KRISTUS ADALAH PUTRA ALLAH — ADALAH ALLAH YANG LEBIH UNGGUL DARIPADA MALAIKAT-MALAIKAT
Kitab Ibrani adalah kitab perbandingan yang membandingkan ekonomi Allah dalam Kristus dengan hal-hal dalam Perjanjian Lama. Kaum beriman Ibrani yang adalah penerima surat ini, banyak yang menjunjung tinggi kepercayaan dan karunia keselamatan dalam Kristus, namun mereka juga menghargai latar belakang agama mereka yang lama, yang telah didirikan oleh Allah menurut Perjanjian Lama. Bukan agama kafir atau agama sesat, juga bukan hasil penemuan khayalan manusia, melainkan didirikan menurut perintah Allah. Allah telah memerintahkan nenek moyang mereka untuk menyusun tata cara, hukum upacara di Bait Suci, dan pelayanan suku Lewi. Semuanya itu adalah yang diperintahkan, didirikan, bahkan diberkati oleh Allah. Inilah latar belakang kaum beriman Ibrani. Tetapi sejak mata mereka terbuka dalam Kristus, mereka merasa serba salah. Kalau kita berada dalam situasi mereka, niscaya akan merasa sama. Ada dua hal yang membingungkan kaum beriman Ibrani: Kristus dan latar belakang mereka yang lama. Kedua-duanya berasal dari Allah dan mereka harus memilih salah satu. Seakan-akan mereka berdiri di atas jembatan dalam sikap ragu-ragu. Mereka masih belum meninggalkan tepian yang satu, bahkan masih ragu-ragu di perbatasan. Mereka sudah terpanggil untuk maju, melintasi sungai sampai ke seberang. Mereka tidak terlibat dalam penyembahan berhala, karena Bait Suci telah didirikan demi tujuan menyembah Allah nenek moyang mereka. Dalam pelayanan suku Lewi, imam-imam mempersembahkan kurban-kurban yang ditetapkan oleh Allah dan membakar ukupan seperti yang dimintaNya. Maka sulitlah bagi kaum beriman Ibrani untuk membuang semua itu sama sekali. Kedua tangan mereka memegang kedua hal itu. Sebuah tangan memegang Kristus, sedang yang satunya masih memegang agama warisan nenek moyang mereka. Inilah latar belakang situasi mereka.
Tidak hanya demikian, mereka juga menghadapi masalah dalam suasana keliling. Penganiayaan telah menimpa mereka. Walaupun mereka masih mencintai agama warisan nenek moyang, namun imam besar pada masa itu malah memelopori penganiayaan atas diri mereka. Mereka dipaksa untuk menentukan sikap. Mungkin imam besar berkata, “Kalau kalian mau menjadi orang Israel, lupakan Kristus dan orang Kristen, berdirilah di pihak kami. Sebaliknya, bila kalian mau menjadi orang Kristen, enyahlah dan tinggalkanlah kami, kami tidak menginginkan kalian hidup di tengah-tengah kami.” Inilah keadaan kaum beriman Ibrani pada saat surat Ibrani dituliskan kepada mereka.
Dalam surat ini kita dapat melihat hikmat Roh Tuhan. Ia tidak mencela atau menegur mereka. Dalam surat ini tidak ada roh yang mencela, tidak ada kata-kata yang mencela, juga tidak ada nada yang mencela. Sebab mencela atau menegur tidak berguna. Tuhan Sang Roh membantu mereka dengan cara yang baik sekali, yaitu dengan perbandingan. Cara terbaik untuk membantu anak kita adalah mengajar mereka membuat perbandingan. Suruh mereka membandingkan sendiri putih dengan hitam, Kristus dengan agama, gereja dengan dunia, surga dengan neraka; kemudian suruh mereka sendiri memilih. Demikianlah jalan yang ditempuh oleh penulis surat ini. Dengan jelas diungkapkan apa saja yang ada dalam ekonomi Allah; betapa jauh keunggulan Kristus dibandingkan dengan agama lama mereka. Agama mereka sepertilah latar belakang yang hitam. Tanpa adanya latar belakang yang hitam, tidak akan nampak warna putih dengan jelas. Kalau mau menonjolkan warna putih, haruslah diberi warna dasar hitam. Ingatlah prinsip ini, dalam Surat Ibrani ini sering digunakan perbandingan.
Apakah sebetulnya yang terkandung dalam Yudaisme, yang dianggap mustika oleh nenek moyang orang Yahudi? Dalam Yudaisme, agama yang khas dan sejati yang dibentuk dan didirikan menurut Perjanjian Lama, hal yang utama adalah Allah. Mereka bermegah dalam Allah (Rm 2:17). Agama lain tidak memiliki Allah yang sedemikian. Allah yang sejati dan benar ada pada agama Yahudi, karena agama Yahudi adalah agama yang paling asli, paling murni. Di satu aspek, mereka memiliki Allah yang sejati. Allah ini adalah kebanggaan mereka. Bahkan Yudaisme hari ini ma-sih membanggakan Allah.
Kedua, Yudaisme memiliki malaikat. Ajaran-ajaran lainnya hanya memiliki setan-setan kecil, dan malaikat tidak dapat dibandingkan dengan setan-setan kecil tersebut. Alkitab menunjukkan bahwa malaikat itu sangat dekat dengan Allah. Ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham, ada dua malaikat yang menyertaiNya (Kej. 18:1-2). Kelihatannya ketiga-tiganya sangat mirip. Jadi betapa tinggi kedudukan malaikat itu; sampai-sampai Taurat pun diturunkan melalui malaikat (Kis. 7:53; Gal. 3:19). Karena itu agama Yahudi juga membanggakan malaikat.
Ketiga, agama Yahudi juga membanggakan Musa, karena melalui dialah hukum Allah diturunkan. Hampir setiap bangsa, terutama pada zaman dulu, memiliki pemimpin yang luar biasa. Namun, Musa adalah yang terutama di antara semua pemimpin manusia itu. Tidak ada karya tulisan lain yang bisa dibandingkan dengan tulisannya. Kita tidak perlu mengajukan kelima kitab (Pentateuch) tulisan Musa, cukup ambil satu saja, Kitab Ulangan. Kitab ini tidak ada bandingannya; kitab yang terletak di surga tingkat tiga. Semua buku, kecuali Alkitab, hanyalah merupakan buku di permukaan bumi atau di dalam neraka yang paling rendah. Kitab tulisan Musa sangat tinggi. Saya benar-benar menyukai semua kitab yang ditulis olehnya, teristimewa Kitab Ulangan, yang begitu manis dan lembut. Betapa luar biasa kelima kitab tulisan Musa! Kitab-kitab itu adalah tambang emas. Makin digali, makin banyak barang mustika yang Anda dapatkan. Kitab-kitab itu dalamnya tidak terduga. Tak heran orang-orang Yahudi membanggakan Musa.
Hal keempat adalah Imamat yang dikepalai Harun, kakak Musa. Musa bukan imam, ia adalah seorang rasul dalam Perjanjian Lama. Harunlah imam besar. Musa diutus dari Allah kepada umat Israel, sedangkan Harun bertolak dari umat Israel kembali kepada Allah. Musa melambangkan Kristus yang datang dari Allah kepada manusia, sedang Harun melambangkan Kristus yang bertolak dari manusia kepada Allah. Orang Yahudi mempunyai imamat yang sedemikian dalam melayani Allah dan memperhatikan keperluan-keperluan umatNya di hadirat Allah.
Di satu aspek, para imam bukan sekadar para pelayan, tetapi juga pengacara pengadilan surga. Alangkah baiknya memiliki pengacara yang terus-menerus memperhatikan perkara Anda. Orang Yahudi memiliki imam pengacara semacam ini. Hari ini, bila seseorang tidak memiliki pengacara, ia kehilangan perlindungan; sebaliknya, bila ia selalu di bawah pembelaan seorang pengacara yang baik, barulah mereka bisa mengalami damai sejahtera. Orang kafir tidak mempunyai pengacara yang membela mereka di hadirat Allah, tetapi orang Yahudi mempunyai imam-imam yang bertindak sebagai pengacara-pengacara di hadapan Allah. Imam-imam itu melayani Allah serta memperhatikan keperluan-keperluan orang Israel. Karena itu, orang-orang Yahudi bermegah atas imam-imam mereka.
Hal kelima dan yang terakhir yang dibanggakan Yudaisme adalah Perjanjian Lama yang Allah buat dengan orang Yahudi. Orang-orang Yahudi menjadi umat Allah berdasarkan perjanjian Allah yang dibuat sesuai dengan hukum Allah. Mereka adalah umat Allah di dalam perjanjian. Bangsa-bangsa lain tidak memiliki perjanjian ilahi yang membuat mereka menjadi umat Allah sesuai dengan kehendak dan tuntutan Allah. Hanya orang-orang Yahudilah yang memiliki perjanjian ilahi ini, yang menjadikan mereka bangsa istimewa bagi Allah. Demikianlah mereka memustikakannya, bahkan bermegah atasnya.
Tujuan Surat Ibrani adalah memperlihatkan kepada kaum beriman Ibrani bahwa keselamatan Allah itu lebih unggul daripada Yudaisme. Yang dimegahkan Yudaisme adalah Allah, malaikat-malaikat, Musa, Imam Besar Harun, dan Perjanjian Lama dengan pelayanan-pelayanannya. Penulis menggunakan kelima hal itu sebagai dasar perbandingan. Mula-mula penulis menunjukkan bahwa dalam ke-selamatan Allah, hal pertama yang unggul bukan hanya Allah, juga Allah yang terekspresi, yaitu Allah Putra (1:2-3, 5, 8-12). Kemudian dia menyingkapkan bahwa Kristus lebih unggul daripada malaikat-malaikat (1:4-2:18), daripada Musa (3:1-6), daripada Harun (4:14-7:28), bahkan perjanjian hayat yang baru yang dibuatNya lebih unggul daripada perjanjian huruf-huruf perjanjian yang lama (8:1-10:18).
Perbandingan pertama yang diketengahkan surat ini adalah Allah dalam karunia keselamatan dengan Allah dalam agama Yahudi. Agama Yahudi memang memiliki Allah yang sejati, namun dalam Yudaisme, Dia itu Allah yang tersembunyi. Sebaliknya, dalam karunia keselamatan, Allah terekspresikan. Allah yang terekspresi ini adalah Allah Putra. Allah Putra adalah ekspresi Allah. Sebelum beroleh selamat, sewaktu masih dalam agama Yahudi, Rasul Yohanes tidak dapat mengatakan, “Kita telah melihat kemuliaanNya.” Tetapi sewaktu ia menulis Injil Yohanes, ia mengatakan, “Pada mulanya ada Firman . . . Firman itu adalah Allah.” Firman yang adalah Allah telah menjadi manusia, dan kita telah melihat kemuliaanNya.” Lebih lanjut dikatakan dalam Yohanes 1:18, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya.” Dalam Surat 1Yohanes disebutkan bahwa Allah yang menjadi hayat kita ini adalah “yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan, dan yang kami raba dengan tangan kami” (1:1). Inilah Allah yang ada dalam karunia keselamatanNya. Dalam agama Yahudi Allah itu sejati, namun tersembunyi; sedangkan dalam karunia keselamatan, Allah itu terekspresikan.
Dalam Perjanjian Lama, Allah berbicara dengan perantaraan nabi-nabi, tetapi tidak pernah mengekspresikan diriNya sendiri. Dalam Perjanjian Baru, dalam karunia keselamatanNya, Ia bicara di dalam Putra yang adalah Firman Allah, pembicaraan Allah, bahkan Ia adalah Allah sendiri. Ia membicarakan Allah, menyatakan Allah, dan mengekspresikan Allah. Zaman dulu, Allah berbicara secara tidak langsung melalui nabi-nabi, namun kini Ia berbicara secara langsung di dalam Putra.
Ketika Petrus bersama Tuhan di atas gunung pengubahan, ia nampak Musa dan Elia, namun ia masih memegang konsepsi lama, yang menjajarkan Putra Allah bersama Musa dan Elia (Mat. 17:1-8). Seharusnya ia tahu bahwa Allah tidak lagi bicara menurut cara lama. Tidak ada lagi Musa, tidak ada lagi Elia, kecuali Putra Allah saja. Petrus harus menyeberangi sungai untuk mendengarkan Putra saja. Kini, Putra adalah satu-satunya perkataan Allah. Dialah pernyataan dan ekspresi Allah. Dia bukan hanya berbicara bagi Allah, lebih-lebih membicarakan Allah. Dia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar substansi Allah.
Allah dalam karunia keselamatan jauh lebih unggul daripada Allah dalam agama Yahudi. Dalam agama Yahudi, Allah tersembunyi; sedang dalam karunia keselamatan, Allah terekspresikan.
Putra yang di dalamNya Allah berbicara adalah Pencipta langit dan bumi (1:10). Dia tidak lain dari Allah Pencipta. Dia juga Penopang, Penunjang, dan Penggerak alam semesta ini. Dengan perkataanNya yang penuh kuasa Ia menopang, menunjang, dan menggerakkan segala yang ada (1:3). Ia juga Sang Terurap yang ditunjuk sebagai penerima seluruh alam ciptaan (1:2). Pewaris yang ditunjuk ini tidak lain Allah sendiri (1:8). Allah ini tidak lain adalah Allah orang Yahudi, namun Ia pun bukan hanya Allah orang Yahudi. Selamanya tidak ada orang yang telah melihat Allah orang Yahudi, tetapi terhadap kita, orang-orang Ibrani sejati, Allah sudah terwahyukan, terekspresikan; telah kita, terima, miliki, dan alami dari hari ke hari.
Dalam pemulihan Tuhan, kita mendapatkan banyak saudara orang Yahudi, yang sekarang menjadi orang-orang Ibrani sejati. Sebelum mereka masuk ke dalam pemulihan Tuhan, mereka semua tahu tentang Allah, tetapi tidak menikmatiNya. Dalam agama mereka, hanya ada istilah “Allah”, tetapi tidak mendapatkan Allah di dalam pengalaman mereka. Sekarang mereka mendapatkan Allah di dalam pengalaman.
Dalam memulai Surat Kirimannya, penulis Kitab Ibrani menunjukkan bahwa Allah orang Ibrani yang sejati jauh lebih baik daripada Allah di dalam agama Yahudi yang usang. Dia bukan hanya Allah Bapa, tetapi juga Allah Putra. Dua konsepsi ini terdapat dalam Yesaya 9:5, “. . . seorang Putra telah diberikan untuk kita . . . dan namaNya disebutkan orang . . . Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal.” Seorang Putra telah diberikan untuk kita, namun namaNya disebut Bapa kekal. Bapa itu adalah Putra yang sekarang dikaruniakan kepada kita. Bapa adalah mengacu kepada apa adanya Dia, sedang Putra adalah mengacu kepada Dia telah dikaruniakan kepada manusia. Di dalam Dia sebagai Allah, Dialah Bapa, sedang di dalam Dia yang dikaruniakan kepada kita, Dialah Putra. Seperti telah jelas diwahyukan oleh Yesaya 9:5 bahwa Ketika Dia dikaruniakan, Dia adalah Putra, namun Dia disebut juga Bapa yang kekal. Bapa adalah mengacu kepada apa adanya Allah, dan Putra adalah mengacu kepada Dia dikaruniakan kepada kita untuk menjangkau kita, didapatkan oleh kita dalam pengalaman kita. Bila Ia hanya sebagai Bapa, kita tidak akan dapat menerimaNya atau menikmatiNya. Puji Tuhan, Dia adalah Putra yang dikaruniakan kepada kita. “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal” (Yoh. 3:16). Putra adalah karunia ilahi dari Bapa, dan karunia ilahi ini adalah Allah sendiri. Dalam Putra, Allah mengaruniakan diriNya sendiri kepada kita sebagai karunia ilahi.
Allah kita adalah Allah yang terekspresikan, Allah yang mencapai kita, yang diterima oleh kita, yang dialami oleh kita, dan menjadi kenikmatan kita dari hari ke hari. Inilah Allah kita. Sudah tentu ini lebih baik daripada Allah Yudaisme. Allah ini adalah Yesus, Putra Allah, Allah sendiri. Dialah ekspresi Allah, Allah yang mencapai kita, Allah yang diterima, dialami, dinikmati, dan dimiliki oleh kita.
Sekarang kita perlu meninjau bagaimana Putra sebagai Allah yang terekspresi jauh lebih tinggi daripada para malaikat. Dia jauh mengungguli para malaikat. Bukan saja Allah dalam keselamatan mengungguli para malaikat, bahkan Allah dalam Yudaisme pun jauh mengungguli mereka, sebab malaikat tidak lain adalah pelayan-pelayanNya. Malaikat hanyalah badai dan nyala api (1:7). Jangan terlampau meninggikan malaikat. Mungkin banyak di antara kalian ingin menjadi malaikat. Ketahuilah bahwa malaikat tidak saja lebih rendah daripada Kristus, bahkan lebih rendah daripada kita. Dalam zaman Perjanjian Lama, Allah pun jauh lebih unggul daripada malaikat. Para malaikat hanya menjalankan kehendak Allah. Karena itu, Kristus kita, Putra Allah, tentu jauh lebih unggul daripada para malaikat dibandingkan dengan Allah Yudaisme. Malaikat yang seperti badai dan nyala api hanyalah ciptaan, sedang Putra adalah Pencipta. Sebagai makhluk ciptaan, malaikat jauh lebih rendah daripada Putra, dan sebagai Pencipta, Putra jauh melampaui malaikat.
I. PUTRA — NAMA YANG LEBIH ISTIMEWA
Putra mempunyai nama yang lebih indah daripada malaikat. Ibrani 1:4 mengatakan, “Nama yang dikaruniakan kepadaNya jauh lebih istimewa daripada nama mereka.” Nama yang jauh lebih istimewa ini adalah Putra”, nama yang sepenuhnya dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya, “Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan,’ Engkaulah AnakKu! Engkau telah menjadi AnakKu (kulahirkan) pada hari ini’? dan ‘Aku akan menjadi BapaNya, dan Ia akan menjadi AnakKu’”? (1:5). Roma 1:4 mengatakan, “Menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati bahwa Dialah Anak Allah yang berkuasa.” KebangkitanNya dari antara orang mati membuktikan bahwa Ia adalah Putra Allah. Kristus telah dinyatakan dan diumumkan sebagai Putra Allah. Ia sudah menerima nama yang istimewa ini.
II. DALAM KEBANGKITAN
Dalam kebangkitan Kristus dinyatakan sebagai Putra Allah yang jauh melampaui malaikat. Kebangkitan berarti suatu permulaan baru, menandakan tumbuhnya tunas. Ayat 3 mengungkapkan kematianNya dengan kalimat, “Setelah selesai mengadakan penyucian dosa.” Ayat 5 menunjukkan bahwa kebangkitanNya yang menjadikanNya Putra sulung Allah (Kis. 13:33) adalah suatu permulaan zaman baru, zaman gereja, yang terdiri dari banyak saudara yang dilahirkan oleh Allah melalui kebangkitanNya.
III. DALAM KENAIKAN KE SURGA
Ibrani 1 juga membicarakan kenaikan Kristus ke surga, yang menyusul kebangkitanNya. Ayat 13 mengatakan, “Kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata, ‘Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhMu menjadi tumpuan kakiMu?’” Jelas ini ditujukan kepada kenaikanNya ke surga. Dalam kenaikanNya, Kristus sebagai Putra Allah jauh lebih tinggi daripada malaikat. Ia tidak lagi berada di dalam kubur atau di muka bumi; Ia berada di sebelah kanan yang Mahabesar di tempat yang tinggi (1:3). KenaikanNya yang membuatNya terlantik atas jabatanNya melaksanakan rencana kekal Allah, yaitu membangun gereja dan memimpin banyak saudara masuk ke dalam kemuliaan.
IV. DALAM KEDATANGAN-NYA KALI KEDUA
Setelah naik dan bertakhta di surga, Kristus menunggu musuh-musuhNya ditaklukkan menjadi tumpuan kakiNya. Lalu Ia akan datang kembali. Sebagai Putra Allah, Ia juga mengungguli malaikat-malaikat di dalam kedatanganNya kali kedua, ini digambarkan dalam ayat 6. “Lagi pula, ketika ia membawa AnakNya yang sulung ke dunia, Ia berkata, ‘Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.’” Bagaimana kita tahu bahwa ini ditujukan kepada kedatanganNya kali kedua? Karena Kristus disebut “AnakNya yang sulung.” Dalam kedatanganNya kali pertama, Kristus adalah Putra tunggal Bapa (Yoh. 1:14). Setelah melalui proses kebangkitan, Putra tunggal telah menjadi “yang sulung di antara banyak saudara” (Rm. 8:29). Dengan disebut sebagai yang sulung, kita tahu ayat bahwa ayat ini ditujukan kepada kedatanganNya kembali. Kali pertama, Allah membawaNya ke bumi, Ia adalah Putra tunggal Allah, tetapi kali kedua Allah membawaNya ke bumi, Ia akan menjadi Putra sulung. Pada saat itu, semua malaikat akan menyembah Dia.
V. DALAM KERAJAAN
Kembalinya Kristus akan disusul oleh kerajaanNya. Ia sebagai Putra Sulung Allah yang akan datang kembali, lebih unggul daripada para malaikat di dalam kerajaanNya. Ayat 8 mengatakan, “Tetapi tentang Anak Ia berkata, ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran.’”
Dalam ayat ini “Anak” disebut “ya Allah”. Ini suatu bukti yang kuat bahwa Putra adalah Allah. Sudah tentu Allah lebih unggul daripada malaikat-malaikat. Ayat ini juga menunjukkan bahwa takhta Putra adalah takhta Allah yang kekal selamanya. Demikianlah, kerajaanNya tentu juga kerajaan Allah. Semuanya ini sungguh ajaib; dalam kerajaan, Kristus jauh lebih unggul daripada malaikat-malaikat.
VI. DALAM KEKEKALAN
Sesudah kerajaan adalah alam kekal. Ayat 10-12 memperlihatkan bahwa dalam alam kekal Kristus akan jauh melampaui malaikat-malaikat. Ayat 10 mengatakan, “Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tanganMu.” Ini ditujukan akan ciptaanNya. “Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian” (ayat 11). Ini menunjukkan bahwa ciptaan lama akan berakhir, langit dan bumi baru akan datang. “Tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan” (ayat 12). Ini berarti Dia akan menjadi Sang Kekal di dalam kekekalan. Sebagai Pencipta dan Sang Kekal, Dia lebih unggul daripada malaikat-malaikat, ciptaanNya.
O, betapa kaya firman dalam Ibrani 1! Pasal ini memberi kita suatu catatan tentang Kristus dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang akan datang. Dalam kekekalan yang lampau, Dia adalah Allah (1:8); Dia adalah Pencipta langit dan bumi (1:10, 2); Dia adalah Penopang, Penunjang, dan Penggerak segala yang ada (1:3); Dia adalah ahli waris segala yang ada (1:2); Dia telah berinkarnasi, melalui salib merampungkan penebusan (1:3); Dia dilahirkan sebagai Putra Allah dalam kebangkitan untuk menyalurkan hayat kepada banyak putra Allah (1:5); Dia adalah Putra sulung Allah yang akan datang kembali (1:6); Dia akan menjadi Raja di atas takhta dengan tongkat kekuasaan di dalam kerajaan (1:8-9); dan Dia akan tetap sampai selama-lamanya di dalam kekekalan yang akan datang (1:12). Pasal pendek ini telah mencakup sangat banyak mengenai adanya Kristus dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang akan datang. Inilah Kristus kita. Betapa jauh lebih unggulNya Dia daripada malaikat-malaikat!