← Daftar isi Ibrani (1) · bab 6/17

KESELAMATAN YANG SEBESAR ITU

Judul berita ini adalah “Keselamatan yang sebesar itu” (2:3). Banyak orang memberitakan judul ini dengan mengartikannya naik ke surga. Menurut pandangan mereka, naik ke surga adalah “Keselamatan yang sebesar itu”. Padahal konsepsi demikian terlalu rendah. Keselamatan yang sebesar itu tidaklah serendah itu. Mengapa orang memberitakan Injil dengan judul setinggi itu namun dengan konsepsi yang demikian rendahnya? Sebab pengalaman mereka terhadap keselamatan hanya serendah itu. Maka, walaupun ada istilah “Keselamatan yang sebesar itu”, mereka tidak memahami berapa dalamkah istilah ini di dalam Surat Ibrani. Untuk dapat menyelami keselamatan yang sebesar itu, kita perlu menyeberangi sungai, yakni dari pengertian tentang keselamatan Allah yang tradisional menyeberang kepada pengenalan yang lebih dalam atas keselamatan Allah yang sebesar itu.

Konsepsi utama Surat Ibrani ialah menyeberangi sungai; dari tepi yang satu ke tepi yang lain. Yang pertama ialah dari tepi Yudaisme menyeberang ke tepi “Keselamatan yang sebesar itu”. Yudaisme yang usang itu sudah menjadi tanah yang usang dan sudah seharusnya kita tinggalkan. Walau-pun kita bukan penganut Yudaisme, tetapi pada hakikatnya kita mungkin masih berada di “tepi sana”. Boleh jadi kita berada di tepi kekristenan yang usang. Saya prihatin kalau-kalau sebagian dari kalian yang membaca berita ini, masih menetap dalam ke kristenan yang usang, atau masih mempertahankan konsepsi kekristenan yang usang. Mungkin juga Anda sudah masuk ke dalam gereja dan mendengar sesuatu yang lebih baik, namun Anda masih mengira bahwa di masa lampau ada banyak hal yang baik dan Anda tidak dapat melupakannya. Bahkan sampai saat ini, boleh jadi Anda masih ragu-ragu, entah Anda harus maju ke depan atau tetap tinggal di sini. Mungkin Anda tidak akan mundur ke belakang, tetapi Anda mempertimbangkan apakah harus tetap berdiam di tempat semula, atau tidak. Anda perlu Surat Ibrani, Anda perlu mendapat dorongan untuk menyeberang sungai, yaitu menyeberang ke tepi yang lain.

Kita perlu menyeberang sungai setiap hari, setidak-tidaknya menyeberang sebuah sungai kecil. Setelah Anda bersalah terhadap istri Anda, Anda perlu menyeberang sungai. Setelah Anda bersalah terhadapnya, Anda akan merasa diri Anda berada dalam keadaan usang, sehingga Anda perlu menyeberang sungai. Kalau Anda tidak rela membayar harga itu, Anda tidak akan maju ke depan. Anda perlu menyeberang sungai kecil itu. Walaupun kecil, sungai itu sudah dapat memisahkan Anda dengan tempat yang maha kudus, hingga Anda tidak dapat menikmati keselamatan yang sebesar itu. Setiap sungai yang Anda seberangi adalah keselamatan bagi diri Anda; sebaliknya, setiap sungai yang enggan Anda seberangi akan menjadi selubung yang menutupi Anda. Asalkan Anda masih tetap berada di tepi sana, Anda akan berada di luar tabir, dan Anda belum masuk ke dalam tempat yang maha kudus dan menikmati “keselamatan yang sebesar itu”. Bila Anda mau menyeberang sungai, Anda pasti dapat masuk ke balik tabir dan menikmati keselamatan yang sebesar itu.

Dalam mempelajari Surat Ibrani, di masa lampau, saya senang menggunakan dua slogan. Yang pertama ialah “pergi ke luar perkemahan”; perkataan ini tercantum dalam 13:13 “Karena itu, marilah kita pergi kepadaNya di luar perkemahan dan menanggung kehinaanNya.” Kita se-mua harus pergi ke luar perkemahan. Apa arti perkemahan? Dalam surat ini, perkemahan mengacu kepada Yudaisme. Pada hari ini dapat diartikan apa saja yang agamis atau duniawi, yang mungkin memisahkan kita dari kenikmatan atas keselamatan Allah yang sebesar itu. Karena itu, marilah kita keluar meninggalkan perkemahan. Lalu ke mana kita pergi? Kita jawab dengan slogan yang kedua “masuk ke belakang tabir”, yaitu masuk ke dalam tempat yang maha kudus yang tercantum dalam 6:19-20. Yesus sebagai Perintis sudah masuk ke belakang (balik) tabir. Hari ini Ia berada dalam tempat yang maha kudus, tidak berada di perkemahan yang mana pun.

Ada orang Kristen yang suka berkemah dalam pikiran mereka yang suka menganalisis. Pikiran mereka telah menjadi kemah mereka, bahkan menjadi Ur-Kasdim atau Meso potamia mereka, yakni tempat Abraham berada sebelum pindah ke tanah permai. Asalkan Anda tidak berada di tanah permai, Anda perlu menyeberang sungai. Anda benar-benar perlu menyeberang sungai dan memasuki tanah permai! Apakah Ur-Kasdim Anda? Hampir setiap orang Kristen memiliki Ur-Kasdim masing-masing. Ada orang Kristen berpegang teguh pada pengetahuan Alkitab mereka. Mereka mempertahankan kelompok pengkajian Alkitab, mengira mereka sudah mengenal Alkitab. Dengan demikian pengetahuan Alkitab mereka telah menjadi Ur-Kasdim mereka. Di antara kita ada saudara yang harus menyeberang, sungai pengetahuan Alkitab yang tradisional, ada yang harus me-nyeberang sungai latar belakang agamis, ada pula yang harus menyeberang sungai pengalaman yang usang. O, kita semua harus sadar bahwa Surat Ibrani adalah surat menyeberang sungai! Janganlah sekali-kali kita berpegang teguh pada sesuatu yang tidak mencapai standar “keselamatan yang sebesar itu”.

Beberapa tahun yang lalu, saya mempunyai banyak rekan sekerja. Mula-mula mereka sangat baik, karena mereka tidak mempertahankan atau melekat pada perkara apa pun. Namun, beberapa tahun kemudian, di antara mereka ada yang mempertahankan atau melekat pada sesuatu. Sungguhpun perkara itu baik, tetapi itu telah menjadi Ur-Kasdim mereka. Ketika Yosua hendak memimpin umat Israel menyeberang Sungai Yordan, andaikata rekan-rekan sekerja itu ada di situ, pasti ada yang akan berkata, “Jangan, ketika kita keluar dari Mesir dan menyeberang Laut Merah, tidak ada yang menyuruh kita menyeberang Sungai Yordan!” Pengetahuan dan pengalaman yang usang telah menjadi Ur-Kasdim rekan-rekan sekerja itu, sehingga mereka enggan menyeberang sungai. Bagaimanapun, Tuhan kita dari hari ke hari maju terus, Ia tidak pernah berhenti. Tidak seorang pun di antara kita yang boleh berhenti pada pengalamannya yang lampau. Anda wajib maju terus, maju ke depan. Orang Ibrani ialah orang yang maju terus.

Sekarang kita harus melihat apakah yang dimaksud dengan “keselamatan yang sebesar itu.” Besarnya keselamatan ini bukannya dalam hal naik ke surga, bukan pula dalam hal pengampunan dan pembenaran oleh iman. Saya sangat menghargai pengampunan dan pembenaran oleh iman, tetapi Surat Ibrani yang membahas “keselamatan yang sebesar itu” membicarakan hal yang jauh lebih tinggi daripada itu. Pengampunan dan pembenaran oleh iman me-mang benar adalah keselamatan, tetapi bukan “keselamatan yang sebesar itu.” Bahkan yang dimaksud dengan “keselamatan yang sebesar itu” pun bukan besar dalam hal kelahiran kembali. Kalau begitu, di manakah besarnya keselamatan itu?

I. BESAR DALAM APA ADANYA KRISTUS

Pertama, keselamatan itu besar dalam apa adanya Kristus. Penulis Surat Ibrani memakai istilah “sebesar itu”, yang sulit dijelaskan. Berapa besarkah baru dapat dikatakan “sebesar itu”? Walaupun kita tidak dapat dengan tepat menggambarkan “sebesar itu”, namun “besarnya keselamatan yang sebesar itu” terletak pada apa adanya Kristus. Tahukah Anda apa adanya Kristus itu? Walaupun Anda bisa mengetahui Kristus menurut catatan keempat kitab Injil, tetapi tahukah Anda Kristus yang tercantum dalam Surat Ibrani?

A. Adalah Putra Allah, Adalah Allah

Tahukah Anda bahwa Kristus adalah Putra Allah? Mungkin Anda mengetahui Dia sebagai Putra Allah secara tidak lengkap. Boleh jadi dalam konsepsi bawah sadar Anda menganggap bahwa Bapa adalah Allah yang satu, sedang Putra adalah Allah yang lain. Anda mungkin tidak mengatakan demikian, tetapi dalam batin Anda, Anda berpegang pada konsepsi itu. Inilah sebabnya saya mengatakan bahwa besarnya keselamatan ini terletak pada apa adanya Kristus sebagai Putra Allah, juga sebagai Allah. Ketika kita mengatakan bahwa Kristus adalah Putra Allah, itu berarti Kristus adalah Allah. Ia tidak lain adalah Allah.

Ini sekali lagi membawa kita kepada perihal trinitas ilahi. Menurut Alkitab, perihal trinitas ilahi dapat kita jelaskan dalam dua cara. Pertama secara doktrinal, kedua secara pengalaman. Pada suatu hari Filipus, seorang murid Tuhan, berkata kepada Tuhan, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh. 14:8). Ini adalah satu persoalan yang doktrinal. Secara doktrinal, Putra adalah Putra dan Bapa adalah Bapa. Mungkin Filipus berpikir demikian, “Sekarang Putra berbicara kepada kita, tetapi kami belum pernah melihat Bapa. Aku akan minta Putra agar Ia memperlihatkan Bapa kepada kami.” Tetapi Tuhan tidak menjawab Filipus secara doktrinal, melainkan secara pengalaman. “Kata Yesus kepadanya, ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami’” (Yoh. 14:9). Asalkan Filipus telah melihat Putra, ia telah melihat Bapa. Bila ditinjau dari sudut doktrin, Bapa dengan Putra diterangkan sebagai dua persona, namun dalam pengalaman, bila Anda melihat Putra, Anda pun melihat Bapa. Banyak orang Kristen membicarakan masalah trinitas ilahi secara doktrinal, namun mengabaikan pengalaman mereka. Dalam berita terdahulu telah saya katakan bahwa Alkitab mewahyukan betapa Bapa, Putra, dan Roh semuanya berada di dalam kita. Secara doktrinal, kita memiliki Bapa di dalam kita, Putra di dalam kita, dan Roh di dalam kita. Tetapi dalam pengalaman, kita tahu bahwa yang ada di dalam kita hanya satu. Jadi, doktrin adalah satu hal, dan pengalaman adalah hal lain.

Sewaktu muda, saya sudah mendengar banyak tentang Amerika Serikat, karena familiku sering berhubungan dengan misionaris Amerika Serikat. Maka, pada teorinya saya sudah mengenal Amerika Serikat. Dalam pikiran saya membayangkan bagaimana rupa kota San Francisco, Los Angeles, Chicago, Pittsburgh, Detroit, Washington D.C, dan New York. Ketika saya datang ke negara Amerika Serikat pada tahun 1958, barulah saya melihat kota-kota tersebut dalam pengalaman. Betapa berbedanya! Berbeda sekali dengan teorinya. Apa yang saya alami sama sekali berlainan dengan teorinya. Janganlah percaya kepada teori Anda, Anda harus mengalaminya secara riil.

Dalam “Pilgrim’s Progress” (Perjalanan seorang Musa-fir) karangan John Bunyan terdapat satu tempat yang disebut Vanity Fair, artinya Pasar Hampa. Teori atau doktrin yang terpisah dari pengalaman akan menjadi serupa pasar hampa, yang menjual barang-barang tidak berharga. Maka pengetahuan teori tanpa pengalaman hanyalah suatu kesia-siaan. Saya pernah berada di dalam pasar hampa serupa itu selama tujuh setengah tahun; kecuali teori dan istilah-istilah, hampir-hampir tiada ada yang saya peroleh, dan sedikit sekali yang dapat saya praktekkan. Pasar hampa itu adalah Ur-Kasdim saya. Pada suatu hari saya menyeberang sungai dan memasuki tanah permai pengalaman atas Kristus dan hidup gereja.

Tidak hanya teori demikian, karunia pun demikian. Pada suatu waktu, saya dengan sejumlah rekan sekerja berminat mencoba dan melihat hal-hal yang berhubungan dengan apa yang disebut Pentakosta. Saya pun mulai berkata-kata dengan bahasa lidah. Akhirnya saya sadar bahwa walaupun itu bukan pasar hampa, tetapi itu pasar kekacauan. Kalau Anda ingin mengetahui bagaimana kacaunya situasi dewasa ini, Anda boleh mengunjungi pasar itu. Di sana setiap hal kacau balau; yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, semuanya bercampur aduk. Dalam kekristenan tidak ada yang lebih kacau balau daripada apa yang disebut “gerakan Pentakosta” Karena itu, saya dengan rekan sekerja saya sekali lagi menyeberang sungai.

Bahkan orang-orang yang berada dalam hidup gereja perlu menyeberang sungai dan menanggalkan keusangan mereka. Apa yang Anda peroleh 15 tahun atau 20 tahun yang lalu, pada masa itu mungkin baik, tetapi hari ini telah berubah menjadi usang. Dulu Anda sudah menyeberang Laut Merah, sekarang Anda harus menyeberang Sungai Yordan. Akhir-akhir ini saya bertemu dengan seorang saudara yang pernah saya latih 20 tahun yang lalu. Ketika saya melihatnya saya sangat prihatin terhadapnya. Kelihat-annya ia masih berada dalam keadaan usang. Sudahkah Anda nampak prinsipnya? Semula, setiap hal yang ditetapkan menurut perintah-perintah ilahi dalam Kitab Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan memang benar. Namun, setelah lewat masa yang panjang, semuanya itu telah menjadi suatu sistem atau susunan yang usang, yaitu Yudaisme. Semua yang berada dalam sistem itu harus menyeberang sungai. Begitu pula, apa yang Anda terima 20 tahun yang lalu memang baik, tetapi kini Anda harus menyeberang sungai, meninggalkan kawasan itu. Saya anjurkan Anda cepat-cepat menyeberang sungai dan keluar dari keusangan Anda!

Kristus adalah Putra Allah, juga Allah sendiri. Kalau Anda ingin memahami perihal trinitas ilahi menurut otak Anda, bagaimana Anda menjelaskan Ibrani 1:8-9? “Tetapi tentang Anak Ia berkata, ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran. Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutuMu.” Ayat 8 mengatakan, “Teta-pi tentang Anak Ia berkata, ‘TakhtaMu, ya Allah . . .” Kata “Ya Allah” dengan “AllahMu” di sini semua ditujukan kepada Putra. Apakah artinya? Nampaknya seolah menunjukkan Allah dari Allah. “Ya Allah . . . AllahMu.” Karena Putra ialah Allah sendiri, maka ayat 8 mengatakan, “Ya Allah”. Karena Putra juga manusia, maka Allah pun adalah AllahNya, maka ayat 9 mengatakan, “AllahMu.” Kristus kita tidak sederhana. Ia beraspek banyak. Dia adalah Putra Allah, bahkan Allah sendiri. Dia juga Putra Manusia, manusia sejati. Untuk mewahyukan “Keselamatan yang sebesar itu” Surat Ibrani pertama-tama menerangkan kepada kita bahwa Kristus adalah Putra Allah, bahkan Allah sendiri. Putra Allah bahkan Allah sendiri ini adalah salah satu unsur dari “keselamatan yang sebesar itu”. Jadi, besarnya keselamatan ini terletak pada apa adanya Allah dan pada seluruh kepenuhan KeAllahan.

B. Adalah Anak Manusia, Adalah Manusia

Sebelum Ibrani 2:3 yang mengatakan tentang “Keselamatan yang sebesar itu”, Surat Ibrani lebih dulu mewahyukan Kristus adalah Putra Allah, bahkan Allah sendiri. Setelah Ibrani 2:3, untuk menunjukkan betapa besar keselamatan yang kita peroleh di dalam Kristus, surat ini me-nunjukkan bahwa Kristus juga adalah Anak Manusia, seorang manusia yang sejati. Keselamatan yang kita peroleh dalam Kristus tidak hanya berupa pengampunan dosa, pembenaran, pendamaian dengan Allah, penebusan, kelahiran kembali dan seterusnya, terlebih pula adalah satu persona yang ajaib dan tidak terbatas, yaitu Allah dalam kekekalan, dan manusia dalam waktu. O, persona yang demikian ajaib inilah yang telah membuat “keselamatan yang sebesar itu!”

Kristus adalah Allah yang sejati, Ia juga manusia yang sejati (2:6). Bertahun-tahun setelah saya diselamatkan, saya belum jelas bahwa Juruselamat saya adalah Allah juga manusia. Saya hanya tahu Ia Putra Allah. Saya bahkan tidak tahu kalau Ia juga Allah, lebih-lebih kalau Ia pun manusia. Tuhan Yesus kita adalah Allah juga manusia.

Ada orang Kristen, bahkan beberapa pekerja berpendapat bahwa Kristus mati sebagai manusia, tetapi setelah Ia bangkit dari antara orang mati dan naik ke surga, Ia bukan lagi manusia. Jadi menurut mereka, Yesus di surga bukan lagi sebagai manusia. Menurut konsepsi itu, setelah Yesus bangkit dari antara orang mati, sifat insaniNya telah ditanggalkan semua. Berhubung bantahan tersebut langsung ditujukan kepada saya, saya sengaja menulis sebuah kidung yang antara lain mengatakan:

Tengok! Yesus duduk surga! Kristus Tuhan bertakhta;

Dia Insan nan terangkat, hormat mulia Dia dapat.

(Kidung No. 115, bait 1)

Dalam menjawab bantahan mereka itu, saya bertanya: “Jika Yesus di surga tidak lagi sebagai Anak Manusia, mengapa Stefanus melihat Dia sebagai Anak Manusia?” (Kis. 7:56). Lagi pula, Matius 26:64 menunjukkan kepada kita bahwa Ia adalah “Anak Manusia”, yang kini duduk di surga dan akan kembali lagi kelak. Wahyu 1:13 juga mengatakan bahwa Dialah “Anak Manusia” yang berjalan di tengah-tengah gereja-gereja lokal, dan Ia akan datang lagi sebagai “Anak Manusia” (14:14). Satu Timotius 2:5, yang ditulis setelah kenaikanNya, menyebutNya, “manusia Kristus Yesus”. Juruselamat kita adalah seorang Manusia. Meskipun Yesus telah dibangkitkan, Ia tetap adalah manusia; manusia yang telah bangkit, terangkat tinggi, dan yang dalam kenaikan telah naik takhta di surga. Ia layak menjadi Juruselamat kita, sebab Ia adalah Allah juga manusia. Inilah sebabnya keselamatan itu “begitu besar” bukan hanya ada unsur Allah, juga ada unsur manusia. Seluruh atribut ilahi dan kebajikan insani adalah unsur dari “keselamatan yang sebesar itu”. Dalam “keselamatan yang sebesar itu” kita bisa menikmati segala kepenuhan keAllahan dan sifat insani manusia Yesus yang ditinggikan. Dalam “keselamatan yang sebesar itu” kita memiliki sifat ilahi dan sifat insani Kristus. Bukan kepalang ajaibnya unsur-unsur yang membentuk keselamatan sebesar itu! Tidak ada perkataan manusia yang mampu menuturkannya secara memadai. Tidak heran kalau penulis surat ini menyebutnya “Keselamatan yang sebesar itu!”

C. Pemimpin Keselamatan

Sekarang mari kita melihat pemimpin keselamatan (2:10). Kalau karunia keselamatan hanya menyelamatkan kita dari neraka, kita tidak perlu seorang pemimpin. Tetapi jika kita ingin masuk ke dalam kemuliaan, masuk ke dalam tanah permai perhentian, kita perlu seorang pemimpin. Karunia keselamatan Allah tidak hanya menyelamatkan kita dari neraka dan membawa kita ke dalam surga, lebih-lebih akan menyelamatkan kita dari segala hal yang negatif, dan membawa kita ke dalam kemuliaan, yaitu memasuki suatu perhentian yang mulia. Jadi, keselamatan ini bukanlah yang bisa rampung dalam semalam, tetapi yang melalui proses seumur hidup. Kita harus mengikuti pemimpin kita seumur hidup kita.

Orang Israel dalam satu malam saja sudah keluar dari Mesir. Itu benar-benar suatu hal yang terjadi dalam semalam. Akan tetapi untuk memasuki tanah permai perhentian, mereka harus terus mengikuti pemimpin mereka. Pada mulanya mereka mengikuti Musa dan kemudian mengikuti Yosua. Mereka memiliki pemimpin yang membawa mereka ke dalam keselamatan itu. Sesudah menyeberangi Laut Merah, mereka benar-benar sudah diselamatkan, tetapi mereka hanya diselamatkan dalam ukuran yang sangat terbatas. Mereka hanya menempuh suatu perjalanan yang sangat pendek, dan mereka masih perlu maju terus mengikuti pemimpin mereka, hingga menyelesaikan seluruh perjalanan itu. Mereka memiliki seorang pemimpin keselamatan.

Seorang pemimpin bukan hanya seorang pemuka juga seorang pejuang. Seorang pemimpin itu tidak saja harus membuka dan membentangkan jalan di depan, tetapi juga berjuang atau berperang sepanjang jalan. Jika Anda membaca Alkitab dengan teliti, Anda dapat melihat bahwa dari saat orang Israel keluar dari Mesir hingga mereka memasuki tanah permai, mereka berperang terus sepanjang jalan. Itulah sebabnya mereka disebut “Pasukan Tuhan” (Kel. 12:41). Mereka harus berperang sepanjang jalan hingga memasuki tanah permai. Maka mereka perlu seorang pemimpin yang memimpin mereka maju ke depan sambil berperang. Gerak maju mereka adalah perihal berperang. Jadi, mereka terbentuk dan terlatih sebagai pasukan kudus. Ke mana saja mereka pergi, di situ pula mereka berperang. Kalau di depan mereka tidak ada jalan, mereka harus berperang untuk mendapatkan jalan.

Demikian pula halnya, sejak kita diselamatkan, diampuni, dibenarkan, dan dilahirkan kembali, sejak itu pula peperangan di mulai. Di satu pihak, dalam pemulihan Tuhan, kita adalah pasukan yang harus berperang untuk membuka jalan di depan. Tidak ada jalan yang bisa kita tempuh selain berperang. Kita semua harus berperang di bawah pemimpin kita. Yesus, Juruselamat kita adalah Pemimpin yang berperang. Ia berperang dan kita harus mengikutiNya dan merebut setiap jengkal jalan. Kristus adalah pemimpin keselamatan. Tanpa Pemimpin ini dalam keselamatan kita, keselamatan kita tidak akan terbilang besar. Keselamatan yang besar itu bukan hanya mencakup Kristus sebagai Putra Allah, sebagai Allah dan sebagai Putra Manusia, sebagai Manusia, tetapi juga mencakup Dia sebagai Pemimpin keselamatan, yang memimpin dan berperang agar kita boleh mengikuti Dia masuk ke dalam kemuliaan. Pemimpin keselamatan adalah faktor yang membuat keselamatan kita menjadi “alangkah besar”.

D. Imam Besar

Di samping sebagai Pemimpin yang berperang bagi kita, Kristus juga adalah Imam Besar yang menyuplai kita. Jangan berkecil hati. Di satu pihak, Dia adalah Pemimpin yang berperang; di pihak lain, Dia adalah Imam Besar yang menyuplai. Dia menyuplaikan apa saja yang kita perlukan. Karena itu, kita tidak beralasan kekurangan sesuatu. Kristus menyuplai segalanya.

Setelah Abraham menundukkan musuh dan menyelamatkan Lot, keponakannya, datanglah Melkisedek, Imam Besar itu kepadanya membawa roti dan anggur (Kej. 14:14-20). Bila kita membaca terus sampai Surat Ibrani, kita akan tahu bahwa Tuhan Yesus itulah Melkisedek. Untuk menikmati suplai Melkisedek, Anda harus berperang. Bila Anda berperang, barulah Ia datang menyuplai Anda. Jika Anda enggan berperang, jangan harap Kristus datang serta menyuplaikan roti dan anggur seperti Melkisedek itu. Tetapi, bila Anda mau berperang, saya berani jamin, setelah setiap peperangan, Anda akan disambut oleh Kristus seperti Melkisedek dan Anda akan menikmati roti dan anggur yang disuplaikanNya itu. Betapa indahnya. Inilah faktor lain yang membuat keselamatan kita menjadi “alangkah besar”.

“Keselamatan yang sebesar itu” bukan hanya meliputi seorang Penebus dan seorang Juruselamat, juga meliputi seorang Pemimpin yang berperang bagi kita serta seorang Imam Besar yang menyuplai kita. Karena itu Anda harus terdorong. Kalau Anda tidak berperang, Anda akan dikalahkan dan tidak mendapatkan roti dan anggur. Bila Anda berperang, Anda tidak hanya akan beroleh kemenangan, bahkan akan beroleh roti dan anggur. Kita harus bernyanyi haleluya atas “keselamatan yang sebesar itu”! Besar dalam apa adanya Kristus.

II. BESAR DALAM APA YANG TELAH, SEDANG,

DAN AKAN DILAKUKAN KRISTUS

A. Telah Mengadakan Penyucian Dosa

Apakah yang telah dilakukan Kristus? Ia telah mengadakan penyucian dosa (1:3). Tenanglah, dosa-dosa Anda telah disucikan. Walaupun Anda harus membenci dosa-dosa Anda, Anda tidak perlu terganggu olehnya. Kristus telah menyucikan dosa-dosa kita sekali untuk selamanya (7:27).

B. Mengalami Maut bagi Kita

Kristus telah mengecap maut bagi kita (2:9). Karena Ia telah mengalami maut, maut telah dipatahkan (2 Tim. 1:10) dan ditamatkan. Jangan percaya akan maut, sangkallah dia. Apakah dalam gereja Anda ada maut? Sangkallah dia! Adakah penyakit pada tubuh jasmani Anda yang menandakan adanya maut? Jangan percaya, dan jangan menerimanya. Itu semua dusta.

C. Melalui Mengambil Bagian dalam Keadaan Kita,

Ia telah Memusnahkan Iblis dan

Membebaskan Kita dari Perbudakan

Kristus telah memusnahkan Iblis. Melalui mengambil bagian dalam keadaan kita, Ia telah memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut (2:14-15). Ini telah Dia rampungkan di atas salib. Iblis telah tamat. Setiap kali Iblis datang menganggu Anda, Anda harus berkata, “Hai Iblis, engkau salah alamat. Tidakkah engkau tahu bahwa engkau telah musnah, siapakah yang melepaskanmu! Pergilah ke tempatmu!” Cara terbaik untuk mengusir Iblis ialah mempermalukannya. Katakanlah, “Hai Iblis, bukankah engkau telah takluk? Engkau sudah musnah? Kembalilah ke tempatmu, jangan banyak bertingkah!” Iblis akan pergi. Melalui mengambil bagian dalam keadaan kita, Kristus telah memusnahkan Iblis dan membebaskan kita dari perbudakan. Maut telah terhempas, Iblis, penguasa maut itu pun telah dibinasakan, dan kita telah dibebaskan dari perbudakan.

D. Menguduskan kita

Kini Kristus sedang menguduskan kita (2:11). Dialah yang menguduskan dan kita adalah yang dikuduskan. Hari lepas hari, Ia menguduskan kita (1Tes. 5:23-24). Kita akan terus berada di bawah pekerjaan pengudusanNya, sampai kita berubah serupa Tuhan sepenuhnya (2 Kor. 3:18).

E. Dapat Menolong Kita

Kristus dapat menolong kita (2:18), bahkan dapat menolong dengan sepenuh-penuhnya. Janganlah mendengarkan dusta. Jangan pula mendengarkan keadaan sekitar Anda, kelemahan Anda, situasi Anda, suami Anda atau istri Anda. Suami atau istri mungkin pembohong kecil. Penyakit Anda, kelemahan Anda, dan keadaan Anda mungkin pula dusta. Janganlah percaya kepada dusta. Saudara pemimpin lebih-lebih tidak boleh mendengarkan dusta. Sering kali musuh memperalat saudara atau saudari untuk mendustai saudara pemimpin. Misalnya mereka berkata, “Keadaan sidang sangat merosot.” Bila ada seorang berkata demikian, janganlah Anda membantahnya, pejamkanlah mata Anda dan katakan, “Itu dusta. Pergilah! Aku percaya gereja hidup dan tetap tinggi.” Inilah iman. Anda boleh mencoba dan menyaksikan. Saudari-saudari, kalau kalian mengatakan bahwa suami kalian tidak baik, saya jamin mereka pasti akan memburuk, sebab kalian telah bernubuat demikian terhadap mereka. Kalian harus menyeberangi sungai. Jangan percaya kalau suami Anda buruk, sebaliknya katakanlah, “Suamiku paling baik di antara semua laki-laki!” Kalau Anda mau berkata demikian, Tuhan akan menggenapkan nubuat Anda dan suami Anda akan dibuatNya sungguh-sungguh paling baik. Ia dapat menolong kita dalam setiap masalah. Ia dapat menolong kita dalam situasi yang mana pun.

Apa yang telah dilakukan Kristus dulu, apa yang sedang dilakukanNya sekarang, dan apa yang akan dilakukanNya kelak, seluruhnya tercakup dalam “keselamatan yang sebesar itu” dan semua itu merupakan satu faktor yang menyebabkan keselamatanNya “sebesar itu”.

III. BESAR DALAM RUANG LINGKUPNYA

A. Membuat Kita Menjadi Mitra Kristus,

Ahli Waris yang Ditetapkan

Betapa luasnya ruang lingkup dalam “Keselamatan yang sebesar itu”, sehingga kita pun dapat menjadi teman sekutu (mitra) ahli waris Allah (1:2, 9). Karena masalah ini telah kita bahas dengan jelas dalam berita kelima, di sini kita tidak perlu mengulangi.

B. Membawa Kita ke dalam Kemuliaan

Keselamatan yang besar itu akan membawa kita ke dalam kemuliaan (2:10). Kita pernah mengatakan di tempat lain bahwa kemuliaan berarti Allah dinyatakan. Kita sebagai anak-anak Allah akan dibawa ke dalam penyataan kemuliaan itu (Rm. 8:19-21). Inilah puncak keselamatan yang akan kita nikmati di dalam Kristus. Inipun sudah jelas merupakan faktor utama dari “besar”nya keselamatan kita.

C. Membuat Kita Memiliki Dunia yang Akan Datang Bersama Kristus

Keselamatan yang besar itu juga akan membuat kita memiliki dunia yang akan datang bersama Kristus (2:5). Kita tidak perlu mencalonkan diri dalam pemilihan walikota, anggota DPR, Gubernur atau presiden. Kita akan mewarisi dunia yang akan datang. Ini bukan mimpi. Alkitab mengatakan demikian. Anda boleh mengumumkan, “Aku akan mewarisi bumi, karena Alkitab mengatakan demikian”.

D. Menyelamatkan Kita dengan Sempurna

Keselamatan yang besar itu akan menyelamatkan kita dengan sempurna (7:25). Keselamatan ini tidak terbatas, dapat menyelamatkan kita secara lengkap, menyeluruh, dan sempurna sepanjang waktu dan sampai kesudahannya. Inilah ruang lingkup “keselamatan yang sebesar itu”.

Besarnya “keselamatan” ini terletak pada apa adanya Kristus, apa yang dilakukan oleh Kristus, dan ruang lingkupnya. Bagian yang paling mustika ialah kita dapat menikmati Kristus sebagai hayat dan perhentian yang menyelamatkan kita pada zaman ini, dan bagian yang termulia adalah mewarisi Kerajaan Kristus yang mulia pada zaman yang akan datang.

IV. PERINGATAN

A. Lebih Teliti Memperhatikan

Apa yang Telah Kita Dengar

Ibrani 2:1 mengatakan, “Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar . . .” Kalau Anda telah banyak mendengar berita ini, haruslah Anda memperhatikannya. Anda tidak bisa mengelakkan tanggung jawab Anda, dan berkata bahwa Anda belum pernah mendengar atau melihat.

B. Jangan Terhanyut

Mengapa kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar? Yaitu agar kita “Jangan hanyut dibawa arus”. Perhatikanlah, supaya kalian tidak terhanyut meninggalkan apa yang telah kalian dengar itu. Janganlah menjadi sepotong kayu yang terapung dan hanyut, tanpa tujuan atau arah, hanya hanyut dibawa arus. Di situ terdapat suatu arus yang dapat menghanyutkan kita. Bagi kaum beriman Ibrani, Yudaisme adalah sebuah arus. Kini tidak saja dalam dunia ada sebuah arus, dalam kekristenan juga ada arus. Hari ini banyak arus yang negatif. Karena itu, berhati-hatilah agar jangan hanyut terbawa arus meninggalkan “keselamatan yang sebesar itu”. Jangan terhanyut, seberangilah sungai!

C. Jangan Menyia-nyiakan

Tidak hanya demikian, kita tidak seharusnya menyia-nyiakan “keselamatan yang sebesar itu” (2:3). Kalau kita menyia-nyiakannya, kita akan mendapat balasan yang setimpal (2:2). Kita akan menderita kerugian (1 Kor. 3:15). Tetapi itu tidak berarti kita akan binasa, melainkan kita akan mendapat balasan yang setimpal karena kita mengabaikannya, mungkin suatu kerugian yang amat besar. Saya harap tidak ada seorang pun di antara kita yang menderita kerugian semacam itu. Marilah kita bersama-sama menyeberang sungai dan mengikuti pemimpin keselamatan kita masuk ke dalam kemuliaan!