← Daftar isi Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub · bab 5/12

BAB 5

Abraham dan Anak

(2)

-- Abraham Disunat --

Pembacaan Alkitab:

Kejadian 16:16; pasal 17-18; pasal 21:1-3, 10-13, 17-18; Kolose 2:11; Filipi 3:3

Allah berjanji kepada Abraham, bahwa ia akan melahirkan seorang anak. Tetapi Abraham tidak menunggu Allah mernberi dia seorang anak, malah berdasarkan diri sendiri ia mengambil isteri lagi untuk melahirkan anak -- Ismael. Setelah ia melahirkan Ismael, selama tiga belas tahun, Allah tidak bicara kepadanya (Kejadian 16:16; 17:1). Meskipun ia telah melahirkan seorang anak, namun ia telah menyia-nyiakan waktu tiga belas tahun. Ini juga pengalaman banyak orang Kristen. Begitu kita bekerja berdasarkan daging, saat itu pula Allah mengesampingkan kita, membiarkan kita makan hasil/buah-buah yang dihasilkan oleh daging kita. Dalam sejangka waktu itu, di pandangan Allah, kita menempuh waktu-waktu kita dengan sia-sia.

Setelah Abraham melahirkan Ismael, selama tiga belas tahun yang cukup panjang itu, meskipun keluarganya tidak ada damai, tetapi Alkitab tidak mencatat Abraham menyesal. Sebaliknya, ia malah menghargai Ismael. Dari perkataannya kepada Allah, "Ah, sekiranya Ismael diperkenan hidup di hadapanMu!" (17:18), kita bisa nampak penghargaannya terhadap Ismael. Meskipun pasal 15 telah mencatat ia percaya, tetapi ia tidak banyak mencari/menuntut kemajuan. Sehari lewat sehari, ia masih menganggap Ismael sebagai kepuasannya. Seorang berdasarkan daging melakukan satu perkara, telah lewat tiga belas tahun masih merasakan dirinya tidak salah; menurut pandangan kita, orang sedemikian tidak berpengharapan. Tetapi kita harus ingat, Abraham adalah orang yang dipanggil oleh Allah, di atas dirinya Allah mempunyai satu tujuan yang hendak dicapai, Allah tidak bisa melepaskannya. Setelah ia merosot selama tiga belas tahun, meskipun Allah tidak berbicara, tetapi Allah terus bekerja. Di sini Allah memperlihatkan kepada kita satu hal, yaitu Dia tidak pernah kendor terhadap orang yang dipilihNya. Kalau Allah ingin mendapatkan orang, orang itu tidak akan bisa melarikan diri dari tanganNya. Meskipun Abraham telah gagal, tetapi Allah mau datang mencarinya. Kita harus tahu, semua tuntutan, pergumulan, kegelisahan, rasa tidak tenteram, yang berasal dari daging kita, tidak bisa membuat kita maju. Kita harus belajar menyerahkan diri ke tangan Allah yang Mahakuasa, supaya Dia memimpin kita menurut apa yang dianggapNya paling baik.

ALLAH MENGADAKAN PERJANJIAN DENGAN ABRAHAM

Lewat tiga belas tahun, Abraham berusia sembilan puluh sembilan tahun, tubuhnya sudah lemah seperti orang mati. Mau melahirkan anak pun, ia sudah merasa tidak bisa. Saat inilah, Allah menyatakan diri kepadanya, berkata kepadanya, "Akulah Allah Yang Mahakuasa" (Kejadian 17:1). Inilah pertama Minya Allah mewahyukan namaNya, "Akulah Allah Yang Mahakuasa." Menurut bahasa aslinya, "Allah yang Mahakuasa" boleh diterjemahkan "Allah yang Serba Cukup." Setelah Allah mewahyukan nama ini, Allah mengajukan satu permintaan kepada Abraham, "Hiduplah di hadapanKu dengan tidak bercela." Meskipun Abraham percaya bahwa Allah adalah Allah yang mempunyai kuat kuasa, tetapi mungkin ia belum percaya bahwa Allah adalah Allah yang Serba Cukup, karena itu ia masih berdasarkan dirinya sendiri melakukan sesuatu. Di sini Allah memperlihatkan kepadanya, kalau ia percaya Allah itu Serba Cukup, ia harus menjadi orang yang sempurna di hadapan Allah. Orang yang tidak bercela, adalah orang yang sempurna, adalah orang yang murni. Allah menuntut Abraham murni, tidak ada campuran.

Allah membuat Abraham mengenal perkara ini. Ia berkata kepadanya, "Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dengan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak . . . Inilah perjanjianKu dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karen itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dengan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka" (Kejadian 17:2-8). Dari Abraham, Allah akan mendapatkan sekelompok orang, Allah akan menjadi Allah mereka.

Abraham sendiri dan umat Allah harus berdiri pada kedudukan apa, baru bisa menjadi umat Allah? Allah berkata, "Inilah perjanjianKu yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dengan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat" (Kejadian 17:10). Dengan kata lain, Allah akan mendapatkan sekelompok umat, umat ini harus tidak memiliki aktivitas daging, tidak memiliki kekuatan daging, tidak memiliki kekuatan darah daging. Jadi, siapakah umat Allah? Orangorang yang telah disunat! Sunat adalah tanda bagi umat Allah. Orang yang lahir di rumah, maupun yang dibeli dari salah seorang asing, yang telah berumur delapan hari, haruslah disunat (ayat 12). Dilahirkan masih kurang, dibeli juga masih kurang, harus disunat baru cukup. IGta semua ini telah dilahirkan dari Allah, juga dibeli oleh Allah. Dari sudut penebusan, kita telah dibeli oleh Allah; dari sudut hayat, kita telah dilahirkan oleh Allah. Tetapi kalau kita tidak disunat, kita tidak ada bagian dalam kesaksian umat Allah. Allah berkata kepada Abraham, "Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orangorang sebangsanya" (ayat 14). Orang yang tidak disunat harus disingkirkan dari umat Allah, ini masalah kesaksian. Artinya, orang yang tidak disunat tidak bisa menjadi bejana kesaksian Allah. Sebab itu, meskipun seseorang telah beroleh selamat, meskipun telah mendapat hayat (hidup), kalau dia belum disunat, kalau dia belum mengenal pemberesan daging oleh salib, dia masih belum bisa menjadi umat Allah, dia masih harus disingkirkan dari antara orang-orang sebangsanya.

MAKNA SUNAT

Kolose 2:11 mengatakan, "Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa" ("tubuh yang berdosa" dalam bahasa aslinya adalah "tubuh daging").

Filipi 3:3 mengatakan, "Kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah," (''lahiriah" dalam bahasa aslinya adalah "daging"). Dua ayat Alkitab ini memperlihatkan kepada kita apa yang disebut disunat. Ringkasnya, "sunat" adalah "menyingkirkan daging". Bagaimanakah sikap orang yang disunat? Tidak bersandar daging dan tidak percaya daging. Siapakah orang yang benar-benar disunat? Orang-orang yang beribadah oleh Roh Allah, yang tidak percaya daging. Sebab itu, makna sunat tidak lain membereskan kekuatan asal manusia, membereskan kekuatan alamiah manusia.

Betapa tepatnya Allah mengucapkan perkataan ini kepada Abraham! Allah memperlihatkan kepada Abraham, yang bisa ia kerjakan berdasarkan diri sendiri, yang bisa ia lahirkan berdasarkan diri sendiri, tidak lain adalah Ismael. Kalau daging tidak dibereskan, tidak bisa berbagian dengan perjanjian Allah. Jika daging tidak dibereskan, tidak bisa menjadi umat Allah, tidak bisa mempertahankan kesaksian Allah, tidak ada bagian dalam pekerjaan pemulihan Allah.

Kesulitan anak-anak Allah yang paling besar adalah tidak mengetahui apa yang disebut daging. Banyak orang Kristen menganggap daging hanyalah hal-hal yang berhubungan dengan dosa saja. Memang, daging benar-benar bisa menyebabkan orang berbuat dosa, tetapi daging bukan hanya menyuruh orang berbuat dosa. Roma 8:8 mengatakan, "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." Ayat itu mengatakan, "daging tidak mungkin berkenan kepada Allah," ini berarti, daging pernah berusaha ingin diperkenan oleh Allah. Sering kali tujuan daging belum tentu berdosa kepada Allah, daging ingin diperkenan oleh Allah. Roma pasal 7 memperlihatkan kepada kita, daging pernah mengeluarkan banyak tenaga untuk memelihara hukum Taurat, rnau berbuat baik untuk melaksanakan kehendak Allah, ingin diperkenan oleh Allah. Tetapi akhirnya tidak bisa melakukan semuanya itu. Pengalaman memberitahu kita, mudah sekali membereskan daging yang berbuat dosa, tetapi sulit sekali rnembereskan daging yang mau berkenan kepada Allah. Daging inilah yang ingin masuk ke dalam pekerjaan Allah; daging inilah yang ingin masuk ke dalam penyembahan terhadap Allah; daging inilah yang ingin masuk ke dalam perkara Allah.

Ada orang yang salah paham, dia tidak nampak, bahwa manusia tidak bisa berdasarkan diri sendiri mendapatkan perkenan Allah. Sebab itu, dia berpikir, "Dulu aku adalah orang model itu, sekarang aku sudah percaya Tuhan. Tujuanku berubah. Aku akan berbuat baik." Orang demikian tidak tahu, bahwa hal yang diperhatikan oleh Allah bukanlah tujuannya berubah atau tidak, melainkan apakah dagingnya sudah dibereskan. Kalau ia ingin bersandar daging mencari perkenan Allah, Allah akan memberitahu dia, bahwa daging tidak bisa mencari perkenan Allah. Kita harus nampak, sunat adalah membereskan daging; membereskan daging yang melahirkan Ismael, membereskan daging yang ingin berkenan kepada Allah, membereskan daging yang rnau melakukan kehendak Allah, membereskan daging yang dengan kekuatan diri sendiri merampungkan janji Allah. Di sini Allah memberi Abraham satu pengenalan ini.

Di hadapan Allah, kesulitan anak-anak Allah yang paling besar adalah tidak membereskan daging, sebaliknya malah percaya kepada daging, bersandar kepada daging. Pemyataan yang paling mencolok dari daging yang belum dibereskan, adalah merasakan dirinya "berkeyakinan" Ciri-ciri daging adalah dirinya sendiri merasa "yakin". Filipi 3:3 mengatakan, "Orang-orang bersunat . . . tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah (daging)." Tidak percaya daging berarti tidak ada keyakinan terhadap daging. Barangsiapa pernah dipukul oleh salib, meskipun orang itu tetap ada, tetapi dia sudah remuk, dia sudah menjadi orang yang takut dan gentar, dia sudah menjadi orang yang tidak lagi percaya diri sendiri, dia sudah menjadi orang yang tidak ada keyakinan diri. Ketika Anda belum dibereskan oleh Allah, setiap perkara yang menimpa diri Anda, dengan rnudah selalu Anda putuskan. Begitu Anda membuka mulut, langsung ada keputusan. Tetapi setelah Anda dibereskan oleh Allah, Anda tidak berani dengan mudah mengambil keputusan. Anda bisa merasakan diri Anda tidak ada keyakinan. Sebab itu, tidak ada orang yang mudah mengeluarkan pendapat, mudah percaya kekuatan diri sendiri, yang mengenal salib. Pada orang yang demikian, tidak ada pekerjaan. Begitu daging Anda disunat, Anda tidak akan percaya diri sendiri, Anda tidak bisa begitu yakin, Anda tidak mudah mengeluarkan pendapat. Kita harus nampak, apa yang kita miliki di depan Allah, adalah lemah bukan kuat, adalah tidak ada sandaran, bukan begitu mantap.

Di sini Allah membawa Abraham sampai satu tahap, khusus memperlihatkan kepadanya, bahwa dagingnya harus dibereskan. Hal yang ia lakukan empat belas tahun yang lalu itu tidak benar. Janji Allah tidak memerlukan Abraham yang bekerja, tidak perlu ia rampungkan sendiri; asal ia percaya sudah cukup. Di samping itu Allah juga memperlihatkan kepadanya, semua keturunannya harus disunat. Itulah syarat utama untuk menjadi umat Allah. Bisakah kita menjadi umat Allah? Syarat pelaksanaannya tergantung kepada kita, daging kita memiliki tanda salib atau tidak. Sunat adalah tanda umat Allah, bukti umat Allah. Apakah yang disebut tanda itu? Tanda adalah ciri-ciri khusus. Umat Allah memiliki satu tanda, satu ciri-ciri khusus, yaitu membuang daging, tidak percaya kepada daging. Umat Allah adalah orang-orang yang mengerat keyakinan daging; umat Allah adalah orang-orang yang kehilangan keyakinan daging.

Sayang sekali, banyak orang Kristen merasakan dirinya ada keyakinan. la tahu bagaimana percaya Tuhan Yesus, ia tahu bagaimana dipenuhi Roh Kudus, ia tahu bagaimana menempuh hidup yang menang, ia tahu penghidupan orang Kristen yang normal, . . . hampir-hampir dia adalah yang "mahatahu!" Sering kali ia memberitahu Anda, pada tahun anu bulan anu ia mempunyai pengalaman anu, bulan berapa, tanggal berapa ia mempunyai pengalaman apa. Hampir-hampir ia tidak kekurangan apa-apa! Sering kali ia ingin memberitahu Anda, bagaimana dia bersekutu dengan Allah, bagaimana dia berhubungan dengan Allah. la tahu pada suatu kali Allah berbicara kepadanya, pada suatu kali kehendak Allah bagaimana, pada suatu kali Allah menyuruh ia pergi ke suatu tempat untuk berdoa. Boleh dikatakan, ia tahu kehendak Allah lebih mudah daripada mengetahui perkara dunia yang paling mudah. Tetapi ia kekurangan satu tanda -- "tidak memiliki keyakinan daging". Orang Kristen yang demikian benar-benar perlu belaskasihan Allah.

Sunat berarti mengerat keyakinan daging, mengerat kekuatan alamiah, agar Anda di depan Allah tidak berani sembarangan berbicara dan bertindak, agar Anda menjadi orang yang takut dan gentar.

ABRAHAM DISUNAT

Setelah Abraham menerima pemberesan Allah belasan tahun, ia menjadi orang yang bagaimana? la menjadi orang yang tidak bersandar dirinya sendiri. Saat ini Allah berkata kepadanya, "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. . . . dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki" (Kejadian 17:15-16).. Belasan tahun sebelumnya, Allah sudah berjanji kepada Abraham "anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." Saat itu Abraham sudah percaya, sekarang lewat belasan tahun kemudian, Allah berbicara kepadanya lagi, bahwa Ia akan membuat Abraham dan isterinya Sara, melahirkan seorang anak laki-laki. Saat ini bagaimana reaksi Abraham? Abraham tidak mempunyai keberanian seperti dulu lagi, tidak mempunyai iman seperti dulu lagi. Setelah ia mendengarkan janji Allah, "Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" Abraham bahkan berkata kepada Allah, "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapanMu!" (ayat 17-18). Ini menyatakan, bahwa kini ia terhadap dirinya tidak menaruh harap sama sekali, ia melihat dirinya sama seperti sudah mati, ia melihat rahim Sara sudah tertutup. Mengingat masa lalunya, ia juga tidak tahu bagaimana terhadap Allah ia bisa begitu percaya. Dulu ia masih muda, sebab itu bisa percaya; sekarang, mana mungkin bisa percaya! Menurut pandangan manusia, Abraham sudah mundur sekali. Ia mundur sampai-sampai seperti orang yang tidak mempunyai iman.

Sesungguhnya iman Abraham pada belasan tahun yang lalu, adalah iman yang bercampur daging, adalah iman yang dengan daging melahirkan Ismael. Allah mengesampingkan dia selama tiga belas tahun, bersamaan dengan itu Allah mebawanya sampai ke jalan akhir, membawanya ke tempat yang bersih. Seolah-olah Abraham telah gagal, tetapi sebenarnya Allah tetap bekerja di atas dirinya. Ingatlah, ketika kita menang, belum tentu semua adalah pekerjaan Allah. Sebaliknya ketika kita gagal, belum tentu Allah tidak bekerja. Sebab itu kita harus menyerahkan diri kita dengan mutlak ke tangan Allah Sang Hidup Kekal. Kalau Dia memanggil Anda, kalau Dia melakukan pekerjaan di atas diri Anda, Dia tidak akan lepas tangan. Meskipun kita lemah, gagal, Dia masih melakukan pekerjaanNya. Tangan-Nya tetap menuntun kita maju selangkah demi selangkah.

Sekarang Allah sekali lagi menyinggung kepada Abraham, bahwa isterinya Sara akan memberikan seorang anak baginya. Setelah Abraham mendengarkan perkataan ini, ia tunduk dan tertawa. Abraham bukan menertawakan Allah, ia benar-benar menertawakan dirinya sendiri. Dalam keadaan itu, ia sudah tidak mempunyai cara lagi. Tetapi, dalam keadaan itu, ia percaya kepada Allah. Ini sungguhsungguh ajaib! Ketika situasi mudah, sulit sekali percaya kepada Allah; tetapi ketika situasi sulit, malah mudah percaya kepada Allah. Situasi yang mudah, tidak bisa membantu orang percaya kepada Allah. Ketika manusia menemui jalan buntu, tidak ada jalan keluar, tibalah saatnya percaya kepada Allah. Sebab itu Allah sering dari dua aspek memimpin kita: kalau tidak menciptakan situasi sampai jalan buntu, supaya kita percaya kepadaNya, Ia akan membawa daging kita sampai pada kesudahannya, sehingga kita tidak ada jalan lain kecuali percaya kepadaNya. Pelajaran yang diberikan oleh situasi lingkungan kepada kita adalah lahiriah, pelajaran yang diberikan oleh sunat kepada kita adalah yang batiniah. Rahim Sara sudah tertutup, ini sudah jalan buntu, ini adalah alamiah. Abraham menerima sunat, ini adalah kesudahan dari daging yang batiniah. Kita harus dibawa pada jalan buntu, pada kesudahan, agar bisa percaya kepada Allah. Kalau daging kita telah dibereskan, baik situasi lingkungan lancar atau sulit, kita selalu percaya kepada Allah.

Kita harus tahu, yang dikehendaki Allah bukan iman yang campuran, melainkan iman yang murni. Janganlah karena Anda melihat perkara itu masih berkemungkinan terjadi, Anda melihat diri sendiri masih berkeyakinan, sebab itu Anda percaya. Haruslah karena Allah berkata demikian, maka Anda percaya. Empat belas tahun yang lalu, Abraham belum bisa percaya secara demikian, tetapi sekarang ia sudah sampai pada tahap itu. Tubuhnya sudah seperti matt, rahim Sara sudah tertutup. Saat ini imannya adalah hanya percaya kepada Allah saja. Imannya yang lalu, adalah percaya Allah dan percaya din Abraham. Kini Abraham hanya percaya kepada Allah, karena ia sudah tidak mempunyai kekuatan sedikitpun, sudah tidak mempunyai kegunaan apapun, sudah tamat. Abraham tertawa, menyatakan bahwa alamiahnya sudah tamat semuanya. Tetapi Allah berkata kepadanya, "Isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak" (Kejadian 17:19).

Di depan Allah kita harus memperhatikan hal Allah menghendaki Abraham melahirkan Ishak, bukan Ismael! Allah selamanya tidak mau menerima manusia mengambil sesuatu untuk melakukan pekerjaanNya. Setelah menunggu tiga belas tahun lamanya, Allah masih menghendaki Abraham melahirkan Ishak. Ismael tidak bisa memuaskan hati Allah!

Kejadian 17:23-24, "Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ta mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya." Abraham disunat, ia mengakui dirinya sudah tamat, dagingnya sama sekali tidak berdaya. Menurut keadaan dirinya sendiri, terhadap janji Allah, ia seolah-olah tidak mungkin bisa percaya. Tetapi, ketika ia tidak bisa percaya, iman yang sejati timbul! Ketika dirinya tidak bisa percaya, tidak berdaya lagi, ia sungguh-sungguh bersandar kepada Allah. Saat ini, ia seolah-olah percaya, juga seolah-olah tidak mungkin percaya. Di dalam dirinya hanya ada sedikit iman, namun justru sedikit iman inilah yang murni. Keadaan Abraham saat itu seperti yang dikatakan oleh surat Roma 4:19-20, "Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah."

SAHABAT ALLAH

Begitu Abraham percaya dan disunat, sampai pasal 18, persekutuannya dengan Allah semakin intim, menyatakan dia benar-benar sahabat Allah. Kejadian pasal 18 adalah pasal yang sangat istimewa. Pasal ini menyatakan tiga perkara: 1) persekutuan; 2) pengetahuan; 3) permohonan (doa syafaat). Ketiga hal ini secara khusus bergandengan, juga merupakan kenikmatan khusus yang seharusnya dinikmati oleh orang Kristen yang sudah bertahun-tahun mengikuti Tuhan. Di sini kita hanya dengan sederhana menyinggung sedikit.

Terlebih dulu kita akan menyinggung persekutuan. Tuhan menampakkan diri kepada Abraham, di dekat pohon tarbantin di Mamre (Kejadian 18:1). Pada akhir Kejadian 13 kita nampak, Abraham tinggal dekat dengan pohon tarbantin di Mamre yang di Hebron. "Hebron" berarti "persekutuan". Di sini, Allah menampakkan diri kepada Abraham. Artinya, Abraham berada dalam kedudukan persekutuan. "Sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga (yang berdiri di depannya" (ayat 1-2). Inilah tempat yang paling istimewa dalam Perjanjian Lama. Allah datang rnenjenguk Abraham, tidak seperti sebelumnya, Dia menampakkan diri kepada Abraham sebagai Allah yang mulia. Tetapi saat ini Dia mengambil rupa manusia dan menampakkan diri kepadanya; bahkan seolah-olah datang memakai baju yang tidak resmi. Kali ini penyataan Allah mutlak berada pada kedudukan sebagai manusia, sebab itu Abraham sedikitpun tidak berkesan, bahwa Allahlah yang menyatakan diri kepadanya. "Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah, serta berkata: Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini. Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini. Jawab merekq: Perbuatlah seperti yang kau katakan itu. Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar! Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya. Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya di depan orangorang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah pohon itu, sedang mereka makan" (ayat 2-8). Inilah persekutuan Abraham dengan Allah. Abraham dibawa oleh Allah sampai suatu tahap, bisa seperti sahabat berhubungan dengan Allah!

Di sanalah mereka membicarakan anak laki-laki. Pasal 17 mencatat Abraham tertawa, pasal 18 mencatat Sara tertawa. Sekarang Abraham sudah siap, bisa begitu rupa berhubungan dengan Allah. Mereka di Iuar kemah berbincang-bincang, Sara di pintu kemah mendengarnya. Di sana mereka berbicara, Sara diam-diam tertawa, kemudian Allah menunjukkan bahwa Sara diam-diam tertawa (ayat 12-15). Inilah satu persekutuan. Allah menjadi manusia, Allah berhubungan dengan manusia; inilah persekutuan Allah dengan umatNya.

"Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersamasama dengan mereka untuk mengantarkan mereka" (ayat 16). Inilah persekutuan. Inilah sahabat Allah. Begitu ada persekutuan langsung timbul pengetahuan. Pengetahuan ini, bukan pengetahuan Alkitab, melainkan semacam pengenalan terhadap Allah. Setelah Abraham bersekutu dengan Allah, lalu Abraham mempunyai pengetahuan mengenai Allah. "Berpikirlah TUHAN: Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?" (ayat 17). Inilah persekutuan yang betapa mesranya. Allah menghadapi Abraham dengan sikap sebagai sahabat. Kemudian Allah berkata, "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepadaKu atau tidak; Aku hendak mengetahuinya" (ayat 20-21). Allah menyampaikan rahasiaNya kepada Abraham. Abraham di hadapan Allah, mengetahui kehendak Allah yang tidak diketahui oleh orang lain. Kehendak Allah hanya diberitahukan kepada orang yang berjalan dengan Allah. Sebab itu, berharganya berjalan dengan Allah adalah bisa mengenal Allah.

Setelah Allah memberitahukan hal itu kepada Abraham, Abraham segera melakukan doa syafaat. Doa syafaat diatur oleh persekutuan. Doa syafaat juga diatur oleh pengetahuan. Setelah ada persekutuan, timbullah pengetahuan, kemudian timbul pula beban dan doa syafaat. Doa Abraham di sini adalah doa yang mengenal Allah, dan yang menyatakan simpatik kepada Allah. Abraham datang dan mendekati Allah, "Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? ... Jauhlah kiranya yang demikian dari padaMu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" (Kejadian 18:23-25). Doa Abraham selalu berdiri pada pihak Allah, mutlak berpikir untuk keadilan Allah. Dengan kata lain, doa syafaat Abraham bukan untuk menggerakkan hati Allah, melainkan untuk menyatakan hati Allah. Sebab itu, doa yang mengenal hati Allah bukanlah doa yang bermaksud mengubah kehendak Allah, melainkan akan menyatakan kehendak Allah. Doa Abraham ini adalah doa yang mengenal maksud hall Allah, adalah doa yang menyatakan maksud hati Allah. Abraham benar-benar adalah sahabat Allah.

UJIAN KEDUA -- BERDOA UNTUK KELUARGA ABIMELEKH

Setelah ujian Abraham yang pertama itu lewat, perkara dengan darah daging melahirkan Ismael sudah lewat. Menurut manusia, kelihatannya perkara apa saja sudah dialami Abraham, maka seharusnya ia telah melahirkan Ishak. Ternyata setelah perkara ini lewat, ia menghadapi satu perkara lagi, yaitu bagi masalah anaknya ia mengalami ujian yang kedua.

Kejadian 20:1, "Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia menetap antara Kadesy dan Syur. la tinggal di Gerar sebagai orang asing." Abraham kembali melanggar perintah Allah dan masih melakukan dosa seperti yang dilakukannya di Mesir, yaitu menyebut Sara sebagai saudaranya. Di Mesir, ia ditegur oleh Firaun. Karena rahmat Allah, ia dibimbing kembali. Kali ini dia di Gerar, di daerah Abimelekh, melakukan dosa yang sama. Oh, kita sungguh sulit memahaminya. Abraham sudah sampai pada tingkat persekutuan yang puncak dalam pasal 18, mengapa masih bisa jatuh dalam keadaan yang demikian? Kita harus nampak, pasal 20 memberitahu kita satu perkara yang tidak ada dalam pasal 12. Abimelekh menegur Abraham katanya, "Perbuatan apakah yang kaulakukan ini terhadap kami . . . apakah yang telah kau lihat, maka engkau berbuat?" (ayat 9-10 terjemahan lama). Lalu Abraham mengutarakan alasannya, mengapa ia berbuat demikian, "Aku berpikir Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku. Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku. Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah aku kepada isteriku: Tunjukkanlah kasihmu kepadaku, yakni: katakanlah tentang aku di tiap-tiap tempat di mana kita tiba: la saudaraku" (ayat 11-13). Jadi, akar perkara itu bukan timbul di Mesir, melainkan sudah ada sejak di Mesopotamia. Kegagalannya di Mesir hanyalah hasil dari adanya akar itu. Perkara ini timbul lagi ketika ia sampai di Gerar.

Allah demikian membereskan Abraham untuk memperlihatkan kepadanya, bahwa ia tidak boleh pisah dengan Sara. Ketika di Mesopotamia, Abraham rnengira ia boleh berpisah dengan Sara; ia mengira saat menghadapi bahaya, suami isteri boleh berpisah menjadi kakak dan adik. Tetapi kita harus ingat, kedudukan Abraham adalah iman dan kedudukan Sara adalah kasih karunia. Dari pihak manusia adalah iman, dari pihak Allah adalah kasih karunia. Iman dan kasih karunia tidak bisa terpisah, harus menjadi satu. Kalau kita menyingkirkan kasih karunia, itu berarti tidak ada iman, berarti juga tidak ada umat Allah, maka tidak bisa mendatangkan Kristus. Tetapi Abraham mengira dia boleh berpisah dengan Sara. Akar sudah tertanam di Mesopotamia. Sebab itu, ia muncul di Mesir, dan muncul lagi di Gerar. Di sini Allah akan melakukan satu perkara, yaitu mencabut akar yang tertanam di Mesopotamia. Kalau ini tidak dibereskan, Ishak tidak bisa datang. Allah ingin mendapatkan umat untuk mempertahankan kesaksianNya. Untuk itu harus melalui iman dan kasih karunia; hanya ada iman tidak cukup, hanya ada kasih karunia juga tidak cukup. Itulah sebabnya, Allah juga akan membawa Abraham sampai ke satu tahap, memperlihatkan kepadanya, bahwa Sara tidak boleh dikorbankan, Sara tidak boleh dipisahkan.

Ada satu hal yang sangat ajaib yaitu, "Sebab tadinya TUHAN telah menutup kandungan setiap perempuan di istana Abimelekh karena Sara, isteri Abraham itu" (Kejadian 20:18). Setelah Abimelekh mengembalikan Sara kepada Abraham "lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak" (Kejadian 20:17). Setelah perkara ini, pada pasal 21 kita nampak Sara melahirkan Ishak. Ini sangatlah ajaib.

Perempuan-perempuan di seluruh keluarga Abimelekh tidak bisa melahirkan anak. Mengapa Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan mereka sehingga mereka bisa melahirkan anak? Orang lain mungkin bisa berdoa untuk perkara ini, tetapi Abraham sendiri belum melahirkan anak, bagaimana dia bisa berdoa bagi perempuan-perempuan di keluarga Abimelekh? ini sungguh perkara yang terlalu sulit. Tetapi, justru dalam perkara ini, akar yang Abraham tanam di Mesopotamia telah dicabut oleh Allah. Sekarang ia tahu, isterinya bisa atau tidak melahirkan anak, semuanya tergantung kepada Allah. Ketika ia berdoa bagi keluarga Abimelekh, boleh jadi dia sendiri sedikitpun tidak ada keyakinan, tetapi keyakinan tergantung pada Allah, bukan pada dirinya sendiri. Sekarang Abraham telah dengan mutlak tertolong, terlepas dari dirinya sendiri. Meskipun dia sendiri belum mempunyai anak, tetapi dia bisa berdoa bagi kelahiran orang lain. Dagingnya benar-benar sudah dibereskan.

Inilah ujian kedua bagi Abraham tentang masalah anak! Dari perkara ini ia telah belajar satu pelajaran, yaitu mengenal Allah adalah Bapa. Meskipun isteri Abraham sendiri dan perempuan-perempuan keluarga Abimelekh sama-sama tidak bisa melahirkan anak, tetapi ia berdoa bagi perempuan-perempuan keluarga Abimelekh. Hal ini karena ia telah mengenal Allah adalah Bapa, ia mengenal bahwa kekuatan itu berasal dari Allah, bukan berasal dari diri sendiri. Kalau Allah mau bekerja, Allah bisa bekerja; bagi Allah tidak ada satu hal yang tidak mungkin. Ketika Abraham berdoa bagi perempuan-perempuan di keluarga Abimelekh, ia benar-benar mengeluarkan harga, dan harga itu adalah dirinya sendiri. Dia berdoa untuk perkara yang menjadi sasaran tuntutannya. Allah menyuruhnya berdoa untuk perkara yang dalam seumur hidupnya sendiri belum ada. Allah menjamah perkara ini. Doa Abraham bagi perempuan-perempuan dalam keluarga Abimelekh untuk hal ini, membuat Abraham mutlak menghentikan dirinya sendiri. Hanya orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri, barulah bisa berdoa bagi perempuan keluarga Abimelekh. Puji Allah! la memimpin Abraham sampai ke satu tahap, supaya ia benar-benar tidak melihat diri sendiri. Mengapa Abraham bisa tidak melihat diri sendiri? Karena ia telah mengenal Allah adalah Bapa.

Kita harus ingat, kata "bapa" yang artinya ayah (orang tua) berbeda dengan kata "Bapa" dalam Allah Bapa. Allah adalah Bapa (dalam arti ayah), hubungan kaum imani dengan Allah adalah hubungan ayah dengan anak, sangatlah mesra. Hal ini telah dilihat oleh banyak orang Kristen ketika mereka dilahirkan kembali. Tetapi masih ada satu pelajaran yang harus kita pelajari, yaitu Allah bukan hanya sebagai Ayah, Allah juga sebagai Allah Bapa, yaitu Allah Bapa dalam Allah Tritunggal. Segala sesuatu berasal dari Allah. Inilah arti Allah Bapa. Dia adalah Bapa segala sesuatu, Dia adalah Bapa semuanya. Sekarang Abraham telah belajar pelajaran ini. Bukan karena keluarganya telah terbentuk dengan anak-anak yang baik, maka ia bisa berdoa bagi perempuan-perempuan dalam keluarga Abimelekh, melainkan karena ia telah nampak Allah adalah Bapa. Dalam melahirkan Ismael, Abraham telah belajar pelajaran mengenal Allah adalah Bapa. Sekarang dalam perkara Abimelekh ini, ia belajar satu pelajaran lagi, kembali mengenal Allah adalah Bapa. Sebab itu, setelah perkara ini lewat, Allah menggenapkan janjiNya, dan Abraham melahirkan Ishak.