MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (9)
Pembacaan Alkitab: Luk. 13:1-35
Dalam berita ini kita akan membahas 13:1-35.
AJARAN TENTANG PERTOBATAN
Lukas 13:1 mengatakan, ”Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan da-rah kurban yang mereka persembahkan.” ”Pada waktu itu” bukan untuk menyampaikan unsur waktu, melainkan untuk menunjukkan kelanjutan; menunjukkan bahwa 13:1-9 melanjutkan ayat yang terakhir dari pasal 12, yang membicarkan pertobatan lebih lanjut. Tuhan memakai dua peristiwa di dalam 13:1-5 untuk mengingatkan orang-orang Yahudi bahwa sekarang adalah waktunya mereka bertobat. Kalau tidak, mereka semua akan binasa seperti korban-korban dari dua peristiwa itu.
Perkataan Tuhan pada akhir pasal 12 menunjukkan bahwa Dia menghendaki orang-orang Yahudi bertobat. Sek-rang dalam pasal 13 Dia melanjutkan membicarakan perto-batan. Dengan mengacu kepada orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan kurban persembahan me-reka, Dia berkata kepada orang-orang yang hadir di situ, ”Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak!, Kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa de-ngan cara demikian.” Kemudian Dia mengacu kepada kasus yang kedua, yaitu kasus tentang “delapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam” (ay. 4). Sekali lagi Tuhan memperingatkan orang-orang itu untuk bertobat. Dia seolah-olah memberi tahu mereka, ”Jangan mengira bahwa orang-orang itu penuh dosa sedangkan yang lainnya tidak. Jika kamu tidak bertobat, kamu juga akan binasa dengan cara demikian.” Dalam ayat 6-9 Tuhan selanjutnya menyampaikan perumpamaan tentang seorang yang memiliki sebuah pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya. Kata ”kemudian” pada permulaan ayat 6 menunjukkan bahwa ayat-ayat ini adalah kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya mengenai per-tobatan.
Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Allah sebagai pemilik datang di dalam Putra untuk mencari buah dari orang Yahudi, yang diumpamakan sebagai pohon ara (Mat. 21:19; Yer. 24:2, 5, 8) yang ditanam di tanah perjanjian Allah sebagai kebun anggur (Mat. 21:33). Dia telah mencari buah selama tiga tahun (Luk. 13:7), tetapi tidak menemukan satu buah pun. Dia ingin menebangnya, tetapi Allah Putra sebagai pengurus kebun anggur berdoa bagi mereka, meminta Allah Bapa untuk bersabar terhadap mereka sampai Putra mati bagi mereka (mencangkul tanah sekeliling pohon ara itu) dan memberikan pupuk kepada mereka, dengan harapan agar mereka dapat bertobat dan menghasilkan buah. Jika tidak, mereka akan ditebang. Dalam 11:29-32 dan 42-52, menyingkapkan orang-orang Yahudi sebagai angkatan yang jahat, menegaskan penafsiran ini.
Dalam perumpamaan ini Allah mengganggap orang-orang Yahudi sebagai pohon ara. Ketika Allah tidak menemukan buah pada pohon ini, Dia hendak menebangnya. Tetapi peng-urus kebun anggur, Tuhan Yesus, memohon kepada Bapa agar tidak melakukan hal ini sampai Dia mencangkul tanah sekeliling pohon itu melalui kematian-Nya. Jika pohon itu masih tidak menghasilkan buah, pohon itu boleh ditebang. Inilah sebenarnya yang terjadi. Karena orang-orang Yahudi tidak bertobat, bahkan setelah Tuhan Yesus mati, bangkit, dan Roh itu datang, maka ”pohon ara itu ditebang”. Ini terjadi pada tahun 70 M ketika Titus membawa pasukan Romawinya ke Yerusalem dan menghancurkannya. Peng-hancuran Yerusalem itu adalah penebangan pohon ara itu.
MENYEMBUHKAN PEREMPUAN YANG BUNGKUK PADA HARI SABAT
Dalam 13:10-17 terdapat kasus Manusia-Penyelamat menyembuhkan dan membebaskan seorang perempuan yang bungkuk pada hari Sabat. Ayat 10-11 mengatakan, ”Pada suatu kali Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri tegak lagi.” ”Roh” ini adalah roh najis, salah satu roh makhluk hidup tidak bertubuh yang hidup di zaman praadam dan dihakimi oleh Allah ketika mereka bergabung dalam pemberontakan Iblis. Malaikat yang jatuh bekerja sama dengan Iblis di udara (Ef. 2:2; 6:11-12); dan roh-roh najis ini, yakni setan-setan bergerak bersama Iblis di bumi. Keduanya bertindak jahat kepada manusia untuk kerajaan Iblis.
Karena roh kelemahan ini, maka perempuan ini ”bungkuk”. Secara harfiah, bahasa Yunani yang diterjemahkan ”bungkuk” berarti ”tertekuk”. Ini mungkin menandakan tekanan dari roh najis terhadap seseorang sampai sedemikian rupa, sehingga orang itu bungkuk, hanya mengarah kepada dunia Iblis dan tidak dapat berdiri dengan tegak memandang ke surga.
Tuhan Yesus melihat bahwa perempuan yang bungkuk itu tidak dapat berdiri tegak, dipaksa hanya melihat ke bumi sebagai akibat dari pekerjaan yang dilakukan oleh Iblis terhadapnya melalui roh-roh najisnya. Tuhan berkata kepada-nya, ”Hai ibu, penyakitmu telah sembuh. Lalu Ia meletak-kan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga tegaklah perempuan itu, dan memuliakan Allah” (ay. 12-13). Di sini kita nampak bahwa perempuan itu tidak meminta Tuhan menyembuhkannya, melainkan Tuhan yang mem-prakarsai penyembuhan dan pembebasan kepada perempuan yang bungkuk itu.
Ayat 14 mengatakan, ”Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak, Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Di sini kita nampak bahwa Iblis tidak hanya menggunakan roh jahat untuk merasuki perempuan itu, tetapi juga menggunakan pemimpin agama untuk menentang pembebasan perempuan itu oleh Tuhan. Agama sering digunakan si perampas untuk me-nahan umat pilihan Allah di bawah penindasannya. Kepala rumah ibadat, yang sangat agamis ini, memperhatikan per-aturan-peraturan agama dan tidak memperhatikan pende-ritaan perempuan itu, yang adalah keturunan Abraham itu.
Dalam ayat 15-16 Tuhan menjawab kepala rumah ibadat itu, ”Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di an-taramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minum-an? Perempuan ini keturunan Abraham dan sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis; bukankah ia harus dilepaskan dari ikatannya itu?” Fakta bahwa perempuan itu adalah keturunan Abraham menunjukkan bahwa ia adalah salah satu umat pilihan Allah. Namun, ia dibelenggu oleh Iblis. Ini menunjukkan bahwa perasukan roh najis terhadap orang-orang merupakan belenggu Iblis terhadap mereka. Karena itu, mengusir roh najis adalah mengalahkan Iblis (Mat. 12:29). Tepat sekali bahwa perempuan itu dibebaskan dari belenggu Iblis pada hari Sabat, karena hari Sabat ditentukan Allah supaya manusia dapat memiliki perhentian (Kej. 2:3), bukan supaya manusia berada di bawah belenggu.
Mengapa kasus ini ditempatkan oleh Lukas di sini? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu ingat bahwa hal ini terjadi sewaktu Manusia-Penyelamat sedang mendekati Yerusalem, di mana atmosfirnya sangat agamis. Saya pecaya, Tuhan Yesus masuk ke dalam rumah ibadat itu dan memprakarsai penyembuhan terhadap perempuan itu adalah untuk memperlihatkan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia tidak bermaksud memelihara tata cara agama yang mati dan peraturan-peraturan Sabat yang sudah menyimpang. Dia sengaja melanggar peraturan-peraturan itu supaya murid-murid-Nya tahu bahwa Dia datang bukan untuk meme-lihara peraturan-peraturan yang menahan orang-orang di da-lam penderitaan mereka, melainkan melanggar peraturan-peraturan itu supaya orang-orang yang menderita itu dapat dibebaskan oleh berkat yobel-Nya.
Ketika Tuhan Yesus menyembuhkan perempuan yang dibelenggu Iblis dan yang bungkuk itu, Dia membawa yobel kepadanya. Dalam pasal 4 Dia telah mengumumkan yobel ini, yang di dalamnya tawanan-tawanan dilepaskan dan yang tertekan dibebaskan. Karena itu, kasus ini adalah satu penggenapan dari pengumuman yobel dalam pasal 4. Tuhan bermaksud memberi tahu murid-murid bahwa Dia pergi ke Yerusalem, bukan untuk menyelidiki peraturan-peraturan agama, melainkan dengan sengaja melanggarnya, supaya orang-orang dapat dibawa masuk ke dalam yobel.
AJARAN TENTANG KERAJAAN ALLAH
SEBAGAI BIJI SESAWI DAN RAGI
Dalam 13:18-21, yang mungkin sangat mengejutkan murid-murid, Tuhan kembali membicarakan Kerajaan Allah. Namun, di sini Dia tidak membicarakan kerajaan itu secara positif. Sebelumnya, firman Tuhan mengenai kerajaan da-lam Injil Lukas bersifat positif. Tetapi di sini Dia berbicara kepada murid-murid mengenai kerajaan itu secara negatif, mengajar mereka tentang kerajaan sebagai biji sesawi (ay. 18-19) dan sebagai ragi (ay. 20-21).
Dalam ayat 18-19 Tuhan berkata, ”Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpama-kannya? Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya.” Fakta bahwa biji sesawi ini bertumbuh menjadi sebuah pohon menunjukkan bahwa biji sesawi ini tidak bertumbuh menurut jenisnya. Menurut Kejadian 1, segala sesuatu diciptakan Allah menurut jenisnya. Misalnya sebuah pohon apel, harus menurut jenis pohon apel. Tetapi di sini biji sesawi ini tidak bertumbuh menurut jenisnya, me-lainkan bertumbuh menjadi jenis lainnya. Ini adalah pelanggaran terhadap prinsip yang telah ditentukan Allah di dalam penciptaan-Nya. Jika kita nampak hal ini, kita tidak akan menafsirkan perumpamaan ini secara positif.
Beberapa orang mengajarkan bahwa sesawi ini menjadi sebuah pohon yang besar adalah satu pengembangan yang positif. Tetapi menurut sejarah kekristenan, tidak ada pengembangan positif yang demikian. Kenyataannya, perumpamaan ini adalah satu nubuat yang telah digenapkan dalam sejarah kekristenan. Sebenarnya, kekristenan hari ini bukanlah sesuatu yang bertumbuh menurut jenisnya. Gereja, yang adalah perwujudan kerajaan, seharusnya men-jadi seperti sayuran yang menghasilkan makanan. Tetapi di sini, gereja menjadi sebuah ”pohon”, menjadi tempat burung bersarang. Ini berarti, hal ini bertentangan dengan hukum penciptaan Allah bahwa tumbuh-tumbuhan harus bertumbuh menurut jenisnya, sifat dan fungsinya tidak berubah. Hal ini terjadi sewaktu Konstantin Agung mencampurkan gereja dengan dunia pada permulaan abad keempat. Ia mem-bawa ribuan orang beriman palsu masuk ke dalam agama Kristen, serta membuatnya menjadi ”dunia kekristenan”, bukan gereja lagi. Maka, perumpamaan ini berhubungan dengan gereja yang ketiga dari ketujuh gereja dalam Wahyu 2 dan 3, yaitu gereja di Pergamus (Why. 2:12-17). Menurut sifat surgawi dan rohaninya, gereja seharusnya seperti biji sesawi, yang sementara di bumi. Tetapi karena sifatnya sudah berubah, maka gereja menjadi berakar dalam-dalam dan menetap di bumi seperti sebuah pohon, yang semarak dengan berbagai usahanya seperti cabang-cabang yang menampung orang-orang dan hal-hal yang jahat. Hal ini membentuk organisasi luaran dari penampilan lahiriah Kerajaan Allah.
Dalam Lukas 13:19 dikatakan bahwa burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabang pohon ini. Dalam 8:5 dan 12 burung-burung di udara berhubungan dengan Iblis. Karena itu, burung-burung di udara di sini pasti mengacu kepada roh-roh jahat Iblis beserta orang-orang jahat dan hal-hal jahat yang digerakkan oleh mereka. Mereka bersarang di cabang-cabang pohon besar ini, yaitu di dalam berbagai usaha dunia kekristenan.
Dalam Lukas 13:20-21 Tuhan berkata, ”Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Kerajaan itu se-umpama ragi yang diambil seorang perempuan dan di-adukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh li-ter sampai mengembang seluruhnya.” Beberapa orang meng-ajarkan bahwa ragi di sini bersifat positif. Menurut konsepsi mereka ragi melambangkan kekuatan Injil yang menyebar ke seluruh bumi. Tetapi dalam Alkitab ragi tidak memiliki makna yang positif. Sebaliknya, khususnya dalam keempat kitab Injil, ragi mengandung makna yang negatif. Tuhan Yesus tidak memakai kata ragi dalam hal yang positif, tetapi selalu dalam hal negatif. Di mana saja dalam Perjanjian Baru ragi melambangkan hal-hal yang jahat (1 Kor. 5:6, 8) dan doktrin-doktrin yang jahat (Mat. 16:6, 11-12).
Gereja, sebagai Kerajaan Allah yang praktis dengan Kristus — tepung halus yang tidak beragi — sebagai isinya, harus menjadi roti yang tidak beragi (1 Kor. 5:7-8). Namun, aliran kekristenan tertentu yang sepenuhnya dan secara resmi terbentuk pada abad keenam dan yang dilambangkan oleh perempuan di sini, mengambil banyak praktek agama kafir, doktrin bidah, hal-hal yang jahat, dan mencampur-kannya dengan ajaran tentang Kristus untuk meragikan seluruh isi kekristenan. Apa yang digambarkan dalam Lukas 13:20-21 berhubungan dengan gereja yang keempat dari ketujuh gereja dalam Wahyu 2 dan 3, yaitu gereja di Tiatira (Why. 2:18-29).
”Tepung”, yang dipakai untuk membuat kurban sajian (Im. 2:1), melambangkan Kristus sebagai makanan bagi Allah dan manusia. ”Empat puluh liter” atau ”tiga sukat” adalah jumlah yang diperlukan untuk membuat satu roti yang utuh (Kej. 18:6). Jadi, mencampurkan ragi ke dalam tiga sukat tepung itu melambangkan gereja di Tiatira secara tersembunyi telah mengkhamirkan semua ajaran tentang Kristus. Inilah keadaan yang sebenarnya dalam gereja di Tiatira. Ini mutlak bertentangan dengan Kitab Suci, yang dengan tegas melarang memasukkan ragi apa pun ke dalam kurban sajian (Im. 2:4-5, 11).
Dua perumpamaan yang ada dalam 13:18-21 menunjukkan bahwa yobel telah datang, tetapi telah kehilangan sifatnya. Kerajaan Allah adalah realitas dan isi yobel. Tanpa Kerajaan Allah tidak ada yobel. Kita telah menekankan fakta bahwa yobel adalah perihal pembebasan tawanan-tawanan dan pemulihan hak bagi kenikmatan terhadap Allah Tritunggal. Demikian pula Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah pengembalian para tawanan dan pemulihan warisan ilahi. Tetapi seperti ditunjukkan oleh perumpamaan-perumpamaan ini, tetapi suatu waktu, yobel, yakni kerajaan ini, telah kehilangan sifatnya. Di satu pihak, kerajaan ini telah berkembang menjadi sesuatu yang bukan menurut jenisnya; di pihak lain, kerajaan ini telah menjadi khamir, yakni isinya telah rusak. Perubahan sifat yang demikian dari yobel sebenarnya menunjukkan kehilangan yobel. Di mana-kah yobel di antara begitu banyak orang Kristen pada hari ini? Bila kita nampak situasi pada hari ini, kita nampak bahwa dalam agama Kristen sifat yobel yang sebenarnya telah hilang.
Dalam kitab Injilnya, Lukas menulis demikian untuk menyinggung berbagai hal yang berhubungan dengan yobel. Karena itu, pemahaman kita terhadap Injil Lukas harus dikendalikan oleh prinsip yobel. Pengumuman yobel dalam pasal 4 adalah satu prinsip yang mengendalikan tulisan Lukas dalam kitab ini dan pemahaman kita terhadapnya. Apa pun yang disinggung dalam pasal 4 sampai 24 berhubungan dengan yobel, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ini berarti segala hal di dalam pasal-pasal ini berhubungan secara langsung atau tidak langsung dengan Kerajaan Allah, dengan pembebasan tawanan-tawanan, dan dengan pemulihan warisan ilahi.
Yobel, Kerajaan Allah ini, dibawa masuk melalui kematian dan kebangkitan Kristus dan dapat dilihat dalam kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat Rasuli. Tidak lama setelah itu, mungkin sebelum akhir abad pertama, yobel ini mulai hilang. Akhirnya, seperti yang ditunjukkan oleh kedua perumpamaan ini dalam Lukas 13, yobel telah berubah sifatnya dan telah hilang.
AJARAN TENTANG MASUK
KE DALAM KERAJAAN ALLAH
Dalam 13:22-30 terdapat pengajaran Tuhan pada perjalanan ke Yerusalem tentang jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Setelah membahas sejumlah aspek yang ber-hubungan dengan yobel, kita perlu mengenal jalan masuk ke dalam yobel, yakni jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Catatan dalam 13:22-30 ini sesuai dengan cara Lukas men-jajarkan berbagai hal untuk memperlihatkan kepada kita berbagai aspek yobel. Sekarang ia menyajikan kepada kita satu bagian yang menyingkapkan jalan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah sebagai yobel.
Lukas 13:22-23 mengatakan, ”Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lalu ada seseorang yang berkata kepada-Nya, Tuhan, sedi-kit sajakah orang yang diselamatkan?” Meskipun pertanyaan ini agak bodoh atau kabur, tetapi Manusia-Penyelamat men-jawabnya dengan sangat jelas: ”Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (ay. 24). Ini bukan hanya diselamatkan; ini adalah masuk ke dalam yobel yang penuh, masuk ke dalam kenikmatan yang penuh akan Kerajaan Allah, bukan hanya pada zaman ini melainkan juga pada zaman yang akan datang.
Dalam ayat 25 Tuhan melanjutkan, ”Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu, Aku tidak tahu dari mana kamu datang.” Kalimat ”Aku tidak tahu” bukan berarti, ”Aku tidak kenal denganmu; kamu tidak Kukenal.” melainkan berarti, ”Aku tidak mengapresiasi kamu, Aku tidak memperkenan kamu, Aku tidak memberikan pujian apa pun kepadamu.”
Dalam ayat 26-27 Tuhan selanjutnya berkata, ”Lalu kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” Firman Tuhan di sini mengacu kepada orang-orang Yahudi dan menunjukkan bahwa apa yang sedang dilakukan oleh orang Yahudi itu tidak benar.
Dalam ayat 28 Tuhan berkata, ”Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi, ketika kamu melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar.” Di sini ”ratapan” menunjukkan penyesalan, dan ”kertak gigi” menunjukkan menyalahkan diri sendiri. Firman Tuhan tentang berada di luar Kerajaan Allah mengacu kepada masa yang akan da-tang, masa seribu tahun. Pada masa seribu tahun itu, ba-nyak orang Yahudi yang akan dicampakkan keluar dari Kerajaan Allah.
Dalam 13:23 orang-orang Yahudi bertanya tentang keselamatan. Tetapi Tuhan menjawab tentang berbagian dalam Kerajaan Allah pada masa seribu tahun, yang akan menjadi bagian yang paling nikmat dari keselamatan sempurna Allah sebelum kenikmatan terhadap Yerusalem Baru di dalam langit baru dan bumi baru (Why. 21:1-3a, 5-7; 22:1-5).
Ayat 29-30 menyimpulkan, ”Orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang per-tama dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir.” Dalam ayat 29 ”mereka” mengacu kepada orang-orang bukan Yahudi. Orang-orang bukan Yahudi akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Ini akan ter-jadi pada zaman kerajaan, pada masa seribu tahun. Dalam ayat 30 ”yang terakhir akan menjadi yang pertama” mengacu kepada orang-orang bukan Yahudi yang telah beroleh selamat, yang akan menerima Penyelamat sebelum beberapa orang dari antara orang Yahudi beroleh selamat dan akan berbagian dalam Kerajaan Allah pada masa seribu tahun. ”Yang pertama menjadi yang terakhir” mengacu kepada orang-orang Yahudi yang percaya yang akan percaya kepada Tuhan setelah orang-orang bukan Yahudi percaya (Rm. 11:25-26). Perkataan dalam ayat ini diterapkan dalam arti lain dalam Matius 19:30; 20:16; dan Markus 10:31.
PERJALANAN MENUJU YERUSALEM
Dalam 13:31-35 terdapat satu gambaran tentang Manusia-Penyelamat melakukan perjalanan menuju Yerusalem. Ayat 31 mengatakan, ”Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus, Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Ini adalah satu ancaman yang dibuat oleh para penentang dalam kedengkian mereka. Tetapi seperti yang akan kita lihat, Tuhan tidak takut oleh ancaman itu.
Tuhan berkata kepada mereka, ”Pergilah dan katakanlah kepada si rubah itu: Aku mengusir setan dan menyem-buhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai” (ay. 32). Bahasa Yunani yang diter-jemahkan, ”Aku akan selesai” dapat juga diterjemahkan ”mengakhiri perjalanan-Ku” atau ”mencapai tujuan-Ku”. Jawaban Tuhan menunjukkan bahwa Dia telah membuat satu jadwal untuk melaksanakan ministri-Nya, mengakhiri perjalanan-Nya, dan mencapai tujuan-Nya melalui kematian dan kebangkitan-Nya, dan bahwa tidak ada seorang pun, bahkan Herodes sekalipun, yang dapat menghalangi-Nya menggenapkan semuanya itu.
Di sini Tuhan seolah-seolah berkata, ”Aku akan mencapai tujuan-Ku. Aku akan menggenapkan apa yang ingin Kulakukan. Aku mengusir setan dan menyembuhkan pada hari ini dan besok, kemudian pada hari yang ketiga, di da-lam kebangkitan, Aku akan disempurnakan dan mencapai tujuan-Ku. Jangan ganggu Aku atau mengancam-Ku. Aku adalah Yang berdaulat, dan kamu tidak dapat melakukan apa-apa. Siapakah Herodes? Ia adalah seekor rubah. Kalian mungkin takut kepadanya, tetapi Aku tidak, karena ia berada di bawah-Ku. Beri tahu dia bahwa Aku memiliki jadwal-Ku. Menurut jadwal ini, Aku akan menyelesaikan pekerjaan-Ku, mencapai tujuan-Ku, dan disempurnakan.”
Dalam ayat 33 Tuhan berkata, ”Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem.” Ancaman tidak menghalangi Tuhan melakukan pejalanan ke Yerusalem untuk menggenapkan kematian penebusan-Nya. Sebaliknya, Dia berani maju ke sana (Mrk. 10:33) untuk mencapai tujuan dari seluruh ministri-Nya.
Dalam ayat 33 Tuhan seolah-olah berkata, ”Hari ini, besok, dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan karena Aku harus mati di Yerusalem. Tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem. Jangan mengganggu atau meng-halangi Aku. Aku memiliki satu tujuan, dan tujuan-Ku adalah mati di Yerusalem. Aku berada dalam perjalanan untuk mencapai tujuan-Ku.”
Dalam 13:34-35 Tuhan berkata, ”Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi sampai pada saat kamu berkata: Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” Allah sendiri yang akan melindungi Yerusalem sama seperti seekor burung yang berkepak-kepak melindungi sarangnya (Yes. 31:5; Ul. 32:11-12). Maka, ketika Tuhan berkata, ”Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam me-ngumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,” Dia me-nunjukkan bahwa Dia adalah Allah itu sendiri.
Dalam ayat 35 Tuhan berkata, ”Sesungguhnya rumah-mu ini akan ditinggalkan.” Karena ”rumah” ini tunggal, maka ini pasti mengacu kepada rumah Allah, Bait Allah (19:46-47). Ini adalah rumah Allah, tetapi sekarang disebut ”rumahmu” karena mereka telah membuatnya menjadi sarang penyamun.
Dalam ayat 35 Tuhan juga berkata, ”Kamu tidak akan melihat Aku lagi sampai pada saat kamu berkata: Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” Ini adalah kedatang-an Tuhan kali kedua, ketika sisa Israel berpaling untuk per-caya kepada-Nya dan diselamatkan (Rm. 11:23, 26).
Dalam 13:31-35 Tuhan menyinggung kebangkitan-Nya dan kedatangan-Nya kembali. Ketika Tuhan datang kembali, Dia akan mendatangkan yobel. Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Dia yang akan mendatangkan kenikmatan terhadap yobel dalam masa seribu tahun!