MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (16)
Pembacaan Alkitab: Luk. 17:1-37
Dalam berita ini kita akan mulai membahas Injil Lukas 17. Pasal ini melanjutkan membicarakan hal-hal yang terjadi sewaktu Tuhan Yesus berada dalam perjalanan dari Galilea ke Yerusalem. Mengenai hal ini, catatan dalam Injil Lukas mencakup lebih banyak hal daripada catatan dalam Injil Matius dan Injil Markus. Dalam kitab-kitab Injil itu catatan mengenai perjalanan Tuhan dari Galilea ke Yerusalem agak singkat; sedangkan catatan Lukas tentang hal ini meliputi jauh lebih banyak.
EMPAT HAL SEKUNDER
Setelah berbicara tentang orang kaya dalam pasal 16, Tuhan melanjutkan membahas empat hal sekunder dalam 17:1-10: menyesatkan orang lain (ay. 1-2), mengampuni orang lain (ay. 3-4), iman (ay. 5-6), dan menyadari bahwa kita ada-lah hamba-hamba yang tidak berguna (ay. 7-10). Mengenai butir terakhir ini, kita perlu sadar bahwa kita sebenarnya tidak berguna sama sekali. Ini berarti tidak peduli berapa banyak yang telah kita lakukan bagi Tuhan, kita perlu menganggap diri kita sendiri sebagai hamba-hamba yang tidak berguna.
Firman yang Berhubungan dengan
Perbuatan Orang Farisi
Saya telah meluangkan banyak waktu untuk memikirkan mengapa keempat hal ini disisipkan di sini setelah pasal 16. Pada mulanya saya tidak dapat melihat hubungan antara keempat hal ini dengan catatan dalam pasal sebelumnya. Akhirnya saya nampak bahwa ada satu hubungan, dan hubungan ini adalah: keempat hal dalam 17:1-10 ini adalah suatu pengajaran yang diberikan oleh Tuhan kepada murid-murid karena perbuatan orang Farisi. Misalnya, sebagai orang-orang agamis yang munafik, orang-orang Farisi itu sering menyandung orang lain. Tidak ada seorang pun yang lebih sering menyandung orang lain daripada agamawan yang munafik ini. Sebagai pemimpin-pemimpin yang jahat di dalam agama, orang-orang Farisi ini senantiasa menyandung orang lain. Di satu pihak, mereka menyandung orang lain, di pihak lain mereka tidak mau mengampuni orang lain. Ini berarti mereka tidak akan pernah mengampuni orang yang melukai mereka sekalipun mereka sendiri melukai orang lain. Lagi pula, para pemimpin yang jahat di dalam agama ini tidak memiliki iman. Jika mereka memiliki iman, me-reka tidak akan hidup seperti itu. Orang-orang Farisi ini sombong, memandang diri mereka sendiri sebagai orang yang sangat berguna dan mendatangkan faedah bagi orang lain.
Dari hal ini kita dapat nampak bahwa ajaran dalam 17:1-10 diberikan oleh Tuhan untuk mengatasi latar belakang yang diadakan oleh orang-orang Farisi. Dalam ayat-ayat ini Tuhan seolah-olah memberi tahu murid-murid-Nya, ”Janganlah seperti orang Farisi, menyandung orang lain namun tidak mengampuni orang-orang yang bersalah kepada mereka. Orang-orang Farisi ini tidak memiliki iman namun mereka bangga diri mengira bahwa mereka itu berguna.”
Sebagai orang-orang yang menikmati Tuhan dalam yobel Perjanjian Baru, kita tidak boleh menyandung orang lain. Sebaliknya, kita harus berusaha sebisanya untuk menggenapkan, melindungi, dan memelihara orang lain. Selanjutnya, jika ada orang yang bersalah kepada kita, kita harus selalu siap dan rela mengampuni. Lukas 17:3-4 mengatakan, ”Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, eng-kau harus mengampuni dia.” Di sini Tuhan menekankan perlunya kita rela mengampuni. Tidak hanya demikian, dalam keadaan atau lingkungan apa pun, kita perlu meng-gunakan iman kita, percaya kepada Allah dan bersandar kepada-Nya. Selain itu, meskipun kita mungkin agak berguna, kita harus merendahkan diri kita sendiri dan tidak menganggap diri kita sendiri berguna. Sebaliknya, kita harus se-lalu menganggap kita adalah hamba-hamba yang tidak ber-guna.
Ajaran tentang Pelayanan
Dalam 17:7-10 terdapat pengajaran Tuhan tentang pelayanan. Dalam ayat 7-9 Dia berkata, ”Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak tanah atau menggembalakan ternak, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugakan kepadanya?” Ini menunjukkan bahwa hamba itu setelah membajak atau menggembalakan domba, tidak seharusnya berharap terlalu dipuji karena pekerjaannya. Ia masih perlu pergi ke dapur, menyiapkan makanan untuk tuannya dan melayaninya supaya tuannya itu dapat dipuaskan. Dan setelah semuanya itu, hamba itu harus menyadari bahwa ia tidak berguna. Karena itu, Tuhan menyimpulkan, ”Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (ay. 10). Saya mengapresiasi hal yang dibuat Tuhan dalam 17:7-10 ini, karena hal ini me-nguatkan kita dalam pelayanan kita.
Keseriusan Perkara Berdosa terhadap Orang Lain
Dalam kehidupan gereja, pelayanan gereja, dan ministri Tuhan, berdosa terhadap orang lain adalah perkara yang sangat serius. Kadang-kadang kelihatannya kita dapat merampungkan banyak hal, namun, mungkin yang kita ro-bohkan lebih banyak daripada yang kita bangun. Ini adalah akibat dari menyandung orang lain.
Ketika saya masih muda, saya diberi peringatan sebagai berikut: ”Jangan melakukan pekerjaan Tuhan secara demikian: membangun satu kaki, tetapi merobohkan satu setengah kaki.” Menurut peringatan ini, kita mungkin saja membangun, tetapi kemudian merobohkan lebih banyak daripada apa yang telah kita bangun. Inilah hal yang sedang dilakukan oleh beberapa orang yang melayani Tuhan. Di satu pihak, mereka telah melakukan banyak hal bagi Tuhan; tetapi di pihak lain, secara bersamaan mereka merobohkan banyak hal, bahkan lebih banyak daripada yang telah mereka bangun. Kita perlu belajar dari hal ini untuk tidak mengandung orang lain sehingga merobohkan apa yang telah dibangun. Kita perlu selalu hati-hati dan waspada agar tidak melukai orang lain, tidak berdosa terhadap orang lain, dan tidak menyandung orang lain.
Dengan Sukarela Mengampuni
Jika ada orang bersalah kepada kita, kita perlu dengan sukarela mengampuni orang itu. Demikian, kita tidak akan bermasalah dengan orang lain. Namun, di satu pihak ada beberapa hamba Tuhan yang menyandung orang lain, dan di pihak lain, ada yang mudah dilukai oleh orang lain. Karena itu, mereka selalu bermasalah dengan orang lain. Mereka menyandung orang lain atau dilukai oleh orang lain. Kita harus berusaha untuk tidak menyandung orang lain, tetapi selalu dengan sukarela mengampuni siapa pun yang bersalah kepada kita.
Tahukah Anda apa arti mengampuni? Mengampuni berarti tidak disalahi/dilukai. Menurut firman Tuhan dalam 17:4, bahkan jika seorang saudara bersalah kepada kita tujuh kali sehari, kita harus selalu mengampuninya. Begitu kita meng-ampuni seseorang, kita tidak akan disalahi olehnya. Tetapi jika kita tidak mengampuni, kita akan merasa disalahi. Yang penting di sini adalah pengampunan menghapus pelanggaran. Jika kita tidak mengampuni orang lain, kita akan merasa disalahi oleh mereka. Tetapi jika kita meng-ampuni mereka, kita akan menghapus pelanggaran.
Misalnya ada seorang saudara bersalah kepada Anda, dan Anda mengampuninya. Pengampunan Anda terhadapnya akan menghapuskan pelanggarannya terhadap Anda. Maka tidak akan ada masalah di antara Anda dengan dia. Namun, seandainya seorang saudara bersalah kepada Anda, dan Anda tidak rela mengampuni dan melupakan pelanggarannya, maka hal ini akan menimbulkan kesulitan, khususnya bagi Anda, karena Anda akan terjerat sebagai akibat dari disalahi oleh saudara itu. Karena itu, jangan sampai kita menyan-dung orang lain, dan juga jangan sampai kita disalahi oleh orang lain. Kita harus selalu berhati-hati dan waspada untuk tidak menyalahi orang lain. Pada waktu yang sama, kita harus selalu rela mengampuni orang lain.
Memakai Iman dan Menyadari
Bahwa Kita Tidak Berguna
Selain berhati-hati untuk tidak bersalah dan rela untuk mengampuni, kita perlu memakai iman kita dalam Allah atas segala macam keadaan. Kita perlu percaya bahwa apa pun yang terjadi atas diri kita berasal dari Allah dan bahwa Dia berdaulat atas segala sesuatu dan merawat kita.
Sewaktu kita memakai iman kita dalam Allah, kita perlu berusaha sedapatnya untuk melakukan segala sesuatu bagi Dia. Namun kita perlu sadar bahwa kita tidak berguna. Karena itu, kita perlu merendahkan diri kita di hadapan Tuhan. Sikap kita ialah: Kita adalah hamba-hamba yang tidak berguna. Jika kita berlaku demikian, kita akan terpelihara dalam tangan Tuhan, berguna bagi-Nya.
MENTAHIRKAN SEPULUH ORANG KUSTA DI SAMARIA
Dalam 17:11-19 terdapat catatan tentang Manusia-Penyelamat mentahirkan sepuluh orang kusta di Samaria. Saya percaya bahwa hal ini dikisahkan oleh Lukas untuk memperlihatkan standar moralitas yang tertinggi dalam kasih karunia penyelamatan Tuhan.
Lukas 17:11-13 mengatakan, ”Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak: Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Tuhan tidak memilih-milih, segera saja menyembuhkan mereka semua. Sebenarnya, Dia tidak berkata kepada mereka, ”Sembuhlah!” Dia berkata, ”Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam. Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh” (ay. 14).
Hanya satu dari sepuluh orang itu — seorang Samaria — yang ingat kepada Dia yang telah menyembuhkannya dan kembali mengatakan sesuatu kepada-Nya (ay. 15-16). Yang penting di sini adalah bahwa catatan ini mewahyukan standar moralitas yang tertinggi dalam kasih karunia penyelamatan Tuhan.
Dari Injil Lukas 10 kita tahu bahwa sewaktu Tuhan berada dalam perjalanan melalui Samaria, Dia ditolak di Samaria. Tuhan pasti tahu bahwa sepuluh orang kusta itu kebanyakan orang Samaria. Jika saya adalah Tuhan, saya mungkin berkata, ”Kalian orang-orang Samaria yang menolak Aku dan sekarang kalian datang kepada-Ku untuk disembuhkan. Kalian harus menyesali kesalahan yang kalian lakukan kepada-Ku dan meminta ampun, baru Aku akan menyembuhkan kalian.” Namun, Manusia-Penyelamat ini tidak berpandangan demikian. Sebaliknya, Dia bertindak dalam standar moralitas yang tertinggi untuk melaksanakan kasih karunia penyelamatan-Nya. Begitu sepuluh orang itu memohon rahmat-Nya, Dia menyembuhkan mereka semua tanpa kecuali. Hal ini memamerkan standar moralitas-Nya yang tertinggi dalam penyelamatan-Nya.
AJARAN TENTANG KERAJAAN ALLAH DAN KETERANGKATAN PARA PEMENANG
Dalam 17:20 kita nampak bahwa orang-orang Farisi datang lagi kepada Tuhan Yesus. Orang-orang Farisi yang menyusahkan itu tidak akan meninggalkan Dia sendirian.
Lukas 17:20 mengatakan, ”Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus men-jawab: Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” Jawaban Tuhan terhadap pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Farisi mengenai Kerajaan Allah menunjukkan bahwa Kerajaan Allah bukan bersifat materi, melainkan rohani. Kerajaan Allah adalah Penye-lamat dalam kedatangan-Nya yang pertama (ay. 21-22), dalam kedatangan-Nya yang kedua (ay. 23-30), dalam keterangkatan kaum beriman-Nya yang menang (ay. 31-36), dan dalam pemusnahan-Nya akan Antikristus (ay. 37) untuk memulihkan seluruh bumi bagi pemerintahan-Nya di sana (Why. 11:15).
Ayat 22 sampai 24 membuktikan bahwa Kerajaan Allah adalah Penyelamat itu sendiri, yang ada di antara orang-orang Farisi ketika Dia ditanya oleh mereka mengenai Kerajaan Allah. Di mana Penyelamat berada, di situ Kerajaan Allah berada. Kerajaan Allah ada pada-Nya, dan Dia membawa-Nya kepada murid-murid-Nya (ay. 22). Dialah benih Kerajaan Allah yang ditaburkan ke dalam umat pilihan Allah untuk berkembang menjadi wilayah pemerintahan Allah. Sejak kebangkitan-Nya, Dia berada di dalam kaum beriman-Nya (Yoh. 14:20; Rm. 8:10). Maka, Kerajaan Allah ada di dalam gereja hari ini (Rm. 14:17).
Dalam ayat 21 Tuhan berkata kepada orang-orang Farisi itu, ”Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” Kata ”kamu” di sini mengacu kepada orang-orang Farisi yang bertanya-tanya (ay. 20). Penyelamat sebagai Kerajaan Allah tidak ada di dalam mereka, Dia hanya ada di antara mereka.
Sewaktu orang-orang Farisi menanyakan kepada Tuhan tentang kedatangan Kerajaan Allah, Dia menjawab bahwa Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah. Ini ber-arti Kerajaan Allah tidak dapat dilihat atau diamati. Se-baliknya, Kerajaan Allah itu tidak kelihatan; kerajaan ini adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata jasmani.
Dalam jawaban Tuhan kepada orang-orang Farisi, ada satu petunjuk yang kuat bahwa Kerajaan Allah sebenarnya adalah Penyelamat itu sendiri. Tuhan seolah-olah berkata kepada mereka, ”Kamu tidak dapat melihat Kerajaan Allah, tetapi sekarang kerajaan ini ada di antara kamu. Meskipun Kerajaan Allah sekarang ada di sini, kamu tidak memiliki pandangan rohani untuk melihatnya. Kamu perlu pandang-an rohani untuk melihat hal-hal rohani, untuk melihat Ke-rajaan Allah. Sebenarnya, kerajaan ini adalah satu Persona yang ajaib. Dengan mata jasmanimu kamu dapat melihat keberadaan Persona ini secara jasmani. Tetapi kamu tidak memiliki pandangan rohani untuk melihat realitas rohani-Nya. Realitas rohani dari Persona ini sebenarnya adalah Kerajaan Allah. Karena itu, Aku mengatakan bahwa Kera-jaan Allah sekarang ada di sini, di antara kamu. Namun, kamu tidak dapat melihat realitas rohani ini.”
Dalam ayat 22 Tuhan melanjutkan berkata kepada mu-rid-murid-Nya, ”Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya.” Ini menunjukkan ketidakhadiran Penyelamat. Selama ketidakhadiran-Nya, dunia yang menolak Dia, akan menjadi angkatan yang jahat, hidup dalam pelampiasan hawa nafsu (ay. 23-30), dan menjadi penentang para peng-ikut-Nya dengan menganiaya mereka karena kesaksian me-reka tentang Dia (18:1-8). Maka, para pengikut-Nya perlu mengalahkan efek pembius dari hidup dunia yang melam-piaskan hawa nafsu dengan menghilangkan hayat jiwa me-reka pada zaman ini (ay. 31-33), dan menghadapi peng-aniayaan dunia dengan panjang sabar dan berdoa dengan tidak jemu-jemunya dalam iman (18:7-8), supaya mereka boleh diangkat sebagai para pemenang dan masuk ke dalam kenikmatan atas Kerajaan Allah pada kedatangan kembali Penyelamat (17:34-37).