WAHYU DAN PEMIKIRAN
Titik permulaan suatu ministri adalah wahyu. Ketika ada wahyu, Allah menerangi kita lalu kita merasakan terang di dalam. Namun, meskipun kelihatannya kita telah melihat sesuatu di dalam diri kita, terang ini tidak bertahan lama. Kelihatannya kita melihat sesuatu, tetapi kita tidak bisa mengatakan apa yang kita lihat itu. Menyangkal sesuatu yang sudah kita lihat merupakan suatu kesalahan karena jelas-jelas kita sudah melihatnya. Visi akan datang sejangka waktu dan kemudian hilang. Ini penjelasan dari suatu proses penerangan. Ketika kita diterangi, batin kita sepertinya jelas akan segala sesuatu. Tetapi kita tidak bisa menjelaskan apa pun. Kelihatannya kita sangat jelas, tetapi kita tidak bisa menjelaskan hal itu. Di satu pihak, kita merasa jelas di batin, tetapi di sisi lain, kita tidak memiliki keyakinan bahwa kita sudah jelas sekali. Di dalam kita merasa jelas, tetapi di luar kita bingung. Sepertinya ada dua orang di dalam kita. Yang satu jelas, dan yang lainnya bingung. Setelah sejangka waktu, kita lupa segalanya kecuali satu hal yaitu fakta bahwa terang Allah telah menerangi kita waktu itu. Mungkin setelah sejangka waktu, Allah untuk yang kedua kalinya akan menerangi kita. Terang datang lagi, dan kelihatannya kita melihat sesuatu. Pertemuan kali kedua ini sama persis seperti yang pertama, atau mungkin ada beberapa perbedaan. Faktanya, keduanya benar-benar berbeda. Karena pengalaman kita yang pertama, reaksi kita berbeda terhadap pengalaman yang kedua, kita berusaha memegang terang itu erat-erat karena takut terang itu akan hilang lagi.
SIFAT TERANG
Kita harus memperhatikan ciri khas terang—yaitu mudah pudar. Setiap kali sepertinya terang itu hilang atau lari. Terang datang seperti kilat dan tidak bertahan lama. Semua minister firman Allah memiliki pengalaman ini. Mereka berharap semua terang akan jelas sebelum terang itu pergi. Mereka berharap terang itu tinggal cukup lama agar mereka lebih jelas. Tetapi hal yang aneh adalah: mereka yang terbiasa dengan ministri firman mengalami bahwa mereka tidak bisa memegang terang; mereka tidak bisa meraihnya. Seseorang mungkin bisa menghafal banyak hal, tetapi sulit menghafalkan terang, dan apa yang ia hafalkan tidak sama dengan apa yang telah ia lihat. Terang Allah begitu besar dan kuat, tetapi mudah hilang, dan kita tidak bisa mengingatnya. Semakin banyak terang yang kita miliki, semakin sulit untuk mengingatnya. Banyak saudara yang menekankan, “Semakin kita membaca tulisan yang penuh wahyu, semakin mudah kita melupakannya.” Kita harus mengakui bahwa tidak mudah mengingat terang. Faktanya, terang itu sesuatu yang sangat sulit untuk diingat. Kita melihat dengan mata kita, bukan dengan ingatan kita. Semakin banyak terang yang kita lihat, semakin sulit kita mengingat terang. Ingatan kita tidak bisa mengingat terang. Sifat terang hanyalah memberikan wahyu; tidak berkaitan dengan ingatan kita.
Kita harus memperhatikan sifat terang. Meskipun terang sedang menerangi kita, pada waktu yang sama sepertinya terang mulai menghilang. Faktanya, terang mudah hilang. Seringkali sepertinya muncul tetapi juga menghilang. Ingatan kita tidak bisa mempertahankan terang. Itulah sebabnya, kita tidak tahu berapa banyak seseorang itu harus diterangi sebelum terang ini menjadi wahyu baginya. Ketika terang datang pertama kali, mungkin segera hilang. Ia tidak ingat isi dari apa yang telah ia lihat, meskipun sesungguhnya dia telah melihat sesuatu. Yang ia ingat hanyalah catatan bahwa dia telah melihat sesuatu. Ketika terang datang kedual kali, dia mungkin melihat sesuatu yang lebih tetapi tetap saja tidak bisa menangkap isinya. Dia hanya ingat dia telah melihat sesuatu lagi. Terang datang dengan cepat, tetapi sulit mempertahankannya. Ketika terang datang lagi, mungkin dia melihat apa yang pernah dilihatnya. Sekarang mungkin lebih jelas, atau terangnya tinggal lebih lama dari sebelumnya. Tetapi dia menghadapi masalah yang sama, dia tidak mampu mengingat terang. Dia tahu dia telah melihat terang, dan dia tahu dia telah bertemu terang. Terang datang terus menerus. Setiap kali terang itu datang, ada sesuatu yang berbeda. Tetapi setiap dia diterangi, dia merasakan terang itu cepat sekali hilang. Seperti terbang. Lari dengan cepat. Seperti tamu yang langsung pergi. Dia tidak ingat apa pun yang telah dia lihat dan bagaimana dia melihatnya; semua yang dia ingat adalah dia telah melihat sesuatu. Terkadang terang ini menerangi batin seseorang secara langsung tanpa memberikan maksud apa-apa, dan menerangi dengan cepat. Terkadang dia bisa mengalami terang ini dalam rohnya ketika dia membaca Alkitab. Seringkali dia menerima terang secara langsung di dalam rohnya, tetapi terkadang dia menerima terang yang sama ketika dia membaca Alkitab. Entah dia menerima terang secara langsung di dalam rohnya atau melalui membaca Alkitab, ada satu cirri yang bisa kita lihat—terang mudah hilang dan sulit bertahan lama.
MENGARTIKAN TERANG KE DALAM PIKIRAN
Kita sampai pada poin kedua—mengartikan terang ke dalam pikiran. Ketika ada wahyu, Allah menyinari terang-Nya ke dalam manusia. Awal mula sebuah ministri firman adalah penyinaran dan terang Allah di dalam kita. Sinar itu mudah hilang, lalu kita lupa hal itu. Sangat sulit meraih terang. Tidak ada seorang pun yang bisa menjadikan terang yang mudah hilang ini sebagai dasar ministri firmannya. Sangat mustahil mengambil kilat atau terang sebagai sumber ministri firman. Ada yang lebih diperlukan untuk memiliki ministri firman. Perlu satu hal selain terang: pikiran. Jika seorang telah ditanggulangi oleh Tuhan dan manusia lahiriahnya telah diremukkan dan hancur, dia akan diperkaya dalam pemikirannya. Hanya orang-orang yang kaya dalam pemikiran yang bisa mengartikan terang ke dalam pikiran. Hanya mereka yang kaya dalam pemikiran yang bisa memahami terang. Seorang saudara pernah berkata, “Aku harus mengerti bahasa Yunani sebelum aku bisa memahami makna firman dan sebelum aku bisa mengartikan maknanya.” Sama prinsipnya, terang adalah firman Allah. Menyingkapkan kehendak Allah. Namun jika kita tidak ada pemikiran, kita tidak tahu makna terang, dan kita tidak tahu isi terang itu apa. Pikiran kita harus kuat dan kaya untuk memahami isi dan makna terang itu. Ketika pikiran kita kuat, kita ditangkap oleh terang, dan kita bisa mengartikannya ke dalam pikiran kita sendiri. Kita hanya mengingat terang setelah kita mengartikannya ke dalam pikiran dan bisa dimengerti oleh kita. Kita hanya bisa mengingat pikiran kita, kita tidak bisa mengingat terang. Setelah kita mengartikan terang, kita bisa menyimpan terang. Sebelum terang itu diubah menjadi bagian dari pikiran kita, kita tidak bisa mengingat terang itu seperti apa, kita juga tidak bisa menyimpan isi terang. Setelah terang menjadi pikiran yang menyingkapkan arti terang itu, kita bisa mengingat terang dan mempertahankannya.
Di sini kita melihat pentingnya pikiran dan pengertian kita dalam ministri firman. Ketika belajar melayani sebagai seorang minister firman, kita harus mengetahui makna kata “pikiran” dalam 1 Korintus 14. Pasal itu membuat kita memperhatikan perkara tutur sabda. Kita harus memperhatikan tutur sabda karena membuat pikiran kita bekerja. Pasal ini tidak menekankan bahasa roh karena bahasa roh tidak membuat pikiran kita bekerja. Ayat 14 mengatakan, “Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak berdoa.” Ayat 15, “Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan rohku.” Ayat 19 mengatakan, “Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.” Pikiran manusia menduduki tempat penting dalam ministri firman Allah. Allah bermaksud mencapai pikiran para minister firman-Nya.
Ketika terang menerangi, pertama-tama yang diterangi adalah roh manusia. Tetapi Allah tidak ingin terang ini terus tinggal di dalam roh; Ia ingin terang ini mencapai pengertian manusia. Ketika terang ini masuk dalam pengertian manusia, terang itu tidak akan pernah pergi; tetapi akan tinggal terus di dalam kita. Wahyu itu sangat instan. Wahyu itu seperti kilat dan mudah hilang. Tetapi ketika terang ini bersinar dan pikiran manusia diterangi, terang yang terakhir akan mengartikan terang sebelumnya. Tetapi terang ini bertahan, dan kita mendapatkan isi terang itu. Ketika terang itu ada di dalam roh, terang itu bisa pergi sesuka hatinya. Tetapi ketika terang itu mencapai pikiran dan pengertian kita, terang itu bertahan. Sejak itu, kita bisa menggunakan terang ini. Kita harus ingat bahwa terang ini tidak ada gunanya jika hanya ada dalam pikiran kita; terang itu tidak akan bisa dipakai. Di hadapan Allah, kita adalah “jiwa yang hidup” (Kej. 2:7). Jika sesuatu belum mencapai jiwa kita, kepribadian kita tidak akan berguna, dan tekad kita tidak bisa mengendalikannya. Kita tidak hanya terdiri dari roh saja. Kita punya roh, jiwa dan tubuh. Ketika terang wahyu ada dalam roh kita, kita tidak bisa mengatakan bahwa terang ini milik kita. Terang wahyu tidak seharusnya tinggal dalam roh kita; terang ini harus sampai manusia lahiriah kita. Manusia lahiriah tidak bisa menerima wahyu apa pun; wahyu datang dari roh kita. Tetapi wahyu tidak bisa tinggal dalam roh kita; wahyu harus mencapai pikiran kita.
Pengertian terang ke dalam pikiran berbeda-beda pada setiap orang. Jika manusia mempunyai pikiran yang kaya, dia akan membuat perbedaan besar atas hal ini. Jika pikiran manusia tidak bisa cocok dengan terang Allah, terang Allah akan dirugikan. Jika sebuah bejana tidak bisa cocok dengan terang Allah karena keterbatasan maupun kekurangan kapasitas, terang Allah akan dirugikan. Jika terang Allah datang pada manusia dan pikirannya tajam dan focus, mereka bisa mempertahankan terang. Pikiran yang mengembara tidak bisa mempertahankan terang Allah, pikiran yang menyimpang juga tidak bisa. Anda mungkin tahu terang itu hadir, tetapi karena penyimpangan dan beban yang tidak berhubungan, Anda tidak bisa mengartikan terang yang Anda lihat ke dalam pikiran. Mungkin ada pikiran yang tidak mengembara dan tidak benar-benar terbebani, tetapi pikirannya bodoh. Ketika terang Allah menerangi mereka, mereka tidak tahu apakah terang itu. Allah memiliki satu permintaan dasar kepada mereka yang melayani sebagai minister firman—pikiran mereka harus diperbarui.
Masalahnya, ada banyak pikiran manusia yang aktif tetapi dalam kebingungan. Mereka tidak bisa mengartikan terang Allah, mereka tidak tahu apa makna terang itu. Banyak pikiran manusia yang terlalu dangkal; mereka hanya memperhatikan hal-hal yang rendah. Mereka tidak bisa mempertahankan terang atau mencari apakah makna terang Allah itu bagi mereka. Allah adalah terang; terang adalah sifat Allah. Maka, terang Allah yang besar, kaya, merupakan diri Allah sendiri. Ketika terang Allah tersingkap dan pikiran kita yang rendah, sempit, dan bingung, kita pasti akan kehilangan terang itu. Allah tidak bermaksud memberikan kita wahyu yang sedikit. Jika Allah memberikan wahyu, wahyu itu selalu besar, jangkauan dan isinya selalu limpah. Segala sesuatu yang berasal dari Allah Sang Mulia pasti penuh dengan kemuliaan. Setiap orang harus mengakui bahwa ukuran Allah kepada manusia selalu meluap keluar. Allah selalu kaya, besar dan Almuhit. Masalahnya banyak orang yang pikirannya tidak memiliki kapasitas untuk menampung terang ini. Banyak orang terlalu dangkal dan rendah untuk menampung terang Allah yang luar biasa. Saudara, jika pikiran kita tidak didisiplinkan dan tidak pernah fokus, bagaimana kita berharap mempertahankan terang Allah? Jika Allah memberi kita terang, tetapi pikiran kita begitu dangkal, bagaimana terang ini bisa bertahan, dan bagaimana kita bisa mengartikan terang ini ke dalam pengertian manusia?
Kita harus ingat bahwa hal pertama yang diperlukan ministri firman adalah wahyu dari Allah. Tetapi supaya unsur manusia ini bisa ada dalam firman Allah dan supaya manusia bisa menjadi minister Allah, terang wahyu harus melewati manusia. Terang ini harus masuk ke dalam roh manusia dan diartikan ke dalam pikiran manusia. Jika roh kita tidak dalam kondisi yang tepat, kita tidak akan menerima wahyu atau terang apa pun. Di pihak lain, jika ada yang salah dengan pikiran kita, terang tidak akan mencapai manusia lahiriah kita dan tidak bisa diartikan ke dalam pikiran. Setelah terang menyinari roh kita, tetap perlu pikiran yang kuat dan kaya untuk mengartikan terang ini ke dalam pemahaman dan menjadi kata-kata. Jika kita ditekan sepanjang hari oleh kekuatiran atas makanan, pakaian, dan keluarga, dan jika pikiran kita berputar-putar dalam hal ini setiap waktu, pikiran kita tidak akan bisa memenuhi keperluan. Kapasitas pikiran manusia itu seperti kapasitas tubuhnya. Jika tangan manusia hanya bisa mengangkat suatu benda seberat lima puluh pon, dan jika ditambahkan satu pon lagi maka akan terlalu berat baginya. Pikiran kita pun ada keterbatasan yang sama. Jika pikiran kita diduduki dengan hal-hal yang lain, kita tidak bisa menggunakannya dalam perkara Allah; kita tidak akan bisa mengartikan terang Allah ke dalam pikiran. Saudara, semakin cepat kita mengakui keterbatasan kita, semakin banyak berkat yang kita terima. Meronta sia-sia merupakan kerugian besar.
Beberapa saudara menaruh pikiran mereka pada makanan, pakaian, keluarga, dan banyak perkara lain dalam dunia ini. Berapa banyak tempat dalam pikiran mereka untuk Allah? Pikiran mereka penuh dengan urusan-urusan, dan menjadi tertekan. Roh mereka tidak bisa menerima terang. Bahkan jika roh mereka bisa menerima terang, sinarnya hanya akan menjadi latihan yang sia-sia. Pikiran ini tidak akan bisa melayani sebagai jalan keluar ministri. Ketika terang menyinari roh mereka, mereka tidak mempunyai pikiran yang stabil untuk menerima terang. Ketika terang datang, hanya pikiran yang bebas, kuat, dan kaya yang bisa menerima terang ini. Jika pikiran kita terlibat pada hal yang lain, kita akan bingung, dan tidak akan bisa keluar darinya. Pikiran kita tidak akan pernah mengerti terang. Meskipun terang telah masuk ke dalam roh kita, terang tetap harus melewati beberapa langkah yang rinci sebelum bisa dilepaskan sebagai minitri firman. Jika seorang ingin melayani orang lain dengan firman, dia harus membiarkan firman Allah keluar sedikit demi sedikit darinya. Jika ada yang salah dengan pikirannya, firman Allah tetap ada dalam rohnya sebagai terang tetapi dia tidak akan bisa mengartikannya ke dalam pikiran.
Yang menarik adalah setiap kali terang menyinari roh kita, kita tidak mengerti apa yang dikatakannya. Saat kita mencoba memahami dan mempertahankannya, terang itu hilang. Pikiran dan pemikiran kita tidak cukup memahami terang. Kita melihat sesuatu, tetapi kita tidak tahu apa yang kita lihat. Seringkali, terang datang pada kita dua, tiga, atau bahkan berkali-kali sebelum kita bisa menangkapnya. Jika pikiran kita cukup kaya, kita dengan mudah bisa mempertahankan terang. Jika pikiran kita tidak terbebani dan diduduki oleh perkara yang lain dan jika pikiran kita memadai dan cukup almuhit, kita dengan mudah bisa melihat terang dan makna terang itu. Semua pengalaman mendukung bahwa ketika pikiran kita berusaha mengartikan terang, terang ini sepertinya lari. Pikiran kita harus cepat.
Semakin cepat pikiran kita, semakin mudah bagi kita mengartikan terang. Sekali pikiran kita kendor, terang itu pun pergi. Jika Allah merahmati kita, terang akan kembali lagi. Tetapi jika Ia tidak merahmati kita, terang itu tidak akan datang lagi. Seringkali kita merasa telah kehilangan sesuatu; kita merasa ada yang hilang. Ini berarti pikiran kita belum berfungsi dengan tepat. Seringkali kita merasa pikiran kita tidak cukup cepat. Seringkali kita melihat sesuatu, lalu kita bertindak seperti pasukan pemadam kebakaran, kita cepat-cepat mengartikan terang itu ke dalam pikiran. Jika pikiran kita tidak cepat, kita mungkin bisa menangkap beberapa hal, tetapi sisanya hilang. Terang tidak menunggu kita agar berhati-hati dan mengerti. Terang itu terbang dengan cepat. Kita harus menangkapnya sebelum terang itu pergi.
Saudara, ketika Anda mendapatkan Anda tidak bisa mempertahankan terang, Anda menyadari betapa tidak bergunanya pikiran Anda. Sebelum Anda mencoba menghubungkan pikiran Anda dalam mengejar terang Allah, Anda mungkin berpikir diri Anda itu sangat pandai. Anda mungkin sombong karena pikiran Anda kaya, tetapi ketika terang perlu diartikan ke dalam pikiran yang bisa mengerti, Anda akan mendapatkan pikiran Anda ternyata begitu miskin. Ini seperti pengalaman menerjemahkan seorang pengkhotbah di atas mimbar: Anda perlu mengartikan untuknya, tetapi Anda tidak bisa melakukannya karena firman tidak dengan cepat datang pada Anda. Ketika Anda mengartikan seorang pembicara, dia bisa menunggu Anda sambil Anda mencari kata-kata yang tepat. Namun, terang itu berbeda; tidak menunggu Anda. Jika Anda tidak bisa menangkap terang, terang itu akan pergi. Saya tidak bisa memberi tahu Anda mengapa hal itu terjadi, namun ini adalah fakta. Anda hanya bisa mempertahankan terang sesuai dengan kapasitas Anda; dan yang tidak bisa dipertahankan akan hilang. Jika terang datang kedua kali atau ketiga kali, Anda bisa berterima kasih kepada Tuhan dan menangkapnya kembali. Tetapi jika terang itu tidak datang lagi, Anda akan menderita rugi, dan gereja juga mengalami kerugian. Jika Anda kehilangan terang, gereja pun demikian.
Siapakah yang menentukan seorang minister? Allahlah yang menentukan. Tetapi pikiran kita tidak bisa cocok dengan tearng, kita kehilangan kesempatan kita untuk melayani sebagai seorang minister. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pikiran kita dalam hubungannya dengan firman Allah. Banyak orang begitu bodoh: mereka pikir bahwa seorang minister firman tidak perlu melatih pikirannya sama sekalli. Tidak ada hal demikian. 1 Kor. 14 dengan jelas memberi tahu kita bahwa seorang minister firman perlu melatih pikirannya. Tanpa melatih pikirannya, dia tidak bisa dengan tepat melayani sebagai seorang minister firman Allah.
REMUKNYA MANUSIA LAHIRIAH
Beberapa orang mungkin bertanya, “Apakah 1 Kor. 2:13 tidak memberi tahu kita bahwa perkara-perkara rohani tidak membutuhkan hikmat manusia”? Apa yang akan kita katakan? Kita harus menyadari bahwa ayat ini mengacu pada remuknya manusia lahiriah. Jika pikiran kita bisa seperti seorang pelayan yang berdiri di ambang pintu terang Allah, menunggu terang dan maknanya, pelayan itu sudah cukup baik. Tanpa hal itu, tidak ada ministri firman. Jika pikiran tidak diduduki untuk mengartikan terang, malahan digunakan untuk menipu pikiran orang, tuan demikian adalah tuan yang paling buruk. Ada perbedaan besar antara pikiran yang bertindak sebagai pelayan dan pikiran yang berlagak sebagai tuan. Ketika pikiran menjadi tuan, pikiran berusaha mengetahui terang Allah dengan dirinya sendiri, mencoba menerka kehendak Allah dan memahami firman Allah. Inilah hikmat manusia. Ketika manusia berusaha dengan dirinya sendiri, dia melatih hikmat manusianya, ini seharusnya dihakimi dan dihancurkan. Pikiran kita harus seperti seorang pelayan yang berdiri di ambang pintu, menunggu dan menyiapkan dirinya untuk dipakai oleh Allah. Kita tidak menciptakan terang, Allahlah sang terang yang menerangi kita, sedangkan pikiran kita hanya mempertahankan terang, memahaminya, dan mengartikannya. Kita bisa mengatakan bahwa pikiran merupakan pelayan penting dalam ministri firman. Ada perbedaan yang mendasar antara pikiran yang menciptakan terang dan mempertahankan terang. Mereka yang telah belajar di depan Tuhan tahu kapan seorang pembicara itu menggunakan pikirannya sebagai tuan atau pikirannya untuk mengartikan terang yang telah diterimanya. Ketika pikiran manusia terlibat dalam urusan Allah dan mencoba menjadi tuan, pikiran ini menjadi perusak. Itulah sebabnya manusia lahiriah harus diremukkan. Ketika pikiran manusia diremukkan, pikiran ini tidak lagi bingung dan independen.
Kita harus ingat bahwa ketika manusia lahiriah kita diremukkan, kekuatan pikiran itu tidak lagi merusak, sebaliknya malah memperkaya. Peremukan pikiran mengacu pada peremukan pikiran yang egois, motivasi diri, dan pikiran yang berusaha sendiri. Ketika pikiran orang itu diremukkan, kegunaannya akan meningkat. Misalnya ada seorang yang pikirannya selalu diduduki satu masalah. Dia berpikir mengenai hal itu siang dan malam sampai pada titik dia terobsesi dengan hal itu. Jika pikiran manusia ada dalam keadaan demikian, apakah cukup beralasan berpikir bahwa dia bisa membaca Alkitab? Tentu tidak! Kita harus menyadari bahwa di mata Allah pikiran kita sudah kehilangan sasaran. Seringkali pikiran kita bisa terobsesi dengan hal itu sepanjang hari, bisa benar-benar diduduki. Atau pikiran kita bisa diduduki dengan pikiran apa yang kita inginkan; bisa benar-benar berpusat pada diri sendiri. Kemudian ketika Allah ingin menggunakan pikiran kita, pikiran kita sudah tidak ada kapasitas untuk hal yang lain. Akibatnya, Allah tidak bisa memakai pikiran kita. Saudara, kita harus menyadari keseriusan perkara ini.
Salah satu syarat dasar ministi firman adalah pikiran yang bersih, pikiran yang bisa dipakai oleh Allah. Syarat ini merupakan syarat dasar bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi dalam ministri firman. Ketika kita mengatakan bahwa manusia lahiriah perlu diremukkan, bukan berarti kita menghapuskan pikiran kita sehingga tidak ada fungsinya lagi. Sebaliknya, yang kami maksudkan adalah pikiran itu tidak lagi penuh dengan ego, tidak berpikir sembarangan. Tidak tertawan karena hal-hal luaran. Hikmat harus diremukkan, dan kepandaian juga harus disingkirkan. Kemudian pikiran kita akan menjadi organ yang berguna; tidak lagi menjadi hidup kita dan tuan kita. Beberapa orang berpikir dengan sederhana; mereka ingin pandai. Pikiran mereka menjadi hidup mereka, dan mereka hidup dengan pikiran mereka. Jika Anda memberi tahu mereka agar tidak melatih pikiran mereka, Anda sepertinya meminta hidup mereka. Pikiran mereka segera berbalik. Pikiran mereka begitu aktif sehingga kita tidak yakin apakah Roh Allah bisa menerangi roh mereka atau tidak. Andaikan Dia bisa, belum tentu pikiran mereka bisa menerima terang demikian. Kita harus tahu bahwa untuk melihat sesuatu, seorang tidak boleh subjektif. Jika dia subjektif, dia tidak bisa melihat apa pun. Jika pikiran seorang menjadi hidupnya, mustahil baginya untuk melihat dan memahami terang Allah. Ini dikarenakan dia terlalu subjektif.
Supaya pikiran menjadi organ yang berguna, pikiran harus ditanggulangi oleh Allah. Harus benar-benar dipukul. Inilah peremukkan manusia lahiriah. Jika pikiran kita menjadi pusat diri kita dan seluruh diri kita hanya berpusat pada diri sendiri, hanya memikirkan urusan kita sendiri, dengan segala sesuatu berputar pada diri sendiri, pikiran kita tidak akan bisa siap dipakai, bahkan jika terang Allah menerangi roh kita sekalipun. Kita tidak tahu apa yang Allah katakan, dan kita tidak mengerti arti firman Allah. Hasilnya, ministri firman berhenti di dalam kita; mengakhiri kita. Jika firman tidak bisa melalui pikiran kita, tidak ada ministri firman. Ministri firman perlu saluran, dan saluran ini harus melalui diri kita. Kita adalah saluran yang mengalirkan aliran air Allah. Dia menggunakan manusia yang hidup menjadi saluran-Nya, dan air mengalir keluar dalam tahap ini. Ketika ada penghalang disepanjang jalan atau disepanjang saluran ini bermasalah, maka air tidak akan bisa lewat. Banyak orang dihalangi oleh pikiran sehingga tidak bisa memiliki ministri firman; pikiran diblokir, dan ministri firman tidak bisa mengalir keluar.
Saudara, jangan berpikir bahwa membuang energi jiwa kita itu merupakan perkara sepele. Seringkali banyak orang menghabiskan tenaga jiwa pada perkara-perkara yang tidak penting. Setiap hari mereka tinggal dalam perkara itu. Membuang tenaga jiwa seperti itu merusak cara Allah. Ini tidak berarti pikiran tidak berguna. Wahyu perlu kerjasama pikiran manusia. Segala sesuatu yang diberikan Allah kepada kita itu berguna. Pikiran diciptakan oleh Allah, dan kita tidak seharusnya berpikir hal itu tidak berguna. Tetapi pikiran yang berpusat pada diri sendiri dan egois itu tidak berguna. Pikiran harus menjadi pelayan Allah. Jika ya maka pikiran akan berguna. Namun jika pikiran mencoba menjadi tuan, pikiran akan menjadi musuh Allah dan menentang Allah. Itulah sebabnya 2 Korintus 10:5 mengatakan bahwa setiap pikiran harus ditawan dan ditaklukkan kepada Kristus. Allah tidak ingin menghilangkan pikiran kita. Dia ingin semua pikiran tertawan sampai takluk kepada Kristus. Jika kita yakin pada hikmat dan kemampuan diri kita, saat itulah Allah harus meremukkan kita. Kita harus benar-benar dihancurkan. Tetapi kita tidak boleh menyalahpahami peremukkan ini, karena peremukkan ini tidak menghancurkan organ maupun fungsi organnya. Peremukan hanya menghancurkan hayatnya, pusatnya. Allah tetap akan memakai organnya. Organ dan hayat itu jelas-jelas berbeda. Allah tidak ingin pikiran kita menjadi hayat kita; Dia tidak ingin pikiran mengendalikan kita. Dia ingin pikiran kita menjadi pelayan-Nya. Jiwa yang bertindak sebagai hayat seseorang harus diremukkan. Tetapi jiwa yang bertindak sebagai hamba roh sangat diperlukan.
Roma 8:2 mengatakan bahwa Allah telah membebaskan kita dalam Kristus Yesus. Bagaimana Allah membebaskan kita? Kita harus berjalan menurut Roh. Jika kita berjalan menurut Roh, hukum Roh akan beroperasi di dalam kita. Jika kita tidak berjalan menurut Roh tetapi menurut daging, hukum dosa dan hukum maut akan termanifestasi di dalam kita. Roma 8 memberi tahu kita bahwa mereka yang berjalan menurut Roh menang atas hukum dosa dan hukum maut. Siapakah yang berjalan menurut Roh? Mereka yang menaruh pikiran mereka di atas roh (ay. 6). Pikiran yang diletakkan di atas roh berjalan menurut Roh, dan mereka yang berjalan menurut Roh memiliki hukum Roh hayat di dalam mereka, dan mereka menang atas hukum dosa dan hukum maut. Apakah artinya meletakkan pikiran di atas roh? Meletakan pikiran di atas roh adalah meletakkan pikiran atas perkara-perkara Roh. Jika seorang menghabiskan waktunya hanya memikirkan perkara-perkara liar dan aneh, dia pasti manusia daging. Jika pikirannya diletakkan pada hal-hal yang aneh, dia juga manusia daging. Tetapi jika seorang dipimpin oleh Tuhan sampai pada titik dia bisa memikirkan perkara mengenai Roh, dia menjadi manusia rohani dan mengerti hal-hal rohani. Beberapa pikiran manusia terus-menerus diduduki urusan-urusan; mustahil bagi mereka untuk hidup menurut hukum Roh. Demikian juga, mustahil meminta mereka yang hidup menurut daging untuk hidup menurut Roh. Kita harus ingat bahwa pikiran kita tidak bisa menjadi pusat diri kita. Pikiran harus menjadi pelayan, dan harus dengan hati-hati mendengarkan suara sang Tuan. Jika kita tidak berlatih untuk mendengarkan Roh itu, kita akan mengikuti keinginan kita sendiri, memikirkan banyak perkara yang berbeda, dan jatuh ke dalam urusan-urusan yang padanya pikiran kita telah diatur. Jika manusia lahiriah kita diremukkan, diri kita tidak lagi menjadi pusat, dan pikiran kita tidak lagi menjadi fokusnya. Kita tidak lagi bertindak menurut pikiran kita sebaliknya kita belajar mendengarkan suara Allah. Kita menantikan Allah seperti seorang pelayan. Ketika terangnya menerangi kita dan roh kita memahami terang ini, pikiran kita segera tahu maknanya.
Berbeda dengan apa yang seharusnya dipikirkan, seorang minister firman tidak bisa hanya menghafalkan berita. Jika demikian, kekristenan akan menjadi agama berdasarkan daging, tidak akan berdasakan wahyu di dalam roh. Kita mengenal Allah di dalam roh kita, dan kita mempelajarinya, mengartikannya, dan menyadari hal-hal ini di dalam roh kita melalui pikiran kita. Itulah sebabnya, kita tidak bisa membiarkan pikiran kita mengembara. Ketika pikiran kita mengembara, kita tidak bisa mempertahankan terang. Jika pikiran kita tidak cukup tinggi, kita tidak bisa menangkap terang. Pemahaman yang berbeda menghasilkan perbedaan persepsi terang. Beberapa orang mungkin melihat makna pembenaran di depan Tuhan; ini kebenaran yang umum dan mendasar. Mereka tidak melihat perkara pembenaran, tetapi ketika mereka berdiri berbicara mengenai pembenaran ada kekurangan yang sangat besar di dalam mereka. Dasar ministri firman adalah terang Allah dalam roh manusia. Namun, interpretasi terang ini bermacam-macam menurut kondisi pikiran setiap orang. Terang yang ditangkap pikiran yang tinggi berbeda dari terang yang ditangkap pikiran yang rendah. Apa yang dijamah seseorang dipengaruhi seberapa banyak pikirannya bisa meraih sesuatu. Semakin kaya pikirannya, semakin menyeluruh pemahamannya mengenai pembenaran. Ketika firman Allah dilepaskan melalui dirinya, pengutaraannya semakin kaya dan tinggi. Jika pikiran manusia selalu rendah, dia mungkin melihat perkara pembenaran, tetapi dia memahaminya menurut pemikirannya yang rendah dan berbicara menurut perkataannya yang rendah. Firman Allah sama dalam hal ini. Tetapi di antara mereka yang pikirannya rendah, firman-Nya menjadi tak terhitung. Ada faktor manusia dalam ministri, dan faktor pertama manusia adalah pikiran. Jika pikiran kita tidak dikendalikan dengan ketat dan tidak tinggi, kita akan kehilangan firman Allah. Salah satu masalah dengan ministri firman adalah bahaya menambahkan perkataan yang tidak tepat ke dalam firman Allah dan menggabungkan pemikiran yang tidak tepat dengan terang Allah. Ketika hal ini terjadi, firman menjadi tidak efektif ketika dilepaskan dan ada banyak kerugian.
Saudara, apakah kita melihat hal ini? Tanggung jawab kita demikian besar. Jika pikiran kita ditanggulangi, firman Allah akan dilayani dengan tepat oleh pikiran kita, dan penambahan unsur manusia kita akan menjadi kemuliaan firman Allah. Kita bisa melihat hal ini dalam Paulus, Petrus, dan Yohanes. Paulus mempunyai karakteristik dan personalitinya sendiri. Dia memiliki bagian yang berbeda. Ketika terang Allah turun atas dia dan firman dilepaskan melalui dirinya, Allah dan diri Paulus sendiri bisa ditemui dalam firman. Ini sangat berharga. Firman Allah bisa disempurnakan melalui Petrus. Firman Allah tidak dirugikan. Hari ini para minister firman Allah harus sama seperti minister firman yang pertama. Allah masih perlu minister firman. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah berapa banyak terang Allah dirugikan ketika melewati roh dan pikiran kita. Seberapa banyak hal itu disempurnakan? Semoga Tuhan merahmati kita. Jika pikiran kita tidak ditanggulangi dan tidak mampu membaca dan mengartikan terang Allah, maka terang itu akan dilepaskan dengan lemah. Firman lemah karena pikiran kita lemah; ministri lemah karena pikiran kita lemah. Kita adalah saluran firman Allah. Sebagai saluran, kita mengendalikan firman seperti pipa air yang mengendalikan aliran air. Pipanya bisa berlubang, atau bisa tercemar. Kelihatannya, kita bisa menyingkapkan terang Alah kepada saudara dan saudari dengan cara yang kuat, atau kita bisa menjelaskannya secara tercemar dan lemah. Tanggung jawab kita begitu besar. Mereka yang hanya memperhatikan doktrin berada dalam jejak yang berbeda. Mereka yang berada dalam jejak ini harus ditanggulangi. Jika mereka tidak ditanggulangi, mereka tidak akan berguna.
Kita harus menekankan perkara salib dan peremukkan manusia lahiriah. Tanpa peremukkan, tidak ada ministri. Ini bukan suatu pilihan; melainkan syarat mendasar. Jika kita menjadi minister firman Allah, menyuplaikan orang lain dengan Kristus dan firman Allah, manusia lahiriah kita harus diremukkan. Inilah alasannya mengapa kita harus terus-menerus berbalik kepada poin diri kita. Kita tidak bisa menghindari hal ini. Jika manusia kita berguna, kita akan menjadi berguna. Jika manusia kita tidak berguna, kita akan menjadi tidak berguna. Kondisi manusia kita merupakan hal yang sangat penting.
MELATIH PIKIRAN KITA
Kita jangan menghabiskan pikiran kita. Kita harus memustikakan dan melindungi setiap bagian dan setiap tetes energi mental kita. Semakin pikiran kita bertenaga dan diperkaya, semakin tinggi kita akan mendaki. Kita jangan pernah menghabiskan pikiran kita pada perkara sia-sia. Kita bisa memberi tahu seseorang betapa bergunanya dia dalam ministri firman Allah ketika dia memakai pikirannya. Jika dia menghabiskan diri dan berputar-putar pada hal yang sia-sia, bagaimana dia bisa memiliki kapasitas berkaitan dengan Allah? Seorang yang subjektif tidak berguna karena dia hanya memikirkan urusan dirinya sendiri, melihat lingkungannya, dan terikat oleh pikirannya. Semakin banyak pikirannya terlibat dalam dirinya, semakin sedikit dia bisa menaruh pikirannya untuk maksud baik. Kita tidak bisa membiarkan pikiran kita terus-menerus liar, bimbang, tidak dikoreksi, dan tidak dijinakkan di hadapan Allah. Kita jangan membiarkan pikiran kita tetap rendah dengan cara terus berjalan menurut daging, menaruh pikiran atas daging, dan tinggal dalam urusan daging. Jika demikian, kita hanya akan memiliki tempat yang sempit dalam pikiran kita untuk Allah. Ministri firman perlu pikiran. Jika pikiran kita telah ditanggulangi, kita akan menangkap dan mempertahankan terang ketika terang itu muncul dalam roh kita. Terang sepertinya akan pergi. Kita sering kali meratap betapa tidak bergunanya pikiran kita untuk menangkap terang Allah. Selama pikiran kita diduduki dengan perkara yang lain, terang Allah akan pergi. Pikiran kita harus seperti seorang pelayan yang menunggu diambang pintu sang majikan. Inilah jejak ministri firman. Kita harus mengetahui jejak ini. Tetap berpikir bahwa terang datang dengan cepat. Banyak hal terdapat dalam kilatannya yang cepat. Hanya orang-orang yang pikirannya sempurna, tinggi, kaya, dan jelas yang memiliki kemampuan mempertahankan isi kilat ini. Maka kita harus menyadari bahwa masih banyak hal yang diinginkan Allah untuk kita lihat yang masih belum bisa kita pertahankan. Hal yang membingungkan adalah ketika kita tahu bahwa ada perkataan dalam roh kita dan perkataan ini memiliki arti khusus. Tetapi kita tidak tahu artinya. Kita tahu kita telah kehilangan sesuatu, tetapi kita tidak tahu apa yang telah hilang. Pikiran kita terlalu dangkal dalam kapasitas kegunaannya.
Kita harus menyadari bahwa meskipun pikiran yang paling tajam sekalipun tetap saja kekurangn kapasitas untuk terang Allah. Jika kita menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak berguna, maka akan semakin tidak menghasilkan. Kita jangan pernah membiarkan pikiran kita bebas mengembara; ini tidak bijak. Terang hanya bisa dipertahankan oleh pikiran, dan hanya digunakan menurut daya ingat dalam pikiran kita. Terang sangat rohani dan mudah hilang. Jika kita mau mempertahankan terang, pikiran kita harus kuat dan kaya. Allah begitu luar biasa, dan kemampuan kita menemukan tingkatan terang dan perkataannya sangat terbatas. Itulah sebabnya, ketika Dia menerangi, pikiran kita harus kaya. Bahkan ketika kita datang kepada Tuhan, kita selalu merasa kekurangan dan pikiran kita tidak dapat memenuhi keperluan itu. Seringkali kita bimbang dalam kemiskinan pikiran kita. Kita kehilangan banyak hal dan kehilangan banyak tenaga. Betapa buruknya situasi kita jika kita menghabiskan pikiran kita pada perkara-perkara yang menyimpang.
Kita harus mendisiplinkan pikiran kita di depan Tuhan setiap hari. Cara kita menggunakan pikiran kita sangat berkaitan dengan cara kita berfungsi sebagai minister firman. Ministri firman atas beberapa orang telah kering karena mereka menghabiskan pikiran mereka. Ini seperti seorang yang menghabiskan energinya karena salah belok; dia tidak memiliki energi lagi untuk mengambil jalan kecil yang tepat. Banyak orang menghabiskan pikiran mereka; mereka tidak memiliki energi lagi untuk menerima terang Roh itu. Saudara, jangan beranggapan pikiran kita tidak ada hubungannya dengan terang Roh itu. Kita harus menyadari bahwa pikiran kita sangat berkaitan dengan terang Roh itu. Adalah benar jika mengatakan pikiran tidak bisa menggatikan terang Roh itu, pikiran perlu untuk memahami terang Roh itu. Maka, kita jangan menghabiskan pikiran kita pada hal-hal yang biasa. Banyak orang memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Hasilnya, mereka tidak bisa menangkap terang. Seorang sangat miskin dalam pikiran mereka karena mereka terlalu banyak keinginan. Kita harus belajar menghemat tenaga pikiran kita; kita jangan menghabiskan tenaga kita. Saya tidak mengatakan bahwa kita jangan menggunakan pikiran kita. Maksud saya adalah kita jangan menghabiskannya untuk hal-hal yang merusak. Tenaga bisa banyak hilang karenanya. Jika kita menghabiskan kemampuan pikiran kita pada hal-hal yang tidak perlu, kita akan menemukan kita tidak lagi memiliki kapasitas untuk memahami firman Allah. Ada banyak hal-hal minor dalam Alkitab, perlu pembedaan atas mana yang penting atau tidak. Kita jangan menghabiskan pikiran kita pada hal-hal ini. Sebaliknya, kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa memecahkan setiap masalah rohani di dalam pikiran kita. Kita mungkin bisa memikirkan pemecahannya, tetapi kita tidak bisa menyelesaikannya. Masalah rohani hanya bisa diselesaikan oleh terang Allah. Banyak orang menghabiskan tenaga mereka mencoba menyelesaikan teka-teki Alkitab dan masalah rohani. Mereka menghabiskan pikiran mereka pada doktrin dan alasan. Meskipun mereka berpikir telah menyelesaikan doktrin dan alasan-alasan tersebut, tetapi saat orang lain akan datang kepada mereka, mereka hanya dapat menjamah pikirannya. Kebocoran terbesar terjadi karena pikirannya tidak mampu mempertahankan terang Allah. Kegunaan pikiran berkaitan dengan kemampuannya menangkap penyinaran terang Allah yang meremukkan. Seorang minister firman harus belajar pelajaran yang paling penting ini agar pikirannya menjadi berguna. Dia harus meletakan pikirannya pada tempat yang tepat dimana terang Allah bisa bersinar. Dia tidak seharusnya meletakkan pikirannya pada tempat dimana terang Allah tidak bisa bersinar. Kita tidak bisa melihat apa pun dengan hanya menggunakan pikiran kita saja. Allah terlebih dahulu harus menerangi kita sebelum kita bisa melatih pikiran kita. Apakah kita melihat hal ini? Kita jangan datang pada Alkitab dengan pikiran kita sendiri. Sebelum kita bisa melatih pikiran kita mengartikan terang dan sebelum kita melihat apa pun, Allah harus terlebih dahulu menerangi kita. Tetapi jika pikiran kita terbuka kepada-Nya, kita akan melihat terang Allah, dan kita akan mengambil langkah pertama menerima firman Allah.
Semoga Tuhan menghasilkan para minister firman di antara kita. Tanpa minister firman, gereja akan selalu miskin. Seorang harus menerima suplai firman Allah sebelum dia bisa melayani gereja. Masalahnya hari ini ada pada manusia yang adalah salurannya. Ketika terang Allah datang pada kita, pertama-tama terang itu harus melalui pikiran kita. Terang ada dalam roh kita, tetapi harus terlebih dahulu melalui pikiran. Ketika terang ini ada dalam roh kita, bagaimana kita berharap untuk memiliki ministri yang kuat jika terang itu tidak bisa diperhitungkan ketika terang itu mencapai pikiran kita? Ini kesimpulan yang mendasar. Semoga Tuhan merahmati kita untuk mengetahui cara ministri firman dilaksanakan.