BAB 1
Pendahuluan
Pembacaan Alkitab:
Keluaran 3:6, 15-16; Matius 22:31-32
Satu
Surat I Korintus 10:11 mengatakan, "Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita . . . " Sejarah orang Israel yang tercatat dalam Alkitab, semuanya berguna sebagai peringatan bagi kita, untuk membina kita. Apa yang Allah kerjakan dalam Perjanjian Lama, dan juga yang Allah kerjakan dalam Perjanjian Baru, meskipun secara lahiriah berbeda, tetapi pada prinsipnya tetap sama. Prinsip Allah bekerja hanya satu, dulu bagaimana, sekarang begitu juga.
Allah memilih orang Israel untuk menjadi umatNya, Allah juga dari antara orang kafir memilih orang-orang untuk dijadikan umatNya (Kisah Para Rasul 15:14), kita kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (Efesus 2:19); juga adalah orang Yahudi yang sejati (Roma 2:29). Sebab itu, sejarah orang Israel adalah peringatan bagi kita. Dalam buku ini kita akan melihat satu masalah, yaitu bagaimanakah jalan Allah membereskan umat-Nya? Dengan kata lain, dengan jalan apa Allah membentuk umatNya? Atau boleh dikatakan di depan Allah, manusia harus mempunyai pengalaman apa, baru bisa menjadi umatNya?
Kita akan melihat persoalan ini dari diri Abraham, Ishak dan Yakub. Karena Abraham, Ishak dan Yakub dalam Alkitab mempunyai kedudukan yang khusus.
Dua
Alkitab memperlihatkan kepada kita, bahwa umat Allah mempunyai dua permulaan. Permulaan pertama adalah Abraham; karena pemilihan Allah, panggilan kasih karunia Allah dimulai dari Abraham. Masih ada satu permulaan lagi yaitu Kerajaan Israel. Allah memberitahu orang-orang Israel, bahwa mereka akan menjadi milikNya dari antara segala bangsa, dan mereka akan menjadi Kerajaan Imam dan bangsa yang kudus bagi Allah (Keluaran 19:5-6). Sebab itu, umat Allah benar-benar dimulai dari Abraham, umat Allah juga benar-benar dimulai dari Kerajaan Israel. Dari antara dua titik permulaan ini, Allah mendapatkan tiga orang, yaitu: Abraham, Ishak dan Yakub. Setelah ada Abraham, ada Ishak dan ada Yakub, kemudian ada Kerajaan Israel. Sejak itu Kerajaan Israel terlebih dulu menjadi umat Allah. Sejak saat itu mulailah ada umat Allah. Jadi, kita boleh mengatakan, bahwa dasar Kerajaan Israel adalah didirikan pada Abraham, Ishak dan Yakub. Kalau tidak ada Abraham, Ishak dan Yakub, maka tidak ada umat Allah. Mereka bisa menjadi umat Allah, karena mereka telah memiliki pengalaman Abraham, telah memiliki pengalaman Ishak, dan telah memiliki pengalaman Yakub.
Tiga
Ada satu perkara yang sangat ajaib, yaitu Allah berkata, "Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub" (Keluaran 3:6). Dalam Perjanjian Lama Allah berkata demikian, dalam Perjanjian Baru Tuhan Yesus juga berkata mengutip kata-kata ini. Matius, Markus dan Lukas (tiga kitab Injil) semua mengutip kata-kata ini, "Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub" (Matius 22:32; Markus 12:26; Lukas 20:37). Tuhan Yesus bahkan berkata, "Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga" (Matius 8:11). Tuhan tidak menyebut nama orang lain, hanya menyebut nama Abraham, Ishak dan Yakub. Ini menyatakan bahwa dalam Alkitab, Abraham mempunyai kedudukan yang khusus; Ishak mempunyai kedudukan yang khusus, Yakub juga mempunyai kedudukan yang khusus.
Empat
Mengapa Abraham, Ishak dan Yakub mempunyai kedudukan yang khusus? Karena Allah ingin memilih sekelompok orang bagi diriNya sendiri di dalam namaNya, menjadi umatNya. Allah mendapatkan umat adalah dimulai dari Abraham. Dari diri Abraham Allah akan menggarap satu permulaan rohani. Dari diri Abraham Allah akan menggarap satu pekerjaan, yang memperlihatkan kepada kita, pengalaman apakah yang harus dimiliki oleh Abraham sebagai umat Allah, yaitu pengalaman yang juga harus dimiliki oleh semua orang yang menjadi umat Allah. Sebab itu Allah terlebih dulu bekerja di atas diri Abraham, supaya Abraham di depan Allah mempunyai pengalaman yang khusus, juga supaya pengalaman yang khusus ini bisa tersalur ke atas diri seluruh umat Allah. Dasar Kerajaan Israel didirikan di atas diri Abraham, Ishak dan Yakub. Sebab itu, Allah bukan hanya terlebih dulu bekerja di atas diri Abraham, juga terlebih dulu bekerja di atas diri Ishak, supaya Ishak di depan Allah mempunyai satu pengalaman yang khusus, dan pengalaman yang khusus ini bisa tersalur ke atas diri umat Allah. Allah juga terlebih dulu bekerja di atas diri Yakub, supaya Yakub di depan Allah mempunyai pengalaman yang khusus, dan pengalaman khusus ini bisa tersalur ke atas diri umat Allah. Melalui penyaluran pengalaman dan pemberesan yang dialami oleh tiga orang ini di depan Allah, Allah baru mendapatkan umatNya. Sebab itu, semua pengalaman Abraham, Ishak dan Yakub, juga adalah pengalaman yang harus dimiliki oleh umat Allah. Apa yang didapatkan oleh ketiga orang ini di depan Allah, harus juga didapatkan oleh umat Allah. Kalau hanya mendapatkan apa yang didapatkan oleh Abraham, itu masih belum cukup menjadi umat Allah; kalau hanya mendapatkan apa yang didapatkan oleh Ishak, juga masih belum cukup mepjadi umat Allah; kalau hanya mendapatkan apa yang didapatkan oleh Yakub, tetap belum cukup menjadi umat Allah. Perlu mendapatkan apa yang didapatkan oleh Abraham, ditambah mendapatkan apa yang didapatkan oleh Ishak, ditambah mendapatkan apa yang didapatkan oleh Yakub, barulah bisa menjadi umat Allah.
"Akulah Allah ayahmu Abraham; . . . sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu" (Kejadian 26:24). Inilah firman Allah kepada Ishak. "Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu" (Kejadian 28:13). Inilah firman Allah kepada Yakub. "Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milik-Mu" (Keluaran 6:7). Inilah firman Allah kepada orang Israel. Hal ini memperlihatkan kepada kita, bahwa orang Israel masuk ke dalam warisan ketiga orang itu, yaitu Abraham, Ishak dan Yakub. Mereka sendiri tidak mempunyai warisan, mereka masuk ke dalam warisan Abraham, Ishak dan Yakub. Abraham, Ishak dan Yakub masing-masing mempunyai kedudukan yang istimewa di hadapan Allah. Pengalaman rohani mereka bertiga mewakili tiga prinsip rohani yang berbeda. Artinya, seluruh umat Allah mempunyai unsur Yakub, seluruh umat Allah mempunyai unsur Ishak, seluruh umat Allah juga mempunyai unsur Abraham. Mereka yang tidak mempunyai unsur-unsur ini, bukanlah umat Allah. Setiap umat Allah harus mempunyai unsur Abraham, harus mempunyai unsur Ishak, juga harus mempunyai unsur Yakub. Orang Israel yang sejati, seharusnya berkata, "Nenek moyang kami adalah Abraham, Ishak dan Yakub." Kalau hanya mengatakan, "Nenek moyang kami adalah Abraham", masih kurang. Karena Israel dan keturunannya juga bisa mengatakan, "Nenek moyang kami adalah Abraham." Kalau hanya mengatakan nenek moyang kita Abraham dan Ishak, juga masih kurang. Karena Esau pun juga bisa meng.atakan demikian. Umat Allah harus berkata, "Nenek moyang kami adalah Abraham, Ishak dan Yakub," Yakub harus termasuk di dalamnya, barulah kita bisa berdiri teguh. Kita harus mempunyai ketiga aspek ini, baru bisa berdiri teguh .
Lima
Nama Abraham yang sebelumnya adalah Abram. Dalam kedua sebutan ini, masing-masing ada kata "Abra". Kata "Abra" dalam bahasa aslinya berarti "bapa." Abraham sendiri adalah bapa, dan pelajaran yang dipelajari oleh Abraham ialah mengenal Allah sebagai Bapa. Dalam seumur hidupnya, Abraham belajar satu pelajaran-- mengenal Allah adalah Bapa.
Apa artinya Allah adalah Bapa? Artinya, segala sesuatu berasal dari Allah. Tuhan Yesus berkata, "BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga" (Yohanes 5:17). Dia tidak mengatakan, "Allah"-Ku bekerja sampai sekarang, tetapi mengatakan, "Bapa"-Ku bekerja sampai sekarang. Allah adalah Bapa, artinya Allah adalah Pencipta, Allah adalah satu-satunya Pemula. Anak diutus oleh Bapa. "Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak la melihat Bapa mengerjakanNya, sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak" (Yohanes 5:19). Inilah pengalaman yang harus kita miliki. Kita harus mendapat kasih karunia Allah, nampak bahwa di depan Allah kita tidak dapat memprakarsai satu perkara pun, juga tak layak memulai sesuatu. Permulaan Kejadian pasal 1 mengatakan, "Pada mulanya Allah . . ." Pada mulanya bukan kita, pada mulanya adalah Allah. Allah adalah Bapa, segala sesuatu berasal dari Allah.
O, jika pada suatu hari Allah menampakkan kepada Anda, bahwa "Allah adalah Bapa", hari itu adalah hari Anda berbahagia. Pada hari itu Anda bisa mengenal, bahwa Anda tidak bisa berbuat apa-apa, Anda tidak berdaya. Anda bukan menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu, melainkan Anda berkata, "Apakah Allah sudah memulainya?" Inilah pengalaman Abraham. Pengalamannya memperlihatkan kepada kita, bukan dia sendiri yang mau menjadi umat Allah. Abraham tidak ada permulaan, Allah yang memulainya, Allah yang membawa dia ke sini dari seberang sungai Efrat. Allah mengingini dia, sebab itu Allah memanggil Abraham keluar. Abraham sendiri tidak pernah memikirkan hal itu. Haleluya! Allah yang berkehendak, Allah yang mengerjakan.
Allah adalah Bapa. Bukan Abraham sendiri yang berkata, "Aku mau pergi ke tanah yang mengalirkan susu dan madu", tetapi Allah yang berbicara, baru kemudian ia mendapatkan. Pada mulanya ia sendiri tidak tahu apa-apa. Ketika ia dipanggil, ia belum tahu harus pergi ke mana (Ibrani 11:8). la meninggalkan kampung halamannya, tapi belum tahu akan pergi ke mana. Demikianlah Abraham. Semuanya Allah yang memulai, sama sekali tidak ada hubungan dengan dia. Kalau kita sungguh-sungguh mengenal Allah adalah Bapa, kita tidak akan memegahkan diri. Kita pun tidak bisa berkata, "Aku akan melakukan ini, atau melakukan itu." Kita hanya dapat berkata, "Kalau Tuhan kehendaki, aku baru melakukan. Tuhan berkata bagaimana, aku menetapkan begitu juga." Ini bukan berarti menjadikan Anda seperti orang yang tak berpendirian, melainkan berarti Anda sendiri sungguh-sungguh tidak tahu, hanya setelah Bapa memberi petunjuk, Anda baru tahu.
Bukan hanya demikian, sampai-sampai Abraham mau melahirkan seorang anak pun ia tidak tahu. Anak juga diberikan oleh Allah. Abraham tidak bisa memulai sesuatu, ia mendapatkan anak sulung juga karena diberi oleh Allah, inilah Abraham.
Abraham mengenal Allah adalah Bapa. Pengenalan ini bukan pengenalan doktrin, pengenalan ini adalah pengenalan yang benar-benar dibawa oleh Allah sampai suatu taraf, sehingga ia berkata, "Ya Allah, aku bukan sumbemya. Engkaulah sumber segala sesuatu, juga sumberku; tidak ada Engkau, tidak ada permulaan." Inilah Abraham. Kalau kita tidak mempunyai pengenalan Abraham yang semacam ini, kita tidak bisa menjadi anak-anak Allah. Kita harus nampak satu perkara, yaitu kita sendiri tidak bisa berbuat apaapa, segalanya tergantung kepada Allah. Dialah Bapa, Dialah permulaan segala sesuatu.
Enam
Pelajaran apakah yang kita peroleh dari diri Ishak? Galatia pasal 4 mengatakan, Ishak adalah anak. Ishak memperlihatkan kepada kita, segalanya ia terima dari Bapa. Dari Kejadian pasal 11 sampai pasal 50, dalam kisah Abraham, Ishak dan Yakub, kita bisa melihat, Ishak adalah orang yang biasa, tidak ada keistimewaannya. Ia tidak seperti Abraham, juga tidak seperti Yakub. Abraham dari seberang sungai besar keluar, ia adalah satu orang yang memulai satu usaha besar. Tetapi Ishak tidak, Ishak juga tidak seperti Yakub, yang mengalami banyak kesulitan, menderita banyak sengsara. Seumur hidup Ishak adalah menikmati apa yangditurunkan bapanya kepadanya. Memang Ishak juga menggali beberapa sumur, tetapi beberapa sumur itu dulunya telah digali oleh ayahnya. "Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin, sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya" (Kejadian 26:18). Pelajaran yang diberikan Ishak kepada kita adalah: kalau kita tidak menerima dari Bapa, kita tidak akan memiliki apa-apa. Paulus mengajukan satu pertanyaan kepada kita, "Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?" (1 Korintus 4:7). Artinya, kita tidak mempunyai satu barang pun yang tidak kita terima. Semua yang kita miliki adalah pemberian Bapa, inilah Ishak.
O, banyak orang tidak bisa menjadi Abraham, karena mereka tidak bisa menjadi Ishak. Banyak orang tidak bisa menjadi Abraham dengan baik, karena ia tidak pernah menjadi Ishak dengan baik. Kalau hanya mempunyai pengalaman Abraham, tidak mempunyai pengalaman Ishak, itu kurang. Kalau hanya mempunyai pengalaman Ishak, tidak mempunyai pengalaman Abraham, juga tidak cukup. Kita harus nampak, bahwa Allah adalah Bapa, semuanya berasal dari Dia; Kita juga harus nampak, bahwa kita adalah anak, semuanya adalah pemberianNya. Kehidupan kita sebagai anak berasal dari Dia. Di depan Allah kita hanyalah sebagai orang yang menerima. Keselamatan kita, kemenangan kita, kita terima dari Allah. Pembenaran kita, pengudusan kita, juga kita terima dari Dia. Penebusan dosa, mendapatkan kelepasan, semuanya kita terima! Prinsip menerima adalah prinsip Ishak. Kita akan berkata, "Haleluya!, karena semuanya adalah pemberian Allah kepada kita." Melalui firman Allah kita nampak satu perkara, yaitu apa yang Allah janjikan kepada Abraham, juga diberikan kepada Ishak. Allah tidak memberi Ishak secara khusus, melainkan memberikan apa yang Ia berikan kepada bapanya. lnilah penyelamatan kita. lnilah kelepasan kita.
Tujuh
Sekarang kita akan melihat Yakub. Banyak orang Kristen nampak Allah adalah sumber segala sesuatu, juga nampak yang kita miliki adalah menerima. Tetapi di sini timbul satu masalah, yaitu mengapa banyak orang Kristen yang tidak menerima. Kita tahu, semua yang kita miliki berasal dari menerima. Kalau tidak menerima, kita akan menjadi kosong, tidak memiliki apa-apa. Tetapi mengapa kita tidak mau menerima, malah ingin bertindak sendiri? Mengapa tidak mendapatkan kemenangan melalui hukum hidup (hayat), malahan ingin menang melalui tekad? Di sini ada satu sebab, yaitu masih ada Yakub, masih ada prinsip Yakub -- aktivitas daging masih ada di sana, kekuatan jiwa masih ada di sana, kehidupan alamiah masih ada di sana. Mengapa secara doktrin kita tahu Allah adalah permulaan segala sesuatu, tetapi pada praktiknya kita sendiri yang memulainya? Kita mengingat doktrin itu hanya dua minggu lamanya, sampai minggu ketiga, semuanya terlupakan, dan lagi-lagi kita sendiri yang memulainya. Mengapa kita bisa demikian? Karena masih ada Yakub. Segala doktrin kemenangan, segala doktrin kekudusan, kalau hanya diberitakan kepada kita bahwa semuanya itu berasal dari Allah, semuanya itu hanya menerima, tetapi tidak diberitakan supaya menanggulangi kehidupan (hayat) alamiah, maka doktrin-doktrin itu belum sempuma, belum riil. Kalau teori itu belum menjamah kehidupan (hayat) jiwa, itu hanya akan membuat orang bersukacita beberapa hari, kemudian tidak berguna lagi. Kita harus nampak, bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu, dan kita adalah orang-orang yang menerima, bersamaan dengan itu, kita harus nampak, kehidupan alamiah kita tidak boleh beraktivitas, kemudian baru bisa nampak faedah dari Putra, dan baru bisa taat kepada jalan Bapa. Bisakah kita menerima janji Putra? Bisakah kita menempuh jalan Bapa? ltu tergantung pada apakah kita sudah menerima penanggulangan Roh Kudus, apakah kehidupan alamiah kita sudah dijamah olehNya. Hal ini akan kita lihat pada diri Yakub.
Ciri-ciri alamiah Yakub adalah kepintarannya. Dia adalah orang yang sangat pintar. Siapa saja bisa ditipunya. la menipu kakaknya, menipu ayahnya, menipu pamannya. Apapun dapat dipikirkannya, apapun dapat dilakukannya, apapun dapat dicapainya. la tidak seperti ayahnya, yang dengan baik-baik menjadi anak. la dengan tangan kosong pergi ke rumah pamannya, tetapi dengan tangan penuh ia pulang. ltulah Yakub.
Pelajaran apakah yang diberikan Yakub kepada kita? Abraham berkata kepada kita tentang Bapa. Ishak berkata kepada kita tentang Putra. Tetapi Yakub berkata kepada kita tentang Roh Kudus. Bukan manusia Yakub, yang mewakili Roh Kudus, melainkan pengalaman Yakub yang mewakili pekerjaan Roh Kudus. Pengalaman seumur hidup Yakub, semuanya mewakili penanggulangan Roh Kudus. Di sini Anda melihat ada satu orang yang licik, yang penuh tipu muslihat, yang bisa menipu orang; tetapi Anda juga melihat orang ini ditanggulangi oleh Roh Kudus setahap demi setahap. Dia memegang tumit kaki kakaknya, tetapi dia tetap sebagai adik. Dengan semangkok sup kacang merah dia menipu kakaknya, tetapi akhirnya dialah yang meninggalkan keluarganya, bukan kakaknya. Hak kesulungan telah dia dapatkan, tetapi dialah yang melarikan diri, bukan kakaknya. Dia mendapatkan berkat dari ayahnya, tetapi dialah yang berkelana di luar, bukan kakaknya. Dia berkelana sampai ke rumah pamannya. Ia ingin menikahi Rahel, tetapi Laban terlebih dulu memberikan Lea, kakaknya, bukan Rahel. Selama dua puluh tahun dia di bawah terik matahari waktu siang, dan kedinginan waktu malam. Yakub benar-benar berlelah dan sengsara. Semuanya itu adalah penanggulangan Roh Kudus; semuanya itu adalah pengolahan yang diterima oleh orang yang pintar. Orang yang bisa menghitung, ditekan oleh tangan Tuhan; orang yang mempunyai cara, ditekan oleh tangan Tuhan. Kehidupan alamiah harus ditekan oleh Allah. Pengalaman seumur hidup Yakub memperlihatkan kepada kita penanggulangan Roh Kudus.
Ada saudara saudari yang mungkin sangat pintar, bisa berpikir, bisa berencana, bisa membuat satu usulan dan rancangan. Tetapi ingatlah, perbuatan kita, penempuhan hidup kita, bukan bersandar kepintaran manusia, melainkan bersandar kasih karunia Allah (I Korintus 1:12). Yakub terus-menerus ditanggulangi oleh Roh Kudus, didisiplinkan oleh Roh Kudus, sehingga kepintarannya tidak bisa sukses. Pada malam hari di Pniel, Yakub telah belajar satu pelajaran yang paling besar. Satu malam yang paling baik dalam seumur hidupnya! Dia mengira, menghadapi siapa saja ada caranya, bahkan menghadapi Allah pun ada caranya. Perkara apa saja mudah ia lewati, bertemu dengan Allah pun bisa luput. Siapa tahu, ketika bertemu dengan Allah, Allah menjamah pangkal pahanya, ia segera timpang. Otot pangkal paha adalah otot yang paling besar dalam tubuh manusia. Otot pangkal paha Yakub dijamah oleh Allah, berarti tempat kekuatan kehidupan alamiahnya yang paling besar dijamah oleh Allah. Sejak hari itu ia timpang. Sebelum timpang, ia adalah Yakub, setelah timpang mulailah ia menjadi Israel. Sejak hari itu, ia tidak menipu orang, tetapi dia ditipu oleh orang. Dulu ia menipu ayahnya, sejak hari itu, anaknya yang menipu dia. Kalau itu terjadi sebelum ia timpang, Yakub yang pintar pasti tidak percaya kata-kata bohong anaknya. Karena Yakub ini tadinya adalah orang yang pandai berbohong, tidak bisa percaya kepada orang. Semakin menipu, ia semakin tidak percaya kepada orang. la selalu menduga orang lain dengan hatinya, tetapi sekarang berbeda. Yakub yang sekarang bukan Yakub yang dulu lagi. Ia tidak bersandar kepintarannya lagi. Sebab itu, ia bisa ditipu oleh anaknya. la telah banyak mengalirkan air mata, kekuatan alamiahnya telah dibereskan oleh Allah, kekuatan alamiahnya disingkirkan oleh Allah. Pengalaman inilah yang bisa membimbing kita menjadi umat Allah. Pada suatu hari, Allah akan menerangi Anda, sehingga Anda nampak bahwa diri Anda begitu bejat, sangat licik, banyak tipu muslihat. Ketika Allah memperlihatkan hal itu kepada Anda, kepala Anda tidak bisa mendongak lagi. Terang Allah akan membunuh Anda, sehingga Anda tidak bisa tidak mengakui, "Aku sudah habis, aku tidak berani, aku tidak layak melayani Allah." Sejak saat itu, di depan Allah, Anda tidak berani bersandar diri sendiri lagi. Inilah yang disebut penanggulangan (pendisiplinan) Roh Kudus.
Delapan
Ringkasnya, Abraham memperlihatkan kepada kita, segalanya berasal dari Allah; kita tidak bisa bersandar diri sendiri melakukan sesuatu. Ishak memperlihatkan kepada kita, bahwa segala sesuatu adalah pemberian Bapa; kita harus menerimanya. Tetapi, meskipun kita telah menerima, kalau tidak ada pengendalian Roh Kudus, masih bisa timbul penyakit. Inilah yang diperlihatkan Yakub kepada kita. Pada suatu hari Tuhan akan menjamah kita, akan menjamah otot pangkal paha kita, akan membereskan kehidupan alamiah kita. Kemudian kita baru menjadi orang yang rendah hati, takut dan gentar dalam mengikuti Tuhan. Pada hari, itu kita tidak berani sembrono, tidak berani seenaknya sendiri mengeluarkan opini. Oh, kita begitu mudah mengeluarkan opini, begitu mudah berbicara dan bergerak tanpa berdoa, begitu mudah merasa yakin sebelum menanti di depan Allah. Allah akan menjamah kehidupan alamiah kita dengan hebat, Allah akan mematahkan kehidupan alamiah kita, sehingga kita nampak, bahwa berdasarkan diri sendiri, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak saat itu, barulah kita menjadi orang yang timpang. Timpang bukan berarti tidak bisa berjalan, melainkan setiap langkah memberitahu kita, bahwa diri kita tidak bisa berbuat apa-apa. Semua orang yang mengenal Allah mempunyai ciri-ciri ini. Orang yang belum dibawa ke tahap ini adalah orang yang belum mempunyai pengalaman Pniel. la masih ingin memakai caranya sendiri, merasa dirinya dapat diandalkan, merasa dirinya ada kekuatan; ia adalah orang yang belum dibereskan oleh Roh Kudus.
Semoga Allah membuka mata kita, supaya kita nampak hubungan ketiga pengalaman ini. Ketiga pengalaman ini masing-masing merupakan satu pengalaman yang khusus. Tetapi ketiganya saling melengkapi. Bila Anda hanya mempunyai salah satu di antaranya, atau dua dari antaranya, Anda tidak bisa bertahan. Ketiga pengalaman ini harus kita lihat dengan jelas. Kemudian baru kita bisa maju di jalan Allah.