MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (14)
Pembacaan Alkitab: Luk. 16:1-3
Injil Lukas 16 sebenarnya merupakan kelanjutan dari pasal 15. Ini dibuktikan dengan kuat oleh fakta bahwa kata pertama dalam ayat satu adalah ”kemudian”. Kata ini menunjukkan suatu kelanjutan, khususnya bila dipakai pada permulaan suatu pasal.
MELAYANI TUHAN SEBAGAI HAMBA
Dalam pasal sebelumnya Tuhan membicarakan tiga per-umpamaan mengenai keselamatan orang dosa. Dalam pasal ini Dia melanjutkan dengan satu perumpamaan lagi, perum-pamaan ini adalah mengenai pelayanan kaum beriman. Setelah orang dosa menjadi orang beriman, ia perlu melayani Tuhan sebagai seorang hamba yang cerdik.
Dalam pasal 15 keselamatan sempurna yang digenapkan oleh Trinitas ilahi itu dengan jelas disajikan. Tetapi setelah menyajikan hal ini Tuhan Yesus tidak berhenti berbicara. Melainkan, Dia melanjutkan memberikan perumpamaan lainnya kepada orang-orang Farisi. Dalam perumpamaan ini kita tidak nampak keselamatan, tetapi kita nampak kecerdikan seorang hamba. Ini menunjukkan bahwa setelah kita diterima ke dalam rumah Allah, kita harus menjadi hamba-hamba. Kita adalah orang-orang dosa, kita telah di-selamatkan, dan kita telah menjadi anak-anak Allah. Sekarang sebagai anak-anak Allah, sebagai orang-orang yang diselamatkan di dalam rumah Allah, kita harus menjadi hamba-hamba yang melayani Allah di dalam rumah-Nya. Ini berarti kita harus melayani Allah di dalam gereja.
Dalam Injil Lukas kita nampak bahwa kapan saja Tuhan Yesus membicarakan keselamatan, Dia selanjutnya memperlihatkan suatu pelayanan. Misalnya, perumpamaan orang Samaria yang murah hati dalam pasal 10 menggambarkan kasih karunia Manusia-Penyelamat yang menyela-matkan dalam kebajikan-kebajikan insani-Nya yang mengekspresikan atribut-atribut ilahi-Nya. Segera setelah perumpamaan ini, ada kasus Marta dan Maria, satu kasus yang memperlihatkan betapa kita perlu melayani Tuhan menurut keinginan dan kesukaan-Nya. Prinsip yang sama berlaku dalam pasal 14. Pertama Tuhan berbicara kepada kita mengenai undangan yang disediakan Allah untuk menghadiri perjamuan yang besar. Ini melambangkan keselamatan Allah. Setelah perumpamaan ini, ada ajaran Tuhan mengenai mengikut Dia dengan melepaskan semua hal du-niawi, supaya kita sebagai para pengikut yang baik dan setia dapat masuk ke dalam yobel yang akan datang. Ajaran ini juga berhubungan dengan pelayanan. Kemudian setelah penyajian yang penuh tentang keselamatan sempurna Allah dalam pasal 15, Tuhan menyampaikan suatu perumpamaan kepada kita dalam pasal 16, yang memperlihatkan kepada kita bahwa setelah diselamatkan, kita perlu melayani Allah di dalam rumah-Nya sebagai hamba-hamba.
AJARAN TENTANG MENJADI HAMBA
YANG CERDIK
Perumpamaan hamba yang cerdik ini sederhana dan singkat. Meskipun demikian, perumpamaan ini mengandung satu butir yang bisa menimbulkan salah tafsir, yakni Tuhan memakai seorang hamba atau bendahara yang tidak jujur untuk menggambarkan pelayanan seorang hamba dalam rumah Allah. Kita akan lihat bahwa ini bukan berarti Tuhan mengajar kita melayani dengan tidak jujur. Hal yang penting di sini adalah kecerdikan hamba itu.
Ayat 1 mengatakan, ”Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.” Bendahara di sini menggambarkan bagaimana kaum beriman, yang telah diselamatkan oleh kasih dan kasih karunia Allah Tritunggal, adalah pelayan-pelayan Tuhan (12:42; 1 Kor. 4:1-2; 1 Ptr. 4:10), yang kepadanya Tuhan telah mempercayakan milik-Nya.
Ayat 2-3 melanjutkan, ”Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu.” Di sini bendahara itu mengatakan bahwa ia tidak cukup kuat untuk mencangkul seperti seorang petani yang mencangkul di ladang, dan ia malu untuk mengemis seperti seorang pengemis yang meminta-minta pertolongan. Dalam ayat 4 bendahara itu berkata kepada dirinya sendiri, ”Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan me-nampung aku di rumah mereka.” Penampungan di sini me-lambangkan diterima ke dalam kemah abadi (ay. 9).
Ayat 5-7 mengatakan, ”Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulilah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul.” Dalam ayat-ayat ini kita nampak bahwa bendahara yang dipecat ini, sewaktu ia masih berada di rumah itu, mengambil kesempatan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain supaya ke-lak mereka dapat melakukan sesuatu baginya. Inilah kecer-dikan bendahara itu.
Mengenai kecerdikan bendahara itu, ayat 8 mengatakan, ”Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.” Secara harfiah, ”bendahara yang tidak jujur” berarti ”bendahara yang tidak benar.” Namun, pujiannya di sini bukan untuk perbuatan tidak jujur dari bendahara itu, melainkan untuk kecerdikannya.
Dalam ayat 8 Tuhan Yesus menjelaskan bahwa anak-anak zaman ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang. Anak-anak zaman ini adalah orang-orang yang belum beroleh selamat, milik dunia. Anak-anak terang adalah orang-orang yang telah beroleh selamat, kaum beriman (Yoh. 12:36; 1 Tes. 5:5 ; Ef. 5:8). Frase ”sesamanya” mengacu kepada berurusan dengan orang-orang dari angkatan mereka. Di sini jelas, Tuhan bukan mengajar kita menjadi tidak benar, melainkan Dia mengajar kita menjadi cerdik, yaitu melakukan hal-hal tepat pada waktunya, meng-ambil kesempatan pada saatnya.
MENGIKAT PERSAHABATAN
DENGAN MEMPERGUNAKAN MAMON
YANG TIDAK BENAR
Dalam ayat 9 Tuhan melanjutkan berkata, ”Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur (benar), supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” Mengikat persahabatan dengan mempergunakan Mamon adalah menolong orang lain dengan memakai uang untuk melakukan banyak perkara menurut pimpinan Allah.
Mamon, yaitu uang, adalah milik dunia Iblis. Dalam keberadaan dan kedudukannya, uang itu tidak benar. Bendahara dalam perumpamaan ini menggunakan kecerdikannya dengan perbuatannya yang tidak benar. Tuhan mengajar kita, kaum beriman-Nya, untuk menggunakan kecerdikan kita dalam memakai Mamon yang tidak benar.
Frase ”Mamon yang tidak benar” menunjukkan bahwa uang tidak berada di dalam alam Allah. Uang berada di luar Kerajaan Allah, yaitu di dalam dunia Iblis. Karena itu, uang itu tidak benar baik dalam kedudukannya maupun dalam keberadaannya. Sebenarnya, dalam pandangan Allah, uang ini tidak seharusnya ada. Di dalam alam semesta ini tidak boleh ada satu benda seperti uang. Jika kita cinta uang, kita mencintai sesuatu yang seharusnya tidak boleh ada.
Dalam ayat 9 Tuhan mengatakan bahwa jika kita mengikat persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak benar, bila Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kita akan diterima di dalam kemah abadi. Kata ”tidak dapat menolong lagi” menunjukkan bahwa setelah dunia Iblis ber-lalu, Mamon tidak akan berguna lagi di dalam Kerajaan Allah. Kemah abadi adalah tempat kediaman abadi, tempat kaum beriman yang bijaksana akan disambut oleh mereka yang turut mendapatkan keuntungan dari kecerdikan me-reka. Ini akan digenapi dalam zaman kerajaan yang akan datang (Luk. 14:13-14; Mat. 10:42).
SETIA DALAM HAL MAMON YANG TIDAK BENAR
Dalam ayat 10 Tuhan melanjutkan, ”Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan siapa saja tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak be-nar juga dalam hal-hal besar.” ”Hal-hal kecil” mengacu kepada Mamon, harta milik pada zaman ini. ”Hal-hal besar” mengacu kepada harta milik yang berlimpah pada zaman yang akan datang (lihat Mat. 25:21, 23).
Dalam ayat 11 Tuhan berkata, ”Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur (benar), siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” ”Harta yang sesungguhnya” mengacu kepada harta milik yang sesungguhnya pada zaman kerajaan yang akan datang (lihat Mat. 24:47).
Dalam ayat 12 Tuhan melanjutkan berkata, ”Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?” Dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya, Allah tidak menghendaki kaum beriman Perjanjian Baru memperhatikan harta benda. Walaupun benda-benda materi milik dunia ini diciptakan oleh Allah dan juga milik-Nya (1 Taw. 29:14, 16), benda-benda materi itu telah dicemari karena kejatuhan manusia (Rm. 8:20-21) dan dirampas oleh Iblis, si jahat (1 Yoh. 5:19). Karena itu, benda-benda materi itu milik manusia yang jatuh dan tidak benar (ay. 9). Memang Allah menyuplai kaum ber-iman dengan kebutuhan mereka sehari-hari berupa benda-benda materi pada zaman ini (Mat. 6:31-33) dan mempercayakan kepada mereka sebagai pengurus rumah tangga-Nya, satu bagian dari benda-benda materi ini untuk latihan dan pelajaran mereka supaya Dia boleh menguji mereka dalam zaman ini, Namun tidak ada satu pun dari benda-benda ini yang seharusnya dianggap sebagai milik mereka sampai pemulihan kembali segala sesuatu pada zaman berikutnya (Kis. 3:21). Sampai saat itulah kaum beriman akan mewarisi dunia (Rm. 4:13) dan memiliki kekayaan yang tinggal tetap (Ibr. 10:34) untuk diri mereka sendiri. Dalam zaman ini mereka seharusnya berlatih setia dalam benda-benda materi sementara yang telah Allah berikan kepada mereka, supaya mereka boleh belajar setia terhadap harta milik kekal mereka pada zaman berikutnya.
Ayat 13 melanjutkan, ”Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Dalam ayat ini, kata ”mengabdi” berarti ”melayani sebagai seorang budak”. Di sini Tuhan menunjukkan bahwa melayani Dia itu menuntut kita mengasihi Dia, memberikan hati kita kepada-Nya, dan melekat kepada-Nya, memberikan seluruh diri kita kepada-Nya. Maka, kita dibebaskan dari penjajahan dan perampasan Mamon, sehingga kita boleh melayani Tuhan dengan menyeluruh dan sepenuhnya. Di sini Tuhan menekankan bahwa untuk melayani Dia kita harus mengalahkan tipu muslihat Mamon yang tidak benar.
Dalam ayat 13 kita nampak bahwa Mamon ini berlawanan dengan Allah, bersaing dengan Allah. Karena Mamon ini berlawanan dengan Allah, maka Mamon ini jahat. Pada pihak kita, kita tidak dapat melayani dua tuan: Allah dan Mamon. Hal ini sangat serius.
Firman Tuhan mengenai uang ini khususnya diarahkan kepada orang-orang Farisi, yang adalah pencinta-pencinta uang (ay. 14). Mereka berpura-pura mengasihi Allah dan hidup bagi Dia. Tetapi Tuhan mengenal dengan sesungguhnya bahwa mereka bukanlah pencinta-pencinta Allah; tetapi pencinta-pencinta uang.
YOBEL, KERAJAAN, INJIL,
DAN MANUSIA-PENYELAMAT
Sewaktu Tuhan Yesus berada dalam perjalanan ke Yerusalem, ada orang-orang Farisi yang keluar dan menentang-Nya. Apa yang Tuhan katakan dan lakukan pada perjalanan dari Galilea ke Yerusalem kebanyakan ditujukan kepada orang-orang Farisi. Catatan ini adalah satu hal penting yang khusus dari Injil Lukas. Catatan dalam Injil Markus dan Injil Matius agak berbeda. Dalam Injilnya, Lukas menulis demikian untuk memperlihatkan konflik yang terjadi pada perjalanan ke Yerusalem antara Tuhan Yesus dengan orang-orang Farisi yang keluar menemui-Nya. Firman Tuhan dalam pasal 14 sampai 16 ditujukan kepada orang-orang Farisi.
Firman Tuhan dalam pasal-pasal ini berdasar pada yobel yang diumumkan-Nya dalam pasal 4. Kita telah nampak bahwa yobel yang diwahyukan beraspek dua: aspek yobel pada zaman ini dan aspek yobel pada zaman yang akan datang. Dengan kata lain, Tuhan menyinggung yobel zaman ini dan yobel zaman yang akan datang. Yobel pada zaman sekarang adalah yobel kasih karunia. Tetapi yobel pada za-man yang akan datang akan menjadi yobel kerajaan.
Yobel pada zaman ini dan zaman yang akan datang sebenarnya adalah Kerajaan Allah. Selanjutnya, Kerajaan Allah adalah Manusia-Penyelamat itu sendiri. Lagi pula, yobel adalah Injil. Menurut Markus dan khususnya Lukas, Injil adalah Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah Penye-lamat itu sendiri, Dia yang almuhit yang akan datang dalam status-Nya sebagai Allah dan manusia, dengan atribut-atribut ilahi yang terekspresi dalam kebajikan-kebajikan insani-Nya, untuk menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih. Dalam Pelajaran-Hayat Injil Markus kita menunjukkan bahwa benih kerajaan dalam Markus 4 dapat disebut gen kerajaan. Tuhan Yesus menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih (gen) Kerajaan Allah. Tujuan-Nya adalah agar benih yang ditaburkan ke dalam orang-orang yang menerimanya dapat bertumbuh dan berkembang menjadi satu kerajaan. Inilah Kerajaan Allah yang sejati. Kerajaan ini adalah Injil yang membebaskan kita dari setiap jenis belenggu dan memulihkan hak kita atas warisan yang hilang untuk menikmati Allah dalam Kristus melalui Roh. Inilah yobel.
Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa dalam Injil Lukas: Injil, Kerajaan Allah, Manusia-Penyelamat, dan yobel itu sebenarnya sinonim dan mengacu kepada hal yang sama. Kempat hal ini mengacu kepada diri kita yang dibebaskan dari belenggu dan mengalami pemulihan warisan ilahi kita. Ini adalah yobel, Injil, Kerajaan Allah, dan juga adalah Manusia-Penyelamat itu sendiri.
Unsur dasar dari pembicaraan Tuhan pada perjalanan dari Galilea ke Yerusalem adalah yobel. Yobel juga merupakan prinsip yang mengendalikan pengajaran-Nya. Semua hal yang ada dalam 9:51—19:27 berhubungan dengan yobel.
Jika kita tidak nampak bahwa yobel adalah unsur dasar dan prinsip yang mengendalikan dalam pasal 9 sampai 19, kita tidak akan memiliki kunci yang membuat kita memahami pasal-pasal ini dengan tepat dan menyeluruh. Sebaliknya, pemahaman kita terhadap pasal-pasal ini mungkin akan menjadi pecahan-pecahan; yaitu kita mungkin mema-hami sepotong di sini dan sepotong di sana, tetapi tidak memahami pasal-pasal ini secara menyeluruh. Kita dapat membandingkan bagian dari Injil Lukas ini dengan sebuah gambar susun. Bila kita memakai kunci untuk membuka setiap pasal ini, barulah kita dapat menyusun potongan-potongan ini dan melihat gambaran yang menyeluruh, satu gambaran yang menampilkan yobel.
PENGURUSAN DAN PENANGANANAKAN UANG
Dalam Lukas pasal 15 kita nampak keselamatan yang digenapkan oleh Trinitas ilahi. Keselamatan Allah meng-hasilkan pelayanan. Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, kita sekarang harus melayani Allah yang menyelamatkan kita sebagai hamba-hamba-Nya. Hamba adalah orang yang berguna dalam sebuah rumah tangga. Ini menunjukkan bahwa setelah kita diselamatkan, kita sebagai hamba-hamba yang baik harus melayani Allah di dalam gereja-Nya, yang adalah rumah-Nya di bumi pada hari ini.
Menurut Lukas 16, pelayanan kita berhubungan erat dengan pengurusan uang. Dalam hal ini, kita adalah ”bankir” yang setiap hari berhubungan dengan uang. Setiap hari Anda mungkin memikirkan berapa banyak uang yang Anda miliki.
Sebagai suatu ilustrasi tentang betapa orang-orang dijajah oleh uang, izinkanlah saya menyampaikan kisah tetang seorang pengusaha yang diminta untuk berdoa setelah seorang pengkhotbah berkhotbah. Orang ini sangat terkejut dan tidak dapat menolak mengucapkan doa. Dalam doanya, tiba-tiba ia mengucapkan perkataan mengenai sejumlah uang. Sewaktu ia sedang berdoa, ia dengan spontan menga-takan tentang uang. Ini adalah satu penggenapan dari firman Tuhan yang mengatakan, ”Yang diucapkan mulut meluap dari hati” (Mat. 12:34). Apa saja yang memenuhi hati kita pada akhirnya akan keluar dari mulut kita.
Ketika Anda mendengar tentang pengusaha ini, Anda mungkin berpikir bahwa Anda tidak mungkin menjadi seperti itu. Namun, bukankah Anda sering memikirkan soal uang? Bahkan selama sidang-sidang gereja Anda mungkin memikirkan soal uang. Anda mungkin memikirkan berapa banyak uang yang Anda miliki dalam rekening Anda atau dalam tabungan Anda. Pengurusan uang benar-benar hal yang besar.
Tanpa uang, dunia setan tidak akan ada. Tanpa uang, dunia tidak akan ada, dan Kerajaan Allah akan datang. Bila uang musnah, kerajaan akan datang.
Tuhan Yesus benar-benar mengetahui rahasia yang ada di dalam lubuk batin kita. Rahasia yang dalam ini adalah Mamon, uang. Tuhan bukan hanya tahu rahasia yang ada di dalam kita, Dia juga tahu bagaimana menjamah masalah keuangan kita. Mengenai uang, kita semua mungkin seperti orang-orang Farisi. Karena itu, dalam 16:1-13 Tuhan meng-ajar kita supaya cerdik dalam mengurus uang. Dia mengajar kita untuk mengambil kesempatan memakai Mamon yang tidak benar dengan cerdik.
Akan datang saatnya uang, Mamon yang tidak benar ini, menjadi tidak berguna. Ini berarti akan ada suatu wak-tu, saat uang akan menjadi tidak berguna. Saya percaya bahwa waktu itu adalah masa Kerajaan Seribu Tahun. Tidak ada firman dalam Alkitab yang memberi tahu kita dengan tegas bahwa uang tidak akan berguna selama Kerajaan Seribu Tahun. Namun, sebagai hasil dari penyelidikan saya tentang Kerajaan Seribu Tahun dalam Alkitab, saya percaya bahwa situasinya kelak akan demikian. Setelah mempelajari Kerajaan Seribu Tahun menurut kitab Yesaya, kitab-kitab Injil, Kisah Para Rasul, Surat-surat Paulus, dan kitab Wa-yu, saya mengatakan dengan yakin bahwa ketika Kerajaan Seribu Tahun tiba, uang tidak akan berguna. Dunia pada hari ini adalah sistem Iblis, dan uang adalah milik sistem Iblis ini. Tetapi ketika Kerajaan Seribu Tahun datang, sistem Iblis ini akan diakhiri dan digantikan oleh Kerajaan Allah. Kemudian uang tidak akan memiliki tempat lagi dalam masyarakat manusia.
Beberapa orang mungkin mengira bahwa sebelum Kerajaan Seribu Tahun tiba dan sebelum uang menjadi tidak berguna masih ada waktu yang cukup panjang. Tetapi pernahkah Anda memikirkan bahwa bila seseorang mati, uangnya menjadi tidak berguna lagi baginya? Pada waktu mati, hubungan seseorang dengan uangnya telah berakhir. Seseorang mungkin memiliki sejumlah besar uang, tetapi uang itu akan menjadi tidak berguna baginya ketika ia mati.
MEMAKAI UANG KITA UNTUK MENDATANGKAN
FAEDAH BAGI ORANG LAIN
Saya menyinggung hal ini untuk menunjukkan bahwa kita perlu mengambil kesempatan untuk memakai uang kita dengan cerdik untuk mendatangkan faedah bagi orang lain. Berusahalah memakai uang kita untuk mendatangkan faedah bagi orang lain, supaya bila uang itu tidak berguna lagi, orang lain akan melakukan sesuatu bagi kita.
Dalam 16:9 Tuhan berkata, ”Ikatlah persahabatan de-ngan mempergunakan Mamon yang tidak jujur (benar), supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diteri-ma di dalam kemah abadi.” Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang telah mendapatkan faedah oleh pemakaian kita yang tepat terhadap uang akan menyambut kita ke dalam kemah yang kekal. Hal ini akan terjadi di dalam zaman kerajaan yang akan datang. Ketika Tuhan Yesus datang kembali dan kita diterima ke dalam kerajaan-Nya, beberapa orang dari antara kita akan memiliki sejumlah orang yang akan menyambut kita. Siapakah yang akan menjadi orang-orang yang menyambut ini? Mereka adalah orang-orang yang telah menerima faedah pada zaman ini oleh pemakaian uang kita secara cerdik.
Saya akan memberikan satu ilustrasi tentang hal ini. Misalnya Anda memakai sejumlah uang untuk menerbitkan traktat Injil dengan tujuan membawa orang kepada Tuhan. Orang-orang yang mendapatkan faedah oleh pemakaian uang Anda akan menyambut Anda pada masa yang akan datang. Mereka mungkin akan berkata, ”Saudara, kami ingin Anda mengetahui bahwa kami diselamatkan melalui traktat-traktat Injil yang Anda keluarkan.” Inilah satu contoh tentang disambut ke dalam tempat kediaman yang kekal oleh orang-orang yang berbagian dalam faedah dari kecer-dikan kita.
Dalam perumpamaan di pasal 16 bendahara yang tidak jujur itu mengambil kesempatan, sewaktu ia masih berada di dalam rumah tuannya, ia membantu orang-orang yang berhutang kepada tuannya dengan mengurangi hutang mereka (ay. 4-7). Ia mengambil kesempatan memakai uang untuk mendatangkan faedah bagi orang lain. Seprinsip dengan itu, sewaktu kita masih berada dalam perjalanan menuju kerajaan, kita harus memakai uang kita demi faedah orang lain. Kita tidak boleh memakainya untuk diri kita sendiri, untuk barang-barang mewah kita, hiburan, pelesir-an, atau pelampiasan hawa nafsu kita. Sebaliknya, kita harus memakai uang kita demi faedah orang lain. Ada satu kebutuhan yang besar dan ada banyak hal yang dapat kita lakukan yang akan menjadi faedah bagi orang lain. Inilah menjadi cerdik dalam melayani Tuhan.
Kita tidak dapat melayani Tuhan dengan setia tanpa memakai uang kita untuk tujuan yang benar dan pada waktu yang tepat. Jika kita menyatakan bahwa kita melayani Tuhan, tetapi kita memakai uang kita dengan cara yang salah, itu berarti kita tidak benar. Hal pertama yang akan dilakukan oleh seorang pelayan yang benar adalah mengurus uangnya dengan tepat dan cerdik.
Ketika saya belajar bahasa Inggris pada usia belasan tahun, saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Benjamin Franklin yang berkenaan dengan hal uang. Dalam artikel itu Franklin mengatakan bahwa mendapatkan uang itu mudah, tetapi sulit sekali untuk membelanjakannya. Saya terkejut membaca perkataan Franklin itu, karena saya mengira bahwa mendapatkan uang itu sulit dan mudah sekali membelanjakannya. Tetapi setelah membaca artikel itu saya menjadi yakin bahwa mendapatkan uang itu mudah, tetapi sulit untuk mengeluarkannya dengan tepat. Sulit sekali membelanjakan uang dengan cara yang tidak membahayakan diri kita sendiri, orang lain, atau masyarakat. Pikirkan betapa banyaknya perusakan yang telah dilakukan oleh orang-orang kaya terhadap masyarakat dengan menge-luarkan uangnya secara salah. Jika orang-orang kaya itu mau memakai uangnya dengan tepat, mereka akan men-datangkan faedah bagi diri mereka sendiri, bagi orang lain, dan bagi seluruh masyarakat. Yakinlah, untuk melayani Tuhan sebagai hamba-hamba-Nya, kita harus mengatur uang kita dengan benar.
Beberapa orang dari antara kita mungkin berkata, ”Aku bukanlah orang kaya. Karena aku tidak kaya, maka aku ti-dak memiliki masalah dalam hal memakai uang.” Namun, Anda masih memiliki satu masalah dengan uang yang Anda miliki itu. Sekalipun Anda tidak kaya, Anda perlu belajar mengatur penghasilan Anda.
MEMPERSEMBAHKAN DENGAN SETIA
Sebagai orang yang telah melayani Tuhan dan gereja-gereja selama lebih dari setengah abad, saya dapat bersaksi bahwa kelompok Kristen apa pun yang anggota-anggotanya mempersembahkan sepersepuluh dari penghasilan mereka dengan setia dan konsisten akan memiliki uang yang berlimpah. Data statistik mengenai keuangan gereja membukti-kan hal ini. Kelompok-kelompok tertentu menuntut anggota-anggota mereka berjanji untuk memberikan sepuluh persen dari penghasilan mereka, dan kelompok-kelompok ini selalu memiliki uang yang berlimpah. Yang penting di sini bukan-lah kita membuat satu tuntutan resmi untuk memberikan sepuluh persen dari penghasilan kita. Yang penting adalah orang-orang yang dengan setia memberikan sepersepuluh dari penghasilan mereka tidak akan pernah kekurangan uang.
Saya ingin mendorong khususnya orang-orang muda untuk belajar mempersembahkan sebagian dari penghasilan mereka kepada Tuhan. Orang-orang muda, kalian harus memulai hal ini segera setelah Anda lulus dan mulai bekerja. Persembahkanlah sebagian dari gaji pertama yang Anda terima kepada Tuhan. Saya dapat bersaksi bahwa inilah praktek saya ketika saya muda. Kali pertama saya mendapatkan uang, sekalipun sebagai seorang murid yang miskin, saya menyisihkan sebagian untuk Tuhan. Mungkin beberapa dari antara kita belum pernah memikirkan hal ini. Karena itu, saya mendorong semua orang beriman, khusus-nya orang-orang muda, untuk mempersembahkan sebagian dari uang mereka (berapa pun banyaknya) kepada Tuhan. Jika kita melakukan hal ini, kita akan belajar mengatur keuangan kita dengan tepat.
Orang-orang yang mempersembahkan kepada Tuhan dengan setia dan konsisten dapat bersaksi bahwa semakin banyak persembahan mereka, semakin banyak yang mereka terima. Bagi kita, orang-orang Kristen, menjadi kaya adalah memberi. Jalan untuk menerima adalah memberi. Tuhan sendiri berkata, ”Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takar-an yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan di-ukurkan kepadamu” (6:38). Di sini kita nampak dengan jelas bahwa memberi adalah jalan untuk menerima.
Suatu gereja yang berada dalam keadaan yang miskin merupakan hal yang memalukan bagi anggota-anggota gereja itu. Kemiskinannya dapat menunjukkan bahwa anggota-anggotanya tidak setia dalam hal persembahan mereka. Kiranya kita semua belajar melayani Tuhan sebagai hamba-hamba yang setia dalam menangani uang.
Saya mendorong kalian untuk mencatat persembahan kalian. Selama satu tahun, catatlah segala sesuatu yang Anda persembahkan. Kemudian pada akhir tahun itu periksalah berapa persen yang telah Anda persembahkan kepada Tuhan dari apa yang telah diberikan-Nya kepada Anda. Saya mendorong kalian semua mempraktekkan hal ini.
Menurut data statistik yang telah saya pelajari dan kesaksian-kesaksian yang telah saya dengar, semakin banyak persembahan kita kepada Tuhan, kita akan semakin dapat mempersembahkan. Misalnya, jika Anda mempersembahkan sepuluh persen selama satu tahun, pada tahun berikutnya Anda mungkin dapat mempersembahkan dua puluh persen. Kemudian, jika Anda setia mempersembahkan jumlah yang lebih besar, Anda mungkin dapat mempersembahkan lebih banyak pada tahun berikutnya. Yang penting di sini adalah semakin banyak persembahan kita, kita akan semakin dapat mempersembahkan.
Ketika beberapa orang mendengar perkataan tentang kesetiaan dan persembahan ini, mereka mungkin mengatakan bahwa mereka tidak memiliki iman yang cukup untuk mempersembahkan dengan konsisten. Sebenarnya, ini bukan soal iman kita; ini adalah soal praktek kita, dan praktek kita ini berdasar pada iman Tuhan dan kesetiaan-Nya.