PENDAHULUAN
Surat Ibrani adalah sejilid kitab yang dalam lagi kaya. Dalam oleh karena konsepsi surgawinya dan kaya oleh karena warisan surgawinya. Tujuan Pelajaran Hayat Ibrani ini ialah membahas konsepsi surgawinya yang dalam be-rikut warisan surgawinya. Untuk ini kita perlu memasuki kedalaman kitab ini.
I. LATAR BELAKANG
Jika kita ingin memasuki konsepsi dan kekayaan Surat Ibrani, perlulah kita mengerti latar belakang penulisannya. Hal ini amat penting. Namun sangat sukar memperoleh informasi mengenai Surat Ibrani ini. Kita tidak diberi tahu siapa nama penulisnya, juga tidak diberi penjelasan kepada siapa surat ini ditujukan. Surat Ibrani berbeda sekali dengan Surat-surat Kiriman lainnya. Ia memiliki ciri-ciri yang khas. Kalau Surat-surat Kiriman lainnya diawali dengan menerangkan kepada kita oleh siapa dan kepada siapa surat itu ditulis, Surat Ibrani dimulai dengan perkataan berikut: “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dengan berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi, maka pada zaman akhir ini Ia berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya” (Ibr. 1:1-2). Siapa penulisnya? Alkitab tidak memberi tahu kita. Kepada siapa surat ini ditujukan? Karena semua itu tidak dijelaskan Alkitab, maka hal itu menjadi rahasia bagi kita. Inilah sebabnya jarang sekali orang Kristen dapat memahami surat ini dengan baik.
Surat Ibrani ini bukan sejilid kitab yang dangkal, melainkan sangat dalam. Karena itu, saya katakan sekali lagi bahwa kita perlu masuk ke dalamnya. Janganlah memandang permukaannya saja. Kita harus menyelaminya, barulah kita bisa menemukan mustika yang terpendam di balik permukaannya. Setiap kali Anda membaca satu ayat dari surat ini Anda harus membaca pula konteksnya. Bahkan untuk memahami satu ayat, mungkin Anda perlu membaca beberapa pasal.
A. Penerimanya Ialah Kaum Beriman Ibrani
Walaupun Surat Ibrani sendiri tidak menyebutkan kepada siapa surat itu ditujukan, tetapi sebenarnya surat ini ditulis untuk kaum beriman Ibrani. Kaum saleh yang mengumpulkan tulisan-tulisan ilahi pada zaman kuno menamakan surat ini “Surat Kiriman kepada orang Ibrani”. Ini sungguh menarik. Mengapa dikatakan “kepada orang Ibrani”, bukan kepada orang Yahudi atau orang Israel?
Bertahun-tahun saya terganggu oleh kata “orang Ibrani” ini. Banyak pendalaman telah saya lakukan untuk mengerti makna kata ini; saya menemukan adanya penafsiran yang berbeda-beda. Satu penafsiran mengatakan “orang Ibrani” ini ditujukan kepada keturunan Eber, anak Sem (Kej. 10:21). Karena dalam bahasa Yunani “Eber” boleh dieja menjadi “Heber”, beberapa penafsir Alkitab mengira orang Ibrani adalah keturunan Eber. Ada sejangka waktu saya menerima penafsiran itu, tetapi dalam batin saya masih menaruh tanda tanya. Kemudian setelah saya pelajari lebih lanjut, saya tidak lagi setuju dengan penafsiran itu, sebab anak Eber tidak hanya satu, melainkan dua, yaitu Peleg dan Yoktan (Kej. 10:25) dan Abraham adalah keturunan Peleg. Kalau Anda mengatakan keturunan Abraham harus disebut orang Ibrani, sebab mereka keturunan Eber, maka keturunan Yoktan, anak kedua dari Eber harus juga disebut orang Ibrani. Jelaslah bahwa penafsiran itu tidak logis. Tidak hanya demikian, Alkitab mengatakan bahwa Abraham mempunyai dua anak, yakni Ishak dan Ismael. Andaikata keturunan Abraham disebut orang Ibrani karena mereka keturunan Eber, maka semua orang Arab yang juga keturunan Abraham seharusnya disebut orang Ibrani. Benar-benar menggelikan! Maka, penafsiran itu tidak logis, tidak dapat dipercaya, dan tidak dapat diandalkan.
Setelah saya pelajari lagi, saya menemukan bahwa kata “Ibrani” ini dipakai untuk kali pertama dalam Kitab Kejadian 14:13, yaitu menjelang Abraham hendak berperang untuk menyelamatkan Lot, kemenakannya. Ayat itu mengatakan: “Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini kepada Abram, orang Ibrani itu . . .” Abraham adalah orang Ibrani. Dari hasil penyelidikan yang lebih saksama, saya menemukan bahwa akar kata “Ibrani” berarti “menyeberangi”, khususnya menyeberangi sungai, yaitu dari sisi sungai sebelah sini menyeberang ke sisi lainnya. Jadi, orang Ibrani berarti orang yang menyeberangi sungai, penyeberang sungai. Abraham justru adalah seorang penyeberang sungai. Ia pernah menyeberangi sungai besar, yakni Sungai Efrat (Yos. 24:2-3). Sungai besar tersebut telah memisahkan tempat semula Abraham dengan tanah baru yang ke dalamnya Abraham dipanggil.
Tadinya Abraham berasal dari Ur-Kasdim, yakni yang dahulu disebut Babel atau Babilon. Antara Ur-Kasdim dengan Tanah permai Kanaan terdapat sebuah sungai besar yang mengalir dari utara ke selatan. Ini sangatlah berarti. Segala sesuatu, termasuk tanah, adalah ciptaan Allah un-tuk menggenapkan kehendakNya. Tanah Ur-Kasdim saat itu telah diduduki oleh setan, Iblis. Tanah itu penuh dengan berhala, sepenuhnya dirampas oleh musuh Allah dan dikua-sai oleh si jahat. Karena itu Allah memanggil Abraham keluar dari tanah yang penuh berhala itu. Allah hanya menyuruh Abraham keluar dari situ tanpa memberi tahu ke mana ia harus pergi (Ibr. 11:8). Langkah demi langkah Abraham harus menengadah kepada pimpinan Tuhan, bertanya, “Tuhan, ke mana aku harus pergi?” Abraham tahu ia harus pergi, tetapi ia tidak tahu harus pergi ke mana. Akhirnya Tuhan membawanya ke sungai besar itu, lalu ia menyeberangi sungai itu. Yosua 24:2-3 mengatakan bahwa Abraham dulu tinggal “di seberang Sungai Efrat”. Kemudian Allah “mengambilnya dari situ dan menyuruhnya menjelajahi seluruh Tanah Kanaan”. Jadi, dapat kita kata kan bahwa orang Ibrani adalah orang yang datang dari seberang sungai.
Sekarang kita dapat mengerti makna baptisan yang sesungguhnya. Mengapa semua orang yang bertobat harus dibaptis? Sebab dunia yang kita diami telah dijajah, diduduki, dihancurkan dan dirusak oleh musuh Allah, sehingga tidak berguna lagi dalam penggenapan kehendak Allah. Keselamatan Allah tidak saja menyelamatkan kita keluar dari neraka dan masuk ke surga, tetapi juga membawa kita keluar dari tanah yang telah diduduki dan dirusak oleh Iblis. Bagaimana kita dapat dikeluarkan? Dengan pembaptisan. Air baptisan adalah sebuah sungai besar. Setelah Anda menerima baptisan, Anda segera berada di tepi seberang. Haleluya! Saya adalah seorang yang telah menyeberang dari tepi yang satu. Apakah Anda tetap berada di sebelah sana? Mungkin Anda berada di seberang sana, tetapi saya berada di seberang sini. Saya telah menyeberangi sungai besar, saya adalah seorang Ibrani, penyeberang sungai. Siapakah Anda? Orang Amerika, orang China, orang Inggris, orang Jerman, orang Selandia Baru, orang Jepang, orang Filipina, atau orang Meksiko? Kita semua harus mengumumkan, “Kita adalah orang Ibrani! Kita adalah orang Ibrani sejati.” Kita bukan orang Yahudi, tetapi orang Ibrani. Kita adalah orang Ibrani sejati dan asli, sebab kita telah menyeberangi sungai. Setiap orang di antara kita adalah penyeberang sungai yang sejati.
Seperti telah kita lihat, penyeberang sungai pertama, orang Ibrani yang pertama, adalah Abraham. Abraham dipanggil Allah dan ia menyeberang sungai besar Efrat, lalu memasuki tanah di mana akhirnya Allah membangun baitNya. Tanah yang dimasuki Abraham adalah tanah permai, tanah yang suci, yang dipakai Allah untuk membangun rumahNya. Allah tinggal di dalam rumahNya. Itu bukan sebuah hotel, melainkan tempat kediamanNya di bumi ini. Di seberang sana terdapat berhala, hal-hal Iblis, dan pekerjaan Iblis, namun di sebelah sini terdapat bait Allah berikut kemuliaanNya. Apakah yang memisahkan kedua tempat itu? Sebuah sungai besar.
Sebelum zaman Abraham sebenarnya sudah ada satu orang yang pernah menjadi penyeberang sungai, yakni Nuh. Nuh telah melalui air bah (1Ptr. 3:20-21). Air bah itu telah memisahkannya dari zaman yang usang, bengkok, bejat, dan jahat. Air bah itu telah memisahkannya dari dunia jahat dan mengantarnya ke tanah baru di mana ia membangun mezbah dan mempersembahkan kurban. Nuh melewati air bah, dan Abraham menyeberang sungai besar. Prinsip kedua perkara tersebut sama.
Bagaimana mengenai keturunan Abraham? Orang Israel melewati Laut Merah. Hal ini mengandung prinsip yang sama. Setelah mereka menyeberangi Laut Merah dan tiba di seberang, mereka bernyanyi dan menari-nari. Mereka bisa berseru, “Mesir, engkau di seberang sana, kami di seberang sini!” Apakah yang mereka lakukan begitu tiba di seberang? Mereka mendirikan kemah Allah. Mereka tidak berniaga, bahkan tidak bercocok tanam selama empat puluh tahun. Tidak ada sekolah, gedung gereja, katedral, seminari atau sekolah Alkitab. Tidak ada apa-apa selain Kemah Pertemuan. Sebaliknya apa yang ada di seberang sana? Semuanya hanyalah barang-barang milik Mesir, yakni yang duniawi.
Kita adalah orang-orang yang telah menyeberang dari sana. Apakah yang kita lakukan di sini? Menempuh hidup gereja! Kita adalah penyeberang sungai. Kita adalah orang Ibrani. Air telah memisahkan kita. Kini di sini, apa yang kita lakukan? Kita membangun Kemah Pertemuan, yaitu bahtera hari ini. Penyeberang air pertama di zaman dulu Nuh membuat bahtera. Orang Ibrani zaman Musa membangun Kemah Pertemuan. Sekarang kita, orang-orang Ibrani hari ini, membangun gereja.
Allah kita adalah “Allah orang Ibrani”. Pernahkah Anda mendengar istilah “Allah orang Ibrani?” Walaupun saya telah bertahun-tahun mempelajari Alkitab, tetapi baru akhir-akhir ini nampak bahwa Allah kita adalah “Allah orang Ibrani”. Pada tahun-tahun yang lampau saya sudah mengerti bahwa Allah adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub; Dia adalah Allah Israel. Akan tetapi Allah Abraham juga adalah “Allah orang Ibrani”. Dia adalah Allah penyeberang-penyeberang sungai. Keluaran 3:6 mengatakan, “Lagi Ia berfirman: ‘Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.’ Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.” Ini bukan perkataan yang dikatakan kepada Firaun, melainkan kepada orang Israel, yaitu umat Allah sendiri (Kel. 3:15-16). Ketika Allah berfirman kepada umatNya, Ia menyebut diriNya Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Tetapi tidak demikian ketika Ia berbicara kepada Firaun. “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Pergilah menghadap Firaun dan berbicaralah kepadanya: Beginilah firman TUHAN, Allah orang Ibrani: Biarkanlah umatKu pergi, supaya mereka beribadah kepadaKu’ (Kel. 9:1, 13; 7:16). Ketika Allah berbicara kepada Firaun, Ia menyebut diriNya “Allah orang Ibrani”, Tuhan seolah-olah berkata, “Firaun, tidakkah engkau tahu, Aku adalah Allah orang Ibrani? Akulah Allah semua orang yang menyeberangi sungai. Biarkanlah umatKu pergi dan menyeberangi Laut Merah, supaya mereka dapat beribadah kepadaKu di padang gurun. Firaun, sadarlah bahwa Akulah Allah orang Ibrani.” Allah kita adalah “Allah orang Ibrani.” Kita harus mengumumkan kepada dunia bahwa Allah kita adalah “Allah orang Ibrani” dan kita adalah orang Ibrani yang telah menyeberangi sungai. Kita benar-benar telah menyeberangi sungai, seperti halnya Nuh, Abraham, dan segenap umat Israel.
Ketika orang Israel tinggal di tanah Mesir dan menjadi usang, Allah lalu memberi suatu permulaan baru kepada mereka melalui Paskah (Kel. 12:1-2). Bahkan Allah mengubah kalender mereka, yaitu dari kalender awam diubah menjadi kalender suci. Kalau menurut kalender umum hari Paskah jatuh pada bulan ketujuh, namun bulan itu Allah jadikan bulan pertama, dan bulan itu menjadi awal tahun, yaitu suatu permulaan baru. Dengan demikian, orang Israel seluruhnya diperbarui dan disegarkan. Mereka tidak saja telah menyeberangi sungai, bahkan telah memasuki padang gurun, dan sebagai umat baru, mereka membangun Kemah Allah dengan cara baru. Namun, empat puluh tahun kemudian, mereka menjadi usang kembali dan perlu menyeberangi sungai sekali lagi. Pertama-tama, mereka menyeberangi Laut Merah; kedua, menyeberangi Sungai Yordan dan memasuki tanah permai Kanaan. Perkara menyeberangi sungai ini sangat berarti. Sesudah orang Israel masuk ke dalam lingkungan tanah permai, mereka lalu membangun bait Allah.
Lewat beberapa generasi, orang-orang Israel menjadi usang lagi. Mereka kemudian dikuasai oleh musuh, bahkan bait beserta semua pelayanannya telah diperalat, dirampas, diduduki, dan dirusak musuh Allah. Tiba-tiba di luar dugaan mereka, bangkitlah Yohanes Pembaptis yang menyuruh mereka bertobat (Mat. 3:5-6). Apakah yang dilakukan Yohanes Pembaptis? Ia membantu mereka untuk menyeberangi sungai. Ia membantu mereka keluar dari keusangan mereka, yaitu keluar dari tanah Yahudi mereka yang agamis dan usang. Ia menyuruh mereka menyeberangi sungai untuk menjadi orang Ibrani sejati. Itulah makna sebenarnya dari pembaptisan bagi orang Farisi dan orang Yahudi yang telah bertobat. Pembaptisan di satu pihak telah membawa mereka keluar dari agama usang, di pihak lainnya telah membaptis mereka ke dalam lingkungan baru. Pembaptisan merupakan suatu pemisahan. Setelah mereka dibaptiskan, mereka dapat mengatakan, “Dulu kita berada di seberang sana, sekarang kita berada di seberang sini.”
Sedikit sekali orang yang memiliki pengenalan yang demikian terhadap pembaptisan. Pembaptisan menyebabkan Anda menjadi orang Ibrani sejati, sebab orang Ibrani adalah penyeberang sungai. Sudahkah Anda menyeberangi sungai? Boleh jadi Anda berkata, “Dua puluh lima tahun yang lalu aku telah dibaptis, aku sudah menyeberangi sungai.” Namun saya ingin bertanya, bagaimana keadaanmu Anda dewasa ini? Apakah Anda masih segar dan baru? Secara doktrinal, saya tidak mengajarkan masalah penguburan ke dalam air, tetapi secara pengalaman, saya anjurkan Anda supaya dikubur ke dalam air. Walaupun Anda telah beroleh selamat, dan telah dibaptiskan, tetapi Anda telah menjadi usang, karena di tahun-tahun ini Anda mengembara di padang gurun. Sebab itu Anda tidak cukup hanya menyeberangi Laut Merah, sekarang Anda perlu menyeberangi Sungai Yordan. Hal ini sangat berarti. Mari kita lihat lagi keadaan orang Israel. Mereka mula-mula menyeberangi Laut Merah, yang telah menyelamatkan mereka dari Mesir. Penyeberangan kedua adalah menyeberang Sungai Yordan, yang menyelamatkan mereka dan mengakhiri hidup mengembara di padang gurun, bahkan memimpin mereka masuk ke dalam tanah permai Kanaan. Lupakanlah ajaran kekristenan tradisional yang menganggap kita tidak boleh dibaptis ulang, karena menurut mereka, dalam ajaran Perjanjian Baru, orang hanya boleh dibaptis satu kali. Sebenarnya soal berapa kali itu tergantung pada keadaan Anda yang sesungguhnya. Andai kata Anda tidak pernah tinggal di tempat yang telah diduduki Iblis, Anda tidak perlu dibaptiskan satu kali pun. Jika Anda selalu berada di surga, Anda sama sekali tidak perlu dibaptiskan. Namun, karena Anda telah jatuh ke tanah Mesir, jelas Anda perlu menyeberangi Laut Merah. Kalau setelah Anda menyeberangi Laut Merah Anda dapat segera masuk ke dalam Tanah Kanaan, Anda tidak perlu menyeberangi Sungai Yordan lagi. Tetapi nyatanya Anda tidak segera masuk ke dalam tanah permai Kanaan, Anda malah mengembara di padang gurun sehingga Anda menjadi usang. Karena itu Anda perlu menyeberangi sebuah sungai lagi barulah dapat memasuki tanah permai Kanaan. Itulah sebabnya Anda perlu menyeberangi sungai. Ketika Anda membaca berita ini, jika Anda merasa diri Anda usang, Anda perlu memperbarui diri Anda seperti orang Ibrani. Anda perlu menyeberangi sungai!
Dalam Wahyu 15:2 tercantum sebuah lautan kaca yang istimewa, yang di dalamnya bercampur api. Dalam lautan ini tidak hanya ada air juga ada api. Ketika Allah menjatuhkan hukuman ke atas ciptaanNya yang telah jatuh dan terkutuk, pertama-tama Ia menggunakan air. Kejadian 1:2 menerangkan bahwa dunia sebelum Adam telah dihukum Allah dengan air, begitu pula hukuman pada zaman Nuh. Air adalah penghukuman Allah. Setelah Allah menjatuhkan hukuman ke atas zaman Nuh dengan air, Allah menggantinya dengan api, tidak dengan air lagi. Demikianlah Sodom dan Gomora dibakar dengan api bukan dengan air bah (Kej. 19:24). Kedua anak Harun, Nadab dan Abihu, juga dihukum dengan api (Im. 10:1-2). Pada akhirnya, semua hal yang negatif akan dicampakkan ke dalam lautan api (Why. 20:14-15). Allah memakai air yang bercampur dengan api untuk menghukum segala makhluk, dunia, dan manusia yang telah jatuh. Dalam Wahyu 15 ada visi lautan kaca yang bercampur dengan api. Pada akhirnya menjadi lautan api.
Lautan kaca itu berada di hadapan takhta Allah (Why. 4:6). Dalam visi lautan kaca yang bercampur api ini, para pemenang berdiri di atas lautan itu. Para pemenang yang telah mengalahkan musuh Allah akan berdiri di atas lautan kaca. Ini menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah menyeberangi sungai. Mereka telah menyeberangi lautan. Mereka selamanya adalah penyeberang-penyeberang sungai yang sejati, yaitu orang Ibrani sejati. Di manakah Anda berada? Saya harap Anda dapat berkata bahwa Anda berada di atas lautan kaca. Kita adalah orang Ibrani sejati, kita telah menyeberangi laut. Saya berkeyakinan penuh bahwa saya telah menyeberangi sungai. Kini saya tidak tinggal di seberang sana. Nenek moyang saya datang dari seberang sana, saya pun mengikuti mereka. Kini saya berada di atas lautan kaca. Segala hal yang negatif berada di bawah kaki saya. Para pemenang akan berdiri di atas lautan kaca, seperti halnya orang Israel setelah menyeberangi Laut Merah lalu berdiri di seberang yang lain. Sesudah orang Israel menyeberangi Laut Merah dan menoleh ke belakang, mereka nampak Firaun beserta bala tentaranya mengambang di dalam air laut itu. Seperti orang Israel yang menyeberangi Laut Merah dan menyanyikan lagu Musa (Kel. 15:1), kita akan menyanyikan lagu Anak Domba (Why. 15:3). Pada suatu hari, kita akan berdiri di atas lautan kaca dan melihat semua benda duniawi berada di bawah lautan. Walaupun saya tahu itu akan terjadi kelak, namun saya mengharap hal itu terjadi sekarang juga. Kita semua berada di atas lautan kaca. Kita adalah orang Ibrani, penyeberang sungai.
Berhubung kita adalah orang Ibrani sejati, maka Surat Ibrani ditulis untuk kita. Jangan mengira hanya kaum beriman Yahudi baru disebut orang Ibrani, kita pun orang Ibrani. Kita adalah orang-orang Ibrani, dan Surat Ibrani yang ajaib ini adalah untuk kita. Selama Anda masih duniawi, Anda tidak layak menerima surat ini. Asalkan Anda mengakui diri Anda sebagai penghuni tetap di dunia ini, Anda juga tidak bersangkut paut dengan surat ini. Surat ini khusus ditujukan kepada orang Ibrani. Asalkan kita orang Ibrani, setidak-tidaknya ada sejilid kitab dalam Alkitab yang ditujukan kepada kita. Saya bukan Timotius atau Titus, tetapi saya adalah orang Ibrani sejati. Kita semua adalah orang Ibrani. Kita wajib bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah mengaruniakan sejilid kitab yang dalam dan kaya dan yang tidak tertandingi oleh kitab lainnya. Allah mengasihi orang Ibrani. Kita telah menyeberangi sungai dan berada di atas lautan kaca. Karena itulah kita bisa memahami surat yang ajaib ini. Allah kita telah menulis surat ini kepada kita.
Hari ini tanah permai kita bukan Kanaan, tetapi tempat maha kudus. Kini kita berada di dalam tempat maha kudus. Setelah menyeberangi sungai, kita dibawa masuk ke dalam tempat maha kudus. Inilah tanah kudus kita. Di manakah tanah kudus atau tempat maha kudus ini? Di surga juga di dalam roh kita. Di antara roh kita dengan surga ada sebuah tangga surgawi, yaitu Kristus, Anak Manusia itu, yang menghubungkan roh kita dengan surga dan membawakan surga ke dalam roh kita. Di sini kita memiliki Betel, yakni rumah Allah (Kej. 28:10-22). Juga ada tempat kediaman Allah (Ef. 2:22). Inilah hidup gereja, inilah tanah permai kita.
Lihatlah Kemah Pertemuan. Di depannya terdapat sebuah bejana pembasuhan, satu laut kecil (Kel. 30:18). Di depan Bait Suci terdapat satu laut tembaga dengan sepuluh bejana pembasuhan (1Raj. 7:23, 27). Baik bejana pembasuhan yang di depan Kemah Pertemuan maupun laut tembaga dengan sepuluh bejana pembasuhan di depan Bait Suci, semuanya menunjukkan bahwa setiap umat Allah harus melewati air dulu baru dapat masuk ke dalam tempat maha kudus. Terakhir, Wahyu 15 menerangkan bahwa di alam semesta di depan bait Allah, terdapat satu lautan kaca. Setiap orang yang datang ke hadirat Allah, harus melalui laut itu. Kita adalah orang-orang yang demikian. Kita tidak berada di dalam dunia, juga tidak berada di dalam agama. Kita tidak berada di dalam agama Yahudi, juga tidak berada di dalam agama Kristen, melainkan di dalam tempat maha kudus. Kita berada di dalam rumah Allah, kediaman Allah yang selain di surga juga di dalam roh kita, dan Kristus adalah tangga surgawi yang menghubungkan keduanya. Haleluya! Di sini surga terbuka bagi kita. Kini tidak saja Surat Ibrani terbuka bagi kita, kita pun terbuka bagi Surat Ibrani. Sekarang kita sudah siap menelaah kekayaan kitab ini.
B. Setelah Percaya kepada Tuhan Tetap Ingin Mempertahankan Agama Yahudi
Orang-orang Ibrani, yang adalah penerima surat ini, telah percaya kepada Tuhan, namun mereka tetap ingin mempertahankan agama Yahudi mereka. Apakah Anda juga demikian? Dapatkah Anda mengatakan dengan tegas bahwa Anda tidak demikian? Saya khawatir jangan-jangan Anda masih mempertahankan sesuatu. Mungkin Anda masih mempertahankan pengalaman yang indah yang Anda peroleh di masa lalu, namun itu bukan tanah permai. Ditinjau dari alam semesta yang sangat luas ini, tanah permai hanya sekelumit saja. Boleh jadi Anda berada di jutaan tempat lainnya, tetapi tidak berada di tempat itu. Demikian pula, boleh jadi Anda berada di dalam jutaan hal, tetapi tidak berada di titik yang tepat, yakni Kristus. Bila Anda tidak secara tegas, mutlak, dan sepenuhnya hidup untuk Kristus, itu berarti Anda masih mempertahankan sesuatu. Saya tahu banyak di antara kalian tetap mempertahankan sesuatu selain Kristus. Mungkin hal-hal itu baik, bahkan baik sekali, tetapi itu bukan Kristus. Karena itu, Anda perlu menyeberangi sungai lagi. Menyeberangi sungai dan dikubur.
C. Dianiaya oleh Imam Besar,
Orang Saduki, dan Farisi
Tahun 63 Masehi, Ananias, seorang Imam Besar agama Yahudi di Yerusalem, bangkit bersama orang-orang Saduki dan Farisi untuk menganiaya orang Ibrani. Pada waktu itu, orang-orang Ibrani di satu pihak mengapresiasi Tuhan Yesus, namun di pihak lain tidak ingin meninggalkan agama mereka yang usang. Akhirnya Tuhan membangkitkan suasana yang memaksa mereka keluar dari situ. Seandainya mereka tidak rela keluar, mereka akan dipaksa keluar juga. Mungkin Imam Besar berkata kepada mereka, “Kalau kalian masih ingin tinggal bersama kami di sini, kalian harus sama seperti kami. Jangan menjadi orang Kristen semacam itu, tetapi jadilah penganut agama Yahudi sejati. Kalau kalian ingin menjadi orang Kristen, silakan keluar!”
Adakalanya kita juga mempunyai pengalaman serupa. Di satu pihak kita sangat mengindahkan hidup gereja, tetapi di pihak lain kita enggan meninggalkan hal-hal yang lama. Kita tetap tinggal di tempat kita semula. Antara musim gugur dan dingin tahun 1925, mata saya tercelik dan saya nampak gereja, tetapi saya tidak mematuhi terang itu dengan senang hati dan segera, saya ragu-ragu. Dua tahun kemudian, beberapa orang saleh yang tadinya berhimpun bersama saya mulai mengecam saya, katanya, “Jika Anda masih ingin berhimpun dengan kami di sini, turutilah corak kami, jangan membentuk corak lain. Kalau Anda tidak mau menuruti corak kami, lebih baik keluar saja dari sini!” Dengan demikian, saya mendapat bantuan besar untuk keluar dari tengah-tengah mereka. Saya bersyukur untuk hal itu. Akhirnya saya keluar.
Ada beberapa orang saleh telah nampak realitas Kristus dan kebenaran hidup gereja, namun masih ada “tetapi” yang kecil, dan “tetapi” itu seperti ekor rubah. Mereka ingin maju ke depan, tetapi seseorang memegang ekor mereka. Mereka ingin menempuh hidup gereja, namun ada sesuatu yang dengan liciknya memegang ekor mereka. Akan tetapi, Iblis juga ada batasnya. Ia hanya bisa memegang ekor Anda sampai sejangka waktu saja. Akhirnya, penganut-penganut agama itu akan berkata kepada Anda, “Anda harus kembali seperti semula, kalau tidak, akan kami tendang keluar. Kalau Anda ingin berhimpun bersama kami, Anda harus serupa dengan kami, jika tidak mau, enyahlah segera!”
Orang-orang Kristen Ibrani itu benar-benar telah teraniaya dalam keadaan yang demikian. Penganut-penganut agama Yahudi telah merampas harta mereka, bahkan mengancam jiwa mereka (10:34). Hal ini membuat orang-orang Ibrani risau dan bimbang. Mungkin mereka berkata kepada diri sendiri, “Andai kata mengikuti Kristus itu benar, Allah tentu akan memberkati kita. Tetapi penganiayaan ini bukan berasal dari penguasa Romawi juga bukan dari orang kafir, melainkan berasal dari majelis agama umat Allah. Salahkah mereka? Bisa-bisa kita yang salah.” Saudara-saudara Ibrani itu merasa bingung dan menjadi bimbang. Mereka tidak dapat menyalahkan pemberitaan Petrus dan Paulus, tetapi mereka juga tidak berani mengatakan bahwa orang-orang yang di dalam Bait Suci itu salah. Mereka berada dalam situasi terjepit, yakni sukar memutuskan harus maju atau mundur. Surat Ibrani ini justru ditulis dan dikirim kepada mereka ketika mereka berada dalam situasi yang sedemikian.
D. Surat Ini Ditulis untuk Meneguhkan Kepercayaan
Mereka terhadap Kristus, Memperingatkan Mereka
Agar Jangan Menyimpang,
Sebaliknya Harus Menolak Yudaisme
Surat Ibrani ini ditulis untuk orang-orang Ibrani yang menderita aniaya dan terbentur pada keadaan terjepit, dengan maksud meneguhkan kepercayaan mereka terhadap Kristus, dan memperingatkan mereka agar jangan menyimpang, sebaliknya harus menolak agama Yahudi. Surat ini menyuruh mereka maju terus ke depan, jangan bimbang atau mundur. Mereka tidak seharusnya ragu atau bimbang, melainkan harus maju dan menyeberangi sungai. Penulis surat ini seolah berkata, “Kalian adalah orang Ibrani, mengapa kalian tidak mau menyeberangi sungai pemisah ini? Sungai terbentang di depan kalian, kalian harus menyeberanginya. Kristus tidak berada di sini lagi, Ia telah berada di sana. Dialah Perintis, Ia telah memasuki tabir. Jangan berhenti di sini. Pergilah ke tempat di mana Dia berada. Ia adalah Panglima kita yang telah masuk ke dalam kemuliaan. Marilah kita mengikuti Dia. Marilah kita berperang terus hingga kita masuk ke dalam kemuliaan. Marilah kita keluar dari gerbang dan di luar perkemahan serta mengikutiNya masuk ke balik tabir”. Dua slogan penting dalam Surat Ibrani adalah: “di luar perkemahan” dan “masuk ke balik tabir”. Dengan terus terang penulis Surat Ibrani mengatakan, “Janganlah mundur maju di antara kemah dan tirai. Majulah ke depan, dan masuklah segera ke balik tabir. Tuhan Yesus hari ini tidak berada di kemah, juga tidak ada di jalan, melainkan di balik tabir. Kita semua harus datang kepadaNya, itulah sasaran kita. Mari kita masuk ke sana!” Kristus berada di balik tabir. Bila kita masuk ke dalam roh kita, kita menyeberangi sungai, keluar dari pikiran yang terombang-ambing, melintasi tabir dan masuk ke dalam tempat yang maha kudus. Maksud Surat Ibrani adalah untuk meneguhkan kepercayaan orang Ibrani yang polos terhadap Kristus, dan memperingatkan mereka jangan menyimpang, sebaliknya harus menolak Yudaisme.
II. ISI
A. Kristus yang Surgawi, Kristus yang Sekarang,
Kristus yang Saat Ini, dan Kristus yang Hari Ini
Surat Ibrani menganggap bahwa segala hal yang positif bersifat surgawi, dan semua itu ditujukan kepada Kristus yang di surga. Keempat kitab Injil mengisahkan Kristus yang hidup di bumi ini, kemudian wafat di kayu salib untuk menggenapkan penebusan. Kisah Para Rasul mengisahkan Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga ini telah disebarluaskan dan disuplaikan kepada orang-orang. Dalam Surat Roma, Kristus adalah kebenaran kita bagi pembenaran kita, dan hayat kita bagi pengudusan, pengubahan, penyerupaan, pemuliaan, dan pembangunan kita. Surat Galatia mengisahkan Kristus hidup di dalam kita berlawanan dengan hukum Taurat, agama, tradisi, dan formalitas. Surat Filipi mengisahkan Kristus yang diperhidupkan dari setiap anggotaNya. Surat Efesus dan Kolose menerangkan bahwa gereja adalah Tubuh Kristus, sedang Kristus adalah Kepala, hayat, dan isi gereja. Surat Korintus menerangkan bahwa dalam pelaksanaan hidup gereja Kristus adalah segala realitasnya. Dalam Surat Tesalonika Kristus adalah kekudusan kita bagi kedatanganNya kali kedua. Dalam Surat Timotius dan Titus Kristus adalah ekonomi Allah, agar kita tahu bagaimana membawa diri di dalam rumah Allah. Surat Petrus menerangkan Kristus adalah Pemberi kekuatan agar kita dapat melalui penderitaan menerima penanggulangan Allah. Dalam Surat Yohanes, Kristus adalah hayat dan persekutuan anak-anak Allah di dalam keluarga Allah. Dalam Wahyu, Kristus adalah yang berjalan di tengah-tengah gereja pada zaman kini, dan pada zaman yang akan datang dalam KerajaanNya Ia akan memerintah seluruh dunia, dan ternyata dalam kemuliaan yang penuh untuk selama-lamanya. Dalam Surat Ibrani kita nampak Kristus yang sekarang, saat ini di surga menjadi pelayan ibadah kita (8:2) dan Imam Besar kita (4:14-15; 7:26), yang menyuplaikan hayat surgawi, anugerah, kuasa, dan kekuatanNya kepada kita, dan menopang kita agar kita dapat menempuh hidup surgawi di bumi ini. Dia adalah Kristus yang sekarang, Kristus yang hari ini, dan Kristus yang ada di atas takhta sebagai keselamatan kita sehari-hari serta suplai kita setiap saat. Inilah Kristus yang diwahyukan dalam Surat Ibrani. Saya sungguh menyukai Kristus yang dilukiskan dalam surat ini. Karena itu, saya juga ingin dengan sekuat tenaga saya untuk mempengaruhi, menggerakkan, bahkan memaksa kalian untuk mengasihiNya.
Kita akan mengambil sebuah ilustrasi dari telur ayam yang biasa kita makan untuk makan pagi. Bagian luar telur ayam terdapat kulit telur, sedang di dalamnya adalah unsur-unsur dari seekor ayam. Kita makan unsur ayam yang di dalam telur, bukan kulit telur. Setelah seekor anak ayam menetas keluar, yang tertinggal adalah kulit telur itu belaka. Saat itu, tidak ada seorang pun mau makan kulit telur itu, melainkan membuangnya ke tong sampah. Inilah suatu ilustrasi dari Yudaisme. Sebelum Kristus datang, Yudaisme adalah sebutir telur. Pada suatu hari, telur menetas dan anak ayam keluar, ini berarti Kristus telah keluar dari kulit telur itu. Dulu, anak ayam dengan telur adalah satu, dan telur itu patut dihargai orang, sebab di dalamnya terdapat anak ayam. Tetapi pada suatu hari Yesus telah keluar. Anak ayam itu telah keluar dari kulit telurnya. Kini ayam ini tidak saja berjalan di bumi atau terbang di angkasa, bahkan telah duduk di surga tingkat ketiga. Ayam ini jauh tinggi di surga, tetapi kulit telurnya tertinggal di bumi. Jangan begitu bodoh dan bingung ke mana Anda harus pergi, kepada ayam itukah atau tetap tinggal menemani kulit telurnya? Sudah tentu Anda harus pergi kepada ayam itu. Jangan tinggal bersama kulit telurnya.
Izinkan saya berkata sepatah dua kepada teman-teman Yahudi yang tetap mengunjungi sinagoga Yahudi. Apa yang kalian indahkan sekarang hanyalah sebuah kulit telur yang kosong dan pecah. Lupakanlah kulit telur itu, dan buanglah ke tong sampah! Datanglah kepada ayam ini. Ayam ini adalah Kristus. Kristus adalah unsur hayat, sari hayat, juga substansi hayat itu sendiri. Mengapa Perjanjian Lama dan Yudaisme berharga? Sebab dahulu Kristus berada di dalamnya. Tetapi sekarang, Ia telah keluar dari Yudaisme, maka kalian kini harus meninggalkan kulit telur itu dan pergi kepada ayam itu yaitu Kristus sendiri.
Prinsip ini dapat diterapkan dalam setiap perkara agama. Jika ada Kristus di dalamnya, baptisan itu baik. Tetapi bila Kristus tidak berada di dalam baptisan itu, baptisan itu hanya merupakan kulit luar yang hampa belaka. Setiap perkara agama tanpa Kristus adalah kulit luar yang hampa. Kita mengadakan pemecahan roti setiap hari Minggu, tetapi jika hanya ada meja pemecahan roti tanpa Kristus di dalamnya, itu pun suatu kulit luar yang hampa. Bahkan Alkitab dan pembacaan Alkitab Anda juga demikian, kalau di dalamnya tidak ada Kristus, itu adalah kulit luar yang hampa. Pelayanan, pemberitaan, atau pekerjaan Kristiani Anda akan menjadi sekadar kulit luar jika semuanya hanyalah aktivitas Kristiani belaka. Pendek kata, segala perkara yang mendasar, Alkitabiah, dan agamis serta apa saja yang ditujukan kepada Allah, jika bukan Kristus sebagai realitasnya tetaplah merupakan kulit luar. Saudari, penudungan kepala Anda harus memiliki Kristus di dalamnya, sebab tanpa Kristus, penudungan kepala Anda hanyalah kulit luar yang kosong. Jangan kira yang saya salahkan hanya satu perkara saja. Saya menyalahkan semua perkara yang tidak memiliki Kristus di dalamnya. Bahkan pemberitaan saya ini adalah kulit luar yang kosong juga jikalau di dalamnya tidak ada Kristus. Seluruh PelajaranHayat ini pun, jikalau tidak menyuplaikan Kristus, tetaplah kulit luar yang hampa.
Kita semua harus nampak betapa mudahnya kita memiliki kulit luar tanpa ayamnya. Apakah agama? Agama ialah melayani Allah, menyembah Allah, dan memperbaiki diri untuk mencari perkenan Allah, namun tanpa Kristus. Menyembah, melayani Allah serta menjadi orang baik di hadapan Allah, itu semua memang baik, tetapi bila di dalamnya tidak ada Kristus, itu hanyalah agama. Hanya Kristuslah realitas. Apa yang kita lakukan dan apa adanya diri kita ini mungkin merupakan suatu kulit telur yang kosong melompong. Sebagian bahkan bukan kulit telur, dan walaupun adalah kulit telur, tanpa Kristus hal-hal itu bukanlah apa-apa. Kita harus memiliki Kristus! Anda senang menjadi penatua? Itu baik. Akan tetapi dalam hal Anda menjadi penatua haruslah ada Kristus. Jika jabatan itu tanpa Kristus, maka jabatan penatua itu hanyalah suatu kulit telur kosong. Bila Anda memustikakan suatu kulit luar yang kosong, Anda harus menyeberangi sungai dan mengubur diri Anda agar Anda keluar dari kulit luar itu. Inilah berita yang disampaikan kepada orang Ibrani.
Surat Ibrani seratus persen membicarakan tentang Kristus dan untuk Kristus. Kristus ini bukanlah Kristus yang doktrinal, melainkan Kristus yang hari ini untuk kita alami. Ibrani 1:1-3 menerangkan kepada kita bahwa Kristus telah menggenapkan segala sesuatu dan kini duduk di surga di sebelah kanan yang Mahabesar. Ibrani 4:14 mengatakan bahwa Ia adalah Imam Besar yang telah melintasi semua langit. Ia tidak saja telah menyeberangi sungai, bahkan telah melintasi semua langit dan masuk ke dalam langit tingkat tiga, di mana terdapat tempat yang maha kudus di balik tabir. Ia kini berada di situ. Ibrani 6:20 mengatakan bahwa Ia adalah Perintis yang telah berlari dan yang pertama mencapai sasaran. Dialah yang pertama memasuki tabir itu. Ibrani 7:26 mengatakan Dialah seorang Imam Besar yang demikian, karena Ia lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga. Dia menempati kedudukan tertinggi di alam semesta. Ibrani 8:1, 9:24, dan 10:12 semua menerangkan kepada kita bahwa Kristus yang pernah wafat itu kini berada di surga, juga menyertai kita. Oh, kita harus mengontaknya! Buanglah kulit luar itu! Lupakanlah dia! Kita semua harus menjamah Kristus yang surgawi, Kristus yang sekarang, dan Kristus yang hari ini. Ia demikian riil, demikian hidup! Kini dengan hayat, kuasa, dan kekuatan surgawiNya Ia menyuplai kita sehingga kita yang sekalipun berada di bumi dapat menempuh hidup surgawi. Ia tidak hanya sebagai karunia keselamatan kita sehari-hari, bahkan menjadi suplai setiap saat. Dialah Kristus yang sedemikian. Kita semua harus mengenal dan mengalamiNya. Lupakan agama! Kristus telah kita miliki! Kita tidak lagi mempertahankan bentuk atau upacara, melainkan realitas. Inilah isi Surat Ibrani. Ketika kita melanjutkan Pelajaran Hayat kita ini, kita akan melihat kedalaman dan kekayaan surat ini.
B. Mengandung Segala Kekayaan Surgawi
Isi surat ini bukan hanya Kristus yang surgawi, lebih-lebih Kristus surgawi berikut segala kekayaan surgawiNya. Antara lain: panggilan surgawi (3:1); daftar nama di surga (12:23); karunia surgawi (6:4); benda-benda surgawi (8:5; 9:23); tempat kudus di surga (9:24), Yerusalem Surgawi (12:22), dan tanah air surgawi (11:16). Kita harus nampak semua hal surgawi ini.
III. PEMBAGIAN
Pembagian Surat Ibrani ini sangat sederhana. Pertamatama adalah pendahuluan yang mengatakan bahwa Allah berbicara dalam Putra (1:1-3). Bagian terakhir adalah penutup (13:20-25). Dan di antara pendahuluan dengan penutup surat ini menunjukkan kepada kita keunggulan Kristus (1:4-10:39) dan juga memberi satu jalan kepada kita untuk menikmati Kristus ini, yakni demi iman (11:1-13:19). Kristus ini melampaui atau mengungguli segala-galanya, mengungguli malaikat, mengungguli Yosua, Musa, dan Harun. Perjanjian yang dibuatNya pun lebih unggul daripada yang dibuat Musa, Kristus jauh melampaui segala sesuatu. Dan pada hari ini jalan satu-satunya untuk menghubungi dan menikmatiNya ialah melalui iman. Inilah Surat Ibrani.