← Daftar isi Ministri Firman Allah · bab 15/17

FIRMAN DAN MEMBEBASKAN ROH HUBUNGAN ANTARA FIRMAN DAN ROH

Sekarang mari kita kembali pada masalah firman dan membebaskan roh. Tidak peduli perkataan yang diutarakan itu diterima sebagai doktrin atau wahyu, semuanya sangat bergantung pada minister yang membebaskan roh. Tidak peduli orang yang mendengarkan hanya mendengar kata-kata saja atau pun mereka mendengar firman dan menerima terang, semua itu bergantung pada roh yang dibebaskan minister. Entah seorang bisa menyembah firman atau tetap tidak berubah, bergantung pada kemampuan minister membebaskan rohnya. Perkataannya bisa saja benar dan perasaannya pun mendukung, tetapi jika rohnya tidak dibebaskan, orang lain hanya akan menjamah doktrin yang sempurna dan pengajaran yang tinggi. Mungkin yang dikatakan bisa dimengerti, tetapi mereka tidak menjamah firman Allah. Firman bisa dilepaskan tetapi tidak ada roh di dalamnya. Firman bisa saja diucapkan dengan cara biasa. Jika firman yang serius diucapkan dengan cara biasa, roh yang berbeda, firman pun akan menjadi biasa. Tetapi ketika suatu khotbah dilepaskan dengan roh yang kuat, khotbah itu akan menjadi kuat. Perkataannya mungkin sempurna, tetapi yang harus diperhatikan juga adalah roh yang keluar saat itu. Hal ini bergantung pada minister firman membebaskan rohnya atau tidak. Seorang minister firman bisa membebaskan rohnya dengan cara biasa maupun dengan cara yang kuat. Ia bahkan bisa membuat rohnya meledak-ledak. Jumlah perkataan yang keluar bergantung pada roh yang dibebaskan. Hasil yang bisa dilihat pada diri orang lain tidak bergantung perkataan si pembicara melainkan pada cara roh itu dibebaskan. Ketika seorang minister berbicara, ia bisa membebaskan rohnya atau bisa juga ia menahan rohnya. Ia bisa membebaskannya dengan kuat, atau ia bisa membebaskannya dengan cara biasa. Keputusan ini ada di tangan si minister. Seorang minister firman harus belajar mengeluarkan rohnya saat ia berbicara.

Ada hubungan yang erat antara roh dan firman. Ketika roh terpengaruh, roh pun terpengaruh. Ketika roh kuat, firman pun kuat. Agak sulit menjelaskan bagaimana roh mempengaruhi firman. Yang bisa kita katakan adalah roh manusia sangat lembut dan halus; roh manusia tidak bisa marah atau tersinggung. Dalam pemberitaan firman Allah, seorang mungkin memiliki segala sesuatu. Tetapi jika rohnya tidak siap, tidak ada jalan bagi firman untuk dibebaskan. Seorang harus membebaskan rohnya sebelum ia bisa membebaskan firman Allah. Setiap pemberita firman yang sudah berpengalaman tahu apa artinya itu membebaskan roh. Jika cuaca di luar berangin, hujan, dan gelap, dan ada yang memaksa membuka pintu rumahnya, orang lain harus memberi dia bantuan untuk membuka pintu. Seperti inilah caranya roh itu dipaksa keluar. Ketika kita berdiri berbicara di dalam sidang, adalah mungkin jika roh kita tidak bergerak, dan kita harus memaksanya keluar. Jika kita tidak memaksanya keluar, maka dalam pembicaraan kita akan ada kemunduran. Seringkali ketika kita hanya sedikit membebaskan roh, perkataan kita sudah lebih berkuasa. Orang lain tidak hanya mendengar kata-kata tetapi juga akan menjamah makna di belakang kata-kata itu. Mereka tidak hanya menjamah perkataan kita, mereka juga akan menjamah roh kita. kadang-kadang ada orang yang bisa memahami setiap kalimat dalam sebuah khotbah, dan dia bisa mengulang dan menghafalkannya; namun, dia tidak bisa mengulang roh. Di waktu lain, ketika ada orang mendengar suatu khotbah, dia tidak hanya mendengar kata-kata tetapi dia pun bisa menjamah roh. Jika seorang tidak bisa menjamah roh, firman tidak akan bisa mempengaruhi dirinya.

Sama halnya dalam membaca Alkitab. Beberapa orang hanya melihat kata-kata ketika mereka membaca Alkitab, sedangkan yang lainnya bisa menjamah roh dari Alkitab itu. Ketika ada orang yang membaca Alkitab, mereka hanya melihat perkataan Paulus tetapi tidak bisa membedakan nada bicaranya. Mereka tidak bisa membedakan apakah nada yang digunakan tinggi atau rendah, lembut atau keras. Mereka tidak tahu apakah nada itu sedih atau gembira. Ketika orang lain membaca Alkitab, mereka melihat perkataan Paulus dan bisa membedakan nadanya. Mereka tahu kesedihan di dalam doa dan perkataan Paulus. Mereka juga tahu Paulus berbicara dengan kemarahan atau gembira. Mereka menjamah roh Paulus. Kita mungkin membaca setiap kalimat dalam kitab Kisah Para Rasul, tetapi kita mungkin tidak menjamah makna yang ada di balik kata-kata itu. Paulus mengusir setan dari seorang hamba perempuan (16:18). Jika kita tidak menjamah roh, kita hanya tahu setannya sudah keluar tetapi tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Kita tidak akan tahu Paulus berbicara dengan nada keras atau tidak, karena kita tidak menjamah roh. Kita harus masuk ke dalam roh penulis Alkitab sebelum kita bisa mengetahui apa yang Alkitab catat. Bagian Alkitab ini ditulis dalam ekspresi roh yang berbeda. Jika kita hanya menjamah kata-kata tanpa menjamah roh, kita tidak bisa membaca Alkitab.

Kelihatannya, kita harus mengalami penanggulangan Allah sebelum kita bisa membebaskan roh kita dalam perkataan kita. Jika kita tidak pernah ditanggulangi oleh Tuhan, atau jika penanggulangannya tidak dalam, murni, dan bersih, roh kita tidak akan pernah keluar bersama firman Allah. bahkan jika kita mencoba mendorong roh kita keluar, tetap saja tidak ada yang keluar. Kita mungkin mengeluarkan doktrin, tetapi kita tidak akan pernah bisa mendorong roh yang dibalik firman Allah itu untuk keluar. Kita harus ingat apa arti pemberitaan. Pemberitaan berarti membebaskan kata-kata. Tetapi itu belum semuanya; pemberitaan juga berarti membebaskan roh. Ketika seorang minister firman membebaskan firman, ia sedang membebaskan rohnya. Rohnya dibebaskan melalui perkataannya. Secara spontan, roh Allah dilepaskan melalui roh manusia. Roh Kudus dibebaskan bersamaan dengan roh manusia. Jika roh manusia tidak dibebaskan, Roh Kudus tidak bisa dibebaskan. Ini akan menjadi besar bagi si pembicara. Kita harus ingat bahwa mendengarkan khotbah tidak berkaitan dengan mendengarkan kata-kata saja melainkan berkaitan dengan menjamah roh. Kita harus menyadari ketika firman dilepaskan, yaitu ketika ministri firman dibebaskan, bukan hanya kata-kata yang dilepaskan, tetapi juga roh yang dibebaskan. Para pendengar seharusnya tidak hanya menjamah kata-kata tetapi harus menjamah roh. Jika seorang hanya menjamah kata-kata tanpa menjamah roh, yang dia miliki hanyalah sesuatu yang umum dan biasa. Jika kita tidak menjamah roh, terhadap perkataan Tuhan pun kita tidak bisa merasakan perbedaannya. Hanya ketika ktia menjamah roh kita menjamah hayat. Tuhan berkata, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (Yoh. 6:63). Kita harus menjamah roh sebelum kita bisa mengetahui makna firman. Ketika memberitakan firman Allah, kita seharusnya tidak hanya memperhatikan bagaimana menjelaskan sesuatu dengan tepat tetapi juga perkara membebaskan roh kita. Faktanya, seorang memang tidak bisa membebaskan rohnya secara berkesinambungan. Seorang harus membayar harga tertentu untuk membebaskan rohnya. Seorang minister firman seringkali tidak bisa membayar harga itu. Inilah alasannya tidak ada seorang pun yang bisa membebaskan rohnya secara terus-menerus. Tentu saja, semakin kuat roh kita di depan Tuhan, semakin mudah kita membebaskannya; kita bisa membebaskannya terus-menerus. Sulit untuk mempercayai jika ada seorang berdiri berbicara bagi Allah dan tidak pernah satu kali pun membebaskan rohnya. Setidaknya satu kali atau beberapa kali dia pernah membebaskan rohnya, memaksa rohnya keluar sehingga orang lain bisa menjamah rohnya. Tidak ada seorang pun yang bisa rebah bila hanya mendengar kata-kata. Seorang bisa merendahkan diri karena ia telah menjamah roh. Jika yang kita miliki hanya kata-kata, maka kata-kata itu akan menjadi doktrin. Bahkan kata-kata yang berasal dari wahyu sekalipun bisa menjadi doktrin. Jika kita memberitakan perkataan wahyu dan roh kita dibebaskan, orang lain tidak hanya akan menjamah kata-kata tetapi juga roh. Roh Allah menjangkau roh orang lain melalui roh kita.

LATIHAN ROH

Latihan roh seorang minister firman bergantung pada dua hal. Pertama, ada latihan roh; kedua, ada sikap yang rela dari si minister. Seorang minister bisa melatih rohnya meministrikan firman pada gereja dan bisa melatih rohnya bergantung pada jumlah pengalaman yang ia miliki atas dua hal tersebut.

Pertama, mari kita bicara mengenai melatih roh. Seorang minister firman tidak bisa membebaskan rohnya melebihi apa yang pernah ia lepaskan. Rohnya bisa dibebaskan sejauh apa bergantung pada jumlah latihan yang ia terima dari Allah di dalam rohnya. Jika seorang saudara tidak pernah latihan yang cukup, kita tidak bisa mengharapkan dia melatih rohnya sampai luar biasa. Akan tetapi jika ia pernah menerima latihan yang kuat dan berulang di dalam rohnya, akan mudah baginya untuk melatih rohnya saat melakukan ministri firman. Latihannya akan terus berlanjut. Seorang tidak bisa membebaskan roh yang tidak ia miliki. Keterbatasannya di depan Tuhan merupakan keterbatasan rohnya. Ini merupakan pelajaran mendasar.

Allah menghabiskan banyak waktu selama hidup kita untuk melatih roh kita sehingga roh kita bisa berguna. Ia harus melatih kita sampai kita bisa memakai roh kita dengan leluasa dan limpah. Tuhan mengatur lingkungan kita dengan tujuan meremukkan kita; Ia meletakkan kita pada lingkungan yang sulit. Sama seperti Paulus, ketika ia melewati pengalaman yang disebutkannya dalam 2 Korintus, ia mungkin mendapati situasinya sulilt dan menyakitkan. Ia mengatakan bahwa beban yang ditanggungnya begitu besar dan berat sehingga ia pun merasa putus asa (1:8). Lingkungan yang Tuhan siapkan bagi kita selalu lebih besar dibandingkan dengan apa yang bisa kita tanggung dan melebihi kekuatan kita. Setiap duri yang kita alami begitu berat, sulit ditanggung, dan menusuk kita. Ketika Tuhan meletakkan kita dalam situasi ini, ada dua hal yang dihasilkan. Di satu sisi, Tuhan meremukkan manusia lahiriah kita melalui situasi ini. Pikiran kita dibongkar; demikian juga dengan emosi kita. Bahkan tekad kita pun di hancurkan. Kita ditinggalkan tanpa pilihan kecuali hanya rebah menyembah Tuhan dan mengakui kegagalan dan ketidak mampuan kita. Ini hasil di sisi negatif. Di sisi lain, di bawah pendisiplinan Roh Kudus, seringkali hal yang positif dihasilkan oleh Allah. Apakah kita tetap berbaring saja setelah dihancurkan atau malah kita bangkit? Apakah kita dikalahkan oleh duri, ataukah kita menang atas duri? Apakah kita mengatakan kita sudah putus asa karena beban yang besar dan berat dan tidak melakukan apa-apa, ataukah kita melihat pada Dia yang membangkitkan orang mati dan membangkitkan orang-orang yang jatuh? Kita harus ingat bahwa Tuhan selalu menaruh kita pada situasi di luar kekuatan kita, suatu situasi yang membuat kita putus asa dan kehilangan harapan. Pada situasi yang putus asa, kita percaya kepada-Nya , memandang Dia, dan bersandar kepada-Nya.

Mudah bagi kita berbicara mengenai percaya kepada Tuhan pada saat biasa! Betapa umumnya perkataan kita mengenai memandang Dia pada saat seperti itu, dan kita tanpa berpikir berbicara mengenai bersandar kepada-Nya! Tetapi ketika Tuhan menaruh kita pada situasi yang putus asa apakah kita mulai belajar percaya dan bersandar pada-Nya. Saat kita mulai menjamah kasih karunia Allah dan kuasa Allah, kita tanpa sadar mendapatkan diri kita sudah menang melampauinya. Kita menyadari bahkan rasa percaya kita dilatih ditengah-tengah kelemahan kita, dan kita memandang dia dalam takut dan gentar, dan kepercayaan kita bekerja dalam rasa terjamin. Kita mungkin berpikir inilah iman, kepercayaan, dan bersandar kepada-Nya yang lemah dan tidak berguna. Tetapi di dalam kelemahan itu kita menerima sedikit iman, sedikit kepercayaan, dan sedikit sandaran kepada-Nya. Secara tidak sadar kita menjamah sedikit hayat dan kekuatan. Di bawah situasi seperti ini kita mendapatkan rahmat untuk menang, dan roh kita dilatih. Hal ini bukan hanya perkara remuknya insan tetapi juga latihan roh. Bukan perkara peremukan tertentu dan negatif melainkan peremukan positif yang membangun. Di sinilah kita menyadari situasi yang bisa kita lampaui dan situasi dimana Tuhan memanggil kita untuk menang, dan disinilah kita menyadari Tuhan membangkitkan kita untuk menang atas masalah kita. secara tidak sadar kita menang atas semua itu. Satan bisa dengan segala cara mencoba menyerang kita dalam situasi ini, tetapi keperyaan kita yang lemah, penantian kita yang lemah, dan iman kita yang lemah membawa kita pada kekuatan Allah. Di sini kita bisa mengatakan kepada Satan, “Engkau telah melakukan semua yang bisa kau lakukan. Secara manusia semua ini di luar kekuatanku, tetapi puji Tuhan, aku telah menang. Ia telah memberikan harapan padaku. Ialah yang membangkitkan orang mati, dan Ia adalah Satu-satunya yang menguatkan orang yang lemah.” Melalui pengalaman ini, roh kita dikuatkan sedikit. Roh kita menerima sedikit latihan, dan sedikit kekuatan. Roh kita juga menerima sedikit latihan, dan sedikit diperkaya. Melalui hal ini, roh kita menerima deposito keuntungan dan tambahan kekuatan.

Pekerjaan Tuhan di dalam kita tidak hanya terjadi satu kali. Ia bekerja di dalam kita terus-menerus dan dalam banyak cara. Dan Ia bekerja di dalam kita berulang-ulang, roh kita menjadi semakin kuat dan kuat. Allah tidak hanya meremukkan manusia lahiriah kita melalui situasi di luar; Ia juga membangun manusia batiniah kita. Ia tidak hanya meruntuhkan manusia luaran kita; Ia juga membangun roh kita. Kita dibangkitkan menang atas pengujian kita melalui roh kita. Kita tidak akan pernah keluar dari pengujian bila roh kita tidak lebih dahulu dibangkitkan. Ketika roh kita belajar sesuatu, menerima penanggulangan, dan melewati sejumlah latihan, seluruh diri kita pun menang atas pengujian. Setiap hari Tuhan membangkitkan kita. Ketika kita diletakkan dalam pengujian, kita ditekan dari setiap sudut. Tetapi ketika kita keluar dari pengujian, situasi ada di bawah kita, dan kita menang atas lingkungan kita. Ketika kita di dalam pengujian, kita merasa lemah. Tetapi ketika kita menang atas hal itu, kita merasa kuat. yang telah berlalu adalah kematian, dan yang datang kemudian adalah hayat kebangkitan. Tidak ada pengujian yang bisa menahan kita, dan kita berbeda ketika kita menang atas pengujian. Kita tidak bisa menjadi orang yang sama setelah melewati pengujian. Entahkan pengujian merusak kita dan membuat kita menjadi bejana yang tidak berguna, ataukah kita menang atas pengujian seperti berada dalam pesawat yang melesat naik. Pengujian bisa membuat kita lebih baik atau bahkan lebih buruk. Mereka yang tidak bisa melewati pengujian tidak bisa dipakai untuk apa pun. Mereka yang menang atas pengujian dan melampauinya memiliki tanda kemenangan sepanjang hidup mereka. Mereka dibawa keluar dari situasi mereka, dan Tuhan akan memberikan kemenangan yang sama ketika mreka menghadapi situasi yang sama. Ketika situasi yang sama datang dan kesulitan yang baru muncul, mereka akan mengalami kemenangan yang baru. Dengan kata lain, roh mereka telah belajar sesuatu yang baru; mereka telah melewati sejumlah latihan.

Kapankala kita melewati penanggulangan, kita melaluinya dengan pandangan akan menang atas hal itu. Semakin banyak pengujian yang kita terima, semakin banyak kekuatan yang kita terima untuk melewati pengujian. Melalui proses ini roh kita dikuatkan. Ketika kita melewati pengalaman, roh kita dikuatkan. Semakin banyak pengalaman yang kita lewati, roh kita pun akan semakin kuat. Melalui pendisiplinan Roh Kudus, Tuhan meremukkan manusia lahiriah kita. Ketika manusia lahiriah kita diremukan, manusia batiniah dikuatkan untuk melewati semua hambatan. Ketika ada martil menimpa kepala kita, martil itu meremukkan dan menghancurkan manusia lahiriah kita. Tetapi martil yang sama akan membuat roh kita menang. Ketika Tuhan menaruh kita dalam suatu situasi, manusia lahiriah kita akan hancur. Manusia lahiriah kita tidak bisa tahan terhadap pengujian. Ketika ada pengujian datang, manusia lahiriah kita dihancurkan. Semakin banyak pengujian yang kita terima, semakin manusia lahiriah kita diremukan. Pada saat yang sama, roh menang atas situasi ini. Situasi melampaui manusia lahiriah kita, tetapi manusia lahiriah kita menang atas situasi itu. Inilah yang terjadi ketika kita menghadapi pengujian. Hal yang sama terulang ketika kita menghadapi pengujian: Tuhan pertama-tama memberikan kita pegujian dan menaruh kita di bawah pengujian itu. Kita mengalami remuknya manusia lahiriah, tetapi pengalaman tidak berhenti di sana. Manusia batiniah kita bangkit untuk menang atas situasi, dan kita menjadi jelas. Pengujian yang menang atas manusia lahiriah kita sesungguhnya menang karena manusia batiniah kita. Ketika kita melalui pengalaman, roh kita menerima beberapa latihan. Roh kita menjadi semakin agresif dan belajar sedikit dari kasih karunia Tuhan dan roh-Nya. Dengan kata lain, roh kita semakin kuat daripada sebelumnya. Ketika roh kita dilatih dan semakin kuat, kita memiliki roh yang bisa dipakai dalam ministri firman yang kita lakukan.

Di satu sisi, seorang minister firman harus mengalami peremukan manusia lahiriah. Di sisi lain, rohnya harus dilatih agar kuat dan berguna. Pekerjaan ini hanya bisa dirampungkan oleh pendisiplinan Roh Kudus. Ketika kita melewati pengujian, kita harus ingat bahwa pengujian itu membuat kita berbeda pada akhirnya. Entah kita menjadi semakin kuat atau semakin buruk. Entah kita menggerutu melawan Allah dalam pengujian kita dan tinggal dalam keadaan kalah atau kita akan keluar dari pengujian dengan penuh kemenangan. Kita harus menolak keluar dalam keadaan kalah. Dua Korintus 12 menunjukkan kepada kita bahwa ketika duri datang, Allah memberi kita kasih karunia untuk menang atas hal itu. Dulunya kita hanya sedikit mengetahui kasih karunia, tetapi kita tidak tahu jenis kasih karunia yang datang bersama dengan duri itu. Setiap pengujian yang datang dengan tenunan duri membuat kita bisa mengalami duri yang ditenun dengan kasih karunia. Apa yan kita ketahui sebelumnya adalah kasih karunia yang tanpa duri; yang kita ketahui sekarang adalah kasih karunia berduri. Kita seperti perahu yang mengapung di atas air dua meter. Saat airnya masih dua meter, bisa berlayar dengan mudah. Tetapi saat ada batu yang tingginya dua meter di tengah aliran, perahu itu tidak lagi bisa melaluinya. Pada waktu itu kita perlu meminta pada Tuhan untuk menaikkan jumlah air lagi dua meter. Ketika kita mengenal kasih karunia yang lebih, roh kita menjadi semakin kuat. Paulus berkata bahwa ia “lebih suka bermegah…dalam kelemahan” (2 Kor. 12:9). Kapankala kelemahan datang, kita semakin dikuatkan, dan kita bisa melayani sebagai seorang minister firman dengan kekuatan ini. Minister yang berbeda memiliki tingkat kekuatan rohani yang berbeda karena mereka mengalami pekerjaan pembangunan yang berbeda. Perkataannya mungkin sama, tetapi roh mereka berbeda. Jika kita ingin memakai roh kita, roh kita harus kuat terlebih dahulu. Kita mungkin dilatih, tetapi tingkat kita dilatih menentukan tingkat roh kita bisa digunakan. Tingkatan ini berbeda dalam orang-orang yang berbeda. Tingkat di mana roh kita dilatih menentukan kita bisa dipakai seorang minister firman. Ketika seorang minister firman menghadapi pengujian atau masalah, ia harus menyadari bahwa Allah sedang memakai hal itu untuk menyiapkan dia menjadi minister-Nya. kita jangan begitu bodoh berpikir bahwa melarikan diri adalah hal yang terbaik. Semakin kita lari, semakin sedikit perkara yang akan bekerja untuk kita. Kita harus selalu ingat bahwa tanpa duri, tidak akan pernah ada kasih karunia atu kekuatan, dan cakupan pelayanan kita akan semakin padat. Kita mungkin masih berbicara, tetapi kita tidak akan memiliki roh untuk melepaskan firman. Kita mungkin memiliki firman, tetapi kita masih harus mempunyai roh yang tepat mendampingi firman.

KERELAAN PADA DIRI MINISTER

Latihan roh seorang minister perlu seumur hidup. Ia harus meletakan hidupnya pada garis lurus. Ketika seorang melayani sebagai minister firman, ia tidak hanya harus memiliki roh yang berguna, tetapi ia juga harus rela mengorbankan dan meluaskan rohnya. Setiap kali seorang minister melayani firman kepada orang lain, ia harus melatih rohnya dengan cara mencurahkan hidupnya, sama seperti Tuhan Yesus mencurahkan hidupnya. Pada malam Tuhan berdoa di taman Getsemani, Ia berkata kepada murid-murid, “Roh memang penurut (lit. rela), tetapi daging lemah” (Mat. 26:41). Murid-murid hanya memiliki kerelaan. Tetapi Tuhan Yesus tidak hanya rela melainkan siap mencurahkan hidup-Nya. inilah alasannya keringat-Nya menjadi seperti butiran darah yang jatuh ke tanah (Luk. 22:44). Dengan kata lain, roh seorang dilatih dengan cara mencurahkan hidupnya. Seorang harus mencurahkan seluruh tenaganya untuk mengalami kelelahan rohani dan kematian rohani. Kapankala roh dibebaskan, roh akan melawan kelemahan dan kematian. Untuk hal itu perlu membayar harga; saat melepaskan beban akan mendatangkan rasa sakit dan kelelahan. Membebaskan roh memerlukan pengorbanan, entah secara pribadi maupun secara umum. Kita harus membebaskan roh kita karena banyak orang yang lemah secara rohani. Roh kita harus didorong keluar untuk melawan kelemahan rohani ini dan menghancurkannya. Kita harus bergulat dengan unsur-unsur ini dan menjatuhkannya. Ketika roh kita dibebaskan, kita akan menemukan banyak orang menderita kematian rohani, kedinginan rohani, kedegilan rohani, dan kekeringan rohani. Kita harus mendorong roh kita keluar untuk mengalahkan kematian mereka. Kita harus melampaui kematian dan menelannya. Setelah kita dipenuhi dengan firman, kita akan mendapati mereka yang duduk di depan kita ternyata penuh dengan kegelapan; mereka tidak bisa melihat. Kita harus membebaskan roh kita dengan kuat, menerobos ikatan kegelapan dan melawan serangan kegelapan. Kita memberitakan firman Allah pada satu sisi, dan melawan serangan kegelapan pada sisi yang lain. Kematian dan kegelapan ini akan memakan energi rohani kita. Saat kita berdiri di hadapan manusia, kita harus membebaskan roh kita. kita harus menang atas kegelapan dan meruntuhkan bayang-bayang mereka. Pekerjaan ini memerlukan pengorbanan. Secara rohani melelahkan, dan perlu harga yang mahal. Meskipun seorang minister firman tidak perlu membayar harga ini setiap waktu, namun ia harus bersedia membayar harga ini.

Untuk melatih roh seperti ini, seorang harus memiliki roh berfungsi yang tepat. Sesungguhnya, seorang bisa melatih rohnya sampai roh itu terlatih. Ia tidak bisa melakukan apa pun di luar batasan ini. Tetapi entahkah dia bisa atau tidak melatih rohnya sampai tingkat ini, semua itu bergantung pada kerelaannya. Seringkali seorang mengalami tekanan yang berat di depan Tuhan. Jika ia rela membayar harga untuk melewatinya, ia akan bisa melewatinya. Tetapi jika ia tidak rela membayar harga itu, ia boleh saja memilih cara membebaskan rohnya secara umum dan mudah. Tidak mudah bagi seorang minister firman untuk menarik rohnya pada batas ini. Seorang bisa saha melatih rohnya, tetapi ia mungkin tidak akan rela menarik rohnya sampai pada batas maksimal. Jika ia melakukannya ia akan mengalami kelelahan rohani yang luar biasa. Itulah sebabnya tidak mudah menemukan seorang minister firman yang rela mendorong dirinya sampai batas ini.

Mereka yang tidak tahu apa pun mengenai membayar harga untuk melepaskan tidak akan tahu apa yang sedang saya bicarakan di sini. Seorang yang mengetahui beban apa yang harus ditanggung untuk membebaskan roh, pasti tahu apa yans saya bicarakan. Seorang yang tidak pernah mengangkat berat dua puluh kilo tidak akan tahu berat itu seperti apa. Hanya orang-orang yang pernah mengangkat dua puluh kilo yang tahu berapa energi yang diperlukan untuk mengangkat beban itu. Kapankala seorang melaksanakan ministri rohaninya, saat ia sedang melatih rohnya, ia membawa beban yang kelihatannya akan menghabiskan seluruh energinya. Dalam latihan roh, kerelaan merupakan faktor yang mengendalikan. Jika ada yang rela, ia bisa mendorong kata-katanya keluar. Saat ia semakin rela, maka firman pun akan semakin kuat dilepaskan. Saat berbicara di atas mimbar dan berbicara dengan seorang saudara secara pribadi, kekuatan firman yang dilepaskan bergantung pada jumlah roh yang dikeluarkan. Ketika berbicara kepada orang lain dengan firman, roh ada di bawah kendali minister itu sendiri. Seorang minister tidak bisa menahan roh, atau sebaliknya ia bisa membebaskan rohnya. Saat ia berbicara, ia bahkan bisa membuat khotbahnya kuat maupun membuatnya lemah. Jika ia rela mengorbankan dirinya, ia akan menguatkan sidang. Jika ia tidak rela mengorbankan dirinya dan tidak rela membayar harga, ia akan menjadikan sidang itu biasa saja. Keputusan menjadikan sidang itu kuat atau lemah ada di tangan minister firman.

Mereka yang tidak pernah dilatih, pekerjaan Roh Kudus berada di luar jangkauannya. Bagi mereka yang pernah menerima penanggulangan dari Tuhan, dan yang memiliki pekerjaan Tuhan yang dalam, hasil sidang ditentukan oleh minister itu sendiri. Jumlah pekerjaan Roh Kudus ditentukan olah jumlah pengorbanan yang dibayar para minister. Jika kita tidak takut letih di dalam sidang, dan jika kita tidak malas, dan jika kita tidak dipengaruhi oleh pendengar atau tidak lari dari membayar harga dan menerima peremukan, kita akan membebaskan roh kita dengan kuat. ketika firman keluar dari mulut kita, roh pun akan keluar, dan firman akan memiliki dampak yang besar pada orang lain. Tetapi jika kita letih, malas, atau enggan melakukan sesuatu, kita bisa mengatakan sesuatu dengan tergesa-gesa, tetapi roh kita seperti terikat. Perkataannya sama dan pembicaraannya pun sama, tetapi rohnya tidak akan bebas. Atau roh itu bebas tetapi tanpa kekuatan saat dilepaskan. Orang lain bisa menjamah perkataannya tetapi tidak bisa menjamah rohnya. Mereka hanya akan mendengar suara, tetapi perkataannya tidak akan memiliki dampak pada mereka. Perkataannya mungkin akurat, tetapi sangat lemah.

Dalam ministri firman, bukan hanya perkara menyampaikan firman tetapi juga perkara kerelaan si pembicara. Apakah kita rela dan gembira menggunakan roh kita? Jika kita rela, firman akan secara spontan memiliki dampak kepada orang lain.jika kita tidak melatih roh kita keluar, perkataan pun tidak akan kuat. Perkataan yang kita katakan seringkali menjadi umum karena roh tidak keluar, sebaliknya roh malah mengalir lambat. Roh yang menyembur menjatuhkan orang lain sepanjang waktu. Doa yang dipanjatkan oleh beberapa orang saudara hanya bisa dijelaskan sebagai keluarnya roh. Seluruh roh mereka menyembur keluar. Setiap orang yang berdiri di dekat mereka dijatuhkan. Perkataannya mungkin sama, tetapi rohnya berbeda; roh keluar dan tidak ada yang bisa bertahan. Roh seorang bisa dibebaskan sangat bergantung pada kerelaan dan kesediaannya membayar harga.

Seorang pekerja harus belajar berbicara secara akurat, tetapi ini belum apa-apa. Ketika ia melayani, ia harus belajar mendorong rohnya keluar. Jika ia rela membayar harga, ia bisa mendorong rohnya keluar dengan kuat. Ketika perkataan keluar seperti ini, roh pun mengikuti. Pembebasannya akan kuat, dan tidak ada seorang pun yang bisa bertahan. Apabila, ada seorang yang pernah terluka karena alasan tertentu atau telah melalui banyak pengalaman, namun perkataannya tidak akan menghasilkan dampak apa-apa. Semakin ia berbicara, semakin terlihat buruk dan sedikit dampak yang dihasilkan. Perkataannya mungkin sama, tetapi luka dan rasa sakit dalam rohnya terusak pembicaraannya. Di bawah kondisi ini, tidak mudah baginya mencari terang Allah. Ketika ada luka, roh terikat, dan perkataan menjadi datar dan lemah. Perkataan hanya bisa kuat ketika roh dipaksa keluar. Roh harus ada di belakang perkataan. Roh harus bergerak, dan harus dilepaskan melalui perkataan. Kita bisa mengatakan bahwa roh harus dibungkus dalam perkataan dan dilepaskan melalui perkataan. Ketika ada orang yang rela membayar harga membebaskan rohnya melalui perkataan, orang lain akan melihat terang dan menjamah realitas.

Membebaskan roh merupakan satu aspek rohani dalam ministri firman. Ketika menggenapi ministri firman, minister harus melakukan yang terbaik untuk membebaskan rohnya. Untuk membebaskan roh dengan cara yang tinggi, ia harus mengeluarkan seluruh energinya. Seluruh emosi, pikiran, ingatan, dan pengutaraannya harus disediakan. Tidak boleh ada pikiran lain yang muncul; pikiran itu harus diam, fokus, dan tersedia. Memorinya juga harus menunggu roh. Tidak boleh ada perasaan yang menyimpang. Dengan kata lain, seluruh energi, ingatan, pengutaraan, emosi, dan perasaan harus menuggu Tuhan; setiap bagian dirinya harus diberikan untuk keperluan Tuhan. Segala kegiatan diri harus berhenti; hanya roh yang berjaga-jaga dan siap untuk Dia pakai. Ini seperti pasukan berjumlah sepuluh ribu orang dan kuda-kuda di medan pertempuran yang sedang menantikan aba-aba dari sang komandan. Kita harus memakai pikiran kita, tetapi pikiran kita tidak bisa menjadi tuan tetapi harus menjadi hamba. Kita harus menggunakan emosi kita, tetapi emosi kita tidak bisa menjadi tuan, tetapi hanya menjadi hamba. Semua energi tubuh dan kekuatannya harus ditundukkan di bawah roh. Hanya dengan cara itulah roh akan bisa membebaskan dirinya.

Apabila seroang minister firman tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat pada waktu genting, rohnya pun akan menderita dan tidak akan bebas. Tidak ada pekerjaan yang menuntut tingkat konsentrasi yang tinggi dibandingkan dengan membebaskan roh. Untuk membebaskan roh, setiap bagian diri kita harus fokus. Ini tidak berarti bahwa setiap bagian orang tersebut harus dibebaskan secara merdeka. Tidak! Membebaskan diri itu harus berhubungan dengan roh. Apa pun yang kita katakan haruslah apa yang roh ingin katakan, dan istilah yang ingin kita pakai haruslah istilah dari roh. Pertimbangkan lagi ilustrasi kita sebelumnya. Sepuluh ribu pasukan itu harus menunggu perintah komandan mereka. Jika ia ingin prajurit itu melakukan sesuatu, maka prajurit itu tidak memiliki pilihan. Jika ia ingin mengarahkan orang lain, orang itu pun tidak pilihan lain. Ketika kita memerintahkan roh kita untuk bebas, maka harus bebas. Jika pikiran kita sedikit santai, bingung, atau ingatan kita gagal, roh kita akan berada dalam bahaya dan terluka.

Seorang minister firman harus belajar tidak memulai rohnya dengan cara apa pun. Ketika kita berbicara, seluruh diri kita harus dibuat siap sedia. Tidak ada bagian diri kita yang tertinggal; kita tidak bisa membiarkan satu bagian pun hilang. Tidak ada bagian yang menyimpang dan menunggu perbaikan. Setiap bagian harus berjaga-jaga sehingga roh bisa dibebaskan sampai tahap yang penuh. Hal ini perlu harga yang mahal. Karena perlu harga yang mahal, seorang minister firman tidak selalu melatih rohnya sampai batas maksimum meskipun sangat mungkin baginya untuk melakukan hal itu. Ketika ia tidak bersedia, ia hanya akan membawa berkat yang sedikit kepada orang lain. Jumlah berkat yang bisa diterima orang lain bergantung pada tingkat kerelaannya. Berkat dalam ministri firman ditentukan oleh para minister. Jika kita rela memberi berkata kepada orang lain, maka mereka akan menerima berkat. Jika kita ingin orang lain tersandung, maka mereka akan tersandung. Jika kita ingin terang yang kuat menerangi mereka, mereka akan rebah ke tanah. Segala sesuatunya bergantung pada tingkat pertumbuhan kita di dalam Allah. Semakin banyak pelajaran yang kita terima dari Allah, semakin banyak hal yang bisa kita lakukan. Jika kita harus belajar sedikit dari Allah, kita pun hanya bisa melakukan sedikit. Kita menentukan jumlah terang yang akan diterima orang lain. Kita menentukan apakah mereka akan rebah ke tanah atau tidak. Kita menentukan berapa banya realitas rohani yang akan diterima orang lain. Tuhan mempercayakan hal ini kepada para minister-Nya.

MENDORONG ROH KELUAR

Setiap minister sejati akan mengetahui apakah artinya mendorong roh keluar. Saat ia berbicara, ia harus mengeluarkan tenaganya, bukan tenaga daging, tetapi tenaga yang lain. Ia harus mendorong rohnya keluar. Sepertinya ia harus mencurahkan seluruh energinya untuk menekan rohnya. Roh merupakan kekuatan di batin, dan saat ia berbicara, ia harus mendorong kekuatan ini dan membebaskannya. Ketika perkataan keluar, roh pun didorong keluar dan bebas pada waktu bersamaan. Ketika ada orang mendorong rohnya, orang-orang di sekitarnya akan menjamah sesuatu. Para pendengar bisa mendengarkan doktrin atau firman Allah bergantung bagaimana ia mendorong rohnya. Jika ia mendorong rohnya keluar dengan sukarela, para pendengarnya tidak hanya akan mendengar khotbah; mereka akan menjamah sesuatu di balik firman. Tetapi jika ia tidak mendorong rohnya dalam perkataannya, orang lain tidak akan menjamah makna yang ada di balik firman. Seringkali ministri firman menjadi sangat umum karena terlalu banyak kata-kata yang digunakan namun rohnya terlalu lemah. Seorang bisa saja banyak berkata-kata tetapi tidak mendorong rohnya sedikit pun. Setelah satu atau dua jam, ia mungkin bisa mendorong rohnya keluar sejangka waktu, sisanya ia sama sekali tidak memakai rohnya. Ini sangat umum. Jika kita menekan roh kita keluar dengan kekuatan kita, kita akan memiliki ministri firman. Ministri yang kuat dalam perkataan sama dengan nilainya dengan jumlah roh, yaitu, dua-duanya sama. Ketika perkataan dilepaskan, roh pun ikut dilepaskan. Kapankala ada firman, seharusnya roh yang keluar pun sama. Roh harus mendorong kata-kata keluar. Ini menyusun ministri firman yang baik dan sempurna. Pendengar akan menjamah roh yang bebas dan kata-kata yang keluar. Tidak peduli minister firmannya biasa atau penuh kekuatan dalam pengutaraannya, semua itu bergantung pada kerelaannya. Hal itu juga bergantung pada latihannya. Jika ia tidak baik-bauk dilatih atau jika ia tidak bersedia, perkataannya akan menjadi lemah. Pengutaraannya benar-benar dikendalikan oleh dirinya. Latihannya menyusun apa yang ia miliki, dan kerelaannya menyusun sesuatu yang ingin ia lakukan. Di satu pihak, seorang mungkin memiliki sesuatu, tetapi ia tidak ingin melepaskannya. Di pihak lain, seorang mungkin ingin memberikan sesuatu, tetapi ia tidak memiliki benda itu. Kita harus memiliki apa yang ingin kita berikan, dan kita harus mau memberikannya. Akan tetapi, kita terlebih dahulu harus dilatih sebelum kita bisa memiliki kerelaan.

Sangat tepat bagi roh agar sesuai dengan firman. Akan tetapi, ada pengecualian ketika roh yang keluar melampaui perkataan. Seringkali ada yang mengalami kejadian khusus dimana ada keperluan khusus yang muncul, dan Allah mengijinkan rohnya jauh di belakan perkataannya. Meskipun perkataan hanya bisa dikatakan sedikit, tetapi rohnya bisa menutupi leboh banyak. Akan tetapi hal ini sangat jarang dan sulit dilakukan. Roh kita tidak akan melampaui perkataan kita setiap waktu, tetapi ada sejangka waktu dimana makna ministri firman bergantung pada membebaskan roh, sedangkan makna penerimaan firman bergantung pada menjamah roh. Ministri firman merupakan pelayanan di dalam roh. Saat kita berbicara, kita melatih roh kita; ketika roh dibebaskan, kita memiliki ministri firman. Ministri firman bukan hanya membebaskan kata-kata tetapi perkataan yang didampingi dengan roh. Ministri firman perkara merupakan perkara tidak membuka mulut tetapi memiliki perkataan khusus di dalamnya dan kemudian mendorong roh keluar melalui firman. ketika kita memiliki firman tanpa roh, kita memiliki doktrin, kita tidak memiliki perkataan Allah. semoga semua minister firman melihat bahwa khotbah bukan hanya khotbah tetapi mengeluarkan roh melalaui perkataan firman. Jika kita memiliki firman tanpa mengeluarkan roh, kita tidak memiliki ministri. Tidak ada minister firman yang bisa berfungsi dengan roh yang dingin, karena ministri firman adalah membebaskan roh. Tujuan Allah bukan hanya supaya manusia mendengar firman tetapi supaya manusia menjamah roh firman. roh mengendalikan firman dan keluar melalui firman, Allah ingin kita menjamah roh-Nya; Dia tidak ingin kita hanya menjamah perkataan-Nya. Roh Allah dibebaskan melalui firman, setiap minister firman harus bisa berbicara, dan pada waktu lain harus bisa mendorong roh yang ada di balik firman. Saat kita berbicara, kita harus mengeluarkan roh kita. Inilah ministri firman.

Ministri firman yang kuat, yaitu perkataan yang kuat, terdiri tidak hanya dari mendorong firman tetapi bahkan merupakan ledakan firman. Ini artinya ketika firman dibebaskan, roh pun meledak. Roh tidak dibebaskan dengan cara biasa tetapi dengan cara diledakkan. Ketika hal ini terjadi, manusia rebah di depan Allah. Jka manusia berfungsi sebagai minister firman dengan cara demikian, ia bisa memutuskan siapa yang ingin dia jamah, membebaskan rohnya, dan menjamah orang itu tepat seperti yang ia perkirakan. Ia bisa memperkirakan siapa yang akan mendapatkan curahan rohnya, dan rohnya akan mencurahi orang itu dan mencelupkannya. Ini sangat mungkin. Ketika ia berbicara, ia akan membebaskan perkataannya, dan siapa saja yang menentang, dingin, dan keras kepala akan ditundukkan. Sangat mungkin bagi roh untuk dibebaskan seperti ledakan. Ketika roh dibebaskan, orang lain akan menjamah sesuatu dan akan jatuh tidak peduli betapa keras kepalanya dirinya. Kita harus memperhatikan jumlah roh yang kita bebaskan selama kita berbicara. Membebaskan roh kita tidak bisa melampaui kapasitas yang kita miliki di dalam kita. Kita hanya bisa membebaskan sebanyak yang kita punya. Jumlah kekuatan dibatasi oleh kapasitas yang kita miliki; kita tidak bisa memaksa diri kita melakukan lebih. Hal ini bukan perkara perkataan kita, suara kita, atau tingkah laku kita. Melakukan hal ini hanya seperti penampilan. Kita jangan pernah berpura-pura memiliki tingkah laku khusus atau nada khusus ketika kita kekurang roh. Kita harus menyadari bahwa manusia bisa ditundukkan hanya cara membebaskan roh. Tidak ada yang bisa berhadapan dengan roh. Apakah artinya membebaskan roh? Kita akan membahas beberapa poin berikut ini.

MEMBEBASKAN ROH MENJADI

MEMBEBASKAN ROH KUDUS

Apakah artinya membebaskan roh? Membebaskan roh berarti membebaskan Roh Kudus. Tuhan telah mempercayakan Roh Kudus kepada gereja. Tujuan-Nya adalah supaya gereja menjadi tempat dimana aliran sungai Roh itu mengalir (Yoh. 7:38). Gereja adalah bejana Roh Kudus. Kita harus menyadari apakah peekrjaan gereja hari ini. Gereja adalah bejana Roh Kudus. Allah tidak mencurahkan minyak urapan-Nya secara sembarangan ke seluruh dunia; Ia telah mencurahkannya kepada gereja. Gereja sekarang mengurapi manusia dengan minyak urapan ini. Makna gereja menjadi bejana Roh Kudus bukan berarti gereja menjadi alat yang digunakan oleh Roh Kudus melainkan berarti gereja adalah bejana yang menampung Roh Kudus. Gereja adalah wadah yang berarti Roh Kudus ditampung di dalam gereja. Tetapi bagaimana Roh Allah ditampung di dalam gereja? Bagian diri kita yang menampung Roh Allah adalah roh kita. Semua murid-murid Alkitab mengakui hal ini. Lambang-lambang dalam Perjanjian Lama sangat jelas. Burung merpati yang dikirim oleh Nuh tidak bisa turun pada ciptaan lama; burung itu hanya bisa turun atas ciptaan baru (Kej. 8:6-12). Di dalam diri kita, hanya rohlah ciptaan baru. Maka, Roh Kudus hanya bisa tinggal di dalam roh kita. Kitab Keluaran mengatakan bahwa minyak urapan kudus tidak bisa dicurahkan atas daging (30:31-32). Tidak ada bagian daging yang bisa menampung Roh Kudus; roh adalah tempat satu-satunya yang bisa menampung Roh Kudus. Yehezkiel 36 mengatakan hal ini lebih eksplisit: “roh yang baru” adalah roh kita; sedangkan “rohku” adalah Roh Kudus. Jika kita tidak memiliki roh yang baru di dalam kita, kita tidak bisa memiliki roh Allah. Kita harus memiliki roh yang baru sebelum kita bisa memiliki roh-Nya.

Makna menekan roh keluar adalah membebaskan Roh Kudus bersama dengan roh kita. Semua murid-murid Alkitab tahu bahwa dalam beberapa kasus dalam Bahasa Yunani sangat sulit membedakan antara roh manusia dan Roh Kudus. Kata roh dipakai berulang kali dalam Roma 8. Namun dalam Roma 8 sulit membedakan mana kata roh yang mengacu pada roh manusia dan mana yang mengacu pada Roh Kudus. Dalam bahasa Inggris ada perbedaan huruf besar, tetapi dalam bahasa Yunani tidak ada perbedaan huruf besar. Roh manusia sudah bersatu dengan Roh Allah. Semakin banyak latihan yang kita terima, semakin roh kita dibebaskan. Roh Kudus dibebaskan ketika roh kita dibebaskan karena Roh Kudus berhuni di dalam kita. Maka, membebaskan roh tidak hanya mengacu pada membebaskan roh kita, melainkan juga pada pembebasan roh kita. Tingkat membebaskan Roh Kudus bergantung sepenuhnya pada membebaskan roh kita. Roh Kudus dibatasi oleh roh kita. Ketika kita berbicara kepada seorang saudara atau kepada orang yang belum percaya, roh kita menentukan tingkat pembebasan Roh Kudus. Masalahnya sekarang ada pada bejana; tidak ada masalah dengan minyak urapan.

Saudara, kita jangan begitu bodoh sehingga meletakan semua tanggung jawab pada Roh Kudus. Hari ini Tuhan telah memberikan tanggung jawab ke atas gereja. Matius 18:18 menunjukkan kepada kita mengenai kuasa gereja. Yohanes 20:23 mengatakan hal yang hampir sama seperti Matius 18. Kedua ayat itu menyebutkan pengampunan Tuhan kepada orang-orang yang kita maafkan dan dosa yang tetap ada atas mereka yang kita katakan tetap bedosa. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Ini dikarenakan kita telah menerima Roh Kudus. Tuhan tidak mengatakan, “Aku telah memberikan Roh Kudus kepadamu. Ketika Anda menyadari pengampunan Roh atas seseorang, anda juga harus memaafkannya. Ketika Anda menyadari Roh mengatakan dosa yang tetap ada, Anda juga harus mengatakan hal yang sama.” Tuhan hanya memberi tahu gereja agar mengakui Roh Kudus. Setelah gerej amengakui Roh Kudus, baru gereja bisa mengampuni seseorang, dan Tuhan akan mengampuni orang itu. Gereja bisa menyatakan dosa seseorang tetap tinggal, dan Tuhan akan mengatakan dosanya tetap ada. Hari ini kuasa Roh Kudus ada pada gereja. Betapa besarnya tanggung jawab gereja! Jika Allah bertindak sendirian, tidak akan ada artinya gereja itu gagal atau tidak. Tetapi Allah telah mempercayakan segala sesuatu kepada gereja. Gereja tidak bisa gagal. Jika kekuasaan ada bersama dengan Roh Kudus, sukses atau gagalnya seorang minister tidak akan terlalu banyak berarti. Tetapi Roh Kudus telah mengikatkan diri-Nya kepada minister. Jika minister gagal, Roh Kudus tidak ada jalan untuk maju. Jika Allah menyimpan semua kekuasaan di tangan-Nya, tidak ada ada banyak artinya jika kita tersandung atau terjatuh. Tetapi hari ini Allah tidak menyimpan pekerjaan Roh Kudus di tangan-Nya; Ia tealah menaruh pekerjaan ini di tangan para minister. Ketika roh para minister dibebaskan, Roh Allah dibebaskan. Jika rohnya tidak dibebaskan, Roh Allah tidak dibebaskan. Allah bersedia dan gembira mempercayakan kekuasaannya keapda para minister, memberi mereka kebebasan. Hanya orang yang paling bodoh akan berpikir ia bisa bertindak secara sembarangan; hanya orang bodoh yang tidak merasa tertantang. Kita harus ingat bahwa masalahnya hari ini ada pada minister firman. Roh Kudus bisa dibebaskan atau tidak ada di tangan para minister.

Membebaskan Roh

Berarti Membebaskan Kuasa

Membebaskan roh juga membebaskan kuasa. Seorang yang keras kepala bisa ditaklukan atau tidak bergantung pada kuasa roh yang dilepaskan. Jika roh kita kuat, ia akan ditaklukan. Selama orang itu tidak sepenuhnya tertutup (jadi tidak ada kemungkinan lagi), ia akan ditaklukan ketika roh anda dibebaskan dengan kuasa penuh, bahkan jika orang itu dilahirkan sangat keras kepala. Kita jangan pernah menyalahkan orang lain. Sembilan dari sepuluh kali masalahnya ada pada kita, bukan orang lain. Jika roh kita cukup kuat, kita akan menaklukkan mereka. Semakin kuat roh kita dibebaskan, semakin orang lain akan dibebaskan.

Membebaskan Roh

Berarti Membebaskan Hayat

Membebaskan Roh juga membebaskan hayat. Ketika roh dibebaskan, Roh Kudus dibebaskan, kuasa dibebaskan, dan hayat dilepaskan. Orang lain akan menjamah realitas rohani atau tidak bergantung pada membebaskan roh kita. Mereka akan menjamah hayat juga bergantung pada pelepasan roh kita. Jika kita hanya melepaskan perkataan, orang lain hanya akan menjamah doktrin; mereka tidak akan menjamah Roh Kudus. Tetapi ketika kita berdiri berbicara dan bersedia medorong Roh Kudus keluar, orang lain tidak hanya mendengar doktrin, mereka akan menjamah hayat. Mereka akan menjamah kulit luaran firman atau hayat di dalam firman bergantung pada kita menekan roh keluar atau tidak.

Membebaskan Roh

Berarti Membebaskan Terang

Ini belum semuanya. Membebaskan roh juga berarti membebaskan terang. Terang pertama-tama menjadi firman di dalam kita, kemudian menjadi terang bagi orang lain. Pertama, terang menjadi firman di dalam kita kemudian melalui roh kita menjadi terang bagi orang lain. Seorang bisa melihat terang atau tidak bukan tanggung jawabnya (kecuali mereka yang berprasangka) melainkan tanggung jawab dari sang minister. Seorang mau membuka matanya atau tidak merupakan tanggung jawabnya, tetapi setelah matanya terbuka, ia bisa melihat terang atau tidak bergantung pada sang minister. Dia hanya bertanggung jawab membuka matanya; minister bertanggung memberinya terang. Jika ia menutup matanya, tidak ada yang bisa dilakukan. Tetapi jika ia membuka mata, hati, mata, dan rohnya dan tetap tidak melihat apa-apa, tanggung jawab ada pada minister. Jika roh minister kuat saat membebaskan firman dan jika Roh Kudus pun ada bersama firman, firman akan menjadi terang bagi orang lain. Terang Allah terwujud di dalam firman-Nya. Saat mengutarakan firman Allah, kita membebaskan roh, dan juga membebaskan Roh Kudus. Ketika firman ini mencapai manusia, maka akan menjadi terang. Jika ia berlutut dan berdoa setelah mendengar firman, dan berkata, “Tuhan, berikan aku terang,” ia hanya mendengar doktrin; ia masih belum mendengar firman Allah. Firman Allah adalah terang. Ketika ia mendengar firman Allah, ia melihat terang. Ia tidak perlu berlutut berdoa setela mendengar suatu khotbah. Ia tidak perlu berkata, “Aku mengerti khotbah ini, tetapi aku tidak memiliki terang. Tuhan berikanlah aku terang.” Jika ia perlu meminta terang setelah ia mengerti suatu khotbah, itu berarti khotbah dan terang masih dua hal yang terpisah. Di sinilah kekristenan telah merosot: doktrin tidak membawa terang. Segala sesuatu sudah dijelaskan dengan baik, tetapi tidak ada yang berhasil. Setiap orang bisa mengatakannya tetapi tidak ada yang bisa menerapkannya.

Kita harus ingat ketika seorang mendengar firman Allah, ia pasti melihat terang. Jika ia mendengar firman Allah tetapi tidak melihat terang, tanggung jawabnya ada pada si pembicara. Kita seringkali menaruh tanggung jawab di atas pundak pendengar. Ini salah. Selain bagian pendengar, pembicara harus bertanggung jawab akibat kurangnya terang dalam khotbahnya. Banyak orang memiliki roh yang terbuka, hati yang mencari, dan pikiran yang terbuka; mereka ingin menerima terang. Jika terang tidak datang, itu berarti ada yang salah dengan ministri firmannya; kerusakan ada pada minister. Jika roh aktif sementara roh dibebaskan dan jika Roh Kudus bekerja, firman akan menjadi terang kepada para pendengar. Orang lain tidak perlu lagi meminta terang. Ia tidak perlu lagi berlutut dan berdoa, “Tuhan, aku sudah mendengar firman ini. Sekarang berilah aku terang.” Saat ia mendengar firman, ia akan menerima terang. Para minister harus bertobat di depan Tuhan. Mereka tidak memiliki terang untuk dibagikan kepada orang lain; terang terkunci di dalam mereka. Ini masalah para minister. Sangat tidak benar jika minister menyalahkan saudara dan saudari. Mereka hanya bertanggung jawab membuka mata mereka, sedangkan minister bertanggung jawab memberi mereka terang. Ketika roh minister dibebaskan, terang dilepaskan.

Seorang minister bisa memutuskan jumlah terang yang akan ia lepaskan. Ia bisa menentukannya di depan Tuhanberapa banyak terang yang akan ia berikan kepada orang lain pada waktu itu. Minister ini haruslah seorang yang sudah melewati penanggulangan. Ketika ia mendorong rohnya keluar, ia harus mengeluarkan apa yang ia lihat, wahyu di dalam rohnya dan terang di dalamnya, bersama dengan rohnya. Ia harus mendorong rohnya keluar, seperti seorang yang didorong keluar dari pintu. Ia harus mendorong terang keluar. Ia harus melepaskan terang tidak dengan cara seperti ia memahami tetapi dengan cara yang bisa membuat orang lain rebah ke tanah. Seringkali, seorang minister siap melepaskan “terang” hanya dengan tujuan membantu orang lain agar mengerti saja. Hasilnya, orang lain mungkin mengerti tetapi hanya sampai tahap itu saja. Seorang pekerja seringkali hanya memperhatikan pemahaman pendengar; motivasi dan keinginannya hanya agar pendengarnya mengerti perkataannya. Tetapi jika ia rela membayar harga di depan Tuhan, ia akan menekan rohnya keluar supaya perkataannya melepaskan terang. Terang akan begitu kuat sehingga orang lain akan mengerti tidak hanya kata-kata saja, tetapi mereka akan ditundukkan oleh nya. Mereka akan rebah karena terang itu. Terang bisa membuat seorang rebah ke tanah. Ketika seorang melihat terang, ia akan rebah; ia akan merebahkan dirinya ke tanah. Inilah yang harus dilakukan para minister di depan Tuhan. Jika ada kerelaan yang memadai pada diri minister, terang akan dilepaskan dengan kuat.

TEKANAN DAN MEMBEBASKAN ROH

Ada prinsip yang mendasari pembebasan roh. Jumlah roh ryang dilepaskan seseorang bergantung pada dua hal: jumlah kerelaannya dan jumlah tekanan yang ia dapatkan. Saat kita datang ke suatu sidang, Allah akan memberi kita sejumlah tekanan. Jika tekanannya berat dan melekat, kita bisa yakin kalau Allah ingin roh kita menyembur keluar. Saat ada tekanan yang bertambah, perkataan kita seperti akan diperas keluar. Kita ditekan, dan roh kita harus dibebaskan dengan cara tertentu dengan tujuan mengurangi tekanan ini. Maka, tekanan membawa pembebasan roh. Roh kita dibebaskan atau tidak bergantung pada jumlah tekanan yang kita terima. Ketika kita bicara kepada seorang saudara, kita mungkin menemukan bahwa dia berada dalam kesendirian dan kegelapan, bahkan ia bermegah alam kelemahannya. Ia tinggal dalam kegelapan, tetapi ia menganggap dirinya tinggi. Allah akan memberi kita perasaan tertentu saat kita bicara kepada saudara ini. Kita akan merasakan pergolakan. Ketika tekanan Allah semakin bertambah di dalam kita, kita akan merasa terganggu dan tidak tahan. Hal ini tidak akan bertahan lama; kita akan segera membuka mulut kita. Saat kita bicara, kita tidak akan bicara dengan cara biasa; perkataan kita akan meloncat keluar. Saat itulah merupakan momen pembebasan roh yang berlipat ganda. Roh kita dilepaskan dengan kuat atau tidak bergantung pada jumlah tekanan yang kita alami. Misalnya, saudara yang sombong dan penuh percaya diri ini duduk di depan kita. Tekanan di dalam kita akan bertambah dan meluap-luap. Saat kita merasa menyesal karena saudara ini, roh kita akan menyembur keluar. Pertanyaan hari ini adalah apakah kita memiliki kerelaan di dalam kita atau tidak untuk mengutarakan firman di dalam kita. Jika kita rela dan tekanan di dalam kita cukup kuat, firman akan keluar dengan kuat dalam bentuk teguran. Jika pelepasannya cukup kuat, kesombongan orang lain akan ditundukkan. Tentu saja, jika kita tidak rela, tidak ada yang terjadi. Saya harap semua saudara akan melihat bahwa roh kita akan dikuatkan saat kita melatihnya. Ketika kita melatih roh kita, maka roh kita akan semakin kuat. Semakin kita latih, semakin roh kita menjadi berguna bagi kita. Saat roh kita dikuatkan lagi, Tuhan akan memiliki jalan dengan kita.

Inilah yang terjadi pada Paulus ketika ia mengusir roh jahat. Hamba perempuan itu berteriak selama beberapa hari, “Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi” (Kis. 16:17). Suatu hari, Paulus tidak tahan lagi, dan ia berkata kepada roh itu, “Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini,” dan roh itu pun keluar (ay. 18). Banyak orang hanya bisa mengangkat suara mereka, tetapi mereka tidak bisa mengangkat roh mereka. Ini tidak akan berbuah. Prinsip mukjizat sama dengan prinsip berbicara. Paulus tertekan di dalam; tekanan yang ia terima terlalu banyak. Ketika ia memerintahkan roh itu keluar, roh itu harus keluar. Ketika ada cukup beban di dalam roh, perkataan akan menyembur keluar. Ketika terang itu kuat, pelepasan pun akan kuat. Kita harus ditekan oleh kekuatan roh kudus sampai titik kita tidak tahan lagi. Ketika hal ini terjadi, kata-kata yang kita keluarkan akan mengubah orang lain. Dengan prinsip yang sama, seorang bisa menegur orang lain ketika ia mengalami tekanan di dalam rohnya. Ketika Tuhan keluar dari Betani, Ia melihat pohon ara yang tidak berbuah, dan Ia berkata, “Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!" (Mark. 11:14). Ini keluar dari tekanan roh-Nya. Firman dilepaskan di bawah tekanan rohani. Akhirnya, pohon itu kering sampai ke akarnya. Kita harus memperhatikan, bahwa seorang minister firman tidak ada kebebasan untuk melepaskan perkataan seperti ini sembarangan. Kita bisa bicara perkataan itu hanya ketika kita tertekan, marah, terganggu, tidak suka, dan tidak tahan. Ini merupakan prinsip cara kerja mukjizat. Ini juga merupakan prinsip perkataan teguran. Ketika diri kita diremukkan dan roh kita dibebaskan, orang lain akan ditaklukan.

Ministri firman adalah ministri roh. Seorang bisa menjamah firman ketika ia menjamah roh yang bebas. Ketika ia menjamah roh ini, ia akan rebah ke tanah. Ketika roh dibebaskan, kekuatan dilepaskan dari dalam, terang dilepaskan dari dalam, dan hayat dilepaskan dari dalam; Roh Kudus dilepaskan dari dalam, dan tekanan terpulihkan. Satu-satunya hal yang berhasil adalah pelepasan roh. Semua hal yang lain adalah sia-sia. Pikiran kita, perkataan kita, ingatan, dan perasaan semua akan membantu kita saat membebaskan khotbah, tetapi roh kita merupakan resep satu-satunya yang terpenting. Kita hanya bisa bicara saat roh kita dibebaskan. Ketika kita memiliki hal ini, kita memiliki ministri firman.

KEMURNIAN ROH

Perkataan kita harus didukung oleh roh. Tetapi untuk membebaskan roh supaya murni dan bersih, kita harus melewati penanggulangan. Satu hal yang pasti: jenis roh yang kita miliki menentukan jenis ekspresi Roh Kudus yang kita pikul. Jenis alamiah yang kita miliki menentukan aspek Roh Kudus yang kita ekspresikan. Manifestasi Roh Kudus berbeda dalam setiap orang. Hanya karena kita memiliki roh yang sama tidak berarti kita memiliki manifestasi yang sama. Roh yang mengalir kepada orang lain membawa karakteristik saluran yang melaluinya Ia mengalir. Ketika Roh Kudus mengalir, Ia membawa karakteristik orang yang membawa aliran, dan Ia menjangkau manusia dengan cara ini. Oleh karena itu, Roh Kudus diekspresikan dengan satu cara melalui satu orang lain dan dengan cara yang berbeda melalui orang lain. Seorang bisa memiliki satu jenis ministri sementara yang lain bisa memiliki ministri yang berbeda. Roh Kudus diekspresikan melalui Paulus dengan satu cara dan melalui Petrus dengan cara yang lain. Roh Kudus yang sama dimanifestasikan di dalam Petrus dan di dalam Paulus. Di dalam keduanya ada Roh Kudus, tetapi manifestasi di dalam Petrus membawa cita rasa dan karakteristik Petrus, dan manifestasi di dalam Paulus membawa cita rasa dan karakteristik Paulus. Ini sangat jelas. Roh Kudus tidak menghilangkan unsur manusia dalam setiap mereka. Allah tidak pernah menghilangkan unsur manusia setiap penulis Alkitab. Ketika salah satu dari mereka dipenuhi Roh Kudus, ia memiliki satu jenis manifestasi. Ketika orang lain lagi penuhi Roh Kudus, ia memiliki jenis manifestasi yang berbeda. Tidak semua orang memiliki ekspresi dan manifestasi yang sama. Ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, Ia membawa karakteristik orang itu.

Saudara, apakah anda melihat tanggung jawab kita? Jika Roh Kudus mencapai orang lain hanya melalui firman, tanpa berhubungan dengan unsur manusiawi yang kita miliki, kita tidak memiliki tanggung jawab dalam perkara itu. Jika kita hanya membawa Roh Kudus dengan kita dan menjelaskannya kepada orang lain, tanpa sedikit pu keterlibatan unsur manusia kita, kita tidak akan memiliki tanggung jawab yang besar; kita hanya perlu membawa Dia. Tetapi pengalaman dari banyak kaum saleh menunjukkan kepada kita bahwa Roh Kudus mencapai manusia dengan karakteristik khusus dari si pembawa. Karena itu, roh kita harus murni; harus ditanggulangi. Jika tidak, orang lain akan menerima unsur yang tidak tepat. Kita harus menyadari bahwa faktor manusia merupakan hal terpenting. Roh Kudus tidak bekerja sendirian maupun dengan cara tanpa proses. Alamiah kita ada aturan mainnya. Roh Kudus tidak menghilangkan alamiah kita; sebaliknya, Ia dilepaskan dengan alamiah kita. Tuhan berkata, “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup" (Yoh. 7:37-38). Firman Tuhan menyatakan bahwa orang pertama-tama harus minum air, lalu aliran-aliran air hidup harus mengalir keluar dari dalam hatinya. J.N. Darby mengatakan bahwa dalam hati itu mengacu pada bagian terdalam dari diri kita. Aliran itu keluar dari bagian terdalam seseorang yang melaluinya Roh Kudus mengalir; Roh Kudus mengalir keluar bersama dengan personanya. Ketika air ini mencapai manusia, Roh Kudus membawa karakteristik orang ini bersama-Nya, dan mengalir kepada orang lain.

Itulah sebabnya, kita harus belajar menerima penanggulangan. Ketika salib datang pada kita, tidak seharusnya salib menjadi sia-sia. Saat salib bekerja di atas kita, kita menerima lebih banyak pengukiran dan penanggulangan, dan diri kita semakin dimurnikan. Bahkan pengujian membawa lebih banyak pemurnian. Semakin banyak api yang kita miliki, semakin banyak pembersihan yang kita terima. Semakin banyak kesulitan yang kita derita di depan Tuhan dan semakin besar masalahnya, semakin roh kita dimurnikan, dan ekspresi Roh Kudus akan semakin jelas. Aspek khusus dari karakter kita seringkali melewati beberapa penanggulangan, tetapi pekerjaannya tidak lengkap, dan tetap ada ketidak murnian. Ketika kita dating pada minister firman, kita seringkali menemukan bahwa dia telah memiliki firman Allah, dan rohnya bebas. Tetapi, pada waktu bersamaan dirinya sendiri terlalu luar biasa; ia belum cukup diremukan. Peremukan yang ia terima belum menyeluruh. Roh Kudus dibebaskan melalui dia, tetapi pada waktu bersamaan karakteristiknya sendiri sudah cukup dibebaskan. Saudara, tanggung jawab kita terlalu besar! Jika Roh Tuhan bekerja dengan mutlak dan independen dari manusia atau jika Roh Kudus menolak mereka yang melakukan kesalahan, masalahnya akan lebih sederhana. Akan lebih mudah untuk memberi tahu perbedaan antara pekerjaan daging dan pekerjaan Roh jika Tuhan menyingkirkan kita setelah kita menyingkir sedikit. Tetapi masalah hari ini adalah pekerjaan daging tetap ada di dalam kita. Meskipun roh kita tidak cukup murni, Allah tidak menolak diri kita; Ia masih memakai kita. Banyak orang sombong yang menganggap diri mereka berguna dan telah melewati ujian. Mereka salah. Allah seringkali memakai seseorang meskipun ia memiliki kelemahan. Kita harus menyadari bahwa semakin Allah memakai kita, tanggung jawab kita akan semakin besar. Jika Allah tidak ingin memakai kita, kita hanya akan memiliki sedikit masalah. Tetapi Tuhan seringkali memakai kita meskipun Ia tahu kita tidak memenuhi syarat. Roh Kudus tidak bekerja sendirian hari ini. Ia tidak dilepaskan secara terpisah dari manusia. Ini merupakan prinsip penting dalam pekerjaan Allah. Ketika Roh Kudus mencapai keluar, pencapaiannya dirampungkan dalam hubungannya dengan roh manusia. Tuhan meninggikan manusia bersama dengan karakterisktiknya, dalam pembebasan-Nya.

Kita harus takut dan gentar setiap waktu. Meskipun Tuhan memakai kita, kita jangan lupa bahwa kita tetap tidak bersyarat. Kita harus ingat tanggung jawab kita. Jika ada yang salah dengan kita, kekurangan di dalam roh kita akan bercampur dengan firman Tuhan. Suatu hari Tuhan akan menerangi kita dengan terang-Nya, dan kita akan rebah di depan Dia dan berkata, “Tidak satu pun yang pernha kukatakan sesuai dengan tujuan-Mu.” Setiap orang yang menerima terang akan benar-benar menyadari kegagalannya di masa lalu. Akan tetapi, Roh Allah mungkin akan merampungkan sejumlah pekerjaan melalui kita, tetapi orang kita masih terlalu kuat; kita tetaplah bejana yang tidak murni di depan Tuhan. Kita bukan bejana yang sempurna. Di tangan Allah kita adalah bejana yang cemar, dan kita perlu penanggulangan yang dalam. Ketika manusia menerima terang, ia menyadari kekurangannya; ia menyadari personanya yang tidak bisa dipakai. Ketika firman dilepaska, roh juga harus dilepaskan. Itulah sebabnya, kita perlu meminta rahmat dan kasih karunia sehingga segala sesuatu berada di bawah pendisiplinan Roh Kudus. Setiap hari kita harus belajar menerima pendisiplinan Roh Kudus. Tanpa hal ini, roh kita tidak akan berguna. Tuhan mungkin ingin menjadikan kita minister firman; Ia mungkin bekerja di dalam kita setiap hari. Semua penanggulangan, pengujian, dan kejadian yang muncul dalam lingkungan kita bertujuan agar kita tambah berguna bagi Tuhan. Segala sesuatu bekerja agar roh kita dimurnikan dan disempurnakan. Semua itu bekerja untuk membawa aliran yang murni ketika roh kita dibebaskan dan untuk membuat roh kita tambah berguna. Hari ini Allah mau merahmati kita dan mengijinkan Roh-Nya bebas melalui kita, dan kita mungkin berpikir kalau kita sekarang adalah pembantu Tuhan yang hebat. Kita menjadi sombong. Kita mungkin berpikir semua baik-baik saja, tanpa menyadari bahwa pilihan-Nya benar-benar tersedia menurut ukurannya.

Kita harus menyadari bahwa latihan seorang minister firman adalah setiap hari. Juga seumur hidup. Perkataan yang kita ucapkan mungkin tidak berkembang maju, tetapi roh kita bisa lebih maju. Mungkin perkaatn kita sama dengan sepuluh tahun lalu. Tetapi ketika kita mengatakannya sekali lagi hari ini, roh kita berbeda dari roh yang kita miliki sepuluh tahun lalu. Orang muda jangan pernah berpikir ia bisa menerima khotbah yang sama seperti orang yang lebih tua. Ia bisa mengucapkan perkataan yang sama, tetapi ia tidak memiliki roh yang sama. Beberapa orang saudara mengulangi hal yang sama yang pernah mereka katakan dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu. Perkataannya sama, tetapi rohnya berbeda. Kita jangan hanya peduli dengan perkataan kita atau roh kita sama atau tidak. Ketika kita bisa mengucapkan perkataan yang sama dengan beberapa saudara tua, tidaklah mudah juga memiliki roh seperti mereka. Tuhan berkata, “Perkataan yang Ku-katakan kepadamu adalah roh dan hayat” (Yoh. 6:63). Ketika seorang minister firman berdiri berbicara bagi Tuhan, perkataannya tidak saja harus murni, tetapi roh yang dibebaskannya juga harus murni. Jadi bukan masalah kita bisa mengucapkannya atau tida, tetapi apakah kita membebaskan roh yang murni atau tidak.

Hasilnya bukan dari kemampuan kita. Yang jadi persoalan adalah roh seperti apakah yang kita pakai saat kita bicara. Ada yang beranggapan asal orang itu pintar, cakap, dan berhikmat sudah cukup. Tetapi yang lain beranggapan harus ada tangan pendisiplinan Tuhan dan pendisiplinan Roh Kudus. Kedua hal ini sangat berbeda. Menurut anggapan yang kedua, perkataan yang dihasilkan hanya bisa melalui “dipukul” oleh tangan Tuhan. Dipukul baru ada perkataan; baru bisa dibawa masuk ke dalam dirinya. Setiap hari Roh Kudus “menempa” firman sampai menjadi orang tersebut. Jika kita ingin menyampaikan khotbah hari ini, tidak cukup hanya menyampaikan kata-kata. Kita mungkin berpikir khotbah kita yang baru saja kita katakan itu sangat hebat, dan kita mungkin merasa puas dengan diri kita. Kita berpikir kita tidak berbeda dengan mereka yang memiliki ministri yang sejati. Tetapi tidak satu pun dari perkataan kita yang memberikan hasil. Faktanya, kita hidup dalam alam yang pertama. Orang lain mungkin memberi tahu kita sebuah kebenaran, dan kita menerimanya. Sejak saat itu, kita mungkin mengatakan kebenaran yang sama, tetapi perkataan kita tidak memimpin kita apa-apa. Perkataannya mungkin sama, tetapi jika kita tidak memiliki roh yang tepat, akan ada cacat atau kekurangan saat kita membebaskan roh kita. Perkataan Tuhan adalah roh dan hayat. Itulah sebabnya roh kita harus ditanggulangi oleh Tuhan. Persona kita harus diukir dan dibentuk sebelum roh kita bisa dibebaskan dengan tepat. Ketika firman dilepaskan dan roh dibebaskan, puji Tuhan, Roh Kudus pun dibebaskan. Inilah jalan ministri firman. Tanpa pelepasan demikian, kita akan seperti ahli taurat yang mengajarkan Sepuluh Perintah. Masalah denngan pengajaran ini adalah segala sesuatunya begitu doktrinal, didaktik, dan hanya penjelasan. Jika roh tidak terlibat, segala sesuatunya menjadi sia-sia. Allah harus bekerja di atas kita sampai roh kita dibebaskan saat perkataan kita keluar. Kadang-kadang perlu pelepasan yang lebih. Tetapi tidak setiap kejadian perlu usaha yang ekstra; hanya dalam beberapa kejadian kita perlu berapi-api. Selama waktu ini Roh Kudus menyembur keluar dan bekerja dengan kuat. Tanpa pengalaman demikian, khotbah yang kita sampaikan tidak akan cocok dengan pemberitaan para rasul.

Kita harus mengerti tanggung jawab gereja hari ini. Allah telah mempercayakan Kristus kepada gereja dengan tujuan agar gereja bisa membicarakan Kristus kepada orang lain. Allah juga telah mempercayakan Roh Kudus-Nya kepada gereja dengan tujuan gereja bisa membicarakannya kepada orang lain. Inilah tujuan Allah. Inilah rencana Allah. Gereja adalah Tubuh Kristus di atas bumi. Sama seperti tubuh yang mengekpresikan manusia, gereja juga mengekspresikan Kristus. Keinginan dari kepala adalah diekspresikan melalui tubuh. Tanpa tubuh, kepala tidak bisa mengekspresikan diri-Nya. Di jaman ini Allah memberkati manusia melalui gereja. Karena itu, gereja membawa beban yang berat. Kita jangan beranggapan segala sesuatu ada di surga hari ini. Kita tidak akan pernah lupa akan Pentakosta, dan kita tidak akan lupa akan salib. Situasi hari ini berbeda dengan jaman Perjanjian Lama. Maleakhi 3:10 mengatakan, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Inilah prinsip Perjanjian Lama. Berkat itu ada di surga. Tetapi hari ini berkat itu telah turun ke bumi. Roh itu akan mengangkat gereja dari bumi ke surga. Gereja Protestan telah melupakan posisi gereka, sedangkan gereja Katolik mencoba menyimpangkan tangan berkat Allah dengan tangan-tangan mereka yang karnal. Hari ini kita harus meminta Allah membuka mata kita untuk melihat semua berkat rohani yang ada di dalam gereja saat ini. Gereja sekarang bisa mendispensikan berkat ini kepada orang lain.

Hari ini gereka berada dalam pekerjaan mendispensikan. Kitab Efesus menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa berkat telah turun sedangkan gereja telah naik. Semua perkara rohani sekarang ada di dalam gereja. Apakah seorang minister? Seorang minister adalah seorang yang mendispensikan kekayaan rohani ini kepada orang lain. Gereja telah menikmati dan menerima kekayaan ini. Semua kekayaan Kristus sekarang ada di dalam gereja. Hari ini gereja mendispensikan Kristus yang telah diterima kepada orang lain. Seorang minister adalah seorang yang mendispensikan Kristus yang telah ia lihat dan terima kepada orang lain. Kita jangan berada dalam kejatuhan yang menganggap segala sesuatu itu terlalu jauh. Banyak orang berdoa seakan-akan gereja belum turun dari surga. Mereka bertindak seolah-olah Roh Kudus tidak pernah turun ke bumi. Itu bukan gereja. Roma 10:8 mengatakan, : "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Saudara saudari, jika kita menerima terang, kita bisa menyalurkan terang ilahi yang sama ini kepada orang lain. Jika kita memiliki firman Allah, kita bisa menjelaskan firman Allah yang sama ini kepada orang lain. Masalahnya sekarang bergantung pada kita rela dan senang atau tidak melakukannya.

Selama berabad-abad Allah mencari bejana yang kudus untuk menyalurkan firman-Nya. Ini tidak berarti Allah tidak akan memakai kita kecuali kita sudah benar-benar sempurna. Selama dua ribu tahun, tak terhitung tangan-tangan daging yang telah menjamah pekerjaan Allah, dan tidak terhitung tangan-tangan karnal yang telah mencemari pekerjaan-Nya. Saudara saudari, di dalam kita, kita sangat mengetahui bagaiman diri kita sepuluh tahun yang lalu. Kita hanya bisa mengatakan kita adalah manusia karnal. Tetapi Allah tetap memakai kita. Kita mengetahui dengan jelas bagaimana diri kita dua puluh tahun yang lalu. Kita hanya bisa mengatakan kita najis dan berdosa. Tetapi Allah masih memakai kita. Kita jangan begitu bodoh berpikir kita berguna bagi Allah hanya karena Dia memakai kita. Kita akan semakin menyadari beban tanggung jawab kita. “O Tuhan, meskipun kami Engkau pakai, diri kami tetap cemar, najis, dan merusak firman-Nya. Kami telah mencampurkan dosa dan kenajisan kami dengan pekerjaan-Mu. Sekarang kami melihat ada perbedaan antara pekerjaan Roh Kudus dan pekerjaan daging. Tuhan, kita telah berdosa. Ampuni kami. Rahmatilah kami.”

Tuhan telah memberikan diri-Nya kepada gereja. Jalan-Nya ada bersama kita. Hari ini Allah mendispensikan apa adanya diri-Nya kepada orang lain melalui roh manusia. Kita harus berdoa sehingga roh kita diterima oleh Tuhan. Kita tidak bisa menyombongkan pekerjaan kita di masa lalu. Kita tidak memiliki alasan untuk mempertahankan ketidak murnian kita; kita tidak memiliki alasan mempertahankan kekarnalan dan kedagingan kita. Kita harus ingat bahwa Allah telah mempercayakan Kristus kepada gereja. Ia telah mempercayakan Roh Kudus, firman-Nya, dan terang-Nya kepada gereja. Hari ini gereja bisa mendispensikan terang kepada manusia; gereja bisa mendispensikan firman, Kristus, dan Roh kepada manusia. Masalahnya sekarang terletak pada ketidak murnian dan kecampur-adukan kita. Kita harus menyadari tanggung jawab kita. Ketika kita mengatakan segalanya baik maka akan baik. Ketika kita tidak bicara dengan baik, segalanya tidak akan baik. Tanggung jawab sepenuhnya ada di pundak kita. Firman harus dilepaskan. Roh Kudus harus keluar. Roh harus keluar, dan terang harus keluar. Kita harus dibawa sampai satu titik kita bisa menjadi bejana yang dikuduskan.

Jika kita menyadari apakah gereja, kita akan secara spontan menyadari apakah minister itu. Minister adalah seorang yang mendispensikan kepada orang lain melalui firman apa yang telah Allah percayakan kepada gereja. Tanggung jawab seorang minister lebih besar dari pada tanggung jawab lainnya. Jika daging tetap merupakan campuran yang tidak murni di dalam kita, kita kita akan memiliki jalan untuk maju. Kita hanya akan merusak pekerjaan Allah dan menghancurkannya. Allah memerlukan manusia, tetapi kita tidak bisa menjadi pelayan maupun minister-Nya. Semoga Tuhan merahmati kita. Kita harus mengetahui jalan yang tepat untuk maju. Ketika perkataan kita keluar, terang juga harus keluar. Kita harus mendispensikan perkataan yang kuat ini kepada orang lain sehingga mereka tidak bisa melakukan apa pun selain melihat terang dan rebah ke tanah.