ALLAH TELAH BERBICARA
Surat Ibrani dimulai dengan “Allah berbicara”. Pembicaraan ilahi merupakan pembukaan surat ini. Allah telah berbicara! Terpujilah Dia! Allah berbicara ini mutlak bukan perkara sepele. Jika Allah tidak berbicara, Dia akan merupakan suatu rahasia. Namun Dia telah mewahyukan diriNya dalam pembicaraanNya. Dia tidak lagi rahasia. Sekarang Dia adalah Allah yang telah diwahyukan.
Yang ditekankan dalam surat ini adalah Allah yang telah berbicara, bukan manusia. Karena itu, surat ini tidak mencantumkan penulisnya, bahkan nama pembicara dari kutipan-kutipan Perjanjian Lama juga tidak disebut. Menurut konsepsi surat ini, seluruh Kitab Suci adalah pembicaraan Allah. Maka, dalam mengacu kepada Perjanjian Lama, surat ini selalu mengatakan bahwa itu adalah pembicaraan Roh Kudus (3:7; 9:8; 10:15-17).
Kita perlu melihat masalah pembicaraan Allah ini. Jika dalam alam semesta ada Allah, apakah yang pertama-tama akan Ia lakukan? Sudah tentu, perkara pertama yang akan Ia lakukan ialah berbicara. Jika Allah itu hidup, tentu Ia berbicara. Kalau Ia itu riil, maka pembicaraanNya akan menyatakan realitasNya. Kalau Ia bergerak, Ia pun bergerak melalui bicara. Jika Ia bekerja, pasti juga melalui pembicaraanNya.
Orang yang hidup pasti berbicara. Kalau Anda seorang yang hidup, saya tidak percaya Anda bisa diam seribu bahasa selama satu jam. Sekalipun Anda sendirian di rumah, Anda akan merasa bahwa Anda harus berbicara juga. Kalau tidak berbicara kepada malaikat, mungkin Anda berbicara kepada sesuatu atau kepada diri sendiri. Manusia yang hidup pasti bicara.
Allah kita hidup ! Maka Allah kita berbicara, dan pembicaraanNya membuktikan bahwa Dia hidup. Kita mengetahui bahwa Dia hidup karena Dia berbicara. Alangkah bodohnya mengatakan Allah itu tidak ada! Tidak pernahkah Anda mendengar Dia berbicara? Allah telah berbicara! Sejak kekekalan Allah telah berbicara jutaan kali. Andaikata Dia tidak pernah berbicara, dari manakah datangnya Alkitab? Tidak seorang pun dapat menyangkal hikmat yang dinyatakan dalam Alkitab. Kalau bukan setiap kalimat, setidak-tidaknya sebagian besar kata-kata Alkitab tidak mungkin keluar dari alam pikiran manusia. Seorang filsuf Perancis pernah mengatakan bahwa andai kata keempat kitab Injil itu cerita palsu dan Kristus itu tidak ada, maka pengarang keempat kitab Injil itu sendiri sudahlah cukup syarat menjadi Kristus. Jika Anda tidak percaya, silakan coba, dapatkah Anda mengarang kitab-kitab seperti itu? Siapa yang dapat mengarang kitab yang sedalam dan sehikmat Alkitab? Petrus adalah seorang nelayan Galilea dan Yohanes seorang penambal jala. Keduanya bukan lulusan universitas. Dari manakah datangnya hikmat mereka? Coba Anda lihat, dapatkah Anda menulis kata-kata Yohanes yang sederhana tetapi sangat dalam itu: “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah . . . Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia” (Yoh. 1:1, 4). Sungguh itu bukanlah yang dapat dikatakan oleh seorang penambal jala dari Galilea yang kecil. Hanya Allah yang dapat berbicara demikian. Bagaimana Anda berani mengatakan tidak ada Allah? Adakah buku lain yang dapat menandingi Alkitab? Tidak ada! Tidak ada sejilid kitab pun yang dapat menandingi Alkitab. Alkitab adalah kitab di atas segala kitab, karena di dalamnya terkandung hikmat yang tidak terduga.
Alkitab juga membawa terang. Tidak ada buku lain yang dapat menerangi orang seperti Alkitab. Di antara pembaca berita ini banyak yang berpendidikan tinggi, telah banyak membaca majalah dan surat kabar. Tolong katakan, apakah kalian menerima terang dari bahan bacaan itu? Bila orang membaca majalah dan surat kabar, mereka malah menjadi gelap, teracun, terselubung, dan tertipu. Sebaliknya, di antara kita banyak yang dapat memberi kesaksian, begitu kita membaca Alkitab, tidak peduli pasal yang mana, terang menyoroti kita. Terang itu bahkan terpancar melalui Kejadian 3:1 yang membicarakan tentang ular. Boleh jadi terang itu tidak langsung menyorot karena Anda belum siap. Terang selalu siap menyorot, tetapi Anda belum siap membuka diri terhadapnya. Namun akhirnya, terang itu datang juga.
Mari kita mengambil satu contoh dari Kejadian 3:1: “Adapun ular ialah yang paling cerdik (licik) dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah.” Pada suatu pagi seorang saudari muda membaca ayat ini dan ia mengingatnya dalam hatinya, tetapi ia tidak mengerti artinya. Pada siang harinya, salah seorang teman sekolahnya datang menggodanya dengan suatu hal. Pada saat itulah firman itu berkata kepadanya, “Ular ialah yang paling licik dari segala . . .” Temannya semakin membujuk, firman ini semakin keras terdengar, dan akhirnya ia berkata dalam batin, “Ular kecil, enyahlah kau dari sini!” Dalam pelayanan saya, saya sering mendengar kesaksian serupa ini.
Melalui membaca firman ilahi, orang bisa menerima terang. Mungkinkah orang bersaksi menerima terang setelah membaca majalah atau koran? Tidak, karena bacaan-bacaan itu bukan firman Allah. Namun, seluruh Alkitab adalah susunan pembicaraan Allah. Jika istilah “Iblis” Anda muat dalam surat kabar, tidak akan ada artinya. Tetapi kalau Anda baca dari dalam Alkitab, lebih-lebih kalau Anda mendoa bacakannya, Anda akan menerima terang dan Iblis akan tersingkapkan.
Sering kali firman Allah tidak saja menerangi kita, tetapi juga menghidupkan kita, menggugah kita, sehingga kita lincah pun hidup. Coba saja doabacakan kata-kata dalam surat kabar dan lihat apa jadinya. Semakin Anda mengulang-ulangi kata-katanya, Anda makin gelap dan terbunuh. Namun, bila Anda mendoa bacakan Alkitab, Anda akan dihidupkan. Hal ini adalah bukti yang kuat bahwa Alkitab benar-benar pembicaraan Allah. Allah telah berbicara! Saya pernah melihat lebih dari seratus kali orang-orang berdosa besar yang beroleh selamat hanya dengan membaca satu ayat Alkitab saja. Dalam sekejap mata, seluruh hidup mereka berubah. Itulah hasil pekerjaan firman yang kudus.
Dulu Allah berbicara, hari ini masih tetap berbicara. Ia berbicara kepada hati Anda dan di dalam roh Anda. Dari mana kita tahu Allah itu hidup? Karena Ia berbicara kepada kita. Dari mana kita tahu kalau Allah itu bergerak dan bekerja? Karena Ia berbicara. Perhatikan pengalaman Anda selama 48 jam yang lalu. Dapatkah Anda mengatakan bahwa Allah tidak berbicara kepada Anda? Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa selama 48 jam yang lalu, kita sudah mendengar Allah berbicara. Kita pun tahu Ia itu riil, hidup, dan bergerak, karena Ia berbicara. Di manakah Allah? Allah ada di dalam pembicaraanNya. Ia berbicara dari hari ke hari.
Apakah pembicaraan Allah itu? Pembicaraan Allah bukan sekadar kata-kata belaka, tetapi juga hembusan atau nafasNya. Ketika Allah berbicara kepada Anda, Ia menghembuskan diriNya ke dalam Anda. Bila Allah berbicara kepada Anda, Ia masuk ke dalam Anda. Karena itu, bila Anda mendengar pembicaraan Allah, menerima firman Allah, Anda akan memiliki suatu kaitan atau hubungan Allah. Allah sering memakai pembicaraanNya untuk mengganggu kita. Entah sudah berapa kali saya diganggu oleh pembicaraanNya. Jika Anda ingin menghindar dari keterkait-an Anda dengan Allah, lebih baik tutup saja telinga Anda terhadap pembicaraanNya. Allah senantiasa berbicara. Ia tidak pernah menelan perkataanNya sendiri. Begitu Ia menghembuskan firmanNya, Ia tidak akan menariknya kembali. Mungkin Allah berkata kepada Anda: “Temuilah istrimu dan minta maaf kepadanya!” Anda boleh jadi akan membantah, “Mengapa aku harus minta maaf kepadanya? Aku tidak mau.” Namun, perkataan itu mendengung terus, “Ayo, pergi minta maaf!” Ada orang yang tidak menaati perkataan dari Tuhan itu bersaksi bahwa dalam mimpinya ia bahkan sampai mengigau, “Ayo, pergi minta maaf!” Istrinya terbangun dan bertanya, “Apa maksudmu minta maaf!” Allah berbicara kepada saudara itu menyuruhnya minta maaf kepada istrinya, tetapi ia tidak menaatinya. Maka akhirnya, dalam mimpi pun ia mengigau, “Ayo, pergi minta maaf!” Pembicaraan Allah memang terus-menerus.
Saya mulai mendengar Allah berbicara kepada saya pada tahun 1925. Meskipun selama 8 tahun saya tidak menaatiNya, namun perkataan itu tidak pernah meninggalkan saya. Dari minggu ke minggu, saya terus berbantahan dan beralasan dengan Allah. Saya berkata, “Tidak, aku tidak dapat melakukan itu.” Allah tidak berdebat dengan saya. Ketika saya beralasan denganNya, Ia berdiam diri; tetapi setelah saya berhenti beralasan, Ia mulai berbicara lagi. Saya berkata, “Tuhan, kata-kata ini sudah kudengar.” Ketika saya membantah, Dia diam seribu bahasa, namun begitu saya berhenti, Ia berbicara lagi. Dia berbicara sampai 8 tahun lamanya. Akhirnya saya tidak dapat tidak mendengar perkataanNya dan menaati kehendakNya. Begitu saya tunduk kepadaNya, barulah Ia berhenti dan tidak mengganggu saya lagi.
Begitu firman Allah keluar dari mulutNya, tidak ada yang bisa mengembalikannya kepadaNya. Mungkin Anda tidak mau menaati apa yang Ia katakan pada masa hidup Anda sekarang, tetapi pada masa kelak, harus Anda turuti juga. Setiap manusia harus percaya kepada apa yang Allah katakan. Hari ini boleh saja mereka tidak mau percaya, namun di alam kekal nanti, mereka harus percaya juga.
Allah telah berbicara bahkan masih berbicara. Kita tahu Allah itu riil karena Ia berbicara. Dari pembicaraanNya pula, kita tahu Ia sedang bekerja dalam pemulihanNya. Walaupun saya sudah menjadi orang Kristen sekian lama, tetapi tidak pernah saya mendengar Allah berbicara sebanyak hari ini di antara kita. Satu Samuel 3:1 mengatakan bahwa pada masa itu firman Tuhan jarang. Hari ini firman Tuhan tidak jarang! Dalam pemulihan Tuhan hari ini, firman Allah berlimpah-limpah dan berlipat ganda. Dari hari ke hari, dari satu sidang ke sidang lainnya, Allah terus berbicara. Tidak tahukah Anda bahwa Allah sedang berbicara? PembicaraanNya membuktikan bahwa Ia sedang bekerja.
Setiap orang di antara kita pasti sedikit banyak mengalami Allah berbicara. Namun banyak orang Kristen yang tidak berada dalam pemulihan Tuhan mengatakan bahwa mereka tidak mengerti apa yang kita ucapkan ketika kita bersaksi bahwa kita mengalami Allah berbicara dengan berlimpah-limpah. Bila hal ini kita jelaskan kepada mereka, mereka boleh jadi berkata, “Kami sudah sangat lama tidak mendengar Allah berbicara.” Apa sebabnya di antara sekian banyak orang Kristen itu tidak ada pembicaraan Allah? Sebab di antara mereka tidak terdapat pergerakan dan pekerjaan Allah.
Tidak berbicaranya Allah adalah suatu hukuman. Pada masa 1Samuel 3, di mana firman Allah jarang, hal itu bagi imam Eli serta seisi keluarganya adalah suatu hukuman. Bila Anda berada dalam berkat Allah, Allah pasti berbicara dengan Anda setiap menit. Pembicaraan Allah kepada Anda membuktikan bahwa Ia memberkati Anda. Dalam pemulihan Tuhan dewasa ini, Allah berbicara di tengah-tengah kita dengan berlimpah-limpah sehingga setiap orang dapat mendengar pembicaraanNya. Apakah Allah berbicara kepada Anda? Kalau ya, itu membuktikan bahwa Allah itu riil, hidup, dan bergerak.
Banyak saudari, sebelum datang ke dalam pemulihan Tuhan, mereka tidak merasa bersalah ketika marah-marah terhadap suaminya, malahan menganggap amarahnya itu demi alasan baik dan benar. Kini saudari-saudari itu telah di dalam pemulihan Tuhan dan setiap kali mereka ingin marah-marah, saat itu juga Allah berbicara kepada mereka, sehingga mereka tidak lagi marah-marah seenaknya seperti biasa. Bila mereka marah-marah terhadap suaminya pada malam Minggu, mereka pasti kehilangan damai dalam mengikuti pemecahan roti pada esok harinya. Maka pembicaraan Allah membuktikan bahwa Ia bergerak dan bekerja di antara kita.
Allah yang hidup menyalurkan diriNya ke dalam kita melalui berbicara. Selama membahas Pelajaran Hayat Surat Roma, Allah telah mengaruniakan satu istilah indah kepada kita transfusi. Allah ingin mentransfusikan diriNya ke dalam kita, terutama melalui pembicaraanNya. Makin banyak Ia berbicara kepada Anda, makin banyak pula unsur ilahiNya ditransfusikan ke dalam Anda. Makin sering Anda berada dalam pembicaraanNya, makin banyak pula Anda diinfus dengan unsur ilahiNya. Begitu Anda mendengar pembicaraanNya, Anda tidak mungkin tetap seperti dulu.
Tanpa kecuali, firman Allah mendatangkan tiga hal kepada kita. Pertama ialah terang. Begitu Allah berbicara, terang segera memancar. Unsur pertama dari firman Allah ialah terang. Di mana ada firman Allah, di situ ada terang. Tak perlu Anda menjelaskan atau menafsirkan. Terang memancar, karena firman mengandung terang. Firman ilahi adalah alat penerang terbaik dan pembawa terang terbaik. Ketika Ia berfirman, Ia juga menerangi. Kita semua dapat membuktikan hal ini dengan pengalaman kita. Begitu kita mendengar firmanNya, kita berada di bawah sorotanNya, dan sorotan ini mendatangkan terang kepada kita. Bersama terang ini datang pemahaman, visi, hikmat yang tepat, pengetahuan, dan pengutaraan. Terang meliputi banyak hal: pemahaman, visi, pengetahuan, hikmat, dan pengutaraan. Bila Anda memiliki terang, Anda memiliki daya lihat, pandangan, dan visi. Bila Anda memiliki terang, Anda memiliki pengetahuan, pemahaman, dan hikmat. Hal ini memberi Anda pengutaraan, sehingga Anda tidak mungkin membisu. Para turis yang pernah mengunjungi Disneyland di Anaheim tidak bisa membisu. Karena mereka melihat begitu banyak permainan yang menarik; mereka meluap-luap kesenangan. Bahkan seorang anak kecil yang belum begitu bisa bicara pun akan berbicara juga karena mereka melihat begitu banyak hal.
Mengapa banyak anggota dalam denominasi Kristen selalu duduk membisu selama jam kebaktian pada hari Minggu? Karena mereka kekurangan terang dan tidak melihat apa-apa. Jika Anda di dalam kegelapan, tentu sangat sulit untuk berbicara. Cobalah berbicara di dalam kegelapan. Anda akan membisu karena tidak melihat apa-apa. Tidak ada apa-apa yang dapat dikatakan. Seandainya saya buta dan Anda menyuruh saya mengatakan sesuatu, tentu saya tidak bisa mengatakan apa-apa. Tetapi betapa bedanya jika kita berada di dalam terang! Begitu terang datang, Anda dapat berbicara panjang lebar karena Anda melihat banyak hal, Anda melihat banyak orang, tempat, dan benda, dengan sendirinya Anda dapat berbicara banyak.
Terang menghasilkan penglihatan dan penglihatan menghasilkan perkataan. Mengapa semua anggota Tubuh dalam gereja demikian meluap-luap ketika datang bersidang? Karena mereka telah nampak sesuatu dan akibatnya mereka dapat berkata-kata. Apa yang kita lihat, dengan sendirinya akan kita katakan. Kita tidak perlu memikirkan apa yang hendak kita katakan. Kita mengatakan apa yang kita lihat. Terang menghasilkan penglihatan, sedang terang ber-asal dari firman. Bila Anda mempunyai firman, Anda pun mempunyai terang.
Bertahun-tahun ini saya terus-menerus menyampaikan firman Allah. Banyak orang merasa takjub dan bertanya kepada saya dari mana saya mendapatkan berita-berita itu. Pemberitaan saya berasal dari penglihatan surgawi, yaitu dari perjalanan saya di tanah suci surgawi. Hampir setiap pagi saya mengadakan perjalanan dan melihat banyak hal. Pembicaraan saya banyak, karena saya melihat banyak di dalam firman. Firman mendatangkan terang, terang memberikan penglihatan dan visi, sedang visi memberikan pengetahuan, hikmat, serta pengutaraan. Pengetahuan-pengetahuan itu bukan merupakan huruf-huruf yang mati, melainkan yang hidup dan yang penuh hayat. Semua itu berasal dari firman.
Firman Allah juga mendatangkan hayat. Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa perkataan-perkataan yang Ia katakan adalah roh dan hayat (Yoh. 6:63). “Pada mulanya ada firman . . . dalam Dia ada hidup” (Yoh. 1:1, 4). Karena dalam firman ada hayat, maka ketika Anda menyentuh firman, Anda akan dihidupkan. Mengapa kita begitu hidup? Karena firman Allah menghidupkan kita. Dari tahun ke tahun saya telah menjumpai banyak kelompok orang Kristen, namun tidak ada satu kelompok yang sehidup orang-orang yang menempuh hidup gereja (church life) hari ini. Demikian banyaknya orang muda yang membaca Alkitab siang dan malam. Ini suatu pertanda yang baik. Ada sejumlah orang menyebarkan desas desus bahwa Witness Lee menyuruh orang membuang Alkitab, itu adalah dusta yang jahat! Siapa yang menyuruh kaum saleh lebih banyak menerima firman Allah daripada yang dilakukan ministri ini? Lihatlah berapa banyak ayat Alkitab yang kita kutip dalam tiap pemberitaan kita!
Mengapa orang-orang dalam gereja demikian hidup dan lincah? Karena mereka memiliki hayat yang terdapat dalam firman Allah. Sebelum Anda datang ke dalam gereja, Anda tidak seberapa hidup. Anda kelaparan setengah mati. Anda kekurangan firman. Bahkan sekarang juga, jika Anda berhenti membaca firman Allah, tidak menerima pemberitaan, dan tidak bersidang selama dua minggu, Anda pun akan mati. Hari ini banyak orang demikian hidup, tidak lain karena mereka dipenuhi dengan firman Allah. Pada zaman yang penuh kejahatan seperti sekarang ini, banyak orang muda di antara kita yang keranjingan firman Allah, hal ini sungguh menggembirakan hati saya. Bagi banyak orang di antara kalian, firmanlah yang paling indah dalam hati kalian. Hal ini menjadi satu bukti yang baik bahwa Tuhan bergerak di tengah-tengah kalian. Ia tidak saja berbicara di tengah-tengah kita, bahkan firmanNya ada di dalam kita. Hari ini setiap orang yang menempuh hidup gereja meluapluap karena firman hayat. Kita mempunyai firman hayat!
Hayat yang terkandung dalam firman Allah itu sangat limpah. Di dalamnya ada kekudusan, kasih, kerendahan hati, kemurahan, kesabaran, dan lain-lainnya. Hayat ini mengandung semua atribut ilahi dan kebajikan insani. Kekayaan hayat ini tidak mungkin terpakai habis. Siapa dapat mengutarakan kekayaan hayat ini? Jangankan hayat ilahi, hayat dalam biji anyelir saja sudah sangat kaya. Biji anyelir itu kecil dan kelihatannya hanya mengandung hayat sekelumit, namun ia bisa bertumbuh! Ketika ia bertumbuh dan berbunga, Anda akan nampak betapa kaya hayatnya itu. Segala kekayaan terkandung dalam hayat. Cobalah Anda lihat sejenak hayat yang kita miliki dan yang kita kontaki ini. Alangkah kaya hayat ilahi ini! Saya dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa seluruh kekayaan Allah ada di dalam gereja, sebab firman itu ada di dalam gereja dan firman itu mendatangkan hayat. Dalam hayat inilah terkandung semua atribut, kebajikan, dan kualitas yang kaya. Asalkan kita memiliki hayat, kita memiliki kekayaan. Jangan mencoba menjadi orang yang rendah hati, sebab rendah hati itu seolah seekor burung yang kalau hendak ditangkap segera terbang. Jangan berusaha mengasihi istri atau menaati suami Anda, Anda tidak dapat melakukannya. Asalkan Anda menerima firman Allah, firman itu akan membawakan hayat, dan dari hayat ini akan terbit kasih dan ketaatan. Kerendahan hati, kasih sayang, dan ketaatan semua terdapat dalam hayat ini. Kita tidak dapat memperoleh kebajikan ini berdasarkan usaha atau perbuatan sendiri, karena semua itu hanya terdapat dalam hayat ilahi.
Bagaimana kita bisa memiliki hayat? Terima saja firman Allah, maka hayat itu akan datang. Begitu hayat datang, setiap kebajikan juga datang bersamanya. Dalam hayat ini ada kerendahan hati, juga ada keindahan sifat insani. Karena Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya, maka pasti sifat insani itu juga indah. Namun keindahan sifat insani hanya dapat kita temukan di dalam hayat ilahi, sedang hayat ilahi berada dalam firman ilahi. Ketika firman datang, hayat juga datang, dan keindahan pun datang bersamanya. Pandanglah orang-orang dalam hidup gereja, mereka itu cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Andaikata orang-orang ini tidak menempuh hidup gereja, mereka akan serupa dengan kalajengking, kura-kura, atau kera. Saya benar-benar jatuh cinta kepada orang-orang yang menempuh hidup gereja. Yang tua-tua juga be-gitu manis. Kecantikan dan kemanisan itu datang dari hayat, dan hayat datang dari firman. Bila Allah berfirman, datanglah hayat. Hayat ini begitu kaya.
Ketika firman datang, firman itu membawakan kekuatan. Firman membawakan terang, hayat, dan kekuatan. Banyak orang Kristen percaya kepada apa yang disebut pencurahan Roh Kudus. Saya juga sangat percaya, hanya bukan seperti apa yang dikatakan oleh golongan “karismatik” itu. Mereka mengatakan bahwa bila Anda tidak memiliki pengalaman “karunia roh” tertentu, Anda tidak dapat memperoleh kekuatan. Saya tidak setuju dengan ajaran itu. Di kampung halaman saya ada tempat perhimpunan karismatik yang letaknya sangat dekat dengan tempat sidang gereja. Mereka menuntut “kepenuhan Roh Kudus” dan mengaku memiliki kuasa. Sepuluh tahun kemudian jumlah mereka kurang dari seratus, sedangkan tempat sidang gereja selalu dipenuhi orang. Pada suatu hari, seorang pemimpin mereka datang bersekutu dengan saya. Saya berkata kepadanya, “Saudara, menurut pendapat Anda, kalian mempunyai kekuatan sedangkan kami tidak. Akan tetapi lihatlah kenyataannya. Kalian sedikit sekali, tetapi kami demikian banyaknya!” Kekuatan ada di dalam firman.
Ketika kita memberitakan firman hidup, dengan sendirinya kekuatan ada di sini. Kekuatan ini bukan kekuatan yang sesaat, tidak seperti jamur yang tumbuh dalam semalaman, melainkan yang senantiasa bertumbuh terus. Dalam tahun-tahun ini saya telah melihat banyak pergerakan yang seperti jamur. Dalam satu malam ada seratus orang bertobat, tetapi dua bulan kemudian, tersisa tidak seberapa. Sekarang yang kita kerjakan dengan susah payah sama dengan menanam sebutir biji anyelir. Lewat dua minggu seperti tidak terjadi apa-apa, tetapi kemudian lambat laun muncullah semainya yang hijau. Akhirnya ia berbunga, berbiji, dan lahir generasi keduanya. Itulah kekuatan hayat.
Dalam gereja-gereja pemulihan Tuhan tidak ada perkembangan seperti jamur. Jika saudara-saudara di suatu tempat mengatakan mereka dalam seminggu mendapatkan tiga ribu jiwa, saya akan berkata, “Biarlah kita tunggu dan lihat, pasti tidak lama lagi sebagian besar orang-orang itu akan hilang.” Kita lebih suka melihat firman Allah ditaburkan dan bertumbuh di ladang gereja. Tahun demi tahun firman itu akan bertumbuh dan terus berkembang biak.
Tunggu dan lihat saja. Tidak ada sesuatu yang lebih kekal dan jaya daripada apa yang ada di dalam gereja. Ia akan tetap jaya dan tahan sampai kekal, karena kekuatan yang ada di sini tidak lain adalah hayat. Hayat ini berasal dari firman. Firman mendatangkan hayat, hayat tetap selamanya dan terus berkembang biak. Sekalipun Tuhan memimpin saya meninggalkan negara ini, saya sangat yakin bahwa pemulihan Tuhan di negara ini akan terus maju, sebab ini bukan pergerakan buatan manusia. Ini adalah pergerakan pertumbuhan hayat ilahi. Firman Allah sudah tersedia, benih sudah ditabur, dan hayat sudah ada di sini. Haleluya! Di mana ada firman Allah, di situ ada kekuatan hayat. Se-karang kita tahu mengapa Allah berbicara. Ia berbicara un-tuk menerangi, menghidupkan, dan memberikan kekuatan.
I. BERBICARA KEPADA NENEK MOYANG
Allah berbicara dalam dua tahap: kepada nenek moyang dan kepada kita. Dulu, Ia berbicara kepada nenek moyang; pada hari-hari terakhir ini, Ia berbicara kepada kita. Sebelum Ia berbicara kepada manusia, Ia berbicara kepada kekosongan. Karena ketika itu segala sesuatu belum ada, maka Ia berbicara kepada kekosongan. Begitu Ia berbicara, yang tidak ada lalu menjadi ada (Rm. 4:17). Ia berfirman, “Jadilah terang!” Lalu terang itu jadilah. Alam semesta ini dijadikan oleh pembicaraanNya atau firmanNya (Ibr. 11:3). “Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada” (Mzm. 33:9). Allah bekerja melalui berbicara. Pekerjaan Allah yang riil di tengah-tengah kita hari ini adalah pembicaraanNya. Jika Ia tidak berbicara di antara kita, tidak peduli berapa keras usaha kita, tetaplah sia-sia. Jika Allah tidak berbicara, para penatua dan para pemimpin dalam gereja tidak dapat berbuat apa-apa. Namun begitu Ia berbicara, kita harus berkata, “Terpujilah Tuhan!” Allah berbicara kepada kekosongan, sehingga sesuatu terjadilah. Ia menjadikan ada dari tidak ada. Oleh pembicaraanNya, segalanya ada. Alam semesta dijadikan oleh firmanNya. Setelah itu, manusia pun jadi.
Setelah manusia tercipta, Allah lalu berbicara kepada para nenek moyang. Pada zaman dulu, Allah berulang kali dan dalam berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi (Ibr. 1:1). Dalam zaman Perjanjian Lama, Allah berbicara kepada umatNya bukanlah sekali untuk selamanya dan hanya dalam satu cara, melainkan berulang kali dan dengan berbagai cara. Dalam satu bagian Dia berbicara kepada para nenek moyang dalam satu cara, pada bagian yang lain, Dia berbicara melalui Musa dengan cara yang lain; dalam satu bagian Dia berbicara melalui Daud dalam satu cara, pada bagian yang lain, Dia berbicara melalui sejumlah nabi dalam beberapa macam cara. Bahkan Pentateukh, yakni lima kitab pertama dalam Perjanjian Lama, sudah memuat berbagai bagian yang berlainan. Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat, Kitab Bilangan, Kitab Ulangan setiap jilid kitab itu tidak saja berbeda satu sama lain, juga memiliki bermacam-macam bagian. Dapatkah Anda menjumpai buku lainnya yang isinya sekaya Alkitab? Kitab Perjanjian Lama memiliki banyak bagian; ada bagian sejarah, ada bagian tarikh (perhitungan tahun), ada bagian Mazmur, ada bagian Amsal dan nubuat para nabi. Ada beberapa kitab yang sangat panjang, sampai melebihi 60 pasal, ada pula yang hanya beberapa pasal. Berbagai cara Allah berbicara tercakup dalam Alkitab: melalui nubuat, lambang, bayang-bayang, gambaran-gambaran; adakalanya menggunakan perempuan, ular, laki-laki, singa, kalajengking, anak domba, air, matahari, bulan, bintang-bintang, dan bermacam-macam bunga, rumput, dan pohon; atau dengan kata-kata jelas, ilustrasi, amsal, perumpamaan, kiasan, dan lambang. Setiap cara pengungkapan telah dipakai dalam Alkitab. Ketika Allah berbicara kepada Musa, Ia tidak memakai kata-kata yang jelas, melainkan melalui nyala api yang membakar semak duri (Kel. 3:1-6). Itu adalah cara berbicara yang amat ajaib. Dengan itu Musa mengerti dirinya sendiri tidak perlu terbakar hangus, sebab Allah bukan ingin memakainya sebagai bahan bakar. Perkara kecil tentang nyala api semak duri ini telah berbicara banyak kepada Musa. O, Alkitab sungguh penuh hikmat! Dengan perkara yang paling sederhana Allah menyampaikan firmanNya yang sangat dalam. Sesungguhnyalah Allah telah berulang kali dan dengan berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita.
II. BERBICARA KEPADA KITA
A. Pada Zaman Akhir Ini
Kata “pada zaman akhir ini” yang tercantum dalam Ibrani 1:2 dapat juga diartikan sebagai “pada hari-hari yang terakhir ini”, suatu ungkapan bahasa Ibrani yang menandakan akhir zaman hukum Taurat, ketika Mesias diperkenalkan (Yes. 2:2; Mi. 4:1).
B. Di Dalam Putra
Pada akhir zaman ini Allah berbicara di dalam Putra, bahkan terus berbicara di dalam Putra.
1. Putra Adalah Firman
Putra adalah Firman (Yoh.1:1; Why. 19:13). “Pada mulanya ada Firman . . . Firman itu adalah Allah.” Ia adalah Firman Allah untuk pembicaraan Allah. Putra sepenuhnya adalah Firman untuk pembicaraan Allah.
2. Menyatakan Allah Bapa
Sebagai Firman, Putra terutama untuk menyatakan Allah Bapa (Yoh. 1:18), yakni mengumumkan, menjelaskan, mengekspresikan, serta mewahyukan Allah. Semakin banyak Putra berbicara, semakin banyak pula Allah dinyatakan dan diwahyukan.
3. Menyampaikan Hayat
Seluruh pribadi Putra adalah pembicaraan ilahi. Ia adalah Firman Allah, juga pembicaraan Allah, yang terus-menerus menyampaikan hayat kepada kita. Sebagai Firman, Ia membawakan hayat dan senantiasa menyampaikan hayat kepada kita. Ketika kita menerima Dia, kita menerima hayat.
4. Mewahyukan Realitas Melalui Roh Itu
Sebagai Firman ilahi untuk pembicaraan ilahi, Putra mewahyukan realitas melalui Roh itu (Yoh. 16:12-15).
Realitas adalah seluruh adanya Allah terhadap kita. Realitas ini diwahyukan oleh Putra sebagai Firman melalui Roh itu.
C. Di Dalam Putra Sebagai Roh Itu
1. Berbicara kepada Gereja-gereja
Setiap kali Putra berbicara, Ia adalah Roh itu. Putra yang berbicara adalah Roh Itu. Putra Allah adalah Firman. Bila Firman itu berbicara, Firman menjadi Roh itu. Hal itu terbukti dalam ketujuh surat dalam Wahyu 2dan 3. Pada permulaan tiap surat itu dikatakan Tuhan berfirman, tetapi akhirnya kita disuruh mendengarkan apa yang dikatakan Roh itu kepada gereja-gereja. Hal ini membuktikan bahwa bila Tuhan Yesus berbicara, Dialah Roh yang berbicara. Maka tiap kali Putra berfirman itulah Roh berfirman. Dari ketujuh perbandingan yang tercantum dalam Wahyu 2 dan 3 dapat kita lihat bahwa apa saja yang Putra bicarakan adalah pembicaraan Roh itu (Why. 2:1, bandingkan dengan ayat 7; 2:8 bandingkan dengan ayat 11; 2:12 bandingkan dengan ayat 17; 2:18 bandingkan dengan ayat 29; 3:1 bandingkan dengan ayat 6; 3:7 bandingkan dengan ayat 13; 3:14 bandingkan dengan ayat 22). Kita memiliki Putra yang adalah firman Allah. Dia bukan hanya firman Allah, juga pembicaraan Allah. Ketika Ia berbicara, Dialah Roh yang berbicara. Tuhan mengatakan: “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (Yoh. 6:63).
2. Berbicara Bersama Gereja
Hari ini Putra sebagai Roh yang berbicara sedang berbicara bersama gereja-gereja. Ia tidak hanya berbicara kepada gereja-gereja, tetapi juga berbicara bersama gereja-gereja. Wahyu 22:17 mengatakan, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, ‘Marilah!’” Pada permulaan Kitab Wahyu dikatakan bahwa Roh berbicara kepada gereja-gereja, tetapi pada akhir Kitab Wahyu Roh berbicara bersama gereja-gereja, karena Roh yang berbicara itu sudah bersatu padu dengan gereja. Haleluya! Demikianlah pembicaraan Allah!