BAB 2
Terpanggilnya Abraham
Pembacaan Alkitab:
Ibrani 11:8-10; Kisah Para Rasul 7:2-5 (khusus perhatikan ayat-ayat Alkitab ini).
Galatia 3:8; Kejadian 11:31 -- 12:3,7a; 13:14-17; 14:21-23
Di depan telah kita katakan, bahwa Allah ingin mendapatkan sekelompok orang bagiNya, masuk di bawah namaNya, menjadi umatNya. Allah ingin mendapatkan sekelompok orang yang bisa berkata, "Aku adalah orang milik Allah." Untuk mencapai tujuan ini, terlebih dahulu Allah bekerja di atas diri Abraham, juga terlebih dulu bekerja di atas diri Ishak, pun terlebih dulu bekerja di atas diri Yakub. Pengalaman Abraham, ditambah pengalaman Ishak, ditambah pengalaman Yakub, adalah pengalaman dasar yang harus dimiliki oleh orang yang menjadi umat Allah. Artinya, orang yang menjadi umat Allah bukan orang yang sembarangan. Orang yang sembarangan tidak bisa menjadi umat Allah. Orang yang menjadi umat Allah harus mempunyai pengalaman tertentu di depan Allah. Orang yang mengalami pemberesan tertentu, mengalami pimpinan tertentu, baru bisa menjadi umat Allah, baru bisa benar-benar hidup bagi Allah di bumi ini. Pengalaman dasar yang harus dimiliki oleh umat Allah adalah pengalaman yang seperti pengalaman Abraham, pengalaman Ishak dan pengalaman Yakub. Dengan kata lain, meskipun seseorang disebut berada di bawah nama Allah, secara lahiriahnya disebut umat Allah, kalau mereka tidak nampak segala yang mereka miliki berasal dari Allah, tidak nampak semua yang di atas dirinya berasal dari menerima, juga tidak nampak segala sesuatu yang berasal dari kehidupan alamiahnya akan dikesampingkan oleh Allah, orang ini belum bisa menjadi umat Allah. Orang ini tidak seberapa berguna di tangan Allah.
ABRAHAM ADALAH
PERMULAAN PEKERJAAN PEMULIHAN ALLAH
Terlebih dulu kita akan melihat perkara yang berhubungan dengan Abraham. Semua pembaca firman Allah pasti nampak pentingnya Abraham. Permulaan Perjanjian Baru menyinggung nama Abraham. Ketika Tuhan Yesus berbicara, la beberapa kali menyebut nama Abraham, tidak menyebut nama Adam. Dia tidak berkata, "Sebelum ada Adam, Aku sudah ada." la tidak berkata kepada orang Yahudi, "Nenek moyangmu Adam", tetapi Ia berkata kepada mereka, "Nenek moyangmu Abraham." Dia menganggap Abraham sebagai titik permulaan.
Semoga Tuhan membuka mata kita, memperlihatkan kepada kita, bahwa dalam rencana penebusan Allah, dalam pekerjaan pemulihan Allah, permulaannya adalah Abraham. Roma pasal 4 memberitahu kita, Abraham adalah bapa semua orang yang percaya Tuhan. Tidak ada orang yang percaya Tuhan, yang tidak dimulai dari Abraham. Anda tidak bisa mulai sesudah Abraham, juga tidak bisa mulai sebelum Abraham. Abraham adalah titik mula. Adam bukan titik mula. Adam adalah titik mula dosa. Dosa dari satu orang masuk ke dalam dunia, titik mula itu adalah titik mula kejatuhan. Habel memang mempersembahkan korban kepada Allah karena iman, tetapi dia hanya satu orang yang baik secara perorangan. Kita tidak bisa mendapat berkat dari dia. Karena itu, ia bukan titik mula dari pekerjaan pemulihan Allah. Henokh memang seorang yang bergaul dengan Allah, tetapi ia hanya orang yang baik secara perorangan. Kita tidak bisa karena dia mendapatkan berkat. Sebab itu, ia bukan permulaan pekerjaan pemulihan Allah. Ketiga orang di depan semuanya baik, tetapi mereka masing-masing adalah orang yang baik secara individu. Habel percaya Allah, Henokh percaya Allah, Nuh percaya Allah, Abraham juga percaya Allah. Tetapi Abraham berbeda dengan Habel, Henokh dan Nuh. Dalam rencana penebusan Allah, Abraham lebih penting daripada Henokh dan Nuh, karena permulaan pekerjaan pemulihan Allah berasal dari Abraham.
Kita harus nampak perbedaan Abraham dengan orang-orang lain. Sejak Adam berdosa, ada satu garis dosa yang terus turun. Meskipun Habel seorang yang baik, tetapi dia tidak bisa membereskan garis dosa itu; meskipun Henokh seorang yang baik, tetapi dia tidak bisa membereskan arus dosa; meskipun Nuh seorang yang baik, ia tidak bisa membereskan situasi dosa itu. Manusia telah jatuh, manusia telah gagal, meskipun ketiga orang itu baik, tetapi mereka hanya orang baik perorangan, tidak bisa membereskan situasi dosa. Baik secara perorangan berbeda dengan membereskan situasi dosa. Orang pertama yang Allah pakai untuk membereskan situasi dosa adalah Abraham. Sebelum Abraham, meskipun di atas pribadi orang-orang tertentu Allah telah bekerja, tetapi situasi dosa itu belum digarap oleh Allah. Pada waktu Allah mulai menggerakkan tanganNya untuk membereskan situasi dosa, la memilih Abraham. Dengan kata lain, titik mula pemulihan berasal dari Abraham. Arus dosa terus turun, Habel, Henokh dan Nuh seolah-olah tiga batu baik yang muncul ke atas permukaan dari arus dosa. Tetapi Abraham dipakai oleh Allah untuk mengalihkan arus itu. Allah membangunkan Abraham, melalui dia, Allah akan melakukan penyelamatan; melalui dia, Juruselamat akan datang; melalui dia, penebusan akan datang. Sebab itu, permulaan Perjanjian Baru yang menyinggung tentang Injil, dimulai dari Abraham. Semoga Allah membelaskasihani kita, supaya di sini kita tidak hanya melakukan sedikit pekerjaan penelaahan Alkitab, ingin mengenal sedikit pengetahuan Alkitab. Kita menengadah kepada rahmat Allah, supaya kita nampak, apa yang sedang Allah kerjakan.
Penebusan telah dirampungkan oleh Tuhan Yesus, tetapi titik mulanya dimulai dari Abraham. Pemulihan Allah masih berlanjut sampai hari ini, bahkan sampai Kerajaan seribu tahun pun masih akan berlanjut. Titik mulanya adalah pada Abraham. Dengan kata lain, inti penebusan adalah Tuhan Yesus, penyempurnaan penebusan terjadi pada akhir kerajaan seribu tahun, yakni permulaan langit baru dan bumi baru, tetapi permulaan penebusan berada pada diri Abraham. Mulai Abraham sampai pada akhir kerajaan seribu tahun, Allah terus mengadakan pekerjaan pemulihan. Dalam masa pekerjaan pemulihan yang panjang intinya adalah Tuhan Yesus, tetapi jangan lupa, permulaannya adalah Abraham.
Inilah keistimewaan Abraham. Proses Allah memilih Abraham sangat berbeda dengan Allah memilih orang yang begitu baik seperti Habel atau Henokh, atau Nuh. Allah mendapatkan Habel, hanya satu Habel. Allah mendapatkan Henokh, hanya satu Henokh. Allah mendapatkan Nuh, hanya satu Nuh. Tetapi Allah memilih Abraham, bukan hanya memilih satu Abraham. Ketika Allah memanggil Abraham, Allah dengan jelas memberitahu dia, untuk apa Allah memanggil dia. Allah memanggil dia supaya meninggalkan negerinya, sanak saudaranya dan rumah bapanya, untuk pergi ke tanah Kanaan; Allah menghendakinya menjadi bangsa yang besar, yang olehnya kaum di muka bumi akan mendapatkan berkat. Dengan kata lain, terpanggilnya dan terpilihnya Abraham adalah untuk menyelamatkan situasi dosa, bukan hanya untuk Abraham perorangan. Ini berarti terpanggilnya Abraham, dikarenakan Allah akan memakai dia sebagai satu bejana, bukan hanya sebagai orang yang terpanggil, orang yang menerima kasih karunia. Seseorang terpanggil untuk mendapatkan kasih karunuia, itu adalah satu masalah; seseorang terpanggil untuk menyalurkan kasih karunia, itu adalah perkara yang lain. Terpanggilnya Abraham bukan hanya supaya dia sendiri mendapat kasih karunia, lebih-lebih supaya dia menjadi orang yang menyalurkan kasih karunia.
TUJUAN ALLAH MEMANGGIL ABRAHAM
Allah memanggil Abraham supaya ia menyelamatkan orang dari situasi dosa itu. Jangan mengira terpilihnya Abraham adalah satu kisah perorangan. Abraham dipilih oleh Allah untuk menyelamatkan situasi yang dosa. Di hadapan Allah kita perlu baik-baik memperhatikan beberapa hal yang tercakup dalam panggilan terhadap diri Abraham, dan apa yang bisa dilakukan oleh panggilan terhadap Abraham itu. Dalam panggilan terhadap Abraham, kita bisa nampak tujuan Allah, rencana Allah, apa yang telah ditentukan terlebih dulu oleh Allah, juga bisa melihat cara menyelesaikan masalah dosa dan masalah Iblis dengan tuntas. Semoga Allah membuka mata kita, sehingga kita nampak hal-hal ini.
Mari kita melihat Kejadian 12:1, "Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini, ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu." Allah memanggil Abraham supaya ia meninggalkan negerinya, sanak saudaranya dan rumah bapanya, ke negeri yang akan Dia tunjukkan kepadanya. Ini adalah masalah warisan. Ayat 2, "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu termasyhur. . ." "Menjadi bangsa yang besar", ini adalah masalah umat. Ayat 3, "Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." "Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" inilah tujuan terakhir dari pemilihan Allah terhadap Abraham. Sebab itu tujuan pemilihan Allah terhadap Abraham ada tiga. Pertama, pergi ke negeri yang Allah tunjukkan kepadanya. Kedua, supaya ia menjadi bangsa yang besar. Ketiga, olehnya semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.
1. "Ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu"
Allah memanggil Abraham supaya ia meninggalkan negerinya, sanak saudaranya dan rumah bapanya, pergi ke negeri yang akan Allah tunjukkan kepadanya. Tempat tinggal Abraham semula di Ur-Kasdim, tempat melayani berhala. Terah, ayahnya, tinggal di sana dan melayani berhala (Yosua 24:2). Allah memanggil Abraham keluar. Di aspek negatif, supaya la meninggalkan negeri, sanak saudara, dan rumah bapanya, supaya ia menjauhi perkara melayani berhala. Di aspek positif, ia pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Allah, yaitu pergi ke tanah Kanaan, melayani Tuhan langit dan bumi, Allah Yang Mahatinggi.
Dalam Injil Matius pasal 6, Tuhan Yesus mengajar murid-murid berdoa, "Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. . ." Allah ingin umatNya mendatangkan kekuasaanNya dan kehendakNya ke bumi. Hari ini gereja seharusnya merupakan tempat kemuliaan Allah terekpresikan, tempat kehendak dan kekuasaan Allah terlaksana. Kalau ada sekelompok orang yang bisa taat kepada kehendak Allah, bisa membiarkan kekuasaan Allah terlaksana di atas diri mereka, maka tempat kediaman mereka menjadilah tempat kehendak dan kekuasaan Allah terlaksana. Tujuan Allah mendapatkan orang-orang menjadi umatNya ialah agar dari diri mereka Allah mendapatkan satu jalan, sehingga kekuasaanNya dan kehendakNya bisa terlaksana di bumi seperti di sorga. Inilah tujuan Allah memanggil Abraham. Inilah tujuan Allah memanggil kita menjadi umatNya.
2. "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar"
Panggilan Allah terhadap Abraham tidak hanya supaya ia pergi ke tempat yang ditunjukkanNya, juga supaya ia menjadi satu bangsa yang besar. Tujuan Allah adalah mendapatkan sekelompok orang untuk menjadi umatNya. Allah memanggil Abraham dengan maksud memilih dia dan keturunannya menjadi umatNya. Dengan kata lain, Allah memilih umatNya mulai dari Abraham. Dari antara sekian banyak orang, Allah memanggil satu orang. Sejak saat itu, kehendak Allah akan dinyatakan kepada orang ini. Sejak saat itu, karya penebusan Allah akan dirampungkan melalui orang ini. Sejak saat itu, karunia keselamatan akan berasal dari satu orang ini. Dari orang yang terpilih, yang terpanggil, Allah akan mencapai tujuanNya.
Terpilihnya Abraham menyatakan Allah dari sekian banyak orang memanggil satu orang untuk diriNya sendiri. Allah ingin mendapatkan sekelompok umat untuk diriNya sendiri. Dalam Perjanjian Lama ada kerajaan Israel, menyatakan Allah di bumi akan mendapatkan umat. Artinya, ada sekelompok orang yang bagi Allah, untuk kemuliaan Allah. Orang-orang ini adalah milik Allah.
Dalam Perjanjian Lama kita nampak, jika orang Israel melakukan suatu dosa yang lain, Allah masih membiarkan mereka lewat. Tetapi ketika mereka melanggar Tuhan dengan menyembah berhala, Allah tidak membiarkan mereka, karena menyembah berhala adalah satu dosa yang amat besar. Kedudukan Allah selamanya tidak boleh direbut oleh berhala. Tujuan Allah memilih umat di bumi ialah agar mereka menjadi saksi Allah; Allah yang menaruh diri-Nya di antara umatNya. Dengan kata lain, umat Allah adalah satu bejana yang diisi oleh Allah. Ada umat Allah, ada kesaksian Allah. Salmaneser, raja orang Asyur, musuh Israel berkata, "Di manakah para allah negeri Hamat dan Arpad? Di manakah para allah negeri Sefarwaim, Hena dan Iwa? Apakah mereka telah melepaskan Samaria dari tanganku? Siapakah di antara allah negeri-negeri yang telah melepaskan negeri mereka dari tanganku, sehingga TUHAN sanggup melepaskan Yerusalem dari tanganku?" (II Raja-raja 18:34-35). Ini memperlihatkan kepada kita, bahwa bila musuh orang Israel melawan orang Israel, mereka harus berhadapan dengan TUHAN, karena orang Israel selalu bersama TUHAN. Allah menaruh diriNya ke dalam umatNya. Diri Allah, kemuliaan Allah, kekuasaan Allah, kekuatan Allah, semua ditaruh di dalam umatNya.
Kisah Para Rasul 15:14 mengatakan, "Allah menunjukkan rahmatNya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi namaNya." Inilah keadaan dalam Perjanjian Baru. Gereja dalam Perjanjian Baru adalah umat Allah. Hari ini semua kesaksian Allah, semua pekerjaan Allah, semua kehendak Allah, ditaruh di dalam gereja.
Tujuan Allah adalah mendapatkan sekelompok orang bagi namaNya. Allah ingin mendapatkan sekelompok orang yang memproklamirkan bahwa, "Kami adalah milik Allah. Kami adalah milik Tuhan!" Sebab itu Alkitab sangat mementingkan pengakuan terhadap Kristus. Tuhan berkata, "Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah" (Lukas 12:8-9). Orang yang ingin Tuhan dapatkan adalah orang yang mau mengakui Dia. Mengakui Tuhan Yesus bukan hanya memberitakan Injil, bahkan memproklamirkan bahwa, "Aku adalah milik Tuhan! Aku adalah milik Allah!" Inilah kesaksian Allah, supaya Allah mendapatkan sesuatu. Allah akan mendapatkan sekelompok umat yang bisa mengakui, "Kami adalah milik Tuhan. Kami adalah untuk Dia."
3. "Olehmu semua bangsa di bumi akan mendapatkan berkat"
Kemudian Allah berkata kepada Abraham, "Olehmu semua bangsa di bumi akan mendapatkan berkat" (Kejadian 12:3). Jadi Allah tidak melupakan semua bangsa, tetapi cara Allah memberkati semua bangsa di muka bumi, bukan secara langsung melainkan melalui Abraham. Allah memilih satu orang, orang ini adalah satu bejana. Dari orang ini ada satu keluarga, dari keluarga ini timbul satu kerajaan, dari satu kerajaan ini mendapatkan seluruh bangsa di bumi. Allah bukan secara langsung membuat semua bangsa di muka bumi mendapatkan berkat. Allah terlebih dulu bekerja di atas diri seseorang, dan bangsa-bangsa di muka bumi akan mendapatkan berkat olehnya. Allah menaruh kasih karuniaNya, kekuasaanNya dan kekuatanNya di atas orang ini, kemudian disalurkan kepada semua orang. Inilah prinsip terpilihnya Abraham. Prinsip ini terus berlaku sampai hari ini. Sebab itu, yang diperhatikan Allah adalah siapa yang bisa menjadi bejanaNya. Orang yang dipilih Allah menjadi satu bejana harus mengenal Allah. Semua bangsa di muka bumi bisa mendapatkan berkat atau tidak, tergantung pada bagaimana Abraham. Dengan kata lain, kehendak Allah dan rencana Allah yang kekal berkaitan dengan orang yang dipilih oleh Allah. Keadaan orang yang dipilih oleh Allah (entah bertahan, berdiri teguh, atau gagal), bisa mempengaruhi keberhasilan kehendak atau rencana Allah.
Sebab itu, Abraham sendiri harus mengalami banyak peristiwa, harus dari Allah mendapatkan banyak barang, kemudian baru bisa membagikannya kepada orang lain. Maka tidak heran Abraham melalui begitu banyak kesulitan, melalui begitu banyak perkara, hanya dengan demikianlah orang lain baru bisa mendapatkan bantuan dari dirinya, dan bisa mendapatkan faedah. Abraham mengenal Allah, sebab itu ia bisa menjadi bapa orang yang percaya. Orang yang hidup oleh iman adalah anak-anak Abraham, yang dilahirkan dari Abraham. Kita harus tahu, semua pekerjaan Roh Kudus dimulai dari kelahiran, bukan berdasarkan prinsip diberitakan. Anak itu ada karena dilahirkan, bukan karena diberitakan. Jalan pemulihan Allah menghendaki orang percaya, percaya baru bisa dibenarkan. Lalu bagaimana Allah mengerjakannya? Pertama-tama Allah membawa seseorang pada tahap percaya, supaya orang itu menjadi orang yang percaya, lalu dari orang itu, melahirkan banyak orang yang percaya.
Kita harus ingat, hanya bisa berkhotbah, tetapi tidak bisa melahirkan, itu tidak berguna. Pengkhotbah-pengkhotbah demikian paling banyak hanya membuat orang mengerti teori, paling banyak dari satu orang, dari mulut satu orang disampaikan ke mulut orang lain, berputar mengelilingi bumi lalu kembali ke tempatnya sendiri; masih tetap teori. Kalau ada orang, ia tidak mengenal Allah, tidak dilahirkan dari Allah, lalu dengan gairah memberitakan doktrin atau teori diselamatkan, apa gunanya? Kalau ada orang yang tidak hanya dengan mulut menyampaikan teori keselamatan, tetapi juga menyaksikan bagaimana ia beroleh selamat dan berjumpa dengan Allah, ia bisa membawa Anda menjamah realitas. Orang yang demikian baru bisa melahirkan. Prinsip pekerjaan Allah adalah terlebih dulu bekerja di atas diri satu orang, kemudian membiarkan dia melahirkan. Karena pekerjaan Allah itu hidup, dan benih yang Allah taburkan ke atas diri orang itu adalah benih kehidupan (hayat), maka benih itu bisa melahirkan. Paulus berkata kepada orang-orang di Korintus, "Tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi . . . karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu" (I Korintus 4:14-15). Melahirkan adalah prinsip pekerjaan rohani. Prinsip pekerjaan rohani adalah melahirkan, bukan mengajar.
Kita mohon Allah mencelikkan mata kita, sehingga kita benar-benar bisa nampak bahwa pengajaran itu sia-sia. Kalau kita sendiri tidak mempunyai barang itu, hanya bercerita kepada orang, itu sedikitpun tidak berguna. Kalau ada benih itu, bisa melahirkan; kalau tidak ada benih itu, tidak bisa melahirkan. Pekerjaan Allah berhubungan dengan kehidupan, bukan berhubungan dengan teori yang kosong. Kalau Anda di depan Allah telah menempuh jalan itu, kalau Anda telah berhubungan dengan Allah, Anda baru bisa melahirkan. Kalau tidak, sedikit pun tidak berguna. Allah menghendaki semua orang mendapatkan berkat, untuk itu la terlebih dulu bekerja di atas diri Abraham. Allah ingin mendapatkan sekelompok orang yang percaya, untuk itu Ia terlebih dulu mendapatkan satu orang yang percaya. Abraham adalah orang pertama yang percaya, kemudian dia melahirkan banyak orang yang percaya. Semua bangsa di bumi mendapatkan berkat bukan karena mendengarkan suatu khotbah, melainkan karena mendapatkan satu kehidupan (hayat). Allah terlebih dulu bekerja di atas diri Abraham, kemudian dari Abraham meluas kepada banyak orang. Pada suatu hari, kota yang dinanti-nantikan oleh Abraham, kota yang mempunyai dasar yang dibangun oleh Allah (Ibrani 11:10), turun ke bumi, semua bangsa di bumi akan sepenuhnya mendapatkan berkat. Rencana Allah yang kekal sepenuhnya akan rampung. Tetapi, pekerjaan penebusan Allah sudah dimulai pada hari itu di atas diri Abraham. Pekerjaan Allah di atas diri Abraham membuat Abraham menjadi bejana, bukan untuk diri Abraham sendiri. Allah ingin diriNya tersalur ke atas orang lain melalui Abraham.
ALLAH DUA KALI MEMANGGIL ABRAHAM
Sekarang kita akan melihat bagaimana Abraham terpanggil dan bagaimana mengikuti Allah.
Kalau kita membaca Yosua pasal 24, kita tahu bahwa Abraham berasal dari keluarga yang menyembah berhala. Tetapi ajaib sekali, pekerjaan pemulihan Allah justru memilih orang yang demikian. Hal ini menampakkan kepada kita "hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah" (Roma 9:16). Abraham bisa dipilih oleh Allah, itu sama sekali di luar pikiran Abraham. Pada diri Abraham sendiri tidak ada yang bisa dimegahkan. Ia adalah orang biasa, tidak berbeda dengan orang lain. Yang membuat Abraham berbeda dengan orang lain bukan Abraham sendiri, melainkan Allah. Allah yang memanggil dia, sehingga dia berbeda dengan orang lain. Sebab itu, ada satu hal yang perlu kita pelajari, yaitu mengenal kekuasaan Allah. Allah ingin melakukan begitu, itulah yang Ia kerjakan. Abraham sama dengan orang lain, ia tidak mempunyai alasan untuk dipilih oleh Allah, tetapi Allah telah memilih dia. Pelajaran pertama untuk Abraham adalah mengenal Allah sebagai pemrakarsa, bukan dia yang memulai.
Panggilan Allah terhadap Abraham ada dua kali. Mari terlebih dulu kita lihat bagaimana Allah pertama kali memanggil dia dan bagaimana Abraham menjawab panggilan Allah.
Panggilan Pertama -- di Ur-Kasdim
Panggilan pertama adalah di Mesopotamia -- Ur-Kasdim. Stefanus berkata, "Allah yang Mahamulia telah menampakkan diriNya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran" (Kisah Para Rasul 7:2). Dari sini kita nampak, sebelum Abraham meninggalkan Ur-Kasdim, Allah telah memanggil dia. Allah yang mulia telah menampakkan diriNya dan memanggil Abraham, menyuruh dia meninggalkan negeri, sanak saudaranya, dan rumah bapanya, untuk pergi ke tempat yang ditunjukkan kepadanya. Apakah Abraham percaya? Ibrani pasal 11 memberitahu kita: Abraham percaya! Ya, begitu seseorang melihat kemuliaan Allah, ia tidak bisa tidak percaya. Abraham adalah manusia biasa seperti kita, karena Allah yang Mahamulia itu menyatakan diri kepadanya, maka ia bisa percaya. Allahlah yang menjadi alasan ia menjadi orang imani. Allah yang memulainya, Allah yang Mahamulialah yang membuat ia percaya.
Apakah sejak mulanya iman Abraham sudah begitu besar? Tidak! Setelah ia mendengar panggilan Allah, apa yang terjadi? "Lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, istri Abram, anaknya; ia berangkat bersama mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, Lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana" (Kejadian 11:31). Abraham menerima panggilan Allah ketika ia di Mesopotamia, ini dicatat dalam Kisah Para Rasul 7:2; Abraham percaya, ini tercatat dalam Ibrani 11:8. Kita harus tahu, perkara dalam Kejadian 11:31 adalah perkara yang terjadi setelah perkara dalam Kisah Para Rasul 7:2 dan perkara dalam Ibrani 11:8. Kita harus khusus memperhatikan perkataan ini: "Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, istri Abraham anaknya; ia berangkat bersama-sama mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan." Inilah pernyataan iman yang pertama dari Abraham. Ia tidak lebih tinggi daripada kita. Allah berkata kepadanya, "Tinggalkanlah negerimu ini". Apakah ia meninggalkan? Ya, ia meninggalkan. Allah berkata, "Tinggalkanlah sanak keluargamu." Apakah dia meninggalkan? Meninggalkan sebagian! Karena Lot masih mengikutinya. Allah berkata kepadanya, "Tinggalkanlah rumah bapamu." Abraham tidak hanya tidak meninggalkan, malah membawa ayahnya pergi; bahkan perginya Abraham bukan karena ia yang menentukan, melainkan ayahnya yang menentukan. "Terah membawa Abram, anaknya." Kita tidak tahu mengapa Terah mau pergi, mungkin Abraham memberitahu ayahnya, "Allah memanggil aku, menghendaki aku pergi." Karena mengasihi anaknya, Terah menyertainya pergi. Kita tidak bisa menentukan dengan tegas, tetapi kita bisa berkata demikian: Orang yang tidak mendapatkan panggilan malah aktif, sebaliknya orang yang menerima panggilan, malah menjadi orang yang mengikuti! Mungkin ada orang berkata, "Bukankah lebih baik mendapatkan sekeluarga berpaling kepada Tuhan?" Kita akui, sekeluarga berpaling kepada Tuhan itu baik sekali. Tetapi panggilan Abraham itu bukan masalah beroleh selamat, melainkan masalah menjadi ministri. Panggilan kepada Nuh untuk masuk ke dalam bahtera adalah masalah beroleh selamat. Panggilan terhadap Abraham untuk masuk ke tanah Kanaan adalah masalah ministri, merampungkan rencana Allah. Inilah perbedaan antara Abraham dengan Nuh. Nuh membawa masuk keluarganya ke dalam bahtera, itu betul! Abraham ingin membawa keluarganya masuk ke tanah Kanaan, itu salah! Kalau keluarga kita ada yang belum beroleh selamat, dan kita membawanya beroleh selamat, itu betul. Tetapi kalau Allah memanggil kita untuk menjadi pelayanNya, menjadi bejanaNya, kita tidak bisa menyeret orang yang belum menerima panggilan untuk maju bersama.
Sebab itu permulaan Abraham sangatlah biasa. Dia terpanggil, lalu percaya, tetapi dia bukan orang yang mempunyai iman yang khusus. la hanya percaya, dan ingin taat, tetapi dia tidak bisa taat sepenuhnya. la ingin taat, sebab kalau tidak taat, ia merasa tidak damai, merasa tidak benar. la ingin pergi, tetapi tidak pergi dengan tuntas. la tidak berbeda dengan kita. Sebab di antara kita tidak boleh ada satu pun yang putus asa, mengira dirinya tidak becus, tidak ada harapan. Ketahuilah, harapan kita berada di dalam diri Allah.
Apa yang terjadi setelah Abraham ikut ayahnya keluar? Mereka berhenti di tengah jalan. Allah menyuruh dia pergi ke tanah Kanaan, tetapi ia berhenti di Haran, bahkan tinggal di sana. la tidak nampak, bahwa Allah akan bekerja dengan tuntas di atas dirinya, kemudian baru ia pantas menjadi bejana Allah. la masih tidak mengetahui amanat yang Allah amanatkan kepadanya, ministri yang Allah amanatkan kepadanya; ia tidak tahu mengapa harus mengeluarkan sekian banyak harga? Demikian juga dengan kita, karena kita tidak mengetahui maksud hati Allah, sering kali kita berpikir, "Mengapa Allah memperlakukan aku demikian? Mengapakah Allah tidak memperlakukan aku seperti Nuh? Nuh sekeluarga berkumpul, tetapi aku harus meninggalkan rumah bapaku?" Ingatlah, untuk mendapatkan bejana yang murah, kita cukup mengeluarkan sedikit harga. Untuk mendapatkan bejana yang mahal, kita harus mengeluarkan harga yang mahal. Allah menghendaki Abraham menjadi bejana yang mahal, karena itu permintaan Allah terhadapnya tentu lebih banyak daripada orang lain. Sebab itu, sekali-kali janganlah kita salah paham, terhadap cara pemberesan Allah terhadap diri kita. Anda tidak tahu dengan cara apa Allah akan memakai Anda. Segala yang Anda alami adalah untuk pelayanan Anda di kemudian hari. Jangan sekali-kali mengira, orang lain bisa melakukan ini, bisa melakukan itu, mengapa aku tidak bisa. Ingatlah, jika Allah terhadap seseorang mempunyai latihan yang khusus, itu karena Allah menghendaki dia mempunyai fungsi yang khusus. Fungsi yang khusus berasal dari latihan yang khusus. Sebab itu, jangan merasa tidak terima, tidak puas. Ada satu perkara yang bodoh, yaitu tidak taat di bawah tangan Allah, dan terus bertanya kepada Allah, "Mengapa demikian? Mengapa Allah berbuat itu?"
Pekerjaan Allah di atas diri Abraham adalah maksud dan isi hati Allah terhadap Abraham. Tetapi Abraham tidak mengetahuinya. Abraham tidak tahu, mengapa ia harus meninggalkan negerinya, sanak saudaranya dan rumah bapanya. Sebab itu, meskipun ia telah meninggalkan negerinya, tetapi tidak terlalu jauh; ia meninggalkan sanak saudaranya, tetapi masih membawa keponakannya; ia meninggalkan rumah bapanya, tetapi masih sulit, malah bapanya dibawa pergi bersama-sama. la tidak nampak ministrinya. la tidak tahu Allah menghendakinya berbuat apa. Hasilnya, hari-harinya di Haran menjadi hari-hari yang sia-sia, hari-hari yang tidak berguna, hari-hari yang menunda waktu saja.
Ketika ayahnya mati, ia masih tidak mau meninggalkan keponakannya. la membawa Lot pergi. Ketika Terah masih hidup, ia hanya membuat Abraham tertunda; setelah ia mati, Lot membuat umat Allah selalu repot. Karena pekerjaan Lot telah melahirkan dua anak: satu bernama Moab, yaitu bapa orang Moab yang sekarang; satunya bernama Ben-Ami yaitu bapa bani Amon yang sekarang. Orang Moab dan orang Amon menjadi kesulitan bagi orang Israel.
Panggilan yang Kedua -- Di Haran
Sampai kitab Kejadian pasal 12, Allah memanggil Abraham untuk kedua kalinya. Panggilan pertama di Ur-Kasdim, panggilan kedua di Haran. Allah berkata "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar . . . olehmu semua bangsa di muka bumi akan mendapat berkat" (ayat 1-3). Ini adalah panggilan yang sudah lama. Panggilan yang dulu, kini ia dengar lagi. Panggilan pertama hanya membawanya sampai di tengah jalan; panggilan kedua baru membawanya masuk ke tanah Kanaan. Kita harus bersyukur kepada Allah, karena Allah tidak lepas tangan! KetetapanNya untuk tidak lepas tangan adalah perkara yang paling berharga! Kita bisa menjadi orang Kristen adalah karena Allah berketetapan tidak lepas tangan, bukan karena kita sendiri yang memegang Allah. Kalau kita berdasarkan diri sendiri menjadi orang Kristen, sudah lama kita hilang. Abraham bisa mencapai tanah Kanaan karena Allah tidak melepaskan dia. Hari ini kita menjadi orang Kristen karena tangan Allah memegang kita. Syukur kepada Allah! Dia terus menjabat dan memegang kita dan tidak melepaskan kita.
Dalam penampakan diri Allah kepada Abraham, dalam panggilan Allah kepada Abraham, kita nampak Allah bukan Allah yang gagal. Allah adalah Allah yang mulia! Sejak Adam berdosa sampai Allah menyatakan diri kepada Abraham, Alkitab berkali-kali mencatat Allah berbicara kepada manusia, tetapi tidak mencatat Allah menyertai manusia. Setelah manusia jatuh, Alkitab mencatat, kali pertama Allah menampakkan diri kepada manusia adalah di Mesopotamia, yaitu menyatakan diri kepada Abraham. Sebab itu kita percaya, pekerjaan pemulihan Allah pertama kali dimulai dari diri Abraham. Bertahun-tahun Allah tidak menyatakan diri kepada manusia, tetapi kali ini Allah menyatakan diri kepada Abraham. Penyataan diri Allah kepada Abraham memperlihatkan kepada kita, meskipun sejarah kejatuhan manusia sudah berlangsung lima ribu tahun, dan menurut pandangan manusia seolah-olah Allah sudah gagal, tetapi Allah tidak gagal. Tujuan Allah bukan tidak tercapai, karena Allah yang mulia menyatakan diri kepada Abraham. Allah adalah Allah yang mulia, Dia adalah Alfa, Dia juga Omega. Allah tetap Allah yang mulia! Tidak ada satu perkara yang lebih kukuh daripada kemuliaan Allah; tidak ada perkara yang lebih abadi daripada kemuliaan Allah. Dari Adam sampai Abraham bukan dua puluh tahun, bukan dua ratus tahun, melainkan dua ribu tahun. Meskipun berselang waktu sekian panjang, Allah tidak pernah gagal, Dia adalah Allah yang mulia.
Allah yang mulia menampakkan diri kepada Abraham dan memberitahu Abraham apa yang harus dia lakukan. Abraham tidak hanya mendapat penampakan diri Allah, juga mendapat amanat kehendak Allah. Dia tahu Allah akan berbuat apa. Allah berkata kepada Abraham, "Pergilah . . . ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar . . . dan olehmu semua bangsa di muka bumi akan mendapat berkat." Perkataan Allah kepada Abraham ini memperlihatkan kepadanya, selama dua ribu tahun, meskipun manusia terus gagal, meskipun manusia banyak dosa, tetapi sekarang Allah datang untuk memulihkan mereka. Allah akan melalui Abraham melakukan pekerjaan pemulihan.
Pertama kali Allah memanggil Abraham, ia mendengar, percaya, dan meninggalkan Ur-Kasdim, tetapi dia mengikuti ayahnya tinggal di Haran, hanya menempuh setengah jalan. Perkara beroleh selamat sulit sekali kita lupakan, tetapi visi sebagai pelayan mudah sekali kita lupakan, mudah sekali kita abaikan. Tidak usah dikatakan yang lain, asal dalam pelayanan kepada Allah agak repot sedikit, mudah sekali kita lupa pelayanan kita, mudah sekali melupakan tujuan Allah yang sebenarnya. Abraham melupakan panggilan Allah terhadapnya, sebab itu Allah perlu sekali lagi berkata kepadanya. Itulah sebabnya di Haran Allah perlu berkata kepadanya lagi dan mengucapkan perkataan yang sama. Syukur kepada Allah, karena Dia berkata-kata lagi kepada kita, supaya kita sekali lagi mengetahui apa yang ingin Dia kerjakan.
Abraham mendengar lagi, iman yang timbul sewaktu panggilan pertama kini bangkit kembali. Iman Abraham pulih kembali, sebab itu dia bisa menempuh jalan yang di depan.