← Daftar isi Ibrani (1) · bab 10/17

PEMIMPIN KESELAMATAN (2)

Kita harus memberikan satu berita lagi untuk menjelaskan perkara Pemimpin keselamatan, sebab ini adalah perkara besar. Pemimpin keselamatan ini ialah yang memimpin kita masuk ke dalam kemuliaan. Memahami Pemimpinnya tidak sulit. Kesulitannya terletak pada memahami makna kemuliaan itu. Walau dalam berita sebelumnya kita telah membicarakan kemuliaan, namun karena kebanyakan orang di antara kita kurang jelas akan makna sebenarnya dari kemuliaan yang dimaksud oleh Alkitab, maka saya mempunyai beban untuk membicarakan sesuatu yang mendasar tentang kemuliaan dalam berita ini.

KEMULIAAN — ALLAH TEREKSPRESI

Dalam Alkitab, kemuliaan berarti Allah terekspresi. Kapan saja Allah diekspresikan, itulah kemuliaan. Tetapi bila Allah tersembunyi, kemuliaan pun tidak ada. Bila Allah tertampak, itulah kemuliaan. Jadi, bila Anda nampak Allah, Anda pasti nampak kemuliaanNya. Allah yang tidak terlihat adalah Allah, dan Allah yang kelihatan adalah kemuliaan. Kemuliaan ini terus menyertai bani Israel dalam perjalanan mereka dari Mesir sampai ke tanah permai(Kel. 13:21). Siang hari, Allah menyatakan diriNya di dalam tiang awan; malam hari, Allah menyatakan diriNya di dalam tiang api. Itulah kemuliaan. Injil Yohanes mengatakan Firman adalah Allah, dan Firman telah menjadi daging dan tinggal di tengah-tengah kita, kita pun telah nampak kemuliaanNya (Yoh. 1:1, 14). Dikatakan pula dalam Yohanes 1:18, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya.” Pernyataan Allah itulah kemuliaan. Saat kita nampak Allah, kita nampak kemuliaan.

EKSPRESI ALLAH YANG KORPORAT

Berdasarkan pengenalan tentang kemuliaan yang di-singgung di atas, kita akan bertanya, apakah kehendak kekal Allah itu? Kehendak kekal Allah ialah mengekspresikan diriNya secara korporat. Bila Anda membaca Kitab Wahyu dengan saksama, Anda akan nampak bahwa seluruh Kota Yerusalem Baru itu dipenuhi kemuliaan Allah (Why. 21:10-11). Itu berarti seluruh kota merupakan ekspresi Allah yang korporat. Dalam Yerusalem Baru, Allah ada di dalam Anak Domba, dan Anak Domba adalah pelita yang di dalamNya dan melaluiNya Allah terpancar sebagai terang (Why. 21:23). Pada akhirnya, terang itu akan menembus tembok kota yang terbuat dari permata yaspis yang jernih seperti kristal, serta mengekspresikan rupa Allah. Jika Anda bertanya, apakah kemuliaan, Saya akan menjawab, yang saya katakan tadi itulah kemuliaan. Dibawa ke dalam kemuliaan berarti dibawa ke dalam ekspresi Allah yang mulia.

Saudara saudari yang baru beroleh selamat mungkin belum memahami hal ini. Karena itu, baiklah kita periksa lebih cermat lagi ayat-ayat dalam Kitab Wahyu. Wahyu 21:11 melukiskan Yerusalem Baru demikian: “Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.” Ayat 18 mengatakan, “Tembok itu terbuat dari permata yaspis.” Seluruh tembok kota terbuat dari permata yaspis, yang mengekspresikan rupa Allah sendiri. Kalau Anda baca Wahyu 4:3, Anda akan nampak bahwa Allah yang duduk di atas takhta itu tampaknya bagaikan permata yaspis. “Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis. . .” Rupa Allah bagaikan permata yaspis, dan tembok kota itu terbuat dari permata yaspis, yang mengekspresikan rupa Allah sendiri. Itulah kemuliaan yang terkandung dalam kota itu. Kemuliaan sedemikian bukanlah terang cahaya yang obyektif, melainkan ekspresi realitas ilahi. Realitas ilahi diekspresikan melalui Tubuh korporat, itulah kemuliaan. Itulah kemuliaan yang akan kita masuki. Saya ulangi, kemuliaan yang akan kita masuki bukanlah terang lahiriah yang obyektif, melainkan Allah sendiri memancar keluar dari dan melalui kita.

Di bagian manakah kemuliaan itu di dalam Kota Yerusalem Baru? Di pusat, di daerah jantung kota. Allah, sumber kemuliaan, berada di atas takhta di tengah-tengah Yerusalem Baru. Allah yang ada di atas takhta itulah substansi, esens, dan unsur kemuliaan. Dalam Wahyu 21:23 kemuliaan disebut terang. Terang itu bukan terang alamiah, seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang, atau terang buatan manusia, misalnya terang lampu. Itu adalah terang ilahi, yakni Allah sendiri. Itu adalah sumber kemuliaan. Allah sebagai terang berpancar di dalam dan melalui Anak Domba, pelita itu, dan akhirnya bersinar menembus seluruh kota itu, sehingga kota itu penuh dengan pancaran rupa Allah sendiri. Bila kita nampak Yerusalem Baru, kita pun nampak ekspresi rupa Allah, terang yang di dalam pelita bercahaya menembus permata yaspis. Itulah kemuliaan. Kemuliaan adalah Allah terekspresi melalui umat tebusanNya. Oh, Kita semua perlu nampak sebenarnya apakah kemuliaan itu!

Dalam beberapa berita ini kita telah banyak berbicara tentang menyeberang sungai. Kita perlu menyeberang sungai dan masuk ke dalam wilayah kemuliaan. Namun, bukan berarti kita akan masuk ke dalam kemuliaan secara jasmani, dan berjalan di atas jalan emas. Tidak, semua hal mengenai Allah dan kehendakNya yang kekal itu begitu misterius, rohani, dan ilahi, sehingga tidak mungkin dapat dijelaskan dengan memadai oleh bahasa manusia dan mustahil pula dipahami oleh pikiran manusia dengan secukupnya. Karena itu, Alkitab sering menggunakan lambang-lambang untuk mewakili realitas ilahi. Sewaktu Alkitab mengatakan Kristus adalah Anak Domba, tentu saja ini tidak berarti Ia adalah anak domba yang berkaki empat dan berekor satu. Ketika Alkitab mengatakan bahwa Kristus adalah Anak Domba Allah (Yoh. 1:29), itu ditujukan kepada penebusan ilahiNya (Yoh. 1:29).

Pendek kata, Alkitab mewahyukan bahwa Allah yang Kudus, Mahakuasa, dan rahasia ingin mendapatkan ekspresi sepenuhnya melalui manusia yang korporat. Demi tujuan inilah Ia menciptakan alam semesta yang meliputi langit dan bumi. Lebih-lebih secara khusus, Ia menciptakan manusia sebagai satuan korporat untuk menampung diriNya, dipenuhi olehNya, hidup berdasarkan Dia, berperilaku berdasarkan Dia, agar dapat mengekspresikan Dia. Pada akhirnya, manusia korporat ini akan menjadi Yerusalem Baru, yakni ekspresi Allah yang korporat. Di sana Allah akan menjadi pusat, esens, substansi, isi, hayat, dan segala sesuatu bagi manusia korporat ini. Allah akan berrcahaya di dalam dan melalui manusia korporat ini. Kemuliaan Allah akan tertampak, dan setiap anggota dari manusia korporat ini akan dibawa ke dalam kemuliaan ini.

Sekarang kita sudah dapat memahami apa arti kemuliaan yang akan kita masuki. Kemuliaan ini bukan hanya merupakan cahaya terang yang obyektif, melainkan ekspresi Allah sendiri. Ketika Allah masuk ke dalam kita, Dialah hayat; Ketika Allah bekerja di dalam kita, Dialah terang; dan Ketika Allah diekspresikan melalui kita, Dialah kemuliaan. Inilah sasaran kekal Allah yang akan kita masuki di bawah pimpinanNya. Sekarang Ia justru sedang memimpin kita masuk ke dalam lingkungan kemuliaan itu, yakni ekspresi diriNya sendiri.

III. PERLUNYA MENYEBERANG SUNGAI

Walaupun Allah menciptakan manusia menurut kehendak dan tujuanNya, namun manusia telah jatuh dan rusak. Di satu aspek, manusia yang jatuh telah menjadi Ur-Kasdim, Babilon, tanah berhala. Alkitab sering memakai tanah dan kota untuk melambangkan manusia. Jadi, Babilon dan Ur-Kasdim melambangkan manusia yang jatuh dan rusak dan dipenuhi berhala. Berhubung manusia telah jatuh, maka manusia perlu menyeberang sungai, yaitu dari tanah yang rusak menyeberang ke tempat atau tanah yang tinggi dan baru, yakni memasuki lingkungan umat manusia yang tinggi dan baru. Karena itu Allah datang dan memanggil Abraham keluar dari bangsa yang jatuh, yaitu keluar dari Ur-Kasdim, dan menjadikannya kepala dan nenek moyang bangsa yang terpanggil. Abraham telah menyeberang sungai dan menjadi orang Ibrani pertama, yaitu penyeberang sungai pertama. Perihal Abraham menyeberang sungai dan memasuki tanah baru, melambangkan masuknya ke dalam suatu bangsa yang tinggi dan baru yang da-pat dipakai oleh Allah untuk mengekspresikan diriNya.

TUJUAN MENYEBERANG SUNGAI

Ekspresi Allah dilambangkan oleh baitNya, yaitu tempat kediamanNya di bumi ini. Kehendak Allah dalam memanggil Abraham ialah agar Ia memperoleh suatu tempat kediaman. Jadi, terpanggilnya Abraham akhirnya adalah untuk menghasilkan dan membangun tempat kediaman Allah. Ini bukan hal sepele. Kita harus meneropongi Alkitab dan orang-orang yang ada di dalamnya dengan pandangan yang menyeluruh, bukan sekadar beberapa individu, mi-salnya: Abraham, Ishak, Yakub, atau Musa. Mengapa Allah memanggil Abraham? Maksud Allah ialah agar semua keturunan Abraham terbangun menjadi suatu tempat kediaman Allah di bumi ini. Karena itu, terpanggilnya Abraham akhirnya menghasilkan Bait Allah. Menyeberang sungai adalah untuk membangun Bait Allah. Apa artinya membangun bait? Itu adalah ekspresi korporat Allah. Bait Suci, tempat kediaman Allah, adalah ekspresi Allah yang korporat di bumi ini. Bait dipenuhi dengan kemuliaan Allah (1 Raj. 8:10-11). Ketika Bait Suci rampung terbangun pada zaman Raja Salomo, kemuliaan Allah memenuhi bait itu. Pada saat itu, seluruh bani Israel telah dibawa ke dalam kemuliaan. Bait Suci yang jasmani atau lahiriah itu mewakili umat Israel, sebab tempat kediaman Allah di bumi ini tidak mungkin berupa rumah dari batu-batu. Itu hanya lah sebuah lambang. Pada saat itu, umat Israel lah yang menjadi tempat kediaman Allah yang sesungguhnya. Ketika kemuliaan Allah memenuhi Bait Suci, berarti kemuliaanNya memenuhi umat Israel, dan berarti umat Israel telah dibawa ke dalam kemuliaan. Inilah tujuan sejati penyeberangan sungai, dan makna menjadi orang Ibrani yang sebenarnya.

MAKNA MENYEBERANG SUNGAI

Asal Anda mengenal inti Alkitab, Anda akan memahami bahwa di mana saja terdapat sungai untuk diseberangi oleh umat Allah. Seperti telah disebutkan dahulu, di depan Kemah Pertemuan terdapat sebuah bejana pembasuhan laksana sebatang sungai kecil (Kel. 40:30-32). Setiap kali seorang imam hendak masuk ke hadirat Allah, ia harus menyeberangi sungai kecil itu. Mengatakan para imam cukup membasuh dirinya sekali saja dan ia akan bersih selama-lamanya, itu sangat menggelikan. Berapa kali imam harus membasuh dirinya? Itu tergantung berapa kali ia datang ke hadirat Allah. Sama halnya, kita pun tidak cukup dibasuh sekali saja. Berapa kali sebenarnya kita harus dibasuh? Setiap kali kita kotor. Dibasuh berarti menyeberang sungai. Pembasuhan ini harus berlangsung terus, hinggga kita berdiri di atas lautan kaca (Why. 15:2-3). Ketika kita masuk ke dalam Yerusalem Baru, di situ tidak ada debu sebutir pun, kecuali emas, mutiara, dan batu permata. Di sana barulah kita tidak akan kotor lagi. Di depan Yerusalem Baru tidak akan ada bejana pembasuhan dan lautan kaca. Tetapi ada lautan api yang menampung barang-barang yang harus disapu bersih. Kini kita telah mengerti apa arti menyeberang sungai. Menyeberang sungai berarti membasuh diri kita dari segala keusangan, kebejatan, dan setiap perkara yang tidak sepadan dengan kemuliaan Allah.

Abraham dipanggil untuk menyeberang sungai. Setelah penyeberangan sungai kali yang pertama itu, berapa kali kah penyeberangan yang selanjutnya? Masih ada penyeberangan Laut Merah dan penyeberangan Sungai Yordan. Pada penyeberangan Laut Merah, bala tentara Mesir terkubur di sana (Kel. 14:28). Pada penyeberangan Sungai Yordan, apakah yang terkubur? Diri atau ego. Sewaktu bani Israel menyeberang Sungai Yordan, mereka mengubur 12 buah batu yang mewakili bani Israel yang usang, lalu dari dalam sungai itu memungut 12 batu mewakili bani Israel yang baru untuk kemudian dibawa ke dalam tanah permai (Yos. 4:8-9). Kita semua harus keluar dari Mesir, meninggalkan bala tentara Mesir dan kekuasaan Mesir. Terakhir, kita harus meninggalkan gaya modern dan toko serba ada Mesir. kita juga harus keluar dari diri atau ego kita. Kita perlu menyeberang Laut Merah dan Sungai Yordan. Kemudian barulah kita dapat membangun Bait Allah.

Jangan mengira setelah menyeberang Laut Merah dan Sungai Yordan, lalu tidak ada lagi sungai-sungai lain yang harus Anda seberangi. Tiap kali ingin memasuki Bait Suci, Anda masih perlu menyeberang sungai yang disebut bejana pembasuhan. Terakhir kita harus menyeberangi lautan kaca. Hari demi hari, dari saat ke saat, Anda wajib menyeberang sungai, memasuki tempat maha kudus, tempat kediaman Allah, dan memasuki kemuliaan Allah. Inilah makna dibawa ke dalam kemuliaan. Penyeberangan semua sungai membawa kita masuk ke dalam kemuliaan, yakni kemu-liaan yang mengekspresikan Allah sendiri.

TUHAN YESUS ADALAH TELADAN STANDAR

Untuk ini kita tidak saja mempunyai Abraham dan anak-cucunya yang membangun Bait Suci sebagai teladan yang jelas, kita pun mempunyai Tuhan Yesus sendiri sebagai teladan standar (tipikal). Tuhan Yesus yang menjadi Pelopor atau Perintis adalah pola atau teladan yang terbaik dari orang yang menyeberang sungai yang telah masuk ke dalam kemuliaan Allah. Ia telah menyeberang Sungai Yordan dan telah sepenuhnya masuk ke dalam kemuliaan Allah. Ia telah mengalami penderitaan dan telah masuk ke dalam kemuliaan (Luk. 24:26; 1 Ptr. 1:11).

Kemuliaan macam apakah yang telah dimasuki Kristus? Ekspresi Allah yang sempurna. Sewaktu Tuhan masih berada dalam daging, Allah tersembunyi di dalam diriNya. Di dalamNya terdapat benih kemuliaan ilahi. Di dalam Yesus, orang Nazaret yang berdarah dan berdaging ini terkandung benih kemuliaan ilahi. Tetapi kemuliaan ini terpendam di dalamNya seperti kemuliaan bunga anyelir terpendam dalam biji anyelir. Bila biji anyelir ditaburkan ke dalam ta-nah dan mati, bertumbuh, dan akhirnya mencapai tahap berbunga, benih anyelir itu akan dibawa masuk ke dalam kemuliaan. Yesus ibarat benih itu. Setelah mati di dalam tanah, Ia kemudian bertumbuh (Yoh. 12:23-24). Dengan bertumbuh, seluruh diriNya, berikut keinsanianNya dan sifat insaniNya dibawa ke dalam ekspresi mulia Allah. Inilah kemuliaanNya. Setelah mengalami penderitaan maut, menyeberang sungai maut, Ia kemudian masuk ke dalam kemuliaan, yakni masuk ke dalam ekspresi ilahi yang sempurna. Apa yang dilambangkan oleh Abraham dan anak cucunya dalam membangun Bait Suci, semua telah digenapkan di dalam diri Tuhan Yesus. Setelah hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, Tuhan telah menggenapkan lambang tersebut. Tuhan Yesus telah menyeberang sungai. Pertama ialah ketika Ia dibaptis, dan tiga setengah tahun setelah itu Ia terus-menerus menyeberang sungai. Terakhir, Ia menyeberangi sungai maut di atas salib. Melalui menyeberang sungai terakhir itu Ia masuk ke dalam kemuliaan. Kemuliaan yang Ia masuki tidak lain adalah realitas ekspresi hakiki ilahi Allah sendiri. Setelah kebangkitanNya, Ia adalah ekspresi kemuliaan Allah. Inilah kemuliaan yang Ia masuki. Dia adalah sebuah pola, teladan, sebab Dialah yang pertama-tama masuk ke dalam kemuliaan, bahkan telah membuka jalan menuju kemuliaan itu bagi kita.

BELAKANG TABIR

Perintis ini, Pelopor ini telah masuk ke belakang tabir (Ibr. 6:19-20). Apakah tabir itu? Tabir ialah sesuatu yang memisahkan kita dengan ekspresi Allah. Setiap sungai adalah sebuah tabir yang memisahkan kita dengan ekspresi Allah. Dengan menyeberangi Sungai Yordan, sungai maut, Yesus masuk ke dalam tabir. Dalam tabir tidak ada yang lain kecuali ekspresi Allah. Ia sekarang berada dalam kemuliaan itu. Kini ada seseorang di dalam kemuliaan. Ini berarti di dalam ekspresi Allah terdapat seseorang, atau lebih tepat dikatakan, ada seseorang sebagai ekspresi Allah, yakni seseorang yang adalah kemuliaan Allah.

KRISTUS MENJADI KEMULIAAN DI DALAM KITA

Manusia ajaib ini, Yesus, sebagai model, teladan, Pelopor, Perintis, dan Pemimpin kita, pada suatu hari masuk ke dalam kita. Mungkin kita tidak menyadari hal itu, na-mun Ia betul-betul telah masuk ke dalam kita. Karena kebanyakan orang Kristen mengenal Dia menurut penginjilan yang sangat rendah, akibatnya, walaupun tahu Yesus telah masuk ke dalam kita, kita tetap tidak mengenal Yesus macam apakah Dia. Siapakah Yesus yang masuk ke dalam kita itu? Ia bukan hanya Juruselamat, bahkan Yang merintis berlari menuju kemuliaan, dan Yang memasuki ekspresi Allah yang sempurna, dan Yang hari ini menjadi ekspresi Allah yang sempurna. Yesus yang adalah ekspresi Allah, cahaya kemuliaan Allah (Ibr. 1:3), adalah Yesus yang masuk ke dalam kita. Karena itu, Kolose 1:27 mengatakan, “Kristus ada di dalam kamu. Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.” Dulu kita paling banyak hanya bisa berkata bahwa Kristus adalah hayat kekal di dalam kita. Tanpa ayat ini, mungkin tidak terpikir oleh kita kalau Yesus juga adalah pengharapan kemuliaan yang di dalam kita. Jadi pengharapan kemuliaan kita adalah Kristus sendiri.

Bagi kita kemuliaan masih merupakan suatu pengharapan, karena Ia masih belum terpancar keluar dari dalam kita. Begitu Anda menanam benih anyelir ke dalam tanah, Anda mempunyai harapan ia akan berbunga. Walaupun belum nampak ia berbunga, namun Anda yakin bahwa ia akan berbunga. Demikian juga, Kristus adalah harapan mulia di dalam kita. Karena benih kemuliaan ini telah tertanam di dalam kita, kita semua mengharapkan benih ini bertumbuh dan berbunga.

Di satu pihak, persona yang ajaib ini berada di belakang tabir, bersemayam di sana, di dalam ekspresi Allah dan juga sebagai ekspresi Allah. Di pihak lain, Ia telah masuk ke dalam kita. Jangan sekali-kali kita mencoba memahami ini dengan otak kita yang picik, atau mengatakan, “Kristus berada di belakang tabir dan kini masuk ke dalamku. Kalau Ia memang berada di dalamku, tentunya Ia tidak lagi di belakang tabir.” Itu konsepsi alamiah kita. Janganlah berputar-putar terus dalam otak picik kita. Kita harus menyeberang sungai! Kita dapat menggunakan perumpamaan listrik untuk menjelaskan bagaimanakah mungkin Kristus dalam waktu yang sama berada di belakang tabir juga di dalam diri kita. Listrik yang ada di pembangkit listrik sama dengan yang ada di rumah kita. Ketika listrik itu mengalir ke rumah kita, ia tidak meninggalkan pusat pembangkitnya. Demikian pula, di satu pihak, Kristus juga berada di belakang tabir, sedang di pihak lain, Kristus pun berada di dalam kita. Ia tidak perlu meninggalkan kemuliaan untuk masuk ke dalam kita. Ketika Ia berada di belakang tabir, Ia juga berada di dalam kita, Dia menyuplai dari pihak Dia di sana sampai pihak kita di sini. Sebagai Pelopor dan Perintis, Ia telah mendahului kita masuk ke belakang tabir, masuk ke dalam kemuliaan, yakni ekspresi Allah yang mulia dan penuh. Kini dalam kemuliaan Ia telah menjadi Pemimpin keselamatan kita. Pada suatu hari, Pemimpin keselamatan ini masuk ke dalam kita. Tetapi ketika masuk ke dalam kita, Ia tidak pernah meninggalkan kemuliaan. Sebaliknya, Ia membawa kemuliaan ke dalam kita. Alangkah ajaibnya! Ketika Pemimpin keselamatan masuk ke dalam kita, kemuliaan datang bersamaNya. Dengan perkataan lain, Pemimpin keselamatan masuk ke dalam kita menjadi kemuliaan kita. Setidak-tidaknya, Ia masuk sebagai benih kemuliaan. Sekarang di dalam kita masing-masing terdapat benih kemuliaan ini, yakni Pemimpin keselamatan itu sendiri. Mengapa Ia disebut Pemimpin? Sebab Ia yang merintisi jalan menuju kemuliaan. Dialah yang pertama masuk ke dalam kemuliaan, maka Dia adalah Perintis kita, layak dan memenuhi syarat menjadi Pemimpin kita.

Sekarang kita dapat mengerti mengapa Yesus harus disempurnakan melalui penderitaan (2:10). Mengapa penderitaanNya melayakkan Dia menjadi Pemimpin? Sebab tanpa mengalami penderitaan, Ia tidak dapat masuk ke dalam kemuliaan, dan tanpa masuk ke dalam kemuliaan, Ia tidak sempurna dan tidak memenuhi syarat. Akan tetapi, dengan mengalami penderitaan, Ia sudah masuk ke dalam kemuliaan sehingga kini Ia benar-benar memenuhi syarat, benar-benar sempurna untuk mengemban jabatan sebagai Pemimpin. Dengan demikian, Ia dapat masuk ke dalam kita sebagai Pemimpin kita dan sebagai kemuliaan kita.

Pada saat ini, dari sana Ia menyuplai kita yang di sini. Ketika Ia menyuplai kita dengan cara demikian, Ia tidak saja sebagai Pemimpin, tetapi juga Imam Besar yang menyuplaikan diriNya kepada kita sebagai roti dan anggur. Secara terus-menerus Tuhan menyuplaikan diriNya sebagai anugerah kepada kita. Satu Petrus 5:10 mengatakan bahwa Allah adalah sumber segala anugerah. Ketika Paulus menderita karena duri yang menusuk dagingnya, ia mohon sampai tiga kali agar Tuhan mencabutnya (2 Kor. 12:7-8). Tuhan menjawab, “Cukuplah anugerahKu bagimu.” Tuhan seolah berkata kepada Paulus, “Aku tidak begitu bodoh untuk mencabut duri itu, lebih baik Aku memberi anugerah yang cukup kepadamu. Aku akan menyuplaikan diriKu, sebagai suplai anugerah, serta sebagai roti dan anggur untuk menjamin dan menunjangmu ketika kamu mengalami semua penderitaan. Semua penderitaan itu akan mendatangkan kemuliaan di dalammu.”

KEMULIAAN KEKAL YANG

MELEBIHI SEGALA-GALANYA

Paulus sangat menyadari bahwa penderitaan membantu kita masuk ke dalam kemuliaan. Karena itu, ia berkata, “Sebab itu, kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami” (2 Kor. 4:16-17). Dalam 2 Korintus 4:17 Paulus membuat suatu perbandingan, yaitu membandingkan “penderitaan ringan yang sekarang” dengan “kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya”. Di katakannya bahwa kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya itu jauh melebihi penderitaan ringan yang sekarang ini. Di sini kita nampak tiga perbandingan: penderitaan dengan kemuliaan, ringan dengan melebihi segala-galanya, sekarang dengan kekal. Semua penderitaan yang kita alami adalah ringan. Penderitaan ringan yang sekarang ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang kekal dan melebihi segala-galanya itu! Maka janganlah sedih karena penderitaan. Sebaliknya katakanlah kepada Iblis, “Iblis, apa pun penderitaan yang kualami, aku tetap bersukacita! Ini bukan beban yang berat, melainkan yang ringan!” Saudara saudari, apakah Anda merasa tertekan oleh beban yang berat? Banyak saudari berkata kepadanya, “Saudara, Anda tidak tahu betapa sulit dan berat keadaanku. Anda tidak tahu betapa beratnya beban yang menekan diriku.” Saudari, Anda keliru! Penderitaan Anda tidaklah berat, malah sebaliknya. Yang berat adalah kemuliaan. Semua penderitaan kita itu ringan. Penderitaan ringan yang sekarang ini akan mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya.

Kita perlu bertanya sekali lagi: Apakah kemuliaan? Kemuliaan ialah ekspresi Allah. Kita tidak perlu menunggu hingga di alam kekal nanti baru melihat ekspresi Allah. Bahkan hari ini juga, setelah kaum saleh mengalami sedikit penderitaan yang ringan, maka atas diri mereka kita sudah dapat melihat kemuliaan. Saya dapat bersaksi bahwa saya pernah melihat banyak orang saleh yang demikian. Setelah mereka mengalami penderitaan, maka kemuliaan Allah terpancar keluar dari diri mereka. Penderitaan semakin berat, mereka semakin terbawa ke dalam ekspresi Allah. Bukan hanya kelak, sekarang ini juga penderitaan sudah dapat membawa kita masuk ke dalam ekspresi Allah. Inilah kemuliaan yang melebihi segala-galanya.

KEDATANGAN KRISTUS

DARI LAHIR DAN DARI BATIN

Roma 8:30 mengatakan, “Mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya.” Perkataan ini tidak berarti meletakkan kita di dalam kemuliaan. Diletakkan di dalam kemuliaan berbeda sekali dengan dimuliakan. Dua Tesalonika 1:10 mengatakan, “Apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan di antara orang-orang kudusNya.” Pada suatu hari, ketika saatnya tiba, Kristus akan datang lagi dan akan dimuliakan di dalam kita. Itu berarti Ia akan keluar dari batin kita. Jika Anda mengerti Alkitab, Anda akan mengetahui, di satu pihak, Kristus datang dari luar, dan di pihak lain, Ia akan datang dari batin kita. Dialah benih kemuliaan yang telah tertanam di batin kita, dan benih ini akan bertumbuh hingga mencapai tahap berbunga. Kemudian muncullah kemuliaan. Saya yakin bahwa kedatangan Tuhan mempunyai aspek luaran. Tetapi konsepsi Alkitab tidak begitu dangkal. Mengapa Tuhan hingga saat ini belum juga datang? Jika Ia akan datang dari atas, itu mudah sekali! Ia dapat melakukannya sembarang waktu. Namun untuk datang dari dalam kita, tidaklah terlalu mudah. Walaupun Ia bisa datang dari atas sembarang waktu, tetapi di manakah orang-orang yang dari dalamnya Ia dapat keluar? BagiNya mudah sekali menyoroti kita dari luar, namun untuk dimuliakan di dalam kita sangatlah sukar. Meletakkan kita di dalam kemuliaan itu mudah sekali, tetapi untuk memuliakan kita tidaklah mudah. Contoh-nya, merias orang yang berwajah pucat pasi dengan bedak merah itu mudah, namun jika ingin perubahan dari dalam, air muka yang pucat menjadi merah berseriseri, itu membutuhkan waktu. Alkitab mengatakan bahwa Allah hendak membawa banyak putra ke dalam kemuliaan, juga mengatakan Ia akan memuliakan kita. Dimuliakan berarti seluruh diri kita dipenuhi oleh benih kemuliaan yang tertanam di dalam kita. Bila seluruh diri kita diresapi dan dipenuhi oleh unsur kemuliaan, kemuliaan itu akan terpancar keluar dari dalam kita. Inilah makna sejati dari dimuliakan. Bila kita mengalami pemuliaan ini, kita akan berada di dalam ekspresi Allah. Pada saat itu kita akan sepenuhnya berdiri di seberang sana, sepenuhnya berada dalam ekspresi Allah. Inilah kemuliaan kita.

Sekarang kita telah mengerti apa arti masuk ke dalam kemuliaan, apa arti Allah membawa kita ke dalam kemuliaan. Puji Tuhan, kita sedang menyeberang sungai! Kita masih tetap menyeberang sungai, dari kekristenan yang usang menyeberang ke dalam hidup gereja yang segar dari pribadi yang tua menyeberang ke dalam roh yang baru, dari setiap hal yang di luar Allah menyeberang ke dalam ekspresi Allah sendiri. Setiap hari kita adalah penyeberang sungai yang sejati. Hari demi hari, kita menyeberang sungai. Pemimpin kita telah menyeberang semua sungai. Ia telah membuka jalan bagi kita. Sekarang, Ia adalah Perintis, Pelopor, dan Pemimpin yang sedang memimpin kita masuk ke dalam kemuliaan. Sebab itu, Ia telah masuk ke dalam kita menjadi Pemimpin dan benih kemuliaan. Bahkan kini, dari kemuliaan Allah, Ia menyuplai kita terus-menerus, yaitu menyuplaikan diriNya sebagai roti dan anggur kepada kita untuk menunjang dan menolong kita. Inilah Pemimpin keselamatan. Ketika kita menuju ke arah kemuliaan, kemuliaan justru ada di dalam kita. Puji Tuhan!