YESUS ADALAH ANAK MANUSIA — ADALAH MANUSIA, JAUH LEBIH UNGGUL DARIPADA MALAIKAT
Dalam berita keempat, telah kita lihat bahwa Kristus adalah Putra Allah, adalah Allah, jauh lebih unggul daripada malaikat; itulah yang diwahyukan dalam Ibrani 1. Sekarang kita sampai pada bagian kedua dari perbandingan ini Yesus adalah Anak Manusia, adalah manusia, juga jauh lebih unggul daripada malaikat; ini diwahyukan dalam Ibrani 2. Setelah kita melihat Kristus adalah Putra Allah, adalah Allah, kini kita harus melihat Yesus adalah Anak Manusia, adalah manusia. Baik sebagai Allah maupun sebagai manusia, Ia jauh lebih unggul daripada semua malaikat.
Yesus sungguh ajaib, Ia memiliki dua sifat, yaitu sifat ilahi dan insani. Dia memiliki keilahian dan keinsanian, Dia adalah Allah juga manusia. Karena Ia Allah, maka Ia pun Putra Allah; karena Ia manusia, maka Ia pun Anak Manusia. Istilah “manusia” dan “Anak Manusia” dalam Alkitab sering kali dipakai bergantian. Ini ternyata dalam Mazmur 8:5 yang mengatakan, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Jadi, anak manusia adalah mengacu kepada manusia. Seprinsip dengan itu, Putra Allah juga mengacu kepada Allah. Dalam Yohanes 5:17-18, Tuhan Yesus menyebut diriNya sebagai Putra Allah, berarti Dialah Allah. Ketika orang-orang Farisi mendengar Tuhan Yesus menyebut diriNya sebagai Putra Allah, mereka lalu menuduhNya menghujat Allah, sebab dalam pengertian mereka, Tuhan telah menyamakan diriNya dengan Allah. Mengatakan Yesus itu Putra Allah berarti mengatakan Dia adalah Allah. Kristus itu Allah juga manusia. Ibrani 1 membahas sifat ilahiNya, sedang Ibrani 2 membahas sifat insaniNya. Baik dari segi ilahiNya maupun dari segi insaniNya, Ia selalu jauh lebih unggul daripada malaikat. Bahkan sebagai Anak Manusia, Ia jauh lebih unggul daripada malaikat.
Kita mudah memahami bahwa Allah jauh lebih unggul daripada malaikat, tetapi agak sukar untuk memahami manusia juga jauh lebih unggul daripada malaikat. Apakah Anda masih menganggap diri Anda lebih rendah daripada malaikat? Saya khawatir, andaikata hari ini ada malaikat muncul di hadapan Anda, Anda akan sujud menyembahnya, setidak-tidaknya Anda akan menengadah kepadanya, sambil merasa dalam lubuk batin bahwa ia lebih tinggi daripada Anda. Konsepsi demikian keliru. Kalau Anda mengira malaikat lebih tinggi daripada Anda, itu disebabkan Anda kekurangan visi. Anda wajib membaca Ibrani 2. Bahkan pada akhir pasal 1 kita sudah nampak bahwa sebagai ahli waris keselamatan, kita jauh lebih unggul daripada malaikat (1:14). Malaikat hanyalah pelayan, kita barulah majikan mereka. Kita adalah mitra (teman sekutu) Kristus, malaikat adalah hamba yang melayani kita, para ahli waris keselamatan. Kita adalah rumah Allah, yang di dalamnya terdapat tangga surgawi yang menghubungkan kita dengan Allah dan membawa Allah kepada kita, sedangkan malaikat-malaikat itu naik turun di tangga itu sambil melayani kita. Jadi, mereka jauh lebih rendah daripada kita. Dalam berita keempat kita telah tunjukkan bahwa Matius 18:10 mengatakan, setiap kita memiliki seorang malaikat. Mazmur 34:8 mengatakan “Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia.” Kisah Para Rasul 10:3 juga mengatakan ada seorang malaikat menyatakan diri kepada Kornelius dan menyuruhnya untuk pergi menghubungi si pemberita Injil itu. Lagi pula, dikisahkan oleh Kisah Para Rasul 12:7-11 betapa malaikat Tuhan membukakan pintu penjara dan meloloskan Petrus dari penjara. Walaupun Anda tidak mengetahui siapa nama malaikat yang melayani Anda, tetapi dia pasti mengenal Anda. Kita semua paling sedikit mempunyai seorang malaikat yang melayani kita secara terus-menerus. Ini bukan takhayul, melainkan realitas. Menurut pengalaman saya, saya dapat bersaksi bahwa selama 40 tahun saya bepergian, saya tahu pasti bahwa malaikat saya senantiasa menyertai saya dan ia berkali-kali telah menjaga saya.
Kristus, adalah Anak Manusia, adalah manusia, jauh lebih unggul daripada malaikat. Ibrani 2 tidak menyebut Dia sebagai manusia yang besar, melainkan yang kecil. Tetapi, walaupun sebagai manusia yang kecil, Ia jauh lebih unggul daripada malaikat. Sebelum membicarakan Yesus sebagai manusia jauh lebih unggul daripada malaikat, kita perlu melihat suatu faktor dasar yang menyebabkan Ia menjadi manusia, yakni Allah telah menetapkan manusia untuk menguasai bumi, seperti tercantum dalam Kejadian 1:26-28.
I. DUNIA YANG AKAN DATANG
Ibrani 2:5 mengatakan, “Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini.” Kata “sebab” di sini menghubungkan ayat 5 dengan ayat 4. Ayat 1-4 adalah sebuah peringatan yang memperingatkan kita agar tidak menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu dan supaya kita tidak mendapat balasan yang setimpal. “Keselamatan yang sebesar itu” terbentuk dari persona Tuhan yang ajaib ditambah pekerjaanNya yang gemilang, maka tidak seorang pun boleh menyia-nyiakan keselamatan ini. Kata “luput” dalam ayat 3 dalam prinsipnya adalah terhindar dari beberapa balasan yang disinggung dalam ayat 2. Jika kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, sepatutnyalah bila kita mendapat balasan tertentu. Apakah maksud “balasan yang setimpal” itu? Walaupun ini akan kita bahas dengan saksama kemudian, namun jika kita memperhatikan kata “sebab” yang tercantum dalam ayat 5, kita dapat mengetahui dulu hal itu. Kata “sebab” berhubungan dengan kata “menyia-nyiakan” dalam ayat 3. Jika kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, kita pasti menerima balasan yang setimpal, “Sebab bukan kepada malaikat-malaikat, telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini.”
Maka “balasan yang setimpal” berkaitan dengan “dunia yang akan datang.”
Bila kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, “bagaimanakah kita akan luput?” Ini tidak berarti kita akan kehilangan keselamatan kita, atau akan binasa. Sekali kita beroleh selamat, kita akan selamat hingga kekal. Yohanes 10:28 menjamin kita, “Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tanganKu.” Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, Ia memberikan hayat yang kekal kepada kita dan kita pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya. Firman Tuhan tetap selama-lamanya dan firmanNya mengatakan kita telah beroleh selamat sampai kekal. Itulah jaminan keselamatan kekal kita. Namun, tidak berarti orang yang telah diselamatkan tidak mempunyai persoalan lagi. Berdasarkan Surat Ibrani ternyata seseorang yang telah diselamatkan, walau yang diperolehnya adalah keselamatan yang kekal, ada kemungkinan kehilangan “dunia yang akan datang” itu. Karena itu sekarang kita perlu memahami apakah “dunia yang akan datang” itu.
A. Dalam Zaman Kerajaan yang akan Datang
Jika Anda mengenal Alkitab secara menyeluruh, Anda akan mengerti bahwa “dunia yang akan datang” adalah bumi yang akan menjadi Kerajaan Tuhan pada zaman yang akan datang. Mazmur 2:8 mengatakan bahwa Allah telah mengaruniakan bangsa-bangsa itu kepada Kristus sebagai milik pusakaNya dan ujung bumi sebagai kepunyaanNya. Wahyu 11:15 mengatakan, “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapiNya, dan Ia akan memerintah sebagai Raja sampai selama-lamanya.” Hari itu mungkin tiba tidak lama lagi. Saat itu bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan di bumi ini akan menjadi Kerajaan Kristus. Daniel 2 menunjukkan, ketika Tuhan datang kembali, bangsa-bangsa di bumi diwakili oleh patung yang terbuat dari besi, tanah liat, tembaga, perak, dan emas. Setiap unsur itu mengacu kepada kerajaan-kerajaan di bumi (Dan. 2:31-33). Dengan tiba-tiba jatuhlah dari langit sebuah batu “tanpa perbuatan tangan manusia” yang meremukkan besi, tanah liat, tembaga, perak, dan emas itu. Lalu Daniel 2:35 mengatakan, “Batu yang menimpa patung itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.” Batu yang menjadi gunung besar itu adalah Kerajaan Allah.
Kristus, “batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan manusia” yang meremukkan seluruh kerajaan di bumi ini adalah Kristus. Kristus bukan hanya batu dasar (Yes. 28:16), batu penjuru (Mat. 21:42; Kis. 4:11), batu utama (Za. 4:7), juga batu hidup (1 Ptr. 2:4) untuk pembangunan Allah; Dia juga batu sandungan (Mat.21:44; 1 Ptr.2:8) bagi orang Yahudi yang tidak percaya, dan batu penghancur bagi bangsa-bangsa (Mat. 21:44). Pertama, terhadap kaum beriman, Ia adalah batu bagi pembangunan Allah. Dalam pembangunan Allah, Ia adalah batu dasar, batu penjuru, batu utama, dan batu hidup untuk menghasilkan kita sebagai batu-batu hidup yang berguna bagi pembangunan Allah (1 Ptr. 2:5). Kedua, terhadap orang-orang Yahudi yang tidak percaya, Ia adalah batu sandungan, yang menjatuhkan mereka. Jangan mengira Tuhan Yesus selalu baik hati terhadap semua orang. Setidak-tidaknya terhadap orang-orang Yahudi yang tidak percaya, Ia adalah batu sandungan. Ketiga, terhadap orang kafir, bangsa-bangsa, Tuhan akan menjadi sebuah batu penghancur, yang turun dari langit untuk menghancurkan semua kerajaan di bumi (Dan. 2:34-35, 44). Batu penghancur ini akan menjadi gunung besar, yang berarti Tuhan Yesus akan menjadi Kerajaan yang memenuhi seluruh bumi. Jadi, Kerajaan ini, gunung besar yang memenuhi seluruh bumi itu justru Kristus sendiri. Pada waktu itu, semua kerajaan di bumi ini akan menjadi Kerajaan Tuhan kita. Inilah “dunia yang akan datang” yang dikatakan dalam Ibrani 2:5. “Dunia yang akan datang” tidak lain berarti seluruh bumi yang akan menjadi Kerajaan Tuhan pada zaman yang akan datang. Hal ini akan segera terjadi.
Dunia yang akan datang ini bukanlah yang dikuasai oleh malaikat. Atau dengan perkataan lain, Allah tidak pernah menetapkan malaikat untuk menguasai bumi. Ia telah menetapkan manusia untuk menguasai bumi dalam zaman yang akan datang. Berdasarkan kenyataan ini, penulis Surat Ibrani memperlihatkan kepada kita betapa manusia jauh lebih unggul daripada malaikat-malaikat. Dari segi peguasaan manusia atas bumi di zaman yang akan datang, manusia memang jauh lebih unggul daripada malaikat-malaikat.
Dalam ekonomiNya, sejak semula Allah sudah menghendaki manusia menguasai bumi. Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa pada kekekalan yang lampau, Allah sudah menetapkan manusia untuk menguasai bumi ini. Ketika Allah melakukan penciptaan, Allah juga menetapkan manusia untuk berkuasa bagi Allah atas bumi ini. Hal ini jelas disebutkan dalam Kejadian 1:26-28.
Ada tiga pasal dalam Alkitab yang boleh dikategorikan dalam satu kelompok: Kejadian 1, Mazmur 8, dan Ibrani 2. Ketiga pasal ini membahas satu butir utama, yakni Allah menetapkan manusia untuk menguasai bumi yang Ia ciptakan. Mengapa Allah menghendaki manusia menguasai bumi bagiNya? Sebab Allah memerlukan suatu ruang lingkup, lingkungan, atau wilayah di mana Ia dapat menegakkan wewenangNya. Tanpa wilayah di mana Ia melaksanakan kekuasaanNya, tidak mungkin Allah dapat mengekspresikan kemuliaanNya.
Ekspresi kemuliaanNya memerlukan suatu lingkungan atau wilayah. Tanpa kekuasaanNya terlaksana di bumi ini, bagaimanakah Allah dapat mengeks-presikan kemuliaanNya? Dalam kata penutup doa Tuhan Yesus tercantum, “Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan . . .” Di mana ada kerajaan, di situ ada kekuasaan, dan di situ pula Allah dapat mengeks-presikan kemuliaanNya. Kerajaan untuk kekuasaan, dan kekuasaan untuk kemuliaan. Jika Allah tidak mempunyai kerajaan, tidak mungkin Ia melaksanakan kekuasaanNya, sehingga kemuliaanNya pun tidak mungkin diekspresikan. Doa Tuhan Yesus adalah untuk kerajaan. Dalam kerajaan barulah kekuasaan Allah dapat dilaksanakan, dan kemuliaanNya terekspresi.
Kehendak Allah adalah konstan dan kekal. Kehendak Allah pun berlaku dari azali sampai abadi. Allah tidak pernah mengubah kehendakNya. Ia menghendaki manusia melaksanakan kekuasaanNya di bumi ini, agar Ia memperoleh suatu lingkungan bagi kekuasaanNya, sehingga Ia dapat mengekspresikan kemuliaanNya.
Hidup gereja dewasa ini adalah wilayah kekuasaan Allah. Setiap gereja lokal adalah tempat Allah berkuasa dan mengekspresikan kemuliaanNya. Itulah sebabnya hidup gereja hari ini adalah Kerajaan Allah dalam skala kecilnya (Rm. 14:17). Walaupun itu bukan wujud Kerajaan Allah yang sempurna, tetapi pada prinsipnya itulah seharusnya miniatur Kerajaan Allah, yang segala sesuatunya dapat mengekspresikan Kerajaan Allah. Maka hidup gereja yang tepat adalah Kerajaan Allah yang di dalamnya kekuasaan Allah dapat dilaksanakan, dan kemuliaanNya dapat diekspresikan. Inilah tujuan Allah dalam menciptakan manusia.
B. Agar Kristus Memiliki Bumi sebagai Milik Pusaka-Nya
“Dunia yang akan datang” yang ada dalam masa Kerajaan kelak juga akan menjadi milik pusaka Kristus, Kristus akan memiliki “dunia yang akan datang” bagi kerajaanNya (Maz. 2:8). Tujuan Allah ialah memulihkan atau merebut kembali bumi ini dari tangan perampas Iblis, dan membangun KerajaanNya di bumi, agar kemuliaanNya dapat diekspresikan. Allah telah mengaruniakan bumi ini kepada Kristus sebagai milik pusaka. Bila kita, yang diselamatkan menjadi mitra Kristus mengambil bagian dalam “dunia yang akan datang” ini sebagai milik pusaka, kita akan berbagian atas bumi yang mulia berikut Kerajaan Allah yang dibangun di atasnya itu, supaya kemuliaan Allah dapat diekspresikan. Kehilangan bagian atas bumi ini adalah “balasan yang setimpal” bagi orang-orang yang menyianyiakan keselamatan yang sebesar itu. Jika hari ini kita menyia-nyiakan “keselamatan yang sebesar itu”, kita takkan luput dari “balasan yang setimpal” yaitu tidak berbagian dalam kerajaan di bumi yang akan datang.
II. YESUS SANG MANUSIA
Kehendak Allah terhadap manusia terbagi dalam tiga tahap: tahap penciptaan, tahap nubuat, dan tahap penggenapan. Manusia yang ada dalam kehendak Allah ialah Adam dan Kristus. Adam adalah manusia pertama, dan Kristus adalah manusia kedua (1Kor. 15:45, 47). Di atas kedua manusia ini terdapat tiga tahap. Mari kita perhatikan manusia dalam tahap penciptaan lebih dulu.
A. Manusia dalam Penciptaan
1. Mengekspresikan Allah dengan Memiliki Gambar Allah
Dalam penciptaan, Allah menetapkan manusia memiliki rupa dan gambar Allah untuk mengekspresikanNya (Kej. 1:26-28). Manusia diciptakan menurut gambar Allah, agar ia dapat mengekspresikan Allah.
2. Memiliki Kuasa Allah Mewakili Allah
Allah juga menghendaki manusia memiliki kuasa Allah untuk mewakiliNya. Setelah manusia diciptakan, Allah lalu memberi kuasa kepada manusia agar manusia berkuasa mewakili Allah. Begitu manusia tercipta, Allah telah menetapkannya agar melakukan dua hal: mengekspresikan Allah dan mewakili Allah.
3. Telah Gagal, tidak Mencapai Kehendak Allah
Akan tetapi, manusia yang di dalam penciptaan terkena racun Iblis dan jatuh, sehingga kehendak Allah tidak tercapai. Karena itu, manusia yang di dalam penciptaan telah rusak dan gagal dalam mencapai kehendak Allah.
Kalau kita hanya memiliki Kitab Kejadian, kita akan sangat kecewa. Walaupun Kitab Kejadian mencatat banyak hal yang indah, namun pada akhirnya kita nampak Yusuf mati dan mayatnya ditaruh di dalam peti di Mesir (Kej. 50:26). Yusuf yang pernah mewakili Allah telah mati dan mayatnya ditaruh dalam peti mati di Mesir. Alangkah menyedihkan, kitab ini berakhir secara demikian.
Sebelum kita maju, saya ingin berbicara sedikit tentang kisah Yakub dan Yusuf. Yakub yang kemudian menjadi Israel (pangeran Allah) dan Yusuf sebenarnya adalah manusia yang lengkap. Yusuf merupakan sebagian dari Israel, bukan dari Yakub. Yakub asalnya seorang yang licik dan perampas, tetapi kemudian ia berubah menjadi Israel, pangeran Allah (Kej. 32:28; 35:10). Setelah ia berpengalaman dan matang, ia benar-benar mengekspresikan Allah dengan gambarNya. Semasa ia masih muda, ia adalah seorang yang sangat licik yang pernah menipu banyak orang, termasuk kakak, ayah, paman, dan saudara iparnya sendiri. Namun, Allah sungguh ajaib. Ia dapat mengubah seorang yang begitu licik dan penipu, menjadi pangeran Allah. Ketika Yakub berusia lanjut, ia tidak dapat berbuat licik, berkelahi, dan menipu lagi, ia hanya bisa mengulurkan tangannya untuk memberi berkat kepada orang lain. Ia memberi berkat kepada setiap orang yang datang ke hadapannya. Sewaktu Yusuf membawanya menghadap Firaun, sekalipun Firaun seorang raja yang teragung di bumi saat itu, ia pun menerima berkat dari Israel (Kej. 47:7). Di sini terbukti bahwa Israel lebih besar daripada Firaun. Pada saat itu, Israel telah matang, sehingga ia dapat mengekspresikan Allah, Pemberi berkat. Allah kita adalah Allah Pemberi berkat. Israel yang telah sepenuhnya segambar dengan Allah sudah tentu dapat memberikan berkat kepada orang di mana saja ia berada. Bahkan ketika ia dibawa ke hadapan Firaun, ia dapat mengulurkan tangannya dan memberkati Firaun. Inilah ekspresi Allah yang sesungguhnya.
“El” dari nama Israel berarti Allah. Jadi, nama Israel mengandung nama Allah. Walaupun demikian, Israel memerlukan Yusuf sebagai bagiannya yang lain, yakni bagian yang mewakili Allah, pemegang kuasa. Pada masa itu, seluruh bumi sebenarnya tidak berada di bawah kekuasaan Firaun, tetapi di bawah kekuasaan Yusuf. Jadi Israel dengan Yusuf di satu pihak memiliki gambar Allah, mengekspresikan Allah; di pihak lain memiliki kuasa Allah, mewakili Allah. Walaupun demikian, Kitab Kejadian tetap berakhir dengan kematian Yusuf yang mayatnya ditaruh dalam peti mati di Mesir. Kesudahan Kitab Kejadian sungguh kasihan !
B. Manusia dalam Nubuat
Walaupun situasi akhir Kitab Kejadian sangat kasihan, namun ketika kita membaca Mazmur 8, di situ penuh pengharapan. Penulis Kitab Mazmur tentunya menerima ilham ketika ia mengatakan, “Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (ayat 4-5). Di bawah ilham Allah, pemazmur menubuatkan bahwa apa yang hilang di dalam Adam akan diperoleh kembali. Ia mengulangi perkataan dalam Kejadian 1, yang menubuatkan ketetapan yang hilang pada manusia itu akan dipulihkan kembali. Jadi Mazmur 8 adalah pemulihan Kejadian 1. Dalam Kejadian 1 kita lihat bahwa kejatuhan manusia mengakibatkan hilangnya ketetapan ilahi yang Allah berikan kepada manusia. Pemazmur menubuatkan ketetapan itu akan didapat kembali oleh manusia. Nanti akan kita lihat bahwa manusia yang dinubuatkan dalam Mazmur 8 itu justru Tuhan Yesus sendiri. Inilah yang diwahyukan dalam Ibrani 2.
1. Sedikit lebih Rendah daripada Malaikat
Dalam nubuat Mazmur 8 mengenai pemulihan ketetapan atas manusia yang terhilang dikatakan bahwa Allah membuat manusia “sedikit lebih kecil daripada malaikat” (ayat 6 Tl.). Dalam Ibrani 2:7, kata itu dikutip menjadi “sedikit lebih rendah daripada malaikat”. Ini menurut jasmani, bukan menurut kedudukan. Dari segi jasmani, manusia memang sedikit lebih rendah atau lebih kecil daripada malaikat.
2. Telah Dimahkotai dengan Kemuliaan dan Hormat
Namun, nubuat Mazmur 8 itu juga mengungkapkan bahwa manusia yang sedikit lebih rendah daripada malaikat itu telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Hal ini tidak terjadi di atas sembarang orang, kecuali pada diri manusia Yesus setelah Ia naik ke surga. Karena itu, nubuat itu ditujukan kepada Tuhan yang menjadi manusia, dan nubuat ini pun telah digenapkan atas diriNya.
3. Ditugaskan untuk Berkuasa atas Buatan Tangan Allah
Mazmur 8 juga menubuatkan betapa Allah memberi kuasa kepada manusia, agar menguasai segala buatan tangan Allah. Segalanya telah diletakkan di bawah kakinya. Ibrani 2 juga mengutip kata-kata tersebut dengan “Segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kakiNya.” Jelas bahwa itu mengulangi perkataan dalam Kejadian 1:26-28. Karena ketetapan atas manusia dalam Kejadian 1 telah hilang akibat kejatuhannya dalam Kejadian 3, hal ini dapat dikatakan adalah pemulihan sesuatu yang telah hilang pada manusia.
C. Manusia dalam Pengenapan
Ibrani 2:6-9 adalah penggenapan Mazmur 8. Ibrani 2 mengatakan manusia dalam penggenapan itu adalah Yesus. Yesus adalah manusia kedua (1 Kor. 15:47). Walaupun manusia yang pertama telah gagal dalam mencapai kehendak Allah, namun manusia kedua telah sukses. Manusia yang diciptakan Allah dalam Kejadian 1 sebenarnya untuk kehendak Allah yang kekal, tetapi ia gagal mencapai kehendak Allah. Lalu Mazmur 8 yang membicarakan pemulihan ketetapan yang hilang atas manusia, menubuatkan manusia yang lain. Tanpa manusia kedua ini, kita dan ketetapan yang diberikan kepada manusia telah hilang. Tetapi kita memiliki manusia kedua yang memulihkan ketetapan yang hilang dari manusia dan menggenapkan kehendak semula Allah. Manusia kedua ini ditampilkan dalam Ibrani 2.
1. Dibuat Sedikit lebih Rendah daripada Malaikat oleh karena Penderitaan Maut
Yesus, manusia itu, dalam penggenapan nubuat Mazmur 8, telah dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat oleh karena penderitaan maut (Ibr. 2:9). Menurut tubuh jasmani kita, memang kita sedikit lebih rendah daripada malaikat. Penampilan luar malaikat sedikit lebih tinggi daripada kita. Ketika Tuhan Yesus datang sebagai manusia, tubuh jasmaniNya pun lebih rendah daripada malaikat. Ia datang menjadi manusia, mengenakan daging, darah, dan sifat manusia. Mengapa Ia harus mengenakan bentuk jasmani yang sedikit lebih rendah daripada malaikat? Sebab Ia harus menderita maut bagi kita. Untuk penderitaan maut itulah, Ia harus memiliki tubuh jasmani. Tanpa tubuh jasmani, mustahil Ia mati karena dosa kita. Karena itulah, Ia menjadi sedikit lebih rendah daripada malaikat.
2. Dimahkotai dengan Kemuliaan dan Hormat
Sesudah Yesus menggenapkan penebusan melalui menderita maut, Ia dipermuliakan di dalam kebangkitan (Luk. 24:26); dan dalam kenaikan ke surga, Ia pun telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat (Ibr. 2:9). Walaupun Tuhan Yesus adalah Putra Allah, dan Anak Manusia, ketika menyinggung tentang Ia dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, kita harus memperhatikan sifat insaniNya, yaitu statusNya sebagai Anak Manusia. Dalam Ibrani 1, Ia adalah Allah; dalam Ibrani 2, Ia adalah manusia. Ketika kita membaca Ibrani 1, kita patut memperhatikan sifat ilahiNya, tetapi ketika kita membaca Ibrani 2, kita patut memperhatikan sifat insaniNya. Dalam keinsanianNyalah Ia di mahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Sebagai manusia yang diangkat ke surga, Dia dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat.
Di manakah Yesus dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat? Di langit tingkat ketiga. Yesus yang kecil, yang lahir di palungan, yang dibesarkan dalam keluarga miskin di Nazaret, dan yang tidak tampan itu, ketika naik ke surga telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Apakah kemuliaan dan hormat itu? Kemuliaan adalah kemegahan dan keindahan berhubungan dengan persona Yesus; hormat adalah kemustikaan yang berhubungan dengan harga, nilai, dan martabat Yesus, hormat ini berhubungan dengan kedudukanNya (2 Ptr.1:17; Rm. 13:7). Kata “mahal” (mustika) dalam 1 Petrus 2:7, dalam bahasa Yunaninya sama seperti untuk “hormat” di sini.
a. Telah Dilantik Menjadi Tuhan dan Kristus
Yesus telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat dan telah dilantik menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36; 10:36b). Sebelum inkarnasi, Ia adalah Tuhan. Tetapi sebagai manusia, Ia bukanlah Tuhan. Sekarang dalam kenaikanNya ke surga, sebagai manusia Ia telah dimahkotai menjadi Tuhan. Ini adalah hal yang besar. Di satu pihak, berhubung Ia Allah, maka sejak semula Ia adalah Tuhan, namun di pihak lain, dalam keinsanianNya, Ia telah dimahkotai sebagai Tuhan atas segala sesuatu. Ia juga adalah Kristus, yaitu Sang Terurap. Sebagai Tuhan, berarti Dialah Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu, sedang sebagai Kristus, Ia adalah Sang Terurap, Sang Terlantik yang menggenapkan setiap hal bagi rencana Allah. Jadi Sang Terurap adalah juga Sang Terlantik yang menjalankan perusahaan universal Allah Kristus dan gereja.
b. Telah Ditinggikan sebagai Perintis dan Juruselamat
Kristus telah ditinggikan oleh Allah sebagai Perintis dan Juruselamat (Kis. 5:31). Kristus telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, sehingga Ia layak menjadi Perintis kita. (Dalam bahasa Yunani, kata “perintis” boleh diartikan “pangeran”, “pemimpin”, atau “pelopor”). Jadi, Yesus berperang, mendahului dan yang pertama mencapai sasaran. Ia telah membuka jalan memasuki kemuliaan bagi kita, dan kita sekarang sedang menempuh jalan ini. Jadi, Dia bukan hanya Juruselamat yang telah menyelamatkan kita dari keadaan kita yang jatuh dan segala hal negatif, tetapi juga adalah Perintis, Pelopor yang lebih dulu masuk ke dalam kemuliaan; sehingga kita dapat dibawa masuk ke dalam keadaan yang sama. Yesus hari ini adalah Tuhan, Kristus, Perintis, dan Juruselamat.
Ibrani 1 menerangkan bahwa Kristus adalah Putra Allah yang datang untuk mengutarakan, menyatakan, memberitakan dan mengekspresikan Allah. Karena itu Ia jauh lebih unggul daripada malaikat. Dalam Ibrani 2 dikatakan bahwa Ia adalah Anak Manusia yang akan menjadi Tuhan, Kristus, Perintis, dan Juruselamat. Ia menjadi Tuhan, Kristus, Perintis, dan Juruselamat kita, terutama bukan berdasarkan keilahianNya, melainkan keinsanianNya. Ini adalah hal yang sangat riil. Mengapa Yesus disebut Tuhan kita? Sebab Ia adalah manusia. Mengapa pula Yesus disebut Kristus, Perintis, dan Juruselamat? Semuanya karena Ia adalah manusia. Malaikat yang tidak memiliki sifat insani, tidak mungkin menjadi Tuhan, Kristus, Perintis, dan Juruselamat kita. Hanya Kristus dalam keinsanianNya yang dapat. Selain itu, keinsanianNya bukan keinsanian yang alamiah, melainkan yang telah bangkit, terangkat, dan naik ke surga, serta telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Berhubung ini bukan konsepsi yang alamiah, melainkan baru dan segar bagi kita, maka perlulah kita memakai banyak waktu untuk mempelajari hal ini, agar kita dapat memahaminya lebih banyak.