← Daftar isi Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub · bab 3/12

BAB 3

Abraham dan Tanah Kanaan

Pembacaan Alkitab:

Kisah Para Rasul 7:2; Kejadian 12:4-13, 18; 14:11-23

Sejarah hidup Abraham dapat dibagi menjadi tiga bagian. Kejadian pasal 12 sampai pasal 14 adalah bagian pertama; bagian ini khusus memperhatikan masalah tanah Kanaan. Dari pasal 15 sampai pasal 22 adalah bagian yang kedua; bagian ini khusus memperhatikan anaknya. Dari pasal 23 sampai pasal 25 adalah bagian ketiga; bagian ini mengenai hari tua Abraham. Sekarang mari kita lihat bagian yang pertama.

Kejadian 12:4-5, "Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. Abram membawa Sarai, istrinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ." Di Haran Abraham mendengar panggilan Allah untuk kedua kalinya. Dia meninggalkan Haran dan menuju Kanaan. Sekarang ia telah sampai di tanah Kanaan. Tetapi kita harus tahu, meskipun orangnya telah sampai di tanah Kanaan, namun ia lupa tujuannya datang ke tanah Kanaan. Jangan mengira kalau sudah melihat visi sudahlah cukup. Nampak visi dari sorga itu adalah satu perkara; tidak melanggar dan mengingkari visi, itu perkara lain. Sebab itu, ketika Abraham sampai ke tanah Kanaan, pasal 12:7 mengatakan, "Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman, "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." lnilah untuk kedua kalinya Allah menampakkan diri kepada Abraham dan untuk ketiga kalinya berfirman kepadanya. Allah menampakkan diri dan berfirman lagi, supaya Abraham tetap jelas, dan segar terhadap amanat yang diberikan Allah kepadanya.

Visi panggilan Allah terhadap kita, mudah sekali kita lalaikan. Meskipun setiap hari Anda memperhatikan bagaimana menjadi orang Kristen, Anda masih bisa melalaikan visi itu; meskipun setiap hari Anda rajin bekerja, Anda masih bisa melalaikan visi itu. Jangan mengira, kalau kita melakukan pekerjaan yang biasa, kita bisa kehilangan visi. Ketahuilah, meskipun kita melakukan pekerjaan rohani, kita juga bisa kehilangan visi itu. Kalau kita tidak terus hidup di dalam penampakan diri Allah, kita mudah sekali kehilangan visi panggilan. Panggilan yang diterima oleh gereja, sama dengan panggilan yang diterima oleh Abraham. Tetapi kesulitannya ialah banyak orang tidak melihat pengharapan yang terkandung dalam panggilanNya. Sebab itu, Paulus menghendaki kita berdoa, "Supaya la menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya" (Efesus 1:18). Pengharapan panggilan adalah isi panggilan. Apakah sebenarnya isi panggilan Allah kepada kita? Semoga Allah menyelamatkan kita dari pikiran egoistis. Kita harus tahu, Allah memanggil kita pasti ada tujuan tertentu. Keselamatan kita adalah untuk mencapai tujuan Allah. Kalau Anda tidak nampak hakiki panggilan Allah terhadap Abraham, Anda tidak akan nampak makna panggilan Allah terhadap Anda. Kalau Anda tidak nampak kunci panggilan Allah terhadap Abraham, Anda tidak bisa nampak ministri Anda. Kalau Anda tidak nampak ini, Anda seperti membangun rumah tanpa pondasi. Oh, kita sangat mudah melupakan apa yang ingin Allah kerjakan! Begitu pekerjaan kita bertambah banyak, begitu urusan menumpuk, kita segera kehilangan visi panggilan rohani itu. Kita perlu berkali-kali datang kepada Allah dan berkata, "Ya Allah, kiranya Engkau terus-menerus menyatakan diri kepadaku. Kiranya Engkau terus berbicara kepadaku." Kita perlu terus nampak, kita perlu mempunyai penglihatan yang kekal, untuk melihat tujuan Allah itu melihat sebenarnya Allah ingin mengerjakan apa.

Sekarang Abraham sudah sampai di tanah Kanaan. Ketika dia di tanah Kanaan, terjadilah beberapa perkara. Pertama, di tanah Kanaan dia mendirikan tiga buah mezbah; kedua, dia menerima tiga kali pengujian.

ABRAHAM MENDIRIKAN MEZBAH

Setelah Abraham sampai di tanah Kanaan, Alkitab mencatat tempat pertama yang ia datangi adalah Sikhem; di sana ia mendirikan sebuah mezbah. Tempat kedua yang ia datangi ialah Betel; di Betel, ia juga mendirikan satu mezbah. Kemudian ia meninggalkan Betel, pergi ke Mesir. Setelah itu, dari Mesir ia pergi ke daerah Selatan, dan dari daerah Selatan kembali ke Betel. Sampai di tengah-tengah Betel dan Ai, ia mendirikan mezbah di tempat dulu ia mendirikan mezbah. Kemudian ia sampai ke satu tempat lagi, yaitu Hebron; di Hebron ia mendirikan lagi mezbah. Abraham di tiga tempat mendirikan tiga mezbah. Di tiga tempat ini ada tiga mezbah; tiga tempat ini dikuduskan. Catatan Alkitab memperlihatkan kepada kita, Allah memakai ketiga tempat ini: Sikhem, Betel dan Hebron untuk mewakili tanah Kanaan. Dalam pandangan Allah, tanah Kanaan memiliki ciri-ciri Sikhem, ciri-ciri Betel, dan ciri-ciri Hebron. Ciri-ciri ketiga tempat ini adalah ciri-ciri tanah Kanaan. Kalau Anda nampak ketiga tempat ini, Anda akan tahu tanah Kanaan adalah tanah yang bagaimana. Mari kita melihat dengan teliti ketiga tempat ini.

1. Sikhem (Bahu) -- Tempat yang Berkekuatan

"Abram . . . sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More . . . ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dan berf'irman: Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu. Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya" (Kejadian 12:6-7). Abraham sudah sampai di Sikhem. Dalam bahasa aslinya, "Sikhem" berarti "bahu". "Bahu" adalah bagian yang paling kuat di atas diri manusia. Barang yang tidak bisa diangkat oleh tangan bisa dipikul oleh bahu. Sebab itu, "Sikhem" berarti "kekuatan". Ciri pertama tanah Kanaan adalah mempunyai kekuatan. Artinya, Allah memasukkan kekuatanNya ke dalam tanah Kanaan. Tanah Kanaan tidak hanya merupakan tanah yang mengalirkan susu dan madu, juga merupakan tanah yang berkekuatan.

Dari Alkitab kita nampak, bahwa kekuatan Allah bukan hanya kekuatan yang ajaib, juga kekuatan kehidupan (hayat), kekuatan yang membuat orang menjadi puas. Tuhan berkata, "Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (Yohanes 4:16). Oh, kekuatan yang betapa besar! lnilah kekuatan kehidupan (hayat)! Kehidupan Tuhan adalah kekuatan yang membuat orang puas! Barangsiapa mempunyai kehidupan Tuhan, ia selama-lamanya tidak akan haus lagi, karena di dalamnya sudah puas. Orang yang di dalamnya puas, orang yang di dalamnya mendapatkan kehidupan, adalah orang yang di dalamnya paling kuat. Orang yang demikian adalah Sikhem, adalah bahu, mempunyai kekuatan, bisa memikul beban berat. Puji syukur kepada Allah, ciri-ciri tanah Kanaan adalah mempunyai kekuatan kehidupan.

Di Sikhem ada pohon tarbantin di More. "More" dalam bahasa aslinya berarti "pengajar/guru" atau "pengajaran"; ini berhubungan dengan aspek pengetahuan. Pohon tarbantin di More ada di Sikhem, artinya, pengetahuan berasal dari kekuatan, pengetahuan adalah hasil dari kekuatan. Dengan kata lain, pengetahuan rohani yang sejati berasal dari mendapatkan kekuatan Kristus. Kalau kita tidak mendapatkan kekuatan kepuasan kehidupan Kristus, kita tidak akan memiliki pengetahuan rohani yang sejati, dan kita tidak bisa memberikan suplai rohani kepada orang lain. Kalau Allah ingin mendapatkan satu bejana untuk memulihkan kesaksianNya di bumi, bejana itu pastilah bejana yang istimewa; bukan dengan memberi sedikit khotbah kepadanya, melainkan terlebih dulu memberi kepuasan, memberi dia kekuatan kehidupan, kemudian ia baru memiliki pengetahuan yang sejati. Kedua hal itu sangat besar bedanya. Yang satu adalah teori atau doktrin; yang satunya adalah kehidupan (hayat). Yang satu mendengar dari luar; yang satunya melihat dari dalam. Yang satu setelah mendengar lalu lupa; yang satu lagi, tinggal di dalam, selamanya tidak berubah. Kalau ada orang berkata, "Aku telah melupakan salib, karena beberapa bulan ini tidak ada orang yang memberitakan salib", itu berarti, salib yang ia miliki hanyalah teori, hanya dalam ingatan, bukan sesuatu yang dalam kehidupan. Kita harus ingat, pengetahuan yang sejati adalah di dalam kekuatan kehidupan. Kekuatan Kristus adalah kekuatan kita. Karena di dalam kita ada satu barang ini, sebab itu, kita bisa membagikan barang itu kepada orang lain. Yang Tuhan berikan kepada kita adalah tenaga batiniah, adalah pengetahuan yang di dalam. "More" itu berasal dari kekuatan.

Di depan Allah, kita harus waspada terhadap satu hal, yaitu jangan memberitakan teori kepada orang. Kita sendiri harus mempunyai barang rohani, baru bisa membagikan barang ini kepada orang lain. Dalam perkara rohani "orang yang pandai" mungkin malah harus menempuh jalan yang berliku-liku, karena ia bersandar kepada kepandaiannya sendiri, sehingga ia meninggalkan jalan rohani lebih jauh. Kiranya Tuhan menyelamatkan kita terlepas dari pekerjaan "mengajar/menyampaikan."

2. Betel (Rumah Allah) -- Tubuh Kristus

"Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. la memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN" (Kejadian 12:8). Allah memimpin Abraham bukan hanya membawa dia ke Sikhem, juga membawa dia ke Betel. "Betel" dalam bahasa aslinya berarti "Rumah Allah." Allah tidak ingin mendapatkan beratus-ratus, atau beribu-ribu orang yang mempunyai kekuatan seperti Simson, tetapi berserakan; Allah juga tidak menghendaki batu-batu hidup-Nya tertumpuk menjadi tumpukan batu yang tidak beraturan. Allah ingin membangun satu bait -- rumah Allah. Ciri tanah Kanaan yang lain adalah "umat Allah adalah bait Allah", "umat Allah adalah rumah Allah." Rumah itu bukan dikelola oleh Musa tetapi dikelola oleh Putra Allah. Inilah yang diberitahukan dalam Ibrani 3:6 kepada kita.

Allah ingin membangunkan satu bejana untuk mencapai tujuanNya, dan bejana ini haruslah rumahNya. TujuanNya tercapai bukan hanya dengan mengandalkan beberapa orang yang mahir memberitakan Injil, juga bukan bersandar beberapa orang yang mahir memimpin kebaktian kebangunan rohani. Hanya ada Sikhem -- kekuatan, masih kurang; perlu ada Betel. Semua orang yang mempunyai kekuatan harus menjadi rumah Allah, menjadi Tubuh Kristus, baru bisa berguna. Allah harus menolong kita terlepas dari pekerjaan yang egoistis. Allah menolong kita bukan hanya agar kita bisa menjadi orang Kristen yang baik, melainkan agar kita dengan anak-anakNya, bersama-sama menjadi rumah Allah, menjadi satu Tubuh. Sebab itu, kita tidak seharusnya mempunyai "kebebasan" perorangan. Sayang sekali, banyak orang Kristen senang akan "kebebasan" perorangan, dan mereka mahir menjaga/mempertahankan "kebebasan" perorangan mereka. Saudara saudari, kalau kita sungguh-sugguh mengetahui kesaksian rumah Allah, sungguh-sungguh mengetahui bejana Allah adalah satu rumah, bukan batu yang berserakan, kita pasti belajar saling menaati, menyingkirkan aktivitas perorangan, dan belajar bersama anak-anak Allah lainnya menempuh jalan yang di depan.

Rumah Allah bukan hanya satu prinsip, melainkan juga satu kehidupan (hayat). Kesulitannya di sini: tidak sedikit orang Kristen menganggap Tubuh Kristus hanya sebagai satu prinsip, tidak melihat Tubuh Kristus adalah satu kehidupan. Coba kita pikir, kalau hanya berdasarkan satu prinsip melakukan sesuatu, tetapi tidak ada kehidupan, apakah gunanya? Kita mengira, bahwa segala perkara harus dikerjakan dengan koordinasi yang baik, lalu kita mengerjakannya bersama orang lain, padahal hatinya tidak mau begitu; apakah gunanya? Kita harus ingat, Tubuh Kristus adalah satu kehidupan, bukan hanya satu prinsip. Kalau kita tidak tahu Tubuh adalah satu kehidupan, dan kita hanya berdasarkan prinsip melakukan sesuatu, maka kita hanya mengikuti secara luaran, meniru secara luaran. Banyak orang Kristen belum pernah menerima pemberesan di depan Allah, hanya karena mendengar saudara berkata, "Jangan bergerak sendiri, harus bekerja sama", lalu ia juga belajar berbuat demikian. Tetapi ketahuilah, itu didapatkan bukan dari belajar secara lahiriah. Sebagaimana hubungan Anda dengan Kristus bukan terjadi karena belajar, demikian juga hubungan Anda dengan Tubuh Kristus, bukan didapatkan melalui belajar.

Lalu bagaimana mengenal kehidupan Tubuh Kristus? Syarat yang mendasar adalah kemah Anda harus didirikan di tengah-tengah Betel dan Ai; di sebelah barat adalah Betel dan di sebelah timur adalah Ai. Bukan hanya ada masalah Betel, juga ada masalah Ai. "Ai” dalam bahasa aslinya berarti "tumpukan." Betel adalah rumah Allah. Ai adalah satu tumpukan, tumpukan yang kersang. Tumpukan yang kersang mengacu kepada kehidupan (hayat) ciptaan lama. Yang diwakili Ai adalah ciptaan lama. Kalau kita mengarah kepada rumah Allah, kita harus membelakangi tumpukan yang kersang. Dengan kata lain, kalau kehidupan (hayat) daging seseorang belum dibereskan, ia tidak mengetahui apakah kehidupan Tubuh Kristus yang hidup. Ketika sebelah timur Anda adalah Ai, barulah sebelah barat Anda adalah Betel. Kalau sebelah timur Anda bukan Ai, sebelah barat Anda tidak mungkin Betel. Masuk ke dalam Tubuh Kristus, menikmati Kristus, menampilkan kehidupan Tubuh, dimulai dari pemberesan kehidupan daging, berasal dari pemberesan kehidupan (hayat) alamiah. Kalau Anda ingin melihat apa yang disebut rumah Allah, Anda harus di pihak negatif menolak tumpukan yang kersang. Hanya setelah Allah membereskan kehidupan alamiah Anda, membuat Anda menjadi satu orang yang lunak, membuat Anda mengenal bahwa kehidupan alamiah adalah barang yang harus dihakimi, bukan barang yang patut dipuji, demikian dengan sendirinya Anda bisa serasi dengan saudara saudari, Anda bisa menampilkan kehidupan Tubuh Kristus. Satu hal yang menyebabkan saudara saudari tidak bisa berkoordinasi dengan baik ialah, kehidupan ciptaan lama kita terlalu kuat. Kalau ciptaan lama kita dibereskan, dengan sendirinya kita menampilkan kehidupan Tubuh Kristus; dengan sendirinya kita nampak, bahwa kita adalah bagian dari Tubuh Kristus. Kita sekarang berada di dalam Tubuh, sebab itu kehidupan ciptaan lama harus dibereskan, harus mutlak ditolak. Dalam tumpukan itu, bagaimanapun, itu hanya satu tumpukan yang kersang, bukan rumah Allah.

Bagi orang Kristen yang belum pernah menghakimi ciptaan lama, ciptaan lama pada dirinya masih menjadi kemegahannya; ia masih merasa bahwa dirinya sendiri itu baik. Tak peduli mulutnya tiap hari berkata, "Aku lemah, aku rusak", sesungguhnya dia belum pernah menghakiminya. Dia tidak menganggap kebobrokan itu sebagai kebobrokan, dia masih merasakan kebobrokan itu baik, dia masih mengira hal-hal yang membuatnya tidak cocok dengan orang lain itu sungguh indah. Bila kita demikian, kita perlu, bahkan sangat perlu belaskasihan Allah.

Sebab itu, harus ada satu hari, saat Allah membawa kita sampai suatu taraf, sehingga kita nampak, diri kita tidak berguna, diri kita tidak bisa diandalkan. Kemudian, dengan sendirinya kita bisa hidup di dalam rumah Allah. Kalau daging tidak dibereskan, kita tidak mungkin menampilkan penghidupan Tubuh. Kiranya Allah memperlihatkan kepada kita, bahwa Tubuh Kristus bukan hanya satu prinsip, bahkan adalah satu kehidupan (hayat).

3. Hebron (Persekutuan) -- Prinsip Persekutuan

"Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN" (Kejadian 13:18).

"Hebron" dalam bahasa Ibrani berarti "persekutuan". Rumah Allah adalah satu kehidupan (hayat), persekutuan adalah satu penghidupan. Tanpa melewati Betel, tidak mungkin bisa tinggal di Hebron. Ingatlah, Hebron ada setelah Betel. Setelah ada rumah Allah, baru ada persekutuan. Persekutuan bukan beberapa orang membentuk satu badan persekutuan, melainkan berada di dalam rumah Allah. Tanpa rumah Allah, tidak ada persekutuan. Kalau kehidupan alamiah Anda tidak dibereskan, Anda tidak bisa bersekutu. Setelah kehidupan, alamiah Anda dibereskan, Anda baru bisa hidup di dalam Tubuh, Anda baru memiliki persekutuan.

Betel seolah-olah merupakan pusat tanah Kanaan. Allah membawa Abraham tinggal di Betel. Begitu Abraham meninggalkan Betel, ia segera gagal. Ketika ia kembali dari Mesir, Allah membawanya kembali ke Betel, yaitu tempat ia mendirikan mezbah. Setelah ia mantap di sana, barulah Allah memindahkan dia ke Hebron. Ini mempunyai arti yang sangat istimewa. Setelah Anda nampak rumah Allah - kehidupan Tubuh Kristus -- barulah Anda dibawa ke dalam persekutuan.

Tubuh ini adalah fakta, satu fakta begitu Anda di dalam Tubuh, dengan sendirinya Anda memiliki hubungan, memiliki persekutuan dengan anak-anak Allah yang lain. Kalau Anda mengarahkan punggung Anda ke Ai, menghakimi Ai, kehidupan alamiah, dengan sendirinya Anda akan masuk ke dalam persekutuan. Orang yang benar-benar mengenal Tubuh Kristus, pasti tidak bisa terpisah dengan orang-orang yang lain, tidak bisa menyendiri; ia dengan sendirinya merasakan dirinya tidak bisa diandalkan, merasakan dirinya sangat lemah, perlu bersekutu dengan anak-anak Allah. Pada suatu hari, Allah akan membawa kita ke suatu tahap, sehingga kita nampak, jika tidak ada persekutuan, kita tidak akan ada jalan untuk maju ke depan. Allah akan memperlihatkan kepada kita, yang tidak bisa dilakukan oleh satu orang, dapat dilakukan dalam persekutuan. Inilah arti Hebron.

Di Sikhem ada pohon tarbantin yang disebut pohon tarbantin di More. Di Hebron juga ada pohon tarbantin yang disebut pohon tarbantin di Mamre. "Mamre" dalam bahasa Ibrani berarti "subur", "kuat". Hasil dari persekutuan adalah subur dan kuat. Semua kesuburan, semua kelimpahan dan semua kekuatan, berasal dari persekutuan. Ringkasnya, Sikhem, Betel, dan Hebron, mewakili ciri-ciri istimewa tanah Kanaan. Artinya, meskipun semua orang di bumi tidak mengenal Allah, tetapi di Kanaan umat Allah mengenal kekuatan Allah, mengenal Tubuh Kristus, dan mengenal persekutuan. Karena nampak hal-hal itu, maka umat Allah bisa bersaksi bagi Allah. Kita harus berdiri dalam keadaan itu, baru bisa mempertahankan kesaksian Allah. Artinya, dalam ketiga keistimewaan itu, barulah kita bisa mempersembahkan korban bakaran, dan Allah baru mau menerima. Masalah korban bukan hanya masalah kita mempersembahkan atau tidak mempersembahkan, tapi juga masalah Allah menerima atau tidak menerima. Banyak barang yang ingin kita berikan kepada Allah, tapi Allah sama sekali tidak mau barang itu. Di ketiga tempat itu ada mezbah, ini berarti tempat-tempat itu adalah yang dikehendaki Allah, adalah tempat-tempat yang diterima oleh Allah.

Sebab itu, kalau orang Kristen ingin mempertahankan kesaksian Allah, maka semua pengetahuan rohaninya harus berasal dari kekuatan, kalau tidak, tidak ada gunanya. Hanya sejenis pengetahuan yang mempunyai nilai rohani, yaitu pengetahuan yang berasal dari Kristus sebagai kekuatan kita. Kita mudah sekali menganggap pengetahuan yang kita dengarkan sebagai milik kita, lalu memberikannya kepada orang lain. Itu tidak ada nilai rohaninya. Semoga Tuhan membelaskasihani orang yang demikian. Pada aspek lain, orang Kristen yang di depan Tuhan telah mengetahui apa yang disebut kekuatan, juga mempunyai sedikit pengalaman rohani, mudah sekali menjadi orang yang tidak taat, mudah sekali mengira hanya dia sendiri yang tahu, orang lain tidak tahu; karena itu ia mau bekerja, dia bisa bekerja, demikianlah dirinya sendiri tertampilkan. Sebab itu, Allah menghendaki kita memperhatikan rumah-Nya. Tuntutan rumah Allah terhadap kita adalah ketaatan. Anda tidak bisa hidup dalam rumah Allah, kalau Anda berdasarkan maksud diri sendiri melakukannya. Ketika Anda nampak kehidupan Tubuh, Anda nampak kedudukan Anda, sehingga Anda tidak bisa melampaui kedudukan itu. Orang yang mendapat wahyu Allah, nampak Tubuh Kristus, tidak bisa bertindak sendirian. Kalau kita benar-benar nampak kehidupan Tubuh, kita juga akan nampak di dalam rumah Allah ada pembatasan, kita tidak bisa sembarangan bergerak. Kalau kita mempunyai kehidupan Tubuh, dengan sendirinya kita akan bersekutu dengan anak-anak Allah dan mengindahkan persekutuan, tidak merasakan persekutuan sebagai beban yang berat. Kalau anak-anak Allah tidak mengetahui apa yang disebut rumah Allah, mereka tidak bisa bersekutu dengan anak-anak Allah. Orang yang tidak bisa menghargai orang lain, tidak bisa memberikan hormat, pujian, kedudukan yang harus dimiliki oleh seseorang, belum nampak rumah Allah. Kalau kehidupan alamiah kita pernah dibereskan, dan kita benar-benar mengetahui apa yang disebut kehidupan Tubuh, kita baru bisa belajar menghargai orang lain, bisa di dalam sidang menjamah kehidupan (hayat), mendapatkan suplai. Sering kali kita bersidang, kita duduk bersama, Anda merasa ada hayat, Anda merasakan mendapat suplai. Tetapi ketika Anda keluar, bertemu dengan saudara lain, ia berkata, "Hari ini sidangnya tidak baik". Saat demikian Anda merasakan, bahwa orang yang paling tidak baik itu bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri. Karena ia tidak berdiri pada kedudukan rumah Allah, maka ia tidak bisa bersekutu dengan orang lain, ia tidak mendapatkan suplai. Kalau dagingnya pernah ditanggulangi, dan ia nampak Tubuh Kristus, dengan sendirinya ia akan bersekutu dengan orang lain, dan ia merasakan saudara saudari yang paling lemah pun bisa memberi suplai kepadanya.

Inilah keistimewaan tanah Kanaan. Dalam pengalaman Abraham, Allah khusus memilih tiga tempat ini untuk menjadi tempat la mendirikan mezbah. Ini berarti, penerimaan Allah, perkenan Allah, pengharapan Allah, pandangan Allah berada di ketiga tempat ini.

ABRAHAM MENERIMA UJIAN

Setelah Abraham sampai di tanah Kanaan, Alkitab memperlihatkan kepada kita, karena di Kanaan ada persoalan, ia mengalami tiga kali ujian. Sekarang mari kita melihat ketiga ujian itu.

Ujian Pertama -- Mengalami Bencana Kelaparan

Tidak lama setelah Abraham sampai di Betel, ia menerima kegagalan. Boleh dikatakan, itu adalah penanggulangan Allah terhadapnya, supaya ia mengenal panggilannya itu berasal dari rahmat Allah, bukan karena kebaikan dirinya. Abraham bukan begitu lahir sudah baik, sebab itu ia sama dengan orang yang lain, pernah gagal. Pasal 12:9 mengatakan, "Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb." Kegagalannya di sini: Allah memimpinnya sampai ke rumah Allah, tetapi ia tidak bisa tinggal lama di sana, malahan pelan-pelan berjalan mengarah ke selatan. Meskipun ia tidak langsung turun ke Mesir, tetapi dia sudah ke daerah selatan, yaitu tempat yang berbatasan dengan Mesir.

Setelah sampai di Negeb, dia mengalami bencana kelaparan. Ayat 10 mengatakan, "Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu." Abraham sampai ke tempat yang berbatasan dengan Mesir, karena itu mudah sekali ia turun ke Mesir. Sampai di Mesir, ia berbohong, ia dimarahi oleh Firaun, mendapat malu yang besar (Kejadian 12:11-20). Kemudian ia kembali ke tanah Kanaan. Itulah ujian yang pertama.

Bagaimana awal mula pengujian ini? Dulu di Sikhem, Allah menampakkan diri kepada Abraham dan berkata kepadanya, "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Allah akan memberikan tanah Kanaan kepadanya, apakah dia mau tanah Kanaan ini? Abraham bukan orang yang kuat. la tidak karena Allah berkata akan memberikan tempat ini kepadanya, lalu mempertahankan tempat ini. Bagaimana dia? Ia terus mengarah ke selatan. Akhirnya ia turun ke Mesir, inilah sumber pengujian yang pertama. Pengujian ini menyingkapkan Abraham mau tempat ini atau tidak. Abraham tidak melihat betapa berharganya tempat ini. Sebab itu, Allah yang ingin membangun Abraham di tempat itu, mau tidak mau harus mengujinya.

Setelah Abraham gagal di Mesir, ia belajar suatu pelajaran, yakni mengetahui pentingnya tanah Kanaan, mengetahui berbohong itu salah, menipu itu tidak benar, dan menjadi umat Allah yang dimarahi oleh orang Mesir adalah hal yang memalukan. Setelah itu, apa yang ia lakukan? Pasal 13:1-3 mengatakan, "Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan istrinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai." la kembali ke tempat semula, kembali kepada kedudukan asalnya. Kali ini Abraham menghargai tempat ini. Di tempat ini ia tidak perlu berbohong, tidak ditegur oleh orang Mesir. Di tempat ini, ia bisa memuliakan Allah.

Ujian Kedua -- Lot Memilih Tanah

Setelah Abraham kembali ke Kanaan, ia menerima ujian yang kedua. Pengujian pertama menguji pengenalan Abraham terhadap tanah ini, ia menghargai atau tidak. Setelah di Mesir ia menerima pelajaran atas kegagalan, ia mengenal hanya tanah Kanaan adalah tempat yang berharga, demikianlah ia kembali ke tanah Kanaan. Setelah kembali, ia mudah sekali mengulurkan tangan dagingnya untuk memegang erat tanah Kanaan. Sebab itu datanglah ujian yang kedua.

Pasal 13:5-7 mengatakan, "Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba, dan lembu dan kemah. Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama. Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot." Saat inilah Allah memperlihatkan kepada Abraham, bahwa terhadap panggilan Allah yang menyuruhnya pergi dari negerinya, dari sanak saudaranya, dan dari rumah bapanya, hanya ia taati separuh, masih ada separuh lagi yang belum ia taati, yaitu dia belum berpisah dengan Lot. Sebab itu Allah melalui Lot mendisiplin dia.

Pasal 13:8-9 mengatakan, "Maka berkatalah Abram kepada Lot: Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." Sekarang Abraham mengetahui, bahwa panggilan Allah hanya tertuju kepada dirinya, bukan kepada diri Lot. Saudara saudari, kita harus nampak, orang yang mendapatkan panggilan Allah untuk menjadi satu ministri, tidak bisa membawa orang yang tidak mendapatkan panggilan Allah bersama-sama menjadi minister. Sekarang Abraham nampak panggilan Allah kepadanya untuk menjadi minister. Sebab itu ia berkata kepada Lot, "Baiklah pisahkan dirimu dari padaku, jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." Dia tidak dengan daging mencengkeram tanah itu, ia membiarkan Lot untuk memilih.

Kita harus nampak, dalam hal ini di satu pihak Abraham merampungkan panggilan Allah di atas dirinya, di pihak lain, Allah memberi Abraham satu pelajaran yaitu tanah Kanaan yang dijanjikan Allah kepadanya, tidak perlu ia pertahankan dengan cara daging. Inilah pelajaran khusus yang perlu kita pelajari. Allah memberikan tanah ini kepada Abraham, tetapi tidak perlu ia pertahankan dengan tangan daging; Allah memberi tanah ini kepada Abraham, tetapi bukan berarti Abraham harus dengan daging memegang erat tanah ini. Kita harus belajar, terhadap barang yang Allah berikan kepada kita, kita percaya Allah bisa menjaganya, tidak perlu kita dengan cara dunia menjaganya; tidak perlu kita dengan kekuatan darah daging mempertahankannya.

Ini adalah pengujian kedua yang Abraham alami, dan Abraham menang. Abraham bisa berkata kepada Lot, "Jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." Kini, Abraham tidak lagi mempertahankan dengan kekuatannya sendiri.

Kejadian 13:10-12 mengatakan, "Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak aimya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar . . . Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah Timur dan mereka berpisah. Abram menetap di tanah Kanaan . . ." Yang baik telah dipilih oleh Lot, namun Abraham tetap tinggal di Kanaan. Setiap orang yang mengenal Allah, adalah orang yang tidak mempertahankan/melindungi dirinya sendiri. Jika Anda benar-benar mengenal Allah, Anda tidak perlu berusaha mempertahankan diri Anda sendiri. Jika Allah berjanji memberikan tanah Kanaan kepada Anda, maka Anda tidak perlu dengan daging Anda sendiri berusaha mencengkeramnya. Karena itu, kita harus belajar percaya kepada Allah, belajar menyerahkan kepada Allah, belajar memikul salib. Hasil dari penyerahan diri Abraham kepada Allah, ialah meskipun ia tinggal di daerah gunung, namun ia masih di tanah Kanaan. Lot memilih daerah lembah (dataran rendah), namun akhirnya ia pergi ke Sodom.

Sekarang, kita melihat Abraham sudah mengalami kemajuan, sekarang dia mulai bersinar! Ayat 14-17 mengatakan, "Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan ke barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kau lihat itu akan Kuberikan kepadamu dan keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut pandang dan lebaruya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu." Sekali lagi Allah menegaskan, bahwa Allah akan membangunkan Abraham di atas tanah itu. Menurut pandangan manusia, ada sebagian tanah yang sudah diambil oleh Lot. Tetapi justru pada saat itu, Allah berkata kepada Abraham, dan Abraham tidak perlu mengulurkan tangannya sendiri untuk melakukan apapun. Tanah Kanaan telah diberikan oleh Allah, dan tidak perlu ada tangan daging yang keluar. Semoga Tuhan membelaskasihani kita, menyelamatkan kita dari tangan kita sendiri, terlepas dari cara kita sendiri.

Kejadian 13:18 mengatakan, "Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon Tarbantin di Mamre, dekat Hebron . . ." Setelah melewati pengujian yang kedua, Abraham benar-benar telah maju; kini ia datang dan menetap di Hebron. Ketahuilah, kemenangan yang Tuhan inginkan adalah kemenangan yang mutlak. Ketika Lot memilih dataran Lembah Yordan, secara lahiriah Abraham mungkin menang, tetapi tidak menang secara batiniah. Di luar mungkin dia berkata, "Jika engkau ke kiri, aku ke kanan, jika engkau ke kanan, aku ke kiri," namun di dalam memendam satu pengharapan yang mengharapkan agar Lot masih memiliki sedikit hati nurani, sehingga tidak secara serakah memilih bagian yang baik. Tetapi Allah membawa Abraham sampai pada suatu taraf, tidak saja secara lahiriah menang, juga menang secara batiniah. Abraham memindahkan kemahnya dan tinggal di Hebron. Dia benar-benar telah menang.

Ujian Ketiga -- Menyelamatkan Lot dan Menolak Harta Benda Sodom

Setelah pengujian kedua lewat, datanglah pengujian ketiga. Pasal 14:11-12 mengatakan, "Segala harta benda Sodom dan Gomora beserta segala bahan makanan dirampas musuh, lalu mereka pergi. Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi - sebab Lot itu diam di Sodom." Ini adalah pengujian terakhir bagi Abraham atas tanah Kanaan.

Setelah Abraham mendengar berita tentang tertawannya Lot, ia tidak berkata, "Sudah sejak dini saya tahu, bahwa tempat itu tidak seharusnya dia kunjungi; jika dia pergi, tentu tangan Allah akan menekan dia." Sebaliknya, apa kata Abraham? Kejadian 14:14 mengatakan, "Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan." Ini sungguh-sungguh memperlihatkan kepada kita, bahwa Abraham benar-benar seorang pemenang. Dia menang terhadap ego diri sendiri; dia telah dibawa Allah ke satu taraf, sehingga tidak lagi memiliki perasaan ego diri sendiri. Tidak peduli bagaimana perlakuan Lot kepadanya, dia masih menganggap Lot adalah saudaranya sendiri. Ketika di Mesopotamia, Lot adalah orang yang biasa; setelah tiba di Haran, ia masih sebagai orang yang biasa; sampai di tanah Kanaan, tetap sebagai orang biasa, bahkan memilih bagian yang baik bagi diri sendiri, dan akhirnya pergi ke Sodom. Lot, selain sering bersedih atas perbuatan hawa nafsu dari orang-orang jahat (II Petrus 2:7-8), ia tidak memiliki kebaikan yang lain, juga tidak memiliki kesaksian yang lainnya. Tetapi, Abraham masih mengakui Lot sebagai saudaranya. Hanya orang yang berdiri pada kedudukan Hebron --persekutuan --, baru bisa melakukan peperangan rohani. Peperangan memerlukan kekuatan. Untuk memiliki kekuatan, di dalam batin harus tidak ada rasa tidak terima. Kalaupun ada saudara yang tidak terima dengan kita, kita masih harus memandang dia sebagai saudara, kita masih harus berdoa baginya, masih harus dengan suka rela membantunya. Orang yang demikian baru bisa memiliki kekuatan rohani untuk berperang. Dengan berdiri di atas kedudukan inilah Abraham pergi berperang, dan ia mengalahkan musuh.

Ketika Abraham mengalahkan musuh, dan membawa kembali Lot yang ditawan musuh, saat itu adalah saat dia paling bisa menyombongkan dirinya. Saat itu dia mudah sekali berkata kepada Lot, "Dari dulu sudah saya katakan, kamu tidak mau mendengar!"-- Disertai mimik muka yang puas diri, yang menonjolkan bahwa dirinya telah menolong Lot. Tetapi Abraham tidak berbuat demikian.

Setelah Abraham merebut kembali segala harta benda yang tadinya dirampas musuh, juga Lot, kemenakannya, beserta harta bendanya, dan juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya, keluarlah raja Sodom menyongsong dia ke lembah Syawe. Juga ada Mekisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur, keluar menyambut dia. Berkatalah raja Sodom kepada Abraham, "Berikanlah kepadaku orang-orang itu, dan ambillah untukmu harta benda itu" (Kejadian 14:21). Pada waktu ini, Abraham telah belajar satu pelajaran, dan dia tidak merasa bahwa harta benda yang dia rebut dengan peperangan itu harus menjadi miliknya. Sebaliknya, kata Abraham kepada raja Sodom, "Aku bersumpah demi TUHAN, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi: Aku tidak akan mengambil apa-apa dari kepunyaanmu itu, sepotong benang atau tali kasutpun tidak, supaya engkau jangan dapat berkata: Aku telah membuat Abram menjadi kaya." Abraham berdiri pada satu kedudukan yang memperlihatkan kepada semua orang, selain TUHAN, tidak ada seorangpun yang dapat memberinya sesuatu.

Abraham menyebut TUHAN sebagai "TUHAN, Pemilik langit dan bumi!" (Terjemahan langsung). Jangan meremehkan perkataan ini. Ini menyatakan, karena sekarang di bumi ada Abraham yang berdiri bagi Allah, maka tidak hanya langit adalah milikNya, bumi juga milikNya. Allah bukan hanya TUHAN di langit, terlebih adalah TUHAN langit dan bumi! Sebutan "TUHAN, Pemilik langit dan bumi" bukanlah temuan Abraham, melainkan Abraham dapatkan dari Melkisedek. Ketika ia kembali dari mengalahkan Kedorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengan dia, ia berjumpa dengan Melkisedek di lembah Syawe, yakni Lembah Raja. Setelah Abraham menang perang, ia tidak berjumpa dengan manusia di kota besar, melainkan di tempat yang rendah, di suatu lembah, menjumpai manusia. Di sana, Melkisedek menyambutnya dengan membawa roti dan anggur, memberkati dia, "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah yang Mahatinggi, Pemilik langit dan bumi, dan terpujilah Allah yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu" (ayat 19-20 Tl.). Karena di sini ada seorang yang berdiri bagi Allah di bumi, maka Melkisedek berkata, bahwa Allah adalah "TUHAN, Pemilik langit dan bumi." Inilah pertama kali Alkitab mengatakan, bahwa Allah adalah "Pemilik langit dan bumi." Karena di bumi ada Abraham yang telah menang, maka Allah mulai disebut "Pemilik langit dan bumi."

Setelah mengalami berbagai pengujian, akhirnya Abraham menang! Inilah pekerjaan yang Allah garap di atas diri Abraham. Allah Yang Mahatinggi, Pemilik langit dan bumi, sungguh patut menerima pujian!