FIRMAN DAN INGATAN KITA
Seorang minister firman harus memperhatikan ingatannya. Dalam melaksanakan ministri firman, ingatan menduduki tempat yang sangat penting. Maknanya jauh dari bayangan manusia. Hal ini merupakan latihan yang harus kita lakukan di depan Tuhan.
PENTINGNYA INGATAN
Dalam meministrikan, kita seriang kali merasa pikiran kita terlalu miskin. Beberapa dari kita mungkin mengingat hari ulang tahun dengan baik, tetapi ketika kita melayani sebagai seorang minister, kita menyadari ingatan atau ingatan kita ini tidaklah cukup. Saat kita menyadari pikiran yang miskin ini, kita menemukan bahwa sulit bagi kita melepaskan perkataan. Sepertinya ada selubung yang menutupi pikiran kita, dan beban kita tidak bisa dilepaskan. Kita hanya bisa mengatakan apa yang kita ingat, kita tidak bisa berbicara apa yang tidak kita ingat. Dengan kata lain, ketika melayani sebagai seorang minister firman, bagaimanakah perkataan yang di luar bisa sesuai dengan perkataan yang di batin? Bagaimana perkataan yang di batin dijelaskan menjadi perkataan yang di luar? Bagaimana perkataan yang di batin mendukung perkataan yang di luar? Tanpa suplai perkataan yang di batin, tidak ada perkataan yang di luar. Saat perkataan yang di batin berhenti, subjek perkataan yang di luar pun hilang. Subjek ada dalam perkataan yang di batin, bukan yang di luar. Maka, perkataan yang di luar harus menarik suplai dari perkataan yang di batin. Tanpa suplaian perkataan yang di batin, perkataan yang di luar pun menjadi kering. Di sinilah ingatan kita harus berperan. Perkataan yang di luar menjelaskan perkataan yang di batin kepada orang lain melalui ingatan. Ingatan membawa perkataan yang di batin keluar. Ketika kita jaruh, beban kita tidak bisa dilepaskan. Kita harus melihat pentingnya ingatan ini.
Ketika minister firman berdiri berbicara, ia menghadapi fenomena yang aneh: semakin dirinya mengingat doktrin, semakin sedikit ia mengingat wahyu yang ada di baliknya. Hal ini di luar kendali kita. Mungkin kita mengerti doktrin, dan hari ini kita merasa sangat jelas. Kita mungkin tidak bisa sombong bahwa kita mengingat segalanya mengenai doktrin ini, tetapi kita bisa mengatakan sedikitnya kita mengingat bagian penting mengenai doktrin ini. Tetapi misalnya kita melihat wahyu yang di dalam, menangkap terang dengan pikiran kita, dan juga memiliki sedikit perkataan untuk mengutarakan apa yang kita lihat. Tidak mudah untuk mengingat sedikit kata-kata ini. Tuhan mungkin memberi kita beberapa kalimat, dan kalimat ini mengutarakan apa yang ditangkap pikiran kita; kalimat itu mungkin mengekspresikan apa yang kita lihat di dalam roh, dan kalimat itu mungkin juga menjelaskan terang Roh Kudus. Kalimatnya mungkin sederhana, hanya terdiri dari lima atau sepuluh kalimat. Sejujurnya kita mudah sangat mudah mengingat kalimat ini. Tetapi, anehnya, semakin jelas suatu wahyu, semakin sulit bagi kita mengingatnya. Ini fakta, bukan teori. Ingatan kita menggagalkan kita setelah kita berbicara lima menit. Seringkali urutan kalimat kita tidak jelas. seringkali juga beberapa kalimat penting tertinggal. Seringkali meskipun kita berusaha segala usaha kita mengingat perkataan itu, perkataannya hilang. Bahkan saat kita mengingat-ingat perkataan, hal yang penting di balik perkataan itu malah hilang. Pada titik ini kita harus menyadari betapa sulitnya wahyu Allah dipertahankan dalam ingatan manusia, dan kita harus mengatakan, “Tuhan, rahmati aku dan tolong aku untuk mengingatnya.”
Kita perlu peralatan dari pikiran kita untuk menyalurkan perkataan yang di dalam kepada dunia luar dan mengekspresikannya dalam perkataan yang di luar. Akan tetapi, karena ingatan kita seringkali membuat kita gagal, bagian batiniah tidak bisa memperlengkapi bagian luar. Semakin kita bicara, perkataan yang di luar semakin menyimpang. Setelah kita menyelesaikan suatu khotbah, kita mungkin menyadari perkataan yang di batin tidak dilepaskan sama sekali. Pengalaman ini sungguh menyakitkan. Kita mungkin berpikir bahwa mencatat di agenda akan membantu. Untuk sejangka waktu mungkin ini bisa membantu, tetapi diwaktu lain bisa juga tidak berguna sama sekali. Sungguh aneh bahkan ketika kita membacanya dan mengulanginya, kita mungkin menyadari ternyata yang kita ketahui hanyalah huruf dan kata-kata saja, tetapi kita tidak bisa mengingat apa pun yang dijelaskan di dalam firman itu. Inilah saatnya kita menemukan ingatan kita yang gagal. Jika apa yang kita lihat hanyalah doktrin, maka dengan mudah bisa disampaikan kepada dunia luar. Semakin suatu poin itu doktrinal, mudah bagi kita mengingatnya. Tetapi jika itu suatu wahyu, tidak mudah bagi kita mengingatnya. Jika kita mencoba mengekspresikan dan menjelaskan wahyu yang kita miliki di batin, kita mendapatkan ternyata kita telah lupa apa yang baru saja kita lihat semenit yang lalu. Kita ingat perkataannya, tetapi kita sudah lupa hal yang ada di balik kata-kata itu. Masalahnya dengan kita adalah kita sering melupakan apa yang telah kita lihat ketika kita berdiri di atas mimbar. Melalui perkataan kita, kita mengatakan hal yang lain; kita tidak berbicara perkara yang telah kita lihat. Akibatnya menjadi kerugian pada ministri. Maka, seorang minister firman hars mempunyai ingatan yang baik.
Kita perlu dua jenis ingatan, ingatan yang di luar dan ingatan Roh itu. kita perlu menggunakan dua jenis ingatan in secara tepat sebelum kita bisa menjadi seorang minister firman. Ingatan yang di luar merupakan ingatan manusia yang luaran. Ingatan di dalam jiwa kita. Ingatan ini menempati tempat yang penting dalam kesaksian firman Allah. Tetapi ada jenis ingatan yang kedua, ingatan Roh Kudus. Tuhan Yesus menyebutnya di dalam Yohanes 14:26: “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Ini ingatan dari Roh Kudus. Roh Kuduslah yang membantu kita mengingat hal itu, kita tidak mengingatnya dengan diri kita sendiri. Kita harus lebih meluangkan banyak waktu untuk mencari ingatan dari Roh Kudus sebelum menggunakan pikiran yang di luar.
INGATAN DARI ROH KUDUS
Pertama, roh kita melihat sesuatu; kedua, pikiran kita menangkapnya; ketiga, kita memiliki firman di dalam kita. Apakah yang ada di dalam firman ini? Pikiran ini berisi pikiran, dan juga terang. Allah memberikan satu atau dua kalimat. Kalimat ini berisi pikiran seperti terang. Apakah yang harus kita perhatikan di hadapan Allah? Kita harus tahu apakah arti kata wahyu itu. Wahyu adalah penglihatan, penyingkapan selubung. Terang menyinari dan kita melihat sesuatu yang ada di balik tirai. Awalnya, kita melihat apa yang ada di balik selubung, meskipun kita tidak bisa mengatakannya. Terang muncul pada kita seperti kilatan cahaya dari sebuah kamera. Allah kemudian memberi kita pikiran untuk menangkap terang; terang dijelaskan di dalam pikiran. Akhirnya, Allah memberikan kita satu atau dua kata yang akan mengarahkan seluruh wahyu. Satu kata dari Allah tidak mengunci semua makna di balik terang. Kita bisa mengatakan bahwa kata wahyu berarti “penglihatan.” Kita bisa mengatakan bahwa itu adalah perkataan, tetapi perkataan ini merupakan penglihatan yang batini, wahyu yang batini; bukan sekedar kata-kata. Ketika firman ini ada di dalam kita, pada waktu yang sama juga adalah “penglihatan.” Ketika firman ini ada di dalam kita sebagai terang, kita tidak mengerti artinya. Ketika diartikan ke dalam pikiran, kita bisa melihat maknanya. Ketika menjadi firman, kita bisa meraihnya di dalam pikiran kita dan mengutarakannya di dalam mulut kita. Inilah firman.
Apakah firman? Firman adalah wahyu yang telah menjadi pikiran yang diartikan. Firman tidak berarti hanya firman semata; bukan hanya tiga, lima, atau sepuluh kalimat saja. Firman adalah sesuatu di dalam kita, pengutaraan atas apa yang kita lihat. Sesungguhnya, penglihatan merupakan fungsi dari mata; tidak ada kaitannya dengan mulut. Tetapi ketika Allah memberi kita firman, firman mencakup terang. Saya bisa sangat jelas di batin, teapi saya tidak bisa mengartikan apa yang saya lihat. Hari ini firman membuat kita bisa mengartikan apa yang kita lihat. Itulah sebabnya, kita harus jelas bahwa firma bukan hanya perkara satu atau dua kalimat. Firman mencakup penglihatan, dan pengartian dari apa yang kita lihat. Ketika kita memiliki firman dan penglihatan di dalam kita, kita bisa menyebut firman sebagai milik kita. Allah pertama-tama menunjukkan kepada kita sesuatu secara jelas, dan Ia memberikan kita firman. Firman menjelaskan apa yang kita lihat.
Firman hanya bisa dipertahankan di dalam ingatan. Kita mempunyai dua jenis ingatan. Pertama adalah ingatan yang mempertahankan firman. Yang lainnya mempertahankan penglihatan. Yang satu mempertahankan firman, ini ingatan yang di luar. Yang lainnya mempertahankan penglihatan, ini ingatan dari Roh Kudus. Masalah hari ini adalah ingatan kita yang luaran seringkali berfungsi mengingat firman, tetapi ingatan Rohnya hilang. Kita tidak mengingat penglihatan. Kita ingat beberapa kata, tetapi kita melupakan penglihatan. Inilah sumber masalah wahyu: wahyu tidak seperti doktrin yang bisa dihafalkan kata per kata. Doktrin hanya perlu dihafal. Doktrin tinggal dalam alam yang luaran, tetapi ministri firman menjamah hayat. Semakin sesuatu itu doktrinal, semakin mudah untuk diingat; doktrin bisa diulangi kata per kata. Akan tetapi, visi yang di batin berkaitan dengan hayat, dan semakin berkaitan dengan hayat, semakin mudah dilupakan. Seseorang bisa saja menghafal dengan baik tetapi kehilangan visi yang ada di balik kata-kata. Inilah yang terjadi ketika ingatan Roh Kudus hilang. Kita harus ingat bahwa firman yang diberikan Allah kepada kita harus dikembangkan dalam ingatan dari Roh Kudus. Hanya dengan itulah firman menjadi hidup. Ketika firman dipisahkan dari ingatan Roh Kudus, firman menjadi sesuatu yang fisikal dan tidak lagi spiritual. Sangat mudah mengubah hal rohani menjadi hal yang fisik.
Sangat mudah bagi perkataan yang di batin berubah menjadi sesuatu yang mati dan luaran. Juga sangat mudah bagi firman yang rohani menjadi sesuatu yang luaran dan fisika. Perkataan rohani harus tetap hidup dalam Roh Kudus sebelum kita bisa mengambil keuntungan darinya. Jika firman wahyu tidak dikembangkan di dalam Roh Kudus, seorang bisa saja mengingat perkataan tanpa mengingat wahyu. Contohnya, kita semua tahu bahwa dosa itu buruk dan jahat. Beberapa orang melihat hal ini pada hari mereka menjadi seorang percaya. Yang lainnya melihat hal ini saat mereka dipulihkan. Beberapa orang lain lagi melihat kejahatan dosa pada saat mereka mendengar injil. Yang lainnya, yang menghambur-hamburkan hidup, tidak melihat kejahatan dari dosa selama tiga sampai lima tahun setelah mereka beroleh selamat, ketika mereka mengalami pemulihan besar dari Roh. Suatu ketika ada seorang saudara menyadari dosa-dosanya dan sangat sedih. Dia rebah dan berguling-gulingan di lantai dari jam delapan pagi sampai keesokan harinya. Orang lain telah meninggalkan sidang, tetapi dia masih bergulingan di lantai. Dia kelihatan seperti orang yang menjamah gerbang neraka, dan dia menangis, “Bahkan neraka tidak cukup besar menelan dosa-dosaku.” Pada hari itu Tuhan membuka matanya dan melihat sesuatu di dalam rohnya. Setelah itu, dia memberi tahu orang-orang apa yang telah ia lihat. Dia memberi tahu mereka mengenai kejahatan dan kenajisan dosa. Seorang saudara lain juga ada yang bersaksi bahwa ketika ada orang lain yang membicarakan dosa, orang yang berada di dekatnya bisa merasakan dosa itu seperti awan tebal yang hitam yang menutupi mereka. Dalam dirinya menyadari dosa seperti awan tebal yang hitam; tidak ada yang lebih buruk dibandingkan hal itu. Ketika dia berbicara dan mengartikan wahyu yang batiniah, orang lain bisa menerima bantuan. Tetapi setelah dua atau tiga tahu, visinya menjadi kabur. Dia masih bisa mengatakan bahwa dosa seperti awan tebal yang hitam. Ketika ia berdiri, ia bisa mengatakan beberapa kata, tetapi gambarannya telah hilang; wahyu dari Roh telah hilang. Wahyunya tidak lagi jelas dan sekuat sebelumnya. Awalnya, dia bisa menangis ketika dia berbicara mengenai kekelaman dosa. Tetapi ketika dia mengatakannya sekali lagi saat ini, dia bisa tertawa. Cita rasanya sudah berubah. Perkataannya mungkin sama, tetapi ingatan dari Roh Kudus sudah hilang.
Roma 7:13 mengatakan, “Supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa.” Suatu hari Tuhan mungkin menunjukkan kepada anda betapa jahat dan kotornya dosa itu. Kata kotornya dosa sudah cukup membuat anda takut. Tetapi ketika anda memberitakan hal itu beberapa hari kemudian, mungkin anda masih mengingat kata penuh dosa itu, tetapi gambaran, bayangan akan hal itu telah hilang. Ketika anda melihat kenajisan dari dosa, baik kata dan gambaran bisa muncul. Tetapi ketika anda berdiri untuk berbicara mengenai kenajisan dosa, perkataannya ada tetapi gambarannya sudah hilang. Kita menyebut gambaran ini sebagai ingatan Roh Kudus. Ketika melayani sebagai seorang minister firman, kita perlu ingatan Roh Kudus. Ingatan ini tidak hanya mengingatkan kita akan kata-kata melainkan juga gambaran dalam perkataan kita. Tanpa ingatan demikian, kita mungkin mengingat perkataan, tetapi gambarannya telah hilang. Kapan kala kita berdiri berbicara, kita harus meminta Allah merahmati kita ingatan Roh Kudus sehingga kita akan menjelaskan bukan hanya kata-kata tetapi juga hal yang mendasar yang ada di balik kata-kata itu. Tanpa ingatan ini, kita bisa berbicara pada kejahatan dan kenajisan dosa sebanyak sepuluh atau bahwa dua puluh kali tanpa mengetahui apakah dosa yang sebenarnya. Kita hanya bisa membuat orang lain terkesan dengan kenajisan dosa ketika ingatan dari Roh mengingatkan kita akan hal itu. ketika kita mengutarakannya, kita seharusnya tidak hanya ada kata-kata melainkan juga gambarannya. Apalah firman Allah? Firman adalah perkataan ditambah gambaran. Saudara saudari apakah kita melihat hal ini? Firman Allah harus ditambahkan pada gambarnnya. Faktanya, firman Allah adalah perkataan ditambah gambaran. Firman tanpa gambaran bukan firman Allah. Jika kita memiliki gambaran yang salah di balik perkataan, perkataan saja tidak akan cukup.
Mari kita ambil contoh yang lain. Misalnya, kita memberitakan injil dan subjeknya mengenai kasih Tuhan. Saat kita berbicara pada kasih, kita mungkin memiliki suatu gambaran di depan kita; perkataan kita berdasar pada gambaran itu. Ini baik. Tetapi seringkali ketika seorang bicara mengenai kasih Allah dirinya sendiri tidak percaya akan kasih Allah. Bagaimana dia bisa mengharapkan orang lain bisa percaya akan hal itu? Kita perlu ingatan Roh Kudus. Roh itu mengingatkan kita akan gambarannya; Ia meningatkan kita akan perkara “kasih.” Ketika kita berbicara pada hal itu, kita mengenai poinnya dengan tepat. Semakin kita membicarakan hal itu, semakin kita memukul hayat. Hayat dipukul dan mengalir. Tanpa ingatan Roh Kudus, kita mungkin mempunyai perkataan yang tepat, tetapi kita kehilangan maknanya. Kata-katanya benar, tetapi poin pentingnya justru hilang. Ini tidak ada gunanya. Ketika memberitakan firman Allah, kita harus mencari ingatan Roh Kudus untuk mengingatkan kita mengenai wahyu untuk ditambahkan pada perkataan batiniah yang diberikan oleh Roh Kudus kepada kita. Ketika kita berbicara menurut perkataan batiniah ini, entah sekali atau dua kali, hayat akan dilepaskan dan orang lain akan melihat apa yang kita lihat. Tidak ada gunanya jika kita hanya mengucapkan kata-kata. roh harus mengingatkan kita akan firman sebelum kita bisa mengutarakannya.
Beberapa orang dari kita diselamatkan melalui Yohanes 3:16. Tetapi jika kita menghafal Yohanes 3:16 untuk melihat apakah ayat itu akan bisa bekerja lagi? Bahkan jika kita menghafalnya sepuluh kali tidak akan bekerja. Roh Kudus membuka mata kita pada suatu ketika pada ayat ini. Yohanes 3:16 hanya berguna dalam perkara ini, yang membawakan keselamtan kita, dipertahankan di dalam ingatan kita dan kita diingatkan akan hal ini. Satu-satunya yang bisa bekerja adalah ingata dari Roh Kudus.
Banyak orang menemukan diri Tuhan yang begitu penuh kasih dan berharga ketika mereka menerima pengampunan dosa mereka. Mereka melihat wahyu yang di dalam, dan mendapatkan Tuhan sangat jelas bagi mereka. Pengampunan yang mereka alami begitu besar; itulah sebabnya kasih begitu luar biasa (Luk. 7:47). Mereka melihat sesuatu, dan mereka memiliki firman di dalam pikiran mereka. Mereka memiliki pikiran dan firman. Suatu hari mereka berbicara di atas mimbar selama satu hingga dua jam. Firman yang di batin dilepaskan. Dan setiap orang merasa gembisa dan menerima bantuan. Setelah sejangka waktu, mereka mengulangi lagi perkataan yang sama. Perkataannya sama karena mereka mengingat semuanya. Perkataan yang di luar tidak hilang, tetapi semakin mereka bicara, semakin mereka menyadari bahwa mereka tidak memiliki hal yang riil. Sepertinya mereka telah lupa hal yang sangat penting yang harus disampaikan. Mereka tidak bisa mengingatnya kembali. Perkataannya tetap ada, tetapi kasihnya telah hilang. Mereka kekurangan ingatan dari Roh Kudus. Setiap wahyu harus dijaga di dalam ingatan Roh Kudus. Seorang minister firman haruslah seorang yang memiliki ingatan yang baik dari Roh Kudus. Semakin ingatannya kuat, semakin baik baginya. Ministri firmannya akan lebih kaya karena dia akan memiliki deposito yang hidup di dalam dirinya. Tetapi jika ingatan dari Roh Kudusnya lemah, dia harus berulang-ulang mempelajari semua wahyu yang telah diberikan Allah kepada dirinya. Ini sungguh kasihan. Seorang tidak cukup hanya mengetahui wahyu dari Roh Kudus, tetapi wahyu ini harus terus menerus diperkaya. Mungkin kita diselamatkan tiga puluh tahun yang lalu. Pada waktu itu Tuhan memberi kita wahyu. Setelah itu Ia memberikan kita wahyu yang lain dan begitu seterusnya. Wahyunya semakin besar. Pada waktu keselamatan kita, kita melihat wahyu dasar. Kemudian wahyu ini semakin dalam dan besar. Seorang minister firman harus memiliki ingatan Roh Kudus, yaitu dia harus mengembangkan keselamatan yang ia terima dalam ingatan Roh Kudus. Ketika ia menerima wahyu yang segar, ia harus menjaganya dan mengembangkannya dalam ingatan Roh Kudus. Kemudian segala sesuatu yang ia terima akan tetap hidup.
Mari kita kembali pada ilustrasi mengenai kenajisan dosa. Hal ini harus menjadi visi yang segar di dalam kita. Jika visi ini segar, kita akan menjadi seorang minister firman ketika kita melepaskannya kalimat per kalilmat. Jika tidak segar, kita bisa mengutarakan kenajisan dosa di atas mimbar, tetapi orang yang mendengarnya hanya menerima manna yang basi, yang mungkin sudah bertahun-tahun lamanya. Kita tidaka akan melayani sebagai seorang minister firman pada kasus ini, dan perkataan kita tidak terhitung apa-apa. Ketika beberapa saudara memberitakan berita injil, orang lain akan memiliki ingatan Roh Kudus. Ketika ada seorang lain memberitakan, pendengar bisa melihat mereka tidak memiliki ingatan Roh Kudus. Tidak ada yang bisa berpura-pura. Jika dia punya, pasti akan kelihatan; jika dia tidak punya pasti tidak ada. Prinsip yang sama bisa diterapkan pada wahyu yang lebih tinggi dan dalam. Wahyu disimpan di dalam ingatan Roh Kudus. Untuk menjadi seorang minister firman, perkataan kita harus dikembangkan di dalam ingatan Roh Kudus. Jika kita memiliki ingatan Roh Kudus, ingatan ini akan bekerja sama saat kita berbicara dan menjelaskan perkataan yang batini kepada orang lain. Hal yang aneh adalah ketika kita melihat sesuatu di dalam roh, kita mungkin lupa mengenai hal itu pada saat kita mencoba menggunakannya untuk meministrikan firman. Kita tidak bisa mengatakan apa yang ingin kita ucapka. Sangat mudah dimengerti jika kita bisa kehilangan perasaan yang kuat akan dosa yang kita rasakan sepuluh atau lima belas tahun silam. Tetapi saat kita berbicara di atas mimbar, kita sering lupa apa yang pernah kita lihat pada malam sebelumnya. Ingatan luaran tidak berguna dalam hal mempertahankan wahyu firman. Kita tidak bisa bersandar pada ingatan yang luaran untuk menangkap wahyu. Wahyu hanya bisa dipertahankan di dalam Roh Kudus.
Mari kita lihat pada ilustrasi yang lain. Misalnya ada orang menyadari perbedaan besar antara mendesak Tuhan dan menjamah Dia. Orang ini bisa melihat perbedaan besar secara fisikal dan rohani dalam hal menjamah Tuhan. Ketika dia melihat hal ini, ia sangat jelas dan sangat bahagia dengan apa yang ia lihat. Setelah dua atau tiga hari, ketika dia mengunjungi seorang saudara yang sedang sakit, ia mencoba memberi tahu saudara itu mengenai hal yang sama. Tetapi dia menyadari dirinya sedang berputar-putar dalam suatu lingkaran. Semakin ia berbicara, semakin dingin dan kosong perkataannya; usahanya menjadi sia-sia. Dengan keringat yang mengucur di keningnya, dia berusaha sekuat tenaga untuk mengingat apa yang pernah ia lihat, tetapi tidak berhasil. Satu-satunya alasan kegagalannya adalah wahyunya tidak dikembangkan di dalam ingatan Roh Kudus. Jika perkataannya dikembangkan di dalam Roh Kudus, dia tidak akan ada masalah saat menggunakannya dalam ministrinya. Maka, kita perlu wahyu, pikiran, perkataan yang batini, dan perkataan yang di luar, dan kita juga perlu ingatan Roh Kudus. Tanpa ingatan Roh Kudus, perkataan yang batini dan perkataan yang di luar tidak ada fungsinya. Tidak ada seorang pun yang bisa menjadi seorang ministri firman dengan kekuatan alamiahnya sendiri. Tidak peduli kita itu seperti apa. Selama kita percaya pada kekuatan alamiah diri kita, kita benar-benar tidak berguna. Hanya orang yang bodoh yang menyombongkan dirinya sendiri. Apa sih yang bisa kita sombongkan jika kita bahkan tidak bisa mengingat apa yang kita lihat kemarin? Kita mencoba mengingat apa yang sudah kita lihat kemarin, dan tetap tidak bisa mengingat apa pun. Tidak peduli berapa keras kita berusaha, ingatan kita masih membuat kita gagal. Untuk mendukung dan menyuplai perkataan yang di luar dengan perkataan wahyu, kita harus menjaga perkataan wahyu di dalam ingatan Roh Kudus. Hanya dengan cara demikian perkataan yang kita sampaikan akan menjadi perkataan yang ingin Tuhan sampaikan, dan perkataan kita akan menjadi sesuatu yang rohani tidak fisikal. Jika perkataan wahyu yang kita terima tidak kita simpan di dalam ingatan Roh Kudus, maka roh kita akan tenggelam saat kita berbicara.
Ketika Tuhan bekerja di dalam kita, sangat mudah bagi kita menjadi seorang minister firman. Tetapi ketika Tuhan tidak bekerja di dalam kita, tidak ada yang lebih sulit dibandingkan mengartikan ministri firman. Jika manusia kendur dan pelupa, dan jika dia tidak disiplin dalam pikirannya dan perkataannya, dia tidak berguna dalam ministri firman. Ada syarat-syarat yang sangat ketat untuk ministri firman Allah. Tuhan harus bekerja di atas diri kita sebelum Ia bisa memakai kita. Jika kita membiarkan diri kita santai sejenak, kita masih bisa melakukan hal yang lain, tetapi kita tidak akan bisa menjadi seorang minister firman. Kita harus meminta kasih karunia dari Tuhan. Kita harus meminta Dia memberikan kita ingatan dari Roh Kudus sehingga kita bisa mengingat perkataan yang telah kita lihat. Wahyu ada di dalam firman. Jika kita memiliki ingatan Roh Kudus di dalam kita, kita akan mengingat firman. Kita akan mengingat tidak hanya firman wahyu tetapi wahyu dari firman. Ketika kita menyuplai perkataan yang di luar dengan firman wahyu, kita akan mengetahui apa yang kita ketahui setelah kita membuka mulut kita. Ketika kita berbicara, kita tidak melihat hal-hal yang di dalam, kita menjadi panik. Kita bingung dan tidak tahu apa yang harus dikatakan. Saudara, kita harus mengakui pikiran yang pintar tidak bisa dipakai untuk tujuan ini.
INGATAN YANG DI LUAR
Selanjutnya, kita harus mempertimbangkan ingatan yang di luar. Terkadang Tuhan memakai pikiran kita yang di luar. Pada saat itu ingatan yang di luar menjadi sangat penting. Tetapi terkadang Tuhan tidak ingin memakai ingatan kita yang di luar. Pada saat itu pikiran yang di luar tidak berguna bagi-Nya. Mengapa pikiran kita terkadang perlu dan terkadang tidak? Saya tidak bisa menjelaskan hal ini; saya hanya bisa membuat pernyataan. Ini adalah fakta yang tidak bisa saya jelaskan. Terkadang kita mempunyai firman di batin; kita mempunyai firman wahyu Allah, dan kita juga memiliki ingatan dari Roh Kudus. Kita sangat jelas di batin, tetapi kita tetap perlu melatih ingatan kita sendiri. Roh Kudus mengingatkan kita akan perkara-perkara; Ia tidak menciptakan ingatan yang terpisah untuk kita. Ingatan Roh Kudus berarti Roh Kudus mengingatkan kita akan perkara-perkara. Yohanes 14:26 mengatakan, “Dialah…yang akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Roh Allah hidup di dalam kita. Ketika Ia memberikan kita wahyu, wahyu ini tetap hidup di dalam Roh Kudus. Ketika kita berbicara, Allah mungkin memberi kita dua kata. Dua kata ini merupakan kata kunci. Jika kita mengingat kata kunci ini, secara menakjubkan ingatan Roh Kudus akan tetap ada. Tetapi jika kita melupakan kedua kata ini, ingatan Roh Kudus juga akan hilang. Kadang-kadang saat Roh Kudus mengingatkan kita perkataan ini, kita tajut pikiran kita gagal, dan kita mencatat perkataan yang penting tersebut. Seringkali saat kita mengingatnya, gambaran di dalamnya muncul kembali, dan kita melihat wahyu itu sekali lagi. Hal ini menunjukkan bajwa Roh Kudus memakai pikiran luaran kita. Seringkali kita mencatat dengan tergesa-gesa beberapa kata, dan terkejut saat kata-kata itu membuat kita jelas di batin. Teapi kadang-kadang kita tidak jelas meskipun kita sudah melihat kata-kata itu. Selama waktu itu, sangat jelas bahwa Roh Kudus tidak menggunakan pikiran luaran kita.
Maka, kita bisa mengatakan bahwa ingatan luaran bisa berguna dan juga tidak berguna. Kadang-kadang Tuhan menunjukkan sesuatu kepada kita. Tetapi setelah sejangka waktu, hanya pikiran luaran kita yang tertinggal; di batin kita tidak melihat apa-apa. Tidak ada yang bisa kita lakukan mengenai hal ini. Di bawah lingkungan yang normal, kita harus mencatat kata-kata yang kita terima. Semakin banyak wahyu yang kita terima dari Allah, semakin kita perlu ingatan yang di luar. Semakin sedikit wahyu yang kita terima dari Allah, semakin sedikit kita perlu ingatan yang di luar. Semakin kuat ingatan batin kita di depan Tuha, semakin ingatan kuaran dan ingatan batin kita dimurnikan. Ketika ingatan luaran dan batin semakin dimurnikan, kita akan mempertahankan keduanya di dalam ingatan luaran kita sama seperti ingatan batin kita. Pada awalnya ingatan batin kita mungkin tidak cocok dengan ingatan luaran kita. Jangan putus asa. Perkara yang kita pertahankan secara luaran mungkin kadang-kadang bisa terlihat bagi kita dan kadang-kadang juga hilang. Tetapi seiring dengan pengalaman yang semakin maju, kita mendapati kedua ingatan ini semakin menjadi satu; ingatan ini akan bersatu menjadi satu ingatan. Kita akan menemukan bersamaan dengan ingatan yang di luar, juga ada ingatan yang di batin dari kata-kata itu. Inilah alasannya mengapa kita harus merendahkan diri kita di depan Tuhan. Kita harus banyak berdoa, menengadah kepada-Nya, dan siap sedia setiap waktu. Ketika kita jelas akan apa yang kita lihat, kita bisa mengutarakannya kepada orang lain. Kita harus selalu menjaga perkataan batin di dalam wahyu Roh Kudus sebelum kita mengutarakannya.
Kadang-kadang mungkin Anda memberikan khotbah yang hebat, dan setiap orang bertepu tangan untuk Anda. Tetapi di dalam Anda tahu bagaimana bagusnya khotbah itu sesungguhnya. Saat Anda berbicara, Anda tidak bisa mengingat akan hal yang membuat Anda terkesan. Ingatan yang di luar tidak sesuai dengan ingatan yang di batin. Anda mengatakan hal yang benar, tetapi wahyunya tidak ada; wahyunya hilang. Kita harus belajar pelajaran ini di depan Tuhan: seorang minister firman harus memiliki terang, pikiran yang batini, perkataan batini, dan perkataan luaran, dan ingatan Roh Kudus, sama seperti ingatan luaran. Ingatan Roh Kudus harus mendasari wahyu dan perkataan batini; ingatan ini harus siap menyuplaikan perkataan batini. Ingatan luaran harus ditempatkan antara perkataan batini dan perkataan luaran; ingatan ini harus siap menyuplaikan perkataan yang di luar.
Mari kita pertimbangkan ketiga langkah ini: terang, firman batini, dan perkataan yang di luar. (Karena sekaran kita akan mempertimbangan mengenai pikiran.) Ingatan Roh Kudus harus mendasari poin pertama dan kedua. Ingatan kita sendiri harus ditempatkan di antara poin kedua dan ketiga. Ingatan Roh Kudus harus ditempatkan di antara terang dan perkataan batini sehingga ingatan Roh Kudus bisa menyuplai perkataan batini dengan terang. Perkataan batini harus diberi makanan oleh terang Roh Kudus. Tanpa hal itu, perkataan batini akan mati; perkataan ini akan menjadi perkataan fisikal dan tidak lagi rohani. Ingatan Roh Kudus menyuplaikan perkataan batini dengan terang sehingga perkataan batini akan berlanjut dalam lingkungan terang. Kemudian kita harus memakai kata-kata kita sendiri yang kita dapatkan melalui melatih ingatan kita sendiri untuk menyuplai perkataan luaran dengan perkataan batini. Ketika hal ini terjadi kita memiliki perkataan.
Ketika melatih ingatan kita, kita harus ingat bahwa ingatan yang di luar tidak akan pernah bisa menggantikan fungsi ingatan yang batini. Faktanya, ingatan Roh Kudus tidak dipakai untuk ingatan yang luaran.
Hal lain yang harus kita ingat adalah seringkali ingatan yang di luar bisa menjadi pembawa ingatan Roh Kudus. Ingatan luaran tidak berkualifikasi untuk menggantikan ingatan Roh, tetapi ada kalanya bisa merusak ingatan Roh. Seringkali firman yang batini di dalam kita menerangi dan hidup, dan Roh Kudus mengingatkan kita akan terang ini. Tetapi, secara luaran, kita lupa beberapa kata penting. Pengutaraannya hilang, dan kita tidak bisa maju. Seringkali tidak ada masalah yang batini; masalahnya adalah faktor yang di luar. Kata-kata penting telah hilang, dan perkataannya pun hilang. Ketika kita semakin berpengalaman, kita menyadari bahwa ingatan kita memperlengkapi ingatan Roh, sementara pada waktu lain, ingatan kita menghalangi ingatan Roh. Ingatan Roh harus memakai ingatan kita. Roh tidak bisa memakai ingatan lain selain milik kita; Roh harus memakai ingatan kita. Misalnya kita sibuk dengan urusan luaran setiap saat dan tidak bisa mengingat banyak perkataan. Kita juga terlalu ceroboh dan dan kuatir. Meskipun Tuhan telah memberikan kita tiga atau lima kalimat, kita bisa lupa dan tidak bisa mengingat satu hal pun. Meskipun kita tidak bisa mengingat kata-kata ini, ternyata kita bisa berbicara selama satu jam. Namun cita rasanya telah hilang. Hal ini sangat serius. Inilah alasannya mengapa kita kadang-kadang harus mencatat wahyu yang kita terima dalam kata-kata. Kata-kata yang sedikit akan menyegarkan penglihatan, dan seluruh wahyu di dalam kita akan menjadi hidup lagi saat kita membacanya.
Setiap kali kita melayani sebagai seorang minister firman, Roh Kudus mungkin ingin mengatakan banyak hal. Kita tidak bisa menekankan satu bagian saat kita memperhatikan bagian yang lain. Contohnya, Roh Kudus mungking ingin mengatakan tiga hal, tetapi kita bisa kehilangan dua darinya. Dua hal yang hilang ini menjadi beban kita. Saat kita kehilangan satu hal saja, kita tidak bersyarat menjadi seorang minister firman. Di dalam satu wahyu, Allah mungkin perlu melepaskan lebih dari satu kata atau membahas lebih dari satu subjek. Dia mungkin membawa dua atau tiga subjek. Jika kita lupa atau melewatinya, kita akan merasa beban berat di atas diri kita. Itulah sebabnya, kita harus menulis tiga atau lima kata. Tiga atau lima kata ini menghasilkan lebih banyak makna daripada makna kata itu sendiri. Tuhan mungkin ingin kita menyebutkan tiga atau lima kata. Kita harus mencatat setiap hal itu sehingga tidak ada yang ketinggalan dan hilang. Jika kita kehilangan poin terakhir, kita mungkin bisa melanjutkan seluruh pembicaraan. Tetapi jika kehilangan poin pertama, seluruh sidang akan menjadi kacau.
Ministri firman merupakan perkara yang sangat serius. Kita jangan pernah menyingung Roh itu. Kita mungkin berpikir itu tidak menjadi masalah baik kita mengatakannya dengan baik atau tidak. Sepertinya kita bisa kehilangan satu aatau lima kalimat. Tidak! Jika kehilangan hal yang penting yang seharusnya kita lepaskan, kita akan merasa beban di dalam kita semakin berat. Jika kita kehilangan sesuatu, kita akan beban itu karena kita tidak mengutarakan apa yang Allah ingin kita sampaikan kepada anak-anak-Nya. Akibatnya, beban kita bertambah.
Seorang minister firman tidak seharusnya gagal. Kita harus ingat bahwa jika Tuhan ingin kita mengatakan tiga hal, kita harus mengatakan ketiganya. Jika Tuhan ingin kita mengatakan lima hal, kita harus mengatakan kelilma hal itu. Jka kita tidak bisa melepaskan semuanya, beban kita akan bertambah. Jika kita melepaskan semua hal lalu menyisakan satu hal saja, terang akan tertutupi dan kita semua akan merasa berat dan terikat. Inilah alasannya mengapa kita harus belajar melatih diri kita untuk memiliki ingatan yang baik di depan Tuhan. Kita harus melawan semua kegagalan dari ingatan kita. Semoga Tuhan memberi kita pemahaman yang jelas akan cara ministri firman. Ingatan luaran kita hanyalah budak ingatan Roh; hanya pembantu. Tetapi jika pembantu ini menjadi tidak berbuah, ingatan Roh tidak akan berfungsi dengan baik. Ingatan kita perlu diperbaharui sehingga bisa berguna bagi Roh itu. Setiap minister firman harus melalui penanggulangan yang tepat sebelum dia bisa berguna. Pikiran kita harus ditanggulangi sampai titik pikiran kita menjadi berguna. Pikiran dan ingatan sangat berkaitan dengan ministri firman. Ketika ingatan kita gagal, wahyu terkunci lalu mati.
INGATAN DALAM MENGUTIP ALKITAB
kita harus memperhatikan masalah mengutip Alkitab. Saat melepaskan firman Allah, kita harus mengikuti teladan Paulus yang mengutip Perjanjian Lama. Ketika kita berbicara pada satu subjek tertentu, kita harus mengutip dari Perjanjian Lama dan Baru. Saat membicarakan firman Allah, kita harus memiliki Alkitab sebagai dasar kita. Kita harus mendasari perkataan kita pada Perjanjian Lama sama seperti Perjanjian Baru. Tetapi masalah hari ini adalah: jika kita tidak berhati-hati, kita bisa disimpangkan dari Alkitab. Saat mengutip Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita bisa disimpangkan karena kutipan-kutipan itu. Kia bisa kehilangan tujuan yang ingin kita katakan dan ketika kita pulang ke rumah, beban kita menjadi semakin berat. Ini bukan masalah sederhana. Seringkali saat kita, kita tidak memiliki kendali atas pikiran kita. Mudah bagi kita berbicara dari bagian Perjanjian Lama atau bagian Perjanjian Baru dan kemudian menyimpang dari hal itu. Kita bertanya-tanya mengapa kita merasa semakin berat saat kita berbicara. Ketika kita pulang ke rumah, kita merasa bersalah; kita merasa telah menghabiskan waktu. Kita telah menjelaskan Alkitab dan menjelaskan doktrin, tetapi kita melepaskan beban yang diberikan Allah kepada kita. Itulah sebabnya, dalam pembicaraan kita, kita harus belajar mengecek ulang apakan beban itu sudah berkurang atau belum. Kita mungkin mengatakan ini dan itu, dan kita mungkin mengutip dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tetapi semua hal itu bertujuan membawa firman Allah. Kecuali ada firman Allah yang terbaru, tidak perlu kita mengatakan apa-apa. Jika kita tidak punya firman Allah yang terkini, kita akan berkumpul dan belajar Alkitab namun tidak memiliki perkataan yang khusus. Kita jangan puas dengan mengulang sesuatu dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru saja; kita harus melepaskan perkataan kita sendiri.
Ministri firman merupakan hal yang sangat subjektif. Kita harus mengatakan firman Allah yang sudah pernah ada, dan kita harus mengatakan firman Allah yang terkini. Kita jangan hanya mengucapkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; kita harus kembali pada perkataan ktia sendiri. Kita bisa mengatakan sesuatu melalui Perjanjian Lama, dan kita bisa mengatakan sesuatu melalui Perjanjian Baru. Tetapi kita juga harus mengatakan apa yang perlu kita katakan. Perkataan kita harus kuat dan kaya. Kita harus melepaskan apa yang ingin kita katakan kalimat per kalimat. Saat setiap kalimat dilepaskan, kita menjamah titik yang tepat, dan semakin banyak hayat yang dilepaskan. Beban kita semakin berkurang, dan benar-benar hilag saat kita selesai berbicara. Kita mungkin merasa perkataan kita sedikit, teapi beban kita berkurang; kita telah melakukan apa yang perlu kita lakukan. Setelah itu, kita akan melihat buah di atas diri orang lain. Satu hal yang pasti: saat beban berkurang, anak-anak Allah akan melihat terang. Jika mereka tidak melihat terang, itu urusan mereka bukan kita. Teatpi jika kita tidak bisa melepaskan beban, masalahnya ada pada kita, bukan mereka.
Kita harus menyadari di depan Tuhan bahwa seorang minister firman harus selalu berbeban dengan perkataan. Berbicara bertujuan melepaskan beban. Untuk hal itu, kita harus memiliki ingatan Roh. Tanpa ingatan Roh, kita tidak bisa melepaskan beban kita. Meskipun ketika ingatan Roh itu segar, kita harus tetap berhati-hati agar tidak disimpangkan dari kebenaran Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita harus selalu ingat bahwa beban kita adalah membawakan firman Allah yang terkini kepada manusia. Kita jangan hanya menjelaskan Alkitab, dan melupakan apa yang seharusnya kita lakukan. Jika kita lupa perkataan yang seharusnya kita katakan, kita akan menyadari ternyata kita belum mengatakan hal yang penting meskipun kita sudah mengatakan semua hal. Sangat mungkin terjadi itu adalah penghalang dari Iblis. Dalam kasus yang lain, pikiran kita harus kaya, dan ingatan kita harus kaya. Kita harus kaya dalam segala sesuatu sebelum kita bisa melepaskan beban kita melalui perkataan kita.