← Daftar isi Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub · bab 11/12

BAB 11

Kematangan Yakub

Pembacaan Alkitab: Kejadian pasal 37, 42-49

Setelah Yakub di Pniel ditanggulangi oleh Allah, perlahan-lahan dia mulai mengenal kelemahannya sendiri, juga makin hari makin berubah, makin melihat jalannya yang di depan dia; dia melewati Sikhem sampai ke Betel, dan terakhir tinggal di Hebron. Tetapi ini bukan berarti setelah Pniel, Yakub tidak perlu lagi ditanggulangi Allah. Alkitab memberitahu kita, setelah Pniel penanggulangan yang dia terima dari Allah lebih banyak daripada yang lalu. Boleh dikatakan, Yakub adalah orang yang mengalami banyak penderitaan. Ketika dia dari Sikhem ke Betel, dari Betel ke Hebron, dalam sepotongan waktu ini, dia telah mengalami itdak sedikit perkara yang menyedihkan. Misalnya:

Yakub di Sikhem mengalami satu peristiwa yang sangat menyulitkan, yaitu anak perempuannya dinodai oleh Sikhem, anak Hemor, raja negeri itu. Anak-anaknya dengan muslihat membunuh semua laki-laki di Sikhem dan kota itu. Perkara ini membuat Yakub sangat kuatir. Kita melihat lagi pasal 34:30, "Yakub berkata kepada Simeon dan Lewi: Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini, kepada orang Kanaan dan orang Feris, padahal kita ini hanya sedikit jumlahnya; apabila mereka bersekutu melawan kita, tentulah mereka akan memukul kita kalah, dan kita akan dipunahkan, aku beserta seisi rumahku." Yakub kuatir orang yang sebangsa dengan orang Sikhem akan bangkit mengadakan pembalasan, sehingga Yakub dan seisi rumahnya binasa. Inilah kesulitan yang Yakub alami di Sikhem.

Sampai pasal 35, ketika dia pergi ke Betel, kembali menjumpai satu perkara, "Debora, inang pengasuh Ribka mati." (ayat 8). Dia tidak melihat ibunya, namun kalau ada inang ibunya, itu dapat sedikit menghibur hati. Tetapi tidak disangka, inang yang mengasuh ibunya juga mati! Alkitab khusus mencatat demikian, "Dikuburkanlah ia di sebelah hilir Betel, di bawah pohon besar, yang dinamai orang Pohon Besar Penangisan." "Pohon Besar Penangisan" bahasa aslinya adalah "Allombachuth." Jadi kita bisa melihat, Yakub saat itu betapa sedihnya.

Dia mulai berangkat dari Betel, tidak begitu jauh lagi dari Efrata, dia menjumpai perkara yang lebih menyedihkan, "Bersalinlah Rahel dan bersalinnya itu sangat sukar . . . Dan ketika ia hendak menghembuskan nafas - sebab ia mati kemudian-diberikannyalah nama Ben-Oni kepada anak itu, tetapi ayahnya menamainya Benyamin. Demikianlah Rahel mati, lalu ia dikuburkan di sisi jalan ke Efrata, yaitu Betlehem. Yakub mendirikan tugu di atas kubumya; itulah tugu kubur Rahel sampai sekarang" (ayat 16-20). Isteri yang paling dia sayangi mati di tengah jalan. Di atas kubur Rahel, Yakub mendirikan satu tugu, menyatakan cerita kesedihan hatinya.

Ketika dia sampai di Migdal-Eder, lagi-lagi menjumpai satu perkara yang sangat menyedihkan hati, yaitu anaknya Ruben, tidur dengan Bilha, gundiknya (ayat 22), ini satu perkara yang sangat tidak mengenakkan bagi dia.

Setelah dia melewati banyak perkara itu, sampailah dia ke Hebron - tempat ayahnya, Ishak. Alkitab tidak menyinggung Ribka, ibunya, mungkin ibunya sudah mati. Inilah penanggulangan yang serius dari Allah terhadap Yakub. Ketika dia muda, ibunya sangat mengasihi dia, ibunya menyuruh dia bagaimana merampas berkat yang seharusnya diterima oleh Esau kakaknya, sekarang ibu yang mengasihi dia tidak ada. Perkara sedih yang dia alami sungguh tidak sedikit.

Sampai di sini, boleh dikatakan kita sudah membaca habis potongan ketiga sejarah Yakub. Dalam potongan pertama sejarahnya, kita nampak karakternya; dalam potongan kedua sejarahnya, kita nampak ujian yang dia terima, penanggulangan yang dia terima; dalam potongan ketiga sejarahnya, kita nampak Allah bukan saja menanggulangi dia, Allah juga membereskan dirinya, membereskan kehidupan alamiahnya, setelah lagi-lagi alamiahnya mendapat pemberesan yang mendasar, kita nampak di atas dirinya masih tetap ada penanggulangan Allah. Allah demikian membereskan dia, agar di atas dirinya terbentuk satu karakter yang dulu tidak pernah dia miliki.

Mulai pada pasal 37, pada masa tua Yakub, boleh dikatakan adalah potongan keempat sejarah Yakub, juga boleh dikatakan adalah masa matangnya Yakub, adalah masa Yakub yang paling gemilang dalam sepanjang hidupnya. Amsal 4:18 mengatakan, "Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari." Dia adalah orang yang sehari lewat sehari makin bercahaya terang, sampai ia meninggal dunia. Pada kurun waktu ini, kurang lebih 40 tahun lamanya, meskipun Yakub tidak melakukan banyak perkara, tetapi di depan Allah dia menjadi seorang yang penuh rahmat, penuh kasih.

Dalam Alkitab kita bisa nampak, orang Kristen pada masa tuanya tidak perlu memiliki keadaan yang suram. Dalam Perjanjian Baru, tiga rasul yang paling baik, menjelang meninggal dunia, masih sangat terang. Ketika Petrus menulis surat rasulinya yang kedua, ia sudah hampir meninggalkan kemahnya, tetapi mumpung dia masih di dalam kemah, ia masih mengingatkan saudara-saudara, masih mendorong saudara-saudara, khususnya menyinggung tentang dia pernah dengan mata kepala sendiri melihat kemuliaan Tuhan (II Petrus 1:13-18). Boleh dikatakan keadaan terang di atas dirinya sedikitpun tidak suram. Rasul Paulus berkata, "Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada harinya . . . " (II Timotius 4:6-8). Dari perkataan-perkataan ini kita bisa nampak, pengharapannya terhadap Tuhan masih begitu terang. Yohanes paling mencolok, pada usia tuanya, ia baru menulis kitab Injil, menulis surat kiriman, menulis kitab Wahyu. Dan kitab Injil yang ia tulis mengatakan, "Pada mulanya adalah Firman," (Yohanes 1:1). Dalam surat kirimannya, ia mengatakan, "Apa yang telah ada sejak semula. . . . tentang Firman hidup (I Yohanes 1:1). Dalam kitab Wahyu mengatakan, "Apa yang telah kau lihat, baik yang akan terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini" (Wahyu 1:19). Boleh dikatakan, dia menulis dari "sejak semula" terus sampai "kekal abadi." Yohanes yang tua sedikit pun tidak layu. Sebab itu, pada usia tua kita, kita tidak seharusnya layu. Sejarah masa tua Salomo (I Raja-raja 11:1-8) bukanlah sejarah yang harus kita miliki pada masa tua kita. Allah memperlihatkan pada kita, hari-hari masa tua seharusnya adalah hari-hari yang limpah ruah. Meskipun Daud pernah berdosa, tetapi kesudahannya masih lebih baik daripada permulaannya. Kesudahannya adalah mempersiapkan bahan untuk membangun bait Suci. Meskipun Petrus pernah tiga kali menyangkal Tuhan, tetapi kesudahannya masih tetap untuk Tuhan. Meskipun Markus pernah sekali karena takut kesulitan mengundurkan diri (Kisah Para Rasul 13:13; 15:37-38), tetapi Injil Markus masih ditulis olehnya, dan di kemudian dia masih berguna bagi Paulus (II Timotius 4:11). Sejarah orang-orang ini memberitahu kita, bahwa pada potongan perjalanannya yang terakhir, mereka masih bisa dengan baik-baik menempuhnya.

Kita kembali melihat diri Yakub. Pada mulanya dia betul-betul licik sekali, tetapi akhirnya dia menjadi seorang yang menyenangkan, menjadi seorang yang berguna di tangan Allah. Kalau kita membandingkan Yakub dengan Abraham dan Ishak, boleh dikatakan kesudahan Yakub lebih baik daripada kesudahan Abraham dan kesudahan Ishak. Pada masa tua Yakub, dia memancarkan terang yang tidak pernah kita bayangkan. Mungkin kita mengira orang yang seperti Yakub ini tidak begitu berpengharapan, dia tidak layak dibina. Kalaupun bisa baik, baiknya hanya sedikit saja, tidak bisa berguna di tangan Allah. Tetapi menurut perorangan, kesudahan Abraham dan kesudahan Ishak masih tidak sebaik kesudahan Yakub. Masa tua Abraham dan Ishak seolah-olah agak suram, tetapi pada masa tuanya, Yakub bercahaya terang, berbuah. Pada masa tuanya, Allah tertampil dari dirinya, hal demikian tidak terdapat pada masa mudanya. Sekarang mari kita melihat sedikit hal mengenai masa tua Yakub.

YAKUB YANG MENJADI TENANG

Mulai Kejadian 37, Yakub mengundurkan diri; Yakub, manusia ini, sudah pensiun. Dulu manusia Yakub ini sepanjang hari terus bergerak, satu perkara baru selesai, ada lagi satu perkara. Boleh dikatakan Yakub adalah wakil dari kekuatan daging. Orang lain tidak bisa menyuruh Yakub tidak bergerak, tidak bisa menyuruh Yakub tidak bicara. Ketika dia di Pniel, Allah menjamah dia, setelah dia sampai di Betel, Allah menggenapi dia. Sekarang dia sampai di Hebron, dia mundur ke belakang. Mulai pasal 37, adakalanya dia datang ke depan mengucapkan beberapa kata, adakalanya dia datang ke depan melakukan satu perkara, tetapi pada waktu-waktu yang biasa, dia mundur ke belakang, dia telah menjadi tenang.

Kalau kita mengenal manusia Yakub ini, kita akan mengetahui bahwa semula dia adalah orang yang mempunyai semangat yang tidak bisa berhenti. Ada orang Kristen juga demikian. Kalau Anda menyuruhnya diam dua hari, ia tidak bisa, karena ia tidak bisa berhenti. Tetapi pada masa tuanya, Yakub menjadi tenang. Yakub tidak lagi aktif berdasarkan kehidupan alamiahnya. Inilah buah-buah Roh Kudus di atas dirinya. Tentunya ini bukan berarti sejak itu Yakub tidak bekerja lagi; melainkan Yakub tidak lagi bekerja berdasarkan kehidupan alamiahnya. Ini bukan berarti setelah kehidupan alamiah kita dibereskan, kita boleh menjadi orang yang malas; juga bukan berarti, orang yang bekerja sedikit adalah orang yang tinggal di Hebron. Kalau ada orang yang menganggap untuk menjadi rohani harus sedikit bekerja, bahkan tidak bekerja sama sekali, ini adalah salah besar. Yakub menjadi tenang yang kita bicarakan di sini ialah kekuatan alamiah Yakub sudah berhenti. Yakub begitu kembali ke rumah ayahnya, begitu tinggal di Hebron, dia menjadi tenang, dia mundur ke belakang. Pekerjaan Roh Kudus telah rampung di atas diri Yakub.

Ciri yang paling besar setelah daging dibereskan oleh Allah adalah daging menghentikan aktivitas. Orang seperti Yakub yang mempunyai semangat besar, juga bisa tenang, tidak beraktivitas. Kalau orang malas mundur ke belakang, itu tidak mengherankan; kalau Tuhan ingin membereskan dia, mungkin akan menyeret dia ke depan untuk bekerja. Tetapi Yakub adalah seorang yang terus bergerak, terus berdasarkan diri sendiri mendesak orang yang di depannya, sekarang malah mundur ke belakang. Ini adalah hasil pekerjaan Allah di atas dirinya.

Kita tahu, Yakub adalah orang yang licik, orang yang pandai membuat tipu muslihat. Orang yang demikian selalu tidak mempedulikan orang lain. Kita tidak bisa mendapatkan orang yang pandai mencari akal dan siasat yang sungguh-sungguh mengasihi orang lain. Orang yang terus mencari akal membereskan orang lain tujuannya tidak lain adalah merugikan orang lain, dan menguntungkan diri sendiri. Yang menguntungkan diri sendiri dilakukan, yang tidak menguntungkan diri sendiri tidak dilakukan; selamanya tidak bisa bersimpati kepada orang lain, selamanya tidak bisa mengasihi orang lain. lnilah Yakub. Sifat Yakub hanya mempedulikan diri sendiri, tidak mempedulikan orang lain. Yakub tidak bisa mengasihi orang lain, kasihnya terhadap Rahel pun adalah kasih yang egois. Tetapi Allah menanggulangi Yakub. Sejak dia meninggalkan rumahnya, dia mengalami banyak sengsara, menemui banyak kesulitan. Ketika dia kembali, orang yang dia kasihi satu persatu meninggal dunia; Dina, anak perempuannya dinodai; Ruben, anak sulungnya juga menodai tempat tidurnya; apa yang dialami Yakub boleh dikatakan cukup menyedihkan hatinya! Ketika dia tinggal di Hebron, boleh dikatakan, dia tidak memiliki apa-apa lagi. Tetapi setelah melewati kesulitan-kesulitan ini, sedikit demi sedikit dia menjadi matang. Sekarang dia tidak seperti dulu yang bergerak berdasarkan diri sendiri, tidak mau istirahat, sekarang dia menjadi tenang, dia mundur ke belakang.

YAKUB YANG PENUH DENGAN KASIH

Sekarang Yakub sudah mulai menjadi orang yang memiliki kasih, anak-anaknya di luar menggembala domba, dia mengutus Yusuf melihat mereka. Apa yang dia keijakan menyatakan dia adalah orang tua yang dengan kasih merawat orang muda. Dia takut anak- anaknya di luar menghadapi bahaya, lalu menyuruh Yusuf melihat mereka, di luar dugaannya, Yusuf terjual. Yakub tidak tahu Yusuf terjual, karena anak-anaknya membawa jubah Yusuf yang maha indah yang telah dilumuri darah untuk menipu dia. "Ketika Yakub memeriksa jubah itu, ia berkata: Ini jubah anakku; binatang buas telah memakannya; tentulah Yusuf telah diterkam" (Kejadian 37:33). Seorang yang tua mengatakan, "tentulah Yusuf telah diterkam," ini betapa menyedihkan. Kemudian, "Yakub mengoyakkan jubahnya, Lalu mengenakan kain kabung pada pinggangnya dan berkabunglah ia berhari-hari lamanya karena anaknya itu. Sekalipun anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan dia, tetapi ia menolak dihiburkan, serta katanya: Tidak! Aku akan berkabung, sampai aku turn mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati" (ayat 34-35). Pada diri Yakub, Allah selangkah demi selangkah mengurangi, selangkah demi selangkah memotong, sekarang bahkan Yusuf pun diambil. Apa yang tercantum dalam potongan akhir Kejadian pasal 37 sungguh peristiwa yang menyedihkan hati. Sekali lagi Yakub di tangan Allah mengalami pemberesan, diasah, karena Allah ingin membuat dia menjadi seorang yang penuh kasih, menjadi seorang yang penuh simpati.

YAKUB YANG LEMAH LEMBUT

Kemudian, Yusuf di tanah Mesir menjadi tuan atas seluruh keluarga Firaun dan menjadi mangkubumi seluruh tanah Mesir. Tetapi Yakub di tanah Kanaan mengalami bala kelaparan. Yakub menemui kesulitan lagi. Sekarang dia menyuruh anaknya pergi untuk membeli makanan ke Mesir, hanya Benyamin, anaknya yang paling kecil tidak boleh pergi. Ketika anak-anaknya ke Mesir membeli gandum, mereka dikenal oleh Yusuf, dan Yusuf sengaja menahan Simeon di Mesir, menyuruh mereka membawa saudara kecilnya, Benyamin datang, baru akan membebaskan Simeon. Anak-anaknya kembali ke rumah memberitahu hal ini kepada Yakub, Yakub berkata kepada mereka, "Kamu membuat aku kehilangan anak-anakku: Yusuf tidak ada lagi, dan Simeon tidak ada lagi, sekarang Benyamin pun hendak kamu bawa. Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu!" (Kejadian 42:36). Di sini kita nampak Yakub yang lemah lembut, bukan lagi Yakub yang dulu. Di sini ada seorang yang hidup di bawah tangan Allah, yang melewati sehari demi sehari kehilangan kehidupan alamiahnya; di depan Allah dia menjadi orang yang lembut, yang penuh kasih.

Tetapi hebat sekali kelaparan di negeri itu, makanan yang mereka bawa dari Mesir sudah habis dimakan. Kalau mau membeli gandum lagi, harus menurut apa yang dikatakan mangkubumi Mesir itu, yakni membawa Benyamin bersama mereka. Sekarang Yakub tidak berdaya lagi, anak bungsu yang paling dikasihinyapun harus direlakan pergi. Sampai di sini, catatan Alkitab mengatakan, "Lalu Israel, ayah mereka, berkata kepadanya: Jika demikian, perbuatlah begini . . ." (Kejadian 43:11). Alkitab menyebut nama Yakub sebagai Israel. "Jika demikian." Kata-kata ini menyatakan bahwa dia kini adalah orang yang lembut, tidak sebagai orang yang mempertahankan diri lagi. Dulu kalau dia ingin begini, harus begini, sekarang tidak lagi demikian. "Jika demikian, perbuatlah begini . . . " Sekarang Yakub sudah lunak, bisa mendengarkan perkataan orang lain. "Ambillah hasil yang terbaik dari negeri ini dalam tempat gandummu dan bawalah kepada orang itu sebagai persembahan: sedikit balsam dan sedikit madu, damar dan damar ladan, buah kemiri dan buah badam." Sekarang orang tua ini telab memiliki hati yang balk. "Dan bawalah uang dua kali lipat banyaknya: uang yang telah dikembalikan ke dalam mulut karung-karungmu itu haruslah kamu bawa kembali; mungkin itu suatu kekhilafan" (ayat 12). Dia sekarang mau mengembalikan uang yang salah terbawa, tidak seperti dulu yang selalu ingin mengambil barang orang lain dan menganggapnya sebagai miliknya sendiri. "Bawalah juga adikmu itu, bersiaplah dan kembalilah pula kepada orang itu" (ayat 13). Dia mengijinkan Benyamin dibawa pergi, selanjutnya Yakub berkata, "Allah Yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh belaskasihan kepadamu, supaya ia membiarkan saudaramu yang lain itu beserta Benyamin kembali. Mengenai aku ini, jika terpaksa aku kehilangan anak-anakku, biarlah juga kehilangan!" (ayat 14). Yakub yang sekarang berbeda dengan Yakub yang dulu. Di sini Allah mengambil barang yang paling ia kasihi, yaitu anak yang bungsu, Benyamin, harus meninggalkan dia. Dia seumur hidup menderita, sekarang, dia tidak mempunyai apa-apa lagi. Inilah pengupasan Allah. Dia berkata, "Jika terpaksa aku kehilangan anak-anakku, biarlah juga kehilangan! Aku hanya mempunyai satu harapan, semoga Allah Yang Mahakuasa, yaitu Allah yang kukenal di Betel, membuat kamu mendapat belaskasihan di depan orang itu, melepaskan saudaramu itu dan membawa Benyarnin kembali." Saudara saudari, kalau Anda duduk di sebelah Yakub dan membaca sejarahnya, Anda belum bisa memahami dia. Tetapi kalau Anda masuk ke dalam Yakub, membaca sejarahnya, Anda akan mengerti bagaimanakah Yakub yang sekarang ini. Dia asalnya adalah orang yang pintar, orang yang sangat licik dan banyak akal; kini, dia menjadi orang yang demikian lunak, orang yang demikian Iemah lembut, orang yang demikian penuh kasih. Dari sini Anda bisa memahami berapa banyak pekerjaan Allah di atas dirinya.

YAKUB YANG BERCAHAYA

Hal-hal di atas masih kurang menyatakan terang Yakub, selanjutnya, boleh dikatakan saatnya Yakub memancarkan cahaya. Ketika untuk kedua kalinya anak-anaknya kembali dari Mesir dan memberitahu kepadanya, "Yusuf masih hidup, bahkan dialah yang menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir" (Kejadian 45:26). Saat itu hall Yakub tetap dingin, karena ia tidak dapat mempercayai mereka. Tetapi setelah ia nampak kereta yang dikirimkan oleh Yusuf untuk menjemputnya, barulah ia bersemangat. "Kata Israel (aslinya): Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati." (Kejadian 45:28). Di sini kita harus memperhatikan cantuman Alkitab: kapan menyebut dia sebagai Yakub, dan kapan menyebut dia sebagai Israel. Di sini kita nampak dia telah menjadi orang yang lemah lembut. Kalau Yakub yang dua puluh atau empat puluh tahun yang lalu menghadapi perkara ini, mungkin dia akan dengan hebat memarahi anaknya, "Mengapa kalian menipu aku sekian lama!" Tetapi dia sekarang berkata, "Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati." Di sini kita menjamah kelemah-lembutan, di sini kita menjamah kematangan, di sini kita menjamah satu karakter yang telah melewati ujian dan pembakaran. Sekarang telah ada susunan Roh Kudus di dalam Yakub yang tidak dimiliki oleh Yakub yang dulu.

Meskipun Yakub berkata, "Aku mau pergi melihatnya," tetapi di sini timbul satu masalah: "Benarkah aku boleh pergi ke Mesir? Bolehkah aku karena Yusuf turun ke Mesir? Nenekku, Abraham, ketika pergi ke Mesir telah berbuat dosa, dimarahi, kemudian kembali; ayahku, Ishak, ketika menjumpai bala kelaparan ingin turun ke Mesir, Allah memperingati dia supaya jangan turun ke Mesir, lalu dia menuruti perintah Allah dan Allah memberkati dia. Sekarang aku meneruskan Abraham dan Ishak mendapatkan janji, apakah aku boleh karena Yusuf turun ke Mesir? Memang, Yusuf yang paling kukasihi, dia sebagai mangkubumi di tanah Mesir, tidak bisa datang ke tempatku ini, lalu, dapatkah hubungan alamiah antara bapa dengan anak bisa menjadi alasan bagiku untuk turun ke Mesir? Kalau aku pergi ke Mesir, bagaimana dengan perintah Allah? Janji Allah akan berubah menjadi apa? Tanah warisan Allah akan menjadi bagaimana? Kalau aku pergi ke Mesir, bisakah membuat garis ini terhalang? Garis Abraham, Ishak, apakah bisa digenapkan?" Ini satu masalah. Yakub sendiri takut salah, sebab itu dia pergi ke Bersyeba, lalu berhenti di sana, mempersembahkan korban kepada Allah (Kejadian 46:1).

Di sini pertama kali Yakub memancarkan cahaya terang yang dulu belum pernah ada. Ketika ia membiarkan Benyamin pergi ke Mesir, ia berkata, "Allah Yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh belaskasihan kepadamu, supaya ia membiarkan saudaramu yang lain itu beserta Benyamin kembali." Saat itu sudah menyatakan keadaan yang dulu belum pernah ada. Sekarang, ia memikirkan janji Allah, rencana Allah, warisan Allah, perjanjian Allah. la takut, sebab itu ia berangkat ke Bersyeba, "Lalu dipersembahkannya korban sembelihan kepada Allah Ishak, ayahnya." Ini semakin menyatakan dia sangat berbeda dengan dulu. la mempersembahkan korban, artinya, seolaholah ia berkata kepada Allah, "Aku melayaniMu, segala milikku ada di atas mezbah. Aku boleh pergi, juga boleh tidak pergi. Di hadapanMu aku berdiri pada kedudukan ini." Kalau kita melihat konteks dari perkataan Allah kepadanya, kita bisa mengetahui perasaan Yakub saat itu. "Berfirmanlah Allah kepada Israel dalam penglihatan waktu malam: Yakub, Yakub! Sahutnya: Ya, Tuhan. Lalu firmanNya: Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana" (Kejadian 46:2-3). Ini membuktikan, pada saat itu Yakub merasa takut. Syukur kepada Allah, rasa takut ini menyatakan pekerjaan yang telah Allah garap di atas dirinya. Yakub kuatir, apakah dia karena Yusuf boleh pergi ke Mesir. Yang ia capai di sini tidak dicapai oleh Abraham, juga tidak dicapai oleh Ishak. Ketika Abraham mengalami kelaparan, ia dengan aktif pergi ke Mesir. Ketika Ishak mengalami bala kelaparan, juga ingin pergi ke Mesir; untung dihalangi oleh Allah. Tetapi di sini ada satu orang, Allah tidak menghalanginya. Dia sendiri berhenti di tengah jalan, dia sendiri memikirkan janji dan perjanjian Allah, lalu takut. Apakah yang dia lakukan? Dia hanya bisa melakukan satu perkara, yaitu mempersembahkan korban kepada Allah. Mezbah adalah tempat seharusnya dia berada. Sampai Allah berkata kepadanya, "Janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana. Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali" (Kejadian 46:3-4), demikian dia baru berani berangkat dari Bersyeba. Inilah penyusunan Roh Kudus! Dia telah menjadi orang yang lain, yang sangat berbeda dengan dulu. Di dalam orang ini sudah ada penyusunan Roh Kudus, sudah ada tumpuan kerohanian, sudah ada kesaksian kerohanian.

YAKUB YANG BERDIRI TEGUH PADA KEDUDUKANNYA

Setelah ia tiba di Mesir, bertemu dengan Yusuf, lalu tinggal di Gosyen, kemudian Yusuf menuntun dia bertemu dengan Firaun. Kejadian 47:7 mengatakan, "Yusuf membawa juga Yakub, ayahnya, menghadap Firaun. Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun." Ini satu gambaran yang betapa indah! Meskipun Yakub adalah ayah mangkubumi, bagaimanapun dia sedikit lebih kecil daripada Firaun. Di pihak lain, Yakub adalah seorang yang melarikan diri, menghindari kelaparan, datang ke tempat Firaun, masih perlu bersandar kepada Firaun untuk mendapatkan makanan, hidup bersandar Firaun, dia juga perlu menengadah kepada Firaun untuk hal-hal yang lain lagi, yang belum ia ketahui berapa banyaknya. Kalau Yakub ini adalah Yakub yang dulu, begitu menemui Firaun, apakah yang akan ia perbuat? Dulu ketika dia bertemu dengan kakaknya sendiri, dengan kasihan dia menyebut kakaknya "tuanku," menyebut dirinya "hambamu." Kini dia pergi menemui raja Mesir, bukankah dia harus lebih menjunjung tinggi Firaun? Tetapi dia sekarang sudah berbeda dengan dulu. Begitu masuk, "Lalu Yakub memohon berkat bagi Firaun." Ibrani 7:7 mengatakan, "Bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi." Yakub sedikitpun tidak merasakan bahwa sekarang dia adalah orang yang mengungsi, orang yang menghindari satu bala kelaparan; dia sedikitpun tidak merasakan kedudukan Firaun betapa besar dan tinggi. Saat itu, meskipun Mesir adalah satu negara yang paling kuat, Firaun adalah raja satu negara yang paling kuat ini, Firaun juga sebagai orang yang memberi budi kepada Yakub, tetapi Yakub di depan Firaun tidak kehilangan kedudukannya. Dia nampak, meskipun pada aspek duniawi kedudukan Firaun besar, tetapi di aspek rohani kedudukan Firaun adalah kecil. Sebab itu, dia bisa meminta berkat bagi Firaun. Dia berdiri pada kedudukan rohani.

Kemudian bertanyalah Firaun kepada Yakub, "Sudah berapa tahun umurmu?" Jawab Yakub kepada Firaun, "Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya, tidak mencapai umur nenek moyangku, yakni jumlah tahun mereka mengembara sebagai orang asing" (ayat 8-9). Sekarang Yakub berperasaan, dia berkata, "Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya, yakni tidak mencapai umur nenek moyangku." Dia mengetahui keadaannya sendiri, sedikitpun dia tidak merasakan dirinya besar atau sangat pandai.

"Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun" (ayat 10). Ketika dia minta diri, dia memberi berkat lagi kepada Firaun. Membaca sampai di sini, kita tidak bisa tidak mengakui, bahwa Yakub sungguh simpatik.

Sifat bawaan Yakub adalah mau menang sendiri; egois, tamak. Sekarang dia di Mesir, Firaun diberkati olehnya, mangkubumi Mesir adalah anaknya, dia mudah sekali dari diri Firaun atau anaknya mendapatkan kemuliaan, tetapi dia tidak berbuat demikian. Sebagaimana Yakub yang tua di tanah Kanaan mundur ke belakang, sekarang di Mesir, dia juga mundur ke belakang. Dalam waktu-waktu ini, Yakub masih dengan sederhana mundur ke belakang. Kalau Yakub yang dulu, mempunyai kesempatan yang baik ini, tidak tabu akan berbuat perkara apa saja. Dulu ketika dia tidak ada jalan keluar, masih berusaha mencari akal; dia menjumpai Laban yang kikir, masih bisa mencari akal untuk mendapat untung; tetapi waktu-waktu itu sudah lewat, Yakub bukan Yakub lagi, Yakub sudah menjadi Israel.

Membaca sejarah masa tua Yakub, kita akan merenungkan keadaan masa mudanya. Pada masa mudanya dia begitu repot, begitu banyak akal, sekarang dia tidak banyak berbicara, tidak banyak aktivitas, dia adalah Israel yang mundur ke belakang. Inilah pekerjaan Allah. Sering kali pekerjaan Allah yang paling besar ialah membuat kita sendiri tidak bergerak, kita sendiri tidak berbicara, kita sendiri tidak mengeluarkan pendapat. Sekarang Allah pada diri Yakub telah merampungkan pekerjaanNya, sebab itu, kita nampak Yakub sendiri kini tidak berbicara, tidak beraktivitas, semuanya tidak ada.

"KIAN BERTAMBAH TERANG SAMPAI REMBANG TENGAH HARI"

Yakub tinggal di Mesir selama tujuh belas tahun. Waktunya tinggal di bumi sudah hampir penuh. Dia tinggal di Gosyen selama tujuh belas tahun, tidak terjadi perkara apa-apa; dengan sederhana dia menempuh hari-harinya. Tetapi selama tujuh belas tahun ini, dia bukannya berkarat, melainkan terus maju, sehari lewat sehari dia semakin terang, betul-betul adalah "kian bertambah. terang sampai rembang tengah hari." Menjelang meninggal dunia, dia bercahaya terang; boleh dikatakan bercahaya sampai puncaknya. Semoga Tuban memberi kita kesudahan yang sama dengan dia.

"Dan Yakub masih hidup tujuh belas tahun di tanah Mesir, maka umur Yakub, yakni tahun-tahun hidupnya, menjadi seratus empat puluh tujuh tahun. Ketika hampir waktunya bahwa Israel akan mati, dipanggilnyalah anaknya, Yusuf, dan berkata kepadanya: Jika aku mendapat kasihmu, letakkanlah kiranya tanganmu di bawah pangkal pahaku, dan bersumpahlah, bahwa engkau akan menunjukkan kasih dan setia kepadaku. Janganlah kiranya kuburkan aku di Mesir, karena aku mau mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangku. Sebab itu angkutlah aku dari Mesir dan kuburkanlah aku dalam kubur mereka. Jawabnya: Aku akan berbuat seperti katamu itu" (Kejadian 47:28-30).

Hal ini sangat mengherankan, ketika Yakub tinggal di Mesir, belum pernah berkata kepada anaknya, "Kamu harus bagaimana memberiku tempat tinggal, kamu harus bagaimana memberiku keperluan kehidupan," tetapi sekarang dia berkata kepada anaknya, "Janganlah kiranya kuburkan aku di Mesir, karena aku mau mendapat perhentian bersamasama nenek moyangku. Sebab itu angkutlah aku dari Mesir dan kuburkanlah aku dalam kubur mereka." Ketika dia di Mesir, dia tidak memperhatikan makan apa, berpakaian apa; terhadap hal-hal itu dia tidak ada masalah. Anaknya memberikan dia apa, dia menerima. Tetapi mengenai tempat penguburan setelah dia mati, ada satu masalah yang tidak dia lepaskan, karena masalah ini bersangkut paut dengan janji Allah, bersangkut paut dengan tanah yang dijanjikan Allah, bersangkut paut dengan negara yang akan didirikan oleh Allah. Dia memperhatikan persoalan setelah dia meninggal. Dulu Yakub adalah orang yang hanya memperhatikan kepentingan dirinya sendiri, tetapi kini yang dia perhatikan tidak lagi persoalan pribadi, melainkan persoalan yang berhubungan dengan perjanjian antara Allah dengan keluarganya, yaitu persoalan kedudukan Abraham, Ishak dan Yakub dalam kesaksian Allah. Yakub yang dulu, adalah Yakub yang hebat, pernah menegor anak-anaknya, Simeon dan Lewi (Kejadian 34:30). Sekarang dia dengan lembut memanggil Yusuf supaya datang. Dulu, ketika Yusuf memberitahukan mimpinya, yang nampak matahari, bulan, dan sebelas bintang menyembah dia, Yakub menegor dia dan berkata, "Masakah aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?” (Kejadian 37:10). Sekarang, ketika dia memanggil Yusuf datang, dia dengan nada yang lembut berkata kepadanya, "Jika aku mendapat kasihmu, . . ." Orang ini sungguh telah matang. Dia berkata, "Letakkanlah kiranya tanganmu di bawah pangkal pahaku, . . . menunjukkan kasih setia kepadaku: Janganlah kiranya kuburkan aku di Mesir." Dengan kata-kata yang paling lembut, dia mengatakan perkara yang paling penting. Selanjutnya dia berkata, "Karena aku mau mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangku. Sebab itu angkutlah aku dari Mesir dan kuburkanlah aku dalam kubur mereka." Dari perkataan-perkataan ini, kita dapat nampak, bahwa Allah telah menyusun satu karakter yang baru di atas diri Yakub.

Kejadian selanjutnya sangat penting dan berharga: "Lalu sujudlah Israel di sebelah kepala tempat tidurnya" (Kejadian 47:31). "Di sebelah kepala tempat tidurnya" atau "menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya." Surat Ibrani juga menyinggung hal ini, ". . . lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya" (Ibrani 11:21). Kita percaya, sejak Yakub pincang, dia pasti memerlukan tongkat. Tongkat, di satu pihak menyatakan bahwa dia adalah seorang yang pincang, di pihak lain juga menyatakan bahwa dia adalah seorang pengembara. Sekarang dia menyembah Allah sambil bersandar pada tongkatnya, artinya dia berkata kepada Allah, "Segala yang Engkau perbuat atas diriku, tidak ada satupun yang bukan paling baik, karena itu, aku mau bersujud menyembahMu."

Sampai Kejadian pasal 48, dia sakit. Yusuf membawa kedua anaknya menemui Yakub. Yakub berkata kepada Yusuf, "Allah, Yang Mahakuasa telah menampakkan diri kepadaku di Lus di tanah Kanaan dan memberkati aku serta berfirman kepadaku: Akulah yang membuat engkau beranak cucu, dan Aku akan membuat engkau bertambah banyak dan menjadi sekumpulan bangsa-bangsa; Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu untuk menjadi miliknya sampai selama-lamanya" (ayat 3-4). Dia mengenal nama Allah "Yang Mahakuasa". Yang diingatnya sekarang, bukanlah bagaimana dia berebutan dengan kakaknya, bagaimana dia mendapatkan hak kesulungan, bagaimana dia mendapatkan berkat yang akan diberikan kepada kakaknya, dan sebagainya. Yang kini diingatnya adalah hubungan antara dirinya dengan Allah.

Selanjutnya dia berkata, "Maka sekarang kedua anakmu yang lahir bagimu di tanah Mesir, sebelum aku datang kepadamu ke Mesir, akulah yang empunya mereka; akulah yang akan empunya Efraim dan Manasye sama seperti Ruben dan Simeon. Dan keturunanmu yang engkau peroleh sesudah mereka, engkaulah yang empunya, tetapi dalam pembagian warisan nama mereka akan disebutkan berdasarkan nama kedua saudaranya itu. Kalau aku, pada waktu perjalananku dari Padan, aku kematian Rahel di tanah Kanaan di jalan, ketika kami tidak berapa jauh lagi dari Efrata, dan aku menguburkannya di sana, di sisi jalan ke Efrata - yaitu Betlehem" (ayat 5-7). Inilah perkara yang dia ingat. Di sini kita menjamah manusianya; kita menjamah bagaimana sikapnya terhadap Allah, kita menjamah bagaimana dia menjadi manusia. Dengan jelas ini menyatakan, bahwa dia tidak sama lagi dengan dulu, sekarang dia adalah orang yang penuh perasaan, orang yang lemah lembut.

"Ketika Israel melihat anak-anak Yusuf itu, bertanyalah ia: Siapakah ini? Jawab Yusuf kepada ayahnya: Inilah anak-anakku yang telah diberikan Allah kepadaku di sini. Maka kata Yakub: Dekatkanlah mereka kepadaku, supaya kuberkati mereka" (ayat 8-9). Ketika dia memberkati kedua anak Yusuf, dia meletakkan tangan kanannya ke atas kepala Efraim, dan tangan kirinya di atas kepala Manasye. Efraim adalah anak kedua, Manasye adalah anak sulung; tetapi Israel justru meletakkan tangan kanannya ke atas kepada Efraim, dan meletakkan tangan kirinya ke atas kepala anak sulung; seolah telah terbalik. Melihat ini Yusuf berkata, "Janganlah demikian, ayahku" (ayat 18). Bagaimana jawaban Israel? Israel menjawab, "Aku tahu, anakku, aku tahu" (ayat 19). Ini memperlihatkan kepada kita, bahwa apa yang tidak diketahui oleh Ishak, diketahui oleh Yakub; Yakub jauh lebih jelas daripada Ishak. Ketika Ishak memberkati anaknya, ia memberkati dengan tertipu anaknya. Israel memberkati anak kedua Yusuf, dia lakukan dengan jelas, dia sendiri tahu dengan pasti. Pada masa tuanya, mata Ishak telah kabur, demikian juga dengan Yakub. Mata lahiriah Ishak kabur, mata batiniah Ishak juga kabur; tetapi, meskipun mata lahiriah Israel telah kabur, mata batiniahnya tidak kabur. Israel berkata, "Aku tahu, anakku, aku tahu." Dia tahu, bahwa Allah akan mengangkat Efraim lebih tinggi daripada Manasye; Allah mau supaya yang besar melayani yang kecil. Di sini ada seorang yang telah masuk ke dalam pikiran Allah. Di sini ada seorang yang memiliki persekutuan sedemikian rupa dengan Allah, sehingga mengenal Allah, sehingga dapat melampaui kelemahan tubuh. Apa yang tidak bisa dilihat oleh mata lahiriah, telah dilihat oleh mata batiniah. Israel sungguh telah bercahaya sampai pada puncaknya!

Setelah selesai memberkati, Yakub memperlihatkan kepada mereka, bahwa Mesir bukanlah rumah mereka. Kemudian berkatalah Israel kepada Yusuf, "Tidak lama lagi aku akan mati, tetapi Allah akan menyertai kamu dan membawa kamu kembali ke negeri nenek moyangmu" (ayat 21). Maksud Israel, "Meskipun kalian sangat berhasil di Mesir, tetapi Mesir adalah tempat tinggal sementara kalian; kita memiliki tujuan Allah, kita memiliki janji Allah, kita adalah umat Allah. Setelah aku mati, Allah pasti menyertai kalian, dan akan memimpin kalian kembali ke Kanaan, kalian harus mencapai tujuan Allah."

Kemudian Yakub memanggil semua anak-anaknya, memberitahu mereka apa yang akan mereka alami di kemudian hari. Ketika dia memberitahukan apa yang akan terjadi pada did kedua belas anaknya kelak, dia juga menyinggung kelakuan mereka yang dulu. Dia berkata demikian tidaklah mudah, karena ketika dia mengatakan keadaan yang lalu dari anak-anaknya, ini membuat dia mengingat kembali wajahnya sendiri. Sedikit banyak, anakanak itu mirip dengan ayahnya. Karena itu, ketika dia mengatakan kelemahan mereka, mengatakan kejelekan mereka, mengatakan kenajisan mereka, seolah-olah itu dikatakan kepada dirinya sendiri. Dia mengutarakan keadaan yang dulu dari anak-anaknya, sesungguhnya adalah mengutarakan keadaan dirinya sendiri. Ketika dia mengatakan masa depan anaknya, juga tidak selalu cerah. Tetapi dia masih dengan penuh simpati dan penuh kasih mengatakannya.

Di sini, asal kita melihat satu perkara, kita sudah bisa melihat betapa Yakub yang sekarang sudah tidak sama dengan Yakub yang dulu. Dulu di Sikhem, ketika Dina dipermalukan, maka Simeon dan Lewi membunuh semua lakilaki di kota itu. Saat itu Yakub berkata, "Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini, kepada orang Kanaan dan orang Feris, padahal kita ini hanya sedikit jumlahnya; apabila mereka bersekutu melawan kita, tentulah mereka akan memukul kita kalah, dan kita akan dipunahkan, aku beserta seisi rumahku" (Kejadian 34:30). Itulah yang ia katakan ketika di Sikhem. Tetapi sekarang, ketika dia kembali menyinggung perkara ini, dia berkata, "Simeon dan Lewi bersaudara; senjata mereka ialah alat kekerasan. Janganlah kiranya jiwaku turut dalam permufakatan mereka, janganlah kiranya rohku bersatu dengan perkumpulan mereka, sebab dalam kemarahannya mereka telah membunuh orang dan dalam keangkaraannya mereka telah memotong unat keting lembu. Terkutuklah kemarahan mereka, sebab amarahnya keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis" (Kejadian 49:5-7). Yang kini dilihatnya bukan lagi masalah keuntungan/kebaikan atau kerugian/kecelakaan bagi dirinya sendiri, melainkan masalah kedosaan. Dulu yang dia perhatikan adalah keuntungan atau kerugian diri sendiri; dia berpikir, "Kalian berbuat demikian, kalau orang-orang sebangsa Sikhem bangkit semua untuk membalas dendam, entah apa jadinya." Sekarang, dia berkata, "Jangan bersatu dengan perkumpulan mereka." Artinya, aku tidak bisa berbagian dengan perkara yang demikian mencelakakan dan membunuh orang, perbuatan yang demikian sadis itu patut dikutuk. Di sini kita melihat Yakub yang baru, yang telah dibasuh, yang bersih, yang segar. Dia telah mendapatkan satu karakter yang baru, yang tidak dia miliki pada masa dulu.

"Adapun Dan, ia akan mengadili bangsanya sebagai salah satu suku Israel. Dan akan menjadi seperti ular di jalan, seperti ular beludak di denai yang memagut tumit kuda, sehingga penunggangnya jatuh ke belakang" (ayat 16-17 TI.). Dia mengatakan keadaan kelak Dan tidaklah baik, dari berbagai aspek beracun, banyak perkara pemberontakan akan timbul dari Dan. Sampai di sini, dia segera berkata, "Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari padaMu, ya TUHAN” (ayat 18). Maksudnya, terhadap perkara pemberontakan ini, dia tidak berdaya, dia hanya bisa menunggu keselamatan dari Tuhan. Perkataan ini telah menyatakan karakternya yang baru: pada satu pihak dia bernubuat, pada pihak lain dia menunggu keselamatan Tuhan.

Kejadian pasal 49 berisi nubuat Yakub terhadap kedua belas anaknya. Di kemudian, nubuatnya ini satu persatu tergenap di atas anak-anaknya. Di sini, Yakub menjadi nabi, dia telah masuk ke dalam pikiran Allah, memahami pikiran Allah, memberitahukan perkara yang akan Allah lakukan kepada anak-anaknya. Terlihatlah, bahwa Yakub tahu lebih banyak daripada Abraham, juga tahu lebih banyak daripada Ishak. Dia mampu mengatakan apa yang akan terjadi kelak pada diri Efraim, Manasye dan kedua belas anak-anaknya. Hal ini membuktikan bahwa dia adalah orang yang selalu bersekutu dengan Allah, adalah orang yang selalu berkontak dengan Allah.

Semula, Yakub adalah orang yang sama sekali tidak ada harapan. Tetapi, Allah justru dari orang yang begitu licik, penuh siasat dan yang selalu bekerja berdasarkan dirinya sendiri, membentuk satu bejana. Semakin kita membaca sejarah masa tua Yakub, kita akan semakin bersimpati kepadanya. Di sini ada seorang yang telah diremukkan oleh Allah. Inilah penyusunan Roh Kudus. Inilah pekerjaan Allah yang selangkah demi selangkah dilaksanakan di atas dirinya. Karena itu, sampai pada akhirnya, kita harus mengakui, bahwa Allah itu sungguh berhikmat, Allah sungguh berahmat, Allah sungguh panjang sabar, Allah pasti merampungkan pekerjaanNya.

Setelah Yakub selesai mengucapkan nubuatnya, Alkitab mencantumkan, "Itulah semuanya suku Israel, dua belas jumlahnya" (ayat 28). Jadi kita lihat, menjelang kematian Yakub, dua belas suku sudah terbentang di sana, umat Allah sudah terpampang di sana. Saudara saudari, hari ini Allah juga ingin mendapatkan satu kelompok umat, menjadi bejanaNya, merampungkan tujuanNya, agar seluruh umat di bumi mendapatkan berkat oleh karena mereka. Pekerjaan yang Allah kerjakan melalui Israel adalah melambangkan pekerjaan yang Allah kerjakan melalui gereja. Amanat gereja adalah melaksanakan pekerjaan pemulihan Allah. Gereja adalah bejana yang Allah pakai dalam pemulihan-Nya. Agar gereja menjadi bejana dalam pemulihan Allah, gereja harus mengenal Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Ini bukan berarti bahwa di tengah-tengah kita perlu ada orang yang menjadi Abraham, ada orang menjadi Ishak, ada orang menjadi Yakub, melainkan Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub adalah Allah yang harus kita kenal. Ketika kita semua mengenalNya, barulah kita bisa menjadi bejana Allah untuk merampungkan tujuanNya.

Sebab itu, jangan sekali-kali mengira kita sudah boleh puas karena telah memiliki sedikit pengalaman rohani. Dari firman Tuhan kita nampak, bahwa kita perlu memiliki tiga aspek pengalaman -- pengenalan Abraham terhadap Bapa, penikmatan Ishak, dan penanggulangan Yakub. Ketiga hal ini adalah pengalaman yang khusus, adalah pengenalan yang khusus, bukan doktrin. Perlu Allah memberi kita visi, perlu Allah memberi kita wahyu, perlu Allah memberi kita penanggulangan Roh Kudus, kemudian baru Allah dapat selangkah demi selangkah memimpin kita menjadi bejanaNya, agar mencapai tujuanNya. Semoga Allah memberkati kita, sehingga kita bisa memiliki penglihatan yang jelas.