← Daftar isi Lukas (2) · bab 4/24

MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (8)

Pembacaan Alkitab: Luk. 12:49-59

KERINDUAN TUHAN UNTUK DIBEBASKAN MELALUI KEMATIAN

Dalam 12:1-48 Manusia-Penyelamat memperingatkan murid-murid-Nya tentang kemunafikan agama (ay. 1-12), ketamakan (ay. 13-34), dan tentang kewaspadaan dan kesetiaan (ay. 35-48). Kemudian dalam 12:49-53 Dia menyatakan kerinduan untuk dibebaskan melalui kematian-Nya. Di sini kita nampak bahwa Tuhan ingin dibebaskan sepenuhnya dari belenggu daging-Nya. Bagian dari firman yang pendek ini sangat dalam, dan kita perlu pengalaman rohani yang memadai untuk memahaminya.

Ketika saya berada di Shanghai lebih dari lima puluh tahun yang lalu, saya membaca satu buku yang ditulis oleh saudara T. Austin-Sparks yang berjudul The Release of the Lord. Buku itu merujuk kepada 12:49-50. Penulisnya me-nunjukkan bahwa Tuhan terbelenggu dalam inkarnasi-Nya dan terkurung dalam daging-Nya. Dia adalah Allah, dan Dia memiliki hayat ilahi sebagai esens, kekuatan, dan kuat kuasa-Nya. Meskipun demikian, Dia terkurung dalam ke-insanian-Nya, yang merupakan suatu pembatasan bagi hakiki ilahi-Nya. Karena itu, Dia perlu dibebaskan melalui kematian; yaitu, Dia damba agar hakiki ilahi-Nya dibebaskan melalui kematian.

Lukas 12:49-50 berhubungan dengan Yohanes 12:24, ”Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Di sini Tuhan menyamakan diri-Nya sendiri dengan sebiji gandum. Jika sebiji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji. Tetapi bila ia jatuh ke dalam tanah dan mati, kematian biji itu akan membebaskan hayat di da-lamnya. Kita dapat mengatakan bahwa kematian akan men-jadi satu kebebasan bagi hayat batini dari biji gandum itu. Melalui pembebasan yang demikian, kekayaan hayat dari biji gandum itu menghasilkan banyak butir gandum. Tuhan Yesus sebagai sebiji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan melalui kematian kehilangan hayat jiwa-Nya supaya Dia dapat membebaskan hayat kekal-Nya di dalam kebangkitan kepada banyak butir gandum.

Bila kita membandingkan Yohanes 12:24 dengan Lukas 12:49-50, kita akan nampak bahwa kedua bagian dari Alki-tab ini menggambarkan pembebasan hayat ilahi, atau pem-bebasan hakiki ilahi dari Persona Tuhan. Sebagai Allah, Tuhan Yesus memiliki hayat kekal yang tidak terbatas. Namun, hayat yang tidak terbatas ini sangat dibatasi dan tertahan di dalam keinsanian-Nya, di dalam daging-Nya. Karena itu, Tuhan gelisah dan mendambakan kebebasan hayat ilahi-Nya. Bila hayat ilahi ini dibebaskan dari dalam-Nya, Dia dapat menyalurkannya ke dalam banyak orang beriman-Nya. Inilah pemikiran yang mendasar dalam 12:49-53.

DATANG UNTUK MELEMPARKAN API KE BUMI

Dalam 12:49 Tuhan Yesus berkata, ”Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala!” ”Api” ini adalah daya dobrak hayat rohani yang berasal dari pembebasan hayat ilahi Tuhan dan yang menyebabkan perpecahan yang disebut dalam ayat 51-53. Dalam ayat-ayat ini kita nampak bahwa akan ada perpecahan di dalam keluarga kaum beriman. Perpecahan ini timbul dari api yang adalah daya dobrak hayat rohani, dan daya dobrak ini berasal dari pembebasan hayat ilahi Tuhan. Hayat-Nya terkurung, dan Tuhan ingin dibebaskan. Dia ingin api ini menyala.

Dalam ayat 49 Tuhan berkata, ”Betapa Aku harapkan, api itu telah menyala!” Bagian ayat ini dapat juga diterje-mahkan ”Betapa Kuharapkan api itu menyala!” Ini menunjukkan bahwa api itu baru menyala ketika Tuhan mati. Kita tahu dari catatan dalam Kisah Para Rasul bahwa setelah Tuhan mati api ini menyala.

TERTEKAN SAMPAI BAPTISAN-NYA

DIGENAPKAN

Dalam 12:50 Tuhan selanjutnya berkata, ”Aku harus di-baptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana!” Kata ”baptisan” di sini mengingatkan kita akan perkataan Tuhan kepada Yakobus dan Yohanes dalam Markus 10:38: ”Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” Cawan dan baptisan mengacu kepada kematian Tuhan. Cawan menunjukkan bahwa kematian-Nya adalah bagian yang Allah berikan kepada-Nya demi orang-orang dosa yang akan Dia tebus bagi Allah. Baptisan mene-kankan bahwa kematian-Nya adalah jalan yang ditentukan Allah kepada-Nya untuk dilalui-Nya demi penggenapan pene-busan Allah bagi orang-orang dosa.

Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”susah” dalam Lukas 12:50 dapat juga diterjemahkan ”terbatas”. Tuhan dibatasi dalam daging-Nya, yang Dia kenakan dalam inkar-nasi-Nya. Dia perlu mengalami kematian jasmani, dibaptis, supaya diri ilahi-Nya yang tidak terhingga dan tidak terbatas bersama hayat ilahi-Nya boleh dibebaskan dari tubuh daging-Nya. Hayat ilahi-Nya, setelah dibebaskan melalui kematian jasmani-Nya, menjadi daya dobrak hayat rohani kaum beriman dalam kebangkitan.

PERTENTANGAN DI ANTARA DUA KERAJAAN

Dalam 12:51 Manusia-Penyelamat berkata, ”Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” Di sini Tuhan bertanya, apakah murid-murid mengira bahwa Dia datang untuk membawa damai sejahtera di bumi. Di satu pihak, Tuhan memang datang untuk membawa damai sejahtera. Ketika Dia datang, damai sejahtera juga datang, karena Dia membawa damai sejah-tera kepada manusia. Ketika Dia lahir, banyak tentara surga memuji Allah dan berkata, ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (2:14). Maka, kedatangan Penyelamat ini membawa kemuliaan bagi Allah di surga dan membawa damai sejahtera kepada manusia di bumi. Dalam Efesus 2:14 Paulus bahkan mengatakan bahwa Kristus adalah damai sejahtera kita. Tetapi di pihak lain, Tuhan tidak datang untuk membawa damai sejahtera, melainkan pertentangan. Pertentangan ini terjadi karena hayat setan di dalam orang-orang yang tidak percaya bergumul melawan hayat ilahi di dalam kaum beriman — yang merupakan suatu pertentangan antara kerajaan setan dan Kerajaan Allah.

Tuhan mengatakan satu perkataan yang mirip dalam Matius 10:34: ”Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Seluruh bumi berada di bawah kuasa si jahat (1 Yoh. 5:19). Tuhan Yesus datang untuk memanggil beberapa orang keluar dari peram-pasannya. Ini pasti menimbulkan perlawanan dari Iblis, dan ia menghasut orang-orang di bawah perampasannya untuk berperang melawan orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan. Sebenarnya, kedatangan Tuhan bukan membawa damai, melainkan pedang.

Pertentangan antara hayat setan dengan hayat ilahi sebenarnya adalah suatu peperangan antara kerajaan Iblis dengan Kerajaan Allah. Kerajaan adalah perihal hayat; maksudnya, kerajaan tertentu memiliki hayat macam tertentu. Misalnya, kita membicarakan kerajaan sayur-sayuran. Kerajaan sayur-sayuran tergantung pada hayat sayur-sayuran. Demikian juga, kerajaan manusia tergantung pada hayat manusia, dan Kerajaan Allah tergantung pada hayat Allah. Karena kita memiliki hayat Allah, maka kita memiliki realitas Kerajaan Allah, dan kita berada dalam realitas ini. Tetapi orang-orang yang tidak percaya hidup berdasarkan hayat Iblis, mereka berada dalam alam atau kerajaan yang lain. Ini berarti mereka berada dalam realitas kerajaan Iblis. Kerajaan Allah tidak sama dengan kerajaan Iblis, bahkan bertentangan satu sama lain. Maka, ada satu pergumulan antara Kerajaan Allah dengan kerajaan Iblis, dan pergumulan ini menimbulkan perpecahan.

Dalam Lukas 12:52 Tuhan melanjutkan, ”Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.” Per-tentangan ini terjadi berkali-kali sepanjang sembilan belas abad belakangan ini.

Dalam ayat 53 Tuhan melanjutkan, ”Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.” Di sini secara khas Lukas menyinggung hal ini dengan terperinci. Pertentangan yang digambarkan di sini tidak menyenangkan, karena hal ini ditimbulkan oleh pergumulan di antara dua hayat, hayat ilahi dan hayat setan.

Dari 12:51-53 kita telah nampak bahwa akan ada pertentangan yang disebabkan oleh hayat setan di dalam orang-orang yang tidak percaya yang bergumul melawan hayat ilahi di dalam kaum beriman. Kita telah menunjuk-kan bahwa ini adalah suatu pertentangan antara kerajaan setan dengan Kerajaan Allah.

Sekarang kita memahami pemikiran yang disampaikan dalam ayat-ayat ini. Kita tidak boleh melakukan apa-apa untuk memulai suatu peperangan di dalam keluarga kita. Kita tidak boleh mendatangi orang-orang di dalam keluarga kita dan berkata, ”Aku memiliki hayat ilahi, tetapi kalian tidak memiliki hayat ilahi. Karena aku memiliki hayat ilahi, maka akan ada peperangan antara aku dengan kalian. Sekalipun aku tidak menghendaki melawan kalian, tetapi kalian akan melawan aku.” Mengatakan seperti ini bodoh sekali. Kita bukannya melakukan sesuatu untuk merangsang pertentangan dengan keluarga kita, sebaliknya kita harus menempuh suatu kehidupan yang merendahkan diri, damai sejahtera, dan taat, serta membiarkan Tuhan bekerja di dalam situasi itu.

AJARAN TENTANG MEMBEDAKAN ZAMAN

Dalam 12:54-59 terdapat ajaran Tuhan tentang membedakan zaman. Firman-firman Tuhan yang tercatat dalam ayat 49-53 ini disampaikan kepada murid-murid-Nya. Apa yang Dia katakan dalam ayat 54-59 ditujukan kepada orang banyak, kepada orang-orang yang tidak percaya.

Dalam 12:54-56 Tuhan berkata kepada orang banyak, ”Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” Kata ”menilai” dalam ayat 56 juga berarti membuktikan dengan menguji, dan ”rupa” berarti penampilan. Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” juga dapat diterjemahkan ”tetapi kamu tidak tahu bagaimana menilai zaman ini.” Membedakan zaman ini adalah membedakan tanda-tanda zaman (Mat. 16:3). Tanda-tanda ini adalah Yohanes Pembaptis telah da-tang untuk mengumumkan kedatangan Mesias, seperti yang telah dinubuatkan (Luk. 3:2-6, 15-17), dan bahwa Mesias sekarang ada di sana, melayankan diri-Nya supaya orang-orang itu dapat menerima Dia dan diselamatkan. Orang-orang dapat membedakan tanda-tanda tentang cuaca dan rupa bumi dan langit, tetapi mereka tidak dapat membedakan tanda-tanda yang dibawa oleh Yohanes Pembaptis dan oleh Mesias sendiri.

Dalam ayat 57 Tuhan melanjutkan, ”Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?” Bahkan tanpa pengajaran Tuhan pun, orang-orang Yahudi memiliki cukup banyak tanda untuk memutuskan sendiri jalan yang benar untuk diikuti dan hal yang tepat untuk dilakukan pa-da zaman itu, yaitu menerima Tuhan dan mengikuti Dia. Namun, mereka menolak menerima Dia dan mengikuti Dia.

PERKATAAN YANG DIKATAKAN KEPADA

ORANG BANYAK UNTUK PERTOBATAN

DAN KESELAMATAN

Dalam ayat 58-59 Tuhan berkata, ”Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, ber-usahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” Kata ”lunas” dalam bahasa aslinya adalah ”lepta yang terakhir”. Lepta atau lepton, adalah uang logam terkecil di antara mata uang Yunani-Roma di Palestina. Kata ”sebab” pada permulaan ayat 58 menunjukkan bahwa ayat 58-59 adalah kelanjutan dari ayat 57. Manusia-Penyelamat menyuruh orang-orang Yahudi bahwa ketika mereka masih berada dalam perjalanan (pergi), di bawah hukum Taurat (lawan mereka — Yoh. 5:45) untuk bertemu dengan Allah (pemerintah) dan dihakimi oleh Kristus (hakim — Yoh. 5:22; Kis 17:31), mereka seharusnya berusaha terlepas dari lawan mereka supaya mereka tidak dihakimi oleh Kristus dan dilemparkan ke dalam telaga api (penjara — Why. 20:11-15) oleh malaikat (pembantu — lihat Mat. 13:41). Jika hal itu terjadi, mereka tidak akan keluar dari situ selama-lamanya (Luk. 12:59).

PERKATAAN YANG DIKATAKAN KEPADA

MURID-MURID AGAR MEREKA

MEMILIKI KEHIDUPAN KERAJAAN

Perkataan dalam 12:58-59 dikatakan kepada orang banyak (ay. 54) agar mereka bertobat dan beroleh selamat. Tetapi dalam Matius 5:25 dan 26, perkataan ini diterapkan kepada murid-murid agar mereka memiliki kehidupan ke-rajaan: ”Segeralah berdamai dengan lawanmu selama eng-kau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” Di sini Tuhan mengatakan bahwa kita harus ”segera berdamai” kalau tidak kita mati, atau lawan kita yang mati, atau Tuhan datang kembali, maka tidak ada kesempatan bagi kita untuk berdamai dengan lawan kita. ”Lawan” dalam bahasa Yunani berarti lawan di dalam hukum, penuntut hu-kum. ”Di tengah jalan” menunjukkan bahwa kita masih hidup di dunia pada hari ini. Diserahkan kepada hakim itu akan terjadi di takhta penghakiman Kristus, sewaktu Dia datang kembali (2 Kor. 5:10; Rm. 14:10). ”Hakim” adalah Tuhan, ”pengawal” adalah malaikat, dan ”penjara” adalah tempat pendisiplinan. ”Keluar dari sana” (penjara) adalah diampuni di zaman yang akan datang, zaman Kerajaan Seribu Tahun.

Frase ”sampai lunas” di atas dalam bahasa aslinya berarti ”dengan keping (kuadran) yang terakhir/penghabisan”. Kuadran Romawi adalah mata uang tembaga terkecil yang sebanding dengan seperempat asarion. Maksudnya di sini adalah bahkan hal yang paling kecil pun perlu kita bereskan dengan tuntas. Pemberesan semacam ini berhubungan dengan kehidupan kerajaan.