← Daftar isi Lukas (2) · bab 11/24

MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (15)

Pembacaan Alkitab: Luk. 16:14-31

Dalam berita ini kita akan membahas 16:14-31. Bagian dari Injil Lukas ini meliput dua hal: Ajaran tentang jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah (ay. 14-18) dan peringatan bagi orang-orang kaya (ay. 19-31).

AJARAN TENTANG JALAN MASUK

KE DALAM KERAJAAN ALLAH

Kita telah nampak bahwa dalam 16:1-13 Tuhan mengajarkan tentang kecerdikan seorang bendahara, khususnya kecerdikan dalam penanganan yang tepat terhadap masalah uang. Tuhan sengaja mengatakan firman ini untuk menjamah orang-orang Farisi, dan perkataan-Nya bagaikan anak panah yang menancap pada mereka.

”Orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu men-dengar semua ini dan mereka mencemoohkan Dia” (ay. 14). Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”mencemoohkan” secara harfiah berarti “mencibirkan bibir”. Firman Tuhan menusuk lubuk mereka. Tetapi bukannya disadarkan oleh hal itu, orang-orang Farisi itu malah keras kepala. Karena perkataan Tuhan menjamah mereka, maka mereka mencemooh Dia.

Dalam ayat 15 Tuhan selanjutnya berkata kepada orang-orang Farisi itu, ”Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” Pembenaran diri dari orang-orang Farisi itu merupakan satu peninggian diri dalam ke-sombongan, karena itu hal ini merupakan sesuatu yang dibenci Allah. Di sini Tuhan memberi tahu orang-orang Farisi itu bahwa mereka benar-benar membencikan di pan-dangan Allah.

Dalam ayat 16 Tuhan melanjutkan, ”Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai zaman Yohanes; dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang memasuki-nya dengan paksa.” ”Hukum Taurat dan kitab para nabi” mengacu kepada Perjanjian Lama. Kata ”sampai zaman Yohanes” mengacu kepada perubahan zaman dari hukum Taurat kepada Injil. Ini membuktikan bahwa zaman Perjan-jian Lama berakhir dengan kedatangan Yohanes.

Tuhan memberi tahu orang-orang Farisi bahwa dari zaman Yohanes ”kabar baik tentang Kerajaan Allah diberitakan.” Penyelamat di sini memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada orang-orang Farisi, pencinta-pencinta uang (ay. 14). Uang dan nafsu seks yang dibangkitkan oleh uang, membuat mereka tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Karena itu pemberitaan Penyelamat dengan sengaja dan kuat menyinggung kedua hal ini dalam 16:18-31.

Dalam ayat 16 Tuhan juga membicarakan setiap orang berebut masuk ke dalam Kerajaan Allah. Bagi orang-orang Farisi berebut masuk ke dalam kerajaan itu menuntut mereka merendahkan diri dan berpisah dengan uang mereka, bukan dengan istri-istri mereka, yaitu mengalahkan uang dan nafsu yang dibangkitkan oleh uang itu.

Di sini Tuhan Yesus seolah-olah memberi tahu orang-orang Farisi, ”Jangan mencemooh Aku. Kabar baik tentang Kerajaan Allah sedang diberitakan, dan kamu perlu berebut masuk ke dalamnya. Sekarang bukan lagi zaman hukum Taurat dan para nabi. Sekarang adalah zaman yobel kasih karunia, dan kamu perlu berebut masuk ke dalamnya.”

Dalam ayat 17-18 Tuhan berkata kepada orang-orang Farisi, ”Lebih mudah langit dan bumi lenyap daripada satu titik dari hukum Taurat batal. Setiap orang yang mencerai-kan istrinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berzina; dan siapa saja yang kawin dengan perempuan yang dicerai-kan suaminya, ia berzina.” ”Titik” adalah satu tonjolan kecil berbentuk seperti tanduk yang membedakan berbagai huruf Ibrani. Agar orang-orang Farisi tidak mengira bahwa mereka tidak perlu lagi memelihara hukum Taurat dan kitab para nabi, Tuhan memberi tahu mereka bahwa lebih mudah langit bumi berlalu daripada satu titik dari hukum Taurat batal.

Ketika Tuhan Yesus melihat bahwa orang-orang Farisi itu mencemooh Dia, Dia tidak kecewa atau patah semangat, ataupun berhenti berbicara. Sebaliknya, Tuhan melanjutkan berbicara kepada mereka tentang sesuatu yang membenci-kan di pandangan Allah, tentang Kerajaan Allah, tentang memelihara hukum Taurat, dan tentang perceraian. Dalam 16:15-18 Tuhan seolah-olah berkata, ”Hai, kamu orang-orang Farisi yang mencemooh Aku. Kamu membenarkan dirimu sendiri di pandangan manusia, tetapi di pandangan Allah kamu dibenci. Kamu perlu sadar bahwa sekarang bukan lagi zaman hukum Taurat, tetapi zaman yobel Tuhan. Sekarang adalah zaman yobel, kabar baik Kerajaan Allah. Dikatakan dari satu aspek, hukum Taurat dan kitab para nabi telah berlalu.”

Ketika orang-orang Farisi mendengar hal ini, di satu pihak mereka tidak senang; di pihak lain mereka agak se-nang, karena mereka mengira bahwa mereka tidak perlu lagi memelihara hukum Taurat. Sekarang mereka bebas untuk menceraikan istri-istri mereka. Beberapa dari orang-orang Farisi yang kaya itu menceraikan istri-istri mereka karena mereka menuruti nafsu mereka; nafsu itu dibangkitkan oleh kekayaan mereka. Jadi, nafsu orang-orang Farisi untuk menceraikan istri-istri mereka dan menikah dengan perem-puan lain itu dibangkitkan oleh kekayaan mereka.

Orang yang miskin lebih jarang menceraikan istrinya daripada orang yang kaya. Hari ini banyak orang kaya yang berprofesi yang sedikitnya telah satu kali bercerai, dan yang lain pernah bercerai lebih dari satu kali. Ini adalah satu pe-tunjuk bahwa kekayaan itu bila salah digunakan akan menimbulkan hawa nafsu. Hal ini seharusnya mengingatkan kita agar tidak memakai kekayaan untuk memuaskan hawa nafsu kita. Karena itu, kita harus memakai uang kita demi faedah orang lain.

Sebagai pencinta-pencinta uang, orang-orang Farisi itu dirangsang oleh kekayaan mereka untuk menuruti hawa nafsu mereka. Ketika seseorang tidak puas dengan istrinya, ia dapat menceraikannya dan menikah lagi dengan yang lain. Karena mengenal situasi mereka dan tahu bahwa orangorang Farisi itu senang ketika mendengar hukum Taurat telah berlalu, maka Tuhan seolah-olah memberi tahu mereka, ”Jangan mengira bahwa kamu tidak perlu lagi memelihara hukum Taurat. Hukum Taurat tidak akan pernah berlalu; hukum itu tetap ada untuk menghakimi kamu. Kamu tidak bebas dari hukum Taurat untuk menceraikan istri-istrimu.” Penanggulangan Tuhan terhadap orang-orang Farisi di sini sebenarnya menjamah kekayaan mereka dan hawa nafsu mereka. Perkataan-Nya menanggulangi masalah uang dan pernikahan.

MEMPERINGATI ORANG-ORANG KAYA

Orang Kaya dan Lazarus

Dalam 16:19-31 Dia selanjutnya memberi tahu orang-orang Farisi kisah tentang orang kaya dan Lazarus. Kisah ini diarahkan kepada orang-orang Farisi yang kaya, sebagai pencinta-pencinta uang yang dirangsang oleh kekayaan mereka untuk menuruti hawa nafsu mereka.

Lukas 16:19 mengatakan, ”Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.” Kisah ini bukan suatu per-umpamaan, karena kisah ini menyinggung nama-nama Abraham, Lazarus, dan alam maut. Ini adalah kisah yang digunakan oleh Penyelamat sebagai jawaban yang bersifat ilustratif kepada orang-orang Farisi yang mencintai uang dan membenarkan diri (ay. 14-15). Melalui kisah ini Tuhan memperingatkan mereka dengan menyingkapkan bahwa masa depan mereka akan sengsara seperti orang kaya itu. Masa depan yang demikian itu dihasilkan dari penolakan mereka terhadap Injil Penyelamat karena cinta mereka akan uang.

Dalam kisah ini orang kaya itu selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Tetapi ada seorang miskin yang bernama Lazarus, ”badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya” (ay. 20-21). Kemudian dikatakan bahwa orang miskin itu mati dan di-bawa oleh para malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati dan dikubur. ”Sementara ia menderita seng-sara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh di-lihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya” (ay. 23). Kata ”pangkuan Abraham” merupakan suatu frase peng-ajaran nabi, yang sama dengan berada bersama-sama de-ngan Abraham di Taman Firdaus (M. R. Vincent). Alam maut, atau dunia orang mati dalam Perjanjian Lama (Kej. 37:35; Mzm. 6:6), adalah tempat jiwa-jiwa dan roh-roh orang mati tertahan (Kis. 2:27).

Dua Bagian Alam Maut

Pangkuan Abraham, atau Firdaus, adalah bagian yang menyenangkan di dalam alam maut tempat Abraham dan se-mua orang benar berada, menantikan kebangkitan, dan tempat yang dituju Tuhan Yesus setelah kematian-Nya dan tinggal sampai kebangkitan-Nya (Luk. 23:43; Kis. 2:24, 27, 31; Ef. 4:9; Mat. 12:40). Firdaus ini berbeda dengan firdaus dalam Wahyu 2:7, yang akan menjadi Yerusalem Baru dalam Kerajaan Seribu Tahun.

Sering kali ketika orang-orang Kristen mendengar kata alam maut, mereka mengira itu hanyalah satu tempat yang buruk. Alam maut bukanlah satu tempat tinggal yang kekal bagi orang-orang dalam kehidupan yang akan datang; alam maut adalah satu tempat roh-roh yang tidak bertubuh tertahan sementara. Ada dua bagian di dalam alam maut: bagian penghiburan, bagian yang menyenangkan, bagi orang-orang yang telah beroleh selamat, dan bagian siksaan bagi orang-orang yang belum beroleh selamat. Oleh rahmat Allah dan melalui penebusan-Nya, ada satu bagian yang menye-nangkan di dalam alam maut bagi umat tebusan-Nya. Menurut 16:22-25, Abraham ada di dalam bagian ini. Tidak diragukan lagi, Ishak, Yakub, dan semua orang kudus lainnya dalam Perjanjian Lama juga ada di bagian ini. Demikian juga, Lazarus orang yang miskin itu pergi ke sana setelah ia mati. Selanjutnya, Tuhan memberi tahu penyamun di kayu salib yang meminta Tuhan mengingatnya di dalam kerajaan-Nya, bahwa ia akan berada bersama-sama dengan-Nya di dalam Firdaus (23:42-43). Seperti yang telah kita tunjukkan, Firdaus ini adalah satu bagian yang menyenangkan di dalam alam maut, satu bagian penghiburan bagi umat tebusan Allah.

Menurut cara Allah, bilamana seorang mati, rohnya meninggalkan tubuhnya dan pergi ke alam maut. Tubuhnya biasanya dikuburkan. Roh yang tidak bertubuh adalah satu tanda kematian dan karena itu memalukan. Maka, ada satu tempat yang telah disediakan bagi roh-roh manusia yang ti-dak bertubuh ini. Di antara roh-roh yang tidak bertubuh ini, ada roh dari orang-orang yang telah beroleh selamat di dalam Firdaus, tempat yang menyenangkan dari alam maut, dan yang lainnya adalah roh-roh orang-orang yang tidak beroleh selamat di dalam bagian siksaan.

Dalam kisah yang tercatat dalam 16:19-31 kita nampak dua bagian ini. Kita juga nampak bahwa ada jurang di antaranya: ”Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.” Jurang yang besar ini adalah satu jurang pemisah yang membagi alam maut ke dalam bagian yang menyenangkan dan bagian siksaan. Dua bagian ini dipisahkan satu sama lain dan tidak ada jembatan untuk menyeberanginya. Namun orang-orang di kedua bagian itu dapat melihat dan bahkan dapat ber-bicara satu sama lain (ay. 23-25). Karena itu, orang kaya itu dapat melihat Abraham dan Lazarus, ia dapat berbicara ke-pada Abraham, dan Abraham dapat menjawabnya.

Orang yang mati akan tetap tinggal di dalam alam maut sampai hari kebangkitan. Ketika Tuhan Yesus datang kembali, orang-orang yang telah beroleh selamat akan dibang-kitkan. Ini akan terjadi sebelum Kerajaan Seribu Tahun, se-belum masa seribu tahun pemerintahan Allah di bumi. Orang-orang yang tidak beroleh selamat akan tetap tinggal di alam maut bagian siksaan untuk seribu tahun. Pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, orang-orang yang tidak beroleh selamat itu akan dibangkitkan dari alam maut dan dengan satu tu-buh, akan berdiri di hadapan takhta putih untuk dihakimi dan dijatuhi hukuman kekal. Kemudian seluruh diri mereka — tubuh, jiwa, dan roh mereka — akan dicampakkan ke lautan api.

Dalam kisah orang yang kaya dan Lazarus ini Tuhan Yesus mewahyukan kepada orang-orang Farisi yang kaya itu bagaimana nasib mereka, masa depan mereka. Dengan memberi tahu mereka kisah ini, berarti Dia berkata, “Hai orang kaya, janganlah turuti hawa nafsumu. Kamu perlu sadar bahwa nasibmu akan berada di dalam alam maut bagian siksaan.”

Perlu Mendengar Firman Allah

Menurut ayat 27-28, orang kaya itu berkata kepada Abraham, ”Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.” Tetapi Abraham menjawab, ”Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya” (ay. 29). ”Kesaksian Musa dan para nabi” mengacu kepada hukum Taurat Musa dan kitab para nabi, yang adalah firman Allah (Mat. 4:4). Apakah seseorang mendengar firman Allah atau tidak, menentukan nasib orang itu diselamatkan atau binasa. Orang yang miskin itu diselamatkan bukan karena ia miskin, tetapi karena ia mendengar firman Allah (Yoh. 5:24; Ef. 1:13). Orang kaya itu binasa bukan karena ia kaya, tetapi karena ia menolak firman Allah (Kis. 13:46).

Dalam percakapan antara Abraham dengan orang kaya itu kita nampak mengapa orang kaya itu pergi ke bagian siksaan. Ia pergi ke sana karena ia tidak mendengarkan firman Allah dan tidak percaya. Ia pergi ke sana bukan karena ia kaya. Demikian juga, Lazarus, orang yang miskin itu, pergi ke bagian penghiburan karena ia mendengarkan firman Allah yang disampaikan di dalam kesaksian Musa dan para nabi. Ia pergi ke bagian itu bukan karena ia miskin. Abraham memberi tahu orang kaya itu bahwa saudarasaudaranya memiliki kesaksian Musa dan para nabi dan mereka harus mendengarkannya.

Kemudian orang kaya itu berkata kepada Abraham, ”Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mende-ngarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (ay. 30-31). Jika orang-orang tidak mendengarkan apa yang firman Allah katakan, mereka tidak akan mau diyakinkan sekalipun oleh orang yang bangkit secara ajaib dari antara orang mati. Perkataan Penyelamat di sini menunjukkan bahwa jika orang-orang Yahudi yang diwakili oleh orang-orang Farisi itu tidak mendengarkan firman Allah dalam Perjanjian Lama, sekalipun Dia bangkit dari antara orang mati, mereka tetap tidak akan mau diyakinkan. Tragedi ini benar-benar terjadi setelah kebangkit-an-Nya (Mat. 28:11-15; Kis. 13:30-40, 44-45).

Lukas 16:31 menunjukkan bahwa kita tidak boleh memiliki pikiran ”sekadar ingin tahu”. Orang-orang yang memiliki pikiran demikian dapat menaruh perhatian kepada orang yang menyatakan dirinya telah bangkit dari antara orang mati. Kita tidak boleh mendengarkan hal-hal yang membangkitkan rasa ingin tahu kita. Sebaliknya, kita mendengarkan Firman Allah yang tertulis dengan pikiran yang sehat. Jika kita memperhatikan firman Allah dengan pikiran yang sehat, bukan dengan pikiran ingin tahu, kita akan memahami rahmat dan kasih karunia Allah, dan kita akan jelas mengenai keselamatan-Nya.