← Daftar isi Ibrani (1) · bab 3/17

PUTRA

Allah itu rahasia. Ia sepenuhnya merupakan rahasia. Tetapi rahasia ini telah terwahyukan melalui pembicaraan Allah. Tanpa pembicaraan Allah, Allah akan selamanya tidak dikenal. Namun kini Allah bukan lagi rahasia. Dia bukan lagi sebuah rahasia, melainkan sebuah kisah. Kisah Allah ini mutlak terletak pada hal berbicara. Allah mempunyai suatu sejarah, dan sejarahNya ini adalah sejarah berbicara. Kita dapat mengutarakan kisah Allah, sebab kisah Allah adalah sebuah perkara berbicara yang terus-menerus, sejarah berbicara.

Pertama-tama Allah berbicara melalui beberapa orang yang dipilih dan digerakkan olehNya. Dengan berbagai cara Allah berbicara melalui Adam, Habel, Enos, Henokh, Nuh dan Abraham. Setelah Abraham, Allah berbicara melalui Musa, imam-imam, raja-raja, dan nabi-nabi yang dipilih olehNya. Orang-orang yang menyampaikan firman Allah itu, entah itu raja atau nabi, semuanya digerakkan oleh Roh Allah. Karena itu, sejarah Allah adalah sejarah berbicara.

Meskipun Allah pernah berbicara melalui berbagai macam orang: yang bermartabat tinggi, yang berkelas rendah; yang berpendidikan, yang tidak berpendidikan; raja, gembala; namun masih saja tidak cukup pembicaraanNya. Tidak peduli berapa banyak orang itu telah dipakai untuk berbicara bagi Allah, pembicaraan mereka belumlah cukup sempurna. Allah perlu berfirman sendiri secara langsung. Karena itu, Ia datang di dalam persona Putra. Ibrani 1:2 mengatakan bahwa Ia telah berbicara kepada kita “di dalam” (Tl.). PutraNya. Pada zaman dulu Allah berbicara melalui (dengan perantaraan) nabi-nabi, kini Ia berbicara di dalam PutraNya. Putra berbeda dengan nabi-nabi. Nabi-nabi ialah orang-orang yang dipakai Allah untuk berbicara bagiNya, namun Putra justru Allah sendiri yang berbicara. Ayat 2 mengatakan bahwa Allah berbicara di dalam PutraNya, sedang ayat 8 memberi tahu kita bahwa Putra adalah Allah. Ini menunjukkan bahwa Allah berbicara di dalam diriNya sendiri. Kalau hanya membaca ayat 2, seolah-olah Allah dengan Putra itu dua persona, sebab di situ dikatakan, “Allah berfirman di dalam Putra.” Tetapi dalam ayat 8 terbukti jelas bahwa Putra dan Allah adalah satu, sebab di sana Putra itu disebut “Ya Allah”. Mengatakan Allah berbicara di dalam Putra berarti Allah berbicara dalam diriNya sendiri.

Dalam keempat kitab Injil, Putra Allah sudah datang. KedatanganNya adalah untuk membicarakan Allah, bukan sekadar dengan perkataan nyata, tetapi juga dengan apa adaNya dan apa yang dilakukanNya. Ia adalah firman dan pembicaraan Allah. Adakalanya Ia berbicara dengan kata-kata nyata, ada kalanya Ia berbicara dengan tindakan. Segala apa adaNya dan segala apa yang dilakukanNya adalah membicarakan Allah. “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya” (Yoh. 1:18).

Putra adalah firman Allah, pembicaraan Allah, ekspre-si Allah, dan definisi Allah. Ketika Putra berbicara, perkataanNya adalah Roh (Yoh. 6:63). Pada akhirnya, ketika berfirman kepada gereja-gereja, Ia adalah Roh yang berbicara. Pada awal setiap pucuk surat dari ketujuh surat dalam Wahyu2 dan 3, Putra yang berfirman, namun pada akhirnya dikatakan, itu adalah perkataan Roh Kudus kepada gereja-gereja. Allah berfirman di dalam Putra, dan ketika Putra itu berbicara kepada gereja-gereja, Dialah Roh yang berfirman. Melalui pembicaraanNya, gereja-gereja menjadi satu denganNya. Pada akhir Kitab Wahyu, kita nampak bahwa gereja bersatu dengan Roh dan berbicara bersama (Why. 22:17). Allah berfirman di dalam Putra, Putra menjadi Roh yang berbicara, sedang Roh yang berbicara itu bersatu dengan gereja dan berbicara bagi Allah. Inilah sejarah pembicaraan Allah, yaitu sebuah sejarah berbicara.

Kisah Allah berbicara ini tercatat dalam Alkitab. Seluruh Alkitab merupakan sejarah Allah. Seperti telah kita lihat, sejarah ini adalah kisah berbicara. Ketika Allah menciptakan segala sesuatu, Ia merampungkannya dengan berbicara. Ketika Allah berkontak dengan manusia dalam zaman Perjanjian Lama, hal itu dilakukan melalui berbicara di dalam para nabi. Dalam zaman Perjanjian Baru, Ia datang ke antara manusia dan berbicara di dalam Putra, yaitu Putra sebagai persona firman Allah. Bagaimanakah Ia hari ini datang ke dalam gereja? Ia berfirman sebagai Roh itu yang berbicara. Melalui berbicara sebagai Roh, Ia menyatukan diriNya dengan gereja. Akhirnya, kisah berbicara ini tidak hanya mencakup Allah sendiri, tetapi juga mencakup seluruh gereja. Sidang demi sidang, hidup gereja merupakan kisah berbicara. Kita adalah orang-orang yang berbicara. Melalui berbicara ini, Allah menginfuskan diriNya ke dalam manusia. Melalui berbicara ini, unsur ilahiNya terinfus dan meresap ke dalam banyak manusia. Inilah hidup gereja dan inilah Allah berbicara.

Surat Ibrani ialah surat pembicaraan Allah. Esens dari surat ini ialah Allah berbicara di dalam Putra. Allah berbicara di dalam Putra, dan Putra menjadi Roh yang berbicara kepada seluruh gereja, akhirnya, Roh berbicara bersama gereja. Dalam kisah berbicara yang demikian inilah Allah masuk ke dalam manusia, dan manusia dibawa ke dalam Allah. Allah dengan manusia, manusia dengan Allah, lalu menjadi satu. Inilah hidup gereja yang ajaib.

I. PERSONA-NYA

Sekarang mari kita melihat Putra Allah. Ibrani 1 mewahyukan dua hal yang utama tentang Putra Allah, yaitu personaNya dan pekerjaanNya.

A. Cahaya Kemuliaan Allah

Penulis Surat Ibrani sepenuhnya berada di bawah inspirasi Roh Kudus, ia beroleh hikmat mengungkapkan bahwa Putra adalah cahaya kemuliaan Allah (1:3). Cahaya kemuliaan Allah sepertilah pancaran dan terangnya sinar matahari. Putra adalah pancaran terang kemuliaan Bapa, ini mengacu kepada kemuliaan Allah. Dapatkah Anda memisahkan cahaya dengan kemuliaan? Hal itu sama dengan memisahkan sorotan matahari dari cahaya matahari. Itu mustahil, karena sorotan dengan cahaya adalah satu. Bayangkan penerangan listrik. Dapatkah kita mengatakan bahwa terangnya itu satu hal dan listriknya itu satu hal lain? Sekali-kali tidak! Sebab terang adalah ekspresi listrik. Listrik adalah suatu rahasia, tidak ada seorang pun pernah melihat listrik. Namun ia adalah suatu realitas. Bagaimana Anda tahu di ruang ini ada listrik? Demi melihat adanya terang lampu-lampu. Terang adalah cahaya kemuliaan listrik. Begitu pula, jangan kita mengira Putra itu terpisah dengan Allah. Putra adalah ekspresi Allah sendiri.

Ada sebagian orang yang disebut Kristen, tetapi tidak percaya bahwa Kristus adalah Allah. Hal itu adalah suatu hujatan terbesar terhadap Tuhan Yesus. Tuhan kita tidaklah kurang sedikit pun daripada Allah. Ia adalah Allah sendiri. Ketika saya berada di Manila tahun 1950, di sana terdapat sekelompok orang yang disebut orang Kristen yang tidak percaya akan Kristus sebagai Allah. Orang-orang itu sangat berpengaruh di tempat itu. Beberapa orang di antara mereka telah berpaling ke dalam pemulihan Tuhan. Pada suatu hari, empat orang wakil dari mereka datang mengun-jungi saya, dua orang pengacara, seorang dokter, dan seorang guru. Mereka membawa Alkitab, bermaksud hendak menaklukkan saya. Pertanyaan mereka yang pertama ialah, “Tuan Lee, bagaimana Anda bisa berkata bahwa Kristus adalah Allah?” Jawab saya, “Bagaimana pula kalian bisa berkata Kristus bukan Allah. Kalian jawab saya dulu, kemudian baru saya menjawab kalian. Katakanlah kepada saya bagian mana dalam Alkitab yang mengatakan bahwa Kristus bukan Allah?” Mereka berkata, “Kami tidak dapat menunjukkan ayat Alkitab yang mengatakan bahwa Kristus bukan Allah, tetapi bagaimanapun, Anda tidak dapat menduga bahwa Kristus adalah Allah!” Saya berkata bahwa saya sekali-kali bukan menduga. Kemudian saya mengutip Injil Yohanes 1:1. Mereka segera membantah, “Ayat itu mengatakan bahwa Firman adalah Allah, tetapi tidak mengatakan Kristus adalah Allah.” Saya menjawab, “Kalian ini orang macam apa? Apakah pikiran kalian waras? Coba katakan siapakah Firman itu?” Kata mereka, “Firman itu, ya Firman. Tetapi Firman bukanlah Kristus!” Saya bertanya lagi, “Bukankah pada ayat 14 dijelaskan bahwa Firman itu menjadi manusia?” Mereka membantah pula, “Itu manusia, bukan Kristus.” Saya berkata, “Saya tidak ada waktu untuk berputar-putar dengan kalian. Perkataan kalian terlalu ngawur.” Walaupun mereka berpura-pura merendahkan diri dan menghendaki saya sabar menghadapi mereka, tetapi saya berkata kepada mereka, “Saya tidak ingin mendengar kata-kata kalian. Sebab kalian ngawur. Kalian tidak memiliki pikiran yang jernih. Setiap orang yang waras pikirannya pasti mengerti pada mulanya ada Firman, Firman adalah Allah, Firman itu telah menjelma menjadi manusia, manusia itu dinamai Yesus. Jadi, Yesus adalah Allah. Tetapi perkataan kalian sama sekali ngawur!” Demikianlah mereka yang tersingkapkan dan tertaklukkan. Kemudian, dari antara mereka ada beberapa orang yang tercelik se-hingga nampak bahwa diri mereka tidak memiliki kebe-naran kecuali bohong belaka.

Kita semua harus nampak bahwa Tuhan Yesus kita adalah Allah. Jangan mengira Ia bukan Allah. Ia adalah Allah. Itulah sebabnya Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Dia adalah cahaya kemuliaan Allah.

B. Gambar Substansi Allah

Putra juga adalah gambar substansi (keberadaan yang sesungguhnya, LAI) Allah (1:3). Kemuliaan adalah ekspresi lahirnya, substansi adalah esens batinnya. Allah memiliki esens, substansi, juga memiliki rupa penampilan. Misalnya sebuah meja kayu, substansinya ialah kayu. Kayu adalah esens dari meja itu. Begitu pula, Allah memiliki substansi dan juga mempunyai kemuliaan. Kita tidak mempunyai ungkapan yang cukup untuk menjelaskan hal ini. Kita hanya bisa mengatakan bahwa Allah kita mulia dan juga memiliki substansi, memiliki wujud. Menyinggung kemuliaan Allah, Putra adalah cahaya kemuliaanNya. Menyinggung substansi Allah, Putra adalah gambar substansi Allah.

Gambar substansi Allah sepertilah gambar cetak sebuah cap stempel. Pada stempel terdapat gambar. Ketika stempel itu dicapkan ke atas sehelai kertas, gambar yang serupa niscaya tertera di atas kertas itu. Jika pada stempel tercantum huruf “USA”, maka setelah kertas itu dicap, kertas itu akan menampilkan huruf yang sama. Putra bukan hanya cahaya kemuliaan Allah, Ia pun “stempel” substansi Allah. Ini berarti Putra adalah Allah yang datang kepada kita. Ketika saya memegang stempel ini di tangan saya, stempel ada pada saya. Jika stempel ini saya capkan pada Anda, gambar stempel ini ada pada Anda. Ke mana saja Anda pergi, gambar stempel itu akan terbawa serta. Ketika Allah belum datang, Ia hanya sebagai Allah semata. Tetapi ketika Ia datang, Dialah Putra, yang adalah gambar substansiNya.

Kristus adalah Allah yang datang kepada kita, Allah yang menghampiri kita. Bagaimanakah matahari mencapai kita? Melalui sinar yang dipancarkanNya. Jangan Anda mengira di luar tidak ada matahari. Cobalah berdiri di luar 15 menit waktu tengah hari, Anda pasti akan terbakar olehnya, karena sinar matahari telah mencapai Anda. Itu berarti matahari mencapai Anda. Siapakah Putra? Putra adalah Allah mencapai kita, Allah bersatu dengan kita. Sering orang berkata, “Mari kita mandi sinar matahari.” Setelah mereka mandi sinar matahari, unsur-unsur tertentu dari matahari tersalur ke dalam mereka. Ini berarti matahari telah mencapai mereka. Demikian pula, Kristus, Putra Allah adalah Allah sendiri yang mencapai kita dan masuk ke dalam kita. Kita benar-benar memiliki satu Allah yang mencapai kita dan yang masuk ke dalam kita. Inilah keselamatan kita, yaitu keselamatan besar yang diwahyukan dalam pasal 2. Keselamatan besar kita ialah Allah mencapai kita dan masuk ke dalam kita. Inilah Putra Allah.

C. Allah Sendiri

Ibrani 1:8 mewahyukan bahwa Putra yang adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar substansi Allah adalah Allah sendiri. Ayat 8 membicarakan tentang Putra, “TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya.” Di sini mewahyukan bahwa Putra adalah Allah sendiri.

D. Tuhan

Ayat 10 mengatakan bahwa Putra adalah Tuhan, yaitu Pencipta. “Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tanganMu.” Kristus, Putra Allah, adalah Allah sendiri, Ia juga Tuhan, Pencipta. Janganlah mengira Ia berlainan dengan Tuhan dan Pencipta. Dia adalah Allah, juga Tuhan, Pencipta.

II. PEKERJAAN-NYA

Sekarang kita melihat pekerjaan Putra. Ibrani 1:2-3 mewahyukan dua kategori pekerjaan Putra, yaitu penciptaan dan penebusan.

A. Dalam Penciptaan

1. Menciptakan Alam Semesta di Masa Lampau

Ibrani 1 mewahyukan bahwa Putra telah menjadikan langit dan bumi (1:2, 10). Melalui Putra barulah segalanya itu ada (Yoh. 1:3; Kol. 1:16; 1Kor. 8:6). Putra adalah Pencipta alam semesta.

2. Menopang, Menunjang, dan Menggerakkan Segala Sesuatu di Masa Kini

Sesudah menjadikan segala sesuatu, Putra lalu menjadi Penopang, Penunjang, dan Penggeraknya (1:3 Tl.). Bumi tergantung di udara, tanpa satu pilar pun yang menopangnya. Setelah Kristus menciptakan bumi, Ia pun menopang, menunjang, dan menggerakkannya dengan firmanNya yang penuh kekuasaan. Jika Anda bertanya kepada seorang sarjana, siapakah yang menopang, menunjang, dan menggerakkan bumi, ia hanya dapat menjawab bahwa ada se-suatu yang menopang, menunjang, dan menggerakkannya. Bumi ini hanyalah satu dari sekian banyak planet. Ahli astronomi menerangkan kepada kita bahwa setiap planet bergerak menurut jalurnya masing-masing. Jika planet-planet itu keluar dari jalurnya, niscaya terjadi bencana global. Siapakah yang menopang, menunjang, dan menggerakkan alam semesta ini? Putra Allah. Ia dengan mudahnya menopang, menunjang, dan menggerakkan alam semesta. Ia tidak berbuat apa-apa kecuali berfirman. Dengan firmanNya yang penuh kekuasaan itulah Ia menopang, menunjang, dan menggerakkan segala sesuatu.

Surat Ibrani ini adalah kitab yang menelaah firman Allah. Pasal 11:3 menerangkan kepada kita, “Alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah”, sedang pasal 1:3 mengatakan bahwa segala yang ada ditopang, ditunjang, dan digerakkan oleh firmanNya yang penuh kekuasaan. Firman Allah sungguh bermakna. Putra bukan hanya Pencipta bahkan sebagai Penopang, Penunjang, dan Penggerak. Ia mencipta serta menopang, menunjang, dan menggerakkan alam semesta melalui firmanNya.

3. Mewarisi Segala Sesuatu di Masa Akan Datang

Di masa lampau, Ia adalah Pencipta; di masa kini, Ia adalah Penopang, Penunjang, dan Penggerak; dan di masa akan datang, Ia adalah Pewaris segala sesuatu (1:2). Matahari, bumi, tata surya, bintang-bintang, bima sakti, . . . semua adalah milikNya, dan bagiNya. Ia akan mewarisi segala sesuatu. Jadi, dalam penciptaan Allah Dialah Pencipta, Penopang, Penunjang dan Penggerak. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia” (Rm. 11:36).

B. Dalam Penebusan

1. Telah Menyucikan Dosa-Dosa di Masa Lampau

Dalam penebusan Allah juga terdapat tiga masa: Pertama yaitu Tuhan telah menyucikan dosa-dosa kita di masa lampau (1:3). Ia tidak hanya menebus kita, bahkan menyucikan kita dari segala dosa kita. Penebusan berarti menutupi, tetapi penyucian berarti segala dosa kita dibersihkan. Dalam lambang Perjanjian Lama pendamaian hanya dapat menutupi dosa-dosa (Mzm. 32:1), tidak dapat menghapus dosa-dosa. Karena itu para imam-iman pendamai setiap hari berdiri, mempersembahkan kurban yang sama, dan tidak pernah dapat duduk (Ibr. 10:11). Tetapi Putra Allah telah menghapus dosa (Yoh. 1:29) dan merampungkan penyucian dosa-dosa satu kali untuk selama-lamanya. Maka, Dia duduk untuk selama-lamanya (10:10, 12). Dalam pandangan Allah, dosa telah berlalu. Dalam pandangan Allah, dosa telah terhapus bersih dari alam semesta ini. Dosa tidak seharusnya ada di dalam Anda, di dalam gereja, atau di rumah Anda. Dosa telah terhapus hingga bersih, dan penyucian dosa telah dirampungkan olehNya. Pekerjaan penyucian dosa telah dirampungkan oleh Putra Allah di masa lampau.

2. Duduk di Sebelah Kanan Allah di Masa Kini

Apakah yang dilakukan Putra kini? Ia sedang duduk dan mengaso. Ia sedang menikmati pemandangan yang bagus sekali. Ia kini sedang duduk di sebelah kanan Allah, sambil melihat pencinta dan penuntutNya yang mengalami pembasuhan dosa. Di sana Ia tidak berbuat sesuatu, melainkan duduk dengan lega. Surat Ibrani paling sedikit mencatat 5 kali tentang Tuhan duduk (1:3, 13; 8:1; 10:12; 12:2). Ia tidak melakukan apa-apa, Ia tidak perlu mencuci Anda lagi, sebab Ia telah mencuci Anda hingga bersih. Bahkan sebelum Anda bertobat mengaku dosa, Ia sudah mencuci Anda. Kenyataannya, Anda sudah dicuciNya sebelum Anda dilahirkan. Sekarang Tuhan tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Apa yang telah dilakukanNya jauh lebih indah daripada yang dilakukan oleh para imam.

3. Menantikan Tertakluknya Musuh di Masa Akan Datang

Sekarang ini Tuhan sedang menunggu musuh-musuhNya ditaklukkan, dan hal ini akan terjadi di masa akan datang. Tuhan tidak kekurangan sesuatu kecuali sebuah tumpuan kaki. Ia telah memiliki mahkota dan takhta, tetapi Ia belum memiliki tumpuan kaki. Hanya inilah yang dinanti-nantikanNya. Pada suatu hari kelak, Ia pasti memperoleh tumpuan kaki ini.

Surat Ibrani menekankan satu fakta bahwa Kristus telah merampungkan setiap perkara bagi Allah maupun manusia, tanpa menyisakan apa pun untuk kita lakukan. Dia duduk di sebelah kanan Allah berarti pekerjaanNya telah selesai dan Ia kini sedang mengaso sambil menantikan satu hal, yaitu Allah akan membuat musuhNya menjadi tumpuan kakiNya. Ia duduk di surga sambil menunggu memperoleh tumpuan kaki, agar sesudah itu Ia boleh mengaso dengan sempurna.

Dalam Perjanjian Lama, Allah berbicara dengan perantaraan nabi-nabi, yaitu melalui orang-orang yang didorong oleh RohNya (2Ptr. 1:21). Dalam Perjanjian Baru, Ia berbicara di dalam Putra, di dalam persona Putra. Putra adalah diri Allah sendiri (1:8), Allah yang diekspresikan. Allah Bapa itu tersembunyi, Allah Putra itu terekspresi. Tidak seorang pun pernah melihat Allah, hanya Putra, sebagai Firman Allah (Yoh. 1:1; Why. 19:13) dan pembicaraan Allah, telah menyatakan Allah dengan suatu ekspresi, penjelasan, dan definisi yang penuh tentang Dia (Yoh. 1:18).

Putra adalah inti dan fokus dari Surat Ibrani ini. Dalam keAllahan, Dia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar substansi Allah. Dalam penciptaan Dia adalah (1) Sarana penciptaan alam semesta (ayat 2); (2) kekuatan yang menopang, menunjang, dan menggerakkan segala yang ada (ayat 3); (3) ahli waris yang telah ditetapkan untuk mewarisi segala sesuatu. Dalam penebusan Dia telah merampungkan penyucian dosa-dosa, dan sekarang sedang duduk di sebelah kanan Allah di surga (ayat 3).

Surat Ibrani mewahyukan kepada kita perbedaan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama milik huruf-huruf formalitas hukum Taurat, milik manusia, bumiah, sementara, berdasarkan yang kelihatan; hasilnya, timbullah suatu agama yang disebut Yudaisme. Perjanjian Baru milik hayat, rohani, surgawi, permanen, berdasarkan iman, difokuskan pada satu persona yang adalah Putra Allah.