamatkan kita dari doktrin yang mati, dari pengetahuan yang mati. Karena hanya pengenalan kita terhadap Allah yang bisa membuat kita menjadi bejana Allah, menjadi minister Allah. Bejana Allah, minister Allah, adalah orang yang mengenal Allah.