← Daftar isi Ministri Firman Allah · bab 12/17

PENDISIPLINAN ROH DAN FIRMAN

Ketika seorang minister firman berdiri untuk berbicara, apakah sumber perkataannya? Seorang minister firman tidak menggunakan pikirannya untuk mengatakan perkataan yang ingin ia sampaikan; perkataannya harus datang dari sumber yang lain. Mari sekarang kita mengevaluasi sumber yang darinya ia berbicara. Ketika kita mengetahui sumbernya, kita akan menyadari banyak hal yang tidak seharusnya keluar dari mulut kita yang tidak bisa dianggap sebagai firman Allah. Kita harus mengulang fakta bahwa ada hubungan yang kuat antara ministri firman dengan unsur manusia. Kita juga harus ingat bahwa di dalam fungsi ministri firman, Allah pertama-tama memberikan manusia satu atau dua patah perkataan yang bisa dikembangkan menjadi banyak perkataaan. Perkataan yang banyak ini bersumber dari satu dua patah kata. Sumbernya adalah satu dua patah kata, dan dibangun di atas dasar itu. Ketika seorang minister firman berdiri untuk berbicara, ia menggunakan kata-katanya sendiri, tetapi dia mengutarakan firman yang disampaikan Allah kepadanya. Inilah makna menjadi seorang minister firman. Ministri firman ini berisi unsur manusia. Itulah sebabnya kita harus memperhatikan unsur manusia ini ketika kita berfungsi sebagai minister firman. Kita harus menyadari bahwa firman dilepaskan melalui manusia.

Ketika seseorang berbicara dari podium, jenis orang yang seperti apa akan terlihat dalam perkataan yang dia utarakan. Seringkali, Allah akan mengakui perkataan manusia sebagai perkataan-Nya sendiri. Di waktu lain, Dia juga tidak akan mengakuinya. Yang terpenting dari semua perkara itu adalah manusianya itu sendiri. Misalnya ada dua orang menerima terang yang sama di dalam roh mereka dan memiliki perkataan yang sama. Ministri yang mereka miliki, akan berbeda karena orangnya berbeda. Perbedaan ini menghasilkan perbedaan minister firman. Wahyu yang batini mungkin sama, dan firman yang batini mungkin sama, tetapi ministri mereka bisa berbeda karena perbedaan personanya. Itulah sebabnya kita harus mempelajari sumber perkataan manusia. Pengutaraan datang dari wahyu, tetapi pengutaraan ini sangat dipengaruhi unsur manusia. Jenis orang kita menentukan jenis perkataan yang akan kita utarakan. Seorang yang tepat akan berbicara perkataan yang tepat, tetapi jika dia miskin, perkataannya akan rendah, lemah, dan kekanak-kanakan. Ia akan menggunakan perkataan manusia, perkataan yang pintar, dan perkataan yang tidak fokus. Maka, perkataannya tidak akan menjadi “perkataan rohani.” Jika orangnya tepat, perkataannya akan secara spontan benar, tinggi, dan tepat; perkataannya berasal dari hasil menjamah Allah. Untuk melacak sumber perkataan yang di luar, kita harus memperhatikan persona kita. Persona kita memiliki pembawaan langsung bagaimana kita berbicara.

PERBEDAAN DALAM KONSTITUSI ROH

MENGHASILKAN PERBEDAAN PERKATAAN

Jenis persona seseorang menentukan jenis perkataan yang kita sampaikan. Jika Allah telah melakukan pekerjaan konstitusi di dalam kita, yaitu jika perkataan-Nya telah beroperasi di dalam kita, mendisiplinkan kita, dan menanggulangi manusia lahiriah kita dan menghancurkannya, sampai pada titik kita menjamah sesuatu yang rohani dan karkater kita mulai berubah, perkataan kita akan menjadi perkataan Roh secara langsung. Perkataan yang kita utarakan akan berdasar pada konstitusi Roh itu. Tanpa konstitusi Roh itu, tidak ada perkataan Roh. Kita tidak bisa mengatakan sesuatu dari Roh itu dengan diri kita sendiri. Pertama-tama harus ada konstitusi Roh di dalam kita; Roh Kudus harus mengatur dan menyusun ulang diri kita. Suatu ketika kita adalah satu jenis orang tertentu, tetapi setelah Tuhan bekerja atas kita selama bertahun-tahun, kita mulai mengalami pengaturan Roh itu dan rekonstitusi dalam seluruh diri kita. Kita menjadi seperti rumah yang sedang dibentuk dan dibangun ulang. Kita harus memperhatikan bahwa perkataan Roh Kudus itu berdasarkan konstitusi Roh Kudus. Jika Roh itu tidak melakukan pekerjaan rekonstitusi di dalam kita, perkataan kita tidak akan pernah segar. Ketika Roh itu merekonstitusi seluruh diri kita, kita menjadi baru, dan hal-hal yang kita utarakan juga baru.

Inilah alasan pencapaian Paulus yang tinggi, yang diwahyukan dalam wahyu 7. Kita bisa memetik pelajaran dari pasal ini. Ketika konstitusi Roh itu di dalam manusia bisa disandari, rohani, dan maju, dia tidak lagi menyadari wahyu yang telah dia terima. Konstitusi Roh itu menghasilkan manifestasi yang spontan dari wahyu. Itulah sebabnya wahyu bukanlah sesuatu yang luar biasa dalam Paulus. Ia menerima terang dengan cara yang berbeda dari biasanya sama seperti pikirannya sendiri. Hari ini banyak orang tidak memiliki konstitusi Roh yang cukup. Itulah sebabnya mereka jauh dari wahyu Allah. Satu Korintus 7 sangat unik. Di dalamnya ada kisah seorang saudara yang berada di bawah kekuasaan Allah dan dikonstitusi oleh Roh itu sampai satu pikiran dan perasaannya hampir sama seperti Allah. Wahyu Allah hamper sama seperti perkataannya; wahyu Allah bukan lagi barang yang luar biasa baginya. Unsur manusia bisa bangkit demikian tinggi sehingga bisa berbaur dengan Allah. Bagi Paulus, perkataannya adalah miliknya. Ia memberitahu orang lain bahwa dia tidak memiliki perintah dari Allah dan dia berbicara dari dirinya sendiri. Tetapi dia begitu tinggi dikonstitusi oleh Allah sehingga dia bisa segera mengatakan, “Aku pikira aku mempunyai Roh Allah” (ay. 40). Kita harus melihat hubungan yang penting antara persona dengan firman. Ia adalah seorang yang benar-benar dikonstitusi oleh Roh itu. Ketika dia berbicara, firman Allah dilepasan. Sepertinya saat dia melepaskan firman Allah tidak merujuk pada wahyu yang khusus. Ini puncak tertinggi yang bisa dialami oleh manusia. Perkataan Paulus menunjukkan persona yang tepat, perkataaan yang tepat. Ketika manusia dikonstitusi secara ilahi, perkataannya adalah perkataan Allah. Kita harus memperhatikan hal ini. Seorang bisa secara menyeluruh ditanggulangi oleh Tuhan, dan personanya bisa begitu murni dan bersih sehingga perkataan Roh dilepaskan melalui dirinya kapan pun dia membukan mulutnya.

Kita harus memperhatikan fakta bahwa dasar perkataan kita merupakan konstitusi Roh Kudus di dalam kita. Banyak orang tidak berguna di mata Tuhan. Tetapi di antara mereka yang berguna bagi Tuhan, kita mendapati perbedaan konstitusi Roh Kudus. Perbedaan dalam konstitusi menyebabkan perbedaan perkataan. Dua orang bisa sama-sama berguna bagi Tuhan, dan keduanya bisa mendapatkan kedalaman rohani dalam TUhan. Tetapi konstitusi mereka berbeda. Wahyu yang mereka terima dan firman batini mereka mungkin sama, tetapi perbedaan konstitusi bisa menandai perbedaan perkataan. Keduanya bisa jadi sama-sama minister, bahkan minister yang sangat tinggi akan firman, tetapi perkataan yang keluar dari mulut mereka bisa berbeda. Itulah sebabnya unsure manusia yang mereka miliki berbeda. Yohanes berbeda dari Paulus, dan Paulus berbeda dari Petrus. Hasilnya perkataan mereka juga berbeda. Ketika Paulus berbicara, firman Allah ada di dalam dirinya, tetapi perkataannya sendiri bahkan juga ada di dalamnya. Perkataannya juga adalah perkataan Allah. Demikian juga dengan Petrus. Firman Allah ada di dalam dirinya, tetapi perkataannya sendiri ada di dalam mulutnya. Perkataannya juga perkataan Allah. Baik Petrus dan Paulus berada dalam pekerjaan konstitusi. Ketika mereka berbicara, mereka mengutarakan firman Allah. Tetapi manisfestasi yang diluar dari perkataan mereka itu berbeda.

BENTUK FIRMAN

Firman Allah adalah seorang persona ketika ada di dalam diri Tuhan Yesus. Hari ini firman Allah harus juga menjadi seorang persona ketika sampai pada kita. Ketika Tuhan di bumi, Ia adalah Firman yang menjadi daging; Allah berbicara melalui daging. Hari ini Allah kembali memanifestasikan firman_nya di dalam daging; Ia tetap mewujudkan firman-Nya dalam seorang persona. Ia tetap berbicara melalui daging. Itulah sebabnya Allah harus menanggulangi daging kita hari ini. Ia harus menanggulangi daging kita sampai saat melepaskan firman dari daging kita merupakan pelepasan firman Allah. Untuk mencapai hal itu, kita harus memiliki konstitusi Roh Kudus di dalam kita. Allah mengkonstitusi sesuatu di dalam kita melalui Roh-Nya yag berhuni, dan kita dibawa sampai firman Allah dilepaskan. Konstitusi yang di dalam dari Roh Kudus menjadikan firman Allah sebagai perkataan kita yang subjektif. Seorang minister firman Allah harus membiarkan Roh itu mengkonstitusi dirinya sampai firman itu tidak lagi objektif melainkan subjektif. Konstitusi Allah di dalam kita melalui Roh-Nya harus menjadikan pikiran kita dan pikiran Allah menjadi satu. Konstitusi Allah harus sangat kuat sehingga perkataan kita tidak hanya sama dengan firman Allah melainkan adalah firman Allah. Inilah hasil dari konstitusi Roh Kudus. Ketika perkataan kita menjadi perkataan Allah, kita memiliki ministry Perjanjian Baru. Ketika kita melihat manusia yang ada dalam ministry ini, kita menemukan Allah. Ketika manusia berbicara, Allah berbicara. Karena firman Allah dilepaskan melalui manusia, betapa personanya harus tepat, dan penanggulangannya harus menyeluruh!

Mari kita pertimbangkan bagaimana Allah melakukan pekerjaan konstitusi ini di dalam kita. Perkataan di dalam kita dibentuk oleh Allah, diciptakan oleh Allah melalui pengujian setiap hari dan penanggulangan yang Ia atur dalam lingkungan kita. Kita mungkin berada dalam penanggulangan itu selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Mungkin ada saatnya kita menang, atau ada saatnya kita kalah. Kita mengalami pengujian ini ada yang bisa ditanggung atau tidak, tetapi tangan kedaulatan Tuhan ada di balik semua itu. Hari demi hari, setiap kejadian, sedikit demi sedikit kita didisiplinkan. Akhirnya sepatah dua patah firman menjadi jelas di dalam kita. Saat kita semakin jelas, kita bisa mulai berbicara, dan perkataan ini menjadi perkataan kita. Allah telah menciptakan firman di dalam kita. Inilah caranya firman itu terbentuk. Perkataan ini adalah perkataan kita, dan juga perkataan Allah. Ini sangat penting. Dari sini kita memulai latihan kita. Misalnya kita mengalami beberapa penanggulangan dari Allah. Awalnya kita mungkin bertanya-tanya apa yang terjadi pada kita, dan kita tidak mempunyai perkataan untuk menjelaskannya, setelah kita melewati penanggulangan, kita sepertinya tidak jelas mengenai apa pun. Tetapi setelah sejangka waktu, kita mulai merasa sedikit jelas dan mengakui, “Ah, inilah yang Tuhan inginkian. Ia menanggulangi aku dengan tujuan mendapatkan hal ini.”

Tetapi ini tidak sederhana. Kita tidak jelas dalam sekali peristiwa. Kita mungkin sedikit jelas tetapi juga tidak. Saat menyingkapkan area yang sulit ini, ada peningkatan yang semakin jelas. Saat semakin jelas, kita mulai memiliki satu atau dua firman. Saat menjadi jelas inilah kita memiliki firman. Seringkali Tuhan memberi kita ujian, yang sangat berat, dan kita merasa sangat lemah untuk melampauinya. Kita bahkan berkata pada diri sendiri, tidak ada jalan keluar. Tetapi pelan-pelan kita mulai merasakan bahwa ada jalan keluar, bahkan bisa menang. Kita sering kali berada di antara perasaan menang dan kalah, dan setelah beberapa hari kita menyadari ternyata kita sudah melampauinya, kita sudah menang. Selama waktu itu kita mungkin merasakan bahwa kita tidak bisa melampauinya tetapi hari demi hari ternyata kita menang. Ketika kita merasa kita bisa melampauinya, kita menemukan pada akhirnya kita bisa menang tanpa kita menyadarinya. Melalui proses ini, firman mulai terbentuk. Firman ini adalah perkataan kita. Kita harus menyadari bahwa pergerakan antara terang dan gelap merupakan proses yang olehnya Allah membentuk firman-Nya di dalam kita. Ketika kita sedang di bawah pengujian dan ketika kita merasa mundur dan maju antara kebimbangan dan kejelasan, Allah membentuk firman-Nya di dalam kita. Kita mungkin merasakan kita tidak bisa menang, tetapi kita akhirnya menang. Kita mungkin merasa akan gagal atau jatuh, tetapi kita akhirnya tetap berdiri. Setiap hari Tuhan membawa kita keluar dari situasi yang berbeda. Saat keluar inilah membentuk firman yang kita miliki di dalam kita. Semakin kita maju, kita semakin jelas, dan firman yang kita miliki semakin banyak. Inilah proses firman itu terbentuk di dalam kita. Ministry firman bukan sesuatu yang tiba-tiba, melainkan sesuatu yang dibentuk. Firman yang terbentuk berbeda dengan firman yang tiba-tiba. Ketika kita sedang di dalam kegelapan, kelihatannya ada sesuatu yang jelas bagi kita, tetapi hilang pula dengan cepat. Selama waktu penjelasan, kita mulai melihat hal yang jelas, yang menghasilkan perkataan. Perkataan kita merupakan pengalaman yang kita telah lalui.

Untuk menjadi seorang minister firman, kita tidak hanya perlu terang, pikiran, perkataan yang batini, perkataan yang di luar, dan ingatan saja, kita juga perlu memperhatikan bagaimana kita menyampaikan firman ini di atas mimbar, yaitu firman yang terbentuk dari pendisiplinan yang kita terima. Allah menciptakan perkataan di dalam kita melalui pendisiplinan. Ukuran perkataan kita ditentukan oleh banyaknya penanggulangan yang kita terima. Kita hanya bisa berbicara sampai titik di mana kita telah ditanggulangi oleh Tuhan. Jumlah pengalaman yang kita miliki di depan Tuhan adalah jumlah perkataan yang akan kita miliki. Hal ini menjadikan hal ini semakin jelas: Tuhan sedang membentuk kita, orang kita, dengan tujuan kita akan menangani firman Allah. Tuhan sedang melakukan pengukiran pada persona kita hari ini dengan demikian persona kita bisa menjadi juru bicara untuk firman Allah. Tingkat untuk melepaskan firman seperti ini menentukan jumlah latihan yang kita terima. Perkataan kita berdasarkan jumlah pengalaman yang kita miliki di depan Tuhan. Tujuan Allah adalah menyatukan kita dengan firman-Nya. Jadi bukan masalah menyalurkan firman Allah secara objektif tetapi masalah Allah mengukir dan membentuk, dengan tujuan perkataan kita menjadi perkataan Allah.

Mari kita melanjutkan dengan bertanya: dimanakah terang wahyu itu bisa ditemukan? Kita mungkin mengatakan di dalam roh kita. Mengapa terang wahyu tidak bisa dilihat terus menerus di dalam roh kita? Mengapa kadang-kadang kita melihatnya dan kadang-kadang tidak? Kapankah rih kita menerima wahyu? Kita menerimanya saat kita didisiplin. Kita menerima terang di dalam roh kita berdasarkan penanggulangan yang kita terima. Kapan kala roh kita melewati penanggulangan, roh kita melihat terang. Terang wahyu datang dari pendisiplinan Roh Kudus. Apabila Roh Kudus sangat kurang di dalam diri seseorang, terang yang ia terima di dalam rohnya juga sedikit. Ada waktu dan tempat yang pasti bagi kita menerima terang. Kita menerima terang di dalam di dalam roh, dan kita menerima terang saat kita melewati penanggulangan. Maka, setiap penanggulangan memberi kita kesempatan menerima semakin banyak wahyu. Jika kita kehilangan penanggulangan, kita akan kehilangan wahyu. Jika kita menerima penanggulangan dari Allah, itu artinya kita menerima wahyu, penyingkapan yang baru dari Dia. Kita harus mengenal tangan Allah. Seringkali tangan Tuhan di atas kita. Ia menanggulangi kita dan menjamah sedikit demi sedikit, dan kita menyerah kepada-Nya sedikit demi sedikit. Tuhan mungkin telah menjamah kita sebelum akhirnya kita menyerah sedikit dan sebelum kita menundukkan kepala kita dan berkata, “Tuhan, aku akan menyerah. Aku tidak lagi meronta-ronta.” Ketika kita mengatakan hal ini, kita mendapatkan terang. Seperti Tuhan menanggulangi kita waktu demi waktu, kita menyerah kepada-Nya juga demikian. Saat kita menyerah demikian, roh kita diterangi. Saat kita berjaga-jaga atas apa yang sedang terjadi, kita mulai melihat terang, dan terang membawa masuk firman. Maka, Allah menggunakan penanggulangan untuk memberi kita terang, dan Dia juga menggunakan penanggulangan untuk memberikan kita firman. Firman yang kita pakai dalam pemberitaan kita harus dibentuk melalui penanggulangan ilahi dan pengujian yang kita alami; jadi tidak seharusnya ada yang tiba-tiba dalam pemberitaan kita.

Sebagai seorang minister firman, kita harus yakin bahwa kita sedang berusaha mengembangkan perkataan kita. Jika ada perkembangan dalam perkataan kita, itu berarti ada kemajuan dalam penanggulangan yang kita terima. Ketika kita mulai berbicara untuk Allah mungkin tidak banyak yang kita ucapkan. Tidak peduli kita sepandai apa, bagaimana baiknya ingatan kita, atau berapa banyak yang kita terima dari manusia, kita tidak akan bisa berbicara secara efektif. Supaya Tuhan memberikan kita perkataan, kita pertama-tama harus menyerah pada penanggulangan-Nya, waktu demi waktu, sedikit demi sedikit. Setiap penanggulangan memberikan perkataan, dan semakin Allah menanggulangi kita, semakin Dia berbicara di dalam kita. Ia akan berbicara kepada kita lebih banyak. Setelah kita melewati penanggulangan, kita akan memiliki perkataan yang tepat untuk disampaikan ketika kita berdiri di atas mimbar. Kita harus memperhatikan proses bagaimana firman itu dibentuk. Pembentukan firman dihasilkan melalui pendisiplinan Roh Kudus.

Dalam 2 Korintus 12 Paulus mengatakan bahwa dia menerima wahyu yang besar mengenai langit tingkat ketiga dan Firdaus (ay.2, 4). Langit tingkat ketiga adalah langit tertinggi, sementara Firdaus adalah tempat yang paling rendah. Yang satu adalah langit di atas langit, sedangkan yang satunya adalah pusat bumi. Paulus memberitahu kita bahwa dia tidak kekurangan wahyu-wahyu ini. Tetapi hal ini tidak membuat Paulus sombong. Karena dia kuatir jika dia akan dianggap tinggi, dia menahan diri untuk tidak mengatakan hal itu kepada mereka (ay. 6). Di dalam dagingnya juga ada duri, utusan Iblis, yang menghantam dirinya (ay. 7). Dia berseru kepada Tuhan tiga kali agar duri itu diambil dari padanya, tetapi Tuhan menjawab, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (ay. 9a). Hal ini merupakan wahyu dari Allah, bukan sekedar pengetahuan. Kemudia Paulus berkata, “Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku…sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (ay. 9b-10). Ini menunjukkan ketika Paulus menerima wahyu yang baru, dia juga menerima pengetahuan yang baru. wahyu mengenai langit tingkat ketiga dan Firdaus mungkin merupakan wahyu tertinggi yang dia terima. Tetapi dia menerima bantuan dari perkataan Tuhan kepadanya lebih dibandingkan dengan wahyu langit tingkat ketiga dan Firdaus. Kita belum pernah ke Firdaus, dan belum pernah ada seorang pun yang kembali dari Firdaus dan memberi tahu kita apa pun mengenai hal itu. Kita juga tidak pernah ke langit tingkat ketiga, dan kita tidak tahu apa pun mengenai tempat itu. Tetapi selama dua ribu tahun gereja telah menerima bantuan dari perkataan Tuhan kepada Paulus: “Anugerah-Ku cukup bagimu.” Gereja menerima lebih banyak bantuan dari perkataan ini dibandingkan wahyu langit tingkat ketiga dan Firdaus. Lalu darimanakah ministri firman itu datang? Paulus melewati penanggulangan. Tuhan membawa dia pada titik dia bisa sombong, “Ketika aku lemah, maka aku kuat.” Dia tahu kasih karunia Allah cukup baginya, dan dia menerima ministri firman dengan cara ini. Ministri firman Paulus dihasilkan melalui lingkungan demikian.

Perkataan datang dari pendisiplinan. Wahyu yang diterima dalam 2 Korintus 12:9 merupakan hasil pendisiplinan Roh Kudus. Tanpa pendisiplinan, tidak ada wahyu. Tanpa duri, tidak ada kasih karunia. Duri ini merupakan cambuk duri yang berat bagi Paulus; bukan duri yang biasa tetapi merupakan hantaman dari utusan Iblis. Arti kata menghantam adalah pukulan, siksaan, penindasan, dan penderitaan. Paulus penuh dengan pengalaman. Dia tidak takut penyakit karena dia sudah melewati banyak ujian. Ketika ia mengatakan sesuatu itu penderitaan, pasti itu benar-benar penderitaan. Ia mempunyai duri yang berasal dari hantaman utusan Iblis, yang mencoba menyakiti dirinya melalui duri. Tetapi Allah memberikan kasih karunia kepada Paulus di tengah-tengah pendisiplinan yang begitu menyakitkan, sampai mengakui, “Kasih Karunia-Ku cukup bagimu.” Paulus menerima wahyu untuk mengetahui kasih karunia Allah dan kekuatan-Nya, sama seperti kelemahannya sendiri. Tidak terhitung jumlah gereja Allah yang telah menerima bantuan melalui wahyu Paulus. Lebih mudah bagi kita untuk tetap maju ketika kita mengetahui kelemahan kita sendiri. Setelah kelemahan meninggalkan kita, kekuatan pun hilang. Tetapi jika kelemahan kita tetap ada, kekuatan pun ada pada kita. Ini merupakan suatu prinsip. Wahyu sedemikian, prinsip demikian, diterima melalui pendisiplinan Roh Kudus. Pendisiplinan memberikan kita terang dan perkataan. Kita harus belajar mengumpulkan perkataan kita satu demi satu, seperti seorang bayi yang belajar berbicara.

Allah menempatkan kita melalui berbagai pengujian yang juga akan dilalui oleh anak-anak Allah lainnya. Setelah kita memetik peljaran, kita akan memiliki perkataan untuk peristiwa itu. Semakin kita menyerah dan rebah, semakin banyak perkataan yang kita miliki. Perkataan demikian datang dari sikap tunduk, yang didapatkan melalui pengujian ini. Sikap tunduk kita membawakan firman. Jika kita tidak tunduk, kita tidak akan mempunyai firman. Tetapi setelah kita tunduk dan rebah, kita akan menerima firman. Setelah kita menundukkan wajah kita, beberapa perkataan akan dituliskan dan diresapi di dalam kita. Allah mengatur anak-anak-Nya melalui berbagai macam pengujian. Pada waktunya, rahmat Allah mengijinkan kita melalui pengujian yang belum pernah kita lalui. Kita pertama-tama mencoba, lalu orang lain juga mencoba. Ketika pengujian sudah melakukan tugasnya di dalam kita, firman akan datang. Saudara saudari lain mungkin mencoba setelah itu dan putus asa, tetapi kemudian kita akan bangikir dan kita bisa melepaskan firman yang telah terbentuk di dalam kita selama pengujian kita itu. Perkataan kita menjadi hayat, terang, dan kekusan bagi mereka yang sedang mengalami pengujian setelah kita. Kita akan memiliki ministri firman.

Kita harus ingat bahwa semua minister firman harus memimpin dalam hal menerima pengujian. Jika kita tidak melewati pengujian apa pun, kita tidak akan pernah memiliki perkataan apa pun. Jika kita tidak melewati pengujian tertentu, kita tidak akan bisa secara efektif membantu mereka yang sedang melewati pengujian yang sama. Bahkan jika kita bicara sekalipun maka perkataan kita akan kosong. Apakah gunanya melayani firman yang kosong? Pembentukan firman merupakan proses yang memerlukan api. Gereja harus melewati api. Allah harus membawa para minister ini melewati api terlebih dahulu, api harus melewati mereka. Mereka yang telah melewati api akan memiliki firman. Api akan membakar mereka. Saat mereka terbakar, mereka akan menerima firman dari-Nya. Mereka menerima firman saat mereka menyerah kepada Allah. Semakin mereka menyerah, semakin banyak firman yang mereka miliki. Ketika ada saudara lain berada di bawah pengujian yang sama, para minister ini akan bisa memberikan bantuan kepada mereka. Itulah sebabnya kita mengatakan bahwa ministri firman menyediakan perkataan yang berasal dari pengajaran Roh Kudus. Ini tidak berarti Roh Kudus hanya berbicara beberapa perkataan hikmat melalui mulut kita, tetapi Roh Kudus mengajar kita mengekspresikan perkataan kita sendiri. Kita diajari oleh Roh Kudus, dan kita telah belajar untuk mengatakan kepada orang lain karena kita telah melewati pembakaran. Semua perkataan lain yang tidak melibatkan hal ini sia-sia dan kosong. Ini hal yang sangat mendasar. Itulah alasannya setiap penanggulangan melibatkan beberapa pelajaran mendasar yang harus kita pelajari. Setiap perkataan yang kita ucapkan harus diuji oleh api. Jika tidak, maka tidak akan mendatangkan kebaikan apa pun; kita akan bertanya-tanya adakah efeknya bagi orang lain. Ketika orang lain sedang berduka, penghiburan kita tidak akan terhitung apa-apa. Tidak ada perkataan yang di luar yang bisa terhitung bagi orang lain. Kita hanya bisa berguna setelah melalui penanggulangan Allah.

Gereja telah menerima banyak bantuan dari 2 Korintus 12 selama dua ribu tahun ini karena duri yang dimiliki Paulus. Puji Tuhan untuk duri itu. Ketika duri itu disingkirkan maka kegunaannya pun hilang. Kekuatan dari 2 Korintus 12 dimanifestasikan melalui duri. Tanpa duri di dalam diri Paulus, seluruh pengalaman akan kehilangan makna rohani. Kekuatan dimanifestasikan di dalam duri; hayat dimanifestasikan melalui duri. Hanya orang bodoh yang mencoba menyelamatkan dirinya dari duri. Ketika duri itu hilang, ministri pun hilang, dan tidak ada firman yang tertinggal. Kekuatan firman datang dari duri yang kita alami. Seorang minister firman adalah orang pilihan yang memimpin dalam menghadapi penanggulangan dan pengujian. Mereka juga memimpin dalam pengetahuan akan Kristus. Mereka meministrikan Kristus kepada umat tebusan-Nya. Mereka bisa meministrikan Kristus kepada orang lain karena mereka ada di depan dalam penderitaan mereka. Mereka bisa menyuplai banyak karena mereka memikul lebih banyak beban dibandingkan dengan orang lain. Jika kita tidak ada keinginan menjadi seorang minister firman, tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Tetapi selama kita memiliki keinginan menjadi seorang minister firman, kita harus memimpin dalam penderitaan yang belum dialami orang lain. Kita harus menderita lebih daripada orang lain. Allah masih belum menjadikan kita minister firman hanya sebagai satu orang saja; ia telah menjadikan kita minister firman untuk keperluan banyak orang. Itulah sebabnya, kita harus memimpin dalam penderitaan mereka, dan penderitaan kita harus lebih besar daripada mereka. Jika tidak, sebagai manusia, kita hanya bisa menawarkan bantuan kepada orang lain; kita tidak akan bisa membantu seseorang yang sedang kesusahan atau sedang dalam pengujian.

Jumlah kekayaan firman yang dilepaskan seorang minister firman bergantung pada jumlah penanggulangan yang dia terima dari Tuhan. Kita seharusnya tidak meminta Tuhan menanggulangi kita dengan lambat, halus, maupun lembut. Sebagai seorang minister firman, kita harus menghadapi penanggulangan yang harus dihadapi orang lain; kita harus mengemban pikulan orang lain. Jika tidak, kita tidak akan bisa menawarkan kepada orang lain. Perkataan yang diucapkan dari beberapa orang saudara berlalu begitu saja karena mereka belum menerima penanggulangan dari Tuhan, kita bisa menelusuri hal ini sampai akarnya. Seorang harus melewati banyak penanggulangan sebelum dia bisa menjadi seorang minister firman. Jika dia telah mengalami penanggulangan yang cukup dari Tuhan, dia akan memiliki perkataan yang tepat ketika orang orang miminta bantuannya. Seorang minister firman harus kaya dalam pengutaraan, dan untuk itu, dia harus kaya dalam penanggulangan. Hanya orang-orang yang kaya dalam penanggulangan yang bisa kaya dalam perkataan. Mereka yang telah melewati berbagai penderitaan baru bisa memenuhi keperluan saudara dan saudari yang juga sedang melewati penderitaan. Maka, mereka yang melayani tidak seharusnya hanya melewati penanggulangan yang sedikit; mereka harus melewati banyak penanggulangan. Jika mereka hanya bisa melewati sedikit pengalaman, mereka tidak bisa memenuhi keperluan itu. Banyak orang memiliki keperluan, dan keperluan mereka bermacam-macam. Jika kita sedikit dalam pengalaman, kita tidak akan bisa menyuplai mereka. Ini artinya kita perlu tambahan deposito. Kita harus mengalami banyak pengujian, melewati banyak hal yang akan dialami orang lain sebelum kita bisa melayani mereka. Tanpa hal ini, kita tidak akan bisa melayani mereka ketika masalahnya belum pernah kita alami. Syukur pada Allah sehingga Paulus memiliki ministri yang luar biasa. Ministri-Nya luar biasa karena dia menderita juga luar biasa; dia sudah mengalami banyak hal. Inilah alasannya ministrinya demikian luar biasa. Jika kita ingin memiliki ministri yang luar biasa, kta harus mengharapkan lebih banyak penanggulagan dari Tuhan.

TUJUAN MINISTRI FIRMAN

Apakah tujuan meministrikan firman kepada orang lain? Tujuannya bukan hanya membawa mereka keluar dari situasi yang menakutkan atau membawa mereka melewati pengujian mereka. Kita harus memiliki tujuan yang jelas dalam melakukan pekerjaan ministri kepada orang lain: Tujuannya adalah supaya mereka mengenal Tuhan. Semua wahyu merupakan wahyu mengenai Kristus. Tanpa wahyu Kristus, wahyu itu tidak akan ada nilainya. Semua wahyu diberikan dengan tujuan menyingkapkan Kristus. Kita harus menyadari bahwa tujuan utama dari ministri firman adalah memimpin orang mengenal Kristus. Ketika Allah meletakkan kita pada satu situasi tertentu atau mengijinkan kita menghadapi kesulitan tertentu, kita menghadapinya dengan beragam keperluan; kita merasakan bahwa kita dipaksa untuk mencari Tuhan. Kita harus ingar bahwa setiap pendisiplinan Roh Kudus menyingkapkan suatu keperluan kepada kita. Roh Kudus menaruh kita dalan suatu situasi untuk menunjukkan kepada kita suatu keperluan dan menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak akan pernah bisa memenuhi keperluan itu atau melewati situasi itu dengan diri kita sendiri. Pada waktu itulah, satu-satunya jalan keluar adalah mengenal Tuhan. Tanpa keperluan ini, seorang tidak akan pernah mencari tahu bagaimana mengenal Tuhan. Tanpa duri ini, Paulus tidak akan mengenal kasih karunia Tuhan. Pengalaman pengujian bukan hanya untuk melewati pengujian, tetapi untuk mengenal Tuhan. Paulus tidak dengan sederhana mengatakan, “Oke, aku akan menyerah.” Sebaliknya, dia mengatakan bahwa dia mengenal kasih karunia. Ini artinya dia mengenal TUhan. Allah harus menggunakan pendisiplinan Roh untuk menciptakan keperluan di dalam kita yang hanya bisa dipuaskan oleh Tuhan, hanya Tuhan yang bisa membawa kita melewatinya. Keperluan demikian menyebabkan kita mengenal aspek khusus dan atribut khusus akan Tuhan. Dua Korintus 12 menunjukkan kepada kita bahwa pengetahuan Paulus akan kekuatan Tuhan yang membuat dia bisa melewati kelemahannya. Ketika dia mengalami kesakitan, dia mendapatkan kasih karunia. Duri melemahkan dia, tetapi duri ini juga memimpin dia pada pengetahuan akan kasih karunia. Tuhan meletakkan dia dalam kelemahan supaya dia memiliki pengetahuan akan kekuatan. Allah meletakkan dia dalam penderitaan supaya dia mengenal pengetahuan akan kasih karunia. Dimana ada keperluan, di sana ada pengetahuan. Suatu keperluan yang khusus memerlukan pengetahuan yang khusus pula. Jika kita ingin memiliki pengetahuan yang penuh akan Tuhan, kita harus memiliki jangkauan pengalaman yang luas. Jika pengalaman kita terbatas, pengetahuan kita akan Tuhan juga tidak lengkap. Mungkin kita sudah mengenal Tuhan dalam berbagai cara, tetapi pengetahuan kita akan Dia mengenai hal-hal tertentu masih belum lengkap. Untuk mengenal Tuhan, kita harus mengenal Dia secara lengkap. Jika pendisiplinan Roh itu tidak lengkap, kita tidak akan memiliki firman yang tepat untuk diministrikan kepada orang lain.

Kita harus berdoa supaya Allah mau melatih kita, yaitu menaruh kita dalam segala macam situasi dan pengujian. Pada waktu yang sama kita juga harus memberi Allah kesempatan membawa kita melalui pengujian itu. Saat kita menyerah pada pengujian, kita memberi Tuhan kesempatan lebih banyak pengetahuan akan diri-Nya. Ketika kita mengalami penanggulangan hari ini, kita akan memiliki kesadaran yang baru akan Kristus. Ketika kita menerima penanggulanagn esok, kita akan memiliki pengenalan yang segar akan Kristus. Dengan demikian, pengetahuan akan Kristus akan bertambah hari demi hari, dan kita bisa meministrikan Kristus yang kita kenal kepada gereja.

Lalu apakah firman? Firman adalah Kristus? Firman yang kita terima dalam pengujian dan pendisiplinan datang dari pengetahuan akan Kristus. Hari ini ribuan bahkan jutaan anak-anak Allah ada dalam gereja, tetapi pengetahuan mereka akan Kristus begitu terbatas. Beberapa hanya mengetahui beberapa hal mengenai Kristus. Jadi ada keperluan para minister yang dibangkitkan yang bisa memberikan pengetahuan yang lebih akan Kristus. Seorang minister firman, melalui berbagai pengujian yang dia alami, mendapatkan pengetahuan yang luas akan Kristus dan diperlengkapi dengan banyak perkataan. Perkataan ini diberikan supaya dia bisa meministrikan Kristus kepada orang lain. Inilah alasannya mengapa kita mengatakan bahwa firman Allah adalah Putra-Nya. Firman Allah adalah Kristus. Apa yang kita ketahui melalui firman, kita ketahui melalui Kristus. Hari ini kita mungkin menemukan seorang saudara di dalam gereja yang kekurangan pengenalan akan Kristus. Oleh rahmat Allah, kita mungkin sudah melewati pengalaman tertentu, dan pengetahuan kita akan Kristus didapatkan melalui pengalaman ini yang membuat kita bisa menyuplai mereka. Apapun kekurangan yang dia alami, kita bisa menyuplai dia dan memenuhi kekurangannya. Kita akan bisa melayani anak-anak Allah karena kita telah belajar pengalaman ini terlebih dahulu. Jika ministri kita dibangun di atas dasar ini, perkataan kita akan menjadi perkataa Allah.

Suatu ketika, kita mungkin memakai pengalaman orang lain. Tetapi itu bukan masalah sederhana, karena ini akan menyebabkan timbulnya banyak pemikiran jikalau kita tidak berhati-hati. Banyak orang-orang pandai menggunakan pengalaman orang lain; mereka sendiri tidak punya pengalaman. Mereka kosong di hadapan Allah. Ini tidak akan berhasil. Sebelum seorang bisa mengambil pengalaman orang lain, dia sendiri harus melalui banyak penanggulangan di hadapan Tuhan. Kapan kala kita meminjam pengalaman seseorang, kita harus menyimpannya dan menggandakannya di dalam roh kita. Pengalaman kita pun demikian. Segala sesuatu yang disimpan di dalam roh itu hidup. Misalnya kita mendapatkan pengetahuan mengenai Tubuh Kristus dari Allah. Pengetahuan ini harus ditambahkan di dalam roh kita sebelum bisa digunakan untuk memimpin orang lain pada pengetahuan akan Tubuh Kristus. Kita boleh saja meminjam pengalaman orang lain asalkan kita memiliki sesuatu di dalam roh kita. Tetapi jika kita individualistis dan tidak tahu apa pun mengenai Tubuh Kristus dan tidak ada apa pun di dalam roh kita, kita tidak bisa menggunakan pengalaman orang lain. Kita harus menjadi orang-orang yang hidup dalam Tubuh Kristus dan pengalaman kita harus ditaruh di dalam roh kita sebelum kita bisa melayani orang lain dengan perkataan demikian. Jika kita tidak memiliki hal ini, segala sesuatunya merupakan latihan pikiran, dan tidak ada kuasanya. Kita mungkin berpikir bahwa kita telah melepaskan khotbah yang masuk akal, tetapi kita belum menjamah hal yang riil. Ketika orang lain mendengarkan kita, mereka tidak menjamah hal yang riil.

Hal ini merupakan perbandingan terhadapp prinsip mengutip Alkitab. Misalnya kita mengutip Alkitab hari ini. Pertama-tama kita harus menjamah sesuatu dalam pengalaman kita, lalu ada lima, sepuluh atau bahkan lebih ayat Alkitab muncul. Akan tetapi, kita harus menanamkan ayat-ayat ini dalam roh kita, kita tidak bisa menanamkan ayat ini dalam pikiran kita. Sama halnya dengan pembicaraan kita dengan beberapa orang saudara. Perkataan yang sesuai dengan subjeknya harus ditanam di dalam roh kita. Kita hanya bisa meministrikan kepada orang lain apa yang kita telah tanam di dalam roh kita. Jika kita punya sesuatu namun tidak menanamnya dengan memperhidupkannya, hal itu tidak akan ada gunanya. Bahkan pengalaman kita sendiri selama lima tahun yang lalu harus disimpan dan ditanamkan di dalam roh. Jika demikian maka roh kita bisa menggunakannya kembali ketika kita membicarakannya kembali. Sama halnya dengan Alkitab. Jika roh kita tidak bisa menggunakannya, hal itu tidak bisa menjadi bagian dari ministri kita.

Perkataan kita harus dibentuk oleh Allah di dalam kita. Perkataan yang kita ucapkan haruslah perkataan Allah. Perkataan ini seharusnya bukan hasil dari pikiran atau sesuatu yang kita ambil dari orang lain. Perkataan ini harus diciptakan oleh Allah dan terbentuk di dalam kita. Allah harus menguji manusia selama lima sampai sepuluh tahun sebelum firman itu bisa dibawa masuk ke dalam dirinya. Perkataan ini dihasilkan melalui tahun-tahun pembentukan dan pengukiran. Kita harus menyadari bahwa erkataan seperti ini merupakan hasil konstitusi Roh Kudus. Roh Kudus harus bekerja di atas diri kita untuk sejangka waktu sebelum perkataan ini dihasilkan. Perkataan ini seperti kepercayaan maupun pengharapan dari Tuhan. Ketika kita mengalami sesuatu dari Tuhan dan kita dipimpin melewati suatu pengalaman, beberapa perkataan akhirnya terbentuk di dalam kita. Perkataan ini benar-benar milik kita, tetapi juga merupakan perkataan Allah. Melalui proses inilah perkataan kita menjadi perkataan Allah. Seorang bisa mengatakan hal ini hanya jika dia telah melalui lembah yang dalam. Perkataan ini telah dibasuh dan diuji oleh Allah; maka perkataan ini adalah perkataan Allah. Kita harus jelas bahwa sumber perkataan kita merupakan pendisiplinan yang kita terima dari Allah. Perkataan kita didasari pada terang yang kita miliki, dan terang perkataan yang kita terima berdasarkan pendisiplinan Roh Kudus. Bahkan perkataan kita untuk orang lain berdasarkan pada pendisiplinan Roh Kudus. Kita harus memetik pelajaran dari kedalaman lembah sebelum kita kita memproklamirkan ketinggiannya. Kita harus melihat sesuatu di dalam roh kita sebelum hal itu bisa menjadi terang bagi orang lain. Setiap perkataan yang kita ucapkan harus ditekan, diperas, dan berasal dari kedalaman diri kita. Bagaimana pun diri kita ini, apa pun pengujian yang kita alami, dan pelajaran yang kita terima harus dipancarkan dalam perkataan kita.

Firman dihasilkan melalui ujian, kesakitan, kekalahan, dan kegelapan. Di antara minister Allah tidak boleh ada yang takut ketika Allah membawa dia ke dalam situasi demikan. Ketika kita tahu hal ini, kita akan memuji Dia dan berkata, “Tuhan, Engkau ingin memberikan aku beberapa perkataan.” Pada awalnya kita mungkin bertindak bodoh. Kita bertanya-tanya apa yang sedang menimpa kita. Tetapi setelah sejangka waktu kita jangan lagi menjadi bodoh. Kita harus menyadari bahwa beberapa perkataan dihasilkan pertama kali saat kita melalui pengujian. Beberapa perkataan dihasilkan setelah ujian datang lagi. Setelah kita melalui pengalaman seperti ini terus menerus, perkataan yang kita dapatkan semakin limpah dan kaya. Kemudian, saat kita menghadapi ujian, penderitaan, kegagalan, dan kelemahan, kita akan memiliki suara yang jelas di batin kita yang mengatakan, “Tuhan, Engkau memberikan aku perkataan ini lagi.” Kita menjadi semakin bijak dalam menjelaskan firman. Di dalam gereja Allah, seorang minister firman harus memimpin dalam penderitaan, bukan hanya di dalam omongan saja. Jika kita tidak bisa berjalam memimpin gereja dalam pendisiplinan Roh Kudus, kita tidak mempunyai perkataan untuk diministrikan kepada gereja. Hal ini sangat serius. Kita harus menjadi pemimpin dalam gereja dalam perkara penderitaan sebelum kita bisa memiliki sesuatu untuk diministrikan. Jika tidak, kita tidak bisa melakukan apa pun, semua ministry firman yang kita lakukan hanya sia-sia belaka. Kita menipu diri kita terhadap gereja. Kidung “Let us Contemplate the Grape Vive” (kidung #) dalam setiap baitnya berisi semakin tinggi. Pada akhirnya hal itu menunjukkan bahwa semakin kita berkorban, kita semakin bisa memberi kepada orang lain. Jika kita bukan seorang yang berkorban, kita tidak memiliki sesuatu untuk diberikan kepada orang lain, dan kita tidak bisa menjadi seorang minister firman. Minister firman dihasilkan melalui kedalaman seseorang. Ini merupakan sumber perkataan kita. Tanpa hal ini, tidak ada perkataan.

Akhirnya, kita harus ingat pada prinsip dasar yang diletakkan Paulus dalam 2 Korintus 1. Ia mengatakan, “……(ay.8-9). Apakah arti dijatuhi hukuman mati? Paulus melanjutkan dengan berkata bahwa Allah mempunyai tujuan dalam hal ini. Hal ini bertujuan mengajarkan dirinya agar tidak sombong tetapi menaruh kepercayaannya di dalam Allah yang membankitkan orang mati. Ini merupakan penghiburan baginya. Ketika ada suadara maupun saudari lain mengalami ujian yang sama, dia bisa menghibur mereka. “….(ay.5-7). Ini merupakan prinsip dasar yang mendasari ministri firman: memimpin menderita dalam segala pengujian dan meministrikan kepada orang lain apa yang telah dipelajari. Kita pertama-tama dihiburkan, kemudian kita menghibur orang lain dengan penghiburan yang telah kita terima. Ini merupakan prinsip dasar. Untuk alasan inilah kita jangan pernah menggunakan perkataan yang dangkal dalam pembicaraan kita. Sebaliknya, kita harus berbicara apa yang telah kita pelajari melalui ujian yang telah berulang kali kita alami. Banyak istilah, kata-kata, dan ilustrasi tidak bisa dipakai karena perkataan kita menjadi dangkal saat kita menggunakannya. Selama waktu-waktu biasa kita harus belajar bicara secara tepat. Tuhan harus mendisiplinkan kita sampai perkataan kita menjadi echo (gema) Alkitab. Kita harus belajar menggunakan istilah dan ekspresi yang ditemukan di dalam firman Allah. Perkataan ministry merupakan perkataan yang dihasilkan melalui pendisiplinan.

Sumber perkataan adalah pendisiplinan yang kita terima; perkataan yang didapatkan melalui pendisiplinan. Karena itulah, kita jangan pernah meremehkan pendisiplinan Roh Kudus. Jika jika firman tidak ada keasliannya dalam pendisiplinan Roh Kudus, maka firman itu sia-sia, dan gereja tidak akan menerima keuntungan darinya. Saudara saudari jangan meremehkan pendisiplinan dari Tuhan dengan enteng. Kita harus belajar melalui api.