MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (7)
Pembacaan Alkitab: Luk. 12:1-48
Dalam berita pasal 11 kita nampak bahwa bila kita mendoakan diri kita ke dalam Allah dan menerima suplai-Nya yang kaya, yang adalah suplai yang limpah lengkap dari Roh yang almuhit, kita akan dipenuhi dan diduduki oleh suplai ini sehingga di dalam kita tidak ada ruang bagi setan-setan atau roh-roh jahat. Karena kita dipenuhi dengan ke-kayaan suplai ilahi ini, maka kita penuh dengan terang dan kita dapat menerangi orang lain. Terang ini kemudian mem-bawa kita ke dalam Kristus sebagai Dia yang telah melalui kematian dan masuk ke dalam kebangkitan. Sekarang kita dapat mengalami Dia sebagai Yunus dan Salomo yang sejati. Di dalam Dia sebagai Salomo yang sejati kita mengenal hik-mat Allah, tujuan kekal Allah, dan ekonomi Allah. Di dalam ekonomi ini kita menikmati rahasia Allah. Rahasia ini ada-lah Kristus sebagai ekspresi Allah dan gereja sebagai eks-presi Kristus. Inilah yobel yang sesungguhnya.
Dengan mendoakan diri kita ke dalam Allah untuk menikmati kekayaan suplai-Nya, kita mengalami keilahian dan keinsanian Kristus. Kita menikmati atribut-atribut ilahi dan kebajikan-kebajikan insani-Nya. Kemudian kita menempuh suatu kehidupan yang berasal dari standar moralitas yang tertinggi, dan standar moralitas ini membuat kita dapat menikmati yobel Perjanjian Baru.
Lukas pasal 11 sampai pasal 14 sulit dipahami. Sewaktu kita membahas pasal-pasal ini, kita perlu menyadari bahwa pemahaman alamiah kita terhadap firman kudus ini benar-benar tidak dapat diandalkan. Untuk memahami kitab apa pun dari Alkitab, kita perlu mengenal prinsip-prinsip dan unsur-unsur yang mendasari kitab tersebut. Kita perlu menemukan prinsip-prinsip yang mengendalikannya dan unsur-unsur yang mendasar dari kitab tersebut. Banyak pembaca Perjanjian Baru yang belum melihat prinsip-prinsip yang mengendalikan dan unsur-unsur yang mendasari Injil Lukas ini. Kita berterima kasih kepada Tuhan bahwa dalam belas kasihan-Nya, Dia telah memperlihatkan kepada kita hal-hal ini. Berdasarkan apa yang telah kita lihat tentang prinsip-prinsip yang mengendalikan dan unsur-unsur yang mendasar dari Injil Lukas ini, kita memiliki gambaran yang tepat untuk melihat makna dan arti dari pasal 11 sampai pasal 14.
Tidak mudah memasuki kedalaman pasal 11 dan melihat maknanya. Memasuki kedalaman pasal 12 dan menyerap maknanya lebih sulit lagi.
Lukas 12:1-48 mengandung tiga peringatan: Peringatan mengenai kemunafikan agama (ay. 1-12), peringatan mengenai keserakahan (ay. 13-34), dan peringatan untuk berjagajaga dan setia (ay. 35-48). Kita perlu menerima ketiga peringatan ini, peringatan yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari firman Tuhan dalam pasal 11. Dalam berita ini kita akan berusaha memahami makna dari peringatanperingatan yang diberikan oleh Manusia-Penyelamat di sini.
Menurut pasal 11, kita perlu mendoakan diri kita ke dalam Allah supaya kita dapat tetap tinggal di dalam Dia dan dipenuhi dengan kekayaan-Nya, dipenuhi dengan Roh pem-beri-hayat yang almuhit, sehingga kita dapat menempuh suatu kehidupan di dalam standar moralitas yang tertinggi untuk menikmati dan berbagian dalam yobel Perjanjian Baru. Kita perlu ingat bahwa firman Tuhan yang tercatat dalam pasal 11 dikatakan sewaktu Dia mendekati Yerusalem. Ini berarti sewaktu Dia mengajar murid-murid me-ngenai hal-hal rohani, Dia sedang mendekati Yerusalem.
PUSAT AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Pada waktu itu, Yerusalem adalah pusat agama Yahudi dan pusat kebudayaan yang tinggi dengan barang-barang materi. Orang-orang yang hidup di Yerusalem memperhati-kan agama dan barang-barang duniawi untuk menikmati kehidupan yang lebih baik. Karena itu, sebagai ibukota Yudea, Yerusalem memiliki ciri agama dan kebudayaan de-ngan kenikmatan terhadap hal-hal materi.
Dalam pasal 11 sampai pasal 14 Tuhan Yesus melatih para pengikut-Nya menempuh suatu kehidupan dengan standar moralitas yang tertinggi supaya mereka dapat di-bawa masuk ke dalam partisipasi yang penuh terhadap yobel Perjanjian Baru. Kita telah nampak bahwa pengajaran ini diberikan dalam perjalanan ke Yerusalem.
Sewaktu Tuhan dan murid-murid-Nya berada dalam perjalanan dari Galilea ke Yerusalem, hati-Nya tertuju pada satu hal, sedangkan hati murid-murid-Nya tertuju pada hal lainnya. Hati Tuhan tertuju pada kematian-Nya. Dia pergi ke Yerusalem untuk mati terhadap agama dan kebudayaan yang ada di sana; Dia tidak pergi ke Yerusalem untuk berbagian dalam hal-hal itu. Di Yerusalem Tuhan akan mati terhadap agama dan kebudayaan; Dia akan mati terhadap kehidupan sekarang ini dan terhadap semua barang duniawi. Murid-murid Tuhan memiliki sesuatu yang sangat berlainan dalam hati mereka. Mereka mengira Tuan mereka akan pergi ke Yerusalem untuk menerima kerajaan. Hal itu membuat kita paham mengapa Yohanes dan Yakobus, anak-anak guruh itu, minta kepada Tuhan agar mereka dapat duduk bersama Dia di sebelah kanan dan kiri-Nya di dalam kerajaan-Nya (Mrk. 10:35-45). Hati mereka penuh dengan pemikir-an tentang kerajaan. Tuan mereka telah sukses besar di Galilea dan sekarang, mereka berpikir, inilah saat-Nya un-tuk pergi ke ibukota, ke Yerusalem, untuk mengambil takhta dan menerima kerajaan.
Tetapi hati Tuhan adalah hati yang memikirkan kepergian ke Yerusalem untuk mati. Tuhan tidak mengapresiasi agama maupun kebudayaan dengan harta duniawinya. Karena itu, dalam pasal 12 Lukas menjajarkan peristiwa-peristiwa ini untuk memperlihatkan bahwa Tuhan tidak tertarik terhadap agama atau barang-barang duniawi di Yerusalem.
MEMPERINGATKAN TENTANG
KEMUNAFIKAN AGAMA
Dalam 12:1 Tuhan memberikan satu peringatan mengenai kemunafikan agama: ”Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desak-an. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.” Tuhan menyuruh kita waspada khususnya terhadap kemunafikan agama Yahudi, karena Dia berbicara tentang ”ragi orang Farisi, yaitu kemunafikan”. Sebenarnya, semua agama mengarah kepada kemu-nafikan. Tidak ada kemunafikan yang lebih hebat selain di dalam agama. Agama adalah satu ladang, satu alam, yang subur bagi kemunafikan. Perhatikan kemunafikan di dalam agama Yahudi ketika Tuhan Yesus berada di bumi. Betapa munafiknya orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, dan pengajar-pengajar hukum Taurat! Dalam Matius 23 Tuhan mengatakan celakalah mereka karena kemunafikan mereka. Di sini, dalam 12:1 Tuhan menyingkapkan kemunafikan agama Yahudi.
Dalam 12:1 kita nampak bahwa kemunafikan orang-orang Farisi sama dengan ragi. Ragi dalam Perjanjian Baru me-lambangkan unsur kerusakan. Di sini Tuhan memperingat-kan kita agar waspada terhadap ragi orang-orang Farisi, yang adalah kemunafikan. Orang-orang Farisi itu palsu dan kepalsuan mereka telah sampai pada puncaknya, menjadi kemunafikan yang adalah ragi, unsur kerusakan, dalam agama Yahudi.
Semua murid Tuhan adalah orang-orang Yahudi. Karena mereka semua berasal dari satu sumber Yahudi, maka mereka memiliki apresiasi yang dalam terhadap agama Yahudi dan memiliki perhatian yang besar terhadap orang-orang Farisi. Mereka mengira orang-orang Farisi adalah orang-orang yang memiliki satu moralitas yang tinggi. Te-tapi sewaktu Manusia-Penyelamat mendekati Yerusalem, pusat agama yang munafik, Dia mulai menyingkapkan ke-munafikan agama itu kepada para pengikut-Nya. Karena itu, Dia berkata kepada murid-murid, ”Waspadalah terhadap ragi orang Farisi, yaitu kemunafikan.”
Dalam 12:2-12 Tuhan selanjutnya memberi tahu murid-murid-Nya bahwa kemunafikan agama pada akhirnya akan mengarah kepada penganiayaan terhadap para pengikut-Nya yang tulus dan jujur. Kemunafikan agama selalu menjadi sumber penganiayaan terhadap para pengikut Yesus yang sejati. Sebagai orang-orang yang berada dalam yobel Perjanjian Baru pada hari ini, kita perlu waspada terhadap kemunafik-an dalam agama, karena kemunafikan ini akan menjadi satu sumber penganiayaan. Sewaktu para pengikut sejati Tuhan menikmati yobel ini, mereka akan ditentang oleh orang-orang yang munafik dalam agama yang munafik. Penentangan ini akan berkembang menjadi penganiayaan, penganiayaan ter-hadap para pengikut sejati Tuhan Yesus yang sedang menga-lami yobel Perjanjian Baru.
MEMPERINGATKAN AGAR TIDAK TAMAK
Dalam 12:13-34 Tuhan memberikan peringatan lainnya kepada murid-murid-Nya, yaitu peringatan mengenai ke-tamakan. Lukas menjajarkan dua peringatan ini dengan sa-tu kelanjutan yang bermakna. Di Yerusalem bukan hanya ada bahaya kemunafikan agama, tetapi juga ada bahaya ke-tamakan terhadap barang-barang materi.
Lukas 12:13 mengatakan, ”Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, Guru, katakanlah kepada saudara-
ku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tuhan mengambil hal ini sebagai satu kesempatan untuk memperingat-kan murid-murid tentang ketamakan. Pertama, Tuhan ber-kata kepada orang yang memohon agar Tuhan memberi tahu saudaranya untuk berbagi warisan dengannya, ”Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” (ay. 14). Kemudian Dia selanjutnya berkata kepada murid-murid-Nya, ”Berjaga-jagalah dan was-padalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun se-orang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah ter-gantung pada kekayaannya itu” (ay. 15). Kemudian Tuhan menyampaikan perumpamaan yang tercatat dalam ayat 16 sampai 21.
Jika kita berada di dalam yobel, berbagian dalam warisan Allah Tritunggal dalam Perjanjian Baru, kita perlu was-pada terhadap ketamakan akan barang-barang duniawi. Hidup kita dalam Allah tidak tergantung pada harta se-macam itu. Mungkin kita lebih baik menjual barang-barang materi kita. Dalam ayat 33 Tuhan berkata, ”Juallah segala milikmu dan berilah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di surga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusak ngengat.” Di sini yang penting adalah sewaktu kita berbagian dalam yobel Perjanjian Baru, kita tidak boleh berpegang kepada barang-barang materi sebagai harta duniawi. Kita perlu menyimpan harta bagi kita di surga.
Dalam 12:1-34 Tuhan mengingatkan murid-murid mengenai agama dan barang-barang duniawi. Sewaktu Dia mendekati Yerusalem, Dia berbicara kepada mereka mengenai hal-hal ini. Kemunafikan dan ketamakan adalah masalah besar yang mempengaruhi kenikmatan para pengikut sejati Yesus terhadap yobel Perjanjian Baru.
FIRMAN MENGENAI KEKHAWATIRAN
Mulai ayat 22, Tuhan memerintahkan murid-murid agar tidak khawatir terhadap kehidupan mereka: ”Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, Karena itu Aku berkata kepada-mu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai.” Karena Bapa kita di surga merawat kita, maka kita tidak perlu khawatir tentang makanan atau pakaian.
Dalam ayat 24 Tuhan berkata, ”Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun Allah mem-beri mereka makan. Kamu jauh lebih berharga daripada bu-rung-burung itu!” Dia juga memakai ilustrasi bunga bakung: ”Perhatikanlah bunga bakung, yang tidak memintal dan tidak menenun, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya!” (ay. 27-28). Daripada khawatir, kita seharusnya memiliki iman kepada Bapa surgawi kita.
Dalam 12:31 Tuhan berkata, ”Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepada-mu.” Kita harus mencari Kerajaan Allah, kerajaan ini se-benarnya adalah yobel Perjanjian Baru. Jika kita mencari yobel, Bapa akan memberikan makanan dan pakaian kepada kita. Dia akan menambahkan hal-hal itu kepada kita. Tuhan mengatakan bahwa Bapa kita berkenan memberikan keraja-an kepada kita (ay. 32). Sesungguhnya Dia tidak akan melupakan kebutuhan kita. Tuhan dengan jelas berkata, ”Bapa-mu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu” (ay. 30). Kita di sini adalah bagi yobel, bagi kerajaan, dan karena Bapa berkenan memberikan kerajaan kepada kita, Dia pasti akan memperhatikan kebutuhan materi kita. Karena itu, kita tidak perlu khawatir atau memiliki kekhawatiran.
Lebih dari lima puluh tahun yang lalu, Tuhan menyuruh saya berhenti bekerja dan melayani Dia sepenuh waktu. Ketika saya dipanggil oleh Tuhan, saya memakai cara alamiah saya menghitung-hitung kehidupan saya. Saya berkata, ”Tuhan, aku rela makan daun pohon-pohonan dan minum air dari mata air di gunung-gunung. Aku puas hidup seperti itu, tetapi Engkau harus merawat istri dan anak-anakku.” Tentunya, Tuhan tidak membiarkan saya hidup de-ngan cara begitu. Dia merawat kebutuhan saya dan kebu-tuhan keluarga saya. Yang penting di sini adalah meskipun kita tidak memiliki iman kepada Bapa kita, tetapi Dia itu setia.
Beberapa orang dari antara kalian mungkin berniat melayani Tuhan sepenuh waktu. Jika Anda memiliki kecen-derungan yang dalam untuk melayani Tuhan sepenuh wak-tu, saya mendorong Anda untuk melakukannya. Keluarlah dari ”kapal” profesi Anda, lompatlah ke dalam air, dan lihat-lah apakah Anda akan ”tenggelam”. Pengalaman saya me-nunjukkan, setelah saya meninggalkan kapal itu, Tuhan ti-dak membiarkan saya tenggelam. Pada mulanya, saya memberi tahu Tuhan bahwa saya berada di dalam sebuah kapal yang baik. Saya mengatakan bahwa saya bersandar kepada-Nya tetapi masih perlu sebuah kapal. Namun, Tuhan menyuruh saya melompat keluar dari kapal itu. Kemudian saya memberi tahu Dia bahwa saya tidak memiliki iman sebesar itu. Tetapi ini bukanlah soal iman kita; ini adalah soal kesetiaan-Nya.
Kita semua perlu diselamatkan dari kekhawatiran hidup. Kita tidak perlu khawatir tentang makanan dan pakaian. Pemenuhan kebutuhan ini tergantung pada kesetiaan Allah. Dia itu setia, dan kita harus memandang kepada-Nya untuk keperluan kita.
MEMPERINGATKAN TENTANG KEWASPADAAN
DAN KESETIAAN
Jika kita ingin menempuh suatu kehidupan dengan standar moralitas yang tertinggi untuk berbagian dalam yobel Perjanjian Baru dan menikmati Allah sampai pada puncaknya, kita perlu waspada terhadap kemunafikan, ketamakan, dan kekhawatiran. Kita juga perlu peringatan lainnya — tentang kewaspadaan dan kesetiaan. Kita tidak boleh tertawan oleh agama atau disimpangkan oleh ke-khawatiran. Sebaliknya, kita harus belajar waspada dan se-tia, yaitu melayani Tuhan kita yang akan datang kembali, dengan kewaspadaan dan kesetiaan.
Kita perlu memperhatikan dengan saksama atas peringatan ketiga ini, karena ini berkenaan dengan partisipasi kita dalam yobel di zaman yang akan datang. Yobel dalam Perjanjian Baru terdiri dari dua zaman: zaman sekarang (zaman kasih karunia) dan zaman yang akan datang (zaman kerajaan atau milenium). Yobel dalam zaman kasih karunia ini merupakan pencicipan dari yobel di zaman kerajaan. Namun, bahkan yobel dalam Kerajaan Seribu Tahun pun bukanlah pencicipan yobel yang penuh. Kepenuhan yobel ini akan berada dalam langit baru dan bumi baru. Dari hal ini kita nampak bahwa ada tiga tahap dari yobel Perjanjian Baru: Tahap yang pertama di zaman kasih karunia ini, tahap yang kedua di zaman kerajaan, dan tahap yang ketiga dalam langit baru dan bumi baru, di mana kita berbagian dalam yobel yang kekal di Yerusalem Baru.
Tuhan Yesus membawa Petrus, Yohanes, Yakobus, dan murid-murid lainnya ke dalam realitas yobel di zaman kasih karunia. Dalam peringatan-peringatan yang tercatat dalam pasal 12 ini ada satu petunjuk bahwa akan ada yobel yang lebih lanjut dalam zaman yang akan datang. Maka, yobel bukan hanya ada di zaman kasih karunia ini, melainkan juga ada di zaman kerajaan yang akan datang. Tuhan seolah-olah memperingatkan murid-murid dengan berkata, ”Kini kalian mengikut Aku, kamu boleh berbagian dalam yobel pada zaman ini. Tetapi kalian akan kehilangan yobel di zaman yang akan datang jika kalian tidak waspada dan setia se-waktu Aku belum kembali.”
Dalam pasal 11 kita tidak nampak sesuatu tentang yobel di zaman yang akan datang. Tetapi dalam 12:35-48 Tuhan menyinggung yobel dalam zaman kerajaan yang akan datang. Banyak orang beriman akan kehilangan yobel di zaman yang akan datang. Kita mungkin berada dalam yobel pada zaman ini, tetapi jika kita tidak setia dalam kenik-matannya, kita akan kehilangan yobel di zaman yang akan datang. Karena alasan ini, dalam ayat 35-38 kita nampak satu peringatan mengenai kehilangan yobel di zaman yang akan datang.
Dalam yobel warisan kita dipulihkan. Tetapi setelah warisan kita — hak kita untuk menikmati Allah Tritunggal — dipulihkan, kita masih perlu waspada dan setia. Jika tidak, kita akan kehilangan hak ini lagi, tetapi bukan secara kekal melainkan secara zaman dalam kerajaan yang akan datang. Ini berarti dalam zaman yang akan datang, kita ti-dak dapat menikmati hak keputraan kita dalam yobel, malahan kita akan menderita pendisiplinan, seperti yang ditunjukkan dengan kata ”pukulan” dalam ayat 47 dan 48.
Sekarang mari kita jajarkan ketiga peringatan dalam pasal 12 ini — peringatan terhadap kemunafikan agama, peringatan terhadap ketamakan dan kekhawatiran atas barang-barang milik duniawi, dan peringatan tentang ke-waspadaan dan kesetiaan. Jika kita tidak berjaga-jaga terhadap kemunafikan dalam agama, ketamakan, dan kekhawatiran mengenai barang-barang materi pada hari ini, kita tidak akan menikmati yobel di zaman ini. Selanjutnya, kita perlu nampak bahwa kita mungkin menikmati yobel di zaman ini, tetapi kehilangan kenikmatan yobel di zaman yang akan datang bila kita tidak waspada dan setia selama Tuhan belum kembali.
Agar kita berbagian dalam yobel di zaman ini, kita perlu peringatan mengenai kemunafikan dalam agama dan ke-tamakan dan kekhawatiran terhadap barang-barang materi. Jika kita memperhatikan kedua peringatan ini, kita akan menikmati yobel pada hari ini di zaman kasih karunia ini. Tetapi sewaktu kita menikmati yobel di zaman sekarang ini, kita perlu waspada dan setia selama Tuhan belum kembali. Jika kita tidak waspada dan Tuhan datang kembali serta menemukan kita tidak waspada dan setia, maka kita akan kehilangan kenikmatan terhadap yobel yang akan datang.
Marilah kita berjaga-jaga terhadap kemunafikan dalam agama dan kekhawatiran yang membuat kita khawatir tentang hidup kita, khususnya tentang makanan dan pa-kaian. Marilah kita berjaga-jaga terhadap hal-hal ini supaya kita dapat berbagian dalam yobel pada hari ini. Kemudian sewaktu kita menikmati yobel ini, waspadalah dan setialah dalam melaksanakan amanat Tuhan. Jika tidak, ketika Tuhan datang kembali, Dia akan menemukan kita tidak waspada dan tidak setia. Akibatnya, kita akan kehilangan kenikmatan terhadap yobel di zaman kerajaan yang akan datang.