← Daftar isi Lukas (2) · bab 14/24

MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (18)

Pembacaan Alkitab: Luk. 18:1-8

Catatan Injil Lukas ini meliputi sangat banyak. Setelah menyinggung beberapa hal dalam pasal 17, khususnya hal-hal yang berhubungan dengan Kerajaan Allah, Lukas melanjutkan menyinggung beberapa hal lagi dalam pasal 18: Ajaran tentang doa yang tidak jemu-jemu (ay. 1-8); ajaran tentang jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah (ay. 9-30), ajaran yang mencakup hal merendahkan diri sendiri (ay. 9-14), menjadi seperti seorang anak kecil (ay. 15-17), mening-galkan semua dan mengikuti Manusia-Penyelamat (ay. 18-30); mengungkapkan kematian dan kebangkitan-Nya untuk kali ketiga (ay. 31-34); dan menyembuhkan orang buta di dekat Yerikho (ay. 35-43). Dalam berita ini kita akan mem-bahas ajaran Tuhan tentang doa yang tidak jemu-jemu.

MENGENAL EKONOMI ALLAH MENGENAI YOBEL

Sewaktu Penyelamat pergi dari Galilea ke Yerusalem, Dia melatih para pengikut-Nya untuk mengenal ekonomi Allah mengenai yobel. Yobel sebenarnya adalah Kristus sebagai perwujudan Allah bagi kenikmatan kita. Kata-kata yang demikian tidak dapat ditemukan dalam Injil Lukas. Namun, pemikiran yang mendasar ini ada di sana; yobel, yang adalah Kerajaan Allah, adalah Kristus sebagai perwujudan Allah bagi kenikmatan kita.

Demi yobel ini, Kristus perlu mati untuk menggenap-kan satu penebusan yang almuhit, kemudian masuk ke dalam kebangkitan. Melalui penebusan-Nya yang almuhit, Kristus telah memenuhi tuntutan-tuntutan agar kita dile-paskan dari setiap jenis belenggu. Sekarang kita dapat dilepaskan dari belenggu dosa, Iblis, dunia, ego, dan ciptaan lama. Kita perlu nampak bahwa Kristus perlu mati untuk membebaskan kita dari belenggu-belenggu ini. Kemudian Dia perlu bangkit untuk membawa kita secara positif ke dalam kenikmatan terhadap warisan ilahi ini. Warisan ini adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh yang almuhit bagi kenikmatan kita.

Pemahaman terhadap pemikiran yang mendasar mengenai yobel dalam Injil Lukas ini bukanlah menurut konsepsi pikiran alamiah. Sebaliknya, pemahaman ini sesuai dengan wahyu yang diberikan dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Kisah Para Rasul, Surat-surat Rasuli, dan kitab Wah-yu. Dengan kata lain, kitab-kitab Perjanjian Baru dari Kisah Para Rasul sampai Wahyu adalah satu penjelasan, definisi, dan pengembangan dari visi dalam kitab Lukas mengenai kematian Kristus yang menggenapkan penebusan yang penuh untuk membebaskan kita dari semua hal negatif dan kebangkitan-Nya yang membawa kita secara positif ke dalam kenikmatan terhadap Allah Tritunggal, yang setelah melalui proses menjadi Roh yang almuhit bagi kenikmatan kita. Inilah yobel.

BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR DAN HAKIM

YANG TIDAK ADIL

Sewaktu mengikuti Tuhan dalam perjalanan ke Yerusalem, murid-murid-Nya tidak tahu apa yang akan terjadi atau apa yang sedang diajarkan Manusia-Penyelamat kepada mereka. Sewaktu kita membaca catatan tentang perjalanan itu, kita nampak berbagai macam peristiwa, dan di balik pe-ristiwa-peristiwa itu tersembunyi sejumlah butir yang sulit diuraikan.

Kita telah nampak bahwa dalam pasal 16 Tuhan menyampaikan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Sekarang dalam 18:1-8 Dia menyampaikan perumpamaan lainnya kepada mereka, perumpamaan tentang se-orang hakim yang tidak adil. Bendahara yang tidak jujur dlam pasal 16 melambangkan kita sebagai hamba-hamba Tuhan. Seperti yang akan kita lihat, hakim yang tidak adil dalam pasal 18 mengacu kepada Allah yang adil. Karena itu, Tuhan memakai dua perumpamaan ini, yang satu mengacu kepada kita dan yang lainnya mengacu kepada Allah.

Bendahara yang tidak jujur melambangkan kita yang melayani Tuhan, dan hakim yang tidak adil melambangkan Allah memberi tuntutan kepada kita. Sedikitnya sampai taraf tertentu, kita telah membahas perumpamaan benda-hara yang tidak jujur. Dalam berita ini kita akan berusaha membahas masalah yang disajikan oleh hakim yang tidak adil yang dipakai untuk melambangkan Allah yang adil.

AJARAN TENTANG DOA

YANG TIDAK JEMU-JEMU

Lukas 18:1-3 mengatakan, ”Yesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya: Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.” Janda dalam ayat 3 melambangkan kaum beriman. Dalam hal ini, kaum beriman dalam Kristus adalah janda pada zaman ini karena Suami mereka, Kristus (2 Kor. 11:2), tidak bersama mereka.

Dalam ayat 3 janda itu memohon kepada hakim itu untuk membela haknya terhadap lawannya. Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”membela” juga dapat diterjemahkan ”usahakanlah keadilan bagiku”.

Dalam perumpamaan ini Tuhan menunjukkan bahwa kaum beriman dalam Kristus memiliki seorang lawan. Lawan ini adalah Satan, Iblis, yang terhadapnya kita perlu pembalasan Allah. Kita harus berdoa dengan tidak jemu-jemu untuk pembalasan ini (lihat Why. 6:9-10) dan tidak boleh putus asa.

Menurut ayat 4 hakim itu untuk sejangka waktu tidak mau membela janda itu terhadap lawannya. Kemudian ia berkata dalam hatinya, ”Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku” (ay. 4-5). Setelah ini, Tuhan selanjutnya berkata, ”Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (ay. 6-8). Firman Tuhan dalam ayat 8 menunjukkan bahwa pembalasan Allah terhadap musuh kita akan terjadi pada saat kedatangan kembali Penyelamat.

Secara harfiah, bahasa Yunani yang diterjemahkan ”iman” berarti ”iman itu”. Ini menunjukkan iman yang gigih untuk doa kita yang tidak jemu-jemu, seperti iman janda itu. Maka, ini merupakan iman yang subyektif, bukan iman yang obyektif.

ANGKATAN YANG JAHAT PADA HARI INI

Kita perlu membahas perumpamaan dalam 18:1-8 ini dalam konteks catatan yang panjang dari perjalanan Tuhan dari Galilea ke Yerusalem (9:51—19:27). Selama masa pengajaran-Nya yang diberikan pada perjalanan ini, Tuhan menyinggung banyak aspek dari hal-hal yang berhubungan dengan yobel, Kerajaan Allah, dan diri-Nya sendiri sebagai kenikmatan kita. Dia membicarakan kematian-Nya, kebangkitan-Nya, keselamatan Allah, pahala yang akan datang, zaman kerajaan, angkatan yang jahat, dan kondisi orang-orang Farisi. Semua ini berhubungan secara langsung atau tidak langsung dengan Kerajaan Allah dan dengan kenikmatan terhadap Kristus.

Angkatan yang jahat pada hari ini dapat menyimpangkan kita dari kenikmatan terhadap Kristus. Angkatan ini berusaha membius kita, meracuni kita, supaya kita tidak memiliki perasaan terhadap apa yang sedang terjadi. Seluruh dunia ini telah terbius dan telah diracuni, orang-orang dunia tidak memiliki perasaan, kesadaran, terhadap fakta bahwa mereka telah dijauhkan dari Allah Tritunggal yang dapat mereka nikmati.

Allah Tritunggal adalah untuk kenikmatan manusia. Namun umat manusia yang telah jatuh ini tidak memiliki konsep ini; sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap-nya. Orang-orang dunia sibuk dengan kawin mengawinkan, jual beli, menanam dan membangun (17:27-28). Mereka tidak memiliki pemikiran bahwa Allah adalah kenikmatan mereka, karena mereka semua telah teracuni, dan terbius. Karena itu, dalam perjalanan-Nya yang panjang dari Galilea ke Yerusalem, Tuhan menjamah hal ini berkali-kali. Misalnya dalam pasal 14, Dia menyatakan bahwa murid-murid-Nya harus membenci hal-hal dari angkatan ini. Mereka bahkan perlu membenci hayat jiwa mereka, karena mereka harus membenci segala sesuatu yang menyimpangkan mereka dari kenikmatan terhadap Kristus. Dalam pasal 17, Tuhan kembali membicarakan angkatan yang terbius, yang menjauhkan umat Allah dari kenikmatan mereka terhadap warisan ilahi. Sebelum Tuhan menjamah hal ini lagi dalam pasal 18, Dia menyingkapkan kepada kita hal yang lain lagi yang berhubungan dengan kenikmatan kita terhadap yobel, dan hal tersebut adalah penganiayaan yang berasal dari lawan kita.

DIANIAYA OLEH LAWAN KITA

Kita perlu menyadari bahwa sebagai umat Allah dalam angkatan yang terbius dan membius ini kita seperti seorang janda. Di satu pihak, Suami kita, Tuhan, tidak hadir. Lagi pula kita memiliki seorang lawan yang selalu menganiaya kita.

Sebelum Tuhan Yesus pergi ke salib untuk menggenapkan penebusan-Nya yang almuhit, Dia membuka selubung dari segala arah untuk memperlihatkan kepada para pengikut-Nya hal-hal yang berhubungan secara langsung atau tidak langsung dengan kenikmatan mereka terhadap Dia sebagai yobel mereka. Mereka perlu menyadari bahwa hal yang paling menyimpangkan orang adalah angkatan yang sekarang ini dengan semua komponennya. Komponen-komponen dari angkatan yang jahat ini membius orang-orang dunia.

Tuhan juga mewahyukan bahwa sewaktu kita mencari Dia, kita perlu membenci segala hal dan segala perkara yang menghalangi kita dari kenikmatan kita terhadap Dia. Selain itu, ketika menikmati Dia, kita akan menderita penganiaya-an. Penganiayaan itu berasal dari lawan kita, dia yang ada-lah musuh Allah dan yang telah menjadi musuh kita karena kita berada di pihak Allah.

Perumpamaan dalam 18:1-8 menunjukkan penderitaan yang kita alami dari lawan kita selama Tuhan tidak hadir. Sebenarnya, Tuhan tidak absen; Dia ada. Tetapi selama Dia absen secara jasmani, kita adalah seorang janda yang selalu dipersulit oleh lawan kita.

APA YANG HARUS DILAKUKAN BILA ALLAH TAMPAKNYA TIDAK ADIL

Sewaktu lawan kita menganiaya kita, Allah kita tampaknya tidak adil, karena Dia membiarkan anak-anak-Nya teraniaya secara tidak adil. Misalnya, Yohanes Pembaptis dipenggal, Petrus mati martir, Paulus dipenjarakan, dan Yohanes dibuang. Selama berabad-abad, beribu-ribu pengikut Manusia-Penyelamat yang tulus dan setia menderita penganiayaan secara tidak adil. Bahkan sampai hari ini kita masih mengalami perlakuan yang tidak adil. Allah kita kelihatannya tidak adil, karena Dia tidak datang untuk menghakimi dan kemudian membenarkan kita.

Sering kali kita berdoa agar Allah membenarkan kita. Namun, banyak dari sekerja-sekerja kita, orang-orang yang setia, dipenjarakan dan bahkan dihukum mati. Di manakah Allah yang hidup dan adil itu? Mengapa Dia membiarkan situasi yang demikian ini? Mengapa Dia tidak mau menghakimi orang-orang yang menganiaya kita? Karena situasi ini, Manusia-Penyelamat dalam 18:1-8 menggunakan seorang hakim yang tidak adil untuk melambangkan Allah yang kelihatannya tidak melakukan apa-apa bagi umat-Nya yang teraniaya.

Apa yang akan kita lakukan jika dalam suatu situasi kita dianiaya, namun Allah kita kelihatannya tidak hidup, tidak ada, atau tidak adil? Dari perumpamaan ini kita belajar menjadi seorang janda yang menyusahkan hakim itu, orang yang berdoa kepada Allah dengan tidak jemu-jemu.

Sering kali saya jemu dan lelah dalam berdoa agar Tuhan membenarkan pemulihan-Nya. Kelihatannya semakin saya berdoa agar Tuhan membenarkan, semakin sedikit pembenaran yang dialami. Kelihatannya, Tuhan tidak ada atau tidak mempedulikan. Kelihatannya Dia tidak adil. Meskipun demikian, saya belajar bahwa kita perlu menyusahkan Allah di dalam doa, bahwa kita harus berdoa kepada-Nya de-ngan tidak jemu-jemu tanpa putus asa.

DOA YANG TIDAK JEMU-JEMU

DARI ORANG-ORANG KUDUS YANG MATI MARTIR

Dalam Wahyu 6:9-10 kita nampak bahwa doa yang tidak jemu-jemu ini dilakukan oleh jiwa-jiwa orang-orang kudus yang mati martir: ”Aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. Mereka berseru dengan suara nyaring: Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang tinggal di bumi?” Dalam perlambangan, mezbah berada di pelataran luar dari kemah dan bait, dan pelataran luar itu melambangkan bumi ini. Maka, ”di bawah mezbah” adalah di ba-wah bumi, tempat jiwa-jiwa orang-orang kudus yang mati martir berada. Ini adalah di dalam Firdaus tempat yang di-tuju Tuhan Yesus setelah kematian-Nya (Luk. 23:43). Ini adalah bagian yang menyenangkan dari alam maut (Kis. 2:27), tempat Abraham berada (Luk. 16:22-26). Di sini kita nampak jiwa-jiwa orang-orang kudus yang mati martir ber-seru, ”Berapa lamakah lagi, ya Tuhan Penguasa?” Mereka seolah-olah berkata, ”Tuhan, berapa lama lagi Engkau akan berdiam diri? Berapa lama lagi Engkau kelihatannya tidak adil? Engkau adalah Hakim yang adil. Bagaimana mungkin Engkau dapat membiarkan penganiayaan yang tidak adil ini yang masih terjadi di bumi? Berapa lama lagi, ya Tuhan, berapa lama lagi?” Ini adalah doa dari alam yang tidak dapat dilihat, doa dari orang-orang kudus yang mati martir di dalam Firdaus.

BERDOA DENGAN TIDAK JEMU-JEMU

KEPADA TUHAN YANG BERDAULAT

Dalam Lukas 18:1-8 kita nampak doa dari alam yang dapat dilihat. Doa semacam ini berhubungan dengan kenikmatan kita terhadap yobel.

Sering kali anak-anak dari para pengikut Tuhan yang setia bertanya kepada orang tua mereka, mengapa mereka menderita penganiayaan. Mereka mungkin bertanya, ”Kita begitu mengasihi Tuhan Yesus, mengapa kita harus men-derita?” Biasanya para orang tua tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Bagi anak-anak, kelihatannya Tuhan yang diikuti oleh orang tua mereka itu tidak adil. Kita juga mungkin tidak mengerti, mengapa kita menderita sejak kita mengasihi Tuhan dan mengikuti Dia. Perumpamaan dalam 18:1-8 menjawab pertanyaan kita.

Ketika Suami kita kelihatannya absen, meninggalkan kita di bumi sebagai seorang janda, Allah kita untuk semen-tara waktu kelihatannya menjadi hakim yang tidak adil. Meskipun Dia kelihatannya tidak adil, kita tetap harus me-mohon kepada-Nya, berdoa dengan tidak jemu-jemu, dan berkali-kali menyusahkan-Nya.

Kita perlu berhati-hati dalam memahami perumpamaan seperti yang tercatat dalam 18:1-8. Kita tidak boleh berusaha memahaminya secara alamiah. Di satu pihak, perumpamaan ini menunjukkan bahwa Hakim itu berdaulat. Ini berarti bahwa apakah Dia menghakimi atau tidak itu terserah Dia. Kelihatannya tanpa alasan, Dia boleh mendengar janda itu atau tidak mendengarnya. Perumpamaan ini mewahyukan bahwa Dia adalah Tuhan yang berdaulat dan bahwa Dia menghakimi kapan saja Dia menghendakinya.

Di pihak lain, perumpamaan ini menunjukkan bahwa kita perlu menyusahkan Tuhan dengan berdoa secara tidak jemu-jemu. Kita perlu berkata kepada-Nya, ”Tuhan, berdoa itu terserah aku, bukan terserah Engkau. Engkau tidak pernah melarang aku berdoa. Sebaliknya, Engkau memerintahkan aku untuk berdoa. Karena itu, Tuhan, aku berdoa sekarang untuk pembenaran-Mu.”

Makna dari perumpamaan ini dalam, dan kita semua perlu mengenal Allah seperti yang diwahyukan di sini. Kita juga perlu nampak bahwa doa yang digambarkan di sini membantu kita menikmati yobel ini.