← Daftar isi Ministri Firman Allah · bab 9/17

MENGENAL FIRMAN ALLAH MELALUI KRISTUS SATU

Seorang minister firman adalah seorang yang telah menerima wahyu Kristus. Artinya seorang minister telah memuaskan Allah untuk mewahyukan Anak-Nya di dalam Dia. Seorang tidak hanya mampu mengutarakan firman dengan mulutnya tetapi harus mengetahui jalan batini Yesus yang adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Yesus dari Nazaret adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Pernyataan ini hanya perlu beberapa menit untuk diingat, tetapi Tuhan berkata, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat.16:17). Pengetahuan akan Kristus bukan perkara kata-kata melainkan wahyu. Seorang minister firman adalah seorang yang menerima rahmat dari Allah untuk menerima wahyu mengenai Anak Allah. Dia adalah manusia yang dipilih Allah untuk menyatakan Anak-Nya; dia mempunyai wahyu dasar yang membuat dia mengenal siapa Yesus dari Nazaret itu. Ketika seorang telah melihat Anak Allah, semua kekudusan, kebenaran, terang, dan hayat berada di bawahh visi sedemikian, dan hanya Kristus yang ada.

Tidak ada satu pun di alam semesta ini yang bisa dibandingkan dengan Kristus. Tidak ada perkara rohani yang bisa dibandingkan dengan Kristus. Kristus adalah semua dan di dalam semua. Di luar Kristus seorang tidak bisa menemukan apa pun. Sekali Allah membawa manusia ke dalam wahyu Kristus, dia akan menyadari bahwa tidak ada apa pun di luar Kristus. Kristus adalah segala sesuatu. Dia adalah Allah. Dia adalah Anak Allah dan firman Allah. Dia adalah Kasih, kekudusan, kebenaran, keselamatan, penebusan, kebebasan, kasih karunia, terang, dan pekerjaan. Allah mengisi segala. Semua hal yang pernah kita lihat di masa lalu tidak bisa berada dalam terang Tuhan hari ini. Semuanya telah berlalu. Tidak ada apapun yang bisa menandingi wahyu yang besar ini. Musa sudah berlalu. Elia telah berlalu. Petrus, Yakobus, dan Yohanes semuanya telah berlalu. Hanya ada Yesus. Dia mengisi segala sesuatu dan adalah segala. Kristus adalah centralitas dan universalitas. Central Allah adalah Kristus, dan universaliti Allah juga adalah Kristus. Dia adalah central dan universalitas.

Ketika seorang dibawa kepada Kristus dan memiliki pengetahuan akan Dia, pengalaman yang mendasar ini akan membuat dia bisa mengenal firman Allah dan meministrikan Kristus kepada orang lain. Alih-alih melayani, meministrikan Kristus kepada orang lain, dan menyuplaikan Kritus denga Kristus, seorang harus memiliki wahyu Kristus. Setiap minister Kristus harus memiliki wahyu Kristus. Dia tidak bisa menyuplai orang lain dengan sesuatu yang dirinya sendiri tidak lilhat. Dia tidak bisa meministrikan Kristus yang dia tidak kenal. Dia tidak bisa menyuplai dengan potongan pengetahuan akan Kristus. Potongan “gambar” Kristus tidak bisa menyusun dasar ministri. Sebuah ministri tidak dibangun atas dasar potongan gambar pengetahuan akan Kristus. Sejak hari Paulus dan Petrus, setiap orang yang memiliki ministri firman di depan Allah harus memiliki wahyu dasar akan Kristus. Seorang harus dibawa oleh Allah sampai titik di mana dia mengenal Anak Allah secara langsung dalam lubuk hatinya yang terdalam. Bagi dia, Kristus harus menjadi Seorang yang turun, segala sesuatu, dan memenuhi segala sesuatu. Kemudian dia bisa meministrikan Kritus kepada orang lain. Sejak hari itu, Alkitab menjadi buku yang hdup bagi dia.

Apakah anda melihat apa yang saya katakana? Wahyu Allah memampukan kita mengenal Kristus. Seorang bisa mengatakan bahwa Yesus dari nazaret adalah Kristus, Anak Allah yang hidup, dan Sang Terurap Allah melalui membaca Alkitab. Tetapi tidak berarti dia telah menjamah Kristus. Seorang bisa memahami sesuatu mengenai Kristus melalui mempelajari Alkitab, tetapi tidak berarti dia memiliki wahyu. Banyak orang yang “mendesak” Kristus, tetapi mereka tidak benar-benar menjamah Kristus. Hari ini kita perlu rahmat Allah. Kita perlu terang-Nya dan kasih karunia-Nya. Allah harus merahmati kita dan membrikan kasih karunia dan mewahyukan Putra-Nya di dalam kita. Jadi ini bukan perkara belajar dan menyelidiki tetapi perkara rahmat dan wahyu. Hal ini berkaitan dengan terang batini, daya pembeda yang batini, dan pengetahuan batini. Sejak hari kita menerima rahmat dan wahyu, Alkitab menjadi kitab baru, kitab yang hidup. Firman yang dulunya sulit dipahami sekarang menjadi transparan. Sebelumnya, semakin kita berbicara mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Alkitab, semakin kita tidak memahaminya. Kelihatannya semua masuk akal, tetapi kita tidak bisa memahaminya. Tetapi sekali kita melihat Kristus, Alkitab ini menjadi jelas. Tulisan Allah yang tertulis menjadi jelas dan transparan. Secara batini kita jelas, kita diterangi secara batini. Kita mengenal Kristus secara batini, dan kita mulai memahami Alkitab. wahyu dasar akan Kristus ini memampukan kita mengenal siapa diri Kristus.

D U A

Apakah artinya Allah mewahyukan Putra-Nya di dalam kita? kita tidak bisa mendeskripsikan hal ini; tidak seorang pun bisa mendeskripsikannya. Bahkan Paulus tidak bisa. Bagaimana kita bisa mengatakan orang itu memiliki wahyu Allah di dalam dirinya? Beberapa orang mungkin mengatakan mereka telah melihat wahyu, sedangkan yang lainnya tidak bisa mengatakan hal ini. Beberapa orang bisa jelas, tetapi yang lainnya tetap tidak jelas. Kita begumul, berjerih lelah, berpikir, dan menuntut, tetapi kita tetap tidak melihat apa-apa. Tetapi suatu hari ketika Allah merahmati kita, mata kita segera terbuka.

Hari ini, kita mungkin berdoa kepada Tuhan, “Semoga Engkau menjadi segalaku. Semoga Engkau mengisi semua dan menjadi segala.” Kita bedoa demikian, tetapi kita tidak tahu apa artinya. Kita mengatakan hal yang tidak kita mengerti. Ketika Allah merahmati kita dan mewahyukan Anak-Nya di dalam kita, kita dengan spontan dan lembut akan berkata, “Syukur kepada Allah, Dia adalah segala sesuatu. Kristus adalah segala sesuatu. Semua pengalaman yang lampau ada di belakangku. Semua masa pekerjaan masa lalu dan penuntutanku ada dibelakangku. Bahkan kasih, iman, kebenaran, kekdudusan, dan kemenangan ada di belakangku. Segal sesuatu selain Kristus ada dibelakagku. Kristus adalah segala sesuatu.” Hanya dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa Dia ada di atas segala dan memenuhi segala. Ini adalah wahyu dasar. Berdasarkan dasar wahyu ini kita memahami firman Allah. Inilah titik permulaan di mana kita memahami Alkitan. Kita mulai dengan mengenal Anak Allah. Setelah itu kita mulai mengenal Alkitab. Ketika kita mulai dengan cara ini, segalanya akan menjadi transparan bagi kita, dan kita akan berkata, “Aku tidak mengerti banyak hal, tetapi hari ini aku mulai memahaminya.”

Di sinilah seorang harus belajar berpaling dan menjadi seperti bayi. Dia harus belajar seperti anak-anak. Bagaimana seorang anak belajar mengenai seekor sapi? Ada dua cara. Pertama, dia bisa mempunyai buku bergambar sapi dengan kata “sapi” tertulis di sampingnya. Kedua, dia dibawa melilhat sapi. Manakah dari kedua cara ini yang memberikan pengalaman sejati kepada anak itu, gambar atau sapi asli? Gambar sapi besarnya hanya beberapa inchi. Anak itu mungkin akan berpikir bahwa sapi itu tingginya hanya seperti di buku itu. Tetapi jika anda meletakkan dia di sepan seekor sapi, pemahamannya akan berbeda. Misalnya dia telah melihat sapi yang hidup. Di dalam dia ada kesan—seekor sapi. Tetapi dia tidak tahu apa namanya. Sekarang jika anda menunjukkan gambar sapi yang ada di dalam buku kepadanya dan menunjukkan apa yang disebut sapi, dia pasti akan mengerti. Pertanyaannya akan terjawab. Kita harus seperti anak kecil. Semoga Allah membuat kita mengenal Kristus sedikitnya sekali, menjamah Dia secara mendasar setidaknya sekali. Ketika kita kembali membaca Alkitab, segalanya akan menjadi jelas dan terang bagi kita; kita akan melihat segala sesuatu melalui terang buku ini. Sekali pengalaman mendasar itu benar, segalanya akan benar. Sekali ini diperkenalkan, segalanya akan teratur pada tempatnya. Segalanya akan saling berhubungan dan saling berkaitan.

Apabila anda hanya memberikan Alkitab kepada seorang dan memberitahu dia apa yang terkandung di dalamnya, anda tidak akan melangkah lebih jauh. Seorang saudara mempelajari banyak buku mengenai tanaman. Dia membaca mengenai tanaman tertentu dengan jenis daun dan bunga tertentu. Dia pergi ke gunung dan berusaha mendapatkan bunga ini tetapi ternyata dia tidak mendapatkannya. Sangat mudah mempelajari firman hanya dengan melihat gambar. Tetapi tidak mudah mengenali objek yang sesungguhnya dengan gambarnya saja. Saudara ini berusaha mencari tanaman itu berdasarkan deskripsi yang ada di buku, tetapi dia tidak mendapatkannya. Sama halnya ketika kita ingin mengindentifikasi seorang manusia. Sangat mudah melihat orang itu terlebih dulu kemudian melihat gambarnya. Tetapi akan sulit bagi kita mengindentifikasi orang melalui gambarnya. Ilustrasi ini sangat sederhana. Kita menemukan pengalaman ini di antara anak-anak Allah. Kita menemukan hal ini di dalam diri Paulus dan Petrus. Suatu hari Allah merahmati mereka, dan mereka mengenal Kristus. Tuhan sendiri berkata, “Daging dan darah tidak mewahyukan hal ini kepadamu, tetapi Bapa-Ku yang di surga” (Lit., Mat. 16:17). Semua ini perkara rahmat dan kasih karunia Allah. Kita mengenal Anak-Nya karena Dia telah memutuskan mewahyukan diri-Nya kepada kita. Sejak hari kita mengenal Dia, kita mulai mengenal Alkitab. untuk mengenal Alkitab, kita pertama-tama harus mengenal Kristus.

T I G A

Ini kesimpulan yang sederhana: Apakah Anda meministrikan langsung dari buku, yakni Alkitab, ataukah Anda seorang yang telah bertemu Kristus dan seorang yang memiliki wahyu Kristus? Apakah Anda seorang yang telah bertemu dan mengalami Tuhan? Apakah Anda mempunyai pemahaman mendasar akan Tuhan? Jika ya, anda dengan spontan akan berkata, “Terima kasih Allah, banyak hal di dalam Alkitab menjadi jelas sekarang.” Sejak hari itu, setiap hari anda membaca Alkitab, anda akan menemukan setiap bagian di dalamnya memberikan ada perasaan. Pengenalan batini ada terlebih dulu, sementara pengenalan akan Dia melalui Alkitab muncul setelahnya. Sekali anda memiliki pengetahuan yang subjektif, anda akan menemukan firman Allah busa dimengerti dan sangat harmonis ketika anda mempelajarinya lagi. Yang dulunya menjadi masalah bagi Anda sekarang menjadi wahyu yang bermakna, dan dulunya yang tidak bermakna sekarang menjadi penuh makna. Segalanya cocok, saling berkaitan dan tidak ada lagi yang tidak bermakna. Dari poin itu, hari-hari anda di bumi akan menjadi hari pengenalan Alkitab. setiap hari apa yang anda lihat akan cocok dengan apa yang dikatakan Alkitab; keduanya akan mempersaksikan hal yang sama. Anda mungkin tidak melihat segalanya secara langsung, tetapi hal itu akan muncul kepada anda sedikit demi sedikit, dan anda seiring waktu anda pun akan semakin melihat. Kita tidak mengerti Alkitab melalui Alkitab. seballiknya, kita mengenal Alkitab melalui terang batini dan wahyu batini.

Pikiran yang keliru selalu ingin mengambil jalan orang pandai. Manusia berpikir bahwa mereka bisa mempelajari Alkitab sendiri. Dia berpikir bahwa dia bisa berusaha memahaminya. Dia berpikir bahwa dia bisa membaca dengan tau tanpa berdoa. Dia berpikir dia bisa mempelajarinya, dan dia percaya dengan usaha belajarnya itu. Tetapi ini cara yang salah. Ketika Tuhan Yesus lahir, banyak orang Yahudi yang terbiasa dengan isi Alkitab. Herodes bertanya dimanakah Yesus dilahirkan, dan kepala imam dan ahli-ahli taurat menjawab tanpa melihat buku mengatakan Kristus akan lahir di Betlehem,tanah Yehuda. Mereka bahkan mengutip ayat Alkitab yang mengatakan, “Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel"(Mat.2:6). Mereka mampu menghafalkan kitab suci. teapi apakah mereka mengenal Kristus? Meskipun mereka sangat mengenal Alkitab, mereka tidak menggunakannya untuk mencari Kristus. Sebaliknya, mereka menggunakannya untuk membunuh Kristus. Mereka menggunakan kitab suci membantu Herodes mencoba membunuh Sang Terurap Allah. Bagaimana orang bisa salah membaca Alkitab! Bagaimana seorang bisa hal itu terjadi dengan orang yang sangat mengenal kitab suci! apakah yang bisa dilakukan oleh seorang yang mengerti Alkitab!

Ketika Tuhan Yesus di bumi, satu per satu poin-poin di dalam Alkitab tergenapi. Ketika seorang yang tidak mengenal Alkitab bisa dimaafkan karena tidak mengetahui hal ini, mereka yang mengenal Alkitab harus segera menyadi bahwa Yesus dari Nazaret adalah Anak Allah dari semua penggenapan Firman. tetapi apakah orang-orang Farisi mengetahui hal ini? Mereka tidak mengenal Kristus bahkan tidak menerima Dia. Mereka menjahit Kitab Suci di jubah mereka dan ikat pinggang mereka. Mereka memiliki pengetahuan Alkitab dan bisa menafsirkan nubuat alkitabiah. Mereka bisa memberitahu orang lain mengenai pengajaran dan doktrin Kitab Suci, tetapi mereka mengunci Kristus di luar pintu. Seorang bisa menjamah Kitab Suci tanpa menjamah Kristus. Orang-orang Farisi hanya membaca materi, mempelajari kurikulum, sebuah objek penyelidikan doctrinal. Mereka bisa memahami doktrin, tetapi mereka menolak Juruselamat.

Pada waktu hal ini sedang berlangsung, ada sekelompok orang yang lain. Mereka tidak mempunyai pengetahuan Alkitab. Matius adalah seorang pemungut cukai. Petrus adalah seorang nelayan. Bahkan dalam kitab Kisah Para Rasul, mereka dianggap “orang biasa dan tidak terpelajar” (4:13). Namun mereka telah bertemu Tuhan. Mereka telah bertemu Kristus. Allah mwahyukan Anak-Nya di dalam mereka, dan mereka mengenal Tuhan. Petrus menerima dari Allah wahyu mengenai Anak-Nya di Kaisarea Filipi. Dia mengetahui dari lubuk hatinya bawha Yesus adalah Sang Terurap Allah, Anak Allah. Sejauh mengenai ministry Kristus, Dia adalah Kristus dari Allah. Sejauh mengenai persona-Nya, Dia adalah Anak Allah. Inilah wahyu terbesar. Seluruh gereja dibangun di atas wahyu ini. Orang biasa dan tidak berpendidikan ini mengenal Anak Allah, dan mereka mengenal Alkitab. Matius adalah seorang pemungut cukai, dia sebelumnya tidak tahu Alkitab. tetapi karena dia mengenal Tuhan, dia bisa membicarakan banyak hal mengenai Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru. Sejak dia mengenal Tuhan, segalanya menjadi jelas. Hal ini bukan hanya mempelajari firman dari sebuah gambar, tetapi sebaliknya, mengindentifikasi sebuah gambar dengan melihat objeknya. Dia pertama mengenal Tuhan, kemudian dia menemukan siapa Dia dari kitab-kitab Perjanjian Lama. Mungkin anda mengenal seorang saudara secara personal. Ketika orang lain membawakan anda foto orang tersebut, anda langsung bisa mengenalinya. Anda harus mengenal Kristus sebelum Anda mengetahui kitab-Nya.

Masalah dengan beberapa orang adalah mereka membalikkan urutan Kristus dan Alkitab. Mereka ingin mengetahui Alkitab terlebih dulu kemudian mengenal Kristus. Tetapi bagi manusia hal itu mustahil, Alkitab tetapi pada waktu bersamaan mengenal Kristus. Matius dan Petrus menerima rahmat dari Allah untuk memiliki Kristus terwahyu di dalam mereka terlebih dulu. Kemudian ketika mereka membaca Kitab Suci, setiap kalimat menjadi jelas bagi mereka. Kita bukan orang-orang Yahudi dan mungkin tidak memahami maknanya. Seandainya kita orang-orang Yahudi dan tinggal di Yudea dalam jaman Perjanjian Lama. Ketika kita mempelajari Perjanjian Lama menurut huruf-huruf yang di luar, seluruh kitab akan menjadi misteri bagi kita. Hari ini, Perjanjian Lama masih menjadi misteri bagi orang-orang yang tidak percaya dan teolog-teolog. Tetapi Petrus, Matius, Yohanes, dan Yakobus bertemu Yesus dari Nazaret, dan Allah mewahyukan Puta-Nya di dalam mereka. Semakin mereka membaca Perjanjian Lama, mereka semakin jelas. Ketika mereka sampai pada bagian tertentu, mereka dapat berkata, “Inilah penggenapan dari apa yang sudah tertulis.” Melalui kitab ini, dari Kejadian 1 sampai Maleakhi 4, mereka menemukan bahwaYesus dari Nazaret adalah Anak Allah, Kritus. Mereka tidak mengenal Kitab Suci langsung dari Kitab Suci, tetapi melalui Kristus. Mereka yang mengenal Kristus mengenal Alkitab secara langsung. Banyak yang disebut orang Kristen, orang Kristen yang normal, telah membaca Alkitab selama bertahun-tahun tetapi tidak mengetahui apa pun mengenai hal itu. Akan tetapi, sekali mereka melihat Yesus sang Juruselamat, mereka mempunyai perasaan yang berbeda, sama halnya ketika mereka membaca Alkitab. Kitab ini menjadi baru untuknya.

Maka, ketika seorang mengenal Tuhan, dia mengenal Alkitab. wahyu datang setelah Kristus. Ketika orang itu mempunyai wahyu Kristus, dia emiliki wahyu Alkitab. pengalaman-pengalaman dari banyak orang yang mengenal Tuhan memberitahu kita bahwa tidak ada gunanya hanya mempelajari Alkitab. kita harus ingat bahwa kita harus mengenal Kristus sebelum dia bisa mengenal Alkitab. inilah yang terjadi dengan kedua belas murid. Sama halnya juga dengan Paulus. Dia adalah seorang Farisi, yaitu orang yang sangat mengenal Kitab Suci. Semua orang Farisi mengenal itab Suci dengan sangat baik, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan. Meskipun Paulus seorang Farisi yang sangat baik dan kudus, dan meskipun dia mengenal Kitab Suci, dia menganiaya mereka yang mengikuti jalan Tuhan (Kis.9:2; 22:4). Bagi seorang yang sangat mengenal Kitab Suci akan ada kemungkinan dia tetap menganianya Tuhan Yesus. Paulus adalah orang yang demikian. Paulus tidak mempelajari Kitab Suci dan kemudian menyadari bahwa Yesus adalah Anak Allah. Sebaliknya, Allah menerangi Dia pada suatu hari, yang menyadarkan dirinya bahwa inilah Tuhan. Paulus seorang yang membenci dan menganiaya Tuhan. Dia mencari orang-orang yang percaya, baik laki-laki maupun perempuan, mengikat mereka dan membawa mereka ke Yerusalem. Dia seorang penganiaya gereja yang keji. Betapa jahatnya dirinya! Akan tetapi setelah Allah menerangi Dia, dia jatuh ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya aku?” Kemudian dia segera menjawab, “Siapakah Engkau, Tuhan?” dan bangkit untuk mengerjakan apa yang Tuhan perintahkan (Kis.9:1-6; 22:10). Tiarapnya sungguh-sungguh. Dan rebahnya ke tanah juga sungguh-sungguh. Tubuh Paulus rebah ke tanah, dirinya jatuh, dan seluruh dirinya jatuh. Paulus merendahkan diri luar dan dalam. Setelah dia menerima wahyu ini, apakah yang kita pelajari dari diri Paulus disepanjang Kisah Para Rasul? Dia bisa menafsirkan Perjanjian Lama. Dia bisa memberi tahu kita bwha Yesus dari Nazaret adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Perjanjian Lama menjadi buku yang terbuka, buku yang hidup baginya.

Anda bisa membaca Alkitab. tetapi jika anda menyingkirkan pengetahuan akan Kristus, Alkitab anda menjadi buku yang tertutup. Itulah sebabnya banyak orang-orang yang terpelajar dan pandai mendapatkan Alkitab itu membingungkan dan misterius. Anda bisa memberi tahu dia semua keunggulan buku ini, tetapi mereka hanya akan mengganggukkan kepala mereka. Bagi anda kitab ini jelas, tetapi bagi mereka sangat membingungkan. Mereka tidak mengenal Kristus. Apabila seorang mengenal Kristus, dia akan mengenal firman Allah. Ini tidak berarti tidak ada seorang pun yang bisa mendapatkan Allah melalui membaca Alkitab. bebrapa orang menemukan Allah saat membafa Alkitab. Tetapi ini perkara rahmat Allah, Dia memilih menerangi orang itu dengan cara demikian. Ketika dia sedang membaca Alkitab, Allah senang mewahyukan Anak-Nya kepada dia dan menyelamatkan Dia. Jalan untuk mengenal Alkitab adalah dengan cara mengenal Kristus. Paulus dipimpin oleh Allah sampai titik dimana dia bisa menjelaskan kepada semua orang siapakh Yesus ini. Ketika kita membaca kitab Roma, Galatia, dan Efesus, kita menemukan seorang yang sangat jelas mengenal Perjanjian Lama. Darimanakah sumber pengetahuan Paulus? Dia pertama mengenal Kristus, dan melalui pengetahuannya, dia mengenal Kitab Suci.

E M PA T

Untuk menjadi seorang minister firman, kita harus memulainya dengan pengetahuan akan Kristus. Setelah kita mengenal kristus, barulah kita mengenal Alkitab dan kita bisa melayani sebagai seorang minister firman. Kurang dari itu, tidak akan membuat kita memenuhi syarat untuk menjadi minister firman. Paulus melihatterang yang besar dan mengenal kristus. Setelah dia diselamatkan, dia segera pergi ke sinagoga untuk memberitahu orang-orang bahwa Yesus adalah Kristus. Kis. 9:19-20, “Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.” Akan tetapi, orang-orang Yahudi tidak mempercayainya. Apakah yang dia lakukan? “Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias” (ay.22). orang-orang Yahudi percaya Perjanjian Lama. Untuk meyakinkan mereka, Paulus mengutip dari ayat-ayat Perjanjian Lama untuk membukatikan bahwa Yesus adalah Mesias. Betapa mengejutkan, orang yang hanya beberapa hari yang lalu menganiaya mereka yang menyeru nama Tuhan dan menahan mereka untuk dibawa ke hadapan imam besar! Bagaimana dia bisa begitu berani membuktikan bahwa Yesus adalah Kristus dari Kitab Suci Perjanjian Lama? Ini menunjukkan kepada kita bahwa minitri firman itu ada berdasarkan pengetahuan akan Kristus.

Saya ulangi: kita tidak dengan ringan menghargai Alkitab. Dasar firman Allah adalah Alkitab. yang kami katakana adalah mereka yang bersandar hanya pada Alkitab tidak akan bisa menjadi seorang minister firman. Mereka yang tidak membaca Alkitab tidak memiliki firman Allah. Tetapi mereka yang terbiasa dengan Alkitab belum tentu seorang minister firman. Hanya mereka yang mengenal Kristus yang bisa meministrikan firman. apabila anda ingin menjadi seorang juru bicara firman Tuhan, anda perlu terang yang menyeluruh dan berkekuatan untuk menyadari bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah. Kesadaran demikian akan membuat anda rendah hati; menyebabkan Anda melupakan segalanya dan berpaling seratus delapan puluh derajat. Sekali anda mengenal Tuhan demikian, Alkitab akan menjadi kitab yang baru dan terbuka, dan anda akan mengerti kitab ini.

Wahyu pengetahuan akan Kristus begitu umum bagi para rasul. Demikian juga halnya dengan Petrus, Yohanes, dan Paulus. Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Ini berart, Dia akan membangun gereja di atas dasar pengenalan ini. “Batu” tidak mengacu kepada Kristus melainkan pada wahyu mengenai Kristus. Tuhan berkata bahwa pengetahuan Petrus tidak diwahyukan kepadanya oleh daging dan darah tetapi oleh Bapa yang di surga. Inilah wahyu. Batuini adalah Kristus; batu ini juga adalah Anak Allah. Pengetahuan kita akan batu ini muncul setelah wahyu sedemikian. Tuhan berkata, “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Jemaat-Ku (lit. Gereja-Ku).” Ini berartigereja dibangun di atas diri Yesus sebagai Kristus dan sebagai Anak Allah. Inilah dasar gereja. Pintu alam maut tidak dapat menguasainya karena dasar gereja adalah Kristus; dasar ini adalah Anak Allah. Tetapi ini belum semuanya. Kita harus memperhatikan bagaimana kita bisa mengenal Kristus ini, Anak Allah ini. Yesus dari Nazaret kita kenal melalui wahyu, bukan melalui penjelasan Alkitab di tangan daging dan darah. Hari ini banyak manusia daging dan darah yang menjelaskan Alkitab. Tetapi kita tidak mengenal Dia melalui penjelasan sedemikian. Pengetahuan kita akan Dia datang dari wahyu, jauh dari daging dan darah; datang dari Bapa yang di surga. Wahyu ini adalah perkataan Allah uyang memimpin kita pada pengetahuan diri Yesus yang sesungguhnya. Hari ini gereja dibangun di atas batu ini. Gereja dibangun di atas dasar batu pengetahuan akan Kristus yang berasal dari wahyu. Hari ini seluruh gereja harus dibangun di atas batu ini.

Wahyu mengenai Kristus tidak hanya penting bagi Petrus, Paulus, dan Yohanes, dan Matius, tetapi juga seluruh gereja hari ini. Jika kita ingin melayani Allah dalam ministry firman, kita harus memiliki wahyu yang mendasar ini. Jika tidak, seorang bisa mengajarkan ALkitab, tetapi dia tidak bisa meministrikan Kristus. Seorang minister firman melayani manusia dengan Kristus; dia mendispensikan Kristus kepada manusia. Pekerjaan ini ada berdasarkan wahyu kita akan Yesus. Kita perlu wahyu untuk melihat siapa Yesus. Gereja harus dibangun di atas dasar ini. Tanpa wahyu ini, gereja tidak memiliki pondasi. Gereja harus memiliki wahyu dan pengetahuan bahwa Yesus dari Nazaret adalah Kristus, Anak Allah. Mereka yang telah menerima wahyu ini adalah anak-anak Allah (1 Yoh. 5:1). Mereka yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah adalah anak-anak Allah. Mereka berasal dari Allah. Hayat dan kuasa Allah memampukan dia menyadari bahwa Yesus sebagai Kristus, Anak Allah. Ketika Allah memberikan pengenalan ini dan ketika dia melihathal ini dengan jelas dan tepat, pemahamannya akan Alkitab akan berubah secara drastis. Dia tidak hanya menyuplai orang lain dengan Alkitab melainkan dengan Kristus.

Setiap orang yang ingin menjadi seorang minister firman perlu pengalaman Petrus, Matius, Yohanes, dan Paulus. Beberapa saudara tidak memiliki pengetahuan yang cukup akan Alkitab. Namun, ada sesuatu yang spesial di atas diri mereka: mereka merendahkan diri di depan Tuhan, dan sekarang mereka tahu sesuatu. Mereka tahu bahwa Yesus dari Nazaret, yang adalah Mesias Allah, memberikan semua pekerjaan. Yesus dari nazaret ini, yang adalah Anak Allah, menurunkan segala sesuatu. Ketika kenyataan ini menyadarkan orang, dia mulai mengetahui bagaiman mengajarkan Alkitab. dia mengenal Kristus, dan penjelasannya merupakan ministry firman yang luar biasa. Tolong diingat bahwa dasar ministry firman adalah pengetahuan akan Kristus, bukan pengetahuan yang hebat atas Alkitab. Hal ini tidak bermaksud mengatakan bahwa penjelasan Alkitab itu tidak ada gunanya atau pengetahuan Alkitab itu tidak berarti. Kita hanya mengatakan bahwa seorang yang tidak mengenal Kristus dan hanya menjamah Alkitab secara luaran tidak memiliki wahyu firman. ministry firman dibangun atas dasar wahyu yang batini—bukan hanya wahyu yang berbeda dari Kitab Suci, tetapi satu wahyu dasar mengenai Kristus. Tanpa hal ini, seorang tidak bisa meministrikan apa pun, meskipun dia sudah menghafal Alkitab. Apabila dia memiliki wahyu yang batini, pengetahuan luaran menjadi berarti, dan penjelasannya atas Alkitab tidak saja benar tetapi juga hidup. Maka segalanya bekerja sama mendatangkan kebaikan bagi ministry itu. Tetapi jika wahyu yang batini itu hilang, hal yang di luar tidak ada artinya. Ketika seorang jelas secara batini, hal yang luaran tidak berarti lagi.

Ministry firman melibatkan pengetahuan akan Dia yang ada di balik firman Allah. Pertanyaannya adalah siapak orang tersebut. Sekali dia melihat hal ini, dia mempunyai dasar meministrikan Kristus melalui Alkitab kepada orang lain. Ministry fiamn Allah mengenal Kristus dan menyuplaikan Kristus melalui Alkitab kepada orang lain. Ada perbedaan antara mengenal Kristus dengan mengenal Alkitab. Manusia tidak perlu rebah ke tanah untuk mengenal Alkitab. Asal dia mempunyai pikiran yang baik dan rajin melihat buku-buku referensi, dia akan mengenal Alkitab. teapi menjadi minister firman itu hal yang berbeda. Seorang harus diremukkan oleh Allah terlebih dulu sebelum dia bisa menjadi minister firman. jika orang itu jujur mencari Allah dan pada suatu hari bertemu Allah, segalanya akan jelas bagi dia. Wahyu ini memerlukan pengorbanan seluruh diri kita. ketika seorang memohon rahmat, menolak pemikiran dan keputusannya sendiri, dan berdoa meminta terang dari Allah yang menang, yang akan membuat dia rebah pada kaki Yesus orang Nazaret itu dan membuat dia bisa memproklamirkan Dia sebagai Tuhan dan mengaku, “Tuhan Yesus, sejak hari ini, aku mengakui bahwa Engkau adalah segala, Engkau memberikan semua dan mengisi semua,” terang ini akan dengan spontan menghasilkan suatu kotbah di dalam dia, dan dia akan menjadi minister firman.

L I M A

Apakah pekerjaan seorang minister firman? Kita dapat mengatakan bahwa seorang minister firman itu menerjemahkan Kristus ke dalam Alkitab, yaitu dia mengambil ayat-ayat Alkitab dan menggunakannya untuk memberitakan Kristus kepada orang lain. Pada akhirnya, Roh Kudus menerjemahkan ayat-ayat itu kembali ke dalam Kristus yang ada di dalam diri mereka yang telah menerima firman. Inilah artinya menjadi seorang minister firman. anda harus mengenal Kristus, dan Anda harus mempunyai wahyu dasar dan pengetahuan dasar. Seorang minister firman menerjemahkan Kristus ke dalam ayat-ayat Alkitab. Mungkin bagi anda hal ini sepertinya aneh tetapi ini fakta. Dia mengenal Kristus sebagai persona yang hidup, dan Alkitab penuh dengan diri Kristus. Dia menerima rahmat dari Allah untuk melihat Kristus, dan melihat Kristus di dalam Alkitab. Karena telah terbiasa dengan Alkitab, dia bisa dengan pasti mengatakan beberapa bagian, cerita, atau pengajaran Alkitab. Kita harus ingat bahwa ada dua dunia yang berbeda mengenai memiliki atau tidak memiliki terjemahan di balik Alkitab. Beberapa orang berbicara dari Alkitab, Alkitab adalah titik awal mereka. Beberapa orang mempunyai Kristus sebagai titik awal mereka. Bagi mereka Kristus yang hidup berubah menjadi kata-kata Alkitab. Mereka meletakkan Kristus yang mereka ketahui ke dalam firman Alkitab dan menyajikannya kepada orang lain. Ketika firman ini disajikan di depan orang, Roh Kudus membuka firman ini dan menyingkapkan Kristus kepada mereka. Apabila anda tidak mengenal Kristus dan anda hanya menyajikan firman Alkitab kepada orang lain, pekerjaan anda selesai ketika; tidak ada yang akan terjadi. Anda harus menyalurkan Alkitab ini kepada orang lain. Alkitab merupakan titik mula anda.

Manusia perlu mengenal Kristus. Mereka yang memiliki pengalaman dasar akan Kristus meletakkan Kristus ke dalam firman Alkitab dan melepaskannya kepada orang lain. Roh Kudus mengakui perkataan ini. Di satu pihak, para minister membicarakan firman, dan di pihak lain Roh Kudus bekerja. Roh Kudus melepaskan perkataan melalui para minister, dan para pendengar melihat Kristus. Inilah artinya meministrikan Kristus. Inilah ministry firman. Kita bertanggung jawab memberikan Kristus yang kita tahu, dapatkan, dan lihat menjadi perkataan dan menyanpaikannya kepada orang lain. Hanya inilah cara Roh Kudus menyingkapkan firman Allah kepada orang lain. Apabila titik awal kita adalah Alkitab, doktrin, atau pengajaran, setelah kita selesai berbicara, Roh Kudus tidak akan memperhatikannya dan tidak akan menyuplaikan Kristus kepada mereka. Kita jangan beranggpan bahwa penjelasan Alkitab sudah meministrikan Kristus. Kita hanya dapat meministrikan Kristus setelah kita mengenal Kristus. Kita harus diremukkan seluruhnya oleh Tuhan. Setelah itu barulah kita mempunyai jalan untuk maju. Kita harus meminta kepada Tuhan pengertian, pengetahuan dasar akan wahyu. Kita harus mengenal Kristus itu seperti apa dan Tuhan itu seperti apa. Dengan demikian perkataan kita akan Firman akan hidup.

Apakah minister firman? minister firman adalah seorang yang meministrikan Kristus melalui perkataan yang dia utarakan. Ketika firman keluar dari mulutnya, Roh Kudus bekerja, Kristus di kenal, dan gereja mendapatkan keuntungan. Kita jangan menyalahkan para pendengar.kita harus menyadari bahwa kitalah yang harus mengemban tanggung jawab ini secara penuh. Para pendengar terbiasa dengan pengajaran dan penjelasan. Bagi mereka kotbah itu dimulai dengan firman dan diakhiri dengan firman, dan berhenti saat firman juga berhenti. Hari ini kita tidak melilhat wahyu atau Tuhan di balik Alkitab. itulah sebabnya gereja menjadi miskin dan kasihan. Ketika kita menerjemahkan kata-kata ini kembali pada Kristus, kita memiliki firman Allah. Kita harus menerjemahkan Firman yang hidup ini ke dalam kata-kata. Roh Kudus akan menerjemahkannya kembali pada Firman hidup ini. Tanpa penerjemahan demikian, tidak ada perkataan. Seorang minister firman membaurkan Firman yang hidup dengan kata-kata yang bisa di dengar. Ketika seorang minister firman berdiri berbicara, orang lain kan mendapatkan Kristus Allah dan Anak Allah melalui perkataannya. Soerang minister firman meletakkan persona Kristus ke dalam Alkitab dan memberitakannya. Ketika dia menyuplai demikian, dia juga menyuplaikan Kristus. Inilah artinya menjadi seorang minister firman. orang sperti ini dipilih oleh Allah untuk menjadi seorang minister firman. ketika perkataannya keluar, firman Allah pun keluar. Ketika Alkitab dibicarakan, Kristus pun ada. Keduanya menjadi satu.

Hari ini gereja miskin dikarenakan para ministernya yang miskin. Kita harus meminta rahmat dan terang kepada Tuhan sehingga kita bisa menyadari kurangnya wahyu yang kita miliki. Hari ini, banyak pekerjaan dilakukan secara luaran, hanya menjamah hal-hal luaran. Kita tidak cukup mengenal Kristus secara mendalam. Kita pun belum cukup ditanggulangi. Itulah sebabnya suplain Tuhan di atas jalan hidup kita pun tidak mencukupi. Kita bisa memberi tahu orang lain mengenai firman di dalam Alkitab, tetapi kita tidak bisa memberi tahu mereka mengenai Firman Allah, yang adalah diri Kristus. Ketika Allah merahmati dan menerangi kita, kita akan melihat bahwa pada mulanya adalah firman dan firman ini bersama-sama dengan Allah. Firman ini adalah Allah; Anak Allah adalah Firman. Firman ini menjadi daging. Dengan kata lain, Yesus dari Nazaret adalah Firman. Alkitab ini adalah Firman Allah. Manusia ini adalah Firman Allah. Ketika Allah memilih kita menjadi minister firman, kita menemukan bahwa saat kita berbicara dari buku ini, kita berbicara mengenai laki-laki ini. Ketika kita menyingkapkan perkataan dari kitab ini kepada orang lain, kita juga menyingkapkan laki-laki ini; kita menyingkapkan Kristus kepada orang lain. Pemberitaan kita harus untuk meministrikan dan mendispensikan Kristus kepada orang lain. Ministry firman Allah adalah ministry mengenai persona ini.

Suatu hari ketika kita mengerti apa arti seorang minister firman, kita kan menyadari bawha tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali merebahkan diri di depan Allah dan berkata, “Tuhan, aku tidak mampun.” Seorang bisa menjadi minister firman bergantung pada sikapnya di depan Tuhan. Betapa sulitnya! Siapakah yang bisa melakukannya? Kita mengutarakan Kristus melalui firman. kita tidak mengutarakan mengenai Dia tetapi menyalurkan Dia. Kita bukan hanya kothbah tetapi mengutarakan seoran persona; persona ini disingkapkan melalui kita. ketiak orang lain menerima perkataan kita, mereka menerima Kristus. Ketiak orang lain mendengar perkataan kita, Roh Kudus menyingkapkan Kristus kepada mereka. Inilah artinya menjadi seorang minister firman.

Ini perkara yang dalam. Di luar kapasitas kita, sesuatu yang benar-benar di luar kemampuan kita. Setiap hamba Allah harus menyadari ketidak berhargaan dirinya. Semua minister firman Allah harus merebahkan diri di depan-Nya. Mereka harus menyadari meskipun mereka bisa menjelaskan Alkitab, memberitakan firman, dan mengajar orang lain, mereka tidak memiliki kekuatan berkaitan dengan perkara menyuplaikan dan meministrikan Kristus kepada orang lain melalui ministry firman. Mereka hanya bisa merebahkan diri mereka di depan Tuhan. Hari ini kita meminta rahmat dari Allah. Kita harus mengevaluasi atas setiap hal yang kita kerjakan. Kita harus ketidak bergunaan diri kita, pengutaraan kita yang tidak ada harapan. Tanpa rahmat Tuhan, kita tidak bisa melakukan apa-apa. Menjadi seorang minister firman adalah hal yang agung. Tidak mudah menjadi seorang pemberita firman. Jadi masalahnya, bukan berapa banyak kita telah membaca Alkitab. Yang kita perlukan adalah meministrikan Kristus sebagai seorang minister firman di hadapan Allah sehingga orang lain akan menjamah Kristus ketika mendengarkan kita bicara.

BAGIAN TIGA : PELAYAN ITU

B A B 10

DASAR PELAYAN

Kita telah melihat topik mengenai bagaimana menjadi seorang minister, dan kita telah melihat topik mengenai firman Tuhan. Sekarang kita akan memperhatikan topik mengenai ministri itu.

Kita telah melihat bahwa perkataan Allah, baik ministri firman Perjanjian Lama maupun ministri Perjanjian Baru, mengandung unsur manusia. Tetapi ada bahayanya yaitu, jika seorang tidak mempunyai telinga atau lidah “seorang murid” (Yes. 50:4), dia akan menganggap dirinya mahir dalam firman Allah. Jika seorang tidak ditanggulangi oleh Roh Kudus dan merasa remuk, sangat mudah baginya menyuntikkan pikiran dan perasaannya sendiri ke dalam firman Allah. Ketika hal ini terjadi, firman Allah tercemar dan dirusak oleh manusia. Betapa bahayanya! Karena itu, untuk menjaga kemurnian ministri firman, Allah harus bekerja di atas diri manusia; manusia lahiriah harus diremukan. Seorang minister firman harus berada dalam pembatasan ketat dan pendisiplinan yang ilahi. Jika dia tidak berada dalam kendali Allah, dia akan merusak firman Allah.

Karena itu tidak hanya perlu pekerjaan peremukan Roh Kudus tetapi juga pekerjaan konstitusi Roh Kudus di dalam kita. Roh Kudus tidak hanya harus menanggulangi kita melalui salib yang menyingkirkan unsur-unsur yang tidak diinginkan, tetapi Allah juga harus mengkonstitusi hayat Tuhan Yesus di dalam kita. Dalam kasus Paulus, Roh Kudus mengkonstitusi Kristus ke dalam dirinya sehingga dia menjadi orang yang berbeda dengan kondisi orang-orang dijaman itu. Perubahan diri Paulus bukan perubahan secara daging, tetapi lebih pada perubahan konstitusi Roh Kudus. Ketika dia berbicara, Roh Allah pun berbicara. Dia berdiri pada posisi lebih tinggi. Dia sangat tinggi sehingga perkataannya merupakan perkataan Allah. Dia berkata, “Aku perintahkan, tidak bukan aku, tetapi Tuhan…” (I Kor. 7:10). Inilah artinya memiliki ministri. Di sini ada seorang yang menjadi minister firman Allah. Unsur manusianya telah ditanggulangi Tuhan sehingga apa pun yang ditambahkan dalam firman Tuhan tidak akan merusak firman itu. Firman Allah tetaplah firman Allah. Tidak hanya firman itu tidak menjadi rusak, tetapi malah disempurnakan. Roh Kudus bisa bekerja di dalam diri manusia sampai titik ketika dia berdiri berbicara, orang lain menyadari bahwa itu Tuhan yang berbicara. Di sini ada seorang yang bebas mengutarakan perkataannya sendiri. Karena Roh Kudus melakukan banyak pekerjaan konstitusi di dalam dirinya, maka perkataanya menjadi perkataan Allah, penghakimannya menjadi penghakiman Allah, dan ketidaksetujuannya pun menjadi ketidaksetujuan Allah. Inilah hasil pekerjaan Roh Kudus yang kuat di dalam dirinya.

Sebelumnya, kita telah membahas topik mengenai firman Allah. Kita melihat ada dua perkara penting yang diperlukan. Pertama, semua wahyu yang baru ada berdasarkan wahyu yang pernah ada. Semua ministri firman Perjanjian Baru ada berdasarkan ministri firman Perjanjian Lama. Semua ministri firman hari ini ada berdasarkan ministri firman di masa lalu. Semua wahyu Allah hari ini ada berdasarkan wahyu-Nya dalam Perjanjian Lama dan Baru. Maka, Alkitab adalah dasar semua perkataan. Allah tidak berbicara dengan memberikan kata-kata tambahan maupun kata-kata yang terpisah lagi; Dia berbicara berdasarkan apa yang pernah Dia ucapkan. Dia memberikan terang-Nya melalui terang yang sudah ada. Hari ini Allah tidak memberikan terang yang terpisah; Dia tidak memberikan wahyu yang terpisah. Sebaliknya, wahyu yang diberikan oleh-Nya kepada manusia berasal dari wahyu yang sudah ada. Kedua, untuk menjadi seorang minister firman, dia tidak bisa mendasari perkataannya hanya pada firman Allah, yaitu Alkitab saja. Dia harus menjamah Kristus secara mendasar, sedikitnya sekali. Dia harus memiliki wahyu dasar sebelum dia bisa membangun ministrinya atas Alkitab. Kedua hal ini tidak berkontradisksi. Ministri firman hari ini ada berdasarkan ministri firman di masa lalu. Perjanjian Baru ada berdasarkan Perjanjian Lama. Apa yang terbentuk ada berdasarkan apa yang sudah pernah terbentuk. Ini fakta. Namun, kita ada fakta yang lain: semua minister firman pertama-tama harus berjumpa Tuhan, terpisah dari Alkitab, dan menerima wahyu-Nya. Kita jangan pernah menolak poin ini. Jangan pernah beranggapan asal mempunyai Alkitab kemudian bisa berbicara dari Alkitab. Dia harus mempunyai wahyu dasar dari Allah sebelum dia bisa melayani sebagai seorang minister firman melalui kata-kata yang tertulis dari Alkitab. Dia harus memiliki wahyu dasar; dia harus bertemu Kristus secara mendasar sebelum dia bisa mengutip Alkitab.

SETIAP WAHYU MENGHASILKAN

SATU MINISTRI

Ketika membicarakan mengenai ministri, kita harus menyadari bahwa ada dua jenis wahyu. Yang pertama merupakan wahyu dasar untuk semuanya. Yang berikutnya wahyu yang terus menerus. Jika kita telah menerima Kristus, wahyu ini akan menjadi wahyu dasar. Paulus menerima wahyu ini. Setelah menerima wahyu demikian, kita akan menemukan Tuhan ketika kita membuka Alkitab. Penemuan ini ada berdasarkan visi awal dan pengetahuan akan Tuhan. Kita pertama-tama harus rebah di hadapan Tuhan dan mengakui bahwa tidak ada apa pun yang kita ketahui yang bisa bertahan di hadapan-Nya. Bahkan pelayanan kita yang membara untuk Allah, sama seperti Paulus dahulu, harus dihapuskan. Kita harus ingat Paulus yang rebah ke tanah. Dia tidak rebah karena dosa-dosanya. Rebahnya ke tanah berkaitan dengan pekerjaannya. Dia rebah bukan karena dia berbalik dari Allah, tetapi rebah karena membara. Di sini ada seorang yang sangat mengenal hukum taurat, mengenal Perjanjian Lama, dan bergairah melebihi orang-orang Farisi lainnya. Dia sangat membara sehingga dia bisa fokus pada satu hal. Ketika pikirannya difokuskan pada perkara menganiaya gereja, dia melakukan usahanya yang terbaik untuk menganiaya gereja. Karena dia beranggapan bahwa inilah cara untuk melayani Allah, dia memberikan dirinya secara mutlak. Meskipun dia telah tertipu, semangatnya yang berkobar-kobar itu sangat nyata. Ketika dia diterangi dan dipukul sehingga rebah ke tanah, dia menyadari bahwa dia telah menganiaya Tuhan, bukan melayani Dia.

Meskipun banyak orang yang diselamatkan, mereka buta seperti Paulus dalam pekerjaan dan pelayanan mereka. Mereka berpikir mereka melayani Allah. Tetapi pada suatu hari Tuhan menerangi mereka, dan mereka berteriak dari lubuk hati mereka, “Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?” Saya kuatir ada banyak orang yang tidak pernah menanyakan pertanyaan ini dalam hidup mereka. Mereka tidak pernah digerakkan oleh Roh Kudus memanggil Tuhan itu “Tuhan.” Cara mereka memanggil “Tuhan” seperti yang ada dalam Matius 7:21. Mereka tidak memanggil Tuhan Yesus seperti dalam 1 Kor. 12:3. Di sini kita melihat seorang yang pertama kali mengakui Yesus dari Nazaret sebagai Tuhan. Sejak pertama dia mengatakan, “Apa yang harus kulakukan, Tuhan?” (Kis. 22:10). Paulus telah melakukan banyak hal di masa lalu. Tetapi di sini dia berkata, “Apa yang harus kulakukan, Tuhan?” Inilah rebah ke tanah. Dia rebah dari pekerjaannya, dari semangatnya yang berkobar-kobar, dan dari kebenarannya sendiri. Ketika seorang menerima wahyu dasar, Alkitab menjadi kitab yang baru dan hidup baginya.

Banyak orang bisa membaca Alkitab dengan didampingi seorang guru. Tetapi mereka hanya bisa memahami Alkitab menurut buku-buku referensi. Mereka tidak memiliki pemahaman Alkitab yang berasal dari perjumpaan mereka dengan Tuhan. Yang paling ajaib adalah ketika seorang berjumpa denga Tuhan dan diterangi, Alkitab pun menjadi buku yang baru baginya. Sejak hari itu, dia menjamah buku yang baru setiap kali dia membaca Alkitab. Seorang saudara pernah berkata, “Ketika Tuhan menaruh saya di bawah terang, apa yang saya terima secara instan itu akan cukup bagi saya beritakan selama sebulan.” Ini perkataan dari pengalaman. Kita harus mempunyai wahyu dasar ini, suatu wahyu yang berasal dari perjumpaan dengan Tuhan. Wahyu sedemikian akan memimpin kita kepada banyak wahyu yang lain, wahyu yang membukakan firman Allah bagi kita. Ketika kita mempunyai wahyu dasar ini, pembacaan Alkitab kita akan menjadi suatu penemuan. Kita akan menemukan Allah berbicara dalam setiap potongan firman. Kita akan mengenal Tuhan melalui suatu bagian dan menjadi jelas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan-Nya dari bagian yang lain. Melalui setiap hari dan setiap bagian, wahyu yang kita miliki akan semakin bertambah. Ketika kita melayani orang lain dengan wahyu ini, kita memiliki ministri.

Ministri ada berdasar pada firman yang pernah diterima dari Allah. Ketika kita bertemu Kristus, kita melayani gereja dengan Kristus yang kita kenal. Setiap kali kita melayani, kita perlu wahyu yang segar. Ministri melibatkan penglihatan sesuatu di depan Allah. Allah memberikan sesuatu dengan cara yang baru dan segar untuk kita. Ketika kita menyajikan hal ini kepada gereja, kita memiliki wahyu. Sebelumnya kami mengatakan ada dua jenis wahyu. Pertama adalah wahyu dasar, sedangkan yang kedua wahyu yang lebih detail atau wahyu tambahan. Wahyu yang pertama muncul hanya sekali untuk selamanya, sedangkan wahyu yang lain muncul terus menerus. Jika kita tidak memiliki wahyu yang pertama, kita tidak akan memiliki yang kedua. Kita harus memiliki wahyu dasar terlebih dahulu, sebelum orang kita, roh kita, dan pengetahuan kita akan Tuhan dan Alkitab itu bisa berguna. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa kita bisa meministrikan firman dengan segera. Wahyu dasar membuat kita bersyarat menjadi seorang minister. Tetapi permulaan pelayanan kita harus diiringi dengan wahyu tambahan yang terus berulang.

Ministri ada berdasarkan beberapa pengetahuan dasar dan wahyu. Namun, ketika Allah ingin kita berbicara sesuatu, kita harus belajar menerima wahyu yang segar yang mendukung pembicaraan yang khusus itu. Seorang minister firman Allah jangan menganggap dirinya bisa berbicara karena pernah menerima wahyu. Setiap kali ada ministri firman, dan setiap kali dia memberikan suplai dari firman, perlu wahyu yang segar untuk mendukung keperluan itu. Setiap pelayanan perlu wahyu yang baru. Setiap suplaian perlu wahyu yang baru. Seorang harus memiliki wahyu sebelum dia bisa memiliki ministri. Dan dia tidak hanya menerima wahyu sekali saja dalam seumur hidupnya. Wahyu dasar memperbesar kapasitas seseorang untuk menerima wahyu yang lebih maju. Wahyu awal membawa masuk lebih banyak wahyu. Wahyu dasar membawakan wahyu yang baru. Tanpa wahyu dasar, tidak akan ada wahyu yang baru. Namun, bahkan ketika ada wahyu dasar, tetap saja perlu lebih banyak wahyu. Seorang bisa saja menerima satu wahyu dasar dari Allah, tetapi itu tidak berarti dia bisa menggunakan wahyu ini setiap tahun, terus menerus seumur hidupnya dan melayani sebagai minister firman Allah dengan cara ini. Ketika kita bersandar kepada Tuhan setiap waktu selama hidup kita, pekerjaan kita pun akan berada dalam prinsip yang sama. Setiap wahyu menghasilkan satu kesempatan ministri. Seorang harus memiliki wahyu yang berganda sebelum timbulnya ministri yang berganda.

Kita harus ingat bahwa setiap wahyu hanya memberikan satu kesempatan kepada kita untuk melaksanakan ministri kita. Sangat tidak masuk akal jika hanya memiliki satu wahyu untuk kesempatan dua ministri. Satu wahyu hanya cukup untuk satu kali ministri firman. Semua wahyu yang terbaru dibangun di atas wahyu dasar. Tanpa wahyu dasar, tidak mungkin memiliki wahyu yang terbaru.

Dasar ini harus pertama-tama dibangun sebelum seorang bisa menjadi seorang minister firman Allah. Wahyu harus terus maju, dibangun di atas satu sama lain. Hanya satu wahyu saja tidak bisa mendukung satu ministri selamanya. Tidak ada gunanya jika seorang hanya menyiapkan banyak acara lalu berusaha memakai wahyu itu begitu ada kesempatan. Masalahnya bukan pada perkara terbiasa dengan acara itu atau tidak, juga bukan perkara memberitakannya dimana-mana. Kita harus ingat bahwa firman Allah adalah “Firman Allah,” bukan perkataan kita. Anda mungkin sangat akrab dengan suatu berita dan mungkin bisa menghafalkannya. Akan tetapi, untuk meministrikan firman Allah, Anda harus menerima perkataan dari Allah ketika anda ingin bicara. Anda perlu wahyu yang berulang sebelum Anda bisa melaksanakan ministri yang berulang. Setiap wahyu akan memperlengkapi Anda untuk melaksanakan ministri Anda.

HAL-HAL ROHANI DIKEMBANGKAN

DALAM WAHYU

Ketika Anda menerima wahyu Anda kali pertama, Anda menyadari Alkitab begitu hidup. Contohnya, mungkin Anda bertemu Kristus dalam kekudusan Anda, dengan penekanannya pada kata “adalah”. Kristus adalah kekudusan Anda; bukan masalah Kristus membuat Anda kudus. Bukan Kristus memberikan kekudusan-Nya tetapi Kristus menjadi kekudusan Anda. Mata Anda terbuka untuk melihat kekudusan Anda itu tidak ada gunanya tetapi hanya Kristuslah yang bisa. Kekudusan Anda adalah seorang persona, demikian juga dengan kebenaran Anda. Kebenaran Anda itu bukan suatu jumlah dari hal-hal yang Anda lakukan. Kristuslah yang menjadi kebenaran Anda. Dia adalah kekudusan Anda. Kebenaran Anda adalah seorang persona. Inilah wahyu dasarnya: Kristus adalah kebenaran Anda. Allah telah menjadikan Kristus sebagai kebenaran Anda. Kebenaran Anda adalah seorang persona, demikian juga dengan kekudusan Anda. Ini sungguh visi yang amat mulia. Setelah dua bulan mungkin muncul kesempatan bagi Anda untuk melakukan ministri firman. Anda harus memberi tahu saudara saudari bahwa Kristus adalah kekudusan Anda, dan Anda harus menunjukkan kepada mereka perbedaan antara kekudusan sebagai benda dan kekudusan sebagai seorang persona. Namun, Anda harus ingat bahwa Anda tidak bisa bersandar pada wahyu yang Anda terima dua bulan yang lalu. Anda harus bertanya kepada Tuhan sekali lagi, “Tuhan, apa yang harus saya katakan?” Setelah Tuhan menunjukkan keperluan berbicara, maka Anda memiliki ministri firman. Setiap waktu ketika Allah ingin Anda mengucapkan perkataan itu, Dia harus menerangi Anda kembali atas wahyu yang sudah pernah Anda terima. Anda harus melihat hal yang sama itu sekali lagi dan Anda harus bersikap seperti belum pernah melihatnya. Wahyu itu harus menjadi sesuatu yang baru di dalam Anda. Anda merasa diterangi di dalam batin, dan Anda melihat makna dari Kristus sebagai kekudusan Anda. Ketika hal ini terjadi, Anda bisa memberita tahu saudara saudari dan memberitakan kepada mereka mengenai Kristus sebagai kekudusan mereka.

Apakah wahyu? Wahyu adalah penglihatan atas segala hal yang ada di dalam Kristus. Alkitab penuh dengan Kristus, dan wahyu memampukan kita untuk melihat segala perkara yang ada di dalam Kristus. Kristus adalah kekudusan kita; ini fakta. Fakta ini tercatat dalam Alkitab. Tetapi ketika kali pertama kita melihatnya, wahyu itu menjadi baru bagi kita. Wahyu itu bergetar dengan kekuatan hayat; wahyu itu segar. Wahyu selalu baru, membuat yang usang menjadi baru.

Kami ingin menekankan hal ini: wahyu tidak hanya menjadikan huruf-huruf itu hidup, mengubah hal-hal usang menjadi baru dan mengubah sesuatu yang objektif menjadi subjektif; sebetulnya wahyu itu membuat sesuatu yang subjektif menjadi baru kembali. Wahyu dasar mengubah semua hal-hal objektif yang ada di dalam Kristus menjadi subjektif di dalam manusia. Sebelum seorang bisa menerima wahyu dasar seperti itu, semua yang ada di dalam Kristus itu objektif baginya. Namun ketika dia menerima wahyu demikian, semua hal yang objektif menjadi subjektif. Tetapi ini tidak berarti ketika firman ini terbuka, pekerjaan itu sudah selesai. Ketika firman ini terbuka tidak berarti bahwa keterbukaan ini akan menyuplai manusia dengan segala hal yang dia perlukan seumur hidupnya. Bahkan jika kita telah menerima wahyu, kita perlu wahyu yang segar dari Allah setiap kali kita meministrikan firman dan melayani orang lain dengan Kristus sehingga hal-hal yang lama bisa kembali menjadi baru.

Kita harus ingat bahwa hal-hal rohani harus dikembangkan dalam lingkungan wahyu. Allah ingin semua hal-hal dari diri Kristus dan mengenai Kristus bisa hidup di dalam kita. Dia ingin semua perkara itu dikembangkan melalui wahyu. Wahyu-Nya bisa membuat segala perkara yang usang menjadi hidup di dalam kita. Segala perkara Kristus harus terus diperhidupkan oleh wahyu. Ketika wahyu dihilangkan, semua perkara rohani tidak lagi hidup. Anda mungkin beranggapan bahwa Anda melihat sesuatu di masa lalu dan visi ini membuat Anda bersyarat untuk mengatakan sesuatu hari ini. Tetapi Anda akan menyadari ternyata Anda tidak bisa memberikan apa pun kepada orang lain. Sama halnya dengan pemberitaan injil. Mudah untuk mengingat bahwa Tuhan adalah Juruselamat dan dosa-dosa Anda telah diampuni. Kadang-kadang Anda menjamah sesuatu ketika Anda memberitakan injil. Suatu ketika, anda berbicara lagi, keberanian Anda sedikit dan Anda merasa seperti botol lem yang kosong. Jadi bisa dilihat dengan jelas, yang satu berbicara dengan wahyu, sedangkan yang satunya lagi tanpa wahyu. Perkara-perkara yang ada dalam alam wahyu itu hidup, segar, berkekuatan, dan penuh hayat. Kita harus ingat hal ini bahwa perkara rohani akan langsung mati ketika terpisah dari wahyu.

Hari ini ketika kita meministrikan firman kepada manusia, kita jangan bersandar pada ingatan kita. Kita jangan berpikir bahwa kita merdeka untuk berbicara karena pengalaman kita di masa lalu dan perkataan kita yang lalu masih melekat kuat di dalam ingatan kita. Meskipun pertama kali hal itu berhasil, tetapi tidak sekarang. Kita mungkin mengutarakan hal yang sama, tetapi setelah itu, kita merasa ada sesuatu yang salah, apa yang kita ucapkan bukan hal yang benar. Faktanya kita merasa jauh dari hal-hal yang kita utarakan, kita malah belum menjamah hal itu. wahyu benar-benar berbeda dari pengajaran. Manusia selalu memiliki konsep yang salah bahwa dia ingin menjadi seorang guru. Kita harus melihat doktrin dan pengajaran yang tidak berguna. Kita jangan pernah berpikir bahwa kemampuan berbicara itu yang terpenting. Kita mungkin mampu berbicara, dan orang lain bisa mengapresiasi perkataan kita, tetapi kita bisa menjadi halimnya; di dalam kita tahu ada sesuatu yang salah. Kita harus ingat bahwa banyak orang menerima bantuan tetapi mengabaikannya. Kita jangan pernah mengucapkan selamat kepada diri kita hanya karena orang lain mengatakan mereka menerima bantuan dari kita. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka menerima bantuan, tetapi sebenarnya mereka tidak menerima apa-apa. Kita tahu di dalam kita entahkah perkataan kita bisa ditandai atau tida, lama atau baru, mati atau hidup. Ketika kita berbicara, jika wahyu Allah ada bersama kita dan rahmat Allah ada atas kita, kita akan menjamah realitas; tidak akan ada perasaan pemisahan. Kita akan terjamah dan apa yang kita ucapkan menjadi hidup bagi kita. Selama kita merasa yakin bahwa hal ini hidup di dalam kita, kita benar. Kita harus ingat bahwa kita perlu wahyu yang segar dari Allah setiap kali kita melaksanakan ministri. Inilah artinya memiliki ministri firman.

1 Korintus 14 membahasa perkara tutur sabda. Semua nabi bisa bertutur sabda dan berbicara. Tetapi “Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri” (ay. 30). Misalnya ada beberapa orang nabi, dan salah satu dari mereka ingin mengatakan sesuatu kepada para saudara. Ketika dia sedang berbicara, ada lagi orang lain yang menerima wahyu. Dia mungkin berkata, “Saudara, ijinkan saya bicara.” Orang yang tadi sedang berbicara harus mengijinkan dia berbicara, karena dia baru menerima wahyu yang lebih segar, dia punya hayat dan kuasa. Itulah sebabnya dia harus diinjinkan bicara. Meskipun semuanya adalah nabi, namun yang terakhir menerima wahyu adalah orang yang lebih hidup. Hari ini ada kemungkinan tidak ada lagi yang memiliki firman itu; hanya saudara ini yang mengetahui firman ini karena dia memiliki wahyu. Karena itu, yang terakhir harus mengijinkan orang yang baru memiliki wahyu itu untuk berdiri bicara. Pelayanan kita dalam ministri firman ada berdasarkan wahyu yang kita terima terus menerus. Jika kita tidak memiliki wahyu yang berulang, kita tidak bisa melayani sebagai minister firman dengan tepat.

Kita jangan beranggapan bahwa sebuah khotbah yang pernah berisi perkataan Allah akan selalu berisi perkataan-Nya. Kita jangan pernah beranggapan bahwa ketika satu khotbah membuat orang bertobat kemudian selanjutnya juga demikian. Ini mustahil. Khotbah yang disampaikan dengan cara yang sama tidak menjamin hasil yang sama. Hanya karena pengurapan yang samalah yang akan memberikan hasil yang sama. Dann hanya karena wahyu yang sama yang akan menghasilkan terang yang sama. Perkataan yang sama tidak akan memberikan hasil yang sama. Betapa mudahnya hal-hal rohani itu mati di dalam kita! Selain mati juga bisa seperti air yang mandek di dalam kita. Kemampuan untuk membawakan khotbah yang sama tiga tahun yang lalu tidak berarti kita mempunyai terang yang sama seperti yang kita miliki tiga tahun yang lalu. Hari ini kita perlu memiliki wahyu yang sama seperti tiga tahun yang lalu. Dengan demikian kita bisa memberitakan khotbah yang sama seperti tiga tahun yang lalu. Ministri firman tidak bergantung pada firman yang pernah kita bicarakan dimasa lalu, tetapi pada wahyu baru yang kita terima sekarang.

Masalah terbesar dengan gereja hari ini adalah banyak orang berpikir mereka memiliki banyak khotbah untuk disampaikan. Mereka pikir jika mereka mengulang khotbah yang sama terus menerus, mereka akan meilhat hasil yang sama terus. Tetapi ini enar-benar mustahil. Jika hanya memperhatikan doktrin dibandingkan wahyu maka itu menjadi kesalahan terbesar. Sekalipun dia mengutip khotbah Paulus dan Yohanes dan tidak mengulangi perkataannya sendiri, tetap saja tidak akan berhasil. Hanya wahyu yang sama yang akan menghasilkan hasil yang sama; perkataan yang sama tidak akan memberikan hasil yang sama. Maka, ministri firman Allah bukan perkara firman tetapi perkara wahyu. Kita tidak melayani pada dasar firman tetapi pada dasar wahyu. Kita harus ingat bahwa ministri firman Allah adalah ministri firman Alah yang tersingkapkan. Kita harus membedakan antara doktrin dan wahyu. Apa yang Allah katakan kemarin dan lusa adalah doktrin; apa yang Dia katakan hari ini adalah wahyu. Yang kita ingat adalah doktrin, sedangkan yang kita lihat adalah wahyu.

Kita tahu bahwa ministri nabi-nabi melibatkan perkara untuk hari ini dan masa depan; tidak melibatkan sesuatu di masa lalu. Ministri nabi-nabi menyingkapkan hasrat hari Allah hari ini dan masa depan. Itulah sebabnya Alkitab menyebut mereka pelihat atau nabi. Seorang nabi adalah seorang pelihat; dia adalah seorang yang melihat sesuatu. Dalam Perjanjian Lama banyak nabi yang membicarakan nubuat. Tetapi ada beberapa nabi yang tidak benar-benar bernubuat; sebaliknya, mereka memberitakan kehendak Allah atas manusia pada waktu itu. Ketika Natan bertemu Daud, dia meramalkan perkara istri yang diambilnya dari Uria dan perkara anak-anaknya. Tetapi Natan sesungguhnya mengekspresikan pikiran Allah; dia mengekspresikan hati Allah mengenai perkara-perkara khusus yang akan terjadi (cf. 2 Sam.12:7-15). Dalam Perjanjian Lama ekspresi tertinggi ministri firman Allah adalah nubuat dan pengajaran nabi-nabi. Apabila ada yang ingin menjadi seorang minister firman Allah, dan dia ingin memiliki ministri yang tertinggi, dia harus mengetahui apakah kehendak Allah hari ini dan apa yang Allah inginkan dikemudian hari. Ia harus memiliki wahyu Allah yang terkini. Ia tidak bisa tinggal dalam firman yang usang atau bahkan firman yang berasal dari masa lalu. Banyak orang hanya bisa memegang apa yang mereka lihat tahun lalu atau hari-hari yang sudah lewat. Mereka tidak mempunyai wahyu hari ini. Orang yang seperti itu tidak bisa menjadi minister firman.

DUA ALAM YANG BERBEDA

Kita harus menyadari ada dua alam yang berbeda. Alam yang pertama adalah alam doktrin. Dalam alam ini manusia hanya perly menyingkapkan kepada orang lain apa yang telah ia pelajari dari sekolah, buku-buku, dan penjelasan Alkitab. Semua itu perlu usaha, kepandaian dan kemahiran. Alam yang kedua adalah alam wahyu. Dalam alam ini manusia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali dia punya wahyu Allah. Kita harus lihat bahwa dalam ministri firman Allah, manusia menjadi tidak berkekuatan dan tidak ada harapan jika terpisah dari wahyu Allah. Jika Allah tidak berbicara, kita tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulut kita. Jika Allah tidak memberikan wahyu-Nya, kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ketika Allah memberikan kita wahyu, kita memiliki ministri. Jika Allah tidak memberikan wahyu, kita tidak punya ministri. Latihan ministri dilakukan berhubungan dengan wahyu. Kita harus terkait dengan Allah bila kita berada dalam alam ini. Kita harus datang kepada Tuhan. Jika kita tidak datang kepada Tuhan, kita tidak bisa berdiri di hadapan manusia dan berbicara. Dalam alam yang pertama kita bisa memakai ingatan kita, apa yang kita telah pelajari, atau bercicara dari topik bulan lalu atau minggu lalu. Dalam alam ini, manusia bisa melakukan sesuatu; dia bisa menggunakan caranya sendiri. Yang ia perlukan adalah ingatan, kepandaian, dan kemahiran. Tetapi dalam alam wahyu, tidak ada satu orang pun yang bisa menjadi minister kecuali Allah melakukan pekerjaan itu. Semua orang yang suda belajar pelajaran ini di depan Tuhan bisa membedakan hal ini. Kemana pun mereka pergi, mereka bisa membedakan alam yang mana seseorang berada ketika dia bicara.

Beberapa saudara melakukan kesalahan besar mengenai kemahiran dan kepandaian sebagai syarat suatu khotbah yang baik. Mereka pikir khotbah itu seratus persen bergantung pada kemahiran. Tetapi Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa pemberitaan tidak bergantung pada pemberitaan tetapi pada penerimaan wahyu dari Tuhan. Memberitakan sesuatu tetapi tanpa wahyu hanya menyehatkan pikiran manusia. Hal itu bisa saja mendorong pikiran manusia, tetapi tidak bisa menghasilkan wahyu.

Hal ini harus menjadi perhatian kita: tanpa menerima wahyu yang dasar, kita tidak akan memiliki wahyu yang terbaru. Mereka yang berada dalam satu alam hanya akan menghasilkan buah dari alam itu. Seorang pendengar dengan ingatan yang baik mungkin bisa menyimpan khotbah itu selama beberapa hari, tetapi setelah itu, khotbahnya hilang dan tidak ada lagi yang tersisa. Orang lain mungkin mendengarkan khotbah kita, tetapi apa yang kita katakan tidak menghasilkan sedikit pun penghakiman dari setan, daging, maupun sifat kekanak-kanakan di dalamnya. Perkataan yang diberikan dari suatu alam tertentu akan menghasilkan buah dari alam itu; tidak mungkin menghasilkan buah dari alam yang berbeda. Buah dari alam yang luaran tidak berisi apa-apa, hanya berisi kumpulan kata-kata, doktrin, dan penjelasan. Suatu acara yang dikembangkan dalam alam ini tidak ada isinya. Tetapi alam yang satu lagi itu berbeda. Jika seorang telah menerima wahyu dan terus menerus menerima wahyu, dia memberikan wahyu kepada orang lain ketika dia bicara. Hanya wahyu yang menghasilkan wahyu. Hanya terang yang menghasilkan terang. Hanya firman Allah yang menggerakan Roh Kudus di dalam diri manusia. Pengetahuan menghasilkan pengetahuan. Doktrin menghasilkan doktrin. Demikian juga hanya wahyu yang menghasilkan wahyu.

Tidaklah memadai jika kita hanya memberikan doktrin kepada orang lain. Juga tidak cukup jika hanya memberikan wahyu kepada orang lain. Apakah doktrin? Doktrin adalah wahyu yang lampau. Kata-kata di dalam Alkitab pernah hidup ketika itu, tetapi tidak lagi hidup sekarang. Hanya perkataan yang diucapkan oleh Roh Kudus yang hidup bagi manusia. Ketika banyak orang membaca Alkitab, mereka hanya menjamah perkataan Alkitab; mereka tidak menjamah firman Allah. Ini tidak cukup. Kita perlu Roh Kudus berbicara kedua kali. Kita perlu Tuhan berbicara kedua kali terpisah dari perkataan-Nya yang pernah DIa ucapkan. Allah harus berbicara langsung kepada orang itu sebelum dia bisa mendengar firman Allah. Seratus orang mungkin mendengarkan suatu khorbah, tetapi hanya dua orang di antara mereka yang menerima bantuan. Allah mungkin hanya berbicara kepada dua orang ini di antara seratus orang itu; orang yang kesembilan puluh delapan itu mungkin tidak mendengar apa-apa. Tanpa Roh Kudus berbicara, perkataan ALkitab hanya menjadi doktrin bagi kita. Kita harus ingat bahwa wahyu yang lampau adalah doktrin bagi kita. Meskipun Allah tidak berbicara kepada kita dan menyingkapkan diri-Nya kepada kita seklai lagi melalu perkataan ini, perkataan dan wahyu yang sama akan menjadi doktrin tanpa pengurapan Roh Kudus hari ini. Hal itu hanya akan menghasilkan buah-buah doktrin, tidak bisa menghasilkan buah-buah wahyu.

Masalah hari ini adalah doktrin telah turun dari generasi ke generasi, tetapi tetap tidak ada wahyu. Ayah yang percaya tidak menghsilkan anak yang percaya. Roh Kudus mungkin menghasilkan generasi pertama. Dia juga mungkin menghasilkan generasi kedua. Generasi ketiga dan keempat mungkin jadi orang yang tidak percaya. Roh Allah mungkin bekerja atas generasi kelima dan menghasilkan kembali. Setiap generasi merupakan hasil pengoperasian Roh Kudus. Ketika seorang manusia mempunyai anak di dalam daging, semua sifatnya diturunkan kepada generasi berikutnya, tetapi Roh Kudus tidak terlibat dalam transfer demikian. Regenerasi melibatkan pekerjaan Roh Kudus. Ketika pekerjaan Roh Kudus tersembunyi, tidak ada regenerasi. Ini dua hal yang berbeda. Satu cara menjelaskan doktrin. Sangat sulit mempertahanlan doktrin selama seratus atau bahkan dua ribu tahun. Doktrin menghasilkan doktrin, dan lingkaran ini terus berlanjut. Seorang mungkin tidak tahu apa-apa kecuali doktrin. Ketika dia memberitakan doktrin, dua atau tiga ribu orang mungkin mendengarkan dia. Yang ada di dalamnya doktrin dan apa yang keluar pun doktrin. Doktrin ini terus diturunkan kepada generasi berikutnya. Ini seperti melahirkan anak-anak dalam alam fisik; dia tidak perlu pekrjaan Roh Kudus untuk melahirkan seorang anak. Berbeda halnya dengan wahyu dan ministry firman Allah. Ministri firman Allah harus ada pengurapan Roh Kudus setiap waktu. Roh Kudus harus beroperasi di dalam manusia supaya dia mengalami keselamatan. Kelihatannya harus ada wahyu Roh Kudus sebelum bisa menjadi ministry firman . setelah ROh Kudus menghentikan wahyu-Nya, firman menjadi tidak berarti hanya sebagai doktrin. Roh Kudus harus beroperasi sebelum bisa menjadi ministry firman. Ketika pengurapan berkurang, tidak ada visi, tidak ada wahyu, dan tidak ada ministry firman. Maka, kita harus memberi tahu Tuhan, “Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Tuhan, aku tidak bisa melakukan apa-apa tanpa firman-Mu kecuali aku bersujud di hadapan-Mu dan keluar dari kerumunan orang-orang.” Hari ini banyak orang tidak menyadari betapa sulitnya mereka ditolong bila berkaitan dengan firman Allah. Banyak orang bertingkah seperti pengkhotbah professional. Mereka bisa mengatakan apa saja; mereka bisa memberitakan doktrin, pengajaran, kebenaran, dan ALkitab. Mereka bisa bicara ketika mereka ingin bicara. Ini sungguh-sungguh sangat mudah!

Ministry firman Allah benar-benar di luar kendali kita. Kita harus ingat bahwa cara satu-satunya untuk menghasilkan orang adalah melalui pengoperasian Roh Kudus. Kita bisa memberikan dokttrin kepada orang lain, tetapi untuk menjadi seorang minister firman, kita harus memiliki wahyu Roh Kudus. Kita harus menyadari bahwa hal ini diluar kekuatan kita. Ini adalah perkara Tuham; bukan pekerjaan kita. Dalam alam ini manusia tidak bebas bicara seenaknya. Tidak semudah itu. Allah ingin memiliki minister firman di atas bumi; Dia ingin melihat manusia berbicara. Maka, hari ini adalah waktu kita untuk mencari wajah-Nya. Kita harus berkata kepada Tuhan, “Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa bicara.” Manusia benar-benar tidak berdaya dalam hal ini. Hanya orang bodoh yang menyombongkan diri. Orang yang bodoh tidak menyadari bahwa hal-hal rohani tidak ada hubungannya dengan manusia; dia tidak tahu bahwa manusia tidak bisa menghadapi hal-hal rohani dengan dirinya sendiri. Tidak ada kemahiran, talenta alami, ataupun metode yang bisa membantu dia menjamah ministry firman Allah. Ministry firman milik alam yang berbeda, alam yang tidak ada hubungannya dengan diri kita.

Saudara, Allah harus membawa kita pada satu titik di mana kita melihat ketidak bergunaan diri sendiri. Kita tidak bisa menghasilkan ataupun melahirkan seorang pun dengan usaha kita. Orang tua bisa melahirkan anak dalam daging, tetapi mereka tidak bisa melakukannya dalam hal regenerasi. Demikian juga, kita tidak bisa memberikan doktrin kepada orang lain. Kita bisa memberi tahu kepada orang lain mengenai apa yang dikatakan Alkitab, tetapi hal ini tidak menjadikan kita sebagai minister firman Allah. Seorang minister firman Allah dihasilkan melalui pembicaraan Allah. Jika Allah tidak berbicara, tidak ada gunanya kita menyajikan Alkitab. Allah pertama-tama harus berbicara kepada kita sebelum kita bisa menjelaskan firman ini kepada orang lain. Jika Allah tidak memberikan perkataan-Nya kepada kita, kita jangan pernah menjelaskan pa pun kepada orang lain. Ini bukan pekerjaan kita. Banyak orang bisa menceritakan banyak cerita, dan mereka memberitakan banyak doktrin, tetapi mereka mungkin tidak bisa memberi tahu Anda apakah firman Allah itu. Jika Allah merahmati kita, kita bisa memberi tahu orang lain pakah firman Allah itu. Jika Allah tidak merahmati kita, kita tidak bisa melakukan apa-apa. Kita memiliki firman hanya ketika Allah memberikan firman-Nya kepada kita. Hal ini benar-benar di luar kekuatan kita; kita tidak bisa melakukan apa-apa. Tetapi ini sesuatu yang Allah ingin kerjakan. Allah ingin memiliki ministry firman. Ia telah memilih kita untuk menjadi minister firman. Tetapi kita tidak bisa melakukannya. Faktanya, kita benar-benar tidak bisa melakukan apa pun. Hanya karena rahmat dan wahyu Allah yang memberikan kita perkataan untuk disampaikan kepada orang lain. Maka, kita harus menerima wahyu dasar dari Allah. Dan roh kita harus didisiplinkan oleh Tuhan dan datang pada pengendalian-Nya. Harus benar-benar disiplin sehingga roh kita bisa terbuka kepada-Nya setiap waktu untuk menerima wahyu yang segar. Tuhan harus menanggulangi kita dan pekerjaan kita sampai kita bersujud dan berkata, “Tuhan, lakukanlah pekerjaan-Mu. Jika Engkau tidak merahmati aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

Kita harus melihat bahwa ministry itu berdasarkan wahyu firman, dan wahyu firman berdasarkan wahyu Kristus. Ketika sampai pada hal-hal rohani, berkaitan dengan firman Allah dan ministry firman-Nya, kita harus ingat tidak ada simpanan jangka panjang. Tidak seorang pun bisa membanggakan apa yang pernah dia miliki, dan tidak seorang pun seharusnya berkhayal bahwa dia bisa terus bekerja dengan apa yang ada ditangannya. Setiap saat kita datang kepada Allah kita harus dikosongkan sehingga kita bisa dipenuhi dan dicurahkan sekali lagi. Siapa pun yang merasa puas diri tidak bersyarat menjadi seorang minister firman. Ministry firman menghasilkan keadaan di mana manusia menjadi kosong seperti bayi yang baru lahir segera setlah firman itu dilepaskan. Dia tidak tahu apa-apa di depan Allah dan dia mencari Allah untuk dipenuhi dan diinfus dengan firman dan wahyu. Kemudian dia mencurahkan firman dan wahyu Allah kepada orang lain dan kembali menjadi kosong. Kita harus terus menerus dikosongkan. Hanya dengan cara dikosongkan terus menerus kita akan memiliki ministri. Dalam alam rohani, Allahlah yang merampungkan segalanya, manusia tidak bisa melakukan apa-apa. Kita jangan pernah berpikir bahwa setiap orang bisa membuka mulut dan mengutarakan firman Allah. Mengambil firman Allah dan melayani sebagai seorang minister firman merupakan pekerjaan diluar kekuatan manusia. Pekerjaan ini milik alam yang lain. Roh Kudus harus bekerja atas kita secara spesifik setiap waktu. Manusia tidak bisa melakukan apa pun akan hal ini. Semoga Tuhan merahmati kita, dan kita menyadari betapa tidak bergunanya diri manusia itu. Semoga kita tidak bodoh. Sekali saja seorang menjadi sombong, dia menjadi bodoh. Ketika dia tidak melihat dasar hal-hal rohani, dia menjadi orang bodoh.