← Daftar isi Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub · bab 4/12

BAB 4

Abraham dan Anak

(1)

-- Janji Allah dan Iman Abraham --

Pembacaan Alkitab:

Roma 4:3, 17-22; Galatia 4:23-26, 28; Kejadian 15; Kejadian 16:1-4a, 15-16

Terhadap masalah tanah Kanaan, Abraham telah membereskannya. Mulai Kejadian pasal 15, kita nampak satu masalah lain timbul, yaitu masalah tentang anak. Tentu, ini bukan berarti setelah pasal 15, tanah Kanaan tidak disinggung lagi, melainkan titik fokusnya tidak lagi tanah Kanaan, tapi masalah keturunan.

JANJI ALLAH

Kejadian 15:1 mengatakan, "Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar." Kata-kata terakhir boleh diterjemahkan sebagai "Akulah perisaiMu, upahmu yang sangat besar." "Upah" di sini adalah kata benda, bukan kata kerja.

Setelah Abraham menang perang, Allah berfirman demikian kepada Abraham, ini pasti sangat bermakna. Kita tahu, Abraham hanyalah seorang manusia, kemenangannya adalah kemenangan manusia, bukan kemenangan yang melampaui manusia. Meskipun Allah memberikan kemenangan kepadanya, tetapi Allah tidak membuatnya melampaui manusia. Sebab itu, ketika dia menerima roti dan anggur dari Melkisedek yang bisa dia nikmati, dia mudah sekali menolak harta benda milik Sodom, mudah sekali menolak barang-barang lain. Tetapi, setelah kemenangan itu, setelah kegembiraan itu lewat, setelah keramaian itu lewat, tinggallah dia sendiri di dalam kemahnya, merenungkan hal-hal yang telah terjadi dan juga memikirkan apa yang akan terjadi. Saat demikian, Abraham tidak bisa terhindar dari pikiran tentang terjadinya permusuhan dengan keempat raja karena menyelamatkan kembali Lot; tentang penolakan harta benda sehingga kehilangan penyambutan raja Sodom; akibatnya, Abraham mulai merasa takut. Hal ini bisa kita ketahui dari firman Allah kepadanya. Allah berfirman, pasti ada alasannya. Karena Abraham takut, maka Allah berfirman, “Janganlah takut." Mengapa bisa tidak takut? Ada dua alasan yang Allah katakan: pertama, "Akulah perisaimu," tidak ada orang yang bisa menyerangmu. Kedua, "Akulah upahmu yang sangat besar," karena itu segala yang kau rasa telah hilang, dapat kau temukan di dalam diriKu. Di sini Allah mengucapkan kata-kata hiburan kepada Abraham.

Ayat 2 mengatakan, "Abram menjawab: Ya Tuhan Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Abraham berkata demikian kepada Allah, karena dalam pengertiannya, perkaranya tidaklah begitu sederhana. Seolah-olah ia sedang berbalik bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, masih tidak tahukah Engkau?" Ya, Tuhan senang mendengarkan perkataan kita kepadanya. Pada satu aspek, Tuhan menghendaki kita takut dan beribadah kepadaNya, pada aspek lain, Tuhan senang mendengarkan perkataan kita. Ketika Allah berbicara, kita mendengar; ketika kita berbicara, Allah juga mendengar. Di sini Abraham menyatakan kepada Allah, bahwa masalahnya bukanlah masalah harta benda, melainkan masalah anak. Masalah tentang tanah Kanaan telah selesai, sekarang muncul masalah anak. Abraham berkata, "Apakah yang akan Engkau berikan kepadaku? Aku tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Orang Damsyik bukan orang yang dia lahirkan, bukan anaknya. Meskipun dia telah mendengar firman Allah, "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar," "Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu banyaknya," namun masalahnya bukanlah tanah Kanaan, masalahnya adalah: anak belum terlahir!

Di sini ada satu pelajaran yang harus kita pelajari: Apakah Allah tidak mengetahuinya? Apakah Allah tidak tahu kalau Abraham perlu seorang anak? Allah tahu! Tetapi ketahuilah, Allah senang kalau kita menjadi temanNya, Allah senang kalau kita menyelami hatiNya, Allah senang kalau kita menyelami pikiranNya, Allah senang kalau kita berbicara demikian kepadaNya. Demikianlah Abraham memasuki kehendak hati Allah. Allah telah berjanji untuk memberikan anak kepadanya, namun Allah membawa dia ke suatu keadaan sehingga Abraham sendiri berbicara, meminta kepadaNya. Maksud Abraham, kalau Allah ingin memiliki satu kerajaan di bumi, la harus membuat dia mempunyai anak, harus anak kandungnya, bukan anak belian. Kerajaan ini haruslah dihasilkan dari orang-orang yang ia lahirkan, bukan dari orang-orang belian. Kerajaan ini haruslah anak, bukan budak. Abraham nampak, baik ketiga ratus delapan belas orang yang perkasa, maupun Eliezer orang Damsyik, semua itu tidak bisa menyelesaikan masalahnya. Harus ada yang lahir dari dirinya, barulah semuanya beres. Inilah maksud perkataan Abraham kepada Allah. Abraham benar-benar adalah teman Allah! Dia telah memasuki kehendak hati Allah! Dalam pandangan Abraham, jika tanpa anak, maka tanah itu sia-sia, janjiNya juga kosong! Tanpa anak, selamanya tidak ada berkat. Penglihatan ini, juga merupakan satu hasil dari pekerjaan Allah di atas diri Abraham.

Setelah Abraham berkata demikian, Allah tidak segera menjawabnya, melainkan membiarkan Abraham berbicara lagi. Allah sungguh adalah Allah yang bisa mendengar. Ayat 3 mengatakan, "Lagi kata Abram: Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku."

ABRAHAM DIBENARKAN

KARENA IMAN

Ayat 4-6 mengatakan, "Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu. Lalu TUHAN membawa Abram keluar serta berfirman: Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya. Maka firmanNya kepadanya: Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu. Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Inilah untuk pertama kali Alkitab menyinggung tentang "iman." Abraham adalah "bapa iman", di sini, dia benar-benar percaya kepada firman Allah, dan Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

Allah berfirman kepada Abraham, "Anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." lni memperlihatkan kepada kita, untuk mencapai tujuanNya, Allah tidak melalui mengumpulkan banyak orang, melainkan melalui orang yang dilahirkanNya. Yang bukan dilahirkan Allah tidak terhitung, tidak bisa mencapai tujuan Allah. Kehendak Allah yang kekal tergenap melalui orang yang dilahirkan Allah.

Allah berkata kepada Abraham lagi, "Cobalah lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang . . . demikianlah banyaknya nanti keturunanmu. Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Itulah yang kita bicarakan di depan. Kalau Allah ingin mendapatkan sesuatu dari banyak orang, terlebih dulu la harus bekerja di atas diri satu orang, terlebih dulu la harus mendapatkan sesuatu dari atas diri seseorang. Allah memerlukan banyak orang yang percaya, untuk itu perlu ada satu orang yang terlebih dulu percaya. Abraham percaya Allah, lalu Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

JALAN SALIB

Mari kita khusus memperhatikan beberapa ayat di bawah ini, "Lagi firman TUHAN kepadanya: Akulah Tuhan, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu. Kata Abram: Ya, TUHAN ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?" (Kejadian 15:7-8). Sebelumnya Allah berkata kepadanya, "Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar." Tetapi Abram berkata, "Aku tidak mempunyai anak." Allah berkata lagi kepadanya, "Anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu. Dan keturunanmu akan sebanyak bintang di langit." Di sini Abraham menuntut Allah memberikan bukti yang kedua. Maksud Abraham bagaimana dia bisa mengetahui pasti mendapatkan tanah ini sebagai warisan? Terhadap janji Allah, Abraham percaya, Allah pun juga menyatakan ia percaya. la bertanya demikian kepada Allah, bukan menyatakan ia tidak percaya, melainkan menuntut satu bukti untuk percaya. Jawaban Allah terhadap pertanyaannya ini, membuat kita yang percaya mengetahui, bagaimana mencapai tujuan Allah.

Bagaimana Allah menjawab Abraham? Ayat 9-10, "Firman TUHAN kepadanya: Ambillah bagiKu seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati. di ambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua." Ayat 12, "Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan." Kemudian ayat 17-18, "Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram dan berfirman: Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat." Inilah jawaban Allah.

"Diambilnyalah semuanya itu . . . dipotong dua, lalu diletakkannyalah bagian-bagiannya itu yang satu di samping yang lain . . . maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu." Inilah buktinya, ini juga adalah jalan salib. Apa artinya dipotong dua? "Dipotong dua" adalah mati, yaitu salib. Apa artinya "lewat di antara potongan-potongan daging itu"? Lewat dari potongan-potongan daging berarti melewati mati, yaitu melewati salib. Di sini Allah memperlihatkan kepada Abraham, ia bisa "memiliki tanah ini", adalah tergantung pada pekerjaan salib. Kelak, keturunannya bisa berdiri di atas tanah ini, karena ada kematian salib.

Kita harus nampak, salib adalah dasar segala penghidupan rohani. Kalau tidak melalui salib, kita tidak bisa hidup bagi Allah di bumi. Meskipun kita bisa menyampaikan berita salib, tetapi kalau kita sendiri bukan orang yang telah dibereskan oleh salib, tidak akan ada faedah rohaninya. Tuhan memperlihatkan kepada kita, hanya yang lewat dari salib, baru ada perapian yang berasap serta suluh yang berapi lewat. Dengan kata lain, hanya yang lewat kematian baru ada penyucian pengujian, baru ada penerangan yang sejati.

Di sinilah kesulitan banyak orang: begitu memiliki sedikit kekuatan, begitu melakukan lebih banyak pekerjaan, segera mengira dirinya sangat berguna di tangan Tuhan. Sesungguhnya bukan demikian. Semua permasalahannya tergantung pada barang apa yang Anda bawa masuk ke dalam pekerjaan Tuhan. Asal Anda membawa barang Anda sendiri, Anda telah gagal. Kegagalan Anda bukan karena Anda tidak bisa berbicara, bukan karena kekuatan Anda tidak besar, bukan karena Anda tidak hafal Alkitab, melainkan karena Anda tidak benar, salib belum pernah bekerja di atas diri Anda. Kita harus jelas, hanya melalui mati baru bisa mendapatkan tanah ini; tanpa melalui mati, kita tidak akan memilikinya. Sebab itu yang kita perlukan adalah pekerjaan pemurnian. Ah, bekerja bagi Tuhan, sungguh sulit untuk murni. Apa yang disebut murni? Murni adalah tidak ada campur aduk. Ketika kita bekerja bagi Tuhan, mudah sekali kalimat pertama kita berasal dari roh, tetapi kalimat selanjutnya berasal dari daging. Kalimat yang di atas diucapkan bersandar Tuhan, tetapi kalimat selanjutnya diucapkan dari diri sendiri. Inilah campur aduk, tidak murni. Sebab itu kita perlu Tuhan membawa perapian yang berasap melewati potongan-potongan daging, untuk melakukan pekerjaan pemurnian. Khasiat kematian Kristus membuat kita menjadi orang yang murni. Tuhan tidak menghendaki kita menjadi orang yang campur aduk. Tuhan mengolah kita, supaya kita menjadi murni.

Yang melewati potongan-potongan daging bukan hanya perapian yang berasap, juga ada suluh yang berapi. Di depan perapian yang berasap harus ada kematian, harus ada salib. Di depan suluh yang berapi juga harus ada kematian, harus ada salib. Sebab itu, untuk mendapatkan terang yang sejati harus terlebih dulu melewati maut. Seorang yang belum pernah melewati penanggulangan salib, mungkin dia pandai, berpengetahuan, orang mendengar khotbahnya merasa sangat beralasan, tetapi dia tidak mempunyai terang yang menusuk ke dalam manusia. Suluh yang berapi itu, terang yang sejati itu, adalah yang berasal dari salib, yang melewati potongan-potongan daging, yang melewati kematian. Sebab itu ministri yang bekerja bagi Tuhan ini, bukan berdasarkan kepandaian orang, pengetahuan orang, melainkan perlu diri sendiri di hadapan Tuhan memiliki pengalaman salib. Memberitakan teori salib sangatlah mudah, tetapi Allah memperlihatkan kepada kita, hanya orang yang mengenal salib, hanya orang yang mengalami salib, baru bisa berdiri teguh bagi Tuhan.

Ketika Abraham selesai memotong setiap korban menjadi dua potongan dan menempatkan bagian itu, yang satu di samping yang lain, lalu ia tertidur. Tiba-tiba turunlah meliputinya gelap-gulita yang mengerikan. Orang yang belum pernah melihat apa yang disebut salib, selalu mengira bahwa orang seperti dirinya, yang bekerja untuk Tuhan, pasti serba lebih, tidak ada yang menakutkan. Tetapi orang yang nampak apakah salib itu, pasti ada kegelapan yang mengerikan turun ke atas dirinya, sehingga dia mengenal bahwa dirinya sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya sama sekali tak mampu. Ketika seseorang dibawa oleh Tuhan sampai ke tahap yang lemah, merasakan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, juga tidak patut berbuat apa-apa, saat itu barulah dia mulai bisa benar-benar bekerja bagi Tuhan. Ketika Anda sungguh-sungguh nampak, bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan Tuhan, nampak diri sendiri tidak berguna, juga nampak kekudusan Tuhan dan kenajisan diri sendiri, barulah Anda bisa dipakai oleh Tuhan!

Bagaimana Abraham bisa memiliki tanah itu sebagai warisannya? Allah memperlihatkan kepadanya, harus melewati mati, harus melewati salib. Hanya dengan melewati saliblah baru bisa memiliki tanah itu, baru bisa hidup di tanah itu bagi Allah.

"KETURUNAN ITU"

Pasal 15:5, "Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya. Maka firmanNya kepadanya: Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." "Keturunan", dalam bahasa aslinya boleh diterjemahkan sebagai "benih", berbentuk tunggal, bukan jamak. Sungguh ajaib! Menurut manusia, ketika Anda berkata, keturunannya akan seperti bintang di langit, maka keturunan ini seharusnya jamak. Tetapi di sini, ketika Allah memberitahu Abraham, bahwa ia akan mempunyai banyak keturunan, Allah memakai kata "benih" yang tunggal. Mengapa Allah memakai kata tunggal? Kalau memakai benih kata tunggal, maka "benih" -- keturunan -- ini sebenarnya mengacu kepada siapa? Paulus dalam surat Galatia 3:16 memberitahu kita, "Tidak dikatakan kepada keturunan-keturunannya, seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: dan kepada keturunanmu, yaitu Kristus." Sebab itu "keturunan" yang dimaksudkan oleh Allah bukan mengacu kepada banyak orang, melainkan mengacu kepada satu orang. Satu orang itu bukan mengacu kepada Ishak, melainkan mengacu kepada Kristus.

Di sini Allah memperlihatkan kepada kita satu perkara, bahwa yang bisa mendapatkan tanah adalah "keturunan itu". Menurut Abraham saat itu, keturunan itu adalah Ishak. Tetapi kalau dilihat lebih jauh, keturunan itu adalah Kristus. Ishak hanyalah satu bayang-bayang, sedang realitasnya adalah Kristus. Dengan kata lain, yang bisa mewarisi tanah itu, yang bisa mendatangkan berkat bagi seluruh bumi adalah Kristus. Ada Kristus baru ada kekuatan, ada Kristus baru ada kekuasaan. Pekerjaan pemulihan Allah dilakukan oleh Kristus, bukan dilakukan oleh Ishak.

Masalah anak ini sangat penting. Kalau masalah anak tidak dibereskan, masalah "benih" tidak terselesaikan, maka tidak ada seorang pun yang bisa melakukan pekerjaan pemulihan, bagi Allah. Jika Abraham, manusia ini, tidak terlebih dulu dibawa oleh Allah sampai tahap yang sempuma, ia tidak bisa mendatangkan Ishak. Abraham harus menjadi satu bejana, barulah bisa mendatangkan Ishak. Artinya, harus ada sekelompok orang yang percaya seperti Abraham -- menjadi satu bejana, baru bisa mendatangkan Kristus yang mulia, baru bisa membuat pekerjaan Allah rampung dengan sempurna. Ishak hanya satu bayang-bayang, sedang realitasnya adalah Kristus. Abraham juga satu bayang-bayang, realitasnya adalah gereja. Bagaimana Abraham bisa menjadi satu bejana yang mendatangkan Ishak, itu menyatakan bagaimana gereja bisa menjadi bejana yang mendatangkan Kristus yang mulia.

Allah ingin menjadikan Abraham sebagai bejana untuk mendatangkan Ishak. Keturunan Abrahamlah yang bisa mencapai tujuan Allah, bukan Abraham sendiri yang mencapai tujuan Allah. Sebab itu, gereja sendiri tidak terhitung apa-apa, melainkan ketika gereja mendatangkan Kristus, gereja mengekspresikan Kristus di bumi, dan dengan itu memulihkan pekerjaan Allah di bumi, barulah terhitung. Pada mulanya Abraham adalah satu bejana yang mendatangkan Ishak. Hari ini gereja juga menjadi satu bejana yang mendatangkan Kristus.

UJIAN PERTAMA --

MELAHIRKAN ISMAEL

Abraham ingin mendatangkan Ishak. Itu bukan satu perkara yang sederhana. Dia harus menerima pengujian. Bila kita ingin menjadi satu bejana Allah yang mendatangkan Kristus, supaya Kristus bisa mengekspresikan kekuasaanNya, kita juga harus mengalami banyak ujian. Sebab itu, sejak Kejadian 15, Alkitab memperlihatkan kepada kita, dalam hal anak, Abraham juga menerima tiga kali ujian, sama seperti untuk tanah Kanaan, dia telah menerima tiga kali ujian. Tiga kali ujian ini, dua kali terjadi sebelum melahirkan anak, sekali terjadi setelah melahirkan anak. Ketiga ujian ini untuk mempersiapkan Abraham, agar ia bisa mendatangkan Ishak. Dengan kata lain, gereja harus diuji, disiapkan, baru bisa mendatangkan Kristus ke bumi.

Pasal 15 memberitahu kita, Abraham pernah berkata kepada Allah, "Ya TUHAN Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Bagaimana jawaban Allah kepadanya? "Anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." Abraham percaya kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Janji akan melahirkan anak sudah ada, iman juga sudah ada, tetapi sehari lewat sehari, masih belum ada anak, setahun lewat setahun, masih belum ada anak. Ini memperlihatkan kepada kita, bahwa iman harus melewati ujian. Kemajuan iman Abraham itu bertumbuh selangkah demi selangkah.

Pasal 16:1, "Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak . . ." Sekarang Abraham sudah berumur delapan puluh lima tahun, isterinya, Sarai, masih belum memberinya anak, bagaimana ini? Saat inilah isterinya berkata kepadanya, "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Setelah Abram mendengar hal itu, apa yang ia lakukan? "Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu . . . kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya." Perhatikan, Alkitab khusus menyinggung -- yakni ketika Abraham telah sepuluh tahun tinggal di Kanaan -- (Kejadian 16:2-3). Ketika Abraham baru tiba di tanah Kanaan, Allah sudah berjanji kepadanya, "Aku akan memberikan tanah ini kepada keturunanmu." Beberapa waktu berselang, Allah berjanji lagi kepadanya, "Anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." Kini, dia telah berumur delapan puluh lima tahun, tetapi belum melahirkan anak. Dia gelisah, untuk melahirkan anak, ia menerima Hagar, gundiknya. Hagar hamil, lalu melahirkan Ismael. Alkitab khusus mencatat: Abraham berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya (Kejadian 16:16).

Di sini terjadi satu persoalan yang sangat besar. Menurut ketentuan Allah, Abraham harus melahirkan anak melalui Sarai; yang Allah tentukan, sampai ia berumur seratus tahun baru melahirkan anak. Tetapi Abraham berdasarkan dirinya sendiri, lebih dini 14 tahun, bahkan melalui Hagar, melahirkan anak. Inilah ujian pertama yang Abraham alami karena masalah anak.

Abraham percaya firman Allah, percaya Allah akan memberinya seorang anak, tetapi dia tidak nampak bahwa iman berarti berhenti dari aktivitas diri sendiri, dan menunggu Allah yang bekerja! Begitu bisa percaya, saat itu juga kita harus tidak berbuat apa-apa berdasarkan diri kita sendiri. Ibrani 4:10 berkata, "Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentianNya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya." Begitu kita bisa percaya, saat itu juga kita tidak tergesa-gesa atau gelisah; begitu kita bisa percaya, saat itu juga kita mendapat perhentian. Abraham percaya kepada Allah, tetapi Abraham belum belajar pelajaran ini. Dia belum nampak: kalau aku percaya, aku harus menunggu, tidak seharusnya bekerja berdasarkan diri sendiri. Tetapi dia mengira: kalau aku percaya, aku harus membantu Allah; aku harus melakukan dengan kekuatanku sendiri. Sebab itu dia mendengar perkataan isterinya, menerima Hagar sebagai gundiknya, lalu melahirkan Ismael. Abraham membantu Allah! Dia mengira, kalau Allah telah berjanji kepadanya untuk memberinya seorang anak, dan ia berbuat demikian, bukankah ini merampungkan kehendak Allah? Dia tidak melakukan pekerjaan yang lain, tetapi berkenaan dengan janji Allah, dia melakukannya berdasarkan dirinya sendiri. Justru begitu dia melakukan, dia gagal!

Prinsip Janji dan Prinsip Ismael

Masalahnya tidak tergantung pada Abraham melahirkan anak atau tidak, melainkan tergantung pada melalui siapa ia melahirkan anak itu. Bukan Abraham melahirkan satu anak bisa memuaskan hati Allah, melainkan anak Abraham itu harus dilahirkan dari Sarai, baru bisa memuaskan hati Allah. Di sinilah titik pertentangan Allah dengan Abraham.

Hal inilah yang juga tidak dimengerti oleh kebanyakan orang Kristen pada hari ini. Banyak orang berkata, "Apakah saya memberitakan Injil secara demikian juga salah?" Memang, firman Allah berkata, bahwa kita harus bersaksi, kita harus memberitakan Injil, perkara-perkara itu benar. Tetapi yang dipertanyakan oleh Allah adalah dengan siapakah kita melakukannya, dengan siapakah kita memberitakan Injil? Memang melahirkan anak itu benar, tetapi yang akan dipertanyakan, siapa yang melahirkan? Yang diperhatikan Allah bukanlah ada atau tidaknya perkara itu, melainkan sumber perkara itu. Yang kita perhatikan sering kali hanya pernyataan perkara itu baik atau tidak, corak perkara itu baik atau tidak. Yang kita anggap benar, lalu kita benarkan, yang kita anggap baik, lalu kita pandang baik. Tetapi yang diperhatikan Allah adalah perkara itu berasal dari mana? Siapa yang melakukan perkara itu? Hanya mengatakan kehendak Allah masih belum cukup, harus dilihat siapa yang melakukan kehendak ini, baru cukup. Memiliki anak adalah kehendak Allah, tetapi siapa yang melahirkan anak untuk merampungkan perkara itu? Kalau melahirkan berdasarkan diri sendiri itulah Ismael.

Allah akan mengangkat Abraham sebagai bapa. Sebab itu di atas diri Abraham Allah mengerjakan satu perkara yang khusus, supaya ia mengenal apa yang disebut "Allah adalah Bapa". Allah adalah Bapa, berarti segala sesuatu harus berasal dari Allah. Kalau Abraham tidak nampak segala sesuatu harus berasal dari Allah, kalau Abraham tidak mengetahui Allah adalah Bapa, ia tidak patut menjadi bapa. Tetapi, Abraham melahirkan Ismael dari dirinya sendiri, bukan berasal dari Allah.

Di antara anak-anak Allah, ujian yang paling besar adalah persoalan sumber atau asal-usul mereka bekerja. Banyak anak Allah berkata, perkara ini "baik", "tidak salah", "kehendak Allah", tetapi di balik hal-hal yang baik, yang tidak salah, yang adalah kehendak Allah, mereka boleh jadi mutlak berdasarkan diri sendiri melakukannya, sedikitpun tidak mengetahui salib, sedikitpun tidak membiarkan kehidupan daging dibereskan oleh Allah. Dalam keadaan inilah, yakni keadaan-keadaan yang baik, yang tidak salah, mereka melakukan kehendak Allah. Akibatnya, yang mereka lahirkan bukan Ishak, melainkan Ismael. Sebab itu kita perlu mohon Allah berbicara kepada kita, supaya kita mengenal siapa yang melakukan. Ini adalah masalah penting. Di suatu tempat, mungkin kita bekerja dengan berjerih lelah, mungkin orang yang beroleh kasih karunia Allah juga tidak sedikit, tetapi masalah yang terakhir bukan berapa orang yang mendapat kasih karunia, bukan penampilan pekerjaan itu baik atau tidak, melainkan semuanya itu dilakukan oleh kita melalui Allah atau dilakukan oleh kita melalui diri kita sendiri? Satu hal yang paling memalukan adalah khotbah yang kita beritakan adalah Allah, kebenaran yang kita beritakan adalah Allah, kasih karunia yang kita beritakan adalah Allah, tetapi perkaranya kita lakukan berdasarkan diri kita sendiri. Kalau demikian halnya, kita di depan Allah tidak bisa tidak harus menundukkan kepala dan mengaku dosa. Allah harus membawa kita ke satu tingkat, supaya kita nampak, apa saja yang bukan berasal dari Dia, apa saja yang bukan karena Dia sebagai Bapa, walaupun itu pekerjaan yang disebut "bagi Tuhan", itu sama sekali tidak ada nilai rohaninya. Apakah suatu pekerjaan rohani itu bisa murni, tergantung pada berapa banyak yang berasal dari Allah, berapa banyak yang berasal dari diri kita sendiri.

Bila Abraham ingin mempunyai anak, ia harus mengenal Allah adalah Bapa, membiarkan Allah sebagai bapa, dan dirinya sendiri dikesampingkan. Kalau Abraham ingin mendapatkan Ishak, ia tidak seharusnya melakukan berdasarkan diri sendiri. Dengan kata lain, kalau kita ingin mendapatkan Kristus sebagai warisan, kalau kita mau berdiri teguh bagi Allah di bumi, kita tidak bisa membawa masuk diri kita, kita tidak bisa bergerak, kita sendiri tidak bisa melakukan apa-apa, kita sendiri tidak bisa memulainya, kita sendiri harus dikesampingkan. Ini adalah ujian yang paling besar, juga ujian yang paling sulit. Dalam hal ini hamba-hamba Allah paling mudah gaga'. Kita harus ingat, dalam pekerjaan Allah, tidak hanya tidak boleh berdosa, juga tidak boleh melakukan berdasarkan diri kita sendiri. Masalahnya bagi Allah bukan bagaimana melakukan, melainkan siapa yang melakukan. Sayang, kita sering menganjuri orang jangan berbuat dosa, tetapi susah menganjuri orang jangan berdasarkan diri sendiri melakukan sesuatu. Semoga kita dibawa oleh Allah sampai ke suatu tahap, sehingga kita bisa berkata kepada Tuhan, "Tuhan, aku mau melakukan kehendakMu! Bukan aku sendiri yang melakukan kehendakMu! Engkaulah yang melakukan, bukan aku!"

Kita harus ingat, "Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN. Seperti tinugginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu" (Yesaya 55:8-9). Sebab itu, apa yang kita lakukan berdasarkan diri kita sendiri, meskipun dari pandangan kita tidak salah, itu tidak bisa memuaskan kehendak hatiNya. Berdasarkan diri kita sendiri melaksanakan kehendakNya, juga tidak bisa memuaskan hatiNya. Hanya Dia sendiri yang melakukan, baru bisa memuaskan hatiNya. Meskipun la merendahkan diri dan mau memakai kita, tetapi kita harus ingat, kita hanya sebagai hamba yang dipakai, kita hanya merupakan bejana di tanganNya. Kita tidak bisa menggantikan Dia melakukan apa-apa, kita hanya bisa membiarkan Allah melalui kita melakukannya. Kita tidak bisa bersandarkan diri kita sendiri melakukannya. Memang akhirnya Ishak masih dilahirkan oleh Abraham, tetapi Ishak adalah anak janji, anak yang dilahirkan karena Allah, anak yang Allah lahirkan melalui dia. Prinsip janji sangat berbeda dengan prinsip Ismael. Semoga Tuhan membelaskasihani kita, menyelamatkan kita terlepas dari prinsip Ismael.

Kasih Karunia dan Hukum Taurat

Abraham mengambil Hagar sebagai isteri, lalu melahirkan Ismael. Galatia pasal 4 memberitahu kita, "Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging . . . sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal clan gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar - - Hagar ialah gunung Sinai di tanah Arab . . ." (ayat 23- 25). Dengan kata lain, Hagar mengacu kepada hukum Taurat. Lalu apakah hukum Taurat itu? Hukum Taurat mewakili permintaan Allah. Sepuluh perintah Allah mewakili sepuluh macam permintaan Allah kepada manusia. Allah menghendaki ini, Allah menghendaki itu. Sebab itu apa yang disebut melakukan hukum Taurat Allah? Melakukan hukum Taurat Allah berarti: aku akan memberi kepada Allah, aku akan melakukan sesuatu untuk diperkenan Allah.

Tetapi Galatia 3:10 mengatakan, "Karena setiap orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk." Dengan kata lain, orang yang "aku mau" melakukan sesuatu untuk diperkenan Allah, adalah orang yang dikutuk. Mengapa demikian? Karena manusia berdasarkan dirinya sendiri tidak bisa diperkenan oleh Allah, tidak layak mendapat perkenan Allah (Roma 8:7-8). Ketika menyinggung hukum Taurat, firman Allah sering menaruh hukum Taurat berdampingan dengan daging. Roma pasal 7 khusus menyinggung hukum Taurat; Roma pasal 7 juga khusus menyinggung daging. Apa itu daging? Singkatnya, daging adalah kekuatan diri sendiri, daging adalah diri sendiri. Bila kita ingin melakukan hukum Taurat, saat itu juga ada daging. Begitu orang dengan kekuatannya mencari perkenan Tuhan, saat itu juga hukum Taurat datang. Orang yang dengan kekuatan daging mencari perkenan Allah, tidak diperkenan oleh Allah. Hagar dan Ismael mewakili hal ini. Hagar mewakili hukum Taurat, Ismael mewakili akibat dari daging.

Abraham adalah seorang imani yang ingin mencari perkenan Allah, ia berupaya mencapai tujuan Allah. Allah menghendaki dia melahirkan anak, lalu dia mencari cara untuk melahirkan anak; bukankah ini berarti melakukan kehendak Allah? Bukankah ini mencari perkenan Allah? Apakah hal ini salah? Tetapi Paulus berkata, "Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging." Kita harus melakukan kehendak Allah, tetapi masalahnya, siapa yang melakukan kehendak Allah? Kalau kita berdasarkan diri sendiri melakukan kehendak Allah, akibatnya akan melahirkan Ismael. Abraham salah, bukan karena tujuannya salah, melainkan karena sumbernya salah. Tujuannya supaya janji Allah tergenapi, tetapi ia salah karena memakai kekuatan diri sendiri untuk melakukan pekerjaan itu.

Sebab itu, kita harus melihat dengan tepat: Allah akan menolak kita tidak hanya bila kita melakukan satu perkara yang tidak diperkenanNya, juga kalau kita melakukan perkara yang disenangi oleh Allah berdasarkan diri kita sendiri. Allah tidak senang tidak hanya bila kita berdosa, juga bila kita melakukan sesuatu berdasarkan daging diri sendiri. Bisakah kita mencari perkenan Allah? Kuncinya tergantung pada apakah kita mengalami salib membereskan daging kita, membereskan kehidupan alamiah kita. Apakah kita betul-betul berkata kepada Allah, "Ya Allah, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku tidak layak berbuat apa-apa, aku hanya menengadah kepadaMu." Orang yang benar-benar percaya kepada Allah, tidak akan bergerak berdasarkan dagingnya sendiri. Allah adalah Tuhan yang bekerja. Sebab itu, perkara yang paling berdosa kepada Allah adalah anakanak Allah merebut kedudukan Allah. Sering kali kesalahan kita justru ada di sini: kita tidak bisa percaya, kita tidak bisa mempercayakan, kita tidak bisa menunggu, kita tidak bisa menyerahkan perkara ke tangan Allah. Inilah akar berdosanya kita kepada Allah.

Yang Allah tentukan adalah Abraham melalui Sara melahirkan anak. Galatia 4:23 memberitahu kita, anak dari perempuan yang merdeka itu, lahir karena janji. Perempuan merdeka mengacu kepada Sara. Hagar mewakili hukum Taurat. Sara mewakili kasih karunia. Apa perbedaan kasih karunia dengan hukum Taurat? Kita sendiri yang melakukan, itulah hukum Taurat; Allah yang melakukan untuk kita, itulah kasih karunia. Kasih karunia yang disebut dalam Alkitab bukanlah lapang dada, murah hati, juga bukan segalanya membiarkan kita yang melakukan, melainkan ada satu perkara yang khusus dikerjakan Allah di atas diri kita. Perkara yang khusus dikerjakan Allah di atas diri Abraham adalah Allah akan melalui Sara melahirkan Ishak. Memang Ishak dilahirkan dari Abraham, tetapi kelahiran itu berasal dari kasih karunia, berdasarkan janji Allah.

Jika Tidak Mati Tidak Bisa Melahirkan

Kejadian pasal 16 mengatakan, ketika Abraham melahirkan Ismael, ia berusia delapan puluh enam tahun. Sebab itu, Galatia pasal 4 mengatakan, Ismael dilahirkan menurut daging. Ketika Abraham melahirkan Ishak, Kejadian pasal 21 mengatakan, ia berusia seratus tahun. Roma pasal 4 memberitahu kita, tubuh Abraham sudah sangat lemah, dan rahim Sara sudah tertutup (ayat 19). Dengan kata lain, kekuatan darah dagingnya, kekuatan alamiahnya sudah tidak ada. Abraham sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melahirkan anak, Sara juga tidak mempunyai kekuatan untuk melahirkan anak. Pada saat demikianlah Allah membuat mereka melahirkan Ishak. Artinya, Allah menghendaki Abraham sendiri menentukan, bahwa dirinya pasti akan mati dan kini seperti sudah mati, sehingga ia bisa percaya kepada Allah yang menghidupkan orang mati dan menjadikan dengan firmanNya, apa yang tidak ada menjadi ada. Allah menghendaki Abraham nampak, bahwa dia sendiri bukan bapa. Ini perkara yang sangat ajaib. Allah menghendaki dia menjadi bapa, tetapi Allah juga menghendaki dia nampak, bahwa dia bukan bapa. Allah akan menunggu kekuatan alamiah yang dimiliki oleh Abraham layu, lemah, baru membuat dia melahirkan Ishak.

Pekerjaan yang ingin Allah kerjakan di atas diri kita juga demikian. Allah terus menunggu, meskipun memerlukan waktu empat belas tahun, Allah tetap menunggu. Allah menunggu sampai suatu hail Anda mengetahui, bahwa Anda tidak bisa, Anda nampak diri sendiri seperti sudah mati. Hari itu baru Anda akan melahirkan Ishak. Hari ini Allah tidak bisa memakai kita, karena saat kita belum sampai. Yang dikehendaki Allah bukan hanya merampungkan kehendakNya, juga menghendaki perampungan ini berasal dari Dia. Kalau kita hanya mengerti banyak teori, mengetahui banyak pengetahuan, tetapi belum dibawa oleh Allah sampai satu tahap, sehingga bisa berkata kepada Allah, "Aku tamat, aku mati, aku tidak bisa berbuat apa-apa," Allah masih belum bisa memakai kita; kita belum bisa melahirkan Ishak; kita belum bisa mencapai tujuan Allah.

Untuk melahirkan Ishak, ada satu syarat yang sangat penting, yaitu masalah waktu. Saat kita benar-benar bisa dipakai oleh Allah, benar-benar bisa mengekspresikan Kristus, benar-benar bisa mempertahankan kesaksian Allah di bumi adalah ketika "kita berusia seratus tahun", yaitu saat diri kita sudah tamat semuanya. Sebelum hail itu datang, semua yang kita kerjakan berdasarkan diri sendiri adalah Ismael.

Sebab itu di sini ada satu masalah. Sebenarnya kita mau Ismael atau Ishak? Mau melahirkan Ismael itu mudah. Kapan saja bisa, asal Anda ada Hagar, Anda bisa melahirkan Ismael. Bersandar Hagar, mudah sekali; tidak seperti melalui Sara, perlu menunggu. Kalau ingin melahirkan Ismael tidak perlu menunggu; kalaa ingin melahirkan Ishak, perlu menunggu, menunggu janji Allah, menunggu waktu Allah, menunggu Allah sendiri mengerjakan. Barangsiapa tidak bisa menunggu Allah bekerja, barangsiapa tidak membiarkan Allah sendiri yang bekerja, barangsiapa tidak mendapatkan Allah bekerja di atas dirinya, ia hanya bisa mengulurkan tangannya mendapat Ismael. Barangsiapa ingin mendapat Ishak, harus menunggu Allah. Sampai suatu hail, Anda sendiri tidak berdaya, Anda sendiri tidak mampu, Anda sendiri tidak dapat, Anda sendiri tamat, hail itulah Kristus baru bisa mutlak terekspresi di atas diri Anda, tujuan Allah baru tercapai. Sebelum hari itu, semua yang Anda kerjakan berdasarkan diri sendiri tidak ada nilai rohaninya, sebaliknya malah mencelakakan! Sebab itu, pekerjaan rohani tidak tergantung pada kita melakukan berapa banyak, melainkan tergantung pada kita riendapatkan berapa banyak kadar Tuhan bekerja di atas diri kita. Dalam perkara rohani, pekerjaan Allah dan pekerjaan manusia mutlak berbeda; nilai pekerjaan Allah dan nilai pekerjaan manusia mutlak berbeda. Hanya yang berasal dari Dia baru memiliki faedah rohani; apa saja yang tidak berasal dari Dia, sedikitpun tidak ada nilai rohaninya.

Jadi, apakah Ismael itu? Ismael adalah lahir sebelum waktunya, dan bahkan berasal daftar diri sendiri. Kita boleh berkata, bahwa Ismael mencakup dua ciri khusus, yakni: pertama, sumbernya salah; kedua, waktunya terlalu pagi. Dalam perkara rohani, tidak ada perkara yang menguji diri kita lebih hebat daripada waktu. Adakalanya, tidak perlu terlalu lama, asal Allah mengesampingkan kita tiga bulan saja, daging kita sudah tidak tahan. Tetapi Allah sangat tidak senang bila saatnya belum tiba, kita sudah melahirkan Ismael. Dengan kekuatan daging mengucapkan beberapa kata, melakukan beberapa perkara, meskipun di luamya kelihatannya berasal dari Allah, Allah tidak mau itu. Allah menghendaki pada waktu yang ditentukan, juga harus berdasarkan kekuatanNya, kita mencapai pekerjaan itu. Inilah prinsip Ishak -waktu Allah, dan kekuatan Allah.

ABRAHAM KEMBALI DIBENARKAN KARENA IMAN

Roma 4:19-22, "Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah la janjikan. Karen itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran."

Perhatikanlah, Abraham dibenarkan karena iman yang disebut di sini, berbeda dengan yang disebut dalam Roma 4:3, waktunya tidak sama. Ayat 3 mengatakan, "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Ini dikutip Paulus dari Kejadian 15:6, mengacu pada perkara sebelum Abraham berusia delapan puluh lima tahun. Saat itu Allah dalam mimpi berkata kepada Abraham, "Anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." Allah membawa Abraham keluar, menyuruh dia melihat ke langit menghitung bintang dan berkata kepadanya, "Demikianlah nanti banyaknya keturunanmu. Abraham percaya Allah, Lalu Allah menghitung hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Inilah yang pertama kali. Meskipun saat itu Abraham percaya, tetapi imannya belum sempuma, sehingga di kemudian ia berdasarkan daging diri sendiri melahirkan Ismael. Roma 4:3 mengatakan, "Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran", ini mengacu kepada perkara Kejadian 17; saat itu ia sudah berusia sembilan puluh sembilan tahun. Meskipun dia menganggap dirinya sudah lemah, seperti sudah mati, dan juga sudah tidak bisa melahirkan anak, tetapi imannya masih tetap tidak lemah. Dia sepenuh hati percaya, apa yang dijanjikan oleh Allah pasti terjadi. Hal inilah yang diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Sebab itu ia sekali lagi dibenarkan oleh karena iman. Waktunya sudah berselang belasan tahun, Allah masih mengajarkan pelajaran yang sama kepada Abraham - pelajaran iman. Pada mulanya, kadar imannya masih mengandung unsur diri sendiri, lewat beberapa tahun, sampai suatu hari, ia sendiri sudah tidak menaruh harapan, namun ia masih percaya, dan Allah sekali lagi memperhitungkan imannya sebagai kebenaran. Allah membawanya sampai ke satu tahap, ia bisa benar-benar percaya, inilah hasil pekerjaan Allah di atas dirinya. Ini menampakkan kepada kita, benar-benar "hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi pada kemurahan hati Allah" (Roma 9:16). Yang memulai adalah Dia, yang bekerja juga Dia. Semoga Tuhan membelaskasihani kita, juga memimpin kita belajar pelajaran iman, supaya kita bisa menengadah kepadaNya saja.