← Daftar isi Ibrani (1) · bab 11/17

YANG MENGUDUSKAN DAN YANG DIKUDUSKAN

Berita ini akan membahas soal pengudusan. Tidak ada kitab lain yang membahas masalah pengudusan sebanyak Kitab Ibrani. Kekudusan benar-benar merupakan hal yang mutlak diperlukan, karena tanpa itu kita mustahil hidup di hadapan Allah. Dalam Ibrani 12:14 dikatakan bahwa tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Namun “kudus” ini sukar sekali didefinisikan. Untuk memahami hal ini, kita perlu meneliti sejenak latar belakang beberapa aliran pengajaran Kristen yang khusus mengajarkan tentang kekudusan atau pengudusan. Pengudusan memang diwahyukan sepenuhnya dalam kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru. Walaupun demikian, ajaran itu hampir hilang. Pada masa Reformasi, Allah mulai memulihkan se-mua kebenaranNya. Yang pertama dipulihkan ialah kebenaran tentang pembenaran oleh iman. Jika Anda membaca sejarah gereja dalam lima abad terakhir, Anda akan menemukan bahwa sesudah terpulihnya pembenaran, yang berikutnya adalah pengudusan. Tetapi kebenaran pengudusan ini tidak terpulih sejelas pembenaran. Bahkan kebenaran tentang pembenaran oleh iman sendiri walau telah terpulih, tetap kurang sempurna, sebab hanya terpulih secara obyektif bukan secara subyektif. Hal ini telah kita bahas dalam Pelajaran-Hayat Surat Roma. Sesudah pemulihan pembenaran oleh iman, pemulihan pengudusan menyusul, hanya saja pemulihan ini kurang tepat dan menyeluruh.

Kita tidak dapat menyebutkan siapa yang pertama di-pakai Allah dalam memulihkan masalah pengudusan. Akan tetapi dari sejarah pemulihan gereja kita dapat mengetahui, pada abad ke-18, Allah memakai sekelompok mahasiswa Universitas Oxford, yang diantaranya terdapat John Wesley, Charles Wesley, dan George Whitefield. Ketika itu orang-orang muda tersebut mulai mengadakan suatu perhimpunan. John Wesley dibangkitkan Allah melalui bantuan saudara-saudara Moravia yang dipimpin oleh Zinzendorf. Merekalah yang membantunya hingga ia jelas terhadap masalah keselamatan. Ketika Wesley diundang berkhotbah di Amerika Serikat, ia masih belum jelas akan keselamatan dirinya. Tetapi dalam perjalanannya ke Amerika Serikat, di atas kapal ia berjumpa dengan saudara-saudara Moravia dan beroleh bantuan mereka, sehingga masalah tersebut menjadi jelas baginya. Setelah tinggal beberapa saat di Amerika Serikat, ia lalu kembali ke Eropa dan mengunjugi Bohemia, tempat Zinzendorf dengan rekan-rekannya mempraktekkan hidup gereja. Waktu itulah Wesley menerima bantuan rohani paling besar dari mereka. Dalam sebuah catatannya, ia mengatakan bahwa seandainya ia tidak ada beban pelayanan di Negeri Inggris, ia lebih suka menghabiskan sisa hidupnya di Bohemia. Karena menurut dia, di situlah tempat kediaman Allah. Namun karena berbeban terhadap Inggris, akhirnya ia pulang. Dari sejarah kita ketahui bahwa kebangunan rohani yang di bawah pimpinan Wesley itu telah menghindarkan Negeri Inggris dari revolusi. Saya mengatakan hal ini untuk menunjukkan betapa besarnya pengaruh khotbah John Wesley.

Kelompok mahasiswa Universitas Oxford, termasuk John Wesley dan George Whitefield itu telah menetapkan suatu peraturan yang disebut “methods” yang mereka gunakan sebagai cara untuk menertibkan atau memperbaiki tingkah laku mereka. Dengan ketat mereka memelihara peraturan-peraturan tersebut. Hal itu dianggap sebagai suatu Kehidupan yang kudus. Inilah kekudusan yang dipraktekkan oleh kaum Methodis “kesempurnaan tanpa dosa” (Sinless Perfection) dan yang juga dipraktekkan oleh Gereja Nasrani (The Church of the Nazarene), Gereja Allah, dan lain-lain dewasa ini.

Lalu pada permulaan abad ke-19, bangkitlah Kaum Saudara (The Brethren) di bawah pimpinan John Nelson Darby. Mereka menunjukkan bahwa kekudusan dalam Alkitab bukanlah “kesempurnaan tanpa dosa”. Dengan Matius 23:17 mereka menunjukkan emas dikuduskan oleh bait. Baitlah yang membuat emas menjadi kudus. Pengajar-pengajar Kaum Saudara mengatakan, walaupun emas yang di perjualbelikan di pasar tidak mengandung dosa, namun tidak berarti ia kudus. Emas-emas itu baru kudus bila sudah dipersembahkan kepada Allah dan diletakkan di dalam Bait SuciNya. Alasan mereka yang demikian sangat kuat dan tidak seorang pun dapat membantahnya. Selain itu, mereka juga mengutip perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 23:20, membuktikan bahwa yang membuat kurban menjadi kudus adalah mezbah. Ketika domba atau lembu masih di kandang, memang tidak berdosa dan sepenuhnya benar. Namun, itu masih umum. Kurban-kurban itu baru kudus setelah dipersembahkan kepada Allah di atas mezbah. Secara doktrinal Kaum Saudara telah mematahkan ajaran sebagai kesempurnaan tanpa dosa golongan Wesley, dan membuktikan kalau ajaran mereka itu tanpa dasar Alkitab, melainkan hanyalah konsepsi alamiah manusia terhadap kekudusan.

Kaum Saudara yang terkenal dengan perdebatan doktrinalnya, juga membahas 1Timotius 4:4-5, yang menerangkan bahwa segala makanan telah menjadi kudus karena doa kaum saleh. Selama makanan-makanan itu berada di pasar, itu masih umum. Mungkin makanan itu sendiri tidak salah dan tidak berdosa, namun tetap umum. Bila ia telah diletakkan di atas meja makan dan didoakan oleh kaum saleh, barulah menjadi kudus. Dengan ayat-ayat ini Kaum Saudara menunjukkan bahwa pengudusan berarti perubahan kedudukan. Misalkan emas, selama berada di toko emas, emas itu masih umum. Tetapi bila emas itu berada di bait, ia menjadi kudus. Kedudukannya telah berubah. Demikian juga, bila domba masih di dalam kandang, itu umum, tetapi setelah ditaruh di atas mezbah, itu menjadi kudus. Makanan-makanan yang masih berada di toko atau pasar juga umum, namun setelah didoakan oleh kaum saleh, itu menjadi kudus. Jadi, berdasarkan ayat-ayat tadi, Kaum Saudara mengajarkan bahwa “kudus” berarti perpindahan kedudukan. Pada mulanya, kedudukan kita duniawi, sedikit pun tidak untuk Allah. Tetapi ketika kita telah tersisih dan dipersembahkan kepada Allah, kedudukan kita berubah, dan kita menjadi kudus.

Ajaran Kaum Saudara memang sangat tepat. Beberapa tahun yang lalu, ketika kita mempelajari macam-macam aliran tentang pengudusan, kita pun setuju dengan ajaran Kaum Saudara tersebut. Kita menemukan bahwa kesempurnaan tanpa dosa bukanlah makna kekudusan yang sebenarnya. Akan tetapi, setelah kita meninjau kembali kitab-kitab Perjanjian Baru, kita lalu nampak bahwa kekudusan (holiness) atau pengudusan (sanctification) bukan hanya masalah kedudukan, tetapi juga masalah sifat. Jadi, pengudusan tidak saja masalah mengubah kedudukan, juga masalah mengubah sifat. Memang benar, menurut ayat-ayat yang mengatakan emas dikuduskan oleh bait, kurban dikuduskan oleh mezbah, dan makanan dikuduskan oleh doa kaum saleh; tidak perlu diragukan lagi bahwa ada aspek kedudukan dalam masalah pengudusan. Akan tetapi kita harus pula melihat masalah pengudusan yang tercantum dalam Roma 6. Istilah ini tercantum dua kali di Roma 6:19, 22. “Kekudusan” tidak mengandung unsur pengalaman, sedang “pengudusan” mengandung unsur pengalaman. Maka dari Roma 6 dapat kita lihat pengudusan di situ bukan ditujukan pada kedudukan, melainkan sifat. Dengan ini kita dapat mengatakan bahwa pengudusan bukan hanya menjamah kedudukan kita, terlebih pula menjamah sifat atau watak kita.

Dalam Ibrani 2 kekudusan terutama ditujukan kepada sifat ilahi Allah. Hal ini sama dengan yang dimaksud oleh Roma 6. Pengudusan berarti Allah menggarapkan kekudusanNya ke dalam kita, dengan menyalurkan kekudusan Allah itu ke dalam kita. Ini bukan kekudusan secara kedudukan, melainkan kekudusan secara sifat. Dalam pengudusan yang demikian, Kristus sebagai Roh pemberi hayat telah meresapi semua bagian batin kita dengan sifat kudus Allah. Itulah yang dimaksud menggarapkan kekudusan Allah ke dalam seluruh diri kita. Ini boleh kita sebut pengudusan secara sifat atau watak.

Mari kita baca Ibrani 2:11, “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu . . .” Jelaslah, perkataan “berasal dari Satu” bukan mengacu kepada kedudukannya, melainkan mengacu kepada sifatnya. “Ia yang menguduskan” ialah Kristus, dan “mereka yang dikuduskan” ialah kita. Kristus dan kita berasal dari Satu. Ini berarti Kristus yang menguduskan dengan kita yang dikuduskan berasal dari satu sumber dan satu Bapa. Sumber tentu bukan masalah kedudukan, melainkan sifat. Yang menguduskan dan yang dikuduskan berasal dari satu sumber, satu Bapa. Maka Bapa adalah sumber Dia yang menguduskan dan sumber mereka yang dikuduskan. Ini bukanlah masalah kedudukan, tetapi masalah sifat.

Bagian belakang ayat 11 mengatakan, “itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara.” Mengapa dikatakan “itulah sebabnya”? Sebab Dia dan kita berasal dari satu Bapa, satu sumber. Maka, Ia tidak malu menyebut kita saudara.

Di Amerika Serikat banyak orang yang menyukai anjing. Maukah Anda menyebut seekor anjing saudara? Dapatkah Anda berkata kepada anjing, “Saudara yang terkasih, aku cinta kepadamu”? Pasti tidak! Tidak seorang pun mau menyebut anjingnya sebagai saudara. Kita tentu malu berbuat demikian. Kita bukan makhluk berkaki empat dan berekor satu, kita adalah manusia. Kita tidak sembarangan menyebut seseorang saudara, kecuali ia dengan kita berasal dari satu sumber, barulah kita tidak malu menyebutnya saudara. Sama halnya, Kristus tidak malu menyebut kita saudara, sebab Ia dan kita berasal dari satu Bapa, satu sumber. Inilah sebabnya, Ia dengan kita memiliki hayat, sifat, watak yang sama. Dari satu ayat ini kita dapat nampak pengudusan bukannya kesempurnaan tanpa dosa, juga bukan sekadar perubahan kedudukan; pengudusan lebih dalam dan lebih tinggi daripada semua itu, yakni perubahan sifat.

Kita telah tahu adanya tiga tafsiran tentang definisi pengudusan atau kekudusan dalam kalangan orang Kristen. Yang pertama mengajarkan kesempurnaan tanpa dosa. Ajaran ini mutlak tidak Alkitabiah. Yang kedua mengatakan masalah kedudukan. Ajaran ini memiliki dasar Alkitab yang kuat, namun tidak mencakup setiap hal yang berhubungan dengan kekudusan atau pengudusan seperti yang dikatakan dalam Alkitab. Kekudusan atau pengudusan dalam Alkitab mencakup transformasi perubahan kedudukan dan sifat. Ibrani 2 malahan menekankan aspek sifatnya bukan aspek kedudukannya. Pengudusan dalam 2:11 tidak berhubungan dengan kedudukan, melainkan sifat, watak, dan sumber.

Yang menguduskan dan yang dikuduskan berasal dari satu. Sebab itu, Dia tidak malu menyebut kita saudara. Sebaliknya, Ia merasa mulia karena Ia dan kita berasal dari satu sumber. Dia datang dari Bapa, kita pun berasal dari Bapa. Kita boleh berkata kepada Tuhan Yesus, “O, Tuhan Yesus, Engkau memiliki hayat Bapa, kami juga memilikinya. Engkau memiliki sifat ilahi Bapa, kami juga memilikinya. Kami adalah saudaraMu. Tuhan, Kami dan Engkau berasal dari sumber yang sama.”

Inilah konsepsi dasar tentang pengudusan sifat yang tercantum dalam Roma 6 dan Ibrani 2.

I. YANG MENGUDUSKAN

A. Putra Allah yang Berinkarnasi

Siapakah Yang Menguduskan? Yang Menguduskan ialah Putra Allah. Sebelum Putra Allah berinkarnasi, dalam keadaanNya semula, tidak mungkin Ia menguduskan kita. Namun hari ini, Dia tidak hanya sebagai Putra Allah, tetapi juga Putra Allah yang berinkarnasi. Tanpa pernah berinkarnasi, mustahil Ia dapat menguduskan kita. Saya sangat menekankan kata-kata ini. Walaupun Ia mungkin mengu-duskan Anda menurut konsepsi Anda tentang pengudusan, namun Ia tidak mungkin menguduskan kita menurut ekonomi Allah.

B. Anak Manusia yang Disalibkan, Dibangkitkan, Dimuliakan, dan Diagungkan

Sebagai Yang berinkarnasi, Kristus adalah Anak Manusia. Anak manusia ini belum bisa menguduskan kita, kecuali Ia sudah mengalami penyaliban, kebangkitan, pemuliaan, dan pengagungan. Inilah syarat-syaratNya menjadi Yang menguduskan. Putra Allah yang berinkarnasi ini harus mengalami kematian dan kebangkitan, agar sifat insaniNya dilahirkan oleh Allah dan Dia dimuliakan dan diagungkan ke dalam posisi sebagai yang menguduskan.

C. Menjadi Putra Sulung Allah

Untuk menjadi Yang menguduskan manusia, Kristus harus terlahir sebagai Putra sulung Allah (1:6). Sebelum Yesus Kristus dibangkitkan, Allah tidak memiliki Putra sulung. Ia hanya memiliki Putra Tunggal. Apakah perbedaan antara Putra sulung dengan Putra Tunggal? Sebagai Putra tunggal, Kristus tidak memiliki sifat insani, hanya memiliki sifat ilahi. Namun setelah Ia berinkarnasi, Ia mengenakan sifat insani. HidupNya sebagai manusia selama tiga puluh tiga setengah tahun di bumi merupakan masa transisi. Di satu pihak, Ia tetap Putra tunggal Allah, tetapi di pihak lain, Ia telah mengenakan sifat insani. Sifat ilahi yang di dalamNya adalah Putra Allah, tetapi sifat insaniNya itu bukan. Maka dalam waktu tiga puluh tiga setengah tahun, tahun itu Yesus menjadi sangat ajaib sekali. Ia memiliki sifat ilahi, yaitu Putra Allah, Ia pun memiliki sifat insani, bukan Putra Allah. Bagian sifat insaniNya ini belum dilahirkan oleh Allah. Menurut keilahianNya dan sifat ilahiNya, Ia memang Putra Allah. Namun, sebelum Ia dibangkitkan, ada sesuatu pada diriNya yang belum dilahirkan oleh Allah, yakni sifat insaniNya. Karena itu, Ia perlu mengalami kematian dan kebangkitan, supaya bagian sifat insaniNya dilahirkan oleh Allah. Mazmur 2:7 adalah dasar yang sangat kuat bagi soal ini. “Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Ayat ini tergenap pada saat Tuhan dibangkitkan. Itu dibuktikan oleh Kisah Para Rasul 13:33 yang menyinggung kebangkitan Kristus yang mengutip dari Mazmur 2. Dalam sifat insaniNya Kristus baru dilahirkan sebagai Putra Allah pada hari kebangkitan. Setelah itu, Ia menjadi Putra sulung Allah. Sekarang, sebagai Putra sulung, Ia memiliki sifat ilahi dan sifat insani. Sebagai Putra tunggal Allah Ia tidak memiliki sifat insani. Ketika Ia berada di bumi setelah Ia berinkarnasi, Ia memiliki sifat insani, hanya saja dalam tiga puluh tiga setengah tahun itu sifat insaniNya belum dilahirkan oleh Allah. Melalui kebangkitanNya bagian insaniNya dilahirkan oleh Allah. Melalui kelahiran ini, Ia menjadi Putra sulung Allah. Ketika Ia masih sebagai Putra tunggal Allah, Ia hanya memiliki sifat ilahi tanpa sifat insani. Namun hari ini Yesus sebagai Putra sulung Allah, memiliki dua sifat ilahi dan insani. Ini bukan hal sepele, ini adalah hal besar!

Apakah Anda putra Allah? Jika Anda menjawab ya, lalu Anda putra Allah yang macam apa? Seperti Putra sulungkah Anda atau putra tunggal? Kita adalah seperti Putra sulung Allah, sebab kita adalah putra-putra Allah yang tidak saja memiliki sifat ilahi, tetapi juga sifat insani. Kita menjadi putra-putra Allah menurut Putra sulung, bukan menurut Putra tunggal.

Sekarang kita dapat memahami mengapa Putra tunggal Allah tidak dapat menguduskan kita dan mengapa Putra sulung dapat. Putra sulung dapat menguduskan kita karena Dia memiliki dua sifat seperti kita, dan kita memiliki dua sifat seperti Dia. Yang menguduskan kita ini bukan Putra tunggal Allah saja, Ia pun Putra sulung Allah yang memiliki sifat ilahi dan insani. Berhubung Ia memiliki dua sifat seperti yang kita miliki, Ia dapat menguduskan kita. Setelah Ia terlahir sebagai Putra sulung, lalu Ia dapat me-nunaikan tugasNya sebagai Yang menguduskan. Ini berarti Ia harus mengalami proses inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, pemuliaan, dan pengagungan. Setelah melewati proses-proses itu, barulah Ia menjadi Putra sulung Allah. Dengan perkataan lain, telah dilahirkan menjadi Putra sulung Allah. Dialah yang menguduskan kita. Ia layak menjadi Yang menguduskan kita dan kita pun layak menjadi orang-orang yang dikuduskan.

Dia yang menguduskan ialah Kristus, adalah Putra sulung Allah; orang-orang yang dikuduskan ialah orang-orang yang percaya Kristus, adalah putra-putra Allah. Putra su-lung dan putra-putra Allah dilahirkan oleh Allah Bapa yang sama dalam kebangkitan (Kis. 13:33, 1 Ptr. 1:3), dan memiliki hayat dan sifat ilahi yang sama. Karena itu, Ia tidak malu menyebut mereka saudara.

II. YANG DIKUDUSKAN

A. Orang Dosa Didamaikan dengan Allah

Tidak usah diragukan, kita adalah orang-orang yang dikuduskan, juga adalah orang-orang dosa yang oleh Kristus telah diperdamaikan dengan Allah (2:17). Sebagai orang dosa, kita bersengketa dengan Allah. Bagaimana mungkin Yang menguduskan itu menguduskan orang-orang yang telah bersengketa dengan Allah? Itu mustahil. Karena itu, Tuhan Yesus telah menjadi kurban pendamaian bagi kita (2:17). Apakah artinya? Artinya Kristus telah membuat Allah puas terhadap situasi kita. Meskipun dulu kita adalah orang-orang yang bermasalah dengan Allah, namun kini kita tidak bermasalah lagi denganNya demi adanya kurban pendamaian Kristus tersebut. Dengan berani kita menyatakan bahwa kita mengetahui dengan pasti, kita sudah tidak ber-masalah dengan Allah. Boleh jadi Anda merasa masih ada sedikit masalah dengan Allah. Jangan percaya kepada pera-saan Anda. Perasaan itu tidak ada artinya. Firman Kudus Allah baru berarti. FirmanNya lah yang mengatakan bahwa Kristus telah membuat Allah puas terhadap kita.

B. Orang yang Dibebaskan dari Perhambaan Maut

Kita bukan hanya orang dosa yang memerlukan pen-damaian, kita juga adalah orang yang berada di bawah perhambaan maut. Nasib kita yang terakhir ialah maut. Haleluya, kita telah dibebaskan dari perhambaan maut (2:15)! Konsepsi tentang Allah telah memperdamaikan kita dan kita telah dibebaskan dari maut ini sangatlah dalam. Kedua hal ini tercantum jelas dalam Ibrani 2. Allah telah memperdamaikan kita dan kita telah dibebaskan. Kita adalah orang-orang yang tanpa sengketa dengan Allah dan yang tidak lagi menjadi hamba karena takut kepada maut. Kita telah bebas, leluasa, menjadi orang merdeka. Kita adalah orang merdeka. Siapakah yang dapat memperbudak kita lagi? Banyak orang yang mengatakan Amerika Serikat adalah negera bebas. Sesungguhnya, kita ini, yang percaya kepada Tuhan, barulah yang sungguh-sungguh hidup di tanah kebebasan yang sejati.

C. Terlahirnya Banyak Putra Allah

Untuk menjadi orang “yang dikuduskan”, kita masih memerlukan hal lain, yaitu dilahirkan menjadi putra-putra Allah. Putra-putra Allah harus dilahirkan. Di aspek negatif, kita telah beroleh pendamaian atas dosa-dosa kita dan telah dibebaskan dari perhambaan maut. Di aspek positif, kita telah dilahirkan sebagai putra-putra Allah. Arti pengudusan Allah ialah Putra sulung Allah bekerja di atas diri putra-putra Allah. Atau berarti yang menguduskan adalah Putra sulung Allah sedang yang dikuduskan adalah putra-putra Allah. Hari ini, Putra sulung sedang bekerja atas saudara-saudaraNya. Tuhan Yesus layak menjadi Yang menguduskan, karena Ia adalah Putra sulung Allah; kita juga layak menjadi orang-orang yang dikuduskan, karena kita adalah putra-putra Allah. Setelah mengalami proses inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, pemuliaan, dan pengagungan, Tuhan Yesus layak menjadi Putra Sulung Allah. Kita layak menjadi yang dikuduskan setelah kita didamaikan dengan Allah, dibebaskan dari perhambaan maut, dan dilahirkan menjadi putra-putra Allah. Kini kita dengan Dia sama-sama layak. Dia layak menjadi Yang menguduskan, kita layak menjadi yang dikuduskan. Apakah Anda menyadari diri Anda layak menjadi orang yang dikuduskan? Orang-orang yang berlalu lalang di jalan tidak lah layak, namun kita sepenuhnya layak oleh karena pendamaian dan kebangkitan Kristus.

III. PENGUDUSAN

A. Memisahkan Banyak Putra bagi Allah

Pengudusan berarti dipisahkan bagi Allah (Rm. 6:19, 22). Walaupun ketika kita dilahirkan kembali kita telah dilahirkan oleh Allah, namun itu belum berarti telah dipisahkan sepenuhnya bagi Allah. Dalam pengudusan pekerjaan itu terus dilanjutkan.

B. Mengubah Apa Adanya Mereka

Kedua, dalam proses pengudusan, apa adanya kita diubah (2Kor. 3:18). Pengubahan ini bukannya pada aspek kedudukan, melainkan sepenuhnya pada aspek sifat. Dalam pengubahan kita diubah secara metabolis oleh unsur hayat. Hal ini sama sekali bukan perbaikan atau koreksi luaran, melainkan suatu perubahan metabolis batiniah, perubahan organik oleh unsur hayat.

C. Menyerupakan Mereka dengan

Gambar Putra Sulung

Hasil pengubahan itu, kita diserupakan dengan gambarNya (Rm. 8:29). Pengubahan berarti mengubah sifat Adam kita menjadi sifat Kristus. Sedang penyerupaan berarti menyerupakan putra-putra Allah kepada gambar Putra sulung Allah. Hal ini juga merupakan bagian dari proses pengudusan.

D. Memuliakan Mereka dengan Kemuliaan Allah

Pekerjaan penyerupaan yang berdasar pada pekerjaan pengubahan akan menghasilkan pemuliaan (Rm. 8:30; Kol. 3:4). Dalam proses pengudusan, kita akan dimuliakan dengan kemuliaan Allah. Masalah ini telah kita bahas seluruhnya dalam berita yang lalu yang berjudul “Pemimpin Keselamatan”.

Sekarang kita telah nampak apa sebenarnya pengudusan itu. Pengudusan ialah memisahkan putra-putra Allah yang dilahirkan kembali bagi Allah, dan dengan unsur hayat ilahi mengubah mereka secara metabolis dan organik, menyerupakan mereka dengan gambarNya, akhirnya memuliakan mereka dengan kemuliaan Allah. Inilah pengudusan sifat yang sempurna.

IV. YANG MENGUDUSKAN DAN YANG

DIKUDUSKAN SEMUANYA BERASAL DARI SATU

Kita telah melihat bahwa Yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, semuanya berasal dari Satu. Berarti mereka semua berasal dari seorang Bapa. Yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan adalah putra-putra yang dilahirkan oleh Bapa yang sama. Karena Dia dan kita dilahirkan dari Bapa yang sama, kita adalah saudara-saudaraNya. Kita dengan Dia berasal dari satu sumber, dan mengambil bagian dalam hayat dan sifat yang sama. Dalam hayat dan sifat ini kita sedang di bawah pekerjaan pengudusanNya untuk mengubah kita dari sifat alamiah serta menyerupakan kita dengan gambarNya, sehingga pada akhirnya kita dimuliakan dengan kemuliaan Allah. Inilah pengudusan!