BEBAN DAN FIRMAN
Seorang minister firman Allah tidak hanya perlu terang wahyu Allah dan kekuatan mempertahankan terang ini, tetapi juga perlu beban. Beban dalam bahasa Ibrani berarti massa, beban, yang digunakan dalam dua cara. Cara yang pertama ada dalam Pentateukh, yang artinya “beban yang bisa diangkat” (cf. Kel. 23:5; Bil. 4:15, 19 24, 27, 31-32, 49; 11:11, 17; Ul. 1:12). Yang kedua ada dalam kitab nabi-nabi (cf. Yes. 13:1; 14:28; 17:1; 19:1; 21:1, 11, 13; 22:1; 23:1; 30:6; Yer. 23:33-34, 36, 38; Nah. 1:1; Hab. 1:1; Zak.9:1; 12:1; Mal. 1:1). Wahyu yang diterima pada nabi merupakan beban yang mereka terima. Ada sesuatu yang disebut “beban”, yang berkaitan erat dengan ministri firman. Ketika para nabi melayani sebagai minister firman, pelayanan mereka dihasilkan dari massa, berat, yang merupakan beban mereka. Tanpa beban, tidak ada ministri firman. Maka, seorang minister firman harus memiliki beban.
BENTUK BEBAN
Kita telah melihat sebelumnya bahwa permulaan ministri firman adalah terang. Ketika terang menyinari kita, terang datang seperti kilat wahyu yang tiba-tiba yang mudah sekali hilang. Jika pikiran kita telah diremukkan oleh Tuhan, terang dari Allah ini akan bertahan dalam pikiran kita. Pikiran kita kemudian bisa mengartikan terang ini ke dalam roh kita sehingga menjadi pikiran yang bisa dipahami. Penyorotan dan penetapan menjadi beban kita. Seorang minister firman perlu memiliki beban. Tetapi tanpa terang, dia tidak bisa memiliki beban. Dia pun tidak akan bisa memiliki beban jika terang itu tidak diartikan ke dalam terang. Selanjutnya, jika terang pergi dan hanya ada pikiran maka tidak ada lagi beban. Beban hanya datang ketika terang ada ditambah pikiran. Kita harus melihat di depan Tuhan bahwa tanpa terang tidak ada beban. Hanya terang, tidak akan menghasilkan beban. Bahkan setelah terang diartikan ke dalam pikiran, tetap saja tidak ada beban jika terang telah pergi dan hanya ada pikiran saja. Seorang minister bisa memiliki beban di hadapan Tuhan hanya jika terangnya lengkap dan bertahan karena pikiran yang telah mengartikannya.
Mengapa kita menyebut ini sebagai beban? Ketika terang telah diartikan ke dalam pikiran, tetapi terang langsung hilang, hanya meninggalkan pikiran, bukan perasaan yang berat. Kita merasa berat hanya ketika kita menjamah pikiran dan pada waktu bersamaan datang pada terang. Pada waktu itu kita merasa tertekan, tidak nyaman, bahkan sakit di dalam, inilah yang kita sebut beban firman Allah. Beban yang diterima nab-nabi hanya bisa dilepaskan melalui firman. Jika kita tidak memiliki firman, beban kita tidak akan lepas.
Untuk belajar menjadi seorang minister firman, kita harus mencari dari Allah apa hubungan antara firman, pikiran, dan terang-Nya. Pertama kita menerima terang, kemudian kita menerima pikiran, dan terakhir kita menerima firman. Fungsi firman adalah melepaskan terang Allah. Dari sudut pandang Allah, terang menjadi pikiran, kemudian menjadi firman. Hari ini saya mengalihkan terang saya kepada orang lain ketika saya menyalurkan terang Allah kepada mereka. Ketika saya memiliki terang dan pikiran, saya mempunyai beban di atas diri saya. Di bawah beban ini saya tidak bebas, saya merasa tertekan, berat, dikalahkan, bahkan merasa sakit. Tetapi ketika saya mengalihkan beban ini kepada orang lain dan berkomunikasi dengan anak-anak Allah lainnya, roh saya merasa ringan dan pikiran saya sekali lagi dibebaskan, seperti beban yang terlepas dari bahu saya.
MENANGGALKAN BEBAN
BERGANTUNG PADA HADIRAT FIRMAN
Bagaiman kita bisa menyembuhkan diri kita dari beban kita? Untuk melepaskan beban kita, kita harus memiliki firman. Beban fisik bisa dilepaskan dengan tangan kita. Beban rohani bisa dilepaskan dengan firman. Jika kita tidak bisa menemukan firman yang tepat untuk melepaskan beban, sisanya yang berat akan tetap ada pada kita. Beban kita dilepaskan dan kita merasa ringan ketika kita sampai pada firman yang tepat. Semua minister firman memiliki kesamaan pengalaman bahwa pikiran saja tidak cukup menyusun suatu khotbah di dalam mereka; mereka harus memiliki firman sebelum mereka bisa melepaskan suatu khotbah. Pikiran saja tidak bisa memimpin manusia kepada Allah. Jika seorang hanya memiliki pikiran dan tidak punya yang lain, perkataannya akan membingungkan, berputar-putar, dan tidak sampai pada tujuan, dia akan seperti orang bingung. Tetapi jika dia memiliki perkataan, semakin dia berbicara, dia akan merasa semakin dilepaskan. Seringkali seorang minister firman Allah mempunyai beban berat di dalamnya. Ketika dia datang pada suatu pertemuan, Allah menerangi dia dan membebani dia untuk berbicara. Tetapi setelah sejam berbicara, dia pulang ke rumah dengan perasaan beban yang berat tetap ada di bahunya. Dia datang dengan beban dan dia pergi dengan beban. Alasannya adalah karena kekurangan firman. Ketika terjadi kekurangan firman, semakin seorang bicara, semakin dia merasa tidak mudah, dan semakin sedikit dia merasa dibebaskan. Dia tidak diam. Faktanya, dia bisa berkata-kata, tetapi perkataan yang ada di dalam dirinya tidak bisa dilepaskan. Ini artinya kekurangan firman. Jadi bukan perkara kekurangan pikiran tetapi perkara kekurangan firman. Jika dia memiliki firman yang tepat, hasilnya akan berbeda. Meskipun dia datang dengan beban yang berat, dia akan merasa lega saat dia berbicara. Ketika firman dilepaskan kalimat per kalimat, bebannya akan dilepaskan sedikit demi sedikit. Semakin dia berbicara, dia akan semakin dilepaskan. Dia akan datang pada suatu pertemuan dengan penuh beban, setelah dia bicara, dia akan merasa bebannya telah dibebaskan. Ini sama seperti nabi-nabi yang melepaskan beban mereka. Nubuat para nabi merupakan beban mereka. Pekerjaan mereka adalah melepaskan beban, yaitu dengan cara melepaskan firman. Seorang pekerja merasa lega dengan cara melepaskan firman. Tanpa firman, dia tidak bisa melepaskan bebannya. Beban akan tetap ada di atas dirinya. Orang lain mungkin memuji dia karena kata-katanya yang bagus; mereka mungkin memberi tahu dia bahwa mereka mendapatkan banyak bantuan. Tetapi dia akan menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Orang lain mungkin hanya mendengarkan perkataannya; mereka tidak mendengar firman Allah.
Ketika menghubungkan ministrinya dengan orang-orang Korintus, Paulus berkata, “Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh” (1 Kor. 2:13). Jika kita belum menerima firman dari Tuhan, kita tidak bisa menjadi seorang minister firman. Kita harus memiliki firman yang Tuhan amanatkan kepada kita dan menaruhnya dalam mulut kita. Ketika firman ini dilepaskan, bebannya pun dilepaskan. Setiap pekerja Tuhan harus belajar melepaskan beban ini. Mereka yang bekerja menurut mentalitas mereka maupun pengetahuan mereka tidak mengerti fakta ini. Seseorang bisa melepaskan bebannya tidak bergantung pada pengutaraannya dan pikirannya, dan tidak peduli dia punya firman Allah atau tidak. Ketika dia memiliki firman Allah dan melepaskan firman ini, pelepasan firman ini sama seperti melepaskan bebannya. Maka, kita harus belajar menerima firman Allah secara langsung. Ketika terang Allah menerangi manusia lahiriah kita melalui pikiran, maka pikiran ini bisa diartikan menjadi kata-kata. Ketika kata-kata ini dilepaskan, maka kata-kata ini akan menjadi firman Allah. Inilah ministri firman. Kita harus jelas di depan Tuhan bagaimana pikiran kita bisa menjadi firman dan bagaimana firman yang di dalam batin bisa berubah menjadi perkataan di luar. Kita perlu memiliki firman, baik yang di dalam maupun yang di luar. Firman yang di dalam merupakan firman yang kita terima di dalam kita, sedangkan firman yang dinyatakan keluar merupakan penyataan dari dalam.
HUBUNGAN ANTARA
BEBAN DAN FIRMAN DI BATIN
Pertama-tama mari kita pertimbangkan firman di batin. Setelah kita menerima terang dari Allah dan setelah kita mempunyai pikiran, kita memiliki bahan yang cukup untuk memiliki beban, tetapi ini tidak cukup untuk melepaskannya. Terang dan pikiran hanya bisa menjadi beban kita; hal itu tidak melepaskan beban kita. Terang dan pikiran pertama-tama harus menjadi firman bagi kita; pikiran harus menjadi firman sebelum kita bisa melepaskan firman ini melalui suara kita kepada dunia luar. Kita tidak bisa mengutarakan pikiran kita; kita hanya bisa mengutarakan kata-kata yang kita miliki. Kita tidak bisa mengubah pikiran kita menjadi kata-kata spontan. Kita pertama-tama harus mengartikan pikiran ini menjadi kata-kata sebelum kita bisa mengumumkannya kepada dunia luar. Ministri firman berbeda dari perkataan biasa. Dengan perkataan yang biasa, seorang bisa berbicara asalkan dia memiliki pikiran; perkataannya berdasarkan pikirannya. Sama halnya, tidak benar dengan minister firman. Pikiran mereka pertama-tama harus dialihkan menjadi kata-kata. Diri mereka harus terlebih dahulu diisi tidak hanya dengan pikiran tetapi dengan firman. Mereka akan mampu melepaskan firman yang ada di batin mereka kepada dunia luar setelah mereka memiliki keduanya.
Tuhan Yesus adalah contoh seorang yang melayani sebagai seorang minister firman ketika Dia hidup di bumi. Dia bukan pikiran Allah yang menjadi daging; dia adalah firman Allah yang menjadi daging. Seorang minister firman harus disuplai dengan firman sebelum dia bisa melayani sebagai seorang minister firman. Seorang tidak hanya menjadi minister firman hanya karena dia mempunyai pikiran. Pikiran harus dialihkan menjadi firman sebelum dia bisa memiliki ministri di depan Allah. Jika kita hanya memiliki pikiran dan tidak ada perkataan kecuali hanya perkataan kita sendiri, kita tetap kekurangan satu hal, dan kita tidak bisa menjadi seorang minister firman. Ini prinsip yang mendasar. Kita perlu terang, kita perlu pikiran, dan kita perlu firman yang batini. Setelah kita menerima terang dari Allah dan setelah terang ini bertahan dalam pikiran kita, kita harus belajar berdoa untuk firman ini di depan Tuhan. Kita harus berhati-hati. Kita harus berdoa dan mencari Dia sebelum kita memiliki perkataan.
Ketika terang Allah menerangi roh kita, hal itu adalah wahyu; kita harus mengartikan wahyu ini menjadi pikiran kita. Tanpa wahyu, tidak ada penyinaran. Penyinaran adalah pekerjaan Allah. Tetapi mempertahankan terang dengan pikiran manusia merupakan pikiran manusia, pekerjaan yang harus dipelajari dari Allah. Setelah terang diartikan ke dalam pikiran, maka pikiran ini perlu diartikan menjadi kata-kata. Kita mengartikan terang ke dalam pikiran kita untuk diri sendiri, dan kita mengartikan pikiran ini menjadi kata-kata untuk orang lain. Jika kita hanya ingin menyimpan terang untuk diri sendiri, pikiran saja sudah cukup. Tetapi supaya terang bisa didispensikan kepada orang lain, pikiran ini harus diartikan menjadi kata-kata. Tanpa pikiran, terang menjadi terlalu abstrak. Tanpa terang, pikiran tidak berguna. Tetapi terang harus diartikan menjadi pikiran sebelum bisa dirasakan oleh kita. Kita perlu pikiran mengartikan terang, dan kita perlu firman diartikan ke dalam pikiran. Hanya dengan cara itu kita memiliki ministri firman. Terang saja tidak bisa membuat seorang bersyarat menjadi seorang minister firman, dan pikiran saja tidak cukup membuat seorang bersyarat menjadi seorang minister firman. Bahkan gabungan terang dan pikiran tidak cukup membuat seorang menjadi seorang minister firman. Harus ada terang, pikiran, dan firman sebelum dia bisa melayani sebagai seorang minister firman. Kita perlu mengartikan kata-kata untuk mengartikan pikiran. Ini tidak mengacu pikiran yang umum tetapi pikiran yang mempertahankan wahyu. Pikiran kita adalah terang yang kita lihat. Tetapi kita tidak bisa membagikan pikiran ini kepada orang lain; pikiran ini harus diartikan menjadi kata-kata. Maka, langkah terbesar dalam ministri firman adalah menerima firman dari Allah untuk berlabuh dan mengartikan pikiran kita. Kita perlu firman. Terang dari Allah hanya bisa dipertahankan dengan pikiran yang disiplin. Selanjutnya, kita harus melabuhkan pikiran dengan kata-kata yang berasal dari Allah. Firman yang mengaitkan pikiran ini dengan kata-kata yang juga berasal dari Allah. Kata-kata yang mengaitkan pikiran harus berasal dari Allah. Terkadang wahyu ada di dalam roh, dan terkadang ada di dalam firman. Mari kita pertimbangkan kedua hal ini.
Wahyu di dalam Roh dan
Wahyu di dalam Firman
Ketika Allah memberikan kita wahyu di dalam roh kita, kita mempunyai penyinaran. Akan tetapi, penyinaran tidak berhenti dengan wahyu Allah di dalam roh kita. Kita harus mempertahankan terang dengan pikiran kita. Namun pikiran alamiah kita tidak cocok untuk pekerjaan ini. Kita tidak bisa membelokkan pikiran kita langsung menjadi kata-kata. Apakah yang harus kita lakukan? Kita harus meminta Tuhan penerangan lebih lanjut, bukan untuk menerangi roh kita yang bisa menghubungkan artinya untuk kita, tetapi untuk penerangan yang menyingkapkan firman yang mengartikan makna terang menjadi kata-kata. Di sini kita melihat dua wahyu, satu di dalam roh dan satu di dalam firman. Wahyu di dalam firman merupakan satu atau dua kalimat yang diberikan Allah kepada kita. Ketika kita berdoa kepada Allah, kita menerima terang yang jelas, dan kita bisa mempertahankan dan memegang terang ini; terang diartikan ke dalam pikiran di dalam kita. Tetapi ketika kita mencoba berbicara kepada orang lain mengenai wahyu ini, kita tidak bisa melakukannya. Kita memahami wahyu ini, tetapi kita tidak bisa membicarakannya kepada orang lain. Kita bisa mengerti sedikit, tetapi kita tidak memiliki perkataan supaya orang lain juga bisa memahaminya. Karena itu kita harus berdoa kepada Allah meminta perkataan. Kita harus berdoa berjaga-jaga dan penuh pengertian, membuka hati kita kepada-Nya dan membuang semua prasangka. Roh kita harus terbuka kepada-Nya. Ketika kita melakukan hal ini, kita akan melihat sesuatu di depan Allah; Ia akan memberikan kepada kita satu atau dua kata yang bisa mengekspresikan perasaan yang di dalam. Beberapa kata ini menjadi wahyu. Firman dari wahyu ini memegang terang Allah di tempatnya.
Terang diartikan ke dalam pengetahuan dan pikiran, lalu pikiran diartikan menjadi kata-kata. Saya yakin ini benar dan saya percaya tidak ada pertanyaan mengenai hal ini. Terang menjadi pikiran, dan pikiran dilepaskan melalui kita sebagai kata-kata. Terang datang pada kita dan dipertahankan oleh pikiran. Hari ini pikiran ini diekspresikan melalui kita dengan kata-kata. Ini mutlak benar. Sangat tidak tepat mengatakan bahwa hubungan antara wahyu dan pikiran itu terbatas hanya pada hubungan antara wahyu di dalam firman dan pikiran. Kita menerima firman dari Allah dalam wahyu yang kedua, tetapi firman wahyu yang kita dari Allah kali kedua bertujuan menangkap terang yang kita lihat kali pertama. Kita bisa mengatakan bahwa ada dua penangkapan di dalam kita. Pertama, pikiran menangkap terang Allah, dan kedua, firman yang kita terima dari Allah juga menangkap terang-Nya. Ketika kita menangkap terang di dalam roh dengan pikiran kita, kita menangkap terang melalui firman yang diberikan Allah hari ini. Dengan cara ini, wahyu yang kita terima melalui firman menjadi satu dengan wahyu yang kita terima di dalam roh kita. Apa yang kita lihat dalam roh kita hilang dengan cepat; tetapi isi dari visi ini tidak bisa diukur dengan waktu. Tidak berarti jika terang bertahan selama beberapa detik sehingga perkataan pun akan bertahan selama beberapa detik. Apa yang kita lihat di dalam roh kita secara instan bisa melibatkan banyak hal. Inilah alasannya pikiran kita harus kuat dan kaya untuk menangkap terang. Semakin kita menggunakan pikiran kita, semakin banyak terang yang kita tangkap dari Allah. Firman yang kita terima dari Allah pun memakai prinsip ini. Berkebalikan dengan sejumlah pewahyuan kepada kita secara instan di dalam roh, firman Allah justu hanya satu atau dua kalimat. Ketika Allah memberikan kita satu atau dua kalimat untuk menangkap terang, kalimat ini berisi tidak hanya kata-kata tetapi seluruh wahyu yang ada di baliknya.
Dengan kalimat yang umum, seorang hanya perlu bicara delapan kata jika ada delapan kata yang perlu diucapkan, atau sepuluh kata jika ada sepuluh kata yang harus dikatakan. Jika suatu khotbah perlu sepuluh menit, maka bisa diselesaikan dalam waktu sepuluh menit. Perkataan dunia ini bisa dihitung dengan kata-kata, menit, dan detik. Tetapi ini bukan wahyu. Perkataan wahyu terdiri dari satu atau dua kalimat, tetapi bisa diisi dengan kekayaan wahyu Allah. Wahyu meliputi sejumlah besar kekayaan; penerangan yang instan berisi banyak kekayaan. Allah mungkin memberi kita satu kalimat saja, tetapi satu kalimat ini dibungkus dengan kekayaan perkataan Allah dan mengalirkan wahyu. Jika kita bisa menerima kekayaan yang besar dalam wahyu yang instan, kita juga bisa menerima kekayaan dalam satu kalimat saja. Jika Allah bisa membungkus kekayaan-Nya dalam wahyu, Ia juga bisa membungkus kekayaan-Nya dalam satu kalimat. Yang dilihat seseorang secara instan mungkin perlu penjelasan beberapa bulan. Demikian juga, yang diterima dalam satu kalimat pun perlu beberapa bulan untuk ditafsirkan. Kita perlu membedakan firman yang batiniah dengan firman yang di luar. Firman batiniah tidak panjang, namun mengandung banyak kekayaan. Kekayaan yang terkandung di dalamnya sama kayanya dengan kekayaan yang dilihat dalam pembagian detik. Kita tidak diberikan perkataan yang panjang untuk dibagikan kepada orang lain. Apa yang kita terima mungkin hanya satu atau dua kalimat. Tetapi kalimat ini berisi banyak perkara rohani. Ciri yang mencolok dari kalimat ini adalah kalimat ini berisi hayat.
Apakah perkatan yang melepaskan hayat itu? Ketika Allah memberikan kita wahyu, Dia memberikan kita hayat. Ia mendispensikan hayat kepada kita melalui wahyu-Nya. Wahyu ini menjadi beban bagi seorang pekerja atau seorang minister. Ketika beban ini dilepaskan, hayat pun dibebaskan. Jika beban ini tidak dilepaskan, hayat juga tidak dilepaskan. Semakin berat suatu beban, semakin besar kekuatan pelepasannya ketika dilepaskan. Jika bebannya tidak bisa dilepaskan, beban akan tetap ada di dalam kita, dan akan menjadi semakin berat dan berat seiring dengan waktu. Misalnya kita mempunyai satu tas berisi air sehingga tangan kita merasa berat. Jika kita melubangi tas itu, air akan keluar, dan tangan kita pun tidak merasa berat. Melepaskan firman pun sama seperti ini. Jika kita memiliki beban di dalam, kita juga harus mempunyai kata-kata yang tepat di dalam kita. Satu kalimat tidak akan cukup; beban kita akan dilepaskan seperti air yang keluar dari dalam tas. Tetapi jika kita tidak memiliki satu kata pun, kita akan seperti tas air yang terikat kencang. Lalu apakah perkataan wahyu itu? Perkataan wahyu adalah perkataan yang melepaskan hayat. Sebelumnya, hayat ini seperti terkunci, tetapi terlepas melalui beban kia. Hayat ini dialirkan kepada orang lain. Kita harus mempunyai kata-kata yang pas untuk melepaskan tekanan yang di dalam. Jika kita tidak mempunyai kata-kata tersebut, kita tidak bisa mengalirkan hayat.
Setiap kali kita mempunyai beban, tidak peduli beratnya seberapa, kita akan menerima firman yang berhubungan dengan hal itu, jika kita sabar menunggu di depan Allah. Terkadang kita mungkin berdoa selama berhari-hari sebelum kita mempunyai firman yang cocok dengan bebannya. Ketika menangkap terang, pikiran kita mungkin mengerti apa yang ada di dalamnya, tetapi kita mungkin tidak mempunyai kata-kata untuk mengekspresikan pengertian kita. Bisa juga terjadi, ketika kita menerima firman pada waktu bersamaan pikiran kita pun bisa menangkap terang. Ketika merasakan beban, perkataan pun langsung datang. Kita tidak bisa tahu kapan terang itu datang. Seringkali Allah memberi kita firman segera setelah kita melihat sesuatu. Tetapi kadang-kadang kita harus menunggu, dan firman datang setelah bebannya menjadi semakin berat. Tidak peduli kapan pun ketika firman datang, firman selalu sesuai untuk setiap kesempatan. Firman ini menjadi terang kita. Sepertinya semua wahyu bisa disimpulkan dalam satu kata. Satu atau dua patah firman yang kita terima sama kayanya seperti keseluruhan wahyu yang kita terima sebelumnya. Firman ini seperti tutup botol; begitu tutup botol dibuka, isinya langsung keluar menyembur. Allah harus memberikan kita satu atau dua kata. Kita menyebut firman ini firman yang batini. Firman ini berasal dari Allah, dan diberikan untuk menangkap wahyu dan mempertahankan wahyunya. Allah bermaksud agar wahyu yang kita terima dari Dia bisa menjadi atau atau dua kata ini. Ketika kita melepaskan firman ini, wahyu pun dilepaskan. Ketika kita mengutarakan firman dari Allah ini, maka terang-Nya pun dilepaskan.
Kita harus jelas mengenai hal ini di depan Tuhan: tanpa terang, tidak ada ministri firman. Tanpa pikiran yang mempertahankan terang dan mengubah terang menjadi pikiran, tidak akan ada ministri firman. Bahkan setelah terang dipertahankan dan diartikan menjadi pikiran, tetap perlu perkataan, perkataan wahyu. Perkataan inilah yang dimaksud Paulus sebagai “perkataan yang diajarkan oleh Roh itu” (1 Kor. 2:13). Roh itu telah memberikan kita perkataan. Dia tidak hanya memberikan wahyu, tetapi juga memberikan wahyu dalam firman. Firman wahyu ini mungkin bisa satu atau dua kalimat, tetapi dipadatkan dan ada poinnya. Setelah satu atau dua kalimat ini diutarakan, hayat pun dialirkan. Kita mungkin mengatakan banyak hal, tetapi jika kita tidak mengutarakan satu atau dua kalimat ini, hayat tidak akan mengalir. Setelah kalimat-kalimat diucapkan, hayat pun mengalir.
Hayat Allah dilepaskan melalui wahyu dan bukan oleh hal yang lain. Contohnya bisa kita lihat pada penyaliban Tuhan Yesus. Secara fakta, Tuhan telah mati untuk setiap orang di dunia ini. Tetapi apakah setiap orang sudah menerima hayat-Nya? Secara fakta, meskipun Tuhan telah mati untuk semua orang namun yang menerima hayat-Nya belum semua orang. Ini dikarenakan tidak semua orang menerima wahyu. Bahkan jika ada orang yang bisa menghafalkan kebenaran mengenai kematian Tuhan, dia tidak akan mendapatkan apa pun jika dia tidak menerima wahyu. Orang yang lain menerima wahyu, bisa mengucap syukur dan memuji dari lubuk hati mereka. Penglihatan membawakan hayat. Roh Kudus menghidupkan manusia melalui firman-Nya. Segera setelah kita melihat firman, kita dihidupkan.
Hari ini Allah menyuplai gereja melalui firman. Tujuan-Nya adalah mendispensikan Kristus dan hayat-Nya kepada gereja. Namun sepertinya hayat ini hanya bisa dilepaskan melalui beban yang kita pikul. Ketika beban ada pada kita, pasti juga ada perkataan yang berhubungan untuk melepaskan hayat dalam firman. Ada firman yang tidak melepaskan hayat bahkan ketika firman itu sudah dibicarakan selama dua jam. Firman yang lain langsung bisa mengalirkan hayat. Tetapi ada firman yang sudah diucapkan berulang namun tidak membawakan hayat. Sedangkan ada firman yang lain yang langsung mengalirkan hayat segera setelah firman itu diucapkan. Setiap kali seorang menerima wahyu, dia juga harus menerima satu dua patah. Ketika firman seperti ini dilepaskan, hayat mengalir. Firman yang tepat dan mengalirkan hayat demikian melepaskan hayat setelah dilepaskan. Sebelum firman ini diucapkan, tidak ada hayat yang mengalir. Tetapi begitu orang ini bicara firman ini, orang lain bisa menjamah hayat. Tanpa firman sedemikian, orang lain tidak akan menjamah hayat tidak peduli berapa keras dia mencoba.
Wahyu dan terang datang terlebih dahulu. Ini adalah titik awal. Kita harus menerima wahyu dan terang dari Allah. Namun wahyu dan terang saja tidak akan menyusun ministri firman. Seorang harus diperbarui dalam pikiran dan pengertiannya. Ketika Allah kembali menerangi, dia akan menjadi jelas mengenai isi suatu wahyu. Kita tidak menjelaskan wahyu yang berantakan dan berkabut. Sedikitnya wahyu harus jelas dalam pikiran kita sebelum kita bisa memberi tahu orang lain mengenai wahyu itu. Apabila diri kita sendiri tidak jelas, kita tidak bisa membicarakannya kepada orang lain. Jika wahyu yang kita terima tidak tidak bagi diri kita sendiri, kita tidak bisa melepaskannya. Bahkan meskipun kita sudah menerima wahyu, kita tidak bisa melepaskannya kecuali pikiran kita jelas mengenai hal itu. Apa yang kita katakan mungkin tidak salah, tetapi kita tidak akan memiliki ministri firman, dan Tuhan tidak akan dilepaskan melalui kita. Setelah kita menerima terang, pikiran kita terlebih dulu harus jelas. Jika pikiran kita tidak jelas, ibaratnya berlumpur, terang tidak akan menetap di sana. Akibatnya, kita perlu pikiran yang diperbarui. Pikiran manusia lama tidak bisa dipakai, melainkan harus dihancurkan. Jika pikiran kita tidak jelas, kita tidak bisa menjadi minister firman Allah. Meskipun pikiran kita jelas, kita tetap tidak bisa menjadi minister firman karena kita tidak memiliki firman yang tepat. Orang lain hanya bisa mendengarkan perkataan kita, mereka tidak bisa mendengar pikiran kita. Jika kita tidak memiliki perkataan yang tepat, kita mungkin bicara selama berjam-jam di atas mimbar tanpa bisa menyingkapkan apa yang kita ketahui.
Itulah sebabnya kita perlu mempunyai firman dari Allah. Firman bisa datang kepada beberapa orang setelah pikiran mereka menangkap terang. Mungkin bagi orang lain perlu waktu berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan. Entahkah firman itu datangnya cepat atau lambat, tetap harus ada firman yang jelas. Kita harus menerima firman yang jelas sebelum kita bisa bicara. Tanpa firman yang jelas kita tidak bisa bicara. Kita tidak perlu banyak perkataan, yang kita perlukan satu atau dua kalimat saja sudah cukup. Ketika kita menerima satu, dua, tiga, atau lima kalimat dari Tuhan, kita bisa melepaskan wahyu yang kita terima. Kecuali kita mempunyai jaminan yang pasti di dalam diri kita, kita tidak bisa berdiri bicara. Jika kita tidak menerima terang, ministri kita tidak akan bisa mengalir kelluar. Tanpa terang, tidak ada ministri firman. Tetapi setelah kita menerima terang dan memikirkannya, kita masih perlu firman yang melepaskan hayat. Kita tidak membahas mengenai perkataan yang bijak dan hebat tetapi perkataan yang melepaskan hayat. Setelah perkataan ini diberikan kepada orang lain, hayat mengalir deras. Setelah firman ini dilepaskan, hayat pun dilepaskan. Hayat harus dilepaskan. Kadang-kadang satu atau dua kalimat sudah cukup untuk melepaskan hayat. Kita harus memperhatikan di hadapan Tuhan mengenai firman ini. Kita menyebutnya firman wahyu. Tanpa firman wahyu, kita tidak bisa mengucapkan firman Allah.
Kita harus ingat bahwa ketika Allah memberikan beban kepada kita, Dia juga memberikan firman untuk mendukung beban itu. Firman dan beban berasal dari Allah. Ia memberikan terang di dalam, dan Ia juga memberikan pikiran di batin. Ketika terang dan pikiran diberikan, maka kita memiliki beban. Beban ini menyebabkan kita tidak tenang; kita merasa tertekan dan terdesak. Tetapi Allah yang memberikan beban kepada kita juga akan memberikan perkataan untuk mendukung beban ini. Allahlah yang memberikan beban, dan Allah juga yang membuat kita bisa mendukung beban itu. Ia akan memberikan kita firman yang akan mengalirkan hayat. Satu atau dua kalimat sudah cukup untuk melepaskan hayat ini. Kita jangan pergi dengan beban di atas bahu kita. Kita harus mencari cara untuk melepaskan hayat ini. Jika kita tidak bisa melakukannya kita tidak akan tahu bagaimana bekerja untuk Allah. Ketika kita mendatangi saudara dan saudari, kita jangan pergi dengan botol yang kosong di tangan kita; kita harus menyiapkan air untuk diberikan kepada mereka. Kita harus mencari cara bagaimana memberikan air sebelum kita membuka mulut kita. Saya sering menemukan seorang saudara yang bicara panjang lebar tanpa melepaskan apa yang ingin dia sampaikan. Dia mencoba sangat keras untuk melakukannya, tetapi dia tidak bisa melepaskan apa pun. Jika kita telah belajar di depan Tuhan, kita akan menyadari bahwa saudara ini sedang berputar-putar. Dia mungkin sampai pada satu titik di mana air itu sudah mengalir, tetapi dia masih berputar-putar sehingga airnya masih tertahan. Ketika dia mencapai titik tertentu, sebetulnya dia hanya perlu berbicara satu perkataan dan bebannya akan lepas. Tetapi dia kekurangan perkataan yang di batin. Dia tidak belajar menggunakan firman yang penting sebelum dia mulai meministrikan firman. Maka tidak heran, semakin dia bicara semakin dia kehilangan poinnya.
Kita harus menunggu di depan Allah untuk meminta perkataan yang tepat. Sangat baik jika kita memiliki perkataan yang tepat setelah pikiran kita menangkap terang. Jika kita tidak menerima firman ketika kita menangkap terang, kita harus berdoa memintanya. Suatu hari kita akan menemukan kemampuan kita ternyata tidak berguna. Yang mengherankan adalah sebelum seorang belajar menjadi minister firman Allah, dia mungkin berpikir dia mempunyai bakat. Bakat alamiah manusia bisa mengatakan banyak perkara manusia kecuali perkara Allah. Bakat manusia tidak berguna jika berkaitan dengan perkara Allah. Hayat tidak akan pernah dilepaskan melalui bakat manusia. Firman hayat hanya bisa ditemukan melalui wahyu. Tidak peduli bakat kita seberapa, kita tidak akan pernah berhasil dalam melepaskan hayat.
Kita harus mengakui bahwa Paulus adalah seorang pembicara yang baik. Tetapi dalam Efesus 6:19 dia mengatakan, “Juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil.” Dalam bahasa aslinya perkataan adalah “firman.” Paulus meminta orang-orang Efesus berdoa untuk dirinya sehingga dia bisa menerima firman yang bisa menyatakan misteri injil. Bakat alamiah tidak berguna dalam hal-hal rohani. Harus firman yang diberikan Allah. Ministri firman adalah sesuatu yang batini, bukan luaran. Jika kita tidak memiliki firman yang batini, kita tidak mempunyai sesuatu yang berharga untuk dikatakan. Masalah dengan banyak orang adalah mereka terus berbicara, meskipun mereka tidak bisa melepaskan apa yang ada di batin mereka. Kita jangan mencari firman seperti ini ketika kita berdiri di atas mimbar; kita harus mempunyai firman di dalam kita sejangka waktu. Kita pertama-tama harus mencari firman ini di depan Allah sebelum kita menyampaikannya kepada orang lain. Seorang minister firman Allah harus belajar mengetahui firman yang di batin. Dia harus belajar menjamah wahyu kemudian melepaskan firman. Semoga Tuhan menjadikan kita seorang yang kaya dalam firman. Kita jangan hanya memiliki beban; beban harus didukung dengan firman sehingga bisa mengalir. Satu-satunya yang bisa melepaskan beban kita adalah kalimat yang kita miliki di batin kita. Kalimat ini sesungguhnya adalah bagian dari beban.
Lalu apakah beban itu? Pertama, beban adalah terang yang kita terima di dalam roh, pikiran yang menangkap terang, dan akhirnya perkataan yang batini mendukung terang dan pikiran. Langkah akhir beban adalah pelepasan perkataan yang batini. Gabungan dari ketiga hal tersebut menjadi beban para rasul. Beban adalah terang ditambah pikiran plus perkataan yang batini. Beban kita adalah melepaskan wahyu Allah kepada manusia, dan wahyu Allah dilepaskan melalui perkataan wahyu yang kita terima. Semoga Tuhan menunjukkan kepada kita hubungan antara beban dan perkataan yang batini.
CARA MENERIMA PERKATAAN YANG BATINI
Karena pelepasan beban berkaitan dengan perkataan yang batini, bagaimana caranya kita bisa menerima perkataan itu? Seringkali, kita menerimanya melalui membaca Alkitab dan di kala kita menantikan Allah. Mungkin kita menerima terang yang kuat, dan Tuhan membelas kasihani kita dengan memberikan pikiran yang aktif, kreatif, dan enerjik untuk menangkap terang. Terang Allah kemudian menjadi pikiran kita. Ini cukup untuk diri kita sendiri. Terang wahyu dan pikiran yang diterjemahkan cukup untuk kita gunakan sendiri. Wahyu Allah telah memberikan keuntungan di dalam kita; wahyu ini juga telah permanen, spesifik, dan jelas di dalam kita. Tetapi kita telah menjelaskan sebelumnya bahwa hal ini tidak cukup untuk menyuplai orang lain. Kita tidak bisa menyuplai orang lain dengan pikiran kita. Kita adalah minister firman Allah. Kita tidak bisa mendispensikan pikiran kita kepada orang lain; kita hanya bisa mendispensikan perkataan. Namun perkataan ini bukan hasil dari pikiran. Suatu perkataan yang batini perlu wahyu yang segar dari Allah. Kita perlu memiliki perkataan yang langsung diberikan oleh Roh Kudus. Perkataan ini tidak hanya untuk diri kita tetapi juga untuk orang lain. Perkataan inilah yang membuat kita bisa menjadi seoran minister. Satu hal yang padti: kita semua adalah anggota Tubuh Kristus, dan terang Allah jangan berhenti di dalam kita. Penyinaran Allah juga untuk ministri, bukan untuk diri sendiri. Kita telah menyebutkan bahwa terang itu selalu didampingi firman Allah ketika diartikan ke dalam pikiran, dan firman inilah yang membuat kita menjadi seorang minister firman. Seringkali, kita tidak menerima firman ketika terang dan pikiran datang. Untuk menerima firman, kita harus menunggu Allah dan mempelajari Alkitab. Saya tidak mengatakan bahwa kejadiannya selalu demikian. Setiap situasi bisa berbeda. Seringkali pengalamannya yang sangat khusus. Bisa juga di lain waktu pengalamannya biasa saja. Di bawah lingkungan yang biasa, Allah memberikan perkataan ketika kita sedang menantikan Dia dan firman-Nya. Kita mungkin menerima firman dari Allah hari ini ketika kita mempelajari Alkitab. Kita mungkin menerima firman keesokan harinya ketika kita mempelajari Alkitab lagi. Ketika kita mempelajari Alkitab, kita mungkin menerima satu atau dua kalimat yang memperlengkapi apa yang kita lihat di dalam roh kita. Perkataan yang melepaskan hayat melepaskan apa yang kita telah mengerti di dalam pikiran kita. Ketika kalimat ini dilepaskan, apa yang terkandung di dalam roh juga dilepaskan. Perkataan ini melepaskan terang yang telah ditangkap oleh pikiran. Inilah dasar ministri firman. Inilah yang diperlukan seorang minister firman.
Mari kita perhatikan faktanya: kita perlu terang di dalam roh dan mempertahankan terang di dalam pikiran, tetapi kita juga harus menunggu Allah dan membaca Alkitab untuk menerima perkataan firman yang tepat dari Dia. Saat itu kita mungkin menerima firman. Firman ini menjadi jelas di dalam kita, membuka mata kita yang batiniah, dan memberikan jaminan yang jelas bahwa kita bisa melepaskan firman ini. Kita harus tahu melepaskan perkataan ini sebelum kita bisa melepaskan terang dan pikiran yang ada di dalam kita. Setelah kita memiliki kalimat ini di tangan kita, kita memiliki perkataan yang batini. Sebelum kita memiliki perkataan ini, kita tidak bisa melepaskan wahyu yang ada di dalam kita tidak peduli betapa beratnya kita berusaha. Firman yang kekurangan wahyu tidak akan pernah melepaskan terang wahyu apa pun. Pelepasan terang wahyu sangat bergantung pada pelepasan perkataan wahyu. Mereka yang hanya mempunyai terang wahyu tanpa firman wahyu tidak bisa berharap untuk melepaskan terang wahyu. Semakin seseorang kekurangan firman wahyu, semakin dia harus menantikan Allah. Dia harus berdoa, bersekutu, dan menantikan Allah dengan Alkitab yang terbuka di hadapan-Nya. Dia jangan menunggu dengan cara yang biasa saja. Dia juga jangan berdoa dengan biasa saja atau bersekutu biasa saja. Sebaliknya, dia harus menantikan Allah, berdoa kepada-Nya, dan bersekutu dengan Dia dengan membuka Alkitab di depan Allah. Sangat mudah bagi Allah untuk berbicara melalui Alkitab, dan lebih mudah bagi kita untuk menerima firman wahyu-Nya melalui Alkitab. Ketika kita menerima firman dari Alkitab, sesuatu akan terbentuk di dalam kita. Kita memiliki satu atau dua kalimat yang membawakan keselamatan kepada orang berdosa atau pertolongan kepada kaum beriman. Perkataan ini menjadi firman Allah. Meskipun hal itu bukan firman Allah yang tertulis, tetapi perkataan yang kita berikan menjadi firman Allah yang up to date. Semakin kita bertambah dewasa, perkataan ini akan berguna sepanjang waktu, dan selama roh kita murni dan tepat, Roh Kudus akan menghormati perkataan ini kapan kala kita menggunakannya. Ini bukan hanya jenis firman. Ini firman yang luar biasa, firman yang penuh kuat kuasa.
HUBUNGAN ANTARA BEBAN
DAN PERKATAAN YANG DI LUAR
Tiga hal penting yang menyusun ministri firman: terang, pikiran, dan firman. Ada dua aspek firman: perkataan yang batini dan perkataan yang di luar. Untuk menyederhanakannya, kita harus mengatakan ada empat langkah: terang, pikiran, perkataan batini dan perkataan yang di luar.
Apakah perkatan yang di luar? Apakah hubungan antara perkataan yang batini dan perkataan yang di luar? Hubungannya adalah seperti hubungan antara pikiran dan terang. Semua ini merupakan fakta rohani dan tidak akan pernah berubah. Kita sebelumnya telah menyebutkan bahwa terang akan pergi ketika menerangi di dalam kita jika kita tidak ada pikiran untuk menangkap terang. Terang akan hilang dari jangkauan kita dan tidak akan berguna bagi kita. Sepertinya, ketika kita menerima satu atau dua perkataan yang batini, kita harus melepaskannya melalui perkataan yang di luar. Perkataan yang batini terdiri dari satu atau dua kalimat. Satu atau dua kalimat dari perkataan Allah ini tidak bisa dimengerti atau diterima jika dilepaskan secara terpisah. Kalimat ini harus disempurnakan dengan perkataan yang lain. Kita harus mempunyai banyak perkataan sebelum kita bisa melayani sebagai seorang minister. Allah memberikan kita terang firman-Nya, dan Allah pun mengubah terang ini menjadi perkataan yang batini. Tetapi ini tidak cukup; kita juga harus mempunyai perkataan yang di luar. Perkataan yang batini yang tidak lengkap merupakan suatu bentuk yang tidak bisa diterima, karena terlalu singkat. Jika kita melepaskan firman ini dengan cara primitif, orang lain tidak akan mengerti. Firman ini akan menjadi sangat kuat, terlalu kental, dan terlalu padat untuk diterima oleh orang lain. Ketika perkataan yang batini dilepaskan, perkataan itu harus disertai dengan perkataan yang lain. Sehingga perkataan itu akan menjadi efektif mengekspresikan firman yang batini. Mungkin dua ribu perkataan diperlukan guna menyingkapkan satu firman dari Allah. Mungkin juga perlu lima sampai sepuluh ribu kata-kata untuk menjelaskan satu kata. Kita harus menggunakan kata-kata kita sendiri untuk menyingkapkan firman Allah. Inilah makna ministri firman.
Di sini kita melihat keperluan unsur manusia. Ketika menangkap terang dengan pikiran kita, unsur manusia terlibat di dalamnya. Beberapa pikiran tidak mampu dalam pekerjaan ini, sedangkan pikiran yang lain bisa. Inilah poin pertama dimana unsur manusia terlibat. Unsur manusia ini juga terlibat untuk mengutarakan perkataan yang di luar. Beberapa orang mampu memberikan kata-kata yang cocok untuk menjelaskan firman Allah. Sedangkan yang lainnya tidak bisa melakukannya. Jadi unsur manusia memperlihatkan perbedaan yang sangat besar di sini.
Perkataan yang Batini Harus Dilepaskan dengan
Perkataan yang Diluar
Perkataan yang di batin merupakan bentuk yang paling padat; tidak ada seorang pun yang bisa menerimanya. Perkataan yang di luar lebih mudah dicerna dan bisa diterima setiap saat. Tanggung jawab kita adalah memperhatikan perkataan yang di luar ini. Tanggung jawab ini bergantung pada manusia, pada minister. Tanggung jawab minister adalah “mengencerkan” firman Allah yang kental dan menjadikannya mudah diterima oleh orang lain. Perkataan yang batini bermakna sangat dalam dan padat, sedangkan perkataan yand di luar luas dan encer. Orang lain tidak bisa menerima perkataan yang batini, mereka hanya bisa menerima perkataan yang di luar. Kita menerima satu atau dua kalimat dari Allah ketika kita menerima wahyu yang kedua. Tetapi setelah kita menerima kalimat ini, kita masih perlu banyak perkataan yang membantu kita untuk melepaskannya. Maka, seorang minister firman pertama-tama harus menerima firman yang ilahi dari Allah kemudian melepaskan firman ini dengan kata-katanya sendiri. Hanya ketika kita mengerti proses ini kita bisa mengerti arti inspirasi Roh Kudus. Firman yang murni yang diterima manusia dari Allah tidak banyak. Tetapi ketika firman ini diucapkan melalui Petrus, maka ada cita rasa Pertus di dalamnya. Ketika disampaikan oleh Yohanes, ada cita rasa Yohanes. Ketika disampaikan oleh Paulus, juga ada cita rasa Paulus. Jika ada orang yang bisa membaca bahasa Yunani Perjanjian Baru, ia bisa dengan mudah memberitahu kitab mana yang ditulis oleh Petrus, Yohanes, dan Paulus, karena meskipun setiap kitab berisi firman Allah tetapi gaya penulisannya berbeda-beda. Petrus adalah orang yang berbeda dengan Yohanes, demikian juga dengan Paulus. Ketika firman Allah disampaikan oleh Petrus, pengajarannya memang dari Allah, tetapi cita rasanya adalah Petrus. Demikian juga dengan Yohanes dan Paulus, pengajarannya dari Allah tetapi cita rasa mereka tetap ada. Unsur manusia hadir dalam ministri firman Allah. Allah menurunkan tangan-Nya atas manusia pilihan Roh dan melepaskan perkataan-Nya melalui mereka. Dialah yang memberikan perkataan, tetapi Ia ingin manusia menyampaikannya dengan kata-kata mereka sendiri. Mereka yang telah banyak belajar di depan Tuhan akan berbicara sebagai seorang yang telah banyak belajar. Mereka yang belajar sedikit di depan Tuhan akan berbicara sebagi orang yang sedikit belajar. Firman Allah dipercayakan kepada manusia, dan manusia mengemban amanat melepaskan firman Allah.
Mari kita kembali sekali lagi pada perkara bahasa lidah. Mengapa kita harus memperhatikan perkara ini? Dalam pembahasannya mengenai bahasa lidah, Paulus membandingkan antara bahasa lidah dan ministri nubuat. Kita jangan melarang bahasa lidah karena bahasa lidah melayani mereka yang berbicara menggunakan bahasa ini. Tetapi bahasa ini tidak berguna jika berkaitan dengan ministri firman karena tidak ada unsur manusia di dalamnya. Dalam bahasa lidah ada kekurangan unsur manusia karena seluruhnya dari Roh Kudus. Roh Kudus menyingkapkan firman kepada manusia, dan manusia menyampaikannya kata per kata dengan rohnya. Firman Allah disampaikan, tetapi tidak ada jejak pemahaman manusia maupun unsur manusia di dalan firman ini. Menurut konsep kita, bahasa lidah itu lebih baik daripada ministri nubuat. Bukankah lebih baik jika Allah berbicara secara langsung? Bukankah lebih baik jika Roh Kudus menggunakan kata-kata-Nya sendiri? Tetapi Alkitab menganggap bahasa lidah lebih rendah daripada tutur sabda. Allah lebih menekankan tutur sabda dibandingkan bahasa lidah. Ministri nubuat merupakan bagian dari firman Allah seperti halnya perkataan nabi-nabi. Dalam kasus ini, air hayat keluar dari lubuk batin seseorang (Yoh. 7:38). Firman keluar dari batin; firman ini dicurahkan dari surga. Hal ini merupakan prinsip mendasar dalam Perjanjian Baru.
Allah menekankan banyak hal atas manusia. Jika kita memperlajari Perjanjian Baru dengan seksama, kita bisa mengidentifikasi tulisan Petrus sebagai tulisannya, tulisan Yakobus sebagai tulisannya, dan tulisan Matius sebagai tulisannya. Setiap kitab memiliki frase idiomatik yang khusus, ekspresinya tersendiri, dan struktur tata bahasanya sendiri. Allah tidak ingin setiap penulis hanya menuliskan perkataan-Nya. Keinginannya adalah pengajaran yang berasal dari diri-Nya tetapi perkataan itu keluar dari manusia. Karena itulah, seorang minister firman mempunyai tanggung jawab yang luar biasa! Jika kita tidak mencapai standar ini, apakah yang dapat kita berikan? Itulah alasannya mengapa manusia kita harus diremukkan. Jika manusia kita tidak tepat, apakah yang akan kita sampaikan? Kita jangan berpikir bahwa firman Allah terlalu ringan. Dalam melepaskan firman-Nya, Allah memberikan sepatah dua patah kalimat kepada manusia. Kemudian manusia harus melepaskan firman Allah dengan kata-katanya sendiri. Manusia harus menggunakan banyak kata untuk mengekspresikan beberapa kalimat. Maka, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana manusia “mencampurkan” beberapa kalimat ini dengan kata-katanya sendiri.
Ketika mengutarakan perkataan yang di luar, kita harus menyadari ada tiga syarat. Pertama adalah terang, kedua pikiran, dan ketiga adalah perkataan yang batini. Misalnya kita ingin menyampaikan perkataan kepada saudara dan saudari, tidak peduli dalam bentuk percakapan pribadi maupun dalam bentuk khotbah. Bagaimana kita melepaskannya? Kita pertama-tama harus memiliki beberapa perkataan. Perkataan ini diumpamakan seperti ibu dari semua kalimat. Semua perkataan ada di dalamnya. Tetapi karena terlalu padat, kita harus mengencerkannya sebelum orang lain bisa menerimanya. Kita harus membaginya menjadi potongan-potongan kecil, seperti memecahkan batu hingga berkeping-keping. Saat kita berbicara, kita memecahkan atau memalu “batu” menjadi potongan kecil dan memberikannya sedikit demi sedikit kepada orang lain. Inilah caranya kita melepaskan firman Allah. Kita harus memecahkan perkataan yang batini menjadi potongan kecil dan memberikannya sedikit demi sedikit. Kita tidak bisa berbicara selama dua jam tetapi batu besar tetap ada di dalam kita. Perkataan seperti itu tidak berguna. Di satu pihak, perkataan manusia tidak berguna, tetapi di pihak lain, juga sangat penting. Sepertinya ini bertentangan, tetapi inilah faktanya. Tidak ada gunanya bagi kita untuk menjelaskan firman Allah dengan kata-kata kita sendiri, tidak peduli betapa pintar dan cerdasnya kita. Tetapi ketika firman Allah di dalam kita, kita bisa melepaskan firman-Nya dengan perkataan kita sendiri. Perkataan kita bisa melepaskan firman-Nya dan memberikannya kepada manusia, atau mereka bisa menutup firman Allah dan menyelubunginya dari manusia. Perkataan kitalah yang melepaskan firman Allah sedikit demi sedikit. Semakin kita berbicara, semakin firman Allah menjadi jelas. Pengutaraan firman yang di luar bertujuan melepaskan dan mengantarkan perkataan dari batin.
Kita harus memperhatikan hubungan dari berbagai faktor. Ketika melaksanakan ministri firman, seorang harus memiliki perkataan yang batini. Selanjutnya dia harus menyingkapkannya melalui perkataan yang di luar. Akan tetapi, melepaskan perkataan yang di luar itu tidak sederhana. Pikiran juga harus berfungsi. Jika tidak berfungsi dengan baik, perkataan itu tidak akan bisa keluar. Namun pikiran tidak bisa hanya melekat pada perkataan itu saja. Pikiran harus melekat pada wahyu yang sudah pernah dilihat. Sementara seorang sedang berbicara, bagimana dia bisa yakin jika perkataanya menyingkapkan perkataan batin yang ada di dalamnya? Dia harus melatih pikirannya mengutarakan apa yang ada di dalam rohnya. Pertama dia harus memiliki terang di dalam rohnya. Kemudian dia harus memiliki pikiran untuk menangkap terang. Kemudia dia perlu firman. Akhirnya, dia harus mempertimbangkan bagaimana dia harus berbicara. Tuhan telah memberikan dua hal kepada kita, terang di dalam roh kita dan perkataan dalam batin kita. Ketika kita berbicara, kita mengeluarkan wahyu dengan pikiran kita sendiri, dan kita melepaskannya dengan perkataan kita. Kita tidak perlu memaksa pikiran kita mengejar wahyu, tetapi pikiran kita harus cukup kuat mempertahankan terang, dan kita harus bisa melepaskannya dengan perkataan kita. Di sini kita menemukan empat hal—dua di dalam alam batini dan dua lagi berasal dari alam yang di luar.; keduanya berasal dari Allah dan sisanya berasal dari kita. Ketika kita menggabungkan keempat hal ini, kita memiliki ministri firman. Latihan seperti ini sangat mendasar. Perkataan yang kita punyai di dalam mulut kita ada berdasarkan perkataan yang kita miliki dalam batin kita. Perkataan kita harus menjadi gabungan kedua perkataan ini.
Seringkali, kita kehilangan wahyu yang batini ketika kita berbicara menurut perasaan yang di dalam. Meskipun perkataan itu ada di dalam mulut kita, wahyu yang batini telah hilang. Di waktu lain, kita mungkin mempertahankan wahyu yang batini, dan beban firman ada di dalam kita selama dua, tiga, atau enam bulan. Tetapi ketika melepaskannya tidak ada struktur yang mengikutinya. Maka, di satu pihak, kita perlu Tuhan memberikan kita firman. Di pihak lain, ketika sedang berbicara, kita harus mencari strukturnya dan berbicara menurut pengurapan dari dalam ini.
Saudara, kita harus melihat hasil dari kedua hal tersebut. Seringkali kita memiliki wahyu dan menangkap pikiran, tetapi kita tidak memiliki perkataan. Kita mengerti makna wahyu, tetapi kita tidak bisa menemukan perkataan untuk mengekspresikannya. Pikiran kita penuh, tetapi kita kekurangan kata-kata. Di pihak pendengar, mereka hanya bisa mengerti perkataan kita; mereka tidak bisa mengerti pikiran kita. Di waktu lain, kita memiliki perkataan, tetapi wahyu di dalam roh telah hilang. Ketika manusia mendengarkan perkataan kita, mereka hanya bisa merasakan manna yang sudah basi, yaitu perkataan yang kita bicarakan tidak sesuai dengan wahyu yang di dalam. Perkataan yang kita berikan harus cocok dengan pikiran yang ada di dalam kita, dan orang lain harus bisa melilhat terang ini melalui perkataan kita. Pikiran itu sangatlah penting, tetapi pikiran bukanlah organ untuk menerima wahyu. Kepandaian kita tidak berguna dalam perkara ini. Jika kita mencoba menangkap terang dengan pikiran kita yang pandai, kita hanya akan membawa penderitaan bagi gereja Allah. Akan tetapi, kita tetap perlu pikiran. Faktanya, kita perlu empat hal—terang, pikiran, perkataan yang batini, dan perkataan yang di luar. Kita perlu perkataan yang batini di dalam kita, dan kita perlu perkataan di dalam mulut kita. Ketika kita sedang menjelaskan perkataan yang batini, kita juga harus mencari perkataan yang di luar. Kedua perkataan ini seperti rel kereta. Jika kita hanya punya satu rel, maka keretanya tidak akan bisa berjalan dengan baik. Perkataan yang di luar harus cocok dengan perkataan yang batini, dan perkataan yang batini harus bisa diterjemahkan ke dalam perkataan yang di luar.
Seringkali kita merasakan terang di dalam kita. Kita mengerti terang ini, tetapi kita tidak memiliki perkataan yang tepat untuk mengekspresikannya. Pemahaman sedemikian sudah cukup untuk kita, tetapi jika kita mencoba membantu orang lain dengan pemahaman ini, hasilnya seperti seekor lembu yang sedang mengirik; kita berputar-putar tanpa menambahkan beban. Seringkali kita memiliki firman di dalam kita, tetapi kita tidak memiliki perkataan yang di luar. Hasilnya seperti rel yang tidak lengkap; mustahil memindahkan kereta. Firman Allah tidak bisa dilepaskan. Kita mungkin mengatakan banyak hal, tetapi firman Allah tidak dilepaskan. Wahyu saja tidak cukup untuk pemberitaan kita; perkataan yang di batin pun tidak cukup. Kita harus mempunyai terang, pikiran, perkataan yang batini, dan perkataan yang di luar. Hanya keempat hal tersebut yang bisa membuat kita memiliki ministri, dan hanya dengan cara itu ministri kita akan menjadi ministri yang mulia.
Berbicara Menurut Perkataan Firman
Saat menyiapkan perkataan yang di luar, kita harus memperhatikan perkataan Alkitab. Ketika kita mempunyai perkataa yang batini dan mencoba melepaskannya kepada orang lain, kita seringkali mendapatkan ternyata kita kekurangan kata-kata. Biasanya, kita mengutarakan perkataan kita secara khusus dan mengeluarkan perkataan kita dalam beberapa menit. Perkataan yang batini sangat padat dan ringkas. Perkataan kita sendiri tidak memadai untuk melepaskannya. Jika kita mengulangi perkataan yang sama sekali, dua kali, atau sepuluh kali, orang lain akan bosan dengan pembicaraan kita; mereka tidak akan menghargainya. Perkataan kita mungkin singkat, tetapi tidak ada efeknya. Seseorang mungkin menyadari kemampuannya yang kurang ketika dia mencoba menjadi minister firman. Dia bisa saja membicarakan banyak hal, tetapi setelah dia berbicara mengenai hal-hal rohani itu, dia menemukan bahwa yang bisa dia lakukan sangatlah sedikit. Dia kekurangan waktu, sedangkan perkataan yang batini tidak juga bisa dilepaskan. Dia bisa melepaskan perkataannya sendiri, tetapi perkataan yang batini tetap terkunci. Inilah alasannya kita harus terbiasa dengan perkataan firman. Allah memakai kita sebagai minister firman-Nya, tetapi Dia tahu perkataan kita terbatas. Itulah sebabnya, Dia berbicara kepada kita dalam banyak bagian dan banyak cara (Ibr. 1:1). Pada akhirnya, pikiran kita bisa diekspresikan. Tetapi Allah telah berbicara kepada kita dalam banyak bagian dan cara. Itulah sebabnya kita harus terbiasa dengan perkataan Alkitab. Kita harus meluangkan waktu mempelajari Alkitab. Selama kita belajar, kita diperlengkapi dengan doktrin alkitabiah, pengetahuan, dan pengajaran. Perkataan kita harus berdasarkan pada Alkitab; harus didukung dengan pengajaran Alkitab dan kebenaran alkitabiah. Hal ini membuat anak –anak Allah bisa menerima perkataan kita.
Setelah kita menerima terang, pikiran, dan perkataan, kita mungkin menemukan bahwa bagian dari Alkitab yang sedikit itu cocok dengan wahyu yang kita terima dan banyak hal dalam bagian ini yang cocok dengan wahyu kita. Kita harus membuat catatan dari beberapa bagian ini dan mengutarakan firman yang kita terima dari Allah dengan mengulangi referensi pada bagian firman ini. Mungkin firman yang kita terima dari Allah hanya beberapa kalimat panjang atau mungkin lusinan kalimat yang panjang. Tetapi kita bisa menarik dari pengalaman kita dalam firman untuk mengutarakan hal yang ada di dalam kita. Perkataan ini, meskipun singkat, akan menusuk hati manusia dan menerangi pengertian mereka. Inilah alasannya kita harus terbiasa dengan Alkitab. Kita harus menggunakan perkataan Alkitab untuk memfasilitasi perkataan wahyu kita. Ini tidak berarti menjelaskan Alkitab secara objektif tetapi menjelaskannya secara subjektif. Kita tidak menyajikan suatu penjelasan saja; kita menjelaskan wahyu yang kita terima. Kita menggunakan Alkitab hanya karena bagian itu cocok dengan pengalaman kita. Karena perkataan Petrus, perkataan Yohanes, dan perkataan Kejadian, maupun perkataan Mazmur semua cocok dengan hal yang kita bicarakan, kita bisa menggunakannya untuk menyajikan apa yang ingin kita sampaikan. Kita harus melihat bagaimana Paulus berbicara mengenai perkara itu dan bagaimana pendapat Petrus mengenai hal itu. kita juga harus melihat bagaimana Daud atau Musa berbicara. Setelah kita memperhatikannya, kita harus mempertimbangkan bagaimana Tuhan menginginkan kita berbicara perkara itu. Mereka berbicara dengan cara mereka. Sekarang kita harus mengolah perkataan kita, perkataan yang kita terima dari Allah, menurut perkataan mereka. Kita harus melakukan hal ini dengan berbagai cara. Wahyu dan terang yang kita terima, beban dan tanggung jawab yang kita miliki dari Allah, membentuk dasar perkataan kita. Ketika kita mengulangi subjek itu dengan perkataan kita sendiri, perkataan yang batini akan dilepaskan. Terang akan bersinar dan bebannya akan dilepaskan.
Kita mempelajari Alkitab bukan hanya untuk suatu penjelasan semata. Hanya menjelaskan Alkitab akan sia-sia. Perkataan Alkitab diberikan kepada kita untuk melepaskan beban yang ada di dalam kita. Tanpa perkataan ini, kita tidak bisa menyalurkan beban kita. Perkataan dari Alkitab melepaskan beban kita. Mungkin ada lima, sepuluh, atau dua puluh perbedaan bagian Alkitab yang bisa melengkapi perkara ini. Bagian kita tidak cukup untuk melepaskan beban kita; kita harus melepaskan beban kita dengan berbagai cara. Misalnya kita mempunyai beban di dalam, dan kita mencoba melepaskannya melalui satu potongan bagian Alkitab. Kita harus bertanya pada diri kita apakah beban kita keluar setelah dibicarakan ataukah hanya cerita saja. Jika beban kita tetap berat, kita mungkin bisa menggunakan beberapa bagian lain untuk melepaskannya. Tetapi jika beban kita tidak sekuat itu, sedikit bagian saja mungkin sudah cukup. Setelah kita menemukan bagian yang cocok, kita pertama-tama harus mencoba melepaskan beban kita. Jika beban itu masih ada, kita harus mencoba melepaskannya dengan cara yang lain. Mungkin kita menggunakan lima potongan yang berbeda sebelum beban kita benar-benar dilepaskan. Ministri firman berhubungan dengan melepaskan perkataan yang batini, firman Allah yang berbobot, melalui melepaskan perkataan Alkitab. Ketika berbicara untuk Allah, kita harus mendapatkan alat yang terbaik, yakni Alkitab. Tetapi kita harus memperhatikan peringatan ini: Alkitab saja tidak cukup. Huruf-huruf Alkitab hanyalah sebuah doktrin. Dasar sebuah ministri firman adalah wahyu; perkataan yang batini. Namun, ketika firman ini dilepaskan, harus dilepaskan melalui perkataan Alkitab. Jika seseorang kekurangan wahyu yang batini tetapi tenggelam dalam penjelasan Alkitab yang murni, apa yang dia lakukan akan tetap rendah. Kita tidak bisa meminjam kekayaan Paulus dan menganggapnya sebagai milik kita sendiri. Kita sendiri harus melihat sesuatu dan berbicara menurut apa yang kita lihat sebelum kita bisa memiliki ministri firman. Kita harus memiliki wahyu, firman, dan Alkitab, sebelum kita berbicara. Jika kita hanya memiliki firman yang di dalam, tetapi tanpa Alkitab di luar, kita tidak bisa bicara.
MENGUJI MINISTRI FIRMAN
Bagaimana caranya kita mengetahui perkataan kita berada dalam jalur yang tepat atau tidak? Ketika berbicara, kita harus memperhatikan apakah beban kita berkurang atau justru semakin berat. Ini sangat penting. Kita tidak harus menunggu sampai kita turun dari podium untuk mencari tahu apakah bisa berbicara sesuai jalur atau tidak; kita bisa merasakan hal ini ketika kita sedang berbicara. Kapan kala firman keluar dari mulut kita, beban kita harus berkurang sedikit. Ada tiga hal—firman Allah, terang-Nya, dan pikiran kita—yang menyusun suatu beban. Ketika beban ini dilepaskan, maka yang keluar itu perkataan yang di luar. Maka, setiap perkataan yang di luar harus mengurangi beban yang di dalam. Jika perkataan yang diluar tidak mengurangi beban yang di dalam pasti ada kesalahan. Seorang bisa mengetahui di dalam dirinya apakah khotbah yang disampaikan sudah tepat atau belum. Jika bebannya berkurang saat dia berbicara, dia bisa yakin bahwa khotbahya sudah tepat. Jika tidak, dia bisa yakin bahwa pembicaraannya sudah salah arah; dia tidak mengatakan hal yang tepat. Lebih baik baginya tidak mengatakan apa pun daripada dia berbicara selama berjam-jam tanpa arah yang jelas. Dia harus berkata, “Saudara, apa yang sudah saya katakan merupakan kesalahan,” dan dia harus memulai khotbahnya sekali lagi. Semakin dia belajar, semakin sedikit masalah yang akan dia miliki dalam hal ini. Ketika kita sedang mempraktekkan pelayanan sebagai seorang minister firman, kita harus belajar berbicara dengan tujuan melepaskan beban kita yang di dalam. Kita harus belajar datang sengan satu khotbah yang penuh beban dan pulang tanpa beban lagi. Jika ada beban sebelum kita bicara, kita tidak bisa mengutarakannya. Tetapi setelah kita bicara beban harus hilang. Kita tidak bisa datang dengan beban, bicara selama setengan sampai satu jam, kemudian menemukan bahwa beban kita masih ada. Dalam kasus demikian, terang Allah belum menjadi firman, dan kita tidak bisa membawa pulang beban yang sama. Terkadang kita bisa memiliki pengalaman yang aneh yang mengatakan bahwa kita benar dan pada saat bersamaan juga merasa salah. Hasilnya, ada sebagian yang kita rasakan sudah lepas tetapi yang satu bagian lagi belum lepas. Kita mungkin merasa bahwa ini masih belum cukup baik.
Seringkali masalahnya bisa semakin buruk. Bukannya melepaskan beban kita melalui perkataan kita, kita hanya menambahkan beban dan membuatnya semakin berat. Ilustrasi yang kita pakai dalam perkataan kita bisa menambahkan beban. Kita mungkin bergurau sedikit saat kita berbicara, yang menyebabkan pendengar tertawa. Akhirnya mungkin malah menyebabkan beban yang berat pada kita. Banyak ilustrasi, gurauan, ide yang spontan, atau pikiran yang menyimpang bisa menambahkan beban pada kita. Pada penutup pembicaraan kita, kita mungkin merasakan beban kita semakin berat saat kita memulainya. Mata kita harus murni. Kita harus berbicara melepaskan beban kita; kita jangan berbicara untuk kepentingan bicara saja.
Satu prinsip dasar dalam pembicaraan kita adalah mata kita harus diatur pada tujuan untuk melepaskan beban. Setiap orang membawa beban dengan pandangan akan melepaskan beban itu; tidak ada seorang pun yang membawa beban dengan pandangan akan membawanya pada titik awal kembali. Setiap beban yang datang kepada kita harus dilepaskan dengan perkataan yang tepat. Jika kita merasa bahwa beban kita bertambah ketika kita berbicara, kita harus langsung berhenti. Jika kita tidak tahu bagaimana menggunakan perkataan yang tepat, kita akan memiliki masalah dengan ministri firman. Jika sebuah kalilmat yang kita ucapkan menyalurkan beban, kita tahu bahwa kita berbicara di jalur yang tepat. Kita bisa mengulangi hal yang sama dari sudut yang berbeda. Kemudian kita merasakan beban kita hilang, dan kita tahu bahwa bahwa kita sudah mengatakan hal yang benar. Akhirnya beban kita akan hilang. Dalam pembicaraan kita, kita mungkin hanya mempunyai satu atau dua kalimat yang ingin kita sampaikan. Kalimat yang lainnya mendukung satu atau dua kalimat itu. Jika kita bisa menyampaikan satu atau dua kalimat itu dengan tepat dan jika kita bisa secara efektif melepaskan firman yang di dalam kita, perkataan kita akan sesuai jalur dengan prinsip inspirasi.
Semoga Tuhan merahmati kita dan mengaruniakan kepada kita perkatan yang tepat dan tajam. Kita hanya perlu beberapa perkataan ini. Ketika perkataan ini dilepaskan, kita akan menjamah klimaks dari pembicaraan kita. Jika kita berbicara seperti ini, kita akan memiliki ministri firman.