MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (6)
Pembacaan Alkitab: Luk. 11:1-54
Lukas 11:1-54 meliputi empat hal: Pengajaran Manusia-Penyelamat tentang doa (ay. 1-13), Dia ditolak oleh angkatan yang jahat (ay. 14-32), peringatan-Nya untuk tidak tinggal dalam kegelapan (ay. 33-36), teguran-Nya terhadap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat (ay. 37-54). Kita telah mem-bahas bagian yang pertama dalam berita sebelumnya. Dalam berita ini kita akan membahas tiga bagian lainnya dari pa-sal ini.
DITOLAK OLEH ANGKATAN YANG JAHAT
Dalam 11:14-32 kita nampak Manusia-Penyelamat ditolak oleh angkatan yang jahat ini. Bagian ini dimulai dengan catatan tentang mengusir setan: ”Pada suatu kali Yesus mengusir dari seseorang suatu setan yang membisukan. Ktika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak.” Bisu oleh karena kerasukan se-tan menandakan ketidakmampuan untuk berbicara bagi Allah (Yes. 56:10) dan memuji Allah (Yes. 35:6) karena menyembah berhala-berhala bisu (1 Kor. 12:2). Orang bisu berbicara di sini melambangkan pemulihan kemampuan ber-bicara dan memuji dengan dipenuhi oleh Tuhan di dalam roh (Ef. 5:18-19).
Menurut Lukas 11:15, beberapa orang berkata, ”Ia meng-usir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Beelzebub berarti dewa lalat, yaitu nama dewa bangsa Ekron (2 Raj. 1:2). Istilah ini diganti menjadi Beelzebul oleh orang Yahudi, yang berarti dewa tahi, dan dipakai untuk menyebut pemimpin roh-roh najis (Mat. 12:24, 27; Mrk. 3:22). Orang-orang dalam Lukas 11:15 mencemooh Manusia-Penyelamat dengan mengatakan bahwa Dia mengusir setan dengan pemimpin setan. Nama yang sangat menghujat ini menyatakan penghinaan dan penolakan yang tegas.
MENGUSIR SETAN-SETAN BERSANDAR
JARI ALLAH
Dalam ayat 17-18 Tuhan selanjutnya berkata kepada orang-orang yang menuduh-Nya mengusir setan-setan dengan kuasa Beelzebul, ”Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.” Perkataan Tuhan menunjukkan bahwa Iblis memiliki sebuah kerajaan. Iblis adalah penguasa dunia ini (Yoh. 12:31) dan penguasa kerajaan angkasa (Ef. 2:2). Ia memiliki kuasa (Kis. 26:18) dan malaikat-malaikat (Mat. 25:41), yang adalah bawahannya seperti pemerintah-pemerin-tah, penguasa-penguasa, kuasa-kuasa dunia yang gelap ini (Ef. 6:12). Maka, ia memiliki kerajaannya, kuasa kegelapan (Kol. 1:13).
Lukas 11:19-20 mengatakan, ”Jadi, jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah peng-ikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan de-ngan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” ”Kuasa Allah” di sini dalam bahasa aslinya adalah ”jari Allah”; suatu ungkapan Ibrani. Jari (ay. 46) lebih kecil daripada tangan dan lengan. Untuk mengusir setan tidak perlu tangan Allah (Yoh. 10:28, 29) atau lengan Allah (Yes. 53:1); jari Allah sudah cukup kuat untuk melaku-kannya. Tetapi ini dilakukan oleh Roh Allah (Mat. 12:28).
Dalam ayat 21-22 Tuhan melanjutkan, ”Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sen-diri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya.” Orang kuat di sini adalah Iblis, si jahat, dan rumah melambangkan kerajaan Iblis. Tetapi Kristus, Putra Allah, jauh lebih kuat daripada Iblis, si orang kuat itu.
Bagian pertama dari Lukas 11, ayat 1 sampai 13, ini menakjubkan. Di sini kita nampak perihal mendoakan diri kita sendiri ke dalam Allah dan tetap tinggal di dalam Dia untuk menerima suplai hayat, kekayaan Roh Kudus. Sekarang dalam bagian kedua ada setan dan orang kuat. Ini menunjukkan bahwa sewaktu kita berada di dalam Allah menerima kekayaan-Nya, kita perlu ingat bahwa setan ada di sekeliling kita di mana saja kita berada, dan roh-roh jahat di udara. Maka, perang ini berkecamuk sepanjang waktu. Karena itu, Manusia-Penyelamat bukan hanya mengajar kita untuk mendoakan diri kita sendiri ke dalam Allah dan tetap tinggal di dalam Dia untuk menerima Roh-Nya sebagai ke-kayaan suplai hayat, tetapi juga mewahyukan bahwa Dia sedang bekerja untuk mengusir setan.
Jika kita masuk ke dalam kedalaman Lukas 11, kita akan nampak bahwa ketika kita menikmati kekayaan Allah dengan tetap tinggal di dalam Dia, kita akan menyadari bahwa kita berada di dalam suatu situasi yang penuh de-ngan setan. Karena itu, jangan berharap bahwa hari ini ada surga di bumi. Tidak, ada banyak setan, banyak halangan dan rintangan bagi yobel Perjanjian Baru. Dalam yobel ini orang-orang dibebaskan dari perasukan dan penindasan setan. Meskipun demikian, setan itu tetap ada, dan banyak orang bekerja sama dengan mereka. Orang-orang yang be-kerja sama dengan setan itu dipakai oleh Iblis untuk merusak yobel Perjanjian Baru. Tetapi Manusia-Penyelamat ada di sini untuk mengusir setan.
Kita telah nampak bahwa Iblis itu sama seperti seorang kuat. Tetapi Manusia-Penyelamat lebih kuat daripada orang kuat itu. Tuhan sangat kuat sehingga untuk mengusir setan Dia tidak perlu memakai lengan-Nya atau tangan-Nya. Dia cukup hanya memakai jari-Nya. Hanya dengan memakai jari-Nya, Manusia-Penyelamat dapat mengusir setan.
Jika kita adalah orang-orang yang mendoakan diri kita sendiri ke dalam Allah dan tetap tinggal di dalam Dia untuk menerima suplai hayat, kita akan menjadi satu dengan Manusia-Penyelamat ini. Karena Dia lebih kuat daripada orang kuat itu dan karena kita menjadi satu dengan Dia, maka kita juga akan menjadi lebih kuat daripada orang kuat itu dan dapat membereskan roh-roh najis serta mengusirnya.
DIPENUHI DENGAN ROH ITU DAN TERANG
Dalam 11:24-26 Tuhan berkata, ”Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah ku-tinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” Kita perlu memahami makna rohani dari firman ini. Maknanya di sini adalah setelah kita dibersihkan dari kerasukan roh-roh jahat, kita mungkin masih kosong, tidak dipenuhi dengan suplai hayat dari Roh itu. Dengan kata lain, kita tidak di-duduki oleh Allah dan dengan Allah secara batini.
Jika kita membahas ayat-ayat ini dalam konteks seluruh pasal ini, kita akan nampak bahwa kita perlu menjadi orang-orang yang selalu berdoa untuk dibawa ke dalam Allah dan tetap tinggal di dalam Dia untuk menerima kekayaan Roh Kudus. Bila kita dipenuhi dengan kekayaan ini, maka tidak akan ada ruang di dalam kita bagi apa pun. Bila kita dipenuhi dengan Roh Kudus, yang membawakan kekayaan Allah Tritunggal kepada kita, maka tidak akan ada ruang di dalam kita bagi apa pun.
Selain itu, jika kita mendoakan diri kita sendiri ke dalam Allah dan tetap tinggal di dalam Dia untuk dipenuhi dengan kekayaan Roh Kudus, kita akan menjadi orang-orang yang benar-benar berada di dalam terang (11:33-36). Kita akan menjadi orang-orang yang penuh dengan terang. Kita akan memiliki terang di dalam kita dan di sekeliling kita.
Inilah pemahaman atas ayat-ayat ini menurut pengalaman rohani kita. Di luar pemahaman ini, kita tidak akan tahu mengapa berbagai bagian dijajarkan dalam pasal 11. Dari pengalaman, kita tahu bahwa bila kita tetap tinggal di dalam Allah untuk menerima kekayaan suplai dari Roh, maka kita tidak menyisakan ruang di dalam kita untuk roh-roh jahat atau kegelapan. Kita sepenuhnya berada di dalam terang. Jadi, kita dipenuhi dengan kekayaan Roh dan dengan terang.
Lukas 11:33 menyatakan, ”Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah tempayan (gantang), melainkan di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya.” Dalam ministri-Nya, Manusia-Penyelamat membawa terang kepada kita. Karena itu, ministri yang demikian menghasil-kan kaum beriman sebagai bintang-bintang (Flp. 2:15) dan gereja-gereja sebagai kaki-kaki dian (Why. 1:20), yang ber-cahaya dalam zaman yang gelap ini sebagai kesaksian-Nya, dan yang rampung di dalam Yerusalem Baru dengan ciri-ciri hayat dan terang yang luar biasa (Why. 22:1-2; 21:11, 23, 24).
”Gantang” adalah alat penakar gandum. Pelita yang ditempatkan di bawah gantang tidak dapat memancarkan terangnya. Kaum beriman sebagai pelita tidak boleh ditutupi dengan gantang, benda yang berhubungan dengan makanan yang menyebabkan kekhawatiran (Mat. 6:25).
Dalam 11:34-36 Tuhan melanjutkan,”Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tu-buhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu, perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” Kata ”baik” dalam ayat 34 dalam bahasa aslinya berarti ”tulus” atau ”tunggal”. Bahasa Yunani untuk ”terang” dalam ayat 34 juga dapat diterjemahkan ”penuh dengan terang”. Di sini Tuhan mengatakan bahwa jika mata kita tunggal, seluruh tubuh kita akan penuh dengan terang.
Mata kita hanya dapat terfokus pada satu benda di satu waktu. Jika kita berusaha melihat dua benda sekaligus, pandangan kita akan menjadi kabur. Jika kita memfokuskan mata kita pada satu benda, maka pandangan kita akan tunggal, dan seluruh tubuh kita akan diterangi.
Dalam ayat 35 Tuhan membicarakan tentang ”terang yang ada padamu” Terang yang ada di dalam kita, yang adalah mata yang menerangi (ay. 34), adalah terang di dalam hati kita, yang harus dijaga murni bagi Allah (Mat. 5:8).
MENEGUR ORANG-ORANG FARISI
DAN AHLI-AHLI TAURAT
Dalam 11:37-54 terdapat satu catatan Manusia-Penye-lamat menegur orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Ayat 37 mengatakan, ”Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Fa-risi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan.” Kata untuk ”makan” di sini terutama adalah santapan pertama, yang dimakan di pagi hari. Ayat 38 mengatakan, ”Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.” Secara harfiah bahasa Yunani untuk ”mencuci” berarti dibaptis, upacara pembasuhan. Reaksi orang Farisi itu mem-berikan satu kesempatan bagi Tuhan untuk menyingkapkan sesuatu kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang munafik itu.
Dalam ayat 39 Tuhan berkata kepadanya, ”Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?” Di sini Tuhan seolah-olah berkata, ”Kamu mencuci tanganmu, tetapi bagaimana dengan hatimu? Tanganmu mungkin bersih, tetapi hatimu tidak bersih. Hatimu penuh dengan rampasan dan keserakahan. Kamu perlu mencuci bagian dalammu seperti mencuci bagian luarmu.”
Dalam ayat 41 Tuhan melanjutkan berkata, ”Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.” Kata ”isi” di sini mengacu kepada isi cawan dan pinggan (ay. 39), yang melambangkan apa yang ada di dalam hati orang-orang Farisi. Di dalam hati mereka ada keserakahan; karena itu dalam mereka penuh dengan rampasan dan kejahatan. Maka, Tuhan memerintahkan mereka untuk menyedekahkan apa yang mereka inginkan di dalam hati mereka, supaya se-galanya boleh menjadi bersih bagi mereka.
Dalam ayat 42 Tuhan melanjutkan, ”Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lain-nya.” Kasih terhadap Allah mengacu kepada kasih manusia terhadap Allah.
Dalam ayat berikutnya, Tuhan selanjutnya menegur orang-orang Farisi termasuk juga ahli-ahli Taurat. Dia memberi tahu orang-orang Farisi bahwa mereka seperti kubur yang tidak memakai tanda, dan Dia menegur ahli-ahli Taurat karena meletakkan beban-beban berat untuk dipikul orang-orang, tetapi diri sendiri tidak menyentuh beban-beban itu dengan satu jari pun.
YUNUS DAN SALOMO HARI INI
Jika kita menjajarkan keempat bagian dari Lukas 11 ini, kita akan nampak satu gambaran dari Manusia-Penyelamat dengan standar moralitas yang tertinggi. Kita nampak seseorang yang mendoakan diri-Nya sendiri ke dalam Allah, tetap tinggal di dalam Allah untuk menerima Roh Kudus sebagai suplai hayat-Nya. Karena Dia penuh dengan Allah Tritunggal, maka tidak ada ruang bagi hal-hal yang berasal dari si musuh. Selanjutnya, Dia penuh dengan terang, dan Dia itu sejati dan bersih baik secara batini maupun secara lahir. Akhirnya, Dia adalah Yunus hari ini, Dia yang telah melalui kematian dan masuk ke dalam kebangkitan; juga adalah Salomo hari ini, Dia yang membicarakan hikmat Allah. Hikmat ini mencakup rahasia-rahasia hal-hal yang tersembunyi dari Allah.
Dalam 11:29-32 Tuhan menyebut diri-Nya sendiri sebagai Dia yang lebih besar daripada Salomo dan Yunus: ”Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu peng-hakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengar-kan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!” Kristus adalah nabi yang diutus Allah kepada umat-Nya (Ul. 18:5, 18), Ia lebih besar daripada Nabi Yunus. Yunus adalah nabi yang berpaling dari Israel kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi dan yang dimasukkan ke dalam perut ikan besar. Ia tinggal di sana selama tiga hari, kemu-dian keluar darinya untuk menjadi tanda bagi orang-orang zaman itu kepada pertobatan (Yun. 1:2, 17; 3:2-10). Ini ada-lah satu lambang dari Kristus, yang akan dikubur di perut bumi selama tiga hari dan kemudian dibangkitkan, menjadi satu tanda bagi orang-orang zaman ini kepada keselamatan.
Kristus, sebagai Anak Daud adalah Raja, juga lebih besar daripada Raja Salomo, yang kepadanya ratu bangsa bukan Yahudi datang (1 Raj. 6:2; 10:1-8), dan yang memba-ngun Bait Allah serta membicarakan firman hikmat. Ini juga adalah satu lambang Kristus, yang membangun gereja untuk menjadi Bait Allah dan yang membicarakan firman hikmat.
Kita dapat mengatakan bahwa ”hikmat Salomo” dalam Lukas 11:31 menunjukkan rahasia-rahasia yang terwahyu dalam keempat belas Surat Rasul Paulus. Sebagai Yang lebih besar daripada Yunus, Tuhan telah melalui kematian dan masuk ke dalam kebangkitan. Sebagai Dia yang lebih besar daripada Salomo, Dia membicarakan hikmat Allah. Hari ini Kristus yang bangkit melalui Roh membicarakan hikmat Allah. Seperti yang telah kita tunjukkan, hikmat ini diwah-yukan dalam Surat-surat Rasul Paulus. Isi hikmat Allah adalah hal-hal yang tersembunyi dari Allah, rahasia-rahasia yang tersembunyi di dalam Allah dan yang diwahyukan ke-pada kita melalui Paulus. Khususnya, ini adalah hikmat mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah, hikmat mengenai Kristus dengan gereja.
Injil Lukas 11 mencakup sejumlah hal yang berhubungan dengan standar moralitas Manusia-Penyelamat yang tertinggi. Dari pasal ini kita perlu mengenal bahwa Kristus, melalui kematian dan dalam kebangkitan, sekarang sedang melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah, yang adalah yobel yang sejati.
Dalam berita ini dan berita sebelumnya, saya telah memberikan beberapa petunjuk mengenai pemahaman yang tepat terhadap pasal ini. Di sini kita nampak esens ilahi Pe-nyelamat berbaur dengan esens insani-Nya, juga sifat ilahi-Nya dengan atribut-atribut ilahi-Nya berbaur dengan sifat insani-Nya dengan kebajikan-kebajikan insani-Nya, meng-hasilkan standar moralitas yang tertinggi. Hal ini memung-kinkan kita masuk ke dalam Dia, Sang bangkit itu, dan mendengarkan hikmat-Nya supaya kita dapat berbagian dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, yang adalah yobel yang sejati. Untuk memahami Lukas 11 kita perlu pemahaman yang tepat terhadap unsur-unsur yang mendasar dari Injil Lukas ini. Unsur-unsur ini meliputi pembauran atribut-atribut ilahi dengan kebajikan-kebajikan insani dalam Manusia-Penyelamat, standar moralitas yang tertinggi, dan pengumuman yobel Perjanjian Baru.