← Daftar isi Lukas (2) · bab 15/24

MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (19)

Pembacaan Alkitab: Luk. 18:9-30

Dalam 18:9-30 terdapat pengajaran Tuhan tentang jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dibahas dalam ayat-ayat ini dapat dianggap sebagai syarat-syarat dan tuntutan-tuntutan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Di sini Tuhan menyebutkan tiga tahap: Pertama, merendahkan diri di hadapan Allah sebagai seorang dosa yang menyadari keperluan akan pendamaian Allah (ay. 9-14); kedua, menjadi seperti seorang anak kecil, tidak disusupi oleh kon-sepsi apa pun (ay. 15-17); dan ketiga, mengikuti Penyelamat dengan tidak dijajah oleh kekayaan dan semua hal materi lainnya (ay. 18-30). Marilah kita membahas setiap aspek dari pengajaran Tuhan ini.

MERENDAHKAN DIRI SENDIRI

Dalam 18:9-14 kita nampak bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita perlu merendahkan diri. Dalam ayat 14 Tuhan berkata, ”Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Kita tidak boleh mengira bahwa kita ini orang penting. Sebaliknya, kita harus merendahkan diri kita dan menganggap diri kita bukan apa-apa.

Doa Orang Farisi

Dalam ayat 10 sampai 14 Tuhan menyampaikan suatu perumpamaan tentang dua orang ”pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai” (ay. 10). Tuhan sering memakai pemungut cukai dan orang-orang Farisi sebagai contoh. Ayat 11-12 mencatat doa orang Farisi itu: ”Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan pe-rampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Perkataan orang Farisi dalam ayat 11, di mana ia bersyukur kepada Allah bahwa ia tidak seperti semua orang lain, tidak kedengaran seperti sebuah doa; melainkan suatu tuduhan terhadap orang lain. Demikian juga, perkataannya dalam ayat 12 tentang berpuasa dan berdoa ini tidak kedengaran seperti sebuah doa, tetapi suatu kebanggaan yang sombong kepada Allah. Karena itu, dalam doanya orang Farisi itu menuduh orang lain dan sombong kepada Allah.

Doa Pemungut Cukai

Dalam ayat 13 kita nampak pemungut cukai yang di-hakimi, dituduh, dan direndahkan ini berdoa dengan meren-dahkan diri sampai pada puncaknya: ”Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani me-nengadah ke langit, melainkan ia memukul diri-Nya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Perkataan ini menunjukkan keperluan akan seorang Penebus dan juga keperluan akan pendamaian. Pemungut cukai itu menyadari betapa dosanya menyalahi Allah. Karena itu, ia meminta pendamaian dari Allah; melalui kurban pendamaian mengampuni dia, supaya Allah boleh membelaskasihani dan merahmati dia.

Roma 3:25 mengatakan bahwa Allah membuat Kristus Yesus menjadi suatu tutup pendamaian melalui iman dalam darah-Nya. Bahasa Yunani untuk pendamaian adalah hilasterion, berbeda dengan hilasmos dalam 1 Yohanes 2:2 dan 4:10 dan hilaskomai dalam Ibrani 2:17. Hilasmos adalah yang mendamaikan, yaitu kurban pendamaian. Dalam 1 Yohanes 2:2 dan 4:10 Tuhan Yesus adalah kurban pendamaian bagi dosa-dosa kita. Tuhan mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai satu kurban bagi dosa-dosa kita (Ibr. 9:28), bukan hanya untuk menebus kita, tetapi juga untuk memuaskan Allah. Di dalam Dia sebagai Pengganti kita, melalui kematian-Nya bagi orang lain, Allah dipuaskan dan ditentramkan. Jadi, Dia adalah kurban penda-maian antara Allah dengan kita.

Hilaskomai berarti menentramkan, mendamaikan se-seorang dengan orang lain melalui memuaskan tuntutan orang lain itu. Dalam Ibrani 2:17 Tuhan Yesus membuat pendamaian bagi dosa-dosa kita untuk mendamaikan kita de-ngan Allah dengan memuaskan tuntutan adil Allah atas diri kita. Tuhan Yesus membuat pendamaian bagi dosa-dosa kita untuk memenuhi kebenaran Allah dengan memuaskan tuntutan keadilan Allah, sehingga kita damai dengan Allah.

Dalam Roma 3:25 hilasterion adalah tempat pendamaian. Maka dalam Ibrani 9:5 kata ini dipakai untuk tutup pendamaian di dalam tempat Mahakudus, dan dalam Keluaran 25:16-22 dan Imamat 16:12-16 Septuagin juga memakai kata ini untuk tutup pendamaian. Tabut adalah tempat Allah bertemu dengan manusia. Di dalam tabut terdapat hukum Sepuluh Perintah, yang dengan tuntutan kekudusan dan kebenarannya menyingkapkan dan menghakimi dosa-dosa orang yang datang menghampiri Allah. Namun melalui tutup pendamaian, dengan darah pendamaian yang dipercikkan ke atasnya pada hari pendamaian, seluruh keadaan orang dosa tertudung sepenuhnya. Sebab itu, di atas tutup penudung dosa ini Allah dapat bertemu dengan orang-orang yang melanggar hukum kebenaran-Nya. Dan Dia dapat melakukan hal ini secara pemerintahan tanpa kontradiksi dengan kebenaran-Nya, sekalipun di bawah pengawasan kerub yang mengemban kemuliaan-Nya dan menaungi tutup tabut. Kurban pendamaian yang adalah lambang dari Kristus, me-muaskan semua tuntutan kebenaran dan kemuliaan Allah. Inilah yang ditunjukkan oleh Roma 3:25. Jadi, kata hilasterion dipakai untuk mewahyukan bahwa Tuhan Yesus adalah tempat pendamaian, tutup pendamaian. Sebagai kurban pendamaian, Dia telah membuat pendamaian yang penuh di atas salib bagi dosa-dosa kita dan telah memuaskan tuntutan kebenaran dan kemuliaan Allah sepenuhnya.

Karena itu, sungguh bermakna bahwa pemungut cukai itu dalam Lukas 18:13 berkata, ”Ya Allah, kiranya Engkau berdamai dengan aku, orang berdosa ini!” (Tl.). Ia menyadari bahwa ia telah berdosa kepada Allah dan bahwa ia perlu seseorang untuk menjadi kurban pendamaiannya supaya Allah dapat dipuaskan. Orang yang merendahkan diri ini menyadari bahwa ia bukan apa-apa melainkan orang dosa. Karena ia mempersembahkan doa yang berdasar pada pen-damaian Allah, maka ia ”pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah” (ay. 14).

Merendahkan Diri dan Tunduk

Perkataan Tuhan dalam ayat 14 tentang dibenarkan mengacu kepada tahap permulaan dari keselamatan kita. Setiap orang yang telah diselamatkan harus menjadi orang yang merendahkan diri sedemikian rupa seperti yang dilakukan pemungut cukai itu. Sebenarnya, bertobat dan mengaku dosa kita adalah merendahkan diri. Semua orang yang telah beroleh selamat adalah orang-orang yang telah merendahkan diri dan tunduk.

Ketika saya muda, saya tinggi hati dan sombong, tidak pernah mau mengakui bahwa saya salah. Tetapi suatu hari, Roh itu menangkap saya, dan saya ditaklukkan, merendahkan diri, dan tunduk. Bagi saya seolah-olah tidak ada orang yang penuh dosa seperti saya. Sikap saya mutlak berbeda dengan yang sebelumnya. Saya dapat bersaksi dari pengalaman bahwa orang yang telah diselamatkan adalah orang yang merendahkan diri dan tunduk. Kita perlu merendahkan diri sedemikian rupa sehingga kita menganggap diri kita bukan apa-apa.

MENJADI SEPERTI SEORANG ANAK KECIL

Setelah merendahkan diri, kita perlu menjadi seperti seorang anak kecil (ay. 15-17). Dalam ayat 16-17 Tuhan Yesus berkata, ”Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang punya Kerajaan Allah. Sesung-guhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Seorang anak kecil tidak dipenuhi dan dijajah oleh konsepsi yang usang, mudah menerima pemikiran yang baru. Karena itu, orang perlu menjadi seperti anak kecil dan dengan hati yang tidak dijajah mene-rima Kerajaan Allah sebagai hal yang baru.

Kita semua lahir ke dalam kerajaan manusia, kita semua berada dalam kerajaan manusia. Agar dapat masuk dari kerajaan manusia ke dalam Kerajaan Allah, pindah dari kerajaan manusia ke dalam Kerajaan Allah, kita perlu me-nerima beberapa pemikiran yang baru. Siapakah yang dapat menerima pemikiran yang baru ini? Hanya mereka yang adalah bayi, orang-orang yang tidak dijajah, dapat meneri-manya. Namun, banyak orang yang telah diselamatkan tidak mau menjadi seperti bayi. Sebaliknya, mereka suka meng-anggap diri mereka orang yang pandai dan penuh dengan pengetahuan, mengira bahwa mereka mengetahui segala sesuatu. Orang-orang yang bersikap demikian itu tidak ada bagian masuk ke dalam Kerajaan Allah. Meskipun mereka telah beroleh selamat, mereka sulit masuk ke dalam kenik-matan terhadap yobel. Satu syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah menjadi seperti seorang anak kecil.

MENINGGALKAN SEMUA DAN MENGIKUTI MANUSIA-PENYELAMAT

Dalam 18:18-30 kita nampak bahwa jika kita ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita perlu meninggalkan semua dan mengikuti Manusia-Penyelamat. Khususnya, kita perlu meninggalkan harta benda materi.

Mewarisi Hayat Kekal dan Memiliki Hayat Kekal

Lukas 18:18 mengatakan, ”Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Mewarisi hayat kekal berbeda dengan memiliki hayat kekal. Menurut Injil Yohanes, memiliki hayat kekal adalah diselamatkan dengan hayat Allah yang bukan ciptaan supaya kita dapat hidup dengan hayat ini pada hari ini dan sampai selamanya. Tetapi memperoleh hayat kekal di sini adalah berbagian dalam manifestasi kerajaan pada zaman yang akan datang. Pemimpin dalam 18:18 kelihatannya sedang mencari hayat kekal pada zaman yang akan datang.

Dalam 18:19 Tuhan Yesus berkata kepada pemimpin ini, ”Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain Allah saja.” Hanya Allahlah yang baik. Ini bukan hanya menunjukkan bahwa orang yang mengajukan pertanyaan itu tidak baik, tetapi juga menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah Allah, yang baik. Jika Dia bukan Allah, Dia juga tidak baik.

Permintaan Tertinggi untuk Masuk ke dalam Kerajaan Allah

Dalam ayat 20 Tuhan selanjutnya berkata kepada pemimpin itu, ”Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu.” Pemimpin itu menjawab, ”Semuanya itu telah ku turuti sejak masa mudaku” (ay. 21). Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: ”Masih tinggal satu hal lagi yang kurang padamu: Juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (ay. 22). Di sini Tuhan menyinggung hal yang ditekankan-Nya sebelumnya — meninggalkan benda-benda materi. Misalnya, dalam 14:33 Tuhan berkata, ”Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Di sini kita nampak bahwa untuk mengikuti Tuhan kita perlu mengasihi Dia melebihi segala hal. Ini adalah permintaan tertinggi untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Dalam 18:22 Tuhan Yesus berkata kepada pemimpin itu, ”Masih tinggal satu hal lagi yang kurang padamu.” Pemim-pin itu mungkin melaksanakan perintah-perintah dari hukum Taurat yang lama, tetapi ia masih kekurangan satu hal; ia tidak rela menjual segala yang ia miliki untuk menyimpan harta di surga, dan mengikut Tuhan.

Lukas 18:23 mengatakan, ”Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya.” Mengasihi harta benda materi melebihi mengasihi Tuhan akan membuat seseorang menjadi sedih. Tetapi orang-orang yang mengasihi Kristus melebihi semuanya akan penuh sukacita sewaktu kehilangan harta milik mereka (Ibr. 10:34).

Ayat 24-25 mengatakan, ”Ketika melihat bahwa ia menjadi amat sedih, berkatalah Yesus: Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Bahasa Yunani untuk ”jarum” di sini berbeda dengan yang ada dalam Injil Matius dan Injil Markus. Kata jarum di sini menunjukkan jarum untuk pembedahan. Firman Tuhan di sini menunjukkan ketidakmungkinan masuk ke dalam Kerajaan Allah berdasarkan hayat alamiah kita.

Keselamatan dan Kerajaan Allah

Dalam ayat 26 kita nampak bahwa orang-orang yang mendengar firman itu berkata, ”Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Para pendengar itu, seperti kebanyakan orang-orang Kristen pada hari ini, bingung terhadap hal keselamatan dengan Kerajaan Allah. Firman Tuhan kepada pemimpin itu berhubungan dengan hal masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tetapi murid-murid itu mengira bahwa hal itu mengacu kepada keselamatan. Mereka memiliki konsepsi yang alamiah dan umum tentang diselamatkan. Mereka tidak menyerap wahyu Tuhan mengenai masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Dalam ayat 27, Tuhan selanjutnya berkata, ”Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.” Berdasarkan hayat alamiah kita tidak mungkin masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tetapi hal ini mungkin berdasarkan hayat Allah, hayat ilahi, yang adalah Kristus sendiri yang disalurkan ke dalam kita supaya kita dapat menempuh kehidupan kerajaan. Kita dapat memenuhi permintaan-permintaan kerajaan berdasarkan Kristus, yang memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan segala sesuatu (Flp. 4:13).

Dalam ayat 28 Petrus berkata kepada Tuhan, ”Kami telah meninggalkan apa yang kami miliki dan mengikut Engkau.” Di sini Petrus dengan memegahkan diri berkata, ”Tuhan, kami telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Engkau. Kami meninggalkan perahu kami, jala kami, dan Danau Galilea. Kami telah meninggalkan segala sesuatu, dan sekarang kami bersama dengan Engkau dalam perjalanan ke Yerusalem. Tuhan, apa yang akan kami dapatkan karena hal ini? Engkau akan memberi apa kepada kami karena kami telah meninggalkan segala sesuatu bahkan kampung halaman kami sendiri untuk mengikut Engkau? Sampai sejauh ini, kami belum menerima apa-apa. Tuhan, Apa yang akan Engkau berikan kepada kami?”

Dalam ayat 29-30 kita memiliki jawaban Tuhan: ”Se-sungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang krena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, atau istrinya, atau saudaranya, atau orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali berlipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” Dalam ayat 29 Tuhan berkata, ”Karena Kerajaan Allah,” tetapi dalam Matius 19:29 dikatakan, ”Karena nama-Ku.” Ini menunjukkan bahwa Penyelamat sama dengan Kerajaan Allah. Seperti yang telah kita lihat, hal ini juga ditunjukkan oleh firman Tuhan dalam Lukas 17:21, di mana Dia memberi tahu orang-orang Farisi, ”Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu,” itu mengacu kepada diri-Nya sendiri. Kerajaan Allah adalah Penyelamat itu sendiri. Di mana saja Penyelamat berada, di situ ada Kerajaan Allah.

Dalam Lukas 18:30 Tuhan membicarakan tentang menerima hayat yang kekal di zaman yang akan datang. Ini adalah hayat yang akan dinikmati oleh kaum beriman yang menang di dalam zaman kerajaan yang akan datang. Masuk ke dalam kenikmatan ini di zaman yang akan datang adalah masuk ke dalam kerajaan yang akan datang dan berbagian dalam kenikmatan hayat kekalnya.

Ketika Petrus membuat pernyataan yang tercatat dalam ayat 28, ia belum berada di dalam kerajaan, tetapi sedikitnya ia telah berdiri di ambang pintu kerajaan. Ia sangat dekat untuk masuk ke dalam kerajaan. Namun, ia masih se-dikit sombong dan memerlukan firman yang lebih lanjut dari Tuhan.