MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (5)
Pembacaan Alkitab: Luk. 11:1-54
CIRI KHUSUS INJIL LUKAS
Catatan dalam Injil Lukas memiliki satu ciri khusus. Ciri ini adalah Lukas selalu memperlihatkan kepada kita bahwa di dalam Manusia-Penyelamat ada pembauran atri-but-atribut ilahi dengan kebajikan-kebajikan insani, meng-hasilkan standar moralitas yang tertinggi untuk yobel Per-janjian Baru. Di sini kita memiliki tiga hal. Pertama, dalam tulisan Lukas, unsur dasar dan intrinsik adalah keinsanian dan keilahian Manusia-Penyelamat. Injil Lukas berdasar pada fakta bahwa Tuhan memiliki dua esens — esens ilahi dan esens insani. Kedua, Injil Lukas menyajikan standar moralitas yang tertinggi, moralitas yang merupakan hasil pembauran atribut-atribut ilahi dengan kebajikan-kebajikan insani. Ketiga, kitab Injil ini mengumumkan yobel Perjan-jian Baru. Pengumuman yobel dengan jelas dilaksanakan da-lam pasal 4. Kita perlu mengingat tiga hal ini dalam mem-baca Injil Lukas, karena ketiga hal ini akan membantu kita memahami kitab Injil ini. Dalam Injil Lukas kita nampak esens ilahi berbaur dengan esens insani dan atribut-atribut ilahi berbaur dengan kebajikan-kebajikan insani untuk menghasilkan standar moralitas yang tertinggi, dan ini adalah untuk yobel Perjanjian Baru.
Esens Ilahi yang Berbaur dengan Esens Insani
Kita perlu memiliki pengenalan yang penuh terhadap unsur dasar dan intrinsik dari tulisan Lukas ini. Sekarang kita seharusnya nampak bahwa Lukas mewahyukan Manu-sia-Penyelamat adalah susunan dari esens ilahi yang berbaur dengan esens insani. Sebagai Yang demikian, Dia adalah manusia-Allah, karena Dia adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna. Di dalam Dia kita nampak Allah dan manusia. Di dalam Dia kita memiliki Allah yang leng-kap dan manusia yang sempurna. Ini berarti di dalam Dia kita nampak satu susunan dari perbauran Alah dengan manusia. Namun dalam pembauran ini, Manusia-Penyela-mat tidak kehilangan sifat ilahi, sifat Allah, juga tidak ke-hilangan sifat insani, sifat manusia. Sebaliknya, dalam pem-bauran ini sifat-sifat ini tetap dapat dibedakan, dan tidak menghasilkan sifat ketiga. Ini adalah butir utama yang ha-rus kita ingat untuk memahami Injil Lukas.
Standar Moralitas yang Tertinggi
Injil Lukas juga mewahyukan bahwa dalam Manusia-Penyelamat ini kita nampak pembauran atribut-atribut ilahi dengan kebajikan-kebajikan insani untuk menghasilkan standar moralitas yang tertinggi. Di dalam seluruh kitab Injil ini kita nampak atas Manusia-Penyelamat, yang juga adalah manusia-Allah, Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna, yang adalah pembauran atribut-atribut ilahi de-ngan kebajikan-kebajikan insani. Sebagai Allah yang leng-kap, Dia memiliki sifat ilahi dengan atribut-atribut ilahi, dan sebagai manusia yang sempurna, Dia memiliki sifat insani dengan kebajikan-kebajikan insani. Karena itu, dalam Per-sona-Nya kita nampak sifat ilahi dengan atribut-atributnya dan sifat insani dengan kebajikan-kebajikannya bagi penem-puhan suatu kehidupan dalam standar moralitas yang ter-tinggi.
Yobel Perjanjian Baru
Perbauran sifat ilahi dengan atribut-atributnya dan sifat insani dengan kebajikan-kebajikannya menghasilkan standar moralitas yang tertinggi untuk yobel Perjanjian Baru. Da-lam yobel ini kita dibebaskan dari segala belenggu — belenggu dosa, belenggu Iblis, belenggu dunia, dan bahkan belenggu ego — dan kita juga dibebaskan ke dalam kenikmat-an yang penuh dari hak kita yang telah hilang, yaitu hak untuk menikmati Allah Tritunggal di dalam Kristus.
Apa yang kita bahas dalam berita ini adalah satu defi-nisi dan penafsiran dari Injil Lukas. Dalam definisi ini kita nampak unsur-unsur yang mendasar dari kitab Injil ini. Jika kita membaca Injil Lukas dengan cara yang dangkal, kita hanya akan memperhatikan kisah-kisah dalam kitab Injil ini. Tetapi jika kita masuk ke dalam kedalaman kitab ini, kita akan nampak unsur-unsur mendasarnya.
Jika kita memiliki gambaran, definisi, dan penafsiran yang tepat atas Injil Lukas ini, kita akan nampak bahwa Injil ini tersusun dari unsur-unsur mendasar tertentu. Unsur-unsur ini meliputi sifat ilahi Tuhan dengan atributatribut ilahinya dan sifat insani-Nya dengan kebajikan-kebajikan insaninya. Karena itu, Manusia-Penyelamat adalah susunan dari pembauran Allah dan manusia. Sebagai Yang demikian ini, Tuhan menempuh suatu kehidupan di dalam standar moralitas yang tertinggi. Kehidupan yang demikian adalah untuk yobel Perjanjian Baru, karena ini adalah kehidupan yang membebaskan kita dari segala belenggu dan yang membawa kita ke dalam kenikmatan terhadap Allah Tritunggal dalam Kristus. Inilah ringkasan dari Injil Lukas.
Kita perlu memahami ringkasan Injil Lukas ini ketika kita sampai pada pasal 11. Jika tidak, pasal ini dapat me-nyulitkan kita. Setelah perumpamaan orang Samaria yang murah hati dan kasus Marta menerima Tuhan Yesus ke dalam rumahnya, Lukas memasukkan satu pasal yang mem-bahas empat hal: Pengajaran Manusia-Penyelamat tentang doa (11:1-13), Manusia-Penyelamat ditolak oleh angkatan yang jahat ini (ay. 14-32), peringatan-Nya agar tidak tinggal dalam kegelapan (ay. 33-36), dan teguran-Nya terhadap orang Farisi dan ahli-ahli Taurat (ay. 37-54). Mengapa empat hal ini dijajarkan? Jika kita membaca Lukas 11 secara dangkal, kita tidak akan memahami mengapa pasal ini mencakup pengajaran Tuhan tentang doa, penolakan terhadap-Nya oleh angkatan yang jahat ini, peringatan-Nya agar tidak tinggal dalam kegelapan, dan teguran-Nya terhadap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Namun, jika kita masuk ke dalam kedalaman keempat bagian dari pasal 11 ini, kita akan nampak bahwa di sini Manusia-Penyelamat berhu-bungan dengan standar moralitas yang tertinggi. Kita telah menekankan fakta bahwa berdasarkan sifat ilahi-Nya de-ngan atribut-atribut ilahi-Nya yang berbaur dengan sifat insani-Nya dengan kebajikan-kebajikan insani-Nya, meng-hasilkan standar moralitas yang tertinggi, Manusia-Penye-lamat mengumumkan yobel Perjanjian Baru. Sekarang kita harus melanjutkan melihat bahwa tanpa pasal 11 kita akan sulit mengalami yobel ini.
MENDOAKAN DIRI KITA KE DALAM ALLAH
Dalam 11:1-13 terdapat pengajaran Manusia-Penyelamat tentang doa. Jika kita sekali demi sekali dengan teliti mem-baca bagian ini, kita akan nampak bahwa berdoa berarti kita mendoakan diri kita ke dalam Allah. Ada orang begitu men-dengar perkataan ini, mungkin berkata, ”Kami tidak mene-mukan hal demikian dalam teladan doa yang diberikan oleh Tuhan Yesus dalam pengajaran-Nya. Bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa berdoa adalah mendoakan diri kita ke dalam Allah?” Kelihatannya, ini tidak ditemukan dalam 11:1-13. Sebenarnya, dalam ayat-ayat ini kita bisa nampak bahwa berdoa adalah mendoakan diri kita ke dalam Allah.
Lukas 11:1, ”Pada suatu kali Yesus berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-murid-Nya.” Kita tidak tahu Tuhan berdoa untuk apa. Ketika mu-rid-murid melihat Dia berdoa, mereka ingin agar Dia meng-ajar mereka berdoa. Kemudian Tuhan berkata, ”Apabila ka-mu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; da-tanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang
bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” (ay. 2-4). Saya telah meluangkan banyak waktu untuk firman yang singkat ini. Kesimpulan saya adalah bila kita mau berdoa demikian berkali-kali, hasilnya ada-lah kita akan mendoakan diri kita ke dalam Allah. Dengan kata lain, hasil dari doa ini adalah kita menemukan diri kita di dalam Allah.
Jika kita berdoa menurut pengajaran Tuhan dalam ayat-ayat ini, kita akan menjadi orang-orang di dalam Allah. Saya mendorong Anda berdoa, ”Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.” Jika Anda berkali-kali berdoa demikian, Anda akan menemukan bahwa Anda berada di dalam Allah. Ini adalah pemahaman saya dan pengalaman saya. Dari pengalaman, saya dapat bersaksi bahwa berdoa menurut pengajaran Tuhan adalah mendoakan diri kita ke dalam Allah.
Setelah kita mendoakan diri kita ke dalam Allah, apa yang harus kita lakukan kemudian, karena kita berada di dalam Allah? Kita hanya menerima Dia dengan segala kekayaan-Nya ke dalam kita. Sebagai manusia yang telah jatuh, kita semua berada di luar Allah dan tidak ada hubungan dengan segala kekayaan-Nya. Karena itu, kita tidak dapat menikmati kekayaan Allah. Kita perlu mendoakan diri kita ke dalam Allah dan kemudian, sebagai orang-orang yang ber-ada di dalam Dia, kita bisa menerima Dia dan kekayaan-Nya.
Ada orang begitu mendengar tentang perlunya mendoakan diri kita ke dalam Allah untuk menerima Dia dan kekayaan-Nya, mungkin berkata, ”Sebelum kita diselamatkan, kita tidak berada di dalam Allah. Tetapi kita sekarang adalah anak-anak Allah.” Memang, sebagai kaum beriman, kita adalah anak-anak Allah. Meskipun demikian, kita harus mengakui fakta bahwa sering kali dalam pengalaman, kita tidak berada di dalam Allah. Kita tidak tinggal di dalam Allah, kita tidak tetap tinggal di dalam Dia. Misalnya, se-orang saudara sebelum tidur marah-marah kepada istrinya. Ketika ia bangun pada pagi hari berikutnya, ia bangun di luar Allah. Apakah yang harus ia lakukan? Ia harus mendoakan dirinya ke dalam Allah.
Tetapi, misalnya saudara itu berdoa seperti ini: ”Bapa, Engkau benar dan adil. Engkau tahu bahwa istriku salah. Aku meminta Engkau membelaku.” Semakin saudara itu berdoa demikian, dalam pengalamannya ia akan semakin jauh dari Allah. Ia perlu berdoa, ”Ya Bapa, kuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu. Bapa, berikanlah aku makanan untuk hari ini, dan ampunilah aku seperti aku mengampuni istriku. Bapa, janganlah membawa aku ke da-lam pencobaan itu lagi.” Semakin saudara itu berdoa demi-kian, ia semakin menemukan dirinya berada di dalam Allah. Ini menggambarkan satu aspek bahwa berdoa adalah men-doakan diri kita ke dalam Allah.
Kita sering dialihkan dari Allah. Kita mungkin dialih-kan dari Dia oleh sebuah iklan dalam surat kabar. Karena kita mudah dialihkan dari Allah, kita harus setiap pagi me-luangkan waktu untuk beserta dengan Dia, mendoakan diri kita ke dalam-Nya. Tidak perlu berdoa secara terperinci mengenai kekurangan-kekurangan kita. Katakan saja, ”Bapa, ampunilah aku.” Tidak perlu berdoa secara terperinci. Doa seperti, ”Bapa ampunilah aku seperti aku mengampuni orang lain,” telah mencakup segalanya. Semakin Anda berdoa seperti ini, Anda akan semakin menyadari bahwa Anda mendoakan diri Anda ke dalam Allah. Kemudian dalam Allah Anda akan menerima suplai hayat.
MENERIMA SUPLAI HAYAT
Mungkin Anda bingung, dalam 11:1-13 tampaknya tidak ada perihal menerima suplai hayat dari Bapa. Suplai hayat ditunjukkan dalam ayat 11-13: ”Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular ke-pada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan mem-berikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Di sini suplai hayat ditunjukkan oleh ikan, telur, dan Roh Kudus. Dalam ayat 5 ditunjukkan oleh roti. Jika kita memasukkan roti, maka kita memiliki empat butir suplai hayat. Ketika kita mendoakan diri kita ke dalam Allah, kita menerima kekayaan-Nya sebagai suplai kita.
Dalam ayat 13 Tuhan mengatakan bahwa jika kita, yang jahat, tahu memberikan pemberian yang baik kepada anak-anak kita, apalagi Bapa yang di surga, Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa pemberian yang benar-benar baik ada-lah Roh Kudus. Sebelum kematian-Nya Tuhan menyuruh murid-murid meminta Roh Kudus. Setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Dia menyuruh mereka menerima Roh Kudus (Yoh. 20:22). Mengenai perintah-perintah dalam Alki-tab yang syarat-syaratnya belum digenapkan, kita perlu meminta. Tetapi mengenai perintah-perintah yang syarat-syaratnya telah digenapkan, kita perlu menerimanya.
TERUS-MENERUS DENGAN TEKUN MEMINTA
Setelah memberikan firman yang singkat tentang peng-ajaran mengenai doa kepada murid-murid-Nya, Tuhan selanjutnya memberikan satu ilustrasi tentang terus-menerus de-ngan tekun meminta. Dia berkata kepada mereka, ”Jika se-orang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu” (ay. 5-7). Dalam ayat 8 Tuhan melanjutkan ilustrasi ini, ”Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikan-nya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.” Akhirnya, orang yang membutuhkan itu menerima tiga ketul roti. Roti-roti itu tentunya adalah untuk pemberian makan dan perawatan.
Dalam ayat 9-10 Tuhan melanjutkan, ”Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepada mu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan.” Dalam ayat-ayat ini terdapat meminta, mencari, dan mengetuk. Meminta adalah berdoa secara umum, mencari adalah memohon secara khusus, dan mengetuk adalah meminta dengan cara yang paling dekat, tekun.
Dalam ayat 11-13 Tuhan selanjutnya mengatakan bahwa seorang bapak tidak akan memberikan seekor ular kepada anaknya ganti ikan, atau kalajengking ganti telur. Selain itu, Tuhan mengatakan bahwa Bapa akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Dalam lambang, ular melambangkan Iblis dan malaikat-malaikatnya, dan kalajengking melambangkan roh-roh jahat Iblis.
Firman Tuhan dalam 11:11-13 menunjukkan bahwa tujuan kita dalam berdoa seharusnya mencari suplai hayat, mencari roti, ikan, dan telur. Roti mewakili kekayaan darat; ikan mewakili kekayaan laut; dan telur mewakili kekayaan udara dan darat. Karena itu, roti, ikan, dan telur mewakili kekayaan darat, air, dan udara; jadi, ini mewakili berbagai macam kekayaan. Dalam ayat 13 kita nampak bahwa Roh Kudus adalah totalitas dari kekayaan ini. Roh Kudus adalah totalitas dari roti, ikan, dan telur.
TINGGAL DI DALAM ALLAH UNTUK
MENERIMA ROH KUDUS
Dalam berita ini kita telah nampak bahwa berdoa adalah mendoakan diri kita sendiri ke dalam Allah. Setelah kita mendoakan diri kita sendiri ke dalam Allah, maka, sebagai orang-orang yang ada di dalam Allah, kita menerima suplai hayat seperti yang ditunjukkan oleh roti, ikan, dan telur. Totalitas kekayaan ini — kekayaan darat, air, dan udara — adalah Roh Kudus. Ini berarti Roh Kudus adalah suplai hayat. Ketika kita mendoakan diri kita sendiri ke dalam Allah, kita harus tetap tinggal di dalam Allah untuk menerima Roh Kudus sebagai suplai hayat kita.
Pernahkah Anda mendengar sebelumnya bahwa berdoa adalah mendoakan diri kita sendiri ke dalam Allah sehingga kita dapat tetap tinggal di dalam Dia terus menerus untuk menerima Roh Kudus sebagai suplai hayat kita? Suplai ha-yat ini yang dilambangkan oleh roti, ikan, dan telur, bukan hanya merawat diri kita sendiri tetapi juga merawat orang-orang yang kita asuh dan rawat. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa dalam berita ini saya terlalu banyak mengiaskan Alkitab. Sebenarnya, saya tidak mengiaskan-nya; sebaliknya, saya sedang berusaha membuka firman itu dan menafsirkannya dengan tepat sehingga kita dapat me-lihat apakah yang dimaksud dengan berdoa menurut 11:1-13.
Kita telah menekankan dengan tegas fakta bahwa berdoa adalah mendoakan diri kita sendiri ke dalam Allah. Bila doa kita tidak membawa kita ke dalam Allah, maka doa kita itu salah. Kita harus terus-menerus berdoa dengan cara demikian. Prinsip yang mengendalikan doa kita seharusnya adalah bahwa doa selalu membawa kita ke dalam Allah.
Janganlah berdoa jika doa Anda tidak membawa Anda ke dalam Allah. Ini bukan berarti Anda tidak boleh meminta Tuhan menyembuhkan Anda jika Anda sakit. Maksudnya, bila Anda berdoa untuk kesembuhan, Anda harus memegang prinsip pengendalian doa, yakni mendoakan diri Anda sendiri ke dalam Allah. Jika cara Anda berdoa malah menjauhkan Anda dari Tuhan dan tidak membawa Anda ke dalam Dia, Anda harus mengubah cara Anda berdoa. Berusahalah berdoa dengan cara yang sedemikian rupa sehingga Anda dibawa ke dalam Allah. Doa yang membawa kita ke dalam Allah adalah doa yang benar.
Kita tahu dari pengalaman kita terhadap Tuhan, sering kali kita berdoa dengan tepat dan mendoakan diri kita sen-diri ke dalam Allah. Sewaktu kita tinggal di dalam Dia, kita menerima kekayaan-Nya, kekayaan yang terwujud di dalam Roh-Nya. Ketika kita menerima Roh Kudus sebagai suplai hayat kita yang dilambangkan oleh roti, ikan, dan telur, kita dapat memberi makan diri kita sendiri, dan juga dapat mem-beri makan semua orang yang kita asuh dan rawat.