MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (21)
Pembacaan Alkitab: Luk. 19:1-27
Dalam berita ini kita akan melihat Lukas 19:1-27. Bagian ini meliputi dua perkara: Penyelamatan Zakheus di Yerikho (ay 1-10) dan ajaran Tuhan tentang kesetiaan (ay 11-27).
KESELAMATAN ZAKHEUS
Seorang Dosa yang Paling Berdosa
Lukas 19:1-2 mengatakan, ”Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.” Sebagai seorang kepala pemungut cukai, Zakheus adalah kepala orang dosa, orang dosa yang paling berdosa. Dia menjadi kaya melalui perbuatan dosanya sebagai seorang pemungut cukai.
Dalam pengakuannya kepada Tuhan yang berhubungan dengan ganti rugi dan pemberesan hal-hal yang lampau, Zakheus berkata kepada-Nya, ”Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (ay. 8). Kita mungkin menganggap kata-kata ”sekiranya ada sesuatu yang kuperas” sebagai suatu cara memperhalus kata ”merampas”. Para pemungut cukai menetapkan nilai yang berlebihan atas sebidang tanah atau membesarkan pajak terhadap mereka yang tidak dapat membayarnya, dan kemudian meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi. Inilah cara mereka memeras orang lain. Sewaktu Zakheus akan melakukan ganti rugi, ia menying-gung pemerasan yang dilakukannya. Apa yang dilakukan Zakheus dalam mengembalikan empat kali lipat dari jumlah yang diperasnya itu sangatlah jujur. Meskipun demikian, ia masih menyinggung tindakan perampasannya secara halus. Zakheus, orang yang menjadi kaya oleh dosanya, sekarang ingin membuat pemulihan yang penuh untuk membersihkan masa lalunya yang penuh dosa.
Berusaha untuk Melihat Yesus
Lukas 19:3-4 mengatakan, ”Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ.” Meskipun Zakheus memanjat pohon untuk melihat Tuhan Yesus, tetapi tidak dikatakan bahwa ia melihat Tuhan, melainkan bahwa Tuhan melihat dia: ”Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata kepadanya: Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (ay. 5). Bukan Zakheus yang melihat Tuhan, melainkan Penyelamat yang melihat Zakheus. Sekali lagi kita nampak standar moralitas Manusia-Penyelamat yang tertinggi dalam menyelamatkan orang dosa. Tidak ada sesuatu pun yang dilakukan oleh orang dosa; sebaliknya, segala sesuatu dilakukan oleh Penyelamat, termasuk soal melihat. Dalam ayat 6 dikatakan bahwa Zakheus ”segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.”
Manusia-Penyelamat Tinggal di Rumah Zakheus
Zakheus tentu seorang yang terkucil. Ia dihina habis-habisan oleh masyarakat Yahudi dan bahkan lebih terkucil daripada seorang kusta. Khususnya orang-orang Farisi, orang-orang munafik tingkat tinggi dalam agama Yahudi, tidak mempedulikannya. Dalam pandangan mereka, pemungut cukai lebih najis daripada orang kusta. Meskipun demikian, di depan banyak orang Penyelamat memberi tahu Zakheus, ”Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Sungguh suatu kejutan yang besar bagi Zakheus dan bagi setiap orang dari kumpulan orang banyak itu! Seluruh kota Yerikho pasti telah digu ncangkan oleh hal itu. Ayat 7 mengatakan, ”Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, Ia menumpang di rumah orang berdosa.”
Hasil Spontan dari Kuat Kuasa
Keselamatan Tuhan
Dalam ayat 1 sampai 7 tidak tercantum bahwa Tuhan berkata banyak kepada Zakheus. Namun, Zakheus berespon dengan sangat tegas, dan mengenal Penyelamat sebagai Tuhannya. ”Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin” (ay. 8). Zakheus dapat mengungkapkan perkataan demikian meskipun ia belum mendengar pengajaran Manusia-Penyelamat mengenai harta kekayaan.
Pada perjalanan dari Galilea ke Yerusalem, Penyelamat berkali-kali membicarakan harta kekayaan. Yang pertama dalam pasal 12. Ketika seseorang dari orang banyak meminta kepada-Nya untuk memberi tahu saudaranya agar membagi warisannya, Dia berkata kepada mereka, ”Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu” (12:15). Kemudian dalam 14:33 Penyelamat selanjutnya berkata, ”Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Dalam pasal 16, Dia berbicara kepada murid-murid-Nya mengenai Mamon yang tidak benar dan kemudian menyampaikan satu peringatan kepada orang kaya. Dalam pasal 17, Dia membicarakan harta kekayaan yang berhubungan dengan keterangkatan para pemenang: ”Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali” (ay. 31). Setelah ini, dalam 18:22 Dia berkata kepada pemimpin yang kaya itu, ”Juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Dari semua kejadian tersebut kita nampak bahwa Manusia-Penyelamat berkali-kali membicarakan harta kekayaan. Tentunya, Zakheus tidak mendengar sesuatu pun tentang hal ini. Meskipun demikian, dalam menjawab perkataan Penyelamat, ia mengatakan bahwa setengah dari harta kekayaannya akan ia berikan kepada orang miskin.
Kita telah nampak bahwa dalam ayat 8 Zakheus melanjutkan berkata kepada Tuhan, ”Dan sekiranya ada se-suatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Apa yang dilakukan Zakheus di sini sesuai de-ngan tuntutan-tuntutan hukum Taurat untuk pemulihan (Kel. 22:1; 2 Sam. 12:6). Inilah hasil spontan dari kuat kuasa keselamatan Tuhan.
Dalam kasus penyelamatan Zakheus di Yerikho, kita nampak bahwa keselamatan Tuhan sebenarnya adalah Tuhan itu sendiri. Dalam ayat 5 Dia berkata, ”Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Tetapi dalam ayat 9 Dia berkata kepada Zakheus, ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini.” Bila kita menjajarkan ayat-ayat ini, kita nampak bahwa ”Aku” dalam ayat 5 sama dengan ”keselamatan” dalam ayat 9. Ini menunjukkan bahwa keselamatan sebenarnya adalah Tuhan itu sendiri. Ketika Dia datang, keselamatan pun datang. Di mana saja Dia tinggal, keselamatan juga tinggal di sana.
Tawanan yang Tertindas
Kita telah menunjukkan bahwa Zakheus berespon terhadap Manusia-Penyelamat karena kuat kuasa keselamatan Tuhan. Pada Manusia-Penyelamat ada kuat kuasa, dan kuat kuasa ini adalah Roh Kudus. Dia melayankan yobel dengan Roh Kudus. Dalam pasal 4 Dia mengumumkan bahwa Roh Tuhan ada pada-Nya karena Dia telah diurapi untuk mengumumkan kelepasan kepada orang-orang tawanan. Tuhan telah ditunjuk dan diurapi untuk mengumumkan yobel kepada semua orang yang tertindas.
Dalam pandangan agamawan, khususnya orang-orang Farisi, Zakheus adalah orang dosa yang paling berdosa, karena ia adalah seorang kepala pemungut cukai. Tetapi dalam pandangan Manusia-Penyelamat, ia adalah seorang tawanan yang tertindas. Sebelum ia memanjat pohon untuk melihat Penyelamat, Zakheus mungkin telah sering mempertimbangkan untuk terlepas dari keadaannya yang penuh dengan dosa. Sebagai seorang Yahudi, hati nuraninya pasti tertuduh karena bekerja sebagai seorang pemungut cukai untuk mengumpulkan pajak bagi imperialis Romawi. Maka, ia telah tertuduh oleh hati nuraninya sendiri sebagai seorang pengkhianat terhadap negaranya. Karena itu, ia mungkin telah berusaha untuk keluar dari keadaannya yang penuh dengan dosa, tetapi ia tidak mampu melakukannya, karena ia adalah seorang tawanan dan tertindas.
Mencari dan Menyelamatkan yang Hilang
Lukas 19:10 mengatakan, ”Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Di sini kita nampak bahwa Zakheus bukan hanya orang dosa, tetapi juga adalah orang yang hilang. Penyelamat sengaja datang ke Yerikho untuk mencari dan menyelamatkan orang yang hilang.
Pencarian Tuhan terhadap Zakheus dalam Lukas 19 dapat dibandingkan dengan pencarian-Nya terhadap perempuan Samaria dalam Yohanes 4. Penyelamat berkata kepada Zakheus, ”Aku harus menumpang di rumahmu,” dan Yohanes 4:4 mengatakan, ”Ia harus melintasi daerah Samaria.” Dia harus melintasi daerah Samaria untuk bertemu dengan seorang perempuan Samaria yang hilang. Tuhan pergi ke sana untuk mencarinya dan menyelamatkannya. Demikian pula yang terjadi dalam Lukas 19. Tuhan harus tinggal di rumah Zakheus untuk menyelamatkan orang yang hilang.
Keselamatan, Yobel, dan Kerajaan
Dalam 19:1-10 kita nampak bahwa di mana saja Manusia-Penyelamat berada, keselamatan juga ada di sana, karena Dia justru adalah keselamatan. Selain itu, ketika keselamatan ini ada, Kerajaan Allah juga ada, dan Kerajaan Allah adalah yobel. Karena itu, ketika Tuhan datang ke rumah Zakheus, itu adalah yobel bukan hanya bagi seorang individu, tetapi juga bagi seluruh rumah tangga itu. Ketika Tuhan datang ke rumahnya, keselamatan datang kepada rumah itu.
Kita dapat mengatakan bahwa kasus penyembuhan orang buta di dekat Yerikho dan kasus penyelamatan Zakheus di Yerikho adalah satu. Dalam kasus yang pertama, orang buta menerima penglihatan dari Penyelamat, dan dalam kasus yang kedua, Zakheus menerima Penyelamat sebagai keselamatan yang memiliki kuat kuasa. Ini menunjukkan bahwa pertama-tama kita menerima penglihatan dari Penyelamat, kemudian kita menerima Penyelamat itu sendiri. Penyelamat ini adalah keselamatan, dan keselamatan ini adalah Kerajaan Allah sebagai yobel. Sekarang kita dapat menyadari bahwa dalam 19:1-10 seorang dosa yang paling berdosa dibawa masuk ke dalam yobel kasih karunia. Seka-rang ia dapat menikmati Penyelamat dan Kerajaan Allah, karena sekarang ia ada di dalam Kerajaan Allah dan menikmati kerajaan sebagai yobelnya.
AJARAN TENTANG KESETIAAN
Lukas 19:11 mengatakan, ”Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan.” Perumpamaan ini secara rohani merupakan suatu kelanjutan dari kasus keselamatan sebelumnya. Perumpamaan ini memperlihatkan bagaimana orang-orang yang telah beroleh selamat harus melayani Tuhan supaya mereka dapat mewarisi kerajaan yang akan datang.
Seorang Bangsawan
Ayat 12 melanjutkan, ”Lalu Ia berkata, Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk di-nobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.” Bangsawan ini melambangkan Penyelamat dengan statusnya yang tertinggi, yaitu status manusia-Allah. Kata ”berangkat” melambangkan kepergian Penyelamat ke surga setelah kematian dan kebangkitan-Nya (24:51; 1 Ptr. 3:22), dan ”kembali” melambangkan kedatangan kembali Penyelamat bersama kerajaan-Nya (Dan. 7:13-14; Why. 11:15; 2 Tim. 4:1).
Bagian Umum yang Diberikan kepada Setiap Hamba
Dalam ayat 13 perumpamaan itu melanjutkan, ”Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.” Pada perumpamaan dalam Matius 25:14-30, hamba-hamba itu diberi talenta dalam jumlah yang berbeda-beda menurut kemampuan mereka masing-masing. Di sini perumpamaan ini menekankan bagian umum yang diberikan secara adil kepada setiap hamba berdasarkan keselamatan yang sama. Namun, maksud kedua perumpamaan itu sama: Kesetiaan hamba-hamba itu akan menentukan bagian mereka sebagai pahala mereka dalam kerajaan yang akan datang.
Menurut ayat 13, bangsawan itu memberikan sepuluh mina kepada hamba-hambanya. Ini adalah sejumlah uang yang sama dengan seratus dirham, atau upah seratus hari.
Orang-orang Yahudi yang Tidak Percaya
Ayat 14 mengatakan, ”Akan tetapi, orang-orang sebang-sanya membenci dia, lalu mengirim utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami.” Orang-orang sebangsanya melambangkan orang-orang Yahudi yang tidak percaya. Pernyataan mereka bahwa mereka tidak mau Tuhan memerintah atas mereka digenapkan dalam Kisah Para Rasul pasal 2 sampai pasal 9.
Hamba yang Baik dan Hamba yang Jahat
Ayat 15-17 melanjutkan, ”Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.” Memiliki kekuasaan atas sepuluh kota melambangkan para pemenang berkuasa atas bangsa-bangsa (Why. 2:26; 20:4, 6).
Ayat 18-19 mengatakan, ”Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota.” Ini menunjukkan pemerintahan kaum beriman pemenang di dalam kerajaan yang akan datang sebagai pahala akan berbeda-beda tingkatnya.
Ayat 20-21 mengatakan, ”Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur.” Kata ”menyimpan” dalam ayat 20 melambangkan bagaimana kaum beriman yang tidak setia membiarkan keselamatan mereka dalam keadaan sia-sia, tidak meng-gunakannya secara produktif. Kata ”takut” dalam ayat 21 adalah negatif. Kita harus positif dan agresif dalam menggunakan karunia Tuhan.
Ayat 22-23 melanjutkan, ”Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kaumasukkan ke bank? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya.” Pekerjaan Tuhan kelihatannya selalu dimulai dari nol. Dia menuntut kita untuk bekerja bagi-Nya
tanpa apa-apa, mengambil apa yang tidak Dia taruh dan menuai apa yang tidak Dia tabur. Ini tidak seharusnya menjadi satu alasan bagi kita untuk mengabaikan pemakaian karunia kita. Sebaliknya, ini seharusnya memaksa kita melatih iman kita untuk memakai karunia kita sampai pada puncaknya.
Menyimpan uang di bank melambangkan menggunakan karunia Tuhan untuk menyelamatkan orang-orang dan melayankan kekayaan-Nya kepada mereka. ”Bunga” dalam ayat 23 melambangkan hasil keuntungan yang kita dapatkan bagi pekerjaan Tuhan dengan menggunakan karunia-Nya.
Ayat 24-26 melanjutkan, ”Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina. Jawab-Nya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil.” Mengambil mina melambangkan bahwa karunia Tuhan diambil dari kaum beriman yang malas di dalam kerajaan yang akan datang. Memberikan mina kepada orang yang memiliki sepuluh mina melambangkan bahwa karunia kaum beriman yang setia akan bertambah. Kepada setiap orang yang memperoleh keuntungan pada zaman gereja, maka karunia yang lebih banyak akan diberikan kepadanya pada zaman kerajaan yang akan datang. Tetapi siapa yang tidak memperoleh keuntungan pada zaman gereja, bahkan karunia yang dia miliki akan diambil dari dia pada zaman kerajaan yang akan datang.
Dalam ayat 27 perumpamaan ini menyimpulkan, ”Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.” Ini melambangkan semua orang Yahudi yang tidak percaya yang menolak Penyelamat, akan binasa.
Perlunya Kita Melayani dengan Setia
Kita perlu memahami mengapa perumpamaan dalam 19:11-27 mengikuti kasus Zakheus. Alasannya adalah setelah kita diselamatkan kita perlu melayani Tuhan dengan setia. Kita nampak hal yang sama dalam pasal 10, di mana kasus tentang Marta dan Maria mengikuti perumpamaan orang Samaria yang murah hati. Ini menunjukkan bahwa setelah beroleh selamat, kita perlu melayani. Pemikiran yang sama juga terjadi dalam pasal 14, 16, dan 17. Sekarang, sekali lagi dalam pasal 19 kita nampak bahwa setelah beroleh selamat, kita perlu memperhatikan pelayanan terhadap Tuhan.
Seperti yang telah kita lihat, perumpamaan ini dibuka dengan perkataan mengenai ”seorang bangsawan”. Tidak diragukan lagi manusia ini adalah manusia-Allah. Dia sesungguhnya keturunan bangsawan. Saya suka pernyataan ”keturunan bangsawan”. Tidak satu pun dari antara kita yang keturunan bangsawan. Tuhan Yesus adalah satu-satunya Orang keturunan bangsawan karena kelahiran-Nya adalah kelahiran seorang manusia-Allah.
Perumpamaan dalam 19:11-27 mirip dengan perumpmaan dalam Matius 25:14-30. Namun, dalam Matius 25 Tuhan memberikan talenta kepada hamba-hamba-Nya menu-rut kemampuan mereka masing-masing (Mat. 25:14-15). Tetapi dalam Lukas 19:11-27, karunia, yaitu mina, diberikan sama banyak, karena perumpamaan ini menekankan bagian umum yang diberikan sama banyak kepada setiap hamba berdasarkan keselamatan yang sama. Meskipun demikian, setiap perumpamaan itu menyinggung satu hal, bahwa setelah kita diselamatkan kita perlu melayani dengan setia. Kita perlu menggunakan apa yang diberikan kepada kita. Kita telah menerima hayat ilahi dengan atribut-atributnya dan Roh Kudus dengan karunia-karunia-Nya. Sebagai orang-orang yang telah menerima karunia-karunia dari hayat ilahi dan Roh Kudus, kita perlu menggunakan karunia-karunia itu sebagai ”modal” untuk ”melakukan usaha” dan memperoleh ”keuntungan” bagi Tuhan.
Memperoleh Keuntungan dan Menerima Pahala
Menurut 19:16-19, orang-orang yang memperoleh keuntungan akan menerima pahala. Orang yang memperoleh sepuluh mina akan memiliki kekuasaan atas sepuluh kota, dan orang yang memperoleh lima mina akan memiliki kekuasaan atas lima kota. Ini adalah satu bukti yang kuat bahwa orang-orang kudus yang menang akan dikaruniai pahala dengan kuasa pemerintahan di dalam kerajaan yang akan datang. Pahala itu akan menjadi satu bagian yang besar dari kenikmatan mereka terhadap warisan yang hilang sebagai yobel mereka. Memerintah atas sepuluh kota atau lima kota adalah bagian dari kenikmatan terhadap yobel, bagian dari kenikmatan hak kelahiran yang telah dipulihkan.
Seperti yang telah kita tunjukkan, yobel pada masa kini adalah satu pencicipan, dan yobel pada masa yang akan datang akan menjadi satu kenikmatan yang penuh. Pada zaman yang akan datang para pemenang akan menikmati bumi, mewarisinya seperti yang dikatakan oleh Tuhan dalam Matius 5:5. Mewarisi bumi dan memerintah atas kota-kota akan menjadi kenikmatan kita terhadap Kerajaan Allah, Kristus, dan yobel.
Perumpamaan ini juga menunjukkan bahwa ada orang akan kehilangan pahala. Ini menunjukkan bahwa ada orang dari orang-orang yang telah beroleh selamat tidak akan ber-bagian di dalam yobel yang akan datang. Pada zaman kerajaan, mereka tidak akan memerintah atas bumi.
Pengajaran di antara orang-orang Kristen pada hari ini telah mengabaikan fakta bahwa ada orang-orang yang telah beroleh selamat yang tidak akan berbagian dalam yobel pada zaman kerajaan yang akan datang. Namun, Lukas berkali-kali menekankan hal ini, dalam pasal 14, 16, 17, 18, dan sekali lagi dalam pasal 19. Injil Lukas dengan jelas me-wahyukan bahwa orang-orang yang telah beroleh selamat perlu setia dalam melayani Tuhan. Jika tidak, mereka akan kehilangan pahala dalam kerajaan yang akan datang. Ada orang dari orang-orang yang telah beroleh selamat akan kehilangan kenikmatan terhadap yobel pada zaman kerajaan. Hal ini harus menjadi satu peringatan bagi kita, dan hal ini seharusnya membuat kita berhati-hati dalam melayani Tuhan.