MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (20)
Pembacaan Alkitab: Luk. 18:31—19:10
Dalam berita ini kita akan melihat 18:31—19:10. Ayatayat ini meliputi tiga hal: Pengungkapan kali ketiga kematian dan kebangkitan Tuhan (ay. 31-34); penyembuhan terhadap orang buta di dekat Yerikho (ay. 35-43); dan penyelamatan Tuhan terhadap Zakheus di Yerikho (19:1-10).
PENGUNGKAPAN KALI KETIGA KEMATIAN DAN KEBANGKITAN-NYA
Sewaktu Manusia-Penyelamat melakukan perjalanan yang jauh dari Galilea ke Yerusalem, Dia berbicara kepada murid-murid-Nya tentang banyak hal. Dalam 18:31 Dia menyisihkan dua belas murid itu untuk berbicara secara pribadi kepada mereka. Firman ini dikatakan secara pribadi kepada mereka berkenaan dengan kepergian-Nya ke Yerusalem untuk mati di sana.
Dalam ayat 31-33 firman ini tercatat dengan terperinci: ”Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi. Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa lain, diolok-olokkan, dihina dan diludahi. Mereka akan mencambuk dan membunuh Dia, tetapi pada hari ketiga Ia akan bangkit.” Adalah bermakna bahwa dalam ayat 31 Tuhan tidak berkata, ”Sekarang Aku pergi ke Yerusalem”; melainkan, Dia berkata, ”Sekarang kita pergi ke Yerusalem.”
Ini adalah kali ketiga Tuhan Yesus mewahyukan ke-matian-Nya kepada murid-murid. Yang pertama adalah di Kaisarea Filipi, sebelum transfigurasi-Nya (9:22). Yang kedua adalah di Galilea, setelah transfigurasi-Nya (9:44-45). Kali ini, yang ketiga, adalah dalam perjalanan ke Yerusalem. Wahyu ini adalah satu nubuat, yang benar-benar asing bagi konsepsi alamiah murid-murid, namun digenapkan secara harfiah dalam setiap detailnya.
Kita telah nampak bahwa Manusia-Penyelamat telah dua kali menubuatkan kematian dan kebangkitan-Nya. Karena waktu kematian-Nya telah tiba, maka Dia pergi ke Yerusalem. Ini adalah ketaatan-Nya kepada Allah sampai mati (Flp. 2:8), menurut maksud dan rencana Allah (Kis. 2:23), bagi penggenapan rencana penebusan-Nya (Yes. 53:10). Dia tahu bahwa melalui kematian-Nya Dia akan dimuliakan dalam kebangkitan (Luk. 24:25-26) dan bahwa hayat ilahi-Nya akan dilepaskan untuk menghasilkan banyak saudara bagi ekspresi-Nya (Yoh. 12:23-24; Rm. 8:29). Demi sukacita yang disediakan bagi-Nya, Ia mengabaikan kehinaan (Ibr. 12:2) dan dengan sukarela diserahkan kepada para pemimpin Yahudi yang diduduki oleh Iblis, dan dihukum mati oleh mereka. Karena hal ini maka Allah meninggikan-Nya sampai ke surga, mendudukkan-Nya di sebelah kanan Allah (Mrk. 16:19; Kis. 2:33-35), memberikan-Nya nama di atas segala nama (Flp. 2:9-10), menjadikan-Nya Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36), dan memakhotai-Nya dengan kemuliaan dan hormat (Ibr. 2:9).
Lukas 18:34 mengatakan, ”Akan tetapi, mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu; arti perkataan itu ter-sembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang di-maksudkan.” Kita dapat membandingkan firman Manusia-Penyelamat kepada murid-murid mengenai kematian-Nya dengan musik merdu yang dimainkan kepada orang-orang yang tidak mengapresiasi musik itu. Murid-murid tidak da-pat mengapresiasi ”musik yang dimainkan” oleh Tuhan ke-pada mereka. Mereka tidak memahami apa pun yang Tuhan katakan. Meskipun Dia memakai kata-kata yang sederhana, namun mereka tidak dapat memahami apa yang sedang dikatakan-Nya.
Mengapa murid-murid itu tidak dapat menyerap firman Tuhan mengenai kematian dan kebangkitan-Nya? Mereka tidak mampu memahaminya karena mereka sama sekali berada di dalam kerajaan yang lain, yaitu di dalam kerajaan mereka sendiri. Karena mereka berada di dalam kerajaan mereka sendiri, maka mereka tidak memiliki hati terhadap hal-hal dari Kerajaan Allah.
MENYEMBUHKAN ORANG BUTA
DI DEKAT YERIKHO
Pengungkapan kali ketiga kematian dan kebangkitan Tuhan berhubungan dengan penyembuhan orang buta di dekat Yerikho. Sebenarnya, murid-murid Tuhan itu buta dan memerlukan penyembuhan. Mereka tidak dapat memahami apa yang Tuhan katakan tentang kematian dan kebangkitan-Nya, karena mereka kekurangan pandangan dan penglihaan. Karena itu, setelah pengungkapan kali ketiga kematian dan kebangkitan-Nya, ada kasus penyembuhan orang buta.
Urutan menurut Moralitas
Lukas 18:35 mengatakan, ”Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis.” Di sini kelihatannya ada masalah yang berhubungan dengan kota Yerikho. Dalam pasal 10 Tuhan diterima ke dalam rumah Marta, dan rumahnya ada di Betania. Dalam perjalanannya dari Galilea ke Yerusalem Tuhan pasti melewati Yerikho sebelum Dia mencapai Betania dan kemudian Dia akan pergi dari Betania ke Yerusalem. Lalu, mengapa Betania tersirat dalam pasal 10 dan mengapa Yerikho dengan jelas disebutkan dalam pasal 19? Apakah ini berarti Dia datang ke Betania dan kemudian pulang kembali ke Yerikho? Tidak, sebenarnya Dia diterima oleh Marta setelah Dia melalui Yerikho. Tetapi dalam pasal 10 Lukas tidak menaruh perhatian pada geografi atau urutan sejarah; ia memperhatikan standar moralitas yang tertinggi. Ini adalah satu bukti yang kuat untuk memperlihatkan bahwa pengisahan Lukas bukanlah menurut urutan peristiwa sejarah, melainkan menurut moralitas.
Penglihatan dan Keselamatan
Kita telah menunjukkan bahwa ayat 35 mengatakan Tuhan sudah di dekat Yerikho. Ayat-ayat selanjutnya menunjukkan bahwa di dekat Yerikho Manusia-Penyelamat ini menyembuhkan satu orang buta. Ini berarti Dia menyem-buhkan orang buta itu sebelum Dia masuk Yerikho. Tetapi menurut Matius 20:29 dan Markus 10:46, penyembuhan itu terjadi pada saat Dia keluar dari Yerikho. Penuturan Lukas memiliki arti rohani. Orang buta itu mendapatkan penglihatan diikuti dengan keselamatan Zakheus dalam 19:1-9. Ini menunjukkan bahwa untuk menerima keselamatan, seseorang terlebih dulu perlu menerima penglihatan, melihat Penyelamat. Kedua kasus ini, yang terjadi di Yerikho secara beruntun, seharusnya secara rohani dianggap sebagai satu kasus yang lengkap. Seorang dosa dalam kegelapan perlu me-nerima penglihatan supaya dapat menyadari bahwa dia memerlukan keselamatan (Kis. 26:18).
Apa yang dibahas dalam 18:35—19:10 menunjukkan bagaimana seseorang dapat memenuhi syarat-syarat yang dinyatakan dalam 18:9-30, untuk memasuki Kerajaan Allah. Syarat-syarat ini pertama-tama harus menerima penglihatan dari Penyelamat (18:35-43), kemudian menerima Penyelamat sebagai keselamatan yang penuh kuasa (19:1-10). Dengan demikian, orang buta itu dapat menerima Penyelamat seperti pemungut cukai yang bertobat dan anak kecil yang tidak terjajah, dan Zakheus dapat meninggalkan semua kekayaannya untuk mengikut Penyelamat.
Orang Buta Mewakili Murid-Murid
Ketika orang buta di dekat Yerikho itu mendengar bah-wa Yesus akan lewat, ia berseru, ”Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku” (ay. 38). Gelar ”Anak Daud” adalah gelar rajani Kristus bagi bani Israel. Hanya bani Israel yang layak menyebut Tuhan dengan gelar ini.
Ayat 40-41 melanjutkan, ”Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Jawab orang itu: Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Pertanyaan Tuhan dalam ayat 41 memperlihatkan kasih yang terbuka lebar ter-hadap orang yang memerlukan ini. Ini mengekspresikan ke-insanian Manusia-Penyelamat sampai satu tingkat yang ti-dak terduga.
Kemudian Tuhan berkata kepada orang buta itu, ”Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau” (ay. 42). Secara harfiah, bahasa Yunani yang diterjemahkan ”menyembuhkan” berarti menyelamatkan. Seketika itu juga melihatlah ia dan mengikuti Tuhan, sambil memuliakan Allah (ay. 43).
Setelah Tuhan mengungkapkan kematian dan kebangkitan-Nya untuk kali ketiga kepada kedua belas murid, mereka masih tetap buta. Karena itu, orang buta di dekat Yerikho itu mewakili mereka. Penyembuhan Tuhan terhadap orang buta itu melambangkan Dia menanggulangi kebutaan kedua belas murid itu.
Di sini saya ingin mengatakan sekali lagi, bahwa memahami Alkitab itu bukanlah perkara yang mudah. Dalam memahami Alkitab tidak cukup hanya mengenal huruf hitam di atas putih. Jika kita ingin memahami Alkitab, kita perlu mengenal roh kitab yang sedang kita baca. Beban dalam roh Lukas dalam bagian pasal 18 ini adalah me-perlihatkan kepada kita bahwa semua pengikut Tuhan, bahkan dua belas murid pilihan-Nya, itu buta. Orang-orang Farisi bukanlah satu-satunya kelompok yang tidak dapat melihat realitas rohani Kerajaan Allah. Kita dapat menga-takan bahwa kedua belas murid itu sebelumnya telah kekurangan kemampuan ini. Tiga dari antara mereka — Petrus, Yakobus, dan Yohanes — pernah menyertai Tuhan di atas gunung pengubahan. Meskipun mereka telah melihat begitu banyak di atas gunung, tetapi sebenarnya, dalam hal rohani mereka sama sekali tidak melihat apa-apa, karena mereka buta. Sebab itu, orang buta di dekat Yerikho itu bukanlah satu-satunya orang yang buta. Semua orang di sekitar Tuhan juga buta.
Kita Perlu Penyembuhan Tuhan
Saya prihatin terhadap keadaan kaum beriman pada hari ini, termasuk keadaan kita. Beberapa dari antara kita mungkin secara rohani masih tetap buta. Kita perlu berdoa, ”Ya Tuhan, belas kasihanilah aku. Aku perlu Engkau menyembuhkan kebutaanku. Tuhan, aku ingin dapat melihat.”
Markus 4:12 menunjukkan bahwa kita mungkin melihat, tetapi tidak nampak jelas dan mendengar tetapi tidak mengerti. Karena keadaan kita mungkin demikian, maka kita perlu berdoa agar Tuhan mau membelaskasihani kita. Kita juga perlu mengosongkan diri kita agar melihat realitas rohani Kerajaan Allah.
Orang-orang Farisi mengira bahwa mereka telah melihat banyak hal, dan mereka menganggap diri mereka se-bagai orang-orang yang penting. Sebenarnya, mereka tidak terhitung apa-apa. Mereka bahkan lebih kosong daripada para pemungut cukai. Demikian juga, meskipun murid-mu-rid mengikuti Tuhan Yesus dari awal ministri-Nya dan melihat hal-hal yang terjadi di dalam ministri-Nya, tetapi mereka tetap buta. Seperti yang telah kita tunjukkan, kita juga mungkin buta secara rohani. Beberapa dari antara kita telah berada di dalam Tuhan selama bertahun-tahun. Secara tidak sadar kita mungkin menyangka bahwa kita telah mengenal banyak hal. Tetapi sebenarnya kita mungkin masih tetap buta, tidak melihat hal-hal yang perlu kita lihat. Karena itu, kita memerlukan penyembuhan Tuhan. Dalam hadirat Tuhan, kita perlu memiliki keyakinan yang dalam bahwa kita tidak terhitung apa-apa, tidak tahu apa-apa, dan kita perlu Dia memberikan penglihatan kepada kita.
Dalam pembacaan kita akan Injil Lukas, kita mungkin heran mengapa kasus penyembuhan orang buta di dekat Yerikho itu baru tercatat di sini. Kita mungkin mengira bahwa kasus yang demikian itu seharusnya dicatat lebih awal dalam kitab ini, mungkin dalam bagian yang mencatat ministri Tuhan di Galilea. Namun dalam pasal 18, ketika Tuhan sudah sangat dekat dengan Yerusalem, kita memiliki catatan kesembuhan orang buta ini. Kasus ini menunjukkan bahwa para pengikut Manusia-Penyelamat memerlukan Dia untuk menyembuhkan kebutaan mereka.
MENYELAMATKAN ZAKHEUS DI YERIKHO
Dalam 19:1-10 terdapat catatan tentang Tuhan menye-lamatkan Zakheus di Yerikho. Ayat 1 mengatakan, ”Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.” Kita telah nampak bahwa Yerikho adalah kota yang terku-tuk (Yos. 6:26; 1 Raj. 16:34).
Lukas 19:2 mengatakan, ”Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.” Pemungut cukai adalah orang-orang yang mengumpulkan pajak yang ditetapkan oleh pemerintah Romawi. Hampir semua orang dari antara mereka menyalahgunakan jabatan mereka dengan menagih lebih banyak daripada yang seharusnya mereka terima dengan tuduhan palsu (Luk. 3:12-13; 19:8). Membayar pajak kepada orang Romawi sangat menyakitkan bagi orang-orang Yahudi. Orang-orang yang berhubungan dengan pengumpulan pajak ini dihina oleh orang-orang dan dianggap tidak layak untuk dihormati (Luk. 18:9-10). Mereka sering menipu orang-orang. Karena itu, mereka dikelompokkan dengan orang-orang dosa (Mat. 9:10-11).
Menurut Lukas 19:3-6, untuk melihat Tuhan Yesus, Zakheus, yang berperawakan pendek, naik ke sebuah pohon ara. Ketika Tuhan datang ke tempat itu, Dia melihat ke atas dan berkata, ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (ay. 5). Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: ”Ia menumpang di rumah orang berdosa” (ay. 7).
Dalam 19:8 Zakheus berkata, ”Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Di sini kita nampak bahwa be-gitu seorang dosa menerima Penyelamat, kuat kuasa keselamatan akan mendorongnya menanggulangi harta kekayaannya dan membereskan hidup masa lampaunya yang penuh dosa.
Bahasa Yunani untuk ”memeras” dalam ayat 8 sama dengan kata yang dipakai dalam 3:14. Ini adalah satu perkataan yang halus dari merampas. Para pemungut cukai menetapkan nilai yang berlebihan atas sebidang tanah atau pendapatan, atau meningkatkan pajak terhadap mereka yang tidak dapat membayarnya, dan kemudian meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi.
Zakheus mengatakan bahwa sekiranya ia memeras, ia akan mengembalikannya empat kali lipat. Ini sesuai dengan tuntutan-tuntutan hukum Taurat untuk pemulihan (Kel. 22:1; 2 Sam. 12:6).
Dalam Lukas 19:9 Tuhan Yesus selanjutnya berkata kepada Zakheus, ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” Betapapun jahatnya pemungut cukai ini, namun ia juga anak Abra-ham, ahli waris pilihan dari warisan yang dijanjikan Allah (Gal. 3:7, 29).
Dalam ayat 10 Tuhan berkata, ”Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Ini menunjukkan bahwa kedatangan Penyelamat ke Yerikho bukan kebetulan, tetapi bertujuan. Dia sengaja datang ke Yerikho untuk mencari orang dosa yang hilang ini, sama seperti Dia mencari perempuan berdosa di Samaria (Yoh. 4:4).