← Daftar isi Ibrani (1) · bab 8/17

YESUS DALAM INKARNASI, PENYALIBAN, KEBANGKITAN, PEMULIAAN, DAN PENGAGUNGAN

Dalam berita ini kita akan meninjau Yesus dalam in-karnasi, penyaliban, kebangkitan, pemuliaan, dan pengagungan. Semua istilah ini sangat penting dan mungkin kita telah sering mendengarnya. Beban saya dalam berita ini adalah menunjukkan bagaimana Ibrani 2 telah me-ngumpulkan kelima hal ini. Pasal atau bagian lain dalam Alkitab tidak ada yang demikian. Ada pasal yang menerangkan penyaliban Kristus, ada pula pasal yang menerangkan kebangkitan, pemuliaan, dan pengagungan Kristus. Namun tidak ada satu bagian sependek Ibrani 2 yang sekaligus menerangkan tentang inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, pemuliaan dan pengagunganNya. Kelima hal besar yang telah dialami dan dicapai oleh Kristus itu, oleh Ibrani 2 disajikan secara khas, berbeda dengan cara pengungkapan pada keempat kitab Injil, Kitab Kisah Para Rasul, atau Surat-Surat Kiriman lainnya. Melalui waktu yang cukup lama, Tuhan menunjukkan kepada saya semua hal yang terkandung dalam satu pasal ini. Pada berita keempat kita telah melihat betapa Ibrani 1 mewahyukan Kristus dalam berbagai tahap: kekekalan yang lampau, penciptaan, inkarnasi bagi penebusan melalui penyaliban, kebangkitan yang menyalurkan hayat, pengagungan, kedatanganNya yang kedua, kerajaan, dan kekekalan yang akan datang. Tidak ada pasal lain yang menampilkan wahyu yang sedemikian tentang Kristus sebagai Putra Allah dari kekekalan yang lampau hingga kekekalan yang akan datang. Urutan dalam pasal ini bahkan luar biasa indahnya. Ibrani 2 juga demikian. Tak ada pasal lain lagi yang sekaligus menampilkan kelima aspek besar dari Kristus. Akan tetapi dalam Ibrani 2 butir-butir ini telah diungkapkan secara istimewa dan cukup jelas. Jadi, perlu kiranya kita sekalian memiliki kesan yang dalam terhadap butir-butir penting dari Kristus ini.

I. DALAM INKARNASI

A. Mengambil Bagian dalam

Darah Daging Anak-anak

Sejak muda, saya sudah mendengar dari pendeta-pendeta bahwa Kristus berinkarnasi sepenuhnya karena Allah mengasihi kita sehingga mengutus PutraNya datang ke dunia yang jahat, dan mati tersalib karena dosa kita, agar kita diselamatkan dari neraka. Hanya sebanyak itu pengenalan saya terhadap inkarnasi Kristus. Walaupun itu tidak salah, namun sangat dangkal. Bagi orang-orang yang terpelajar dan golongan atas, ajaran yang demikian sulit mereka terima; ajaran yang demikian mereka anggap rendah dan tanpa tujuan. Mereka akan menganggap orang-orang golongan rendah saja yang mau menerima pemberitaan Injil serendah itu. Walaupun Injil sebenarnya tidaklah rendah, orang-orang telah memberitakannya pada tingkat yang rendah. Saya tidak pernah mendengar pengkhotbah yang menerangkan Kristus berinkarnasi dengan tujuan agar Ia mengambil bagian dalam darah daging kita. Pemikiran yang demikian jauh lebih tinggi. Maksud inkarnasi Kristus adalah agar Ia dapat mengambil bagian dalam darah daging anak-anak Allah (Ibr. 2:14). Dengan perkataan manusia boleh dikatakan, yang demikian sangatlah filosofis. Penginjilan setinggi inilah baru dapat menaklukkan mereka yang memiliki filsafat. Mereka baru akan menganggapnya masuk akal.

Pada tahun 1920-an, dalam jawabanNya terhadap doa para misionaris, Tuhan telah melakukan pekerjaan yang ajaib sekali di kalangan perguruan tinggi dan universitas di China. Banyak mahasiswa telah beroleh selamat. Saya juga beroleh selamat pada saat itu. Setelah diselamatkan, kami lalu mulai memberitakan Kristus dengan lebih tinggi. Waktu itu, kami sebagai kaum remaja China sangat memahami filsafat China. Karena itu, kami tahu bagaimana meyakinkan orang-orang untuk menerima Injil. Kami memberitakan Injil yang bermutu tinggi bukan berdasarkan pemikiran manusia, melainkan berdasarkan “filsafat ilahi”. Allah tentunya lebih filosofis. Apa artinya “filosofis”? Itu berarti memiliki pikiran yang lebih kaya. Allah bukan Allah yang sederhana, dangkal, atau rendah, melainkan dalam, penuh pikiran, bertujuan, dan bermakna. Allah kita adalah Allah yang bertujuan. Siapa yang lebih filosofis daripadaNya?

Sebagai akibat pemberitaan Injil yang bermutu tinggi itu, banyak dokter, jururawat, profesor, dan orang terpelajar lainnya berpaling kepada Tuhan.

Surat Ibrani tidak dangkal, bahkan sangat tinggi dan dalam. Surat ini termasuk golongan paling tinggi. Surat ini tidak mengatakan bahwa Kristus datang menyelamatkan kita oleh karena kita telah jatuh dan berdosa, melainkan dikatakan semua anak memiliki darah dan daging, sehingga kedatanganNya justru untuk mengambil bagian dalam sifat manusia. Pemikiran ini lebih dalam dan lebih tinggi. Coba bayangkan, pada suatu hari, Putra Allah, Allah kita, benar-benar menjadi sesifat dengan kita. Ia menjadi manusia yang mengambil bagian atas darah daging. O, alangkah ajaibnya! Juruselamat kita tidak berbeda dengan kita. Allah dan Juruselamat kita benar-benar serupa dengan kita. Saya dapat bersaksi, banyak cendekiawan di China yang telah percaya Tuhan karena konsepsi yang demikian. Mereka mula-mula merenungkan hal ini dan menganggapnya masuk akal. Mereka nampak bahwa Allah yang datang dalam daging ini tidak menghendaki kita berbuat apa-apa, tetapi Ia ingin bersatu dengan kita. KedatanganNya bukan sebagai Allah yang menolong kita, karena jika demikian, kita akan takut. Ia juga tidak datang sebagai malaikat yang akan merangkul kita, karena hal itu mungkin tidak dapat kita terima. Sesungguhnya, Ia datang dalam keadaan seperti manusia. Ia mengambil bagian dalam sifat manusia dan dalam darah daging manusia. Konsepsi macam ini benar-benar telah menaklukkan kaum terpelajar itu. Mereka memuji dengan berkata, “Ini baru pemikiran yang tinggi. Allah telah menjadi sesifat dengan manusia, dan mengambil bagian dalam darah daging manusia.” Inilah inkarnasi yang mengandung “filsafat” paling dalam dan paling tinggi.

Jangan sekali-kali menghubungkan inkarnasi dengan hari Natal. Setiap perkara yang bersangkutan dengan hari Natal harus dibakar habis! Jika penginjilan Anda menyebutkan hari Natal di kalangan cendekiawan China, mereka tidak akan mau mendengarnya. Mereka akan mengatakan bahwa pohon terang, kaos kaki yang terisi kembang gula, atau Sinterklas itu terlalu rendah, dangkal dan kekanak-kanakan. Semuanya itu bukan berasal dari firman Allah, melainkan berasal dari kalangan kafir, yaitu ragi yang diadukkan oleh “perempuan”, sesuai nubuat Tuhan dalam Matius 13:33. Mana mungkin orang-orang terpelajar itu mau percaya akan ajaran semacam itu? Itu hanya dapat meyakinkan anak-anak di jalan, mustahil meyakinkan orang-orang terpelajar.

Banyak orang Kristen telah memberitakan keselamatan Tuhan yang paling tinggi ke dalam bentuk penginjilan yang rendah. Kita perlu orang-orang yang memiliki pengalaman keselamatan yang bermutu tinggi untuk menginjili golongan cendekiawan, agar mereka segera diyakinkan. Mereka juga menuntut kebenaran, karena mereka pun ciptaan Allah. Dalam sifat mereka terdapat hati yang mencari Allah. Sayang, banyak orang Kristen telah memberitakan Injil dengan bentuk yang rendah, dangkal, dan kurang tepat. Inkarnasi sama sekali bukanlah hari Natal, melainkan Allah, yaitu Allah yang Mahakuasa, telah menjadi daging. Seperti yang tercatat dalam Yohanes 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia (daging).” Siapakah Firman? Firman adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu! Jadi, Firman ini Allah Pencipta, telah menjadi daging. Alangkah tinggi dan bermakna hal ini! Mengapa Ia mau menjadi daging? Tidak lain agar Ia menjadi serupa dengan kita. Kita adalah manusia yang berdarah daging. Kristus datang untuk menjadi manusia yang serupa dengan kita. Melalui inkarnasi Ia menjadi manusia yang sederajat dengan kita. Meskipun Kristus adalah Allah, namun Ia telah menjadi manusia yang sederajat dan sesifat dengan kita. Inilah Injil yang dibutuhkan oleh mahasiswa-mahasiswa. Mereka akan mendengarkannya. Anda dapat menarik mereka tiap malam untuk mendengarkan Injil semacam ini. Kaum terpelajar dan mahasiswa tidak mau mendengar Injil yang kelas rendah. Mereka menganggapnya rendah dan egoistis tanpa tujuan yang agung. Kita harus memberi tahu mereka tentang tujuan Allah, yaitu Allah telah datang sebagai manusia agar dapat mendirikan perusahaanNya yang besar Kristus dan gereja.

Injil yang saya beritakan ini pernah saya alami sendiri. Ketika saya di China, saya benar-benar menginjil demikian. Ketika kami memberitakan bahwa kehendak Allah adalah Kristus dan gereja, beberapa guru besar dan mahasiswa berkata, “Kami harus mendapatkannya. Bertahun-tahun kami mencari-cari jawaban masalah makna manusia, tujuan hidup manusia, dan tujuan penciptaan alam semesta. Kini kami telah menemukannya.” Demikianlah kami memberitakan tentang kehendak Allah. Inilah pengkhotbahan yang tinggi atas Injil yang bermutu tinggi.

B. Dalam Segala Hal Ia Disamakan dengan Saudara-saudara-Nya

Karena bersimpati kepada kita, Kristus mengambil bagian dalam sifat kita, mengambil bagian dalam darah daging seperti kita. Ia sebagai Putra Allah yang sulung dan kita adalah saudara-saudaraNya. Namun kita ini lemah dan rapuh dalam daging. Maka Ia menjadi manusia dalam daging, sama seperti kita. Karena kita lemah dan rapuh, kita perlu simpatiNya. Bila Anda ingin bersimpati kepada orang lain, Anda perlu menjadi sama seperti orang itu. Tanpa menjadi sederajat dan sama dengan Anda, saya tidak mungkin bersimpati kepada Anda. Tetapi bila saya dalam keadaan yang sama dengan Anda, saya baru dapat bersim-pati kepada Anda. Simpati Tuhan kepada kita juga merupakan salah satu aspek inkarnasiNya. Ini diterangkan dalam Ibrani 2:17. Dalam segala hal Tuhan dijadikan sama dengan saudara-saudaraNya, agar Ia dapat bersimpati kepada mereka.

II. DALAM PENYALIBAN-NYA

A. Mengecap Maut bagi Segala Sesuatu

Walaupun sejak kecil saya berulang-ulang mendengar bahwa kematian Kristus di kayu salib adalah karena dosa-dosa kita, namun saya tidak pernah mendengar Ia mengalami kematian bagi segala sesuatu (Ibr. 2:9 Tl. LAI: bagi semua manusia). Kristus mengalami kematian tidak hanya bagi manusia, bahkan bagi segala sesuatu, segala makhluk ciptaan. Pernahkah Anda mendengar perkataan ini? Pernahkah Anda mendengar Kristus mengalami maut juga bagi binatang? Mungkin kata-kata ini tidak sedap kedengarannya. Tetapi jika Anda memeriksa bahasa asli dari Ibrani 2:9 ini Anda akan menemukan kata “segala sesuatu” di situ. Bila Kristus tidak mengalami maut bagi segala sesuatu, bagaimanakah Allah dapat mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya? Kolose 1:20 mengatakan bahwa Allah telah memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya sendiri melalui kematian Kristus. Bahtera Nuh telah melambangkan hal ini dengan jelas, karena di dalam bahtera tidak saja ada manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya. Bahtera tidak saja menyelamatkan manusia, juga segala jenis binatang. Bahtera merupakan lambang atau lukisan Kristus pada aspek ini. Makna hal ini pun sangat dalam dan kita perlu memakai banyak waktu untuk menjelaskannya. Ini merupakan wahyu yang sangat dalam. Ingatlah, Kristus mengalami maut bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi segala sesuatu. Itulah sebabnya kita mengatakan bahwa kematian Kristus adalah kematian yang almuhit (meliputi segala sesuatu).

B. Mengadakan Pendamaian bagi Dosa Umat Allah

Kematian Kristus juga mengadakan pendamaian bagi dosa umat Allah (2:17). Kata “kurban pendamaian” (hilas komai) dalam bahasa Yunani berarti memuaskan tuntutan satu pihak agar kedua belah pihak diperdamaikan, dirukunkan. Yesus telah menggenapkan pendamaian bagi dosa-dosa kita, dan dengan demikian memuaskan tuntutan keadilan Allah, dan mendamaikan Allah dengan kita. Karena itu, Ia telah memuaskan Allah bagi kita.

Kristus mati di atas salib untuk mengecap maut bagi kita, dan memuaskan Allah bagi kita. Demi mengecap maut, Ia telah menyingkirkan maut (2 Tim. 1:10 Tl.). Karena Ia menjadi kurban pendamaian, maka Allah telah puas sepenuhnya terhadap kita. Kini kita tidak lagi berada di bawah maut atau dosa. Walaupun dalam alam semesta masih ada maut dan dosa, namun melalui kematian Kristus, penyaliban Kristus yang almuhit, kita telah dibebaskan dari maut dan dosa. Jangan mempercayai perasaan Anda. Jangan berkata, mengapa aku tidak merasakan kalau maut dan dosa itu telah disingkirkan. Perasaan Anda itu palsu. Allah mengatakan, “Telah disingkirkan.” Anda percaya kepada pera-saan Anda sendiri atau percaya kepada firman Allah? Saya tidak memperhatikan perasaan saya. Saya hanya memperhatikan firman Allah. Alkitab mengatakan bahwa kematian telah disingkirkan, dan Kristus telah menjadi kurban pen-damaian bagi dosa-dosa kita.

C. Memusnahkan Iblis

Selain maut dan dosa, kita masih mempunyai masalah lain, yaitu Iblis. Tetapi dalam penyalibanNya, Kristus juga telah memusnahkan Iblis (2:14).

Istilah “memusnahkan” dalam bahasa Yunani mengandung arti membuatnya nihil, membuatnya tidak berguna, menyingkirkan, menghapuskan, membatalkan, meniadakan. Setelah Iblis, si ular, membujuk manusia hingga jatuh, Allah menjanjikan bahwa keturunan perempuan itu akan datang itu meremukkan kepala ular (Kej. 3:15). Ketika waktunya telah genap, Putra Allah datang untuk menjadi daging (Yoh. 1:14; Rm. 8:3) dengan dilahirkan melalui seorang dara (Gal. 4:4), agar Dia dapat memusnahkan Iblis di dalam daging manusia melalui kematianNya dalam daging di atas salib. Ini adalah untuk menyingkirkan Iblis, untuk membuatnya nihil. Haleluya! Iblis telah disingkirkan, ditiadakan!

Mungkin Anda akan berkata, “Bagaimana Iblis telah dimusnahkan, bila ia tetap ada dan merajalela?” Mengatakan Iblis tetap merajalela itu dusta. Alkitab tidak pernah berkata demikian. Jangan percaya kepada dusta yang demikian. Alkitab mengatakan bahwa Iblis telah dilukai, dimusnahkan, dan kepalanya telah diremukkan. Anda percaya kepada perasaan sendiri atau firman Allah? Firman Allah memberi tahu kita, melalui kematian Kristus di atas salib, Iblis telah dimusnahkan. Inilah fakta yang telah genap, fak-ta yang tercatat dalam Alkitab, sebagai wasiat bagi kita. Kita harus menerapkannya melalui iman berdasarkan firman Allah ini.

D. Membebaskan Kita yang Berada dalam

Perhambaan karena Takut akan Maut

Kematian Kristus pun telah membebaskan kita yang berada dalam perhambaan karena takut akan maut (2:15). Karena Kristus demi kematianNya telah mengalami maut bagi kita, Ia pun telah memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut itu, maka kematianNya telah membebaskan kita yang berada dalam perhambaan karena takut akan maut. Kita telah bebas dari perhambaan yang demikian. Karena penyaliban Kristus yang almuhit, tidak ada lagi maut, dosa, Iblis, ketakutan akan maut, dan perhambaan. Oleh belas kasihanNya, Tuhan telah mencelikkan mata kita dan kita telah nampak kematianNya yang almuhit ini. Melalui pengalaman, kita benar-benar menyadari bahwa maut, dosa, Iblis, ketakutan akan maut, dan perhambaan, semua telah terenyah dalam penyaliban Kristus.

III. DALAM KEBANGKITAN

Setelah kematianNya, Kristus pun bangkit. Inilah hal yang paling bermakna dalam hayat. Namun hal ini tidak pernah dimengerti dengan memadai, termasuk oleh orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh telah dilahirkan kembali. Karena orang yang “berpikiran” tidak mendapatkan pengajaran yang memadai mengenai kebangkitan Kristus, Iblis lalu memenuhi pikiran mereka dengan ajaran-ajaran golongan Modernisme yang mengatakan bahwa kebangkitan adalah takhayul. Pada tahun 1936, saya diundang menginjil di sebuah universitas ternama di China. Pada suatu malam, di rumah seorang guru besar, seorang mahasiswa yang sangat pintar yang terlahir dalam keluarga Kristen bertanya kepada saya tentang masalah kebangkitan. Ia berkata bahwa menurut ilmu pengetahuan, kebangkitan itu suatu takhayul dan ia tidak bisa percaya. Ia mohon saya menjelaskannya. Pada saat itu Tuhan menyertai saya, lalu saya mengatakan bahwa hal kebangkitan selalu dapat kita jumpai di alam ini. Rumah guru besar itu banyak jendelanya, dan dari jendela-jendela itu terlihat ladang gandum. Saya berkata kepada mahasiswa itu, “Lihatlah ladang gandum itu. Anda lihat gandum-gandum yang sedang bertumbuh? Bukankah kebangkitan terjadi juga dalam ladang itu? Benih-benih gandum ditaburkan ke dalam tanah, mati, namun kemudian muncullah biji-biji gandum. Itulah kebangkitan. Anda bisa melihat kebangkitan setiap hari dan di mana saja. Seekor induk ayam mengerami telurnya, tidak lama telur itu pecah dan keluarlah anak ayam, bukankah hal itu juga menunjukkan kematian dan kebangkitan? Jangan mengira ini filsafat saya sendiri, karena saya tidak sepintar itu. Ini adalah ajaran Alkitab.” Ketika ia menanyakan di manakah terdapat kata-kata itu, saya berkata dalam 1 Korintus 15, Paulus mengungkapkan bahwa benih yang mati kemudian bertumbuh lagi adalah lukisan tentang kebangkitan. Malam itu, pemuda tersebut beroleh selamat, dan hari ini ia menjadi seorang rekan sekerja utama di Taiwan. Pemberitaan Injil yang rendah tidak sanggup menundukkan mahasiswa yang sepintar itu.

A. Menghasilkan Banyak Saudara

Ibrani 2:11-12 menerangkan bahwa dalam kebangkitan, Kristus telah menghasilkan banyak saudara. Melalui kebangkitanNya, kita semua telah dilahirkan kembali (1 Ptr. 1:3). KematianNya telah melepaskan hayat ilahi yang ada di dalamNya, dan kebangkitanNya telah menyalurkan hayat Allah ke dalam kita, sehingga kita menjadi anak-anak Allah, dan saudara-saudara Kristus. Ia adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, dan kemudian menghasilkan banyak biji gandum, yaitu kita ini (Yoh. 12:24). Ia adalah biji gandum yang sebutir itu, kita sekarang adalah biji-biji gandum yang banyak, yaitu saudara-saudaraNya yang banyak yang dilahirkan di dalam kebangkitanNya. Itulah sebabnya, begitu Ia bangkit, Ia segera menyebut kita saudara-saudaraNya (Yoh. 20:17).

B. Memberitakan Nama Bapa kepada Saudara-saudara-Nya

Dalam kebangkitanNya, Kristus bukan hanya melahirkan banyak saudara, tetapi juga datang kepada saudarasaudaraNya serta memberitakan nama Bapa kepada mereka (2:12). Apakah nama Bapa itu? Hal ini sangat besar. Nama Bapa justru Bapa itu sendiri. Bapa adalah namaNya.

Bapa berarti sumber hayat dan sumber segala-galanya. Dari manakah Anda menerima hayat Anda? Dari bapa Anda. Dari manakah Anda menerima sifat Anda? Juga dari bapa Anda. Bapa adalah sumber. Kita semuanya berasal dari Dia. Yang menguduskan, Putra sulung, dan semua orang yang dikuduskan, yakni banyak putra, semuanya berasal dari satu Bapa ini. Pada hari kebangkitan, Tuhan memberitakan nama Bapa kepada murid-muridNya. Sejak hari itu Petrus tahu bahwa dirinya telah memperoleh sifat (kodrat) ilahi. Maka, dalam Surat Petrus yang kedua dicantumkan bahwa kita “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” dan “segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh” (2 Ptr. 1:3-4). Bagaimana kita dapat mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh itu? Karena kita semua telah dilahirkan oleh Bapa. Nama Bapa mengandung arti yang sangat besar bagi kita.

C. Memuji-muji Bapa di Tengah-tengah Gereja

Dalam kebangkitan, Kristus, tidak hanya memberitakan nama Bapa kepada saudara-saudaraNya, juga memuji-muji Bapa di tengah-tengah jemaat (2:11-12). Ketika Tuhan memberitakan nama Bapa kepada saudara-saudara-Nya, Ia memuji-muji Bapa di antara jemaat. Saudara-saudara ini adalah gereja. Secara individual, mereka adalah saudara-saudaraNya, secara kelompok, mereka adalah gereja, yang dilahirkanNya dalam kebangkitan. Pada malam kebangkitan Tuhan, ketika saudara-saudaraNya berhimpun bersama, datanglah Ia ke tengah-tengah mereka. Itu boleh dikatakan sidang gereja yang pertama. Sidang pada hari Pentakosta bukanlah yang pertama. Itu hanya dapat dianggap sebagai perluasan gereja, tetapi sidang yang pertama adalah pada malam kebangkitan Tuhan. Dalam sidang gereja Tuhan tidak saja memberitakan nama Bapa kepada saudara-saudaraNya, bahkan memuji-muji Bapa di tengah-tengah jemaat.

IV. DALAM PEMULIAAN

A. Memasuki Kemuliaan

Setelah kebangkitan, Kristus lalu dimuliakan, bukan hanya dalam manifestasi kodrat ilahiNya, tetapi juga dalam kenaikanNya ke dalam kemuliaan Allah. Sebagai Pemimpin keselamatan kita, Kristus dalam kenaikanNya telah memasuki kemuliaan Allah. Tujuan Allah adalah ingin membawa banyak putra memasuki kemuliaan (2:10). Kristus sebagai Perintis (6:20) telah memelopori hal ini. Yesus yang ditolak orang di dunia ini, dimuliakan oleh Allah di surga. Karena itu kita harus memandangNya di dalam kemuliaan.

B. Dimahkotai dengan Kemuliaan dan Hormat

Kristus tidak hanya memasuki kemuliaan, juga telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat (2:9). Kemuliaan adalah kemegahan dan keindahan yang berhubungan dengan persona Yesus, sedang hormat adalah kemustikaan yang berhubungan dengan harga, nilai, dan martabat Yesus, hormat ini berhubungan dengan kedudukanNya. Orang mengenakan mahkota duri untuk menghina Dia (Yoh. 19:2), namun Allah memahkotaiNya dengan kemuliaan dan hormat untuk memuliakan Dia. Kita pernah nampak Dia terpancang di atas salib dengan mengenakan mahkota duri, tetapi sekarang kita melihat Dia telah duduk di atas takhta di surga dan dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Inilah Yesus yang diwahyukan dalam Surat Ibrani.

V. DALAM PENGAGUNGAN

Setelah Kristus bangkit dan naik ke surga, Ia lalu diagungkan (ditinggikan) oleh Allah. Ditinjau dari pandangan bumiah, ini adalah kenaikan dari manusia, tetapi dipandang dari sudut surgawi, ini adalah pengagungan dari Allah.

A. Mengatur Segala Benda Ciptaan

Setelah Kristus naik ke surga dan dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, dalam pengagunganNya, Allah telah memberikan kedaulatan kepadaNya untuk mengatur segala ciptaan (2:7 Tl.). Ini sama dengan apa yang Allah lakukan pada diri Adam. Adam telah kehilangan kedaulatan yang diserahkan Allah kepadanya, tetapi menurut nubuat Mazmur 8, Kristus telah memulihkan apa yang dihilangkan Adam itu. Kini manusia kedua telah memperoleh kedaulatan yang serupa itu. Anda milik manusia pertama atau milik manusia kedua? Hendaknya kita semua menjawab, “Dulu kami dilahirkan dalam manusia pertama, tetapi kami telah dilahirkan kembali di dalam manusia kedua. “Kita dilahirkan dalam manusia pertama, dan olehnya kehilangan segala-galanya. Akan tetapi, sejak kita dilahirkan kembali dalam manusia kedua, kita telah memperoleh kembali segala-galanya. Manusia kedua telah dipermuliakan, dan telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, bahkan diberi amanat untuk mendapatkan “hak mengatur” ilahi yang telah hilang pada manusia pertama.

B. Mengatasi Segala Sesuatu

Dalam pengagunganNya, Kristus telah menjadi Kepala yang mengatasi segala-galanya (2:8). Segala sesuatu telah ditaklukkan Allah di bawah kakiNya. Kini Kristus hanya menunggu satu hal, yaitu Iblis yang licik dan segala seteruNya menjadi tumpuan kakiNya.

Kita nampak dalam aspek-aspek inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, pemuliaan, dan pengagungan Yesus, tidak ada satu pun yang serendah ajaran tradisional, malahan semuanya serba tinggi dan agung. Inilah Ibrani pasal 2.