PEMIMPIN KESELAMATAN (1)
Dalam berita ini kita akan melihat Pemimpin kesela-matan. Hal ini sukar sekali dipahami secara doktrinal. Menurut logika, dalam hal keselamatan, kita memerlukan Yesus sebagai Juruselamat dan Penebus kita, bukan Pemimpin, Perintis, atau Pelopor. Namun, dalam keselamatan Allah yang ajaib, dalam “keselamatan yang sebesar itu” kita benar-benar membutuhkan seorang Pemimpin yang memimpin kita memasuki suatu tempat tertentu. Tempat manakah yang akan kita masuki di bawah pimpinan Pemimpin keselamatan ini? Ia akan memimpin kita memasuki kemuliaan!
Kemuliaan Allah adalah sesuatu yang paling sulit dijelaskan dan dipahami oleh siapa pun. Dalam doaNya kepada Bapa, Tuhan Yesus berkata, “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepadaKu” (Yoh. 17:22). Kemuliaan apakah itu? Yaitu kemuliaan yang akan kita masuki di bawah pimpinan Pemimpin kita. Itulah kemuliaan yang sudah diberikanNya kepada kita. Walaupun kemuliaan itu sudah diberikan kepada kita, kita tetap harus memasukinya. Apakah sebenarnya kemuliaan itu, sungguh sulit diutarakan. Ada yang bilang, kemuliaan itu merupakan suatu keadaan yang serba gemerlap yang akan kita masuki kelak dan yang amat menggairahkan serta menggetarkan kita. Dulu ketika saya mendengar perkataan demikian, saya tidak menyukainya. Batinnya merasa itu terlalu dangkal, tanpa bobot, dan tanpa arti. Bila Anda bertanya kepada saya apakah sebetulnya kemuliaan itu? Saya hanya dapat mengatakan bahwa kemuliaan ilahi yang ditetapkan Allah untuk kita itu sulit sekali diberi definisi yang memadai.
Kitab Perjanjian Baru menerangkan bahwa kita telah dipanggil untuk memasuki kemuliaan, sedang kemuliaan itu dirancang menurut hikmat Allah dalam kekekalan yang lampau. Satu Korintus 2:7 mengatakan bahwa dalam kekekalan lampau, Allah telah menyediakan kemuliaan bagi kita untuk kita masuki. Satu Tesalonika 2:12 dan 1Petrus 5:10 mengatakan bahwa kita telah dipanggil untuk memasuki kemuliaan. Kolose 3:4 mengatakan apabila Kristus menyatakan diri kelak, kita pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia di dalam kemuliaan. Kemuliaan apakah ini? Mungkin kebanyakan orang Kristen mengira kemuliaan itu paling-paling merupakan semacam sinar atau cahaya. Saya tidak berani mengatakan itu salah, sebab saya belum pernah memasukinya. Namun saya pikir pengertian itu terlalu obyektif dan sepenuhnya berdasar pada pemikiran yang obyektif. Mengatakan kemuliaan yang akan kita masuki itu merupakan semacam terang atau cahaya yang gemerlap boleh jadi benar, tetapi itu sepenuhnya adalah konsepsi yang obyektif.
Kita boleh mengibaratkan hal kemuliaan ini dengan sekuntum bunga anyelir. Benih anyelir itu kecil sekali. Kalau Anda tanam ke dalam tanah, ia akan bertumbuh dan akhirnya mencapai tahap berbunga. Ketika anyelir berbunga, itulah saat ia dipermuliakan. Tetapi dari tahap benih hingga tahap bunga, perlu melalui proses yang panjang. Dalam proses itu, ia harus mengalami banyak peperangan. Andaikata Anda adalah benih anyelir itu, Anda tentu dapat mengisahkan berapa banyak peperangan yang harus Anda alami. Pertama-tama, anyelir itu harus berperang melawan dirinya sendiri, karena unsur hayat yang di dalam benih harus berperang melawan kulit luarnya, dan setelah mendobraknya barulah bisa bersemi. Kemudian ia harus berperang melawan tanah di sekitarnya. Sebenarnya tanah membantu anyelir bertumbuh, karena itu dapat kita sebut tanah pertumbuhan. Namun tanah itu juga merupakan suatu penghambat bagi anyelir. Tanaman memang membutuhkan tanah, karena tanah membantunya bertumbuh, namun tanah juga merupakan penghambat bagi pertumbuhannya. Maka anyelir harus pula berperang melawan tanah. Terakhir, setelah ia mengalami banyak peperangan, akhirnya barulah anyelir tiba pada tahap berbunga. Itulah kemuliaan anyelir. Berbunga adalah kemuliaan anyelir.
Masing-masing kita tanpa terkecuali adalah seperti sebutir benih anyelir. Melalui kelahiran kembali, hayat kemuliaan telah masuk ke dalam kita. Kini dalam kita terdapat sebutir benih kemuliaan; hayat yang kita miliki inilah hayat kemuliaan sebagai benih dalam batin kita dan inilah Kristus yang menjadi harapan mulia di dalam kita (Kol. 1:27). Kemuliaan bukan sekadar sinar atau terang yang gemerlap di udara, itu terlampau obyektif. Kalau kemuliaan hanya semacam cahaya di luar saja, itu akan merupakan kehampaan dengan corak lain lagi. Namun kemuliaan yang dimaksud dalam Alkitab bukanlah yang lahiriah. Kemuliaan yang diwahyukan Alkitab tidak lain ialah berbunganya unsur ilahi di dalam batin kita. Pada suatu hari, unsur ilahi Allah ini akan berbunga di dalam kita. Apakah Anda merasa bingung bila saya mengatakan kemuliaan yang akan kita masuki bukan hanya sesuatu yang obyektif melainkan berbunganya unsur ilahi dari dalam kita? Jika demikian, itu membuktikan Anda tetap berpegang pada doktrin usang, setidaknya pada suatu tahap seperti itu. Jika demikian, Anda perlu menyeberang sungai.
Mari kita perhatikan transfigurasi (perubahan rupa) Tuhan Yesus di puncak gunung (Mat. 17:1-2). Sewaktu Tuhan Yesus naik ke puncak gunung dan berubah rupa, apakah sinar kemuliaan mendadak turun dari surga tingkat ketiga ke atas diriNya? Ataukah Ia memasuki suatu sinar cahaya yang di luar? Tidak, kemuliaan berpancar keluar dari dalam diriNya, karena itu disebut transfigurasi. Demikian pula halnya, kemuliaan yang akan kita masuki justru kemuliaan yang sekarang ada di dalam kita ini. Ini bukan obyektif, melainkan sepenuhnya subyektif. Kemuliaan ini sangat berbeda dengan kemuliaan yang berupa ajaran tradisional. Benih kemuliaan ini sudah tertabur dalam batin kita sewaktu kita dilahirkan kembali. Hal ini amat misterius!
Ketika kita dilahirkan kembali, unsur hayat masuk ke dalam kita. Unsur hayat ini bukan hal yang kecil, ini unsur ilahi Allah. Segala apa adanya Allah terkandung dalam unsur hayat yang masuk ke dalam kita itu. Oh, betapa perlunya kita semua mengenal peristiwa yang terjadi pada diri kita pada saat kita dilahirkan kembali! Unsur ilahi Allah telah masuk ke dalam kita.
Sewaktu bani Israel masuk ke tanah permai, mereka mulai berbunga. Itulah kemuliaan mereka. Setibanya mereka di tanah permai, mereka mulai berperang. Maka tahap berbunga itu juga merupakan tahap peperangan. Peperangan pertama yang mereka hadapi terjadi di Yerikho, kemudian berperang terus, hingga semua musuh ditaklukkan oleh Daud dan Bait Suci terbangun. Kemudian kemuliaan Allah memenuhi bait tersebut (1Raj. 8:10). Terlihat jelas bahwa kemuliaan yang memenuhi bait itu turun dari atas; tetapi pada hakikatnya kemuliaan itu sudah ada menyertai bani Israel. Sejak mereka menyeberang Laut Merah, kemuliaan itu sudah ada bersama-sama dengan mereka. Yakni berada dalam tiang awan dan tiang api (Kel. 14:19, 24). Ketika mereka membangun Bait Suci, kemuliaan itu segera memenuhi bait itu. Saya ulangi, kemuliaan itu bukan datang dari atas, melainkan sudah ada di sana sejak semula dan menanti-nantikan pertumbuhan dan perkembangan mereka. Bila bani Israel berkembang dan dewasa sepenuhnya, kemuliaan itu serta merta memenuhi bait.
Begitu pula, ketika kita dilahirkan kembali, kita mempunyai permulaan baru. Itulah hari Paskah kita. Sejak hari itu, benih kemuliaan telah tertabur di dalam kita, dan benih itu terus bertumbuh. Pertumbuhan ini merupakan proses peperangan. Sampai saat ini kita masih berada di dalam proses memasuki kemuliaan.
Sekarang kita telah dipersiapkan untuk melihat perkara Pemimpin keselamatan. Keselamatan yang atasnya Kristus sebagai Pemimpin adalah keselamatan yang akan memim-pin kita masuk ke dalam kemuliaan. “Keselamatan yang sebesar” itu akan memimpin kita masuk ke dalam kemulia-an, sedang Kristus Juruselamat kita adalah Pemimpinnya. Apakah artinya? Ini berarti, Juruselamat kita yang memimpin peperangan dan masuk ke dalam kemuliaan. Tuhan Yesus bukan masuk ke dalam kemuliaan secara tiba-tiba. Selama Ia berada di bumi, dari hari ke hari Ia selalu berperang. Benih kemuliaan yang ada di dalamNya berperang mencari jalan keluar. Bila Anda membaca keempat kitab Injil, Anda dapat melihat bahwa seumur hidupNya di bumi, Tuhan Yesus terus menempuh hidup peperangan; kisah hidupNya merupakan kisah peperangan. Ia selalu berperang bagi pertumbuhan benih kemuliaan itu. Ia berperang agar kemuliaan terpancar keluar dan agar Ia dibawa masuk ke dalam kemuliaan.
Jangan mengira Tuhan masuk ke dalam kemuliaan ketika Ia naik ke surga. Tidak. Sebelum kenaikanNya ke surga, selagi Ia masih di bumi pada hari kebangkitanNya, Ia sudah memasuki kemuliaan. Lukas 24:26 menunjukkan bahwa Kristus masuk ke dalam kemuliaan bukan melalui kenaikan, melainkan melalui kebangkitan. KebangkitanNya adalah masuknya Dia ke dalam kemuliaan. Seluruh hidupNya, sejak Ia dilahirkan hingga Ia bangkit dari kematian, adalah proses peperangan. Dan peperanganNya itu bukan hanya untuk kemenangan, tetapi juga untuk kemuliaan. Ia berperang untuk memperoleh kemuliaan; peperanganNya membukakan jalan ke dalam kemuliaan. Dalam hal ini Dialah Pelopornya, yang membuka jalan menuju kemuliaan. Karena itu, dengan sendirinya Ia layak menjadi Pemimpin mereka yang juga akan masuk ke dalam kemuliaan. Jadi, Ia telah menjadi Pemimpin keselamatan kita. Hari ini kita semua mengikuti jejak Pelopor ini, yang telah membukakan jalan masuk ke dalam kemuliaan. Kemuliaan ini kini merupakan tanah yang permai. Kita wajib menyeberang sungai dan memasuki tanah ini. Kristus telah menyeberang sungai dan Ia kini berada di seberang, yaitu di tanah yang mulia. Walaupun Ia telah berada dalam kemuliaan, namun kita belum memasukinya. Kita masih di tengah jalan sambil maju terus mengikuti Pemimpin kita.
I. ALLAH MEMBAWA BANYAK PUTRA
KE DALAM KEMULIAAN
Allah kita telah mendirikan sebuah perusahaan besar, dan tujuan perusahaan ini adalah menggenapkan satu hal, yaitu membawa banyak putra ke dalam kemuliaan (2:10). Perusahaan Allah adalah perusahaan kemuliaan, bukan untuk menghasilkan uang, melainkan untuk menghasilkan kemuliaan.
A. Segala Sesuatu Ada karena Allah
Untuk memimpin banyak putra ke dalam kemuliaan, Allah memerlukan suatu alam lingkungan yang cocok. Karena itu Ia menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu. Jadi, segala sesuatu adalah untuk menggenapkan usahaNya yang mulia itu.
B. Segala Sesuatu Diciptakan melalui Allah
Segala sesuatu yang Allah ciptakan untuk menggenapkan usahaNya yang mulia itu ada melalui Allah sendiri. Allahlah yang mempertahankan segala sesuatu dalam alam semesta ini, agar semuanya itu berguna demi tujuan menggenapkan usahaNya yang mulia.
C. Banyak Putra Allah di dalam Segala Sesuatu
Segala sesuatu ada karena Allah dan diciptakan melalui Allah. Di dalam segala sesuatu terdapat banyak putra Allah dan mereka adalah inti penciptaan Allah. Segala sesuatu berfaedah untuk putra-putra Allah, karena usaha Allah adalah memimpin banyak putraNya masuk ke dalam kemuliaan. Hal ini memerlukan banyak peperangan. Itulah sebabnya Putra sulung Allah harus menjadi Pemimpin keselamatan bagi putra-putraNya yang banyak itu.
D. Ke dalam Kemuliaan
Membawa banyak putra ke dalam kemuliaan adalah tujuan Allah. Tuhan Yesus, Putra sulungNya, sebagai Pelopor telah melalui peperangan dan masuk ke dalam kemuliaan. Kini Ia adalah Pemimpin Keselamatan banyak anak Allah dan memimpin mereka masuk ke dalam kemuliaan melalui peperangan. Kita, putra-putra Allah, sedang berada dalam perjalanan menuju kemuliaan yang telah ditetapkan oleh Allah sambil berperang.
II. MENYEMPURNAKAN YESUS
MELALUI PENDERITAAN
Untuk merampungkan kehendak Allah yang akan membawa banyak putra ke dalam kemuliaan, Allah perlu memiliki satu teladan atau contoh. Orang ini harus memiliki syarat-syarat menjadi Pemimpin agar memimpin banyak putra masuk ke dalam kemuliaan. Pemimpin ini ialah Yesus. Namun, sebelum Yesus menjadi Pemimpin, Ia harus mengalami banyak penderitaan, agar Ia menjadi sempurna (2:10). Selagi muda, saya amat bingung membaca Ibrani 2:10, yang mengatakan Yesus masih perlu disempurnakan. Di satu pihak, saya tahu bahwa Yesus sudah sempurna, tetapi di pihak lain, ayat tadi mengatakan bahwa Ia harus disempurnakan, seolah-olah Ia kurang sempurna. Padahal Ia itu benar-benar sempurna. Walaupun sebelum Ia berinkarnasi, Ia sudah sempurna, tetapi Ia belum mengalami penderitaan manusia. Maka, sebelum Ia menjadi Pemimpin keselamatan, Ia masih perlu disempurnakan melalui penderitaan. Kata “sempurna” dalam 2:10 ini berarti dirampungkan atau digenapkan hingga tamat. Disempurnakan berarti dinyatakan memenuhi syarat. Sebelum Ia berinkarnasi, Yesus belum memenuhi syarat menjadi Pemimpin Keselamatan. Ia baru mempunyai syarat menjabat Pemimpin sesudah Ia mengalami penderitaan manusia. Karena itu, disempurnakannya Yesus tidaklah berarti budi pekerti dan sifatNya tidak sempurna, tetapi dalam hal pengalaman penderitaanNya sebagai manusia perlu disempurnakan, yang membuatNya cocok menjadi Pemimpin, Panglima keselamatan para pengikutNya. Karena Yesus telah melalui semua penderitaan manusia. Ia telah disempurnakan, memenuhi syarat, untuk menjabat sebagai Pemimpin. Ia kini telah memenuhi syarat untuk membawa banyak putra Allah ke dalam kemuliaan, yang telah Ia masuki sebagai Pelopor.
Mengapa penulis Surat Ibrani menyinggung soal penderitaan? Sebab ketika surat ini ditulis, kaum saleh Ibrani sedang mengalami penderitaan (10:32-35) dan aniaya. Di satu pihak, penderitaan mereka memang tidak baik, sebab mereka sangat disusahkan olehnya. Tetapi di pihak lain, penderitaan adalah proses yang membantu mereka masuk ke dalam kemuliaan. Penulis mengatakan kepada mereka bahwa Tuhan Yesus sebagai Pemimpin keselamatan telah mendahului mereka, dan akan membantu mereka menyeberang sungai penderitaan serta masuk ke dalam kemuliaan. Inilah konsepsi penulis. Konsepsi ini sangat dalam. Penulis seolah-olah berkata kepada mereka, “Saudara saudari Ibrani, kalian harus mengenal bahwa Tuhan Yesus kita adalah Yosua yang sejati. Ia telah mendahului kalian menyeberang Sungai Yordan. Janganlah meninggalkan Dia. Pandanglah Dia dan ikuti jejakNya. Ia telah mengalami semua penderitaan dan kini telah masuk ke dalam kemuliaan. Dialah Pelopor dan Perintis kita. Ia telah membuka jalan bagi kalian menuju kemuliaan. Jalan telah terbuka dan yang perlu kalian lakukan hari ini ialah mengikutiNya saja. Jangan terganggu oleh penderitaan. Kalian harus terhibur. Setiap penderitaan akan membantu kalian menempuh jalan raya Sion.” Tuhan Yesus benar-benar Pemimpin keselamatan mereka. Sekarang kita sudah mengerti makna sesungguhnya dari istilah ini.
III. PELOPOR, PEMIMPIN, DAN PANGLIMA
Karena Yesus dalam tubuh daging telah disempurnakan mengalami penderitaan manusia, maka Ia cukup syarat memegang jabatan Pemimpin keselamatan. Ia telah menjadi Pelopor, Pemimpin, dan Panglima. Ia telah membuka jalan menuju kemuliaan, Ia sendiri telah lebih dulu memasuki kemuliaan itu. Kini Ia menjadi Pemimpin kita, dan tengah memimpin pengikut-pengikutNya masuk ke dalam kemuliaan.
IV. KESELAMATAN
Keselamatan kita disebut “keselamatan yang sebesar itu”. Keselamatan ini sangat dalam, bukan hanya menyelamatkan kita dari kejatuhan, tetapi juga membawa kita ke dalam kemuliaan. Kita bukan masuk ke dalam kemuliaan secara mendadak, seperti diculik, melainkan memasukinya dengan menempuh jalan penderitaan setindak demi setindak.
Biar saya katakan kepada kalian beberapa patah kata yang menghibur. Semakin kita mengikuti Kristus pada jalanNya, kita harus semakin bersedia mengalami penderitaan. Penderitaan itu berfaedah, sangat membantu kita. Kita bahkan harus mencium penderitaan, menghargainya, dan berterima kasih kepada Tuhan atas penderitaan, karena setiap penderitaan selalu membantu kita. Pada suatu hari, cepat atau lambat, Anda akan berkata, “Wahai, penderitaan, engkau telah menjadi penolongku yang terkasih. Aku berhutang banyak kepadamu. Ketika aku mengalamimu, aku sangat jengkel kepadamu, sebab aku tidak kenal betapa besar pertolongan yang kuterima darimu. Terima kasih atas semua yang kaulakukan bagiku itu.” Semakin kita berdoa dan mengasihi Tuhan, semakin banyak pula kesulitan yang mungkin kita alami. Menurut pengalaman kita, dapatlah kita mengerti bahwa banyak kesulitan telah ditakar oleh Allah dengan cermat. Tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu pendek, melainkan tepat sekali pada waktunya. Kalau kita mengenang kembali semua pengalaman kita yang lampau, kita akan merasa alangkah baiknya perkara itu terjadi pada waktu itu. Maka, janganlah kita terganggu oleh penderitaan. Apa pun yang terjadi, katakan saja, “Puji Tuhan. Ini proses penting untuk masuk ke dalam kemuliaan.” Lihatlah Pemimpin kita. Dia merintis, Dia berperang. Mari kita mengikuti Dia. Dia tidak membawa kita ke dalam kemuliaan yang obyektif, melainkan kemuliaan yang telah Ia tanamkan di dalam kita. Kemuliaan ini bagaikan sebutir benih tertabur dalam batin kita, yang akan bertumbuh sehingga menjadi kemuliaan yang akan kita masuki. Semoga Roh Kudus lebih banyak berbicara kepada kita tentang masuk ke dalam kemuliaan ini.
Bila Anda membandingkan apa yang kita katakan tentang kemuliaan dengan definisi kemuliaan yang tercantum dalam Roma 8:17, 18, 21, Anda akan nampak keduanya itu sama. Jadi, dipermuliakan bukan secara tiba-tiba diambil dan dimasukkan ke dalam lingkungan yang bercahaya terang-benderang. Kemuliaan yang akan kita masuki adalah kemuliaan unsur ilahi yang telah tertanam dalam kita. Kita tidak memasukinya sendirian, melainkan bersama Pemimpin kita yang telah membuka jalan serta telah masuk ke dalam kemuliaan itu, dan kini sedang memimpin kita ke dalam kemuliaan itu. Sekali lagi kita nampak bahwa kita adalah penyeberang sungai yang sejati. Kini kita sedang menyeberang sungai untuk masuk ke dalam kemuliaan.