← Daftar isi Ibrani (1) · bab 14/17

SAUDARA-SAUDARA YANG KUDUS DAN YANG MENGAMBIL BAGIAN DALAM PANGGILAN SURGAWI

I. SAUDARA-SAUDARA YANG KUDUS

Dalam berita ini kita sampai pada Ibrani 3, yang dimulai dengan kalimat, “Sebab itu, Saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan surgawi.” Saya senang dengan kedua sebutan ini. “saudara-saudara yang kudus” dan “yang mendapat bagian dalam panggilan surgawi.” Tidak ada kitab lain dalam Perjanjian Baru yang menyebut kita saudara-saudara yang kudus. Sebutan ini menyiratkan dua butir utama, yakni kita ini kudus dan kita ini saudara-saudara. Kita bukan hanya saudara, tetapi juga saudara yang kudus. Entah Anda berani atau tidak mengatakan diri Anda demikian? Penulis Surat Ibrani tidak dapat menyebut kita saudara-saudara yang kudus, sebelum ia menerangkan sekian banyaknya kualifikasi mengenai Kristus maupun kita dalam dua pasal terdahulu. Ketika tiba pada pasal 3, barulah ia dapat menyebut kita saudara-saudara yang kudus. Melalui kematian dan kebangkitanNya, Kristus telah membuat kita menjadi saudara-saudaraNya. Semula kita adalah orang-orang berdosa, penderita-penderita maut, tawanan-tawanan dan tahanan-tahanan. Terpujilah Dia, kematianNya telah menggenapkan pendamaian segala dosa kita, dan membebaskan kita dari perhambaan maut. Di dalam kebangkitanNya kita telah dilahirkan menjadi saudara-saudaraNya. Demikianlah kini kita dapat disebut saudara-saudara yang kudus. Dalam pasal-pasal kita nampak bahwa saudara-saudara yang dilahirkan oleh kebangkitan Tuhan sedang berada dalam proses pengudusan. Maka kita inilah saudara-saudara yang kudus. Kita tak hanya sempurna tanpa dosa, tetapi juga kudus secara ilahi.

Dalam 1:9 kita nampak hubungan antara kita dengan Sang terurap Allah. Dengan mengacu kepada Kristus ayat itu berbunyi, “AllahMu telah mengurapi Engkau dengan minyak kesukaan melebihi teman-teman sekutuMu.” (Tl.). Istilah “teman-teman sekutu” lebih tepat disebut “mitraMu”. Jadi kita tidak saja menjadi sekutu bahkan menjadi “mitra” atau “partner”. Sekutu belum tentu mitra, tetapi mitra pastilah sekutu. Di dalam ekonomi Allah Kristus ialah Yang ditunjuk Allah untuk merampungkan rencanaNya, sedang kita ini mitraNya dalam kepentingan ilahi ini. Ia diurapi oleh Allah, dan kita mengambil bagian dalam pengurapanNya untuk menggenapkan kehendak Allah. Kristus adalah Ahli waris yang ditetapkan oleh Allah, dan pada 1:9 dikatakan bahwa Ahli waris yang ditetapkan ini telah diurapi; pengurapan merupakan pengukuhan atas penetapan itu. Pertama-tama Allah menetapkan PutraNya, kemudian mengurapiNya. Sebagai mitra atau partner Kristus, kita semuanya juga mendapat bagian dalam pengurapanNya. Kita adalah mitra-mitra Dia yang telah diurapi Allah, maka kita mempunyai bagian dalam pengurapanNya. Ini merupakan sebagian dari Injil, tercakup di dalam Injil sepenuhnya. Banyak orang suka mengatakan tentang Injil yang sepenuhnya (The full gospel), Injil sepenuhnya adalah yang mencakup permitraan kita dengan Kristus. Hal ajaib ini tercakup dalam Injil yang sepenuhnya. Kita semua perlu nampak bahwa kita adalah mitra-mitra Kristus dan mengambil bagian dalam pengurapanNya. Karena itu, ketika kita sampai pada 3:1, kita telah memiliki segala persyaratan yang kita perlukan untuk menjadi saudara-saudara yang kudus. Kita telah memiliki kedudukan, kualifikasi, realitas, hayat, sifat, sumber, dan segala yang diperlukan. Sekarang kita adalah saudara-saudara yang kudus.

Jika Anda tahu bahwa Anda adalah saudara kudus yang sedemikian, apakah yang akan anda perbuat? Pantaskah Anda tetap menghisap rokok? Setiap kali saya melihat seorang saudara merokok, seluruh diri saya merasa seolah tenggelam. Saya berkata dalam batin, “Oh, saudaraku, engkau telah menjual hak kesulunganmu dengan harga yang lebih murah daripada yang dijual Esau.” Apakah pantas seorang saudara yang kudus masih merokok? Meskipun kita tidak punya peraturan yang melarang orang merokok, namun kita mempunyai status yang terhormat. Kita tidak saja kudus, bahkan terhormat. Pikirkanlah kedudukan kita; sebagai saudara-saudara Putra sulung Allah, dan sebagai mitra-mitra Sang terurap Allah. Ini bukanlah satu perkara yang kecil. Andaikata Anda saudara presiden Amerika, Anda pasti sangat bangga dan pasti memiliki kehormatan. Namun, Anda kini saudara siapa? Anda adalah salah seorang saudara Putra sulung Allah, yang menggenapkan rencana Allah. Merokok sungguh memalukan Sang terurap Allah. Memang Alkitab tidak pernah mengatakan Anda tidak boleh merokok, kitab Perjanjian Baru bukan sebuah kitab Taurat, melainkan kitab saudara-saudara yang kudus. Tetapi saya yakin, bila Tuhan mencelikkan mata Anda dan memberi kesan pada Anda tentang perkara yang indah dalam Injil sepenuhnya ini, Anda pasti akan menjadi seorang yang berbeda. Anda akan lebih terbuka terhadap Imam Besar ini, sehingga Ia lebih banyak menyuplaikan diriNya ke dalam Anda. Hal ini akan merubah selera Anda, sehingga Anda tidak lagi gemar menghisap rokok.

Visi yang demikian bisa mengubah penginjilan kita. Penginjilan kita hari ini terlampau rendah. Ketika kita menginjil, jangan hanya memberi tahu orang dosa bahwa mereka telah dijatuhi hukuman dan kelak akan binasa. Kita harus memberitakan Injil dengan mutu yang lebih tinggi, yakni Allah sedang memanggil mereka untuk percaya kepada Putra sulungNya agar mereka dapat menjadi saudara-saudaraNya, bahkan mitra-mitraNya guna menggenapkan rencana kekalNya.

Inilah penginjilan yang kita perlukan dewasa ini. Saya mengharap kiranya ada saudara-saudara muda yang memiliki beban untuk memberitakan Injil semacam ini. Jangan sekali-kali menginjil dengan nada usang, yang mengatakan orang dosa harus binasa di dalam neraka. Itu bukan salah, tetapi terlampau rendah. Kita perlu menginjil dengan Ibrani 3:1 yang memberitahu bahwa orang dosa harus bertobat dan diubah menjadi saudara-saudara yang kudus. Bila kaum remaja mau menginjil demikian, niscaya banyak teman sekolah mereka akan tertarik.

Tiga puluh sembilan tahun lebih yang lalu, sewaktu saya masih muda, saya pernah tinggal di Peking, ibukota lama di China. Di sana terdapat sebuah rumah sakit terkenal yang pendirinya disponsori oleh Rockefeller Foundation, bernama Peking Union Medical College. Rumah sakit tersebut tidak saja besar, juga berstandar tinggi. Banyak juru rawat di sana telah diperoleh gereja dan beberapa dokter telah diperoleh pula berkat pemberitaan yang bermutu tinggi itu. Mereka masing-masing berkobar-kobar dalam roh. Hari ini kita memerlukan pemberitaan Injil yang semacam itu.

Saya merasa sangat berbeban, sebab saya telah nampak sesuatu yang bermutu tinggi. Saya mengharap agar orang-orang lain juga bisa memperoleh sesuatu yang lebih baik itu. Kita tidak seharusnya memberitakan Injil dengan begitu rendah. Apakah inti dan pokok tertinggi Injil? Apakah Injil hanya membuat orang dosa yang kasihan dipercik dengan beberapa tetes darah kemudian dimasukkan ke dalam surga? Apakah Anda kira Injil Allah cuma berbuat sebanyak itu? Tidak, Injil Allah jauh lebih tinggi daripada itu. Injil Allah malahan akan membuat orang-orang menjadi saudara-saudara yang kudus. Ini bukan konsepsi saya, melainkan yang diwahyukan oleh Surat Ibrani. Dalam kebangkitanNya kita semua telah dijadikan saudara-saudaraNya dan Dia telah masuk ke dalam kita, memberitakan Bapa kepada kita. Sekarang sebagai Sang Pengudus, Ia telah memenuhi syarat untuk melaksanakan pekerjaan pengudusan yang membuat kita kudus. Kita adalah saudara-saudaraNya yang kudus dan mitra-mitraNya yang mendapat bagian dalam pengurapanNya untuk menggenapkan rencana Allah. Bukankah semuanya ini tercantum dalam Alkitab? Bukankah ini kabar sukacita? Semua orang perlu mendengar kabar sukacita ini. Banyak kaum cendekiawan di universitas-universitas terkemuka di negeri ini sedang kebingungan terhadap makna hidup manusia. Di antara mereka banyak yang bertanya,” Apa sebenarnya arti dan tujuan hidup? Apa yang harus kuhadapi sesudah lulus sekolah?” Tidak ada orang di universitas yang dapat menjawab pertanyaan mereka. Kitalah yang harus pergi dan memberi tahu mereka apa sebenarnya makna hidup manusia, dan memberi tahu mereka bahwa mereka dapat menjadi saudara-saudara yang kudus Putra sulung Allah. Andaikata keda-tangan Tuhan “tertunda”, saya harap beberapa tahun lagi pemberitaan Injil semacam ini akan tersebar di seluruh universitas di negeri ini.

Di Amerika Serikat, Eropa, dan di negara-negara maju lainnya sangat membutuhkan penginjilan yang bermutu tinggi dan yang sepenuhnya ini, yakni Injil yang menghasilkan saudara-saudara yang kudus dari Putra sulung Allah. Jika kaum remaja kita mau menerima beban ini dan memberitakannya ke tiap universitas, pasti akan memperoleh banyak kaum cendekiawan, sehingga mereka memperoleh kepuasan. Saya juga mengharapkan setiap pembaca berita bisa “bergumul” dengan Tuhan, mengatakan pada Tuhan bahwa Anda mau menerima beban untuk memberitakan Injil bermutu tinggi ini. Jika Anda mempunyai beban memberitakan Injil yang bermutu tinggi ini, saya yakin Tuhan pasti menghormati pemberitaan Anda. “Oh Tuhan, kami membutuhkan lebih banyak penginjil muda, yang lebih banyak memberitakan Injil yang sepenuhnya ini!”

Sebelum kita lanjutkan, saya ingin bersekutu lagi kepada kaum muda. Saya telah dimiliki Tuhan sepenuhnya, saya tahu apa yang saya lakukan di sini. Saya telah nampak visi ini. Dalam alam semesta ini, tidak ada sesuatu yang lebih tinggi daripada ini. Saya sedang mengerjakan pekerjaan yang paling mulia di antara umat manusia, dan kalian juga harus melakukan perkara yang sama. Itulah sebabnya mengapa saya tidak memperhatikan “toserba”, itu terlalu rendah. Saya tidak akan menggantikan barang yang ada di tangan saya ini untuk barang apa pun yang ada di dunia ini. Apa yang saya miliki sangat tinggi dan mulia. Dunia dewasa ini membutuhkan sebuah pasukan salib un-tuk menyebarluaskan Injil yang paling tinggi dan penuh ini.

A. Ahli Waris Keselamatan

Saudara-saudara yang kudus adalah para ahli waris keselamatan (1:14), yang mewarisi “Keselamatan yang sebesar itu” (2:3) yang tidak saja membuat kita menjadi saudara-saudara yang kudus dan mendapat bagian dalam kekudusan Allah, tetapi juga membawa kita ke dalam kemuliaan Allah.

B. Mitra dari Ahli Waris yang Ditetapkan

Saudara-saudara yang kudus juga adalah mitra-mitra dari Ahli Waris Allah yang ditetapkan itu (1:9, 2). Putra Allah adalah Ahli Waris yang ditetapkan untuk mewarisi segala sesuatu. Ahli Waris ini telah diurapi oleh Allah untuk menggenapkan rencanaNya yang kekal. Saudara-saudara yang kudus adalah mitra Dia yang sedemikian itu.

C. Pengikut-pengikut Pemimpin

Saudara-saudara kudus juga adalah pengikut-pengikut Pemimpin keselamatan itu (2:10). Pemimpin keselamatan ialah Putra sulung Allah yang merintis jalan masuk ke dalam kemuliaan Allah. Saudara-saudara yang kudus adalah pengikut-pengikut Pemimpin yang sedemikian itu yang akan dibawa ke dalam kemuliaan Allah.

D. Saudara-saudara Putra Sulung Allah

Tidak hanya demikian, saudara-saudara yang kudus adalah saudara-saudara Putra sulung Allah. Kristus adalah Putra sulung Allah yang memiliki ilahi juga sifat insani seperti yang telah kita bahas pada berita-berita di depan. Saudara-saudara yang kudus, sebagai manusia yang telah dilahirkan kembali oleh hayat ilahi adalah saudara-saudara Kristus yang memiliki sifat insani juga sifat ilahi. Jadi mereka serupa dengan Kristus dalam hayat dan sifat.

E. Gereja dalam Kebangkitan

Terakhir, saudara-saudara yang kudus menjadi gereja dalam kebangkitan (2:12). Secara individual, mereka adalah saudara-saudara Kristus, tetapi secara korporat, mereka adalah gereja, Tubuh Kristus. Hal ini sepenuhnya berada dalam kebangkitan. Sebelum Kristus bangkit, gereja belum ada. Gereja baru terlahir melalui kebangkitan Kristus, terbentuk dari saudara-saudara Kristus. Itulah sebabnya sesudah kebangkitanNya baru ada saudara-saudara Kristus, gereja. Gereja dalam pemulihan Tuhan hari ini wajib berada dalam kebangkitan.

F. Dikuduskan karena dan

Melalui Anak Allah pun Anak Manusia

Saudara-saudara yang kudus dikuduskan karena dan melalui Anak Allah dan Anak Manusia (2:11). Yang Menguduskan ialah Anak Allah juga Anak Manusia. Dalam berita kesebelas, telah kita lihat bahwa kita telah memenuhi syarat untuk mengambil bagian dalam kekudusan ilahi. Kekudusan ilahi tidak lain ialah sifat Allah sendiri. Sebagai Yang Menguduskan, Kristus kini terusmenerus menguduskan kita dengan menyalurkan sifat kudus Allah ke dalam diri kita. Saya sering mengambil perumpamaan dengan air teh. Segelas air putih akan menjadi air teh, bila kita campurkan daun teh ke dalamnya. Cara mengubah air putih menjadi air teh ialah dengan mencampurkan unsur teh ke dalam air itu, hingga air itu diresapi dan dijenuhi. Seluruh air itu akan menjadi air teh, dan akan memiliki penampilan, warna, aroma, dan rasa teh. Kita ini seolah segelas air putih, sedang Kristus ialah unsur kekudusan ilahi, sifat ilahi. Kristus telah menaruh diriNya ke dalam kita, segelas air putih ini, untuk meresapi dan menjenuhi kita, sampai kita dikuduskan oleh sifat kudusNya sepenuhnya. Inilah pengudusan.

G. Berbagian dalam Kekudusan Ilahi

Saudara-saudara yang kudus juga mengambil bagian dalam kekudusan ilahi (12:10). Kita mengambil bagian dalam kekudusan ilahi yang tidak lain adalah sifat Allah yang kudus. Dalam proses pengudusan, kita diresapi oleh dan ke dalam sifat Allah yang kudus. Melalui peresapan yang demikianlah, kita mengambil bagian dalam kekudusan ilahi.

H. Mengejar Kekudusan

Sebagai saudara-saudara yang kudus, kita wajib mengejar kekudusan (12:14). Di satu pihak, kita telah dikuduskan oleh darah Kristus (10:29), di pihak lain, kita telah dilahirkan kembali dengan sifat Allah yang kudus (LAI: kodrat ilahi, 2Ptr. 1:4). Kini sebagai umat yang telah dikuduskan, kita wajib mengejar kekudusan dalam hidup kita sehari-hari. Tanpa kekudusan, kita tidak dapat melihat Tuhan. Tanpa kekudusan, kita mustahil bersekutu dengan Tuhan. Kita perlu suatu kehidupan yang kudus, agar dapat terus-menerus bersekutu dengan Tuhan dan selalu melihat wajahNya.

I. Berjalan Menuju Kemuliaan

Sebagai saudara-saudara yang kudus, di satu pihak kita menempuh proses pengudusan, di pihak lain kita sedang berjalan menuju kemuliaan (2:10). Menjadi kudus atau dikuduskan merupakan persiapan kita untuk dimuliakan. Ketika kita berjalan menuju kemuliaan, Kristus datang menguduskan kita dan menjadi Imam Besar yang melayankan segala kebutuhan kita, bahkan menjadi Pemimpin kita yang membawa kita masuk ke dalam kemuliaan.

II. MENGAMBIL BAGIAN DALAM

PANGGILAN SURGAWI

Sekarang mari melihat bagaimana kita mengambil bagian dalam panggilan surgawi. Istilah panggian surgawi dipakai oleh penulis surat ini untuk membandingkan panggilan ini dengan panggilan bumiah. Semua orang dalam agama Yahudi memiliki panggilan bumiah dan berkat-berkat bumiah. Tidak ada apa pun yang surgawi dalam agama Yahudi. Namun dalam ekonomi Allah, dalam keselamatan yang sempurna, kita telah dipanggil oleh Allah dari surga dan dipanggil untuk memiliki segala hal yang surgawi. Panggilan ini adalah panggilan surgawi. Setiap hal yang ada di dalamnya bersifat surgawi. Kita, saudara-saudara yang kudus, adalah orang yang mengambil bagian dalam panggilan surgawi yang sedemikian ini. Apakah Anda suka tinggal dalam panggilan bumiah, atau Anda mau menyeberang sungai menjadi orang Ibrani sejati yang menerima panggilan surgawi?

Konsepsi Surat Ibrani berfokus pada hal-hal positif dan yang bersifat surgawi. Pertama, surat ini menunjukkan bahwa Kristus hari ini duduk di surga (1:3). Ia telah masuk ke dalam surga (9:24), Ia telah melintasi semua langit (4:14), dan telah melampaui segala langit (7:26). Kemudian surat ini juga membentangkan kepada kita panggilan surgawi (3:1), karunia surgawi (6:4), hal-hal surgawi (8:5), tanah air surgawi (11:16), dan Yerusalem surgawi (12:22). Surat ini juga mengatakan bahwa kita terdaftar di surga (12:25). Segala hal dalam Perjanjian Lama yang dipegang oleh agama Yahudi bersifat bumiah. Dalam surat ini penulis sengaja menunjukkan kepada kaum beriman Ibrani perbandingan antara sifat surgawi Perjanjian Baru dengan sifat bumiah Perjanjian Lama, agar mereka membuang hal-hal bumiah dan mengikat diri mereka kepada yang surgawi itu.

A. Kepada Kristus yang Surgawi

Panggilan surgawi terutama memanggil kita kepada Kristus yang surgawi (1:3, 13; 4:14; 6:20; 7:26; 9:24; 10:12). Di manakah Kristus pada hari ini? Ia berada di surga, Ia dulu berada di bumi, dan Ia kelak akan kembali lagi ke bumi, tetapi sekarang Ia berada di surga. Dialah Kristus yang surgawi, yang menyuplai kita dari saat ke saat dengan hayat, suplai, dan kelimpahan surgawi, agar kita dapat menempuh hidup surgawi selama kita masih di bumi ini.

B. Terdaftar dalam Daftar Surgawi

Meskipun mendapat bagian dalam panggilan surgawi, saudara-saudara yang kudus masih berada di bumi. Namun mereka telah tercatat dalam daftar surgawi (12:23), yaitu nama-nama mereka telah terdaftar di surga. Hari ini kita memang bukan berada di surga, tetapi nama kita telah tercatat di sana. Kita adalah orang-orang yang berbagian dalam panggilan surgawi, nama kita tercatat dalam daftar nama surgawi. Jadi, kita adalah umat surgawi (Flp. 3:20).

C. Mengecap Karunia Surgawi

Kita yang menerima panggilan surgawi, juga dipanggil untuk mengecap karunia surgawi (6:4). Karunia surgawi tentunya adalah hal-hal surgawi yang Allah berikan kepada kita ketika kita beroleh selamat, antara lain: pengampunan, pembenaran, hayat ilahi, damai sejahtera, dan sukacita. Sebagai penerima panggilan surgawi, sudah tentu kita telah mengecap hal-hal surgawi ini.

D. Memiliki Penyembahan yang Surgawi

Kita yang telah menerima panggilan surgawi, juga perlu memiliki penyembahan yang surgawi (8:5; 9:23-24). Sekalipun kita masih di bumi, penyembahan kita terhadap Allah haruslah bersifat surgawi. Saudara-saudara yang kudus dipanggil untuk memiliki penyembahan yang surgawi di bumi. Penyembahan kita wajib menjauhi segala sifat bumiah. Hidup maupun penyembahan kita haruslah bersifat surgawi.

E. Datang ke Yerusalem Surgawi

Orang-orang dalam Perjanjian Lama hanya dapat mendatangi Yerusalem di bumi, tetapi kita, orang-orang yang mendapat bagian dalam panggilan surgawi, datang ke Yerusalem surgawi (12:22). Yerusalem yang di bumi melambangkan hukum Taurat dan ikatannya (Gal. 4:25), sedangkan Yerusalem yang di surga melambangkan anugerah dengan kebebasannya (Gal. 4:26). Kaum beriman Ibrani tidak seharusnya kembali dan tinggal di bawah hukum Taurat sebagai anak-anak yang terikat yang datang ke Yerusalem bumiah. Mereka seharusnya meninggalkan Yerusalem yang bumiah, dan datang Yerusalem yang surgawi sebagai anak-anak yang merdeka di bawah anugerah.

F. Menuju ke Tanah Air Surgawi

Kita, para pengambil bagian dalam panggilan surgawi, telah pula dipanggil menuju tanah air surgawi (11:16). Kita sedang melancong di bumi ini dan akan menuju ke tanah air surgawi.

G. Berbagian dalam Roh Kudus

Sebagai orang yang berbagian dalam panggilan surgawi, kita juga berbagian dalam Roh Kudus (6:4). Roh Kudus ialah Yang dijanjikan Allah untuk diberikan kepada manusia dalam InjilNya (Gal. 3:14). Dari surga, Allah telah memanggil kita untuk mendapatkan hal-hal surgawi, agar kita dapat menjadi orang-orang yang menikmati Roh KudusNya, berbagian dalam Roh KudusNya. Melalui Roh Kudus Allah inilah kita dapat menempuh hidup yang surgawi di bumi dan berbagian dalam kekudusan Allah. Roh Kudus tidak lain adalah Allah sendiri. Sebagai orang-orang yang berbagian dalam Roh Kudus, kita mendapatkan Allah sebagai kenikmatan kita. Melalui Roh Kudus Allah pula barulah kita dapat memiliki penyembahan yang surgawi.

B. Berbagian dalam Ganjaran Ilahi

Kita orang-orang yang berbagian dalam panggilan surgawi, juga berbagian dalam ganjaran ilahi (12:8). Saya dengar seorang putra mahkota Kerajaan Inggris, yaitu orang yang akan meneruskan tahkta Kerajaan Inggris selalu menerima banyak pelatihan. Seorang putra mahkota harus menerima itu sebelum ia dilantik sebagai raja. Hari ini kita juga harus menerima pelatihan serupa itu. Sebagai calon raja kita harus berada di bawah ganjaran ilahi. Sebagai saudara-saudara yang kudus, kita harus berbagian dalam kekudusan ilahi yang dibawakan Roh Kudus di dalam kita, sedang sebagai orang yang terpanggil oleh panggilan surgawi, kita harus menerima ganjaran atau latihan yang diberikan Roh Kudus di dalam lingkungan sekitar kita. Kita, saudara-saudara yang kudus, tidak hanya berbagian dalam panggilan surgawi, juga menerima Roh Kudus, kekudusan ilahi, dan ganjaran ilahi, agar kita menjadi disempurnakan, diperlengkapi, dan dilayakkan menjadi mitra Sang terurap Allah.