FIRMAN DAN PERASAAN KITA
Dalam bab sebelumnya kita telah mengatakan bahwa seorang minister firman memerlukan empat hal. Kedua dari hal itu adalah terang dan perkataan batini yang berasal dari Allah, sedangkan dua yang lainnya adalah pikiran dan ingatan yang berasal dari minister itu. sebelum seorang minister firman membuka mulutnya untuk berbicara, ia perlu memiliki dua hal dari dirinya—pikiran dan ingatannya. Tetapi ini belum semuanya. Saat ia sedang berbicara, dia juga perlu dua hal lagi—perasaan yang tepat dan roh yang tepat.
ROH DILEPASKAN MELALUI PERASAAN
Ketika membaca Alkitab, kita menemukan satu ciri khas dari semua kitab: perasaan mereka tidak pernah menjadi selubung bagi mereka dalam ministri firman yang mereka kerjakan. Dalam pembicaraan mereka, mereka mengekspresikan perasaan mereka. Kita harus menyadari saat membebaskan roh, kita seringkali dipengaruhi oleh perasaan kita. Jika perasaan manusia tidak bisa diekspresikan, rohnya tidak bisa dibebaskan. Tidak peduli roh manusia dibebaskan sedikit atau banyak tetap saja mempengaruhi tekad dan pikiran. Jadi sangat erat kaitannya dengan perasaan. Roh diekspresikan sepenunya melalui perasaan kita. Ketika perasaan kita menjadi selubung, maka roh pun seperti terblokir. Ketika perasaan kita dingin, roh menjadi dingin. Ketika perasaan kita kering, roh pun menjadi kering. Ketika perasaan kita tenang, roh pun tenang.
Mengapa anak-anak Allah sering mencampur masalah roh dengan perasaan? Anak-anak Allah bisa membedakan roh dari tekad karena ada perbedaan yang mencolok antara keduanya. Mereka bisa membedakan roh dari pikiran karena perbedaan ini juga sangat kentara. Tetapi tidak mudah membedakan roh dari perasaan. Sangat mudah membedakan keduanya karena roh tidak mengalir secara independen, tetapi membawa perasaan di dalamnya. Roh tidak mengekspresikan dirinya sendiri melalui pikiran atau tekad tetapi melalui perasaan. Inilah alasannya mengapa banyak orang sulit membedakan roh dan perasaan. Meskipun keduanya berbeda, roh tidak pernah diekspresikan melalui perasaan. Lampu merupakan tempat listrik diekspresikan. Meskipun listrik dan lampu merupakan dua hal yang berbeda, namun keduanya tidak bisa dipisahkan. Sama halnya, roh dan perasaan merupakan dua hal yang berbeda, namun yang pertama diekspresikan melalui yang terakhir. Karena alasan itulah kita tidak bisa memisahkan roh dari perasaan. Tetapi ini tidak berarti roh adalah perasaan maupun sebaliknya. Bagi mereka yang tidak pernah belajar pelajaran rohani, mereka mengatakan roh dan perasaan itu satu dan sama. Ini sama seperti anggapan beberapa orang yang mengatakan listik itu sama dengan lampu. Kenyataannya, listrik dan lampu merupakan dua hal yang benar-benar berbeda. Ketika seorang minister firman berbicara, rohnya harus dibebaskan. Tetapi membebaskan roh sangat berkaitan dengan perasaannya. Jika perasaannya tidak tepat, maka rohnya tidak bisa dibebaskan. Listrik di pusat pembangkit listrik mungkin sangat kuat, tetapi tanpa lampu tidak akan ada terang yang bisa dilihat. Demikian juga, tidak peduli roh kita bagaimana luar biasanya, roh kita akan terganggu jika perasaan kita miskin. Roh dibebaskan melalui perasaan. Supaya roh para minister firman ini dibebaskan, roh ini harus memiliki perasaan yang tepat untuk mengekspresikan dirinya. Jika perasaan tidak menaati roh atau mengikuti perintahnya, maka roh akan terhalangi. Untuk membebaskan roh, manusia harus memiliki perasaan yang tepat. Sekarang, mari kita melihat seperti apakah perasaan yang tepat itu.
Manusia memiliki tekad, tetapi tekad merupakan bagian yang paling keras yang ia miliki. Manusia juga memiliki pikiran, yang lebih halus daripada tekad, tetapi pikiran juga masih kasar. Manusia juga memiliki perasaan, yang merupakan bagian yang paling lembut. Ketika manusia memutuskan sesuatu, ia mungkin melakukannya dengan cara tertentu. Meskipun manusia mampu berpikir, pikirannya tidak perlu dimurnikan. Tetapi dalam emosi dan perasaan manusia, kita bisa menemukan bagian yang lembut dan halus. Dalam Perjanjian Lama, terutama dalam kitab Kidung Agung, bagian manusia yang paling halus dilambangkan oleh wangi-wangian. Wangi-wangian hanya bisa dideteksi oleh hidung, dan organ penciuman memilliki fungsi yang sangat lembut. Aroma wangi-wangian melambangkan perasaan yang sangat halus. Alkitab menggunakan hidung sebagai lambang perasaan. Meskipun perasaan manusia itu lembut tetapi tidak semua perasaan bisa digunakan.
Seorang minister firman harus menggunakan perasaannya. Setiap kali ia berbicara, ia harus meletakan perasaannya ke dalam perkataan yang ia ucapkan. Tanpa hal ini, perkataannya menjadi mati. Sebelum seorang minister firman membuka mulutnya, ia harus memiliki ingatan dan pikiran. Tetapi setelah ia membukan mulutnya, ia pertama-tama harus memiliki perasaan. Jika perasaannya tidak bisa cocok dengan perasaannya, perkataannya tidak terhitung apa-apa.
Tuhan Yesus pernah memberikan perumpamaan mengenai hal ini kepada murid-murid-Nya dengan mengatakan, “Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung” (Mat. 11:16-17). Jika manusia memiliki perasaan, ia akan menari ketika orang lain meniup seruling dan akan berkabung jika orang lain menyanyikan kidung duka. Dengan kata lain, seorang minister firman tidak bisa mengatakan sesuatu hal sedangkan perasaannya merasakan hal yang berbeda. Ini membuat seseorang tidak bersyarat berbicara bagi Tuhan. Kita tidak bisa mengatakan berduka tanpa perasaan duka. Jika kita tidak memiliki perasaan duka, kita tidak bisa menjadi minister firman mengenai berduka. Perasaan yang kita ucapkan bukan suatu penampilan belaka. Setiap penampilan pura-pura dari suatu perasaan merupakan imitasi; ini seperti bermain drama. Seorang minister firman seharusnya tidak berpura-pura dalam perkataannya. Ketika seorang minister firman berbicara, ia harus dipenuhi perasaan untuk perkataan yang ia ucapkan. Setiap perkataannya harus penuh perasaan. Jika perkataannya mengenai kesulitan, ia pun harus merasa kesulitan. Ketika roh bersedih, perasaan pun harus demikian. Ketika ada firman yang gembira, ia pun harus gembira. Ketika roh bersukacita, ia pun harus memiliki perasaan sukacita.
Kita harus ingat bahwa tidak cukup hanya melepaskan firman; roh pun harus dibebaskan. Akan tetapi, ketika roh dibebaskan, roh pun menyingkapkan perasaan kita juga. Itulah sebabnya, jika perasaan kita tidak memenuhi standar, perkataan kita akan kekurangan roh. Ketika perasaan kita terlalu kasar, maka perasaan kita tidak berguna dalam hal melepaskan firman. Perasaan merupakan bagian yang paling halus dari manusia. Jika perasaan kita kasar dan tidak sensitif, kita tidak bisa menggunakannya, dan perkataan kita tidak akan ada rohnya. Apa pun perkataan yang kita ucapkan, kita harus memiliki roh yang sesuai dengan perkataan itu. Jika roh berbeda dari perkataan, keduanya tidak bisa sesuai, dan perkataannya akan dirugikan. Perkataannya tidak akan menghasilkan apa pun kecuali kegagalan. Ketika kita melepaskan beberapa kata yang khusus, kita harus menjelaskan roh yang sama. Dengan kata lain, kita perlu roh yang tepat untuk perkataan yang tepat. Kita tidak bisa mengatakan satu kata sedangkan rohnya berbeda. Tidak ada yang bisa menjadi seorang minister dengan cara ini. Jenis roh yang kita miliki harus sesuai dengan perkataan yang kita utarakan. Tetapi ketika roh dibebaskan, roh tidak bisa mengekspresikan dirinya sendiri; roh dibarengi oleh perasaan. Jika perasaan kita tidak bisa dipakai, atau jika perasaan kita menghadapi arah yang berbeda dari roh kita, maka roh tidak bisa melakukan apa-apa. Maka, roh kita harus sesuai dengan firman Allah, dan perasaan kita pun harus sesuai dengan firman Allah.
PERASAAN DIBEBASKAN
BERSAMA DENGAN FIRMAN
Ketika seorang ministerf firman berbicara, tidak cukup jika ia hanya melepaskan firman. Jika hal-hal yang sudah disebutkan sebelumnya tidak ditanggulangi, tidak akan terjadi apa-apa meskipun ia memiliki terang, pikiran, dan firman batini, ingatan, dan perkataan luaran; semuanya akan sia-sia. Akan ada masalah besar jika perasaan kita berbeda dengan perasaan dalam firman Allah. Hari ini kita seharusnya tidak mencoba menyentuh perasaan Alkitab secara luaran. Sebaliknya, kita harus berbicara dengan perasaan kita ketika kita melatih diri kita untuk berbicara dari Alkitab. Firman Allah mengandung perasaan Allah, dan Ia ingin kita memiliki perasaan yang sama. Ketika kita berbicara, perasaan kita harus sesuai dengan perkataan kita. Perasaan kita harus tercermin dalam perkataan kita. Hanya dengan cara itu perasaan kita menjamah pendengar. Dengan kata lain, ketika kita berbicara dengan perasaan kita, Roh Kudus mencapai orang lain melalui perasaan kita.
Apakah masalah hari ini? Masalahnya adalah beberapa orang memiliki wahyu dan firman, tetapi mereka tidak memiliki buah. Mengapa beberapa orang memiliki wahyu dan firman tetapi tidak ada buah? Satu-satunya penjelasan adalah roh mereka tidak dibebaskan, dan roh mereka tidak dibebaskan karena perasaan mereka tidak dilepaskan. Ketika perasaan mereka tidak dibebaskan, Roh Kudus tidak memiliki saluran untuk membebaskan dirinya. Maka, meskipun kita memiliki terang dan firman, kita masih bisa tidak berbuah jika perasaan kita tidak ikut serta. Kita harus ingat bahwa perasaan diperlukan untuk melepaskan firman. Kita harus memiliki terang, pikiran, dan firman batini, ingatan, dan perkataan yang di luar. Tetapi ketika kita berbicara, kita juga harus memiliki perasaan. Roh Kudus menjamah manusia melalui perasaan. Tentu saja, mencoba menjamah orang lain hanya dengan perasaan saja seperti melakukan drama. Hal itu hanya menyingkapkan kematian; bukan ministry firman. kita bisa menjamah orang lain dengan perasaan kita karena roh kita dengan Roh Kudus bekerja sama. Dengan kata lain, perasaan kita harus sesuai dengan perkataan kita sebelum keduanya bisa dibebaskan dengan kekuatan. Dengan demikian Roh Kudus akan bekerja di atas diri orang lain ketika firman itu dilepaskan. Hal yang paling merusak adalah ketika halangan yang kita hadapi pertama dalam diri kita adalah perasaan kita.
Ketika beberapa saudara berdiri berbicara, hal pertama yang mereka harus hadapi adalah diri mereka sendiri. Lalu mereka berusaha keras melepaskan apa yang ingin mereka katakan. Tetapi mereka memiliki satu masalah, perkataan mereka sepertinya tidak berkembang. Sepertinya ada kesulitan; perkataannya tidak mudah dilepaskan. Firman tidak mendapatkan saluran yang tepat untuk pelepasannya. Halangan terbesar disebabkan oleh diri mereka. Ketika mereka berbicara kepada saudara-saudara mengenai kasih Tuhan, mereka sama sekali tidak merasakan kasih Tuhan. Perasaan demikian tidak ada di dalam diri mereka. Tidak peduli mereka melihat kasih Tuhan atau tidak, tetapi masalahnya adalah apakah mereka merasakan dan memiliki kasih Tuhan sebagai perkataan mereka atau tidak. Seorang saudara mungkin telah melihat kenajisan dosa, tetapi ketika mereka berdiri berbicara, dia mungkin tidak merasakan kenajisan dosa. Perkataan dan perasaannya tidak sesuai. Dia kekurangan perasaan yang tepat. Ketika seorang saudara berdiri berbicara mengenai penyesalan pertobatan, tetapi dia tidak memiliki penyesalan demikian, perkataannya tidak dilepaskan dengan cara yang tepat. Jika dia tidak memiliki perasaan akan hal itu, pendengarnya pasti tidak akan memiliki perasaan itu juga. Kita meministrikan firman kepada orang lain karena mereka tidak memiliki perasaan, pikiran, dan terang. Kita telah melihat kenajisan dosa, teapi mereka belum melilhatnya. Jika kita ingin mereka melihat kenjisan dosa, kita harus memiliki perasaan itu ketika kita berbicara. Hanya dengan cara itulah perkataan kenajisan dosa bisa mempengaruhi mereka, dan hanya dengan cara itulah perkataan kita menyingkapkan perasaan yang tepat kepada mereka. Kita harus menjamah perasaan mereka, dan kita harus berbicara sampai mereka melihat hal yang sama seperti kita lihat. Jika kita kekurangan perasaan dan perasaan kita tidak bisa dipakai, maka perasaan orang lain pun tidak akan terpengaruh. George Whitefield pernah mengatakan sesuatu mengenai neraka. Suatu hari ketika ia berbicara mengenai neraka, pendengarnya berpengangan pada tiang-tian karena mereka takut jatuh ke dalam neraka. Perkataannya mengenai neraka sungguh penuh perasaan. Sepertinya neraka menganga terhadap orang-orang berdosa di depan mata mereka. Karena ia berbicara dengan perasaan yang kuat, rohnya ada bersama dengan perkataannya, dan Roh Kudus pun mengalir bersama. Inilah alasannya mengapa para pendengarnya begitu terjamah sehingga mereka berpenggangan pada tiang-tiang karena takut jatuh ke neraka.
Jika manusia ceroboh dengan perkataannya, ia tidak akan dibingungkan oleh batasan perasaannya. Ia tidak akan menyadaari bahwa perkataannya sia-sia dan perkataannya tidak berguna. Jika kita serius ingin menjadi seorang minister firman dan serius berbicara kepada para pendengar, kita akan mendapatkan perasaan kita seringkali tidak tepat. Kita akan menyadari bahwa hal yang paling menghalangi adalah perasaan kita. Rintangan ini sungguh merusak kita. kita mungkin hari ini perlu mengatakan satu kata yang kuat hari ini, tetapi semakin kita berbicara, kita merasa semakin lemah; perasaan kita tidak bisa sesuai dengan perkataan kita. perkataan kita keras, tetapi tidak demikian halnya dengan perasaan kita. semakin kita berbicara, semakin kedengarannya tidak serius. Perasaan kita tidak bisa mengikuti perkataan kita, dan yang tersisa hanyalah suatu teriakan. Banyak saudara-saudara hanya mengetahui bagaimana berteriak; akan tetapi teriakan mereka bukan untuk orang lain melainkan diri mereka sendiri. Mereka tidak bisa melakukan hal yang lain, maka mereka berteriak. Ketika mereka berteriak, orang lain segera merasa bahwa mereka kekurangan perasaan. Ketika banyak orang berbicara, setengah dari tenaga mereka dibuang untuk bergumul dengan diri mereka sendiri. Mereka menghabiskan setengah dari tenaga mereka bergumul karena mereka perasaan mereka miskin. Mereka harus berbicara sampai mereka memiliki perasaan. Mereka harus berbicara sampai mereka sampai pada level yang diinginkan sebelum mereka bisa menyajikan perkataan yang sama kepada orang lain. Perkataan mereka harus disampaikan kepada orang lain karena mereka adalah pembawa firman. Sungguh merupakan masalah yang serius ketika beberapa saudara berdiri di atas mimbar dan mereka ternyata membawa perkataan mereka sendiri. Mereka ingin menyampaikan firman Allah kepada orang lain, tetapi mereka tidak mempunyai perasaan di hadapan Allah. Perasaan mereka tidak sesuai dengan perkataan mereka. Hasilnya, perkataan mereka terhalangi.
Kita harus melihat bahwa seorang minister firman harus mempunyai perasaan yang bisa dipakai. Jika tidak ada, ia tidak bersyarat menjadi seorang minister firman. Jika perasaannya tidak tepat, perkataannya tidak bisa dilepaskan; perkataannya terhalangi. Hal ini sangat serius. Ini pun merupakan sumber masalah. Kita memiliki firman, tetapi perasaan kita berbeda dari firman. Kita harus keseriusan firman, tetapi perasaan kita tidak sesuai dengan keseriusan itu. Ketika firman dilepaskan, perasaan kita harus dilepaskan pada waktu bersamaan. Tetapi ternyata kita tidak ada perasaan. Jika seseorang berbicara tanpa perasaan apa pun, tidak akan ada yang percaya kepadanya. Usahanya akan sia-sia sekalipun dia berteriak-teriak. Ketika ia berbicara, ia tidak merasakan yang ia katakan. Faktanya, ia malahan melihat seluruh latihannya memusingkan; ia mungkin merasa sedang bersandiwara. Bagaimana mungkin mengharapkan orang percaya pada perkataannya? Kita hanya bisa berharap orang lain mempercayai perkataan kita jika kita percaya akan firman itu dan mempunyai perasaan akan hal itu. Jika semakin kita bicara, kita menjadi semakin dingin dan tidak nyaman, dan jika kita merasa perasaan kita tidak sesuai dengan perkataan kita, kita bisa dengan pasti mengatakan bahwa roh kita belum dibebaskan, Roh Kudus belum dilepaskan, dan perkataan kita tidak ada kuasa.
PERKEMBANG-BIAKAN PERASAAN YANG LEMBUT
Kita jangan hanya mengetahui bagaimana menerapkan perasaan kita. Kita juga harus tahu bagaimana memperlengkapi perasaan kita supaya tepat dan bisa dipakai. Hal ini menuntun kita pada pengalaman kita sebelumnya, yaitu peremukan manusia lahiriah. Dalam pembahasan sebelumnya mengenai minister sebagai seorang persona, kita telah memperhatikan perkara remuknya manusia lahiriah. Jika manusia lahiriah tidak diremukan, firman Tuhan tidak bisa dibebaskan. Jika manusia lahiriah tidak pernah diremukan, dirinya tidak akan bisa dipakai oleh Tuhan. Kita harus mengulangi bagian ini. Kita perlu melihat bagaimana Tuhan meremukkan manusia lahiriah kita dan bagaimana Ia menyiapkan perasaan kita untuk ministri firman.
Allah menanggulangi manusia dengan cara mengatur berbagai lingkungan untuk menekan dia. Penekanan ini menyebabkan luka dan sakit. Ketika manusia menerima luka dan sakit, perasaannya dilukai, dan akhirnya akan semakin lembut. Perasaan manusia merupakan bagian yang paling lembut dari manusia lahiriahnya; bagian ini lebih lembut dibandingkan tekad dan pikiran. Namun kelembutan ini pun tidak cukup bagi Allah. Tidak cukup lembut untuk memuaskan permintaan firman Allah. Agar firman Allah bisa dilepaskan melalui kita, kita harus penuh perasaan terhadap firman-Nya. Agar Allah memakai kita sebagai minister firman, perasaan kita harus sesuai dengan perasaan firman. Perasaan setiap minister firman harus sesuai dengan firman yang ia ministrikan. Setiap minister firman harus diperlengkapi dengan perasaan-perasaan yang dikehendaki firman. perasaan akan firman harus cukup kaya. Seorang pembicara harus memiliki perasaan bahwa ketika firman Allah dilepaskan, personanya juga turut dibebaskan. Jika tidak, firman tidak akan memiliki kuasa di atas diri orang lain, dan tidak akan ada kekuatan di dalam diri si pembicara.
Setelah melewati penanggulangan Allah, ia menyadari betapa kasar perasaannya di mata Allah. Meskipun perasaannya merupakan bagian yang paling lembut dari diri seseorang, perasaan ini tetap kasar dan tidak berguna di mata Allah. Jika perasaan kita tidak cukup lembut ketika firman Allah dilepaskan melalui mulut kita, kita akan mendapati ternyata ada firman yang diliputi perasaan sedangkan ada juga yang firman yang tanpa perasaan. Dalam ilustrasi melukis, seorang pelukis harus mencampurkan warna-warna dengan baik. Jika campurannya kurang tepat, beberapa bagian akan jelek. Jika campuran warnanya pas, seluruh bagian akan tertutup dengan baik. Inilah perasaan yang benar dari seorang minister firman. Mereka yang perasaannya kasar akan kehilangan sasaran setelah bicara delapan sampai sepuluh kalimat. Mereka yang perasaannya lembut akan sesuai dengan setiap firman. Dalam Alkitab, hayat Tuhan dilambangkan oleh tepung halus. Ini artinya Tuhan sangat halus dalam perasaan-Nya. Sungguh menakutkan ketika ada seorang saudara bicara tanpa memiliki perasaan. Perasaan mereka tida bisa dipakai. Perasaan mereka tidak sesuai dengan perkataan mereka; mereka tidak cukup halus. Perasaan mereka sulit diekspresikan dalam satu atau dua kalimat. Kita harus ingat bahwa perasaan yang tidak halus mengurangi pelepasan firman Allah.
Kita perlu Tuhan bekerja di dalam kita sampai perasaan kita halus dan lembut. Kita harus diremukan sebelum perasaan kita bisa lembut di depan Tuhan. Dalam Alkitan kita menemukan penulis-penulis Alkitab tidak hanya penuh pengalaman hayat dan pemikiran dari Roh Kudus tetapi juga penuh perasaan. Minister firman dalam Alkitab melepaskan perkataan mereka dengan penuh perasaan akan firman. Hari ini dalam melayani sebagai minister firman. kita harus melepaskan firman dengan perasaan. Jika perasaan kita tidak sesuai dengan perkataan kita, para pendengar tidak akan menganggap serius perkataan kita. Jika tangan Allah tidak pernah menjamah kita dan meremukkan manusia lahiriah kita, perasaan kita tidak akan lembut di mata Allah; kita tidak memiliki luka atau sakit apa pun. Jika kita sangat sensitif dalan suatu perkara, itu artinya kita memiliki luka dan sakit dalam hal itu. Butir gandum harus digiling sebelum bisa menjadi tepung halus. Kita harus mempunyai luka dan sakit sebelum perasaan kita bisa lembut. Semakin banyak luka dan sakit yang kita terima, kita menjadi semakin lembut. Ketika tekanan di terapkan, satu butir gandum diperluas menjadi tiga, lima, tujuh, atau bahkan seratus. Perasaan menjadi semakin halus. Kita jangan berharap menjadi halus di dalam perasaa kita jika kita tidak mengalami luka atau darah dari Allah. Tidak ada hal seperti itu. Kita harus memiliki luka, dan kita harus melewati penderitaan.
Setelah kita menjamah beberapa saudara, kita tahu ternyata pekerjaan Tuhan tidak cukup dalam di dalam diri mereka. Jika ada seorang saudara didisiplinkan dan telah belajar berjalan dengan tepat, ada kemajuan dalam sikapnya, dan ia juga ada kemajuan dalam mempelajari Alkitab, tetapi ia gagal dalam menjadi lembut dalam perasaannya, ia telah kehilangan sesuau di depan Tuhan; masih ada bagian dirinya yang belum bisa dipakai Allah. Tidak peduli luaran seseorang itu telah berubah berapa banyak dan tidak peduli berapa banyak terang yang ia lihat, latihannya masih terlalu luaran dan dangkal jika ia kekurangan perasaan. Ketika seseorang menjamah pekerjaan salib Tuhan, seluruh dirinya telah diremukkan. Tekadnya tidak lagi keras kepala, kesombonganny tidak ada lagi. Tekadnya diremukan dan pikirannya yang sombong ditundukkan. Pada waktu yang sama, perasaannya menjadi semakin halus. Tuhan bisa menanggulangi tekad seseorang dengan satu terang yang besar. Seseorang mungkin berpikir ia pandai dan mampu, dan Tuhan bisa meruntuhkan pikirannya yang sombong dalam satu terang yang bersinar. Akan tetapi, perasaan tidak bisa ditanggulangi lewat satu terang saja. Kelembutan perasaan seseorang merupakan hasil sejumlah penanggulangan. Perasaan seseorang tidak akan menjadi lembut sampai ia melewati beberapa lingkungan khusus. Jika kita ceroboh dalam beberapa hal khusus, Tuhan akan mengatur satu situasi demi satu situasi untuk menanggulangi kita. Setelah satu situasi lewat, datang lagi situasi yang lain. Setelah sejangka waktu, kita semakin digiling dan ditekan seperti dalam penggilingan. Akhirnya, kita menjadi tepung yang halus.
Di hadapan Tuhan kita perlu roh yang terluka. Apakah roh yang terluka? Karena roh itu diekspresikan melalui perasaan, roh yang terluka artinya mempunyai perasaan yang telah dilukai. Tuhan menghendaki kita hidup dengan roh yang terluka; Ia ingin perasaan kita halus dan lembut, kelembutan ini tidak ada di dalam kita; kita mendapatkannya melalui penderitaan. Tuhan ingin kita hidup dalam roh yang terluka, yang artinya Ia ingin kita memiliki perasaan yang telah menderita. Kita harus diremukan oleh Tuhan sehingga perasaan mengenai hajaran-Nya segar di dalam kita, dan pendisiplinannya segar di dalam ingatan kita. Tuhan harus bekerja di atas kita sampai kita takut dan gentar di dalam perasaan kita, sehingga ktia tidak lagi berani sombong atau malas. Setiap kali Tuhan bekerja di dalam kita, menghajar kita, dan menanggulangi kita, perasaan kita menjadi semakin halus dan semakin sensitif. Ini merupakan pelajaran terdalam dalam peremukan manusia lahiriah kita. Peremukan perasaan mungkin tidak sedrastis permukan tekad dan pikiran, tetapi justru peremukan ini semakin dalam.
Jika kita hidup dalam roh yang menderita dan ada luka di dalam kita, kita akan merasakan sakit. Rasa sakit ini akan membuat kita takut; perasaan kita akan diperhalus melalui rasa sakit ini. Saat kita ditanggulangi terus menerus, kita menjadi bahagia ketika hati kita bahagia dan akan sedih saat hati kita sedih. Ketika firman Allah datang pada kita, kita akan merasakan perasaan firman, dan perasaan kita akan sesuai dengan firman. Hal ini sangat mulia. Tujuan pendisiplinan adalah membuat kita sesuai dengan firman Allah. Ketika Ia berbicara atau menyatakan kehendak-Nya lagi, perasaan kita akan sesuai dengan perasaan-Nya. Tuhan sedang mendisiplinkan kita. Ia terus-menerus mencoba sampai kita memiliki luka dalam tubuh kita. Kita awalnya kasar dn tidak peka, tetapi setelah didisiplinkan, kita mulai ada perasaan. Setelah firman Allah datang, kita merasakan sesuatu. Segera setelah Ia bergerak, kita peka akan hal itu. Sedikitnya selama sejangka waktu setelah pendisiplinan baru kita bisa sesuai dengan firman Allah. Saat Tuhan menambahkan pendisiplinan-Nya di dalam kita, kita diremukkan, dan perasaan kita bisa sesuai dengan standar-Nya. Seorang minister firman di dalam perasaannya harus mencapai standar firman Tuhan. Setelah kita melewati pendisiplinan di dalam perasaan kita, kita menemukan satu hal yang menarik: kita tidak hanya mengutarakan firman Allah, tetapi kita juga merasakan firman-Nya.
Apa yang kita rasakan di batin akan terekspresi keluar. Petrus “dengan suara nyaring” berbicara pada hari Pentakosta (Kis. 2:14). Ia menyaringkan suaranya karena perasaannya sangat kuat. Saya takut beberapa dari kita tidak pernah menyaringkan suara kita ketika sedang berbicara. Satu-satunya penjelasan adalah perasaan kita tidak cukup kuat. Petrus penuh perasaan saat berbicara, dank arena perasaannya begitu kuat, dia bisamenyaringkan suaranya ketika berbicara. Firman Tuhan ada perasaan di dalamnya, dan tidak keluar seperti mesin pendikte. Firman hanya keluar saat ada perasaan yang kuat. Paulus mendorong gereja di Korintus “melalui banyak air mata” (2 Kor. 2:4). Saya takut banyak orang tidak pernah mencucurkan air mata dalam khotbah mereka karena perasaan mereka terlalu miskin. Menyaringkan suara dan mencucurkan air mata bukan perkara besar bagi mereka. Tetapi jika seseorang tidak pernah menyaringkan suaranya atau mencucurkan air mata, bisa dipastikan ada sesuatu yang salah. Menyaringkan suara dan mencucurkan air mata bukanlah hal spesial. Tetapi jika tidak pernah melakukannya pasti ada sesuatu yang salah; orang demikian perasaannya pasti belum pernah diremukkan oleh Tuhan. Jika perasaan manusia telah dihancurkan, ia akan sukacita ketika firman Allah menyuruhnya bersukacita dan akan menangis ketika firman Allah menyuruhnya menangis. Ini bukan suatu sandiwara. Jangan mencoba bersandiwara. Jika ada sandiwara, orang yang berpengalaman akan segera melihat kepura-puraan itu. Kita jangan pernah berpura-pura. Kepura-puraan bisa merusak firman Allah. Apa yang kami maksudkan adalah kita harus memiliki perasaan yang tepat. Kita harus mempunyai perasaan yang sama seperti firman Allah. Sukacita dan dukacita merupakan contoh yang bertentangan. Ketika Alkitab menyebutkan sukacita, reaksi yang tepat adalah kita harus bersukacita, dan ketika Alkitab menyebutkan berduka, aka reaksi kita haruslah meratap. Beberapa orang begitu terbelenggu oleh diri mereka sehingga mereka begitu dingin. Mereka tidak bersukacita ketika orang lain meniup seruling, dan mereka tidak berduka ketika ada yang menangis. Perasaan mereka tidak bisa memenuhi keperluan itu, dan firman Allah rusak karena mereka.
Mengapa banyak orang yang perasaannya tidak bisa dipakai sama sekali? Mengapa Tuhan membawa mereka melalui banyak pengalaman? Hal itu disebabkan karena akar perasaan manusia bersumber dalam diri manusia itu sendiri. Masalah perasaan berbeda dari masalah tekad dan pikiran. Masalah dengan tekad dan pikiran itu lebih rumit. Sedangkan masalah dengan perasaan adalah karena perasaan itu mengitari orang tersebut. Banyak orang menghabiskan perasaan mereka pada diri mereka sendiri. Mereka mengasihani diri mereka sendiri. Jika ada orang yang menghabiskan seluruh perasaannya pada dirinya, ia tidak akan memiliki perasaan untuk orang lain. Beberapa saudara begitu bebal dan tidak peka terhadap segala sesuatu; mereka ingin terlihat berbeda dari orang lain. Tetapi mereka tidak peka dan tidak berbeda terhadap diri mereka sendiri. Seorang saudara bisa begitu kasar terhadap saudara yang lain, tetapi jika ada yang kasar terhadap dirinya, ia akan tersinggung. Saudara seperti ini pasti menggunakan perasaannya untuk dirinya sendiri. Ia mengasihi dirinya dan hanya memperhatikan dirinya. Ketika ia menderita, ia merasakannya. Ketika ia ada masalah, ia menangis, tetapi ia tidak ada perasaan ketika orang lain ada masalah. Saudara, jika Tuhan tidak menaklukkan perasaan kita, kita tidak akan berguna dalam ministri firman. Tuhan selalu meletakkan tangan-Nya atas kita melalui pendisiplinan Roh Kudus dengan tujuan mengarahkan perasaan kita peka terhadap orang lain. Kita perlu mengarahkan seluruh perasaan kita pada pelayanan ministri firman. kita tidak ada waktu hanya memperhatikan perasaan kita sendiri. Perasaan kita harus lembut setiap waktu. Ketika perasaan kita letih, perasaan kita menjadi tidak berguna. Banyak orang terobsesi dengan dirinya; mereka mengaggap dirinya sebagai pusat alam semesta. Seluruh perasaan mereka berputar pada diri mereka sendiri. Allah harus membawa mereka keluar dari cangkang mereka. Kita tidak akan mempunyai suplai perasaan yang tidak terbatas. Jika kita menghabiskan perasaan kita, kita tidak akan bisa menjadi seorang minister firman Allah. Allah harus mendisiplinkan kita dan menanggulangi kita sehingga kita tidak mempunyai perasaan untuk diri kita sendiri dan perasaan kita menjadi semakin lembut. Dasar perasaan itu bisa lembut adalah bebas dari pusat diri sendiri. Tuhan harus meremukkan perasaan kita sehingga kita tidak lagi menjadi orang yang berpusat pada diri sendiri. Semakin kita digiling dan semakin halus, perasaan kita akan semakin berguna.
Seorang minister firman harus memiliki perasaan yang halus dan kaya sebelum Allah bisa memakai mereka. Kita harus ingat bahwa perkataan kita akan kaya seperti perasaan kita. Jumlah kekayaan dalam perkataan kita ditentukan oleh perasaan kita. Perasaan batini kita menentukan jumlah perkataan yang kita utarakan. Seringkali kita banyak perkataan, tetapi perasaan kita tidak cukup kuat menyesuaikannya. Pada waktu itu, perkataan kita dibelenggu oleh perasaan kita. Semua minister firman harus ingata bahwa perkataan mereka hanya bisa keluar seturut peremukan yang mreka terima dari Allah. perkataan seseorang tidak bisa jauh dari kondisi seseorang. Beberapa orang mungkin kesulitan dengan pikiran mereka. Ada juga yang miskin dalam perasaan mereka. Mereka tetap kekurangan peremukan dari Allah. Seorang yang rohani bisa kaya dalam segala perasaan. Semakin ia rohani, semakin banyak perasaan yang ia miliki. Jangan beranggapan bahwa semakin seseorang menjadi rohani, ia akan semakin sensitif. Semakin banyak seseorang menerima pelajaran dari Allah , semakin kaya perasaannya. Jika perasaan seorang berdosa dibandingkan dengan perasaan Paulus, akan mudah terlihat Paulus itu lebih menonjol dalam kerohanian dan perasaannya. Semakin banyak penanggulangan yang diterima seseorang, semakin banyak perasaan yang ia miliki. Ketika perasaan kita sesuai dengan firman, perkataan Allah akan bisa bebas menyatakan kehendak-Nya. Jika perkataan yang diucapkan kekurangan perasaan, firman dan perasaan tidak sesuai, perkataan yang diucapkan tidak akan memuaskan. Kita merasa ada sesuatu yang salah. Kita mungkin mencoba mengatakan lebih banyak, dan kita mencoba menyaringkan suara kita, tetapi tetap saja ada yang salah karena perasaan kita tidak sesuai dengan perkataan kita.
Jika seseorang ingin menjadi minister firman, ia harus menaklukan dirinya pada penanggulangan yang kuat. Ketika ia lari dari penanggulangan, ia akan jatuh. Kita harus memperhatikan hal ini di depan Tuhan. Jika kita tidak diremukkan, kita tidak bisa merampungkan pekerjaan apa pun. Tanpa pendisiplinan, tidak ada pekerjaan. Bahkan jika kita adalah orang yang paling bijaksana sedunia, kita tetap tidak akan berguna. Tidak peduli kita jenius atau mengetahui segalanya. Hanya mereka yang diremukkan yang bisa berguna. Hal ini sangat serius. Emosi dan perasaan kita harus melalui penanggulangan terus-menerus sebelum bisa berguna bagi perkataan kita. Jika Tuhan telah menanggulangi kasih terhadap diri sendiri selama beberapa kali, ketika kita mengutarakan mengenai kasih diri sendiri, perasaan kita akan sesuai dengan perkataan kita. Kita tidak lagi mempunyai selubung. Jika kesombongan kita telah ditanggulangi, ketika kita membicarakan mengenai kesombongan dan mengenai Tuhan yang menolak kesombongan, perasaan kita akan sama dengan perkataan kita. Dengan kata lain, perasaan kita bisa sesuai dengan perkataan kita hanya jika perasaan kita telah dijamah Tuhan. Perasaan kita harus dipukul seluruhnya sebelum bisa dipakai melepaskan firman. Ini cara satu-satunya kita menyiapkan diri kita bagi ministri firman. Perasaan kita harus sesuai dengan firman. Perkembangan perasaan kita akan menentukan perkembangan perkataan yang kita miliki. Setiap kali perkataan kita menjamah hal yang tinggi, perasaan kita harus dibuat lebih halus. Semoga Tuhan merahmati kita, dan semoga perasaan kita sesuai dengan perkataan kita.