← Daftar isi Ibrani (1) · bab 13/17

IMAM BESAR YANG BERBELASKASIHAN DAN SETIA

Surat Ibrani sangat indah baik isi maupun susunannya. Tidak ada pikiran manusia yang sanggup menulis surat yang sedemikian. Ia benar-benar ditulis di bawah ilham ilahi. Dalam berita ini, dengan judul Imam Besar yang berbelaskasihan dan setia, kita sampai pada kesimpulan dari dua pasal pertama dari Surat Ibrani. Sesudah membahas beberapa masalah pada kedua pasal tersebut, penulis memberi kesimpulan untuk bagian tersebut dengan menampilkan Anak Manusia sebagai Imam Besar yang berbelaskasihan dan setia melayani kita. Agar kita memahami bagaimana Ia layak menjadi Imam Besar, perlu kiranya kita kembali melihat pasal 1 dan 2 yang membicarakan apa adanya Dia dan apa yang telah dikerjakanNya.

I. ADALAH PUTRA ALLAH, MEMILIKI SIFAT ILAHI

Mengapa penulis Surat Ibrani memakai istilah belas kasihan dan setia untuk menggambarkan Imam Besar? Mengapa tidak menggunakan satu, tiga, atau empat istilah? Jawabannya ialah karena pada kedua pasal pertama surat ini penulis mengutamakan dua hal: Kristus adalah Putra Allah, adalah Allah; Kristus adalah Anak Manusia, adalah manusia. Belaskasihan ditujukan kepada diriNya sebagai manusia, sedang setia ditujukan kepada diriNya sebagai Allah. Untuk menjadi orang yang setia, kita tidak saja harus memiliki kebajikan, tetapi juga harus memiliki kekuatan itu. Misalkan, saya menjanjikan sesuatu kepada Anda. Walaupun saya memiliki kebajikan, tetapi belum tentu saya sanggup memenuhi janji saya itu. Hati saya ingin mempertahankan kesetiaan, kepercayaan, namun saya kekurangan kekuatan; saya tidak berdaya menggenapi janji saya. Akhirnya, saya terpaksa menjadi tidak setia. Namun Imam Besar ini bukan hanya seorang yang jujur, Ia adalah Allah yang setia. Allah adalah setia (10:23). Apa yang Ia janjikan pasti digenapiNya. Ia tidak pernah berdusta (6:18). Apa yang telah Ia katakan, dapat digenapiNya. Ia mampu memenuhi setiap perkataanNya. Hanya Allah yang dapat setia sepenuhnya. Tidak ada seorang pun di antara kita bisa setia sepenuhnya. Sering kali saya ingin sekali menepati perkataan saya, namun tidak bisa. Saya tidak bisa, karena saya bukan Allah yang Mahakuasa. Apakah yang dapat menghalangi Allah untuk menggenapkan perkataanNya? Tidak ada! Yesus bisa menjadi Imam Besar yang setia, karena Ia adalah Allah yang Mahakuasa itu. Karena Ia adalah Putra Allah dan Allah itu sendiri, Ia tentu dapat setia. Sekalipun kita, sebagai putra-putra Allah dan saudara-saudara Putra SulungNya, memiliki sifat ilahi dan sifat insani, namun kita bukan yang maha kuasa. Kita adalah insani dalam sifat insani kita, dan ilahi dalam sifat ilahiNya, tetapi kita bukan yang Mahakuasa dalam keAllahanNya. Dialah yang Mahakuasa, maka Dia dapat setia terhadap kita.

II. ADALAH ANAK MANUSIA,

MEMILIKI SIFAT INSANI

Berbelaskasihan mengacu kepada Kristus sebagai manusia. Ia menjadi manusia dan menempuh kehidupan sebagai manusia di bumi ini serta mengalami segala penderitaan manusia. Akhirnya, Ia benar-benar memenuhi syarat untuk membelaskasihani kita. Ia mengerti bagaimana menaruh belas kasihan kepada manusia. Ia adalah seorang manusia yang berpengalaman atas kehidupan insani dan yang mengalami segala pahit getir hidup insani.

Bagaimana Kristus dapat menjadi Imam Besar yang penuh dengan belas kasihan dan setia? Karena Ia adalah Anak Manusia yang memiliki sifat insani juga Putra Allah yang memiliki sifat ilahi. Ia benar-benar memenuhi syarat untuk menjadi Imam Besar yang sedemikian. Harun adalah seorang imam besar yang baik, namun ia hanya memiliki sifat insani tanpa sifat ilahi. Maka Harun mungkin penuh dengan belas kasihan, tetapi ia belum tentu bisa setia. Akan tetapi Imam Besar kita, Yesus Kristus yang sebagai Putra Allah dan Anak Manusia, penuh dengan belas kasihan dan setia, sebab Ia adalah Allah juga manusia.

III. BERINKARNASI MENJADI SERUPA

DENGAN KITA

Syarat lainnya yang memungkinkan Kristus menjadi Imam Besar ialah Ia telah berinkarnasi menjadi serupa dengan kita (2:14, 17). Malah kita boleh mengatakan, Ia lebih daripada serupa dengan kita, sebab dalam hidup insaniNya Ia telah menderita susah yang belum pernah kita rasakan. Agar layak menjadi Imam Besar yang penuh dengan belas kasihan, Ia telah menjadi serupa dengan kita dan bersimpati terhadap segala kelemahan kita.

IV. MENDERITA KARENA PENCOBAAN

Tuhan Yesus juga layak menjadi Imam Besar karena Ia telah menderita karena pencobaan, (2:18). Jika Anda membaca lagi keempat kitab Injil, Anda akan tahu bahwa tidak seorang pun yang mengalami kesukaran, serangan, kesalahpahaman, dan fitnahan sebanyak yang dialamiNya. Kebanyakan ahli agama adalah ahli desas-desus. Dalam lingkungan agama juga banyak kabar angin seperti di tempat-tempat lain. Para pencipta kabar angin itu selalu memutar balik perkataan Anda. Mereka mengganti beberapa kata Anda dengan kata-kata lain, sehingga kata-kata Anda berubah maksudnya. Adakalanya Tuhan mengucapkan beberapa perkataan, lalu mereka mengambil beberapa di antaranya dan memutar balikkannya untuk dijadikan alasan menuduh Tuhan.

Situasi hari ini pun sama seperti itu. Ketika Saudara Watchman Nee dengan saya bekerja sama di China, saya melihat banyak sekali kabar angin dan dusta tentang dirinya tersebar di mana-mana. Tetapi biasanya Saudara Watchman Nee tidak memberi komentar apa-apa. Ada beberapa kali ia datang dan berkata kepada saya “Sdr. Witness, orang Kristen juga bisa berdusta.” Pada waktu itu ia yang menjadi sasaran, kami semua berada di bawah naungannya. Setiap serangan tidak menimpa diri kami, sebab dia memayungi kami, kami di bawah naungannya. Pada tahun 1949, setelah kami datang ke Taiwan, sayalah yang jadi sasaran serangan. Sekarang saya juga mengetahui melalui pengalaman bahwa orang Kristen juga bisa berdusta. Andaikata Anda bertanya kepada Tuhan apakah agamawan-agamawan itu bisa berdusta, Tuhan pasti berkata, “Tentu saja, Aku sendiri telah banyak dipersulit karena dusta mereka itu.” Karena Tuhan Yesus berbeda dengan agama gelap pada hariNya itu, maka Ia dibenci oleh para agamawan; para agamawan juga membenci Dia. Hal yang serupa terjadi atas diri Saudara Watchman Nee di China. Sejak tahun 1932 sampai ia dipenjara pada tahun 1952, selama masa itu tidak ada satu denominasi pun yang mengundangnya untuk berkhotbah. Namun, Tuhan yang berbelas kasihan mengetahui bagaimana menaruh simpati kepada kita, dan Ia tahu bagaimana menahan derita akibat dusta itu. Tidak ada seorang manusia yang mengalami pencobaan, serangan, tentangan, dan kesalahpahaman dari agamawan seperti yang dialamiNya. Ia memenuhi syarat untuk membelaskasihani dan bersimpati kepada kita.

V. MENERIMA PENDERITAAN MAUT

Kristus layak menjadi Imam Besar kita juga karena Ia telah menerima penderitaan maut (2:9). Maut yang dialami Tuhan Yesus benar-benar merupakan suatu baptisan. Pada suatu kali Tuhan bertanya kepada murid-muridNya, “Dapatkah kamu . . . dibaptis dengan baptisan yang Kuterima?” (Mrk. 10:38). Baptisan di sini ditujukan pada kematianNya. KematianNya adalah Sungai Yordan yang sejati. Dalam menerima maut itu, Ia telah menyeberang sungai dan memasuki wilayah yang penuh dengan ekspresi Allah, penuh dengan kemuliaanNya.

VI. MENJADI KURBAN PENDAMAIAN

KARENA DOSA KITA

Melalui kematianNya di atas salib, Kristus menjadi kurban pendamaian bagi dosa-dosa kita (2:17). Ini berarti Ia telah membuat Allah puas atas kita. Ia telah memuaskan keadilan serta semua tuntutan Allah atas diri kita. Ia telah membereskan setiap masalah yang ada antara kita dengan Allah.

VII. TELAH MEMUSNAHKAN IBLIS

Melalui kematianNya di atas salib, Kristus tidak saja mengecap maut bagi kita dan menjadi kurban pendamaian karena dosa-dosa kita, tetapi juga telah memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut (2:14). Ia telah menyingkirkan maut. Ia telah menyelesaikan masalah dosa-dosa kita. Ia pun telah memusnahkan Iblis. Karena itu, Ia layak menjadi Imam Besar kita yang berbelas kasihan.

VIII. TELAH MEMBEBASKAN KITA

DARI PERHAMBAAN MAUT

Kristus juga telah membebaskan kita dari perhambaan maut (2:15). Kita telah dibebaskan olehNya dari perhambaan dosa, dari perhambaan karena takut akan maut, bahkan dari perhambaan maut itu sendiri. Maka kita tidak lagi diperhamba oleh apa pun.

IX. DALAM KEBANGKITAN MELAHIRKAN BANYAK SAUDARA UNTUK MEMBANGUN GEREJA

Satu syarat lagi yang membuat Kristus layak menjadi Imam Besar ialah dalam kebangkitanNya Ia telah melahirkan banyak saudara untuk membangun gereja (2:10-12). Dalam kebangkitan Ia adalah Putra sulung Allah, dan kita adalah saudara-saudaraNya untuk membangun gereja. Ia dengan kita memiliki hayat dan sifat yang sama. Ia dengan kita sama-sama berada dalam kebangkitan. Dia adalah Kepala gereja, sedang kita adalah anggota-anggota gereja. Hal ini membuat Dia lebih memenuhi syarat untuk menjadi Imam Besar kita.

X. DALAM PENGAGUNGAN TELAH DIMAHKOTAI

DENGAN KEMULIAAN DAN KEHORMATAN

Dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan dalam pengagunganNya itu juga merupakan suatu syarat bagi jabatan imamatNya. Pengagungan, kemuliaan, dan kehormatanNya memberiNya kemungkinan menjadi Imam Besar untuk melayani kita. Dengan posisi dan kemungkinan itu, Ia dapat sesuai perkenan hatiNya memberi belas kasihan dan kesetiaanNya kepada kita.

XI. MENJADI PEMIMPIN KESELAMATAN KITA

Akhirnya, Kristus disempurnakan dan layak menjadi Pemimpin keselamatan kita (2:10). Hal ini telah kita bahas dalam dua berita sebelumnya. Sebagai Pemimpin keselamatan, Ia sepenuhnya layak menjadi Imam Besar kita.

Dahulu, walaupun banyak di antara kita mempunyai pengalaman dilayani oleh Kristus sebagai Imam Besar, tetapi hal itu tidak banyak kita pahami. Surat Ibrani adalah kitab yang membicarakan jabatan imam. Dalam berita-berita berikutnya akan kita lihat bahwa jabatan imam yang dibahas dalam pasal 4-6 berkembang sepenuhnya dalam pasal 7-10. Ketika kita tiba pada bagian itu, kita akan melihatnya lebih rinci. Dalam berita ini kita perlu memakai sedikit waktu untuk meletakkan dasar bagi suatu pengenalan yang tepat terhadap jabatan imam.

Apakah imam itu? Kita telah mengatakan bahwa imam ialah orang yang melayani Allah. Meskipun mengatakan demikian itu benar, tetapi tidak memadai. Seorang imam bukan hanya seorang yang melayani Allah, tetapi juga seorang yang melayankan Allah kepada manusia. Hampir semua orang Kristen mengira seorang imam ialah seorang yang melayani Allah, tetapi tidak banyak yang tahu bahwa imam lebih-lebih adalah orang yang melayankan Allah kepada manusia. Dari satu segi, melayani Allah adalah hal kedua, sedang melayankan Allah kepada manusia itulah yang utama. Jadi, makna utama dari jabatan imam bukan melayani Allah, melainkan melayankan Allah kepada manusia. Jika sebagai imam, kita hanya tahu melayani Allah, tidak tahu melayankan Allah kepada manusia, itu sangat kasihan.

Kali pertama Alkitab menyebut tentang imam ialah yang berhubungan dengan Melkisedek (Kej. 14:18-20). Melkisedek adalah imam yang pertama dalam Alkitab. Seperti telah kita katakan, hal yang pertama disebutkan Alkitab selalu dijadikan prinsip tentang hal itu. Maka sebutan imam yang pertama ialah Melkisedek, ini menjadi prinsip jabatan imam. Bila Anda meneliti kisah Melkisedek sebagai Imam Besar Allah Yang Mahatinggi, Anda akan tahu bahwa ia bukan dari manusia pergi kepada Allah, melainkan dari Allah datang kepada manusia. Ia tidak pergi kepada Allah lalu melayani Allah, melainkan datang dari Allah dan melayankan sesuatu dari Allah kepada Abraham, si pencari Allah itu dengan mensuplaikan sesuatu dari Allah kepadanya. Setelah kisah Melkisedek dalam Alkitab terdapat banyak perkembangan tentang masalah keimaman itu. Namun jangan lupa bahwa kisah utama dari jabatan imam ialah seorang imam adalah datang dari Allah untuk melayankan sesuatu dari Allah kepada umat Allah.

Perkara utama mengenai Kristus sebagai Imam Besar bukanlah Ia melayani Allah, melainkan Ia melayankan Allah kepada kita. Kita harus meninggalkan konsepsi dangkal yang mengira seorang imam hanya melayani Allah belaka. Setiap orang termasuk orang kafir yang di jalanan, semua tahu kalau para pastur Katholik adalah orang-orang yang khusus melayani Allah, yang membakar kemenyan, dan yang menunaikan tugas “suci” mereka. Bahkan pada agama kafir juga ada imam. Kita harus menyeberang sungai dari konsepsi yang rendah ke konsepsi yang tinggi. Allah tidak memerlukan pelayanan Anda, tetapi Ia menghendaki agar Anda melayankan Dia kepada manusia. Sebagai Imam Besar, tugas Kristus yang utama adalah melayankan Allah ke dalam diri kita. Apa yang dikerjakan Kristus di dalam kita yang utama ialah melayankan Allah ke dalam diri kita. Inilah Imam Besar kita. Ia terus melakukan satu hal, yakni melayankan Allah ke dalam diri kita. Boleh jadi ada orang yang akan membantah: Melkisedek tidak melayankan Allah ke dalam manusia. Lalu apakah roti dan anggur itu? Itu mengiaskan apa? Roti dan anggur mengiaskan Allah menjadi kenikmatan kita, Allah telah dilayankan kepada kita agar kita disegarkan, ditunjang, diteguhkan, diperkuat, dan dirawat, sehingga kita dapat bertumbuh dengan segala kekayaanNya. Inilah tugas utama imam. Pada prinsipnya, kita yang melayani Allah hari ini adalah imam-imam Allah. Sebagai imam, tanggung jawab kita yang utama ialah melayankan Allah kepada mereka.

Kita harus nampak pelayanan imam semacam ini dalam hidup gereja yang riil. Hari ini dalam hidup gereja terdapat banyak kelompok pelayanan. Kelompok pelayanan itu hendaknya jangan hanya merupakan semacam pelayanan orang Lewi, melainkan juga harus merupakan kelompok pelayanan keimaman. Satu kelompok pelayanan tidak seharusnya hanya untuk menangani urusan-urusan. Saudara saudari yang mengambil bagian dalam kelompok pelayanan harus senantiasa melayankan kekayaan Allah di dalam Kristus kepada manusia. Anda harus melayankan Allah kepada orang-orang dalam kelompok pelayanan Anda itu, sehingga pada akhirnya segenap kelompok pelayanan Anda menjadi suatu susunan imam yang melayankan Allah dari satu anggota kepada anggota lain. Sebagai contoh, misalkan dalam kelompok pelayanan pembersihan atau pengaturan. Tugas utama dari kelompok pelayanan tersebut bukan sekadar membersihkan ruang sidang, mengatur kursi-kursi, atau merapikan segala sesuatu. Memang hal itu berfaedah bagi sidang, namun itu bukanlah susunan imam yang sebenarnya. Susunan imam yang sebenarnya hanya terwujud bila Anda melayankan Allah kepada manusia sewaktu Anda membersihkan ruang sidang dan mengatur kursi-kursi.

Bila kita melayankan Allah kepada manusia, akhirnya mereka akan mengekspresikan Allah. Kristus senantiasa melayankan Allah kepada orang-orang yang beriman, hingga di dalam mereka terdapat ekspresi Allah. Kita pernah mengatakan bahwa ekspresi Allah ialah kemuliaan. Dalam Alkitab kemuliaan Allah tidak lain ialah ekspresi Allah. Ketika Alllah diekspresikan, barulah kita beroleh kemuliaan. Namun, bagaimana Allah dapat diekspresikan? Demi Kristus sebagai Imam Besar, melayankan Allah senantiasa ke dalam kita. Pada pokoknya hal ini telah kita bahas dalam dua berita terdahulu yang berjudul “Pemimpin Keselamatan”.

Kini kita dapat melihat Kristus dalam tiga aspek. Aspek pertama, Ia adalah Pemimpin keselamatan; aspek kedua, Ia adalah benih kemuliaan; dan aspek ketiga, Ia adalah Imam Besar yang melayani atau menyuplai kita. Sebagai Imam Besar, Kristus melayankan Allah kepada kita. Inilah tugas keimamanNya, dan ini pula tugasNya sebagai Pemimpin keselamatan. Walau Ia adalah Pemimpin keselamatan, te-tapi Ia merampungkan tugasNya melalui menjadi Imam Besar. Ibrani 2:10 mengatakan bahwa Kristus ialah Pemimpin keselamatan kita dan dalam 2:17 kita nampak Kristus ini, Pemimpin keselamatan kita juga adalah Imam Besar kita. Bagaimanakah Ia menunaikan tugasNya sebagai Pemimpin keselamatan? Hanyalah dengan menjadi Imam Besar. Menurut konsepsi manusia, seorang pemimpin ialah seorang pemuka atau kepala pejuang. Konsepsi ini tidak salah, namun bila Kristus hanya menjadi Pemimpin yang demikian, Ia masih belum dapat melaksanakan tugasNya.

Kita lihat hubungan antara Musa dengan Harun dalam Perjanjian Lama. Tanpa Harun, Musa tidak dapat sukses sebagai pemimpin. Kepemimpinan rasul memerlukan pelayanan jabatan imam. Yosua juga seperti Musa, membutuhkan Imam Besar. Jangan mengira Harun dan Musa adalah dua orang yang terpisah. Sebagai tokoh sejarah, mereka adalah dua persona yang berlainan; tetapi sebagai lambang Kristus, mereka adalah satu. Di satu pihak, Kristus adalah Musa kita, di pihak lain Ia juga Harun kita. Ketika kita tiba pada pasal 3 kita akan melihat lebih banyak tentang Kristus sebagai Rasul dan Imam Besar kita. Jabatan pemimpin dengan jabatan imam selalu berpasangan. Dalam diri Kristus, kedua jabatan ini dirangkap oleh satu orang. Tidak mungkin Ia menjadi Pemimpin kita jika Ia bukan Imam Besar kita. Saya tidak dapat mengikuti Kristus bila Ia bukan Imam Besar. Di satu pihak, Ia adalah Pemimpin yang berperang bagi kita, di pihak lain Ia pun sebagai Imam Besar yang melayankan diri Allah serta segala kelimpahan hayat ilahi ke dalam kita.

Hal ini dapat diumpamakan dengan tubuh saya sendiri. Puji Tuhan, Ia telah mengaruniakan kepada saya satu tubuh yang sehat dan kuat. Tetapi setiap kali selesai berkhotbah, saya merasa sangat letih. Sekembali ke rumah dan menikmati makanan, tubuh saya segera terpulihkan. Setelah makan, saya dapat melanjutkan khotbah satu setengah jam berikutnya. Kemudian saya pulang menikmati lagi makanan malam hari. Akhir-akhir ini, setelah berkhotbah dalam sidang malam, saya masih merasa penuh dengan kekuatan. Esok pagi sebelum jam enam saya sudah bangun dan penuh semangat; bahkan pagi itu saya melakukan banyak urusan. Dari manakah datangnya kekuatan itu? Dari gizi makanan yang saya makan. Demikian pula halnya, saya memiliki seorang Imam Besar yang sejati yang senantiasa melayankan roti dan anggur kepada saya, sehingga memungkinkan saya mampu bekerja terus-menerus tanpa letih. Semakin banyak menikmati makanan bergizi itu, saya semakin memiliki kekuatan.

Bila Anda membaca Ibrani pasal 1 dan 2, Anda akan nampak bahwa Dia, yang sangat ajaib dan rahasia ini kini adalah Imam Besar kita. Jangan mengira Imam Besar ini hanya melayani Allah saja. Itu tugas sekunder. Melayankan Allah kepada kita barulah yang primer. Jika sebagai imam, Anda hanya datang kepada Allah dan melayaniNya saja, Ia pasti akan berkata, “Aku tidak butuh kamu. Mengapa kamu datang hanya membuang-buang waktu saja. Tugasmu ialah membawa Aku kepada orang-orang itu. Kamu harus melayankan diriKu kepada mereka. Itulah yang Kukehendaki.”

Kita telah melihat bahwa Kristus cukup memenuhi syarat untuk menjadi Imam Besar kita. Dia adalah Putra Allah, Allah sendiri, menjadi manusia dan mengalami sengsara sebagai manusia. Sebagai Anak Manusia, Ia mengalami segalanya dan menggenapi segalanya. Kini Ia cukup memenuhi syarat menjadi Imam Besar kita. Bagaimana pun keadaan kita, Ia pasti memiliki sesuatu untuk dilayankan kita. Sering kali kita menikmati pelayanan imamatNya itu seperti bernafas. Kita tidak perlu memahami proses pernafasan, atau menganalisis udara. Asalkan kita bernafas, kita sudah memperoleh segala yang ada dalam udara itu. Demikian pula, kita tidak tahu segala peristiwa yang terjadi dalam roh kita, itu tidak mengapa. Tuhan Yesus ada di sini seperti udara. Asalkan kita mengontak Dia melalui menghirupNya ke dalam diri kita, segala kebutuhan kita akan terpenuhi. Sudah tentu, kalau kita dapat lebih banyak mengenalNya memang sangat berfaedah. Menikmati Kristus merupakan satu hal yang sangat riil, bukan suatu takhyul.

Ketika Imam Besar kita melayankan Allah ke dalam kita, kita akan memperoleh Allah lebih banyak dan dapat mengekspresikanNya. Akhirnya kita dapat datang melayani Allah. Dalam hal ini kita memerlukan suatu pengalihan. Ketika kita melayani Allah, hendaklah membiarkan Allah lebih banyak meresap ke dalam kita. Setelah itu barulah Ia berkata kepada kita, “Pergilah, layankan Aku kepada orang lain.”

Sekarang kita telah mengerti cara Tuhan Yesus sebagai Pemimpin keselamatan kita membawa kita ke dalam kemuliaan, yakni dengan menjadi Imam Besar yang senantiasa melayankan Allah kepada kita. Ketika Kristus melayankan Allah ke dalam kita, terjadilah suatu reaksi berantai, yaitu kita akan diresapi Allah sehingga kita juga menjadi imam. Sebagai imam-imam, kita tidak mengutamakan melayani Allah, tetapi melayankan Allah kepada orang lain dan membawa mereka hingga mereka dapat mengekspresikan Allah. Orang yang menerima pelayanan kita akan kembali diresapi Allah dan melayankan Allah pula sehingga Allah lebih banyak meresap ke dalam mereka. Setelah itu Allah akan menyuruh mereka untuk melayankan diriNya lagi kepada orang lain. Inilah cara Pemimpin keselamatan kita membawa kita ke dalam kemuliaan. Saya menyesal karena tidak memiliki kecakapan yang cukup untuk menjelaskan hal ini kepada kalian. Ini bukan sekadar pembinaan bagi orang Kristen, melainkan cara Bapa membawa putra-putraNya masuk ke dalam kemuliaan. Saya ulangi, Tuhan memimpin kita masuk ke dalam kemuliaan adalah melalui menjadi Pemimpin kita, dan Pemimpin kita menunaikan tugas itu melalui menjadi Imam Besar kita.

XII. MENOLONG DAN MENYELAMATKAN KITA

Sudah sejak muda saya mengetahui Ibrani 2:17. Saya diajarkan bahwa Kristus sebagai Imam Besar kita dapat bersimpati kepada kita. Tetapi ajaran itu agak rendahan, sebab maksudnya ialah Kristus dapat bersimpati kepada kita bila kita menjumpai kesulitan. Walaupun dahulu saya pernah berkali-kali mengalami simpati Kristus yang demikian, namun saya tidak pernah menerima suplai hayat ilahi dari simpatiNya. Saya hanya mendapatkan sedikit penghiburan, lain tidak. Akan tetapi yang saya alami sekarang jauh berbeda. Pengalaman yang saya miliki dewasa ini tentang simpati Kristus sebagai Imam Besar saya jauh lebih tinggi dan kaya. Setiap kali saya mengalami simpatiNya, saya juga menerima suplai ilahi. Jadi dari pengalaman saya tahu bahwa Kristus menjadi Imam Besar yang utama adalah melayankan Allah kepada kita.

Pelayanan yang demikian disebut menolong (2:16, 18). Untuk memahami arti “menolong” dalam ayat 18, kita perlu membaca ayat 16, “Sebab sesungguhnya bukan malaikat-malaikat yang Ia tolong, tetapi keturunan Abraham yang Ia tolong” (Tl.). Menurut bahasa aslinya, kata “menolong” di sini bukan berarti menolong dari luar, seperti menolong seseorang yang nyaris tenggelam dalam air, dengan memegang orang itu sehingga ia terhindar dari situasi yang berbahaya. Tidak, menolong di sini berarti masuk ke dalam orang itu, mengenakannya, dan mengangkatnya. Misalnya, ketika Anda menghadapi kesulitan, Imam Besar bukan da-tang mengulurkan jari tanganNya dan membawa Anda ke luar dari kesulitan itu. Bukan begitu, melainkan ketika Anda menderita, Ia masuk ke dalam diri Anda, mengenakan Anda, dan mengangkat Anda keluar dari kesulitan. Inilah pekerjaan Imam Besar kita. Setelah Anda mengalami hal ini beberapa kali, Anda tidak mungkin terancam oleh kesulitan apa pun. Ketika kesulitan datang lagi, Anda bisa berkata, “Semakin banyak kesulitan, semakin banyak Kristus yang kunikmati, semakin banyak Allah yang kunikmati, semakin banyak unsur ilahi yang kunikmati dan semakin banyak aku dibawa ke dalam kemuliaan.”

Kini kita mengenal makna sebenarnya dari Ibrani 2:17,18. Kristus meliputi banyak hal: Dia adalah Putra Allah, Anak Manusia, Pencipta, Penopang segala yang ada, Ahli waris segala sesuatu, Dialah yang pernah menderita maut dan menjadi kurban pendamaian bagi dosa-dosa kita, Dia telah memusnahkan Iblis, membebaskan kita dari perhambaan maut. Tuhan yang sedemikian benar-benar memenuhi syarat untuk menjadi Pemimpin keselamatan kita. Sebagai Pemimpin, Ia menolong kita dari segala keadaan yang rendah dan memasukkan kita ke dalam kemuliaan Allah. Ia tidak menolong kita secara obyektif, melainkan menyuplaikan Allah ke dalam kita, bahkan mengenakan dan mengangkat kita secara subyektif. Ketika kita mengalami pertolonganNya ini, kita pun mengambil bagian dalam unsur Allah dan dibawa ke dalam ekspresi kemuliaan Allah. Inilah jalan Tuhan membawa kita ke dalam kemuliaan.