BAB 10
Terkilirnya Kehidupan Alamiah Yakub
Pembacaan Alkitab: Kejadian pasal 31-35
lstilah "Yakub" dalam bahasa Ibrani memiliki beberapa arti. Pertama, berarti "memegang". Kedua, berarti "pendesak yang licik". Di depan telah kita katakan, karena banyak tipu muslihat, Yakub mendapat banyak penanggulangan dari Allah. Allah tidak membiarkan dia bebas, Allah membiarkan dia meninggalkan rumahnya. Dua puluh tahun lamanya Allah membiarkan Yakub di Padan Aram ditipu oleh pamannya, sepuluh kali upahnya diubah; hari-hari seperti itu sungguh tidak enak. Sebab itu pengalaman Yakub mutlak berbeda dengan pengalaman Ishak. Ciri-ciri dari Ishak adalah menerima; kita menerima kelimpahan dari Allah, ini cepat dan mudah. Kalau orang Kristen ingin memasuki kekayaan Kristus, nampak fakta Kristus adalah miliknya, nampak Kristus adalah kehidupannya, itu cepat sekali, begitu melihat, langsung bisa memasuki dan masalah apa saja akan beres. Tetapi pengalaman Yakub tidak demikian, pengalamannya adalah seumur hidup. Kehidupan alamiah adalah seumur hidup. Seberapa lama kita hidup di bumi, nafsu daging kita, aktivitas daging kita, mengikuti kita selama itu. Untuk membereskannya, Allah memerlukan waktu yang panjang, dan Ia akan membereskannya setahap demi setahap. Kita bersyukur kepada Allah, karena pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang tidak bisa dirampungkan. Pada suatu hari, Allah pasti merampungkannya. Pada suatu hari, Allah menjamah pangkal kekuatan alamiah diri Yakub, membuat Yakub menjadi lemah. Sekarang marl kita melihat potongan ketiga sejarah Yakub, yaitu bagaimana kehidupan alamiahnya dibereskan oleh Allah hingga terkilir.
YAKUB MULAI MAJU
Di rumah Laban, Allah menggunakan waktu bertahun-tahun, terus-menerus membereskan Yakub, menanggulangi dia, menekan dia. Tetapi Yakub masih tetap Yakub. Tidak peduli betapa tajam cara Laban, Yakub selalu masih mendapat untung. Meskipun dia kenyang dengan tipu muslihat, tetapi dia masih ada akal, bahkan kawanan domba pun ditipu olehnya. Dua puluh tahun kemudian, sampailah waktunya, dia sudah melahirkan sebelas anak, saat ini Allah berbicara kepada Yakub. Sejak di Betel kali itu, dua puluh tahun berselang, baru kali ini Allah berbicara lagi kepadanya.
Allah Melepaskan Yakub Kembali ke Kanaan
Kejadian 31:3, "Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yakub: Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau." Ayat 13, "Akulah Allah yang di Betel itu, di mana engkau mengurapi tugu, dan di mana engkau bemazar kepadaKu; maka sekarang, bersiaplah engkau, pergilah dari negeri ini dan pulanglah ke negeri sanak saudaramu." Di sini Allah memanggil Yakub, menyuruhnya pulang ke negerinya. Lalu Yakub bersiap-siap kembali ke tempat nenek moyangnya. Tentu saja saat itu Laban tidak membiarkan Yakub pergi. Meskipun Laban dirugikan oleh Yakub, tetapi bagaimanapun Allah karena Yakub memberkati Laban; bagaimanapun basil Yakub melayani Laban adalah lebih baik daripada Laban sendiri menggembala domba. Sebab itu, Laban tidak mau membiarkan Yakub pergi. Setelah Yakub mengutarakan maksud hatinya kepada Rahel dan Lea, juga telah mendapat persetujuan mereka, Yakub membawa isteri, anaknya laki-laki dan perempuan, serta segala ternak dan harta yang ia dapat di Padan Aram, dengan diam-diam, di luar pengetahuan Laban, ia pergi.
Pada hari yang ketiga, Laban baru mengetahui, lalu mengejamya. Pada malam sebelum Laban sampai ke Yakub, dalam mimpi Allah berkata kepada Laban, "Jagalah baik-baik supaya engkau jangan mengatai Yakub dengan sepatah katapun" (Kejadian 31:24). Allah tidak mengijinkan Laban berkata apa-apa, karena Allah akan memimpin Yakub pulang, Allah menghendaki Yakub meninggalkan tempat pengujian. Saatnya sudah sampai, Allah akan membebaskan dia. Semua ujian pasti ada batas waktunya. Setelah batas waktu itu genap, Allah akan membebaskan, sampai-sampai Laban pun tidak bisa menahannya. Laban mendengarkan perkataan Allah, ketika dia mendapati Yakub, ia tidak berani berkata apa-apa. Hasilnya, Laban membuat perjanjian dengan Yakub. Perjanjian ini sangat bermakna. "Selanjutnya kata Laban kepada Yakub: Inilah timbunan batu, dan inilah tugu yang kudirikan antara aku dan engkau --timbunan batu dan tugu inilah yang menjadi kesaksian, bahwa aku tidak akan melewati timbunan batu ini mendapatkan engkau, dan engkau pun tidak akan melewati timbunan batu dan tugu ini mendapatkan aku, dengan bemiat jahat. Allah Abraham dan Allah Nahor, Allah ayah mereka, kiranya menjadi hakim antara kita . . ." (ayat 51-53). Laban adalah cucu Nahor. Nahor adalah saudara Abaraham. Sebab itu Laban berkata, "Allah Abraham dan Allah Nahor . . ." Tetapi ini tidak diakui oleh Allah. "Lalu Yakub bersumpah demi yang disegani oleh Ishak, ayahnya" (ayat 53b). Laban bisa dengan sopan berkata, "Allah Abraham dan Allah Nahor," tetapi Yakub tidak bisa berkata demikian, Yakub hanya bersumpah demi Allah Ishak. Ini membuktikan, garis janji Allah dimulai dari pemilihan. Allah memilih ayah Yakub dan kakek Yakub; Ishak dan Abraham. Ini adalah perbuatan Allah sendiri, orang lain tidak bisa mencampuri. Nahor tidak bisa disisipkan di antaranya.
Fakta selanjutnya lebih berharga, yaitu Yakub mempersembahkan "korban sembelihan di gunung itu" (ayat 54). Laban tidak mempersembahkan korban sembelihan, hanya Yakub yang mempersembahkan korban sembelihan. Yakub telah mendengar suara Allah, lalu mulai mendekati Allah, dia sudah maju. Dahulu ia pergi ke Padan Aram karena disuruh orang tuanya, bukan karena mendengar suara Allah. Kemudian di Betel ia bertemu dengan Allah, tetapi ia tidak melakukan apa-apa terhadap Allah, ia hanya mengucapkan satu nazar kepada Allah. Kini Allah menyuruh dia pulang, dia mendengar firman Allah, lalu berkemas-kemas dan pulang. Hubungan Yakub dengan Allah mulai maju. Boleh dikatakan ini adalah kali pertama Yakub mendengarkan firman Tuhan, adalah kali pertama Yakub taat kepada Tuhan, juga kali pertama Yakub mempersembahkan korban kepada Allah. Meskipun Allah selama dua puluh tahun menanggulangi dia, tetapi Yakub belum juga berubah menjadi orang yang lain. Tetapi kini Yakub telah menyatakan hatinya mau Allah; dia sudah mulai maju. Semula Yakub memegang tumit kakaknya, sangat menginginkan hak kesulungan, sangat ingin berkat, tetapi semua itu bukan berarti dia mau Allah, dia hanya ingin mendapatkan kebaikan, mendapatkan faedah dari Allah. Dengan kata lain, dia mau karunia Allah, tetapi tidak mau Sang Pemberi karunia. Dia mau barang-barang dari Allah, tetapi tidak mau Allah sendiri. Sekarang, setelah lewat penanggulangan dua puluh tahun, dia mulai memiliki sedikit kecenderungan kepada Allah, memiliki sedikit perubahan. Sebab itu ketika dia telah mengadakan perjanjian dengan Laban, Laban tidak mempersembahkan korban, tetapi dia mempersembahkan korban kepada Allah.
Setelah Yakub mempersembahkan korban sembelihan, keesokan harinya, ia berpisah dengan Laban. Sekarang ia akan kembali ke tanah Kanaan
Melewati Mahanaim
Kejadian 32:1-2 mengatakan, "Yakub melanjutkan perjalanannya, lalu bertemulah malaikat-malaikat Allah dengan dia. Ketika Yakub melihat mereka, berkatalah ia: Ini bala tentara Allah. Sebab itu dinamainyalah tempat itu Mahanaim. "Mahanaim" dalam bahasa Ibrani berarti "dua batalyon tentara." Kata-kata ini sangat berharga. Allah membuka mata Yakub, memperlihatkan kepadanya, karena dia taat kepada Allah dan meninggalkan Padan Aram, pulang ke rumahnya, maka Allah menolong dia terlepas dari tangan Laban, selanjutnya masih akan menolong dia terlepas dari tangan orang lain. Allah membuka matanya, memperlihatkan kepadanya, orang-orang yang ia miliki di sini adalah satu batalyon, tentara Allah juga satu batalyon, sebab itu disebut "dua batalyon." Allah membuka mata Yakub, memperlihatkan kepadanya, malaikat-malaikat Allah berjalan besertanya. Pertama-tama Allah sendiri mencari dia, berkata kepadanya, "Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau" (Kejadian 31:3). Ketika dia di jalan, Laban membawa sekelompok orang mengejarnya, tetapi Allah melindunginya. Fakta ini membuktikan, bahwa Allah beserta dengan dia. Setelah Laban pergi, Allah memperlihatkan visi ini kepadanya, supaya dia nampak, tidak saja di bumi ada satu batalyon, masih ada satu batalyon tentara sorga mengikuti dia. Kesemuanya ini membuat dia mau tidak mau belajar percaya kepada Allah.
Sambil Merencanakan, Sambil Berdoa
Tetapi, dalam lingkungan ini Yakub tetap Yakub. Daging tetap daging, daging selamanya tidak bisa digerakkan dan diubah oleh kasih karunia Allah. Meskipun Yakub telah melihat visi ini, tetapi sangat kasihan, dia masih memakai caranya sendiri. Kita melihat ayat 3-5, "Sesudah itu Yakub menyuruh utusannya berjalan lebih dulu mendapatkan Esau, kakaknya, ke tanah Seir, daerah Edom. la memerintahkan kepada mereka: Beginilah kamu katakan kepada tuanku, kepada Esau: Beginilah kata hambamu Yakub: Aku telah tinggal pada Laban sebagai orang asing dan diam di situ selama ini. Aku telah mempunyai lembu sapi, keledai dan kambing domba, budak laki-laki dan perempuan, dan aku menyuruh memberitahukan hal ini kepada tuanku, supaya aku mendapat kasihmu." Setelah kita membaca sepotongan ayat ini, kita bisa melihat, bahwa Yakub ini dapat memakai segala macam cara, sampai-sampai kata yang rendah pun bisa diucapkan. Asal membuat dirinya tidak rugi, apapun bisa ia lakukan. Dia mengira perkataannya bisa mengubah hati kakaknya. Dia telah lupa panggilan Allah, dia lupa pemeliharaan dan perlindungan Allah, dia lupa malaikat Allah.
Ayat 6, "Kemudian pulanglah para utusan itu kepada Yakub dan berkata: Kami telah sampai kepada kakakmu, kepada Esau, dan ia pun sedang di jalan menemui engkau, diiringi oleh empat ratus orang." Yakub kembali menjadi bingung dan kacau, dia berpikir, hal itu bermaksud baik atau bermaksud jahat? Esau datang diiringi empat ratus orang, untuk apakah itu? Ayat 7 mengatakan, "Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati." Di sini terlihatlah, bahwa orang yang makin pandai berencana, pandai bersiasat, maka kekuatirannya makin banyak, kegelisahannya makin banyak, ketakutannya makin banyak. Yakub hanya bisa berpikir, tidak bisa bersandar; hanya bisa berencana, tidak bisa percaya. Sepanjang hari itu dia tempuh dalam ketakutan dan kegelisahan. Inilah Yakub. Orang yang dagingnya belum ditanggulangi, hanya bisa bersandar kepada perhitungan dan rencananya sendiri, tidak bisa bersandar kepada Allah, tidak bisa percaya kepada Allah. Itulah sebabnya Yakub penuh ketakutan dan kegelisahan.
Perhitungan dan rencana Yakub tidak pernah habis, dia masih terus berupaya. Dia tahu bahwa Allah menghendaki dia kembali, tidaklah mungkin kalau dia tetap tinggal di Mesopotamia; bagaimanapun dia harus kembali. Dia bisa taat kepada Allah, namun tidak bisa bersandar dan percaya kepada Allah. Dia tidak bisa membiarkan Allah memikul tanggung jawab atas ketaatannya. Dia berpikir, bagaimana kalau dia sampai celaka karena menaati Allah? Banyak orang Kristen juga demikian; benar-benar mau taat kepada Allah, tetapi masih mempersiapkan pintu belakang. Yakub sungguh pandai berupaya, dan akhirnya dia menemukan suatu cara: "Maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapinya dan untanya menjadi dua pasukan" (ayat 7). Kata "dua pasukan" di sini adalah satu kata dengan "Mahanaim" yang di depan. Yakub membagi orang-orangnya dan ternaknya menjadi "mahanaim," dia memakai "mahanaim" ini untuk menggantikan "mahanaim"yang sebelumnya. Tadinya di bumi dia memiliki satu pasukan, di sorga Allah juga memiliki satu pasukan. Sekarang dia membagi satu pasukan yang di bumi menjadi dua pasukan. Dia berpikir, "Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah, maka pasukan yang tinggal akan terluput" (ayat 8). Hasil dari cara berpikir Yakub adalah bersiap-siap untuk melarikan diri.
Tetapi dia masih sedikit mengenal Allah; dulu Allah mencari dia, sekarang dia mencari Allah. "Kemudian berkatalah Yakub: Ya Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak, ya TUHAN, yang telah berfirman kepadaku: Pulanglah ke negerimu serta kepada sanak saudaramu dan Aku akan berbuat baik kepadamu -- sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hambaMu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan. Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya. Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung" (ayat 9-12). Inilah doa Yakub. Tentunya kita tidak bisa mengatakan, bahwa doa Yakub ini sangat tinggi, tetapi kita tidak bisa tidak mengakui, bahwa ini sudah lebih baik daripada dulu. Dulu dia hanya berencana, tidak berdoa; sekarang dia berencana, juga berdoa. Di sini Yakub sambil berencana sambil berdoa, sambil aktif sendiri sambil menengadah kepada Allah. Apakah keadaan yang demikian hanya dimiliki Yakub seorang diri? Bukankah keadaan banyak orang Kristen juga demikian? Bagaimanapun Yakub lebih maju daripada dulu. Di sini perkataan doa Yakub dan kedudukannya semuanya benar. Ia menyebut Tuhan sebagai "Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak", dia juga tahu Allah menyuruh dia kembali ke negerinya serta kepada sanak saudaranya, Allah akan berbuat baik kepadanya. Di samping itu dia juga dengan jelas memberitahu Allah, bahwa dia takut kakaknya datang membunuh dia, inilah kejujurannya. Dia berkata kepada Allah, "Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan . . . menjadikan keturunanmu seperti pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung". la ingat janji Allah, di sini dia mengingatkan Allah.
Tetapi di satu pihak, dia juga belum bisa percaya Allah, dia kuatir kalau-kalau janji Allah kosong, lalu. Menyuruh dia tidak bersandar kepada Allah tidak mungkin, karena Allah sudah bicara kepadanya; menyuruh dia sepenuhnya bersandar kepada Allah, dia juga merasa takut, merasa itu terlalu menyerempet bahaya. Dia mengharapkan bersandar Allah juga tidak menyerempet bahaya, sebab itu, terpaksa dia memikirkan banyak cara, "Lalu bermalamlah ia di sana pada malam itu. Kemudian diambilnyalah dari apa yang ada padanya suatu persembahan untuk Esau, kakaknya, yaitu dua ratus kambing betina dan dua puluh kambing jantan, dua ratus domba betina dan dua puluh domba jantan, tiga puluh unta yang sedang menyusui beserta anak-anaknya, empat puluh lembu betina dan sepuluh lembu jantan, dua puluh keledai betina dan sepuluh keledai jantan. Diserahkannyalah semuanya itu kepada budak-budaknya untuk dijaga, tiap-tiap kumpulan tersendiri, clan ia berkata kepada mereka: "Berjalanlah kamu lebih dahulu, dan jagalah supaya ada jarak antara kumpulan Yang satu dengan kumpulan yang lain. Diperintahkannyalah kepada yang paling di muka: "Apabila Esau, kakakku, bertemu dengan engkau dan bertanya kepadamu: Siapakah tuanmu? dan kemanakah engkau pergi? dan milik siapakah ternak yang di depanmu itu? -- jawablah: milik hambamu Yakub; inilah persembahan yang dikirim kepada tuanku Esau, dan Yakub sendiripun ada di belakang kami. begitulah diperintahkannya baik kepada yang kedua maupun kepada yang ketiga dan kepada sekalian orang yang berjalan menggiring kumpulan hewan itu, katanya: "Seperti perkataanku tadilah kamu katakan kepada Esau, apabila kamu berjumpa dengan dia; dan kamu harus mengatakan juga: Hambamu Yakub sendiri ada di belakang kami. Sebab pikir Yakub: Baiklah aku mendamaikan hatinya dengan persembahan yang diantarkan lebih dahulu, kemudian barulah aku akan melihat mukanya; mungkin ia akan menerima aku dengan baik. Jadi persembahan itu diantarkan lebih dahulu, tetapi ia sendiri bermalam pada malam itu di tempat perkemahannya" (ayat 13-21). Oh, inilah karya Yakub! Sekarang Yakub menghadapi satu bahaya yang belum pernah ia hadapi dalam seumur hidupnya, benar-benar satu bahaya yang menyangkut nyawanya. Seumur hidupnya, Yakub menjumpai banyak urusan, tetapi tidak pernah menjumpai jalan buntu seperti sekarang ini. Dia mengetahui temperamen kakaknya, dia mengetahui kakaknya adalah pemburu, tidak membelaskasihani binatang, mungkin juga tidak membelaskasihani manusia. Inilah saat paling bahaya bagi Yakub. Sebelumnya Yakub tidak pernah berdoa demikian, juga belum pernah menempuh satu hari yang demikian takut, begitu gelisah. Di Betel, kali itu, Allah yang mencari dia; sekarang, dia berseru kepada Allah. Kalau mengatakan dia tidak takut kepada Allah, dia telah berdoa kepada Allah; kalau mengatakan dia bersandar Allah, dia tetap memikirkan banyak siasat, banyak cara! Terhadap janji Allah seolah dia lupa, tetapi juga ingat, dikatakan ingat tetapi sepertinya lupa. Allah pernah menolong dia terlepas dari tangan Laban, Allah juga pernah memperlihatkan kepadanya sepasukan malaikat Allah berjalan besertanya, tetapi dia sekarang masih takut, masih sedih, masih terus berencana, masih terus mencari akal. Selama dua puluh tahun Allah menekan Yakub di bawah Laban supaya dia menerima penanggulangan, tetapi setelah dua puluh tahun, Yakub tetap Yakub. Kecakapan Yakub masih begitu besar, peta lidah Yakub masih begitu baik, cara Yakub masih begitu banyak. Di sini dia telah mengeluarkan semua cara yang terbaik.
Pada malam itu, Yakub terlebih dulu membawa istrinya, anaknya dan hamba perempuannya menyeberangi sungai, juga menyeberangkan segala miliknya, lalu tinggallah dia seorang diri.
PENGALAMAN PNIEL
Pada malam itu Allah menjumpai dia, "Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu" (ayat 24-25). Tempat ini disebut Pniel. Tempat ini adalah tempat Yakub paling kuat menggunakan kehidupan alamiahnya, juga adalah tempat kehidupan daging Yakub dibereskan.
Allah Bergulat dengan Yakub
Di tempat ini bukan Yakub yang berbuat sesuatu, bukan Yakub yang berdoa, juga bukan Yakub yang bergulat dengan Allah, melainkan Allah datang bergulat dengan Yakub, Allah datang menekan Yakub.
Apa yang disebut bergulat? Bergulat adalah berusaha menekan seseorang di bawahnya. Allah datang bergulat dengan Yakub, berarti Allah akan membuat Yakub taat di bawahNya, membuat Yakub tidak ada kekuatan, membuat Yakub tidak bisa bergerak, membuat Yakub tidak dapat berontak lagi. Bergulat berarti membuat Anda lemah, membuat Anda jatuh, membuat Anda tidak dapat bergerak. Bergulat berarti menjatuhkan Anda kemudian dengan satu kekuatan menekan diri Anda. Alkitab memberitahu kita, Allah datang bergulat dengan Yakub, tetapi Allah tidak bisa mengalahkannya. Kekuatan Yakub benar-benar adalah kekuatan yang sangat besar!
Apa artinya Allah tidak bisa mengalahkan dia? Ketika kita tidak bersandar Allah, ketika kita merencanakan sendiri, ketika kita merasa puas, kita harus mengakui, Allah tidak bisa mengalahkan kita. Ketika kita dengan kekuatan sendiri melaksanakan kehendak Allah, dengan berbagai cara yang berasal dari alamiah menolong diri sendiri, kita harus mengakui, Allah tidak bisa mengalahkan kita. Banyak saudara saudari yang telah percaya Tuhan bertahun-tahun masih harus mengakui, bahwa Allah tidak bisa mengalahkan mereka, mereka masih bagitu pandai, mereka masih begitu kuat, masih begitu cakap, masih begitu banyak akal, Allah belum bisa mengalahkan mereka. Mereka tidak pernah dibanting oleh Allah, mereka belum pernah dikalahkan oleh Allah. Kalau sudah dikalahkan oleh Allah, mereka pasti dapat berkata, "Aku tidak mampu lagi! Ya Allah, aku tunduk!" Sayang, banyak saudara saudari, di hadapan Allah terus menerima penanggulangan, sekali ditanggulangi Allah, dua kali ditanggulangi Allah, tiga kali ditanggulangi Allah, akhirnya masih juga belum dikalahkan oleh Allah. Mereka masih menganggap, bahwa rencana yang lalu masih kurang baik, sebab itu kali ini akan berencana lebih rapi, dan yang ketiga akan lebih rinci lagi. Orang yang demikian belum pernah dikalahkan oleh Allah.
Yakub bukan kalah perang. Dia tahu, bahwa dirinya sudah sampai pada keadaan yang sangat kritis, tetapi dia masih mempunyai banyak cara. Dalam pikirannya, "Aku mengenal siapa Esau. Mal aku berbuat demikian, berkata demikian, sembilan puluh sembilah persen pasti sukses." Meskipun hatinya sangat takut, tetapi dia masih mempunyai cara.
Ada orang berkali-kali ditanggulangi oleh Allah, tetapi karena kehidupan alamiahnya belum dibereskan Allah sampai ke akar-akarnya, dia malah mengambil penanggulangan Allah ini sebagai kemegahan alamiahnya; mengira dirinya yang sering ditanggulangi oleh Allah, berarti ia mempunyai sejarah rohani. Kalau dia belum pernah dibereskan oleh Allah, di depan Allah dia tidak ada perkataan yang bisa dikatakan; selain kesombongan duniawi, dia tidak bisa mempunyai kesombongan rohani. Tetapi setelah dia memiliki sedikit persekutuan dengan Allah, menerima sedikit penanggulangan, dia bisa mengambil penanggulangan yang kecil-kecil itu sebagai hiasan dagingnya, sebagai modal untuk kesombongan rohani, mengira dirinya adalah orang yang mengenal Allah.
Saudara saudari, mungkin Anda dengan Allah sudah bergumul selama lima tahun atau sepuluh tahun, tetapi Allah belum mengalahkan Anda. Anda belum pernah sekali dibawa oleh Allah sampai berkata, "Aku sudah habis. Aku tidak bisa berdiri lagi. Aku sudah tidak ada akal lagi." Allah belum bisa mengalahkan Anda.
Allah Menjamah Sendi Pangkal Paha Yakub
Syukur kepada Allah, Allah mempunyai cara! Memang Yakub sangat lihai. Kehidupan daging dan kekuatan alamiahnya lebih kuat daripada orang lain, tetapi akhirnya Allah bisa mengalahkannya. Kalau Allah menurut cara yang biasa bergulat dengan Yakub, mungkin dua puluh tahun belum juga selesai pergulatan itu. Tetapi Allah tahu, waktunya sudah sampai. Ketika Allah melihat Yakub tetap tidak bisa dikalahkan, Allah lalu menjamah sendi pangkal pahanya. Begitu Allah menjamah sendi pangkal pahanya, sendi pangkal pahanya terpelecok/terkilir.
Urat pangkal paha adalah urat yang paling kuat, adalah bagian manusia yang paling kuat, mewakili pusat kekuatan alamiah manusia. Sekarang, pusat kekuatan alamiah Yakub sudah dijamah oleh Allah.
Hari itu Allah menjamah sendi pangkal paha Yakub, dikarenakan hari itu sendi pangkal paha Yakub tersembul, menonjol keluar. Pada hari itu, dia takut Esau datang membunuh dia, dia takut kalau istri dan anak-anaknya dibunuh oleh kakaknya. Sebab itu dia mengeluarkan kepandaiannya yang paling hebat dalam seumur hidupnya. la menyediakan hadiah, membagi macam-macam hewannya berkelompok-kelompok, menyuruh hambanya berjalan di depannya, supaya antara setiap kelompok ada jarak, juga menyuruh mereka mengatakan kata-kata yang baik kalau bertemu dengan Esau. Dia memikirkan cara yang cerdik ini untuk meleraikan kebencian Esau, supaya setelah Esau melihat, Esau tidak berdaya lagi. Di sini Yakub menggunakan kepandaiannya yang paling besar, otot pangkal pahanya telah tersembul. Pada hari itulah Allah menjamah otot pangkal pahanya.
Kekuatan alamiah manusia mempunyai ciri-cirinya, pasti ada satu tempat yang merupakan tumpuan kekuatan alamiahnya, pasti ada satu titiknya yang paling kuat. Allah akan menyembulkan/menonjolkan bagian istimewanya itu. Sayang banyak orang Kristen yang belum tahu kekuatan alamiahnya tertumpu pada titik mana. Orang yang paling kasihan bukanlah orang yang lemah, melainkan orang yang tidak tahu kelemahan dirinya; orang yang paling kasihan bukanlah orang yang salah, melainkan orang yang tidak tahu kesalahannya. Orang yang demikian tidak hanya salah, bahkan dalam kegelapan karena ia tidak hidup dalam terang, maka meskipun dia sudah salah, dia masih belum mengetahuinya. Ada orang Kristen bisa berkata, bahwa dirinya di sana salah, di sini salah, tetapi mungkin kesalahan yang dia katakan itu bukan yang paling inti, mungkin di dalamnya masih ada barang yang paling dalam, paling tersembunyi, belum tersembul, belum temyata, Allah belum memberi dia kesempatan untuk menyatakan titik itu. Allah membiarkan Yakub menghadapi pertemuan dengan Esau yang membawa empat ratus orang menyongsong kedatangannya, barulah Yakub menyembulkan semua tenaganya, barulah titik keistimewaan Yakub ternyata.
Pengalaman yang Harus Dimiliki Orang Kristen
Orang Kristen yang menempuh jalan Allah, harus menerima segala sesuatu yang berasal dari Kristus. Tetapi kalau kita hanya menjadi Ishak, itu masih belum cukup. Kita harus menjadi Ishak, bersamaan itu juga menjadi Yakub. Kita perlu Allah datang menjamah sendi pangkal paha kita, membuat kita lemah, membuat kita terkilir. Perlu pada suatu hari Allah menjamah sendi pangkal paha kita. Kita tidak bisa maju dengan perlahan-lahan. Kalau kita dengan perlahan-lahan maju, lewat dua puluh tahun lagi, apakah kita bisa mencapai Betel atau tidak masih akan menjadi satu masalah. Allah sudah menanggulangi Anda selama dua puluh tahun, sekarang Allah perlu membuat sendi pangkal paha Anda terpelecok, supaya Anda di depan Allah tidak bisa keras lagi. Ini juga satu pengalaman yang khusus, sama seperti pengalaman beroleh selamat yang khusus. Sebagaimana Anda perlu satu kali mendapatkan keselamatan, perlu satu kali tercelik melihat kekayaan Kristus, di samping itu pusat kekuatan Anda perlu satu kali dijamah oleh Allah supaya kehidupan (hayat) alamiah Anda terkilir.
Setiap orang Kristen mempunyai pangkal paha. Ada orang Kristen, yang kekuatan alamiahnya tertumpu pada rencananya, ada orang Kristen yang kekuatan alamiahnya tertumpu pada kecakapannya atau bakatnya, ada orang Kristen yang kekuatan alamiahnya tertumpu pada emosinya, ada orang Kristen yang kekuatan alamiahnya tertumpu pada sayang dirinya; setiap orang Kristen mempunyai titik istimewanya, dan kekuatan alamiahnya tertumpu pada titik itu. Kalau titik itu terjamah oleh Allah, berarti kekuatan alamiahnya terjamah oleh Allah. Kami tidak bisa memberitahu Anda, di mana kekuatan alamiah Anda bertumpu, tetapi kami bisa berkata, setiap orang Kristen mempunyai titik istimewanya; setiap aspek kehidupannya terkendali oleh titik itu. Titik itu adalah pangkal paha yang disebut di sini.
Ada orang Kristen yang hayat alamiahnya paling suka pamer, suka mengambil perkara rohani untuk dipamerkan. Apa yang ia sebut "bersaksi," sebetulnya bukan sunguhsungguh bersaksi untuk Tuhan, melainkan untuk memegahkan diri, memamerkan diri. Dalam semua aktivitas kehidupan dan pekerjaannya dapat terlihat, apa yang ia kerjakan semua bertitik tolak dari memamerkan dirinya. Orang Kristen yang demikian, perlu pada suatu hari dijamah suka pamernya oleh Allah.
Ada kekuatan alamiah orang Kristen yang bertumpu pada menyayangi diri sendiri. Apa saja yang ia kerjakan selalu bertitik tolak dari menyayangi diri sendiri. Orang yang pernah belajar di depan Allah dapat menemukan hal itu, bahwa seseorang berbuat begini karena mengasihi diri sendiri, berbuat begitu juga karena mengasihi diri sendiri, berkata demikian karena mengasihi diri sendiri, berkata begitu juga karena mengasihi diri sendiri. Dari berbagai keadaan, Anda dapat menemukan bahwa dia mempunyai satu pangkal paha, yaitu mengasihi diri sendiri. Kehidupan alamiah kita pasti memiliki satu pusat, pasti memiliki satu kekuatan yang hebat di dalamnya. Perlu Tuhan pada suatu hari membongkarnya, kemudian barulah diri kita bisa menghasilkan buah-buah Roh Kudus. Kalau tidak, semuanya hanyalah berasal dari diri kita sendiri.
Ada orang Kristen yang kehidupan alamiahnya tertumpu pada otaknya yang besar. Tidak peduli Anda berkata apa kepada dia, dia selalu berpikir, "Ini masuk akal atau tidak, ini bisa diterima atau tidak." Tidak peduli ada urusan apa, begitu bertemu dengan dia, dia akan memakai otaknya untuk menganalisis. Otaknya terlalu indah, otaknya terlalu besar. Dia terus hidup dalam otaknya. Kalau dia tidak berpikir sejenak, ia tidak bisa hidup; kalau dia tidak menganalisis, ia tidak bisa hidup. Otaknya menjadi kehidupannya. Akhirnya dia memang bisa membereskan banyak urusan yang di luar, tetapi di tangan Allah dia tidak berguna. Perlu pada suatu hari Allah menjamah otaknya, sehingga tujuan Allah di atas dirinya bisa tercapai.
Masih banyak tempat yang bisa menjadi tumpuan kehidupan alamiah kita. Ketika Allah menjamah titik itu, berarti Allah mempunyai satu pekerjaan yang telah terampungkan atas did Anda. Tentu ini tidak berarti Anda sudah sempurna, ini hanya merupakan satu perubahan haluan Anda.
Banyak kesalahan orang Kristen yang secara lahiriah kelihatannya adalah perkara yang kecil-kecil, di sini sedikit, di sana sedikit, ada banyak gejala yang muncul, tetapi pada dasarnya merupakan satu hal. Hal yang mendasar ini adalah pangkal paha yang disebut di sini, yaitu tumpuan kehidupan alamiah. Hal ini tidak bisa Allah biarkan, Allah harus membereskannya. Yang Allah perhatikan bukanlah gejala-gejala kecil di luar, yang Allah perhatikan adalah menjamah pusat terkumpulnya kehidupan alamiah, supaya orang itu mempunyai perubahan yang mendasar.
Puji syukur kepada Allah! la telah menjamah sendi pangkal paha Yakub. Melalui penjamahan ini, Yakub terkilir, Yakub menjadi lemah, Yakub menjadi kalah, tidak bisa bergulat lagi.
Makna Pniel
Mungkin ada orang ingin bertanya, apa sebenarnya arti Pniel? Apa artinya Pniel Yakub ditaruh di atas diri kita? Kita boleh berkata demikian: Asalnya di atas diri Anda ada satu ciri khusus yang keras/tegar. Ciri khusus ini mengendalikan Anda, ciri khusus ini menjadi prinsip perilaku Anda, ciri khusus ini juga merupakan tumpuan kekuatan alamiah Anda; tetapi pada hari-hari biasa, Anda tidak mengetahui. Allah memberi Anda kesempatan, supaya kekuatan alamiah ini tersembul sekali, tersembul dua kali, tersembul sepuluh kali bahkan tersembul seratus kali; tetapi Anda masih belum mengetahui. Sampai pada suatu hari, di penyeberangan sungai Yabok, Anda telah mengeluarkan semua kemampuan Anda, titik pusat hayat alamiah Anda sudah tersembul semuanya, saat itu tangan Allah menjamah Anda, memperlihatkan kepada Anda inilah kekuatan alamiah Anda. Demikian Anda baru nampak, bahwa inilah ciri khusus Anda yang paling jelek, paling jahat dan paling najis. Apa yang Anda megahkan, yang Anda anggap mulia, yang Anda anggap luar biasa, yang Anda anggap lebih baik .daripada orang lain, yang membuat Anda merasa puas seumur hidup, sekarang tiba-tiba diterangi oleh Allah, sehingga Anda nampak bahwa semua itu adalah kehidupan daging, adalah hayat yang najis, adalah kehidupan yang rusak, adalah kehidupan yang patut dibenci. Terang itu membunuh Anda, itulah yang disebut Pniel. Yang semula Anda anggap patut dimuliakan, Anda anggap patut dihargai, Anda kira patut dimegahkan, mengira orang lain begitu tetapi diri Anda tidak begitu, justru pada titik inilah Allah akan memperlihatkan kepada Anda, bahwa inilah hayat daging Anda. Allah datang menjamah kehidupan ini, membuat Anda lemah, itulah yang disebut Pniel.
Di depan Allah, Anda mempunyai kekuatan alamiah yang perlu dibereskan. Tetapi ketika Anda belum nampak terang, Anda malah menganggap titik itu patut dihargai, patut dimegahkan. Saudara saudari, Anda harus hati-hati pada tempat yang dapat Anda megahkan. Banyak orang Kristen yang kekuatan kehidupan alamiahnya bertumpu pada tempat yang ia megahkan. Jarang sekali ada orang Kristen yang kehidupan alamiahnya bertumpu pada tempat yang tidak ia megahkan. Sebab itu, pada tempat yang Anda megahkan, Anda harus sangat hati-hati. Sering kali tempat yang Anda megahkan adalah tempat yang akan dibereskan oleh Allah. Mungkin titik itu adalah pangkal paha Anda. Allah akan menerangi Anda, Allah akan menjamah pangkal paha Anda itu. Ketika tangan Allah menjamah titik Anda itu, Anda merasakan sangat malu sekali. Anda akan berkata, "Oh, ternyata saya menganggap perkara yang paling memalukan itu sebagai perkara yang mulia." Orang yang sedikit mengalami Pniel, akan bersaksi, ketika pangkal pahanya dijamah oleh Allah, ia tidak hanya lemah bahkan sangat malu. Ia akan berkata, "Mengapa saya demikian bodoh! Saya mengira ini baik, itu juga baik, temyata semua itu adalah perkara yang memalukan!" Ia akan merasakan, bahwa dirinya di depan Allah adalah orang yang bobrok sekali. Saudara saudari, begitu Anda dijamah oleh Allah, Anda akan nampak, bahwa semua yang Anda kerjakan dulu sangat jelek. Anda bisa merasa heran, mengapa Anda dulu menganggap perkara-perkara itu sebagai perkara yang mulia, menganggap itu adalah keistimewaan Anda yang baik, bahkan mengira orang lain masih tidak seperti Anda. Di sinilah Allah menjamah Anda.
"Pniel" dalam bahasa Ibrani berarti "muka Allah". Muka Allah adalah terang Allah. Dahulu, Allah dengan tangan menjamah sendi pangkal paha Yakub. Had ini, Allah dengan terang menjamah kehidupan alamiah kita. Begitu terang Allah menerangi Anda, Anda segera nampak, bahwa dulu yang Anda anggap baik, yang Anda anggap mulia, yang Anda anggap keistimewaan, ternyata sangat memalukan, sangat bodoh. Penerangan ini membuat Anda menderita luka yang mematikan, membuat Anda tak berdaya lagi.
Saudara saudari, pada suatu hari kita harus melewati Pniel. Allah harus menjamah kehidupan alamiah kita, barulah kita bisa menjadi orang yang berguna di tangan Tuhan. Pada suatu hari Anda harus melewati ini. Tentu Anda sendiri tidak bisa tergesa-gesa, tetapi Anda bisa menyerahkan kepada Tuhan, Pencipta yang setia, mohon Dia mengatur situasi, sehingga Dia membawa Anda mencapai satu tahap, nampak semua perkara yang Anda megahkan adalah perkara yang memalukan, adalah perkara yang bodoh. Semoga Allah membelaskasihani kita, dan memberi kita terang, supaya karena melalui Pniel- muka Allah - yang memancarkan terang menerangi kita, pekerjaan Allah di atas kita bisa tergenap.
Membereskan Kehidupan Alamiah
Tidak Boleh Pura-pura
Kehidupan alamiah harus dibereskan, tetapi kita tidak boleh pura-pura. Pura-pura bukanlah kekristenan. Kekristenan sama sekali tidak menyuruh ldta menjadi orang yang tidak wajar. Kalau Anda sudah dewasa, dengan sendirinya mempunyai corak orang dewasa, kalau Anda masih anak-anak, dengan sendirinya Anda memiliki corak anak-anak. Pekerjaan Allah adalah: Allah yang menjamah kehidupan alamiah Anda, Allah yang menyingkirkan kekuatan alamiah Anda, supaya Anda tidak bisa berbuat apa-apa. Anda harus membiarkan Roh Kudus mewujudkan Kristus di atas diri Anda. Kita tidak mau yang alamiah, tetapi kita harus polos. Kalau anak-anak Allah membuat seolah-olah rohani, itu bukan perkara yang baik, bahkan bisa menghalangi pemberesan kehidupan alamiahnya. Banyak orang Kristen berpura-pura sebagai orang yang rendah hati, semakin ia rendah hati semakin membuat Anda kurang enak. Banyak orang Kristen jika di depan Anda agak banyak membicarakan perkara dunia yang umum, Anda masih merasakan enak, masih merasakan dia polos, tetapi kalau dia membicarakan perkara rohani, Anda tidak bisa tidak berkata kepada Allah, "Ya Allah, belaskasihanilah dia, yang dia bicarakan itu tidak Banyak orang Kristen kelihatannya Iemah lembut, tetapi Anda hanya bisa berkata kepada Allah, "Ya Allah, mohon Dikau mengampuni 'kelemah-lembutan’nya, karena entah dari mana 'kelemah-lembutan'nya." Ya, tidak ada satu perkara yang menghalangi kehidupan orang Kristen lebih daripada dibuat-buat. Kita harus berbuat apa adanya. Kita harus polos. Kalau mau bicara, bicaralah; kalau mau tertawa, tertawalah. Jangan sekali-kali berpura-pura. Jangan sekali-kali dibuat-buat. Pemberesan terhadap kehidupan alamiah dilakukan oleh Tuhan sendiri, dilakukan oleh Roh Kudus. Jangan sekali-kali menganjuri orang lain melakukan apa yang tidak ia miliki. Kalau ia rendah hati, ya rendah hati; tetapi kalau pura-pura rendah hati, sama sekali tidak ada nilainya. Kalau orang Kristen pura-pura menjadi orang yang rohani, kehidupan alamiahnya lebih sulit dibereskan. Allah tidak perlu orang yang demikian, karena berpura-pura demikian malah menghalangi pekerjaan Allah.
Dalam abad ke 19, ada seorang saudara yang dipakai secara besar-besaran oleh Tuhan. Pada suatu hari, dia bertamu ke suatu keluarga. Seorang saudari muda juga bertamu ke keluarga itu. Melihat saudara itu juga datang bertamu, saudari muda ini merasa sangat heran. Sejenak ia berpikir, saudara itu makan roti pakai keju atau tidak. Anggapannya, karena saudara itu orang yang rohani, maka dia harus berbeda dengan orang lain. Tetapi saudari itu merasa heran karena saudara itu bukanlah orang rohani seperti dalam angan-angannya. Dia adalah satu orang biasa! Saudari itu sangat kecewa, karena saudara itu hanyalah satu orang biasa! Sambil duduk ia melihat saudara itu makan roti juga pakai keju, saudara itu makan juga sambil ngobrol, tidak ada keistimewaan apa-apa. Dalam hatinya ia bertanya, mengapa orang yang rohani juga sama dengan orang biasa? la tidak tahu, bahwa perbedaan saudara itu dengan orang lain tidak tergantung pada makan roti pakai keju atau tidak, tidak tergantung ketika makan berbicara atau tidak, melainkan tergantung pada pengenalannya yang khusus terhadap Allah. Dia sangat mengenal kehidupan Allah.
Sebab itu jangan sekali-kali menganggap membereskan kehidupan alamiah berarti membuat diri Anda menjadi orang yang istimewa, yang tidak terdapat di bumi, juga tidak terdapat di sorga. Kita tidak perlu dengan kekuatan diri sendiri berpura-pura dan membuat-buat yang istimewa. Allahlah yang menjamah kehidupan alamiah kita, dan Allahlah yang membereskan kita Allahlah yang menjamah pusat kekuatan alamiah kita, supaya kita tidak berdaya, supaya kita tidak bisa hidup lagi. Pniel adalah pekerjaan Allah, Pniel sama sekali bukan kita pura-pura berbuat. Tuhan menghendaki kita menjadi orang yang polos. Anda jangan berusaha "berbuat" seperti orang yang polos, berusaha "berpura-pura menjadi" orang yang polos. Ada seorang saudari, di depan orang kelihatannya sangat polos, tetapi ketika dia "polos", Anda dapat melihat maksud hatinya, yaitu dia berpikir, "Lihatlah, saya sungguh polos!" "Kepolosan" yang demikian di depan Allah sama sekali tidak berharga, karena ia pura-pura menjadi polos, itu adalah kepolosan
yang dia pamerkan untuk kebanggaan diri sendiri. Kita harus ingat, kehidupan alamiah dijamah bukan supaya kita berusaha meniru sesuatu yang tidak kita miliki. Hal ini adalah pekerjaan Allah bukan pekerjaan kita. Kita perlu polos; kita bagaimana, begitulah keadaan kita. Penanggulangan kehidupan alamiah dikerjakan oleh Allah sendiri. Saudara saudari, kita perlu dengan sungguh-sungguh nampak, yang berasal dari kita berbeda dengan yang berasal dari Allah. Yang berasal dari Allah ada nilainya, yang berasal dari kita sendiri tidak ada nilainya. Yang berasal dari kita hanya bisa membuat kita menjadi orang yang "bukan". Yang berasal dari Allah baru bisa membawa Anda ke satu tingkat untuk menjadi Israel.
Satu Tanda -- Telah Pincang
Di Pniel, sendi pangkal paha Yakub dijamah oleh Allah dan ia menjadi pincang. Banyak orang Kristen mempunyai pengalaman rohani ini, tetapi pada saat itu terjadi, mereka tidak tahu. Mungkin setelah lewat beberapa bulan atau satu dua tahun kemudian, Allah baru memperlihatkan kepadanya: kali itu yang dibereskan Allah adalah kehidupan alamiahnya. Saat inilah dia baru tahu, bahwa dia sudah memiliki satu pengalaman itu. Sebab itu, bila pada suatu kali, ketika berdoa hati Anda merasa bergembira, jangan sekali-kali mengira bahwa itu dikarenakan kehidupan alamiah Anda sudah dibereskan oleh Allah. Pikiran itu tidaklah benar. Dalam pengalaman, Anda tidak tahu kapan Allah menjamah kehidupan alamiah Anda. Tetapi ada satu yang bisa Anda ketahui, yaitu sejak Anda dijamah oleh Tuhan, gerak gerik Anda tidak leluasa lagi, Anda tidak seperti dulu yang begitu bebas; pada diri Anda ada satu tanda besar, yaitu Anda telah pincang. Kaki pincang adalah tanda kehidupan alamiah Anda telah dijamah Allah. Bukan pada suatu sidang Anda bersaksi, "Tanggal anu, bulan anu, tahun anu, Allah telah menanggulangi kehidupan alamiah saya, melainkan pada suatu pengalaman rohani, kaki Anda telah pincarng. Dulu, ketika Anda berencana, semakin berencana, semakin merasa bersemangat, tetapi sekarang, ketika Anda mencoba merencanakan sesuatu, di dalam Anda seolah-olah kempis. Ingin berencana, tidak ada semangat lagi; begitu berencana, di dalam terasa tidak damai. Dulu, Anda bisa berkata begini, bisa berkata begitu, Anda mempunyai pendapat yang muluk-muluk, tetapi sekarang, sebelum Anda berkata apa-apa, sebelum kata-kata meluncur dari mulut Anda, batin Anda sudah merasa sebal, Anda tidak bisa sepertii dulu lagi yang berkata tidak habis-habisnya. Dulu Anda mempunyai banyak cara, mempunyai banyak siasat, terhadap orang ini harus begini, terhadap orang itu harus begitu, Anda tidak perlu bersandar Allah. Tetapi kalau Allah telah menjamah kehidupan alamiah Anda, ketika Anda ingin dengan cara yang licin menghadapi orang, di dalam Anda terasa kempis, di dalam Anda tidak bersemangat. Tentu, saya tidak mengatakan, bahwa kita tidak boleh melakukan perkara yang hikmat. Adakalanya, betul-betul Allah membimbing Anda melakukan pekerjaan yang hikmat. Tetapi kalau itu dihasilkan oleh rencana Anda sendiri; meskipun itu belum Anda kerjakan, di dalam Anda seolah-olah kempis, karena kaki Anda sudah pincang.
Orang yang telah ditanggulangi oleh Allah bisa membedakan apa yang disebut kekuatan alamiah dan apa yang disebut kekuatan rohani. Ketika kekuatan alamiah Anda ditanggulangi, Anda menjadi takut memakai kekuatan alamiah Anda dalam bekerja bagi Tuhan. Meskipun Anda jelas-jelas tahu kata-kata ini diluncurkan atau diucapkan dengan cara yang begini bisa menghasilkan yang begini, Anda takut mendapatkan hasil yang telah diketahui lebih dulu. Kalau Anda masih ingin berdasarkan kekuatan alamiah melakukan demikian, di dalam Anda bisa dingin, di dalam Anda bisa tidak mau melakukan. Inilah keadaan kaki pincang.
Jamahan Allah juga ada tingkatannya. Ada orang hanya dijamah sedikit, hanya hati nuraninya merasa tidak sentosa sedikit; ada orang dijamah Allah sampai akarnya, sendi pangkal pahanya dijamah Allah. Orang yang demikianlah baru benar-benar pincang. Allah perlu melakukan satu pekerjaan yang tuntas di atas diri kita, bekerja sampai satu tingkat supaya kita seumur hidup mempunyai satu tanda, yaitu kaki pincang. Setelah kaki kita pincang, setiap kali hendak bergerak, setiap kali ingin melakukan sesuatu, ada suatu barang yang membuat kita merasa sakit, membuat kita merasa tidak lincah, inilah tanda dijamah oleh Allah.
Yakub Memegang Erat Allah
Sendi pangkal paha Yakub terpelecok ketika bergulat. Yakub menjadi tidak berdaya. Tetapi ada satu hal yang ajaib sekali. Mari kita baca Kejadian 32:26, "Lalu kata orang itu: Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing. Sahut Yakub: Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku" Ketika sendi pangkal paha Yakub telah terpelecok sehingga sekujur tubuhnya menjadi lemah, mengapa orang itu masih belum bisa pergi? Orang itu berkata, "Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing." Ini memberitahu kita, begitu sendi pangkal paha kita terpelecok, saat itulah kita memegang Allah paling erat. Saat kita tidak berdaya, kita akan memegang erat Allah. Ketika kita lemah, saat itulah kita kuat. Ketika sendi pangkal paha kita terpelecok, kita malah bisa berkata kepada Allah, "Aku tidak akan membiarkan Engkau pergi." Menurut pandangan orang, kelihatannya tidak mungkin. Tetapi inilah fakta. Ketika Anda sendiri tidak ada kekuatan, Anda malah memegang erat Allah. Memegang erat ketika kita tidak ada kekuatan barulah memegang erat yang sungguh-sungguh. Orang yang memegang erat Allah selamanya tidak memakai tenaganya sendiri. Semua iman yang merampungkan pekerjaan, sama seperti iman sebesar biji sesawi. Iman yang seperti biji sesawi malah bisa memindahkan gunung (Matius 17:20). Sering kali doa yang ramai, iman yang ramai, hanya ramai saja, tidak bisa menimbulkan suatu perkara. Tetapi adakalanya, saat Anda sudah tidak ada kemampuan mau Allah, tidak ada kekuatan memohon kepada Allah, sampai berdoa pun tidak bisa, sampai iman pun seolah-olah tidak ada lagi, namun Anda tetap percaya! Ajaib sekali, justru iman yang lemah itu, iman yang halus itu, malah merampungkan perkara. Ketika Yakub terlalu kuat, di tangan Tuhan ia tidak seberapa berguna, tetapi pada saat sendi pangkal pahanya terpelecok, ia malah memegang erat Allah.
Orang itu memberikan dia berkat, "Lalu kata orang itu: Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel" (ayat 28). "Israel" dalam bahasa aslinya (lbrani) berarti "mengatur bersama Allah" atau "menjadi raja bersama Allah." Inilah titik perubahan Yakub. Di Pniel, Yakub kalah di tangan Allah, sendi pangkal pahanya telah terpelecok dan seumur hidup ia pincang. Tetapi selanjutnya Allah berkata, "Sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang." Ini baru kemenangan. Kemenangan kita adalah saat kita kalah di tangan Allah, bukan saat kita bersandar diri sendiri. Saat kita sendiri tidak berdaya, saat itu juga kita menang.
Yakub Tidak Mengetahui Nama Allah
Mari kita melihat ayat 29, "Bertanyalah Yakub: "Katakanlah juga namamu." Tetapi sahutnya: "Mengapa engkau menanyakan namaku?” Yakub ingin tahu siapa orang itu, ingin tahu namanya, tetapi orang itu tidak memberitahukan namanya kepada Yakub; harus menunggu sampai Yakub tiba di Betel, baru memberitahu kepadanya (Kejadian 35:11). Orang itu adalah orang yang tidak diketahui oleh Yakub. Ketika orang itu datang, ia tidak tahu, ketika orang itu pergi, Yakub juga tidak tahu. Yakub hanya tahu namanya sendiri harus diubah menjadi Israel, Yakub tidak tahu siapa orang itu. Dalam pengalaman, barangsiapa sendi pangkal pahanya dijamah oleh Allah, ia tidak mengetahui dengan jelas. Inilah yang perlu kita perhatikan.
Setelah mendengar cerita Yakub di Pniel, seorang saudara berkata, Jumat malam yang lalu, Allah telah menjamah sendi pangkal pahanya. Kekuatan alamiahnya telah dibereskan oleh Allah. Saudara-saudara lain bertanya kepadanya, "Bagaimana pengalamanmu?" Dia berkata, "Malam itu Allah memperlihatkan kepadaku, bahwa aku sudah habis. Aku senang sekali, karena itu aku dengan sekuat-kuatnya bersyukur kepada Allah. Karena sendi pangkal pahaku sudah dijamah oleh Allah." Tetapi "pengalaman" yang diketahui diri sendiri dengan begitu jelas pasti ada persoalannya. Kisah Yakub memberitahu kita, ketika kehidupan alamiahnya dijamah, ia sendiri belum jelas perkara apa itu. Sebab itu, kalau Allah menjamah kehidupan alamiah Anda, saat itu Anda sendiri tidak tahu. Mungkin harus melalui beberapa minggu Anda baru tahu. Mungkin juga harus melalui beberapa bulan, Anda baru tahu. Ada saudara ketika kehidupan alamiahnya dijamah, dia tidak tahu apa yang terjadi. Dia hanya tahu, ada satu perkara yang dia tidak berani lagi melakukan. Dia tidak berani lagi seperti dulu, menganggap dirinya berkemampuan, berkekuatan, berkepandaian. Dulunya dia berbuat sesuatu dengan yakin, sekarang sedikit keyakinan pun tidak ada. Sampai suatu hari, ketika ia membaca firman Allah, barulah ia tahu, bahwa itu adalah Allah menjamah kehidupan alamiahnya.
Sebab itu, kita tidak boleh menunggu pengalaman. Kalau mata Anda ingin melihat pengalaman, sekalipun sudah melalui beberapa tahun, Anda tetap tidak akan mendapatkan. Allah tidak membiarkan mata kita melihat pengalaman, Allah hanya membiarkan mata kita memandang Dia. Barangsiapa mencari pengalaman, malah tidak mendapatkan pengalaman; barangsiapa menengadah kepada Allah, akan mendapatkan pengalaman. Banyak orang sudah beroleh selamat, namun tidak mengetahuinya, demikian juga, banyak orang Kristen yang kehidupan alamiahnya sudah dijamah oleh Allah, tetapi mereka tidak tahu terjadinya perkara itu. Demikianlah pengalaman Yakub. Saat itu dia tidak begitu jelas, dia hanya tahu hari itu Allah berjumpa dengan dia, berjumpa dengan Allah muka dengan muka.
Orang yang mempunyai pengalaman Pniel, dirinya sendiri tidak bisa menjelaskan doktrin itu dengan rinci, dia hanya tahu telah berjumpa dengan Allah, hanya tahu kakinya telah pincang. Dia hanya bisa berkata, bahwa sejak Tuhan bertemu dengan dia, dia tidak mempunyai kekuatan yang begitu besar lagi, tidak mempunyai keyakinan yang begitu besar lagi. Setiap kali ingin bersiasat, tidak berani bersiasat lagi; setiap kali ingin berencana, tidak berani berencana lagi; setiap kali ingin memamerkan dirinya sangat pandai, tidak berani memamerkannya lagi. Pincang adalah bukti sendi pangkal paha terjamah, bukan dengan mulut bersaksi, "Aku sudah pincang," melainkan benar-benar sudah pincang. Kalau melakukan sesuatu masih berkeyakinan, kalau berbicara masih penuh dengan akal dan siasat, kalau perilakunya masih begitu menyendiri, menghadapi urusan-urusan masih tidak menunggu Allah, tidak menengadah kepada Allah, masih dirinya sendiri yang menentukan dan pendapatnya sendiri harus dilaksanakan, itu belum pincang, itu belum dijamah oleh Allah. Di sini Yakub tidak tahu nama Allah, hanya tahu satu tanda tertinggal di atas dirinya, yaitu pincang. Apa itu pincang? Yaitu sejak kini Anda tidak berani berdasarkan diri sendiri, Anda tidak berani bersandar diri sendiri, Anda tidak berani mempercayai diri sendiri, Anda tidak berani sok pintar, Anda tidak berani menganggap diri Anda mempunyai kecakapan, tidak berani memakai akal sendiri, Anda hanya menengadah kepada Allah, Anda hanya menunggu Allah, hanya bersandar Allah. Anda takut dan gemetar, Anda lemah, inilah yang disebut pincang, inilah yang disebut sendi pangkal paha telah dijamah. Sebab itu, jangan memperhatikan perkara ini akan terjadi pada hari apa dan bagaimana terjadinya. Menengadahlah kepada Allah, percayalah bahwa pada suatu hari, ketika Anda tidak mengetahui, Allah akan memelecokkan sendi pangkal paha Anda.
Tetapi pengalaman Pniel belum sempurna. Pniel adalah permulaan Allah, Pniel adalah Allah pertama kali berkata kepada Yakub, "Namamu . . . Israel." Setelah Pniel, kita masih sukar langsung menemukan nama Israel, yang kita temui masih tetap Yakub. Di Pniel, Yakub hanya tahu namanya harus disebut Israel, Yakub belum tahu nama Allah. Sampai Kejadian 35, Yakub baru tahu Allah itu siapa, sebab itu Pniel adalah satu titik perubahan, harus menunggu sampai Betel baru sukses. Masih perlu menunggu sejangka waktu, pekerjaan Allah baru rampung di atas diri Yakub.
KELANJUTAN DARI PERBUATAN LAMA
Setelah melewati Pniel, kaki Yakub jadi pincang. Tetapi dia belum tahu apa artinya perkara yang dia alami di Pniel. Sampai hari terang Yakub bangun, ia masih berbuat menurut rencananya.
Banyak orang menyalahkan Yakub, merasa Yakub tidak seharusnya demikian. Dia telah dijamah oleh Allah, dia seharusnya menghentikan aktivitasnya. Kalau Anda sudah dijarnah oleh Allah, seharusnya semuanya beres. Ini adalah pikiran orang yang belum mengenal diri sendiri, mengira segalanya bisa diputus begitu saja, segalanya bisa dibereskan dalam sekejap mata. Sesungguhnya perkaranya tidak begitu sederhana. Ketahuilah, pengalaman itu bukan teori yang ideal. Yakub tidak bisa sekejap mata berubah menjadi Israel. Kemarin dia telah mengatur sepasukan demi sepasukan, hari ini ia tetap melanjutkan rencana itu. Hanya satu hal yang harus kita nampak, setelah sendi pangkal pahanya dijamah oleh Allah, keesokan harinya, ketika ia menjumpai Esau, ia sudah berbeda dengan dulu. Kita nampak Yakub sudah berubah.
Kita melihat Kejadian 33:1-3, "Yakub pun melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang. Maka diserahkannyalah sebagian dari anak-anak itu kepada Lea dan sebagian kepada Rahel serta kepada kedua budak perempuan itu. la menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anakanak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali. Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu." Dia masih begitu banyak rencana, bahkan berturut-turut bersujud tujuh kali menyembah kakaknya. Ayat 4 mengatakan, "Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka." Sungguh di luar dugaannya, semua rencana yang dia pikirkan, semua pengaturannya, sia-sia dia kerjakan. Perlindungan Allah begitu Asal ada sedikit iman, dapat terhindar dari banyak kesedihan dan ketakutan! Esau tidak ingin membunuh dia, malah datang menyambut dia, memeluk dia, dan mencium dia. Kepandaian Yakub, siasat Yakub, semua kosong! Dulu, ketika dia meninggalkan kakaknya dan bertemu dengan Rahel, dia menangis; sekarang, dia kembali melihat Esau, juga menangis. Ada orang menangis, karena sifat bawaannya suka menangis, tetapi Yakub yang asalnya penuh dengan siasat, bukan orang yang suka menangis, sekarang dia melihat kakaknya, lalu menangis. Ini sungguh perkara yang sulit
terjadi, ini juga menyatakan pengalaman di Pniel sudah mengubah Yakub menjadi orang yang lembut.
Ayat 6-8 mengatakan, "Sesudah itu mendekatlah budak-budak perempuan itu beserta anak-anaknya, lalu mereka sujud. Mendekat jugalah Lea beserta anak-anaknya, dan mereka pun sujud. Kemudian mendekatlah Yusuf beserta Rahel, dan mereka juga sujud. Berkatalah Esau: Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu dengan aku tadi? Jawabnya: Untuk mendapat kasih tuanku." Di sini Yakub masih menurut kata-kata yang dipersiapkannya kemarin. Kemarin dia telah slap tidak menyebut Esau sebagai kakak, melainkan menyebut Esau sebagai "tuanku". Sekarang dia masih menurut rencana asalnya menyebut Esau "tuanku". Sebab itu, meskipun kehidupan alamiah seseorang telah ditanggulangi, kekuatannya mungkin juga telah sekali disingkirkan oleh Allah, tetapi perbuatannya yang di luar mungkin masih memerlukan beberapa minggu, beberapa bulan, baru bisa pelan-pelan terlepas.
Ayat 9-10 mengatakan, "Tetapi kata Esau: Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu. Tetapi kata Yakub: Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan menyambut aku."Dalam kata-kata ini, kita sekali-kali jangan mengira ini tetap rencana Yakub. Dia berkata, "Karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah." Perkataan ini bukanlah Yakub pura-pura rendah hati. Memang orang semacam Yakub masih bisa berpura-pura, tetapi tidak semua kata-kata ini adalah rencananya. Kata-kata ini ada maknanya. Kata-kata ini sama dengan berkata, "Aku melihat mukamu, seperti aku melihat Pniel." Apa artinya ini? Artinya, "Melihat muka orang yang pernah kusalahi, melihat orang yang pernah kurugikan, akan sama seperti melihat muka Allah." Bila Anda bertemu dengan orang yang pernah Anda salahi, saat itu juga Anda bertemu dengan Allah; begitu Anda berjumpa dengan orang yang pernah Anda rugikan, saat itu juga Anda berjumpa dengan penghakiman. Kalau Anda pernah berhutang kepada orang, pernah menganiaya orang sehingga orang itu Anda lukai, kalau perkara itu tidak dibereskan, setiap kali Anda melihat dia, akan sama seperti melihat Allah, Anda akan merasa ketakutan karena seperti berjumpa dengan Allah. Setiap kali Anda melihat mukanya, Anda akan memikirkan Allah; setiap kali Anda berjumpa dengannya, seperti berjumpa dengan penghakirnan Allah. Apa yang dikatakan Yakub adalah keadaan yang sesungguhnya. Bagi Yakub, benar-benar "karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah."
KEMBALI KE TANAH KANAAN
Esau berangkat kembali ke Seir, lalu Yakub berangkat ke Sukot, "Dalam perjalanannya dari Padan-Aram sampailah Yakub dengan selarnat ke Sikhem, di tanah Kanaan, lalu ia berkemah di sebelcrh timur kota itu" (Kejadian 33:18).
Berhenti di Sikhem
Allah menghendaki Yakub pergi ke tempat ayahnya, tetapi Yakub berhenti di Sikhem. Sikhem hanyalah tempat pertama ketika memasuki tanah Kanaan, tetapi Yakub tinggal di Sikhem. Pertama-tama dia mendirikan rumah (ayat 17), kemudian dia membeli sebidang tanah lalu mendirikan kemah dan mendirikan mezbah dan menamainya "El-Elohim-Israel" artinya "Allah Israel ialah Allah" (ayat 20). Dia belum sampai ke Betel, belum sampai ke Hebron. Sekarang dia sampai di Sikhem, lalu tinggal di sana. Dia tidak hanya tinggal di sana, bahkan membeli tanah di sana. Kesemuanya itu menyatakan Yakub masih kurang kuat, masih belum mempelajari pelajaran yang harus dia pelajari, belum sampai tingkat yang sempurna. Allah menanggulangi Yakub setahap demi setahap. Penanggulangan Allah dan penyusunan Roh Kudus adalah setahap demi setahap.
Meskipun berhentinya Yakub di Sikhem adalah satu kegagalan, tetapi dia di sana mendirikan mezbah dan menyeru nama Tuhan, menyebut Allah adalah Allah Israel; ini adalah satu kemajuan. Sekarang Allah bukan hanya Allah Abraham, Allah Ishak juga adalah "El-Elohim-lsrael". "El" berarti "Allah." "Elohim" juga berarti "Allah," arti seluruhnya adalah "Allah Israel benar-benar Allah," "Allah benar-benar Allah Israel." Sekarang dia bisa mengucapkan kata-kata yang demikian, di depan Allah dia ada kemajuan.
Sampai Kejadian 34, anak perempuan Yakub di tempat itu ternoda, dua anak Yakub dengan muslihat membunuh semua orang laki-laki di Sikhem dan menyerang kota itu. Perkara ini membuat Yakub mengalami kesulitan. Pada saat inilah Allah menyuruh dia naik ke Betel (pasal 35). Allah menanggulangi dia, Allah memimpin dia. Dia ingin tinggal di Sikhem, tetapi Allah tidak membiarkan dia terus tinggal di Sikhem.
Di depan kita telah membicarakan, bahwa seumur hidup Abraham di tanah Kanaan, berada di tiga tempat: Sikhem, Betel dan Hebron. Ia pernah tinggal di tempat ini dan mendirikan mezbah. Ketiga tempat ini adalah ciri-ciri tanah Kanaan. Ketiga tempat ini mewakili tanah Kanaan. Setelah Yakub melewati Pniel, Allah juga membawa dia menempuh jalan yang ditempuh Abraham, terlebih dulu di Sikhem, kemudian naik ke Betel, lalu ke Hebron. Abraham pernah melalui tiga tempat ini, Allah juga memimpin Yakub melewati tiga tempat ini. Setelah melewati Pniel, Allah akan memimpin Yakub tidak berhenti di Sikhem, melainkan naik ke Betel. Pniel dan Betel adalah berpasangan. Di Pniel, Allah berkata kepadanya, "Namamu tidak akan disebut lagi Yakub, tetapi Israel." Di Betel Allah juga berkata kepadanya, "Dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel" (35:10). Dengan kata lain, Pniel adalah permulaan, Betel adalah penggenapan.
Pergi ke Betel
Kejadian 35:1 mengatakan, "Allah berfirman kepada Yakub: Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu." Allah menyuruh Yakub pergi ke Betel. Betel bisa menjamah hati Yakub, karena Yakub di sana pernah bermimpi Allah menyatakan diri kepadanya. Di depan telah kita bicarakan, "Betel" berarti "bait Allah", "rumah Allah", yang menyatakan otoritas Kristus, menyatakan Kristuslah yang mengatur rumah itu, menyatakan kehidupan korporat, menyatakan Tubuh Kristus. Dalam rumah itu, tidak bisa mentolerir kenajisan, tidak bisa mentolerir dosa, tidak bisa membiarkan segala sesuatu yang tidak cocok dengan kehendak Allah. Sebab itu, ketika Yakub mendengar Allah menyuruh dia pergi ke Betel, dia berkata kepada orang-orang yang di rumahnya dan segala orang yang beserta dengan dia, "Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu" (ayat 2). Dengan kata lain, harus membuang semua barang yang ada hubungan dengan berhala di Sikhem, baru boleh pergi ke Betel. Yakub menanam segala dewa asing dan anting-anting di bawah pohon besar di Sikhem. Arti "Sikhem" adalah "kekuatan bahu", artinya, Kristus membereskan berhala kita, Kristus membereskan dosa kita, Kristus membereskan apa yang tidak bisa kita bereskan. Dengan kata lain, pohon besar atau pohon Tarbantin yang dekat Sikhem memberitahu kita kekayaan Ishak, yaitu segala hal yang tidak cocok dengan Allah, bisa dibereskan di sini. Di Sikhem, Kristus mempunyai kekuatan yang penuh, bisa membereskan kesemuanya itu, ada bahu yang cukup besar, bisa memikul tanggung jawab ini. Betel adalah rumah Allah, di dalam rumah Allah hanya diperbolehkan perbuatan yang bersih, hidup yang bersih. Segala barang yang tidak bersih harus dibereskan dengan tuntas baru bisa pergi ke Betel. Allah tidak hanya menghendaki kita masing-masing mempunyai satu hidup yang bersih, Allah juga menghendaki kelompok kita mempunyai satu hidup yang bersih. Betel tidak bisa menerima barang-barang yang tidak bersih. Tubuh Kristus adalah Kristus, hanya Kristus yang berada di dalam Tubuh Kristus, barang-barang yang lain harus ditinggalkan di Sikhem.
Ayat 5 mengatakan, "Sesudah itu berangkatlah mereka." Yakub bersandar kekuatan Allah, menyingkirkan segala barang yang tidak bisa memuliakan Tuhan, lalu berangkat ke Betel.
Ayat 6-7 mengatakan, "Lalu sampailah Yakub ke Lus yang di tanah Kanaan- yaitu Betel -, ia dan sernua orang yang bersama-sama dengan dia. Didirikannyalah mezbah di situ, dan dinamainyalah tempat itu El-Betel karena Allah telah menyatakan diri kepadanya di situ, ketika ia lari terhadap kakaknya." Sampai di sini Yakub maju lagi. Di Sikhem, dia berkata, "El-Elohim-Israel", di sini dia berkata, "El-Betel." Artinya, di Sikhem dia menyebut Allah adalah Allah Israel, di sini dia menyebut Allah adalah Allah Betel. Sekarang dia dari individu masuk ke dalam korporat. Di Sikhem dia mengenal Allah adalah Allah Israel, sampai di Betel, dia mengenal Allah adalah "rumah", adalah Allah "rumah Allah". Sampai di Betel, dia baru tahu bejana yang dikehendaki Allah adalah rumah, satu bejana korporat. Allah bukan hanya Allahnya secara individu, Allah lebih-lebih adalah Allah "rumah Allah". Dia sekarang mulai sampai ke tanah yang lapang ini.
Puji syukur kepada Allah, yang Allah inginkan bukanlah batu-batu berserakan, yang Allah inginkan adalah rumah yang menyatakan diriNya. Harus ada kesaksian korporal, baru bisa mencapai tujuan Allah. Kalau hanya perorangan, belum bisa memuaskan hati Allah. Kalaupun ada banyak orang yang bekerja bagi Tuhan secara pribadi, itu belum bisa mencukupi atau memuaskan hati Allah. Perlu ada bejana korporat untuk mencapai tujuan Allah, baru bisa memuaskan hati Allah. Allah kita adalah Allah Betel, adalah Allah gereja.
Di sini Allah kembali menyatakan diri kepada Yakub. Penampakan diri Allah di Betel kali ini, berbeda dengan penampakan diri Allah kepada Yakub di Betel yang dulu. Dulu Allah menyatakan diri kepada Yakub di dalam mimpi, kali ini Allah langsung menyatakan diri kepadanya. Mari kita lihat ayat 9-10, "Setelah Yakub datang dari Padan-Aram, maka Allah menampakkan diri pula kepadanya dan memberkati dia. Firman Allah kepadanya: Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yang akan menjadi namamu. Maka Allah menamai dia Israel." Allah mengubah nama "Yakub" menjadi "Israel," ini bermula dari Pniel. Sekarang Yakub telah sampai di Betel, mulailah pelaksanaan ganti nama. Dimulai di Pniel, sampai rumah Allah terealisasikan. Di Pniel, Allah menanggulangi kehidupan alamiah Yakub, Allah bekerja diatas dirinya sehingga dia mendapatkan luka yang mematikan. Sampai Pniel, yang tertinggal pada dirinya hanyalah ekor dari kehidupan alamiahnya yang sudah tidak hebat lagi. Setelah sampai di Betel, apa yang dimulai demi penerangan yang didapat Yakub secara individual di Pniel, mendapatkan penggenapan di rumah Allah. Sebab itu, saat kehidupan alamiah Anda pribadi dijamah oleh Allah, itulah titik mula Anda menjadi Israel. Setelah Anda sampai ke rumah Allah, mengenal Tubuh Kristus, itulah penggenapan Anda sebagai Israel. Mendapat penerangan, kehidupan alamiah ditanggulangi, adalah permulaan pengalaman di Pniel, sampai Betel (rumah Allah) adalah penggenapan pengalaman Pniel.
Kemudian Allah berkata lagi kepadanya, "Akulah Allah yang Mahakuasa" (ayat 11). Apa yang belum pernah dia dengar di Pniel, sekarang telah didengamya. Di Pniel, Yakub bertanya kepada Allah, "Siapa namamu?" Allah tidak memberitahu dia. Di sini Allah memberitahu namaNya kepadanya, "Akulah Allah yang Mahakuasa." Inilah nama yang disebut ketika Allah menyatakan diri kepada Abraham (Kejadian 17:1). Allah berkata demikian kepada Yakub, artinya: Kamu tidak hanya harus, mengenal dirimu tidak berdaya, juga harus mengenal Aku adalah Mahakuasa. Kamu tidak hanya harus mengenal kemiskinan dirimu, juga harus mengenal kekayaanKu. "Beranak-cuculah dan bertambah banyak; satu bangsa, bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu, dan raja-raja akan berasal dari padamu. Dan negeri ini yang telah Kuberikan kepada Abraham dan kepada Ishak, akan Kuberikan kepadamu dan juga kepada keturunanmu" (ayat 11-12). Ini memberitahu kita, di atas diri Yakub Allah mendapatkan satu bejana yang baru; sekarang ada satu umat di bumi untuk mencapai tujuan Allah. Setelah Allah mengatakan kata-kata ini kepada Yakub, Allah lalu naik meninggalkan Yakub (ayat 13). Dulu, setelah Yakub berjumpa dengan Allah, ia menegakkan satu batu, lalu menyiraminya dengan minyak, dan menyebut tempat itu rumah Allah; saat itu dia sangat takut, merasa bahwa tempat itu sangat menakutkan. Kali ini, setelah Yakub berjumpa dengan Allah di Betel, dia mendirikan tugu batu, tidak hanya menuang minyak di atasnya, juga mempersembahkan korban curahan (ayat 14). Korban curahan adalah mencurahkan anggur sebagai korban; dalam Alkitab, ini menyatakan sukacita. Sekarang Yakub tidak takut lagi, malah bersukacita. Dulu, begitu berjumpa dengan Allah, dia merasa takut; kini, begitu berjumpa dengan Allah, dia merasa sukacita. Ini memperlihatkan kepada kita, bahwa memuji Allah atas kasih karunia keselamatan, mempunyai satu citarasa; memuji Allah setelah daging ditanggulangi, mempunyai citarasa yang lain. Citarasa puji-pujian setelah daging ditanggulangi, tidaklah dimiliki sebelumnya.
Tinggal di Hebron
Ayat 16 mengatakan, "Sesudah itu berangkatlah mereka dari Betel..." Ayat 27 mengatakan, "Lalu sampailah Yakub kepada Ishak, ayahnya di Mamre dekat Kiryat Arba - itulah Hebron - tempat Abraham dan Ishak tinggal sebagai orang asing." Sekarang Yakub sudah sampai di Hebron. Sesudah sampai di sini, pekerjaan Allah di atas dirinya sudah rampung. Sebab itu, dia tinggal di Hebron, tempat Abraham dulu tinggal. Arti "Hebron" adalah "terus di dalam persekutuan." Bukan hanya bersekutu dengan Allah, juga bersekutu dengan anggota lain yang berada di dalam Tubuh Kristus.
Betel bukanlah tempat Yakub untuk terus tinggal, Hebronlah tempat permanen Abraham, Ishak dan Yakub. Artinya, kita perlu mengenal Betel adalah rumah Allah, sama seperti kita perlu mengenal Sikhem adalah kekuatan Allah, tetapi kita bukan hidup dalam pengenalan terhadap rumah Allah, melainkan hidup dalam persekutuan, setiap hari hidup dalam persekutuan.
Sejak saat itu Yakub nampak, tidak ada satu perkara yang bisa dia lakukan sendiri. Semua perkara hanya bisa dilakukan dalam persekutuan. Kalau tidak ada persekutuan, tidak bisa melakukannya. Kalau daging tidak ditanggulangi, selamanya tidak nampak perlunya persekutuan. Banyak orang Kristen sepertinya tidak perlu bersekutu, tidak perlu bersekutu dengan Allah, juga tidak perlu bersekutu dengan anak-anak Allah yang lain. Mereka berbuat demikian ada satu sebab yang besar, yaitu karena daging mereka belum pernah ditanggulangi. Daging kita harus dibereskan dulu, mengenal kehidupan Betel, barulah kita merasa kalau tidak tinggal di Hebron, tidak bisa melewati hari-hari selanjutnya, kalau tidak bisa bersekutu, tidak bisa melewati hari-hari selanjutnya. Persekutuan yang kita bicarakan di sini mengacu kepada suplai kehidupan Kristus. Dari anggota Tubuh yang lain mendapatkan suplai kehidupan Kristus. Kristus yang ada di dalam saudara saudari menyuplai kita, supaya kita bisa maju karena suplai anggota Tubuh yang lain. Inilah yang disebut Hebron. Inilah yang disebut persekutuan. Anak-anak Allah perlu hal ini.
Kalau daging anak-anak Allah belum ditanggulangi, mereka tidak bisa mengenal kehidupan Tubuh Kristus. Meskipun mereka bisa mengerti doktrin tentang Tubuh Kristus, bahkan bisa menjelaskan, bisa menceritakan dengan jelas, tetapi kalau daging mereka belum ditanggulangi, mereka belum bisa mengenal kehidupan itu. Begitu daging ditanggulangi, Anda bisa mengetahui apa yang disebut kehidupan Tubuh Kristus, Anda bisa nampak pentingnya bersekutu. Kalau tidak bersekutu, Anda tidak bisa menempuh hidup, kalau tidak ada anak-anak Allah yang lain, Anda tidak bisa menjadi orang Kristen, kalau tidak ada bantuan dari anakanak Allah yang lain, Anda tidak bisa mendapatkan suplai kehidupan. Saudara saudari, Tubuh Kristus adalah satu fakta, bukan satu doktrin. Bila kita tidak memiliki Kristus, kita tidak bisa hidup; demikian juga, tanpa orang Kristen yang lain, kita tidak bisa hidup.
Sebab itu, kita harus mohon Allah memperlihatkan kepada kita, kita tidak bisa menjadi orang Kristen secara individual, kita harus hidup dalam persekutuan dengan Allah, juga harus hidup dalam persekutuan dengan Tubuh Kristus. Semoga Allah memimpin kita, supaya kita benar-benar bisa memuliakan nama Allah. Kiranya Allah tidak hanya di atas diri Yakub mendapatkan satu bejana, di atas diri kita juga mendapatkan satu bejana.